Anda di halaman 1dari 12

Peningkatan Hasil Belajar .... (Ita Purnamasari) 1.

607
PENINGKATAN HASIL BELAJAR KOGNITIF PADA MATA PELAJARAN PKN
MELALUI MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE TGT
IMPROVING THE COGNITIVE LEARNING ACHIEVEMENT OF CIVIC EDUCATION THOURGH
TGT OF THE COOPERATIVE LEARNING MODEL
Oleh: ita purnamasari/psd/pgsd
i.purnamasari26@yahoo.com

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk melihat peningkatan hasil belajar kognitif PKn siswa kelas IV melalui model
cooperative learning tipe TGT (Teams Games Tournament) di SD N Sendangsari. Penelitian ini merupakan penelitian
tindakan kelas. Subjek dalam penelitian ini adalah 27 siswa kelas IV SD N. Teknik pengumpulan data yang digunakan
tes, observasi, wawancara dan dokumentasi. Instrumen penelitian menggunakan soal tes dan lembar observasi. Teknik
analisis data menggunakan deskriptif kuantitatif dan deskriptif kualitatif. Kriteria keberhasilan adalah ketuntasan belajar
siswa dalam satu kelas telah memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) mata pelajaran PKn yang telah ditetapkan
SD N Sendangsari yaitu 75. Pembelajaran dikatakan tuntas apabila >75% siswa yang hadir telah memenuhi KKM. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa hasil belajar kognitif PKn siswa kelas IV di SD N Sendangsari dapat mengalami
peningkatan setelah dilakukan pembelajaran menggunakan model cooperative learning tipe TGT. Hal ini dibuktikan
dengan adanya peningkatan hasil belajar kognitif PKn dari pra tindakan ke siklus I, yaitudari 27 siswa, nilai rata-rata PKn
adalah 67 dan berada pada kriteria rendah (33,333%). Setelah dilakukan tindakan pada siklus I, rata-rata nilai PKn
meningkat menjadi 75,37 dan berada pada kriteria cukup (62,963%). Pada siklus II rata-rata nilai PKn meningkat lagi
menjadi 83,15 dan berada pada kriteria tinggi (88,889%).
Kata kunci : hasil belajar kognitif PKn, model cooperative learning tipe TGT, Sekolah Dasar

Abstrack
This study aimed to improve the cognitive learning achievement of Civic Education among Grade IV students
throught Teams Games Tournament (TGT) of the cooperative learning model at Public Elementary School of
Sendangsari. This was an action research study. The research subjects were 27 students of Grade IV of Public
Elementary School of Sendangsari. The data collection techiques were the test, observation, interview, and
documentation. The research instruments were test papers and observation sheets. The data analysis techniques were
quantitative and qualitative descriptive. The success criterion was all student’s learning mastery in the classroom
satisfied the Minimum Mastery Criterion (MMC) of Civic Education set by Public Elementary School of Sendangsari,
namely 75. The learning reached the mastery in the level when >75% of the present students attained the MMC. The
results of the study showed that the cognitive learning achievement of Civic Education among Grade IV students Public
Elementary School of Sendangsari improved after the cognitive learning of Civic Education through TGT of the
cooperative learning model was implemented. This was indicated by the improvement of the cognitive learning
achievement of Civic Education from the pre-cycle to Cycle I; of 27 students, the Civic Education mean score was 67,
which was low (33.333%). After the action was implemented in Cycle I, it improved to 75.37, which was fair (62.963%).
In Cycle II, it improved to 83.15, which was high (88.889%).

Keywords: cognitive learning achievement of Civic Education, TGT of cooperative learning, Elementary school

