Anda di halaman 1dari 13

Nama : Ns. Ni Ketut Ayu Sutrisna Dewi Maha Putri, S.

Kep
Absen : 15
Angkatan : LI
Asal Instansi : UPTD. Rumah Sakit Pratama Gema Santi Nusa Penida

SEJARAH DAN PENGGUNAAN BENDERA, BAHASA, LAMBANG NEGARA


SERTA LAGU KEBANGSAAN

UU 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu
Kebangsaan

Bendera Negara Sang Merah Putih, Bahasa Indonesia, Lambang Negara Garuda
Pancasila, dan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya merupakan jati diri bangsa dan identitas
Negara Kesatuan Republik Indonesia. Keempat simbol tersebut menjadi cerminan kedaulatan
negara di dalam tata pergaulan dengan negara-negara lain dan menjadi cerminan kemandirian
dan eksistensi negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Undang-
Undang 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu
Kebangsaan merupakan jaminan kepastian hukum, keselarasan, keserasian, standardisasi, dan
ketertiban di dalam penggunaan bendera, bahasa, dan lambang negara, serta lagu kebangsaan.
UU No. 24 Tahun 2009 tentang berbagai hal yang terkait dengan penetapan dan tata cara
penggunaan bendera, bahasa, dan lambang negara, serta lagu kebangsaan, termasuk di
dalamnya diatur tentang ketentuan pidana bagi siapa saja yang secara sengaja melakukan
pelanggaran terhadap ketentuan yang terdapat di dalam UU 24/2009 tentang Bendera,
Bahasa, Dan Lambang Negara, Serta Lagu Kebangsaan.

Undang-Undang 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara,


serta Lagu Kebangsaan diterbitkan dan disahkan pada 9 Juli 2009 oleh Presiden Dr. H. Susilo
Bambang Yudhoyono. UU No. 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang
Negara, Serta Lagu Kebangsaan diundangakan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2009 Nomor 109 dan Penjelasan Atas UU 24/2009 tentang Bendera, Bahasa, dan
Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan ke dalam Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5035 oleh Menkumham Andi Matalatta pada tanggal 9 Juli 2009 di Jakarta.

1. SEJARAH DAN PENGGUNAAN BENDERA MERAH PUTIH

Sejarah

Bendera nasional Indonesia adalah sebuah bendera berdesain sederhana dengan 2


warna yang di bagi menjadi 2 bagian secara mendatar. Warna diambil dari warna kerajaan
majapahit. Sebenarnya tidak hanya kerajaan majapahit saja yang memakai bendera merah
putih sebagai lambang kebesaran. Sebelum kerajaan majapahit, kerajaan Kediri telah
memakai panji – panji merah putih. Selain itu, bendera perang Sisingamaraja IX dari tanah
Batak pun memakai warna merah putih sebagai warna benderanya, berbagai pedang kembar
warna putih dengan dasar merah menyala dan putih. Warna
merah dan putih ini adlah bendera Sisingamaraja ke XII. Dua pedang kembar melambangkan
pisau Gajah Dompak pusaka raja – raja sisingamaraja yang ke I – XII.

Ketika terjadi perang di Aceh pejuang – pejuang Aceh telah menggunakan bendera
perang berupa umbul – umbul dengan warna merah dan putih, dibagian belakang
diaplikasikan gambar pedang, bulan sabit, matahari, dan bingtang serta beberapa ayat Suci
Al-qur’an.

Di zaman kerajaan Bugis Bone, Sulawesi Selatan sebelum arung Palaka, bendera
merah putih adalah symbol kekuasaan dan kebesaran kerajaan Bone.

Bendera Bone itu dikenal dengan nama worom porang pada waktu perang Jawa
(1825 – 1830). Pangeran Diponegoro memakai panji – panji merah putih dalam perjuangan
melawan Belanda. Bendera yang dinamakan Sang Merah Putih ini pertama kali digunakan
oleh pelajar dan kaum nasional pada wal abad ke – 20 dibawah kekuasaan Belanda. Setelah
perang dunia ke – 2 berakhir, Indonesia merdeka dan mulai menggunakan bendera ini sebagai
bendera nasional.

