Anda di halaman 1dari 3

NOVEL SEJARAH PRIBADI

NAMA : HERNINDYA TYAS RAHMAWATI

NPM : 19430012

FAKULTAS : ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

PRODI : ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL

Namaku Hernindya Tyas Rahmawati, aku biasa dipanggil dengan sebutan Tyas, aku anak
kedua dari empat bersaudara.Aku terlahir dari keluarga yang sederhana.Sekarang aku bersekolah
di UNIVERSITAS SLAMET RIYADI SURAKARTA, atau sering disebut dengan UNISRI.
Sebelum aku menemukan kebahagian hidupku banyak hal-hal buruk dan menyedihkan yang
kuhadapi, jika ada orang yang mengatakan bahwa kehidupanku selalu indah maka mereka salah.
Ada suatu kesedihan yang kusembunyikan dibalik senyumanku. Kesedihan itu sengaja
kusembunyikan karena sangat meyedihkan aku hanya ingin terlihat indah dihadapan semua
orang yang melihatku tanpa harus mengetahui perjuanganku. Kebahagian itu butuh suatu proses
yang panjang juga berliku dan aku berusaha untuk melewati proses yang panjang juga berliku
itu.

Pada tahun 2004, aku masuk ke taman kanak-kanak. Sebenarnya, aku belum ingin
bersekolah tetapi orang tuaku menyuruhku untuk sekolah dengan alasan agar aku dapat mulai
mengenal lingkungan, akhirnya aku pun setuju karena di dalam pikiranku sekolah taman kanak-
kanak cukup menyenangkan. Namun setelah kujalani, taman kanak-kanak tidak seperti yang ku
pikirkan. Taman kanak-kanak tidaklah asyik karena di sana aku tidak mempunyai teman
walaupun hanya satu orang saja. Hari demi hari ku lalui dengan menyendiri, rasanya aku ingin
sesegera mungkin tamat dari sekolah taman kanak-kanak tersebut.

Setelah tamat dari taman kanak-kanak pada tahun 2007, aku memasuki sekolah baruku
yaitu SD (Sekolah Dasar). Aku mengira, kehidupanku di Sekolah Dasar sama dengan
kehidupanku di taman kanak-kanak, namun ternyata pikiranku salah. Di Sekolah Dasar aku
menemukan kehidupan baru, di sana aku banyak menemukan teman-teman baru dan membuat
kesendirianku terhapuskan. Di sekolah dasar aku mulai belajar bagaimana caranya bergaul dan
berinteraksi dengan lingkungan. Setiap hari kulalui dengan bermain dan bercanda bersama
teman-teman ku, di situlah aku merasakan indahnya kehidupan.

Pada tahun 2014, aku selesai menempuh pendidikan di Sekolah Dasar. Tidak terasa, aku
berada di sana sudah selama enam tahun. Keluargaku mengharapkan agar aku dapat masuk ke
SMP yang terfavorit di kota, namun hati kecilku berkata tidak , aku cukup bersekolah di desa
saja. Aku tidak ingin meninggalkan kebiasaanku bermain bersama teman-teman karena ku tahu
bersekolah di sana tidaklah santai, aku harus mengorbankan sebagian besar waktu bermainku
untuk bersekolah. Disaat teman-temanku yang bersekolah di desa sudah pulang dari sekolah dan
bersiap untuk pergi bermain, disisi lain aku masih harus belajar beberapa jam lagi. Tetapi satu hal
yang membuat aku akhirnya mau bersekolah di sana yaitu kebahagiaan orang tuaku.

Pada tahun 2014,aku mulai menjalani pendidikanku di SMP yang dekat dengan rumah.
Saya tidak bisa memenuhi permintaan orang tua saya untuk bersekolah di daerah kota karena
nilai ujian nasional saaya yang hanya pas-pas an saja. Orang tua saya begitu sedih mengetahui
nilai saya yang tidak begitu memuaskan. Mereka sempat marah padaku, namun semua itu tidak
bisa merubah nilai saya. Akhirnya saya hanya mendaftar di sekolah yang dekat dengan rumah,
selain itu juga menghemat biaya transportasi. Pada awalnya, kesendirian yang kurasakan di
tengah keramaian sama seperti saat duduk di bangku taman kanak-kanak kembali kurasakan.
Namun tak lama kemudian keceriaan kembali kurasakan karena aku telah menemukan teman
baruku, teman yang menurutku sejiwa denganku yang juga berasal dari desa sama sepertiku.

