Anda di halaman 1dari 6

Menurut para ahli, definisi penilaian yaitu:

Menurut Buana, assessment adalah alih-bahasa dari istilah penilaian. Penilaian digunakan
dalam konteks yang lebih sempit daripada evaluasi dan biasanya dilaksanakan secara internal.
Penilaian atau assessment adalah kegiatan menentukan nilai suatu objek, seperti baik-buruk,
efektif-tidak efektif, berhasil-tidak berhasil, dan semacamnya sesuai dengan kriteria atau tolak
ukur yang telah ditetapkan sebelumnya.
Menurut Angelo (1991: 17) Classroom Assessment is a simple method faculty can use to
collect feedback, early and often, on how well their students are learning what they are being
taught. (Penilaian Kelas adalah suatu metode yang sederhana dapat menggunakan fakultas
(sekolah) untuk mengumpulkan umpan balik, awal dan setelahnya, pada seberapa baik para
siswa mereka belajar apa yang mereka ajarkan.)
Menurut Suharsimi yang dikutip oleh Sridadi(2007), penilaian adalah suatu usaha yang
dilakukan dalam pengambilan keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik-buruk
→bersifat kualitatif.
Zainul, Asmawi dan Noehi Nasution (2001), mengartikan penilaian adalah suatu proses untuk
mengambil keputusan dengan menggunakan informasi yang diperoleh melalui pengukuran
hasil belajar baik yang menggunakan tes maupun nontes.
Overton, Terry (2008): Assesment is a process of gathering information to monitor progress
and make educational decisions if necessary. As noted in my definition of test, an assesment
may include a test, but also include methods such as observations, interview, behavior
monitoring, etc. (Artinya: penilaian adalah suatu proses pengumpulan informasi untuk
memonitor kemajuan dan bila diperlukan pengambilan keputusan dalam bidang pendidikan.
Sebagaimana disebutkan dalam definisi saya tentang tes, suatu asesmen bisa saja terdiri dari
tes, atau bisa juga terdiri dari berbagai metode seperti observasi, wawancara, monitoring
tingkah laku, dan sebagainya).
Penilaian (assessment) adalah penerapan berbagai cara dan penggunaan beragam alat penilaian
untuk memperoleh informasi tentang sejauh mana hasil belajar peserta didik atau ketercapaian
kompetensi (rangkaian kemampuan) peserta didik. Penilaian menjawab pertanyaan tentang
sebaik apa hasil atau prestasi belajar seorang peserta didik. Hasil penilaian dapat berupa nilai
kualitatif (pernyataan naratif dalam kata-kata) dan nilai kuantitatif (berupa angka). Penilaian
yang dilakukan harus memiliki asas keadilan yang tinggi. Maksudnya, peserta didik
diperlakukan sama sehingga tidak merugikan salah satu atau sekelompok peserta didik yang
dinilai. Selain itu, penilaian tidak membedakan latar belakang sosial-ekonomi, budaya, bahasa,
jender, dan agama. Penilaian juga merupakan bagian dari proses pendidikan yang dapat
memacu dan memotivasi peserta didik untuk lebih berprestasi meraih tingkat yang setinggi-
tingginya sesuai dengan kemampuannya.
Penilaian (assessment) adalah istilah umum yang mencakup semua metode yang biasa
digunakan untuk menilai unjuk kerja individu atau kelompok peserta didik. Proses penilaian
mencakup pengumpulan bukti yang menunjukkan pencapaian belajar peserta didik. Penilaian
merupakan suatu pernyataan berdasarkan sejumlah fakta untuk menjelaskan karakteristik
seseorang atau sesuatu (Griffin & Nix, 1991). Penilaian mencakup semua proses pembelajaran.
Oleh karena itu, kegiatan penilaian tidak terbatas pada karakteristik peserta didik saja, tetapi
juga mencakup karakteristik metode mengajar, kurikulum, fasilitas, dan administrasi sekolah.
