Anda di halaman 1dari 28

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN REMATIK

Usulan proposal

Untuk memenuhi persyaratan menyelesaikan pendidikan

Diploma III jurusan keperawatan politeknik kesehatan kemenkes manado

Oleh

Varlin Aprilia kumendong

NIM : 711440117088

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MANADO

2019
BAB 1 PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Rematik adalah penyakit autoimun yang disebabkan karena adanya peradangan atau
inflamasi yang dapat menyebabkan kerusakan sendi dan nyeri. Nyeri dapat muncul apabila
adanya suatu rangsangan yang mengenai reseptor nyeri. Penyebab rematik belum diketahui
secara pasti, biasanya hanya kombinasi dari genetic, lingkungan, hormonal dan faktor system
reproduksi. Namun faktor pencetus terbesar adalah faktor infeksi seperti bakteri, mikroplasma
dan virus.

Keberhasilan pemerintah dalam pembangunan nasional telah mewujudkan hasil positif di


berbagai bidang, yaitu adanya kemajuan ekonomi, perbaikan lingkungan hidup, kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi, terutama di bidang medis atau ilmu kedokteran sehingga dapat
meningkatkan kualitas kesehatan penduduk serta meningkatkan umur harapan hidup manusia,
akibatnya jumlah penduduk yang berusia lanjut meningkat dan bertambah cenderung lebih cepat.

Jumlah penduduk yang bertambah dan usia harapan hidup lansia akan menimbulkan berbagai
masalah antara lain masalah kesehatan, psikologis dan sosial ekonomi. Permasalahan pada lansia
sebagian besar adalah masalah kesehatan akibat proses penuaan, ditambah permasalahan lain
seperti masalah keuangan, kesepian, merasa tidak berguna, dan tidak produktif. Banyaknya
permasalahan yang dihadapi lansia, maka masalah kesehatanlah yang jadi peran pertama dalam
kehidupan lansia seperti munculnya penyakit-penyakit yang sering terjadi pada lansia.

Penduduk lansia pada umumnya banyak mengalami penurunan akibat proses alamiah yaitu
proses menua (Aging) dengan adanya penurunan kondisi fisik, psikologis, maupun sosial yang
saling berinteraksi. Permasalahan yang berkembang memiliki keterkaitan dengan perubahan
kondisi fisik yang menyertai lansia. Perubahan kondisi fisik pada lansia diantaranya adalah
menurunnya kemampuan musculoskeletal kearah yang lebih buruk.
B. Rumusan masalah

Adapun rumusan masalah dalam makalah Asuhan Keperawatan Gerontik P dengan reumatik
adalah sebagai berikut:

1. Apa yang dimaksud dengan rheumatoid artritis pada lansia?

2. Apa Etiologi, Patofisiologi serta Manifestasi Klinis rheumatoid artritis yang terjadi pada
lansia?

3. Bagaimana Asuhan Keperawatan Gerontik pada lansia dengan rheumatoid artritis?

C. tujuan penelitian

1. Tujuan Umum Mengetahui gambaran umum tentang rheumatoid arthritis yang terjadi pada
lansia.

2. Tujuan Khusus

1) Mengetahui pengertian, etiologi, patofisiologi, serta tanda dan gejala yang terjadi
pada lansia penderita rheumatoid artritis.
2) Mengetahui penatalaksanaan asuhan keperawatan gerontik yang sesuai diberikan
pada lansia dengan rheumatoid arthritis

D. manfaat penelitian

1. Manfaat bagi penulis

Memperoleh pengalaman dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien secara nyata.
Menerapkan teori yang sudah didapat dalam memberikan asuhan keperawatan khususnya
Asuhan Keperawatan Gerontik dengan masalah rheumatoid artritis, memperoleh pengalaman
dalam memberikan asuhan keperawatan kepada klien secara nyata, dan menambah wawasan
dalam menangani klien dengan masalah rheumatoid artritis.

2. bagi institusi pendidikan

Sebagai bahan masukan yang dapat dimanfaatkan untuk acuan dalam kegiatan belajar mengajar
khususnya asuhan keperawatan dengan rematik

3. bagi masyarakat

Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan tentang dampak dari rematik
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep dasar rematik


