Anda di halaman 1dari 53

i

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan hidayah-Nya sehingga penyusunan buku petunjuk praktikum
Keperawatan Menjelang ajal dan paliatif ini dapat kami selesaikan dengan baik

Buku petunjuk praktikum ini berisi tentang konsep dasar praktikum yang akan
dilaksanakan beserta prosedur kerjanya. Dalam tiap-tiap prosedur kerja
tersebut mencakup aspek kognitif, afektif dan psikomotor yang terintegrasi.
Kami berharap buku ini dapat menjadi pegangan mahasiswa dan dosen dalam
melaksanakan kegiatan praktikum sehingga didapatkan kesamaan persepsi
antara dosen dan mahasiswa yang akan mendukung tercapainya tujuan
pembelajaran.

Kami mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah mendukung
dan memberikan bantuan dalam penyusunan buku petunjuk praktikum ini. Kami
menyadari buku petunjuk praktikum ini masih jauh dari sempurna, oleh karena
itu masukan, kritik dan saran sangat kami harapkan untuk perbaikan pada masa
yang akan datang.

Semoga buku petunjuk praktikum ini dapat memberikan manfaat bagi


mahasiswa dan dosen Program Studi Ilmu Keperawatan, Fakultas Keperawatan,
Universitas Jember khususnya dan perkembangan dunia keperawatan pada
umumnya.

Jember, Juli 2018

Tim Penyusun

ii
DAFTAR ISI

Kata Pengantar .......................................................................................................... i


Daftar Isi ....................................................................................................................... ii
Deskripsi mata kuliah ............................................................................................. 1
Kompetensi yang dicapai ....................................................................................... 1
Tata tertib praktikum ............................................................................................ 1
Pengkajian tingkat kepuasan keluarga terhadap perawatan paliatif
menggunakan FAMCARE scale .......................................................................... 3
Pengkajian berkabung menggunakan Complicated Grief Assessment 9
Pengkajian nyeri menggunakan Behavioral pain Scale dan CPOT ......... 13
Pengkajian Fungsional menggunakan Edmonton Functional
Assessment tools (EFAT) ....................................................................................... 23
Pengkajian kelelahan menggunakan Brief Fatigue Index (BFI) .............. 27
Pengkajian status fungsional menggunakan Karnofsky
Performance Scale .................................................................................................... 31
Pengkajian Kualitas Hidup pasien menggunakan WHOQOL-BREF ....... 34
Pengkajian Spiritual menggunakan FACIT-Sp................................................ 42
Pemberian Kabar buruk kepada keluarga atau pasien ............................... 47

iii
Deskripsi Mata Kuliah

Mata kuliah ini mempelajari tentang perspektif keperawatan dan konsep


perawatan paliatif meliputi etik, kebijakan, teknik menyampaikan berita buruk,
komunikator, kebutuhan psikologis, manajemen nyeri, berbagai macam terapi
komplementer terhadap pasien paliatif dan menjelang ajal dalam tatanan klinik
dan komunitas dengan mempertimbangkan aspek agama dan kearifan lokal
budaya

Kompetensi yang ingin dicapai

Kompetensi Umum
Mahasiswa akan dapat menganalisis asuhan keperawatan pada pasien paliatif
dan menjelang ajal dalam tatanan klinik dan komunitas dengan
mempertimbangkan aspek agama dan kearifan lokal budaya

Kompetensi Khusus
1. mahasiswa mampu mempraktekkan Pengkajian tingkat kepuasan
keluarga terhadap perawatan paliatif menggunakan FAMCARE scale
2. mahasiswa mampu mempraktekkan Pengkajian berkabung menggunakan
Complicated Grief Assessment
3. mahasiswa mampu mempraktekkan Pengkajian nyeri menggunakan
Behavioral pain Scale dan CPOT
4. mahasiswa mampu mempraktekkan Pengkajian Fungsional
menggunakan Edmonton Functional Assessment tools (EFAT)
5. mahasiswa mampu mempraktekkan Pengkajian kelelahan menggunakan
Brief Fatigue Index (BFI) short version
6. mahasiswa mampu mempraktekkan Pengkajian status fungsional
menggunakan Karnofsky Performance Scale
7. mahasiswa mampu mempraktekkan Pengkajian Kualitas Hidup pasien
menggunakan WHOQOL-BREF
8. mahasiswa mampu mempraktekkan Pengkajian Spiritual menggunakan
FACIT-Sp
9. mahasiswa mampu mempraktekkan Pemberian Kabar buruk kepada
keluarga atau pasien

