Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH

KEPERAWATAN PALIATIF DAN MENJELANG AJAL


ASPEK LEGAL & ETIK DALAM KEPERAWATAN PALIATIF

DOSEN PENGAMPU : Ns. Erna Marni., M.kep

KELOMPOK V

Siti Mawaddati Mazirah 17031001


Putri Ramadhina 17031005
Mayang Laorisda 17031008
Yola Afrida 17031012
Hari Guspian 17031028
Denny Arisma 17031038

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN


STIKes HANG TUAH PEKANBARU
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Yang Maha Esa karena atas berkat, rahmat
dan hidayah-Nya kami bisa menyelesaikan makalah ini. Makalah ini kami buat untuk memenuhi
tugas dari dosen. Makalah ini membahas tentang ” Aspek Legal & Etik Dalam Keperawatan
Paliatif” Semoga dengan makalah yang kami susun ini, kita sebagai mahasiswa dapat menambah
dan memperluas pengetahuan.
Kami mengetahui makalah yang kami susun ini masih sangat jauh dari sempurna, maka
dari itu kami masih mengharapkan kritik dan saran dari ibu selaku dosen pembimbing kami serta
temen-temen sekalian, karena kritik dan saran itu dapat membangun kami dari yang salah
menjadi benar.
Semoga makalah yang kami susun ini dapat berguna dan bermanfaat bagi kita, akhir kata
kami mengucapkan terima kasih.

Pekanbaru, 9 September 2019

Kelompok 5
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..........................................................................................................i
DAFTAR ISI........................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG..........................................................................................1
1.2 TUJUAN..............................................................................................................1
BAB II LANDASAN TEORI
2.1 PENGERTIAN KEPERAWATAN PALIATIF.....................................................3
2.2 TUJUAN KEPERAWATAN PALIATIF..............................................................3
2.3 PRINSIP DASAR KEPERAWATAN PALIATIF.................................................4
2.4 TIM DAN TEMPAT KEPERAWATAN PALIATIF.............................................4
2.5 LINGKUP KEGIATAN DAN ASPEK KEPERAWATAN PALIATIF.................5
2.6 ASPEK MEDICOLEGAL DALAM KEPERAWATAN PALIATIF....................8
2.7 PRINSIP-PRINSIP LEGAL DAN ETIK KEPERAWATAN PALIATIF.............9
2.8 APLIKASI ASPEK LEGAL DALAM KEPERAWATAN PALIATIF.................11
BAB III PEMBAHASAN
3.1 KASUS.................................................................................................................13
3.2 PEMBAHASAN KASUS....................................................................................16
BAB IV PENUTUP
4.1 KESIMPULAN....................................................................................................17
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Masalah Perawatan paliatif adalah pendekatan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien
dan keluarga dalam menghadapi penyakit yang mengancam jiwa, dengan cara meringankan
penderitaan terhadap rasa sakit dan memberikan dukungan fisik, psikososial dan spiritual
yang dimulai sejak tegaknya diagnosa hingga akhir kehidupan pasien. Menurut American
Cancer Society, perawatan paliatif adalah perawatan untuk dewasa dan anak dengan
penyakit serius yang berfokus mengurangi penderitaan dan meningkatkan kualitas hidup
pasien serta keluarga, tetapi tidak dimaksud untuk menyembuhkan penyakit. Perawatan
paliatif dapat diberikan kepada semua usia dan semua stadium panyakit dengan mengurangi
gejala, nyeri, dan stress dan diberikan bersama dengan pengobatan kuratif. Perawatan
paliatif ini ditujukan untuk orang yang menghadapi penyakit yang belum dapat disembuhkan
seperti penyakit kanker, penyakit degeneratif, penyakit paru obstruktif kronis, cystic fibrosis,
stroke, parkinson, gagal jantung/heart failure, penyakit genetika dan penyakit infeksi seperti
HIV/AIDS.
Data kasus paliatif berdasarkan prevalensi WHO tahun 2011 menunjukkan bahwa dari 29
miliar kasus paliatif sebanyak 20,4 miliar kasus membutuhkan pelayanan paliatif.
Pelaksanaan perawatan paliatif di Eropa mulai digalakkan sejak tahun 2005, walaupun saat
itu sebagian rumah sakit di Eropa tidak memiliki tim paliatif rumah sakit. Pelaksana
perawatan paliatif kemudian dilakukan sendiri oleh klinisi yang sudah mengikuti pelatihan.
Penerapan perawatan paliatif tersebut dilaporkan dapat meningkatkan mutu perawatan akhir
hayat pasien dan memberi keuntungan bagi pasien, keluarga dan klinisi. Perawatan paliatif
di Indonesia sudah berkembang sejak tahun 1992 dan kebijakan perawatan paliatif telah
diatur dalam Surat Keputusan (SK) Menteri Kesehatan RI No. 812, tertanggal 19 Juli 2007.
SK tersebut merupakan suatu instruksi resmi yang diberikan kepada seluruh institusi
pelayanan kesehatan di Indonesia untuk mengembangkan layanan perawatan paliatif di
tempat masing-masing.
1.2 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian keperawatan paliatif
2. Untuk mengetahui tujuan keperawatan paliatif
3. Untuk mengetahui prinsip dasar keperawatan paliatif
4. Untuk mengetahui tim dan tempat keperawatan paliatif
5. Untuk mengetahui lingkup kegiatan dan aspek keperawatan paliatif
6. Untuk mengetahui aspek medicolegal dalam keperawatan paliatif
7. Untuk mengetahui prinsip-prinsip legal dan etis keperawatan paliatif
8. Untuk mengetahui aplikasi aspek legal dalam keperawatan paliatif
BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1 Pengertian Perawatan Paliatif


