Anda di halaman 1dari 21

No Tanda & Gejala Dx Kep Tujuan & Kriteria Hasil Intervensi

1.  Batuk terus Bersihan jalan nafas Setelah dilakukan tindakan LATIHAN BATUK EFEKTIF
menerus dan tidak efektif b.d sekresi keperawatan selama 3x24 jam, Observasi :
berdahak >3 tertahan d.d batuk tidak maka bersihan jalan napas 1) Identifikasi kemampuan batuk.
minggu efektif, tidak mampu meningkat dengan kriteria hasil : 2) Monitor adanya retensi sputum.
 Batuk tidak efektif batuk, dan bunyi nafas 1) Batuk efektif meningkat 3) Monitor tanda dan gejala infeksi saluran nafas.
 Tidak mampu ronchi 2) Produksi sputum menurun 4) Monitor input dan outpun cairan.
batuk 3) Ronkhi menurun

 Bunyi nafas Terapeutik :

ronchi 1) Atur posisi semi-Fowler atau Fowler.


2) Pasang perlak dan bengkok dipangkuan pasien.
3) Buang sekret pada tempat sputum.

Edukasi :
1) Jelaskan tujuan dan prosedur batuk efektif.
2) Anjurkan tarik nafas dalam melalui hidung selama
4 detik,ditahan selama 2 detik,kemudian keluarkan
dari mulut dengan bibir dibulatkan selama 8 detik.
3) Anjurkan menulangi tarik nafas dalam hingga 3
kali.
4) Anjurkan batuk dengan kuat langsung setelah tarik
nafas dalam yang ke-3
Kolaborasi :
1) Kolaborasi pemberian mukolitik atau ekspektoran,
jika perlu
MANAJEMEN JALAN NAFAS
Observasi :
1) Monitor pola nafas(frekuensi,kedalaman,usaha
nafas).
2) Monitor bunyi nafas tambahan(Ronchi).
3) Monitor sputum(jumlah,warna,aroma).

Terapeutik :
1) Pertahankan kepatenan jalan nafas dengan head-tilt
dan chin-lift(jaw-thurst jika curiga trauma servikal).
2) Posisikan semi-Fowler atau Fowler.
3) Berikan minum hangat.
4) Lakukan fisioterapi dada jika perlu.
5) Lakukan penghisapan lendir kurang dari 15 detik.
6) Lakukan hiperoksigenasi sebelum penghisapan
endotrakeal.
7) Kelurakan sumbatan benda padat dengan forsep
McGill.
8) Berikan oksigen jika perlu.
Edukasi :
1) Anjurkan asupan cairan 2000 ml/hari,jika tidak
kontradikasi.
2) Anjurkan teknik batuk efektif.
Kolaborasi :
1) Kolaborasi pemberian
bronkodilator,ekspektoran,mukolitik jika perlu.

PEMANTAUAN RESPIRASI
Observasi :
1) Monitor frekuensi,irama,kedalaman,dan upaya
nafas.
2) Monitor pola nafas(seperti
bradipnea,takipnea,hiperventilasi,kussmaul,Cheyne-
Stokes,Biot,atatsik).
3) Monitor kemampuan batuk efektif
4) Monitor adanya produksi sputum.
5) Monitor sumbatan jalan nafas
6) Palpasi kesimetrisan ekspansi paru
7) Auskultasi bunyi nafas.
8) Monitor saturasi oksigen.
9) Monitor nilai AGD.
10) Monitor hasil x-ray toraks.

Terapeutik :
1) Atur interval respirasi sesuai kondisi pasien
2) Dokumentasikan hasil pemantauan.
Edukasi :
1) Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan
2) Informasikan hasil pemantauan jika perlu.

