Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PENDAHULUAN DAN STRATEGI PELAKSANAAN

RESIKO BUNUH DIRI

I. KASUS (MASALAH UTAMA)


Resiko bunuh diri

II. PROSES TERJADINYA MASALAH


A. Definisi
Bunuh diri menurut Gail W. Stuart dalam buku ”Keperawatan Jiwa’
dinyatakan sebagai suatu aktivitas yang jika tidak dicegah, dimana aktivitas ini
dapat mengarah pada kematian(2007). Bunuh diri juga merupakan kedaruratan
psikiatri karena pasien berada dalam keadaan stres yang tinggi dan
menggunakan koping yang maladaptif. Situasi gawat pada bunuh diri adalah
saat ide bunuh diri timbul secara berulang tanpa rencana yang spesifik atau
percobaan bunuh diri atau rencana yang spesifik untuk bunuh diri. (Yusuf,
Fitryasari, & Endang, 2015, hal. 140). Bunuh diri adalah tindakan agresif yang
merusak diri sendiri dan dapat mengakhiri kehidupan.Bunuh diri merupakan
keputusan terakhir dariindividu untuk memecahkan masalah yang dihadapi
(Captain, 2008). Menciderai diri adalah tindakan agresif yang merusak diri
sendiri dan dapat mengakhiri kehidupan. Bunuh diri mungkin merupakan
keputusanterakhir dari individu untuk memecahkan masalah yang dihadapi
(Captain, 2008). Resiko bunuh diri adalah resiko untuk menciderai diri sendiri
yang dapat mengancam kehidupan. Bunuh diri merupakan kedaruratan
psikiatri karena merupakan perilaku untuk mengakhiri kehidupannya.
Perilaku bunuh diri disebabkan karena stress yang tinggi dan
berkepanjangan dimana individu gagal dalam melakukan mekanisme
kopingyang digunakan dalam mengatasi masalah. Beberapa alasan
individu mengakhiri kehidupan adalah kegagalanu untuk beradaptasi,
sehingga tidak dapat menghadapi stress, perasaan terisolasi, dapat
terjadi karena kehilangan hubungan interpersonal/gagal melakukan hubungan
yang berarti, perasaan marah/bermusuhan, bunuh diri dapat merupakan
hukuman pada diri sendiri, cara untuk mengakhiri keputusan (Stuart, 2006).
B. Etiologi
1. Faktor Predisposisi

Lima faktor predisposisi yang menunjang pada pemahaman perilaku


destruktif-diri sepanjang siklus kehidupan adalah sebagai berikut:

Sifat Kepribadian
a. Diagnosis Psikiatrik
Lebih dari 90% orang dewasa yang mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh
diri mempunyai riwayat gangguan jiwa. Tiga gangguan jiwa yang dapat
membuat individu berisiko untuk melakukan tindakan bunuh diri adalah
gangguan afektif, penyalahgunaan zat, dan skizofrenia.
b. Tiga kepribadian yang erat hubungannya dengan besarnya resiko bunuh diri
adalah antipati, impulsif, dan depresi.
c. Lingkungan Psikososial
Faktor predisposisi terjadinya perilaku bunuh diri, diantaranya adalah
pengalaman kehilangan, kehilangan dukungan sosial, kejadian-kejadian
negatif dalam hidup, penyakit kronis, perpisahan, atau bahkan perceraian.
Kekuatan dukungan sosial sangat penting dalam menciptakan intervensi
yang terapeutik, dengan terlebih dahulu mengetahui penyebab maslah,
respon seseorang dalam menghadapi masalah tersebut, dan lain-lain.
d. Riwayat keluarga
Riwayat keluarga yang pernah melakukan bunuh diri merupakan faktor
penting yang dapat menyebabkan seseorang melakukan tindakan bunuh diri.
e. Faktor biokimia
Data menunjukkan bahwa pada klien dengan resiko bunuh diri terjadi
peningkatan zat-zat kimia yang terdapat di dalam otak seperti serotinin dan
dopamine. Peningkatan zat tersebut dapat dilihat melalui rekaman
gelombang otak Electro Encephalo Graph(EEG).

