Anda di halaman 1dari 31

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 CT SCANNER
Computer Tomography (CT) Scanner merupakan alat diagnostik dengan
teknik radiografi yang menghasilkan gambar potongan tubuh secara melintang
berdasarkan penyerapan sinar-x pada irisan tubuh yang ditampilkan pada layar
monitor. CT-Scan merupakan alat penunjang diagnosa yang mempunyai aplikasi
yang universal untuk pemeriksaan seluruh organ tubuh, seperti sususan saraf
pusat, otot dan tulang, tenggorokan, hingga rongga perut. Pada tahun 1972,
Godfrey N. Hounsfield dan J. Ambrose yang bekerja di Central Research Lab of
EMI, di Inggris menghasilkan Gambar klinis pertama dengan CT-Scan
(Computed Tomography Scan). Dan merupakan tanda awal perkembangan
diagnostic imajing. Dua tahun kemudian, enam puluh unit CT terpasang, yang
digunakan hanya terbatas pada pemeriksaan CT kepala saja, namun pada tahun
1975 digunakan untuk CT-Scan seluruh tubuh atau Whole Body scanner untuk
pertama kalinya, sehingga tahun 1979, Hounsfield dan Cormack dianugerahi
hadiah nobel. Sepuluh tahun kemudian, W.A. Kalender dan P. Vock melakukan
pemeriksaan klinis pertama dengan menggunakan Spiral CT. Dan pada tahun
1998 awal Multi Slice CT (MSCT) dengan 4 slice diperkenalkan. Pada tahun
2000 dikembangkan PET/CT system, kemudian di tahun 2001 telah
dikembangkan CT Scan 16 slice. Pada tahun 2004 dikembangkan teknik CT Scan
64 slice untuk aplikasi klinik, seperti pemeriksaan untuk memperjelas adanya
dugaan yang kuat antara suatu kelainan, yaitu : Gambaran lesi dari tumor,
hematoma dan abses, Perubahan vaskuler: malformasi, naik turunnya
vaskularisasi dan infark, Braincontusion, Brainatrofi, Hydrocephalus, dan
Inflamasi.

5
6

2.2 Dasar-dasar Dan Komponen Computed Tomography (CT) Scan.

Bebarapa Generasi CT-Scan Sebagai Berikut:


1. Scanner Generasi Pertama
Prinsip scanner generasi pertama, menggunakan pancaran sinar-X model
pensil yang diterima oleh satu detektor. Waktu yang dicapai 4,5 menit untuk
memberi informasi yang cukup pada satu slice dari rotasi tabung dan detektor
sebesar 180 derajat. Scanner ini hanya mampu digunakan untuk pemeriksaan
kepala saja (Bontrager, 2010).

2. Scanner Generasi Kedua


Scanner generasi ini mengalami perkembangan besar dan memberikan
pancaran sinar-X model kipas dengan menaikkan jumlah detektor sebanyak lebih
dari 30 buah. Dengan waktu scanning yang sangat pendek, yaitu antara 15 detik
per slice atau 10 menit untuk 40 slice (Bontrager, 2010).
3. Scanner Generasi Ketiga
Scanner generasi ketiga ini, dengan kenaikan 960 detektor yang meliputi
bagian tepi, berhadapan dengan tabung sinar-X yang saling rotasi memutari
pasien dengan membentuk lingkaran 360º secara sempurna untuk menghasilkan
satu slice data jaringan. Waktu scanning pada scanner generasi ketiga ini
berkurang sangat signifikan jika dibandingkan dengan scanner generasi pertama
dan kedua (Bontrager, 2010).

4. Scanner Generasi Keempat


Sekitar tahun 1980 scanner generasi ini diperkenalkan dengan teknologi
fixed-ring yang mempunyai 4800 detektor atau lebih. Saat pemeriksaan
berlangsung, X-ray tube mampu berputar 360 derajat mengelilingi pasien yang
diam (Bontrager, 2010).

5. Scanner Generasi Kelima (Electron Beam Technique)


Pada Electron Beam Technique tidak menggunakan tabung sinar-x, tapi
menggunakan electron gun yang memproduksi pancaran electron berkekuatan 130
KV. Pancaran electron difokuskan oleh electro-magnetic coil menuju fokal spot
pada ring tungsten. Proses penumbukkan electron pada tungsten menghasilkan
7

energy sinar-x. Sinar-x akan keluar melewati kolimator yang membentuknya


menjadi pancaran fan beam. Kemudian sinar-x akan mengenai obyek dan hasil
atenuasinya akan mengenai solid state detector dan selanjutnya prosesnya sama
dengan prinsip kerja CT Scan yang lain. Perbedaannya hanya pada pembangkit
sinar-x nya bukan menggunakan tabung sinar-x tetapi menggunakan electron gun.

6. Scanner Generasi Keenam (Spiral / Helical CT)


Akuisisi data dilakukan dengan meja bergerak sementara tabung sinar-x
berputar, sehingga gerakan tabung sinar-x membentuk pola spiral terhadap pasien
ketika dilakukan akuisisi data.Pola spiral ini diterapkan pada konfigurasi
rancangan CT generasi ketiga dan keempat.
Pengembangan dari generasi III dan IV
X-ray : wide fan beam
Gerakan : stationary-rotate system scanning (spiral CT)
Detektor : multi detector (424-2400) slip ring detector
Rotasi : 360 derajat
Waktu : <10 detik / scan slice
App : whole body scanner (multi slice, 3D, 4D)

7. Scanner Generasi Ketujuh (Multi Array Detector CT / Multi Slice CT)


Dengan menggunakan multi array detector, maka apabila kolimator dibuka
lebih lebar maka akan dapat diperoleh data proyeksi lebih banyak dan juga
diperoleh irisan yang lebih tebal sehingga penggunaan energy sinar-x menjadi
lebih efisien.

8. Scanner Generasi Kedelapan (Dual Source CT)


Dual Source CT (DSCT) menggunakan dua buah tabung sinar-x dan
terhubung pada dua buah detector. Masing-masing tabung sinar-x menggunakan
tegangan yang berbeda. Yang satu menggunakan tegangan tinggi (biasanya sekitar
140 KV) dan tabung yang lainnya menggunakan tegangan rendah (sekitar 80
KV). DSCT berguna untuk menentukan jenis bahan atau zat.
8

Dari perkembangan teknologi CT Scan dapat diperoleh indicator


perkembangannya sebagai berikut :
 Makin compact / ringkas komponennya  Makin banyak manfatnya

 Makin cepat scanning time nya  Makin kecil bahayanya.

 Makin halus resolusinya  Makin luas dimensinya

 Makin banyak slice nya

2.2.1 Komponen Dasar CT Scan.

CT Scan memiliki komponen utama yaitu : Komputer, gantry dan


meja pemeriksaan (couch), serta operator konsul. Gantry dan couch berada di
dalam ruang pemeriksaan sedangkan komputer dan operator konsul diletakkan
terpisah dalam ruang kontrol.
1. Komputer
Komputer menyediakan link diantara radiografer dengan komponen lain
dari sistem imejing. Komputer dalam CT Scan mempunyai 4 fungsi dasar, yaitu :
sebagai kontrol akuisisi data, rekonstruksi gambar, penyimpanan data gambar, dan
menampilkan gambar scanning.

