Anda di halaman 1dari 22

ASUHAN KEBIDANAN IBU NIFAS PADA Ny.

E P1A0
POST SC DENGAN PEB DI RSUD KARANGANYAR
2007

Pencapaian Target Kasus Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Askeb

Disusun Oleh :
ENDRI
2006.054

AKADEMI KEBIDANAN MAMBA`UL`ULUM


SURAKARTA
2 0 0 7
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah


melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
laporan Asuhan Kebidanan ibu nifas pada Ny. E P1A0 Post SC dengan PEB di
RSUD Karanganyar.
Laporan Kasus ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memenuhi
target kasus mata kuliah Asuhan Kebidanan di Akademi Kebidanan Mamba`ul
`Ulum Surakarta.
Penulis menyadari bahwa laporan Asuhan Kebidanan ibu nifas pada Ny. E
P1A0 post SC di RSUD Karanganyar ini dapat disusun atas bantuan dari berbagai
pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima
kasih kepada :
1. Henik Istiqomah, SST selaku Direktur Akademi Kebidanan Mamba`ul `Ulum
Surakarta serta pembimbing kasus.
2. Bapak, Ibu seluruh staf dosen di Akademi Kebidanan Mamba`ul `Ulum
Surakarta yang telah membekali penulis dengan ilmu pengetahuan.
3. Semua teman-teman yang telah turut serta membantu terselesainya laporan ini
Akhir kata penulis berharap semoga laporan ini berguna dan bermanfaat
bagi penulis khususnya dan pembaca pada umunya.

Surakarta, 2007

Penulis

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.......................................................................................... i
KATA PENGANTAR ........................................................................................ ii
DAFTAR ISI....................................................................................................... iii
BAB I. PENDAHULUAN
.1 Latar Belakang........................................................................... 1
.2 Tujuan........................................................................................ 1
.2.1 Tujuan Umum............................................................. 1
.2.2 Tujuan Khusus............................................................ 1
BAB II. TINJAUAN TEORI
2.1 Pengertian ................................................................................. 3
2.2 Fisiologi Nifas........................................................................... 3
2.3 Perawatan Post Partum dengan SC............................................ 4
2.4 Tujuan Perawatan Nifas ............................................................ 6
2.5 Pengertian SC............................................................................ 6
2.6 Istilah......................................................................................... 7
2.7 Indikasi...................................................................................... 7
2.8 Jenis-jenis Operasi SC............................................................... 8
2.9 Komplikasi................................................................................. 8
2.10 Nasehat Pasca Operasi ........................................................... 9
BAB III. TINJAUAN KASUS
3.1 Pengkajian Data......................................................................... 10
3.2 Interpretasi Data........................................................................ 13
3.3 Diagnosa Potensial.................................................................... 14
3.4 Antisipasi................................................................................... 14
3.5 Intervensi................................................................................... 14
3.6 Implementasi............................................................................. 16
3.7 Evaluasi .................................................................................... 16
BAB IV. PENUTUP
4.1. Kesimpulan ............................................................................ 19
4.2. Saran ...................................................................................... 19
DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Saat ini angka kematian ibu dan angka kematian bayi di Indonesia
masih sangat tinggi. Menurut Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia
(SDKI) 1994. Angka Kematian Ibu adalah 390 per 100.000 kelahiran hidup
dan Angka Kematian Bayi adalah 40 per 100.000 kelahiran hidup. Jika
dibandingkan dengan Negara-negara lain maka angka kematian ibu di
Indonesia adalah 15x lebih tinggi dari angka kematian ibu di Malasyia, 10x di
Thailand, 5x dari Filiphina. (Syaifudin Buku Acuan Nasional Pelayanan
Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2001)
Masa nifas adalah dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhirnya
ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Asuhan
masa nifas ini diperlukan dalamperiode ini karena merupakan masa kritis baik
ibu maupun bayinya. Diperkirakan bahwa 60% kematian ibu akibat
kehamilan terjadi setelah persalinan dan 50% kematian masa nifas terjadi
dalam 24 jam pertama.

