Anda di halaman 1dari 28

FILSAFAT ILMU

COHERENTISM
(CHAPTER 7)

OLEH KELOMPOK : 6

P. Iwan Kurniawan (1881611022)


Ni Wayan Radha Maharseni (1881611023)
I Made Mahayuda Sedana (1881611024)
Pande Putu Ditha Purnamasari (1881611025)
PROGRAM MAGISTER AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2018
Para skeptis mengklaim bahwa kita tidak memiliki sebanyak keyakinan
yang dibenarkan atau sebanyak pengetahuan yang kita miliki dalam pikiran.
Beberapa dari mereka menyatakan bahwa kita tidak memiliki pengetahuan tentang
jenis-jenis dari fakta tertentu: mungkin kita tidak bisa mengetahui hal-hal tentang
masa depan, apakah orang lain memiliki pikiran, moralitas, atau Tuhan (beriman).
Skeptisisme yang demikian terbatas pada area pengetahuan tertentu dan dalam
bab 12 sampai 15 kita akan melihat khusus terkait klaim skeptis ini. Meskipun di
sini kita akan melihat skeptisisme global, dan klaim bahwa kita sama sekali tidak
bisa mengetahui tentang dunia ini. Pemikir skeptis kunci dalam tradisi Barat
adalah Descartes, yang idenya mengenai skeptisisme telah menggerakkan
epistemologi selama lebih dari 300 tahun. Bab ini akan fokus pada argumennya
dan pada berbagai upaya yang telah dilakukan untuk membantah argumen
tersebut.