PENDAHULUAN Indonesia yang cerdas, terampil, dan berkarakter


Pendidikan Kewarganegaraan atau sering sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945. Oleh
disebut dengan PKn merupakan salah satu mata sebab itu PKn di SD merupakan salah satu mata
pelajaran yang wajib di Sekolah Dasar (SD). pelajaran yang penting untuk diajarkan kepada
Berdasarkan Permendiknas No. 22 Tahun 2006 siswa. Melalui mata pelajaran PKn siswa akan
tentang standar isi tertulis bahwa pendidikan memahami mengenai hak dan kewajibannya
kewarganegaraan adalah mata pelajaran yang sebagai warga negara sehingga dapat membekali
fokus pada pembentukan warga negara yang siswa sikap yang sesuai dengan norma yang
memahami dan mampu melaksanakan hak-hak berlaku. Selain itu, mata pelajaran PKn juga
serta kewajibannya sebagai warga negara bertujuan untuk menanamkan nilai dalam proses
1.608 Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar Edisi 17 Tahun ke-5 2016
pembentukan warga negara yang cinta terhadap pembelajaran maka akan menyebabkan hasil
NKRI. belajar siswa rendah. Oleh sebab itu, dalam
Agar tujuan dalam pembelajaran PKn di pembelajaran peran guru sebagai pembina siswa
atas dapat terwujud, maka pembelajaran PKn menjadi suatu hal yang sangat mempengaruhi
hendaknya disampaikan agar dapat bermakna proses pembelajaran tersebut. Guru hendaklah
bagi kehidupan siswa. Pembelajaran dapat dapat mengemas pembelajaran menjadi
bermakna bagi siswa apabila tujuan dari menyenangkan dan menarik bagi siswa sehingga
pembelajaran PKn dapat terwujud. Pembelajaran masalah-masalah yang disebutkan di atas tidak
PKn dibuat sedemikian rupa sehingga peserta terjadi. Guru dalam proses pembelajaran perlu
didik mendapatkan pengetahuan dan pengalaman menggunakan model pembelajaran yang tepat
yang berharga. Pembelajaran PKn hendaknya yaitu yang dapat menyenangkan bagi siswa
dilakukan dengan melibatkan siswa secara aktif. sehingga siswa akan tertarik dan aktif dalam
Siswa dilatih agar dapat menggali proses pembelajaran. Siswa diharapkan mampu
pengetahuannya sendiri sehingga akan lebih memahami, menjelaskan dan mengaplikasikan
bermakna bagi siswa. Selain itu, siswa dilatih materi pelajaran PKn yang telah disampaikan
agar dapat aktif dalam proses pebelajaran melalui oleh guru sehingga akan mengakibatkan hasil
diskusi, permainan dan sebagainya. Pembelajaran belajar siswa tinggi.
PKn harus dapat menjadi wahana untuk Berdasarkan data mengenai hasil belajar
mengembangkan potensi yang dimiliki oleh siswa kelas IV B di SD N Sendangsari dengan
peserta didik agar dapat menjadi generasi penerus jumlah siswa 27 didapatkan bahwa rata-rata nilai
bangsa yang cerdas, terampil dan berkarakter hasil ulangan tengah semester pada mata
sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945. Oleh pelajaran PKn di kelas IV B SD N Sendangsari
sebab itu, pembelajaran PKn haruslah berpusat adalah 67. Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)
pada siswa. yang ditentukan adalah 75. Dari data tersebut
Pembelajaran merupakan proses interaksi terdapat 9 siswa kelas IV B yang mendapatkan
antara guru dengan siswa dalam menyampaikan nilai yang memenuhi KKM sedangkan sebanyak
pengetahuan. Pelaksanaan pembelajaran sering 18 siswa masih mendapatkan nilai di bawah
ditemukan masalah yang berasal dari diri siswa KKM yang ditentukan. Mata pelajaran PKn siswa
sendiri. Masalah yang sering timbul dari dalam kelas IV B di SD N Sendangsari merupakan mata
siswa yaitu siswa pasif dalam pembelajaran, pelajaran yang paling rendah nilai hasil ulangan
siswa hanya mendengarkan ceramah dari guru tengah semester dibandingkan dengan mata
tanpa disertai dengan tanggapan atau bertanya pelajaran yang lainnya.
apabila terdapat materi yang belum jelas, terdapat Melalui wawancara yang dilakukan oleh
juga siswa yang bahkan tidak memperhatikan peneliti, masalah-masalah pembelajaran yang
guru dalam menjelaskan materi karena disebutkan di atas juga terjadi di kelas IV B SD N
menganggap hal tersebut membosankan. Apabila Sendangsari. Guru kelas IV B mengatakan bahwa
hal tersebut terus terjadi dalam suatu beliau mengalami kesulitan dalam mengajarkan
Peningkatan Hasil Belajar .... (Ita Purnamasari) 1.609
mata pelajaran PKn. Menurut guru kelas mata permainan adalah model cooperative learning
pelajaran PKn yang sangat luas dan terkesan tipe TGT (Teams Games Tournament). Model
banyak menuntut siswa untuk menghafal cooperative learning tipe TGT (Teams Games
menjadikan materi PKn sulit untuk dipahami Tournament) adalah sebuah model pembelajaran
siswa. Metode diskusi menjadi suatu metode yang yang didalamnya siswa belajar dan bekerjasama
membosankan karena bahan yang didiskusikan dalam kelompok-kelompok kecil yang dapat
luas dan membutuhkan pemahaman dan hafalan menjadikan siswa aktif sehingga akan berdampak
dari siswa. Sebagian siswa beranggapan mereka pada hasil belajar siswa. Terdapat beberapa
merasa kesulitan dalam memahami materi PKn komponen yang harus dilakukan oleh guru dalam