1.2. Tujuan
1.2.1. Tujuan Umum
Dapat melaksanakan asuhan kebidanan secara tepat menurut Varney
dan SOAP serta menganalisa adanya kesenjangan teori dan praktek.
1.2.2. Tujuan Khusus
a. Dapat melakukan pengkajian pada Ny. E nifas post SC
b. Dapat mendiagnosa dan melakukan antisipasi segera pada Ny. E
nifas post SC
c. Dapat membuat perencanaan dan melaksanakan tindakan pada Ny.
E nifas post SC

iv
d. Dapat melakukan evaluasi perkembangan pada Ny. E nifas post
SC
e. Dapat mengetahui adanya kesenjangan teori dan praktek
f. Dapat mendokumentasikan hasil asuhan kebidanan pada Ny. E
nifas post SC

v
BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1. Pengertian Nifas


Masa nifas (puerperium) adalah masa pulihnya, kembalinya, mulai
dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan kembali pra hamil.
Lamanya masa nifas adalah 6-8 minggu. (Rustam Mochtar : 1998)
Masa nifas dibagi dalam 3 periode, yaitu :
2.1.1 Perperium dini yaitu kepulihan dimana Ibu telah diperbolehkan berdiri
dan berjalan-jalan dalam agama Islam dianggap sudah bersih dan
boleh bekerja setelah 40 hari.
2.1.2 Perperium intermediet yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat genetalia
yang lamanya 6-8 minggu
2.1.3 Remote purperium yaitu waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat
sempurna terutama Ibu yang mempunyai komplikasi berminggu-
minggu, berbulan-bulan atau bertahun-tahun .

2.2. Fisiologi Nifas


2.2.1. Ivolusio alat-alat kandungan
2.2.2. Uterus secara berangsur-angsur menjadi kecil (involusi) sehingga
akhirnya kembali seperti sebelum hamil
2.2.3. Bekas implantasi urie : plasenta mengecil karena kontraksi dan
menjadi 3,8 cm, pada minggu ke-6 2,4 cm dan akhirnya pulih.
2.2.4. Luka pada jalan lahir tidak disertai infeksi akan sembuh kembali 6
hari
2.2.5. Rasa sakit yang disebut after pain (mules-mules) disertai kontraksi
uterus, biasanya berlangsung 2-4 hari pasca persalinan
2.2.6. Lochea adalah cairan sekret yang berasal dari cavum uteri dan
vagina dalam masa nifas
a. Lochea rubra berisi darah segar dan sisa-sia selaput ketuban, sel-
sel desidua, vernik caseosa selama 2 hari pasca persalinan.

vi
b. Lochea sanguilenta : berwarna merah kuning, berisi darah dan
lendir pada hari 3-7 pasca persalinan.
c. Lochea serosa : berwarna kuning, cairan berdarah lagi, pada hari
7-14 pasca persalinan.
d. Lochea Alba : cairan berwarna putih, setelah 2 minggu.
e. Lacheo statis : lochea yang tidak lancar keluarnya.
f. Lochea Purulenta : lochea terjadi karena infeksi, cairan seperti
nanah berbau busuk
2.2.7. Ligamen-ligamen
Ligamen fasia dan diafragma pelvis yang meregang pada waktu
persalinan setelah bayi lahir secara berangsur-angsur menjadi ciut
dan pulih kembali. Sehingga tidak jarang uterus jatuh ke belakang
dan menjadi retrofleksi, karena ligamentum menjadi kendor.
2.2.8. Servik
Setelah persalinan bentuk servik agak menganggu seperti corong
berwarna merah kehitaman, konsistensinya lunak, kadang terdapat
perlukaan kecil. Setelah bayi lahir, tangan masih bisa masuk ke
rongga rahim, setelah 2 jam dapat dilalui 2-3 jari setelah 7 hari
hanya dapat dilalui satu jari.

