Anda di halaman 1dari 14

KESEHATAN LINGKUNGAN:

PENYEDIAAN AIR BERSIH SEBAGAI SUMBER AIR MINUM BERKUALITAS

Putu Ria Dharma Patni

PENDAHULUAN

Kesehatan lingkungan adalah cabang dari ilmu kesehatan masyarakat yang lebih
berfokus menangani segala aspek natural dan perkembangan lingkungan yang mungkin
mempengaruhi kesehatan masyarakat. Kesehatan lingkungan juga merupakan ilmu yang
mempelajari bagaimana lingkungan dapat mempengaruhi kesehatan masyarakat dan penyakit
yang terjadi di masyarakat.

Definisi dari kesehatan lingkungan diberikan oleh WHO (liha gambar 1) membuat
nyata kontribusi dari kesehatan masyarakat untuk meningkatkan kesehatan masyarakat:

“Kesehatan lingkungan menggabungkan aspek kesehatan manusia termasuk kualitas hidup


yang ditentukan oleh faktor fisik, kimia, biologi, sosial, dan psikososial di lingkungan. Ini
juga dapat didefinisikan sebagai teori dan praktek yang menilai, memeriksa, dan mencegah
faktor-daktor di lingkungan yang dapat berpotensi mempengaruhi masalah kesehatan
sekarang atau dimasa yang akan datang” (Burke et al., 2012).

Menurut World Health Organization (WHO) ada 17 ruang lingkup kesehatan


lingkungan, yaitu :
1. Penyediaan Air Minum

1
2. Pengelolaan air Buangan dan pengendalian pencemaran
3. Pembuangan Sampah Padat
4. Pengendalian Vektor
5. Pencegahan/pengendalian pencemaran tanah oleh ekskreta manusia
6. Higiene makanan
7. Pengendalian pencemaran udara dan perubahan iklim
8. Pengendalian radiasi
9. Kesehatan kerja
10. Pengendalian kebisingan
11. Perumahan dan pemukiman
12. Aspek kesling dan transportasi udara
13. Perencanaan daerah dan perkotaan
14. Pencegahan kecelakaan
15. Rekreasi umum dan pariwisata
16. Tindakan-tindakan sanitasi yang berhubungan dengan keadaan epidemi/wabah, bencana
alam dan perpindahan penduduk
17. Tindakan pencegahan yang diperlukan untuk menjamin lingkungan.

Di Indonesia, ruang lingkup kesehatan lingkungan diterangkan dalam Pasal 22 ayat (3)
UU No 23 tahun 1992 ruang lingkup kesehatan lingkungan ada 8, yaitu:
1. Penyehatan Air dan Udara
2. Pengamanan Limbah padat/sampah
3. Pengamanan Limbah cair
4. Pengamanan limbah gas
5. Pengamanan radiasi
6. Pengamanan kebisingan
7. Pengamanan vektor penyakit
8. Penyehatan dan pengamanan lainnya, sepeti keadaan pasca bencana
Berdasarkan uraian diatas, maka sangat penting kita mempelajari ilmu kesehatan
lingkungan. Salah satunya adalah penyediaan air bersih yang nantinya akan bermanfaat
sebagai air minum. Air bersih merupakan indikaor penting yang harus ada yang sangat
mempengaruhi profil kesehatan masyarakat.

Pada dekade-dekade sebelumnya, Indonesia telah menunjukkan kemajuan signifikan


dalam meningkatkan akses terhadap persediaan air bersih dan pelayanan sanitasi. Air bersih
dan sanitasi merupakan sasaran Tujuan Pembangunan Milenium (MDG) yang ketujuh dan
pada tahun 2015 diharapkan sampai dengan setengah jumlah penduduk yang tanpa akses ke
air bersih yang layak minum dan sanitasi dasar dapat berkurang. Bagi Indonesia, ini berarti
Indonesia perlu mencapai angka peningkatan akses air bersih hingga 68,9. Saat ini, Indonesia
tidak berada pada arah yang tepat untuk mencapai target MDG untuk masalah air bersih MDG