Sang saka merah putih merupakan julukan kehormatan terhadap bendera merah putih
Negara Indonesia. Bendera pusaka ini dibuat oleh Ibu Fatmawati istri Presiden Soekarno
pada tahun 1944 dan berukuran 276 x 200 cm. Bendera ini berbahan dari katun Jepang,
namun ada juga yang mengatakan terbuat dari kain woll dari London yang saat itu memang
khusus untuk membuat bendera – bendera Negara didunia karena terkenal dengan
keawetannya. Sejak tahun 1946 – 1968, bendera tersebut hanya dikibarkan pada saat setiap
HUTRI. Sejak 1969 bendera tersebut tidak pernah di kibarkan lagi, dan sampai saat ini
disimpan di Istana Negara (Istana Merdeka).

a) Arti dan Kiasan Warna Bendera Merah Putih

Merah berarti berani dan putih berarti suci atau bersih , jadi arti kiasan warna bendera
merah putih adalah Bangsa Indonesia sebagai Bangsa yang berani karena dilandaskan
kebenaran . Tidak memaksakan kehendak pada negara lain , menjaga ketertiban dan
persaudaraan dunia.

b) Cara Penggunaan Bendera Merah Putih


1. Dikibarkan dari pagi hari sampai petang ( dari matahari terbit hingga terbenam ).
2. Untuk mencegah dari kerusakan / kotor , Bendera Merah Putih dapat diturunkan jika
turun hujan lebat.
3. Bendera Merah Putih dikibarkan selalu lebih tinggi dibandingkan bendera – bendera
organisasi lainnya ( Bendera Pramuka , Bendera Kepanduan , Bendera Osis , dsb )
4. Bendera Merah Putih dikibarkan sejajar jika dikibarkan dengan Bendera Negara lain.
5. Bendera Merah Putih dikibarkan selalu paling kanan . Jika dibuat untuk hiasan atau
lain-lainnya , warna merah ditetapkan disebelah kanan warna putih .
6. Bendera merah putih tidak boleh kotor , digambari , dicorat – coret.
7. Bendera Merah Putih tidak boleh menyentuh tanah.
8. Bendera Merah Putih selalu disimpan ditempat yang baik dan bersih.
9. Pengibaran Bendera Merah Putih yaitu pada hari-hari besar Nasional.
10. Cara mengibarkan merah putih setengah tiang dalam upacara adalah dinaikan dahulu
sampai kepuncak tiang kemudian diturunkan lagi sampai setengah tiang.
11. Cara melipat bendera merah putih adalah warna merah dibagian luar dan putih
didalam.
12. Bendera Merah Putih jika dipergunakaan sebagai penutup peti jenazah . Maka warna
merah diletakkan disebelah kanan jenazah .

2. SEJARAH DAN PENGGUNAAN BAHASA INDONESIA

Sejarah bahasa indonesia

Bahasa Indonesia dikenal sebagai bahasa melayu yang dalam perkembangannya


mulai digunakan sebagai bahasa resmi dari Bangsa Indonesia dan juga dikenal sebagai bentuk
bahasa pemersatu bangsa.

Bahasa Indonesia diresmikan setelah proses proklamasi dari kemerdekaan republik


Indonesia. Dalam hal ini satu hari setelahnya, hal ini juga dilakukan secara bersamaan dengan
dimulainya konstitusi . sedangkan di kawasan Timor Leste bahasa Indonesia sendiri dikenal
sebagai bahasa kerja.

Sementara itu, jika dilihat dari sisi linguistik, bahasa Indonesia merupakan bentuk
ragam bahasa dari bahasa melayu. Sedangkan dasar yang digunakan olehnya adalah bahasa
Melayu Riau yang tentunya diambil dari kepulauan Riau sejak abad ke 19.

Sebagai bahasa pemersatu bangsa, tentunya bahasa Indonesia menjadi bahasa yang
digunakan dalam aktivitas harian dari masyarakat Indonesia yang juga menyatukan
perbedaan dalam satu bahasa yang sama dan dimengerti oleh semua penduduknya.

Sejarah Singkat Bahasa Indonesia


Berkaitan dengan pengertian yang telah dijelaskan pada bagian di atas tadi, sejarah
bahasa Indonesia tidak lepas dari penggunaan nama yang dimilikinya. Dengan kata lain,
penamaan “Bahasa Indonesia” itu sendiri bermula sejak adanya Sumpah Pemuda yang terjadi
pada tanggal 28 Oktober tahun 1928 lalu.

Hal ini berkaitan dengan menghindari kesan dari imperialism bahasa apabila
masyarakat Indonesia masih saja menggunakan bahasa Melayu sebagai nama yang
dimilikinya. Karena itulah dalam proses tersebut terjadi beberapa perbedaan yang
ditimbulkan pada keberadaan dari bahasa Indonesia saat ini dengan jenis bahasa melayu yang
digunakan di kawasan Riau atau Semenanjung Malaya.