2. Gantry dan meja pemeriksaan (couch)


Gantry adalah perangkat CT yang melingkar sebagai rumah dari tabung
sinar-x, Data Acquisition System (DAS), dan detector array. Unit CT terbaru juga
memuat continuous slip ring dan generator bertegangan tinggi di dalam gantry.
Struktur pada gantry mengumpulkan pengukuran atenuasi yang diperlukan untuk
dikirim kekomputer untuk rekonstruksi citra. Gantry bisa disudutkan kedepan
dan kebelakang hingga 300 untuk menyesuaikan bagian tubuh. Meja pemeriksaan
merupakan tempat untuk memposisikan pasien, biasanya terhubung otomatis
dengan komputer dan gantry. Meja ini terbuat dari kayu atau fiber karbon yang
dapat digunakan untuk mendukung pemeriksaan tetapi tidak menimbulkan artefak
pada gambar scanning.Kebanyakan dari meja pemeriksaan dapat diprogram untuk
bergerak keluar dan masuk gantry, tergantung pada pasien dan protokol
pemeriksaan yang digunakan.
9

3. Tabung sinar-X
Berdasarkan strukturnya, tabung sinar-X sangat mirip dengan tabung sinar-
X konvensional tetapi perbedaanya terletak pada kemampuannya untuk menahan
panas dan output yang tinggi.

2.3. Prinsip Kerja

Prinsip dasar CT scan mirip dengan perangkat radiografi yang sudah lebih
umum dikenal. Kedua perangkat ini sama-sama memanfaatkan intensitas radiasi
terusan setelah melewati suatu obyek untuk membentuk citra/gambar. Perbedaan
antara keduanya adalah pada teknik yang digunakan untuk memperoleh citra dan
pada citra yang dihasilkan. Tidak seperti citra yang dihasilkan dari teknik
radiografi, informasi citra yang ditampilkan oleh CT scan tidak tumpang tindih
(overlap) sehingga dapat memperoleh citra yang dapat diamati tidak hanya pada
bidang tegak lurus berkas sinar (seperti pada foto rontgen), citra CT scan dapat
menampilkan informasi tampang lintang obyek yang diinspeksi. Oleh karena itu,
citra ini dapat memberikan sebaran kerapatan struktur internal obyek sehingga
citra yang dihasilkan oleh CT scan lebih mudah dianalisis daripada citra yang
dihasilkan oleh teknik radiografi konvensional.
CT Scanner menggunakan penyinaran khusus yang dihubungkan dengan
komputer berdaya tinggi yang berfungsi memproses hasil scan untuk memperoleh
gambaran panampang-lintang dari badan. Pasien dibaringkan diatas suatu meja
khusus yang secara perlahan – lahan dipindahkan ke dalam cincin CT Scan.
Scanner berputar mengelilingi pasien pada saat pengambilan sinar rontgen. Waktu
yang digunakan sampai seluruh proses scanning ini selesai berkisar dari 45 menit
sampai 1 jam, tergantung pada jenis CT scan yang digunakan( waktu ini termasuk
waktu check-in nya). Proses scanning ini tidak menimbulkan rasa sakit . Sebelum
dilakukan scanning pada pasien, pasien disarankan tidak makan atau meminum
cairan tertentu selama 4 jam sebelum proses scanning. Bagaimanapun, tergantung
pada jenis prosedur, adapula prosedur scanning yang mengharuskan pasien untuk
meminum suatu material cairan kontras yang mana digunakan untuk melakukan
proses scanning khususnya untuk daerah perut.
10

Gambar 2.1. Prinsip Kerja CT Scanner (Bushberg 2003).

Dengan menggunakan tabung sinar-x sebagai sumber radiasi yang berkas


sinarnya dibatasi oleh kollimator, sinar x tersebut menembus tubuh dan diarahkan
ke detektor. Intensitas sinar-x yang diterima oleh detektor akan berubah sesuai
dengan kepadatan tubuh sebagai objek, dan detektor akan merubah berkas sinar-x
yang diterima menjadi arus listrik, dan kemudian diubah oleh integrator menjadi
tegangan listrik analog. Tabung sinar-x tersebut diputar dan sinarnya di
proyeksikan dalam berbagai posisi, besar tegangan listrik yang diterima diubah
menjadi besaran digital oleh analog to digital Converter (A/DC) yang kemudian
dicatat oleh komputer. Selanjutnya diolah dengan menggunakan Image Processor
dan akhirnya dibentuk gambar yang ditampilkan ke layar monitor TV. Gambar
yang dihasilkan dapat dibuat ke dalam film dengan Multi Imager atau Laser
Imager.Berkas radiasi yang melalui suatu materi akan mengalami pengurangan
intensitas secara eksponensial terhadap tebal bahan yang dilaluinya. Pengurangan
intensitas yang terjadi disebabkan oleh proses interaksi radiasi-radiasi dalam
bentuk hamburan dan serapan yang probabilitas terjadinya ditentukan oleh jenis
bahan dan energi radiasi yang dipancarkan. Dalam CT scan, untuk menghasilkan
citra obyek, berkas radiasi yang dihasilkan sumber dilewatkan melalui suatu
bidang obyek dari berbagai sudut. Radiasi terusan ini dideteksi oleh detektor
untuk kemudian dicatat dan dikumpulkan sebagai data masukan yang kemudian
11

diolah menggunakan komputer untuk menghasilkan citra dengan suatu metode


yang disebut sebagai rekonstruksi.

2.4 Sistem CT Scanner

Peralatan CT Scanner terdiri atas tiga bagian yaitu sistem pemroses citra,
sistem komputer, dan sistem kontrol.
Sistem pemroses citra merupakan bagian yang secara langsung
berhadapan dengan obyek yang diamati (pasien). Bagian ini terdiri atas sumber
sinar-x, sistem kontrol, detektor dan akusisi data. Sinar-x merupakan radiasi yang
merambat lurus, tidak dipengaruhi oleh medan listrik dan medan magnet dan
dapat mengakibatkan zat fosforesensi dapat berpendar. Sinar-x dapat menembus
zat padat dengan daya tembus yang tinggi. Untuk mengetahui seberapa banyak
sinar-x dipancarkan ke tubuh pasien, maka dalam peralatan ini juga dilengkapi
sistem kontrol yang mendapat input dari komputer. Bagian keluaran dari sistem
pemroses citra, adalah sekumpulan detektor yang dilengkapi sistem akusisi data.
Detektor adalah alat untuk mengubah besaran fisikdalam hal ini radiasi-menjadi
besaran listrik. Detektor radiasi yang sering digunakan adalah detektor ionisasi
gas. Jika tabung pada detektor ini ditembus oleh radiasi maka akan terjadi
ionisasi. Hal ini akan menimbulkan arus listrik. Semakin besar interaksi radiasi,
maka arus listrik yang timbul juga semakn besar. Detektor lain yang sering
digunakan adalah detektor kristal zat padat. Susunan detektor yang dipasang
tergantung pada tipe generasi CT Scanner. Tetapi dalam hal fungsi semua detektor
adalah sama yaitu mengindentifikasi intensitas sina-x seletalh melewati obyek.
Dengan membandingkan intensitas pada sumbernya, maka atenuasi yang
diakibatkan oleh propagasi pada obyek dapat ditentukan. Dengan menggunakan
sistem akusisi data maka datadata dari detektor dapat dimasukkan dalam
komputer.
12

2.5 System console

Konsul tersedia dalam berbagai variasi. Model yang lama masih


menggunakan dua sistem konsul yaitu untuk pengoperasian CT Scan sendiri dan
untuk perekaman dan pencetakan gambar. Bagian dari sistem konsul ini yaitu :

1. Sistem Kontrol
Pada bagian ini petugas dapat mengontrol parameter-parameter yang
berhubungan dengan beroperasinya CT Scan seperti pengaturan tegangan tabung
(kV), arus tabung (mA), waktu scanning, ketebalan irisan (slice thickness), dan
lain-lain. Juga dilengkapi dengan keyboard untuk memasukkan data pasien dan
pengontrolan fungsi tertentu pada komputer.

