Anda di halaman 1dari 30

MAKALAH SEMINAR AKUNTANSI KEUANGAN

IAS 16

PROPERTY PLANT, AND EQUIPTMENT

Diajukan untuk memenuhi Tugas Individu mata kuliah Seminar Akuntansi


Keuangan yang diampu oleh Dr. Reschiwati, S.E., Ak., M.M.

Oleh :

STEPHANI FELDA SHABILLAH


NIM 1811070027

INSTITUT KEUANGAN PERBANKAN DAN INFORMATIKA ASIA


(ASIA BANKING FINANCE AND INFORMATICS INSTITUTE)

PERBANAS
JAKARTA
PROGRAN STUDI AKUNTANSI

2019
I. PENDAHULUAN
Menurut IAS No.16 tentang Property, Plant and Equipment, yang diadopsi
menjadi PSAK No.16 (revisi 2007), nilai wajar didefinisikan sebagai ―The
amount for wich and asset could be exchanged between knowleadgeable, wiling
parties in an arm’s length transaction‖. Aset tetap atau PPE (Property Plant, and
Equiptment) adalah aset berwujud (tangible assets) yang digunakan dalam
kegiatan operasional perusahaan, yang memiliki manfaat lebih dari satu periode
akuntansi. Istilah aset tetap digunakan untuk membedakan dengan aset tidak
berwujud, yang juga memiliki masa manfaat lebih dari satu periode akuntansi
tetapi tidak memiliki wujud fisik, serta nilainya tidak sepenuhnya dipengaruhi
oleh eksistensi fisik dari aset.
Dari berbagai defini di atas dapat ditarik, kesimpulan bahwa aset dapat
disebut aset tetap apabila mempunyai karakteristik sebagai berikut:
1. Berupa wujud fisik.
2. Bersifat permanen.
3. Digunakan dalam operasi perusahaan.
4. Tidak dimaksudkan dijual kembali.
5. Memiliki nilai manfaat lebih dari satu tahun

IAS 16 ini bertujuan untuk mengatur perlakuan akuntansi aset tetap, agar
pengguna laporan keuangan dapat memahami informasi mengenai investasi
entitas di aset tetap, dan perubahan dalam investasi tersebut. Isu utama dalam
akuntansi aset tetap adalah pengakuan aset, penentuan jumlah tercatat,
pembebanan penyusutan, dan rugi penurunan nilai atas aset tetap.

Berikut adalah pengertian istilah yang digunakan dalam Pernyataan ini:


1. Aset Tetap adalah aset berwujud yang:
a. dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau penyediaan barang atau
jasa untuk direntalkan kepada pihak lain, atau untuk tujuan
administratif; dan
b. diharapkan untuk digunakan selama lebih dari satu periode.
2. Biaya Perolehan adalah jumlah kas atau setara kas yang dibayarkan atau nilai
wajar dari imbalan lain yang diserahkan untuk memperoleh suatu aset pada
saat perolehanatau konstruksi atau, jika dapat diterapkan, jumlah yang
diatribusikan ke aset pada saat pertama kali diakui sesuai dengan
persyaratan tertentu dalam PSAK lain, misalnya PSAK 53 (revisi 2010):
Pembayaran Berbasis Saham.
3. Jumlah Tercatat adalah nilai aset yang diakui setelah dikurangi akumulasi
penyusutan dan akumulasi rugi penurunan nilai.
4. Jumlah Terpulihkan adalah jumlah yang lebih tinggi antara nilai wajar
dikurangi biaya untuk menjual dan nilai pakainya.
5. Jumlah Tersusutkan adalah biaya perolehan aset, atau jumlah lain yang
merupakan pengganti biaya perolehan, dikurangi nilai residunya.
6. Nilai Spesifik Entitas adalah nilai kini dari arus kas entitas yang diharapkan
timbul dari penggunaan aset secara berkelanjutan dan dari pelepasan aset
tersebut pada akhir umur manfaatnya atau yang diharapkan terjadi saat
penyelesaian liabilitas.
7. Nilai Residu Aset adalah jumlah estimasian yang dapat diperoleh entitas saat
ini dari pelepasan aset, setelah dikurangi estimasi biaya pelepasan, jika aset
telah mencapai umur dan kondisi yang diharapkan pada akhir umur
manfaatnya.
8. Nilai Wajar adalah jumlah yang dipakai untuk mempertukarkan suatu aset
antara pihak-pihak yang berkeinginan dan memiliki pengetahuan memadai
dalam suatu transaksi dengan wajar.
9. Penyusutan adalah alokasi sistematis jumlah yang dapat disusutkan dari
suatu aset selama umur manfaatnya.
10. Rugi Penurunan Nilai adalah suatu jumlah yang merupakan selisih lebih
jumlah tercatat suatu aset atas jumlah terpulihkannya.
11. Umur Manfaat adalah:
a. periode suatu aset yang diharapkan dapat digunakan oleh entitas, atau
b. jumlah produksi atau unit serupa yang diharapkan akan diperoleh dari
suatu aset oleh entitas.
II. RUANG LINGKUP
Pernyataan ini diterapkan dalam akuntansi aset tetap kecuali Pernyataan
lain mensyaratkan atau mengizinkan perlakuan akuntansi yang berbeda.
Pernyataan ini tidak diterapkan untuk:
a. Aset tetap diklasifikasikan sebagai dimiliki untuk dijual sesuai dengan IFRS
5: Aset tidak lancar yang Dimiliki untuk Dijual dan Operasi yang
Dihentikan;
b. Aset biologis terkait dengan kegiatan pertanian (IAS 41 Agriculture);
c. Pengakuan dan pengukuran aset eksplorasi dan evaluasi (IFRS 6 eksplorasi
dan Evaluasi Sumber Daya Mineral);
d. Hak penambangan dan cadangan mineral dari minyak, gas alam dan sumber
daya tidak terbarui lainnya.

