Anda di halaman 1dari 12

PRAKTIKUM FITOFARMAKA

TUGAS 1
Pembuatan Ekstrak Rimpang Kaempferia galanga
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Praktikum Fitofarmaka

KELOMPOK : 8

KELAS : E

Novia Dara Puspita (201610410311226)

PROGRAM STUDI FARMASI

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

2019
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indonesia merupakan Negara yang kaya akan rempah-rempah, di samping itu juga
kaya akan tanaman biofarmaka. Biofarmaka merupakan tanaman yang bermanfaat sebagai
obat-obatan, biasanya dikonsumsi dari bagian tanaman berupa daun, buah, umbi (rimpang)
atay pun akarnya. Salah satu tanaman biofarmaka yang dimanfaatkan bagian umbi atau
rimpangnya adalah kencur. Kencur (Kaempferia galangal) adalah tanaman yang
mengandung bahan kimia aktif pada bagian rimpang. (Rismunandar, 1988)
Kencur (Kaempferia galangal L.) merupakan satu di antara tanaman suku Zingiberaceae
yang telah dikaji dan dimanfaatkan sebagai fungisida alami. Akar rimpang kencur adalah
bagian yang digunakan sebagai obat. Menurut Winarto (2007) komponen yang terkandung di
dalam rimpang kencur seperti saponin, flavonoid, polifenol, dan minyak atsiri memiliki
manfaat untuk pengobatan seperti batu, mual, bengkak, bisul, antitoksin, dan antijamur.
Ekstraksi merupakan kegiatan penarikan kandungan kimia yang dapat larut sehingga
terpidah dari bahan yang tidak dapat larut dengan pelarut cair. Berdasarkan konsistensinya
ekstrak dibagi menjadi 3 bagian:
1. Ekstrak cair : Ekstrak cair, tingtur, maserat minyak (Ekstracta liquida)
2. Semi solid : Ekstrak kental (Ekstracta spissa)
3. Kering : Ekstrak kering (Ekstracta sicca)
Beberapa metode ekstraksi yang dapat digunakan yaitu:
1. Ekstraksi dengan menggunakan pelarut
a. Cara dingin : Maserasi, Perkolasi
b. Cara panas : Refluks, Soxhlet, Digesti, Infus, Dekok
2. Ekstraksi dengan menggunakan uap (Destilasi uap)
3. Metode lain : Ekstraksi berkesinambungan, superkritikal karbondioksida, ekstraksi
ultrasonic, ekstraksi energy listrik.
1.2 Tujuan
Praktikum Fitofarmaka bertujuan memberikan pengalaman praktek bagi mahasiswa
berupa simulasi pembuatan sediaan farmasi di bagian perencanaan, pengembangan (R&D),
produksi, kontrol kualitas (QC) suatu industry farmasi di bagian sediaan obat tradisional.
Simulasi dimulai dari observasi permasalahan (berupa materi praktikum). Upaya
pemecahan masalah secara teoritis atas dasar studi literature dan karakteristik sampel uji
dalam praktikum. Pembuktian kerangka pemikiran (berupa tindakan ekstraksi, formulasi),
dilanjutkan dengan pembahasan hasil evaluasi karakteristik mutu sediaan dari bahan alam.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tanaman Kencur (Kaempferia galangal L.)


Merupakan bahan alamiah kering berupa rimpang (rhizoma) dari tanaman kencur
(Kaempferia galanga L.) yang digunakan untuk obat dan belum mengalami pengolahan
apapun. Tanaman ini sudah berkembang di Pulau Jawa dan diluar Jawa seperti Sumatra
Barat, Sumatra Utara dan Kalimantan Selatan. Sampai saat ini karakteristik utama yang dapat
dijadikan sebagai pembeda kencur adalah daun dan rimpang. Berdasarkan ukuran daun dan
rimpangnya, dikenal 2 tipe kencur, yaitu kencur berdaun lebar dengan ukuran rimpang besar
dan kencur berdaun sempit dengan ukuran rimpang lebih kecil [Syukur dan Hernani, 2001].