Kata “palliative” berasal dari bahasa latin yaitu “pallium” yang artinya adalah menutupi
atau menyembunyikan. Perawatan paliatif ditujukan untuk menutupi atau menyembunyikan
keluhan pasien dan memberikan kenyamanan ketika tujuan penatalaksanaan tidak mungkin
disembuhkan.
Perawatan paliatif adalah sistem perawatan terpadu yang bertujuan meningkatkan
kualitas hidup, dengan cara meringankan nyeri dan penderitaan orang lain, memberikan
dukungan spiritual dan psikososial mulai saat diagnosis ditegakkan sampai akhir hayat dan
dukungan terhadap keluarga yang kehilangan atau berduka serta bertujuan memperbaiki
kualitas hidup pasien dan keluarga yang menghadapi masalah yang berhubungan dengan
penyakit yang mengancam jiwa.
Pengertian perawatan paliatif menurut Cancer Council Australia adalah perawatan yang
membantu pasien menjalani hidup senyaman dan sebaik mungkin dengan penyakit terminal
yang dialami. Perawatan paliatif diberikan pada tahap apapun saat fase aktif kanker. Menurut
American Cancer Society, perawatan paliatif adalah perawatan untuk dewasa dan anak dengan
penyakit serius yang berfokus mengurangi penderitaan dan meningkatkan kualitas hidup
pasien serta keluarga, tetapi tidak dimaksud untuk menyembuhkan penyakit. Perawatan
paliatif dapat diberikan kepada semua usia dan semua stadium panyakit dengan mengurangi
gejala, nyeri, dan stress dan diberikan bersama dengan pengobatan kuratif.

2.2 Tujuan Perawatan Paliatif


Tujuan utama dari perawatan paliatif adalah untuk membantu klien dan keluarga
mencapai kualitas hidup terbaik, menganggap kematian sebagai proses normal, tidak
mempercepat atau menunda kematian, menghilangkan nyeri dan keluhan lain yang
mengganggu, menjaga keseimbangan psikologis dan spiritual, mengusahakan agar penderita
tetap aktif sampai akhir hayatnya dan membanti mengatasi suasana duka cita pada keluarga.
2.3 Prinsip dasar perawatan paliatif
Prinsip dasar perawatan paliatif menurut Committee on Bioethic and Committee on
Hospital Care pada tahun 2000 :(28)
1. Menghormati serta menghargai pasien dan keluarganya
2. Kesempatan atau hak mendapatkan kepuasan dan perawatan paliatif yang pantas
3. Mendukung pemberi perawatan (caregiver)
4. Pengembangan profesi dan dukungan sosial untuk perawatan paliatif
Menurut WHO pada tahun 2007, prinsip pelayanan paliatif yaitu menghilangkan nyeri
dan gejala fisik lain, menghargai kehidupan dan menganggap kematian sebagai proses yang
alami, tidak bertujuan mempercepat atau menunda kematian, mengintegrasikan aspek
psikologis, sosial, dan spiritual, memberikan dukungan agar pasien dapat hidup seaktif
mungkin, memberikan dukungan kepada keluarga sampai masa dukacita, menggunakan
pendekatan tim untuk mengatasi kebutuhan pasien dan keluarganya dan menghindari
tindakan sia-sia.