2.3. Perawatan Post Partum


2.3.1. Kesadaran penderita
a. Anestesia lumbai
Kesadaran penderita baik, oleh karenanya ibu dapat mengetahui
hampIr semua proses persalinan.
b. Anestesi umum
Pulihnya kesadaran oleh ahli telah diatur dengan memberikan
O2 menjelang akhir operasi.
2.3.2. Mengukur dan memeriksa tanda-tanda vital
a. Tensi, nadi, temperatur dan pernafasan

vii
b. Keseimbangan cairan melalui urine dengan perhitungan
Produksi urine : 500 – 600 cc
Pernafasan : 500 – 600 cc
Penguapan badan : 500 – 600 cc
c. Pemberian cairan pengganti sekitar 2000 -2500 cc dengan
perhitungan 20 tts/menit (1 cc/menit)
d. Infus setelah operasi sekitar 2 x 24 jam
e. Pemeriksaan
1) Paru
- Kebersihan jalan nafas
- Bising menandakan berfungsinya usus (dengan adanya
flatus)
- Perdarahan locat pada luka operasi
- Kontraksi rahim
- Perdarahan pervaginam : evakuasi pengeluaran lochea
- Atonia uteri meningkat perdarahan
- Perdarahan berkepanjangan
f. Profilasksis antibiotik
Infeksi selalu diperhatikan dari adanya alat yang kurang steril.
Infeksi asedens karena manipulasi vagina, sehingga pemberian
antibiotik sangat penting untuk menghindari sepsis sampai
kematian.
g. Mobilisasi penderita
Mobilisasi secara bertahap sangat berguna untuk membantu
jalannya penyembuhan penderita, mencegah terjadinya
trombosis dan emboli.
1) Miring ke kanan dan ke kiri sudah dapat dimulai sejak 6-10
jam setelah penderita sadar. Latihan pernafasan dapat
dilakukan penderita sambil tidur terlentang sedini mungkin
setelah sadar.

viii
2) Pada hari ke-2 penderita didudukkan selama 5 menit dan
diminta untuk bernafas dalam-dalam lalu
menghembuskannya disertai menimbulkan kepercayaannya
bahwa ia mulai pulih.
3) Kemudian posisi tidur terlentang diubah menjadi setengah
duduk
4) Selanjutnya secara berturut-turut, hari demi hari penderita
dianjurkan belajar duduk selama sehari, berjalan-jalan
sendiri pada hari ke-3 sampai 5 pasca bedah.
h. Diit
Pemberian cairan per infus biasanya dihentikan setelah penderita
flatus lalu dimulailah pemberian minuman dan makanan bubur
secara bertahap, minuman air, buah dan susu dan akhirnya
makanan biasa selanjutnya dapat diberikan obat-obatan per oral.
Pemberian makanan rutin tersebut akan berubah, bila dijumpai
komplikasi pada saluran pencernaan seperti adanya kembung
pada perut meteorismus pada peristaltik usus yang kurang
sempurna.

2.4. Tujuan Perawatan Nifas


2.4.1. Untuk memulihkan KU Ibu dan membantu keandaan bayi
2.4.2. Untuk mendapatkan kesehatan emosional
2.4.3. Untuk mencegah infeksi dan komplikasi
2.4.4. Memperlancar ASI
2.4.5. Mendapatkan pendidikan kesehatan selama perawatan

2.5. Pengertian Sectio Sesarea


Sectio sesarea adaah suatu cara melahirkan janin dengan
membuatkan sayatan pada dinding uterus melalui dinding depan
perut/vagina/sectio sesarea adalah suatu insterectomi untuk melahirkan janin
dan jalan lahir.

ix
2.6. Istilah
2.6.1. Sectio sesarea primer (efektif)
Dari semula telah direncanakan bahwa janin akan dilahirkan secara
sectio sesarea tidak diharapkan lagi kelahiran biasa misalnya pada
panggul sempit (CV kecil dari 8 cm).
2.6.2. Sectio sesarea sekunder
Dalam hal ini bersikap mencoba menunggu kelahiran biasa (partus
percobaan). Bila tidak ada kemajuan persalinan baru dilakukan
sectio sesarea.
2.6.3. Sectio sesarea ulang
Ibu pada kehamilan yang mengalami sectio sesarea dan pada
kehamilan selanjutnya dilakukan sectio sesarea ulang.
2.6.4. Sectio sesarea histerektomi
Operasi dimana setelah janin dilahirkan dengan sectio sesarea
langsung dilakukan histerektomi oleh karena suatu indikasi.