Tanaman Kaempferia galanga mempunyai klasifikasi dalam sistematika tumbuhan


(taksonomi sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta
Super divisi : Spermatophyta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Liliopsida
Subkelas : Commelinidae
Ordo : Zingiberales
Family : Zingiberaceae
Genus : Kaempferia
Spesies : Kaempferia galanga L

Kencur digolongkan sebagai tanaman jenis empon-empon yang mempunyai daging buah
yang lunak dan tidak berserat. Rimpang kencur mempunyai aroma yang spesifik. Kencur
tumbuh dan berkembang pada musim tertentu, yaitu pada musim penghujan kencur dapat
ditanam dalam pot atau dikebun yang cukup sinar matahari, tidak terlalu basah dan di tempat
terbuka [Thomas, 1989]

2.2 Kandungan Kimia


Kandungan kimia rimpang kencur telah dilaporkan oleh Afriastini, 1990 yaitu (1) Etil
sinamat, (2) Etil p-metoksisinamat, (3) p-Metoksisitiren, (4) Karen, (5) Borneol, dan (6)
Parafin.
Diantara kandungan kimia ini, Etil p-metoksisinamat merupakan komponen utama dari
kencur [Afriastini, 1990]. Rimpang mengandung minyak atsiri yang tersusun α-pinene
(1,28%), kampen (2,47%), benzene (1,33%), borneol (2,87%), pentadecane (6,41%),
eucalyptol (9,59%), karvon (11,13%), metilsinamat (23,23%) dan etil-p-metoksisinamat
(31,77%) [Tewtrakul et al., 2005]. Ekstrak rimpang kencur berpotensi aktif terhadap infeksi
bakteri [Tewtrakul et al., 1983]. Rimpang kencur ditemukan memiliki aktivitas antikanker,
antihipertensi dan aktivitas larvacidal dan untuk berbagai penyakit kulit, rematik dan diabetes
mellitus [Tara et al., 1991].

Senyawa Etil p-metoksisinamat


Merupakan salah satu senyawa hasil isolasi rimoang kencur dengan bahan dasar senyawa
tabir surya terutama yang berasal dari alam dirasa sangat penting saat ini dimana tidak hanya
wanita saja yang memerlukan perlindungan kulit akan tetapi pria pun memerlukan tabir surya
untuk melindungi kulit agar tidak coklat atau hitam tersengat sinar matahari [Barus, 2009].
EPMS juga merupakan senyawa aktif yang ditambahkan pada lotion atau bedak setelah
mengalami sedikit modifikasi yaitu perpanjangan rantai dimana etil dari ester ini diganti oleh
oktil, etil heksil ataupun heptil melalui transesterifikasi maupun esterifikasi bertahap.
Modifikasi yang dilakukan diharapkan mengurangi kepolaran EPMS sehingga kelarutannya
dalam air berkurang yang merupakan salah satu syarat senyawa sebagai tabir surya.
Dalam ekstraksi suatu senyawa yang harus diperhatikan adalah kepolaran antara lain
pelarut dengan senyawa yang diekstrak, keduanya harus memiliki kepolaran yang sama atau
mendekati sama. [Taufikhurohmah, 2008].