2.  Sesak napas Pola napas tidak efektif Setelah dilakukan tindakan MANAJEMEN JALAN NAFAS
 Penggunaan otot b.d deformitas dinding keperawatan selama 3x24 jam, Observasi :
bantu pernapasan dada, penurunan energi maka pola napas membaik dengan 1) Monitor pola nafas ( Frekuensi, kedalaman, usaha
 Pola napas d.d penggunaan otot kriteria hasil : nafas)
abnormal bantu pernapasan, pola 1) Dispnea menurun 2) Monitor bunyi nafas tambahan ( mis, gurgling,
(takhipnea) napas abnormal 2) Penggunaan otot bantu mengi, wheezing, ronkhi kering)

 Bentuk dada (takhipnea), dan bentuk napas menurun 3) Monitor sputum (jumlah, warna, aroma)

funnel chest dada funnel chest 3) Frekuensi napas membaik


4) Kedalaman napas membaik Terapeutik :
1) Pertahankan kepatenan jalan nafas dengan head-tilt
dan chin-lift (jaw-thurst jika curiga trauma
servikal)
2) Posisikan semi fowler atau fowler
3) berikan minum hangat
4) lakukan fisioterapi dada, jika perlu
5) lakukan penghisapan lender kurang dari 15 detik
6) lakukan hiperoksigenasi sebelum penghisapan
endotrakeal
7) Keluarkan sumbatanbenda padat dengan forsep
McGill
8) Berikan oksigen, jika perlu
Edukasi :
1) Anjurkan asupan cairan 2000 ml/hari, jika tidak
kontraindikasi
2) Ajarkan teknik batuk efektif

Kolaborasi
1) Kolaborasi pemberian bronkodilator, ekspektoran,
mukolitik, jika perlu

PEMANTAUAN RESPIRASI
Observasi
1) Monitor frekuensi, irama, kedalaman dan upaya
nafas
2) Monitor pola nafas ( seperti bradipnea, takipnea,
hiperventilasi, kussmaul, cheyne-stokes, biot,
ataksik )
3) Monitor kemampuan batuk efektif
4) Monitor adanya produksi sputum
5) Monitor adanya sumbatan jalan nafas
6) Palpasi kesimetrisan ekspansi paru
7) Auskultasi bunyi nafas
8) Monitor saturasi oksigen
9) Monitor nilai AGD
10) Monitor hasil x-ray toraks
Terapeutik :
1) Atur interval pemantauan respirasi sesuai kondisi
pasien
2) Dokumentasikan hasil pemantauan

Edukasi :
1) Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan
2) Informasikan hasil pemantauan, jika perlu
3.  Nafsu makan Defisit nutrisi b.d faktor Setelah dilakukan tindakan MANAJEMEN NUTRISI
turun psikologis (keengganan keperawatan selama 3x24 jam, Observasi :
 BB turun 10 % untuk makan) d.d nafsu maka status nutrisi membaik 1) Identifikasi status nutrisi
BB ideal makan turun dan BB dengan kriteria hasil : 2) Identifikasi alergi dan intoleransi makanan
turun 10 % BB ideal 1) Porsi makan yang 3) Identifikasi makanan yang disukai
dihabiskan meningkat 4) Identifikasi kebutuhan kalori dan jenis nutrien
2) Berat badan membaik 5) Monitor asupan makanan
3) Indeks Massa Tubuh (IMT) 6) Monitor berat badan
membaik 7) Monitor hasil pemeriksaan laboratorium
4) Nafsu makan membaik
Terapeutik :
1) Lakukan oral hygiene sebelum makan, jika perlu
2) Fasilitasi menentukan pedoman diet (mis. piramida
makanan)
3) Sajikan makanan secara menarik dan suhu yang
sesuai
4) Berikan makan tinggi serat untuk mencegah
konstipasi
5) Berikan makanan tinggi kalori dan tinggi protein
6) Berikan suplemen makanan, jika perlu
7) Hentikan pemberian makan melalui selang
nasogatrik jika asupan oral dapat ditoleransi

Edukasi :
1) Anjurkan posisi duduk, jika mampu
2) Ajarkan diet yang diprogramkan

Kolaborasi :
1) Kolaborasi pemberian medikasi sebelum makan,
jika perlu
2) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan
jumlah kalori dan jenis nutrient yang dibutuhkan,
jika perlu

PROMOSI BERAT BADAN


Observasi :
1) Identifikasi kemungkinan penyebab BB kurang
2) Monitor adanya mual dan muntah
3) Monitor jumlah kalori yang dikonsumsi sehari-hari
4) Monitor berat badan

