Anda di halaman 1dari 3

Srikandi Haliwen

“ Mungkin, Tim kami tidak butuh laki-laki tapi kami masih butuh laki laki yang bernama
suami ”

Bercerita tentang Nusantara Sehat, ya… Nusantara Sehat! Itu lah program yang kami ikuti
dengan pembekalan selama 40 hari di Pusdikkes TNI-AD. Semua cerita berawal dari sini.

Pusdikkes TNI-AD, Pembekalan Nusantara Sehat hari ke 30, wajah kusam, tatapan lelah
menatap langit, berganti melirik wajah panitia kami merasa harap-harap cemas, kenapa ? karena
kami akan segera tahu siapakah dari 500 an orang disini yang akan menemani selama 2 tahun di
penempatan, yang akan mendampingi saat susah dan sedih, yang akan menjadi satu-satunya
keluarga yang bisa diandalkan. Hmmh….. Saat itu, semua peserta berkumpul di lapangan untuk
mendengarkan pengumuman. Satu persatu peserta dipanggil ke depan lalu berbaris memanjang
sesuai perintah komandan. “Imelda Sussanti - Heleng Hana - Efa Fathurohmi - Ika Arguslita-
Asmawati” . Nama nama itu dipanggil dan berbaris memanjang dan sejajar.

Kami saling memperhatikan dengan tatapan heran, “ah mana laki-laki ?” terlintas di
pikiran kami. Ketika itu semua peserta nusantara sehat memiliki teman tim dengan jenis kelamin
yang berbeda, namun kami tidak. Kami berpikir “kenapa ? ahhh ga adil kenapa hanya kelompok
kami yang tidak memiliki laki-laki” mulai terpikir macam macam di pikiran kami, gimana kalau
penempatannya sulit, gimana kalau lokasi penempatannya rawan, siapa yang membantu
menjaga kami berjalan pada waktu malam, siapa yang membantu mengangkat koper dan barang
bawaan kami yang berat dan kecemasan-kecemasan lain. Lalu kami sepakat untuk protes ke
Panitia pembekalan. Sebut saja namanya pak tomo yang sekarang berganti menjadi mas tomo
 , “pak kenapa kok kami ga kebagian laki laki ?.. kami juga butuh laki laki” dengan muka
memelas berharap dikabulkan. Lalu apa yang dikatakan mas tomo ? katanya “ kalian itu
ditempatkan berdasarkan nilai psiko test kalian. Dari hasil test nya, nilai kalian tinggi semua, jadi
kalian tidak perlu laki-laki. Kalian bisaaa semuanya”. Bayangkan, kalau kalian dipuji seperti itu,
apa kalian masih ingin memohon???? Kami sih TIDAK. Dan karena jawaban itulah yang membuat
kami lapang dada menerima segala keputusan dan dalam hati bergumam “kami bisa tanpa laki-
laki!”

Satu minggu terakhir , setiap kegiatan kami lakukan bersama tim yang sudah dibentuk.
iya BERLIMA dengan sifat dan karakter masing-masing. Mengenal satu sama lain dengan ala
kadarnya, ada yang senangnya kalau masuk kelas langsung pengen baring, ada yang mukanya
jutek, ada yang hemat banget kalau masalah omongan. Yahhh… Tapi kembali ke kata mas tomo
:D , BISA.

Jumat, 11 Desember 2015, kami tiba di Kabupaten Belu, yang nama kerennya Atambua.
Ditemani Pendamping dari Pusat Bapak Suharno dan Ibu Helvy Yunida yang sampai saat ini selalu
kami panggil Ayah dan Bunda. Dua sosok yang Luar Biasa yang menyemangati kalau kami
mengeluh sampai hari ini. Yang membantu menyiapkan barang-barang yang kami perlukan saat
kami tiba. Yang setia mengingatkan kami tentang Laporan yang harus diselesaikan. Yang
mengingatkan kami banyak hal. Terimakasih Ayah Bunda sudah mendampingi selama 2 tahun ini.
Sampai di Belu, kami menginap di hotel “T” di pinggiran kota, yang jauh dari jangkauan tempat
makan, yang membuat kami berpikir belu adalah kota mati, karena malam gelap kami harus
berjalan kaki lumayan jauh untuk makan ke sebuah warung kecil.
Tibalah hari dimana kami berlima datang ke daerah penempatan Puskesmas Haliwen,
Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Sabtu, 12 Desember 2015, Terik matahari hari itu sukses
membuat dahi mengerut, senyum dipaksa simetris, namun hati menciut, pemandangan pertama
kali ketika melihat Puskesmas ditambah cuaca sangat panas plus angin kencang. Sebelum kesini,
kami membayangkan haliwen adalah tempat dimana segala sesuatunya sulit. Namun ketika
sampai di puskesmas penempatan kami heran dan saling melihat satu sama lain. Ternyata
Haliwen ada di depan jalan Perbatasan. Wilayah puskesmas kami tidak jauh dari kota, berjarak
satu kilometer dari Bandar udara atambua, mau ke kota tinggal naik angkot yang parkir di depan
puskesmas, di depan puskesmas terdapat kampus akper Belu dan masih banyak hal yang tidak
pernah dibayangkan sebelumnya. Jadi ingat kata mas tomo (pantas saja kata beliau kami tidak
perlu laki-laki). :D

