Anda di halaman 1dari 147
PEDOMAN I No. 005-01 1P1 aM 2011 | Konstruksi Dan Bangunan Pedoman Pemeriksaan Jembatan KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA PRAKATA Pedoman Panduan Pemeriksaan Jembatan ini merupakan review terhadap Bridge Management System tahun 1993 yang disiapkan untuk melaksanakan inspeksi kondisi jembatan di lapangan sehingga dapat digunakan sebagai panduan bagi Satuan Kerja / Pejabat Pembuat Komitmen yang bertanggung jawab atas kegiatan pemeliharaan jembatan yang didasarkan atas hasil identifikasi survey kondisi. Pedoman Panduan Pemeriksaan Jembatan ini memuat Pemeriksaan Jembatan, Sistem Penomoran Jembatan, Pemeriksaan Inventarisasi, Pemeriksaan Detail, Pemeriksaan Rutin dan Pemeriksaan Khusus dan dilengkapi juga dengan lampiran berupa petunjuk singkat survai jembatan di lapangan. Pedoman ini diharapkan menjadi acuan kepada Satuan Kerja atau Pejabat Pembuat Komitmen di lingkungan Balai Besar / Balai Pelaksanaan Jalan Nasional dalam melaksanakan kegiatan pemeliharaan jembatan. Menyadari akan belum sempurnanya manual ini, maka pendapat dan saran di semua pihak terutama pemakai sangat kami harapkan sebagai bahan perbaikan dan Penyempurnaan. Jakarta, Februari 2011 Direktur Jenderal Bina Marga kL jafto DAFTAR ISI BAB 1. UMUM La. 12. 13. 14. 15. PENDAHULUAN SISTEM MANAJEMEN JEMBATAN (BRIDGE MANAGEMENT SYSTEM - BMS) 1.2.1 BMS - Sistem Manajemen Informasi (BMS - MIS) 1.2.2 Pelaporan dan Memasukkan Data 1.2.3. Laporan BMS 1.2.4 Skrining dan Ranking Jembatan secara Teknis PEMERIKSAAN JEMBATAN 13.1. Pemeriksaan Inventarisasi 1.3.2. Pemeriksaan Detail 1.3.3. Pemeriksaan Rutin 1.3.4 Pemeriksaan Khusus INSPEKTUR JEMBATAN 14.1 Koordinasi Pemeriksaan Jembatan 1.4.2 _Inspektur Jembatan Propinsi 14.3 Inspektur dan Keselamatan PANDUAN PEMERIKSAAN JEMBATAN BAB 2. PEMERIKSAAN JEMBATAN 21. 2.2. 2.3. 2.4, 2.5. 2.6. UMUM DASAR-DASAR PROSEDUR PEMERIKSAAN INVENTARISASI DAN RUTIN PEMERIKSAAN DETAIL SECARA UMUM DAERAH ALIRAN SUNGAI DAN TANAH TIMBUNAN BANGUNAN BAWAH 2.6.1. Pondasi 2.6.2. Kepala Jembatan dan Pilar 27. BANGUNAN ATAS 2.7.1. Gelagar Beton 2.7.2. Gelagar dan Rangka Baja 2.73. Struktur Kayu 2.74, Pasangan Kayu dan Pelengkung Bata 2.7.5. Jembatan Gantung 2.7.6. Lantai Beton dan Jembatan Pelat 2.7.7. Permukaan Lantai Kendaraan 2.78. Expansion Joint Landasan/perletakan Sandaran dan Perlengkapan . Drainase BAB 3. SISTEM PENOMORAN JEMBATAN 3A. 3.2, 3.3. 34. 3.5. PENGERTIAN JEMBATAN NOMOR JEMBATAN 3.2.1. Akhiran Ruas Jalan 3.2.2, Jembatan Tambahan/Jembatan yang Belum Tercatat Sebelumnya 3.2.3. Lintasan Atas 3.2.4, Jembatan Ganda LOKASI JEMBATAN PENOMORAN KOMPONEN DAN ELEMEN JEMBATAN Penomoran Komponen Utama 3.4.2. Penomoran Elemen URUTAN PEMERIKSAAN BAB 4.PEMERIKSAAN INVENTARISASI 44. 42. UMUM 4.1.1. Personalia 4.1.2. Peralatan dan Material Material Acuan Urutan Pemeriksaan PROSEDUR PEMERIKSAAN INVENTARISASI Jenis Lintasan dan Data Geometris Data Bentang dan Komponen Utama Pedoman Pemberian Nilai Kondisi Inventariasi Data Pelengkeap ii BAB 5. PEMERIKSAAN DETAIL 5.1. UMUM 5.1.1. Personil Peralatan dan Material 3. Bahan Acuan A. Pemilihan Jembatan untuk Pemeriksaan secara Detail 5. Unutan Pemeriksaan 5.2, SISTEM PEMERIKSAAN SECARA DETAIL 5.2.1. Umum 5.2.2. Hierarki dan Kode Elemen 5.2.3. Kode Kerusakan 5.2.4. Sistem Penilaian Elemen 5.2.5. Kerusakan yang Serius 5.3. PROSEDUR PEMERIKSAAN SECARA DETAIL 43.1, Data Administrasi dan Inventarisasi 43.2. Kesan Secara Keseluruhan 43,3. Daftar Elemen yang RuSak 4.3.4. Lokasi Elemen yang Rusak 4.3.5. Pemberian Nilai Kondi: 43.6. Data Lain 43.7. Pemeliharaan Rutin 43.8. Catatan Kecil dan Sketsa BAB 6. PEMERIKSAAN RUTIN 6.1. UMUM 6.1.1. Personil 6.1.2. Peralatan dan Material 6.1.3. Bahan Acuan 6.1.4, Pemilihan Jembatan untuk Pemeriksaan Rutin 6.1.5. Urutan Pemeriksaan 6.2. PROSEDUR PEMERIKSAAN RUTIN iii BAB 7 PEMERIKSAAN KHUSUS 7.1, UMUM 7.2. PERSONIL 7.3. TEKNIK PEMERIKSAAN KHUSUS 1. 73.2. Metode Penilaian Material a). Penilaian Sepintas Terhadap Kekuatan Beton b). Penilaian Mutu Beton in-situ ©). Uji Coba Dinamis Yang Tidak Merusakan 4), Penilaian Pengaratan e). Deteksi Keretakan Dalam Baja Bangunan £). Deteksi Kegagalan Kabel atau Kawat g). Penggunaan Radigrap Pad Bangunan Beton Metode Penilaian Perilaku Global di Bawah Beton a). Pengukuran Pergerakan b). Pengukuran Ektensometrik c). Pengukuran Kekuatan dan Tekanan 4), Penilaian Properti Dinamis ¢). Metode Membongkar dan Memuat 7.3.3. Teknik dan Peralatan Lainnya a), Penilaian Dalam Bawah Air b). Mengukur Ketebalan Lapisan ©). Mengukur Selimut Beton, Mendeteksi Bar Tulangan dan Menentukan Ukurannya iv BAB 1 UMUM DAFTAR ISI BAB1 UMUM 1.2. 13. 14. 1.5. PENDAHULUAN SISTEM MANAJEMEN JEMBATAN (BRIDGE MANAGEMENT SYSTEM. - BMS) 1.2.1 BMS - Sistem Manajemen Informasi (BMS - MIS) 1.2.2 Pelaporan dan Memasukkan Data 12.3 Laporan BMS 1.2.4 Skrining dan Ranking Jembatan secara Teknis PEMERIKSAAN JEMBATAN 1.3.1 Pemeriksaan Inventarisasi 1.3.2 Pemeriksaan Detail 1.3.3. Pemeriksaan Rutin 1.3.4 Pemeriksaan Khusus INSPEKTUR JEMBATAN 1.4.1 Koordinasi Pemeriksaan Jembatan 1.4.2 Inspektur Jembatan Propinsi 1.4.3 Inspektur dan Keselamatan PANDUAN PEMERIKSAAN JEMBATAN 1. UMUM 1.1. PENDAHULUAN Jembatan adalah bagian yang penting dari suatu sistem jaringan jalan karena pengaruhnya yang berarti bila jembatan itu runtuh atau jika tidak berfungsi dengan baik. Dikarenakan Jembatan merupakan struktur yang melintasi sungai atau penghalang lalu lintas lainnya, maka keruhtuhan jembatan akan mengurangi atau menahan lalu-lintas, yang mana mengakibatkan mengganggu kenyamanan masyarakat berlalu lintas dan terganggunya hubungan perekonomian. Jadi penting artinya bila pemeriksaan jembatan merupakan bagian dari Sistem manajemen Jalan, Maksud pemeriksaan Jembatan adalah meyakinkan bahwa jembatan berada dalam eadaan aman terhadap pemakai jalan dan juga untuk mengamankan nilai investasi jembatan itu. Pemeriksaan merupakan suatu proses pengumpulan data phisik dan kohdisi secara struktur jembatan, Data jembatan dari hasil pemeriksaan digunakan untuk merencanakan suatu. program pemeliharaan, rehabilitasi, perkuatan dan penggantian jembatan. 1.2. SISTEM MANAJEMEN JEMBATAN (BRIDGE MANAGEMENT SYSTEM - BMS) Pada saat ini sudah dikembangkan Sistem Manajemen Jembatan oleh Direktorat Jenderal Bina Marga yang berfungsi untuk membuat rencana kegiatan jembatan, pelaksanaan dan Pemantauan berdasarkan kebijaksanaan secara menyeluruh. Dalam BMS. termasuk didalamnya kegiatan manajemen jembatan mulai dari pemeriksaan, rencana dan program dan perencanaan teknis sampai pada pelaksanaan dan pemeliharaan. Dengan BMS kegiatan-kegiatan tersebut dapat diatur secara sistematik, dengan melakukan pekerjaan pemeriksaan jembatan secara berkala dan menganalisa data dengan komputer dalam Sistem Manajemen Informasi (Management Information System-BMS MIS). Dengan bantuan BMS MIS ini, kondisi jembatan dapat dipantau dan dapat ditentukan beberapa tindakan yang diperlukan untuk meyakinkan bahwa jembatan dalam keadaan aman dan layan, dengan menggunakan dana yang optimum untuk pekerjaan jembatan, Keseluruhan prosedur dalam BMS dijelaskan dalam Panduan Prosedur Umum, Bagan alir BMS dalam gambar 1.1. memperlihatkan hubungan antara pemeriksaan dan proses ‘manajemen jembatan lainnya, 1 Gambar 1.1. Bagan Alir Kegiatan BMS BAGAN KEGIATAN BMS eee TINDAKAN DARURAT Pemeriksaan Inventarisasi Pemeriksaan Detail Pemeriksaan Rutin Pemeriksaan Khusus BATASAN MUATAN BMS MIS BINA MARGA BRIDGE DATA BASE MIS IRMS RENCANA DAN PROGRAM PENYELIDIKAN JEMBATAN DAN DESAIN KONSTRUKSI PEMELIHARAAN Jembatan Baru REHABILITASI Penggantian Penggandaan MONITORING 1.2.1, BMS — Sistem Manajemen Informasi (BMS MIS) BMS MIS berisi data base jembatan dan beberapa program komputer yang sesuai untuk : . . Memasukkan dan mengambil data pemeriksaan dan data lainnya, Menyiapkan laporan standar jembatan, Memeriksa database dan mengambil dalam kombinasi informasi yang bermacam- macam, Skrining dan ranking jembatan serta menyiapkan program penanganan jembatan, Mehyiapkan program jembatan tahunan dan lima tahunan, Analisa kasus perkasus untuk menentukan strategi penanganan guna menentukan penanganan yang optimum untuk setiap jembatan. 12 BMS - MIS dihubungkan dengan Interurban Road Management System (IRMS) dengan Local Area Network (LAN) di dalam Direktorat Jenderal Bina Marga, dan dengan cara pertukaran floppy disk dengan propinsi-propinsi. Data yang digunakan dari BMS-MIS. adalah data lalu-lintas, biaya operasi kendaraan, data referensi, dasar pertumbuhan lalu- lintas dan data lainnya dari IRMS, untuk melaksanakan rencana dan program jembatan, 1.2.2, Pelaporan dan Memasukkan Data Data hasil pemeriksaan jembatan dilaporkan dalam laporan standard pemeriksaan, Contoh laporan pemeriksaan inventarisasi, detail dan rutin dapat dilihat dalam lampiran 1, yang ada kaitannya dengan laporan [BMS yang digunakan pada waktu pemeriksaan jembatan. Laporan IBMS yang digunakan selama pemeriksaan harus dilaporkan oleh BMS Supervisor secepat mungkin setelah program pemeriksaan ditentukan, Laporan pemeriksaan oleh BMS Supervisor tiap propinsi BMS Supervisor mengatur data yang akan dimasukkan dalam Database BMS. Pekerjaan ini harus dilaksanakan dalam waktu dua minggu setelah pemeriksaan, Sebelum data dimasukkan ke dalam komputer, laporan sementara hasil pemeriksaan jembatan dijilid terlebih dahulu dalam suatu file di kantor BMS. Setelah data dimasukkan ke dalam komputer, laporan dimasukkan dalam data file untuk jembatan yang bersangkutan. Manual data file berisi tidak hanya hasil, pemeriksaan jembatan, melainkan juga pethitungan perencanaan teknis, laporan pelaksanaan dan photo-photo, dan semua dokumen lainnya yang tidak dapat disimpan dalam database BMS. Data file jembatan dan semua database jembatan disimpan oleh Direktorat Jenderal Bina Marga untuk semua jembatan yang terletak pada ruas jalan nasional dan propinsi. Setiap propinsi menyimpan data file dan komputer database jembatannya sendiri. Floppy disk (diskette) yang berisi database yang terakhir dikirimkan ke Direktorat Bina Program Jalan (BIPRAN) oleh masing-masing propinsi, sehingga database secara keseluruhah dapat dimutakhirkan, 1.2.3. Laporan BMS Setelah pemeriksaan jembatan dan semua data sudah lengkap, laporan dimutakhirkan oleh BMS Supervisor dan selanjutnya diserahkan kepada Kepala Seksi Perencanaan untuk didistribusikan kepada staff yang berkaitan. Beberapa laporan seperti Laporan Data jembatan, merupakan hal yang umum yang berisi tentang : IBMS—BD2_—_: Data Umum Jembatan (untuk semua jembatan) IBMS~BD3_—_:Kesimpulan kondisi jembatan (dalam format tabel atau grafik) Laporan lainnya seperti Laporan Tindakan Jembatan, merupakan hal yang spesifik, dan hanya berisi daftar nama jembatan yang memerlukan tindakan sebagai berikut: IBMS~ ARI: Laporan Tindakan darurat ~ Berisi tentang daftar nama jembatan yang memerlukan tindakan darurat, perbaikan atau perkuatan, IBMS—AR2__: Laporan Pemeriksaan Khusus ~ Berisi daftar nama jembatan yang disarankan oleh Inspektur jembatan dilakukan Pemeriksaan khusus. IBMS—AR3_—: Laporan Pemeliharaan Rutin — Berisi daftar nama jembatan yang memerlukan pemeliharaan rutin dengan kerusakan yang kecil. 