Hingga saat ini Bahasa Indonesia sendiri dikenal sebagai kata-kata yang hidup dan
tentunya banyak menghasilkan beragam kata baru, baik itu berkaitan dengan proses
penciptaan atau bahkan melalui sistem penyerapan dari bahasa asing serta bahasa daerah
yang ada di sekitarnya.

Bahasa Indonesia itu sendiri dituturkan serta dipahami oleh masyarakat Indonesia.
Meskipun tidak termasuk dalam bahasa ibu namun bahasa indonesia menjadi bahasa yang
memiliki jumlah penutur terbanyak. Bahkan sebagian besar dari warga negara Indonesia
sendiri menggunakan bahasa tersebut dalam kehidupan sehari-harinya.

Sementara itu, penutur bahasa Indonesia sering kali menggunakan versi kolokial atau
bahasa sehari-hari yang digunakannya. Hal ini seperti terlihat pada proses
mencampuradukkan antara dialek melayu dengan bahasa ibu yang dimilikinya.

Lebih dari itu, bahasa Indonesia juga dikenal sebagai bahasa dengan tingkat
penggunaan yang luas. Hal ini terbukti dengan banyaknya bahasa tersebut yang digunakan di
berbagai media, atau bahkan lingkungan pendidikan, seperti halnya sekolah hingga perguruan
tinggi.

Dalam bahasa Indonesia tata bahasa serta fonologi yang dimilikinya relatif lebih
mudah untuk dipahami, karena itulah dalam pemahaman aturan dasarnya pun lebih gampang
untuk diikuti dan digunakan dalam aktivitas komunikasi.

Berkaitan dengan keberadaan bahasa melayu yang menjadi dasar dari munculnya
bahasa Indonesia, pada dasarnya terdapat 4 faktor yang menjadikan bahasa tersebut kemudian
diangkat sebagai bahas Indonesia, diantaranya:

a. Faktor yang mendasari munculnya bahasa indonesia

Bahasa melayu dikenal sebagai lingua franca untuk bangsa Indonesia, termasuk dalam
bahasa perdagangan serta bahasa dalam sistem perhubungan

Sistem dalam bahasa melayu itu sendiri terbilang sederhana, karena itulah sangat
mudah bagi masyarakat Indonesia untuk mengerti dan mempelajarinya. Hal ini berkaitan
dengan penggunaan bahasa melayu yang tidak menggunakan tingkatan dalam bahasa yang
dimilikinya.
Beragam suku atau etnis besar yang ada di Indonesia seperti halnya suku jawa, suku
sunda, dan juga beragam suku lainnya juga dapat dengan mudah dan secara sukarela
menerima bahasa melayu tersebut sebagai bahasa Indonesia yang kemudian digunakan
sebagai satu jenis bahasa nasional.

Bahasa melayu dinilai memiliki kesanggupan yang dapat digunakan sebagai bahasa
budaya. Dalam hal ini bahasa tersebut memiliki arti yang lebih luas.

b. Perkembangan Bahasa Indonesia

Perkembangan bahasa Indonesia terus berjalan termasuk pada masa reformasi. Hal ini
ditandai dengan munculnya bahasa pers atau bahkan bahasa media massa yang dapat anda
lihat melalui :

1. Bentuk dari jumlah kata singkatan yang meningkat dan terus bertambah
2. Penggunaan dari istilah atau bahasa asing yang juga terdapat dalam surat kabar
dengan jumlah yang semakin banyak

Dalam hal ini jelas pers memiliki jasa yang luar biasa pada proses perkembangan
bahasa Indonesia. Pasalnya melalui media tersebut lah masyarakat mulai diperkenalkan
dengan beragam istilah, kemudian ungkapan, penggunaan kata-kata baru seperti halnya
rekonsiliasi, hujat, konspirasi, kroni, provokator, arogan, proaktif, KKN dan juga beragam
istilah serta kata-kata lainnya yang sebelum itu tidak atau bahkan jarang digunakan.

Sementara itu, dalam perkembangan tersebut juga terlihat bagaimana kedudukan dari
bahasa Indonesia itu sendiri yang mana pada awalnya dikenal sebagai bahasa nasional serta
bahasa pemersatu.