Namun demikian, Pernyataan ini berlaku untuk aset tetap yang digunakan
untuk mengembangkan atau memelihara aset yang dijelaskan dalam (b) – (c).
Pernyataan lain bisa saja mensyaratkan pengakuan aset tetap berdasarkan
pendekatan yang berbeda dari Pernyataan ini. Misalnya, IAS 17: Sewa
mensyaratkan suatu entitas untuk mengevaluasi pengakuan aset tetap sewaan
atas dasar pemindahan risiko dan imbalan. Namun demikian, dalam aspek
perlakuan akuntansi tertentu lainnya untuk aset tersebut, termasuk penyusutan,
diatur oleh Pernyataan ini. Entitas menggunakan model biaya atau properti
investasi sesuai dengan IAS 40 Properti Investasi akan menggunakan model
biaya dalam Standar ini.

III. PENGAKUAN

Biaya perolehan aset tetap harus diakui sebagai aset jika dan hanya jika:

a) kemungkinan besar entitas akan memperoleh manfaat ekonomik masa


depan dari aset tersebut; dan
b) biaya perolehan aset dapat diukur secara andal.
Suku cadang dan peralatan pemeliharaan (service equipment) biasanya
dicatat sebagai persediaan dan diakui dalam laba rugi pada saat dikonsumsi.
Namun demikian, suku cadang utama dan peralatan siap pakai memenuhi
kriteria aset tetap ketika entitas memperkirakan akan menggunakan aset tersebut
selama lebih dari satu periode. Sama halnya jika suku cadang dan peralatan
pemeliharaan yang hanya bisa digunakan untuk suatu aset tetap tertentu, hal ini
juga dicatat sebagai aset tetap.
Pernyataan ini tidak menentukan unit ukuran dalam pengakuan suatu aset
tetap. Oleh karena itu, diperlukan pertimbangan dalam penerapan kriteria
pengakuan yang sesuai dengan kondisi tertentu entitas. Pertimbangan tersebut
tepat terhadap agregasi unit-unit yang secara individual tidak signifikan, seperti
cetakan dan perkakas, kemudian menerapkan kriteria atas nilai agregrat tersebut.
Entitas harus mengevaluasi berdasarkan prinsip pengakuan ini terhadap
semua biaya perolehan aset tetap pada saat terjadinya. Biaya-biaya tersebut
termasuk biaya awal untuk memperoleh atau mengkonstruksi aset tetap dan
biaya-biaya selanjutnya yang timbul untuk menambah, mengganti, atau
memperbaikinya.

Biaya Perolehan Awal


Aset tetap dapat diperoleh untuk alasan keamanan atau lingkungan.
Perolehan aset tetap semacam itu, walaupun tidak secara langsung meningkatkan
manfaat ekonomik masa depan dari suatu aset tetap yang ada, mungkin
diperlukan bagi entitas untuk memperoleh manfaat ekonomik masa depan dari
aset lain yang terkait. Dalam keadaan ini, perolehan aset tetap semacam itu
memenuhi kualifikasi untuk diakui sebagai aset, karena aset tersebut
memungkinkan entitas memperoleh manfaat ekonomik masa depan yang lebih
besar dari aset-aset terkait dibandingkan dengan manfaat ekonomik yang
dihasilkan seandainya aset tersebut tidak diperoleh. Sebagai contoh, pabrik
kimia mungkin menerapkan proses penanganan kimiawi yang baru dalam rangka
memenuhi ketentuan lingkungan yang berlaku untuk produksi dan penyimpanan
zat kimiawi berbahaya; perbaikan pabrik yang terkait diakui sebagai aset karena
tanpa perbaikan tersebut entitas tidak dapat memproduksi dan menjual zat-zat
kimiawi. Namun demikian, jumlah tercatat aset tersebut dan aset lain yang
terkait harus di-review untuk menguji apakah telah terjadi penurunan nilai sesuai
dengan IAS 36 : Penurunan Nilai Aset.

Biaya-biaya Setelah Perolehan Awal


Sesuai dengan prinsip pengakuan dalam paragraf 07, entitas tidak boleh
mengakui biaya perawatan sehari-hari aset tetap sebagai bagian dari aset
bersangkutan. Biaya-biaya ini diakui dalam laba rugi saat terjadinya. Biaya
perawatan sehari-hari terutama terdiri atas biaya tenaga kerja dan bahan habis
pakai (consumables) termasuk di dalamnya suku cadang kecil. Pengeluaran-
pengeluaran untuk hal tersebut sering disebut ―biaya pemeliharaan dan
perbaikan‖ aset tetap.
Bagian-bagian tertentu aset tetap mungkin perlu diganti secara periodik.
Contoh, tungku pembakaran perlu diganti lapisannya setelah digunakan sekian
jam, demikian juga interior pesawat terbang seperti tempat duduk dan dapur
perlu diperbarui beberapa kali sepanjang umur rangka pesawat. Entitas dapat
juga memperoleh komponen aset tetap tertentu untuk melakukan penggantian
yang tidak terlalu sering dilakukan, seperti mengganti dinding interior suatu
bangunan, atau melakukan suatu penggantian yang tidak berulang. Sesuai
dengan prinsip pengakuan dalam paragraf 07, entitas mengakui biaya
penggantian komponen suatu aset dalam jumlah tercatat aset saat biaya itu
terjadi jika pengeluaran tersebut memenuhi kriteria untuk diakui sebagai bagian
dari aset. Jumlah tercatat komponen yang diganti tersebut tidak lagi diakui
apabila telah memenuhi ketentuan penghentian pengakuan.
Agar aset tetap dapat beroperasi secara berkelanjutan, perlu dilakukan
inspeksi teratur terlepas apakah ada komponen yang diganti. Dalam setiap
inspeksi yang signifikan, biaya inspeksi diakui dalam jumlah tercatat aset tetap
sebagai suatu penggantian apabila memenuhi kriteria pengakuan. Sisa jumlah
tercatat biaya inspeksi yang terdahulu, jika ada (yang dibedakan dari komponen
fisiknya), dihentikan pengakuannya. Hal ini terjadi terlepas apakah biaya
inspeksi terdahulu teridentifikasi dalam transaksi perolehan atau konstruksi aset
tetap tersebut. Jika diperlukan, estimasi biaya inspeksi sejenis yang akan
dilakukan di masa depan dapat digunakan sebagai indikasi biaya inspeksi saat
aset tersebut diperoleh atau dibangun.