13 1.2.4. Skrining dan Ranking Jembatan secara Teknis Salah satu program dalam BMS MIS adalah modul Skrining dan Ranking Jembatan secara Teknis, yang menggunakan data dari hasil pemeriksaan untuk merekomendasikan jenis Penanganan untuk setiap jembatan. Rekomendasi penanganan yang dihasilkan hanya merupakan suatu usulan dan harus diteliti Kembali sebelum dilakukan pelaksanaan pekerjaan sebab skrining disini merupakan suatu data yang ekstrim. Untuk jenis pekerjaan yang besar, usulan penanganan harus diperkuat dengan pemeriksaan khusus atau jenis pemeriksaan lapangan lainnya oleh staf dari bagian Perencanaan, dan untuk pekerjaan yang kecil, data harus diperiksa guna meyakinkan bahwa data tersebut merupakan dasar ketepatannya, Pada proses skrining dapat diidntifikasikan bahwa jembatan berada dalam kondisi buruk dan kapasitasnya tidak cukup untuk trafik yang ada atau muatannya, dan ranking secara teknis akan membuat urutan prioritas, tergantung pada kriterianya dan tingkat kepentingan ruas jalan dalam suatu jaringan jalan. Jembatan-jembatan yang berada pada urutan atas adalah jembatan yang memerlukan penanganan yang terdahulu, Setelah skrining, data selanjutnya diproses secara ekonomi guna mendapatkan ranking program pekerjaan jembatan, Jadi data hasil pemeriksaan merupakan suatu data yang penting sekali bagi Rencana dan Program Jembatan, dan hal ini dipergunakan untuk membantu para perencana untuk menentukan keputusan yang sesuai dengan jenis pekerjaan yang diperlukan bagi setiap jembatan, 1.3. PEMERIKSAAN JEMBATAN Pemeriksaan jembatan adalah salah satu Komponen BMS yang terpenting, Hal ini merupakan sesuatu yang pokok dalam hubungannya antara keadaan jembatan yang ada dengan rencana pemeliharaan atau peningkatan dalam waktu mendatang. Tujuan pemeriksaan jembatan ini adalah untuk meyakinkan bahwa jembatan masih berfungsi secara aman dan perlunya diadakan suatu tindakan tertentu guna pemeliharan, dan perbaikan secara berkala. Jadi pemeriksaan jembatan mempunyai beberapa tujuan yang spesifik yaitu : Memeriksa keamanan jembatan pada saat layan; Menjaga terhadap ditutupnya jembatan; Mencatat kondisi jembatan pada saat tersebut; Menyediakan data bagi personil perencanaan teknis, konstruksi dan pemeliharaan; Memeriksa pengaruh dari beban kendaraan dan jumlah kendaraan; Memantau keadaan jembatan secara jangka panjang; Menyediakan informasi mengenai dasar dari pada pembebanan jembatar. Pemeriksaan dilakukan dari awal sejak jembatan tersebut masih baru dan berkelanjutan selama umur jembatan, Sangat penting artinya bahwa data yang dikumpulkan betul-betul merupakan data yang mutakhir, akurat dan lengkap sehingga hasil yang dikeluarkan ole BMS betul-betul dapat dipercaya. * Detail secara administrasi seperti nama jembatan, Cabang Dinas, Nomor Jembatan dan ‘Tahun pembangunannya; * Semua dimensi jembatan seperti panjang total dan jumlah bentang: + Dimensi, jenis konstruk komponen-korhponen utama setiap bentang jembatan dan elemen jembatan secara individual; 1-4 © Data lainnya, Data jembatan dikumpulkan dari berbagai jenis pemeriksaan yang berbeda dalam skala dan intensitasnya, frekwensinya dan secara sifat masing-masihg elemen jembatan atau pemeriksaan secara detail. Jenis pemeriksaan yang utama dalam BMS adalah sebagai berikut : + Pemeriksaan Inventarisasi; © Pemeriksaan Detail; * Pemeriksaan rutin, Sebagai tambahan, Pemeriksaan Khysus juga dilaksanakan dalam BMS. 1.3.1.Jenis Pemeriksaan Jembatan Dalam BMS. 1.3.1.1.Pemeriksaan Inventarisasi Pemeriksaan Inventarisasi dilakukan pada saat awal BMS untuk mendaftarkan setiap jembatan ke dalam database. Pemeriksaan inventarisasi juga dilaksanakan jika pada Jjembatan yang tertinggal pada waktu database BMS dibuat. Selanjutnya pada jembatan baru yang belum pernah di catat, pemeriksaan inventarisasi dilaksanakan sebagai bagian dari Pemeriksaan detail. Pelintasan Kereta Api, penyeberangan sungai, gorong-gorong dan Jokasi dimana terdapat penyeberangan ferri juga diperiksa dan didaftar. Pemeriksaan inventarisasi adalah pengumpulan data dasar administrasi, geometri, material dan data-data tambahan lainnya pada setiap jembatan, termasuk lokasi jembatan panjang bentang dan jenis konstruksi untuk setiap bentang. Kondisi secara keseluruhan diberikan pada komponen-komponen utama bangunan atas dan bangunan bawah jembatan, Pemeriksaan inventarisasi dilakukan oleh inspektur dari Dinas/Sub Dinas atau Cabang Dinas Bina Marga yang sudah dilatih atau oleh seorang sarjana yang berpengalaman dalam bidang jembatan. 1.3.1.2. Pemeriksaan Detail Pemeriksaan Detail dilakukan untuk mengetahui kondisi jembatan dan elemennya guna mempersiapkan strategi penanganan untuk setiap individual jembatan dan membuat urutan prioritas jembatan sesuai dengan jenis penanganannya. Pemeriksaan detail dilakukan paling sedikit sekali dalam lima tahun atau dengan interval waktu yang lebih pendek tergantung pada kondisi jembatan. Pemeriksaan Detail juga dilakukan setelah dilaksanakan pekerjaan rehabilitasi atau pekerjaan perbaikan besar jembatan, guna mencatat data yang baru, dan setelah pelaksanaan konstruksi jembatan baru, untuk mendaftarkan ke dalam database BMS dan mencatatnya dalam format pemeriksaan detail. Untuk melaksanakan pemeriksaan detail, struktur jembatan dibagi dalam suatu hierarki elemen jembatan. Hierarki jembatan ini dibagi menjadi 5 level (tingkatan) elemen. Level tertinggi adalah level 1, yaitu jembatan itu sendiri secara keseluruhan dan level yang Paling rendah adalah level 5 yaitu individual elemen dengan lokasinya yang tertentu seperti tebing sungai sebelah kanan, tiang pancang ke 3 pada pilar ke 2 dan sebagainya. Pemeriksaan detail mendata semua kerusakan yang berarti pada elemen jembatan, dan ditandai dengan nilai kondisi untuk setiap elemen, kelompok elemen dan komponen uutama jembatan. Nilai kondisi untuk jembatan secara keseluruhan didapat dari nilai kondisi setiap elemen jembatan. 15 Pemeriksaan detail ini dilaksanakan oleh Inspektur jembatan dari Dinas/Sub Dinas Bina Marga yang sudah dilatih dan dibantu oleh staf dari Cabang Dinas apabila perlu. 1.3.1.3. Pemeriksaan Rutin Pemeriksaan rutin dilakukan setiap tahun sekali yaitu untuk memeriksa apakah pemeliharaan rutin dilaksanakan dengah baik atau tidak dan apakah harus dilaksanakan tindakan darurat atau perbaikan untuk memelihara jembatan supaya tetap dalam kondisi aman dan layak, Pemeriksaan ini dilaksanakan diantara pemeriksaan detail. Pemeriksaan rutin dilaksanakan oleh inspektur jembatan dari cabang Dinas Bina Marga yang sudah dilatih, 1.3.1.4, Pemeriksaan Khusus Pemeriksaan khusus dilakukan apabila ada kerusakan jembatan yang tidak terdeteksi akibat sulitnya medan Pemeriksaan khusus biasanya disarankan oleh inspektur jembatan pada waktu pemeriksaan detail karena ia merasa kurangnya data, pengalaman atau keahlian untuk ‘menentukan kondisi jembatan. Pemeriksaan khusus juga dapat ditentukan dengan cara proses BMS MIS. Pemeriksaan khusus ini dilakukan oleh seorang sarjana yang berpengalaman dalam bidang Jembatan atau oleh staf teknik yang mempunyai keahlian dalam bidang jembatan, 1.4. INSPEKTUR JEMBATAN Guna menunjang pelaksanaan pemeriksaan jembatan, diperlukan suatu pelatihan yang benar dan inspektur yang berpengalaman. Perencanaan dan program pelatihan untuk inspektur jembatan diperlukan, sehingga para inspektur memperoleh tambahan ilmu dan dapat meningkatkan kemampuan untuk pemeriksaan jembatan, sehingga standar pelaporan yang baik dapat terus dipertahankan. Tanggungjawab dalam pengangkatan inspektur untuk melaksanakan pemeriksaan Jembatan adalah pada Dinas/Sub Dinas Bina Marga Propinsi. 1.4.1, Koordinasi Pemeriksaan Jembatan Sub Direktorat Perencanaan Teknik Jembatan, Direktorat Bina Program Jalan bertanggung jawab atas program pemeriksaan jembatan secara keseluruhan, selanjutnya ‘mengembangkan prosedur pemeriksaan, membuat program pelatihan untuk melatih tenaga-tenaga inspektur, dan untuk melihat serta mengakui inspektur jembatan yang ada di propinsi, 1-6 1.4.2. Inspektur Jembatan Propinsi Inspektur jembatan di propinsi bertanggung jawab pada Kepala Seksi Perencanaan di Dinas/Sub Dinas Bina Marga, melalui BMS Supervisor. Paling sedikit di tiap propinsi ditunjuk 2 (dua) orang inspektur jembatan yang sudah bersertifikat. Inspektur jembatan dapat mempunyai latar belakang seorang sarjana atau sarjana muda teknik sipil yang berpengalaman. Pada umumnya paling sedikit mempunyai pengalaman 5 tahun dalam bidang jembatan atau yang berkaitan, ‘Tugas Inspektur Jembatan adalah sebagai berikut : © Membantu menyiapkan program pemeriksaan jembatan; * Mengatur dan melaksanakan semua jenis pemeriksaan; *¢ Memasukkan atau mengawasi pemasukan data ke dalam komputer BMS dan data file BMS; * Bethubungan dengan Cabang Dinas Bina Marga dalam persiapan program pemeriksaan dan memimpin pelaksanaan pemeriksaan; + Mengajarkan cara pemeriksaan kepada staf Cabang Dinas dan Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten; ‘+ Memelihara kendaraan dan peralatan guna Pemeriksaan Jembatan agar selalu dalam keadaan baik. 1.4.3. Inspektur dan Keselamatan Pada waktu dilaksanakan pemeriksaan jembatan, inspektur mempunyai dua tanggung Jawab yang berhubungan dengan keselamatan : + Keselamatan terhadap pemakai jalan dan * Keselamatan terhadap diri sendiri Pada dasarnya dengan cukup pemberitahuan tentang keselamatan akan mengurangi terhadap kecelakaan dan ketidak nyamanan pemakai jalan. Untuk ini dipergunakan rambu-rambu pemberitahuan dan pembatas-pembatas yang cukup, agar pengaturan lalu-lintas dan pejalan kaki jika perlu. Kendaraan dan pejalan kaki, terutama anak-anak harus dihindarkan. Pemeriksaan jembatan seringkali membuat inspektur dalam keadaan bahaya seperti dalam keadaan lalu-lintas padat, jalan yang sulit, aliran sungai yang deras dan binatang (reptil atau serangga). Bahaya tersebut dapat dikurangi dengan memberi tanda-tanda yang sederhana seperti : * Gunakanlah rambu, pembatas dan pengatur lalu-lintas untuk mengurangi kecepatan kendaraan dan arahkanlah ke jalur yang aman pada saat kegiatan dilaksanakan; Gunakanlah baju rompi yang berwarna menyolok; Gunakanlah pakaian kerja yang aman, tangga yang koko, dan perancah khusus ketika ‘memeriksa bagian jembatan ditempat yang tinggi atau sulit bila diperlukan; * Gunakanlah perahu, pelampung dan tali untuk menambatkan perahu apabila anda sedang bekerja pada arus sungai yang deras; * Hati-hati terhadap kemungkinan adanya ular, kalajengking dan binatang lainnya sebelum membuka semak belukar terutama pada bagian bawah jembatan; + Yakinkan tersedianya bantuan yang cukup dan alat yang sesuai setiap saat. 1-7 1.5. PANDUAN PEMERIKSAAN JEMBATAN Buku Panduan Pemeriksaan Jembatan ini menjelaskan mengenai prosedur pelaksanaan pemeriksaan jembatan dalam BMS. Selain itu, Panduan ini menyediakan informasi tentang elemen jembatan dan kerusakannya, yang dapat digunakan sebagai penuntun dan melatih inspektur. Pahduan ini dibagi dalam 2 bagian : * Bagian 1 menjelaskan mengenai ruang lingkup pemeriksaan jembatan, dan menjelaskan tentang prosedur pelaksanaan untuk setiap jenis pemeriksaan dalam BMS. * Bagian 2 menjelaskan mengenai elemen jembatan dan kerusakannya yang umum terjadi. Panduan ini juga berisi beberapa lampiran dan gambar yang dapat dijadikan sebagai Buku Pegangan Pemeriksaan Jembatan di lapangan. 18 BAB 2 PEMERIKSAAN JEMBATAN DAFTAR BAB2 PEMERIKSAAN JEMBATAN 2.1. UMUM 2.2, DASAR-DASAR PROSEDUR 2.3. PEMERIKSAAN INVENTARISASI DAN RUTIN 2.4, PEMERIKSAAN DETAIL SECARA UMUM 2.5. DAERAH ALIRAN SUNGAI DAN TANAH TIMBUNAN 2.6. BANGUNAN BAWAH 2.6.1. Pondasi 2.6.2. Kepala Jembatan dan Pilar 2.7. BANGUNAN ATAS 2.7.1, Gelagar Beton 2.7.2. Gelagar dan Rangka Baja 2.7.3. Struktur Kayu 2.7.4. Pasangan Kayu dan Pelengkung Bata 2.7.5. Jembatan Gantung 2.7.6. Lantai Beton dan Jembatan Pelat 2.7.7, Permukaan Lantai Kendaraan 2.7.8. Expansion Joint 2.7.9. Landasan/perletakan 2.7.10, Sandaran dan Perlengkapan 2.7.11. Drainase 2, PEMERIKSAAN JEMBATAN 2.1. UMUM Pemeriksaan jembatan dilaksanakan dengan menggunakan prosedur yang standar, sehingga pemeriksaan dapat berlangsung dengan efisien dan menyeluruh, dan penilaian kondisi jembatan dapat seragam. Prosedur ini berguna untuk memastikan bahwa : © Data administrasi lengkap dan akurat; + Semua komponen dan elemen jembatan termasuk jalan pendekat, daerah aliran sungai, bangunan atas dan bangunan bawah sudah diperiksa dan kondisinya sudah dinilai; * Semua kerusakan sudah diselidiki dan apakah kerusakan tersebut berarti atau ‘memerlukan suatu tindakan darurat yang harus dicatat. ‘Semua kerusakan yang dicatat tersebut harus diperiksa kembali untuk memantau keadaan kerusakannya atau memeriksa apakah penanganan yang pemah dilaksanakan efektif atau tidak, 2.2. DASAR-DASAR PROSEDUR Jembatan tediri dari sejumlah elemen yahg saling berkaitan satu dengan lainnya. Sifat- sifatnya kompleks, tetapi untuk pemeriksaan, elemen yang ada dikelompokkan kedalam baberapa komponen sebagai berikut : * Aliran sungai/Tanah timbunan mencakup aliran sungai, tanah timbunan dan bangunan pengaman sungai; + Bangunan Bawah mencakup pondasi, kepala jembatan dan pilar; © Bangunan Atas mencakup struktur bangunan atas, sistem lantai dan lantai kendaraan, expansion joint, perletakan/landasan, sandaran dan perlengkapan. Komponen utama dan elemen utama harus diperiksa pada waktu dilakukan pemeriksaan jembatan, 2.3. PEMERIKSAAN INVENTARISASI DAN RUTIN Pada waktu pemeriksaan inventarisasi dan pemeriksaan rutin, elemen tidak diperiksa secara terperinci. Bagaimanapun juga, seorang inspektur harus memeriksa semua aspek pada jembatan, jadi ia dapat mempercayai bahwa data administrasi, geometrik dan data lainnya selain itu juga bahwa penilaian kondisi komponen utama jembatan adalah benar, sehingga ia tidak mendapat masalah yang mengakibatkan jembatan menjadi tidak aman dan memerlukan tindakan darurat. Hai-hal yang harus dilakukan para inspektur adalah : * Amati jembatan dalam keadaan lalu-lintas penuh, untuk mendeteksi lendutan yang berlebihan dan vibrasi yang timbul; * Periksa kerusakan, kehilangan, perubahan bentuk, karat atau membusuknya elemen dan menilainya; Periksa landasan dan penahan gempa; Periksa bagian bawah lantai beton jembatan terhadap retak yang terjadi, apakah selimut beton cukup, adanya karat pada tulangan dan sebagainya, Periksa hilangnya, rusaknya atau membusuknya lantai kayu; Periksa dan teliti kualitas lapis permukaan lantai kendaraan/terutama pada bagian expansion joint, agar dapat diidentifikasikan kerusakan yang berhubungan dengan ‘timbulnya gaya kejut yang berlebihan atau terhambatnya arus lalu-lintas: * Periksa drainase pada lantai dan jalan pendekat, termasuk adanya tumbuhan dan sampah yang menyumbat jalannya air; Periksa expansion joint dan penutup karet expansion joint bila ada; Periksa kerusakan, longgarya, hilangnya atau berkaratnya sandaran; Periksa kerusakan pada balok ujung; Periksa perlengkapan jembatan seperti rambu-rambu, utilitas dan catatlah apabila perlu; Periksa apakah ada scouring di sekitar kepala jembatan; Periksa apakah ada keruntuhan, longsor atau amblasnya timbunan; Periksa kondisi tiang pancang terhadap karat, retak akibat busuk atau penurunan; Periksa pergerakan yang ada atau amblasnya kepala jembatan; Periksa keretakan beton dan pasangan batu pada tembok sayap, kepala/ — jembatan dan pilar; © Periksa karat atau pembusukan pada kolom. ee eee 2.4. PEMERIKSAAN DETAIL SECARA UMUM Daftar pemeriksaan yang ada pada bagian 2.3. jupa berlaku pada saat pemeriksaan detail. ‘Walaupun demikian diperlukan pemeriksaan terhadap semua level pada hierarki jembatan, Kerusakan yang tercatat mungkin merupakan hasil dari masalah yang lampau, yang mana harus ditemukan dan dikenali. Bagian yang berikut menyimpulkan apa yang harus dilihat oleh para inspektur sebagai anda daripad kerusakan atau kesalahan selama waktu pemeriksaan detail, untuk tiga Komponen yang tertulis pada bagian 2.2. Untuk lebih mendalam lagi mengenai individual elemen dan kerusakan ini dapat dilihat pada Bagian 2 Panduan Pemeriksaan Jembatan. 