Tata tertib praktikum

1. Mahasiswa harus hadir 5 menit sebelum waktu praktikum dimulai,


terlambat 15 menit, tidak diperbolehkan masuk ruangan

1
2. Mahasiswa harus menggunakan baju praktikum, rapi dan sopan pada saat
kegiatan praktikum
3. Dilarang menggunakan alat komunikasi (Handphone dan sejenisnya) saat
praktikum Keperawatan kritis
4. Didalam laboratorium mahasiswa harus selalu bersikap sopan
5. Pada waktu praktikum tidak boleh meninggalkan tempat praktek tanpa
seijin pembimbing
6. Tidak diperkenankan mengambil alat laboratorium tanpa seijin petugas
7. Setiap kegiatan praktikum, akan diadakan pre test (10 menit) (situasional)
sebelum pelaksanaan praktikum, mahasiswa yang nilai pre test kurang dari
50, tidak diperbolehkan mengikuti praktikum pada hari itu.
8. Kehadiran praktikum harus 100% untuk bisa mengikuti evaluasi praktikum
9. Mengganti apabila menghilangkan atau merusak alat laboratorium
10. Berpakaian rapi dan sopan, tidak diperkenankan memakai baju ketat
memakai perhiasan berlebihan selama skill-lab
11. Apabila tidak dapat hadir pada jam tersebut, silakan ikut pada sesi
kelompok/kelas lain

2
FAMCARE Scale

1. Definisi
FAMCARE scale adalah alat yang digunakan untuk mengukur tingkat kepuasan
keluarga terhadap perawatan paliatif yang diberikan kepada anggota keluarganya.
Skala aslinya ada skala likert dengan 20 pernyataan (Kristjanson, 1993 hal 696 dalam
Crystal Beaumont, dkk Famcare and Famcare-2 Guidelines). FAMCARE scale
merupakan instrument yang tervalidasi di Amerika Utara, Australia, serta Eropa.

2. Versi
Saat ini terdapat dua versi utama FAMCARE scale yaitu FAMCAREdan FAMCARE-2
Scale.FAMCARE scale sendiri terdiri atas 20 pernyataan sedangkan FAMCARE-2
Scaleterdiri atas 17 pernyataan yang lebih ringkas dan lebih mengacu pada tim
paliatif daripada memusatkan perhatian pada dokter dan perawat saja layaknya pada
FAMCAREScale. Selain itu FAMCARE-2 Scalemengacu lebih banyak pada gejala yang
ditunjukkan dan lebih banyak menawarkan pilihan respon. Kedua versi tersebut
dikembangkan untuk perawatan kanker stadium lanjut dan mungkin diperlukan
untuk dimodifikasi pada perawatan penyakit yang lain misalnya kegagalan organ
stadium akhir atau neurodegenerative penyakit. Adapun versi lain dari
FAMCAREScale:
a. FAMCARE-6yang dikembangkan sebagai instrumen yang lebih pendek dan cocok
digunakan untuk komputerisasi administrasi dalam setting klinis (Carter, 2011
hal 565 dalam Crystal Beaumont, dkk Famcare and Famcare-2 Guidelines).
b. FAMCARE-C19yang menghilangkan item “waktu yang dibutuhkan untuk
membuat diagnosis”, karena ringdal dan rekan menemukan item ini kurang
dikaitkan dengan famcare lainnya dalam studi validasi mereka (Lo, Burman,
Hales et al ,2009 hal 3184 dalam Crystal Beaumont, dkk Famcare and Famcare-2
Guidelines).
c. Skala adaptasi lainnya untuk anggota keluarga.
Ada juga versi yang dibuat untuk pasien yang sedang dalam perawatan paliatif:
a) FAMCARE-P13
b) FAMCARE-P16
c) Dan versi yang tidak disebutkan namanya.

3. Bahasa
FAMCARE Scale tersedia dalam bahasa Inggris, Turki, dan Marathi. FAMCARE-2
Scaletersedia dalam bahasa Inggris dan Swedia. Terjemahan ke bahasa Jerman,
Swedia, Belanda, Italia, dan Arab sedang dalam proses (Aoun, Komunikasi Pribadi).
Ketersediaan versi terjemahan yang berbeda memungkinkan pertimbangan yang
akan digunakan di tempat yang berbeda diseluruh dunia.