2
pada tahun 2015. Saat ini, bahkan di provinsi-provinsi yang berkinerja lebih baik (Jawa
Tengah dan DI Yogyakarta), sekitar satu dari tiga rumah tangga tidak memiliki akses ke
persediaan air bersih. Perbandingan dengan tahun 2007 menunjukkan akses air bersih pada
tahun 2010 telah mengalami penurunan kira-kira sebesar tujuh persen. (UNICEF Indonesia,
2012)

Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari dan akan menjadi air
minum setelah dimasak terlebih dahulu. Sebagai batasannya, air bersih adalah air yang
memenuhi persyaratan bagi sistem penyediaan air minum. Adapun persyaratan yang
dimaksud adalah persyaratan dari segi kualitas air yang meliputi kualitas fisik, kimia, biologi
dan radiologis, sehingga apabila dikonsumsi tidak menimbulkan efek samping (Menteri
Kesehatan Republik Indonesia, 1990).

SYARAT AIR BERSIH

Persyaratan kualitas menggambarkan mutu atau kualitas dari air baku air bersih.
Persyaratan ini meliputi persyaratan fisik, persyaratan kimia, persyaratan biologis dan
persyaratan radiologis. Syarat-syarat tersebut berdasarkan Permenkes
No.416/Menkes/PER/IX/1990 dinyatakan bahwa persyaratan kualitas air bersih adalah
sebagai berikut:

1. Syarat-syarat fisik

Secara fisik air bersih harus jernih, tidak berbau dan tidak berasa. Selain itu juga suhu
air bersih sebaiknya sama dengan suhu udara atau kurang lebih 25 0C, dan apabila terjadi
perbedaan maka batas yang diperbolehkan adalah 250C ± 30C.

2. Syarat-syarat Kimia

Air bersih tidak boleh mengandung bahan-bahan kimia dalam jumlah yang melampaui
batas. Beberapa persyaratan kimia antara lain adalah : pH (6,5-9), total solid, zat organik (10
mg/L), CO2 ( 0 mg/L) agresif, kesadahan, kalsium (Ca), besi (Fe) (0,3 mg/L), mangan (Mn),
tembaga (Cu) (1 mg/L), seng (Zn), chlorida (Cl) (250 mg/L), nitrit, flourida (F) (1-1,5 mg/L),
serta logam berat.

3. Syarat-syarat bakteriologis dan mikrobiologis

Air bersih tidak boleh mengandung kuman patogen dan parasitik yang mengganggu
kesehatan. Persyaratan bakteriologis ini ditandai dengan tidak adanya bakteri E. coli atau

3
Fecal coli dalam air. Cara untuk mengetahui apakah air minum terkontaminasi oleh bakteri
patogen adlah dengan memeriksa sampel air tersebut. Bila dari pemeriksaan 100 cc air
terdapat sekurang-kurangnya 4 bakteri e.coli maka air tersebut sudah memenuhi syarat
kesehatan.

4. Syarat-syarat Radiologis

Persyaratan radiologis mensyaratkan bahwa air bersih tidak boleh mengandung zat
yang menghasilkan bahan-bahan yang mengandung radioaktif, seperti sinar alfa, beta dan
gamma.

PERSENTASE SARANA AIR BERSIH DI INDONESIA

Secara garis besar Hasil Riskesdas 2010 pada sarana air bersih yang digunakan dan akses
air minum berkualitas didapatkan sebagai berikut : (Soepardi et al., 2010)