2. Sistem Pencetakan Gambar


Setelah gambaran CT Scan diperoleh, gambaran tersebut dipindahkan ke
dalam bentuk film. Pemindahan ini dengan menggunakan kamera multiformat.
Cara kerjanya yaitu kamera merekam gambaran di monitor dan memindahkannya
ke dalam film. Tampilan gambar di film dapat mencapai 2-24 gambar tergantung
ukuran filmnya (biasanya 8 x 10 inchi atau 14 x 17 inchi).

3. Sistem Perekaman Gambar


Merupakan bagian penting yang lain dari CT Scan. Data-data pasien yang
telah ada, disimpan dan dapat dipanggil kembali dengan cepat.

4. Display Monitor
Berguna untuk menampilkan data gambar CT scan pada layar monitor.
Untuk citra CT scan agar bisa ditampilkan pada layar monitor Cathode Ray Tube
(CRT) harus dalam bentuk yang dapat dikenali komputer, data CT digital harus
dikonversikan menjadi gambar gray-scale. Data digital gambar CT dapat
dimanipulasi untuk memperkuat tampilan gambar.

5. Multiplanar Reconstruction (MPR)


Keuntungan lain dari gambar digital CT yang asli adalah kemampuan untuk
merekonstruksi gambar axial menjadi coronal, sagital atau oblik tanpa tambahan
radiasi yang diterima pasien. Rekonstruksi citra dalam berbagai bidang didapatkan
13

dengan menumpuk beberapa gambar axial yang berdekatan membuat data


volume. Karena nomor CT dari data gambar dalam volume sudah diketahui,
potongan gambar dapat dihasilkan dalam berbagai bidang yang diinginkan dengan
memilih bidang tertentu pada suatu data.

2.6 Parameter CT Scan

Gambar pada CT Scan dapat terjadi sebagai hasil dari berkas-berkas sinar-X
yang mengalami perlemahan setelah menembus objek, ditangkap detektor, dan
dilakukan pengolahan dalam komputer. Sehubungan dengan hal tersebut, maka
dalam CT Scan dikenal beberapa parameter untuk pengontrolan eksposi dan
output gambar yang optimal.Adapun beberapa parameter dalam CT-Scan Sebagai
Berikut :

a. Slice Thickness
Slice thickness adalah tebalnya irisan atau potongan dari objek yang
diperiksa. Pada umumnya ukuran yang tebal akan menghasilkan gambaran dengan
detail yang rendah, sebaliknya ukuran yang tipis akan menghasilkan gambaran
dengan detail yang tinggi. Jika ketebalan irisan semakin tinggi, maka gambaran
akan cenderung terjadi artefak, dan jika ketebalan irisan semakin tipis, maka
gambaran cenderung akan menjadi noise.

Nilai slice thickness pada teknologi Multi-Slice CT (MSCT) dapat dipilih


antara 0,5 mm-10 mm sesuai dengan keperluan klinis. Setiap generasi MSCT,
mempunyai ketebalan slice yang berbeda (CTisus, 2012).Pemilihan slice
thickness pada saat pembuatan gambar CT Scan mempunyai pengaruh langsung
terhadap spatial resolusi yang dihasilkan. Dengan slice thickness yang meningkat
(tipis) maka spasial rasolusi gambar semakin baik, demikian sebaliknya. Namun
pengaruh yang berbeda terhadap dosis radiasi yang diterima oleh pasien.
Semakain tipis irisan, dosis radiasi semakin tinggi dan berlaku sebaliknya.pada
volume CT singel slice, ketebalan irisan/ slice thickness dari irisan ditentukan
oleh picth dan lebar dari precollimator (yang juga definisikan sebagai beam with
[BW]) pada pusat dari rotasi. Beam with (BW) diukur pada poros-z pada pusat
dari rotasi untuk singel row detector array, dan digambarkan oleh lebar
14

precollimator. Lebar dari precollimator menggambarkan ketebalan irisan/ slice


thickness (z axis resolusi atau spatial resolusi) dan pengaruh volume coveage
terhadap kecepatan kinerja,(Seeram, 2001).
Slice thickness yang tebal akan menghasilkan contrast resolusi yang baik
(SNR baik), tetapi spatial resolution pada slice thickness yang tebal akan
tereduksi. Bentuk slice sensitivity profile untuk singel detektor merupakan
konsekwensi dari : terbatasnya lebar dari focal spot, penumbra dari kolimator,
faktor gambaran komputer dari jumlah sudut projeksi yang melingkari pasien.
Pada helical scan meliliki slice sensitivity profile sedilit lebih luas untuk translasi
pasien selama scanning (Bushberg, 2003).
Pada CT multislice, slice thickness dari irisan yang ditentukan oleh beam
with (BW), picth dan faktor yang lain seperti bentuk dan lebar dari filter
rekonstruksi pada poros-z. Beam with (BW) masih didefinisikan pada poros-z
pada pusat rotasi tapi pada multislice digunakan untuk empat baris detektor array.
Lebar beam with digunakan untuk empat irisan dan ditentukan oleh precollimator
(Seeram, 2001).

b. Range
Range adalah perpaduan atau kombinasi dari beberapa slice thickness.
Sebagai contoh untuk CT Scan kepala, range yang digunakan adalah dua. Range
pertama lebih tipis dari range kedua. Range pertama meliputi irisan dari basis
cranii hingga pars petrosum dan range kedua dari pars petrosum hingga verteks.
Pemanfaatan dari range adalah untuk mendapatkan ketebalan irisan yang berbeda
pada satu lapangan pemeriksaan.

c. Volume Investigasi
Volume investigasi adalah keseluruhan lapangan dari objek yang diperiksa.
Lapangan objek ini diukur dari batas awal objek hingga batas akhir objek yang
akan diiris semakin besar.

d. Faktor Eksposi
Faktor eksposi adalah faktor-faktor yang berpengaruh terhadap eksposi
meliputi tegangan tabung (kV), arus tabung (mA) dan waktu (S). Besarnya
tegangan tabung dapat dipilih secara otomatis pada tiap-tiap pemeriksaan. Image
15

quality tergantung pada produksi sinar-X yang berarti pula dipengaruhi oleh mili
ampere (mA), waktu (s) dan tegangan tabung (kV). Salah satu usaha dalam
pengendalian Image noise pada gambaran CT Scan adalah dengan melakukan
pemilihan kV yang tepat pada saat scanning dengan harapan dapat memberikan
kualitas hasil yang optimum dalam rangka menegakkan diagnosis.
Menurut Sharma (2006) pemilihan kV mengacu pada efektivitas energi
yaitu 80 kV, 110 kV dan 130 kV. Pemilihan tegangan yang tinggi antara rentang
80–140 kV direkomendasikan untuk menghasilkan resolusi yang tinggi. Efek
yang ditimbuslkan dari pemilihan kV telah diteliti untuk pesawat CT Scan Siemes
Emotion, di mana penurunan kV diikuti dengan peningkatan fluktuasi CT number
(noise). Penelitian tersebut sebagai dasar estimasi efek dari variasi perbedaan
penggunaan voltage( kV) pada pesawat CT Scan Siemes Emotion (Brindha,
Subramanian dkk, 2006). Hal tersebut diperkuat dengan pernyataan dalam buku
petunjuk Equitment Specification Detail untuk pesawat Siemen Emotion,
parameter untuk tegangan tabung sinar-X yang tersedia adalah 80 kV, 110 kV dan
130 kV dengan mA : 20-240, Daya maksimal 40 kW. Homogenitas CT number
air pada 110 kV dan 130 kV kurang dari 1 HU.

e. Field of View (FOV)