1. Definisi
Reumatoid arthritis adalah gangguan autoimun kronik yang menyebabkan proses
inflamasi pada sendi (Lemone & Burke, 2001 : 1248). Reumatik dapat terjadi pada semua
jenjang umur dari kanak-kanak sampai usia lanjut. Namun resiko akan meningkat dengan
meningkatnya umur (Felson dalam Budi Darmojo, 1999).
Rematoid Artritis merupakan suatu penyakit inflamasi sistemik kronik yang manifestasi
utamanya adalah poliartritis yang progresif, akan tetapi penyakit ini juga melibatkan
seluruh organ tubuh (Hidayat, 2006).
Osteoartritis atau rematik adalah penyakit sendi degeneratif dimana terjadi kerusakan
tulang rawan sendi yang berkembang lambat dan berhubungan dnegan usia lanjut,
terutama pada sendi-sendi tangan dan sendi besar yang menanggung beban
Secara klinis osteoartritis ditandai dengan nyeri, deformitas, pembesaran sendi dan
hambatangerak pada sendi-sendi tangan dan sendi besar. Seringkali berhubungan dengan
trauma maupun mikrotrauma yang berulang-ulang, obesitas, stress oleh beban tubuh dan
penyakit-penyakit sendi lainnya.
2. Penyebab (etiologi)
Etiologi penyakit ini tidak diketahui secara pasti. Namun ada beberapa faktor resiko
yang diketahui berhubungan dengan penyakit ini, antara lain;
1. Usia lebih dari 40 tahun
Dari semua faktor resiko untuk timbulnya osteoartritis, faktor penuaan adalah yang
terkuat. Akan tetapi perlu diingat bahwa osteoartritis bukan akibat penuaan saja.
Perubahan tulang rawan sendi pada penuaan berbeda dengan eprubahan pada
osteoartritis.
2. Jenis kelamin wanita lebih sering
Wanita lebih sering terkena osteosrtritis lutut dan sendi. Sedangkan laki-laki lebih sering
terkena osteoartritis paha, pergelangan tangan dan leher. Secara keseluruhan, dibawah 45
tahun, frekuensi psteoartritis kurang lebih sama antara pada laki-laki dan wanita, tetapi
diats usia 50 tahunh (setelah menopause) frekuensi osteoartritis lebih banyak pada wanita
daripada pria. Hal ini menunjukkan adanya peran hormonal pada patogenesis
osteoartritis.
3. Suku bangsa
Nampak perbedaan prevalensi osteoartritis pada masingn-masing suku bangsa. Hal ini
mungkin berkaitan dnegan perbedaan pola hidup maupun perbedaan pada frekuensi
kelainan kongenital dan pertumbuhan tulang.
4. Genetik
5. Kegemukan dan penyakit metabolik
Berat badan yang berlebih, nyata berkaitan dengan meningkatnya resiko untuk timbulnya
osteoartritis, baik pada wanita maupun pria. Kegemukan ternyata tidak hanya berkaitan
dengan oateoartritis pada sendi yang menanggung beban berlebihan, tapi juga dnegan
osteoartritis sendi lain (tangan atau sternoklavikula). Olehkarena itu disamping faktor
mekanis yang berperan (karena meningkatnya beban mekanis), diduga terdapat faktor
lain (metabolit) yang berpperan pada timbulnya kaitan tersebut.
6. Cedera sendi, pekerjaan dan olahraga
Pekerjaan berat maupun dengan pemakaian satu sendi yang terus menerus berkaitan
dengan peningkatan resiko osteoartritis tertentu. Olahraga yang sering menimbulkan
cedera sendi yang berkaitan dengan resiko osteoartritis yang lebih tinggi.
7. Kelainan pertumbuhan
Kelainan kongenital dan pertumbuhan paha telah dikaitkan dengan timbulnya
oateoartritis paha pada usia muda.
8. Kepadatan tulang
Tingginya kepadatan tulang dikatakan dapat meningkatkan resiko timbulnya osteoartritis.
Hal ini mungkin timbul karena tulang yang lebih padat (keras) tidak membantu
mengurangi benturan beban yang diterima oleh tulang rawan sendi. Akibatnya tulang
rawan sendi menjadi lebih mudah robek.
3. Jenis Reumatik
Menurut Adelia, (2011) ada beberapa jenis reumatik yaitu:
a. Reumatik Sendi ( Artikuler )
Reumatik yang menyerang sendi dikenal dengan nama reumatik sendi (reumatik
artikuler). Penyakit ini ada beberapa macam yang paling sering ditemukan yaitu:
1) Artritis Reumatoid
Merupakan penyakit autoimun dengan proses peradangan menahun yang tersebar
diseluruh tubuh, mencakup keterlibatan sendi dan berbagai organ di luar
persendian.Peradangan kronis dipersendian menyebabkan kerusakan struktur sendi yang
terkena.Peradangan sendi biasanya mengenai beberapa persendian sekaligus. Peradangan
terjadi akibat proses sinovitis (radang selaput sendi) serta pembentukan pannus yang
mengakibatkan kerusakan pada rawan sendi dan tulang di sekitarnya, terutama di
persendian tangan dan kaki yang sifatnya simetris (terjadi pada kedua sisi). Penyebab
Artritis Rematoid belum diketahui dengan pasti. Ada yang mengatakan karena
mikoplasma, virus, dan sebagainya. Namun semuanya belum terbukti. Berbagai faktor
termasuk kecenderungan genetik, bisa mempengaruhi reaksi autoimun. Bahkan beberapa
kasus Artritis Rematoid telah ditemukan berhubungan dengan keadaan stres yang berat,
seperti tiba-tiba kehilangan suami atau istri, kehilangan satu¬-satunya anak yang
disayangi, hancurnya perusahaan yang dimiliknya dan sebagainya. Peradangan kronis
membran sinovial mengalami pembesaran (Hipertrofi) dan menebal sehingga terjadi
hambatan aliran darah yang menyebabkan kematian (nekrosis) sel dan respon
peradanganpun berlanjut. Sinovial yang menebal kemudian dilapisi oleh jaringan
granular yang disebut panus. Panus dapat menyebar keseluruh sendi sehingga semakin
merangsang peradangan dan pembentukan jaringan parut. Proses ini secara perlahan akan
merusak sendi dan menimbulkan nyeri hebat serta deformitas (kelainan bentuk).
2) Osteoatritis
Adalah sekelompok penyakit yang tumpang tindih dengan penyebab yang belum
diketahui, namun mengakibatkan kelainan biologis, morfologis, dan keluaran klinis yang
sama.Proses penyakitnya berawal dari masalah rawan sendi (kartilago), dan akhirnya
mengenai seluruh persendian termasuk tulang subkondrial, ligamentum, kapsul dan
jaringan sinovial, serta jaringan ikat sekitar persendian (periartikular). Pada stadium
lanjut, rawan sendi mengalami kerusakan yang ditandai dengan adanya fibrilasi, fisur,
dan ulserasi yang dalam pada permukaan sendi. Etiologi penyakit ini tidak diketahui
dengan pasti. Ada beberapa faktor risiko yang diketahui berhubungan dengan penyakit
ini, yaitu : Usia lebih dari 40 tahun, Jenis kelamin wanita lebih sering, Suku bangsa,
genetik, kegemukan dan penyakit metabolik, cedera sendi, pekerjaan, dan olah raga,
kelainan pertumbuhan, kepadatan tulang, dan lain-lain.
3) Atritis Gout
Penyakit ini berhubungan dengan tingginya asam urat darah (hiperurisemia) . Reumatik
gout merupakan jenis penyakit yang pengobatannya mudah dan efektif. Namun bila
diabaikan, gout juga dapat menyebabkan kerusakan sendi. Penyakit ini timbul akibat
kristal monosodium urat di persendian meningkat. Timbunan kristal ini menimbulkan
peradangan jaringan yang memicu timbulnya reumatik gout akut. Pada penyakit gout
primer, 99% penyebabnya belum diketahui (idiopatik). Diduga berkaitan dengan
kombinasi faktor genetic dan faktor hormonal yang menyebabkan gangguan metabolisme
yang dapat mengakibatkan meningkatnya produksi asam urat atau bisa juga diakibatkan
karena berkurangnya pengeluaran asam urat dari tubuh. Penyakit gout sekunder
disebabkan antara lain karena meningkatnya produksi asam urat karena nutrisi, yaitu
mengkonsumsi makanan dengan kadar purin yang tinggi. Purin adalah salah satu
senyawa basa organic yang menyusun asam nukleat (asam inti dari sel) dan termasuk
dalam kelompok asam amino, unsur pembentuk protein. Produksi asam urat meningkat
juga bisa karena penyakit darah (penyakit sumsum tulang, polisitemia), obat-obatan
(alkohol, obatobat kanker, vitamin B12). Penyebab lainnya adalah obesitas (kegemukan),
penyakit kulit (psoriasis), kadar trigliserida yang tinggi. Pada penderita diabetes yang
tidak terkontrol dengan baik biasanya terdapat kadar benda-benda keton (hasil buangan
metabolisme lemak) yang meninggi. Benda-benda keton yang meninggi akan
menyebabkan asam urat juga ikut meninggi.