 Hasil Riskesdas 2010 menunjukkan bahwa jenis sumber utama air untuk seluruh
keperluan rumah tangga pada umumnya menggunakan sumur gali terlindung (27,9%) dan
sumur bor/pompa (22,2%) dan air ledeng/PAM (19,5%).
 Berdasarkan karakteristik tempat tinggal, terdapat perbedaan jenis penggunaan sumber
utama air untuk keperluan rumah tangga. Di perkotaan, pada umumnya rumah tangga
menggunakan sumur bor/pompa (30,3%), sedangkan di perdesaan lebih banyak
menggunakan sumur gali terlindung (29,6%).
 Secara nasional, rumah tangga di Indonesia menggunakan sumur gali terlindung (24,7%),
air ledeng/PAM (14,2%), sumur bor/pompa (14,0%), dan air dari depot air minum
(DAM) (13,8%) untuk sumber air minum.
 Berdasarkan tempat tinggal, baik di perkotaan maupun di perdesaan, sumber utama air
untuk minum cukup bervariasi. Penggunaan sumber air minum di perkotaan yang cukup
menonjol adalah air dari DAM (21,1%), air ledeng/PAM (18,5%), air kemasan (13,2%),
dan sumur bor/pompa (15,9%). Di perdesaan, rumah tangga lebih banyak yang
menggunakan sumur gali terlindung (30,0%), sumur bor/pompa (12,0%), mata air
terlindung (11,8%), sumur gali tidak terlindung (11,6%), air PAM (9,5%), air hujan
(4,7%).
 Jumlah pemakaian air per orang per hari secara nasional pada umumnya lebih dari 20
liter. Persentase pemakaian air tertinggi adalah lebih atau sama dengan 100 liter per orang
per hari.

4
 Secara nasional, letak sumber utama air minum pada umumnya berada di dalam rumah
(53,3%) dan di sekitar rumah dengan jarak tidak lebih dari 10 meter (28,5%). Persentase
rumah tangga dengan sumber utama air di dalam rumah tertinggi di Provinsi Sulawesi
Selatan (66,9.
 Untuk kemudahan dalam memperoleh air minum, secara nasional terdapat 81 ,7 persen
rumah tangga mudah memperoleh air minum sepanjang tahun dan 17,8 persen sulit
memperoleh air minum pada musim kemarau.
 Secara nasional, anggota rumah tangga yang biasa mengambil air untuk kebutuhan
minum rumah tangga adalah laki-laki (51 ,4%) dan perempuan (47,1%) yang telah
dewasa. Akan tetapi, masih terdapat anak laki-laki (0,5%) dan anak perempuan (1,0%)
berumur di bawah 12 tahun yang biasa mengambil air untuk kebutuhan minum rumah
tangga.
 Secara nasional, 90% kualitas fisik air minum di Indonesia termasuk dalam kategori baik
(tidak keruh, tidak berwarna, tidak berasa, tidak berbusa, dan tidak berbau). Akan tetapi,
masih terdapat rumah tangga dengan kualitas air minum keruh (6,9%), berwarna (4,0%),
berasa (3,4%), berbusa (1 ,2%), dan berbau (2,7%).
 Berkaitan dengan tempat tinggal, persentase rumah tangga dengan kualitas fisik air
minum baik (tidak keruh, tidak berwarna, tidak berasa, tidak berbusa, dan tidak berbau)
di perkotaan (94,2%) lebih tinggi dibandingkan dengan di perdesaan (85,6%). Persentase
rumah tangga dengan kualitas fisik air minum keruh di perdesaan (10,2%) lebih tinggi
dari pada di perkotaan (3,8%).
 Pengolahan air minum di rumah tangga sebelum dikonsumsi, pada umumnya dilakukan
dengan cara dipanaskan/dimasak terlebih dahulu (77,8%) dan ditempatkan dalam
dispenser (panas/dingin) (10,7%). Selain dipanaskan/dimasak dan disimpan dalam
dispenser (panas/dingin), pengolahan air minum sebelum dikonsumsi dilakukan dengan
cara penyinaran dengan sinar ultra violet (UV) (1,9%), disaring/filtrasi (0,9%), dan
menambahkan larutan klor (klorinasi) (0,1%).
 Persentase rumah tangga di perkotaan (69,0%) yang mengolah air sebelum diminum
dengan cara dimasak lebih rendah dibandingkan dengan di perdesaan (87,1%).
Sebaliknya, persentase rumah tangga yang tidak mengolah air sebelum dimasak di
perkotaan (9,3%) lebih tinggi daripada di perdesaan (6,8 %).
 Pada umumnya rumah tangga menyimpan air minum dalam wadah tertutup dan bermulut
sempit seperti teko/ceret/termos/jerigen (64,1 %), dispenser (19,6%), ember/panci
tertutup (9,5%) dan kendi (3,1%). Akan tetapi, masih terdapat rumah tangga yang
menyimpan air minum dalam wadah terbuka (ember/panci terbuka) (0,9%).