Terapeutik :
1) Berikan perawatan mulut sebelum pemberian
makanan, jika perlu
2) Sediakan makanan yang tepat sesuai dengan
kondisi pasien
3) Hidangkan makanan secara menarik
4) Berikan suplemen, jika perlu
5) Berikan pujian pada pasien ]/keluarga untuk
peningkatan yang dicapai

Edukasi :
1) Jelaskan jenis makanan yang bergizi tinggi, namun
tetap terjangkau
2) Jelaskan peningkatan asupan kalori yang
dibutuhkan
4.  Nyeri dada Nyeri akut b.d agen Setelah dilakukan tindakan MANAJEMEN NYERI
 Sulit tidur pencedera biologis d.d keperawatan selama 3x24 jam, Observasi:
nyeri dada dan sulit maka tingkat nyeri menurun 1) Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi,
tidur dengan kriteria hasil : kualitas, intensitas nyeri
1) Keluhan nyeri menurun 2) Identifikasi skala nyeri
2) Meringis menurun 3) Identifikasi respon nyeri non verbal
3) Gelisah menurun 4) Identifikasi factor yg memperberat dan
4) Kesulitan tidur menurun memperingan nyeri
5) Identifikasi pengetahuan dan keyakinan tentang
nyeri
6) Identifikasi pengaruh budaya terhadap respon nyeri
7) Identifikasi pengaruh nyeri pada kualitas hidup
8) Monitor keberhasilan terapi komplamenter yg
sudah diberikan
9) Monitor efek samping penggunaan analgetik

Terapeutik:
1) Berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi
rasa nyeri
2) Control lingkungan yg memperberat rasa nyeri
3) Fasilitasi istirahat dan tidur
4) Pertimbangkan jenis dan sumber nyeri dalam
pemilihan strategi meredakan nyeri

Edukasi:
1) Jelaskan penyebab, periode dan pemicu nyeri
2) Jelaskan strategi meredakan nyeri
3) Anjurkan memonitor nyeri secara mandiri
4) Anjurkan menggunakan analgetik secara tepat
5) Ajarkan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi
rasa nyeri

Kolaborasi:
1) Kolaborasi pemberian analgetik, jika perlu

PEMBERIAN ANALGESIK
Observasi:
1) Identifikasi karakteristik nyeri
2) Identifikasi riwayat alergi obat
3) Identifikasi kesesuaian jenis analgesic dengan
tingkat keparahan nyeri
4) Monitor TTV sebelum dan sesudah pemberian
analgesic
5) Monitor efektifitas analgesic

Terapeutik:
1) Diskusikan jenis analgesic yang disukai untuk
mencapai analgesic optimal, jika perlu
2) Pertimbangan pengguna infuse kontinu, atau bolus
opioid untuk mempertahankan dalam serum
3) Tetapkan target efektifitas analgesic untuk
mengoptimalkan respon pasien
4) Dokumentasikan respons terhadap efek analgesic
dan efek yg tidak diinginkan

Edukasi:
1) Jelaskan efek terapi dan efek samping obat

Kolaborasi:
1) Kolaborasi pemberian dosis dan jenis analgesic,
sesuai indikasi
5.  Badan terasa Intoleransi aktivitas b.d Setelah dilakukan tindakan TERAPI AKTIVITAS
lemah kelemahan d.d badan keperawatan selama 3x24 jam, Observasi
 Frekuensi jantung terasa lemah, frekuensi maka toleransi aktivitas meningkat 1) Identifikasi defisit tingkat aktivitas
meningkat >20% jantung meningkat dengan kriteria hasil : 2) Identifikasi kemampuan berpartisipasi dalam
dari kondisi >20% dari kondisi 1) Kemudahan dalam aktivitas tertentu
istrahat istrahat melakukan aktivitas sehari- 3) Identifikasi sumber daya untuk aktivitas yang
hari meningkat diinginkan
2) Keluhan lelah menurun 4) Identifikasi strategi meningkatkan partisipasi dalam
3) Dispnea saat aktivitas aktivitas
menurun 5) Identifikasi makna aktivitas rutin (mis. Bekerja)
4) Dispnea setelah aktivitas dan waktu luang
menurun 6) Monitor respons emosional, fisik, sosial, dan
spiritual terhadap aktivitas

