Anda di halaman 1dari 10

GAYA IKAT

MAKALAH

Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memenuhi Penilaian Mata Kuliah

Pengantar Fisika Zat Padat

ADINDA FIJAR SEPTIANI (140310160004)


TINTAN ROSTINA (140310160005)

UNIVERSITAS PADJADJARAN

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

PROGRAM STUDI FISIKA

JATINANGOR

2019
1. GAYA IKAT

Gaya ikat adalah resultan dari gaya tarik elektrostatik (antar proton–elektron) dan gaya
tolak elektrostatik (proton–proton). Adanya gaya ikat disebabkan oleh kecenderungan atom
agar dapat menjadi stabil. Besar gaya tarik dan tolak yaitu :
r > ro gaya tarik lebih besar
r < ro tolak lebih besar
r=µ gaya tarik dan gaya tolak = 0
r = ro gaya tarik = gaya tolak. Sehingga ro disebut jarak keseimbangan atau jarak
ikatan.
Rumus gaya ikat adalah sebagai berikut:
−𝑘𝑞1 𝑞2
𝐹=
𝑟2
Dengan:
F = besarnya gaya ikatan (N)
k = Konstanta
q1 dan q2 = muatan masing-masing molekul/atom (Coloumb)
r = jarak antar molekul/atom (m)

Zat padat merupakan zat yang memiliki struktur yang stabil. Kestabilan struktur zat padat
disebabkan oleh adanya interaksi antar atom membentuk suatu ikatan kristal. Sebagai contoh
kristal Natrium Klorida (NaCl) memiliki struktur yang lebih stabil dibandingkan dengan
sekumpulan atom-atom bebas dari Na dan Cl sehingga impilkasinya:
 Atom-atom bebas Na dan Cl akan saling berinteraksi satu sama lain untuk membentuk
struktur yang stabil.
 Terdapat gaya interaksi antar atom untuk mengikat atom satu sama lain.
 Besarnya energi atom-atom bebas penyusun kristal lebih besar daripada energi kristalnya.
Pada dasarnya susunan atom dalam kristal menuju pada konfigurasi kedudukan dengan
energi potensial sistem kristal yang berharga minimum. Hal ini sejalan dengan prinsip umum
tentang energi sistem-sistem fisika. Beda antara harga energi semua atom-atom dalam sistem
kristal dibandingkan dengan harganya apabila semua atom-atom itu bebas satu dari yang lain
(jarak antar-atom tidak berhingga besarnya) dinamakan energi ikatan.
Energi ikat kristal didefinisikan sebagai energi yang perlu diberikan pada kristal untuk
memisahkan komponen-komponennya menjadi atom-atom bebas yang netral. Besar energi ikat
dari berbagai unsur pada kristal bervariasi. Kristal gas mulia memiliki ikatan yang lemah
dengan energi ikat yang lebih kecil jika dibandingkan dengan unsur pada golongan IVA.
Kristal dari logam alkali memiliki nilai energi ikat yang relatif pertengahan dari semua unsur.
Energi ikat ini sebenarnya adalah pendekatan untuk menggambarkan gaya ikat antar atom.
Seperti halnya dalam bahasan fisika klasik, dua atom akan saling mengikat jika gaya tarik
menarik antar dua atom tesebut.
Ikatan antar atom terdapat ikatan lemah dan ikatan kuat. Pada ikatan atom yang kuat,
elektron pada orbital paling luar yang berperan besar dalam pembentukan ikatan dan mereka
disebut elektron valensi. Elektron pada orbital yang lebih dalam lebih erat terikat pada inti
atom dan disebut elektron inti. Elektron inti tidak cukup berperan dalam pembentukan
ikatan atom kecuali jika terjadi promosi dan hibridisasi. Dua atom akan saling terikat jika ada
gaya ikat antara keduanya.
Ikatan antar atom terbentuk jika dalam pembentukan ikatan tersebut
terjadi penurunan energi total. Perubahan energi potensial terhadap perubahan jarak antar dua
ion atau dua molekul dapat dinyatakan dengan persamaan:
−𝑎 𝑏
𝑉𝑟 = +
𝑟𝑚 𝑟𝑛
Dengan :
Vr = energi potensial total
r = jarak antar atom (nm)
a = Konstanta tarik-menarik
b = Konstanta tolak menolak
m,n = konstanta karakteristik jenis ikatan dan tipe struktur (Nilai m adalah 1 untuk jenis
ion dan m = 6 untuk jenis molekul).

