Anda di halaman 1dari 10

I.

Data dan Informasi


A. Definisi Data
Data adalah fakta mentah atau rincian peristiwa yang belum diolah, yang terkadang
tidak dapat diterima oleh akal pikiran dari penerima data tersebut, maka dari itu data
harus diolah terlebih dahulu menjadi informasi untuk dapat di terima oleh penerima.
Data dapat berupa angka, karakter, simbol, gambar, suara, atau tanda-tanda yang dapat
digunakan untuk dijadikan informasi. Suatu informasi bisa saja menjadi data apabila
informasi tersebut digunakan kembali untuk pengolahan sistem informasi selanjutnya.
Dalam dunia komputer data adalah segala sesuatu yang disimpan di dalam memori
menurut format tertentu.
B. Definisi Informasi
Informasi adalah hasil pengolahan data yang sudah dapat diterima oleh akal pikiran
penerima informasi yang nantinya dapat digunakan untuk pengambilan keputusan.
Informasi dapat berupa hasil gabungan, hasil analisa, hasil penyimpulan, dan juga hasil
pengolahan sistem informasi komputerisasi.
C. Perbedaan Data dan Informasi
Dari definisi dan contoh diatas dapat disimpulkan perbedaan data dan informasi
yaitu :
- Data lebih cenderung ke penjelasan singkat atau sebuah gagasan yang belum
menjelaskan sebuah peristiwa atau hasil kegiatan, data juga tidak bisa digunakan
untuk pengambilan keputusan sedangkan informasi adalah hasil pengolahan dari
data yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan.
- Data terkadang tidak dapat digunakan dan diterima oleh akal pikiran penerima,
sedangkan informasi dapat berguna dan dapat diterima oleh akal pikiran
penerima.
- Data mempunyai lingkup lebih detail dan bersifat teknis, sedangkan informasi
menghasilkan penjelasan yang dapat dipakai untuk mengambil keputusan. Data
penjualan misalnya merupakan penjelasan yang bersifat mentah, tetapi informasi
penjualan per bulan akan dipakai oleh manajemen untuk mengambil suatu
keputusan.

0
II. Jenis Data
a. Menurut cara memperolehnya :
- Data primer yaitu data yang dikumpulkan dan diolah sendiri atau seorang atau
suatu organisasi langsung dari obyeknya. Contoh : Mewawancarai langsung
penonton bioskop 21 untuk meneliti preferensi konsumen bioskop.
- Data sekunder yaitu data yang didapat tidak secara langsung dari objek penelitian.
Peneliti mendapatkan data yang sudah jadi yang dikumpulkan oleh pihak lain
dengan berbagai cara atau metode baik secara komersial maupun non komersial.
Contohnya adalah pada peneliti yang menggunakan data statistik hasil riset dari
surat kabar atau majalah.
b. Menurut sumbernya :
- Data internal adalah data yang menggambarkan keadaan atau kegiatan dalam suatu
organisasi. Misal : data keuangan, data pegawai, data produksi, dsb.
- Data eksternal yaitu data yang menggambarkan suatu keadaan atau kegiatan di luar
suatu organisasi. Contohnya adalah data jumlah penggunaan suatu produk pada
konsumen, tingkat preferensi pelanggan, persebaran penduduk, dan lain
sebagainya.
c. Menurut sifatnya :
- Data kualitatif adalah data yang sifatnya hanya menggolongkan saja dan tidak
dapat diwujudkan dalam bentuk angka. Yang termasuk dalam klasifikasi data
kualitatif adalah data yang berskala ukuran nominal dan ordinal, seperti jenis
kelamin, jenis pekerjaan, status pekerjaan, motivasi karyawan, dan lain sebagainya.
- Data kuantitatif adalah data yang dapat dinyatakan dalam bentuk angka, yang
termasuk dalam data kuantitatif adalah data yang berskala ukur interval dan rasio.
Contohnya, jumlah karyawan, jumlah penjualan, jumlah piutang, jumlah hutang,
dan lain-lain.
d. Menurut waktu pengumpulannya :
- Cross section / insidentil adalah dikumpulkan pada suatu waktu
tertentu. Contohnya laporan keuangan per 31 desember 2006, data pelanggan PT.
Angin Ribut bulan mei 2004, dan lain sebagainya.
- Data berkala / time series data adalah data yang dikumpulkan dari waktu ke waktu
untuk menggambarkan suatu perkembangan atau kecenderungan
keadaan/peristiwa/kegiatan. Contoh data time series adalah data perkembangan

1
nilai tukar dollar amerika terhadap euro eropa dari tahun 2004 sampai 2006, jumlah
pengikut jamaah nurdin m. top dan doktor azahari dari bulan ke bulan, dll.