2.7. Indikasi
2.7.1. Placenta previa sentralis dan lateralis
2.7.2. Panggul sempit (ev > 8 cm)
2.7.3. Disproporsi sefalo pelvis : kesinambungan antara ukuran kepala dan
panggul
2.7.4. Ruptura uteri mengancam
2.7.5. Partus lama
2.7.6. Partus tak maju
2.7.7. Distosia serviks
2.7.8. Pre eklamsi/ hipertensi
2.7.9. Mal presentasi janin misal letak lintang, letak bokong, defleksi dan
gemelli

x
2.8. Jenis-jenis operasi SC
2.8.1. Seksio sesarea abdominalis
a. Seksio sesarea transperinalis (insisi pada segmen bawah rahim)
b. Seksio sesarea ekstransperinalis (tanpa membuka perineum
berin)
c. Seksio sesarea vagInalis
Menurut arah sayatan pada rahim dapat dilakukan sayatan
memanjang menurut kroning, sayatan melintang menurut Korr
dan sayatan huruf T
d. Seksio sesarea klasik (korporal)
Dilakukan dengan pembuatan sayatan memanjang pada korpus
uteri kira-kira 10 cm
e. Seksio sesarea ismika (profunda)
Dilakukan dengan membuat sayatan melintang konkat pada
segmen bawah rahim kira-kira 10 cm.

2.9. Komplikasi
2.9.1. Infeksi puerpural (nifas)
a. Ringan : dengan kenaikan suhu beberapa hari saja
b. Sedang : dengan kenaikan yang lebih tinggi disertai dehidrasi
dan perut sedikit kembung
c. Berat : dengan peritonitis, sepsis dan ileus paralitik, ini
biasanya dijumpai pada partus terlantar.
2.9.2. Perdarahan disebabkan karena :
a. Banyak pembuluh darah
b. Atonia uteri
c. Perdarahan pada plasenta

xi
2.10. Nasehat Pasca Operasi
2.10.1. Dianjurkan jangan hamil selama kurang sari 1 tahun
2.10.2. Kehamilan berikutnya herndaknya diawasi dengan antenatal yang
baik
2.10.3. Dianjurkan untuk bersalin di rumah sakit yang besar
2.10.4. Apakah persalinan berikutnya harus dengan sesarea tergantung dari
indikasi seksio sesarea dan keadaan pada kehamilan berikutnya
2.10.5. Istirahat cukup personal hygiene
2.10.6. Melakukan perawatan payudara secara teratur
2.10.7. Memenuhi kebutuhan nutrisi dengan makanan yang membanding
gizi seimbang
2.10.8. Perawatan bayi sehari-hari
2.10.9. Susukan bayi segera
2.10.10.Imunisasikan bayi

xii
BAB III
TINJAUAN KASUS

Tanggal/ jam : 18-6-2007 Dokter : Dr. “A”


Tempat: RSUD. Karanganyar Dagnosa : Post partum SC

3.1. Pengkajian
Tanggal / Jam : 20-06-2007 / 09.05 WIB
1. Data Subyektif
a. Biodata
Nama : Ny. E Nama suami : Tn. L
Umur : 27 tahun Umur : 29 tahun
Suku/ bangsa : Jawa/ Indo Suku/ bangsa : Jawa/ Indo
Agama : Islam Agama : Islam
Pendidikan : SLTA Pendidikan : SLTP
Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Swasta
Penghasilan : - Penghasilan : Rp. 1.200.000
Alamat : Mojogedang Karanganyar
b. Keluhan
Ibu mengatakan telah melahirkan dengan operasi caesar satu hari
yang dan Ibu merasa nyeri pada luka jahitan di perut
c. Riwayat Persalinan
- Tempat melahirkan : RS Penolong : Dokter
- Jenis persalinan : SC Komplikasi : plasenta previa
- Lama persalinan : Kala I :8
Kala II : 30
Kala III : 15
- Perdarahan : Kala I : 50 cc
Kala II : 75 cc
Kala III : 50 cc
d. Keadaan Bayi