b. Reumatik Jaringan Lunak (Non-Artikuler)


Merupakan golongan penyakit reumatik yang mengenai jaringan lunak di luar sendi (soft
tissue rheumatism) sehingga disebut juga reumatik luar sendi (ekstra artikuler
rheumatism). Jenis – jenis reumatik yang sering ditemukan yaitu:
1) Fibrosis
Merupakan peradangan di jaringan ikat terutama di batang tubuh dan anggota gerak.
Fibrosis lebih sering ditemukan oleh perempuan usia lanjut, penyebabnya adalah faktor
kejiwaan.
2) Tendonitis dan tenosivitis
Tendonitis adalah peradangan pada tendon yang menimbulkan nyeri lokal di tempat
perlekatannya. Tenosivitis adalah peradangan pada sarung pembungkus tendon.
3) Entesopati
Adalah tempat di mana tendon dan ligamen melekat pada tulang. Entesis ini dapat
mengalami peradangan yang disebut entesopati. Kejadian ini bisa timbul akibat
menggunakan lengannya secara berlebihan, degenerasi, atau radang sendi.
4) Bursitis
Adalah peradangan bursa yang terjadi di tempat perlekatan tendon atau otot ke tulang.
Peradangan bursa juga bisa disebabkan oleh reumatik gout dan pseudogout.