IV. PENGUKURAN PADA SAAT PENGAKUAN

Suatu aset tetap yang memenuhi kualifikasi untuk diakui sebagai aset
pada awalnya harus diukur sebesar biaya perolehan.

Komponen Biaya Perolehan

Biaya perolehan aset tetap meliputi:


a. harga perolehannya, termasuk bea impor dan pajak pembelian yang tidak
boleh dikreditkan setelah dikurangi diskon pembelian dan potongan-
potongan lain;
b. biaya-biaya yang dapat diatribusikan secara langsung untuk membawa aset
ke lokasi dan kondisi yang diinginkan agar aset siap digunakan sesuai
dengan intensi manajemen;
c. estimasi awal biaya pembongkaran dan pemindahan aset tetap dan restorasi
lokasi aset. Kewajiban atas biaya tersebut timbul ketika aset tersebut
diperoleh atau karena entitas menggunakan aset tersebut selama periode
tertentu untuk tujuan selain untuk menghasilkan persediaan.

Contoh biaya yang dapat diatribusikan secara langsung adalah:


a. biaya imbalan kerja (seperti didefinisikan dalam IAS 19 : Imbalan Kerja)
yang timbul secara langsung dari pembangunan atau akuisisi aset tetap;
b. biaya penyiapan lahan untuk pabrik;
c. biaya handling dan penyerahan awal;
d. biaya perakitan dan instalasi;
e. biaya pengujian aset apakah aset berfungsi dengan baik, setelah dikurangi
hasil bersih penjualan produk yang dihasilkan sehubungan dengan
pengujian tersebut (misalnya, contoh produk dihasilkan dari peralatan yang
sedang diuji); dan
f. komisi profesional.

Entitas menerapkan IAS 2 Persediaan terhadap biaya-biaya yang terkait


dengan kewajiban untuk membongkar, memindahkan, dan merestorasi lokasi
aset yang terjadi dalam suatu periode tertentu sebagai akibat dari
pemakaian aset tersebut untuk menghasilkan persediaan selama periode
tersebut. Biaya-biaya ya ng terkait dengan IAS 2 atau IAS 16 diakui dan diukur
sesuai dengan IAS 37 Provisi, Liabilitas Kontinjensi , dan Aset Kontinjensi.

Contoh biaya-biaya yang bukan merupakan biaya perolehan aset tetap


adalah:
a. biaya pembukaan fasilitas baru;
b. biaya pengenalan produk baru (termasuk biaya iklan dan aktivitas promosi);
c. biaya penyelenggaraan bisnis di lokasi baru atau kelompok pelanggan baru
(termasuk biaya pelatihan staf); dan
d. administrasi dan biaya overhead umum lainnya.

Pengakuan terhadap biaya-biaya dalam jumlah tercatat suatu aset tetap


dihentikan ketika aset tersebut berada pada lokasi dan kondisi yang
diinginkan agar aset siap digunakan sesuai dengan intensi manajemen. Oleh
karena itu, biaya pemakaian dan pengembangan aset tidak dimasukkan ke
dalam jumlah tercatat aset tersebut. Sebagai contoh, biaya-biaya berikut ini tidak
termasuk di dalam jumlah tercatat suatu aset tetap:
Biaya-biaya yang terjadi ketika suatu aset telah mampu beroperasi
sesuai dengan intensi manajemen namun belum dipakai atau masih beroperasi
di bawah kapasitas penuhnya;
 kerugian awal operasi, seperti ketika permintaan terhadap keluaran (output)
masih rendah; dan
 biaya relokasi atau reorganisasi sebagian atau seluruh operasi entitas.
Sebagian kegiatan terjadi sehubungan dengan pembangunan atau
pengembangan suatu aset tetap, tetapi tidak dimaksudkan untuk membawa
aset tersebut ke lokasi dan kondisi yang diinginkan agar aset siap digunakan
sesuai dengan intensi manajemen. Kegiatan insidental ini mungkin terjadi
sebelum atau selama kontruksi atau aktivitas pengembangan. Contoh,
penghasilan yang diperoleh dari pengunaan lahan lokasi bangunan sebagai
tempat parkir mobil sampai pembangunan dimulai. Karena kegiatan insidental
ini tidak dimaksudkan untuk membawa aset tersebut ke lokasi dan kondisi yang
diinginkan agar aset siap digunakan sesuai dengan intensi manajemen,
penghasilan dan beban yang terkait dari kegiatan insidental diakui dalam
laba rugi dan diklasifikasikan dalam penghasilan dan beban.