Dengan demikian, berdasarkan kedudukannya tersebut jelas bahwa bahasa Indonesia


tersebut memiliki fungsi yang cukup beragam, dimulai dari :

c. Fungsi Bahasa Indonesia Berdasarkan Kedudukan

1) Sebagai lambang identitas atau pun jati diri bangsa


2) Sebagai lambang kebanggaan dari bangsa Indonesia
3) Sebagai alat pemersatu yang tentunya digunakan di berbagai kalangan dari
masyarakat Indonesia yang memiliki latar belakang dari etnis serta sosial budaya yang
berbeda, termasuk bermacam bahasa daerah yang turut berbeda pula.
4) Sebagai alat komunikasi atau penghubung yang dapat menyatukan antar daerah serta
antar budaya yang ada di Indonesia.
5) Selain itu, dikenal sebagai bahasa resmi tentunya bahasa Indonesia pun memiliki
dasar yuridis konstitusional, yang berada pada bab XV pasal 36 dari UUD 1945.
Memiliki kedudukan sebagai bahasa resmi, tentunya bahasa Indonesia tersebut pun
dalam perkembangannya memiliki fungsi yang leibh beragam seperti halnya :
d. Fungsi Bahasa Indonesia Lainnya

1) Sebagai bahasa resmi dari suatu negara


2) Sebagai bahasa pengantar resmi yang tentunya wajib untuk digunakan dalam setiap
lembaga pendidikan yang ada di Indonesia.
3) Sebagai bahasa resmi dalam hubungan tingkat nasional. Hal ini berkaitan dengan
kegunaannya yang penting dalam proses pelaksanaan perencanaan dari pembangunan
serta proses pemerintahan.
4) Sebagai bahasa resmi yang tentunya digunakan dalam pemanfaatan dari ilmu serta
teknologi dan juga pengembangan kebudayaan.

Selain melihat perkembangan bahasa Indonesia dari segi fungsi dan kedudukannya,
berdasarkan sejarah perkembangan bahasa ini dimulai sejak masa kolonial belanda yang
mulai membangun penerbit buku bacaan yang dikenal dengan nama Commissie voor de
Volkslectuur atau disebut pula sebagai Taman Bacaan Rakyat yang kemudian diubah menjadi
Balai Pustaka pada tahun 1917.

Badan penerbitan tersebut juga mulai menerbitkan beragam jenis novel seperti halnya
Siti Nurbaya dan lainnya yang disebarkan dalam bahasa Melayu.

Setelah itu perkembangan pun dilanjut pada tahun 1927 yang dilakukan oleh Jahja
Datoek Kajo yang mulai menggunakan bahasa Indonesia dalam pidato pertamanya.
Sedangkan pada tanggal 28 Oktober 1928, Muhammad Yamin melakukan peresmian untuk
menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan dari bangsa Indonesia.

Kemudian tahun 1933 mulai berdiri para sastrawan muda seperti halnya pujangga
baru yang tentunya dipimpin oleh Takdir Alisyahbana, yang kemudian menyusun tata bahasa
baru dari bahasa Indonesia pada tahun 1936, dan pada tanggal 25 hingga 28 Juni 1938 mulai
diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia yang mana penggunaannya berlanjut hingga saat
ini.

3. SEJARAH DAN PENGGUNAAN LAMBANG GARUDA

Sejarah Lahirnya Garuda Pancasila

Setelah Perang Kemerdekaan Indonesia 1945-1949, disusul pengakuan kedaulatan


Indonesia oleh Belanda melalui Konferensi Meja Bundar pada tahun 1949, dirasakan
perlunya Indonesia (saat itu Republik Indonesia Serikat) memiliki lambang negara. Tanggal
10 Januari 1950 dibentuk Panitia Teknis dengan nama Panitia Lencana Negara di bawah
koordinator Menteri Negara Zonder Porto Folio Sultan Hamid II dengan susunan panitia
teknis Muhammad Yamin sebagai ketua, Ki Hajar Dewantoro, M A Pellaupessy, Moh Natsir,
dan RM Ng Poerbatjaraka sebagai anggota. Panitia ini bertugas menyeleksi usulan rancangan
lambang negara untuk dipilih dan diajukan kepada pemerintah.

Merujuk keterangan Bung Hatta dalam buku “Bung Hatta Menjawab” untuk
melaksanakan Keputusan Sidang Kabinet tersebut Menteri Priyono melaksanakan sayembara.
Terpilih dua rancangan lambang negara terbaik, yaitu karya Sultan Hamid II dan karya M
Yamin. Pada proses selanjutnya yang diterima pemerintah dan DPR adalah rancangan Sultan
Hamid II. Karya M. Yamin ditolak karena menyertakan sinar-sinar matahari yang
menampakkan pengaruh Jepang.

Desain awal
Setelah rancangan terpilih, dialog intensif antara perancang (Sultan Hamid II),
Presiden RIS Soekarno dan Perdana Menteri Mohammad Hatta, terus dilakukan untuk
keperluan penyempurnaan rancangan itu.