2. Faktor Presipitasi
Perilaku destruktif diri dapat ditimbulkan oleh stress berlebihan yang dialami
oleh individu. Pencetusnya sering kali berupa kejadian hidup yang
memalukan. Faktor lain yang dapat menjadi pencetus adalah melihat atau
membaca melalui media mengenai orang yang melakukan bunuh diri
ataupun percobaan bunuh diri. Bagi individu yang emosinya labil, hal
tersebut menjadi sangat rentan.
C. Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala menurut Fitria, Nita (2009):
a. Mempunyai ide untuk bunuh diri.
b. Mengungkapkan keinginan untuk mati.
c. Mengungkapkan rasa bersalah dan keputusan.
d. Impulsif.
e. Menunjukkan perilaku yang mencurigakan (biasanya menjadi sangat patuh).
f. Memiliki riwayat percobaan bunuh diri.
g. Verbal terselubung(berbicara tentang kematian, menanyakan tentang obat
dosis mematikan).
h. Status emosional(harapan, penolakan, cemas meningkat, panik, marah dan
mengasingkan diri).
i. Kesehatan mental(secara klinis, klien terlihat sebagai orang yang depresi,
psikosis dan menyalahgunakan alkohol).
j. Kesehatan fisik(biasanya pada klien dengan penyakit kronis atau terminal0.
k. Pengangguran(tidak bekerja, kehilangan pekerjaan, atau mengalami
kegagalan dalam karier).
l. Umur 15-19 tahun atau diatas 45 tahun.
m. Status perkawinan(mengalami kegagalan dalam perkawinan).
n. Pekerjaan.
o. Konflik interpersonal.
p. Latar belakang keluarga.
q. Orientasi seksual.
r. Sumber-sumber personal.
s. Sumber-sumber sosial.
t. Menjadikan korban perilaku kekerasan saat kecil.
D. RENTANG RESPON

Rentang respons, Yosep, Iyus (2009)


1. Peningkatan diri. Seseorang dapat meningkatkan proteksi atau pertahanan diri
secara wajar terhadap situasional yang membutuhkan pertahanan diri. Sebagai
contoh seseorang mempertahankan diri dari pendapatnya yang berbeda mengenai
loyalitas terhadap pimpinan ditempat kerjanya.
2. Beresiko destruktif. Seseorang memiliki kecenderungan atau beresiko mengalami
perilaku destruktif atau menyalahkan diri sendiri terhadap situasi yang seharusnya
dapat mempertahankan diri, seperti seseorang merasa patah semangat bekerja
ketika dirinya dianggap tidak loyal terhadap pimpinan padahal sudah melakukan
pekerjaan secara optimal.
3. Destruktif diri tidak langsung. Seseorang telah mengambil sikap yang kurang
tepat(maladaptif) terhadap situasi yang membutuhkan dirinya untuk
mempertahankan diri. Misalnya, karena pandangan pimpinan terhadap kerjanya
tidak loyal, maka seorang karyawan menjadi tidak masuk kantor atau bekerja
seenaknya dan tidak optimal.
4. Pencederaan diri. Seseorang melakukan percobaan bunuh diri atau pencederaan
diri akibat hilangnya harapan terhadap situasi yang ada.
5. Bunuh diri. Seseorang telah melakukan kegiatan bunuh diri sampai dengan
nyawanya hilang.

E. MEKANISME KOPING
Stuart (2006) mengungkapkan bahwa mekanisme pertahanan ego yang
berhubungan dengan perilaku destruktif-diri tidak langsung adalah
penyangkalan, rasionalisasi, intelektualisasi, dan regresi.