2.5. DAERAH ALIRAN SUNGAI DAN TANAH TIMBUNAN Kebanyakan keruntuhan jembatan disebabkan oleh scouring pada bagian bawah pondasi daft kepala jembatan. Biasanya scouring, ditimbulkan oleh kecepatan aliran sungai yang tinggi yang mengakibatkan tidak cukupnya bukaan sungai (panjang jembatan). Penggalian galian C pada bagian hulu atau hilir sungai juga mengakibatkan terjadinya scouring di sekitar pondasi jembatan, dan ini merupakan masalah yang besar pada sungai. Ketidak tepatan perencanaan pondasi dan pelaksanaan, salah menentukan jenis pondasi (seperti sumuran yang seharusnya tiang pancang), pondasi dikonstruksi terlalu tinggi sebab sulitnya penggalian dan tidak tepatnya lokasi pilar juga dapat_menyebabkan terjadinya scouring. Hal yang cukup berarti apabila ditemukan jenis-jenis kekurangan tersebut secara dini dan dilakukan suatu tindakan untuk memperbaikinya guna menghindarkan keruntuhan jembatan. Periksa apakah terjadi penurunan dasar sungai dan scouring di sekitar pondasi, kepala Jembatan, timbunan jalan pendekat dan bangunan pengaman scouring, serta keterangan-keterangan tentang adanya pengambilan galian C; + Periksa adanya penurunan yang tidak biasa atau kelongsoran pada daerah timbunan Jalan pendekat, terutama disekitar kepala jembatan; © Periksa adanya tumbuhan yang berlebihan atau puing bekas jembatan lama yang menghambet aliran sungai di bawah jembatan; © Periksa tanda-tanda banjir atau adanya afflux di daerah bagian sebelah hulu jembatan yang mungkin menandakan bahwa bukaan air tidak cukup dan dapat mengakibatkan scouring; Periksa kerusakan pada bangunan pengaman scouring; © Periksa terjadinya erosi pada kepala jembatan, 2.6. BANGUNAN BAWAH Yang termasuk bangunan bawah adalah pondasi, kepala jembatan, tembok sayap dan pilar. Untuk itu sudah dibuat suatu cara pemeriksaan, seperti dilakukannya pengujian terhadap pergerakan yang tidak biasa, timbulnya retak dan terjadinya kerusakan akibat kecelakaan ysng mengakibatkan perubahan, tekuk atau lepasnya material yang berfungsi struktur, 2.6.1. Pondasi Hampir semua masalah pondasi disebabkan adanya pergerakan yang tidak terlihat. Pada umumnya pondasi mengalami sedikit pergerakan, yang mana apabila hal tersebut kecil dan seragam, tidak akan mengakibatkan kerusakan pada struktur. Pergerakan yang besar, terutama jika terjadi perbedaan pergerakan dapat mengakibatkan kerusakan pada semua bagian struktur kecuali sudah diperhitungkan pada waktu perencanaan. Suatu pergerakan dapat disebabkan karena adanya penurunan (settlement) atau tidak berfungsinya pondasi, scouring dan berubahnya tinggi air normal. Awal suatu pergerakan pondasi sangat sukar, dikenali terkecuali mempunyai suatu alat yang dapat mendeteksinya. Biasanya tanda awal gangguan ini dapat terlihat seperti adanya sesuatu yang anch secara geometrik struktur, pergerakan landasan dan expansion joint yang berlebihan, dan adanya retak pada kepala Jembatan, tembok sayap atau bagian ujung dari balok. ‘Masalah lain pada pondasi adalah menurunnya mutu material pondasi. Perlu diteliti lebih Tanjut pada tiang pancang kayu adanya serangan serangga dan jamur yang tumbuh. Pada tiang pancang baja diperhatikan terjadinya karat dan pada tiang beton terhadap retak dan pecah. Pada semua kasus, keadaan tiang pancang tergantung pada posisinya terhadap Kondisi tanah, dan tinggi muka air. Terutama pada daerah yang terpengaruh oleh pasang, surut dan bertanah lunak biasanya mudah dideteksi dan diperiksa. Pemeriksaan dibawah, muka air memerlukan tenaga khusus penyelam, dan pemeriksaan untuk kondisi dibawah tanah memerlukan suatu alat khusus, untuk ini diperlukan pemeriksaan khusus, Penurunan mutu semua jenis pondasi dapat dipertimbangkan dari keaktifan dan kadar kimia air tanah. Contoh air tanah kadang-kadang -menunjukkan suatu yang membahayakan, tetapi pemeriksaan secara visual tidak cukup menjamin. 2.6.2. Kepala Jembatan dan * Periksalah adanya retak pada hubungan antara tembok sayap atau pada kepala jembatan itu sendiri, dan jarak yang tidak cukup antara tembok belakang kepala Jembatan dengan ujung balok atau diaphragma bangunan atas; * Perhatikan apakah lubahg drainase dan lubang suling-suling dalam keadaan bersih dan berfungsi; * Periksa penurunan mutu beton pada daerah yang terpengaruh pasan surut dan drainase jalan; + Periksa adanya adukan mortar pasangan batu yang retak, tumbuhan liar rembesan air melalui daerah retak, hilang atau hancumya batu, rontok dan mulainya memburuk mutu pasangan batu. 2.7. BANGUNAN ATAS Diperlukah detail perencanaan bangunan atas pada waktu pemeriksaan apabila terdapat lendutan yang berlebihan atau adanya perubahan bentuk, kerusakan akibat tertabraknya salah satu. batang diagonal. Secara rinci sebaiknya dilihat dari segi struktur dan materialnya, Gelagar Beton Beton yang rontok perlu perhatian khusus pada bagian perletakan/landasan yang kemungkinannya terjadi kerusakan dikarenakan bagian ini menerima gaya gesek dan juga tekanan yang besar. * Retak ~ situasi arab/bentuk keretakan pada bagian utama seharusnya digambar, sehinga dapat diteliti kekuatan dan kemampuan gelagar beton. Retak yang arahnya diagonal (miring) menunjukkan adanya kegagalan karena gaya lintang, jika retak ini vertikal maka ini menunjukkan bahwa adanya momen yang berlebihan. Ukuran dan tempat retak harus dicatat dan usahakan mengetahui dalamnya retak jika retak, tersebut besar. Nasihat dari scorang engineer mungkin diperlukan dalam melihat dan ‘menentukan apakah retak tersebut merupakan retak yang berart. + Selimut beton selimut beton ini bialsanya diperiksa dengan cover meter tetapi kadang- kadang terlihat bahwa selimut beton tersebut tidak cukup karena tampaknya Karat tulangan pada permukaan beton. Bahkan dalam keadaan yang ekstrim tulangan itu sendiri yang terlihat. + Jembatan beton pratekan harus diperiksa secara khusus dan kemungkinan kerusakan yang harus diperiksa adalah sebagai berikut : @. retak memanjang pada bagian flens kemungkinan disebabkan tidak cukupnya tulangan melintang, sedangkan retak melintang pada balok menunjukkan kehilangan gaya prategang yang cukup berbahaya atau salahnya posisi kabel prategang, b. beton yang rontok atau retak mungkin terjadi dekat lengkkungan pipa kabel akibat tidak tertahannya gaya radial. ¢. Sayangnya, detail yang penting yang berhubungan dengan balok beton pratekan tidak dapat dinilai secara visual. Yang dimaksud adalah posisi dan kondisi kabel. keseragaman dan kepadatan grouting dalam pipa kabel. Beberapa faktor ini masih dapat diperiksa dengan mengebor lubang kecil ke dalam beton, tetapi biasanya 2-4 dengan teknik radiographi untuk mendapatkan data yang lebih baik (pemeriksaan khusus). * Hilangnya plesteran terutama pada bagian yang lemah dan ujung-ujung balok 2.7.2. Gelagar dan Rangka Baj * Karat adalah faktor yang mempengaruhi kondisi struktur baja. Penting untuk mengetahui besarnya, lokasinya dan bentuk karat itu. Harus dilakukan usaha untuk menilai besarnya Tuas struktural yang masih bekerja dan mencari penyebab terjadinya korosi. Hubungan antara struktur baja dengan pasangan batu, beton dan material Jainnya harus diperhatikan. + Kondisi sistem pelindung - sistem pengecatan mengalami beberapa penurunan mutu dan lebih menguntungkan bila kerusakan diketahui lebih awal sehingga usaha perbaikannya akan lebih ringan. Selain mengadakan pemeriksaan sistem pemeriksaan Perlu juga diperhatikan apakah terdapat tumpukan kotoran yang memerlukan pembersihan struktur secara keseluruhan, * Patah (gompal) akan nampak sebagai pemisahan pada batang-batang/elemen dan kemudahan untuk mendeteksi tergantung pada besarnya patahan. Ini dimungkinkan oleh beberapa sebab antara kelebihan beban, kegetasan, tegangan akibat korosai atau kelelahan. * Retak biasanya terjadi pada bagian las dan bagian besi yang berdekatan yang disebabkan oleh tegangan yang berubah-rubah dan tegangan yang terpusat. Bagian- bagian dan sambungan yang menerima beban berat yang berubah-rubah adalah bagian yang paling rawan. Kwalitas las yang jelek dan perubahan penampang yang mendadak adalah bagian yang berpotensi mengalami masalah. * Getaran yang berlebihan dan berbunyi - faktor-faktor ini secara sendiri-sendiri mungkin tidak merupakan faktor perusak, terkecuali jika getaran tersebut menyebabkan resonansi. Ini merupakan indikasi secara umum daripada kondisi struktur, khususnya jika vibrasi dan bunyi meningkat sejak pemeriksaan terakhir. * Perubahan bentuk dan lendutan perubahan dan lendutan yang berlebihan akibat suatu beban adalah suatu indikator tentang kondisi dari suatu struktur. Suatu gerakan kecil akibat dari beban berat lau-lintas biasanya akan mudah terlihat. * Tekuk, melengkung dan bergelombang - istilah ini biasanya berhubungan dengan perubahan bentuk yang terjadi pada batang yang mengalami tekanan. Jika tanda sangat nyata hal ini akan mengurangi ketahanan batang terhadap gaya tekan * Baut dan paku kelling yang longgar - ini adalah jenis kerusakan yang memerlukan pemeriksaan yang teliti untuk mengetahuinya terkecuaii jika ada gerakan atau suara yang diakibatkannya. Biasanya retakan akan nampak pada lapisan cat diantara pelat bubul dan batang utama, terutama dalam kasus sambungan dengan baut gesek (friction type). * Aus yang berlebihan - dapat timbul pada bagian-bagian yang dapat bergerak, seperti pen pada sambungan rangka. 2.73. Struktur Kayu + Kondisi perawatan pelindung - penurunan mutu akibat cuaca, bahan kimia dan jamur. Penurunan mutu yang disebsbkan oleh hal-hal tersebut dapat berupa tanda karat pada ermukaan sampai pembusukan dari pada kayu, sebagi akibatnya kayu menjadi lunak, 2-5 Keropos dan rapuh. Perhatian utama harus diberikan pada bagian sambungan, lubang baut dan bagian penunjang. ‘+ Serangan serangga - berbagai macam rayap, kumbang, semut dan penggerek dapat menyerang kayu dalam berbagai keadaan lingkungan kebanyakan dari kerusakan adalah pada bagian dalam dan untuk mengetahui tingkat Kerusakannya diperlukan pengambilan contoh dengan cara pengeboran. + Kerusakan akibat api - kerusakan akibat api adalah nyata. Prosedur pemeriksaan haruslah juga meliputi identifikasi bahaya terhadap api. * Kerusakan akibat kecelakaan-tabrakan yang keras biasanya menyebabkan pecah atau hancurnya kayu. * Getaran, lendutan dan perubahan bentuk yang berlebihan kayu yang baik biasanya dapat menahan lendutan atau perubahan bentuk dengan baik dibawah beban yang berlebihan sebelum timbul kerusakan atau kegagalan. Oleh karena itu bentuk geometri kayu dapat memberikan petunjuk tentang cadangan kekuatannya, * Longgar atau berkaratnya baut dan lubang yang tidak dipasak-Kerusakan ini mengarah pada penurunan mutu yang bertahap dan harus dideteksi untuk penanganan perbaikan secepatnya, 2.7.4, Pasangan batu dan Pelengkung Bata * Penurunan mutu dan rontoknya bidang permukaan - Cuaca dapat mengakibatkan kerontokan dan terlepasnya batu dan bata jika keadaan lebih parah, * Terbukanya bagian sambungan dan bergeraknya penyokong dapat menyebabkan lepasnya ikatan adukan antara komponen pelengkung dan bergesemya bata dan batu, Banyak pelengkung pasangan batu dan bata mempunyai cadangan kekuatan sehingga dapat memikul beban lalu-lintas modern dan tidak runtuh. Meskipun demikian getaran yang diakibatkan lalu-lintas modern dapat mengakibatkan lepasnya batu-batu secara Jambat laun dan pergeseran adukan yang mana akan banyak mengurangi kekuatan pelengkung jika dibiarkan terus berlangsung, * Drainase timbunan antara tembok samping bahan timbunan mempunyai potensi untuk menyimpan air dalam jumlah banyak, bertambahnya beban pada pelengkung dan tembok samping sendiri yang mana mengakibatkan penurunan mutu Konstruksi dengan cepat. * Penimbunan sampah dan tumbuh-tumbuhan karena kemungkinan tertimbunnya tanah pada beberapa bagian dari struktur, sejumlah tanaman akan menjadi beban dari Jembatan. Akar tumbuhan tersebut dapat mengakibatkan kerusakan, * Alinyemen dan geometrik secara keseluruhan - perubahan bentuk yang. tidak diharapkan biasanya dapat terlihat sebelum struktur rusak. 