III. Sumber Data


Terdapat dua sumber data penelitian terdiri atas: sumber data primer dan sumber data
sekunder.
1. Data Primer (Primary Data)
Data primer merupakan sumber data penelitian yang diperoleh secara langsung dari
sumber asli (tidak melalui media perantara). Data primer secara khusus dikumpulkan
oleh peneliti untuk menjawab pertanyaan penelitian. Data primer dapat berupa opini
subyek (orang) secara individual atau kelompok, hasil observasi terhadap suatu benda
(fisik), kejadian atau kegiatan, dan hasil pengujian. Ada dua metode yang dapat
digunakan untuk mengumpulkan data primer, yaitu: (1) metode survei dan (2) metode
observasi.
2. Data Sekunder (Secondary Data)
Data sekunder merupakan sumber data penelitian yang diperoleh peneliti secara
tidak langsung melalui media perantara (diperoleh dan dicatat pihak lain). Data
sekunder umumnya berupa bukti, catatan atau laporan historis yang telah tersusun
dalam arsip yang dipublikasikan dan tidak dipublikasikan.
Keuntungan menggunakan data sekunder adalah lebih murah, lebih cepat, dan dalam
kenyataan sering peneliti tidak terlalu mampu untuk mengumpulkan data primer sendiri,
misalnya sensus penduduk.
Bentuk data sekunder ada dua kategori yaitu berasal dari sumber internal dam sumber
eksternal. Data internal tersedia pada tempat penelitian dilakukan misalnya faktur penjualan,
laporan penjualan, laporan hasil riset yang lalu, dan lain-lain. Data eksternal dapat diperoleh
dari sumber-sumber luar misalnya, data sensus penduduk dan registrasi. Data yang diperoleh
dari badan atau perusahaan yang aktivitasnya mengumpulkan keterangan-keterangan yang
relevan akan berbagai masalah.
Adapun manfaat dari data primer adalah dikumpulkan untuk mencapai tujuan penelitian,
tidak ada risiko kadaluwarsa karena dikumpulkan setelah proyek penelitian dirumuskan,
semua data dipegang oleh peneliti, mengetahui kualitas dari metode-metode yang dipakainya
karena dialah yang mengatur sejak awal.

IV. Metode Pengumpulan Data Sekunder


2
Metode pengumpulan data sekunder sering disebut metode pengumpulan bahan
dokumen, karena peneliti tidak secara langsung mengambil data sendiri tetapi memanfaatkan
data atau dokumen yang dihasilkan oleh pihak-pihak lain.
Pada umumnya, data sekunder yang digunakan oleh pihak peneliti untuk memberikan
gambaran tambahan, gambaran pelengkap, ataupun untuk diproses lebih lanjut. Dalam
metode pengumpulan data sekunder, obsevator tidak meneliti langsung, tetapi data
didapatkan misalnya dari media massa, BPS, lembaga pemerintah maupun swasta, lembaga
penelitian maupun pusat bank, data hasil penelitian lain, penelitian kepustakaan dalam hal
untuk mengetahui berbagai pengetahuan dan karya yang pernah dicapai oleh para peneliti
terdahulu. Dengan penelitian kepustakaan, akan melatih peneliti untuk membaca kritis segala
bahan yang dijumpainya, kecermatan dan ketelitian peneliti akan sangat teruji dalam
memutuskan sumber yang dipercayanya.