III. A. POHON MASALAH

Resiko perilaku kekerasan Akibat

Resiko Bunuh Diri Core Problem

Isolasi Sosial
Penyebab

Harga Diri Rendah Penyebab

B. MASALAH KEPERAWATAN DAN DATA YANG PERLU DIKAJI


Masalah keperawatan
 Risiko bunuh diri
 Keputus asaan
 Ketidakberdayaan
 Gangguan konsep diri
 Kecemasan
 Berduka fungsional
 Koping individu tidak efektif
 Penatalaksanaan regimen terapeutik inefektif
 Koping keluarga tidak efektif
Data yang perlu dikaji
Data subjektif:
 Mengungkapkan keinginan bunuh diri
 Mengungkapkan keinginan untuk mati
 Mengungkapkan rasa bersalah dan keputusasaan
 Ada riwayat berulang percobaan bunuh diri sebelumnya dari keluarga
 Berbicara tentang kematian, menanyakan tentang dosis obat yang
mematikan
 Mengungkapkan adanyanya konflik interpersonal
 Mengungkapkan telah menjadi korban perilaku kekerasan saat kecil
Data objektif:
 Impulsif
 Mennjukkan perilaku yang mencurigakan(biasaya menjadi sangat
patuh)
 Ada riwayat penyakit mental (depresi, psikosis, dan penyalahgunaan
alkohol)
 Ada riwayat penyakit fisik (penyakit kronis atau penyakit terminal)
 Pengangguran (tidak bekerja, kehilangan pekerjaan, atau kegagalan
dalam karier)
C. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Resiko bunuh diri
IV. STRATEGI PELAKSANAAN

Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan Resiko Bunuh Diri

1. Tujuan Khusus
a. Klien dapat meningkatkan harga dirinya
b. Klien dapat melakukan kegiatan sehari-hari
c. Klien mendapat perlindungan dari lingkungannya.

2.. Tindakan keperawatan: Melindungi pasien


Tindakan yang dilakukan perawat saat melindungi pasien dengan risiko bunuh diri ialah:
a. Sapa klien dengan ramah baik verbal maupun non verbal
b. Perkenalkan diri dengan sopan
c. Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai klien
d. Jelaskan tujuan pertemuan
e. Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya
f. Perawat harus menemani pasien terus-menerus sampai pasien dapat dipindahkan ke
tempat yang lebih aman.
g. Perawat menjauhkan semua benda berbahaya (misalnya gnting, garpu, pisau, silet, tali
pinggang, dan gelas)
h. Perawat memastikan pasien telah meminum obatnya.
i. Perawat menjelaskan pada pasien bahwa saudara akan melindungi pasien sampai tidak
ada keinginan untuk bunuh diri.

STRATEGI PELAKSANAAN RESIKO BUNUH DIRI

1. Strategi Pelaksanaan Pasien

SP 1 Pasien : Percakapan untuk melindungi pasien dari isyarat bunuh diri

ORIENTASI
Salam Terapeutik

Selamat pagi Ibu, perkenalkan saya Surianni Marnitta Purba Mahasiswa Keperawatan
Universitas Pelita Harapan. Apakah benar ini Ibu Y. Ohh, senang dipanggil apa ? Ohh Ibu Y.

Validasi

Bagaimana perasaan Ibu Y hari ini? Saya akan selalu menemani Ibu disini mulai dari pukul
08.00-14.00, nanti akan ada perawat yang menggantikan saya untuk menemani Ibu selama
dirawat di rumah sakit ini.

Kontrak (waktu, tempat, topik)

“Bagaimana kalau kita bercakap-cakap tentang apa yang ibu rasakan selama ini, saya siap
mendengarkan sesuatu yang ingin ibu sampaikan. Bagaimana kalau kita lakukan disini saja?
Jam berapa kita akan berbincang – bincang? Bagaimana kalau jam 13.00 setelah makan siang
Ibu?