Instrumen penilaian untuk peserta didik dapat berupa metode dan/atau prosedur formal atau
informal untuk menghasilkan informasi tentang peserta didik. Instrumen penilaian dapat
berupa tes tertulis, tes lisan, lembar pengamatan, pedoman wawancara, tugas rumah, dan
sebagainya. Penilaian juga diartikan sebagai kegiatan menafsirkan data hasil pengukuran
atau kegiatan untuk memperoleh informasi tentang pencapaian kemajuan belajar peserta didik.

Prinsip Penilaian
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penilaian hasil belajar peserta didik antara lain:
1. Penilaian ditujukan untuk mengukur pencapaian kompetensi;
2. Penilaian menggunakan acuan kriteria yakni berdasarkan pencapaian kompetensi peserta
didik setelah mengikuti proses pembelajaran;
3. Penilaian dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan;
4. Hasil penilaian ditindaklanjuti dengan program remedial bagi peserta didik yang
pencapaian kompetensinya di bawah kriteria ketuntasan dan program pengayaan bagi peserta
didik yang telah memenuhi kriteria ketuntasan;
5. Penilaian harus sesuai dengan kegiatan pembelajaran.

 Adapun prinsip-prinsip yang harus diperhatikan oleh guru pada saat melaksanakan
penilaian untuk implementasi Kurikulum 2013 baik pada jenjang pendidikan dasar
(SD/MI) maupun pada jenjang pendidikan menengah (SMP/MTs, SMA/MA dan
SMK/MAK) adalah:
1. Sahih
Penilaian yang dilakukan haruslah sahih, maksudnya penilaian didasarkan pada data yang
memang mencerminkan kemampuan yang ingin diukur.
2. Objektif
Penilaian yang objektif adalah penilaian yang didasarkan pada prosedur dan kriteria yang jelas
dan tidak boleh dipengaruhi oleh subjektivitas penilai (guru).
3. Adil
Penilaian yang adil maksudnya adalah suatu penilaian yang tidak menguntungkan atau
merugikan siswa hanya karena mereka (bisa jadi) berkebutuhan khusus serta memiliki
perbedaan latar belakang agama, suku, budaya, adat istiadat, status sosial ekonomi, dan gender.
4. Terpadu
Penilaian dikatakan memenuhi prinsip terpadu apabila guru yang merupakan salah satu
komponen tidak terpisahkan dari kegiatan pembelajaran.
5. Terbuka
Penilaian harus memenuhi prinsip keterbukaan di mana kriteria penilaian, dan dasar
pengambilan keputusan yang digunakan dapat diketahui oleh semua pihak yang
berkepentingan.
6. Menyeluruh dan berkesinambungan
Penilaian harus dilakukan secara menyeluruh dan berkesinambungan oleh guru dan mesti
mencakup segala aspek kompetensi dengan menggunakan berbagai teknik penilaian yang
sesuai. Dengan demikian akan dapat memantau perkembangan kemampuan siswa.
7. Sistematis
Penilaian yang dilakukan oleh guru harus terencana dan dilakukan secara bertahap dengan
mengikuti langkah-langkah yang baku.
8. Beracuan kriteria
Penilaian dikatakan beracuan kriteria apabila penilaian yang dilakukan didasarkan pada ukuran
pencapaian kompetensi yang ditetapkan.
9. Akuntabel
Penilaian yang akuntabel adalah penilaian yang proses dan hasilnya dapat
dipertanggungjawabkan, baik dari segi teknik, prosedur, maupun hasilnya.
10. Edukatif
Penilaian disebut memenuhi prinsip edukatif apabila penilaian tersebut dilakukan untuk
kepentingan dan kemajuan pendidikan siswa.