Mereka bertiga sepakat mengganti pita yang dicengkeram Garuda, yang semula
adalah pita merah putih menjadi pita putih dengan menambahkan semboyan “Bhineka
Tunggal Ika”.Tanggal 8 Februari 1950, rancangan lambang negara yang dibuat Menteri
Negara RIS, Sultan Hamid II diajukan kepada Presiden Soekarno. Rancangan lambang
negara tersebut mendapat masukan dari Partai Masyumi untuk dipertimbangkan kembali,
karena adanya keberatan terhadap gambar burung Garuda dengan tangan dan bahu manusia
yang memegang perisai dan dianggap terlalu bersifat mitologis.

Desain pilihan
Sultan Hamid II kembali mengajukan rancangan gambar lambang negara yang telah
disempurnakan berdasarkan aspirasi yang berkembang, sehingga tercipta bentuk Rajawali-
Garuda Pancasila. Disingkat Garuda Pancasila. Presiden Soekarno kemudian menyerahkan
rancangan tersebut kepada Kabinet RIS melalui Moh Hatta sebagai perdana menteri. AG
Pringgodigdo dalam bukunya “Sekitar Pancasila” terbitan Dep Hankam, Pusat Sejarah ABRI
menyebutkan, rancangan lambang negara karya Sultan Hamid II akhirnya diresmikan
pemakaiannya dalam Sidang Kabinet RIS pada tanggal 11 Februari 1950. Ketika itu gambar
bentuk kepala Rajawali Garuda Pancasila masih “gundul” dan tidak berjambul seperti bentuk
sekarang ini. Presiden Soekarno kemudian memperkenalkan untuk pertama kalinya lambang
negara itu kepada khalayak umum di Hotel Des Indes Jakarta pada 15 Februari 1950.

Soekarno terus memperbaiki bentuk Garuda Pancasila. Pada tanggal 20 Maret 1950
Soekarno memerintahkan pelukis istana, Dullah, melukis kembali rancangan tersebut; setelah
sebelumnya diperbaiki antara lain penambahan “jambul” pada kepala Garuda Pancasila, serta
mengubah posisi cakar kaki yang mencengkram pita dari semula di belakang pita menjadi di
depan pita, atas masukan Presiden Soekarno. Dipercaya bahwa alasan Soekarno
menambahkan jambul karena kepala Garuda gundul dianggap terlalu mirip dengan Bald
Eagle, Lambang Amerika Serikat.

Untuk terakhir kalinya, Sultan Hamid II menyelesaikan penyempurnaan bentuk final


gambar lambang negara, yaitu dengan menambah skala ukuran dan tata warna gambar
lambang negara. Rancangan Garuda Pancasila terakhir ini dibuatkan patung besar dari bahan
perunggu berlapis emas yang disimpan dalam Ruang Kemerdekaan Monumen Nasional
sebagai acuan, ditetapkan sebagai lambang negara Republik Indonesia, dan desainnya tidak
berubah hingga kini.
Lambang negara Republik Indonesia yang ditetapkan resmi dalam Peraturan
pemerintah no 66 tahun 195 1. Ketetapan ini dibuat di Jakarta pada 17 Oktober 1951 pada
saat berlakunya surut yaltu tanggal 17 Agustus 1950. Lambang Garuda Pancasila ini mulai
digunakan pada,sidang pertama DPR RIS, tanggal 20 Februari 1950. Saat itu lambang negara
sudah sama bentuknya dengan yang kita lihat sekarang ini.

Cerita di Balik Layar


Konon, dalam rangka mencari ide untuk membuat lambang Negara, mulanya Sultan
Hamid mengunjungi Sintang, kemudian beliau bertolak ke Putus Sibau. Sepulang dari Putus
Sibau, Ia kembali Singgah di kerajaan Sintang, dan tertarik pada patung Burung Garuda yang
menghiasi Gantungan Gong yang dibawa Patih Lohgender dari Majapahit. Patung Burung
Garuda sendiri, ketika itu sudah menjadi lambang kerajaan Sintang.

Sebelumnya, di Putus Sibau, pihak swa praja di sana mengusulkan kepada Sultan
Hamid untuk menggunakan lambang burung Enggang. Namun Ia tak langsung
mengakomodir usul tersebut. Karena Ia tertarik pada lambang Burung Garuda yang menjadi
lambang kerajaan Sintang Sultan Hamid berinisiatif meminjam lambang kerajaan Sintang
untuk dibawa, “Saat itu pihak swa praja Sintang tak keberatan, namun dengan beberapa
syarat, salah satunya Sultan Hamid harus menandatangani semacam berita acara peminjaman,
dan waktu peminjaman sendiri tak boleh lebih dari 1 bulan fakta bahwa bentuk Burung
Garuda yang pernah dibawa Sultan Hamid II tersebut kini di Simpan di Museum Dara Juanti,
yang puluhan tahun lalu menjadi pusat Kerajaan Sintang.