Pada tahun kedua aku berada di SMP kebiasaanku mulai berubah, yang tadinya aku suka
bermain dan mengobrol bersama teman-teman berubah menjadi kebiasaan yang buruk. Saat itu
hobiku berubah ke arah kemajuan teknologi, yaitu SMS. Setiap hari kulewati dengan bermain
telepon genggam aku lupa akan kewajibanku untuk belajar dan membantu orang tuaku di rumah,
aku mulai terlena dan kecanduan akan kemajuan zaman yang akhirnya berdampak pada nilai
rapotku, aku hampIr tidak mendapatkan peringkat 10 besar di kelas dan itu membuat saya
merasa orang yang paling bodoh. Selama satu tahun aku mengalami dampak negatif dari
kemajuan teknologi tesebut, hingga pada tahun ketiga di SMP aku pun sadar kembali. Internet
telah menghipnotis semua orang. Aku sadar bahwa yang kulakukan selama satu tahun terakhir
sangatlah salah. Aku kembali sadar akan tujuan hidupku yaitu sukses dan dapat membahagiakan
orang tua sehingga aku memutuskan untuk memperbaiki diri dengan cara lebih rajin belajar demi
masa depan ku nanti.

Pada tahun 2016, aku kembali berada di sekolah baru dengan tempat dan lingkungan
yang baru yaitu SMA. Disini aku memikirkan bagiamana cara agar mendapat teman lagi karena
hampir semua yang berada di SMA tersebut tidak ada yang kukenali , sehingga saya harus
kembali beradaptasi dengan lingkungan saya yang baru. Awalnya aku berniat untuk masuk
kejurusan IPA namun entah kenapa Tuhan memilihkan IPS untukku dan dengan masuk ke
jurusan IPS cukup membuatku sedih dalam beberapa minggu. Namun setelah kujalani, memang
benar jika orang berkata bahwa apapun yang Tuhan takdirkan untuk kita semua itu akan indah
pada waktunya karena aku telah membuktikan kebenaran dari kata-kata tersebut. Aku merasa
bahagia Tuhan takdirkan di jurusan IPS ini karena di sinilah keahlianku. Seiring berjalannya
waktu aku semakin merasakan kenikmatan anugerah Tuhan Yang Masa Esa. Dimana pada awal
semester pertama aku masuk dalam 5 besar, meski baru awal saya selalu memeperbaiki nilai-
nilai saya agar nanti saat aku kelas 12 aku bisa masuk PTN melalui jalur undangan. Namun
tuhan berkata lain lagi, saya hanya masuk pemeringkatan sekolah dan tidak diterima melalui
jalur undangan yan saya impikan. Saya sempat menangis selama 2 hari, namun pada suatu
malam ssetalah saya sholat tahajud, perasaan saya menjadi tenang, dan saya memutuskan untuk
bangkit dan belajar lagi agar bisa diterima lewat jalur sbmptn. Setalah saya berdoa dan berusaha,
yang ditunggu-tunggu pun akhirnya datang. Yaapppss!! Yaitu pengumuman SBMPTN, saya
sempat takut untuk membuka karena saya takut ditolak lagi. Dan sebetulnya saya juga ditolak
pada saat pendaftaran pmdk, pssb, pbu, dan utm uns. Tapi ternyata saya diterima di PTN UNS di
prodi pendidikan sejarah, saya senang bukan main, akhirnya yang saya mau bisa terwujud. Tapi
ternyata ibu saya dan kakak saya tidak setuju jika saya mausk di pendidikan sejarah, dan
menyarankan saya untuk masuk ke PT swasta saja dan ambil jurusan HI. Saya sempat sedih, tapi
akhirnya saya menurut apa perkataan ibu dankakak saya. Hidup adalah sebuah pilihan dan kita
harus menjalankan yang sudah menjadi pilihan kita