KERJA

Bagaimana perasaan Ibu setelah bencana itu terjadi? Apakah dengan bencana tersebut Ibu
merasa paling menderita di dunia ini? Apakah Ibu kehilangan kepercayaan diri? Apakah Ibu
merasa tidak berharga dan lebih rendah dari pada orang lain? Apakah Ibu sering mengalami
kesulitan untuk berkonsentrasi? Apakah Ibu berniat untuk menyakiti diri sendiri seperti ingin
bunuh diri atau berharap Ibu mati? Apakah Ibu mencoba untuk bunuh diri? Apa sebabnya?
Jika klien telah menyampaikan ide bunuh diri, segera memberikan tindakan untuk melindungi
klien. Baiklah tampaknya Ibu memerlukan bantuan untuk menghilangkan keinginan untuk
bunuh diri. Saya perlu memeriksa seluruh kamar Ibu untuk memastikan tidak ada benda-
benda yang membahayakan Ibu. Nah, karena Ibu tampaknya masih memiliki keinginan yang
kuat untuk mengakhiri hidupIbu, maka saya tidak akan membiarkan Ibu sendiri. Apakah yang
akan Ibu lakukan kalau keinginan bunuh diri muncul? Ya, saya setuju. Ibu harus memaggil
perawat yang bertugas di tempat ini untuk membantu Ibu. Saya percaya Ibu dapat
melakukannya.

TERMINASI

Evaluasi
Bagaimana perasaan Ibu setelah kita bincang – bincang selama ini ? Coba ibu sebutkan cara
tersebut ?

Rencana Tindak Lanjut

Ibu, untuk pertemuan selanjutnya kita membicarakan tentang meningkatkan harga diri pasien
isyarat bunuh diri. Jam berapa Ibu bersedia bercakap-cakap lagi? mau berapa lama? Ibu, mau
dimana tempatnya?

SP 2 Pasien : Percakapan untuk meningkatkan harga diri pasien isyarat bunuh diri

ORIENTASI

Salam Terapeutik

Selamat pagi Ibu, masih ingat dengan saya? Ya betul sekali. Saya perawat Surianni.

Validasi

Bagaimana perasaan Ibu saat ini? Masih adakah dorongan mengakhiri kehidupan? Baik,
sesuai janji kita kemarin sekarang kita akan membahas tentang rasa syukur atas pemberian
Tuhan yang masih Ibu miliki. Mau berapa lama? Dimana? baiklah 30 menit disini ya bu.

KERJA

Apa saja dalam hidup Ibu yang perlu disyukuri, siapa saja kira-kira yang sedih dan rugi kalau
Ibu meninggal. Coba Ibu ceritakan hal-hal yang baik dalam kehidupan Ibu. Keadaan yang
bagaimana yang membuat Ibu merasa puas? Bagus. Ternyata kehidupan Ibu masih ada yang
baik yang patut Ibu syukuri. Coba Ibu sebutkan kegiatan apa yang masih dapat Ibu lakukan
selama ini. Bagaimana kalau Ibu mencoba melakukan kegiatan tersebut, mari kita latih.

TERMINASI

Evaluasi
Bagaimana perasaan Ibu setelah kita bercakap-cakap? Bisa sebutkan kembali apa-apa saja
yang Ibu patut syukuri dalam hidup Ibu? Ingat dan ucapkan hal-hal yang baik dalam
kehidupan Ibu jika terjadi dorongan mengakhiri kehidupan. Bagus Ibu. Coba Ibu ingat lagi
hal-hal lain yang masih Ibu miliki dan perlu di syukuri!

Rencana Tindak Lanjut

Nanti jam 2 siang kita bahas tentang cara mengatasi masalah dengan baik. Tempatnya
dimana? Baiklah, tetapi kalau ada perasaan-perasaan yang tidak terkendali segera hubungi
saya ya!

SP 3 Pasien : Percakapan untuk meningkatkan kemampuan dalam menyelesaikan


masalah pada pasien isyarat bunuh diri

ORIENTASI

Salam Terapeutik

Selamat pagi Ibu. Masih ingat saya? Iya saya perawat Surianni.