karena kebanyakan siswa malas untuk menghafal pembelajaran dengan model cooperative learning
materi yang sangat banyak tersebut yang tipe TGT (Teams Games Tournament).
mengakibatkan siswa menjadi pasif dalam proses Komponen pertama adalah presentasi kelas, guru
pembelajaran. Materi yang luas dan perlu menyampaikan materi pembelajaran PKn
pemahaman siswa yang lebih maka dalam disertasi apersepsi. Materi PKn yang sangat luas
pembelajaran PKn di kelas, guru hendaknya dapat dan mengharuskan siswa untuk menghafal maka
menjadikan siswa aktif dalam pembelajaran dalam pemyampaian materi tersebut guru
bukan hanya sekedar mendengarkan ceramah dan menggunakan alat bantu bisa dengan media atau
berdiskusi melainkan siswa dapat melakukan gambar-gambar. Guru juga dapat memanfaatkan
suatu kegiatan pembelajaran dengan aktif LCD yang ada di dalam kelas dengan cara
misalnya dengan suatu permaian. Melalui suatu penyampaian materi dikemas dengan power point
permainan siswa khususnya anak SD akan tertarik sehingga siswa akan lebih tertarik dalam
dan lebih aktif karena dengan permainan memperhatikan guru. Setelah memperhatikan
pembelajaran akan lebih menyenangkan bagi penjelasan guru, siswa melaksanakan kegiatan
siswa. Selain itu, permainan juga sesuai dengan berupa diskusi kelompok. Pada saat pembentukan
karakteristik siswa SD. Hal tersebut sesuai kelompok diskusi ini, kelompok dibentuk secara
dengan pendapat Desmita (2012: 35) karakteristik heterogen agar kegiatan diskusi lebih efektif.
anak Sekolah Dasar adalah senang bermain, Kelompok diskusi tidak hanya didominasi oleh
senang bergerak, senang bekerja dalam kelompok yang anggotanya memiliki kemampuan
kelompok, dan senang merasakan atau melakukan tinggi semua. Setiap anggota memiliki tugas dan
sesuatu secara langsung. Dari beberapa tanggugjawab masing-masing sehingga tidak ada
permasalahan yang telah disebutkan di atas, siswa yang pasif dalam diskusi tersebut.
dibutuhkan suatu model pembelajaran yang dapat Komponen selanjutnya dalam model
menjadikan proses pembelajaran menjadi cooperative learning tipe TGT (Teams Games
menyenangkan serta menjadikan siswa aktif yang Tournament) adalah adanya game akademik.
akan berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Game akademik disini berupa pertanyaan-
Salah satu model pembelajaran yang pertanyaan berdasarkan materi PKn yang sedang
menyenangkan dan didalamnya terdapat dipelajari. Materi PKn tersebut disampaikan
1.610 Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar Edisi 17 Tahun ke-5 2016
dalam bentuk permainan sehingga menjadikan Games Tournament) terdapat unsur permainan.
pembelajaran menyenangkan bagi siswa dengan Permainan merupakan suatu kegiatan yang
begitu siswa akan mudah dalam memahami menarik dan menyenangkan bagi siswa serta
materi PKn yang disampaikan. Game tersebut dapat meningkatkan kemampuan kognitif siswa.
dilakukan dengan kelompok homogen artinya Erna Iswati (2008: 4-6) menyatakan bahwa salah
dalam game tersebut masing-masing kelompok satu manfaat permainan adalah pada aspek
memiliki kemampuan yang sama sehingga kognitif. Permainan dapat meningkatkan
turnamen akan berjalan dengan seru karena setiap kemampuan kognitif anak. Permainan dapat
kelompok akan bertanding dengan kemampuan menambah pengetahuan anak karena setiap anak
yang seimbang. Setelah turnamen selesai terdapat dalam kelompok dapat dipastikan mempunyai
penghargaan terhadap kelompok. Penghargaan pendapat dan hal baru yang berbeda.
kelompok dapat memberikan motivasi terhadap Adanya penghargaan kelompok dalam
individu dalam setiap kelompok agar dapat model cooperative learning tipe TGT (Teams
memberikan sumbangan kemenangan untuk Games Tournament) menjadikan siswa memiliki
kelompoknya sehingga individu akan berusaha kesadaran untuk menyumbangkan kemenangan
untuk memenangkan game tersebut salah satu terhadap kelompoknya pada saat game sehingga
caranya yaitu dengan memahami materi pelajaran siswa akan berusaha untuk memahami materi
PKn. Materi yang digunakan dalam penelitian ini PKn yang sedang dipelajari agar dapat menjawab
mengambil bab yang sedang dipelajari siswa pertanyaan dalam game tersebut. Dengan
kelas IV B pada saat dilakukannya penelitian demikian hasil belajar kognitif siswa dapat tinggi.
yaitu materi tentang globalisasi. Model Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti
cooperative learning tipe TGT merupakan model melakukan penelitian dengan judul
pembelajaran yang menyenangkan, menjadikan “Peningkatan Hasil Belajar Kognitif Pada Mata
siswa aktif dan dapat meningkatkan hasil belajar Pelajaran PKn melalui Model Cooperative
siswa, sehingga dapat diterapkan dalam Learning Tipe TGT (Teams Games Tournament)
pembelajaran PKn misalnya pada materi Siswa Kelas IV B di SD N Sendangsari Tahun
globalisasi. Ajaran 2015/2016.”
Keunggulan dari model cooperative
learning tipe TGT (Teams Games Tournament) METODE PENELITIAN
ini yaitu, siswa dapat mengembangkan Jenis Penelitian
