Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Sistem pelayanan kesehatan merupakan bagian penting dalam meningkatkan derajat
kesehatan. Dengan adanya sistem kesehatan ini tujuan pembangunan dapat tercapai efektif,
efisien, dan tepat sasaran. Keberhasilan sistem pelayanan kesehatan bergantung pada berbagai
komponen yang ada baik dana, fasilitas penunjang maupun sumber daya manusia yang ada
dalam hal ini perawat, dokter, radiologi, ahli fisioterapi, ahli gizi, dan tim kesehatan lain
( Mubarak dan Chayatin, 2009 ).
Seluruh bidang pelayanan kesehatan sedang mengalami perubahan dantidak satupun
perubahan yang berjalan lebih cepat dibandingkan yang terjadi pada bidang perawatan.
Perawatan adalah pelayanan esensial yang diberikan oleh perawat terhadap individu, keluarga
dan masyarakat yang mempunyai masalah kesehatan. Pelayanan yang diberikan adalah upaya
mencapai derajat kesehatan semaksimal mungkin sesuai dengan potensi yang dimiliki dalam
menjalankan kegiatan di bidang promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif
denganmenggunakan proses keperawatan ( Nursalam , 2001 ).
Profesi keperawatan harus selalu berespon pada perubahan dan tantangan yang dinamis
dan berkesinambungan. Perawat dimasa kini harus memiliki pengetahuan yang luas untuk
dijadikan dasar dalam memberikan asuhan keperawatan. Peran perawat di Negara kita adalah
memberikan praktik asuhan keperawatan terbaik dan berkontribusi pada pelayanan kesehatan
di Negara kita ( Potter and Perry, 2009 ).
Perawat memberikan bantuan baik untukpasien maupun keluarga yang menghadapi
penyakit atau cidera. Hal ini memberikan suatu tantangan yang sangat menyenangkan dan
nyata bagi perawat (Doengos, 2000).
Indonesia dan latar belakangnya saat ini Indonesia tengah mengalami surplus tenaga
keperawatan. Sejak tahun 90-an pendidikan keperawatan di Indonesia telah selangkah lebih
baik daripada periode sebelumnya. Ini ditunjukkan dengan data yang saat ini komposisi
perawat terbanyak adalah SPK (60%), diikuti oleh diploma (39%) dan sarjana keperawatan
(1%). Sebagai perawat umum mereka memiliki izin untuk bekerja di rumah sakit atau berbagai
pelayanan kesehatan yang ada di masyarakat (Muthalib, 2010).
Perawat ICU berbeda dengan perawat bagian lain. Tingkat pekerjaan dan pengetahuan
perawat ICU lebih kompleks dibandingkan dengan perawat bagian lain di rumah sakit, karena
bertanggung jawab mempertahankan homeostasis pasien untuk berjuang melewati kondisi
kritis atau terminal yang mendekati kematian. Perawat di ruang ICU dituntut mempunyai
keahlian dan intelektual yang lebih. Namun merawat pasien dengan kondisi kritis juga
membutuhkan kemampuan untuk memberikan dukungan emosional, sosial, dan spiritual selain
dukungan fisik karena pasien diruang ICU kemungkinan lebih merasa ketakutan, lebih
kesepian, lebih bingung dan cemas. Dengan memberikan pelayanan yang penuh kasih, ikhlas,
dan kesungguhan, maka perawat dapat menunjukan perhatian dan dukungan pada pasien dan
keluarga (Hudak, 1997)
Sakit bukanlah kejadian yang membuat hidup terisolasi. Klien dan keluarganya harus
berhadapan dengan perubahan sebagai akibat dari sakit dan terapinya. Setiap klien memiliki
respon unik tersendiri untuk sakit, sehingga perawat harus memiliki intervensi yang individual.
Klien dan keluarganya sering mengalami perubahan tingkah laku, emosional, perubahan dalam
peran citra tubuh, konsep diri dan dinamika keluarga ( Potter and Perry : 2009 ).
Reaksi-reaksi yang timbul akibat perawatan di rumah sakit berbeda pada setiap orang,
karena tinggal di rumah sakit bukanlah suatu pengalaman yang menyenangkan, dimana klien
harus mengikuti peraturan serta rutinitas ruangan ( Sukoco, 2002 ).
Stress pada keluarga juga dapat disebabkan karena hal-hal lain seperti besarnya biaya
perawatan, kurangnya pengetahuan tentang status kesehatan klien dan kurangnya dukungan
social. Keadaan stress yang berlanjut akan menimbulkan kecemasan (Muttaqin : 2000).
Setiap keluarga akan menggunakan koping yang berbeda untuk mengatasi kecemasan.
Hal ini tergantung penyebab, tingkat kecemasan dan sumber koping (Rasmun : 2001).
Rumah Sakit Umum Daerah ( RSUD ) Moewardi merupakan rumah sakit rujukan se eks
karesidenan Surakarta. Berdasarkan data survey, di RSUD Moewardi Surakarta jumlah total
perawat ada 665 orang dan terbagi di tiap ruang perawatan . Jumlah perawat di ruang kritis
(ICU dan ICVCU) ada 47 orang terbagi dalam 24 perawat ICU dan 23 perawat ICVCU dengan
latar belakang pendidikan S1 20 orang, D3 25 orang dan SPK 2 orang( Rekam Medik RSUD
Dr. Moewardi, 2010).
Dari hasil survei pendahuluan masih sangat sedikit perawat yang memperhatikan
kecemasan yang dialami keluarga pasien yang salah satu anggotanya di rawat di ruang ICU
dan ICVCU. Asuhan keperawatan kepada keluarga di ICU dan ICVCU juga sangat jarang
dilakukan terbukti dari tidak adanya dokumentasi keperawatan terhadap keluarga. Ada
beberapa hal yang menyebabkan asuhan keperawatan pada keluarga tidak dilakukan oleh
perawat diantaranya adalah beban kerja, tingkat pendidikan dan pengetahuan. Hasil observasi
awal peneliti terhadap pengetahuan perawat ruang ICU dan ICVCU tentang pengelolaan
kecemasan keluarga pasien, diperoleh kesimpulan bahwa terdapat beberapa perawat yang
kurang memahami proses atau metode pengelolaan kecemasan keluarga pasien. Oleh karena
itu penting untuk diteliti apakah ada hubungan tingkat pengetahuan tentang asuhan
keperawatan kritis dengan fungsi perawat dalam pengelolaan kecemasan keluarga pasien di
RSUD Moewardi Surakarta.