2.3 Manfaat Kaempferia galanga


Zingebraceae telah ditemukan sebagai sumber yang diperlukan sekali untuk agen
pencegah kanker sejak tumbuhan dari famili Zingeberaceae didemonstrasikan kemungkinan
efek hambatnya pada pertumbuhan kanker payudara (MCF-7), kanker kolon (HT- 29 dan
Col2), kanker paru- paru (A549), kanker perut (SNU- 638), dan kanker servic (CaSki).
Dilaporkan juga pada skrining ekstrak atau minyak esensial dari sejumlah anggota famili
Zingiberaceae yaitu dapat melawan strain bakteri, jamur, dan ragi (Tang et al.,2014).
Kebanyakan rizoma ginger banyak yang bisa dimakan yang telah lama digunakan sebagai
bahan untuk pengobatan tradisional selama berabad- abad tetapi ridak sepenuhnya telah
dilakukan indentifikasi terhadap aktivitas bioaktifnya (Tang et al.,2014).
Ekstrak dari Kaempfreia galanga L. memiliki aktivitas antiinflamasi, analgesik,
nematasida, penolak nyamuk, larvisida, vasorelaksan, sedatif, antineoplastik, antimikroba,
antioksidan, antialergidan penyembuh luka (Umar et al., 2011). Etil p- metoksisinamat dan
etil sinamat ditemukan sebagai senyawa vital yang berperan dalam kebanyakan sifat
farmakologi. Efek aktinosiseptik dari ekstrak Kaempferia galanga L. sebanding dengan
aspirin, mengingat efek nematisida Kaempferia galanga L. bahkan lebih poten dari pada
Carbofuran dan Nametan (Umar et al., 2011). Rimpang kencur berkhasiat untuk obat batuk,
pengompresan bengkak, penambah nafsu makan dan juga sebagai minuman segar (Rukmana,
1994).
2.4 Ekstraksi
Menurut Tiwari et al.,(2011), keberagaman dari metode ekstraksi biasanya berdasarkan
pada:
a. Lamanya periode ekstraksi
b. Pelarut yang digunakan
c. pH dari pelarut
d. Suhu
e. Ukuran partikel dari jaringan tumbuhan
f. Perbandingan pelarut terhadap sampel
Ekstraksi dalam hal farmaseutik merupakan pemisahan bagian yang aktif secara
medisinal dari jaringan tumbuhan dan hewan menggunakan pelarut tertentu melalui prosedur
standart. Selama ekstraksi, pelarut berdifusi ke dalam material padat tumbuhan dan
melarutkan senyawa- senyawa dengan kepolaran yang sama (Tiwari et al.,2011).
Parameter dasar yang mempengaruhi kualitas dari sebuah ekstrak adalah:
a. Bagian tumbuhan yang digunakan sebagai material awal
b. Pelarut yang digunakan dalam ekstraksi
c. Prosedur ekstraksi
Keberagaman dalam metode ekstraksi yang berbeda yaitu akan mempengaruhi kuantitas
dan komposisi metabolit sekunder pada sebuah ekstrak yang tergantung pada:
a. Tipe ekstraksi
b. Waktu ekstraksi
c. Suhu
d. Sifat pelarut
e. Konsentrasi pelarut
f. Polaritas
Homogenasi jaringan tumbuhan dalam pelarut telah secara luas digunakan oleh para
peneliti. Kering atau basah, bagian tumbuhan digiling menggunakan blender untuk
mendapatkan ukuran partikel yang halus, diekstrak dalam pelarut tertentu dan dikocok
dengan kuat selama 5-10 menit atau dibiarkan selama 24 jam setelah selesai kemudian
ekstrak tersebut disaring. Filtrat kemudian diuapkan pelarutnya dan dilarutkan kembali dalam
pelarut untuk menentukan konsentrasi. Beberapa penelitian melakukan sentrifugasi untuk
menjernihkan ekstrak (Tiwari et al.,2011).
Matode ekstraksi yang telah berhasil yaitu dengan menggunakan kenaikan kepolaran
pelarut, dari mulai pelarut non polar (heksan) sampai pelarut yang lebih polar (metanol)
untuk menjamin bahwa rentang kepolaran yang luas menyebabkan banyak senyawa yang
dikandung dapat diektraksi (Tiwari et al.,2011).
a. Metode Ekstraksi
Ekstraksi adalah kegiatan penarikan kandungan kimia yang dapat larut sehinggga terpisah
dari bahan yang tidak dapat larut dengan menggunakan pelarut cair. Senyawa aktif yang
terdapat dalam berbagai simplisia dapat digolongkan kedalam golongan minyak atsiri,
alkaloida, falvonoida dan lain-lain. Dengan diketahuinya senyawa aktif yang dikandung
simplisia akan mempermudah pemilihan pelarut dan cara ekstraksi yang tepat (Ditjen POM,
2000).
Metode ekstraksi dapat dilakukan dengan beberapa cara :
1. Maserasi
Maserasi adalah proses ekstraksi simplisia yang paling sederhana, menggunakan pelarut
yang cocok dengan beberapa kali pengadukan pada temperatur ruangan (kamar) (Ditjen
POM, 2000). Maserasi digunakan untuk mencari zat aktif yang mudah larut dalam cairan
penyari, tidak mengandung stirak, benzoin dan lain-lain. Maserasi pada umumnya dilakukan
dengan cara merendam 10 bagian serbuk simplisia dalam 75 bagian cairan penyari (pelarut)
(Ditjen POM, 1986). Maserasi merupakan metode ekstraksi dengan menggunakan pelarut
diam atau dengan adanya pengadukan beberapa kali pada suhu ruangan. Metode ini dapat
dilakukan dengan cara merendam bahan dengan sekali- kali dilakukan pengadukan. Pada
umumnya perendaman dilakukan selama 24 jam, kemudian pelarut diganti dengan pelarut
baru. Maserasi juga dapat dilakukan dengan pengadukan secara berkesinambungan (maserasi
kinetik). Kelebihan dari metode ini yaitu efektif untuk sneyawa yang tidak tahan panas
(terdegradasi karena panas), pelaratan yang digunakan relatif sederhana, murah, dan mudah
didapat. Namun metode ini juga memiliki beberapa kelemahan yaitu waktu ekstraksi yang
lama, membutuhkan pelarut dalam jumlah yang banyak dan adanya kemungkinan bahwa
senyawa tertentu tidak dapat diekstrak karena kelarutannya yang rendah pada suhu ruang
(Sarker et al., 2006).