V. Metode Pengumpulan Data Primer


Terdapat dua hal utama yang memepengaruhi kualitas data penelitian yaitu, kualitas
instrumen penelitian dan metode pengumpulan data. Ada beberapa cara untuk
mengumpulkan data yaitu: interview (wawancara), kuisioner, dan observasi (pengamatan)
atau mungkin saja ketiganya.
A. Interview (Wawancara)
Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data, apabila peneliti ingin
melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang diteliti, dan juga
apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal yang dari responden yang lebih mendalam
dan jumlah respondennya sangat sedikit. Sutrisno Hadi (1986) mengemukakan bahwa
anggapan yang perlu dipegang oleh peneliti dalam menggunakan interview dan juga
kuisioner adalah sebagai beikut:
1. Bahwa subyek atau responden adalah orang yang paling tahu dirinya sendiri.
2. Bahwa apa yang dinyatakan oleh subyek kepada peneliti adalah benar dan dapat
dipercaya.
3. Bahwa interpretasi subyek tentang pertanyaan-pertanyan yang diajukan peneliti
kepadanya adalah sama dengan apa yang dimaksud peneliti.
Wawancara dapat dilakukan dengan dua cara yaitu wawancara terstruktur dan
wawancara tidak terstruktur.
1. Wawancara terstruktur digunakan sebagai teknik pengumpulan data bila peneliti
atau pengumpul data telah mengetahui dengan pasti tentang informasi yang
3
akan diperoleh. Dengan wawancara terstruktur ini setiap responden diberi
pertanyaan yang sama dan alternatif jawaban yang sama.
2. Wawancara tidak terstruktur adalah wawancara yang bebas dimana peneliti
tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis
dan lengkap untuk pengumpulan datanya. Wawancara tidak terstruktur atau
terbuka, sering digunakan dalam penelitian pendahuluan atau penelitian yang
lebih mendalam terhadap responden.
B. Kuisioner (Angket)
Kuisioner merupakan metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara
memberi seperangkat pertanyaan-pertanyaan tertulis kepada responden untuk
dijawabnya. Kuisioner merupakan teknik pengumpulan data yang efisien bila peneliti
mengetahui variabel-variabel yang akan diukur.
Uman Sekaran (1992) mengemukakan beberapa prinsip penulisan angket sebagai
metode pengumpulan data yaitu: prinsip penulisan, pengukuran dan penampilan fisik.
Prinsip penulisan angket menyangkut beberapa faktor, yaitu:
1. Isi dan tujuan pertanyaan
2. Bahasa mudah
3. Pertanyaan tertutup, terbuka, positif, negatif
4. Pertanyaan tidak mendua
5. Tidak menanyakan hal-hal yang sudah lupa
6. Pertanyaan tidak mengarahkan
7. Panjang pertanyaan
8. Acuan pertanyaan
Penampilan fisik
Dicetak dalam kertas bagus sehingga direspon oleh responden. Bila menggunakan
kertas buram akan kurang direspon oleh responden.
C. Observasi
Sutrisno hadi mengemukakan bahwa, observasi merupakan suatu proses yang
kompleks, suatu proses yang tersusun dari berbagai suatu psikologis dan biologis. Dari
proses pelaksanaan pengumpulan data, observasi dapat dibedakan menjadi Participant
Observation (observasi berperan serta), dan Non participant Observation selanjutnya
dari segi instrumentasi yang digunakan, maka observasi dapat dibedakan menjadi
observasi terstruktur dan tidak terstruktur.