Field of view (FOV) adalah diameter maksimal dari gambaran yang akan
direkonstruksi. Besarnya bervariasi dan biasanya berada pada rentang 12-50 cm.
Field of view (FOV) kecil, antara 100 mm sampai dengan 200 mm akan
meningkatkan resolusi sehingga detail gambar dan batas objek akan tampak jelas.
Field of View (FOV) kecil akan menyebabkan noise meningkat. Field of View
(FOV) sedang, yaitu 200 mm diharapkan gambar yang dihasilkan memiliki spasial
resolusi yang baik, noise serta artefak sedikit. Field of View (FOV) besar, antara
350 mm sampai dengan 400 mm akan menghasilkan spasial resolusi yang rendah
karena pixel menjadi besar akibat dilakukannya magnifikasi. Field of View (FOV)
besar akan menyebabkan noise berkurang dan kontras resolusi meningkat serta
dapat dihindari munculnya streak artifact.
16

f. Gantry Tilt
Gantry tilt adalah sudut yang dibentuk antara bidang vertikal dengan gantry
(tabung sinar-X dengan detektor). Gantry tilt dapat disudutkan ke depan dan ke
belakang sebesar 300. Gantry tilt bertujuan untuk keperluan diagnosa dari masing-
masing kasus yang dihadapi, dan menentukan sudut irisan dari objek yang akan
diperiksa. Di samping itu, bertujuan untuk mereduksi dosis radiasi terhadap
organ-organ yang sensitif seperti mata .

g. Window Width
Window Width adalah rentang nilai computed tomography yang dikonversi
menjadi gray level untuk ditampilkan dalam TV monitor dengan satuan HU
(Hounsfield Unit). Menurut Amarudin (2007), window width yang sempit akan
menghasilkan image yang memiliki kontras yang tinggi, tetapi struktur di luar
window tidak terepresentasikan bahkan terabaikan. Sementara bila mengunakan
window yang luas, perbedaan kepadatan yang kecil akan terlihat homogen dan
data akan termasking (tertutup/ tersembunyi). Amarudin merkomendasikan teknik
doubel window yaitu teknik untuk mendisplaykan dua tipe jaringan yang
perbedaan kepadatannya sangat besar (paru dan usus halus). Teknik ini baik untuk
diagnosis (Amarudin 2007). Secara umum, dapat terlihat perubahan kontras pada
citra CT scan dengan merubah WW. Pada saat WW tinggi (wide WW), pada paru-
paru, jaringan hati dan tulang pelvis memiliki kesamaan tingkatan keabu-abuan
(bottom of diagram). Dengan narrow WW, terdapat ketajaman kontras kehitaman
pada daerah paru, putih pada tulang dan jaringan hati menunjukkan keabu-abuan.
Sehingga, kontras citra CT scan dapat diatur dengan medium WW (middle of
diagram) Menurut Berland (1987).

h. Window Level
Window level (WL) adalah nilai tengah CT number pada window width
(WW) dan menunjukan nilai keabu-abuan. Pada saat mengatur WL paru-paru
(nilai CT number rendah), citra dapat dioptimalkan pada struktur paru-paru,
jaringan hati dan tulang pelvis terlihat putih. Pada pengaturan yang lain, WL pada
tulang pelvis (nilai CT number tinggi), struktur tulang pelvis, paru-paru dan hati
17

akan terlihat lebih hitam. Sehingga, pengaturan WL pada (middle CT number)


struktur pelvis, paru-paru dan hati akan terlihat optimal.
Pengaruh pengaturan WL (WW tetap) Pada saat WL naik dari +50
menjadi +200, perubahan gambar dari putih menjadi hitam. Nilai WL dengan CT
number tinggi (putih), semakin tinggi nilai CT number mengakibatkan gambaran
terliaht hitam Menurut (Berland 1987).

2.7 Proses pembentukan gambar pada CT Scan

Pembentukan gambar oleh CT Scanner terdiri atas tiga tahap, yaitu :


akuisisi data; rekonstruksi citra; dan tampilan gambar, manipulasi,
penyimpanan, perekaman dan komunikasi (Seeram, 2001).

2.7.1 Akuisisi Data


Akusisi data berarti kumpulan hasil penghitungan transmisi sinar-X setelah
melalui tubuh pasien. Sekali sinar-X menembus pasien, berkas tersebut diterima
oleh detektor khusus yang menghitung nilai transmisi atau nilai atenuasi
(penyerapan).
Penghitungan transmisi yang cukup atau data harus terekam sebagai syarat
proses rekonstruksi. Pada skema kumpulan data yang pertama kali tabung sinar-X
dan detektor bergerak pada garis lurus atau translasi melewati kepala pasien,
mengumpulkan hasil penghitungan transmisi selama pergerakan dari kiri ke
kanan. Lalu sinar-X berotasi 1 derajat dan mulai lagi melewati kepala pasien, kali
ini dari kanan ke kiri. Proses gerak translasi-rotasi-stop-rotasi ini dinamakan
scanning yang berulang 180 kali.
Permasalahan dasar yang muncul dengan metode pengambilan data ini adalah
lamanya waktu yang diperlukan untuk mendapat data yang cukup untuk
rekonstruksi gambar. Berikutnya, diperkenalkan skema scanning pasien yang
lebih efisien. Sebagai tambahan, sinyal dari detektor harus dikonversikan menjadi
data yang dapat dipakai oleh komputer untuk menghasilkan gambar (Seeram,
2001).
18

Pemrosesan data pada CT scan terjadi seperti diterangkan pada gambar dibawah
ini, yaitu suatu sinar sempit (narrow beam) yang dihasilkan oleh X-ray
didadapatkan dari perubahan posisi dari tabung X-ray, hal ini juga dipengaruhi
oleh collimator dan detektor. Secara sederhana dapat digambarkan sebagai berikut
:

Gambar 2.2. Collimator dan Detektor (Jejak Radiologi Computed Tomografi


(CT).html)
Sinar X-ray yang telah dideteksi oleh detektor kemudian dikonversi menjadi arus
listrik yang kemudian ditransmisikan ke komputer dalam bentuk sinyal melaui
proses berikut :

Gambar 2.3. Proses pembentukan citra (www.Jejak Radiologi Computed


Tomografi (CT).html)

Setelah diperoleh arus listrik dan sinyal aslinya, maka sinyal tadi
dikonversi ke bentuk digital menggunakan A/D Convertor agar sinyal digital ini
dapat diolah oleh komputer sehingga membentuk citra yang sebenarnya.Hasilnya
dapat dilihat langsung pada monitor komputer ataupun dicetak ke film.
19

Sistem akusisi data terdiri atas sistem pengkondisi sinyal dan interfacae
(antarmuka ) analog ke komputer. Metode back projection banyak digunakan
dalam bidang kedokteran. Metode ini menggunakan pembagian pixel-pixel yang
kecil dari suatu irisan melintang. Pixel didasarkan pada nilai absorbsi linier.
Kemudian pixel-pixel ini disusun menjadi sebuah profil dan terbentuklah sebuah
matrik. Rekonstruksi dilakukan dengan jalan saling menambah antar elemen
matrik. Untuk mendapatkan gambar rekonstruksi yang lebih baik, maka
digunakan metode konvolusi. Proses rekonstruksi dari konvolusi dapat dinyatakan
dalam bentuk matematik yaitu transformasi Fourier. Dengan menggunakan
konvolusi dan transformasi Fourier, maka bayangan radiologi dapat dimanipulasi
dan dikoreksi sehingga dihasilkan gambar yang lebih baik.