LAMBANG PANCASILA

1. Sila pertama

Sila pertama dalam pancasila adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, berlambang bintang
emas dengan lima sudut serta berlatar belakang hitam. Bintang emas menggambarkan agama
– agama besar di Indonesia, Hindu, Islam, Budha, Kristen, Khatolik dan juga ideologi sekuler
sosialisme.

Lambang bintang juga diartikan ,sebagai sebuah cahaya untuk menerangi Dasar
Negara yang lima (Pembukaan UUD ‘45 alinea 4), Sifat Negara yang lima (pembukaan UUD
’45 alinea 2), dan tujuan negara yang lima (Pembukaan UUD ’46 alinea 4). Sedangkan latar
berwarna hitam menunjukkan warna alam dan mengandung arti bahwa berkat rahmat Allah
adalah sumber dari segalanya.

2. Sila kedua

Sila kedua adalah Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, yang dilambangkan
dengan tali rantai bermata bulatan dan persegi di bagian kiri bawah perisai berlatar merah.
Rantai tersebut terdiri dari mata rantai yang berbentuk segi empat dan lingkaran yang saling
berkaitan membentuk lingkaran. Gelang persegi menggambarkan pria, sedangkan bentuk
lingkarannya menggambarkan wanita. Ini menandakan hubungan antara sesama manusia,
baik laki laki dan perempuan yang saling membantu, bahu-membahu dan bersatu.

3. Sila ketiga

Sila ke 3 adalah Persatuan Indonesia, dilambangkan dengan pohon beringin di bagian


kiri atas perisai berlatar putih. Pohon beringin merupakan sebuah pohon besar, hal ini
mencerminkan Bangsa Indonesia yang menjadi tempat berteduh bagi seluruh rakyat
Indonesia. Pohon beringin juga berakar tunjang – sebuah akar tunggal panjang yang tumbuh
sangat dalam dbawah tanah, hal ini mencerminkan kesatuan dan persatuan Bangsa Indonesia.

Pohon beringin juga memiliki banyak sekali akar yang bergelantungan dari
rantingnya, hal ini mencerminkan bahwa Indonesia adalah negara kesatuan namun
mempunyai berbagai macam latar belakang suku, agama dan budaya yang berbeda beda dari
sabang sampe merauke.

4. Sila keempat

Sila ke 4 adalah Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam


Permusyawaratan/Perwakilan yang dilambangkan dengan kepala banteng di bagian kanan
atas perisai berlatar merah. Makna lambang ini Banteng merupakan hewan sosial yang kuat
dan sering berkelompok atau berkumpul, ini menggambarkan bahwa masyarakat harus
bermusyawarah, kekeluargaan dengan berkumpul atau mendiskusikan sesuatu dalam
mengambil keputusan.
5. Sila kelima

Sila ke 5 adalah Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia yang dilambangkan
dengan kapas dan padi di bagian kanan bawah perisai berlatar putih. Padi dan kapas adalah
kebutuhan utama semua masyarakat Indonesia tanpa melihat status dan kedudukannya, padi
melambangkan makanan pokok, sedangkan kapas melambangkan sandang / pakaian. Ini
mencerminkan persamaan sosial, dimana tidak ada perbedaan dan kesenjangan
sosial/ekonomi antara satu dengan yang lainnya.

a. Aturan Penggunaan Lambang

Penggunaan lambang negara diatur dalam UUD 1945 pasal 36A dan UU No 24
Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan. (LN
2009 Nmr 109, TLN 5035). Sebelumnya lambang negara diatur dalam Konstitusi RIS, UUD
Sementara 1950, dan Peraturan Pemerintah No. 43/1958,

1. Lambang Negara menggunakan warna pokok yang terdiri atas:


 warna merah di bagian kanan atas dan kiri bawah perisai
 warna putih di bagian kiri atas dan kanan bawah perisai
 warna kuning emas untuk seluruh burung Garuda
 warna hitam di tengah-tengah perisai yang berbentuk jantung, dan
 warna alam untuk seluruh gambar lambang.

2. Lambang Negara wajib digunakan di:

Dalam gedung, kantor, atau ruang kelas satuan pendidikan, luar gedung atau kantor,
lembaran negara, tambahan lembaran negara, berita negara, dan tambahan berita negara,
paspor, ijazah, dan dokumen resmi yang diterbitkan pemerintah,
uang logam dan uang kertas, atau
meterai.