4
VI. Metode Wawancara/Wawancara Mendalam
Wawancara-Mendalam (In-depth Interview) adalah proses memperoleh keterangan
untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara
dengan responden atau orang yang diwawncarai, dengan atau tanpa menggunakan pedoman
(guide) wawancara dimana pewawancara dan informan terlibat dalam kehidupan sosial yang
relatif lama (Sutopo 2006: 72)
Pengertian wawancara-mendalam (In-depth Interview) adalah proses memperoleh
keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara
pewawancara dengan responden atau orang yang diwawncarai, dengan atau tanpa
menggunakan pedoman (guide) wawancara dimana pewawancara dan informan terlibat
dalam kehidupan sosial yang relatif lama (Sutopo 2006: 72). Ciri khusus/Kekhasan dari
wawancara-mendalam ini adalah keterlibatannya dalam kehidupan responden/informan.
Dalam wawancara-mendalam melakukan penggalian secara mendalam terhadap satu
topik yang telah ditentukan (berdasarkan tujuan dan maksud diadakan wawancara tersebut)
dengan menggunakan pertanyaan terbuka. Penggalian yang dilakukan untuk mengetahui
pendapat mereka berdasarkan perspective responden dalam memandang sebuah
permasalahan. Teknik wawancara ini dilakukan oleh seorang pewawancara dengan
mewawancarai satu orang secara tatap muka (face to face).
Kegunaan atau manfaat dilakukannya wawancara-mendalam adalah :
1. Topik/pembahasan masalah yang ditanyakan bisa bersifat kompleks atau sangat
sensitif
2. Dapat menggali informasi yang lengkap dan mendalam mengenai sikap,
pengetahuan, pandangan responden mengenai masalah
3. Responden tersebar à maksudnya bahwa siapa saja bisa mendapatkan kesempatan
untuk diwawancarai namun berdasarkan tujuan dan maksud diadakan penelitian
tersebut
4. Responden dengan leluasa dapat menjawab pertanyaan yang diajukan tanpa adanya
tekanan dari orang lain atau rasa malu dalam mengeluarkan pendapatnya
5. Alur pertanyaan dalam wawancara dapat menggunakan pedoman (guide) atau tanpa
menggunakan pedoman. Jika menggunakan pedoman (guide), alur pertanyaan yang
telah dibuat tidak bersifat baku tergantung kebutuhan dilapangan
Sedangkan kelemahan dari wawancara-mendalam ini adalah adanya keterikatan emosi
antara ke duanya (pewawancara dan orang yang diwawancarai), untuk itu diperlukan
kerjasam yang baik antara pewawancara dan yang diwawancarainya.
5
Materi dalam wawancara-mendalam tergantung dari tujuan dan maksud diadakannya
wawancara tersebut. Agar hasil dari wawancara tersebut sesuai dengan tujuan penelitian,
diperlukan keterampilan dari seorang pewawancaranya agar nara sumbernya (responden)
dapat memberikan jawaban yang sesuai dengan pertanyaan yang diajukan. Beberapa teknik
dalam wawancara agar berjalan dengan baik, adalah:
a. Menciptakan dan menjaga suasana yang baik. Hal ini dapat dilakukan dengan cara :
 Adakan pembicaraan pemanasan: dengan menanyakan biodata responden (nama,
alamat, hobi dll), namun waktunya jangan terlalu lama (±5 menit)
 Kemukakan tujuan diadakannya penelitian, dengan maksud agar responden
memahami pembahasan topik yang akan ditanyakan dan supaya lebih transparan
kepada responden (adanya kejujuran).
 Timbulkan suasana bebas: maksudnya responden boleh melakukan aktifitas yang
lain ketika sesi wawancara ini berlangsung sehingga memberikan rasa “nyaman”
bagi responden (tidak adanya tekanan), misalnya responden boleh merokok,
minum kopi/teh, makan dan lain-lain
 Timbulkan perasaan bahwa ia (responden) adalah orang yang penting, kerjasama
dan bantuannya sangat diperlukan: bahwa pendapat yang responden berikan akan
dijaga kerahasiannya dan tidak ada jawaban yang salah atau benar dalam
wawancara ini. Semua pendapat yang responden kemukakan sangat penting untuk
pelaksanaan penelitian ini.
b. Mengadakan probing. Probes adalah cara menggali keterangan yang lebih
mendalam, hal ini dilakukan karena :
 Apabila jawaban tidak relevan dengan pertanyaan
 Apabila jawaban kurang jelas atau kurang lengkap
 Apabila ada dugaan jawaban kurang mendekati kebenaran
c. Tidak memberikan sugesti untuk memberikan jawaban-jawaban tertentu kepada
responden yang akhirnya nanti apa yang dikemukakan (pendapat) responden bukan
merupakan pendapat dari responden itu sendiri
d. Intonasi suara. Jika pewawancara merasa lelah atau bosan atau tidak suka dengan
jawaban responden, hendaknya intonasi suara dapat dikontrol dengan baik agar
responden tetap memiliki rasa “nyaman” dalam sesi wawancara tersebut. Hal yang
dapat dilakukan misalnya; mengambil minum, ngobrol hal yang lain, membuat
candaan dll)

6
e. Kecepatan berbicara. Agar responden dapat mencerna apa yang ditanyakan
sehingga memberikan jawaban yang diharapkan oleh pewawancara
f. Sensitifitas pertanyaan. Pewawancara mampu melakukan empati kepada responden
sehingga membuat responden tidak malu dalam menjawab pertanyaan tersebut
g. Kontak mata. Agar responden merasa dihargai, dibutuhkan selama proses
wawancara tersebut
h. Kepekaan nonverbalPewawancara mampu melihat gerakan dari bahasa tubuh yang
ditunjukan oleh responden, misalnya responden merasa tidak nyaman dengan sikap
yang ditunjukan oleh pewawancara, pertanyaan atau hal lainnya. Karena hal ini
dapat menyebabkan informasi yang diterima tidak lengkap
i. Waktu. Dalam pelakasanaan wawancara-mendalam ini pewawancara dapat
mengontrol waktu. Hal ini dikuatirkan responden dapat menjadi bosan, lelah
sehingga informasi yang diharapkan tidak terpenuhi dengan baik. Waktu yang
dibutuhkan dalam pelaksanaan wawancara-mendalam yang dilakukan secara tatap
muka adalah 1-2 jam, tergantung isu atau topik yang dibahas.
Sebelum dilakukan wawancara-mendalam, perlu dibuatkan pedoman (guide)
wawancara. Hal ini bertujuan untuk mempermudah pewawancara dalam menggali pertanyaan
serta menghindari agar pertanyaan tersebut tidak keluar dari tujuan penelitian. Namun
pedoman (guide) wawancara tersebut tidak bersifat baku, dapat dikembangkan dengan
kondisi pada saat wawancara berlangsung dan tetap pada koridor tujuan diadakannya
penelitian tersebut.