4. Cara Penggunaan
FAMCAREdan FAMCARE-2 Scalepada awalnya dikembangkan untuk diberikan ke
anggota keluarga sementara pasien menerima perawatan paliatif. Namun, sekarang
bisa diberikan kepada keluarga atau pengasuh yang menjaga pasien ketika pasien
masih hidup atau sudah meninggal. Penyelesaian FAMCAREdan FAMCARE-2
Scaledapat dilakukan dengan wawancara. Teteapi kebanyakan famcare scale dikirim
melalui pos dan dikirim ulang oleh anggota keluarga atau pengasuh pasien setelah
selesai melalui pos.

3
5. Cara Penafsiran
Setiap item pada FAMCAREdan FAMCARE-2 Scaleterdapat lima poin tanggapan
sebagai berikut: sangat puas (SP); puas (P); ragu-ragu (R); tidak puas (TP); dan
sangat tidak puas (ST). Pengasuh keluarga dapat memutuskan bahwa ingin
menjawab masing-masing item atau tidak. Dalam FAMCARE-2 Scaleterdapat
tambahan tanggapan “tidak relevan dengan situasi saya (TR).

6. Cara Pelaporan
Pelaporan FAMCAREdan FAMCARE-2 Scalemembantu perencanaan perawatan,
evaluasi perawatan, dan kerja tim FAMCAREdan FAMCARE-2 Scaleuntuk tim paliatif,
yaitu:
a. Menghindari penggunaan jargon
b. Melapor kembali dengan segera
c. Melapor secara singkat dan akurat
d. Mampu menggambarkan contoh konkret tentang bagaimana informasi
yang dilaporkan mempengaruhi perawatan pasien, seperti yang ditentukan oleh
pengasuh keluarga (bila diberikan saat pasien masih hidup) dan bagaimana
informasi dapat digunakan untuk memperbaiki perawatan di masa depan.

7. Cara Pelaksanaan
Pada umumnya dokter bersedia menggunakan FAMCAREdan FAMCARE-2 Scale.
Implementasi dapat dilakukan dengan cara:
a. Komunikasi yang baik
b. Pendekatan proaktif yang melibatkan semua anggota tim paliatif
c. Memastika bahwa famcare dan famcare-2 scale memberi nilai tambah pada
pekerjaan individu di dalam organisasi
d. Akses terhadap rekomendasi berbasis bukti dan makalah ilmiah.

Beberapa anggota tim terkadang enggan menggunakan FAMCAREdan FAMCARE-2


Scalekarena berkaitan dengan isu sensitive setelah pasien meninggal, namun penting
bagi perawatan pasien di masa depan untuk mengumpulkan tanggapan ini. Tidak ada
waktu terbaik untuk memberikan FAMCAREdan FAMCARE-2 Scalekepada anggota
keluarga atau pengasuh pasien setelah kematian pasien, namun umumnya dalam
jangka waktu tiga sampai empat bulan. Dalam tinjauan terbaru survey kepuaan
keluarga, jangka waktu untuk menghubungi anggota keluarga bervariasi yaitu dari
satu hingga sepuluh bulan, dengan rata-rata yaitu dua hingga tiga bulan.

FAMCARE-2 Scale Questions

Petunjuk Pengisian !

1. Kenyamanan pasien. SP P R TP ST TR
2. Penjelasan terkait kondisi dan atau perkembangan kondisi SP P R TP ST TR
pasien.
3. Informasi tentang efek samping pengobatan. SP P R TP ST TR
4. Cara tim paliatif menghormati martabat pasien. SP P R TP ST TR
5. Diskusi yang diadakan oleh tim paliatif untuk membahas SP P R TP ST TR
kondisi dan rencana perawatan pasien.
6. Kecepatan tim perawatan paliatif dalam menangani gejala. SP P R TP ST TR