Terapeutik
1) Fasilitasi fokus pada kemampuan, bukan defisit
yang dialami
2) Sepakati komitmen untuk meningkatkan frekwensi
dalam rentang aktivitas
3) Fasilitasi memilih aktivitas dan tetapkan tujuan
aktivitas yang konsisten sesuai kemampuan fisik,
psikologis, dan sosial
4) Koordinasikan pemilihan aktivitas sesuai usia
5) Fasilitasi makna aktivitas yang dipilih
6) Fasilitasi transportasi untuk menghadiri aktivitas,
jika sesuai
7) Fasilitasi pasien dan keluarga dalam menyesuaikan
lingkungan untuk mengakomodasi aktivitas yang
dipilih
8) Fasilitasi aktivitas fisik secara rutin (mis.
Ambulasi, mobilisasi, dan perawatan diri) sesuai
kebutuhan
9) Fasilitasi aktivitas pengganti saat mengalami
keterbatasan waktu, energi, atau gerak
10) Fasilitasi aktivitas motorik kasar untuk pasien
hiperaktif
11) Tingkatkan aktivitas fisik untuk memelihara berat
badan, jika sesuai
12) Fasilitasi aktivitas motorik untuk merelaksasikan
otot
13) Fasilitasi aktivitas dengan komponen memori
implisit dan emosional (mis. Kegiatan keagamaan
khusus) untuk pasien demensia, jika sesuai
14) Libatkan dalam permainan kelompok yang tidak
kompetitif, terstruktur, dan aktiv
15) Tingkatkan keterlibatan dalam aktivitas rekreasi
dan diversifikasi untuk menurunkan kecemasan
(mis. Vocal group, bola, voli, tenis meja, jogging,
berenang, tugas sederhana, permainan sederhana,
tugas rutin, tugas rumah tangga, perawatan diri,
teka-teki dan kartu).
16) Libatkan keluarga alam aktivitas, jika perlu
17) Fasilitasi mengembangkan motivasi dan penguatan
diri
18) Fasilitasi pasien dan keluarga memantau
kemajuannya sendiri untuk mencapai tujuan
19) Jadwalkan aktivitas dalam rutinitas sehari-hari
20) Berikan penguatan positif atas partisipasi dalam
aktivitas

Edukasi
1) Jelaskan metode aktivitas fisik sehari-hari, jika
perlu
2) Ajarkan cara melakukan aktivitas yang dipilih
3) Anjurkan melakukan aktivitas fisik, sosial,
spiritual, dan kognitif dalam menjaga fungsi dan
kesehatan
4) Anjurkan terlibat dalam aktivitas kelompok atau
terapi, jika sesuai

MANAJEMEN ENERGI
Observasi
1) Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang
mengakibatkan kelelahan
2) Monitor kelelahan fisik dan emosional
3) Monitor pola dan jam tidur
4) Monitor lokasi dan ketidaknyamanan selama
melakukan aktivitas

Terapeutik
1) Sediakan lingkungan nyaman dan rendah stimulus
(mis. Cahaya, suara, kunjungan)
2) Lakukan latihan rentang gerak pasif dan/atau aktif
3) Berikan aktivitas distraksi yang menenangkan
4) Fasilitasi duduk disamping tempat tidur, jika tidak
dapat berpindah atau berjalan

Edukasi
1) Anjurkan tirah baring
2) Anjurkan melakukan aktivitas secara bertahap
3) Anjurkan menghubungi perawat jika tanda dan
gejala kelelahan tidak berkurang
4) Ajarkan strategi koping untuk mengurangi kelelahan

Kolaborasi
1) Kolaborasi dengan ahli gizi tentang cara
meningkatkan asupan makanan.
6.  Suhu tubuh diatas Hipertermia b.d proses Setelah dilakukan tindakan MANAJEMEN HIPERTERMIA
nilai normal penyakit (infeksi) d.d keperawatan selama 3x24 jam, Observasi
suhu tubuh diatas nilai maka termoregulasi membaik 1) Identifikasi penyebab hipertermia (mis,dehidrasi
normal dengan kriteria hasil : terpapar lingkungan panas,penggunanna inkubator
1) Suhu tubuh membaik 2) Monitor suhu tubu
2) Kulit merah menurun 3) Monitor kadar elektrolit
4) Monitor haluan urine
5) Monitor kompilkasi akibat hipertemia