2.4 Tim dan Tempat Perawatan Paliatif


Pendekatan perawatan paliatif melibatkan berbagai disiplin ilmu yaitu pekerja sosial, ahli
agama, perawat, dokter, psikolog, relawan, apoteker, ahli gizi, fisioterapi, dan okupasi terapi.
Masing-masing profesi terlibat sesuai dengan masalah yang dihadapi penderita, dan
penyusunan tim perawatan paliatif disesuaikan dengan kebutuhan pasien dan tempat
perawatannya. Pasien dapat memilih dimana ingin dirawat, misalnya :
1. Rumah sakit
Tim perawatan paliatif merupakan kolaborasi antara interdisiplin ilmu dan
biasanya terdiri dari seorang dokter dan atau perawat senior bersama dengan satu atau
lebih pekerja sosial dan pemuka agama/rohaniawan. Sebagai tambahan, tim tersebut juga
dibantu teman sejawat dari gizi dan rehabilitasi, seperti fisioterapis atau petugas terapi
okupasi. Konsultasi awal biasanya dilakukan oleh dokter atau perawat yang berhubungan
dengan kebutuhan pasien dan keluarga dan juga memberi rujukan kepada dokter utama
yang menangani pasien tersebut. Terkadang juga konsultan perawatan paliatif dilibatkan
untuk membantu komunikasi dengan keluarga.
Perawatan paliatif berbasis rumah sakit dapat diselenggarakan dalam beberapa
tingkat atau model, yaitu primer, sekunder, dan tersier. Pertama, perawatan paliatif primer
harus tersedia di semua rumah sakit. Pada tingkat ini, minimal klinisi harus memiliki
pendidikan tentang dasar-dasar pengelolaan nyeri dan gejala lain. Model primer berfokus
pada peningkatan pelayanan yang sudah ada dan pendidikan bagi klinisi. Karena itu,
model ini cocok bagi institusi yang memiliki keterbatasan sumber daya.
Kedua, perawatan palatif sekunder memerlukan semua tenaga kesehatan yang
terlibat dalam perawatan pasien untuk memiliki level kompetensi minimum dan
memerlukan para spesialis yang menyediakan perawatan paliatif melalui tim konsultasi
interdisipliner, unit khusus, maupun keduanya.
Ketiga, program tingkat tersier dapat melibatkan organisasi tersier, seperti rumah
sakit pendidikan dan pusat-pusat pendidikan dengan tim ahli dalam perawatan paliatif.
Pada level ini, program yang dibuat dapat dijadikan sebagai konsultan bagi level praktik
primer dan sekunder ataupun sebagai program percontohan bagi pusat-pusat
pengembangan lainnya. Praktisi dan institusi yang terlibat dalam level perawatan paliatif
tersier juga harus berpartisipasi dalam aktivitas-aktivitas pendidikan dan penelitian.
2. Hospice
Hospice merupakan tempat pasien dengan penyakit stadium terminal yang tidak
dapat dirawat di rumah namun tidak melakukan tindakan yang harus dilakukan di rumah
sakit. Pelayanan yang diberikan tidak seperti di rumah sakit, tetapi dapat memberikan
pelayanan untuk mengendalikan gejala-gejala yang ada, dengan keadaan seperti di rumah
pasien sendiri.
3. Rumah
Peran keluarga lebih menonjol karena sebagian perawatan dilakukan oleh
keluarga. Keluarga atau orang tua sebagai care giver diberikan latihan pendidikan
keperawatan dasar. Perawatan di rumah hanya mungkin dilakukan bila pasien tidak
memerlukan alat khusus atau keterampilan perawatan yang mungkin dilakukan oleh
keluarga.