Validasi

Bagaimana perasaan Ibu hari ini? Masihkah ada keinginan bunuh diri? Apalagi hal-hal positif
yang perlu disyukuri? Bagus!

Kontrak (waktu, tempat, topik)

Sekarang kita akan berdiskusi tentang bagaimana cara mengatasi masalah Ibu selama ini.
Mau berapa lama Ibu? Mau disini saja?

KERJA

Coba ceritakan situasi yang membuat Ibu ingin bunuh diri. Selain bunuh diri apalagi kira-kira
jalan keluarnya. Wow, banyak juga ya Ibu. Nah, sekarang coba kita diskusikan tindakan yang
menguntungan dan merugikan dari seluruh cara tersebut. Mari kita pilih cara mengatasi
masalah yang paling menguntungkan! Menurut Ibu cara yang mana? Ya saya juga setuju
dengan pilihan Ibu. Sekarang kita buat rencana kegiatan untuk mengatasi perasaan Ibu ketika
mau bunuh diri dengan cara tersebut.

TERMINASI

Evaluasi subjektif: Bagaimana perasaan Ibu, setelah kita bercakap-cakap?

Evaluasi objektif: Apa cara mengatasi masalah yang Ibu gunakan. Coba Ibu melatih cara
yang Ibu pilih tadi.

Rencana Tindak Lanjut

Besok di jam yang sama kita akan bertemu lagi untuk membahas pengalaman Ibu
menggunakan cara yang Ibu pilih.

SP 4 Pasien : Mendiskusikan harapan dan masa depan

ORIENTASI

Salam Terapeutik

Selamat pagi Ibu. Masih ingat saya? Iya saya perawat Surianni.

Validasi

Bagaimana perasaan Ibu hari ini? Masihkah ada keinginan bunuh diri? Apalagi hal-hal positif
yang perlu disyukuri? Bagus!

Kontrak (waktu, tempat, topik)

Sekarang kita akan berdiskusi tentang harapan dan masa depan ibu. Mau berapa lama Ibu?
Mau disini saja?

KERJA

Coba ceritakan apa harapan yang ingin ibu capai? Oh iyaa bagus ibu ingin menjadi istri dan
ibu yang baik untuk suami dan anak ibu, ibu juga ingin mencoba berjualan sayur di rumah
setelah pulang dari RS.

TERMINASI

Evaluasi
Baiklah ibu sudah mengungkapkan harapan masa depan ibu, dengan demikian kemungkinan
ibu untuk bunuh diri dapat dicegah.

Rencana Tindak Lanjut

Besok di jam yang sama kita akan bertemu lagi untuk membahas pengalaman Ibu
menggunakan cara yang Ibu pilih.

2. Strategi Pelaksanaan Keluarga

SP 1 Keluarga : Mendiskusikan masalah yg dirasakan dalam merawat pasien

ORIENTASI

Salam Terapeutik

“Selamat pagi !”perkenalkan saya Surianni. Perawat yang merawat Tn.S.

Validasi

“Bagaimana keadaan Bapak/Ibu pagi ini ?”

Kontrak (waktu, tempat, topik)

“Bagaimana kalau pagi ini kita ngobrol tentang masalah yang dihadapi Bapak/ibu dalam
merawat ibu Y? Berapa lama waktu Bapak/Ibu? 30 menit? Baik, mari duduk di ruangan
wawancara!”

KERJA :

“Apa masalah yang Ibu hadapi dalam merawat ibu Y? ohh baiklah ternyata ibu tidak
mengetahuhi penyakit yang diderita ibu Y? Ibu Y memiliki masalah resiko bunuh diri.” Oleh
karena itu Ibu Y membutuhkan perawatan untuk mengatasi penyakitnya. Maka dari itu ibu
harus tau bagaimana cara merawat Ibu Y”

TERMINASI

Evaluasi
”Bagaimana perasaan ibu setelah percakapan kita ini?” oh iya ibu ingin mengetahui
bagaimana cara merawat ibu Y.”