1.2 RUMUSAN MASALAH


Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, permasalahan
yang dapat dirumuskan adalah “ Adakah hubungan antara tingkat pengetahuan tentang asuhan
keperawatan kondisi kritis dengan fungsi perawat dalam pengelolaan kecemasan keluarga
pasien di RSUD Moewardi Surakarta? ”

1.3 TUJUAN PENELITIAN


1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan tentang asuhan keperawatan kondisi kritis
dengan fungsi perawat dalam pengelolaan kecemasan keluarga pasien di RSUD Moewardi
Surakarta
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan perawat tentang asuhan keperawatan kondisi kritis.
b. Untuk mengetahui fungsi perawat dalam pengelolaan kecemasan keluarga pasien di RSUD
Moewardi Surakarta
c. Untuk mengetahui pengelolaan kecemasan keluarga pasien di RSUD Moewardi Surakarta
d. Untuk menganalisis hubungan tingkat pengetahuan tentang asuhan keperawatan kondisi
kritis dengan fungsi perawat dalam pengelolaan kecemasan keluarga pasien di RSUD
Moewardi Surakarta.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 DEFINISI KEPERAWATAN KRITIS
Kritis adalah penilaian dan evaluasi secara cermat dan hati-hati terhadap suatu kondisi
krusial dalam rangka mencari penyelesain atu jalan keluar .keperawatan kritis merupakan salah
satu spesialisasi di bidang keperawatan yang secara khusus menangani respon manusia
terhadap masalah yang mengancam hidup.seorang peran kritis adalah perawat profesional yang
bertangung jawab untuk menjamin pasien yang kritis dan akut beserta keluarganya
mendapatkan pelayanan perawatan yang optimal.
2.2 ISU END OF LIFE PASIEN KRITIS
Perawatan end of life merupakan perawatan yg bertujuan utk meningkatkan kualitas
hidup pasien dan keluarga dgn membantu mengatasi masalah penderitaan fisik, psikologis,
sosial dan spiritual pada pasien yg tidak lagi responsif thd tindakan kuratif.
End of life atau kematian tjd apabila fungsi pernapasan dan jantung berhenti. Pada
umumnya, kematian disebabkan oleh penyakit atau trauma yg mengakibatkan mekanisme
kompensasi tubuh berlebihan. Penyebab langsung kematian adalah:
1. gagal napas dan syok yg mengakibatkan berkurangnya aliran darah utk memenuhi
kebutuhan organ vital seperti otak, ginjal, jantung.
2. Multiple organ dysfunction syndrome (MODS) merupakan problem patologis di unit
kep kritis yg menjadi penyebab kematian.
3. Tidak adekuatnya aliran darah pada jaringan tubuh menjadikan sel kekurangan oksigen.
Pada keadaan hipoksia tubuh melakukan metabolisme tanpa menggunakan oksigen
(anaerob) disertai asidosis, hiperkalemia, dan iskemia jaringan.
4. Perubahan scr dramatis pada organ vital menunjukkan pelepasan dari toxin hasil
metabolisme dan kerusakan enzim. Ini adalah proses yg menjelaskan bahwa sudah
tjdnya MODS.
Kematian klinis adalah kematian yg terjadi setelah berhentinya denyut jantung dan
pernapasan berirama, tidak ada gangguan fungsi otak atau kematian batang otak. Pada situasi