2.5 Lingkup kegiatan dan aspek perawatan paliatif


Jenis kegiatan perawatan paliatif meliputi penatalaksanaan nyeri, penatalaksanaan
keluhan fisik lain, asuhan keperawatan, dukungan psikologis, dukungan sosial, dukungan
cultural dan spiritual, dukungan persiapan dan selama masa dukacita. Pada setiap individu
terdapat keterkaitan antara sistem biologis, sistem psikologis, dan sistem sosial. Penyakit yang
dialami individu akan memberikan pengaruh besar dalam emosi, penampilan, dan perilaku
sosial individu. Pemberian perawatan paliatif sangat dianjurkan untuk pasien dan keluarga
pasien dengan penyakit terminal salah satunya adalah kanker. Perawatan ini memungkinkan
tidak hanya mendapatkan perawatan secara aspek fisik saja namun juga perawatan secara
psikologis dan sosial dalam menghadapi penyakit fisik yang berpengaruh terhadap masalah
pikologis dan sosial yang dihadapi pasien dan keluarga pasien. Hal ini sesuai definisi
perawatan paliatif menurut WHO yaitu perawatan yang aktif dan menyeluruh terhadap pasien
yang penyakitnya tidak lagi memberikan tanggapan kepada pengobatan yang menyembuhkan.
Kontrol dari rasa sakit, gejala-gejala lain, masalah psikologis, sosial, dan spiritual merupakan
hal yang terpenting. Sehingga aspek perawatan paliatif berupa aspek psikologis, sosial, dan
spiritual menjadi fokus dalam rangkaian pengobatan.
1. Aspek Psikologis
Pasien dengan pernyakit terminal biasanya semakin tidak bisa menunjukkan
dirinya secara ekspresif. Pasien menjadi sulit untuk mempertahankan kontrol biologis dan
fungsi sosialnya, seperti menjadi sering mengeluarkan air liur, perubahan ekspresi bentuk
muka, gemetaran dan lain sebagainya. Pasien juga sering mengalami kesakitan,
muntahmuntah, keterkejutan karena perubahan penampilan yang drastus disebabkan
kerontokan rambut atau penurunan berat badan, dan stres karena pengobatan sehingga
pasien mengalami ketidak mampuan untuk berkonsentrasi. Masalah psikologis tersebut
disebabkan oleh perubahan perubahan dalam konsep diri pasien. Sebagai pemberi
perawatan paliatif harus bisa melakukan tugas dengan menyesuaikan terhadap masalah
pasien. Tugas yang berkaitan dengan fungsi psikologis meliputi upaya untuk :
a. mengendalikan perasaan negatif dan memelihara pandangan positif mengenai diri
sendiri dan masa depan,
b. mengidentiikasi dan mempertahankan kepuasan akan diri sendiri dan kemampuan
diri,
c. mendorong keluarga untuk memelihara pandangan positif kepada pasien.

2. Aspek Sosial
Ancaman terhadap konsep diri yang terjadi karena menurunnya fungsi mental dan
fisik pasien dapat juga mengancam interakhi sosial pasien. Meskipun pasien penyakit
terminal sering menginginkan dan membutuhkan untuk dijenguk, namun pasien mungkin
juga mengalami ketakutan bahwa kemunduran mental dan fisiknya akan membuat orang
orang yang menjenguknya menjadi kaget dan merasa tidak enak.
Konsekuensi mengenai interaksi sosial yang tidak menyenangkan ini dapat
membuat pasien mulai menarik diri dari kehidupan sosialnya dengan cara membatasi
orang-orang yang mengunjunginya hanya kepada beberapa orang anggota keluarga saja.
Pemberian perawatan paliatif harus dapat memberikan perawatan sesuai dengan masalah
yang ada pada pasien. Tugas yang berkaitan dengan aspek sosial meliputi:
a. memelihara hubungan baik dengan keluarga dan teman-teman
b. membantu pasien mempersiapkan diri bagi masa depan yang tidak tentu

3. Aspek spiritual
Spiritualitas penting dalam meningkatkan kesehatan dan kualitas hidup seseorang.
Spiritualitas juga penting dikembangkan untuk dijadikan dasar tindakan dalam pelayanan
kesehatan. Aspek ini dinyatakan juga dalam pengertian kesehatan seutuhnya oleh WHO
pada tahun 1984, yang oleh American Psychiatric Assosiation (APA) dikenal dengan
dengan rumusan “bio-psiko-sosio-spiritual”. Kekosongan spiritual, kerohanian, dan rasa
keagamaan dapat menimnulkan permasalahan psiko-sosial begitu juga sebaliknya.
Kebutuhan spiritual inilah yang menjadikan salah satu aspek terpenting dalam pemberian
perawatan paliatif pada pasien dengan penyakit terminal salah satunya kanker. Perawatan
paliatif dapat menyentuh aspek spiritual dengan cara membantu pasien untuk
mengidentifikasi kepercayaan spiritualitas positif yang dimilikinya, sehingga pasein
dapat menggunakan kepercayaan tersebut untuk menghadapi situasi kesehatannya.
Pemahaman akan kebutuhan spiritualitas akan mempengaruhi kualitas hidup individu
secara psikologis, dengan kata lain spiritualitas adalah sesuatu yang menghidupkan
semangat bagi penderita untuk mencapai kesehatan yang lebih baik. Pemahaman yang
baik juga akan membantu pasien dalam menerima kondisi yang terjadi pada dirinya.
Intervensi terhadap pemenuhan kebutuhan spiritualitas membutuhkan pengakuan dari
penderita. Dalam hal ini perlu adanya hubungan yang baik antar pemberi layanan
kesehatan, pasien, dan keluarga pasien. Pasien diharapkan dapat merasakan ketenangan
dalam jiwa kemudian perawat membantu pasien untuk merasakan dalam jiwa kehadiran
satu kekuatan yang Maha Agung yang menciptakan kita semua sebagai manusia.