2.7.2 Rekonstruksi Citra


Setelah detektor mendapatkan penghitungan transmisi yang cukup, data
dikirim ke komputer untuk proses selanjutnya. Komputer menggunakan teknik
matematika khusus untuk merekonstruksi gambar CT pada beberapa tahap yang
dinamakan rekonstruksi algoritma. Sebagai contoh, rekonstruksi algoritma yang
dipakai oleh Hounsfield dalam mengembangkan CT Scan pertama dikenal dengan
algebraic reconstruction technique.
Suatu komputer berperan sentral dalam proses pembentukan gambar CT.
Secara umum, terdiri atas komputer mini dan mikroprosesor yang terkait dalam
melakukan fungsi-fungsi tertentu. Pada beberapa CT Scan, detektor mampu
melakukan perhitungan yang sangat cepat dan mikroprosesor khusus melakukan
operasi pemrosesan gambar (Seeram, 2001). Beberap jenis rekontruksi seperti:

1. Rekontruksi Matriks
Rekonstruksi matriks adalah deretan baris dan kolom dari picture element
(pixel) dalam proses perekonstruksian gambar. Rekonstruksi matriks ini
merupakan salah satu struktur elemen dalam memori komputer yang berfungsi
untuk merekonstruksi gambar. Jumlah ukuran matriks yang dapat digunakan yaitu
80 x 80, 128 x 128, 256 x 256, 512 x 512 dan 1024 x 1024. Rekonstruksi matriks
ini berpengaruh terhadap resolusi gambar yang akan dihasilkan. Semakin tinggi
20

matriks yang dipakai, maka semakin tinggi resolusi yang akan dihasilkan
(Radiologi Indonesia, 2009).

2. Rekonstruksi Algorithma
Rekonstruksi algorithma adalah prosedur matematis (algorithma) yang
digunakan dalam merekonstruksi gambar. Ada 3 rekonstruksi dasar algoritma
yang digunakan pada CT Thorax, cervikal dan tulang belakang.
1. Algoritma standar
Standar algoritma menyediakan resolusi kontras yang baik dan oleh sebab
itu algoritma ini menjadi pilihan untuk pemeriksaan brain. Selain itu juga
berguna untuk soft tissue pada Thorax (Seeram, 2001).
2. Bone algoritma
Bone algoritma membantu meningkatkan spatial resolusi tetapi
menghasilkan resolusi kontras yang buruk. Akibatnya, jenis algoritma ini
hanya digunakan pada area dengan densitas jaringan yang tinggi seperti Sinus
paranasal atau tulang temporal (Seeram, 2001)
3. Detail algoritma
Detail algoritma memberikan cukup resolusi kontras dengan batas tepi
yang baik. Oleh karena itu dapat digunakan untuk memperoleh definisi yang
lebih baik antar jaringan soft tissue (Seeram, 2001).

2.7.3 Tampilan Gambar, Manipulasi, Penyimpanan, Perekaman dan


Komunikasi.
Setelah komputer melakukan proses rekonstruksi gambar, hasil gambar
tersebut bisa ditampilkan dan disimpan untuk nantinya dianalisis ulang. Monitor
bersatu dengan konsul kontrol yang memungkinkan radiografer (operator konsul)
dan radiologis (physician konsul) memanipulasi, menyimpan dan merekam
gambar.
Manipulasi gambar menjadi populer pada CT. gambar irisan axial bisa
dijadikan irisan coronal, sagital dan paraxial (reformat). Gambar juga bisa diberi
perlakuan smoothing (melembutkan), edge enhancement, manipulasi gray scale
dan proses tiga dimensi.
21

Gambar bisa direkam dan selanjutnya disimpan dalam beberapa format


data. Biasanya dalam bentuk film sinar-X karena memiliki rentang gray scale
yang lebar dibanding film biasa. Gambar CT dapat disimpan dalam pita magnetik
dan cakram magnetik. Pada penyimpanan optik, data yang terekam dibaca oleh
sinar laser (Seeram, 2001). Menurut Berland (1987), pengaturan WL dan WW CT
scan secara umum adalah sebagai berikut :
1. Wide windows (400 – 2000 HU) digunakan pada pemeriksaan jaringan yang
memiliki perbedaan atenuasi gambar yang tinggi. Sebagai contoh, scanning tubuh
yang biasanya digunakan adalah 350 – 600 HU yang meliputi nilai atenuasi
lemak, cairan dan otot. Paru-paru dan tulang menggunakan 1000 – 2000 HU yang
termasuk didalamnya terdapat udara dan pembuluh darah pada paru-paru, cortex
dan sumsum tulang.
2. Narrow windows (50 – 350 HU) digunakan untuk mengetahui jaringan
dengan struktur perbedaan nilai densitas. Sebagai contoh, otak dapat ditunjukkan
dengan mengatur 80 -150 HU untuk mengetahui perbedaan nilai keabu-abuan.
Gambaran hati dengan mengatur 100 – 250 HU untuk melihat metastase.
Pengaruh dari pengaturan wide dan narrow windows.
3. Tingkatan pengaturan harus dicari nilai tengah yang dekat dengan nilai
atenuasi jaringan. Sebagai contoh, atenuasi scanning tubuh dapat diatur pada level
0 – 60 HU karena lemak memiliki nilai atenuasi –60 sampai –100 HU, nilai
atenuasi otot dan organ tubuh yang lain adalah 60 – 150 HU dengan kontras intra
vena. Paru-paru menunjukkan –600 HU sampai –750 HU.

2.8 Kualitas Gambar Pada CT Scan

Citra ( image) adalah suatu representasi, kemiripan, atau imitasi dari suatu
obyek atau benda ( kamus Waber).Citra dikelompokkan menjadi dua yaitu citra
tampak dan citra tak tampak. Citra tampak misalnya foto, lukisan dan apa yang
Nampak di monitor atau televise. Sedangakn citra tak tampak misalnya gambar
atau file ( citra digital). Untuk dapat dilihat oleh manusia, citra tak tampak ini
harus diubah menjadi citra tampak misalnya dengan menampilkannya di monitor,
dicetak dimedia kertas dan lain-lain. Dari jenis citra tersebut hanya citra digtal
yang dapat diolah oleh computer. Jenis citra lain jika ingin diolah dalam computer
22

harus diubah dalam bentuk citra digital. Misalnya organ thorax yang dipindai
dengan CT Scan. Kegiatan untuk mengubah informasi citra fisik non digital
menjadi digital disebut sebagai pencitraan atau (imaging). ( Balza, 2005 )Citra CT
Scan adalah tampilan digital dari crossectional tubuh dan berupa matriks yang
terdiri dari pixel-pixel ( Greenfield, 1984 ) atau tersusun dari nilai pixel yang
berlainan ( Bushong, 1987 ). Komponen yang mempengaruhi kualitas gambar CT-
Scan adalah spatial resolution, kontras resolution, noise dan artefak ( Seram,
2001).

a. Spatial resolusi
Resolusi Spatial adalah kemampuan untuk dapat membedakan obyek yang
berukuran kecil dengan densitas yang berbeda pada latar belakang yang sama.
Dipengaruhi oleh factor geometri, rekontruksi alogaritma, ukuran matriks,
magnifikasi, dan FOV.( Seeram,2001 ). Resolusi spasial atau High Contras
Resolusi adalah kemampuan untuk dapat membedakan objek yang berukuran
kecil dengan densitas yang berbeda. Menurut Seeram (2001) dan Bushberg (2003)
resolusi spasial dipengaruhi oleh : faktor geometri, rekonstruksi algoritma/filter
kernel, ukuran matriks, pembesaran gambar (magnifikasi), Focal Spot, Detektor.
b. Kontras resolusi
Menurut Seeram (2001) dan Bushberg (2003) kontras resolusi adalah
kemampuan untuk membedakan atau menampakan obyek-obyek dengan
perbedaan densitas yang sangat kecil dan dipengaruhi oleh faktor eksposi, slice
thicknees, FOV dan filter kernel (rekonstruksi algorithma).

c. Noise
Menurut Seeram (2001) noise adalah fluktuasi (standar deviasi) nilai CT
number pada jaringan atau materi yang homogen. Noise tergantung pada
beberapa faktor antara lain : mAs, scan time, kVp, tebal irisan, ukuran objek dan
algoritma Menurut Seeram (2001) noise adalah fluktuasi (standar deviasi) nilai
CT Number pada jaringan atau materi yang homogen. Sebagai contoh adalah
air memiliki CT Number 0, semakin tinggi standar deviasi nilai CT Number pada
pengukuran titik-titik air berarti noisenya tinggi. Noise ini akan mempengaruhi
kontras resolusi, semakin tinggi noise maka kontras resolusi akan menurun
23