Usai mengamati sekilas, kami menuju Puskesmas bertemu dengan para penghuninya.
Kami disambut oleh Kepala Puskesmas Haliwen dan beberapa staf yang kami jumpai. Lalu ibu
kepala puskesmas memperlihatkan tempat tinggal yang akan kami tempati selama 2 tahun.
Jangan membayangkan sebuah rumah dengan segala fasilitasnya. Kami diantar ke salah satu
Gedung Pelayanan Puskesmas berlantai dua, menaiki tangga, lalu ke sebuah ruangan di pojokan
dengan ukuran 3x4 meter, yang nantinya akan ditinggali oleh 5 orang tenaga NS, 5 koper, 1
dispenser, 1 magic com, 1 lemari, dan sebagainya. Disamping ruangan ada WC yang tidak
berfungsi. Kalau sedih, mungkin tidak terlalu. Kalaupun sedih, kuncinya ingat aja lagi apa kata
mas tomo (kalian bisa). Begitu sejuknya ruangan saat itu (bukan bohong, memang sejuk karena
ada pohon pisang di belakang ruangan itu). Ayah Suharno sangat membantu dalam menata
bagaimana ruangan itu cukup untuk kami. Kami menikmatinya. Dengan berbekal pengalaman di
Pusdikkes, tidak butuh waktu lama untuk menyesuaikan diri, termasuk dengan tempat tinggal.

Satu bulan pertama, kami berada di Puskesmas Haliwen, mengenal tempat dan
masyarakatnya. Ternyata memang Puskesmasnya boleh saja ada di kota, tapi wilayah kerjanya
terdiri dari 4 Desa 1 Kelurahan dan terbagi dalam 3 Kecamatan. Ada 2 Desa yang akses
transportasinya harus menyeberangi sungai dan lebih sulit kalau musim hujan. Hanya, beberapa
kesulitan itu tidak sebanding dengan kemudahan yang kami dapatkan. Mau ke kabupaten/kota
untuk menikmati KFC Atambua, soto ayam cabang bibah, rujak jawa tengah, gulai sapi jawa timur,
coto Makassar, sossis bakar bandung, es kelapa NTB, Pecel ayam Surabaya, pasar sayur, pasar
daging, pasar buah Atambua Cuma butuh 15 menit. Apalagi kalau di atambua ada konser cross
border yang hampir setiap bulan, kami jarang absen :D. Jaringan telekomunikasi wilayah
Puskesmas Haliwen lancar, tidak kena roaming, sinyal internet bertanda H+, bahkan 2017 sinyal
sudah 4G. Kalau ketemu sinyal bagus, banyak ujian nya apalagi buat wanita, online shop,
sekalipun belanja pakaian untuk pergi ke pesta pernikahan, ada yang bisnis orifl*me (menambah
pundi pundi rupiah :D), update film-film terbaru. Dengan wilayah Puskesmas Haliwen yang tidak
jauh dari kota, disana untuk mendaptkan air bersih tentunya tidak sulit, kami hanya menunggu
air keluar dari jam 6 pagi hingga 10 pagi. Di Puskesmas Haliwen tersedia 4 kamar mandi yang
bebas kami gunakan, kamar mandi umum. Lalu untuk memenuhi kebutuhan makan dan minum
jika tidak ingin ke pasar kami hanya perlu berjalan ke kios yang jaraknya 300 meter untuk
membeli beras, kopi, gula, sayuran. (jadi penasaran hasil psiko test nya berapa, bisa dapat
penempatan menyenangkan begini).

Dua tahun di Puskesmas Haliwen kami empat kali pindah tempat tinggal, dari mulai
tinggal di gedung kantor lantai 2 pindah ke mess, dari mess pindah kembali ke mess lainnya, dari
mess itu pindah lagi ke kos-kosan karena puskesmas direhab. Untuk berpindah-pindah tempat
seperti itu kami berlima mampu mengerjakannya, bahkan angkat galon setiap 4 hari sekali,
angkat beras 25 kg, itu hal biasa :D
Kami tidak ingin bercerita banyak mengenai pekerjaan, karena yang itu tidak mudah. Suku
yang berbeda itu tidak mudah, memahami masyarakat itu tidak mudah, apalagi merubah pola
pikir untuk mau berubah juga tidak mudah. Tapi kami bisa katakana bahwa atambua adalah kota
yang ramah, penghuninya ramah, kerja sama nya baik. Hanya ada beberapa hal yang tidak mudah
diganti. Namun kami dalam cerita ini tidak ingin membahas itu. Kami ingin menceritakan hal yang
menyenangkan karena kami lima perempuan yang bisa hidup di daerah asing dengan segala
bentuk kemudahan dan kesulitannya. Karena seperti kata mas tomo, kami tidak perlu laki laki.
Kami bisa. Tapi, “kata” itu terlalu arogan, kami masih butuh laki-laki yang biasa dipanggil dengan
kata “Suami”.

SEKIAN….