2.6 Aspek medikolegal dalam perawatan paliatif


Persetujuan tindakan medis/informed consent untuk pasien paliatif, harus dipastikan
terlebih dahulu bahwa pasien memahami pengertian, tujuan dan pelaksanaan perawatan
paliatif melalui komunikasi yang berkesinambungan antara tim perawatan paliatif dengan
pasien dan keluarga. Pelaksanaan informed consent atau persetujuan tindakan kedokteran
pada dasarnya dilakukan sebagaimana yang telah diatur dalam peraturan penundang
undangan. Meskipun pada umunya hanya tindakan kedokteran (medis) yang membutuhkan
informed consent, tetapi pada perawatan paliatif sebaiknya setiap tindakan yang beresiko,
dilakukan informed consent. Baik penerima informasi maupun pemberi persetujuan
diutamakan pasien sendiri apabila masih mampu, dengan saksi anggota keluarga
terdekatnya. Pasien dan keluarga mebutuhkan waktu yang cukup untuk berkomunikasi. Jika
pasien sudah tidak mampu, maka keluarga terdekat yang melakukan atas nama pasien.
Tim perawatan paliatif mendengarkan apa yang diinginkan pasien saat pasien masih
mampu tentang apa yang harus atau tidak boleh dilakukan terhadapnya ketika
kemampuannya mulai menurun. Selain itu pasien juga bisa saja menunjuk seseorang yang
nantinya akan mewakilinya dalam membuat keputusan saat pasien tidak mampu lagi.
Pernyataan pasien tersebut dibuat tertulis dan akan dijadikan pasnduan utama bagi tim
perawtan paliatif. Pada keadaan darurat, untuk kepentingan terbaik pasien, tim perawatan
paliatif dapat melakukan tindakan kedokteran yang diperlukan. Keputusan resusitasi/ tidak
resusitasi dibuat oleh pasien ketika masih mampu atau oleh tim perawatan paliatif. Hal
tersebut seharusnya sudah diinformasikan pada saat pasien memulai perawatan.
Pasien yang masih mampu memiliki hak untuk tidak menghendaki resusitasi selama
informasi yang dibutuhkan untuk membuat keputusan telah dipahami. Keputusan diberikan
dalam bentuk pesan (advanced directive) atau dalam informed consent menjelang
berkurangnya kemampuan. Keluarga terdekat pada dasarnya tidak boleh membuat keputusan
tidak resusitasi, kecuali telah dipesankan dalam advanced directive tertulis. Namun dalam
keadaan tertentu dan atas pertimbangan tertentu, permintaan tertulis oleh seluruh keluarga
dapat dimintakan penetapan pengadilan untuk pengesahannya. Tim perawatan paliatif dapat
membuat keputusan untuk tidak melakukan resusitasi sesuai pedoman klinis, yaitu apabila
pasien berada dalam tahap terminal dan tindakan resusitasi diketahui tidak akan
menyembuhkan atau memperbaiki kualitas hidupnya berdasarkan bukti ilmiah pada saat
tersebut. Tim perawatan paliatif bekerja berdasarkan kewenangan yang diberikan oleh
pimpinan rumah sakit, termasuk pada saat melakukan perawatan di rumah pasien. Pada
dasarnya, tindakan yang bersifat kedokteran harus dikerjakan oleh tenaga medis, tetapi
dengan pertimbangan yang memperhatikan keselamatan pasien, tindakan-tindakan tertentu
dapat didelegasikan kepada tenaga kesehatan non medis yang terlatih. Komunikasi antara
pelaksana dengan pembuat kebijakan harus dijaga.

2.7 prinsip – prinsip legal dan etis


1. Autonomi ( Otonomi )
Prinsip otonomi didasarkan pada keyakinan bahwa individu mampu berpikir logis dan
mampu membuat keputusan sendiri. Orang dewasa dianggap kompeten dan memiliki
kekuatan membuat sendiri, memilih dan memiliki berbagai keputusan atau pilihan yang
harus dihargai oleh orang lain. Prinsip otonomi merupakan bentuk respek terhadap
seseorang, atau dipandang sebagai persetujuan tidak memaksa dan bertindak secara
rasional. Otonomi merupakan hak kemandirian dan kebebasan individu yang menuntut
pembedaan diri. Praktek profesional merefleksikan otonomi saat perawat menghargai hak-
hak klien dalam membuat keputusan tentang perawatan dirinya.