1. Skeptisisme Cartesian
1.1 . Mimpi-mimpi dan Iblis/Setan/Jin
Kami menyadari bahwa indera kita terkadang menipu kita. Menara yang
jauh bisa kelihatan bulat padahal sebenarnya berbentuk persegi, dan kacang pinus
yang digoreng di dapur terhirup rasa dendeng babi (daging kering). Kesalahan
tersebut biasanya tidak menjadi perhatian kita karena kita dapat memeriksa
apakah persepsi kita adalah akurat. Saya dapat mengamati menara tersebut lebih
cermat dengan cara bergerak mendekatinya, dan saya dapat membandingkan
putusan indera saya berbeda: saya dapat melihat di wajan bahwa ada kacang
pinus yang sedang digoreng dan bukan dendeng babi. Selain itu, kita kebanyakan
yakin bahwa indera kita tidak keliru dalam cara ini. Saya menerima bahwa saya
bisa saja salah tentang bentuk menara yang jauh itu, tapi saya seyakin-yakinnya
bahwa sekarang saya duduk di ruang kerja saja dan monitor komputer saya lagi
hidup atau menyala.
Namun, Descartes mengedepankan dua argumen yang mengancam
ketelitian dari semua keyakinan yang kita peroleh melalui persepsi. Yang pertama
menyangkut mimpi.
Seberapa sering, tidur di malam hari, apakah saya diyakinkan tentang
peristiwa yang biasa saya alami bahwa saya di sini mengenakan gaun,
duduk didekat perapian, padahal sebenarnya saya berbaring telanjang di
tempat tidur! Namun saat ini, mata saya tentu terjaga/terbangun ketika
saya melihat selembar kertas ini; saya menggelengkan kepalaku dan bukan
dalam keadaan tertidur, seiring saya meregang dan merasakan tangan saya
bahwa saya melakukannya dengan sengaja, dan saya tahu apa yang saya
lakukan. Semua ini tidak akan terjadi dengan sejelas ini kepada seseorang
yang tertidur. Memang! Seolah-olah saya tidak ingat di waktu yang lain
ketika saya telah ditipu oleh pikiran yang sama persis saat tidur! Ketika
saya berpikir tentang hal ini lebih saksama, saya melihat dengan jelas
bahwa tidak ada tanda-tanda pasti yang dapat membedakan keadaan
sedang terjaga/bangun dari keadaan tertidur. Hasilnya yaitu saya mulai
merasa bingung, dan merasa hal ini hanya memperkuat gagasan bahwa
saya mungkin dalam keadaan tertidur. (Descartes, 1986, hal. 13)
Kadang-kadang semua jenis kegiatan yang fantastis bisa muncul dalam
mimpi saya dan, kadang-kadang, saya bisa menyadari bahwa saya bermimpi.
Namun, banyak mimpi yang tidak bisa dibedakan dari kehidupan nyata. Minggu
lalu saya bermimpi bahwa tanpa sengaja saya melubangi dinding untuk melihat
kesebelah, dan saya menggunakan kesempatan ini untuk usil dan melihat ruang
tamu tetangga saya. Mimpi ini kayak kenyataan sehingga pada waktu siang hari
saya memikirkan apakah hal ini telah terjadi atau tidak, dan saya benar-benar
merasa bersalah bahwa saya telah mengintip rumah tetangga saya. Kekhawatiran
Cartesian yaitu bahwa mimpi yang demikian tampaknya merusak pembenaran
keyakinan persepsi yang kita memiliki. Pengalaman Descartes tentang duduk di
dekat perapian tidak dapat dibedakan dari pengalaman yang mungkin dia
memiliki dalam bermimpi yang mana dia melakukan hal yang demikian.
Pengalaman yang saya miliki tentang duduk mengetik untuk studi saya tidak
berbeda dari pengalaman yang mungkin saya akan miliki jika seandainya saya
sekarang tertidur dan bermimpi kerja. Oleh karena itu, saya tidak bisa mengatakan
apakah saya sedang terjaga/terbangun atau bermimpi. Perhatikan bahwa sekarang
tidak ada gunanya mengikuti lebih saksama persepsi kita, atau dengan
menggunakan cernaan indra untuk memverifikasi keyakinan kita. Ketika kita
bermimpi, semua indera kita sedang tertipu, dan sebagian besar mimpi tidak
terdeteksi sedemikian rupa. Kesimpulan skeptis yaitu karena saya tidak tahu
bahwa saya tidak bermimpi, saya tidak dibenarkan dalam meyakini bahwa saya
saat ini duduk di ruang kerja saya.
Descartes juga mengklaim bahwa bentuk bahan yang lebih menimbulkan
keraguan dapat ditingkatkan. Dalam mimpi, kita tampaknya mencampur dan
mencocokkan komponen dari berbagai pengalaman yang kita miliki dalam hidup
ketika kita sedang terjaga/terbangun. Mimpi dapat mencakup semua jenis
makhluk yang fantastis dan yang berupa alur cerita, tetapi ini ter konstruksi dari
fitur tertentu tentang pengalaman kehidupan kita sehari-hari. Sebuah mimpi
unicorn (berkuda putih) mungkin bermula dari pengalaman saya pada saat sedang
terbangun ketika saya menunggang kuda berwarna putih yang bertanduk. Jadi,
meskipun saya tidak dapat dibenarkan dalam meyakini bahwa saya saat ini duduk
di kursi kantor saya, saya dibenarkan dalam percaya bahwa ada sebuah dunia luar,
sebuah dunia yang berisi fitur (mungkin dalam kombinasi yang berbeda) yang
sesuai dengan pengalaman saya. Memang, Descartes memberikan argumen yang
bahkan mengancam akan keyakinan ini. Untuk melakukan hal ini, dia
memperkenalkan apa yang menjadi sosok yang sangat berpengaruh dalam sejarah
epistemologi, yaitu setan jahat, setan genius, atau jin jahat.
Saya akan mengira... beberapa setan jahat dengan kekuatan maksimal dan
kelicikan telah mencurahkan seluruh energinya untuk menipu saya. Saya
akan berpikir bahwa langit, udara, bumi, warna, bentuk, suara, dan semua
hal-hal eksternal hanyalah delusi/khayalan mimpi yang dia telah rancang
untuk menjerat pendapat saya. Saya akan menganggap diri saya seperti
tidak memiliki tangan atau mata, atau daging, atau darah, atau indera,
tetapi berpura-pura meyakini bahwa saya miliki akan semua hal-hal ini.
(Descartes, 1986, p. 15)
Descartes mengklaim, kita tidak dapat mengetahui bahwa makhluk
tersebut tidak memanipulasi pengalaman kita. Setan seperti itu bisa menipu kita
tentang (hampir) segala sesuatu, mungkin tidak ada dunia luar sama sekali.
Descartes tidak gila: dia tidak percaya bahwa ada setan seperti itu. Namun
maksudnya adalah bahwa jika ada, maka pengalaman kita tidak bisa dibedakan
dari pengalaman saat kita membawa diri kita untuk sedang mengalami dunia ini.
Oleh karena itu, kita tidak memiliki pembenaran untuk meyakini bahwa kita
memiliki persepsi tulus daripada semata-mata halusinasi setan yang terinduksi.
Hilary Putnam (1981) menyajikan versi modern terkait dilema ini, orang
menabrak rumah demi menemukan skenario setan terlalu fantastis untuk diseriusi.
Ini mungkin tidak melampaui kapasitas ilmu kedokteran di masa yang akan
datang, yaitu mengangkat otak dan membiarkan tetap hidup dalam tong nutrisi.
(Otak tersebut muncul dalam berbagai film, termasuk The Man With Two Brains,
l993, dan film Prancis La Cite ties Enfants Perdus, 1995.) Otak ini tidak akan
menerima masukan sensorik dari dunia, melainkan ilmuwan jahat bisa
menggunakan komputer untuk memberi input makanan berupa listrik langsung ke
batang otak, dan dengan demikian otak tersebut bisa menerima masukan sensorik
yang sama dengan yang otak saya sedang terima sekarang. Oleh karena,
pengalaman otak dalam sebuah tong itu bisa jadi tidak dapat dibedakan dari
pengalaman saat saya membawa diri untuk mengalami dunia ini. Jadi, untuk
semuanya saya bisa beritahukan, yaitu semua pengalaman saya mungkin telah
disimulasikan dalam otak saya oleh para ilmuwan jahat, yaitu otak saya sedang
duduk di tong laboratorium mereka. Karena otak saya memutuskan untuk
menjangkau (ilusi) kopi dengan (ilusi) lengan saya, ilmuwan komputer
mempertimbangkan perubahan apa yang harus dilakukan untuk memasukkan
persepsi otak saya yang tersimulasi. Saya harus disuapi dengan pengalaman visual
terkiat melihat lenganku mengapai cangkir, dan pengalaman mencium bau kopi
karena saya (tampak) mendekatkan cangkir ke bibir saya.
Sebelum mempertimbangkan bagaimana kita harus menanggapi sikap
skeptis seperti itu, mari kita memperjelas tentang struktur argumen Cartesian
tersebut. Kemungkinan skeptis tertentu disarankan. Jika saya tidak bisa tahu
bahwa kemungkinan ini tidak terwujud, maka ada hal-hal lain yang saya tidak bisa
tahu juga. Jika saya tidak tahu bahwa saya tidak sedang bermimpi, maka saya
tidak tahu bahwa saya sekarang sedang duduk di ruang kerja saya. Jika saya tidak
tahu bahwa saya bukanlah sebuah otak yang berada dalam tong, maka saya tidak
tahu bahwa saya sedang mengenakan celana korduroi biru. Agar saya mengetahui
fakta-fakta seperti yang demikian terkait situasi saya saat ini, saya harus bisa
menyingkirkan kemungkinan skeptis Cartesian, dan tidak jelas bagaimana hal ini
dapat dilakukan. Hal ini karena pengalaman saya akan sama saja jika realitasnya
berbeda secara radikal dari apa yang saya kira terjadi. Saya tidak punya dasar
pembenaran untuk percaya pada satu skenario daripada yang lainnya dan sehingga
tidak satu pun keyakinan saya tentang dunia luar yang dibenarkan.
Pertanyaan Descartes terkait apakah keyakinan persepsi kita dibenarkan.
Dalam bab 4 kita meninjau dua penjelasan persepsi, yaitu realisme tidak langsung
dan realisme langsung, dan skeptisisme Cartesian merupakan sebuah masalah bagi
berduanya. Realis tidak langsung menyatakan bahwa kita hanya langsung
menyadari item mental atau data yang masuk akal. Jika Anda suka pendekatan ini,
maka sangat mudah untuk merasakan tarikan pemikiran skeptis Descartes karena
pengalaman persepsi saya akan sama apapun asal data terkait perasaan saya.
Mungkin setan menanamkan dalam pikiran saya. Namun perlu diingat bahwa
realis langsung tidak terlepas dari skeptisisme tersebut. Teori realis langsung yang
kita fokuskan adalah intentionalisme, dengan klaim bahwa keadaan-keadaan
perseptual memiliki konten yang disengaja (intensional). Parallels digambar
dengan keyakinan: Saat ini saya merasa bahwa cangkir kopi saya kosong, dan
saya juga percaya bahwa hal ini benar. Pandangan demikian juga memberi ruang
bagi skeptis. Saya dapat memiliki keyakinan yang salah dan saya dapat memiliki
keyakinan tentang hal-hal yang tidak ada. Memiliki pemikiran dengan konten
yang disengaja bahwa p tidak berarti sehelai fitur dari dunia luar. Demikian pula,
saya bisa merasakan dunia ini seperti p, namun keliru. Oleh karena itu, Argumen
Cartesian dapat menggigit: itu bisa bahwa saya hanya memiliki berbagai keadaan
mental dan persepsi dengan konten intensional, yaitu intensional konten yang
tidak memilih fitur yang ada di dunia ini.
Ini adalah situasi epistemik yang mengerikan untuk dimasuki, karena itu
kita harus mencoba dan menemukan respon yang memuaskan terhadap
skeptisisme tersebut. Descartes sendiri berpikir bahwa dia dapat berargumen
untuk menunjukkan bahwa kita tidak terjebak dalam situasi ini. Dengan
menggunakan penalaran teori berdasarkan kenyataan yang sebenarnya, dia
mencoba untuk membuktikan bahwa Tuhan itu ada, dan karena Tuhan itu baik,
maka dia tidak akan membiarkan kita untuk tertipu secara global dengan cara ini.
Dalam bab 15 kita akan melihat salah satu argumennya terkait keberadaan Tuhan.
Namun, peninggalan Descartes tetap menjadi yang negatif. Seperti yang akan kita
lihat, ada berbagai masalah yang disertai dengan argumen positifnya terkait
keberadaan Tuhan. Karena itu, dia tidak bisa menghindari argumen skeptis bahwa
dia mengedepankan dirinya. Namun, yang lain telah menawarkan argumen/
pendapat yang lebih persuasif terhadap skeptisisme dan kita akan beralih ke hal
ini di bagian 3,4 dan 5 pada bab ini. Namun, terlebih dahulu kita akan melihat
pengaruh skeptisisme Cartesian di bioskop.

