Anda di halaman 1dari 11

Tugas :Kelompok VII

Tingkat :2C

Mata kuliah :Askeb Persalinan dan BBL

KONSEP DASAR DISTOSIA

(HIS HIPERTONIK)
DosenPengampu : Darmiati, S.ST.,M.Kes.,M.Keb

Oleh :

KELOMPOK 7 :

1. Elza Putria (318130)


2. Fidelia Parantean (318,131)

YAYASAN WAHANA BHAKTI KARYA HUSADA

AKADEMI KEBIDANAN PELAMONIA

MAKASSAR TAHUN 2018-2019


KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. Karena atas rahmat dan hidayah-Nya
penulis dapat meneyelesaikan makalah tentang”KONSEP DASAR DISTOSIA (HIS
HIPERTONIK)” yang mana makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas Akademi
Kebidanan Pelamonia.

Dalam penyusunan makalah ini penilis banyak mendapatkan bantuan dari berbagai sumber
untuk itu penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
memberi saran

Penulis menyadari bahwa, dalam pembuatan makalah ini masih jauh dari kata sempurna.
oleh karena itu,saran dan kritik yang sangat membangun penulis Akhirnya berharap agar
makalah ini berharap bermanfaatbagi penulis khususnya dan mahasiswa/mahasiswi Akademi
Kebidanan Pelamonia pada umumnya.

Makassar,01 Oktober 2019

Penulis
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

B. Rumusan Masalah

C. Tujuan Penelitian

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian His Hipertonik

B. Etiologi His Hipertonik

C. Penatalaksana His Hipertonik

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan

B. Saran

DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup, dari
dalam uterus melalui vagina atau jalan lain ke dunia luar. Persalinan merupakan
proses alamiah, dimana terjadi dilatasi servix, lahirnya bayi, dan plasenta dari rahim
ibu.
Pada persalinan terjadi sebuah komplikasi pada ibu bersalin yaitu His
hipertonik disebut juga tetania uteri yaitu his yang terlalu kuat. Sifat hisnya normal,
tonus otot diluar his yang biasa, kelainannya terletak pada kekuatan his. His yang
terlalu kuat dan terlalu efisien menyebabkan persalinan berlangsung cepat (<3 jam
disebut partus presipitatus).

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang pembuatan makalah ini, maka rumusan masalah pada
makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Apa yang di maksud dengan His Hipertonik

2. Apa saja Etiologi pada His Hipertonik

3. Bagaimana caraPenatalaksana His Hipertonik

C. Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah tersebut maka tujuan dari penulisan makalah ini
adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui pengertian dari His Hipertonik

2. Untuk mengetahui apa saja Etiologi His Hipertonik

3. Untuk mengetahu bagaimana cara penatalaksana His Hipertonik


BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian His Hipertonik

His hipertonik disebut juga tetania uteri yaitu his yang terlalu kuat. Sifat hisnya normal,

tonus otot diluar his yang biasa, kelainannya terletak pada kekuatan his. His yang terlalu kuat

dan terlalu efisien menyebabkan persalinan berlangsung cepat (<3 jam disebut partus

presipitatus).

Partus presipitatus dapat mengakibatkan kemungkinan :

a. Terjadi persalinan tidak pada tempatnya

b. Terjadi trauma janin, karena tidak terdapat persiapan dalam persalinan.

c. Trauma jalan lahir ibu yang luas dan menimbulkan perdarahan dan inversio uteri.

Tetania uteri juga menyebabkan asfeksia intra uterine sampai kematian janin dalam rahim.

Bahaya bagi ibu adalah terjadinya perlukan yang luas pada jalan lahir, khususnya serviks

uteri, vagina dan perineum. Bahaya bagi bayi adalah terjadi perdarahan dalam tengkorak

karena mengalami tekanan kuat dalam waktu singkat. 3. His Yang Tidak Terkordinasi

Adalah his yang berubah-ubah. His jenis ini disebut Ancoordinat Hypertonic Urine

Contraction. Tonus otot meningkat diluar his dan kontraksinya tidak berlangsung seperti

biasa karena tidak ada sinkronisasi antara kontraksi. Tidak adanya kordinasi antara kontraksi

bagian atas, tengah dan bawah menyebabkan his tidak efisien dalam mengadakan

pembukaan.