kemampuan berpikir baik secara kelompok Penelitian ini merupakan penelitian tindakan
maupun secara individu. Pembagian kelompok kelas yaitu penelitian yang dilakukan oleh guru di
secara heterogen dapat mengakrabkan siswa kelasnya sendiri dengan cara (1) merencanakan, (2)
dengan berbagai kemampuan yang diharapkan melaksanakan, (3) dan merefleksikan tindakan
sehingga dapat saling membantu siswa yang secara kolaboratif dan partisipatif dengan tujuan
berkemampuan tunggi, sedang maupun rendah. memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga
Model cooperative learning tipe TGT (Teams hasil belajar siswa dapat meningkat (Wijaya
Peningkatan Hasil Belajar .... (Ita Purnamasari) 1.611
Kusumah & Dedi Dwitagama, 2011 : 7). Dalam 3. Pelaksanaan penelitian, yaitu pelaksanaan
penelitian ini, peneliti berkolaborasi dengan guru pembelajaran PKn menggunakan model
kelas IV di SD N Sendangsari. Model penelitian cooperative learning tipe TGT..
yang digunakan yaitu model penelitian menurut 4. Adapun langkah-langkah pelaksanaan antara
Kemmis dan Mc Taggart. Pada model penelitian lain, (1) siswa memperhatikan penjelasan guru
tersebut peneliti menggunakan dua siklus. Setiap mengenai pembelajaran yang akan dilakukan
siklusnya terdiri dari proses perencanaan (planning), yaitu pembelajaran PKn menggunakan model
pelaksanaan (acting), observasi (observing), dan cooperative learning tipe TGT (2) siswa
refleksi (reflecting). dibentuk kelompok heterogen (3) siswa
memperhatikan penjelasan materi menggunakan
Waktu dan Tempat Penelitian power point (4) siswa bersama guru bertanya
Penelitian ini dilaksanakan pada Semester II jawab mengenai materi (5) siswa dibagi menjadi
Tahun Ajaran 2015/2016 yaitu tepatnya pada bulan kelompok homogen untuk melakukan game
Maret sampai April tahun 2016. Adapun tempat akademik (6) siswa melakukan game akademik
penelitian dilakukan di SD Negeri Sendangsari bersama kelompok homogen (7) siswa kembali
Pajangan Bantul. ke kelompok awal (8) siswa bersama kelompok
Subjek dan Objek Penelitian menghitung perolehan skor (9) kelompok yang
Subjek dalam penelitian ini adalah siswa mendapatkan skor tertinggi mendapatkan
kelas IV SD N Sendangsari dengan jumlah 27 siswa penghargaan dari guru (10) siswa bersama guru
yang terdiri dari 12 siswa perempuan dan 15 siswa menyimpulkan pembelajaran (11) siswa
laki-laki. Objek penelitian ini yaitu peningkatan mengerjakan soal evaluasi.
hasil belajar kognitif pada mata pelajaran PKn 5. Observasi dilaksanakan pada saat pembelajaran
melalui model cooperative learning tipe TGT di kelas dengan menggunakan lembar observasi
(Teams Games Tournament). checklist untuk mengetahui keterlaksanaan
Prosedur Penelitian model cooperative learning tipe TGT dalam
Pelaksanaan penelitian dilaksanakan dengan pembelajaran PKn
langkah-langkah sebagai berikut. 6. Refleksi dilakukan dengan berdiskusi bersama
1. Observasi pra tindakan, yaitu melalui guru tentang kendala yang dihadapi dan
wawancara dengan guru untuk mencari data merencanakan perbaikan pada pelaksanaan
hasil belajar kognitif PKn siswa kelas IV SD N siklus berikutnya atau memberhentikan
Sendangsari. tindakan.
2. Perencanaan yang meliputi pembuatan RPP,
Data, Instrumen, dan Teknik Pengumpulan Data
mempersiapkan peralatan serta media yang
Teknik pengumpulan data yang digunakan
digunakan, lembar observasi dan kamera untuk
adalah observasi, tes, wawancara dan dokumentasi.
mendokumentasikan pembelajaran.
observasi dilakukan untuk mengamati jalannya
proses pembelajaran menggunakan model
1.612 Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar Edisi 17 Tahun ke-5 2016
cooperative learning tipe TGT yang sesuai dengan peningkatan yang terjadi dalam proses
RPP yang telah dibuat dan mencatatnya dalam pembelajaran.
lembar observasi checklist. Tes digunakan untuk Untuk menghitung presentase ketuntasan
mengetahui hasil belajar kognitif siswa pada mata KKM siswa menurut Ngalim Purwanto (2006 : 102)
pelajaran PKn. Tes dalam penelitian ini diberikan adalah sebagai berikut :
pada setiap pertemuan di akhir pembelajaran yang
𝑁𝑁𝑁𝑁𝑁𝑁𝑁𝑁𝑁 𝑁𝑁𝑁𝑁𝑁 𝑁𝑁𝑁𝑁 𝑁𝑁𝑁𝑁𝑁𝑁
berupa LKS dan soal evaluasi. Wawancara Ketuntasan : 𝑁𝑁𝑁 x 100%
𝑁𝑁𝑁𝑁𝑁 ℎ 𝑁𝑁𝑁𝑁𝑁𝑁 ℎ 𝑁𝑁𝑁𝑁𝑁
dilakukan dengan guru kelas untuk mengetahui hasil
belajar siswa kelas IV B SD N Sendangsari Menurut Suharsimi Arikunto (1998 : 246)
sedangkan dokumentasi digunakan untuk hasil dari data tersebut diinterpretasikan ke dalam
mendokumentasikan proses pembelajaran yang empat tingkatan, yaitu:
dilakukan pada saat pembelajaran berupa gambar. a. Pencapaian 76%-100% = kategori tinggi
Data yang dicari dalam penelitian ini adalah b. Pencapaian 56%-75% = kategori cukup
hasil belajar kognitif PKn siswa kelas IV B SD N c. Pencapaian 40%-55% = kategori kurang
Sendangsari. Berdasarkan indikator tersebut peneliti d. Pencapaian <40% = kategori rendah
bersama guru melaksanakan penilaian dengan Data kualitatif diperoleh melalui analisis
menggunakan penskoran yang kemudian lembar observasi pada saat pembelajaran PKn