1.2. Descartes pergi ke bioskop


Sepanjang pembahasan kita, saya telah mencatat bagaimana tema-tema
filosofis yang kita telah lihat dapat diilustrasikan dengan seni, dan terutama
dengan film. Hal ini khususnya terjadi sehubungan dengan skeptisisme Cartesian.
Hal ini telah melibatkan pembuat film baru-baru ini dan saya menduga bahwa
banyak dari mereka terinspirasi oleh kelas epistemologi di perguruan tinggi atau
universitas. Sebuah film dari tahun tujuh puluhan, Dark Star (1974), adalah
eksplisit dalam referensi Cartesian-nya. Seorang astronot, Komandan Doolittle,
mencoba untuk meyakinkan bom cerdas (inteligent bomb) bahwa yang dia benar-
benar sadari hanyalah impuls elektroniknya sendiri, dan bom tersebut tidak dapat
mengetahui sama sekali apakah ada dunia luar. Oleh karena itu, bom tersebut
tidak bisa tahu apakah dia benar-benar telah menerima perintah untuk meledakkan
atau tidak.
Doolittle : Hello Bomb. Apakah Anda dengan saya?... Apakah Anda
bersedia untuk menjamu beberapa konsep?... Apa bukti
konkret yang Anda miliki bahwa Anda ada?
Bomb : Mm... baik... Saya pikir karena itulah aku ada.
Doolittle : Bagus, itu sangat baik, tetapi bagaimana Anda tahu bahwa
yang lain itu ada?
Bomb : Aparat sensoris/indrawi saya mengungkapkan kepada saya....
Doolittle : Sekarang dengarkan... dengarkan: ini adalah pertanyaan
besar. Bagaimana Anda tahu bahwa bukti yang aparat
sensorik Anda ungkapkan kepada Anda adalah benar? Yang
saya maksudkan adalah: satu-satunya pengalaman yang
langsung tersedia pada Anda adalah data sensori anda dan
data sensori ini adalah: hanya aliran impuls listrik yang
merangsang pusat komputasi Anda.
Bomb : Dengan kata lain, semua yang saya tahu tentang dunia luar
adalah dialihkan ke saya melalui impuls listrik saya....
Mengapa, itu berarti bahwa saya benar-benar tidak tahu pasti
bagaimana rupaya alam semesta diluar sana.
Doolittle : Sekarang Bomb, pertimbangkan pertanyaan berikutnya ini
dengan saksama. Apakah tujuan Anda hidup?
Bomb : Tentu saja untuk meledak.
Doolittle : Dan Anda hanya bisa melakukannya sekali, bukan...? Dan
Anda tidak akan ingin meledak atas dasar data palsu. Begitu
kan?
Bomb : Tentu saja tidak.
Doolittle : Baiklah kawan, Anda sudah mengakui bahwa Anda tidak
punya bukti nyata tentang keberadaan alam semesta diluar
sana.... sehingga Anda tidak memiliki bukti mutlak bahwa
Sersan Pinback memerintahkan Anda untuk meledakkan...
Semua yang Anda ingat hanyalah serangkaian impuls
sensorik yang sekarang Anda sadari tidak memiliki hubungan
nyata yang pasti dengan realitas diluar sana... Jadi jika Anda
meledakkan Anda bisa lakukan segera berdasarkan data
palsu.
Bomb : Saya harus berpikir tentang hal ini lebih jauh.
Strategi astronot berhasil, dan bom mundur ke teluk bom untuk merenungkan
lebih jauh argumen filosofis ini.
Tema Cartesian juga terlihat dalam The Matrix (1999) dan sequels-nya. Di
masa depan yang jauh, manusia diperbudak oleh ras robot yang cerdas, tubuh
mereka digunakan sebagai sumber energi biokimia. Mereka disimpan dalam
polong dan, seperti dalam otak Putnam dalam skenario tong, mereka diberi aliran
simulasi input sensorik. Mereka mengalami realitas dunia maya dari Matrix,
muncul untuk menjalani kehidupan normal di kota industri modern ketika mereka
sebenarnya berbaring di polong yang dijaga oleh robot seperti laba-laba.
Sepanjang ini, kita memiliki referensi untuk argumen Descartes, khususnya yang
berkaitan dengan mimpi. Pada suatu saat pemimpin pemberontak Morpheus
berkata kepada pahlawan dari trilogi: ‘Apakah Anda pernah bermimpi, Neo, yang
Anda benar-benar yakin bahwa itu nyata? Bagaimana jika Anda tidak bisa bangun
dari mimpi itu? Bagaimana Anda akan mengetahui perbedaan antara dunia mimpi
dan dunia nyata?’ (Kebetulan, ‘Morpheus’ adalah nama dari Tuhan Romawi
terkait mimpi dan tidur.)
Seluruh jenis/genre film tentang realitas dipengaruhi oleh Descartes.
Karakter dalam eXistenZ (1999) memainkan video game futuristik yang
dihubungkan ke dasar tulang belakang. Pada akhir dari film tersebut kekhawatiran
Cartesian dinyatakan: ‘Hei, katakan yang sebenarnya, apakah kita masih dalam
permainan?” (Ini belum selesai). Sebuah dilema Cartesian yang kekurangan
teknologi disajikan dalam The Truman Show (1998). Tanpa sepengetahuan
Truman, dia lahir di tempat acara TV nyata dan dia telah menghidupi kehidupnya
di sebuah studio TV. Jadi banyak keyakinannya yang berkaitan dengan
keluarganya, kotanya dan dunia luar, adalah palsu. Beberapa film tidak hanya
memerankan karakter yang terjebak dalam keadaan Cartesian, tetapi mereka juga
mencoba untuk menyesatkan penonton (setidaknya untuk sementara). Dalam The
Usual Suspects (1995), Saya sarankan untuk melompat ke paragraf berikutnya
jika Anda belum melihat film ini dan jika Anda tidak ingin kesudahan yang sangat
baik dan memanjakan ini, hanya di menit akhir bahwa kita menemukan segala
sesuatu yang kita telah miliki, yang lihat dalam pandangan sekilas adalah palsu
(dan ini menjelaskan proporsi yang baik tentang drama film tersebut). Salah satu
karakter, Keyser Soze, bisa dilihat sebagai setan Cartesian yang menciptakan
dunia secara logis dan koheren yang menipu baik karakter maupun penonton.
Namun, penting untuk diingat terkait perbedaan penting antara skenario
Descartes dan presentasi sinematik ini dari ide-idenya. Pertama, Truman masih
berhubungan dengan dunia nyata, studio TV, dan karena itu banyak keyakinannya
yang dibenarkan. Benar-benar ada meja dan kursi, dia memiliki tubuh, dan dia
memiliki keyakinan yang benar tentang hukum alam: gravitasi menyebabkan apel
jatuh dari pohon, dan air mendidih pada 100°C. Tidak satu pun dari keyakinan ini
yang dibenarkan dalam skenario Descartes. Kedua, sangat penting untuk argumen
Descartes bahwa bermimpi dan skenario setan bisa dibedakan dari kasus veridikal.
Namun, hal ini tidak demikian dalam beberapa film yang telah kita sebutkan.
Dalam The Truman Show, bagian dari rig pencahayaan studio jatuh dari langit,
suatu peristiwa yang mana produsen acara snow mengalami kesulitan dalam
menjelaskan diri, dan dalam The Matrix, Morpheus dan Neo bisa merasa bahwa
‘ada sesuatu yang salah dengan dunia ini. Anda tidak tahu apa itu, tapi itu ada,
seperti serpihan dalam pikiran Anda, yang membuat anda marah.’ Dalam kedua
film, petunjuk ini diikuti dan pahlawan masing-masing mampu meloloskan
keadaan Cartesian mereka.

2. Menerima Skeptisisme Cartesian


Salah satu respon terhadap skeptisisme Cartesian yang bisa jadi adalah
ketidakpedulian. Jadi bagaimana jika saya dalam sebuah tong, semuanya adalah
jenis pertunjukan Matrix atau Truman, semua pengalaman saya akan sama tanpa
menghiraukan yang lain, dan jadi mengapa saya harus peduli? Namun, tidak jelas
jika orang benar-benar bisa berpikir bahwa tidak menjadi persoalan apakah
seluruh dunia adalah semacam ilusi, dan ini pasti akan menjadi sikap yang aneh
bagi seorang filsuf untuk mengikuti seseorang yang mengaku mengejar
kebijaksanaan dan kebenaran. Namun demikian, ada tiga tanggapan yang kurang
jujur terhadap bentuk skeptisisme ini. Pertama, kita bisa menerima bahwa
keyakinan empiris kita tidak memiliki dasar pembenaran dan berusaha untuk
hidup dalam bayangan skeptisisme tersebut. Kedua, kita bisa menerima argumen
skeptis dan memberikan penjelasan psikologis mengapa kita tidak bisa percaya
kesimpulan mereka yang agak mengganggu. Ketiga, kita bisa membantah
argumen Descartes. Pilihan ketiga akan menjadi fokus utama kita, dan telah
menjadi bahan utama yang asik dibahas oleh epistemologi dari 300 tahun terakhir.
Namun, pertama-tama kita akan membahas secara singkat dua pilihan lainnya.