5
 Sesuai kriteria MDGs (air perpipaan, sumur pompa, sumur gali terlindung dan mata air
terlindung dengan jarak ke sumber pencemaran lebih dari 10 meter dan penampungan air
hujan) tanpa memperhitungkan sumber air minum kemasan atau dari depot air minum.
Secara nasional akses terhadap air minum terlindung baru mencapai 45,1
 Berdasarkan tempat tinggal, terdapat perbedaan persentase rumah tangga dalam hal akses
terhadap sumber air minum terlindung antara di perkotaan dan di perdesaan, di mana di
perdesaan (48,8%) lebih tinggi dibandingkan di perkotaan (41 ,6%). Akan tetapi, bila
memperhitungkan air kemasan dan air dari depot air minum, persentase rumah tangga
yang akses terhadap air minum terlindung menunjukkan keadaan yang sebaliknya, di
mana di perkotaan (75,9%) lebih tinggi dibandingkan dengan di perdesaan (56,9%).
 Berdasarkan kriteria lain seperti sumber air minum terlindung (termasuk air kemasan),
sarana berada dalam radius 1 kilometer, tersedia sepanjang waktu, dan kualitas fisik
airnya baik (tidak keruh, berbau, berasa, berwarna dan berbusa), rumah tangga yang
akses terhadap air minum ‘berkualitas’ secara nasional telah mencapai 67,5 persen;
 Berdasarkan tempat tinggal, dengan memperhitungkan air minum dari sumber air dan
kemasan, terdapat perbedaan persentase rumah tangga dengan akses terhadap air minum
‘berkualitas’ antara perkotaan dan perdesaan. Persentase rumah tangga yang mempunyai
akses terhadap air minum ‘berkualitas’ di perkotaan (80,3%) lebih tinggi dibandingkan
dengan di perdesaan (53,9%). Berdasarkan pengeluaran rumah tangga, menunjukkan
bahwa semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga, semakin tinggi pula persentase
rumah tangga yang mempunyai akses terhadap air minum ‘berkualitas.

SUMBER AIR BERSIH

Air bersih (sanitation water) adalah air yang dapat dipergunakan untuk berbagai
keperluan pada sektor rumah tangga seperti untuk mandi, mencuci dan kakus. Pengertian ini
harus dibedakan dengan pengertian air minum, yakni air yang memenuhi syarat-syarat
kesehatan sehingga dapat langsung diminum. Pada umumnya masyarakat mendapatkan air
minum dengan cara memasak air bersih. Beberapa sumber air mentah yang lazim
digunakan/diolah masyarakat menjadi air bersih antara lain : Air permukaan seperti air sumur
dangkal, air sungai, air danau, air rawa; Air tanah seperti air mata air, air sumur dalam dan
lain-lain; Air hujan (Hafni, 2012).

1. AIR TANAH
Air tanah adalah air yang bergerak dalam tanah, terdapat dalam ruang-ruang antara butir-
butir tanah yang membentuk itu, dan dalam retak-retak dari batuan. (warsito, 1994) Air