ini dengan tindakan CPR masih mungkin berhasil memulihkan organ. Bagaimanapun, CPR
akan sia2 bila pasien menderita penyakit termina dan sudah mengalami MODS.
American Association of Critical Nursing mempublikasikan. 15 kompetensi dasar untuk
meningkatkan kualitas askep end of life:
1. Menggali perubahan dinamis tentang populasi demografi, pelayanan kesehatan yg
ekonomis, dan jasa layanan kesehatan yang mendukung peningkatan kesiapan askep
end of life.
2. Meningkatkan kepedulian terhadap kenyamanan asuhan pada kematian secara aktif, yg
diinginkan, dan mementingkan skill dan merupakan bagian integral dari askep
3. Komunikasi secara efektif dan penuh kasih sayang yang melibatkan klien dan keluarga
serta anggota team asuhan tentang isu end of life
4. Menggali sikap, perasaan, nilai dan harapan diri tentang kematian, budaya serta
kepercayaan rohani dan kebiasaan pasien.
5. Berperilaku rasa hormat terhadap pendapat dan harapan pasien selama asuhan
perawatan end of life
6. Kolaborasi antar anggota tim kesehatan lain saat sedang melaksanakan peran
keperawatan pada asuhan end of life
7. Gunakan alat yang standar yang didasari ilmu pengetahuan untuk mengkaji gejala dan
tanda yang diperlihatkan pasien saat kematian
8. Penggunaan data dari pengkajian gejala untuk membuat rencana tindakan, pada
manajemen gejala menggunakan standar pendekatan tradisional
9. Mengevaluasi dampak dari terapi tradisional, komplementer, dan teknologi berpusat
pada hasil akhir pasien
10. Mengkaji terapi dari berbagai sudut pandang meliputi kebutuha fisik, psikologis, sosial
dan spiritual untuk meningkatkan kualitas askep
2.3 PERAN PERAWAT DALAM KEPERAWATAN END OF LIFE:
1. Memberikan dukungan perawatan fisik\
2. Memgatasi semua gejala penyakit
3. Memberikan perawatan fisik dengan memandikan pasien
4. Merawat area tekan
5. Memberikan analgesik dan sedasi
6. Peran perawat advokasi : Mendengarkan, Memahami keinginan, Membantu dalam
pembuatan keputusan yang dibutuhkan, Mendukung pilihan keluarga terhadap
perawatan pasien
2.4 TAHAPAN PERAWATAN END OF LIFE
 Tahap I
1. Perawat mengenali kematian yang tidak bisa dihindari sebelum dokter dan keluarganya
2. Mendorong dokter untuk mengkomunikasikan dan mendiskusikan beberapa pilihan
secara langsung dengan keluarga tentang tindakan penghentian dukungan hidup dan
peyampaian berita buruk
 Tahap 2
1. Merencanakan pertemuan dengan keluarga untuk membantu keluarga membuat
keputusan sendiri dan siap menghadapi tindakan penghentian dukungan hidup pasien
 Tahap 3
1. Ketika keluarga telah menentukan keputusan untuk penghentian dukungan hidup
dimana pasien dan keluarga butuh waktu untuk bersama
2.5 DAMPAK PERAWATAN END OF LIFE
1. Perawat merasa simpati dan kasihan kepada pasien
2. Perawat mengalami kecemasan dan depresi
3. Perawat merasa tidak berdaya, marah, frustasi, dan sedih
4. Perawat merasakan kesulitan dan gangguan emosional
5. Perawat juga mengalami distres
2.6 PERAN DAN FUNGSI PERAWAT KRITIS