Dalam hal Lambang Negara ditempatkan bersama-sama dengan Bendera Negara,


gambar Presiden dan/atau gambar Wakil Presiden, penggunaannya diatur dengan ketentuan:
Lambang Negara ditempatkan di sebelah kiri dan lebih tinggi daripada Bendera Negara; dan
gambar resmi Presiden dan/atau gambar Wakil Presiden ditempatkan sejajar dan dipasang
lebih rendah daripada Lambang Negara.

Setiap orang dilarang:

 mencoret, menulisi, menggambari, atau membuat rusak Lambang Negara dengan maksud
menodai, menghina, atau merendahkan kehormatan Lambang Negara;
 menggunakan Lambang Negara yang rusak dan tidak sesuai dengan bentuk, warna, dan
perbandingan ukuran;
 membuat lambang untuk perseorangan, partai politik, perkumpulan, organisasi dan/atau
perusahaan yang sama atau menyerupai Lambang Negara; dan
 menggunakan Lambang Negara untuk keperluan selain yang diatur dalam Undang-Undang
ini.

4. SEJARAH DAN PENGGUNAAN LAGU KEBANGSAAN

Indonesia Raya adalah lagu kebangsaan Republik Indonesia. Lagu ini pertama kali
diperkenalkan oleh komponisnya, Wage Rudolf Soepratman, pada tanggal 28
Oktober 1928 pada saat Kongres Pemuda II di Batavia. Lagu ini menandakan kelahiran
pergerakan nasionalisme seluruh nusantara di Indonesia yang mendukung ide satu
"Indonesia" sebagai penerus Hindia Belanda, daripada dipecah menjadi beberapa
koloni.Stanza pertama dari Indonesia Raya dipilih sebagai lagu kebangsaan ketika Indonesia
memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945.

Indonesia Raya dimainkan pada upacara bendera. Bendera Indonesia dinaikkan


dengan khidmat dan gerakan yang diatur sedemikian supaya bendera mencapai puncak tiang
bendera ketika lagu berakhir. Upacara bendera utama diadakan setiap tahun pada tanggal 17
Agustus untuk memperingati hari kemerdekaan Indonesia. Upacara ini dipimpin
oleh Presiden Indonesia.Setiap orang yang hadir pada saat Lagu Kebangsaan diperdengarkan
dan/atau dinyanyikan, wajib berdiri tegak dengan sikap hormat

Sejarah

Ketika mempublikasikan Indonesia Raya tahun 1928, Wage Rudolf


Soepratman dengan jelas menuliskan "lagu kebangsaan" di bawah judul Indonesia Raya.
Teks lagu Indonesia Raya dipublikasikan pertama kali oleh suratkabar Sin Po, sedangkan
rekaman pertamanya dimiliki oleh seorang pengusaha bernama Yo Kim Tjan.

Setelah dikumandangkan tahun 1928 dihadapan para peserta Kongres Pemuda


II dengan biola, pemerintah kolonial Hindia Belanda segera melarang penyebutan lagu
kebangsaan bagi Indonesia Raya. Meskipun demikian, para pemuda tidak gentar. Mereka
menyanyikan lagu itu dengan mengucapkan "Mulia, Mulia!" (bukan "Merdeka, Merdeka!")
pada refrein. Akan tetapi, tetap saja mereka menganggap lagu itu sebagai lagu kebangsaan.
Selanjutnya lagu Indonesia Raya selalu dinyanyikan pada setiap rapat partai-partai politik.
Setelah Indonesia merdeka, lagu itu ditetapkan sebagai lagu Kebangsaan perlambang
persatuan bangsa.

Namun pada saat menjelaskan hasil Festival Film Indonesia (FFI) 2006 yang
kontroversial dan pada kompas tahun 1990-an, Remy Sylado, seorang budayawan dan
seniman senior Indonesia mengatakan bahwa lagu Indonesia Raya merupakan jiplakan dari
sebuah lagu yang diciptakan tahun 1600-an berjudul Lekka Lekka Pinda Pinda. Kaye A.
Solapung, seorang pengamat musik, menanggap tulisan Remy dalam Kompas tanggal 22
Desember 1991. Ia mengatakan bahwa Remy hanya sekadar mengulang tuduhan Amir
Pasaribu pada tahun 1950-an. Ia juga mengatakan dengan mengutip Amir Pasaribu bahwa
dalam literatur musik, ada lagu Lekka Lekka Pinda Pinda di Belanda, begitu pula Boola-
Boola di Amerika Serikat. Solapung kemudian membedah lagu-lagu itu. Menurutnya, lagu
Boola-boola dan Lekka Lekka tidak sama persis dengan Indonesia Raya, dengan hanya
delapan ketuk yang sama. Begitu juga dengan penggunaan Chord yang jelas berbeda.
Sehingga, ia menyimpulkan bahwa Indonesia Raya tidak menjiplak.