Konstanta n tergantung dari konfigurasi elektron. Konstanta ini disebut juga eksponen
Born. Misal untuk unsur He yang konfigurasi elektronnya 1s2, nilai konstanta n adalah 5.
Sedangkan Ne dengan konfigurasi 2s2 2p6, nilai konstanta n adalah 7. Nilai konstanta n unsur
lain dapat diperoleh dari berbagai referensi.
a
Vtarik = − rm disebut juga Vtarik yaitu energi potensial yang terkait dengan gaya tarik antar

atom.
b
Vtolak = disebut juga Vtolak yaitu energi potensial yang terkait dengan gaya tolak antar atom.
rn
Untuk ion m=1, sedangkan untuk molekul m=6. Konstanta n disebut eksponen Born
yang nilainya tergantung dari konfigurasi elektron, seperti tercamtum pada Tabel 1.
Tabel 1. Eksponen Born

Gambar 1 memperlihatkan bentuk kurva perubahan energi sebagai fungsi


dari jarak antar ion. Jarak ro adalah jarak yang bersesuaian dengan energi minimum dan
disebut jarak ikat. Karena ion selalu berosilasi maka posisi ion adalah sekitar jarak ikat ro. Oleh
karena itu energi ikat dapat didefinisikan sebagai energi yang diperlukan untuk memisahkan
ion dari jarak ro ke jarak tak hingga. Energi disosiasi sama dengan energiikat tetapi dengan
tanda berlawanan.

Gambar 1. Kurva perubahan energi potensial


Dari Kurva diperoleh:
 Jika r --  energi potensial sistem nol.
 Jika nilai r makin kecil, nilai negatif energi potensial semakin bertambah besar.
 Jika jarak pisah r sama dengan jarak ikat (r = ro), maka energi potensial mencapai
minimum.
Tabel 2. Energi Ikat pada Setiap Ikatan
Ikatan Energi Ikat Kategori
VDW ~0.01 eV Lemah
Ionik 1 – 10 eV Kuat
Logam ~ 1 -10 eV Kuat
Kovalen ~ 1-10 eV Kuat
Hidrogen ~ KbT Lemah

2. JENIS – JENIS IKATAN KRISTAL

Ikatan kristal menyangkut interaksi ikatan antara atom, khususnya elektron terluar dari
atom-atom kristal bersangkutan. Tidak ada gaya inti yang terlibat. Berkenaan dengan itu besar
energi ikatan ada di daerah harga energi ikatan elekron terluar dari atom. Beberapa elektron
volt. Syarat utama yang harus dipenuhi dalam membentuk padatan adalah terjadinya susunan
yang rapat. Susunan atom dalam kristal ditentukan oleh pembentukan sistem yang memiliki
harga energi potensial yang minimum, melalui :
 Penyesuaian konfigurasi elektron paling luar dari atom
 Penempatan atom-atom pembentuk kristal menurut susunan obyek matematika yang
memiliki keberkalaan dan kesatangkupan dalam ruang tiga dimensi yang berukuran tidak
berhingga (kisi).

Ikatan kristal terbagi dua kategori.