xiii
- Tanggal dan jam lahir : 18-6-2006 Jam : 10.00 Wib
- BB dan PB : 2800 gr / 49 cm
- Apgan score : 1 ‘ = 9, 5` = 9, 10` = 10
- Cacat bawaan : tidak ada
- Umur kehamilan : 39+2 minggu
e. Riwayat Post Partum
- Keluhan Sekarang : Ibu mengatakan nyeri pada luka operasi
- Pola tidur : 7-8 jam, keluhan : tidak ada
- Eleminasi BAK : terpasang DC 100 cc
- Eleminasi BAB : belum BAB keluhan : belum makan
- Nutrisi : 3 x sehari, keluhan : tidak ada
- Personal hygiene : Mandi 2 x sehari (sibin ), ganti pakaian
f. Data Psikososial
- Tanggapan Ibu terhadap kelahiran bayinya
Ibu mengatakan sangat senang dengan kelahiran bayinya
- Tanggapan suami dan keluarga terhadap kelahiran bayinya
Suami dan keluarga sangat senang dan bahagia dengan kelahiran
bayi tersebut
- Dukungan yang diberikan suami dan keluarga
Semua anggota keluarga sangat mendukung atas kelahiran
bayinya
- Rencana / pengalaman menyusui ada
Ada rencana untuk menyusui
- Pengetahuan Ibu tentang perawatan bayi
Ibu mengatakan tahu tentang perawatan bayi
- Pengetahuan Ibu tentang senam nifas
Ibu tidak tahu bagaimana cara senam nifas
g. Kontrasepsi : 5 waktu
- Kontrasepsi yang pernah digunakan : suntik
- Lamanya : 2 tahun
- Keluhan :-

xiv
- Rencana KB : ada
- Jenis kontrasepsi : suntik
- Kapan : setelah
melahirkan
- Tanggapan suami : suami mengizinkan
- Jumlah anak yang diinginkan : 5 anak
2. Data Obyektif
a. Pemeriksaan Umum
Keadaan umum : baik kesadaran : composmentis
Vital sign : T : 120 / 80 mmHg R : 24 x/menit
N : 80 x/menit S : 370 C
b. Pemeriksaan Kebidanan
- Kepala dan wajah
 Rambut : warna : hitam, pertumbuhan rambut : baik, tidak
ada lesi ataupun oedem
 Mata : Konjungtiva anemis : tidak sekret : tidak ada
 Sklera : tidak ikterik
 Hidung : sekret : tidak ada, perdarahan : tidak ada, polip :
tidak ada
 Mulut : Lidah : tidak kotor, warna merah dan simetris
Gigi : tidak ada karang gigi dan caries tdk ada
Gusi : warna merah, oedem tidak ada
Bibir : warna merah, simetris dan tidak ada lesi
kelembaban cukup, tidak ada
pembengkakan tidak ada
- Leher : simetris, tidak ada masa, kekakuan tidak ada
Kelenjar tyroid : tidak ada pembesaran
Kelenjar parotis : tidaka ada pembengkakan
- Dada : bentuk simetris
Payudara : ada pembesaran dan simetris
Warna kecoklatan, puting susu menonjol
Hiperpigmentasi ada, pengeluaran tidak ada
Jenis colostrum, tidak ada masa, tidak nyeri

xv
Abdoment : TFU 2 jari bawah pusat, kontraksi baik,
konsistensi kuat
- Genetalia : tidak ada oedem, tidak ada varises, PPV : loche
rubra, infeksi tidak ada, tidak ada pembesaran kel-
Bartholini, tidak ada luka pada perineum, anus
tidak ada hemoroid, kelainan tidak ada
- Ekestremitas: Tidak ada oedem, kuku jari tidak pucat, tidak ada
varices, reflek patella +/+
c. Pemeriksaan Penunjang
- Pemeriksaan Laborat : Hb : 10,5 % ( N :12 – 14 gr %)
Golongan darah : B
Leukosit : 10,3.103 UI (4,5-11.00.103 Ul)
- Rontgen : tidak dilakukan
d. Pengobatan
- Injeksi Vit C 3 x 1
- Cefotaxim 18 jam 3 x 1 Ampul
- Dolano 18 jam 3 x 1 Ampul
- Alinamin F1 amp / 8 jam