 Pendekatan Penilaian Menurut Kurikulum 2013
Menurut Kurikulum 2013, penilaian yang dilakukan harus menggunakan pendekatan-
pendekatan berikut:
Acuan Patokan
Dalam mengimplementasikan kurikulum 2013 pada aspek penilaiannya, maka semua
kompetensi perlu dinilai dengan menggunakan acuan patokan berdasarkan pada indikator hasil
belajar. Sekolah terlebih dahulu harus menetapkan acuan patokan sesuai dengan kondisi dan
kebutuhan masing-masing.
Ketuntasan Belajar
Ketuntasan belajar menurut kurikulum 2013 ditentukan sebagai berikut:
i. Ketuntasan belajar dan konversi nilai menurut Kurikulum 2013
ii. Ketuntasan belajar dan konversi nilai menurut Kurikulum 2013
Untuk KD pada KI-3 dan KI-4, siswa dapat dikatakan belum tuntas belajar untuk menguasai
KD yang dipelajarinya bila menunjukkan indikator nilai < 2.66 dari hasil tes formatif. Untuk
KD pada KI-3 dan KI-4, siswa dinyatakan sudah tuntas belajar untuk menguasai KD yang
dipelajarinya apabila menunjukkan indikator nilai ≥ 2.66 dari hasil tes formatif. Untuk KD
pada KI-1 dan KI-2, ketuntasan siswa dilakukan dengan memperhatikan aspek sikap pada KI-
1 dan KI-2 untuk seluruh matapelajaran, yakni jika profil sikap siswa secara umum berada pada
kategori baik (B) menurut standar yang ditetapkan satuan pendidikan yang bersangkutan.
 Adapun implikasi dari adanya persyaratan ketuntasan belajar tersebut adalah sebagai
berikut.
i. Untuk KD pada KI-3 dan KI-4: diberikan remedial individual sesuai
dengan kebutuhan kepada peserta didik yang memperoleh nilai kurang dari 2.66;
ii. Untuk KD pada KI-3 dan KI-4: diberikan kesempatan untuk melanjutkan
pelajarannya ke KD berikutnya kepada peserta didik yang memperoleh nilai 2.66 atau lebih
dari 2.66; dan
iii. Untuk KD pada KI-3 dan KI-4: diadakan remedial klasikal sesuai dengan
kebutuhan apabila lebih dari 75% peserta didik memperoleh nilai kurang dari 2.66.
iv. Untuk KD pada KI-1 dan KI-2, pembinaan terhadap peserta didik yang
secara umum profil sikapnya belum berkategori baik dilakukan secara holistik (paling tidak
oleh guru matapelajaran, guru BK, dan orang tua).
 Karakteristik Penilaian Menurut Kurikulum 2013
a) Belajar Tuntas
Untuk kompetensi pada kategori pengetahuan dan keterampilan (KI-3 dan KI-4), siswa tidak
diperkenankan mengerjakan pekerjaan berikutnya, sebelum mampu menyelesaikan pekerjaan
dengan prosedur yang benar dan hasil yang baik. Asumsi yang digunakan dalam belajar tuntas
adalah siswa dapat belajar apapun, hanya waktu yang dibutuhkan yang berbeda. Siswa yang
belajar lambat perlu waktu lebih lama untuk materi yang sama, dibandingkan siswa pada
umumnya.
b) Otentik
Memandang penilaian dan pembelajaran secara terpadu. Penilaian otentik harus
mencerminkan masalah dunia nyata, bukan dunia sekolah. Menggunakan berbagai cara dan
kriteria holistik (kompetensi utuh merefleksikan pengetahuan, keterampilan, dan sikap).