2.1 Ikatan Kategori Utama

1. Ikatan ionik

Ikatan ionik merupakan ikatan ini terjadi karena adanya tarik-menarik antara dua ion
yang berlawanan tanda. Ion itu sendiri terbentuk karena salah satu atom yang akan
membentuk ikatan memberikan elektron kepada atom pasangannya yang memiliki
kemampuan untuk menerima elektron. Dengan demikian terjadilah pasangan ion positif dan
ion negatif, dan mereka saling terikat terbentuk dari hasil interaksi elektrostatik (gaya
coulomb) antara ion positif dan negatif.
Gambar 2. Ikatan Ionik

Ikatan ionik biasanya terjadi antara atom-atom yang mudah melepaskan elektron (logam-
logam golongan utama) dengan atom-atom yang mudah menerima elektron (terutama
golongan VIA den VIIA). Unsur yang cenderung melepaskan elektron adalah unsur logam
sedangkan unsur yang cenderung menerima elektron adalah unsur non logam.
 Golongan alkali (IA) [kecuali atom H] dengan golongan halogen (VIIA)
Contoh : NaF, KI, dan CsF
 Golongan alkali (IA) [kecuali atom H] dengan golongan oksigen (VIA)
Contoh : Na2S, Rb2S, dan Na2O
 Golongan alkali tanah (IIA) dengan golongan oksigen (VIA)
Contoh : CaO, BaO, Mg

Ciri – ciri senyawa umum ion:


a. Titik didih dan titik lelehnya tinggi
b. Keras, tetapi mudah patah
c. Penghantar panas yang baik
d. Lelehan maupun larutannya dapat menghantarkan listrik (elektrolit)
e. Larut dalam air
f. Tidak larut dalam pelarut/senyawa organik (misal : alkohol, eter, benzena)

2. Ikatan kovalen

Ikatan kovalen adalah ikatan yang terjadi karena pemakaian pasangan elektron secara
bersama oleh 2 atom yang berikatan. Ikatan kovalen terjadi akibat ketidakmampuan salah 1
atom yang akan berikatan untuk melepaskan elektron (terjadi pada atom-atom non logam).
Ikatan kovalen terbentuk dari atom-atom unsur yang memiliki afinitas elektron tinggi serta
beda keelektronegatifannya lebih kecil dibandingkan ikatan ion. Atom non-logam cenderung
untuk menerima elektron sehingga jika tiap-tiap atom non logam berikatan maka ikatan yang
terbentuk dapat dilakukan dengan cara mempersekutukan elektronnya dan akhirnya terbentuk
pasangan elektron yang dipakai secara bersama. Pembentukan ikatan kovalen dengan cara
pemakaian bersama pasangan elektron tersebut harus sesuai dengan konfigurasi elektron pada
unsur gas mulia yaitu 8 elektron (kecuali He berjumlah 2 elektron).

Ikatan kovalen terbagi menjadi 3 yaitu :


a. Ikatan Kovalen Tunggal
Ikatan kovalen tunggal yaitu ikatan kovalen yang memiliki 1 pasang PEI.
Contoh : H2, H2O

b. Ikatan Kovalen Rangkap Dua


Ikatan kovalen rangkap 2 yaitu ikatan kovalen yang memiliki 2 pasang PEI.
Contah : O2, CO2

c. Ikatan Kovalen Rangkap Tiga


Ikatan kovalen rangkap 3 yaitu ikatan kovalen yang memiliki 3 pasang PEI.
Contoh : N2

3. Ikatan logam

Ikatan logam adalah ikatan yang terbentuk akibat adanya gaya tarik-menarik yang terjadi
antara muatan positif dari ion-ion logam dengan muatan negatif dari elektron-elektron yang
bebas bergerak. Atom-atom logam dapat diibaratkan seperti bola pingpong yang terjejal rapat
satu sama lain. Atom logam mempunyai sedikit elektron valensi, sehingga sangat mudah
untuk dilepaskan dan membentuk ion positif. Maka dari itu kulit terluar atom logam relatif
longgar (terdapat banyak tempat kosong) sehingga elektron dapat berpindah dari satu atom
ke atom lain. Mobilitas elektron dalam logam sedemikian bebas, sehingga elektron valensi
logam mengalami delokalisasi yaitu suatu keadaan dimana elektron valensi tersebut tidak
tetap posisinya pada 1 atom, tetapi senantiasa berpindah-pindah dari 1 atom ke atom lain.
Gambar 3. Ikatan Logam