Biaya perolehan suatu aset yang dibangun sendiri ditentukan dengan


menggunakan prinsip yang sama sebagaimana perolehan aset dengan pembelian.
Jika entitas membuat aset serupa untuk dijual dalam usaha normal, biaya
perolehan aset biasanya sama dengan biaya pembangunan aset untuk dijual (lihat
IAS 2: Persediaan). Oleh karena itu, dalam menetapkan biaya perolehan maka
setiap laba internal dieliminasi. Demikian pula jumlah abnormal yang terjadi
dalam pemakaian bahan baku, tenaga kerja, atau sumber daya lain dalam proses
konstruksi aset yang dibangun sendiri tidak termasuk biaya perolehan aset. IAS
23: Biaya Pinjaman menetapkan kriteria yang harus dipenuhi sebelum biaya
bunga dapat diakui sebagai suatu komponen biaya perolehan aset tetap.

CONTOH:

Perusahaan menyewa sebuah lahan selama 5 tahun untuk didirikan bangunan


sementara untuk kegiatan operasional kantor. Biaya untuk mendirikan bangunan
tersebut sebesar 1,2 miliar. Bangunan tersebut menurut perjanjian sewa, harus
dibongkar di akhir masa sewa. Estimasi biaya pembongkaran rumah tersebut 200
juta. Harga perolehan bangunan adalah 1.200 juta ditambah estimasi biaya
pembongkaran.

200 juta : (1 + 8%)5 = 135,1167 juta


Biaya partisi diakui dalam neraca dengan jurnal berikut:
Dr Aset Tetap 1.335,1167 juta
Cr Kas 1.200 juta
Kewajiban diestimasi 135,1167 juta

Jurnal penyesuaian kewajiban tahun pertama :


Dr Biaya bunga 10,889 juta
Cr Kewajiban diestimasi 10,889 juta

V. PENGUKURAN HARGA PEROLEHAN


Pengukuran Biaya Perolehan

Biaya perolehan aset tetap adalah setara dengan nilai tunai yang diakui
pada saat terjadinya. Jika pembayaran suatu aset ditangguhkan hingga
melampaui jangka waktu kredit normal, perbedaan antara nilai tunai dengan
pembayaran total diakui sebagai beban bunga selama periode kredit kecuali
dikapitalisasi sesuai dengan IAS 23 : Biaya Pinjaman.
Satu atau lebih aset tetap mungkin diperoleh dalam pertukaran aset
nonmoneter, atau kombinasi aset moneter dan nonmoneter. Pembahasan berikut
mengacu pada pertukaran satu aset nonmoneter dengan aset nonmoneter lainnya,
tetapi hal ini juga berlaku untuk semua pertukaran yang dijelaskan dalam
kalimat sebelumnya. Biaya perolehan dari suatu aset tetap diukur pada nilai
wajar kecuali:
1. transaksi pertukaran tidak memiliki substansi komersial; atau
2. nilai wajar dari aset yang diterima dan diserahkan tidak dapat diukur
secara andal.
Aset yang diperoleh diukur dengan cara seperti di atas bahkan jika entitas
tidak dapat dengan segera menghentikan pengakuan aset yang diserahkan. Jika
aset yang diperoleh tidak dapat diukur dengan nilai wajar, maka biaya
perolehannya diukur dengan jumlah tercatat dari aset yang diserahkan.
Entitas menentukan apakah transaksi pertukaran memiliki substansi
komersial dengan mempertimbangkan sejauh mana arus kas masa depan
diharapkan untuk mengubah sebagai akibat dari transaksi . Transaksi pertukaran
memiliki substansi komersial jika :
1. konfigurasi ( resiko , waktu, dan jumlah ) dari arus kas dari aset berbeda
yang diterima dari konfigurasi arus kas dari aset yang ditransfer ; atau
2. nilai - entitas tertentu dari bagian operasi entitas dipengaruhi oleh
perubahan transaksi sebagai akibat dari pertukaran ; dan
3. perbedaan (1) atau (2) relatif signifikan terhadap nilai wajar aset ditukar.
Untuk tujuan menentukan apakah suatu transaksi pertukaran memiliki
substansi komersial , nilai entitas tertentu dari bagian operasi entitas dipengaruhi
oleh transaksi tersebut mencerminkan arus kas setelah pajak . Hasil analisis ini
mungkin jelas tanpa suatu entitas harus melakukan perhitungan rinci .
Nilai wajar aset dapat diukur secara andal meskipun tidak ada transaksi pasar
yang sejenis, jika:
1. variabilitas rentang estimasi nilai wajar yang masuk akal (wajar) untuk
aset tersebut tidak signifikan; atau
2. probabilitas dari berbagai estimasi dalam rentang tersebut dapat dinilai
secara rasional dan digunakan dalam mengestimasi nilai wajar.
Jika entitas dapat menentukan nilai wajar secara andal, baik dari aset yang
diterima atau diserahkan, maka nilai wajar dari aset yang diserahkan digunakan
untuk mengukur biaya perolehan dari aset yang diterima kecuali jika nilai wajar
aset yang diterima lebih jelas.

Perolehan Gedung
Semua biaya terkait dengan akuisisi atau konstruksi :
 Material, tenaga kerja, overhead selama proses konstruksi , biaya bunga
 jika membangun sendiri
 Harga beli bangunan dan pengurusan hak perolehan bangunan.
 Fee professional dan Ijin pendirian bangunan.
Perolehan Tanah
Semua biaya terkait dengan akuisisi dan penyiapan tanah sesuai dengan tujuan
penggunaan :
 Harga Beli
 Biay a pengurusan hak tanah (sertifikat, pajak/BPHTB, biaya notaris, dll.
 Biaya untuk perataan tanah, penghancuran bangunan yang tidak
diperlukan.