5) Back Pain
Penyebabnya belum diketahui, tetapi berhubungan dengan proses degenerarif diskus
intervertebralis, bertambahnya usia dan pekerjaan fisik yang berat, atau sikap postur
tubuh yang salah sewaktu berjalan, berdiri maupun duduk. Penyebab lainnya bisa akibat
proses peradangan sendi, tumor, kelainan metabolik dan fraktur.
6) Nyeri pinggang
Kelainan ini merupakan keluhan umum karena semua orang pernah mengalaminya. Nyeri
terdapat kedaerah pinggang kebawah (lumbosakral dan sakroiliaka) Yng dapat menjalar
ke tungkai dan kaki.
7) Frozen shoulder syndrome
Ditandai dengan nyeri dan ngilu pada daerah persendian di pangkal lengan atas yang bisa
menjalar ke lengan atas bagian depan, lengan bawah dan belikat, terutama bila lengan
diangkat keatas atau digerakkan kesamping. Akibat pergerakan sendi bahu menjadi
terbatas.
4. Manifestasi klinik
Gejala utama dari osteoartritis adalah adanya nyeri pada sendi yang terkena, etrutama
waktu bergerak. Umumnya timbul secara perlahan-lahan. Mula-mula terasa kaku,
kemudian timbul rasa nyeri yang berkurang dnegan istirahat. Terdapat hambatan pada
pergerakan sendi, kaku pagi, krepitasi, pembesaran sendi dn perubahan gaya jalan. Lebih
lanjut lagi terdapat pembesaran sendi dan krepitasi.
Tanda-tanda peradangan pada sendi tidak emnonjol dan timbul belakangan, mungkin
dijumpai karena adanya sinovitis, terdiri dari nyeri tekan, gangguan gerak, rasa hangat
yang merata dan warna kemerahan, antara lain;
1. Nyeri sendi
Keluhan ini merupakan keluhan utama. Nyeri biasanya bertambah dengan gerakan dan
sedikit berkurang dengan istirahat. Beberapa gerakan tertentu kadang-kadang
menimbulkan rasa nyeri yang lebih dibandingkan gerakan yang lain.
2. Hambatan gerakan sendi
Gangguan ini biasanya semakin bertambah berat dengan pelan-pelan sejalan dengan
bertambahnya rasa nyeri.
3. Kaku pagi
Pada beberapa pasien, nyeri sendi yang timbul setelah immobilisasi, seperti duduk dari
kursi, atau setelah bangun dari tidur.
4. Krepitasi
Rasa gemeretak (kadqang-kadang dapat terdengar) pada sendi yang sakit.
5. Pembesaran sendi (deformitas)
Pasien mungkin menunjukkan bahwa salah satu sendinya (lutut atau tangan yang paling
sering) secara perlahan-lahan membesar.
6. Perubahan gaya berjalan
Hampir semua pasien osteoartritis pergelangan kaki, tumit, lutut atau panggul
berkembang menjadi pincang. Gangguan berjalan dan gangguan fungsi sendi yang lain
merupakan ancaman yang besar untuk kemandirian pasien yang umumnya tua (lansia).
5. Patofisioligi
Inflamasi mula-mula mengenai sendi-sendi sinovial seperti edema, kongesti vaskular,
eksudat febrin dan infiltrasi selular. Peradangan yang berkelanjutan, sinovial menjadi
menebal, terutama pada sendi artikular kartilago dari sendi. Pada persendian ini granulasi
membentuk pannus, atau penutup yang menutupi kartilago. Pannus masuk ke tulang sub
chondria. Jaringan granulasi menguat karena radang menimbulkan gangguan pada nutrisi
kartilago artikuer. Kartilago menjadi nekrosis.
Tingkat erosi dari kartilago menentukan tingkat ketidakmampuan sendi. Bila kerusakan
kartilago sangat luas maka terjadi adhesi diantara permukaan sendi, karena jaringan
fibrosa atau tulang bersatu (ankilosis). Kerusakan kartilago dan tulang menyebabkan
tendon dan ligamen jadi lemah dan bisa menimbulkan subluksasi atau dislokasi dari
persendian. Invasi dari tulang sub chondrial bisa menyebkan osteoporosis setempat.
Lamanya arthritis rhematoid berbeda dari tiap orang. Ditandai dengan masa adanya
serangan dan tidak adanya serangan. Sementara ada orang yang sembuh dari serangan
pertama dan selanjutnya tidak terserang lagi. Yang lain. terutama yang mempunyai
faktor rhematoid (seropositif gangguan rhematoid) gangguan akan menjadi kronis yang
progresif.

6. Pemeriksaan Diagnostik
1. Tes serologi
 Sedimentasi eritrosit meningkat
 Darah, bisa terjadi anemia dan leukositosis
 Rhematoid faktor, terjadi 50-90% penderita
2. Pemerikasaan radiologi
 Periartricular osteoporosis, permulaan persendian erosi
 Kelanjutan penyakit: ruang sendi menyempit, sub luksasi dan ankilosis
3. Aspirasi sendi
Cairan sinovial menunjukkan adanya proses radang aseptik, cairan dari sendi dikultur dan
bisa diperiksa secara makroskopik.
7. Penatalaksanaan/ perawatan Osteoartritis, antara lain;
1. Medikamentosa
Tidak ada pengobatan medikamentosa yang spesifik, hanya bersifat simtomatik. Obat
antiinflamasi nonsteroid (OAINS) bekerja hanya sebagai analgesik dan mengurangi
peradangan, tidak mampu menghentikan proses patologis
2. Istirahatkan sendi yang sakit, dihindari aktivitas yang berlebihan pada sendi yang
sakit.
3. Mandi dengan air hangat untuk mengurangi rasa nyeri
4. Lingkungan yang aman untuk melindungi dari cedera
5. Dukungan psikososial
6. Fisioterapi dengan pemakaian panas dan dingin, serta program latihan yang tepat
7. Diet untuk emnurunkan berat badan dapat mengurangi timbulnya keluhan
8. Diet rendah purin:
Tujuan pemberian diet ini adalah untuk mengurangi pembentukan asam urat dan
menurunkan berat badan, bila terlalu gemuk dan mempertahankannya dalam batas
normal. Bahan makanan yang boleh dan yang tidak boleh diberikan pada penderita
osteoartritis:
Golongan Makanan yang boleh Makanan yang tidak
bahan diberikan boleh diberikan
makanan
Karbohidrat Semua --
Protein Daging atau ayam, ikan Sardin, kerang, jantung,
hewani tongkol, bandeng 50 gr/hari, hati, usus, limpa, paru-paru,
telur, susu, keju otak, ekstrak daging/ kaldu,
bebek, angsa, burung.
Kacang-kacangan kering 25 --
Protein nabati gr atau tahu, tempe, oncom

Minyak dalam jumlah --


Lemak terbatas.