2. Beneficience ( Berbuat Baik )


Beneficience berarti, hanya melakukan sesuatu yang baik. Kebaikan, memerlukan
pencegahan dari kesalahan atau kejahatan, penghapusan kesalahan atau kejahatan dan
peningkatan kebaikan oleh diri dan orang lain. Terkadang,dalam situasi pelayanan
kesehatan, terjadi konflik antara prinsip ini dengan otonomi.

3. Justice ( Keadilan )
Prinsip keadilan dibutuhkan untuk tercapai yang sama dan adil terhadap orang lain yang
menjunjung prinsip-prinsip moral, legal dan kemanusiaan. Nilai inidirefleksikan dalam
prkatek profesional ketika perawat bekerja untuk terapiyang benar sesuai hukum, standar
praktek dan keyakinan yang benar untuk memperoleh kualitas pelayanan kesehatan.

4. Nonmal eficience ( Tidak Merugikan )


Prinsip ini berarti tidak menimbulkan bahaya/cedera fisik dan psikologis pada klien.

5. Veracity ( Kejujuran )
Prinsip ini berarti penuh dengan kebenaran. Nilai diperlukan oleh pemberi pelayanan
kesehatan untuk menyampaikan kebenaran pada setiap klien dan untuk meyakinkan
bahwa klien sangat mengerti. Prinsip ini berhubungan dengan kemampuan seseorang
untuk mengatakan kebenaran.
6. Fidellity (Metepati Janji)
Prinsip ini dibutuhkan individu untuk menghargai janji dan komitmennya terhadap orang
lain. Perawat setia pada komitmennya dan menepati janji serta menyimpan rahasia
pasien.

7. Confidentiality ( Kerahasiaan )
Aturan dalam prinsip kerahasiaan adalah informasi tentang klien harus dijaga privasi
klien. Segala sesuatu yang terdapat dalam dokumen catatan kesehatan klien hanya boleh dibaca
dalam rangka pengobatan klien.

8. Accountability ( Akuntabilitas )
Akuntabilitas merupakan standar yang pasti bahwa tindakan seorang professional dapat
dinilai dalam situasi yang tidak jelas atau tanpa terkecuali.

9. Informed Consent
“Informed Consent” terdiri dari dua kata yaitu “informed” yang berarti telah mendapat
penjelasan atau keterangan (informasi), dan “consent” yang berarti persetujuan atau
memberi izin. Jadi “informed consent” mengandung pengertian suatu persetujuan yang
diberikan setelah mendapat informasi. Dengan demikian “informed consent” dapat
didefinisikan sebagai persetujuan yang diberikan oleh pasien dan atau keluarganya atas
dasar penjelasan mengenai tindakan medis yang akan dilakukan terhadap dirinya serta
resiko yang berkaitan dengannya.

2.8 Aplikasi Aspek Legal Dalam Keperawatan


Hukum mengatur perilaku hubungan antar manusia sebagai subjek hukum yang
melahirkan hak dan kewajiban. Dalam kehidupan manusia, baik secara perorangan maupun
berkelompok, hukum mengatur perilaku hubungan baik antara manusia yang satu dengan
yang lain, antar kelompok manusia, maupun antara manusia dengan kelompok manusia.
Hukum dalam interaksi manusia merupakan suatu keniscayaan (Praptianingsih, S., 2006)
Berhubungan dengan pasal 1 ayat 6 UU no 36/2009 tentang kesehatan berbunyi : “Tenaga
kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta
memiliki pengetahuan dan/atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang
untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan.
Begitupun dalam pasal 63 ayat 4 UU no 36/2009 berbunyi “Pelaksanaan pengobatan
dan/atau perawatan berdasarkan ilmu kedokteran atau ilmu keperawatan hanya dapat
dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu”.
Yang mana berdasarkan pasal ini keperawatan merupakan salah satu profesi/tenaga.
kesehatan yang bertugas untuk memberikan pelayanan kepada pasien yang membutuhkan
Pelayanan keperawatan di rumah sakit meliputi : proses pemberian asuhan keperawatan,
penelitian dan pendidikan berkelanjutan. Dalam hal ini proses pemberian asuhan
keperawatan sebagai inti dari kegiatan yang dilakukan dan dilanjutkan dengan pelaksanaan
penelitian-penelitian yang menunjang terhadap asuhan keperawatan, juga peningkatan
pengetahuan dan keterampilan serta sikap yang diperoleh melalui pendidikan dimana hal ini
semua bertujuan untuk keamanaan pemberian asuhan bagi pemberi pelayanan dan juga
pasien selaku penerima asuhan.
Berdasarkan undang-undang kesehatan yang diturunkan dalam Kepmenkes 1239 dan
Permenkes No. HK.02.02/Menkes/148/I/2010, terdapat beberapa hal yang berhubungan
dengan kegiatan keperawatan. Adapun kegiatan yang secara langsung dapat berhubungan
dengan aspek legalisasi keperawatan :
1. Proses Keperawatan
2. Tindakan keperawatan
3. Informed Consent
Untuk melindungi tenaga perawat akan adanya tuntutan dari klien/pasien perlu ditetapkan
dengan jelas apa hak, kewajiban serta kewenangan perawat agar tidak terjadi kesalahan
dalam melakukan tugasnya serta memberikan suatu kepastian hukum, perlindungan tenaga
perawat. Hak dan kewajiban perawat ditentukan dalam Kepmenkes 1239/2001 dan
Keputusan Direktur Jenderal Pelayanan Medik Nomor Y.M.00.03.2.6.956
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Kasus
Eutanasia & kasus Aruna Shanbaug yang koma 42 tahun
Selasa, 15 November 2016 08:02Reporter : Hery H Winarno