(Bushberg,2003).Menurut Reddinger (1998) faktor yang menyebabkan noise


adalah :
1. Faktor eksposi : mAs, kV, semakin besar faktor eksposi akan menurunkan
noise.Salah satu parameter yang mempengaruhi CT number adalah
pemilihan tegangan tabung sinar-X/kV (Qamhiyeh, 2007). Pengaturan
tegangan sinar-X menentukan jumlah energi foton sinar-X. CT number
akan mengalami kenaikan seiring dengan penurunan tegangan tabung
sinar-X. Hal ini akan berpengaruh pada image quality dan level of noise
(Qamhiyeh, 2007). Penelitian menggunakan variasi kV dianggap perlu
semenjak kalibrasi air dan udara pada pesawat CT Scan Somatom Emotion
terpelihara dengan cara mengubah tegangan tabung sinar-X. Estimasi
tegangan tabung yang memiliki energi tinggi dan memiliki efektifitas
energi adalah 80 kV, 110 kV dan 130 Kv.
2. Ukuran pixel, dipengaruhi oleh Field of view(FOV) dan ukuran matriks.
Semakin besar ukuran pixel, noise semakin berkurang, akan tetapi resolusi
spatial menurun.
3. Slice thickness, semakin besar slice thickness noise akan berkurang.
4. Algoritma, penambahan prosedur algoritma sesuai kebutuhan dapat
meningkatkan image noise, peningkatan image noise dapat menurunkan
resolusi kontras.
Keterangan:
a. Jika ukuran pixel semakin lebar, maka noise dalam resolusi spasial
akan semakin menurun.
b. Jika slice thickness semakin meningkat, maka noise dan resolusi
spasial akan semakin menurun.
c. Jika energi (kV) meningkat, maka dosis radiasi yang diterima
meningkat tapi noise semakin menurun.

d. Artefak
Secara umum Artefak adalah kesalahan dalam gambar (adanya sesuatu
dalam gambar) yang tidak ada hubungannya dengan obyek yang diperiksa.
Dalam CT Scan artefak didefinisikan sebagai pertentangan / perbedaan
24

antara rekonstruksi CT Number dalam gambar dengan koefisien atenuasi


yang sesungguhnya dari obyek yang diperiksa (Seeram,2001).

2.9 CT Number

Untuk memperjelas suatu struktur yang satu dengan struktur yang lainnya
yang mempunyai nilai perbedaan koefisien atenuasi kurang dari 10% maka dapat
digunakan window width untuk memperoleh rentang yang lebih luas. CT number
(CTN) dan merupakan salah satu parameter dalam penilaian kualitas gambar CT
Scan. Semakin rendah index image noise, maka kualitas gambar yang dihasilkan
pada CT Scan akan semakin baik. Semakin tinggi index image noise maka dapat
dikatakan bahwa kualitas gambar CT Scan akan semakin menurun, nilai noise
yang terlalu besar akan menimbulkan artefak yang dapat mengganggu resolusi
kontras dari gambaran CT Scan yang akhirnya akan mempengaruhi hasil
diagnosis. Noise pada gambaran CT Scan bisa diketahui dengan uji cross field
uniformity CT number. Uniformity CT number dapat diartikan sebagai nilai
keseragaman CT number air pada sebuah image noise. Pengukuran noise
dilakukan dengan melakukan scanning pada pantom air berdiameter 20 cm,
kemudian dilakukan ROI pada daerah tepi dan pusat. Hasil mean CT number yang
diharapkan pada tiap ROI uniform/seragam . Menurut American College of
Radiology kriteria penerimaan mean CT number water (air) masih terjaga jika
nilai tersebut masih dalam standar dengan nilai dibawah 0±5 HU. Di atas rentang
tersebut dapat menimbulkan noise dan artefak.
CT Number Pada CT Scanner mempunyai koefisien atenuasi linear yang
mutlak dari suatu jaringan yang diamati, yaitu berupa CT Number. Tulang
memiliki nilai besaran CT Number yang tertinggi yaitu sebesar 1000 HU
(Hounsfield Unit) Udara mempunyai nilai CT Number yang terendah yaitu -1000
HU (Hounsfield Unit) Sebagai standar digunakan air yang memiliki CT Number 0
HU (Hounsfield Unit).
25

Citra yang dihasilkan oleh CT scan secara matematis dapat dipandang


sebagai peta distribusi spasial parameter fisis f(x,y) dalam bidang dua dimensi
tampang lintang obyek, tegak lurus sumbu z. Parameter fisis ini, yang besarnya
dinyatakan dengan angka-angka, ditampilkan pada perangkat display dalam
representasi warna, biasanya dalam derajat keabuan (grayscale) sehingga peta ini
tampak sebagai gambar hitam putih di layar monitor. Bagian gambar yang
memiliki warna paling gelap atau derajat keabuan paling tinggi merepresentasikan
nilai parameter fisis yang kecil, sebaliknya bagian gambar yang paling terang atau
derajat keabuan paling kecil merepresentasikan nilai parameter fisis yang besar.
Parameter fisis yang ditampilkan ini bersesuaian dengan besaran fisis yang
disebut koefisien atenuasi linear (linear attenuation coefficient) dan diberi
lambang mu. Besarnya mu ditentukan oleh jenis bahan yang merujuk pada nomor
atom (Z) dan energi radiasi (E). Jumlah intensitas radiasi terusan, selain
ditentukan oleh tebal bahan, juga ditentukan oleh harga mu ini.
Tabel Tabel 2.1 (Bontrager, 2010).
Nilai CT pada jaringan yang berbeda penampakannya pada layar monitor.
Tipe jaringan Nilai CT (HU) Penampakan

Tulang +1000 Putih


Otot +50 Abu-abu
Materi putih +45 Abu-abu menyala
Materi abu-abu +40 Abu-abu
Darah +20 Abu-abu
CSF +15 Abu-abu
Air 0
Lemak -100 Abu-abu gelap kehitam
Paru -200 Abu-abu gelap kehitam
Udara -1000 Hitam
26

Dasar dari pemberian nilai ini adalah air dengan nilai 0 HU. Untuk tulang
mempunyai nilai +1000 HU kadang sampai +3000 HU. Sedangkan untuk kondisi
udara nilai yang dimiliki -1000 HU. Diantara rentang tersebut merupakan jaringan
atau substansi lain dengan nilai yang berbeda-beda pula tergantung pada tingkat
perlemahannya. Dengan demikian, penampakan tulang dalam layar monitor
menjadi putih dan penampakan udara hitam. Jaringan dan substansi lain akan
dikonversi menjadi warna abu-abu yang bertingkat yang disebut gray scale.
Khusus untuk darah yang semula dalam penampakannya berwarna abu-abu dapat
menjadi putih jika diberi media kontras (Bontrager, 2010).
Secara umum, dapat terlihat perubahan kontras pada citra CT scan dengan
merubah WW. Pada saat WW tinggi (wide WW), pada paru-paru, jaringan hati
dan tulang pelvis memiliki kesamaan tingkatan keabu-abuan (bottom of diagram).
Dengan narrow WW, terdapat ketajaman kontras kehitaman pada daerah paru,
putih pada tulang dan jaringan hati menunjukkan keabu-abuan. Sehingga, kontras
citra CT scan dapat diatur dengan medium WW (middle of diagram) Menurut
Berland (1987).
Nilai intensitas setiap jaringan yang diperoleh berbeda karena perbedaan
kerapatan jaringan. Perbedaan kontras antara dua objek dalam deteksi signal
dalam dua kasus akibat perbedaan atenuasi sinar –x yang melalui objek tersebut.