6
bawah tanah (gronundwater) atau dikenal juga sebagai air tanah merupakan bagian dari
siklus hidrologi, yaitu air permukaan di sekitar bumi termasuk air laut karena pengaruh
panas matahari berubah menjadi uap air, oleh angin sebahagian ditiup ke arah daratan,
dan pada tempat tertentu (umumnya berelevasi tinggi) uap tersebut akan mengalam
pemampatan setelah titik jenuh terlampaui akan berubah menjadi kumpulan air dan jatuh
ke bumi sebagai air hujan (Saparudin, 2010).
Air tanah terdiri dari dua kategori yaitu air tanah dangkal dan air tanah dalam, air tanah
dangkal adalah air tanah berada pada kedalaman maksimal 15 m di bawah permukaan
tanah sedangkan air tanah dalam adalah air tanah yang berada minimal 15 meter di bawah
permukaan tanah. Soemartono (1995) tanah di zone air tanah dangkal berada di dalam
keadaan tidak jenuh, kecuali kadang-kadang bila terdapat banyak air di permukaan tanah
seperti berasal dari curah hujan dan irigasi. Zone tersebut dimulai dari permukaan tanah
sampai ke zone perakaran utama (major root zone) tebalnya beragam menurut jenis
tanaman dan jenis tanah (Saparudin, 2010).
2. AIR HUJAN
Sifat kualitas air hujan adalah bersifat lunak karena tidak mengandung larutan garam dan
zat-zat minera misalnya kalsium. Air hujan dapat bersifat korosif karena mengandung
zat-zat yang terdapat di udara seperti NH 3, CO2 agresif, ataupun SO2 (Government of
New Zealand, 2007).
3. AIR PERMUKAAN
Air permukaan yang biasanya dimanfaatkan sebagai sumber atau bahan baku air bersih
adalah air waduk (berasal dari air hujan), air sungai (berasal dari air hujan dan mata air),
air danau (berasal dari air hujan, air sungai atau mata air) Pada umumnya air permukaan
telah terkontaminasi dengan berbagai zat-zat yang berbahaya bagi kesehatan, sehingga
memerlukan pengolahan terlebih dahulu.Kontaminan dapat berasal dari buangan
domestik, buangan industri dan limbah pertanian.Kontinuitas dan kuantitas dari air
permukaan dapat dianggap tidak menimbulkan masalah (Government of New Zealand,
2007).
4. MATA AIR
Dari segi kualitas, mata air adalah sangat baik bila dipakai sebagai air baku, karena
berasal dari dalam tanah yang mucul ke permukaan tanah akibat tekanan, sehingga belum
terkontaminasi oleh zat-zat pencemar. Biasanya lokasi mata air merupakan daerah
terbuka, sehingga mudah terkontaminasi oleh lingkungan sekitar. Contoh, banyak ditemui
bakteri E. Coli pada air mata air. Dari segi kuantitasnya, jumlah dan kapasitas mata air
sangat terbatas sehingga hanya mampu memenuhi kebutuhan sejumlah penduduk tertentu
(Government of New Zealand, 2007).

7
Sumber air tersebut jika tidak dijaga, maka akan mengalami suatu pencemaran air.
Inilah yang akan menentukan kualitas suatu air. Sumber polusi air dapat datang dari mana
saja. Sumber polusi air yang dapat menyebabkan pencemaran air dapat dilihat pada gambar
dibawah ini: (Government of New Zealand, 2007).

Maka dari itu, tidak semua sumber air tersebut dapat langsung dipergunakan untuk itu
perlu dilakukan pengolahan.

PENGOLAHAN AIR BERSIH DI RUMAH TANGGA (Skinner and shaw, 2010)

 Straining : selembar kain bersih lembut akan melepaskan secara cepat zat suspensi
padat yang terkandung dalam air. Jika kain tersebut kotor itu, berarti polutan
terdeteksi.

8
 Aeration : proses ini meningkatkan kandungan udara di air, ini dapat mengurangi
konsentrasi dari H2S yang dapat membuat air menjadi berasa, ferous oxide dan
mangan oksida. Kita bisa lakukan metode ini dengan dua cara jika dengan skala kecil
cukup dengan mengocok dengan cepat air dan jika skalanya besar dapat dilakukan
dengan menyiramkan air pada sebuah alat yang berisi batu dan biarkan air mengalir.

 Storage dan settlement : menyimpan air selama 1 hari dapat mematikan >50%
bakteri. Tapi ini tidak kondusif karena kadang masih ada bakteri yang dapat bertahan
lebih dari 2 hari.
 Chemical Disinfection : metode dengan pemberian zat-zat kimia ke air, misalnya
chlor (chlorination) (paling sering digunakan) dan iodine.
 Solar Disinfection: radiasi UV dari matahari dapat membunuh patogen-patogen yang
hidup di air.
 Boiling (pemanasan): memanaskan air selama 10 menit. Dengan memanaskan
mencapai 100 C akan membunuh patogen yang ad di air. Namun ada kerugiannya,
yaitu dapat mengubah rasa air apalagi setelah dingin.
 Filtration: metode ini selalu direkomendasikan untuk menghilangkan partikel yang
masih ada di air. Biasanya dilakukan setelah melakukan disinfeksi. Ada dua metode
filtrasi, yaitu dengan menggunakan bahan keramik atau arang (commercial filter) atau
dengan menggunakan pasir, krikil, dan batu (improvised filter)