VII. Metode Observasi


Observasi sebagai teknik pengumpulan data mempunyai ciri yang spesifik
dibandingkan dengan metode yang lain. Metode pengumpulan data dengan observasi
digunakan bila, penelitian berkenaan dengan perilaku manusia, proses kerja, gejala-gejala
alam dan bila responden yang diamati tidak terlalu besar.
Dari segi proses pelaksanaan pengumpulan data, observasi dapat dibedakan menjadi
dua yakni :
1. Observasi berperan serta
Dalam observasi ini, peneliti terlibat dengan kegiatan sehari-hari orang yang sedang
diamati atau yang digunakan sebagai sumber data penelitian. Dengan observasi
partisipan ini, maka data yang diperoleh akan lebih lengkap, tajam, dan sampai
mengetahui pada tingkat makna dari setiap perilaku yang nampak. Sambil mengamati,
7
peneliti ikut melakukan apa yang dikerjakan oleh sumber data. Misalnya, mengamati
bagaimana perilaku karyawan dalam bekerja, bagaimana semangant kerjanya,
bagaimana hubungan karyawan dengan karyawan lain, dan sebagainya.
2. Observasi Nonpartisipan
Dalam observasi nonpartisipan peneliti tidak terlibat dan hanya sebagai pengamat
independen. Pengumpulan data dengan observasi nonpartisipan ini tidak akan
mendapatkan data yang mendalam dan tidak sampai pada tingkat makna. Makna adalah
nilai-nilai di balik perilaku yang tampak, yang terucapkan dan yang tertulis. Misalnya,
mengamati perilaku pembeli, mengamati barang-barang apa saja yang diminati
pembeli.
Dari segi instrumen yang digunakan, maka observasi dibedakan menjadi:
1. Observasi terstruktur
Observasi terstruktur adalah observasi yang telah dirancang secara sistematis
tentang apa yang akan diamati dimana tempatnya. Peneliti telah tahu dengan pasti
tentang variabel apa yang akan diamati. Dalam melakukan pengamatan, peneliti
menggunakan instrumen yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya.
2. Observasi tidak terstruktur
Merupakan observasi yang tidak dipersiapkan secara sistematis tentang apa yang
akan diobservasi. Dalam melakukan pengamatan peneliti tidak menggunakan instrumen
yang telah baku, tetapi hanya berupa rambu-rambu pengamatan.

VIII. Metode Angket/Koesioner


Kuesioner adalah daftar pertanyaan tertulis yang telah disusun sebelumnya. Pertanyaan-
pertanyaan yang terdapat dalam kuesioner, atau daftar pertanyaan tersebut cukup terperinci
dan lengkap dan biasanya sudah menyediakan pilihan jawaban (kuesioner tertutup) atau
memberikan kesempatan responden menjawab secara bebas (kuesioner terbuka).
Penyebaran kuesioner dapat dilakukan dengan beberapa cara seperti penyerahan
kuesioner secara pribadi, melalui surat, dan melalui email. Masing-masing cara ini memiliki
kelebihan dan kelemahan, seperti kuesioner yang diserahkan secara pribadi dapat
membangun hubungan dan memotivasi respoinden, lebih murah jika pemberiannya dilakukan
langsung dalam satu kelompok, respon cukup tinggi. Namun kelemahannya adalah organisasi
kemungkinan menolak memberikan waktu perusahaan untuk survey dengan kelompok
karyawan yang dikumpulkan untuk tujuan tersebut.

8
REFERENSI
Sugiyono. 2007.Metode Penelitian Bisinis. Bandung : ALFABETA
http://www.kuliah.info/2015/05/pengertian-dan-perbedaan-data-dan.html/ Diakses pada 23
Oktober 2016
http://zetzu.blogspot.co.id/2010/12/metode-pengumpulan-data.html/ Diakses pada 23
Oktober 2016
http://raachmaa.blogspot.co.id/2014/04/pengertian-dan-jenis-jenis-data-metode.html/ Diakses
pada 23 Oktober 2016