Gambar 2.4 Perbedaan kontras antara dua objek (Bryan ,2010)

Gambar 4.6 merupakan perbedaan kontras antara dua objek dalam deteksi
signal pada dua kasus akibat perbedaan atenuasi sinar –X yang melalui objek
tersebut, dalam kaitannya dengan WL dan WW yang diatur pada TV monitor,
Untuk mediastinum window daerah yang diamati adalah aortha, jantung, trachea,
oeshopagus.
27

2.10 Interaksi Radiasi dengan Materi

Gambar 2.5 Interaksi Radiasi dengan Materi (www.infonuklir.com)

Proses interaksi radiasi dengan materi terjadi tiga kemungkinan,yaitu radiasi


akan dibelokkan, diserap (berinteraksi) atau diteruskan.Kemungkinan yang terjadi
ketika materi dikenai radiasi, yaitu ionisasi, eksitasi dan brehmstrahlung. Ketika
menumbuk suatu materi, radiasi alpha yang memiliki massa dan muatan yang
relatif besar cenderung melakukan proses ionisasi, sedangkan radiasi partikel yang
lebih kecil seperti beta, elektron, atau proton dapat melakukan ketiganya.
Proses ionnisasi,ketika partikel bermuatan melalui suatu materi, partikel
tersebut akan berinteraksi dengan atom-atom penyusun materi dan menyebabkan
beberapa elektron terlepas dari lintasannya karena adanya gaya tarik Coulomb.
Proses terlepasnya elektron dari suatu atom disebut sebagai proses ionisasi.
Setelah proses ionisasi, atom yang mula-mula netral menjadi bermuatan (ion)
positif.Setelah melakukan proses ionisasi energi radiasi yang datang akan
mengalami pengurangan (terdapat selisih energi). Ini dikarenakan adanya transfer
energi dari radiasi kepada elektron , sehingga elektron memiliki energi yang
cukup besar untuk melepaskan diri dari atom. Jika energi radiasi akhir masih
cukup banyak, proses ioniasasi dapat terjadi lagi, terus-menerus hingga energi
radiasinya habis.Elektron yang terlepas dari atom (disebut ion negatif) akan
28

menjadi elektron bebas yang tidak memiliki energi kinetik dan bebas bergerak
secara random (acak) di dalam medium.
Elektron hanya berpindah ke lintasan yang lebih luar (energi lintasannya
lebih besar). Setelah terjadi proses eksitasi, atom tersebut berubah menjadi atom
yang tereksitasi.Sebagaimana pada proses ionisasi, energi radiasi yang datang
akan berkurang setelah melakukan proses eksitasi. Ini terjadi karena radiasi
mentransfer sebagian (atau seluruh) energinya kepada elektron, sehingga elektron
memiliki energi yang cukup untuk berpindah lintasan. Proses eksitasi juga dapat
berlangsung berulang kali hingga energi radiasinya habis.Atom yang berada
dalam keadaan tereksitasi ini akan kembali ke keadaan dasarnya (ground state)
dengan melakukan transisi elektron. Salah satu elektron yang berada di lintasan
luar akan berpindah mengisi kekosongan di lintasan yang lebih dalam sambil
memancarkan radiasi sinar-x karakteristik. Energi sinar-x karakteristik yang
dipancarkan dalam peristiwa ini setara dengan selisih energi antara lintasan
sebelum dan sesudah transisi.
Proses brehmsstrahlung lebih dominan terjadi pada interaksi radiasi beta
dan elektron karena massa dan muatan partikel beta relatif lebih kecil sehingga
kurang diserap oleh materi dan daya tembusnya lebih tinggi dibandingkan partikel
alpha.Karena adanya gaya elektrostatik, radiasi beta atau elektron yang bergerak
melewati inti akan dibelokkan. Perubahan arah gerak ini menyebabkan adanya
perubahan momentum yang kemudian akan menghasilkan pancaran energi
gelombang elektromagnetik (foton). Foton yang muncul pada proses ini disebut
sebagai sinar-x brehmsstrahlung (bedakan dengan sinar-x karakteristik yang
dihasilkan oleh transisi elektron).Berbeda dengan energi radiasi sinar-x
karakteristik yang hanya dipengaruhi oleh selisih tingkat energi lintasan, tingkat
energi radiasi sinar-x brehmsstrahlung ini dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu
energi radiasi yang mengenai atom, nomor atom (jumlah proton) inti dan sudut
pembelokannya.

2.11 Interaksi radiasi gelombang elektromagnetik

Gamma dan sinar-x termasuk ke dalam kelompok radiasi elektromagnetik.


Tidak seperti gelombang radio dan cahaya tampak, gamma dan sinar-x memiliki
29

panjang gelombang yang lebih pendek (atau frekuensi yang lebih tinggi) sehingga
memiliki energi yang jauh lebih tinggi. Sementara radiasi alpha dan beta memiliki
daya jangkau maksimum yang terbatas, foton berinteraksi secara probabilistik
sehingga daya jangkau maksimum sebuah foton bisa sangat bervariasi (tidak
pasti). Meskipun demikian, fraksi total foton yang diserap oleh bahan berkurang
secara eksponensial dengan ketebalan bahan. Ada tiga mekanisme bagaimana
gamma dan sinar-x berinteraksi dengan materi, yaitu efek fotolistrik, hambran
Compton dan produksi pasangan. Radiasi gamma memiliki bahaya eksternal
karena radiasi ini memberikan energinya jauh lebih banyak dan lebih jauh bila
dibandingkan dengan radiasi alpha dan beta.Pada proses efek fotolistik, radiasi
gelombang elektromagnetik (foton) yang datang mengenai atom, seolah-olah
‘menumbuk’ salah satu elektron orbital dan memberikan seluruh energinya. Jika
energi foton yang diberikan lebih besar dari energi ikat elektron, maka elektron
tersebut dapat terlepas dari atom dan menghasilkan ion. Elektron yang terlepas
(atau biasa disebut fotoelektron) dapat menyebabkan peristiwa ionisasi sekunder
pada atom sekitarnya dengan cara yang mirip dengan yang dilakukan beta.
Peristiwa hamburan Compton sebenarnya tidak berbeda jauh dengan efek
fotolistrik. Akan tetapi, pada hamburan Compton tidak semua energi foton
diberikan kepada elektron, melainkan hanya sebagian saja, sisa energi foton masih
berupa gelombang elektromagnetik (foton) yang dihamburkan. Foton yang
dihamburkan ini akan terus berinteraksi dengan elektron lain sampai energinya
habis dan elektron yang dihasilkan (foto elektron) akan menyebabkan proses
ionisasi sekunder. Pada hamburan Compton, foton dengan energi hλi berinteraksi
dengan elektron terluar dari atom, selanjutnya foton dengan energi hλo
dihamburkan dan sebuah foto elektron lepas dari ikatannya. Energi kinetik
elektron (Ee) sebesar selisih energi foton masuk dan foton keluar.
30

Gambar.2.6 Efek foto listrik (Akhadi,2000)

Gambar.2.7 Efek Hamburan Compton (Akhadi,2000)

Gambar.2.8 Efek produksi pasangan (Akhadi,2000)


31

2.12. Thorax Atau Rongga Dada

2.12.1. Anatomi thorax

Thorax merupakan rongga yang berbentuk kerucut, pada bagian bawah lebih
besar dari pada bagian atas dan pada bagian belakang lebih panjang dari pada
bagian depan. Rongga dada berisi paru-paru dan mediastinum. Mediastinum
adalah ruang di dalam rongga dada di antara kedua paru-paru. Di dalam rongga
dada terdapat beberapa sistem diantaranya yaitu sistem pernafasan dan peredaran
darah. Organ pernafasan yang terletak dalam rongga dada yaitu esofagus dan paru,
sedangkan pada sistem peredaran darah yaitu jantung, pembuluh darah dan
saluran linfe. Pembuluh darah pada sistem peredaran darah terdiri dari arteri yang
membawa darah dari jantung, vena yang membawa darah ke jantung dan kapiler
yang merupakan jalan lalulintas makanan dan bahan buangan (Pearce, 2003 : 53).