Asparagus, kacang polong,


Sayuran Semua sayuran sekehendak kacang buncis, kembang
kecuali: asparagus, kacang kol, bayam, jamur
polong, kacang buncis, maksimum 50 gr sehari
kembang kol, bayam, jamur
maksimum 50 gr sehari
--
Buah-buahan Semua macam buah
Alkohol
Minuman Teh, kopi, minuman yang
mengandung soda Ragi
Bumbu, dll Semua macam bumbu

8. Komplikasi
a. Dapat menimbulkan perubahan pada jaringan lain seperti adanya proses granulasi di
bawah kulit yang disebut subcutan nodule.
b. Pada otot dapat terjadi myosis, yaitu proses granulasi jaringan otot
c. Pada pembuluh darah terjadi tromboemboli
d. Terjadi splenomegaly

B. Konsep asuhan keperawatan


1. Pengkajian
Pengkajian merupakan langkah awal dalam proses keperawatan yang harus dilakukan
secara sistematis agar dapat memberikan asuhan keperawatan yang tepat untuk klien.
Adapun beberapa hal yang perlu dikaji adalah sebagai berikut :
 Identitas umum
Yang perlu diketahui disini meliputi : nama, alamat, umur, jenis kelamin,
agama/suku, penanggung jawab (nama, alamat, hubungan dengan klien),
alasan masuk, tanggal masuk, diagnose medic, dan lain sebagainya.
 Riwayat penyakit
Keluhan utama, riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu, riwayat
penyakit keluarga
2. Diagnose keperawatan
a. Nyeri kronis b/d proses inflamasi
b. Hambatan mobilitas fisik b/d nyeri persendian

3. Intervensi keperawatan
1) Nyeri kronis b/d proses inflamasi
a) Kriteria hasil
1. Nyeri teratasi atau berkurang
2. Ekspresi wajah tenang
b) Intervensi
1. Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif, termasuk
lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor
prespitasi
2. Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknymanan
3. Ajarkan teknik nonfarmakologi
- teknik relaksasi nafas dalam
- atur posisi nyaman
- masase lembut
4. Monitor penerimaan kien tentang manajemen nyeri
5. Kolaborasi dengan tim medis dan obat yaitu natrium
diklofenak
2) Hambatan mobilitas fisik b/d nyeri persendian
a. Kriteria hasil
Bisa melakukan aktivitas secara mandiri
b. Intervensi
1. Bantu klien untuk menggunakan tongkat saat berjalan dan cegah
terhadap cedera
2. Ajarkan klien tentang teknik ambulasi
3. Kaji kemampuan klien dalam mobilisasi
4. Dampingi klien dan bantu saat mobilisasi dan bantu penuhi adls
5. Berikan alat bantu jika klien memerlukan
6. Ajarkan klien bagaimana merubah posisi dan berikan bantuan jika
diperlukan
BAB III
METODE PENELITIAN

A. Jenis penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian yang bersifat studi kasus

B. Subjek

Pasien yang dirawat ugd dengan rematik di rs

C. Lokasi penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di rs. Waktu penelitian

D. Definisi operasional

Pemberian asuhan keperawatan pada pasien dengan diagnose rematik di rs mulai dari
pengkajian sampai dengan evaluasi

E. Jalannya Penelitian

Penelitian ini dilakukan dalam beberapa tahap yaitu sebagai berikut :

1. Tahap persiapan

a) Kegiatan yang dilakukan meliputi survey pendahuluan, pengusulan judul dan

pembuatan/konsultasi proposal

b) Dilakukan seminar proposal dilanjutkan dengan perbaikan proposal

c) Pengesahan proposal

d) Konsultasi dan pembuatan izin penelitian


2. Tahap pelaksanaan

a) Mengajukan surat izin penelitian

b) Pengajuan surat permohonan untuk bersedia menjadi subjek penelitian kepada calon

responden berupa informed consent

c) Menjelaskan tujuan penelitian yang akan dilakukan

d) Melakukan pengumpulan data pada responden, memberikan kuisioner

e) Setelah terkumpul peneliti melakukan pemeriksaan, kelengkapan, kesinambungan dan

keseragaman data.

f) Data dimasukan kedalam master tabel

3. Tahap pengujian

a) Penyusunan/konsultasi Karya Tulis Ilmiah

b) Ujian KTI dilanjutkan dengan revisi Karya Tulis Ilmiah

c) Pengesahan Karya Tulis Ilmiah

J. Etika Penelitian

1. Informed Consent

Sebelum dilakukan penelitian maka akan diedarkan lembaran persetujuan untuk menjadi

responden, dengan tujuan agar subjek mengerti maksud dan tujuan penelitian, serta mengetahui

dampaknya, jika subjek bersedia maka responden harus menandatangani lembar persetujuan dan

jika bersedia maka peneliti harus menghormati hak responden.

2. Anonimity (tanpa nama)

Menjelaskan bentuk alat ukur dengan tidak perlu mencantumkan nama pada lembar

pengumpulan data, hanya menuliskan kode pada pengumpulan data.


3. Confentiality

Kerahasiaan informasi yang telah dikumpulkan dijamin kerahasiaannya oleh peneliti, hanya

kelompok data tertentu yang akan dilaporkan pada hasil riset.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

1. Pengkajian

a. Data demografi :

1. Nama : Ny. MD

2. Tempat/tanggal lahir :15 april 1950

3. Umur : 69

4. Agama : Kristen

5. Pendidikan : SMA

6. Pekerjaan : IRT

7. Alamat : manado

8. Tanggal MRS : 17 agustus 2019

9. No.RM : 08821

10. Status perkawinan : sudah menikah

11. Suku : minahasa

12. Sumber informasi : pasien dan suami pasien

Keluarga terdekat :

13. Nama : Tn. AN

14. Pendidikan : SMA

15. Alamat : manado


16. Pekerjaan : swasta

b. Status kesehatan

1. Keluhan utama

Nyeri pada kaki sebelah kanan

2. Riwayat Penyakit Sekarang

Pada saat melakukan pengkajian, klien mengatakan nyeri pada kaki sebelah kanan
sejak 4 tahun yang lalu. P=Nyeri pada saat bergerak/beraktivitas, Q=Nyeri seperti
ditusuk-tusuk, R=Pada kaki sebelah kanan, S=Skala nyeri 6 (0-10), T=Nyeri
sewaktu-waktu 5 menit sekali. Klien tampak meringis dan klien tampak memegang
kaki sebelah kanan.