dikriteriakan kedalam presentase siswa yang lulus dengan menggunakan model cooperative learning
KKM. tipe TGT dalam meningkatkan hasil belajar kognitif
Teknik Analisis Data siswa kelas IV B pada pertemuan setiap siklus.
Penelitian tindakan kelas ini menggunakan Indikator Keberhasilan
teknik analisis data deskriptif kuantitatif dan Kriteria keberhasilan dalam penelitian ini
deskriptif kualitatif. Data kuantitatif berupa hasil adalah ketuntasan belajar siswa dalam satu kelas
belajar kognitif dapat dianalisis menggunakan teknik telah memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal
analisis deskriptif kuantitatif dengan menentukan (KKM) mata pelajaran PKn yang telah ditetapkan
mean atau rata-rata. SD N Sendangsari yaitu 75. Pembelajaran dikatakan
Berikut merupakan rumus untuk menghitung tuntas apabila >75% siswa yang hadir telah
rata-rata kelas menurut Nana Sudjana (2005 : 109). memenuhi KKM yang ditentukan (≥ 75).
Keterangan:
X= X = rata-rata (mean) HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
∑𝑁 𝑁
Hasil penelitian
∑x =jumlah seluruh skor
Data kemampuan awal diperoleh melalui
N = banyaknya subyek
observasi terhadap hasil belajar kognitif PKn siswa
Selain menghitung rata-rata hasil belajar
kelas IV B SD N Sendangsari. Berdasarkan hasil
kognitif, tes hasil belajar dihitung dengan
observasi sebelum tindakan diperoleh hasil bahwa
presentase kemudian menghitung presentase siswa
rata-rata nilai ujian tengah semester PKn adalah 67
yang lulus KKM. Dengan demikian akan diketahui
sehingga berada pada kriteria rendah, oleh sebab itu,
Peningkatan Hasil Belajar .... (Ita Purnamasari) 1.613
perlu suatu tindakan untuk meningkatkan hasil siswa pada mata pelajaran PKn siswa kelas IV B SD
belajar PKn siswa kelas IV B SD N Sendangsari. N Sendangsari. Tabel 1 berikut berisi tabel
Penelitian ini dilaksanakan dengan dua siklus peningkatan hasil belajar kognitif PKn pada Pra
tindakan. Pada Siklus I, LKS dan game dijadikan Tindakan, Siklus I, dan Siklus II.
satu yaitu berupa menempel jawaban menggunakan Tabel 2.
papan globalisasi. LKS dan game dijadikan satu Peningkatan Hasil Belajar Kognitif PKn pada
menyebabkan kegiatan diskusi siswa kurang optimal Pra Tindakan, Siklus I, dan Siklus II.
dan game kurang menggali pengetahuan siswa No Hasil Nilai Jumlah Pencapaian
mengenai materi. Dengan adanya beberapa masalah belajar rata- siswa Kriteria
tersebut, mengakibatkan hasil tindakan yang kognitif rata lulus Keberhasilan
diperoleh juga belum maksimal. Pada Siklus 1 KKM
diperoleh rata-rata hasil belajar kognitif siswa yaitu 1. Pra 67 9 33,333%
75,37. Siswa yang mencapai KKM 17 sehingga Tindakan (rendah)
pencapaian kriteria keberhasilan berada pada kriteria 2. Siklus I 75,15 17 62,963%
cukup (62,963%). Hasil tersebut belum memenuhi (cukup)
kriteria keberhasilan yang telah ditentukan, sehingga 3. Siklus II 83,15 24 88,889%
perlu dilanjutkan ke siklus II dengan perubahan (tinggi)
memisahkan antara pemberian LKS dan game.
Tabel 2 dapat dilihat bahwa hasil belajar
Pelaksanaan penelitian pada siklus II
kognitif PKn dari pra tindakan ke siklus I
dilaksanakan dengan memberikan LKS yang
mengalami peningkatan dari rata-rata 67 menjadi
dikerjakan secara kelompok setelah itu baru
75,15 serta dari siswa yang lulus KKM 9 siswa atau
diadakan game dengan kelompok baru secara
berada pada kriteria rendah (33,333%) mengalami
homogen. Dengan perbaikan yang dilakukan
peningkatan 17 siswa yang lulus KKM serta berada
tersebut siswa lebih optimal dalam berdiskusi serta
pada kriteria cukup (62,963%). Siklus II nilai rata-
pada waktu game masing-masing individu digali
rata menjadi 83,15 dan siswa yang lulus KKM
pengetahuannya dan memiliki kesadaran agar dapat
berjumlah 24 siswa sehingga berada pada kriteris
menyumbangkan skor kepada kelompoknya
tinggi (88,889%). Dari tabel 2 dapat diketahui lebih
sehingga siswa akan bersungguh-sungguh dalam
jelas pada diagram di bawah ini,
mengikuti game tersebut. Pada siklus II ini terlihat
Gambar 1. Histogram Peningkatan Nilai rata-rata
peningkatan yaitu nilai rata-rata menjadi 83,15 serta
dari Pra Tindakan, Siklus I dan Siklus II
siswa yang mencapai KKM 24 sehingga pencapaian
kriteria keberhasilan berada pada kriteria tinggi
(88,889%). Peningkatan tersebut telah mencapai
kriteria keberhasilan yang telah ditentukan. Oleh
karena itu penelitian ini dihentikan pada siklus II.
Berdasarkan hasil tersebut diperoleh data
bahwa terjadi peningkatan hasil belajar kognitif
1.614 Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar Edisi 17 Tahun ke-5 2016
pelajaran PKn di SD N Sendangsari. Hal ini sesuai
100 dengan data yang diperoleh pada siklus I dan II.
80 Pada siklus I, dari 27 anak hanya 9 anak yang
60 nilainya ≥75 dengan rata-rata nilai PKn kelas
40 sebesar 67 dan berada pada kriteria rendah
20 (33,333%). Pada siklus I jumlah siswa yang
0 mendapat nilai ≥75 meningkat menjadi 17 siswa
Pra Tindakan Siklus 1 Siklus II
dengan nilai rata-rata PKn kelas sebesar 75,37 dan
berada pada kriteria cukup (62,963%). Siklus II