Perawat critical care mempunyai berbagai peran formal, yaitu :

1. Bedsite nurse  peran dasar dari keperawatan kritis. Hanya mrk yg selalu bersama ps 24
jam, dalam 7 hari seminggu
2. Pendidik critical care  mengedukasi pasien
3. Case manager mempromosikan perawat yg sesuai dan tepat waktu
4. Manager unit atau departemen (kepala bagian)  menjadi pengarah
5. Perawat klinis spesialis  dapat membantu membuat rencana askep
6. Perawat praktisi  mengelola terapi dan pengobatan.

Pada akhirnya perawat critical care mengkoordinkasikan dgn tim mengimplementasikan


rencana askep, memodif rencana sesuai kebutuhan dan respon pasien. Adapun kompetensi
perawat kritis adalah:

1. Pengkajian klinis : mengumpulkan data ttg pasien, evaluasi praktik


2. Pembuatan keputusan klinis: menilai/membuat keputusan berdasarkan data dan tanda
gejala
3. Perawatan: memberi askep pada pasien
4. Advokasi: melindungi hak ps dan keluarga
5. Memikirkan sistem: mengarahkan sistem pelayanan yg bermanfaat bagi ps
6. Fasilitator pembelajaran: sbg edukator
7. Berespons thd keberagaman: terima pasien dgn budaya yg berbeda
8. Kolaborasi: kerjasama dgn profesi lain

AACN juga menjelaskan bahwa peran perawat kritis adalah peran advokat. AACN
mendefinisikan advokat adalah menghormati dan mendukung nilai2 dasar, hak2, dan
keyakinan pasien sakit kritis. Dalam peran ini, perawat kritis melakukan hal:

1. Menghormati dan mendukung hak pasien atau pengganti pasien yg ditunjuk utk
pengambilan keputusan otonom
2. Campur tangan ketika kepentingan terbaik pasien yg bersangkutan
3. Membantu ps mendapatkan perawatan yg dibutuhkan
4. Menghormati nilai2, keyakinan2, dan hak2 pasien
5. Menyediakan pendidikan dan dukungan utk membantu pasien atau pengganti pasien yg
ditunjuk membuat keputusan.
6. Mewakili pasien sesuai dgn pilihan pasien
7. Mendukung keputusan dari pasien atau pengganti yg ditunjuk, atau perawatan transfer
pasien kritis sama2 berkualitas
8. Berdoa bagi pasien yg tidak dapat berbicara utk mereka sendiri
9. Memantau dan menjaga kualitas perawatan pasien
10.Bertindak sebagai penghubung antara pasien, keluarga, dan profesional kesehatan
lainnya
2.7 TUJUAN PERAWATAN INTENSIF
1. Menyelamatkan kehidupan
2. Mencegah terjadinya kondisi memburuk dan komplikasi melalui observasi dan
monitoring yang ketat disertai kemampuan menginterpretasikan setiap data yang di dapat
dan melakukan tindak lanjut.
3. Meningkatkan kualitas hidup pasien dan mempertahankan kehidupan.
4. Mengoptimalkan kemampuan fungsi organ tubuh pasien.
5. Mengurangi angka kematian pasien kritis dan mempercepat proses penyembuhan pasien.
2.8 KLASIFIKASI ICU
1. ICU Primer : Tingkat 1 (RS Tipe D/Kecil)
 Memantau dan mencegah penyulit pasien dan bedah yang berisiko
 Ventilasi mekanik dan pemantauan kardiovaskuler sederhana selama beberapa jam
 Ruangan dekat dengan kamar bedah
 Kebijakan / criteria pasien masuk, keluar dan rujukan
 Kepala : dokter spesialis anestesi
 Dokter jaga 24 jam, mampu RJP
 Konsultan dapat dihubungi dan dipanggil setiap saat
 Jumlah perawat cukup dan sebagian besar terlatih
 Pemeriksaan Laborat : Hb, Hct, Elektrolit,GD, Trombosit
 Kemudahan Rontgen dan Fisioterapi

2. ICU Sekunder : Tingkat 2

 Memberikan pelayanan ICU umum: bedah, trauma, bedah syaraf, vaskuler dsb.
 Tunjangan ventilasi mekanik lebih lama.
 Ruangan khusus dekat kamar bedah
 Kebijakan dan kriteria pasien masuk, keluar dan rujukan
 Kepala intensivis, bila tidak ada SpAn.
 Dokter jaga 24 jam mampu RJP ( A,B,C,D,E,F )
 Ratio pasien : perawat = 1 : 1 untuk pasien dengan ventilator,RT dan 2 : 1 untuk pasien
lainnya.
 50% perawat bersertifikat ICU dan pengalaman kerja minimal 3 tahun di ICU Mampu
melakukan pemantauan invasife Lab, Ro, fisioterapi selama 24 jam
3. ICU Tersier : Tingkat III (RS Tipe A/B)
 Tempat khusus tersendiri di Rumah Sakit
 Memiliki kriteria klien masuk, keluar dan rujukan
 Memilki dokter sepesialis dan sub spesialis yang dapat dipanggil setiap saat.
 Dikelola oleh seorang ahli anestesiologi konsultan intensif care atau ahli yang lain, yang
bertanggung jawab secara keseluruhan.
 Ada dokter jaga 24 jam dan mampu melakukan CPR (BHD dan BHL).
 Ratio pasien : perawat = 1:1 untuk pasien dengan ventilator, dan 2 : 1 untuk pasien
lainnya.
 75% perawat bersertifikat ICU atau minimal pengalaman kerja di ICU 3 tahun
 Mampu melakukan pemantauan / terapi non invasive maupun invasive.
 Laborat, Ro, Fisioterapi selama 24 jam
 Mempunyai pendidikan medik dan perawat
 Memiliki prosedur pelaporan resmi dan pengkajian, Memiliki staf administrasi, rekam
medik dan tenaga lain.
2.9 STANDAR MINIMUN PELAYANAN INSTALASI PERAWATAN INTENSIVE

 Resusitasi Jantung Paru (BHD)


 Air Way Management
 Terapi Oksigen: Ventilator
 Monitoring EKG, Pulse Oximetri
 Pemeriksaan Lab
 Terapi Titrasi
 Tehnik khusus sesuai pasien
2.10 TANGGUNG JAWAB PERAN PERAWAT:

1. Mendukung dan menghargai otonomi pasien, serta pengambilan keputusan yang


diinformasikan
2. Menjadi penengah apabila ada keraguan kepentingan siapa yang dilayani
3. Membantu pasien untuk memperoleh perawatan yang diperlukan
4. Menghormati nilai, keyakinan, dan hak pasien
5. Memberikan edukasi kepada pasien/yang mewakilkan dalam pengambilan keputusan
6. Menerangkan hak pasien untuk memilih
7. Mendukung keputusan pasien/yang mewakilkan atau memindahtangankan perawatan
kepada perawat keperawatan kritis dengan kualifikasi yang setara
8. Menjadi perantara basi pasien yang tidak bisa mengambil keputusan sendiri dan juga
9. pasien yang memerlukan intervensi darurat
10. Memonitor dan menjamin kualitas pelayanan
11. Berlaku sebagai penghubung antara pasien/keluarga pasien dan anggota tim kesehatan
lain.
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Kritis adalah penilaian dan evaluasi secara cermat dan hati-hati terhadap suatu kondisi
krusial dalam rangka mencari penyelesain atu jalan keluar .keperawatan kritis merupakan
salah satu spesialisasi di bidang keperawatan yang secara khusus menangani respon
manusia terhadap masalah yang mengancam hidup.seorang peran kritis adalah perawat
profesional yang bertangung jawab untuk menjamin pasien yang kritis dan akut beserta
keluarganya mendapatkan pelayanan perawatna yang optimal.
Perawatan end of life merupakan perawatan yg bertujuan utk meningkatkan kualitas
hidup pasien dan keluarga dgn membantu mengatasi masalah penderitaan fisik, psikologis,
sosial dan spiritual pada pasien yg tidak lagi responsif thd tindakan kuratif.
End of life atau kematian tjd apabila fungsi pernapasan dan jantung berhenti. Pada
umumnya, kematian disebabkan oleh penyakit atau trauma yg mengakibatkan mekanisme
kompensasi tubuh berlebihan. Penyebab langsung kematian adalah:
5. gagal napas dan syok yg mengakibatkan berkurangnya aliran darah utk memenuhi
kebutuhan organ vital seperti otak, ginjal, jantung.
6. Multiple organ dysfunction syndrome (MODS) merupakan problem patologis di unit
kep kritis yg menjadi penyebab kematian.
7. Tidak adekuatnya aliran darah pada jaringan tubuh menjadikan sel kekurangan oksigen.
Pada keadaan hipoksia tubuh melakukan metabolisme tanpa menggunakan oksigen
(anaerob) disertai asidosis, hiperkalemia, dan iskemia jaringan.
8. Perubahan secara dramatis pada organ vital menunjukkan pelepasan dari toxin hasil
metabolisme dan kerusakan enzim. Ini adalah proses yg menjelaskan bahwa sudah
terjadinya MODS.
3.2 SARAN
1. Meningkatkan rasa kepedulian untuk kenyamanan pada asuhan kematian secara
aktif dan mementingkan skill yang di dapatkan
2. Memberikan bantuan baik untuk pasien maupun keluarga yang menghadapi
penyakit.
3. Bertangung jawab untuk menjamin pasien yang kritis dan akut beserta keluarganya
agar mendapatkan pelayanan yang baik
4. Monitoring yang ketat untuk mecegah terjadinya kondisi memburuk dan
komplikasi
DAFTAR PUSTAKA

http://www.scribd.com/doc/243508922/Bab-II-Prespektif-Kep-Kritis#scribd (Diakses tanggal


9/9/2015)

Laura A. 1997. Pengkajian Keperawatan Kritis Edisi: 2. Jakarta: EGC

Morton, Patricia Gonce, dkk. 2011. Keperawatan Kritis: Pendekatan Asuhan Holistik. Jakarta:
EGC

Tabrani. 2007. Agenda gawat darurat (Critical Care). P. T Alumni: Bandung

______. 2014. Critical Care Nursing.

Http://www.en.wikipedia.org/wiki/Critical_care_nursing (Diakses tanggal 9/9/2015)