Gambar 2.9 Rangka Dada atau Thorax ( Sabotta 2003).


32

Gambar 2.10 Paru kanan, dan Paru kiri (Sabotta 2003).

Gambar.2.11. Paru kiri dan Paru kanan Tampak Medical (Sobotta 2003).

Paru kanan terbagi menjadi dua fisura dan tiga lobus yaitu superior, media
dan inferior. Paru kiri terbagi oleh sebuah fisura dan dua lobus yaitu superior dan
inferior (Pearce, 2003 : 215).Brochus pada setiap sel sisi bercabang menjadi
cabang-cabang utama, satu untuk setiap lobus paru. Segmen paru daerah tersebut
disuplai oleh cabang utama bronchus, setiap segmen adalah unit mandiri dengan
supali darah sendiri. Paru kanan memiliki sepuluh segmen, paru kiri memiliki
sembilan segmen. Setiap segmen berbentuk biji yang tipis pada hilus paru (Pearce,
2003 :214).
Di dalam segmen, cabang brochus utama memecah menjadi cabang-cabang
yang lebih kecil. Duktus alveolus adalah cabang yang paling kecil, setiap ujung
terdapat sekelompok alveolus. Alveolus adalah kantong berdinding tipis yang
mengandung udara, melalui seluruh dinding inilah terjadi pertukaran gas. Setiap
paru mengenadung sekitar 300 juta alveoli. Lubang-lubang kecil di dalam dinding
33

alveola memungkinkan udara melewati suatu alveolus ke alveolus lain (Pearce,


2003 : 214).Lobus primer atau unit paru adalah broncheolus dengan kelompok
alveolusnya (Pearce, 2003 : 216).
Pleura adalah membran tipis transparan yang melapisi paru dalam dua lapis
yaitu lapisan viceral, yang melekat erat pada permukaan paru dan lapisan paretale
yang melapisi permukaan dinding dada. Kedua lapisan ini bersambungan pada
hilus paru. Kavum paru adalah rongga diantara kedua lapisan tersebut. Permukaan
yang saling melekat itu lembab dan saling bergerak satu sama lain (Pearce, 2003 :
219).
Mediastinum adalah daerah di dalam dada diantara kedua paru. Ruang ini
dibagi mediastinum superior dan inferior oleh garis imaginer yang ditarik ke
belakang dari angulus sternalis (manubrium dengan corpus sterni) ke vertebra
thorachal IV.
Mediastinum mengandung :
a. Arcus aorta dan cabang-cabangnya. f. Glandula timus atau
b. Venacava superior dan vena brachiosevalica. sisanya.
c. Trachea. g. Nervus vagus dan
d. Oesofagus. vrenicus (Pearce, 2001)
e. Ductus thoracicus.

2.12.2. Patologi Thorax

Bronchiectasis adalah suatu keadaan bronkus atau bronkeolus yang


melebar akibat hilangnya sifat keelastisan dinding otot bronkus yang dapat
disebabkan oleh obstruksi dan peradangan yang kronis atau dapat pula disebabkan
oleh kelainan kongenital yang dikenal sebagai sindrom kartager yaitu suatu
sindrom yang terdiri atas bronchiectasis, sinusitis dan destrokardia ( Rasad, 2005
: 110).
Pemeriksaan foto thorax polos tampak gambaran berupa bronkovaskuler
kasar yang umumnya terdapat di lapangan bawah paru atau gambaran garis-garis
translusen yang panjang menuju ke hilus dengan bayangan konsolidasi sekitarnya
akibat peradangan sekunder, kadang-kadang juga bisa berupa bulatan-bulatan
transulen yang sering dikenal sebagai gambaran sarang tawon (honey comb
34

appearence). Bulatan transulen bisa berukuran besar (diameter 1-10 cm) yang
berupa kista-kista transulen dan kadang-kadang berisi cairan (air fluid level)
akibat peradangan sekunder (Rasad, 2005: 110).menurut Neseth. R,( 2000) bahwa
indikasi pemeriksaan pda umumnya untuk thorax atau dada yaitu : Tumor, massa,
Aneurisma, Lesi pada hillus atau mediastinal,Pembedahan aorta.
Trauma dada atau trauma thorax adalah abnormalitas rangka dada yang
disebabkan oleh benturan pada dinding dada yang mengenai tulang rangka dada,
pleura paru-paru, diafragma ataupun isi mediastinal baik oleh benda tajam
maupun tumpul yang dapat menyebabkan gangguan system pernafasan.

2.12.3 Anatomi Fisiologi

Kerangka rongga thorax, merincing pada bagain atas torak dan berbentuk
kerucut, terdiri dari sternum, 12 vertebra, 10 pasang iga yang terakhir di anterior
dalam segmen tulang rawan, dan 2 pasang iga yang melayang. Kartilago dari
enam iga pertama memisahkan artikulaso dari sternum; katilago ketujuh sampai
sepuluh berfungsi membentuk kostal-kostal sebelum menyambung pada tepi
bawah sternum. Perluasan rongga pleura di atas klavikula dan atas organ dalam
abdomen penting untuk dievaluasi pada luka tusuk.
Muskulus-muskulus pektoralis mayor dan minor merupakan muskulus
utama dinding anterior thorax. Muskulus latisimus dorsi, trapezius, rhomboideus,
dan muskulus gelang bahu lainnya membentuk palisan muskulus posterior dinding
toraks. Tepi bawah muskulus pektoralis mayor membentuk lipatan/plika aksilaris
anterior, lengkungan dan muskulus latisimus dorsi dan teres mayor membentuk
lipatan/plika aksilaris posterior.
Pleura adalah membrane aktif serosa dengan jaringan pembuluh arah dan
limfatik. Di sana selalu ada pergerakan cairan, fagositosis debris,menambal
kebocoran udara dan kapier. pleura viseralis menutup paru dan sifatnya tidak
sensitive. pleura berlanjut sampai ke hilus dan mediastinum bersama pleura
parietali, yang melapisi dinding dalam toraks dan diafragma. Kebalikan dengan
pleura viseralis, pleura parietalis mendapatkan persarafan dari ujung saraf
(nerveending); ketika terjadi penyakit atau cedera, mak timbul nyeri. Pleura
parietalis memiliki ujung saraf untuk nyeri; hanya bila penyaki-penyakit
35

menyebar ke pleura ini maka akan timbul. Pleura sedikit melebih tepi paru pada
tiap arah dan sepenuhnya terisi dengan ekspansi paru-paru normal; hanya ruang
potensial yang masih ada. Pleura parietalis hampir semua merupakan lapisan
dalam, diikuti oleh tiga lapis muskulus-muskulus yang mengangkat iga selama
respirasi tenang/normal. Vena, arteri nervus dari tiap rongga interkostal berada di
belakang tepi bawah iga. Karena jarum torakosentetis atau klein yang digunakan
untuk masuk ke pleura harus dipasang melewati bagian atas iga yang lebih bawah
dari sela iga yang dipilih.Bagian muskular perifer berasal dari bagian bawah iga
keenam dan kartilagokosta, dari vertebra lumbalis, dan dari lengkung
lumbokostal; bagian muskular melengkung membentuk tendo sentral. Nervis
frenikus mempersarafi motorik, interkostal bahwa mempersarafi sensorik.
Diafragma yang naik setinggi putung susu, turut berperan sekitar 75% dari
ventilasi paru-paru selama respirasi biasa/tenang.