3.2. Interpretasi Data


Tanggal : 20 – 6 – 2007 Jam : 09.45 Wib
1. Diagnosa Kebidanan
Ibu umur 27 tahun Post SC hari ke 2 atas indikasi plasenta previa
2. Dasar : S : Ibu mengatakan telah melahirkan bayi melalui operasi
dan myeri pada luka bekas operasi
O : Keadaan umum : baik kesadaran : composmentis
VS : T : 120 / 80 mmHg S : 370 C
N : 80 x/menit R : 24 x /menit
TFU 2 jari dibawah pusat, kontraksi uterus baik
PPV : lochea rubra, bau amis
Jahitan abdoment sebanyak 10 jahitan

xvi
3. Masalah
Nyeri luka jahitan post SC
Dasar : S : Ibu mengatakan nyeri pada luka bekas operasi
O : Terdapat luka jahitan pada abdomen sebanyak 10 luka
jahitan masih basah
Wajah ibu tampak pucat dan merintih kesakitan
4. Kebutuhan
- KIE tentang cara perawatan luka bekas operasi
Dasar S : Ibu mengatakan nyeri pada luka bekas operasi
O : Terdapat jahitan abdomen sebanyak 10 jahitan
luka jahitan masih basah
- KIE penyebab tentang perawatan payudara
Dasar S : Ibu mengatakan ASI belum keluar lancar
O : ASI belum keluar untuk diidap bayi

3.3. Diagnosa Potensial


Potensial terjadinya infeksi

3.4. Antisipasi
1. Observasi tanda infeksi
2. Medikasi bekas luka operasi dengan teknik septik aseptik

3.5. Intervensi
1. Observasi KU dan vital sign
2. Observasi TFU
3. Observasi kontraksi uterus
4. Observasi PPV (jenis, warna dan bau)
5. Ajarkan ibu untuk menjaga kebersihan diri
6. Medikasi luka bekas operasi setiap pagi dengan teknik septik aseptik
7. Ajarkan pada ibu tentang perawatan luka bekas operasi
8. Ajarkan pada ibu untuk mobilisasi dini
9. Jelaskan pada ibu tentang perawatan luka bekas operasi
10. Jelaskan pada ibu tentang perawatan payudara dan manfaatnya

xvii
11. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian terapi
12. Injeksi :
- Injeksi Vit C 3 x 1
- Cefotaxim / 8 jam 3 x 1 Ampul
- Dolano / 8 jam 3 x 1 Ampul
- Alinamin F1 amp / 2 jam

3.6. Impelmentasi
1. Mengobservasi KU dan vital sign
2. Mengobservasi TFU
3. Mengobservasi kontraksi uterus
4. Mengobservasi PPV (jenis, warna dan bau)
5. Mengajarkan ibu untuk menjaga kebersihan diri
6. Melakukan medikasi luka bekas operasi setiap pagi dengan teknik
septik aseptik
7. Mengajarkan pada ibu tentang perawatan luka bekas operasi
8. Mengajarkan pada ibu untuk mobilisasi dini
9. Menjelaskan pada ibu tentang perawatan luka bekas operasi
10. Menjelaskan pada ibu tentang perawatan payudara dan manfaatnya
11. Melakukan kolaborasi dengan dokter untuk pemberian terapi
12. Melakukan injeksi :
- Injeksi Vit C 3 x 1
- Cefotaxim / 8 jam 3 x 1 Ampul
- Dolano / 8 jam 3 x 1 Ampul
- Alinamin F1 amp / 2 jam

3.7. Evaluasi
1. KU baik, kesadaran composmentis
2. Vital Sign :
Tensi : 120/80 mmHg Respirasi : 24 x/menit
Nadi : 80 x/menit Suhu : 370 C
3. TFU 2 jari bawah pusat, kontraksi uterus baik
4. PPV jenis lochea rubra, warna merah, bau anyir

xviii
5. Tidak ada tanda-tanda infeksi
6. Luka bekas operasi masih basah
7. Ibu sudah tahu cara perawatan payudara dan manfaatnya
8. Terapi masih dilanjutkan