1.1. Menahan keyakinan


Kita seharusnya hanya percaya apa dibenarkan dalam keyakinan, dan
dengan demikian, jika kita harus bertanggung jawab secara epistemis, kita harus
menahan (tidak mau diketahui dulu oleh orang lain) semua keyakinan mengenai
dunia luar. Namun, bisakah kita mengadopsi sikap seperti itu? Kita bisa menahan
keyakinan tertentu dan dalam kasus-kasus tertentu, jelas bahwa apa yang akan
membuat berbeda terkait bagaimana kita harus bertindak dan hidup di dunia. Saya
mungkin memutuskan bahwa saya tidak dibenarkan dalam meyakini keberadaan
UFOs. Menahan keyakinan ini akan memiliki efek pada beberapa pikiran saya
yang lain: sekarang saya mungkin percaya bahwa lampu aneh di langit adalah
hasil dari fenomena meteorologi, dan saya mungkin kehilangan keinginan untuk
pergi berlibur ke Groom Lake, Nevada, tempat penampakan UFO. Dalam
mempertimbangkan bagaimana menahankan keyakinan seperti itu akan
mempengaruhi perilaku saya, saya mengikuti hal tersebut bahwa banyak dari
keyakinan dan keinginan saya yang lain yang berdiri teguh. Saya tetap percaya
bahwa ada sesuatu yang terjadi di langit dan bahwa ada tempat-tempat menarik
lainnya untuk berlibur. Keyakinan ini akan menyebabkan saya untuk bertindak
dengan cara tertentu: Saya mungkin membeli sebuah buku tentang meteorologi,
dan pergi ke Paris. Namun, hal ini tidak jelas bagaimana Anda bisa bertindak
secara koheren jika Anda menahan semua keyakinan Anda tentang dunia luar.
Bisakah Anda jalani skeptisisme Cartesian? Pikirkan tentang bagaimana Anda
akan bertindak dan hal apa yang masuk akal (rasional) yang bisa dilakukan jika
Anda menahan semua keyakinan empiris Anda.

1.2. Makan malam, permainan backgammon dan percakapan


Skeptisisme Hume bisa menjadi kejutan. Descartes sering menjadi
pendahuluan ke epistemologi dan, kepada beberapa, bayangan iblis dan
kesimpulan skeptis-nya (interim) yang agak menjengkelkan. Hume muncul dan
semuanya terlihat lebih menjanjikan. Di sini kita punya down-to-earth Scotsman,
seorang empiris hardcore yang mengklaim bahwa ‘kursi filsafat’ tidak bisa
memberikan kita kesimpulan filosofis tentang dunia atau keterbatasan epistemic
kita. Namun, Di sini merupakan kejutan: Hume lebih skeptis dari Descartes.
Pertama, pertanyaannya berakhir dengan kesimpulan skeptis tertentu yang masih
berdiri kokoh. Ingat, Descartes mengklaim telah membantah skeptisismenya
sendiri. Kedua, setelah Descartes telah menyajikan argumen skeptisnya, ia
terkenal mengklaim bahwa ada satu hal yang dia tahu pasti, ‘saya’, dan dia tahu
ini dengan alasan yang tampaknya tak terbantahkan bahwa ia berpikir: ‘Cogito,
ergo sum’ (saya ada untuk berpikir). Saya tahu yang ada, yang bertahan melalui
waktu, dan yang memiliki keyakinan tertentu tentang dunia, keyakinan
sebagaimana itu terjadi, tidak dibenarkan. Ekstra skeptis Hume yaitu kita tidak
punya alasan untuk percaya diri kita sendiri: tidak ada, tidak ada ego Cartesian
yang bertahan dari waktu ke waktu. Semua yang dapat diklaim yaitu bahwa ada
pikiran, meskipun pikiran tersebut tidak dihibur oleh pemikir tertentu. Tidak ada
pembenaran untuk percaya pada dunia luar atau bahkan dalam keberadaan
memikirkan pelajaran.
Kita tidak akan menyibukkan diri di sini dengan argumen skeptis Hume,
melainkan kita akan membahas strateginya untuk mengatasi sikap skeptis
tersebut. Hume mengakui bahwa kesimpulan skeptis-nya sudah benar.
Namun, begitu terjadi sehingga hal ini tidak menghawatirkan kita, bukan
karena kita memilih untuk tidak peduli, tetapi karena kita secara psikologis tidak
mampu menjadi skeptis. Ini adalah fakta kontingen tentang makhluk yang
memiliki pikiran seperti kita.
Kebanyakan keberuntungan itu terjadi karena alasan tidak mampu
menghilangkan awan ini, alam sendiri sudah mencakupi tujuan ini, dan
menyembuhkan saya dari melankolis filosofis dan kegilaan ini, baik
dengan santai membungkukan pikiran ini, atau dengan beberapa gagasan
yang tidak masuk akal. Saya makan, saya bermain backgammon, saya
berbicara, dan saya bersuka ria dengan teman-teman saya, dan ketika
setelah hiburan berlangsung selama tiga atau empat jam, saya mau kembali
ke spekulasi ini, mereka tampil begitu dingin (tidak bergairah), dan tegang,
dan konyol, yang saya tidak dapat menemukan dalam hati saya adalah
bagaimana untuk masuk ke dalam hati/perasaan mereka lebih jauh. (Hume,
I97g, hal 269)
(Anda harus ingat bahwa penyajian Hume yang telah saya berikan agak
kontroversial. Sebenarnya ada dua untai pendekatan Hume, yaitu skeptis dan
naturalistik, dan beberapa penafsir menekankan bagian kedua daripada yang
pertama. Interpretasi tersebut akan dibahas secara singkat dalam bab 11, bagian
1.1.)
Strategi yang sejauh ini alami melihat penerimaan bahwa kita tidak
memiliki keyakinan yang dibenarkan tentang dunia luar. Tentu saja, itu jauh lebih
memuaskan jika kita bisa menemukan alasan yang baik untuk menolak hipotesis
skeptis, dan itulah yang akan ditelusuri dalam sisa bab ini.