3. Riwayat Penyakit Dahulu

Klien mengatakan dahulu pernah mengalami sakit hipertensi, klien mengatakan


sekarang tidak hipertensi lagi karena klien mengkonsumsi obat dari poliklinik yaitu
Captopril dan klien sering mengkonsumsi mentimun

4. Riwayat Penyakit Keluarga

Klien mengatakan dikeluarga ada yang mengalami sakit jantung yaitu ayah klien dan
sakit typhus yaitu ibu klien

Genogram
Keterangan:
: Laki-laki
: Perempuan
: Klien
: Meninggal
: Tinggal serumah
: Garis keturunan

c. Pengkajian kesehatan fungsional

1) Pola nutrisi :

a) Berat badan : -

b) Tinggi badan :-

c) Frekuensi makan : 3x sehari

d) Jenis makanan : Nasi, ikan, sayur

2) Pola eliminasi :

a) Buan air besar : pasien mengatakan BAB 1x sehari, pada waktu pagi hari, dengan

warna kecoklatan, dngan konsistensi lembek dan tidak ada kesulitan saat BAB.

b) Buang air kecil : pasien mengatakan BAK 4x sehari, dengan warna kekuningan dan

tidak ada kesulitan saat BAK

3) Pola isitrahat dan tidur : pasien mengatakan biasa lama tidur bias 7-8 jam dan tidak

ada gangguan tidur

4) Pola aktivitas dan latihan : pasien mengatakan setelah selesai melakukan pekerjaan

rumah klien hanya menonton tv

5) Pola bekerja : klien mengatakan bekerja sebagai ibu rumah tangga.


d. Pengkajian sekunder

1) Kepala : tidak ada perdarahan, tidak ada nyeri tekan, rambut kepala bersih, tidak ada

benjolan

2) Mata : fungsi penglihatan baik pasien masih bisa membaca dalam jarak jauh sekitar 5
meter tapi terasah pusing ketika melihat sinar matahari
3) Telinga : pendengaran baik, posisi simetris kiri dan kanan, tidak ada keluhan

4) Hidung dan sinus : tidak ada pembengkakan, tidak ada perdarahan, tidak ada

keluhan, penciuman baik.

5) Mulut dan tenggorokan : keadaan gigi baik, keadaan membrane mukosa merah muda

dan lembab, tidak ada kesulitan menelan.

6) Leher : tidak ada pembengkakan kelenjar getah bening, tidak ada luka, tidak ada nyeri

tekan.

7) Thoraks : tidak ada kelainan bentuk thoraks, pergerakan dada kanan kiri simetris,

tidak ada pembengkakan dan perdarahan, respirasi 20 x/menit

8) Sirkulasi : frekuensi nadi 98x/ menit, tekanan darah 170/110 mmHg, suhu tubuh 37,60

c, turgor kulit baik.

9) Abdomen : tidak ada luka, tidak ada memar, tidak ada perdarahan, nafsu makan baik,

tidak menggunakan NGT, frrekuensi BAB 1x sehari dengan warna kecoklatan,

dengan konsistensi lembek, BAK 4x/ hari dengan warna kuning, klien memiliki 2

orang anak yang di lahirkan secara normal, tidak ada gangguan dan keluhan pada

sistem reproduksi.

10) Ektermitas : klien mengatakan kedua kaki mengalami nyeri, terutama kaki sebelah

kanan. Klien mengatakan kaki terasa lemah dan terkadang tersa kram
e. Analisa data

NO. DATA ETIOLOGI MASALAH


1. DS : Klien mengatakan nyeri pada Proses Nyeri
kaki sebelah kanan sejak  4 tahun Inflamasi Kronis
P= Nyeri pada saat bergerak/
beraktivitas
Q= Nyeri seperti ditusuk-tusuk
R= Pada kaki sebelah kanan
S= Skala nyeri 6 (0-10)
T= Nyeri sewaktu – waktu  5 menit
sekali

DO :
- Klien tampak meringis
- Klien tampak memegang kaki
sebelah kanan

2. DS: Penurunan Hambatan


- Klien mengatakan kaki terasa lemah Kekutan Mobilitas
- Kaki klien terkadang kram Otot Fisik

DO :
- Klien tampak bergerak/berjalan
lambat
- Klien tampak memakai tongkat saat
berjalan
- Umur = 75 tahun
- Skala otot 5555 5555
4444 4444
Ekstremitas atas skala otot 5=kekuatan
penuh
Ekstremitas bawah Skala otot 4=
kekuatan kurang

f. Diagnose keperawatan
1. Nyeri kronis b/d proses inflamasi
2. Hambatan mobilitas fisik b/d nyeri persendian
g. Intervensi