2. Perkolasi
Perkolasi adalah ekstraksi yang dilakukan dengan mengalirkan pelarut melalui serbuk
simplisia yang telah dibasahi. Prosesnya terdiri dari tahap pengembanga n dan perkolasi
sebenarnya (penetesan/penampungan ekstrak) secara terus menerus sampai diperoleh ekstrak
(perkolat) yang jumlahnya 1-5 kali bahan.

3. Refluks
Refluks adalah ekstraksi dengan pelarut pada temperatur titik didihnya, selama waktu
tertentu dan jumlah pelarut yang relative konstan dengan adanya pendingin balik. Umumnya
dilakukan pengulangan pada residu pertama sampai 3-5 kali sehingga dapat termasuk proses
ekstraksi sempurna.
4. Sokletasi
Sokletasi adalah ekstraksi menggunakan pelarut yang selalu baru yang umumnya
dilakukan dengan alat khusus sehingga terjadi ekstraksi yang berkelanjutan dengan jumlah
pelarut relatif konstan dengan adanya pendingin balik. Sokletasi adalah suatu metode atau
proses pemisahan suatu komponen yang terdapat dalam zat padat dengan cara penyaringan
berulang-ulang dengan menggunakan pelarut tertentu, sehingga semua komponen yang
diinginkan akan terisolasi. Sokletasi digunakan pada pelarut organik tertentu. Dengan cara
pemanasan, sehingga uap yang timbul setelah dingin secara kontinyu akan membasahi
sampel, secara teratur pelarut tersebut dimasukkan kembali ke dalam labu dengan membawa
senyawa kimia yang akan diisolasi tersebut. (Anonim, 2015)

5. Digesti
Digesti adalah maserasi kinetik (dengan pengadukan kontinu) pada temperatur yang lebih
tinggi dari temperatur ruangan (kamar) yaitu secara umum dilakukan pada temperatur 40-
50°C.

6. Infus
Infus adalah ekstraksi dengan pelarut air pada temperatur pemanasan air (bejana infus
tercelup dalam air penangas air mendidih), temperatur terukur (96-98°C) selama waktu
tertentu (15-20 menit).