DATA PERKEMBANGAN HARI KE-III


Tanggal : 21 -06 - 2007 Jam : 10.00 Wib
S : Ibu mengatakan sudah melakukan mobilisasi, sudah flaktus, sudah minum
dan nyeri bekas luka operasi
O : KU : Baik Kesadaran : Composmentis
VS : T : 120/80 mmHg R : 24 x/menit
N : 82 x/menit S : 370 C
TFU 2 jari dibawah pusat, kontraksi uterus baik
PPV : jenis lochea rubra, warna merah bau anyir
Luka bekas operasi masih basah
A : Ibu umur 27 tahun post partum SC hari ke-III
1. Masalah
- Nyeri pada luka bekas operasi
2. Kebutuhan
- Informasi tentang penyebab nyeri yang dialami dan cara
perawatannya
P : - Observasi KU dan VS
- Observasi TFU, kontraksi uterus, PPV (jenis, warna dan bau)
- Jelaskan pada ibu penyebab nyeri yang terjadi
- Anjurkan pada ibu untuk menjaga kebersihan dirinya
- Medikasi luka bekas operasi setiap pagi dengan teknik septik dan
aseptik
- Anjurkan pada ibu untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi
- Anjurkan pada ibu untuk mobolisasi dini
- Jelaskan pada ibu tentang perawatan payudara dan manfaatnya
- Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian terapi

xix
DATA PERKEMBANGAN HARI KE-IV
Tanggal : 22 -06 - 2007 Jam : 14.45 Wib
S : Ibu mengatakan sudah bisa berjalan, ASI sudah lancar, makan bubur nasi
O : KU : Baik Kesadaran : Composmentis
VS : T : 120/80 mmHg R : 20 x/menit
N : 84 x/menit S : 360 C
TFU 3 jari dibawah pusat
Kontraksi uterus baik
PPV : jenis lochea sanguileta + 10 cc
Makan berupa bubur nasi
A : Ibu umur 27 tahun post partum SC hari ke-IV
P : - Observasi KU dan VS
- Observasi PPV
- Observasi kontraksi uterus
- Ajarkan pada ibu perawatan tali pusat
- Ajarkan ibu cara memandikan bayi
- Ajarkan pada ibu untuk tetap menjaga kebersihan diri
- Ibu diperbolehkan pulang dengan petunjuk dokter
- Anjurkan pada ibu untuk kontrol 1 minggu lagi

xx
BAB IV
PENUTUP

4.1. Kesimpulan
Setelah penulis melakukan kunjungan asuhan kebidanan pada Ny. E nifas
dengan post SC, penulis dapat mengambil kesimpulan :
4.1.1. Dengan menggunakan manajemen kebidanan menurut Varney dan
SOAP dapat meningkatkan kemampuan bidan dalam hal pengetahuan
ketrampilan dan sikap yang harus dilakukan bidan dalam memberikan
asuhan kebidanan secara tepat, cermat dan menyeluruh.
4.1.2. Dengan mengetahui dan memahami teori yang ada akan
memudahkan kita untuk menangani kesulitan dan hambatan yang
mungkin terjadi selama nifas
4.1.3. Selama melaksanakan asuhan kebidanan tidak ditemukan
kesenjangan antara teori dan praktik

4.2. Saran
4.2.1. Bagi Bidan
Hendaknya bidan selalu meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan
sesuai dengan perkembangan IPTEK
4.2.2. Bagi Tim Kesehatan
Diharapkan kerja samanya dalam mengatasi masalah yang timbul
baik berupa rujukan maupun kolaborasi
4.2.3. Bagi Pasien
Setelah diberi asuhan pasien diharapkan bisa menemukan secara dini
kemungkinan adanya faktor resiko dan komplikasi sehingga pasien
dapat menentukan sikap atau mengambil keputusan sendiri.

xxi
DAFTAR PUSTAKA

Manuaba, I.B.G. 1998. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan KB untuk


Pendidikan Bidan. Jakarta : EGC

Syaifuddin, A. B. 2001. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan maternal dan


Neonatal. Jakarta : YBP. Sarwono

Winkjosastro, H. 1999. Ilmu Kebidanan. Jakarta : YBP. Sarwono

xxii