Elektron-elektron valensi tersebut berbaur membentuk awan elektron yang menyelimuti


ion-ion positif logam. Struktur logam seperti gambar di atas, dapat menjelaskan sifat-sifat
khas logam yaitu :
a. Berupa zat padat pada suhu kamar, akibat adanya gaya tarik-menarik yang cukup kuat
antara elektron valensi (dalam awan elektron) dengan ion positif logam.
b. Dapat ditempa (tidak rapuh), dapat dibengkokkan dan dapat direntangkan menjadi
kawat. Hal ini akibat kuatnya ikatan logam sehingga atom-atom logam hanya bergeser
sedangkan ikatannya tidak terputus.
c. Penghantar / konduktor listrik yang baik, akibat adanya elektron valensi yang dapat
bergerak bebas dan berpindahpindah. Hal ini terjadi karena sebenarnya aliran listrik
merupakan aliran elektron.

2.2 Ikatan Kategori Sekunder

1. Ikatan Hidrogen

Ikatan hidrogen terjadi ketika sebuah molekul memiliki atom N, O, atau F yang
mempunyai pasangan elektron bebas. Hidrogen dari molekul lain akan berinteraksi dengan
pasangan elektron bebas ini membentuk suatu ikatan hidrogen dengan besar ikatan bervariasi
mulai dari yang lemah (1-2 kJ mol-1) hingga tinggi (>155 kJ mol-1). Kekuatan ikatan
hidrogen ini dipengaruhi oleh perbedaan elektronegativitas antara atom-atom dalam molekul
tersebut. Semakin besar perbedaannya, semakin besar ikatan hidrogen yang terbentuk. Ikatan
hidrogen memengaruhi titik didih suatu senyawa. Semakin besar ikatan hidrogennya,
semakin tinggi titik didihnya. Namun, khusus pada air (H2O), terjadi dua ikatan hidrogen
pada tiap molekulnya. Akibatnya jumlah total ikatan hidrogennya lebih besar daripada asam
florida (HF) yang seharusnya memiliki ikatan hidrogen terbesar (karena paling tinggi
perbedaan elektronegativitasnya) sehingga titik didih air lebih tinggi daripada asam florida.

Gambar 4. Ikatan Hidrogen

2. Ikatan Van deer Walls

Selain ikatan hidrogen yang merupakan ikatan yang terbentuk antara dipole-dipole
permanen dan merupakan ikatan berarah, terdapat ikatan antar dipole yang terjadi antara
dipole-dipole yang tidak permanen dan disebut ikatan van der Waals. Ikatan ini merupakan
ikatan tak berarah dan jauh lebih lemah dari ikatan hidrogen.
Dipole tidak permanen terbentuk karena pada saat-saat tertentu ada lebih banyak elektron
di satu sisi dari inti atom dibandingkan dengan sisi yang lain. Pada saat-saat itulah pusat
muatan positif atom tidak berimpit dengan pusat muatan negatif dan pada saat-saat itulah
terbentuk dipole. Jadi dipole ini adalah dipole yang fluktuatif. Pada saat-saat dipole terbentuk,
terjadilah gaya tarik antar dipole.
Ikatan van der Waals terjadi antar molekul gas, yang menyebabkan gas menyimpang dari
hukum gas ideal. Ikatan ini pulalah yang memungkinkan gas membeku pada temperatur yang
sangat rendah.
DAFTAR PUSTAKA

Aprilia, A. (2012). Struktur Atomik dan Ikatan antar Atom. Pengantar Fisika Material. Jurusan

Fisika Universitas Padjadjaran.

Callister Jr, W. D. (2009). Materials Science And Engineering An Introduction. 8th Edition.

New Jersey: John Wiley & Sons, Inc, Hoboken.