B. Etiologi His Hipertonik

1. Usia dan paritas


Keadaan ini terutama merupakan keadaan pada primigravida. Sekitar 95 % dari

kasdus-kasus berat terjadi dalam persalinan pertama, dan uterus hamper selalu lebih

efisien pada kehamilan berikutnya. Insidensi pada primigravida lanjut usia hanya sedikit

lebih tinggi dibandingkan pada wanita muda.

2. Kondisi emosi dan kejiwaan

Kita tidak tahu bagaimana masalah kejiwaan dan emosi dalam bekerja

menyebabkan atau memperburuk inkoordinasi uterus dalam persalinan. Dikatakan bahwa

rasa takut meningkatkan tegangan pada segmen bawah uterus. Akan tetapi, ada wanita

tenang yang mengalami persalinan sulit dan ada wanita yang amat emosional yang

melahirtkan dengan mudah. Kebanyakan kelainan berat pada system saraf pusat tidak

memberikan pengaruh yang merugikan pada persalinan.

3. Kelainan uterus

Sementara sebagian dokter mengagap bahwa overdistensi, vibroid, dan jaringan

parut pada uterus menjadi presdiposisi timbiulnya kontarkasi uterus yang jelek, dokter-

dokter lainnya menolak anggapan tersebut. Yang pasti, kelainan congenital uterus, uterus

yang fungsiny tidak lengkap atau uterus bikornis akan mengganggu persalinan.

4. Pecahnya ketuban

Pecahnya ketuban dalam kondisi yang tepat akan merangsang uterus untuk

berkontraksi lebih baik dan mempercepat kemajuan persalinan. Akan tetapi, ketuban

yang pecah sebelum serviks mendatar m,asih keras, tebal, dan tertutup tentu

menghasilkan persalinan yang lama dan tidak efisien.

5. Gangguan mekanis dalam hubungan janin dengan jalan lahir


Bagian terendah yang menempel baik pada serviks dan segmen pada uterus pada

kala I persalinan dan dengan vagina serta perineum pada kala II akan menghasilkan

rangsangan reflex yang baik pada myometrium. Segala sesuatu yang menghalangi

hubungan baiak ini akan menyebabkan kegagalan reflex tersebut, dan akaibatnya

timbulah kontraksi yang jelek. Hubungan antara posisi p[osterior, sikap ekstensi dan

posisi melintang yang macet (transverse arrest) dengan kerja urterus yang salah telah

diketahui dengan baik. Mal posisi menyebabkan gangguan uterus, dan jika keadaan ini

bias diperbaiki, meka kontraksi kerap kali menjadi lebih baik. Penurunan yang lambat

dan pembebtujan bawah uterus tidak lengkap merupakan tanda dini inkoordinasi rahim.

Disp[orsisi cephalopelvic dalam derajat yang ringan menjadi predisposisi timbuknya

kerja uterus yang tidak koordinasi atau his hipertonik.

6. Iritasi uterus

Rangsangan yang tidak tepat pada uterus oleh obat-obatan batau oleh tindakan

maniipulasi intrauterine dapat mengakibatkan his hipertonik (oksitosin yang berlebihan).

C. Penatalaksana His Hipertonik

1. Pencegahan

a. Perasaan takut diatasi dengan perawatan prenatal yang baik.

b. Analgesic digunakan kalu perlu untuk mencegah hilangnya pengendalian.

c. Sedasi berat diberikan pada persalinan palsu agar pasien tidak kelelahan ketika benar-

benar menjalani persalinan yang sesungguhnya.

2. Penanganan

a. Tindakan umum

1) Semangat pasien harus diutamakan


Dalam menghadapi persalinan lama oleh sebab apapun, keadaan wanita yang

bersangkutan harus diawasi dengan seksama. Tekanan darah diukur tiap 4 jam

dan pemeriksaan ini dilakukan lebih sering apabila ada gajala preeklamsia

2) DJJ dicatat setiap setengah jam dalam kala 1 dan lebih sering dalam kala II

3) Kemungkinan dehidrasi dan asidosis harus mendapat perhatian spenuhnya.

Karena ada persalinan lama selalu ada kemungkinan untuk melakukan tindakan

pembedahan dengan narcosis, hendakanya klien jangan diberi makanan biasa..

melainkan dalam bentuk cairan. Sebaiknya diberikan infuse larutan glukosa 5%

dan NaCl Isotonik scara intravena secara berganti-ganti.