Terapeutik
1) Sediakan lingkungan yang dingin
2) Longgarkan atua lepaskan pakaian
3) Basahi dan kipasi permukaan tubuh
4) Berikan cairan oral
5) Ganti linen setiap hari atau sering jika mengalami
hiperhidrosis(keringat lebih)
6) Lakukan pendingianan eksternal(mis, selimut
hipotermia atau kompres dingin pada
dahi,leher,dada,abdomen,aksila)
7) Hindari pemberian antipiretk atau aspirin
8) Berikan oksigen jika perlu

Edukasi
1) Anjurkan tirah baring

Kolaborasi
1) Kolaborasi pemberian cairan dan elektrolit
intravena,jika perlu
7.  Demam meriang Termoregulasi tidak Setelah dilakukan tindakan REGULASI TEMPERATUR
>1 bulan efektif b.d proses keperawatan selama 3x24 jam, Observasi:
 Keringat penyakit (infeksi) d.d maka termoregulasi membaik 1) Monitor suhu pasien sampai stabil (36,5º-37,5ºC)
berlebihan di menggigil, kulit dengan kriteria hasil : 2) Monitor suhu tubuh pasien tiap dua jam, jika perlu
malam hari dingin/hangat, suhu 1) Menggigil menurun 3) Monitor tekanan darah, frekuensi pernapasan dan
 Menggigil tubuh fluktuasi 2) Suhu kulit membaik nadi

 Kulit 4) Monitor warna dan suhu kulit

dingin/hangat 5) Monitor dan catat tanda dan gejala hipotermia atau

 Suhu tubuh hipertemia

fluktuasi
Terapeutik:
1) Pasang alat pemantau suhu kontinu, jika perlu
2) Tingkatkan asupan cairan dan nutrisi yang adekuat
3) Gunakan matras penghangat, selimut hangat dan
penghangat ruangan untuk menaikkan suhu tubuh,
jika perlu
4) Gunakan kasur pendingin, water circulating
blankets, ice pack atau gel pad dan intravascular
cooling catheterization untuk menurunkan suh
tubuh.
5) Sesuaikan suhu lingkungan dengan kebutuhan
pasien

Edukasi:
1) Jelaskan cara pencegahan heat exhaustion dan heat
stroke
2) Jelaskan cara pencegahan hipotermi karena
terpapar udara dingin

Kolaborasi:
1) Kolaborasi pemberian antipiretik, jika perlu.
8.  Mengeluh mual Nausea b.d efek agen Setelah dilakukan tindakan LATIHAN MANAJEMEN MUNTAH
 Merasa ingin farmakologis, rasa keperawatan selama 3x24 jam, Observasi :
muntah makanan/minuman maka tingkat nausea menurun 1) Identifikasi karakterristik muntah (mis.
tidak enak d.d mengeluh dengan kriteria hasil : warna,konsistensi,adanya darah ,waktu
mual, merasa ingin 1) Keluhan mual menurun ,frekuensi,durasi) .
muntah 2) Perasaan ingin muntah 2) Periksa volume muntah
menurun 3) Identifikasi riwayat diet (mis. makanan yang tidak
3) Pucat membaik disukai,dan budaya)
4) Identifikasi factor penyebab muntah (mis.
pengobatan dan prosedur)
5) Identifikasi kerusakan esophagus dan faring
posterior jika muntah terlalu lama
6) Monitor efek manajemen muntah secara
menyeluruh
7) Monitor keseimbangan cairan dan elektrolit

Terapeutik :
1) Kontrol factor lingkungan penyebab muntah
(mis.bau tak sedap , suara , dan stimulasi visual
yang tidak menyenangkan)
2) Kurangi atau hilangkan keadaan penyebab muntah
(mis. kecemasan , ketakutan)
3) Atur posisi untuk mencegah aspirasi
4) Pertahankan kepatenan jalan napas
5) Bersihkan mulut dan hidung
6) Berikan dukungan fisik saat muntah ( mis.
membantu , membungkuk atau menundukan kepala
)
7) Berikan kenyamanan selama muntah ( mis.kompres
dingindi dahi ,atau sediakan pakaian kering dan
bersih )
8) Berikan cairan yang tidak mengandungkarbonasi
minimal 30 menit setelah muntah.
9) Berikan makanan dalam jumlah kecil dan menarik
10) Berikan makanan dingin , cairan bening , tidak
berbau , dan tidak berwarna jika perlu