7. Dekok
Dekok adalah infus pada waktu yang lebih lama dengan temperatur titik didih air.

8. Destilasi Uap
Destilasi uap adalah ekstraksi senyawa menguap (minyak atsiri) dari bahan (segar atau
simplisia) dengan uap air berdasarkan peristiwa tekanan parsial. Senyawa menguap akan
terikut dengan fase uap air dari ketel secara kontinu dan diakhiri dengan kondensasi fase uap
campuran (senyawa kandungan menguap ikut terdestilasi) menjadi destilat air bersama
senyawa kandungan yang memisah sempurna atau memisah sebagian (Ditjen POM, 2000).
Metode destilasi uap air diperuntukkan untuk menyari simplisia yang mengandung minyak
menguap atau mengandung komponen kimia yang mempunyai titik didih tinggi pada tekanan
udara normal, misalnya pada penyarian minyak atsiri yang terkandung dalam tanaman Sereh
(Cymbopogon nardus). Pada metode ini uap air digunakan untuk menyari simplisia dengan
adanya pemanasan kecil uap air tersebut menguap kembali bersama minyak menguap dan
dikondensasikan oleh kondensor sehingga terbentuk molekul-molekul air yang menetes ke
dalam corong pisah penampung yang telah diisi air. Penyulingan dilakukan hingga sempurna
(Ditjen POM, 1986).
Sampel yang akan diekstraksi direndam dalam gelas kimia selama 2 jam setelah itu
dimasukkan ke dalam bejana B, bejana A diisi air dan pipa-pipa penyambung serta
kondensor dan penampung corong pisah dipasang dengan kuat. Api Bunsen bejana A
dinyalakan sehingga airnya mendidih dan diperoleh uap air yang selanjutnya masuk ke dalam
bejana B melalui pipa penghubung untuk menyari sampel dengan adanya bantuan api kecil
pada bejana B, minyak menguap yang telah tersari selanjutnya menguap menuju kondensor,
karena adanya pendinginan balik uap dari minyak menguap ini, maka uap air yang terbentuk
menetes ke dalam corong pisah penampung yang telah berisi air (Ditjen POM, 1986).
Prinsip fisik destilasi uap yaitu jika dua cairan tidak bercampur digabungkan, tiap cairan
bertindak seolah – olah pelarut itu hanya sendiri, dan menggunakan tekanan uap. Tekanan
uap total dari campuran yang mendidih sama dengan jumlah tekanan uap parsial, yaitu
tekanan yang digunakan oleh komponen tunggal, karena pendidihan yang dimaksud yaitu
tekanan uap total sama dengan tekanan atmosfer, titik didih dicapai pada temperatur yang
lebih rendah daripada jika tiap – tiap cairan berada dalam keadaan murni (Ditjen POM,
1986).
BAB III
PROSEDUR KERJA

3.1 Alat dan Bahan

A. Alat B. Bahan

1. Wadah maserasi (botol kaca) 1. Ekstrak rimpang kencur

2. Labu erlenmeyer 2. Etanol 96%

3. Beaker glass 3. Cab-o-sil

4. Batang pengaduk

5. Corong buchner

6. Kertas saring

7. Rotavapor

8. Sudip

9. Botol selai

10. Loyang

11. Mortir dan stamper

3.2 Prosedur Kerja

Metode Maserasi Kinetika

1. Ditimbang 400 g serbuk rimpang kencur, dimasukkan dalam bejana maserasi.


2. Ditambahkan 1000 ml etanol 96%, aduk sampai serbuk terbasahi.
3. Hasil no. 2 ditambahkan 600 ml etanol 96%, aduk samoai homogen, tutup bagian
mulut bejana dengan aluminium, lakukan pengadukan pada kecepatan tertentu (semua
serbuk simplisia teraduk) selama 2 jam. (catat kecepatan yang digunakan).
4. Hasil maserasi pada no. 2 disaring. Tamping filtrate dan lakukan kembali maserasi
kinetika dengan 1200 ml etanol 96% pada residu selama 2 jam pada kecepatan yang
sama (perlakuan no. 3)
5. Hasil maserasi pada no. 3 disaring. Tamping filtrate dan lakukan kembali maserasi
kinetika dengan 1200 ml etanol 96% pada resudy selama 2 jam pada kecepatan yang
sama (perlakuan no.3)
6. Disaring kembali maserasi no. 4. Kumpulkan semua filtrate menjadi satu.
7. Kaliberasi labu pada rotavapor (berisi ekstrak), berikan tanda pada volume 400 ml.
8. Filtrate yang terkumpul dilakukan pemekatan dengan rotavapor yaitu penguapan
dengan penurunsn tekanan hingga volume tersisa ± 400 ml (tanda kaliberasi) dan
pindahkan hasilnya kedalam Loyang. Ratakan ekstrak pada Loyang.
9. Ditambahkan cab-o-sil sebanyak 5% dari ekstrak (20g) dengan ditaburkan sedikit
demi sedikit secara merata. Kemudian diamkan selama semalam (sampai kering)
10. Homogenkan dan simpan pada wadah tertutup (botol selai)
11. Berikan label identitas pada wadah.
Laboratorium Farmasi
Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Muhammadiyah Malang