4) Kandung kemih dan usus dikosongkan bila perlu

5) Pemeriksaan dalam perlu dilakukan , akan teteapi harus selalu disadarai bahwa

tiap pemeriksaan dalam mengandung bahaya infeksi.

b. Berikan Sedasi dan Analgesia atau obat penenang untuk mengurangi kontraksi

Meskipun sedasi dengan jumlah yang berlebihan dapat merintangi kontraksi

uterus, penggunaan sedasi yang tepat tidak akan mengganggu persalinan yang

sebelurnya. Pasien memerlukan sedasi untuk menurunkan kecemasnnya dan

memerlukan analgesi untuk mengurangi rasa nyeri. Untuk mengurangi rsasa neyri

dapat diberi pethidin 50 Mg yang dapat diulangi, pada permulaan kala I dapat diberi

10 MmHg morvin acapkali sedasi dan istirahat dapat mengubah persalian yang buruk

emnjadi persalinan yang lebih baik. Analgesic epidural lumbalis yang continue kerap

kali efektif unruk memperbaiki kondisi uterus.

c. Jika janin tidak lahir dalam waktu dekat (4-6 jam) dan terdapat tanda-tanda obstruksi,

persalinan harus segera diselesaikan dengan seksio seksaria (SC)


d. Pada partus presipitatus tidak banyak yang dapat dilakukan karena janin lahir tiba-

tiba dan cepat

3. Penanganan disfungsi uterus hipertonik

Disfungsi semacam ini ditandai dengan nyeri uterus yang sangat hebat diantara saat-

saat his dan tentu saja tidak sebanding dengan efektivitasnya untuk menghasilkan

penapisan serta dilatasi serviks. Jenis disfungsi uterus ini secara khas terjadi sebelum

serviks mencapai dilatasi 4 cm ataun lebih.

Oksitosi jarang diperlukan pada keadaan hipertonus uteri dengan janin yang masih

hidup. Persalinan dengan seksio sesar jika dicurigai terjadi gawat janin. Apabila selaput

ketuban masih utuh dan tidak tedapat bukti yang menunjukan adanya disporposi

fetipelvik, pemberian morvin atau meperidin akan meredakan rasa nyeri dan memberikan

kesempatan istirahat bagi ibu disamping menghentikan aktifitas uterus yang abnormal.

Jadi harapan bahwa setelah pasien itu bangun kembali timbul his yang normal.
BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan
His hipertonik disebut juga tetania uteri yaitu his yang terlalu kuat. Sifat hisnya
normal, tonus otot diluar his yang biasa, kelainannya terletak pada kekuatan his.
His yang terlalu kuat dan terlalu efisien menyebabkan persalinan berlangsung
cepat (<3 jam disebut partus presipitatus).
Etiologi His Hipertonik antara lain : Usia dan paritas, Kondisi emosi dan
kejiwaan, Kelainan uterus, Pecahnya ketuban, Gangguan mekanis dalam
hubungan janin dengan jalan lahir dan Iritasi uterus
Penatalaksana His Hipertonik adalah ada Pencegahan, Penangana dan
Penanganan disfungsi uterus hipertonik

B. Saran
Dari makalah yang kami buat mungkin terdapat banyak kesalahan dan
kekurangan untuk lebih memperdalam pengetahuan, maka kami minta kritik dan
saran dari teman-teman yang membaca makalah kami..
Dengan demikian pembaca dapat mengetahui kegunaan dan pentingnya
Mengetahui Tetang KONSEP DASAR DISTOSIA (HIS HIPERTONIK) supaya
kita sebagai bidan mampu dan paham situsi hingga kontraksi yang terjadi selama
ibu bersalin khususnya tentang HIS HIPERTONIK.
DAFTAR PUSTAKA

https://www.scribd.com/upload-

document?archive_doc=306907049&escape=false&metadata=%7B"context"%3A"archive_view

_restricted"%2C"page"%3A"read"%2C"action"%3A"download"%2C"logged_in"%3Atrue%2C"

platform"%3A"web"%7D

https://books.google.co.id/books?id=7NR5DwAAQBAJ&pg=PA66&lpg=PA66&dq=his+hipert

onik&source=bl&ots=kMGyvofu00&sig=ACfU3U0khGNLkrzFtuWMrUW7wIDg2GCktw&hl=

id&sa=X&ved=2ahUKEwi_0-

uQx_rkAhUY6nMBHXN9ClYQ6AEwCXoECAkQAQ#v=onepage&q=his%20hipertonik&f=fa

lse