2.7.8. Jembatan Gantung Pemeriksaan kabel-kabel dan sambungannya seperti dudukan kabel penggantung dan sambungannya, angker, sadel, pengikat kabel, batang penggantung, kabel penggantung dan pelindung kabel pemeriksaan itu mengikuti prosedur umum untuk struktur baja sebagai tambahan faktor-faktor berikut memerlukan pethatian khusus. * Perpindahan atau tergelincimya dudukan kabel penggantung. Sambungan kabel Penggantung, sadel dan pengikat kabel dapat mengakibatkan tidak meratanya pembagian beban antara bagian-bagian dan ini merupakan indikasi dari suatu tingkat kegagalan pada hubungan antara kabel dengan elemen tertentu yang berpindah. © Putusnya kawat-kawat dalam strands yang besar, yang mana biasanya terbungkus dan terlindungi dari luar, akan sulit untuk dideteksi sampai munculnya suatu tanda yang dapat terlihat dari luar. Meskipun demikian pada daerah angker kawat-kawat yang ‘tidak tertutup dapat dengan mudah diuji, dan ini akan menunjukkan apabila ada kawat yang putus pada suatu jarak ditempat yang terbungkus/tertutup. * Kondisi sistem pelindung harus diperiksa untuk menjamin bahwa tidak ada bungkus yang terlepas atau retakan dimana air akan dapat masuk dan menyebabkan karat pada kabel utama. Bungkus kabel, sadel dan splay casting perlu diperiksa terhadap kemungkinan masuknya air. * Tegangan relatif pada pengggntung atau kabel pada jembatan gantung suatu pemeriksaan tentang pembagian beban yang merata antara penggantung-penggantung yang berdekatan dapat dilakukan dengan membandingkan perubahan sudut kabel pada setiap ikatan kabel. Tetapi untuk mendapatkan indikasi yang tepat diperlukan suatu alat khusus dalam pemeriksaan khusus. 2.7.6. Lantai Beton dan Jembatan Pelat * Retak - perlu disiapkan dan diinformasikan mengenai pola retak beserta ukuran, penyebaran dan dalamnya retak, diharapkan ada photo retak. Penyebab retak ada beberapa, kadang-kadang penyebabnya jelas dari bentuk dan keadaan retak. Dalam keadaan lain penyebabnya kompleks dan hanya dapat dinilai setelah dipelajari dari catatan yang ada dan gambar, yang berhubungan dengan perhituhgan. Retak dapat juga merupakan suatu tanda dari suatu material dan pekerja, sebagai contoh retak susut, tetapi dalam kasus yang lain, ini dapat merupakan suatu tanda di dalam struktur yang berbahaya, yang dapat terjadi mulai dari kegagalan dari penulangan atau penegangan tendon sampai gaya lintang pada perletakan dan pengangkeran, Diperlukan psmeriksaan khusus. * Aus - hal ini merupakan suatu hilangnya lapisan permukaan dan agregat secara bertahap dan terus menerus. Dalam dan ukuran dari kerusakan ini harus dicatat, sehihgga dapat dipantau perkembangan dari kerusakan yang terjadi. Pada umumnya sesuai dengan pengalaman hal ini terjadi pada permukaan yang exposed terhadap cuaca dan lalu-lintas, tetapi dapat terjadi dibagian mana saja. * Kerontokan - adalah suatu hilangnya beton akibat hancumya permukaan dan disebabkan oleh mutu beton yang jelek atau berkaratnya tulangan yang menyebabkan bertambahnya gaya di dalam beton yang mengakibatkan retak dan kemudian rontok. * Berkaratnya tulangan - hal ini sulit dideteksi pada tahap awal, tetapi secara bertahap akan terlihat perubahan warna dari permukaan beton dan akhimya beton akan rontok. * Bocor - kebocoran atau merembesnya air melalui retakan dan rongga dalam beton mungkin Jarutnya calcium hydroxide dan unsur-unsur material lainnya. Pengaruh ini biasanya terjadi pada lantai beton yang lemah dan nyata dengan adahya noda. permukaan yang mengembang atau adanya suatu lapisan, Dalam waktu ini dapat menyebabkan berkaratnya tulangan, sebab hilangnya secara bertahap kealkalinan beton. + Beton yang keropos dan tembus dapat menyebabkan masuknya air yang menyebabkan berkaratnya tulangan, © Ausnya permukaan lantai - jika lantai merupakan permukaan lantai kendaraan untuk Jalu-lintas, maka ini akan mengarah pada erosi dan tergosok. © Perubahan bentuk, lendutan dan getaran yang berlebihan - faktor-faktor ini merupakan suatu indikasi kondisi penunjang lantai atau kondisi lantai itu sendiri, Disarankan dilakukan pemeriksaan khusus. © Kerusakan akibat kecelakaan - hal ini berupa beberapa jenis termasuk kerusakan pada jembatan layang akibat kendaraan yang tinggi, dan kerusakan setempat pada batang rangka, expansion joint dan kerb yang diakibatkan oleh kendaraan, * Akibat bahan kimia dipastikan pada daerah yang berlingkungan agresif, keadaan permukaan beton akibat reaksi kimia menjadi rapuh. Bentuk penurunan mutu yang sama dapat terjadi pada daerah yang berlingkungan tidak begitu agresif yang diakibatkan oleh bahan yang cacat atau pekerjaan yang tidak baik. 2.7.7. Permukaan Lantai Kendaraan Permukaan lantai kendaraan jembatan dapat terbuat dari beton, baja atau kayu, yang memerlukan penggantian lapisan ausnya dan dapat memberikan gaya gesek yang baik. Kerusakan biasanya adalah : * Retak-retak dapat bermacam-macam bentuknya tergantung pada kondisi kegagalannya dan karakteristik bahan permukaan lantai. Bahan/material yang umum dipakai, seperti aspal, merupakan bahan yang thermoplastik dan mudah retak. Pada beberapa hal, retak merupakan suatu indikasi dari kegagalan bahan permukaan lantai kendaraan, disamping itu juga merupakan indikasi pergerakan yang berlebihan atau menurunnya mutu bagian bawah permukaan lantai kendaraan. Dengan berjalannya waktu, terkupasnya bahan penutup permukaan pada bagian ujung dari retakan akan terjadi dan resapan air akan mengakibatkan hilangnya ikatan antara lapisan penutup permukaan dengan lantai * Perubahan bentuk yang berlebihan - hal ini terjadi karena pengaruh dari kombinasi beban lalu-lintas dan cuaca panas. Jika terjadi perubahan bentuk yang berlebihan, hal ini akan mengurangi kenyamanan dan dapat menambah beban dinamis dan getaran akibat bergeraknya kendaraan. © Terlepasnya ikatan bahan penutup permukaan lantai kendaraan terjadi sebab lemahnya gesekan atau hilangnya lekatan pada bidang permukaan lantai. Hal ini akan mengarah pada deformasi dan kadang-kadang tertumpuknya bahan penutup permukaan akan membentuk satu gundukan, + Licinnya permukaan lantai kendaraan disebabkan oleh gosokan roda_kendaraan, Semakin lama permukaannya akan bertambah licin dan penggantian lapisan permukaan akan diperlukan untuk mengembalikan tahanan geseknya. 2.7.8. Expansion Joint Expansion joint biasahya merupakan salah satu titik lemah dari jembatan yang mudah usak sebab kondisi jelek yang dialaminya. Kerusakan utama yahg harus diperhatikan adalah : + Longgar atau bergeraknya/bergesethya expansion joint dan bagian-bagiannya ini adalah kegagalan yang paling umum dan biasanya disertai dengan bunyi berderik dan terlepasnya baut, Komponen dari expansion joint dan dudukannya. Awal dari longgamya joint biasanya dapat dideteksi dengan adanya retak yang terjadi antara joint dengan bidang permukaan didekatnya; Lambat laun beberapa retakan akan terjadi pada permukaan itu sendiri. Lekatan atau ikatan ke bawah dari dudukan 2-8 biasanya dapat diperiksa dengan mendeteksi bunyinya ketika joint dipukul dengan palu * Kebebasan bergerak ruang bebas dan alinyemen - harus terdapat cukup ruahg agar supaya joint dapat berfungsi dalam temperatur yang ada. Ruang bebas dapat hilang dikarchakan gerakan yang tidak terduga yang terjadi pada pondasi bangunan bawah atau bangunan atas. Hal ini dapat terjadi juga akibat pemasangan joint yang salah, Kerusakan ini dapat menghambat pergerakan joiht yahg mengakibatkan timbulnya fegangan pada struktur, atau renggang yang berlebihan pada joint schingga membahayakan lalu-lintas, ‘* Pergeseran joint yang berlebihan - bagian-bagian dari joint dapat bergeser satu sama lain jika ini terlalu banyak hal tersebut dapat mengakibatkan gaya kejut dari lalu-lintas dan dapat juga membahayakan untuk kendaraan kecil dan kendaraan roda dua. * Pembuangan air dari joint yang terbuka - kebanyakan dari joint direncanakan dengan gap terbuka dimana air dan kotoran dapat masuk, dalam hal demikian sistem pembuangan air yang baik harus diperiksa. * Aspal penutup diatas Joint biasanya lapisan penutup ini mudah rusak dan meningkatkan beban kejut. 2.7.9. Landasan / Perletakan Bentuk geometris dan kondisi Jandasan serta dudukan landasan merupakan indikator penting tentang kondisi landasan tersebut dan kadang-kadang juga menunjukkan kondisi umum jembatan. Mereka biasanya terletak pada titik dimana pergerakan dapat terjadi, oleh Karena itu gerakan pada landasan biasanya cukup besar dan dapat diukur dengan alat yang sederhana, * Kondisi landasan dan pelat landasan - bagian-bagian ini harus bebas dari karat dan Kotoran yang dapat menghambat pergerakan dan menyebabkan gaya gesek yang berlebihan antara bangunan atas dan bawah. Cukupnya bahan pelumas perlu diperiksa. * Posisi dan alinyemen landasan, dan meratanya pembebanan diantara landasan~ landasan, harus diperiksa untuk memastikan bahwa ada kontak yang merata pada bidang permukaan landasan tersebut dan bagian-bagiannya terpasang dengan baik. Landasan harus duduk dengan baik sehingga ada kebebasan untuk bergerak. Kekencangan baut angker dan mumya harus diperiksa. * Beberapa karakteristik landasan elastomer memerlukan perhatian Khusus, Ini harus diperiksa tethadap pecah, sobek atau retak pada karet pembungkus bagian luarnya, dan untuk penggembungan, serta distorsi yang disebabkan oleh tekanan yang berlebihan atau geseran. Tanda-tanda pertama dari kegagalan elastomer biasanya berbentuk retakan horisontal yang terjadi dekat pertemuan antara karet dengan lapisan baja. Landasan juga harus diperiksa untuk gerakan rotasi bangunan atas yang berlebihan yang mana biasanya dapat terlihat dengan perbedaan ketebalan pada bagian depan dan belakang dan landasan. ¢ Dudukan landasan harus diperiksa untuk tanda-tanda dari pergerakan antara dudukan dengan struktur penyokongnya. Hal ini penting khususnya jika dowel atau baut angker tidak dipergunakan untuk memegang landasan elastomer tersebut. ¢ Duduknya bangunan atas pada landasan dan Jandasan pada bangunan bawah harus diperiksa secara teliti untuk tanda-tanda retak. detail biasanya terjadi akibat dari Konsentrasi beban pada bagian tepi dan dapat mengurangi daya kerja dari dudukan dan rusaknya struktur. * Landasan geser sederhana dipergunakan pada kebanyakan jembatan-jembatan lama yang akan menjadi sulit bergerak karena usianya, dan jika bahannya terbuat dari timah hitam atau bitumen landasan ini mungkir tidak berfungsi sama sekali. Dalam hal ini Kemungkinan terjadinya retakan atau gompalan pada beton pada daerah dudukan dari Jandasan. 2.7.10. Sandaran dan Perlengkapan © Kerusakan akibat gaya kejut lalu-lintas. Sifat dan tingkat dari kerusakan harus dicatat dan berbagai Komponen harus diperiksa secara teliti untuk tanda-tanda kerusakan, * Korosi - sandaran dan pagar pengaman akan sering menerima semprotan air kotor dari Jalan, sehingga berada dalam lingkungan yang sangat korosif. Kondisi dari lapisan pelindung harus diperiksa untuk melihat kemungkinan tanda-tanda kerusakan atau Korosi. Perhatian khusus hendaklah diberikan kepada bagian dasar dari tiang penyangga. + Kekencangan baut harus diperiksa dengan mempertimbangkan kemungkinan untuk memuai. * Kwalitas dari las - harus diperiksa untuk menjamin bahwa sambungan tersebut cukup baik dalam menyalurkan gaya-gaya, + Kondisi tanda-tanda pembatas dan utilitas harus diperiksa. 2.7.11. Drainase Drainase merupakan suatu bagian penting yang harus diperiksa karena air yang terjebak, tergenang, mangalir atau menyemprot dapat menyebabkan kerusakan dengan barjalannya waktu dan juga membahayakan lalu-lintas. Kerusakan utama yang harus diperiksa : * Tanda air pada balok, pelat, pilar dan kepala jembatan mungkin menunjukkan pipa yang bocor, selokan yang tersumbat atau sistem drainase yang tidak memadai. © Tersumbat atau tidak memadainya saluran terbuka dan pipa akan nyata dari air yang tergenang disekitar lubang pembuangan (inlet) setelah hujan besar. Tanda air pada beton menunjukkan tentang tidak memadainya saluran, + Lubang pembuangan (outlet) harus diperiksa untuk meyakinkan bahwa air buangan tidak memancar pada komponen jembatan yang lain dan tidak menyebabkan erosi pada tanah timbunan, * Pipa yang rusak pipa-pipa harus diperiksa untuk kemungkinan kerusakan atau kebocoran. Tanda air dan terkumpulnya kotoran menunjukkan adanya masalah. + Kemiringan permukaan dan lantai pembuangan air ke selokan harus diperiksa untuk meyakinkan bahwa kemiringannya cukup baik dan tidak terganggu dengan pelapisah ulang, + Drainase jalan - air tidak boleh dibuang schingga menyebabkan erosi. BAB 3 SISTEM PENOMORAN JEMBATAN DAFTAR ISI BAB3 3. SISTEM PENOMORAN JEMBATAN 3. 