3. Kontekstualisme
Sepanjang buku ini kita telah berfokus pada epistemologi menurut
‘invariantist’, yaitu bahwa mereka bekerja dengan satu set standar, standar yang
mana semua klaim pengetahuan harus penuhi. Sebuah respon baru terhadap
skeptisisme telah mempertanyakan invariantism tersebut, dan berbagai penulis
termasuk Keith De Rose (1995) dan David Lewis (2000) telah mengusulkan
pendekatan ‘kontekstualis’. Kontekstualis berpendapat bahwa standar yang harus
dipenuhi keyakinan agar dapat diklasifikasikan sebagai pengetahuan berbeda
dengan konteks. Alvin Goldman adalah salah satu orang yang pertama
mengusulkan pendekatan kontekstualis yang demikian, dia menawarkan contoh
berikut (Goldman, 2000a). Ketika mengemudi di sepanjang jalan pedalaman Anda
mungkin melihat permukaan sebuah lumbung di lapangan. Dengan demikian,
Anda benar untuk meyakini bahwa ada lumbung di sana, dan pada berbagai
penjelasan atas kepercayaan ini akan merupakan kasus pengetahuan persepsi.
Namun, mungkin menjadi pedalaman aneh, ketika banyak petani setempat yang
mendirikan lumbung yang terbuat dari bubur kertas. Hampir semua dari tampak
luar yang Anda lihat adalah tipuan. Namun, ada satu terlihat dari jalan yaitu salah
satu lumbung otentik langka. Di daerah pedalaman tersebut, keyakinan benar
Anda tidak sama dengan pengetahuan karena itu hanya beruntung bahwa Anda
telah mengalami hal yang nyata. Klaim yang sama terhadap pengetahuan adalah
benar dalam satu konteks lingkungan tertentu dan tidak benar ditempat lain.
Relativitas kontekstual yang demikian merupakan fitur dari banyak konsep-
konsep kita. Standar yang kita gunakan untuk menilai apakah sebuah permukaan
adalah datar berbeda tergantung pada apakah kita sedang berurusan dengan
lapangan kriket, lantai cekung berbentuk U, atau permukaan berlian.
Baru-baru ini, contextualists telah berfokus pada konteks percakapan.
Dalam keadaan sehari-hari saya dengan benar dapat mengklaim mengetahui
bahwa supermarket tersebut masih terbuka, bahwa gunung Bowfell tingginya
hampir 3.000 meter, dan bahwa Triumph membuat sepeda motor di Midlands.
Namun, dalam seminar filsafat semua klaim yang demikian menjadi pertanyaan.
Jika iblis Descartes memilih pendiriannya, maka tidak akan ada supermarket,
Bowfell atau sepeda motor Triumph. Kesimpulan dari argumen Cartesian yaitu
kita tidak dapat mengetahui tentang hal-hal seperti itu. Kemudian di sini kita
punya konteks yang bukan merupakan ciri-ciri fisik yang berbeda dari lingkungan
(seperti pada contoh yang melibatkan lumbung tipuan), melainkan dengan fitur
dari konteks percakapan, yaitu dengan jenis pertanyaan yang biasanya muncul
dalam percakapan tentang hal-hal seperti gunung dan sepeda motor. Jika saya
tanya apakah supermarket di buka, saya akan berpikir jam berapa supermarket
tersebut dibuka apakah pada saat itu hari Minggu, saya tidak akan
mempertimbangkan kemungkinan bahwa supermarket adalah pekerjaan setan
jahat. Kemungkinan seperti itu dapat diabaikan dengan aman dalam konteks
sehari-hari, atau seperti kadang-kadang yang hanya membuat beberapa
kemungkinan alternatif yang ‘relevan’.
Definisi pengetahuan kita memerlukan syarat sotto voce. S tahu bahwa P
iff [jika dan hanya jika] buktinya S menghilangkan setiap kemungkinan
yang tidak - P Pssit - kecuali untuk kemungkinan yang benar-benar kita
abaikan. (D. Lewis, 2000, hal. 371)
Memang benar bahwa standar yang sebenarnya kita gunakan untuk
menjelaskan pengetahuan benar-benar bervariasi di setiap konteks. Dalam
sebagian besar situasi, akses ke Wainwright’s Pictorial Guide to the Lakeland
Fells merupakan semua yang diperlukan jika saya tahu bahwa tinggi Bowfell
hampir 3.000 meter, namun hal ini tidak cukup dalam konteks argumen skeptis
Descartes. Para kontekstualis mengklaim bahwa hal ini bukan semata-mata
bagaimana kita menggunakan konsep pengetahuan, kita juga dibenarkan dalam
menggunakannya dengan cara ini. Benar untuk mengatakan bahwa saya dapat
memiliki pengetahuan tentang Bowfell ketika membahas perjalanan saya yang
berikutnya ke Lake District dan juga benar untuk mengatakan bahwa saya tidak
bisa memiliki pengetahuan yang demikian ketika membahas Descartes.
Selanjutnya, ada dua konteks yang tidak gampang dibedakan secara
epistemologis, yang satu sehubungan dengan skeptisisme Cartesian, dan yang
mencakup semua konsep-konsep lainnya, ada berbagai macam konteks, masing-
masing punya seperangkat standar epistemic sendiri. Kemungkinan yang kita
perhitungkan relevan berbeda tergantung pada apakah kita sedang membahas jika
seseorang tahu gilirannya siapa untuk membeli putaran minuman berikutnya,
apakah juri tahu bahwa terdakwa bersalah, atau apakah Catherine tahu bahwa Jim
jatuh cinta dengan dia.
Konteks yang paling kita khawatirkan adalah seminar filsafat. Di udara
langka ini, segala kemungkinan tampaknya terbuka, termasuk yang melibatkan
setan menipu dan otak dalam tong: ‘Anda telah mendarat dalam konteks dengan
domain yang sangat kaya potensi akan contoh kontra terhadap ascriptions
pengetahuan’ (D. Lewis, 2000. Hal. 377). Disini standar yang diperlukan untuk
pengetahuan memang sangat tinggi. Kita harus menyingkirkan semua skenario
skeptis yang demikian, dan klaim Cariesian yaitu bahwa ini merupakan sesuatu
yang kita tidak bisa lakukan. Kemudian, Contextualists dapat menerima bahwa
dalam konteks seminar filsafat kita tidak memiliki banyak pengetahuan, mungkin
tidak ada sama sekali tentang dunia luar. Namun ketika kita kembali ke kehidupan
sehari-hari, kita kembali ke standar epistemik sehari-hari kita, dan di sini ada
banyak hal yang kita benar-benar tahu: dalam konteks yang demikian keberadaan
setan jahat tidak relevan dengan apakah supermarket dibuka atau tidak. Maka
dariitu, hal ini menarik secara epistemis ketika kita beralih di antara berbagai jenis
wacana. Berjalan ke dalam seminar filsafat menjadi hal yang berbahaya untuk
dilakukan, karena pengetahuan sehari-hari kita terancam oleh kemungkinan
alternatif baru yang sekarang menjadi relevan. Sebaliknya, berjalan keluar dari
sebuah seminar adalah memperkaya epistemis: Anda sekarang bisa mengetahui
bahwa King Kong ditayangkan di TV malam ini, faktanya Anda belum tahu lima
menit yang sebelumnya akan hal ini (oleh Cartesian lights).
Epistemologi menghancurkan pengetahuan. Tapi hanya sementara.
Epistemologi tidak menenggelamkan kita selama-lamanya dalam konteks
khusus. Kita masih bisa melakukan banyak pengabaian yang tepat, banyak
mengetahui, dan banyak asal pengetahuan bagi diri kita sendiri dan orang
lain, pada sisa waktu yang ada. (D. Lewis, 2000, hal. 377)