9
 Distilation: memanaskan air hingga berubah menjadi embun dan ditunggu hingga
kembali menjadi air.

PENGOLAHAN AIR BERSIH DI INDONESIA (Hafni, 2012)

10
Untuk di Indonesia, pengolahan air bersih dilakukan oleh PDAM. Namun terdapat
pula instalasi pengolahan air bersih. Instalasi pengolahan air bersih digunakan sedapat
mungkin mampu mengurangi kesulitan air minum terutama untuk mereka yang bertempat
tinggal jauh dari jangkauan PDAM. Maka dari itu, instalasi pengolahan air bersih dan PDAM
harus sanggup:

 Menghilangkan bau.
 Menghilangkan warna.
 Menjadikan air jernih, bening bebas dari partikel colloidal;
 Menjadikan air terasa nyaman di minum.
 Bebas bakteri.

Umunya air yang selalu keruh adalah air permukaan, seperti air sungai, terutama pada
musim hujan sungai-sungai airnya sangat keruh. Maka dari itu perlu pengolahan yang lebih
spesifik. Untuk produksi air bersih upaya pengolahan dititikberatkan pada penyisihan padatan
tersuspensi dari air mentah. Proses penyisihan padatan tersuspensi dari air mentah terdiri
dari

3 tahapan :

o Tahap pengendapan alami (natura sedimentation)


o Tahap penyaringan (filtration)
o Tahap penjernihan (clarification)

Tahap Penjernihan (clarifying process) atau tahap pengendapan padatan tersuspensi dengan
bantuan zat kimia tertentu. Ada tiga tahap proses penjernihan yaitu:

 Tahap koagulasi (coagulation step)


Tahap koagulasi Adalah Tahap penetralan muatan atau penyediaan jembatan dari
padatan terdispersi dengan penambahan zat kimia tertentu (coagulant aid). Pada tahap
ini dikehendaki pencampuran yang baik (rapid mixing) untuk menjamin kontak yang
maksimal antara padatan tersuspensi dengan zat kimia yang ditambahkan.
 Tahap flokulasi (floculation step) Tahap flokulasi adalah tahap penggabungan dari
padatan padatan tersuspensi untuk membentuk flok (aglomerat). Pada tahap ini
dibutuhkan zona yang relatif tenang agar penggabungan dari padatan padatan terdispersi
dapat berlangsung dengan baik
 Tahap sedimetasi (sedimentation step)
Sementara tahap sedimentasi adalah tahap pengendapan flok-flok ke dasar klarifier.
Agar proses pengendapan ini berjalan dengan baik maka tahap ini harus berlangsung
pada zona yang sangat tenang.

11
Selama proses pengolahan tersebut, biasanya ada zat kimia yang dapat dicampurkan ke dalam
air dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas air tersebut. Zat kimia yang digunakan untuk
mengikat zat pengotor tersuspensi yang terlarut dalam air adalah :

1. Tawas
Tawas merupakan bahan koagulan yang paling banyak digunakan karena bahan ini paling
ekonomis, mudah diperoleh di pasaran serta mudah penyimpanannya. Jumlah pemakaian
tawas tergantung kepada turbidity (kekeruhan) air baku. Semakin tinggi turbidity air baku
maka semakin besar jumlah tawas yang dibutuhkan.
2. Kapur
Pengaruh penambahan kapur (Ca(OH)2 akan menaikkan pH dan bereaksi dengan
bikarbonat membentuk endapan CaCO3.
3. Klorin
Klorin banyak digunakan dalam pengolahan air bersih dan air limbah sebagai oksidator
dan desinfektan. Sebagai oksidator, klorin digunakan untuk menghilangkan bau dan rasa
pada pengolahan air bersih. Penambahan klorin dalam bentuk gas akan menyebabkan
turunnya pH air, karena terjadi pembentukan asam kuat. Akan tetapi penambahan klorin
dalam bentuk natrium hipoklorit akan menaikkan alkalinity air tersebut sehingga pH akan
lebih besar.