EKSTRAK KERING

RIMPANG Kaempferia galanga

3.3 Bagan Alir

Ditimbang 400 g serbuk Ditambahkan 1000 ml


Rimpang kencur, dimasukkan etanol 96%, aduk sampai
Dalam bejana maserasi serbuk terbasahi

Hasil no, 2 ditambahkan 600 ml etanol Hasil maserasi pada no. 2 disaring.
96%, aduk sampai homogen, tutup Tamping filtrate dan lakukan kembali
bagian mulut bejana dengan aluminium, maserasi kinetika dengan 1200 ml etanol
lakukan pengadukan pada kecepatan 96% pada residu selama 2 jam pada
tertentu (serbuk simplisia teraduk) kecepatan yang sama (perlakuan no.3)
selama 2 jam (catat kecepatan yang
digunakan)
Hasil maserasi pada no.3 disaring. Disaring kembali maserasi no. 4.
Tamping filtrate dan lakukan kembali Kumpulkan semua filtrate menjadi satu
maserasi kinetika dengan 1200ml etanol
96% pada residu selama 2 jam pada
kecepatan yang sama. (perlakuan no, 3)

Kaliberasi labu pada rotavapor (berisi Filtrat yang terkumpul dilakukan


ekstrak), berikan tanda pada volume 400 pemekatan dengan rotavapor yaitu
ml. penguapan dengan penurunan tekanan
hingga volume tersisa ± 400 ml (tanda
kaliberasi) dan pindahkan hasilnya
kedalam Loyang. Ratakan ekstrak pada
Loyang.

Laboratorium Farmasi
Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Muhammadiyah Malang

EKSTRAK KERING

RIMPANG Kaempferia galanga

Ditambahkan cab-o-sil sebanyak 5% dari Homogenkan dan simpan pada wadah


ekstrak (20g) dengan ditaburkan sedikit tertutup (botol selai). Berikan label
demi sedikit secara merata. Kemudian identitas pada wadah.
diamkan selama semalam (sampai
kering)
DAFTAR PUSTAKA

Barus R, 2009, Amidasi p-metoksisinamat yang Diisolasi dari Kencur (Kaemferia galangal, L),
Sumatera Utara, Program Pascasarjana USU

BPOM (Balai Pengawasan Obat dan Makanan) RI. 2000, Departemen Kesehatan RI: Jakarta
Departemen Kesehatan RI, 2008. Farmakope herbal Indonesia. Jakarta: Departemen Kesehatan
Republik Indonesia

Rismunandar. 1988. Rempah-Rempah Komoditi Eksport Indonesia. Sinar Baru. Bandung.


Syukur, C., dan Hernani, 2001, Budidaya Tanaman Obat Komersial, Penebar Swadaya, Jakarta,
65.
Rukmana R. 1994. Kencur. Yogyakarta, Kanisius
Sarker, S. D., Latief, Z., and Gray, A. I., 2006. Natural Products Isolation 2nd Ed. New Jersey:
Humania Press
Thomas, A. N. S., 1989, Tanaman Obat Tradisional, Kanisius, Yogyakarta
Titik Taufikurohmah. (2008). Pemilihan dan Optimasi Suhu Pada Isolasi Senyawa Etil Para
Metoksi Sinamat (EPMS) dari Rimpang Kencur Sebagai Bahan Tabir Surya Pada
Industri Kosmetik. Artikel Penelitian
Umar, M. I., Mohammad, Z. B. A., Amirin, S., Rabia, A., & Muhammad, A. I. 2011.
Phytochemistry and medicinal properties of Kaemferia Galanga, L (zingiberaceae)
extract. African Journal of Pharmacy and Pharmacology, 5, 14, 1638-1647