Diagnosa
No Keperawata Tujuan & Kriteria Hasil Intervensi
n
1. Nyeri Setelah dilakukan tindakan 1. Lakukan pengkajian nyeri
Kronis b/d keperawatan selama 1x 8 jam secara komprehensif,
Proses diharapkan nyeri teratasi, termasuk lokasi,
Inflamasi kriteria hasil : karakteristik, durasi,
Indikator IR ER frekuensi, kualitas dan
-melaporkan adanya 3 4 faktor prespitasi
nyeri 2. Observasi reaksi
-luas bagian tubuh yg 3 4 nonverbal dari
terpengaruh ketidaknymanan
-frekuensi nyeri 3 4 3. Ajarkan teknik
-pernyataan nyeri 3 4 nonfarmakologi
Ekspresi nyeri pada - teknik relaksasi nafas
wajah dalam
- atur posisi nyaman
Ket: - masase lembut
1. Kuat 4. Monitor penerimaan kien
2. Berat tentang manajemen nyeri
3. Sedang 5. Kolaborasi dengan tim
4. Ringan medis dan obat yaitu
5. Tidak ada natrium diklofenak

2 Hambatan Setelah dilakukan tindakan 1. Bantu klien untuk


Mobilitas keperawatan selama 1 x 8 jam menggunakan tongkat saat
b/d diharapkan mobilitas fisik berjalan dan cegah terhadap
Penurunan dalam rentang normal. cedera
kekuatan Kriteria hasil : 2. Ajarkan klien tentang
otot Indikator IR ER teknik ambulasi
-keseimbangan tubuh 3 4 3. Kaji kemampuan klien
-posisi tubuh 3 4 dalam mobilisasi
-gerakan otot 3 4 4. Dampingi klien dan bantu
-gerakan sendi 3 4 saat mobilisasi dan bantu
-kemampuan 3 4 penuhi adls
berpindah 5. Berikan alat bantu jika
-ambulasi= 3 4 klien memerlukan
berpindah 6. Ajarkan klien bagaimana
Ket: merubah posisi dan berikan
1. Tidak mandiri bantuan jika diperlukan
2. Dibantu orang dan alat
3. Dibantu orang
4. Dibantu alat
5. Mandiri penuh

h. Implementasi

Diagnosa
No Keperawat Implementasi Evaluasi
an
1 Nyeri 1. Melakukan pengkajian S : Klien mengatakan nyeri pada kaki
Kronis b/d nyeri secara sebelah kanan
Proses komprehensif termasuk -P= Nyeri pada saat
lokasi, karakteristik,
Inflamasi beraktifitas/bergerak
durasi, frekuensi, kualitas
dan faktor prespitasi -Q = Nyeri seperti ditusuk-tusuk
H/P = Nyeri saat -R = Pada kaki sebelah kanan
bergerak / beraktifitas -S = Skala nyeri 6 (0-10) sedang
Q= nyeri seperti ditusuk- -T = sewaktu –waktu  5 menit sekali
tusuk O : -klien tampak meringis
R=Pada harus sebelah -klien tampak memegangi kakinya
kanan
S=Skala nyeri 6 (0-10)
T=Nyeri sewaktu-waktu A: Masalah belum teratasi
hilang timbul  5 menit Indikator IR ER
2. Mengobservasi reaksi -Melaporkan adanya nyeri 3 4
nonverbal dari -Luas bagian tubuh yang 3 4
ketidaknyamanan terpengaruh
H/ Klien tampak -Frekuensi nyeri 3 4
meringis, memegangi -Panjangnya episode nyeri 3 4
kakinya -Pernyataan nyeri 3 4
3. mengajarkan tentang -Ekspresi nyeri pada wajah 3 4
teknik nonfarmakologi
-teknik relaksasi nafas
dalam P : Lanjutkan Intervensi
H/ Klien menarik nafas
dalam
saat terasa sakit Tarik
nafas tahan 2-3 detik
kemudian hembuskan
-Mengatur posisi nyaman
H/ memberikan posisi
nyaman
H/ memberikan posisi
nyaman untuk klien
-masase lembut
-memijat-mijat untuk
mengurangi rasa sakit
4. Memonitor
penerimaan klien tentang
manajemen nyeri
H/ klien tamoak
kooperatif melakukan
manajemen nyeri

2. Hambatan 1. Membantu klien untuk S: Klien mengatakan tubuh terasa lemah


Mobilitas menggunakan tongkat
Fisik b/d saat berjalan dan O: -klien tampak bergerak/beraktivitas
mencegah terhadap
-klien tampak gemetar saat berjalan
cedera
H/ Klien menggunakan - klien tampak memakai tongkat saat
tongkat saat berjalan berjalan
2. Mengajarkan teknik
ambulasi A : Masalah belum teratasi
H/ Mengangkat tubuh
pelan-pelan dan Indikator I ER
berpegangan pada R
tongkat -keseimbangan tubuh 3 4
3. Mengkaji kemampuan -Posisi tubuh 3 4
klien dalam mobilisasi -gerakan tubuh 3 4
H/ Klien dapat -gerakan sendi 3 4
melakukan mobilisasi -kemampuan berpindah 3 4
dengan berpegangan -ambulasi 3 4
pada dinding secara berpindah
pelan-pelan
4. Mendampingi dan
membantu klien saat
mobilisasi dalam P: Lanjutkan Intervensi
membantu memenuhi
kebutuhan ADLs
H/ Mendampingi klien
saat mobilisasi dan
membantu klien
mengambilkan makanan
saat jam makan siang
5. Memberikan alat bantu
jika klien memerlukan
H/ Memberikan tongkat
untuk berjalan
6. Mengajarkan klien
bagaimanaa merubah
posisi dan memberikan
bantuan
-Miring kanan kiri saat
berbaring/berduduk

Pembahasan

Dalam praktek keperawatan pada Ny. M. D diperlukan perawatan secara

komprehensif untuk memecahkan masalah kesehatan yang di hadapi oleh pasien

dengan tahapan proses keperawatan yang meliputi pengkajian, diagnose, intervensi,

implementasi, dan evaluasi yang dilakukan selama 8 jam di igd pada tamnggal 25 juni

2019 adalah sebagai berikut :

1. Pengkajian

Pengkajian merupakan tahap awal dari proses keperawatan. Berdasarkan hal

tersebut di lakukan pada Ny. M. D pada tanggal 25 juni 2019 berdasarkan teori,

artikel dan praktek klinik, di dapatkan ada kesenjangan, karena tidak semua

masalah yang terdapat dalam teori ditemukan dalam praktek lapangan.