100,00% mengalami peningkatan kembali, dari 27 siswa


80,00% terdapat 24 siswa yang mendapat nilai ≥75 dengan
60,00%
rata-rata nilai PKn kelas sebesar 83,15 dan berada
40,00%
20,00% pada kriteri tinggi (88,889%). Berdasarkan hal
0,00% tersebut dapat diketahui bahwa kriteria keberhasilan
Pra Siklus I Siklus II
Tindakan sudah tercapai, sehingga penelitian dihentikan.

Gambar 2. Histogram Kriteria Keberhasilan dari Pra Pembahasan


Tindakan, Siklus I dan Siklus II Penggunaan model cooperative learning tipe

Berdasarkan hasil observasi dari pra tindakan ke TGT (Teams Games Tournament) terbukti dapat

siklus I dan II dapat dilihat perbandingan hasil meningkatkan hasil belajar kognitif siswa pada

belajar kognitif PKn siswa kelas IV B SD N mata pelajaran PKn di kelas IV B SD N

Sendangsari pada tabel dan histogram di atas. Dari Sendangsari. Penelitian tindakan kelas ini dilakukan

data yang diperoleh, dapat diketahui pencapaian dalam 2 siklus, yang masing-masing siklus terdiri

hasil belajar kognitif PKn siswa kelas IV B dari 2 pertemuan. Nilai rata-rata siswa dan

mengalami peningkatan. Pra tindakan, dari 27 siswa, presentase siswa yang mencapai KKM (>75)

nilai rata-rata PKn adalah 67 dan berada pada meningkat setelah dilaksanakan tindakan pada

kriteria rendah (33,33%). Setelah dilakukan tindakan siklus pertama dan kedua.

pada siklus I, rata-rata nilai PKn meningkat sebesar Nilai rata-rata PKn pada pra tindakan sebesar

8,37 menjadi 75,37 dan berada pada kriteri cukup 67 dengan presentase siswa yang memenuhi KKM

(62,963%). Pada siklus II rata-rata nilai PKn hanya 33,333% atau 9 siswa yang nilainya ≥75,

meningkat lagi sebesar 8 menjadi 83,15 dan berada setelah dilakukan tindakan pada siklus pertama nilai

pada kriteria tinggi (88,889%). rata-rata tersebut meningkat menjadi 75,73 dengan

Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa dari presentase siswa yang memenuhi KKM (≥75)

hasil tindakan siklus I dan siklus II, pembelajaran menjadi 17 siswa atau 62,963%. Nilai rata-rata

melalui model cooperative learning tipe TGT siswa meningkat lagi menjadi 83,15 dengan

(Teams Games Tournament) mampu meningkatkan presentase siswa yang memenuhi KKM (≥75) 24