Tanah dan Bangunan  Investasi Properti


a) Properti Investasi menurut PSAK 13 adalah:
 Properti (tanah atau bangunan—atau bagian dari bangunan—atau
keduanya) yang dikuasai (oleh pemilik atau lessee melalui sewa
pembiayaan) untuk menghasilkan rental atau untuk kenaikan nilai, atau
kedua-duanya, dan tidak untuk:
 Digunakan dalam produksi atau penyediaan barang atau jasa atau untuk
tujuan administratif, atau
 Dijual dalam kegiatan usaha sehari-hari.
b) Kriteria Pengakuan Sama dengan PSAK 16
c) Properti investasi pada awalnya diukur sebesar biaya perolehan. Biaya
transaksi termasuk dalam pengukuran awal tersebut.
d) Setelah pengukuran awal perusahaan dapat memilih menggunakan metode
biaya atau nilai wajar

Perolehan Peralatan
a) Peralatan dapat meliputi mesin, kendaraan, peralatan kantor, peralatan pabrik
dan peralatan lain.
b) Biaya perolehan meliputi, harga beli, pajak atau bea yang tidak dapat
dikreditkan, biaya transportasi, biaya asuransi selama pengiriman barang,
biaya instalasi dan biaya penyiapan tempat untuk melakukan instalasi, biaya
untuk pengetesan peralatan.
Perolehan Aset yang Dibangun Sendiri
Biaya yang dikeluarkan sampai aset tersebut siap digunakan:
 Material dan tenaga kerja
 Overhead  biaya variabel dan porsi dari fixed overhead yang terkait
langsung dengan pembangunan aset.
 Biaya bunga selama proses pembangunan

VI. PENGUKURAN SETELAH PENGAKUAN


Pengeluaran - pengeluaran setelah perolehan aset tetap terbagi menjadi dua,
yaitu pengeluaran modal dan pengeluaran pendapatan. Pada dasarnya
pengeluaran-pengeluaran tersebut diatas dapat dikelompokkan menjadi :
1. Pengeluran pendapatan (revenue expenditure).
yaitu : pengeluaran – pengeluaran untuk aset tetap yang bermanfaatnya
dinikmati tidak lebih dari satu periode akuntansi.
2. Pengeluaran modal (capital expenduditures).
yaitu : pengeluaran untuk aset tetap yang manfaatnya dapat dinikmati lebih
dari satu periode akuntansi. Jenis pengeluaran yang bersifat demikian
dicatat sebagai tambahan bagi harga perolehan aset tetap yang
bersangkutan.

Perusahaan dapat memilih model biaya atau model revaluasi sebagai


kebijakan akuntansinya dan menerapkan kebijakan teersebut terhadap seluruh
aset tetap dalam kelompok yang sama.
1. Model biaya.
Setelah di akui sebagi aset, aset tersebut dicatat sebesar biaya perolehan
dikurangi akumulasi penyusutan dan akumulasi rugi penurunan nilai aset
2. Model revaluasi
Setelah diakui sebagai aset, aset tetap yang niali wajarnya dapat diukur
secara andal, dan dicatat pada jumlah revaluasi, yaitu nilai wajar pada
tanggal revaluasi dikurangi akumulasi penyusutan dan akumulasi rugi
penurunan nilai yang terjadi pada tanggal revaluasi. Revaluasi harus
dilakukan dengan keteraturan yang cukup reguler untuk memastikan bahwa
jumlah tercatat tidak berbeda secara material dari jumlah yang ditentukan
dengan menggunakan nilai wajar pada akhir periode pelaporan.

Nilai wajar tanah dan bangunan biasanya ditentukan melalui penilaian yang
dilakukan oleh penilai yang memiliki kualifikasi profesional berdasarkan bukti
pasar. Nilai wajar pabrik dan peralatan biasanya menggunakan nilai pasar yang
ditentukan oleh penilai. Nilai wajar adalah nilai di mana suatu aset dapat
ditukarkan atau suatu kewajiban diselesaikan antara pihak yang memahami dan
berkeinginan untuk melakukan transaksi wajar.

Hirarki Penentuan Nilai Wajar

a. Kuotasi harga di pasar aktif;


b. Jika pasar tidak aktif, maka menggunakan teknik penilaian yang meliputi:
 penggunaan transaksi-transaksi pasar wajar yang terkini antara
pihak-pihak yang mengerti, berkeinginan, jika tersedia;
 referensi atas nilai wajar terkini dari instrumen lain yang secara
substansial sama;
 analisis arus kas yang didiskonto (discounted cash flow analysis);
dan model penetapan harga opsi (option pricing model)
c. Nilai wajar tanah dan bangunan biasanya ditentukan melalui penilaian
yang dilakukan oleh penilai yang memiliki kualifikasi professional
berdasarkan bukti pasar.
d. Nilai wajar pabrik dan peralatan biasanya menggunakan nilai pasar yang
ditentukan oleh penilai.