Penilaian otentik tidak hanya mengukur apa yang diketahui oleh siswa, tetapi lebih
menekankan mengukur apa yang dapat dilakukan oleh siswa.
c) Berkesinambungan
Tujuannya adalah untuk mendapatkan gambaran yang utuh mengenai perkembangan hasil
belajar siswa, memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil terus menerus dalam bentuk
penilaian proses, dan berbagai jenis ulangan secara berkelanjutan (ulangan harian, ulangan
tengah semester, ulangan akhir semester, atau ulangan kenaikan kelas).
d) Berdasarkan acuan kriteria
Kemampuan siswa tidak dibandingkan terhadap kelompoknya, tetapi dibandingkan terhadap
kriteria yang ditetapkan, misalnya ketuntasan minimal, yang ditetapkan oleh satuan pendidikan
masing-masing.
e) Menggunakan teknik penilaian yang bervariasi
Teknik penilaian yang dipilih dapat berupa tertulis, lisan, produk, portofolio, unjuk kerja,
projek, pengamatan, dan penilaian diri.

Prinsip dan langkah-langkah penilaian (assessment) Permendikbud Nomor 66 Tahun 2013


menjelaskan bahwa penilaian hasil belajar siswa pada jenjang pendidikan dasar dan menengah
didasarkan pada prinsipprinsip sebagai berikut :
a. Objektif, berarti penilaian berbasis pada standar dan tidak dipengaruhi faktor subjektivitas
penilai;
b. Terpadu, berarti penilaian oleh pendidik dilakukan secara terencana, menyatu dengan
kegiatan pembelajaran, dan berkesinambungan;
c. Ekonomis, berarti penilaian yang efisien dan efektif dalam perencanaan, pelaksanaan, dan
pelaporannya;
d. Transparan, berarti prosedur penilaian, kriteria penilaian, dan dasar pengambilan keputusan
dapat diakses oleh semua pihak;
e. Akuntabel, berarti penilaian dapat dipertanggungjawabkan kepada pihak inter-nal sekolah
maupun eksternal untuk aspek teknik, prosedur, dan hasilnya;
f. Edukatif, berarti mendidik dan memotivasi peserta didik dan guru.
Selain itu, menurut Abidin (2014), ada beberapa prinsip asesmen, yaitu
(a) asesmen harusnya didasarkan atas hasil pengukuran yang komprehensif,
(b) harus dibedakan antara penskoran (score) dan asesmen (grading),
(c) dalam proses pemberian nilai hendaknya diperhatikan adanya dua macam patokan, yaitu
pemberian yang non-referenced dan yang criterion referenced,
(d) kegiatan pemberian nilai hendaknya merupakan bagian integral dari proses belajar
mengajar; 5) asesmen harus bersifat komparabel. 12 Penilaian (assessment) dalam
pembelajaran harus memiliki prosedur/langkahlangkah tertentu. Menurut Uno dan Satria
(2012), terdapat beberapa urutan kerja yang harus dilakukan yaitu
(a) menjabarkan kompetensi dasar ke dalam indikator pencapaian hasil belajar;
(b) menetapkan kriteria ketuntasan setiap indikator;
(c) memetakan standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, kriteria ketuntasan, dan aspek
yang terdapat pada rapor;
(d) memetakan standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, kriteria ketuntasan, aspek
penilaian, dan teknik penilaian;
(e) menetapkan teknik penilaian dengan mempertimbangkan ciri indikator.
Hal ini pula dijelaskan oleh Subali (2010) bahwa Agar dapat diperoleh alat asesmen atau alat
ukur yang baik perlu dikembangkan suatu prosedur atau langkah-langkah yang benar, yang
meliputi perencanaan asesmen yang memuat maksud dan tujuan asesmen, yaitu
1. Penyusunan kisi-kisi;
2. Penyusunan instrumen/alat ukur;
3. Penelahan (review) untuk menilai kualitas alat ukur/instrumen secara kualitatif,yakni
sebelum digunakan;
4. Uji coba alat ukur, untuk menyelidiki kesahihan dan keandalan secara empiris;
5. Pelaksanaan pengukuran;
6. Asesmen yang merupakan interpretasi hasil pengukuran;
7. Pemanfaatan hasil asesmen