4. Eksternalisme Kognitif
Putnam (1981) mengajukan argumen cerdik terhadap kemungkinan bahwa
kita bisa menjadi otak dalam tong. Untuk melihat bagaimana argumen ini bekerja,
pertama-tama kita perlu mengatakan sesuatu tentang posisi yang disebut
eksternalisme kognitif dan, lebih umum, tentang filsafat pikiran. Pikiran kita
memiliki konten/isi, yaitu konten tentang aspek-aspek tertentu tentang dunia.
Konten dari salah satu pikiran saya saat ini yaitu komputer saya lagi hidup. (Kita
melihat penjelasan yang demikian tentang pikiran ketika kita membahas persepsi
teori intensionalis dalam bab 4, bagian 4.2.) Pertanyaan penting dalam filsafat
pikiran adalah menyangkut sifat konten yang demikian. Internalists kognitif
mengklaim bahwa konten dari pikiran tertentu ditentukan sepenuhnya oleh apa
yang ada dalam kepala si pemikir. Pada berbagai penjelasan tradisional/sederhana,
penjelasan dari Locke, Descartes dan Hume, pikiran kita dipandang sebagai
gagasan, gagasan yang dipahami sebagai gambaran, gambaran yang berada di
dalam kepala kita. Perkembangan terkini dalam filsafat pikiran sudah bergeser
dari gambaran ini dan berkonsentrasi hanya pada barang-barang yang dapat
diberikan penjelasan ilmiah. Beberapa orang mengklaim bahwa keadaan mental
hanyalah keadaan fisik dari otak. Yang lainnya mengikuti pendekatan komputasi
dan melihat pikiran sebagai analog yang memiliki perangkat lunak, dengan otak
yang menyediakan perangkat keras yang memungkinkan program kita untuk
berjalan. Namun, penjelasan moderen ini memiliki satu fitur penting yang dama
dengan gambar tradisional, yaitu keadaan fisik atau komputasi yang demikian
berada di dalam kepala kita, dan inilah yang menentukan isi dari pikiran kita.
Namun, bagi eksternalis kognitif memandang bahwa dunia memainkan
peran konstitutif dalam menentukan konten dari keadaan mental kita: ‘ruang
kognitif menggabungkan bagian yang relevan dari dunia “eksternal”’ (McDowell,
1986, hal 258.). Berbagai argumen telah diajukan dalam mendukung pendekatan
eksternalist ini, yang paling penting adalah pikir percobaan Putnam (1975a) Twin
Earth. Kita bisa membayangkan dua karakter yang identik secara fisik, Oscar dan
Toscar, Oscar tinggal di sini dan Toscar tinggal di Twin Earth (Bumi Pertiwi),
sebuah planet yang identik secara tampan/permukaan atas sisi lainnya dari alam
semesta ini. Oscar dan Toscar adalah molekul yang sama, sampai ke struktur otak
mereka, dan mereka berdua memiliki keyakinan tentang hal-hal yang jelas yang
terletak di genangan air dan hujan dari angkasa. Namun, di atas Twin Earth, cairan
yang menyegarkan ini jelas sebenarnya adalah XYZ dan bukan H20. Toscar
sedang berpikir tentang hal-hal yang berbeda dari Oscar. Oleh karena itu, pikiran
mereka memiliki konten yang berbeda, meskipun kita telah menetapkan bahwa
segala sesuatu di dalam kepala mereka adalah sama. Konten pikiran tidak
sepenuhnya ditentukan oleh apa yang ada di kepala.
Sebelum mempertimbangkan bagaimana penerapan filsafat pikiran yang
demikian bisa memungkinkan untuk menolak skeptisisme Cartesian, Pertama-
tama harus diingat bagaimana bentuk eksternalisme ini berbeda dari eksternalisme
epistemologis. Perdebatan antara eksternalist epistemologis dan keprihatinan
internalists apakah kita mampu untuk merenungkan apa yang membedakan
pengetahuan dari keyakinan yang benar. Namun, pertanyaan yang eksternalisme
kognitif bahas adalah pertanyaan metafisik tentang apa yang menentukan koten
pikiran kita. Ini adalah masalah yang berbeda. Hal ini dapat dilihat dengan
memperhatikan bahwa Anda bisa menjadi eksternalist di satu sisi dan tidak sisi
yang lain. Sebagai contoh, Anda bisa berpendapat bahwa konten mental
sepenuhnya ditentukan oleh keadaan internal komputasi dari otak (internalisme
kognitif), dan pengetahuan tersebut hanya membutuhkan mekanisme kognitif
Anda untuk melacak kebenaran secara handal atau dapat dipercaya (eksternalisme
epistemologis). Dalam bagian ini kita akan membahas berbagai kognitif
eksternalisme, dan selanjutnya kita akan membahasa berbagai jenis epistemologis.
Keduanya dapat dilihat sepertinya menawarkan tantangan terhadap skeptis.
Putnam menerima eksternalisme kognitif dan mengambil sebagai alasan
bahwa klaim ‘saya adalah otak dalam tong’ merupakan penyangkalan diri.
Seseorang tidak dapat benar-benar mengklaim atas hal tersebut itu, atau
memikirkan akan hal tersebut. Kita bisa melihat apa yang berarti ‘penyangkalan
diri’ dengan mempertimbangkan klaim ‘aku tidak ada”. Jika orang berpikir seperti
ini, maka itu tidak benar. (Jika Anda memikirkan sesuatu, maka Anda harus ada,
ingat: ‘cogito, ergo sum’) Demikian pula, Putnam berpendapat bahwa jika Anda
berpikir bahwa Anda sebuah otak dalam tong, maka tidak benar. Menurut
internalis kognitif, otak dalam tong dapat memiliki pikiran yang sama seperti
Anda dan saya, karena apa yang menentukan konten/isi pikiran kita seluruhnya
berada dalam otak. Namun, bagi eksternalist tidak demikian. Saya bisa memiliki
pemikiran tentang pohon karena ada pohon di dunia saya, pohon-pohon yang
secara kausal dan perseptual saya bisa bertautan/berinteraksi dengannya.
Bagaimanapun, sebuah otak dalam tong tidak bisa berpikir tentang pohon karena
otak tersebut tidak secara kausal atau perseptual bertautan/terlibat dengan pohon
tersebut. Dan meskipun otak tersebut bisa duduk didalam tong, otak tersebut tidak
secara perseptual atau kausal bertautan dengan benda seperti itu (dengan tong
tersebut). Oleh karena itu, otak tersebut tidak bisa memikirkan pikiran-pikiran
yang benar tentang wadah tersebut, juga tidak dapat berpikir tentang dirinya
sebagai otak karena otak dalam tong secara perseptual atau kausal tidak bertautan
dengan otak lainnya. Satu-satunya hal yang mana otak dalam tong terhubung
secara kausal adalah komputer yang memberi informasi sensorik yang
disimulasikan. Dengan demikian, menurut eksternalist kognitif, otak dalam tong
tidak memiliki pengalaman sama sekali karena otak tersebut secara kausal tidak
terhubung ke dunia yang bisa menentukan konten/isi pikiran, atau pikiran mereka
harus yang terkait dengan impuls elektronik dalam komputer para ilmuwan’. Jika
hal yang pertama tersebut diatas memang demikian, maka hipotesis skeptis tidak
dapat diajukan. Jika otak dalam tong tidak memiliki pikiran yang penuh dengan
konten, maka otak tersebut tidak bisa memikirkan apa-apa, apalagi kemungkinan
skeptisisme global.
Bagaimanapun, mari kita beralih ke saran kedua: pikiran otak dalam
sebuah tong benar-benar memiliki konten, meskipun konten tersebut berbeda dari
apa yang kita memiliki. Konten pikiran ‘Saya adalah sebuah otak dalam tong’
akan benar-benar menjadi sesuatu seperti ‘Saya sirkuit 584’ (itu adalah sirkuit 584
yang mana otak tersebut adalah terhubung secara kausal dan bukan seperi otak
dan tong). Namun, jika saya adalah otak dalam tong, maka ini adalah tidak benar:
Saya anggaplah otak dalam tong dan bukan sirkuit dalam komputer. Oleh karena
itu, saya tidak bisa mengekspresikan pikiran yang benar bahwa saya adalah
sebuah otak dalam tong. Jika saya adalah otak dalam tong, maka saya tidak akan
memiliki sumber daya konseptual yang dapat digunakan untuk menggambarkan
keadaan saya. Jadi saya tidak harus mengikuti klaim skeptis secara serius. Saya
tidak bisa benar-benar berpikir bahwa saya berada dalam skenario Cartesian yang
demikian. (Jangan khawatir jika Anda menemukan argumen ini sulit, memang
benar-benar licik. Akan sangat bernilai untuk berhenti di sini, dan
mempertimbangkan apakah Anda memahami betapa argumen ini terulas/berjalan,
dan apakah itu meyakinkan bagi anda.)
Satu masalah yang memiliki argumen banyak, yaitu argumennya hanya
berlaku pada skenario skeptis yang sangat spesifik, di mana (menurut eksternalist)
seorang pemikir tidak akan pernah bisa memperoleh kemampuan untuk memiliki
pikiran yang penuh dengan konten (contentfull thought) terkait keadaan dirinya
sendiri (dugaan). Namun, pertimbangkan skenario berikut. Saya menganggap
bahwa untuk sebagian besar hidup saya, saya tidak terganggu oleh setan dan
ilmuwan jahat. Saya, seperti orang lain, telah hidup di dunia nyata yang dikelilingi
oleh cangkir kopi, klip kertas, dan tong-tong, dan saya telah membahas otak-otak
baik dalam kelas biologi di sekolah dan di seminar filsafat di universitas. Oleh
karena itu, saya dapat memiliki pemikiran tentang hal-hal seperti itu. Namun,
kemarin saya bisa saja diculik oleh para ilmuwan jahat, otak saya bisa sudah
dikeluarkan dan ditempatkan dalam tong, dan pengalaman saya tentang
penculikan bisa saja hilang dari ingatan saya. Klaim Cartesian dalah agar saya
mengetahui apa saja tentang dunia luar, maka saya harus bisa mengesampingkan
kemungkinan skeptis ini. Namun, hal ini tidak bisa saya lakukan mengingat
kenyataan bahwa pengalaman envatted saya tidak bisa dibedakan dari pengalaman
yang saya jalanani sendiri untuk mengalami dunia ini. Dan, yang terpenting
adalah saya punya sumber daya konseptual untuk berbicara tentang skenario
skeptis ini. Kehidupan saya diluar tong, sampai kemarin, akan memungkinkan
saya untuk memperoleh konsep OTAK (BRAIN) dan TONG (VAT), dan inilah
yang bisa saya gunakan hari ini untuk mempertimbangkan kemungkinan kesulitan
Cartesian saya.