Jika suatu aset tetap direvaluasi, maka akumulasi penyusutan pada tanggal
revaluasi diperlakukan dengan salah satu cara berikut ini:
(a) disajikan kembali secara porposional dengan perubahan dalam jumlah
tercatat bruto aset sehingga jumlah tercatat aset setelah revaluasi sama
dengan jumlah revaluasiannya. Metode ini sering digunakan apabila aset
direvaluasi dengan cara memberi indeks untuk menentukan biaya
pengganti yang telah disusutkan.
(b) dieliminasi terhadap jumlah tercatat bruto aset dan jumlah tercatat neto
setelah eliminasi disajikan kembali sebesar jumlah revaluasian dari aset
tersebut. Metode ini sering digunakan untuk bangunan
Secara berkala semua aset tetap, kecuali tanah akan mengalami penyusutan
atau penurunan kemampuan dalam menyediakan manfaat. Dengan ada nya
penyusutan, maka nilai dari aset tetap tercatat tidak lagi dapat mewakili nilai dari
manfaat yang dimiliki aset tersebut. Agar nilai aset tetap dapat memiliki nilai dari
manfaat yang dimiliki nya, maka perlu dilakukan pengalokasian manfaat atas aset
tetap ke dalam akumulasi biaya secara sistematika, berdasarkan estimasi masa
manfaat aset tetap.
Menurut PSAK (IAI, 2011 : 16.4) pengertian umur manfaat adalah : a.
Periode aset diperkirakan dapat digunakan oleh perusahaan, atau b.Jumlah
produksi atau unit serupa yang diperkirakanakan diperoleh oleh perusahaan.
Pengertian nilai residu dari aset menurut Ikatan Akuntan Indonesia adalah
―estimasi jumlah yang dapat diperoleh entitas saat ini dari pelepasan aset, setelah
di kurangi estimasi biaya pelepasan, jika aset telah mencapai umur dan kondisi
yang diperkirakan pada akhir umur manfaatnya.‖
Untuk menghitung penyusutan dapat dilakukan beberapa metode
perhitungan. Penyusutan dapat dilakukan dengan berbagai metode berdasarkan
kriteria :
a. Berdasarkan Waktu.
Metode ini menghubungkan biaya penyusutan dengan perjalanan waktu.
Taksiran umur kegunaan dari aset tetap dinyatakan dalam bentuk satuan waktu,
biasanya tahun. Metode ini terdiri dari :

1. Metode garis lurus ( straight line menthod)


Beban penyusutan dibagi sama rata selama masa manfaat aset yang
bersangkutan, setelah dikurangi dengan estimasi nilai residu yang wajar.
Rumus untuk menghitung penyusutan metode garis lurus yaitu :

Harga perolehan (HP) – Nilai residu


Beban penyusutan / tahun = ______________________________
Umur manfaat
2. Metode Saldo Menurun
Dalam metode penyusutan saldo menurun yang menyajikan penyusutan
dalam jumlah yang terus menurun dari tahun ke tahun . Rumus untuk
menghitung penyusutan metode saldo menurun yaitu :

Beban penyusutan = Tarif penyusutan x Dasar penyusutan

b. Berdasarkan penggunaan.

Metode jumlah unit produksi.


Taksiran manfaat dintakan dalam kapasitas profuksi yahng dapat
dihasilkan . tarig penyusutan di hitung sebagai persentase (%) produksi
aktual terhadao kapasitas produksi. Dengan demikian tarif dan beban
penyusutan akan bervariasi dari tahun ke tahun, tergantung produksi aktual
yang dicapai pada tahun yang bersangkutan. Rumus untuk menghitung
penyusutan metode jumlah unit produksi yaitu :

Beban penyusutan / tahun =


Jurnal untuk mencatat beban penyusutan adalah :

Dr. Beban penyusutan aset tetap xxx


Cr. Akumulasi penyusutan aset tetap xxx

Metode penyusutan aset dipilih berdasarkan ekspektasi pola pemakaian


manfaat ekonomik masa depan aset. Metode tersebut diterapkan secara konsisten
dari periode ke periode, kecuali terdapat perubahan dalam ekspektasi pola
pemakaian manfaat ekonomik masa depan aset tersebut.

Penurunan Nilai
 Penurunan nilai terjadi jika nilai tercatat aset lebih tinggi dibandingkan nilai
terpulihkan (recoverable amount)
 Recoverable amount adalah nilai tertinggi antara nilai wajar dikurangi biaya
penjualan dengan nilai kini penggunaan aset.
 Penurunan nilai diakui di laporan laba rugi
 Review penurunan nilai dilakukan setiap pelaporan
 Penurunan boleh dapat dibalikkan sebesar yang telah terjadi

Contoh: Misalkan perusahaan Carita melakukan uji penurunan nilai untuk


peralatannya. Nilai buku dari peralatan tersebut sebesar Rp200 juta sedangkan
nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual sebesar Rp180 juta, dan nilai pakainya
Rp205 juta.
Misalnya informasi yang ada tetap sama untuk PT Carita kecuali nilai pakai dari
peralatannya menjadi Rp175 juta.

Dr. Rugi penurunan nilai Rp20 juta


Cr. Akumulasi depresiasi – peralatan Rp20 juta

VII. PENGHENTIAN PENGAKUAN


Jumlah tercatat aset tetap dihentikan pengakuannya pada saat:
(a) dilepas; atau
(b) ketika tidak terdapat lagi manfaat ekonomi masa depan yang diharapkan
dari penggunaan atau pelepasannya.