Rencana Tindak Lanjut

“Bagaimana kalau kita bertemu lagi untuk memberitahu bagaimana penyakit RBD dan cara
merawat ibu Y. Jam berapa Bp/Ibu datang? Baik saya tunggu. Sampai jumpa.”

SP 2 Keluarga : Menjelaskan pengertian, tanda & gejala, dan proses terjadinya risiko
bunuh diri

ORIENTASI

Salam Terapeutik

“Selamat pagi !”perkenalkan saya Surianni. Perawat yang merawat ibu Y.

Validasi

“Bagaimana keadaan Bapak/Ibu pagi ini ?”

Kontrak (waktu, tempat, topik)

“Bagaimana kalau pagi ini kita ngobrol tentang cara merawat ibu Y? Berapa lama waktu
Bapak/Ibu? 30 menit? Baik, mari duduk di ruangan wawancara!”

KERJA

“Apa yang Ibu ketahui tentang masalah Bapak”.“Ya memang benar sekali Bu, ibu Y
mengalami resiko bunuh diri yaitu upaya yang disadari untuk mengakhiri kehidupan individu
secara sadar berhasrat dan berupaya melaksanakan hasratnya untuk mati. Klien aktif mencoba
bunuh diri dengan cara gantung diri, minum racun, memotong urat nadi, atau menjatuhkan
diri dari tempat yang tinggi , membenturkan kepala.” Jika benar seperti itu sebaiknya ibu
harus memperhatikan ibu Y agar tidak melakukan hal-hal percobaan bunuh diri.”

TERMINASI

Evaluasi
”Bagaimana perasaan ibu setelah percakapan kita ini?”. “Dapatkah Ibu jelaskan kembali
maasalah yang dihadapi ibu Y dan bagaimana cara merawatnya?”. “Bagus sekali Ibu dapat
menjelaskan dengan baik. Nah setiap kali Ibu kemari lakukan seperti itu. Nanti di rumah juga
demikian.”

Rencana Tindak Lanjut

“Bagaimana kalau kita bertemu lagi dua hari mendadang untuk latihan cara memberi pujian
langsung kepada ibu Y”.“Jam berapa Bapak/Ibu datang? Baik saya tunggu. Sampai jumpa.”

SP 3 Keluarga: Melatih keluarga cara merawat pasien risiko bunuh diri

ORIENTASI

Salam Terapeutik

Selamat pagi Bapak/Ibu. Benar kalian adalah orang tua dari Ibu Y ? Kenalkan saya perawat
Surianni dari Fakultas Keperawatan Universitas Pelita Harapan yang merawat ibu Y selama
disini.”

Validasi

Bagaimana bu sudah mengerti apa itu Resiko Bunuh Diri? Bagus sekali ibu sudah mengerti.

Kontrak (waktu, tempat, topik)

Sekarang kita akan mendiskusikan tentang car merawat ibu Y. Dimana kita akan
mendiskusikannya? Berapa lama bapak dan ibu ingin mendiskusikannya?

KERJA

Apa yang bapak/ibu lihat dari perilaku Ibu selama ini?. Bapak/Ibu sebaiknya lebih sering
memperhatikan tanda dan gejala bunuh diri. Pada umumnya orang yang akan melakukan
tindakan bunuh diri menunjukkan tanda melalui percakapannya seperti “ saya tidak ingin
hidup lagi”. Apakah Ibu Y sering mengatakannya pak?. Kalau bapak/ibu mendengarkan Ibu
Y berbicara seperti itu, maka sebaiknya bapak mendengarkan secara serius. Pengawasan
terhadap kondisi Ibu Y perlu ditingkatkan, jangan biarkan Ibu Y mengunci diri di kamar.
Bapak perlu menjauhkan benda berbahaya seperti gunting, silet, gelas dan lain-lain. Hal ini
sebaiknya perlu dilakukan untuk melindungi Ibu Y dari bahaya dan memberi dukungan untuk
tidak melakukan tindakan tersebut. Usahakan 5 hari sekali bapak dan ibu memuji dengan
tulus. Tetapi kalau sudah terjadi percobaan bunuh diri, sebaiknya bapak dan ibu mencari
bantuan orang lain. Apabila tidak dapat diatasi segeralah ke rumah sakit terdekat untuk
mendapatkan perawatan yang lebih serius. Setelah kembali ke rumah, bapak/ ibu perlu
membantu Ibu terus berobat untuk mengatasi keinginan bunuh diri.