5. Eksternalist Epistemologis
Respon terhadap Skeptisisme
Dalam bagian sebelumnya dinyatakan bahwa kita tidak dapat memiliki
pikiran yang diperlukan untuk mengekspresikan beberapa skenario skeptis.
Argumen ini didasarkan pada klaim metafisik tentang sifat dari konten yang
disengaja. Pada bagian ini kita beralih ke argumen epistemologis. Secara
tradisional/sederhana, untuk memiliki pengetahuan kita harus mampu untuk
membenarkan keyakinan yang kita pegang, dan pembenaran tersebut harus secara
kognitif dapat diakses bagi kita. Jika pendekatan internalis ini diadopsi, maka
skeptisisme tampak menjadi besar. Descartes telah berpendapat bahwa dari sudut
pandang kami skenario skeptis tidak dapat dibedakan dari akal sehat. Oleh karena
itu, saya tidak bisa memiliki pikiran yang dibenarkan tentang dunia karena saya
tidak bisa memberikan alasan untuk mendukung klaim bahwa ada dunia secangkir
kopi dan klip kertas daripada hanya dunia setan yang sangat tipis.
Namun, menurut eksternalist epistemologis, kita tidak harus menyadari
fakta-fakta kognitif yang diproses pengetahuan. Klaim reliabilist dasar yaitu
bahwa pengetahuan dihasilkan oleh mekanisme kognitif yang handal, mekanisme
yang cenderung menghasilkan keyakinan yang benar dan bukan yang palsu atau
tidak benar. Nozick mengembangkan pendekatan ini dengan penjelasan
penelusurannya, yaitu kita tahu p, jika kita disuru untuk percaya p ketika p benar,
dan bukan untuk percaya p ketika p salah. Namun, yang penting dari sudut
pandang kami adalah kita mungkin tidak dapat mengatakan apakah keyakinan kita
disebabkan oleh proses yang dapat diandalkan seperti itu, atau apakah melalui
penelusuran kebenaran dengan cara yang diperlukan. Descartes benar untuk
mengklaim bahwa pengalaman kita akan menjadi sama apakah klip kertas dan
cangkir kopi benar-benar ada di luar sana di dunia ini, atau apakah ini hanyalah
pekerjaan setan. Dan jika kemungkinan yang terakhir ini terealisasi, maka kita
tidak memiliki pengetahuan tentang dunia luar karena keyakinan kita tentang hal
tersebut adalah tidak benar. Namun, menurut eksternalist jika setan tidak ada dan
keyakinan saya dapat diandalkan, maka saya dapat memiliki pengetahuan tentang
dunia ini. Klaim utama yaitu bahwa kemungkinan besar hipotesis skeptis tidak
merusak pengetahuan saya tentang dunia. Jika pada kenyataannya saya seorang
pemikir yang handal, maka saya dapat memiliki pengetahuan yang demikian.
Eksternalist menerima bahwa kita mungkin tidak menyadari, memang
mungkin tidak bisa disadari, keandalan pikiran kita sendiri. Oleh karena itu, saya
tidak tahu bahwa saya tahu ada secangkir kopi. Namun, eksternalist mengklaim
bahwa pengetahuan urutan kedua tidak diperlukan, dan sehingga reliabilist
menjelaskan pengetahuan urutan pertama, yaitu dari cangkir kopi dan klip kertas,
sudah cukup untuk membantah skeptisisme Cartesian. Meskipun, beberapa orang
tidak menganggap ini sebagai respon yang memuaskan terhadap skeptisisme.
Jadi meskipun benar bahwa Anda dapat mengetahui sesuatu tanpa
mengetahui bahwa Anda tahu akan hal itu, ahli teori filosofis pengetahuan
tidak bisa begitu saja bersikeras pada poin tertentu dan berharap untuk
menemukan penerimaan penjelasan seorang ‘eksternalist’ pengetahuan
yang benar-benar memuaskan. Jika dia bisa, dia akan berada dalam posisi
seseorang yang mengatakan: ‘Saya tidak tahu apakah saya mengerti
pengetahuan manusia atau tidak. Jika apa yang saya percaya tentang hal
itu adalah benar dan keyakinan saya tentang hal itu diproduksi dalam apa
yang teori saya katakan merupakan cara yang tepat, maka saya tahu
bagaimana cara datangnya pengetahuan manusia, sehingga dalam
pengertian tersebut saya menjadi benar-benar paham. Tetapi jika
keyakinan saya tidak benar atau tidak sampai dalam cara tersebut, maka
saya tidak demikian.’ Saya ingin tahu yang mana itu. Saya ingin tahu
apakah saya memahami pengetahuan manusia atau tidak. Itu bukan posisi
yang memuaskan untuk sampai dalam studi pengetahuan manusia, atau
apa pun saja. (Stroud, 2000, hlm 321-2)
Eksternalist menerima bahwa dalam menghadapi skeptisisme Cartesian,
dia tidak memiliki alasan untuk berpikir bahwa keyakinannya dapat diandalkan.
Namun, mungkin saja ternyata bahwa mereka dan, jika demikian, keyakinan
tersebut menjadi sejumlah pengetahuan. Saya akan meninggalkan Anda untuk
mempertimbangkan pertanyaan ini: apakah Barry Stroud benar untuk mengatakan
bahwa ini tidak memuaskan, atau haruskah eksternalist merespon terhadap
skeptisisme Cartesian yang merangkul? Dalam bab 11 kita akan menyelidiki lebih
lanjut pemikiran eksternalist yang demikian dan tempatnya dalam pandangan
epistemologi naturalistik yang lebih luas.
Pertanyaan
1. Untuk mengetahui bahwa ada sebuah buku di tangan Anda, apakah Anda perlu
untuk mengetahui bahwa Anda bukanlah sebuah otak yang diletakkan dalam
tong?
2. Bisakah setan atau ilmuwan jahat menipu kita kedalam pemikiran palsu/salah
bahwa 2 + 2 = 5 atau bahwa mungkin ada seorang sarjana yang menikah?
3. Hume mengklaim, jika kita menerima bahwa tidak ada keyakinan empiris kita
yang dibenarkan, maka: ‘semua wacana, semua tindakan akan segera berhenti,
dan laki-laki akan tetap berada dalam kelesuan total, sampai kebutuhan alam,
yang tidak terpuaskan, mengakhiri keberadaan mereka yang menyedihkan
(Hume, 1989, bagian 12.23). Apakah dia benar?
4. Apa perbedaan antara eksternalisme kognitif dan eksternalisme epistemologi,
dan dapatkah salah satu dari mereka juga memberikan sangkalan yang
memuaskan tentang skeptisisme Cartesian?
5. Dalam sebuah seminar tentang skeptisisme Cartesian, seorang teman
memberikan Anda catatan yang menanyakan apakah Anda membawa telpon
genggam. Anda mengangguk kepadanya bahwa Anda bawa. Pada penjelasan
kontekstualis, tampaknya Anda tidak tahu bahwa ada ponsel di tas Anda
(dalam konteks percakapan lisan Anda tentang argumen skeptis Descartes) dan
Anda benar-benar tahu bahwa itu ada (dalam konteks percakapan tidak lisan
Anda). Anda tahu p tersebut dan Anda tidak tahu tentang p itu. Apakah ini
klaim yang koheren?
Pertanyaan 1
Untuk mengetahui bahwa ada sebuah buku di tangan Anda. Apakah Anda perlu
tahu bahwa Anda bukan otak di tong?
Jawaban :
Untuk mengetahui bahwa ada buku di tangan saya, saya perlu mengetahui bahwa
saya bukan otak dalam tong. Karena otak pada tong, tidak bisa berpikir tentang
buku karena tidak secara kausal atau perseptual terlibat dengan hal-hal seperti itu
(dalam hal ini adalah buku). Jika otak pada tong tidak memiliki pikiran yang
penuh dengan konten, maka tidak bisa memikirkan apa pun, apalagi kemungkinan
skeptisisme.