Keuntungan atau kerugian yang timbul dari penghentian pengakuan aset


tetap dimasukkan dalam laba rugi ketika aset tetap tersebut dihentikan
pengakuannya, tetapi keuntungan tersebut tidak dapat dianggap sebagai
pendapatan .Namun pada perusahaan yang kegiatan usahanya menjual aset yang
sebelumnya dientalkan kepada pihak lain, maka perusahaan harus memindahkan
aset tetap tersebut menjadi persediaan sesuai nilai tercatat ketika aset tidak lagi
direntalkan dan menjadi aset dimiliki untuk dijual. Keuntungan atau kerugian
yang timbul dari penghentian pengakuan aset tetap ditentukan sebesar selisih
antara jumlah hasil pelepasan neto, jika ada, dan jumlah tercatatnya.
Pelepasan aset tetap dapat dilakukan dengan berbagai cara,
diantaranya :
1. Penjualan asset tetap
2. Berakhirnya masa manfaat aset tetap
3. Pertukaran aset tetap

Ilustrasi Penghentian Pengakuan

Dr. Akumulasi Penyusutan Rp 8 juta


Dr. Rugi Rp 2 juta
Cr. Aset Tetap Rp 10 juta

Dr. Aset Tetap Rp 8 juta


Cr. Kas Rp 8 juta

VIII. PENGUNGKAPAN
Laporan keuangan harus mengungkapkan untuk setiap kelompok aset tetap
yaitu :
1. Dasar penilaian yang di gunakan untuk menentukan jumlah tercatat bruto,
jika lebih dari satu dasar yang digunakan, maka jumlah tercatat bruto untuk
dasar dalam setiap kategori harus diungkapkan.
2. Metode penyusutan yang digunakan.
3. Masa manfaat atau tarif penyusutan yang digunakan.
4. Jumlah tercatat bruto dan akumulasi penyusutan pada awal dan akhir
periode.
5. rekonsiliasi jumlah tercatat pada awal dan akhir periode yang menunjukkan:
 penambahan;
 aset diklasifikasi sebagai tersedia untuk dijual atau termasuk dalam
kelompok lepasan yang diklasifikasikan sebagai tersedia untuk dijual
sesuai PSAK 58 (revisi 2009): Aset Tidak Lancar yang Dimiliki untuk
Dijual dan Operasi yang Dihentikan dan pelepasan lainnya;
 akuisisi melalui kombinasi bisnis;
 peningkatan atau penurunan akibat dari revaluasi sesuai paragraf 31, 39,
dan 40 serta dari rugi penurunan nilai yang diakui atau dijurnal balik
dalam pendapatan komprehensif lain sesuai PSAK No. 48 (revisi 2009):
Penurunan Nilai Aset;
 rugi penurunan nilai yang diakui dalam laba rugi sesuai PSAK 48;
 rugi penurunan nilai yang dijurnal balik dalam laba rugi sesuai PSAK 48;
 penyusutan;
 selisih nilai tukar neto yang timbul dalam penjabaran laporan keuangan
dari mata uang fungsional menjadi mata uang pelaporan yang berbeda,
termasuk penjabaran dari kegiatan usaha luar negeri menjadi mata uang
pelaporan dari entitas pelapor; dan
 perubahan lain.

Laporan keuangan juga mengungkapkan:


 keberadaan dan jumlah restriksi atas hak milik, dan aset tetap yang
dijaminkan untuk liabilitas;
 jumlah pengeluaran yang diakui dalam jumlah tercatat aset tetap yang
sedang dalam pembangunan;
 jumlah komitmen kontraktual dalam perolehan aset
 tetap; dan
 jumlah kompensasi dari pihak ketiga untuk aset tetap yang mengalami
penurunan nilai, hilang atau dihentikan yang dimasukkan dalam laba
rugi, jika tidak diungkapkan secara terpisah pada pendapatan
komprehensif lain.

Pemilihan metode penyusutan dan estimasi umur manfaat aset adalah hal-
hal yang memerlukan pertimbangan. Oleh karena itu, pengungkapan metode
yang digunakan dan estimasi umur manfaat atau tarif penyusutan memberikan
informasi bagi pengguna laporan keuangan dalam me-review kebijakan yang
dipilih manajemen dan memungkinkan perbandingan dengan entitas lain. Untuk
alasan yang serupa, juga perlu diungkapkan:
a. penyusutan, apakah diakui dalam laba rugi atau diakui sebagai bagian
dari biaya perolehan aset lain, selama suatu periode; dan
b. akumulasi penyusutan pada akhir periode.

Sesuai dengan IAS 8: Kebijakan Akuntansi, Perubahan Estimasi


Akuntansi dan Kesalahan entitas mengungkapkan sifat dan dampak perubahan
estimasi akuntansi yang berdampak material pada periode berjalan atau
diperkirakan berdampak material pada periode berikutnya. Untuk aset tetap,
pengungkapan tersebut dapat muncul dari perubahan estimasi dalam:
 nilai residu;
 estimasi biaya pembongkaran, pemindahan atau restorasi suatu aset tetap;
 umur manfaat; dan
 metode penyusutan.
Jika aset tetap disajikan pada jumlah revaluasian, hal berikut diungkapkan:
a. tanggal efektif revaluasi;
b. apakah penilai independen dilibatkan;
c. metode dan asumsi signifikan yang digunakan dalam mengestimasi nilai
wajar aset;
d. penjelasan mengenai nilai wajar aset yang ditentukan secara langsung
berdasarkan harga terobservasi (observable prices) dalam suatu pasar
aktif atau transaksi pasar terakhir yang wajar atau diestimasi
menggunakan teknik penilaian lainnya;
e. untuk setiap kelompok aset tetap, jumlah tercatat aset seandainya aset
tersebut dicatat dengan model biaya; dan
f. surplus revaluasi, yang menunjukkan perubahan selama periode dan
pembatasan-pembatasan distribusi kepada pemegang saham.