TERMINASI

Evaluasi Subjektif: Bagaimana bapak/ibu ada yang mau ditanyakan?

Evaluasi objektif: Bapak/ibu dapat mengulangi lagi cara-cara merawat anggota keluarga yang
ingin bunuh diri? Ya, Bagus.

Rencana Tindak Lanjut

Jangan lupa untuk selalu mengawasi Ibu Y ya pak jika ada tanda-tanda keinginan bunuh diri
segera menghubungi kami. Terima kasih Bapak/Ibu. Selamat Siang.

SP 4 Keluarga : Membuat perencanaan pulang bersama keluarga

ORIENTASI

Salam Terapeutik

“Selamat pagi Bu. Masih ingat dengan saya? Iya saya perawat Surianni.

Validasi

“Bagaimana kabar ibu? Sudah bisa kan merawat ibu Y?”

Kontrak (waktu, tempat, topik)

”Karena hari ini bapak direncanakan pulang, maka kita akan membicarakan jadwal Ibu Y
selama di rumah”.”Berapa lama Ibu ada waktu? Mari kita bicarakan di kantor

KERJA:
”Bu ini jadwal kegiatan Ibu Y selama di rumah sakit. Coba diperhatikan, apakah semua dapat
dilaksanakan di rumah? ”Bu, jadwal yang telah dibuat selama Ibu Y dirawat dirumah sakit
tolong dilanjutkan dirumah, baik jadwal kegiatan maupun jadwal minum obatnya”. ”Hal-hal
yang perlu diperhatikan lebih lanjut adalah perilaku yang ditampilkan oleh Bapak selama di
rumah. Misalnya kalau Ibu Y terus menerus menyalahkan diri sendiri dan berpikiran negatif
terhadap diri sendiri, menolak minum obat atau memperlihatkan perilaku membahayakan
orang lain. Jika hal ini terjadi segera hubungi rumah sakit atau bawa bapak langsung kerumah
sakit”.

TERMINASI

Evaluasi

”Bagaimana Bu? Ada yang belum jelas? Ini jadwal kegiatan harian Bapak.

Rencana Tindak Lanjut

Jangan lupa kontrol ke rumah sakit sebelum obat habis atau ada gejala yang tampak. Silakan
selesaikan administrasinya!”

Sumber:
https://www.academia.edu/22085787/LAPORAN_PENDAHULUAN_Risiko_Bunuh_Diri
V. DAFTAR PUSTAKA

Stuart GW, Sundeen, Buku Saku Keperawatan Jiwa, Jakarta: EGC, 1995.

Fitria,Nita.2009. Prinsip Dasar dan Aplikasi Penulisan Laporan Pendahuluan


dan Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (LP & SP) untuk 7 Diagnosis
Keperawatan Jiwa Berat bagi Program S1 Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.

Yosep, Iyus. 2010. Keperawatan Jiwa. Bandung: Refika Aditama.


Yusuf, A., Fitryasari, R., & Endang, H. (2015). Buku Ajar Keperawatan Jiwa.
(A. Suslia, & F. Ganiajri, Eds.) Jakarta: Salemba Medika.

Captain, C. (2008). Assessing suicide risk, Nursing made incredibly easy,


Volume 6(3).