Aruna Shanbaug. ©istimewa


Merdeka.com - Salah satu kasus pengajuan eutanasia paling miris pernah terjadi di India. Kasus
ini menimpa seorang perawat, Aruna Ramchandra Shanbaug yang koma selama 42 tahun. Aruna
koma setelah mendapat serangan seksual. Kasus Aruna Shanbaug sangat mendunia karena sangat
miris dan menyayat hati.

Aruna Shanbaug akhirnya meninggal dunia pada Senin 18 Mei 2015. Aruna meninggal dunia
akibat serangan jantung menyusul pneumonia yang dideritanya setelah 42 tahun koma. Kepala
medis di Rumah Sakil King Edward Memorial (KEM), Mumbai, dr Ahmad Pazare mengatakan
kondisi wanita 68 tahun itu sempat membaik sebelum akhirnya mendadak serangan jantung.

"Dia mulai pulih dan kondisi medisnya membaik. Hari ini dia mengalami serangan jantung
mendadak dan tidak bisa diselamatkan," kata Pazare dikutip dari Indian Express.
Aruna seorang suster asal India kelahiran 1 Juni 1948. Aruna tidak pernah sadar alias koma
setelah mengalami kekerasan seksual. Dia disodomi secara brutal pada tahun 1973. Badannya
kurus kering dan hanya tinggal kulit pembalut tulang. Wajahnya yang dulu cantik
dengan rambut ikal yang panjang menjadi memelas dan sangat miris.

Aruna Shanbaug istimewa


Penderitaan Aruna bermula pada, Selasa 27 November 1973. Aruna yang kala itu masih berusia
25 tahun bekerja sebagai perawat junior di King Edward Memorial Hospital Parel Mumbai India.
Dia diserang oleh Sohanlal Bhartha Walmiki di basement Rumah Sakit, Aruna diikat dan
dilakukan kekerasan seksual secara brutal. Setelah kejadian, Aruna ditinggal begitu saja dalam
keadaan tidak sadarkan diri. Setelah sebelas jam dari kejadian dia baru ditemukan dalam keadaan
sangat mengenaskan.

Aruna mengalami kebutaan dan otaknya rusak sehingga koma. Karena penderitaan yang begitu
lama teman Aruna (Pinki Virani) mengajukan eutanasia kepada Mahkamah Agung India pada
tanggal 24 Januari 2011. Saat itu Aruna sudah koma selama 37 tahun. Pada 7 Maret 2011
pengadilan menolak permohonan eutanasia untuk Aruna.

Hukum di India tidak memperbolehkan eutanasia. Terlebih, pihak rumah sakit mengungkapkan
bahwa Aruna masih bisa menerima makanan dan merespons lewat ekspresi wajah. Kadang dia
membuat suara-suara.
Meski permohonan eutanasia Aruna ditolak, masalah suntik mati itu menjadi perbincangan
seantero India. Pro dan kontra eutanasia bagi Aruna menjadi pembahasan banyak orang. Namun
akhirnya Mahkamah Agung memutuskan bahwa alat penyokong kehidupan kepada pasien yang
sakit parah bisa dilepas. Tetapi syaratnya harus diajukan keluarga dan disupervisi dokter serta
pihak pengadilan. Itulah tonggak pertama eutanasia pasif di India.