Kasus – Model Revaluasi & Cost

Informasi terkait aset yang diperoleh pada 1 Januari 2006:


Harga perolehan: Rp100 juta
Umur manfaat: 5 tahun, tidak ada nilai sisa
Metode depresiasi: Garis lurus

Tanggal Biaya Penggantian Terdepresiasi


1 Januari 2007 Rp120 juta
1 Januari 2008 Rp45 juta
1 Januari 2009 Rp50 juta

Diminta:
a. Buatlah seluruh jurnal yang diperlukan berdasarkan Model Revaluasi!
b. Buatlah seluruh jurnal yang diperlukan berdasarkan Model Biaya (Cost
Model)! Asumsikan kondisi pada 1 Januari 2008 memenuhi kriteria penurunan
nilai (impairment)!

Jawaban – Revaluasi – Proporsional


1/1/06 Dr. Aset Rp100 juta
Cr. Kas Rp100 juta
31/12/06 Dr. Beban depresiasi Rp20 juta
Cr. Akumulasi Depresiasi Rp20 juta
1/1/07 Dr. Aset Rp50 juta*
Cr. Akumulasi Depresiasi Rp10 juta**
Cr. Surplus Revaluasi Rp 40 juta

*((120 juta – 80 juta)/80 juta) x 100 juta


**((120 juta – 80 juta)/80 juta) x 20 juta

31/12/07 Dr. Beban Depresiasi Rp30 juta (120 juta/4)


Cr.Akumulasi Depresiasi Rp 30 juta
Dr. Surplus Revaluasi Rp10 juta (40juta/4)
Cr. Laba Ditahan Rp10 juta
1/1/08 Dr. Akumulasi Depresiasi Rp30 juta*
Dr. Surplus Revaluasi Rp30 juta
Dr. Rugi Penurunan Nilai Aset Rp15 juta
Cr. Aset Rp75 juta**

*((90 juta – 45 juta)/90 juta) x 60 juta


**((90 juta – 45 juta)/90 juta) x 150 juta

31/12/08 Dr. Beban Depresiasi Rp15 juta (45 juta/3)


Cr. Akumulasi Depresiasi Rp15 juta
1/1/09 Dr. Aset Rp50 juta*
Cr. Akumulasi Depresiasi Rp30 juta**
Cr. Keuntungan/Kerugian Rp15 juta
Cr. Surplus Revaluasi Rp5 juta

*((50 juta -30 juta)/30 juta) x 7,500


**((5,000-3,000)/3,000) x 4,500
Jawaban – Revaluasi – Eliminasi
1/1/06 Dr. Aset Rp100 juta
Cr. Kas Rp100 juta
31/12/06 Dr. Beban Depresiasi Rp20 juta
Cr. Akumulasi Depresiasi Rp20 juta
1/1/07 Dr. Akumulasi Depresiasi Rp20 juta
Cr. Aset Rp20 juta
Dr. Aset Rp40 juta
Cr. Surplus Revaluasi Rp40 juta
31/12/07 Dr. Beban Depresiasi Rp30 juta (120 juta/4)
Cr. Akumulasi Depresiasi Rp30 juta
Dr. Surplus Revaluasi Rp10 juta (40 juta/4)
Cr. Laba Ditahan Rp10 juta
1/1/08 Dr. Akumulasi Depresiasi Rp30 juta
Cr. Aset Rp30 juta
Dr. Surplus Revaluasi Rp30 juta
Dr. Rugi Penurunan Nilai Aset Rp15 juta
Cr. Aset Rp45 juta
31/12/08 Dr. Beban Depresiasi Rp15 juta (4,500/3)
Cr. Akumulasi Depresiasi Rp15 juta
1/1/09 Dr. Akumulasi Depresiasi Rp15 juta
Cr. Aset Rp15 juta
Dr. Aset Rp20 juta
Cr. Laba/Rugi Rp15 juta
Cr. Surplus Revaluasi Rp5 juta

Jawaban – Model Biaya


1/1/06 Dr. Aset Rp100 juta
Cr. Kas Rp100 juta
31/12/06 Dr. Beban Depresiasi Rp20 juta
Cr. Akumulasi Depresiasi Rp20 juta

1/1/07 No journal

31/12/07 Dr. Beban Depresiasi Rp20 juta


Cr. Akumulasi Depresiasi Rp20 juta
1/1/08 Dr. Kerugian Penurunan Nilai Aset Rp15 juta
Cr. Akumulasi Depresiasi Rp15 juta
31/12/08 Dr. Beban Depreasiasi Rp15 juta
Cr. Akumulasi Depresiasi Rp15 juta
1/1/09 Dr. Akumulasi Depresiasi Rp10 juta
Cr. Laba/Rugi Rp10 juta

Koreksi Kesalahan pencatatan dalam Laporan Keuangan, Menurut (Keiso,


Weygandt, & Warfield, 2008) :

1. Perubahan estimasi yang terjadi karena estimasi-estimasi itu tidak dibuat


dengan jujur. Contoh: penggunaan tarif penyusutan yang secara jelas
tidak realistis.
2. Kelalaian, seperti kegagalan untuk mengakrualkan atau menangguhkan
beban atau pendapatan tertentu pada akhir periode.
3. Penggunaan fakta yang tidak benar, seperti kegagalan untuk
menggunakan nilai sisa dalam menghitung dasar penyusutan untuk
pendekatan garis lurus.
4. Klasifikasi biaya yang tidak tepat sebagai beban dan bukan sebagai aset
ILUSTRASI PENYAJIAN IAS 16 PADA SANTAK HOLDINGS LIMITED
2016

Anda mungkin juga menyukai