PENERAPAN DAN PENCEGAHAN PENCEMARAN AIR BERSIH

Harus ada kesadaran tersendiri dalam penerapan penggunaan air bersih pada setiap
masyarakat. Di sisi lain, kesinambungan dan keberlanjutan persediaan air bersih perlu

12
mendapatkan perhatian yang lebih besar. Satu dari sepuluh rumah tangga mengalami
kekurangan persediaan air bersih, khususnya pada musim kemarau. Optimalisasi kualitas,
kuantitas dan kesinambungan air bersih memerlukan pengelolaan sumber air yang melibatkan
berbagai pemangku kepentingan. Pemerintah telah memulai diskusi kebijakan tentang
Rencana Keamanan Air Bersih, yang bertujuan untuk memastikan kualitas, kuantitas,
kontinuitas dan keterjangkauan pelayanan air bersih (UNICEF Indonesia, 2012)

Untuk pengendalian/penanggulangan pencemaran air di Indonesia telah diatur melalui


Peraturan Pemerintah Nomor 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas dan Pengendalian
Pencemaran Air. Secara umum hal ini meliputi pencemaran air baik oleh instansi ataupun
non-instansi. Salah satu upaya serius yang telah dilakukan Pemerintah dalam pengendalian
pencemaran air adalah melalui Program Kali Bersih (PROKASIH). Program ini merupakan
upaya untuk menurunkan beban limbah cair khususnya yang berasal dari kegiatan usaha skala
menengah dan besar, serta dilakukan secara bwertahap untuk mengendalikan beban
pencemaran dari sumber-sumber lainnya. Program ini juga berusaha untuk menata
pemukiman di bantaran sungai dengan melibatkan masyarakat setempat.

kita sebagai yang nantinya akan menjadi dokter praktek umum yang dituntut
menerapkan pelayanan kedokteran keluarga dapat membantu pemerintah dalam menerapkan
penggunaan air bersih dan pencegahan pencemaran air bersih pada masyarakat setempat
melalui promosi kesehatan karena air bersih merupakan salah satu indikator sanitasi dasar
masyarakat. Sehingga dapat terwujudnya keadaan sehat bagi setiap anggota keluarga.

DAFTAR PUSTAKA

Burke, S et al. (2012). Environmental Health 2012 A Key Partner in Delivering The Public
Health Agenda. Available from: http://cieh.org (Accessed: 12 Desember 2013).

13
Government of New Zealand. (2007). Freshwater. Available from: http://mfe.govt.nz
(Accessed: 11 Desember 2013).

Hafni. (2012). Proses Pengolahan Air Bersih Pada PDAM Padang. Volume 13, No.2
Available from: http://ejournal.itp.ac.id (Accessed: 8 Desember 2013).

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. (1990). Peraturan Menteri Kesehatan No. 416
Tahun 1990 Tentang: Syarat-syarat dan Pengawasan Kualitas Air Bersih. Available
from: http://pppl.depkes.go.id (Accessed: 7 Desember 2013).

Saparuddin. (2010). Pemanfaatan Air Tanah Dangkal Sebagai Sumber Air Bersih Di Kampus
Bumi Bahari Palu. Volume 8, No.2 Available from: http://jurnal.untad.ac.id (Accessed: 8
Desember 2013).

Skinner, B and Shaw, R. (2010). Household Water Treatment. Available from:


http://lboro.ac.uk (Accessed: 10 Desember 2013).

Soepardi, Jane et al. (2010). Profil Kesehatan Indonesia 2010. Available from:
http://depkes.go.id (Accessed: 13 Desember 2013).

UNICEF Indonesia. (2012). Air Bersih, Sanitasi, dan Kebersihan. Available from:
http://unicef.org (Accessed: 10 Desember 2013).

14