3.2. 3.3. 34. 3.5. PENGERTIAN JEMBATAN NOMOR JEMBATAN 3.2.1, Akhiran Ruas Jalan 3.2.2. Jembatan Tambahan/Jembatan yang Belum Tercatat Sebelumnya 3.2.3. Lintasan Atas 3.2.4, Jembatan Ganda LOKASI JEMBATAN PENOMORAN KOMPONEN DAN ELEMEN JEMBATAN 3.4.1, Penomoran Komponen Utama 3.4.2. Penomoran Elemen URUTAN PEMERIKSAAN 3. SISTEM PEN 3.1. PENGERTIAN JEMBATAN Guna pencatatan dalam database jembatan di BMS, yang dimaksud dengan jembaian adalah jembatan lintasan basah, lintasan Kerata api, lintasan ferry, gorong-gorong, yang memiliki ukuran panjang total atau Jebar rentang (dalam hal gorong-gorong) labih dari 2 meter. 3.2, NOMOR JEMBATAN Nomor Jembatan pada umumnya terdiri dari 9 (sembilan) angka yang khas untuk masing- masing jembatan. Contoh dapat dilihat dalam Gambar 3.1 Kadang-kadang Nomor Jembatan mempunyai nomor tambahan dalam bentuk Akhiran Ruas Jalan (link suffix). Akhiran ruas jalan ini dipakai bilamana ruas jalan jembatan telah dibagi-bagi dalam Sistem Manajemen Jalan Antar kota, atau “Interurban Road” Management System (IRMS), sehingga jumlah lalu-lintas dapat dihitung dengan lebih teliti untuk masing-masing bagian atau sublink (Iihat Bagian 3.2.1.) No. No. Ruas No. Urut No, No. Ruas Peer eT] CL] Propinsi Jalan Jembatan Tambahan —Tambahan Gambar 3.1. Nomor Jembatan ‘Nomor jembatan menunjukkan urutan posisi jembatan sepanjang ruas jalan tersebut. Dua angka pertama menunjukkan Propinsi. ‘Tiga angka berikutnya menunjukkan Ruas Jalan Tiga angka berikutnya manunjukkan Nomor Urut Jembatan, Jembatan diberi nomor secara urut, dimulai dari jembatan yang paling dekat dengan awal dari Ruas Jalan yang diberi Nomor Urut Jembatan 001 Angka terakhir dalam kesembilan angka pada nomor jembatan tersebut (Akhiran) menunjukkan jembatan tambahan yang sudah dibangun, jembatan yang sebelumnya tidak terdafiar karena tertinggal dalam pendataan, dan juga menunjukkan jembatan yang diduplikasi, misalnya pada jembatan yang barada pada dua jalur yang terpisah. Akhiran ini dapat berupa angka atau huruf (Lihat Bagian 3.2.2 dan 3.2.3). Nomor Propinsi, Nomor Ruas Jalan dan Nomor Akhiran Ruas Jalan diambil dari IRMS dan dapat dilihat dalam laporan IBMS-IRI-Laporan Data Ruas Jalan dan Laporan Lalu Lintas, 3.2.1. Akhiran Ruas Jalan Penggunaan Akhiran Ruas Jalan untuk menunjukkan bagian ruas jalan dimulai beberapa tahun setelah database jembatan selesai, dan akhiran ruas jalan ini tidak mudah digabungkan, pada tempat yang tepat, dengan sembilan angka nomor jembatan yang 3d sudah ada, yaitu bersebelahan dengan Nomor RUBS Jalan. Oleh karena itu nomor ini digabungkan secara terpisah dan ditambahkan pada akhir dari sembilan angka yang ada. Semua laporan pemeriksaan harus menggunakan Nomor Akhiran Ruas Jalan yang benar; kalau tidak, BMS MIS tidak akan menghasilkan data IRMS yang benar untuk jembatan tersebut. Akhiran Ruas Jalan sudah dialokasikan pada semua jembatan dalam database Setiap bagian ruas memiliki titik awal dan titik akhir kilometer. Km lokasi jembatan (Lihat; Bagian 3.3.) harus dicatat dengan benar supaya sesuai dengan Akhiran Ruas Jalan, Jika lokasi km jembatan berada di luar batas km untuk bagian ruas jalan, maka BMS MIS tidak akan mengenal jembatan tersebut. Bagian ruas jalan dalam daerah perkotaan memiliki dua huruf dan angka Akhiran Ruas Jalan dalam bentuk K1, K2 dan seterusnya. Kadang-kadang bagian ruas di dalam IRMS tidak terletak dalam ruas jalan tersebut. Bagian-bagian ruas tersebut mungkin berupa jalan pintas atau jalan cabang dari ruas jalan utama, seperti terlihat dalam Gambar 3.2. Pada pemeriksa harus berkonsultasi dengan BMS. Supervisor bila menghadapi masalah dalam penomoran Akhiran Ruas Jalan, Gambar 3.2 Penggunaan akhiran ruas jalan untuk menunjukkan pada suatu ruas jalan 3.2.2. Jembatan Tambahan/Jembatan yang belum Tercatat Sebelumnya Jembatan tambahan dan yang belum tercatat diberi tanda dengan tambahan nomor (dengan angka) Nomor akhiran inj disarankan merupakan jarak antara Jembatan tambahan dan Jembatan sebelumnya yang telah tercatat dan letaknya paling dekat dengan awal ruas jalan, dan diungkapkan sebagai perbandingan jarak antara Jembatan tambahan dengan jarak jembatan sebelum dan sesudahnya yang telah tercatat, Nomor tambahan memiliki nilai nomor bulat antara 1 dan 9; oleh karena itu, dapat dimasukkan maksimum sembilan Jembatan tambahan antara dua Jembatan yang telah tercatat sebelumnya, 32 Jembatan-jembatan tambahan diberikan Nomor Urut Jembatan yang sama dengan Jembatan di sebelah Jembatan yang telah tereatat sebelumnya yang letaknya paling dekat dengan Jembatan sebelumnya. Dalam Gambar 3.3, Jembatan-jembatan diatas 8. Satu, S. Dua, Jalan Kereta Api dan Jalan Besar telah tercatat sebelumnya dalam Database BMS, oleh karena itu telah memiliki ‘Nomor Jembatan yang berurut (001 sampai 004). Suatu jembatan tambahan (S. Tambahan) ditemukan diantara $. Dua dan Jalan Kereta Api sesudah Database BMS awal ditetapkan. S, Tambahan diberi nomor tambahan 4, karena Jarak antara S$. Tambahan dan Jembatan sebelumnya yang terdekat dan Jembatan, sesudahnya (Jembatan Kereta Api) adalah empat per sepuluh dari jarak antara S, Dua dan Jembatan Jalan Kereta Api. PROVINCE 70 Origin of Link O12 Gambar 3.3 Penomoran Jembatan Nomor Jembatan untuk kelima jembatan pada Ruas Jalan 012 dalam contoh ini dapat dilihat dalam Gambar 3.4, No. No, Ruas Jalan No, Urut No. No. Ruas Propinsi Jembatan ‘Tambaha Tambaha =a P= TEEPE EEEEr] on S. Tambahan (additional bridge) PEEETEEE] (7) Lm PETE P ETT) (7 Gambar 3.4 Penggunaan Nomor Tambahan untuk Penomoran Jembatan Tambahan 3.2.3. Lintasan Atas Jembatan jalan raya yang melintas diatas jalur kereta api dicatat seperti biasa. Jembatan jalan raya yang melintas diatas jalan dicatat pada ruas jalan yang berada diatas jalan, Jembatan kereta api yang melintas diatas jalan biasanya merupakan tanggung jawab Perusahaan Jawatan Kereta Api, dan tidak dicatat ke dalam Database BMS. Bila terdapat Keraguan mengenai tanggung jawab akan suatu jembatan termasuk lintas alas kereta api, Inspektur Jembatan harus berkonsultasi dengan BMS Supervisor. 3.2.4. Jembatan Ganda Bila suatu jalan digandakan, misalnya di badan jalan yang ganda, biasanya dibagian jembatan yang terpisah pada masing-masing badan jalan di atas sungai atau jalur Kereta api. Contoh dapat dilihat dalam Gambar 3.5 Jembatan yang digandakan diberi tanda dengan suatu akhiran berupa abjad. Akhiran A: Digunakan untuk jembatan di jalur sebelah kiri, yang dilintasi oleh kendaraan yang berjalan menjaubi awal dari ruas jalan. AkhiranB-— : Digunakan untuk jembatan di jalur sebelah kanan PROPINS! 70 Ruas Asal 16 70.016.007 Jb. 70,016,002. Gambar 3.5 Penggunaan Nomor Tambahan Abjad untuk Penomoran Jembatan yang Digandakan 34 3.3. LOKASI JEMBATAN Dalam arti jarak, jembatan dibangun dari Kora Asal yang biasanya merupakan awal dari suatu Ruas Jalan. Setiap Kota Asal diberi Kode abjad berjumlah tiga huruf, misalnya, JKT, BDG, dan seterusnya. Jarak diukur dalam kilometer, biasanya dengan menggunakan odometer kendaraan. Setiap jembatan hanya boleh dicatat satu kali saja. Pada awalnya, setiap pemeriksaan dimulai dari Kota Asal dan jembatan diperiksa secara urut sepanjang ruas jalan tersebut, untuk menghindari pencatatan ganda. Angka yang tertera pada odometer dicatat pada titik awal di Kota Asal. Angka pada odometer dibutuhkan untuk menentukan lokasi jembatan. Bila jembatan akan ditambahkan pada database, jaraknya dapat diukur dari jembatan atau patok kilometer yang sudah ada, dan jarak dari Kota Asal dapat dihitung. Gambar 3.6 Lokasi Jembatan 3.4, PENOMORAN KOMPONEN DAN ELEMEN JEMBATAN Untuk mencatat kondisi komponen utama dari suatu jembatan atau mencatat lokasi masing-masing elemen atau sekelompok elemen yang cacat, mutlak diperlukan suatu sistem penomoran pada komponen dan elemen jembatan, 3.4.1. Penomoran Komponen Utama Tiga komponen utama digunakan untuk membantu menentukan lokasi elemen dan elemen yang cacat. Ketiga komponen tersebut adalah kepala jembatan pilar dan benteng, yang diberi kode abjad-angka misalnya, Al, Pl, B2, Kode-kode ini digunakan pada semua jenis pemeriksaan, Komponen-komponen utama masing-masing diberi nomor secara urut, dimulai dati Komponen yang terdekat dengan Kota Asal, seperti dapat dilihat dalam Gambar 3.7. 35 Gambar 3.7 Penomoran Komponen Utama 3.4.2. Penomoran Elemen Penomoran Elemen digunakan hanya untuk menemukan elemen-elemen yang rusak menurut Pemeriksaan Detail. Indivisual elemen-elemen gelagar, kolom dan rangka, dan bagian-bagian dari elemen seperti batang tepai atas atau bawah dan batang diagonal, diberi nomor secara memanjang, melintang, dan vertikal. Elemen-clemen ini secara berturut-turut diberi nomor pada sumbu X, Y, dan Z. seperti yang terlihat dalam Gambar 3.8. | Y ( Arah Melintang } | Z ( Arah Vertikal } X ( Arah Memanjang ) Gambar 3.8 Penomoran Elemen Elemen-elemen dalam arah memanjang diberi nomor secara urut, dimulai dari elemen yang terdekat dengan kepala jembatan 1 (A\1) seperti terlihat dalam Gambar 3.9. Connection 83.5.2.2 LINK —p DIRECTION ‘SPAN No.d Connection 83.4.2.3. Gambar 3.9 Penomoran Elemen~ Arah Memanjang Elemen-elemen dalam arah melintang diberi nomor dari kiri ke kanan bila dilihat dari arah meninggalkan A1 seperti terlihat dalam Gambar 3.10. eee P2 Column 1 A1 Pile 2 AD Pile 3: P2 Column 2 At Pile & az Link Direction Gambar 3.10 Penomoran Elemen— Arah Melintangh Penomoran dalam arah vertikal biasanya hanya berlaku pada bagian-bagian dari suatu clemen struktur secara individual, misalnya dalam suatu struktur rangka. Bagian- bagian‘ini diberi nomor dari atas ke bawah seperti terlihat dalam Gambar 3.11. Connection 83.5.2.2 WAVAN AW ont L VT ’\/ \/ SPAN No.3 Connection ren Gambar 3.11 Penomoran Elemen ~ Arah Vertikal 37 3.5. URUTAN PEMERIKSAAN Semua pemeriksaan seharusnya diawali dari sebelah kiri kepala jembatan 1 (A1). seperti terlihat dalam Gambar 3.1 2 Gambar 3.12 Urutan Pemeriksaan Urutan ini berlaku baik untuk jembatan berbentang tunggal atau lebih, dengan kepala Jembatan dan bentang akhir yang harus diperiksa sebelum bentang tengah. Urutan mungkin perlu dirubah sesuai dengan jembatan-jembatan yang berbeda-beda karena ‘masalah akses, masalah lalu lintas, dan karakteristik lokasi pilar serta sungai, 38 BAB 4 PEMERIKSAAN INVENTARISASI DAFTAR ISI BAB4 4. PEMERIKSAAN INVENTARISASI 4.1. 42, UMUM. 4. 4.12. 4.13. 4.1.4. Personalia Peralatan dan Material Material Acuan Urutan Pemeriksaan PROSEDUR PEMERIKSAAN INVENTARISASI 4.1.1, 41.2. 4.13, 4 415. Data Administrasi Jenis Lintasan dan Data Geometris, Data Bentang dan Komponen Utama Pedoman Pemberian Nilai Kondisi Inventariasi Data Pelengkeap 4, PEMERIKSAAN INVENTARISASI JEMBATAN 4.1, UMUM Pemeriksaan Inventarisasi dilaksanakan untuk mencatat data administrasi, dimensi, material dan kondisi setiap jembatan dalam Sistem Manajemen Jembatan. Semua Jembatan, lintasan Kereta api, Tintasan bawah, lintasan ferry, dan gorong-gorong yang memiliki panjang dua meter atau lebih harus dicatat. Secara lebih khusus, Pemeriksaan Inventarisasi dilakukan untuk : * mencatat jembatan dalam Sistem Manajemen Jembatan dengan menggunakan Nomor dan Lokasi Jembatan; * mengukur dan meneatat dimensi keseluruhan dari jembatan dan setiap bentang: " menunjukkan jenis jembatan atau Jintasan, komponen utama dan tanggal atau tahun Konstruksi; ‘* menilai kondisi komponen-komponen utama bangunan alas dan bangunan bawah jembatan; * mencatat batas-batas muatan atau pembatasan fungsional lainnya pada jembatan yang ada; s menafsirkan dan mencatat pengaruh lebar jembatan yang ada terhadap lalu lintas; * mencatat rineian mengenai detour (jalan memutar) yang ada bilamana terjadi penutupan jembatan; * mencatat data banjir tertingei yang diketahui, tanggal terjadinya dan sumber informasi; ‘" meneatat apakah terdapat gambar jembatan terlaksana dan apakah jembatan merupakan jenis standar. 4.1.1. Personalia Paling kurang seorang Inspektur Jembatan untuk melaksanakan Pemeriksaan Inventarisasi, didampingi oleh asisten-asisten lain. Peralatan dan Material Para inspektur memerlukan peralatan berikut untuk melaksanakan Pemeriksaan Inventarisasi: + formulir laporan pemeriksaan inventarisasi; kertas untuk gambar atau catatan; pena; kendaraan dengan odometer yang berfungsi; alas pengukur jarak; meteran pengukur 30 m; sekop; parang; kalkulator; kamera digital minimal 5 megapixel dengan memory card minimal 1 gigabyte Papan tulis putih kecil dan sepidol yang bukan permanen (untuk menampilkan nama dan nomor jembatan dalam foto). 