hasil belajar kognitif siswa kelas IV B pada mata siswa atau 88,889% pada siklus II. Hal tersebut
Peningkatan Hasil Belajar .... (Ita Purnamasari) 1.615
menunjukkan bahwa pembelajaran yang telah menjadikan siswa aktif dalam pembelajaran
dilakukan yaitu pembelajaran dengan menggunakan sehingga hasil belajar akan tercapai.
cooperative learning tipe TGT dapat meningkatkan Mata pelajaran PKn mengandung materi yang
hasil belajar kognitif pada mata pelajaran PKn luas dan perlu pemahaman siswa yang lebih maka
siswa kelas IV B di SD N Sendangsari. dalam pembelajaran PKn guru hendaknya
Peningkatan hasil belajar kognitif siswa pada menggunakan model pembelajaran yang
mata pelajaran PKn tersebut dipengaruhi oleh menyenangkan dan dapat menjadikan siswa aktif.
model pembelajaran yang digunakan yaitu, model Salah satu model pembelajaran yang dapat
cooperative learning tipe TGT. Hal tersebut sesuai menyenangkan dan menjadikan siswa aktif adalah
dengan pendapat Nur Asma (2006: 12) yang dengan menggunakan model cooperative learning.
menyatakan bahwa salah satu tujuan Hal tersebut sesuai dengan pendapat Isjoni (2009:
pengembangan pembelajaran kooperatif adalah 23) yang menyatakan bahwa cooperative learning
pencapaian hasil belajar. Melalui pembelajaran merupakan suatu model pembelajaran yang banyak
kooperatif dapat meningkatkan kinerja siswa dalam digunakan untuk mewujudkan kegiatan
tugas-tugas akademik. Pendapat para ahli pembelajaran yang berpusat pada siswa serta untuk
mengatakan bahwa model pembelajaran kooperatif mengatasi permasalahan guru dalam mengaktifkan
unggul dalam membantu siswa memahami konsep- siswa, siswa yang tidak mau bekerja sama dengan
konsep yang sulit. Artinya dengan penggunaan orang lain atau tidak mempunyai rasa peduli
model pembelajaran kooperatif siswa akan lebih dengan orang lain.
mudah memahami materi yang sulit. Model struktur Terdapat banyak tipe dalam pembelajaran
penghargaan kooperatif dapat meningkatkan dengan model cooperative learning. Akan tetapi
penilaian siswa pada belajar akademik dan model cooperative learning tipe TGT tepat
perubahan norma yang berhubungan dengan hasil digunakan untuk siswa SD karena dalam
belajar. pembelajaran denganmodel cooperative learning
Model cooperative learning merupakan salah tipe TGT terdapat game yang sesuai dengan
satu model pembelajaran yang tepat digunakan karakteristik siswa SD. Dengan demikian
dalam pembelajaran PKn. Hal tersebut didukung pembelajaran akan lebih bermakna dan
oleh pendapat Wuri Wuryandani & Fathurrohman menyenangkan bagi siswa yang akan berpengaruh
(2012: 56-57) yang menyatakan bahwa model terhadap peningkatan hasil belajar kognitif siswa.
pembelajaran kooperatif tepat digunakan dalam Hal tersebut didukung oleh pendapat Erna Iswanti
pembelajaran PKn karena dalam pembelajaran (2008: 4-6) yang menyatakan beberapa manfaat
dengan model kooperatif dilakukan dengan permainan bagi anak salah satunya yaitu pada
kelompok-kelompok sehingga dapat menciptakan aspek kognitif. Permainan dapat meningkatkan
kelas yang demokrasi. Dengan demikian kemampuan kognitif anak. Permainan dapat
pembelajaran tidak hanya berpusat pada guru menambah pengetahuan anak karena setiap anak
melainkan juga kepada siswa yang akan dalam kelompok dapat dipastikan mempunyai
pendapat dan hal baru yang berbeda. Selain itu,
1.616 Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar Edisi 17 Tahun ke-5 2016
permainan dalam pembelajaran ini berupa model cooperative learning tipe TGT dapat
permainan akademik yaitu permaianan yang berupa meningkatkan hasil belajar kognitif. Hal tersebut
pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk didukung oleh pendapat Agus Suprijono (2012: 61)
menguji pengetahuan yang didapat siswa dari yang menyatakan bahwa model pembelajaran
penyajian kelas dan belajar kelompok. Sehingga kooperatif dikembangkan untuk mencapai hasil
pembelajaran akan menyenangkan serta belajar berupa prestasi akademik, toleransi,
mengaktifkan siswa. Melalui pembelajaran yang menerima keragaman dan pengembangan
menyenangkan dan mengaktifkan tesebut, siswa keterampilan sosial. Dalam pelaksanaan tindakan
dapat dengan mudah memahami materi PKn yang siklus II sudah cukup efektif. Langkah-langkah
sangat luas sehingga hasil belajar kognitif siswa model cooperative learning tipe TGT sudah
dapat meningkat. dilaksanakan oleh guru maupun siswa dengan baik.
Berdasarkan hasil observasi terhadap aktivitas Penggunaan model cooperative learning tipe TGT
pelaksanaan pembelajaran dengan model menjadikan siswa aktif dan senang mengikuti
cooperative learning tipe TGT, penelitian tindakan pembelajaran. Data yang diperoleh menunjukkan
kelas pada siklus I masih terdapat beberapa bahwa setelah menggunakan model pembelajaran
kendala. Kendala-kendala tersebut antara lain cooperative learning tipe TGT hasil belajar siswa
adalah dalam kegiatan diskusi peran siswa belum meningkat dibandingkan sebelum menggunakan
optimal, game yang diberikan kurang menggali model cooperative learning tipe TGT dalam proses
kemampuan siswa secara mendalam. Untuk itu pembelajaran, sehingga peneliti memutuskan untuk
penelitian dilanjutkan ke siklus II dengan melakukan penelitian sampai siklus II. Untuk
memperbaiki kendala serta kekurangan-kekurangan selanjutnya 3 siswa yang belum mencapai KKM
pada siklus I. diberikan pengayaan agar dapat mengikuti siswa