2. Diagnosa

Diagnose keperawatan yang muncul sesuai teori :

a. Nyeri kronis b/d proses inflamasi


b. Hambatan mobilitas fisik b/d nyeri persendian

3. Prencanaan

Merupakan lanjutan dari diagnose keperawatan dalam rangka mengatasi

permasalahan yang timbul, penulis menyusun satu perencanaan tindakan

keperawatan agar asuhan keperawatan yang diberikan dapat dilakasanakan


lebih rasional dan benar-benar berkualitas sehingga kebutuhan px dapat

terpenuhi dengan optimal.

4. Implementasi

pada tahap implementasi keperawatan semua intervensi

dilaksanakan berdasarkan diagnosa yang ada, mulai dari diangnosa

pertama hingga ke empat semua dilaksanakan.

5. Evaluasi

Evaluasi keperawatan merupakan tahap akhir dalam proses

keperawatan, diama pada tahap ini penulis melakukan evaluasi pada

klien dengan tujuan dan kriteria hasil yang dicapai dalam diagnosa

keperawatan yang di angkat sesuai kegawat daruratan di IGD,

evaluasi dilakukan dengan memperhatikan respon dan perubahan

perubahan yang terjadi pada pasien.


BAB V

PENUTUP

Kesimpulan

Setelah diberikan Asuhan Keperawatan pada klien dengan rematoid astritis maka
dapat disimpulkan bahwa terdapat beberapa kesenjangan antara teori dan kasus
pada pengakajian tidak ditemukan semua tanda dan gejala hanya beberapa yaitu
Nyeri kronis b/d proses inflamasi Pada penatalaksanaan yang terjadi dilapangan
klien kooperatif dan mau diajak bekerja sama sehingga memudahkan proses
keperawatan

Saran

Berdasarkan hasil penerapan kasus yang telah dilakukan pada klien, maka penulis

memberikan beberapa saran yang kiranya berguna bagi kita semua untuk

perbaikan dimasa yang akan datang.

a. Untuk pelaksana praktek

1. Dalam melakukan pengkajian pada klien hendaknya dilakukan dengan secara

teliti sehingga diperoleh data yang akurat untuk dapat menegakkan diagnosa

keperawatan.

2. Dalam menetapkan perencanaan hendaknya perawat memperhatikan seluruh

aspek perawatan yaitu bio, psiko, sosio dan spiritual, sehingga Asuhan

Keperawatan dapat diberikan secara komprehensif.

3. Dalam melaksanakan tindakan keperawatan diperlukan kerjasama dengan tim

kesehatan lainnya untuk penunjang pelaksanaan keperawatan yang menyeluruh

terhadap klien dan dilakukan berdasarkan prioritas masalah.

4. Dalam melakukan evaluasi hendaknya perawat dapat melakukan perbandingan

antara tujuan dan kriteri hasil yang telah ditetapkan dengan hasil yang ditemui
pada klien, apakah masalah dapat teratasi seluruhnya atau sebagaian saja atau

mungkin tidak teratasi sama sekali.

b. Untuk klien

1. Klien hendaknya tidak memikirkan permasalahan- permasalahan yang dapat

mengganggu kesehatanya

2. Klien hendaknya lebih memiliki harapan dan menghilangkan rasa kosong yang

ada didalam diri klien.

3. Klien hendaknya terus melatih kekuatan seluruh otot ekstrimitasnya dan

beraktifitas secara normal dan istirahat yang cukup untuk menjaga kesehatan klien

DAFTAR PUSTAKA

Gloria, M.B. (2004). Nursing Intervention Classification. America: Mosby

Elsevier. Herdman, T.H. (2009). NANDA International Nursing Diagnoses:

Defenitions and Classification edition 2009-2011. United Kingdom: Willey

Blackwell. http://ajunkdoank.wordpress.com/2008/12/25/definisi-dan-patologi-

osteoarthritis-oa/, diakses 17 Oktober 2011

http://www.slideshare.net/sibermedik/osteoartritis-2809824, diakses 17 Oktober

2011 http://mukipartono.com/osteoartritis/ diakses 17 Oktober 2011 Lueckenotte,

A.G. (1996). Gerontologic Nursing. America: Mosby. Masjoer, A, dkk. (2001).

Kapita Selekta Kedokteran (edisi ketiga). Fakultas Kedokteran Universitas

Indonesia: Media Aesculapius. Moorhead. (2004). Nursing Outcomes

Classification (fourth edition). America: Mosby Elsevier Purwoastuti, E. (2009).


Waspadai Gangguan Rematik. Yogyakarta: Kanisius. Wiyayakusuma, H. (2007).

Atasi Rematik dan Asam Urat Ala Hembing. Jakarta: Puspa Swara.

55