44 4.1.3. Material Acuan Sebelum melaksanakan Pemeriksaan Inventarisasi, para inspektur harus mengumpulkan material berikut ini: * Buku Pegangan Pemeriksaan Jembatan di Lapangan; "Peta yang memperlihatkan ruas jalan propinsi (Peta Peranan Jalan); * Laporan data Lalu Lintas dan Ruas Jalan IBMS-IRI untuk Propinsi yang bersangkutan, 4.1.4, Urutan Pemeriksaan Setiap jembatan harus diperiksa dengan menggunakan urutan berikut ini: * periksa dan catat data administrasi pada Halaman 1 dan 3 dari ILporan Pemeriksaan Inventarisasi - nama jembatan, lokasi, cabang, dan seterusnya; * _ kelilingi jembatan untuk mengetahui rata letak umum dari struktur; * _catat jenis lintasan dan ukur serta mencatat data geometrik pada Halaman 3 dari Laporan - jumlah bentang, panjang keseluruhan, sudut miring: * ukur dan catat dimensi bentang pada Halaman 3 dari Laporan - panjang, lebar antara kerb, lebar tempat pejalan kaki, dan seterusnya: * tentukan dan catat jenis material, sumber dan kondisi dari komponen utama pada bangunan atas dan bangunan bawah pada Halaman 3 dati Laporan; * tentukan dan catat data pelengkap jembatan pada Halaman 4 dari Laporan pembatasan fungsional yang ada, keadaan lalu lintas, detour dan pemindahan jalan, dan seterusnya; * catat pada Halaman 1 dari Laporan apakah dianjurkan Tindakan Darurat dan alasannya; = _buat catatan yang diperlukan dalam bagian Catatan pada Halaman 1 dari Laporan, Selama pemeriksaan berlangsung inspektur harus mengambil photo struktur jembatan yang memperlihatkan: + ketinggian sisi jembatan; * anti jembatan yang diphoto dari as jalan; = jembatan yang diambil dari sudut 45° dari titik pusat jalan; + hal-hal menarik lainnya termasuk kerusakan dan masalah yang membutuhkan perhatian, Bila perlu, buat gambar agar laporan lebih jelas. 4.2, PROSEDUR PEMERIKSAAN INVENTARISASI Suatu prosedur pemeriksaan standar digunakan untuk memastikan bahwa Pemeriksaan Inventarisasi dilaksanakan dengan cara yang konsisten dan sistematis, 4.2.1. Data Administrasi Data administrasi dicatat dalam kotak-kotak pada Halaman 1 dan 3 dari Laporan Pemeriksaan, seperti yang terlihat dalam Gambar 4.1. Kotak-kotak pada kedua halaman harus diisi, karena masing-masing dapat diphotokopi dan digunakan selanjuntnya untuk tujuan-tujuan yang berbeda. 42 Runs Tambhan ‘Nama Jembatan Cabang | Km Nama Kota Asal Javak dart Kova Asal Tanggal Pemeriksaan ‘Nama Pemeriksa Gambar 4.1. Data Administrasi Nomor Jembatan Nomor Jembatan ditentukan seperti pads Bagian 3.2. Nama Jembatan Nama Jembatan mungkin tertera pada suatu pelat nama yang tetanam di parapet tepi atau lonengan atau mungkin dapat diperoleh dari survai-survai sebelumnya. Bila tidak diketahui, nama jembatan dapat ditentukan dengan menanyakannya pada penduduk setempat. Demi Keakuratan, sebaiknya tanyakan nama jembatan pada kelompok orang secara terpisah. Bila lebih dari satu jembatan memiliki nama yang sama, gunakan tambahan nama kampung atau desa di mana jembatan tersebut berada. Pastikan, ejaannya benar. Cabang Cukup jelas Lokasi Jembatan Lokasi Jembatan (jarak dari Kota Asal dalam kilometer) ditentukan seperti dalam Bagian 33 Tanggal Pemeriksaan, Nama Inspektur, NIP Sudah cukup jelas 43 4.2.2. Jenis Lintasan dan Data Geometris Data ini dicatat dalam kotak-kotak pada Halaman 3 dari Formulir Laporan Pemeriksaan, seperti yang terlihat dalam Gambar 4,2. Jenis Lintasan Center, S, KA, JN, L Jumtah bentang Panjang Total (m) Tahun Pembangunan Sudur Miring (derajat °) Gambar 4.2 Jenis Lintasan dan Data Geometris Jenis Lintasan Jenis Lintasan dicatat dengan menggunakan salah satu kode berikut : s Sungai KA Kereta Api JN Jalan iE Lain "Lain" mencakup terowongan pejalan kaki, pipa air, dan seterusnya Jumlah Bentang Sudah cukup jelas Panjang total (m) Panjang total adalah panjang jembatan yang diukur dari expansion joint ke expansion Joint pada kepala jembatan seperti terlihat dalam Gambar 4.3. Panjang total dicatat dengan toleransi 0,1 meter yang dikur sepanjang as jembatan. 44 Length Span Span Gambar 4.3 Pengukuran Panjang Total dan Panjang Bentang pada Jembatan Pelengkung merupakan kasus khusus dan diukur seperti terlihat dalam Gambar 4.4 45 L= Length, S = Span Gambar 4.4 Pengukuran Panjang Total dan Panjang Bentang Jembatan Pelengkung ‘Sudut miring (derajat °) Bila as kepala jembatan tidak tegak Iurus terhadap as jalan, jembatan disebut jembatan bersudut Sudut miring adalah sudut antara as pilar/kepala jembatan dan garis tegak lurus tethadap as jalan, Sudut miring dapat bersifat positif atau negatif seperti terlihat dalam Gambar 4.5. SKEW ANGLE]: V, SKEW ANGLE 5 awe —To BASE TOWN \, UNK me. DIRECTION I Gambar 4.5. Sudut Miring pada Jembatan Bila suatu jembatan berupa busur lengkung dibangun di atas tikungan, jembatan tersebut bukan jembatan miring dan dicatat sebagai jembatan busur dalam tikungan atau BK. Gambar 4.6 memperlihatkan suatu jembatan busur ditikungan Jembatan pada suatu lengkungan Gambar 4.6, Jembatan Busur di Tikungan Tahun Pembangunan 47 Informasi ini mungkin sudah tersedia pada pelat nama. Kadang-kadang tahun konstruksi dicatat pada balok ujung atau bagian bawah rangka ujung. Bila tidak, mungkin penduduk setempat dapat membantu. Perkiraan tahun konstruksi dapat dicatat bila tidak ada informasi yang tersedia. 4.2.3. Data Bentang dan Komponen Utama Secara historis, hanya dua komponen utama jembatan, yaitu Bangunan atas dan Bangunan bawah, yang dipertimbangkan dalam Pemeriksaan Inventarisasi. Untuk tujuan Pemeriksaan Detail, diputuskan bahwa komponen utama ketiga, yaitu aliran sungai/tanah timbunan, untuk pengelompokkan elemen jembatan. Tetapi, demi menjaga konsistensi analisis data, Bangunan Atas dan Bangunan Bawah hanya dipertahankan sebagai Komponen utama untuk Pemeriksaan Inventarisasi Data mengenai kelima komponen utama dari Bangunan Atas dan Bangunan Bawah, seperti diuraikan dalam sub-bagian 4.2.3.b, dikumpulkan selama Pemeriksaan Inventarisasi Laporan Pemeriksaan Inventarisasi memungkinkan data sebanyak 10 bentangan jembatan dicatat pada formulir dalam satu lembar kertas seperti terlihat dalam Gambar 4.7. Gunakan lembar lain bila terdapat lebih dari 10 bentang Gambar 4.7 Data Bentang dan Komponen Utama a. Data Bentang Panjang Bentang (m) Panjang Bentang biasanya diukur dari expansion joint pada kepala jembatan sampai expansion joint yang terletak pada pilar, atau dari as pilar ke as pilar seperti terlihat dalam Gambar 4.3 dan 4.4. Panjang bentang diukur dengan toleransi 0,1 meter terdekat. Lebar antar Kerb (m) Lebar antar Kerb diukur dengan toleransi sampai 0,1 meter terdekat (seperti terlihat dalam Gambar 4.8). Bila lebar pada setiap bentang sama, pengukuran tidak perlu dilakukan pada setiap bentang. Lebar Trotoir (Tempat Pejalan Kaki) (m) Lebar Tempat Pejalan Kaki adalah lebar total dari kedua trotoir (bila lebih dari satu), yang diukur dengan toleransi sampai 0,1 meter terdekat. I Tae Lebar antar Kerb ent, 4 [ : | ! Lebar Trotoir = T,+T, Gambar 4.8. Pengukuran Lebar antar Jalan dan Lebar Tempat Pejalan Kaki Ruang Bebas Lalu Lintas Vertikal (m) Ruang Bebas Lalu Linas Vertikal adalah jarak vertikal dari permukaan jalan ke penghalang di atas kepala yang diukur dengan toleransi sampai 0,1 meter terdekat (seperti terlihat dalam Gambar 4.9). Banyak jembatan tidak memiliki pembatasan. Dalam banyak jembatan rangka, ruang bebas lalu lintas vertikal dihambat oleh ikatan angin atas atau suatu penerangan, Bila tidak ada hambatan, masukkan data ke dalam catatan. Gambar 4.9. Ruang Bebas Lalu Lintas Vertikal +9 ._ Jenis Komponen dan Data Material Data ini dicatat untuk lima komponen utama dari bangunan atas dan bangunan bawah dalam setiap bentang jembatan, sebagai berikut : Bangunan atas: + struktur bangunan atas, yaitu rangka, gelagar, dan seterusnya * permukaan lantai kendaraan = sandaran Bangunan Bawah: = pondasi = kepala jembatan dan pilar Selain itu, sumber atau negara asal dari bangunan atas dicatat juga bila sesuai. Data ini dicatat dengan menggunakan kode abjad yang terdaftar dalam Halaman 2 dari Laporan Pemeriksaan Inventarisasi, dan seperti yang terlihat dalam Gambar 4.10. Kode untuk Komponen Bangunan Atas dan Bangunan Bawah A. Tipe Banganan ” adast | E Kepata Jembatan Tipe Bangunan Atas B. Baba . Tipe Ponda pals Jen B gorone-gorong K hay W crow ’Baley CA calar ayam | Kepala Jembatan peregi 5. pasangan bata ES langsung 4 cap Y goronp-gorong pea | A psangam bar A. Ausra 2B dlinding penal A. gorong-gorong G bronjang dan (permanen) TP tiangpancang | K kepalayembatan pelenalong stn P Ausraia (em — | PB thane bor Huss pormanen) TU tang ult 1 gong 1 pasangan Batu 1 Gustalia Pir © solongan’gantmgan | Kosong (ementara) SU sumuron Cp D betom tak bertwang P dining peru G gelagur T beionbertang |B Holland pe barw) | LL tabvtain satu lon AMC gelapar komposie | P Beton pratckon D Holland (ip lama) Dua kolom P plat 8 baja Tyga atau lebis Wana bya 1 Indonesia folon 1. balokpetenghang bergelombang U Callendar| L laintain E polonghung Hlamiton (UK) Y pipa baja dst beton | J Jepang R rangla J. hams S jembaiansememtara | neoprene taret | Australia F teflon (Permanen) F ery v PHC S Australia sem K “Intasan ereta api | N geotentile permanen) W tntasan bach © tanah basa lempung U tamsain tau timbuna YX dak ada srr 1 aietain 4 aspal 1 kerkilpasr Wacom X balun ast 1 lamin Gambar 4.10. 410 Bangunan Atas Struktur Bangunan Atas Jenis-jenis struktur bangunan atas yang lazim ditemukan di Indonesia dapat dilihat pada Gambar 4.11. Kode diambil dari Kolom A dalam Gambar 4.10. Material konstruksi untuk sebagian besar struktur bangunan atas dapat dengan mudah ditentukan melalui pemeriksaan visual. Kode diambil dari Kolom B. Asal bangunan atas biasanya mudah terlihat, terutama untuk jembatan rangka dan gelagar standar. Gambar Bangunan Atas Jembatan Standar dapat dilihat dalam Lampiran 3, untuk membantu mengenali Asal bangunan atas jembatan dan pilihan kode dari Kolom C. '8 = GORONG-GORONG PERSEGI Y= GORONG-GORONG PIPA Fe L = BALOK PELENGKUNG ‘A= GORONG-GORONG PELENGKUNG | T = GANTUNG. (C= SOKONGAN/GANTUNGAN G = GELAGAR, _ 7 a . 1M = KONPOSIT PePLAT Gambar 4.11 Jenis Bangunan Atas. 441 Sesudah pendaftaran dalam database, BMS-MIS menggabungkan kode Jenis, Material dan Sumber menjadi kode yang terdiri atas 3 huruf yang menunjukkan jenis bangunan jembatan atau jenis lintasan untuk digunakan dalam laporan BMS, misainya RBA —_ Rangka Baja Australia RBL —_Rangka Baja (lainnya) GBI Gelagar Baja Jepang KXX _Lintasan Kereta Api WXX —_Lintasasn Basah FXX __Lintasan Ferry Lantai / Permukaan Lantai Kendaraan Lantai dan Permukaan Lantai Kendaraan masing-masing dicatat dengan menggunakan kode material terpisah dari Kolom B. Material lantai beton dicatat dalam kolom pertama | mepaayy uresquouny eng uTyEERp eXue| sep [pqe oped seston ypuoy wereUag| awe, ajeaup umesey ud new umnayurud wryosuoN BuMK WOES 7 BET PA TTA 05 PUY ‘ehudaoos unepen ums Ha UmyESTIOY ¢ Sunepuou TSVSRAVAL NJANTMMINA ISIONOM NVIVIINGE ama ep, TT smuns ns inquig wyedoy, ampynas wpe pH x. (couwmod wos) emsay § (omuuad) emnsny (woxmuuod) eensay Vy Aawaymoy Mn Sumyauoed 3 Sumyiu2p2d 079 7 wid a soduioy W303 1 nes duramdmSuoyos 3 ae wep ar ey ad, a “smiy uewndoea jesy O wore 7 wins § ons RENE ese ad NVLVSINAf ISVSRIVINGANI NVUOdV'T AGOM-AGOM YVOUVIN VNIg TRUGGNGr LYYOLRIG INNA XYVEENGd NVINGLNIND TIPE BANGUNAN ATAS |B = GORONG-GORONG PERSEG! Y = GORONG-GORONG PIPA ‘A= GORONG-GORONG PELENGKUNG = SOKONGAN/GANTUNGAN 44 = KOMPOSIT L = BALOK PELENGKUNG /SWSUSUSUSY W = UNTASAN BASAH SE ‘A. SISTEM REFERENSI JEMBATAN Setiap jembatan harus mempunyai nomor sendiri yaitu sebagai berikut: 1/2] [olo|2| 4 1]2| No.Prov. No.Ruas —_No.Urut No. No.Suffix. Jembatan Tambahan Jalan No. Jembatan 7 o| | Contoh 1 - Untuk Jembatan Tambahan PROPINSI 70 é Sssssss Contoh 2 - Untuk Dupliket 44. 