Pertanyaan 2
Mungkinkah setan atau ilmuwan jahat menipu kita untuk berpikir keliru bahwa 2
+2 = 5 atau bahwa mungkin ada bujangan yang menikah?
Jawaban :
Kita tidak dapat ditipu oleh setan atau ilmuwan jahat dalam berpikir 2 + 2 = 5 atau
bahwa ada bujangan yang menikah, sebab ada perasaan dimana pengalaman
berkaitan dengan semua keyakinan. Tanpa adanya setan atau ilmuwan jahat dan
tanpa perlunya pengalaman kita tahu bahwa 2 + 2 = 4. Untuk tahu bahwa ada
bujangan yang menikah kita perlu tahu arti dari kata bujangan, yaitu belum
menikah dan laki-laki. Kita ter justifikasi dalam mempercayai bahwa mereka
belum menikah. Bila ada mungkin bujangan yang menikah dia tidak akan disebut
bujangan.

Pertanyaan 3
Hume mengklaim bahwa jika kita menerima bahwa tidak ada dari keyakinan
empiris kita dibenarkan, maka: semua wacana, semua tindakan akan segera
berhenti, dan laki-laki (akan) tetap berada dalam kelesuan total, sampai kebutuhan
alam, tidak puas, mengakhiri untuk kehidupan yang menyedihkan mereka.
Apakah itu benar?
Jawaban :
Sebelum menerima suatu keyakinan itu benar atau tidak diperlukan justifikasi
untuk membuktikannya, barulah kita dapat percaya bahwa hal tersebut benar. Dan
apabila yang diklaim Huge adalah benar, hal tersebut tidak akan membuat kita
khawatir, bukan karena kita memilih untuk tidak menjadi khawatir, tetapi karena
kita secara psikologis kita mampu bersikap skeptis. Ini adalah fakta kontingen
tentang makhluk dengan pikiran seperti kita. Ini adalah strategi kita untuk
menerima bahwa kita tidak memiliki keyakinan yang dapat dibenarkan tentang
dunia luar.

Pertanyaan 4
Apa perbedaan antara eksternalisme kognitif dan eksternalisme epitemoslogis dan
dapat memberikan sanggahan memuaskan skeptisisme Cartesian?
Jawaban:
Perbedaan antara eksternalisme kognitif dan eksternalisme epitemoslogis, adalah
ekternalisme kognitif lebih menekankan pada proses berpikir, sedangkan
eksternalisme epistemologi menekankan pada bagaimana suatu pikiran menjadi
pengetahuan. Menurut eksternalisme kognitif, dunia memainkan peran konstitutif
dalam menentukan isi keadaan mental kita: "Ruang kognitif menggabungkan
bagian yang relevan dari dunia luar Dan menurut externalisme epistemologi,
pengetahuan dihasilkan oleh mekanisme kognitif yang realiabel yang cenderung
menghasilkan keyakinan yang benar daripada yang salah.
Kedua konsep ini memberikan sanggahan terhadap skeptisisme Cartesian.
- Eksternalisme kognitif menyatakan saya bisa berpikir mengenai pohon karena
ada pohon di dunia saya, pohon yang saya bisa kausal dan perseptual. Sebuah
otak pada tong, bagaimanapun, tidak bisa berpikir tentang pohon karena tidak
secara kausal atau perseptual terlibat dengan hal-hal seperti. Jika otak pada
tong tidak memiliki pikiran yang penuh dengan konten, maka tidak bisa
memikirkan apa pun, apalagi kemungkinan skeptisisme.
- Eksternalisme epistemologis menyatakan kemungkinan dari hipotesis skeptis
tidak mengurangi pengetahuan saya tentang dunia. Jika pada kenyataannya saya
pemikir handal, maka saya dapat memiliki pengetahuan seperti itu.

Pertanyaan 5
Seorang teman memberi Anda note dan bertanya apakah Anda memiliki ponsel,
Anda mengangguk mengatakan kamu membawanya. Dalam kontekstualis, itu
terlihat bahwa Anda tidak tahu bahwa ada ponsel di dalam tas Anda (dalam
konteks ini percakapan Anda berfokus pada argumen skeptis Descartes) dan Anda
tahu bahwa ada ponsel (dalam konteks ini komunikasi yang tidak terucap). Anda
tahu bahwa p dan Anda tidak tahu bahwa p. Apakah itu adalah klaim yang
koheren?
Jawaban :
Ya, koheren. Bila dilihat dari pandangan Kontekstualis yang berfokus kepada
konteks percakapan, yang mana mereka memberi contoh bahwa dalam keadaan
sehari-hari kita dapat dengan benar mengklaim kita tahu bahwa Gunung Bowfell
hampir setinggi 3.000 kaki. Dalam seminar filosofi, semua klaim tersebut
dipertanyakan. Jika dilihat dari pendekatan Descartes, tidak akan ada Gunung
Bowfell. Kesimpulan dari argumen Cartesian adalah bahwa kita tidak dapat
mengetahui tentang hal-hal seperti itu. Kemudian kita memiliki konteks bukan
karena ciri fisik lingkungan yang berbeda, tetapi melainkan dengan konteks
percakapan, yaitu dengan jenis pertanyaan yang biasanya muncul dalam
percakapan tentang sesuatu hal seperti gunung. Benar jika kita mengatakan bahwa
kita bisa mengetahui tentang Gunung Bowfell ketika kita mendiskusikan
perjalanan kita ke Lake District untuk mengetahui bahwa Gunung Bowfell hampir
setinggi 3000 kaki dan juga benar jika kita mengatakan bahwa kita tidak dapat
mengetahui hal tersebut ketika kita berdiskusi dengan Descartes. Kemungkinan
yang kita anggap relevan berbeda tergantung dengan siapa kita mendiskusikan
nya. Jika dikaitkan dengan kasus dalam pertanyaan tersebut maka dalam suatu
situasi menggunakan ponsel diperlukan bila kita ingin mengetahui apakah kita
membawa ponsel atau tidak. Kita dapat mengetahui bahwa kita membawa ponsel
jika kita kemudian akan mendiskusikan sesuatu dengan teman kita dengan
menggunakan ponsel dan benar kita tidak mengetahui bila kita membawa ponsel
ketika kita mendiskusikan nya dengan Descartes.