NASKAH PADA KORAN SIN PO (1928)

Lagu Indonesia Raya diciptakan oleh WR Supratman dan dikumandangkan pertama


kali di muka umum pada Kongres Pemuda 28 Oktober 1928 di Jakarta (pada usia 25 tahun),
dan disebarluaskan oleh koran Sin Po pada edisi bulan November 1928. Naskah tersebut
ditulis oleh WR Supratman dengan Tangga Nada C (natural) dan dengan catatan Djangan
Terlaloe Tjepat, sedangkan pada sumber lain telah ditulis oleh WR Supratman pada Tangga
Nada G (sesuai kemampuan umum orang menyanyi pada rentang a - e) dan dengan
irama Marcia, Jos Cleber (1950) menuliskan dengan irama Maestoso con bravura (kecepatan
metronome 104).

ARANSEMEN SIMFONI JOS CLEBER (1950)

Secara musikal, lagu ini telah dimuliakan — justru — oleh orang Belanda (atau
Belgia) bernama Jos Cleber (pada waktu itu ia berusia 34 tahun) yang tutup usia
tahun 1999 pada usia 83 tahun. Setelah menerima permintaan Kepala Studio RRI
Jakarta adalah Jusuf Ronodipuro sejak pada tahun 1950, Jos Cleber pun menyusun aransemen
baru, yang penyempurnaannya ia lakukan setelah juga menerima masukan dari
Presiden Soekarno.

Rekaman asli (1950) dan rekam ulang (1997)

Rekaman asli dari Jos Cleber sejak pada tahun 1950 dari Jakarta Philharmonic
Orchestra dimainkan perekaman secara bersuara stereo di Bandar Lampung sejak peresmian
oleh Presiden Soeharto sejak pada tanggal 1 Januari 1992 dan direkam kembali secara digital
di Australia sejak bertepatan pada Kerusuhan Mei 1998 yang diaransemen oleh Jos
Cleber yang tersimpan di RRI Jakarta oleh Victoria Philharmonic Orchestra di bawah
konduktor oleh Addie Muljadi Sumaatmadja yang berkerjsama oleh Twilite Orchestra yang
diletak debut album pertama oleh Simfoni Negeriku yang durasi selama 1-menit 47.

PENGGUNAAN LAGU KEBANGSAAN

Lagu kebangsaan Indonesia Raya diperdengarkan dan/atau dinyanyikan:


a. Untuk menghormati Presiden dan/atau Wakil Presiden Republik Indonesia
b. Untuk menghormati Bendera Negara pada waktu pengibaran atau penurunan Bendera
Negara yang diadakan dalam upacara;
c. Dalam acara resmi yang diselenggarakan oleh pemerintah;
d. Dalam acara pembukaan sidang paripurna Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan
Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, dan Dewan Perwakilan Daerah;
e. Untuk menghormati kepala negara atau kepala pemerintahan negara sahabat dalam
kunjungan resmi;
f. Dalam acara atau kegiatan olahraga internasional; dan
g. Dalam acara ataupun kompetisi ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni internasional yang
diselenggarakan di Indonesia.

Lagu kebangsaan juga dapat diperdengarkan/dinyanyikan untuk keperluan lain selain


yang disebut diatas. Diantaranya yaitu untuk mengekspresikan rasa kebangsaan, patriotisme,
dan/atau nasionalisme.Lagu kebangsaan juga dapat diperdengarkan/dinyanyikan saat
memulai acara yang diadakan oleh organisasi masyarakat, lembaga pendidikan, partai politik,
dan/atau instansi/yayasan/kelompok masyarakat lainya. Yang dimaksud dengan "acara" yaitu
seperti Wisuda, kompetisi ilmu pengetahuan, debat, rapat, acara peresmian, dan pada saat
memulai acara atau kegiatan lainya yang secara signifikan lokasinya/situasinya layak untuk
diperdengarkan/dinyanyikan lagu kebangsaan tersebut.

DILARANG:
a. Mengubah Lagu Kebangsaan dengan nada, irama, katakata, dan gubahan lain dengan
maksud untuk menghina atau merendahkan kehormatan Lagu Kebangsaan;
b. Memperdengarkan, menyanyikan, ataupun menyebarluaskan hasil ubahan Lagu
Kebangsaan dengan maksud untuk tujuan komersial; atau
c. menggunakan Lagu Kebangsaan untuk iklan dengan maksud untuk tujuan komersial.