Tindakan yang dilakukan pada siklus II masih yang lain dalam kegiatan pembelajaran berikutnya.
tetap menggunakan model cooperative learning Dari hasil penelitian terbukti bahwa
tipe TGT dengan bertolak dari refleksi siklus I. penggunaan model cooperative learning tipe TGT
Pada siklus II ini diskusi siswa dalam kelompok dapat meningkatkan hasil belajar kognitif siswa.
lebih dioptimalkan melalui pemberian LKS. Selain Cara yang dapat dilakukan dengan menciptakan
itu perbaikan yang dilakukan pada siklus II ini suatu pembelajaran yang aktif serta menyenangkan
adalah dengan mengoptimalkan peran individu bagi siswa yaitu salah satunya dengan pemilihan
dalam game akademik. model pembalajaran yang tepat. Salah satu model
Pada siklus II, setelah dilakukan perbaikan dari pembalajaran yang menyenangkan dan menjadikan
refleksi siklus I hasil belajar kognitif siswa siswa aktif adalah model cooperative learning tipe
meningkat lagi dibandingkan pada siklus I. Hal ini TGT (Teams Games Tournament) karena dalam
dapat dilihat dari peningkatan rata-rata kelas nilai pembelajaran terdapat game akademik, turnamen
PKn sebesar 7,78 dari siklus I sebesar 75,37 dan penghargaan terhadap tim. Dengan
meningkat menjadi 83,15 di siklus II. Peningkatan pembelajaran yang aktif dan menyenangkan maka
pada siklus II menunjukkan bahwa penggunaan siswa akan dengan mudah memahami materi yang
Peningkatan Hasil Belajar .... (Ita Purnamasari) 1.617
dipelajari sehingga akan meningkatkan hasil belajar yang nilainya memenuhi KKM ( ≥75) yaitu pada pra
siswa. Hal tersebut didukung oleh pendapat Slavin tindakan hanya 9 siswa atau 33,333% meningkat di
(2008: 163) yang menyatakan bahwa TGT siklus I menjadi 17 siswa atau 62,963% dan
menggunakan turnamen akademik, dan meningkat kembali di siklus II menjadi 24 siswa
menggunakan kuis-kuis, sistem skor kemajuan atau 88,889%. Peningkatan hasil belajar kognitif
individu dimana para siswa berlomba sebagai wakil dikarenakan guru menggunakan model cooperative
tim mereka dengan anggota tim lain yang kinerja learning tipe TGT sehingga dapat menjadikan
akademik sebelumnya setara seperti mereka. pembelajaran menyenangkan dan menarik bagi
Melalui turnamen akademik, kuis serta siswa serta menjadikan siswa aktif selama proses
penghargaan terhadap tim yang memperoleh skor pembelajaran yang mengakibatan hasil belajar
tertinggi menjadikan pembelajaran dengan model kognitif dapat meningkat.
cooperative learning tipe TGT sebagai model
pembelajaran yang menyenangkan dan Saran
mengaktifkan siswa sehingga hasil belajar siswa Berdasarkan kesimpulan tersebut, maka
akan meningkat disarankan hal-hal sebagai berikut :
1. Untuk siswa, hasil belajar kognitif yang sudah
KESIMPULAN DAN SARAN
baik karena pembelajaran dengan model
Kesimpulan
cooperative learning tipe TGT (Teams Games
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan
Tournament) sehingga siswa aktif dalam
dapat disimpulkan bahwa hasil belajar kognitif PKn
kegiatan pembelajaran PKn harus tetap
pokok bahasan globalisasi siswa kelas IV B SD
ditingkatkan lagi.
Negeri Sendangsari dapat meningkat karena
2. Untuk guru, peningkatan hasil belajar kognitif
pembelajaran menggunakan model cooperative
siswa dengan menggunakan model cooperative
learning tipe TGT (Teams Games Tournament).
learning tipe TGT (Teams Games Tournament)
Langkah-langkah yang dilakukan dalam
dapat digunakan sebagai dasar pertimbangan
pembelajaran PKn menggunakan model cooperative
untuk merancang kegiatan pembelajatan
learning tipe TGT yaitu dengan adanya game
selanjutnya.
akademik, tournament tim, penghitungan skor dan
3. Untuk sekolah, pembelajaran dengan
penghargaan terhadap tim yang memperoleh skor
menggunakan model pembelajaran cooperative
tertinggi. Pembelajaran dengan model tersebut
learning tipe TGT (Teams Games Tournament)
terbukti dapat meningkatkan hasil belajar kognitif
perlu didukung dengan penyediaan berbagai
siswa pada mata pelajaran PKn kelas IV B SD
sarana dan prasana yang dibutuhkan.
Negeri Sendangsari. Hal tersebut ditunjukkan
dengan peningkatan nilai rata-rata kelas yaitu pada DAFTAR PUSTAKA
saat pra tindakan sebesar 67 meningkat di siklus I Agus Suprijono. (2012). Cooperative Learning Teori
& Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta : Pustaka
menjadi 75,73 serta meningkat menjadi 83,15 pada Pelajar.
siklus II. Peningkatan juga terjadi pada jumlah siswa
1.618 Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar Edisi 17 Tahun ke-5 2016
Erna Iswanti. (2008). Mendidik Anak dengan
Bermain. Yogyakarta : Arti Bumi Intaran.
Isjoni. (2007). Pembelajaran Visioner Perpaduan
Indonesia- Malaysia. Yogyakarta : Pustaka
Pelajar.
Nana Sudjana. (2006). Penilaian Hasil Proses
Belajar Mengajar. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya Offset.

Ngalim Purwanto. (2006). Prinsip-prinsip dan


Teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung:
Rosda Karya.

Nur Asma. (2006). Model Pembelajaran Kooperatif.


Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi
Direktorat Ketenagaan.

Slavin Robert E. (2008). Cooperative Learning


Teori, Riset dan Praktik. Bandung: Nusa
Media.
Wijaya Kusumah & Dedi Dwitagama. (2011).
Mengenal Penelitian Tindakan Kelas.
Jakarta: PT Indeks.
Wuri Wuryandani & Fathurrohman. (2012).
Pembelajaran Pendidikan
Kewarganegaraan. Yogyakarta: Ombak.