Namun lahirnya aturan hukum tersebut tidak lantas membuat Aruna bisa meninggal dengan
tenang. Pengadilan tidak memperbolehkan alat penyokong kehidupan Aruna dihentikan. Sebab,
Virani yang mengajukan eutanasia tidak mempunyai ikatan darah dengan Aruna. Virani bukan
keluarga Aruna.

Aruna Shanbaug istimewa


Yang membuat miris, Walmiki tidak pernah ditahan atas kasus pemerkosaan. Saat itu, dalam
hukum di India, sodomi tidak termasuk dalam pemerkosaan. Dia hanya dihukum atas tudingan
perampokan dan percobaan pembunuhan. Walmiki bebas setelah menjalani hukuman tujuh tahun
penjara.

Kasus perkosaan memang menjadi momok di India. Dan India lagi-lagi menjadi sorotan dunia
setelah perkosaan seorang wanita di atas bus di Delhi tahun 2012 lalu yang menewaskan
korbannya. Kasus ini disusul beberapa kasus lainnya memicu kemarahan warga yang memaksa
pemerintah menerapkan hukuman mati bagi pelaku perkosaan.

Juli 2014, Biro Pencatatan Kriminal Nasional India, NCRB, mencatat setiap harinya 83 wanita
diperkosa di negara itu. New Delhi bahkan dijuluki sebagai 'ibu kota pemerkosaan di dunia'.
Menurut Biro Catatan Kriminal Nasional India, ada 309.546 kejahatan terhadap wanita yang
dilaporkan ke polisi pada tahun 2013, naik dari 244.270 kasus di tahun sebelumnya. [hhw]

3.2 Pembahasan Kasus


”Meski permohonan eutanasia Aruna ditolak, masalah suntik mati itu menjadi perbincangan
seantero India. Pro dan kontra eutanasia bagi Aruna menjadi pembahasan banyak orang. Namun
akhirnya Mahkamah Agung memutuskan bahwa alat penyokong kehidupan kepada pasien yang
sakit parah bisa dilepas. Tetapi syaratnya harus diajukan keluarga dan disupervisi dokter serta
pihak pengadilan. Itulah tonggak pertama eutanasia pasif di India.” Dari kutipan tersebut
kelompok kami menyimpulkan Eutanasia Pasif di India sudah dilegalkan sementara dunia
kedokteran Internasional sepakat tidak memperbolehkan praktik Eutanasia Aktif walaupun ada
negara-negara yang mengizinkan Eutanasia Pasif. Di Indonesia Eutanasia Aktif dan Pasif tidak
boleh dilakukan karena di Indonesia larangan Eutanasia telah diatur dalam UU KUHP pasal 344
dan secara detail menjelaskan dalam UU kesehatan dan kode etik kedokteran di Indonesia.

Jadi dapat disimpulkan bahwa praktik Eutanasia adalah tindakan Amoral tetapi tetapi jika
dipandang dari sisi pasien yang tidak sanggup terhadap penderitaan yang dialaminya seharusnya
hukum memberikan keadilan bagi kehidupan masyarakat
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Perawatan paliatif adalah sistem perawatan terpadu yang bertujuan meningkatkan
kualitas hidup, dengan cara meringankan nyeri dan penderitaan orang lain, memberikan
dukungan spiritual dan psikososial mulai saat diagnosis ditegakkan sampai akhir hayat dan
dukungan terhadap keluarga yang kehilangan atau berduka serta bertujuan memperbaiki
kualitas hidup pasien dan keluarga yang menghadapi masalah yang berhubungan dengan
penyakit yang mengancam jiwa.
Tujuan utama dari perawatan paliatif adalah untuk membantu klien dan keluarga
mencapai kualitas hidup terbaik, menganggap kematian sebagai proses normal, tidak
mempercepat atau menunda kematian, menghilangkan nyeri dan keluhan lain yang
mengganggu, menjaga keseimbangan psikologis dan spiritual, mengusahakan agar penderita
tetap aktif sampai akhir hayatnya dan membanti mengatasi suasana duka cita pada keluarga.
DAFTAR PUSTAKA

KEPMENKES RI. Kebijakan Perawatan Paliatif. VII Indonesia: Menkes; 2007.

Palliative care - Cancer Council Australia [Internet]. [cited 2017 May 28]. Available from:
http://www.cancer.org.au/aboutcancer/treatment/palliative-care.html

WHO | WHO Definition of Palliative Care. WHO [Internet]. 2012 [cited 2017 Apr 11];
Available from: http://www.who.int/cancer/palliative/definition/en/

Anda mungkin juga menyukai