Edukasi :
1) Anjurkan istirahat dan tidur yang cukup
2) Anjurkan sering membersihkan mulut kecuali jika
merangsang mual
3) Anjurkan makanan yang tinggi karbohidrat dan
rendah lenmak.
4) Anjurkan penggunaaan teknik nonfarmakologis
untuk mengatasi mual (mis.
biofeedback,hiponisis,relaksasi, terapi music)
5) Kolaborasi pemberian antimeetik,jika perlu
9.  Keringat Gangguan pola tidur b.d Setelah dilakukan tindakan DUKUNGAN TIDUR
berlebihan di hambatan lingkungan keperawatan selama 3x24 jam, Observasi :
malam hari d.d sulit tidur, sering maka pola tidur membaik dengan 1) Identifikasi pola aktivitas dan tidur
 Sulit tidur terjaga, pola tidur kriteria hasil : 2) Identifikasi factor penggganggu tidur
 Sering terjaga berubah, istrahat tidak 1) Keluhan sulit tidur 3) Identifikasi makanan dan minuman yang

 Pola tidur berubah cukup menurun menggganggu tidur

 Istrahat tidak 2) Keluhan sering terjaga

cukup menurun Terapeutik :


3) Keluhan tidak puas tidur 1) Modifikasi lingkungan
menurun 2) Batasi waktu tidur siang, jika perlu
4) Keluhan pola tidur berubah 3) Fasilitasi menghilangkan stress sebelum tidur
menurun 4) Tetapkan jadwal tidur rutin
5) Keluhan istrahat tidak 5) Lakukan prosedur untuk meningkatkan
cukup menurun kenyamanan
6) Sesuaikan jadwal pemberian obat dan/atau tindakan
untuk menunjang siklus tidur-terjaga

Edukasi
1) Jelaskan pentingnya tidur cukup selama sakit
2) Anjurkan menepati kebiasaan sebelum tidur
3) Anjurkan menghindari makanan dan minuman
yang menggganggu tidur
4) Ajarkan factor-faktor yang berkontribusi terhadap
gangguan pola tidur

EDUKASI AKTIVITAS/ISTRAHAT
Observasi :
1) Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima
informasi

Terapeutik :
1) Sediakan materi dan media pengaturan aktivitas
dan istrahat
2) Jadwalkan pemberian pendidikan kesehatan sesuai
kesepakatan
3) Berika kesempatan kepada pasien dan keluarga
untuk bertanya

Edukasi :
1) Ajarkan cara mengidentifikasi kebutuhan istrahat (
mis. kelelahan, sesak napas)
2) Ajarkan cara mengidentifikasi target dan jenis
aktivitas sesuai kemampuan
10.  Menunjukan Defisit pengetahuan b.d Setelah dilakukan tindakan EDUKASI KESEHATAN
perilaku tidak kurang terpapar keperawatan selama 3x24 jam, Observasi :
sesuai anjuran informasi d.d maka tingkat pengetahuan 1) Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima
 Menunjukan menunjukan perilaku meningkat dengan kriteria hasil : informasi
persepsi yang tidak sesuai anjuran, 1) Perilaku sesuai anjuran 2) Identifikasi faktor-faktor yang dapat meningkatkan
keliru terhadap menunjukan persepsi meningkat dan menurunkan motivasi perilaku hidup bersih dan
masalah yang keliru terhadap 2) Verbalisasi minat dalam sehat
 Menjalani masalah, menjalani belajar meningkat
pemeriksaan yang pemeriksaan yang tidak 3) Kemampuan menjelaskan Terapeutik :
tidak tepat tepat pengetahuan tentang suatu 1) Sediakan materi dan media pendidikan kesehatan
topik meningkat 2) Jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai
4) Pertanyaan tentang masalah kesepakatan
yang dihadapi menurun 3) Berika klien kesempatan untuk bertanya
5) Persepsi yang keliru
terhadap masalah menurun Edukasi :
1) Jelaskan faktor risiko yang dapat mempengaruhi
kesehatan