70.016.002.4/ 01, 70,016,008 LOKASI JEMBATAN DARI KOTA ASAL SESUAI PATOK KM SISTEM PENOMORAN ELEMEN JEMBATAN X ( Arah Memanjang } P2. Column 1 P2 Column 2 at Pi °2 Az Link Ditection __ SUDUT MIRING JEMBATAN Aral Jalur > RUANG BEBAS LALU LINTAS VERTIKAL, ara ruang bebas URUTAN PEMERIKSAAN JEMBATAN ‘ARAH RUAS PANJANG DAN BENTANG Panjang Bentang jp Yo oi Panjang |. Bentang ~—>f J Renting = ——of 7 VoIN fT LEBAR a + Lebar antar Kerb —hr i ' Lebar Trotoir = Ty +T B, KODE ELEMEN JEMBATAN toe | poeain [2200 | armnanes aa | waarge ea) organo ta | dorcramnan tse aaa | argon ‘22 | wepgran enw oes rpm tz | wenpnglennarenes tae | prongs tae | oem tas | amie tar | arargpennantn tam | pgm ar vw | mente | a2 | manne ‘2 | tpeanpenron tau | pare tiie | Santon 2m | topnmenen | 2910 | person won | wero 4912 | pontumean sai | poten igere so | per 1616 | paneteancpegnrs a%0 | ep te | yaoi presaor | 432 | provera ham soa | Grog penrantnns api ean seg eek soo | tmtatsope tows | beocapan ta | taacperatan gga tser_ | ponnpra/peose ‘toe | ponnangeeneere ta | Gane org 210 | toga ae eae | stmgsone | cat | oir a2 | pepe marere eax. | rags ea | area ain tus | potuanaaeneron sae | pomenoan [cr | pat oaae | psergaeg wat | eognn img use| arora ireero sao | waexpsounng [cat | oie ‘az | Saorpoopurg chon) tia | saves (area ath) tia | tannery ‘ae | sper esr tae | seinen aa | ranges wast | pater saz | gigs rraet cass | gape tat | tab poncrns tas | prewetiaray tae | foe tas; | Serotpee tue | sarge tia | sarecera tise | bargvemat tit | tamer tar | aegapme ast | ger marty re ties | Ser tan | sarge sare | propia a 360 | mtr 3600 | exarsen rt 960 | wrdanponcran | astt | perttanie a2 | jatar so | petinpt 46 | teen pte 466 | eatpensa am | omen 16a | tg sears tse | sam 46523 | peunpng star 42 | pact cata 3700 | perenapan aro | bataosua ‘on | ranboenbucantnds re rie | momajsan are | panna ane | pany ar | ep pangn tre | expen a | ae 200 | oommarra aor | goong- gens 09) tee | goons sre ip] 3103 | goong goon, Belergrung ‘2900 | rian bassh 3901 C. SISTEM PENILAIAN KONDISI JEMBATAN Dasar Sistem Penilaian adalah sebagai berikut: Lima buah pertanyaan harus dijawab sebelum penilaian kondisi ditentukan: S(Struktur) : ditinjau dari struktur apakah kerusakan berbahaya atau tidak? (lihat Petunjuk D) Kalau Bberbahaya = 1 KalauTidak Berbahaya = 0 R(Rusak) : ——Apakah tingkat kerusakan parah atau tidak? (lihat Petunjuk D) Kalau Parah = 1 Kalau Tidak Parah = 0 K (Kuantitas) Apakah jumlah kerusakan lebih besar atau sama dengan 50% dari area / volume / panjang? (Penilaian Pemeriksa) Kalau Ya= 1 Kalau Tidak = 0 F(Fungsi) : Apakah elemen masih berfungsi? (Pengamatan Pemeriksa) Kalau Tidak = 1 Kalau Ya = 0 P(Pengaruh) : Apakah kerusakan mempunyai pengaruh terhadap elemen lain? (Pengamatan Pemeriksa) Kalau Ya = 1 Kalau Tidak = 0 Nilai Kondisi Jembatan = nilai (S +R K+ F +P) antara 0 sampai 5 di mana: 0 Jembatan baru dan tanpa kerusakan 1: Kerusakan kecil 2: Kerusakan yang memerlukan pemantauan atau pemeliharaan diwaktu Mendatang 3: Kerusakan yang memerlukan tindakan secepatnya Kondisi kritis Elemenjjembatan tidak berfungsi lagi 10 D. KODE KERUSAKAN DAN SATUAN UKURAN PETUNJUK KERUSAKAN YANG DITINJAU DARI SEGI STRUKTUR DAN KERUSAKAN D.1 BAHAN DAN JENIS KERUSAKANNYA. Kode Kerusakan Jenis Kerusakan BATU BATA 101 Penurunan Mutu Bata stau Batu Keretakan 102 Permukaan Pasangan yang menggembung 103 Bagian yang Pecah atau Hilang BETON 201 Kerontokan Beton Beton Keropos Beton yang Berongge/Berbunyi ‘Mutu Beton yang jelek Rembesan atau Bocoran kedalam Beton 202 Retak 203 Karat pada besi tulangan 204 Kerusakan Komponen karena aus dan pelapukan 205 Pecah atau Hilangnya sebagian dari Beton 208 Lendutan BAJA 301 Penurunan Mutu dari Cat dan/atau Galvanis 302 Kort 303 Perubahan Bentuk pada Komponen 304 Retak 305 Komponen yang rusak atau hilang 306 Elemen yang salah 307 Kabel Jembaton yang Aus 308 Sambungen yang Longgar KAYU 401 Pembusukan dan Pelapukan Serangen Serengga Pecahnya/retaknya Kayu Menyerpinnya Papan Lantai Cacat ayy 402 Hancur atau Hilengnya Material 403 ‘Menyusutnya Kay 404 Penurunan Mutu Lapisan Pengaman 405 ‘Sambungan yang Longgar Kode Kerusakan 501 502 601 D.2 KERUSAKAN PADA ELEMEN ALIRAN SUNGAI. Endapan/lumpur yang berlebihan ‘Sampah yang menumpuk dan terjadinys hambatan aliren sungai Pengikisan pace daarah dekat Pilar atau Kepala Jembatan Al sungai macet yang mengakibatkan terledinya bani BANGUNAN PENGAMAN Bagian yang hilang atau tidak ada TIMBUNAN Scour Retak/penurunan/penggembungan ‘TANAH BERTULANG Penggembungan permukaan Retak, rontok, atau peceh dari pane! tanah bertulang ANGKER - JEMBATAN GANTUNG DAN JEMBATAN KABEL Tidak stabil KEPALA JEMBATAN DAN PILAR Kepala jembaten atau pilar bergerak LANDASAN PENAHAN GEMPA Elemen longgar atau hilang LANDASAN/PERLETAKAN Tidak cukupnya tempat untuk bergerak Keduduken landasan yang tidak sempurne Mortar dasar retak atau rontok Perpindahan yang berlebinan Perubahan (Deformasi) yang berlebihan ‘Aus kerena umur Landasan peceh atau retak Bagian yang rusak atau hilang agian yang longgar Kurangnya pelumasan pada landasan logam B Kode Blemen dan Kerusakan | Kerusakan, — | PELAT DAN LANTAL Kesalahan sambungan tant Lendutan yang berlebihan PIPA DRAINASE DINDING, PIPA CUCURAN DAN DRAINASE LANTAI Pipa cucuran dan drainse lantai yeng tersumbat Elemen hilang atau tidak ac LAPISAN PERMUKAAN Permukean licin Permukaan yang kasar/berlubang 722 Retak pada lapisan permukaan 723 Lapisan permukean yang bergelombang 724 Lapisan perkerasan yang berlebihan TROTOARIKERE © 731 Permukaan trotoar yang licin 732 Lubang pada trotoar 733 Bagian hilang SAMBUNGAN LANTAI 801 Kerusaken sambungan lantai yang tidek soma tinggi 202 Kerusaken okibat terisinya sambungan 803 Bagian yang longgar/iepas ikatannya 805 Bagian yang hilang 806 Retak pads aspel karena pergerakan di sambungan lantai RAMBU-RAMBU LALU-LINTAS DAN MARKA JALAN 901 Kerusakan atau hilangnya batas-batas ukuran. RAMBU-RAMBU LALU-LINTAS DAN MARKA JALAN on Tulisan tidak nyatafelas 912 Bagian yang hilang LAMPU, TIANG LAMPU DAN KABEL LISTRIK 921 Rusaknya bahan/Penurunan mutu 922 Bagian yang hilang UTILITAS 931 Tidak 4 D.3 PETUNJUK MENILAI STRUKTUR DAN TINGKAT KERUSAKAN BAHAN D.3.1 Kerusakan pada elemen pasangan KERUSAKAN PADA ELEMEN BATU BATA Ss R JENS PENYEBAS TINGKAT | UKURAN KODE | _KERUSAKAN KERUSAKAN —_| STRUKTUR | PENGUKURAN | KERUSAKAN "arson uur Bawa Pah sor | Perunnan mats | sertran "xan bats te bts Tess poreanaya | Seslan <20mm | Tidak pan ts yang le ‘Sesalan > 207mm Keretakan Ponda ura ‘erbanaye Bergecak Berbanaya | Adikan 2eban been Beresnaya | Seeder sSmm | Tak para ‘Tubuhan ae Beesnaya [Seeder>smm | Pah | Pargerakan Fea) par, ‘use an perma >40nm 102 | Penmikaanpasangen | Pondas nuh ang meragenting eave Seber bedi Panjang <750ren | Tidak par Parjang> 750m | Pash ‘erent arial | Parah stuturale_| Teakparah 08 | Baga vara pecan | Apasale Beane tau biang 1.3.2. Kerusakan pada elemen beton (termasuk tulangan) TEROSRKANPADA ELENENGETON 7 7 {TERMASUK TULANGAN) JENS PENYEBAB TINGKAT KODE | KERUSAKAN KERUSAKAN ‘STRUKTUR | PENGUKURAN | KERUSAKAN nen Ta TUSNRET emcp at | Rerrakon boon eS es oa ftenierpes | Beran TERETE Tees | ruonteant | ann en ara bron! ber Seeanteban tetahare Tit Penoaan yng ure : retaeyorg bn [Gaertn ee pengembangan volume | Gerbanaya | Tethatstarys | para Srangan Knew a Rak Seb berban oetaton [uarerco2an | Teaco | j Teskrer Lebar> 02 rn Te | parent | atone =. m oenaran Terie adore | pan sia egwosantindess | otanaye | tuooer ow Gaya pratetan sua a | esercoamm | raanpaan Turban tetthaye Pengembangan volume ew>eame | Pah 15 TERUSAKAN PADA ELEMEN ETON s R D.3.3. Kerusakan pada elemen baja KERUSAKAN PADA ELEMEN BAIA S (TERMASUK TULANGAN)lanulan, | ‘SATUAN JENS PENYEBAR Finger | UKURAN KODE | _KERUSAKAN KERUSAKAN __| STRUKTUR | PENGUKURAN | ieRUSAKAN Tio Gav dameter Taio 203 | Kratbes tiangan | Apasoa serene | 0% Tak par ae Path 724 | Kenasshanianporen | Abas arena aus, peruaan, pee ee a arg ms pe Penusan Sol | Pest pah Serangan inion Sebahaya atau Pngeiaan yang buruk >Salimatvetn | Parah Pengembangan volume 7208_| Posshtauhtergna | Apa cae Beane | Eoment aural | Parah atau sehapan da tton Eienet Po Tis parah ™ Pondasiuntsh Beraraye | <1:600 Tak para Boban beeen > 600 Pah sATUAN wooe | senskerusmcan | ,ZENYEBAB |” grruxrur | penauruRAN | ,TINGKAT || UKURAN Pena [estan sot | Penurunan Reak |] Tidak berbahaya || Tidak tershainya | Tidak paran se an une seman a prt tr Corbet abetted | Gersae [Setting | Pam Tindlankelarasen | Teak berth . Penaiaien ie | Sathaye [202 | Kwat ‘Ape Beraheys, = 702% da ukaran_| Tdakparah nm > 10% da ran | Pach ~ ~ ‘Elemen siruiturat 200 | Pentanentensasoce | Senuran fg tr aan tomponen Ponda nth tenahaya | «200m Tp Panes >20mm Pah eben beri eon Teak parah wa Raa oa Genanas | Owanasan [Pan 7 set | PROTTTT Tapes teoatos | eerenstatva | Pah wr ana Satake | Tipo 365 | Been yng saan | Rpasaia Beaahaye | Oienaiebnkecl_| Pash 7 oessanan) | Setaiye | Tapa ar | RETIN ES sane Tavares | SOmm | Parah ‘matau m? ae oe = “404 | Penurunan mute “Umut ‘Tidak terihataya Perah a Sx “Tindakan kekerasan_ jerbat (Pada permuksan | ae | os a oo Sees veces area Jumiah es ee woe | mon oe isrons areas re | Arena hare neg 7 D.3.5 Kerusakan pada elemen khusus KERUSAKAN PADA ELEMEN 3.210 - ALIRAN SUNGAI s_|. ove | venisxerusacan | (ZENER | srruxrur | PENGUKURAN cor | SERIO an ar aoe Beahaya | Wonowangi = 20% stan sro Wongunl> 20% sian sro | Se, Tanpstananpan | Beichaye | Werrang <2a56 | troy natn sconsnos near enue Sete ‘503 | Pengiisan “Arus alan sungal | Berbahaya || ketinggian pondasi pede coca ett par stavexdaretr ‘to tena jonttan feng pacer I sou | Ar snasivena meee Tagan Kurang Be Ts ren ahaa Sensitaan ananve baa ‘enya bane prose D.3.6 Kerusakan pada elemen khusus KERUSAKAN PADA ELEMEN 3220- BANGUNAN S PENGAMAN, 3:290- TIMBUNAN DAN 3.310 -FUNOAS! SATUAN | PENYEBAB Tincxar | OURAN ove | sens KerusaKan | — ,PENYE8A® | crructur | PENGUKURAN | ycINGKAT., art | BeOS Taps Getanee | <1 TTaoxper | Sim Pan at Seng Genaan | ho ran srg Gaara | Pegkiandasar | Par eros Seana Tapeh Rear foavai 3 eran _| Apesse Teak ow sca | Penner eae | erbaaye | Perutanicon | Pan stay | ‘rendah dar pads. |Pemeriram etnapn ponds ws sins cdma | tang pocera Sentiye Teaco Pangan Tene 00 en corny > 200m Pah 18 0.3.7 Kerusakan pada elemen khusus RERUSARANPADA ELENEN 4 255° TANT e m BERTULANG SATUAN PENYEBAB TTinaKaT | UKURAN rove | sensenusatn | GAUSS, | stmunrun | rencununn | aR o earenaye | Ansan Par 7 Anak epaa Bareraye | Apesia Pah saz | Reet onok tae eerran Tak [3 paneine pecan betataya [9 parca Eos arattaran bensane | Seek Srepemutaan | Parah mt rusk “Tngokan eteasan 7 Teak prah D.3.8 Kerusakan pada elemen khusus TERUGAIAN PAOA ELEMENAsT@ANGKER | SEB GANTUNG DAN YeMBATAN RABEL sarunn PENYEBAB TINGKAT seach rove | vensxenusacan | PENVERAB | Srmuxtun | PeNcuKURAN | ,NGKAT | ea rao Sabet] Bore Forging | ituaie D.3.9 Kerusakan pada elemen khusus TEROSIRAN PAD ELEMENT EO KEPAA 7 a SEMBATAN DAN PILAR a Trea] SUN venskerusaan | renvesas — | srmuctur | pencuuran | KERuaAA N Tare a ra mh veal onrwan>eoqm | Foun | Pemetisa dana rouuis teat dane Sete Tatoos D.3.10 Kerusakan pada elemen khusus ERAN GREENS ONS z PENMAN GEMPA saruan PENYEBAB TINGKAT UKURAN- KODE] sewsnerusanan | PENYERAE | Srmunrun | Penaucunan | INGA, ar [oom ‘oases | Sota | ee Fah Hira a reatan [Bane [open Pa 19 1D.3.14 Kerusakan pada elemen khusus ZERUSHKAN PADA ELEMEN 3 610- LANDASANT PERLETAKAN PENYEBAB KODE | JENISKERUSAKAN | ERUSAKAN Tor | Taakcouenya tempat nuk berger oe | Redesuan andasan| oassla Bexbahoye Yang ak sorgura “el began da Peak bush Fak paw ene | Mong dase tak mae — Beceanaya Tia paran | buat Pah eex_| Pemncenanyaro pps Demerara | PERINGERERE SO] Tiakparh | bush betebnan Perini <30 | Pars erubahan (iors) iene Demaraye | =20% dentabal | Tidekparah yang befebnan Pah Tk 05 | Aus karan unr pease eraye ‘andasanyana wera, Task sche tay eta apa ssie eroanava ‘agin yon ua a stauhiena ‘asia erbanaye 28 _ | Bagian yarsonaser oo Barca 07) Candas foe Tirana peumaran | Bertahave D.3.12 Kerusakan pada elemen khusus KERUSAKAN PADA ELEMEN 4.421 - PELAT DAN 14.502 -LANTAL PENYEBAB oe | JENS KERUSAKAN | enusakan | STRUKTUR 7 eae fase Bena 20 D.3.13 Kerusakan pada elemen khusus ERUSAKANPADAELEMEN 4.329 -DRANASE DNDN 4507- PACUCURAN DAN 4808 DRANASE ANTAL R PENvEBAB TNGKAT vewisicerusanan | fENESAS, | srrucrur | Pencucuran | ZNGKAT Ppa cucuan cor diane ra pasa eatmraya | Apaasie Pan 7a) Kelaneen bar fone ee Pash D.3.14 Kerusakan pada elemen khusus TERUSATAN PADA ELENEN 4505- APSA e F PERMUKAAN SSATUAN PENVEBAB TiNGKAT | UKURAN ove | veniskerusacan | ,PENYESAB, | srrucrur | PENGUKURAN | TINGKAT 721 | Pemutaanicn Tegeest Pash peed Sebati Tk oa Perakaan ya ana pean SSamiarwe [Pak 72 apace lapian 0 en darrya | Tn pa = pemekaan poassia $ionmdsennye | Pa Laps pemakaan yg ra 20 dye | Teak para 723 | Siping ease $20 mm dalannys| Pah o ‘Lape permukaan yang jaan Tidak parah 726 | petatan roassia Beeehere Tom al 3 Pash ieee D.3.15 Kerusakan pada elemen khusus KERUSACAN PADA ELEMEN 4505 - TROTOAR.] . KERB SATUAN URURAN PENYEBAB TINGKAT ove | venisKerusakan | fENYEBAB, | srmuxruR | PENGUKURAN | qiNOKAT | Perxaan etc in . eran | eee ea cs outa cee ° Sebatngs “ane pa 7ae_| won taow LE 793_| Bagianhilarghicak ode ‘Apssde Berbatava_| Apa saia Pash a D.3.16 Kerusakan pada elemen khusus TERUSAFAN PADA ELEMEN S600. SAR MUAT 7 7 al LANTAL SSATUAN | PENYEBAB TINGKAT | UKURAN Kove | Jeniskerusaxan | PENYEBAB, | strukruR | PENGUKURAN | qlINGKAT ‘sot | Tikeama Unoot | Aoasaia Teak eer | Taka ” cane | SPRITE T par ce2| Wahiangntemarpuan | Apa aie Somaya | YO ESS Fisk para epaone Gatcveana> | param Tis SATE pay 4 | oF 25 em setae “isk path Bean yraToneoar | Aon ia Boban | Ana saie Pah Lepeanattan apasala ak Lopes <25% | Teo ah = l [ sevens _[tepas> 25% | Porn 21 TRERUSAKAN PADA ELEMEN 3600 STAR MUAT LANTAI lanjtan s KODE PENYEBAB JENS KERUSAKAN | PENYEBAB, ‘agian yng sng | Apesala ‘STRUKTUR PENGUKURAN ry Paral ela aal iat ‘Apa sale pergerakan sambungan Retaks 18m Tidak par etak> 161 Perah D317 Kerusakan pada elemen khusus ERUSAKAN PADA ELEMEN 707 PEMBATASPORTAL s PENYEBAB JENS KERUSAKAN | PENYEBAB, Kecualan atau hiongrve | Apa tus aan aera SSTRUKTUR PENGUKURAN D.3.18 Kerusakan pada elemen khusus TERUSAVAN POR ELEMENT 77 FAME RATEN TaUUNas ana hana man s © | serum ae PENYEBAB TINGKAT | lene xooe | seusxerusacan | PevrE88 | srmucrun | penauKuran | NCAT Tes, 3 2ek oa Pann bhataum or | Tetouan | rove Tn pe a berfungsi me tang atau ‘Apa saja | Tee, Patel pom cleme vara 2 | ewamywatng ams | Aaa an Es Tekh aa | oar Pa awe D.3.19 Kerusakan pada elemen khusus KERUGAANPADAELEMENATZI -LANPULAT22- |g R TONG UMP OA 473: KAGEY LT saTuAN URURAN PENvEBAB Tage Kooe | sensxenusacan | PENNE5® | srmuxun | pencucunan | ZEAE Sau awe Tar aan [Pan ncerwa | ezisionn | Tamkowen | buat a Demat | voeeae Trot = an setwue | eesanna [Ten 0.3.20 Kerusakan pada elemen khusus 'KERUSAKAN PADA ELEMEN 4.421 - PELAT DAN 4.731-UTILTAS, KODE PENYEBAB JENS KERUSAKAN | _PENYEBAB ‘Tide beret 'STRUKTUR PENGUKURAN 2 LAMPIRAN 1 23 GAMBAR BANGUNAN ATAS JEMBATAN STANDAR DI INDONESIA 1. Jembatan Kayu - Tipe GK 2. Jembatan Kayu - Tipe GK! 3. Jembatan Pelat - Tipe PTI 4, Jembatan Pelat Beton Berongga - PT! 5. _ Standar Jembatan Beton Bertulang - Tipe GTI 6. Balok Beton Pratekan — Pracetak ( Tipe Post Tensioned )- Tipe GPI 7. _ Standar Jembatan Beton Pratekan - Tipe GPI 8, _ Jembatan Gelagar Box Beton Indonesia - Tipe GP! 9. Jembatan Bailey - Tipe REWISBW. 10. Jembatan Gelagar / Komposit Indonesia - Tipe GBI 44. Jembatan Transpanel Australia - Tipe RBT 12. Jembatan Rangka Baja Australia - Tipe RBA 13, Jembatan Gelagar Baja Australia - Tipe GBA 14. Jembatan Rangka Baja Austria - 15. Jembatan Gelagar Baja Jepang - 16. Jembatan Austria Tipe Permanen 17. Jembatan Rangka Baja Belanda - Tipe RBB 48. Jembatan Rangka Baja Callender Hamilton - Tipe RBU 19. Callender Hamilton - Tipe RBU 20. Jembatan Rangka Hamilton - Tipe RBU 21. Sistem Jembatan Callender Hamilton - Tipe RBU 22, Jembatan Rangka Baja CH - Tipe RBU CATATAN GKI — Gelagar Kayu Indonesia PTI — Jembatan Pelat indonesia GPI - Gelagar Box Beton Bertulang Indonesia RBW- Rangka Baja Acrow / Bailey SBW- Temporary Acrow / Bailey RBT — Rangka Baja Transpanel RBA — Rangka Baja Australia GBA- Gelagar Baja Australia RBS — Jembatan Rangka Baja Austria GBJ - Gelagar Baja Jepang RBB — Rangka Baja Belanda RBU — Rangka Baja United Kingdom 24 WW o€s - ole NVOVTSD NVENN WIN 000°0! - 00°F - ONVINAS 19 Adil - NAVY NVLVEWar wid NVONOLOd rtoy divINVL, e i a ore ora erat erat WW 082} - ose HVOWTSD NVENDN. Ind WW 00°61 - 00S" - ONVLN3E IMS Adil - NAVY NvLvaWar Z| zi qi a ‘SNVINTISW NVONOIO wg M4 NI TERR ! i t ttl E u athe a aR Oe WW 08s - 00e YVOVTaO NVENIN WW 000°21 - 000°S - ONVLN3 [1d AdIL - LW1ad NVLVaWar ‘ONWINAEW NVONOIOd a x al Ild Beer re ‘Oe66 ww O12 - WU Ogz YYOVTAD NVYNMN ‘a SVTaH ww OpZ - WW OLE HVOVISD NVUNMN ‘Vv SV1ay WW 000°91 - 000°S - ONVLNAG Ild AdIL - VOONOYSAE NOLA¢ LV1ad NVLVaWar aa SNVINITSN NYDNOLOd yaw TOOT OE ONT WT OSS"T = WF OOE VEIVINV HOTY NVIDONILAN ISVIEWA, SNVINTTSW NVONOLOd E 9 ~ ONVINIYsa Oo mo (3 ( i NOLS NVLVENST UVONVLS W 09°0€ - W 09°€L - ONVLNAG GANOISNSL 180d SdiL oenm 1dD Sdil - WVLSOVUd "NVMaLVed NOLSa NO 1Wa eranrionorsa a ‘om ooo oe v.svit ‘ONVINFISW NYSNOIOd SVEN Toast toaer oar Tomert I Sor OE 224 'V SV1Sy ‘W SP - W 02 - DNVINAE aaa a IdD Adil - NVMALVYd NOLS NVLVEWar YVONVLS ONVLNITSW NYONOLOd tart | ort vv ONVINTISW NVONOLOd stove stool SP lt i glo 4 wan deh DOOT ES + 3 Way Gz ONVINGS WW - WN - SNVLNSS Id Adil - VISANOGNI NOL38 XO€ YVOVISS NVLVEWSP ‘SNVINTEN NVONOLOd HyNaG DNV, a ‘ae an sem ‘DNVINTEWNYONOIOd ee M&S / MSY Adil - ATIVE NVLVEWar t lsd, ‘OHOR BHO GPOF aoa arr ave Bo aoe TIVSONAD va ACEC CICCOLO LELELS: JL hicdhecdsad OF woe BOE TPO HOT OVO GOR HOT" 002 4M 0v2 YVOVTISO NVENN g UeP VW SVT W 02 - W 9 ONVINSS T&D VISANOGNI LISOdWOWYVOVISS NVLVEWar Hvnaa ‘NVINITIN NVONOLOd tort toomt | ‘SNVINTTSW NVONOLOd 4 teat W079 ONVLNAG SINVATV9 1dVG NWHV@ WNWAS :‘NVLVLVD W_OS - W Ol ONVLNAG 14y Adil - VITVELSNV TANVdSNVYL NVLVEWar NVONOLOd HVONALSS: — Fy IVLNV1 4O1Va HVN3G. IVLNVT HWN3G_ 5 a OTA NvoNnEHYS: von va NVENNORWS we eure 1 weonnanve sven via Nevervonoiea? “vara nvenciod— i Hrd Ts AAWATMANYT nxoruny SVAN €VONVLS LV13d HVaNVL | HVONALIVTad NYONNe”IYS ——_oTWaNVONNanWS TWNINON O05 W500 “ONVINTTSN NVOOLOd 9 2 8 ‘V SV1a) W 09 - W Of ONVLNGE. Vad Adil - VIIVHLSNY VIVE VHONVY NVLVEWar +——ser—t a — svi |i | “HVMWE NIONV NVIVHI ISHTELSNOW ‘NVINITSW NVONOLOd Q uep @ ‘Vv SVTSM-'W 0€ 8 Sz ‘0% ONVINSS ONVINIIAW NyoNoLoa VEO AdIL - WIIWELSNY Wha YVOVIAD NvLVaWar foonfeo dvd osviay war | —saraemmensg ———+ ‘ONVLNITA NVONOLOd poser soar soartaoary Sane b+}—ar—_4 | a SoU EE BURRE ONVLNITAW NYONOLOd WAV Praer ————— vsvTa (SZISZISZRZIRA 4 ah errs cg ————— eect! a THE TT PSE SES Sada - Add NANVWadd DNS VRELSAV - WfVd VHYONVY NVLVEWar TSVGNOd NVaaa SNVINTTSN NVONOLOd IN. 8 V STAM ‘WOE 8 SZ ‘02 - ONVLNSE fad Adil - ONVdar Vrvd YVOV1S9 NVLVEWar pe 4 SRRIRTER VOR 4-34 Pert Ft ores ‘ONVINTISW NVONOLOd Ft woe mer arpa wan + Vs ‘000% Yaa - Fd — NANVWaad dil VIsLSnv NVivaWar Hvnva 1434, ‘onvive ‘DOSE = DONE XT ‘ae ‘ONVINTIBN wvOVTED -l1 | Vo Vo {SVAY NIONY Nv viv ida oNviva tae i wa day ddil - VONV1S8 VPVd VYONVY NVLVEWar dd _ ‘Vd om FT 8 J rather W OZ ‘SS ‘0S ONVLNAS ‘HOS SC - AdiL eee eNO YE eee Paw YACNATIVO VIVE VHONVY NVLVEWar TT eS terri rr DAA AMY ae 4, S¥IV NVIOWA ONTINVOONSd HYNEG | L | sm LX a 4 4 4 a - ONIDWYS HVdNVL . (¥ SVT) ISIS enpay eped JO}OR eNeW OO} + ENeWO'L = ee e|qnog enpey eped quex W OS'0 + e18W O'9- OS'S = sueT e1Gnog qloy +enow ose = eur] ei6uls FNVVEVONE SVINIT NIVT UNive BvaaT voreg tee amu, AVMAMANANENEN ANNAN Jonow g = joued (BOUL, amiow g = jaued Buefueg : 80 3dAL Jorow g = [aued 168u1, Jorout g = Joued dep 6 tog adaAL sur nto move EN ANE AN AN ENANADAN Jao ZLG'p = oud Ja.aw ZzG'p = aued den Buelued : SL SAL creep carat tt mas TITS amour gyo'e = foued 1B6uL, were nto mevar ends emmsic AT ITTV VV VV Javaw gyO'e = [ourd dey Buefued : OL W adAL w gp0'e = Joued s86uLL, w gyO'e = [ued den Buelued =: @ 3dAL “youed yejwin] x jaued den Suelued = ueyequial Buequaq si08 Buefueg Nay “AdAL - 3DGINa NOLIIAVH - YJGN3ATIVS W z9'6e 8 8h'0E ONVLNSG OSC 4 - SdiL Nay Adil - NOLUIWVH YSQN3TIVO Vive VHONVY NVLVEWSe SLIVWOVUSVIG WALSIS SVLV NVIOVS TA8V¥ vavd HVN3G HYONSLaS: rae Sor 9-DNVONOLOd MIE somes Fe go gna Te gam V-W Vd | 4 | q = t wap tal ear] HVMV@ NVIOVG T38Va VOVd HYN3G HVONSL3S €VN1 NVIDVE ISHNYLSNOM ONIdNVS YVdNVL more nti moo-vet vids wnwrere ee nan we Team ur ius udog panna um SE Mn enean eds onan OTT IAY ie? ever veds wnunnen ve WY T sedky ae ee o os monaiat Nay Adil - NOLIINVH-Y3S0N3T1VO NVLVEWr WALSIS Nay Adil - NOLIINWH YS0N3T1IVO ViVE8 VHONVE NVLVEWSS al W vb'6S - W SLL ONVLNGG SL@ - ddl Bo be SVLV NVIOVE ONNLNVDONAd HYNIG So = =o HVMV@ NVIDVa ONNLNVOONAd HVNIG ONIdWS VEL LAMPIRAN 2 FORMULIR SURVAI LAPANGAN JEMBATAN A. FORMULIR SURVAI INVENTARISASI B. FORMULIR SURVAI RUTIN C. FORMULIR SURVAI DETAIL A. Formulir Survai Inventarisasi -1 KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM ae DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA. TEMBATAN LAPORAN PEMERIKSAAN INVENTARISASI JEMBATAN No Jembatane Pama Tembaian [Gabane [cokes Yom en lem essa rod a alata Tanggel Pemeritzaan INama Ponartsa ina TINDAKANDARURAT [Aoakah Tndakan Darurat Disarankan ? Ya [ras ‘Aazan untuk melakukan Tindokan Darurat “Hanya untuk Keperioan Kantor Saja [Fanega! Penavutkon Date Inventarisant ish A. Formulir Survai Inventarisasi -3 sero] EE Zar oder — 7 T a z 1 ; i t a ce t t 2 — Eos | |e t Z i sa ae al t eel 3 t 7 t £ : iT 3 t t 5 1 1 z t | £ ae t z i rarer cI 1 Tease oc [ane ia ie eal ence el On PY, we i | | ar Beda 1 L } [wee sepca | aR mea, aL apoE, aL] ON SRD RE wee [FREON pay [PE SAL wm | Smeg | on aura wey | rep eT ery oe oS ay [patna | tee ana wetng say wom lm surburqung enged an Peyununy ou soonquoung 08404 Tera RTT rom 5 () Buofuee pore | op uowquies 10407] ae re weogaor Fen Bunquag yorune| wnsenury od) segue ox AVIVEWAENVVLVONSE Haan NVLVAINGL ISVSTAVLNGANI NVVSMIAAWAd NVUOAVT nvuvere avery veaisis A. Formulir Survai Inventarisasi -3 T Tar Peay + Tlaelayapaya ielean eck ace solace am |e AL [Nw | AL [SPO aera rea |My wey weg) UL | awny |momst| wee] | sera | oN ea weeps 7 vei ar ea ed BT rey meniieg mos | @@ui|xq21| qe | amteg | siege ‘eng monieg sey woming, (ies) owrBunquag unr an beyuoway oury ows yioeng 188u0 aera ea aR eaT em (a) Buotuog 1,2) sy | oesor 120401] as vane | weioquay Pa Burpung yorurs| ose ady| eroquoy on AIVLVSWHE NVVIVONDE SLANSHANTT NVLVAWGL ISVSTIVINGANI NVVSMIASWId NVUOAVT nycvavee Tama ‘YOUN Yala TREASIFLYNOLNTC vausis fara ween sea A. Formulir Survai Inventarisasi -4 KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM wae DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA JEMBATAN LAPORAN FEMERIKSAAN INVENTARISAST JEMBATAN unk sur No. Jembatan KETERANGAN TAMBAHAN "1. Batasan Fungsional [astasan Mustan Gandar cS) "2. Amus Lalu Lintas [beta jembatan yg ads dan penganaya ihadap aus Is Ee Pa Zan 3 "4. Longgar_ - Kendaraan bebas melintas diatas jembatan "2 (Culkup lebar ~ Kendaraan melaju perlahan distas jembatan "5 ‘Sempit ~ Kendaraan harus sering berhenti dan anti. 3, alan Alterna dan Jalan Memutar Jka jembranattup ua alo tas stip saat apakah ada jalan abernatfmelahi va svat intasan atau peayeberangansungsi lia? (ingkaijavaban) [Tidak 2ika ya, berapa ara tarbahan yang harve &tempuh (a) 4. Dow BanjirTerhesar Mula ai barr terbesar yang deta ih + jk tas lanai eta = jen baw ln (a) “Tanggal tejaiaya ban terbesa (olan tb) Sunmberketerangan dan “5. Tipe Jembatan dan Gambar Konstruesi |Apakah ada gambar koastlsi etelahjemibatanselessi Sbangun ? Ginga jawabas)) Ya | Tiak| [Anskh bangunanstas merupakantipe andar? Ginga jawaban| Ya | Tidak Jka Ya, sebutan pe stander bangunan tas A. Formulir Survai Inventarisasi -5 NO. JEMBATAN NAMA JEMBATAN A. Formulir Survai Inventarisasi -6 CA) ONVINVE (wx) ISVAOT NVIVaWal VWWN NVIV@N4! YOWON B. Formulir Survai Rutin -1 ry KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM aia DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA mamatan LAPORAN PEMERIKSAAN RUIN JEMBATAN Frans Tanta eae le ie H ditt et ese Peresissan Nana Pane Ine FEMELIHARAAN RUTIN !._Apakah ads penumpulan ping ta ratgan dings? _ ine ura) 3._Apalah ada tumbsban br 7 2 _Apalah ada penumpukas kotoran pada elemen jembatan 7 4:_Apakah ppa cura si lta ada yang tersunbat 7 5._Apskah deiage aid aera $:_Apakah ada bang dan permukaan yang bergelombang 7 nid ee? 2 Apatah sodarn pet cat? —Apala aang 9 pak plat naa ls tang? 2 [apakah Tindakan Darwat Disaankan Geniaijeaben] Ya [Tia Hanya untuk Keperhvan Kantor Saja Frenggal Pemandian Daa leven oy NO. JEMBATAN NAMA JEMBATAN B. Formulir Survai Rutin -2 POTONGAN MEMANJANG TAMPAK ATAS situas B. Formulir Survai Rutin -3 (CA) ONVINGE (#4) IsvIOT NVIVaWar VAVN NVIVaWar YOWON C. Formulir Survai Detail -1 B [G] Sereno exersaas eset ssn t DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA TEMBATAN LAPORAN PEMERIKSAAN MENDETAIL JEMBATAN n No. Jenbatan [eaiene hm eae ssa jrak dr Lot ar tnssat [Fane Pomeicse ia DATA INVENTARISAST (Apakak Daa Taventrnas Band? z Geakarfercban]_Yo_ [aa ‘Apel data ak bt, yerbakan dapat vat pada cotakn database nga Ute merch dan lances pda laa a —eeEeEeaoaaamaE EOE PEMERIKSAAN KHUSUS [eeskahPemeisnan here Dirankea? eave Ya] “lene sein yang menathkan Pemarcraan Kare Keds Benen Tokai ‘Alas atak melackan Pemaritinan Khare ‘TINDAKAN DARURAT [Roakah Tadsian Dawat Dara? Gaakaijeraben| Yo [Ta ‘lene elamen yang emedakan Pemerkrnan Dart ‘Aaran wrk nelalukan Poneriaaa Danwat anys nt Keprtnn Kantor Sala [Fenegd Nemesia Data Pemerisnan Dota ork t daiqiaai , \dpele Ea |. i EAE fai2/8 818! Egeuslay CC. Formulir Survai Detail -2 a DOI TT . amamnon, Yorn} nest vvorsaa svavunar-vtgaxa veneer uo swneenesneasneey CE] C. Formulir Survai Det KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM vet DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA JEMBATAN LAPORAN PEMERIKSAAN MENDETAIL JEMBATAN unk sux C. Formulir Survai Detail -4 NO. JEMBATAN NAMAJEMBATAN POTONGAN MEMANJANG SITUASI C. Formulir Survai Detail -5 L_WO oNveNva (aa) ISVAOT NVIVaMar VAVN NVLV@Wal YONON