4
7. Perhatian tim paliatif terhadap gejala yang ditunjukkan SP P R TP ST TR
pasien.
8. Cara untuk memenuhi kebutuhan fisik pasien akan rasa SP P R TP ST TR
aman nyaman.
9. Tersedia nya tim perawatan paliatif untuk keluarga. SP P R TP ST TR
10. Dukungan emosional diberikan kepada anggota keluarga SP P R TP ST TR
oleh tim perawatan paliatif.
11. Bantuan praktis yang diberikan oleh tim perawatan paliatif SP P R TP ST TR
(misalnya: mandi, perawatan dirumah, dan istirahat).
12. Perhatian dokter terhadap gejala yang dirasakan pasien. SP P R TP ST TR
13. Keterlibatan keluarga dalam pengendalian dan keputusan SP P R TP ST TR
terhadap perawatan dan pengobatan.
14. Informasi yang diberikan tentang bagaimana mengelola SP P R TP ST TR
gejala pasien (misalnya: nyeri, konstipasi).
15. Respon (kecepatan dan ketepatan) tim paliatif mengelola SP P R TP ST TR
gejala pasien.
16. Tanggapan atau respon tim paliatif dalam menanggapi SP P R TP ST TR
perubahan kebutuhan perawatan pasien.
17. Dukungan emosional diberikan kepada pasien oleh tim SP P R TP ST TR
paliatif.
a. Pikirkan tentang bagaiamana perawatan yang telah diterima oleh anggota
keluarga anda. Jawablah pernyataan di bawah ini yang menunjukkan bagaimana
kepuasan anda terhadap perawatan yang diberikan:
a) SP (SangatPuas)
b) P (Puas)
c) R (Ragu-ragu)
d) TP (Tidak Puas)
e) ST (Sangat Tidak Puas)
f) TR (Tidak Relevan Dengan Situasi Saya)
b. Lingkari huruf di bawah ini sesuai dengan yang anda rasakan !
c. Jawablah dengan jujur dan tidak akan berpengaruh terhadap pelayanan
perawatan yang diberikan !

5
JUDUL SOP :

PENILAIAN KEPUASAN KLIEN


PSIK MENGGUNAKAN FAMCARE Scale

UNIVERSITAS
JEMBER

NO DOKUMEN : NO REVISI : HALAMAN :


I
TANGGAL TERBIT : DITETAPKAN OLEH :
PROSEDUR
TETAP Ketua PSIK
Universitas Jember

1. PENGERTIAN FAMCARE Scale adalah alat ukur yang


digunakan untuk menilai tingkat
kepuasan keluarga terhadap
perawatan paliatif yang diberikan
kepada anggota keluarganya. Skala ini
terdiri dari 20 item yang direvisi
menjadi FAMCARE-2 yang terdiri dari
17 item. Skala ini menilai kepuasan
keluarga terhadap klien secara fisik,
perawatan psikososial, dan pemberian
informasi terhadap klien.
2. TUJUAN 1. Mengetahui tingkat kepuasan
keluarga terhadap perawatan yang
diberikan oleh tim perawatan
paliatif.
2. Mengevaluasi kualitas pelayanan
yang diberikan oleh tim perawatan
paliatif.
3. Sebagai bahan dasar perbaikan
dalam pemberian asuhan
keperawatan
4. PERSIAPAN KLIEN 1. Pastikan ketepatanidentitas klien
yang akan dilakukan tindakan.
2. Kaji kondisi klien.
3. Jelaskan pada klien mengenai
tindakan yang akan dilakukan.
4. Atur tempat dan posisi klien.
5. Jaga privasi klien dan keluarga.
5. PERSIAPAN ALAT 1. Satu lembar informed concent.
2. Satu lembar Form FAMCARE Scale.
3. Alat tulis (bolpoin dan buku
catatan)
6. CARA BEKERJA :
Tahap PraInteraksi
1. Menganalisis kekuatan dan kelemahan diri
2. Mengumpulkan data klien

6
3. Mengecek ulang identitas klien untuk memastikan identitas penanggung
jawab klien
4. Menyiapkan alat

Tahap Orientasi
1. Mengucapkan salam terapeutik
2. Membina hubungan saling percaya, menunjukkan penerimaan, dan
komunikasi terbuka
3. Merumuskan kontrak (waktu, tempat, topik pembicaraan) dengan klien
dan atau keluarga
4. Menjelaskan tujuan dan prosedur pelaksanaan
5. Memberikan lembar informed consent
6. Berikan kesempatam klien dan atau keluarga untuk bertanya

Tahap Kerja
1. Perawat menjelaskan bagaimana cara pengisian form FAMCARE Scale
2. Perawat menjelaskan bahwa penilaian keluarga tidak berpengaruh
terhadap pelayanan yang diberikan
3. Perawat menanyakan apakah keluarga ingin diberi ruang privasi atau
ingin perawat tetap disampingnya untuk memandu mengisi dan
menjelaskan setiap pertanyaan di form FAMCARE Scale
4. Perawat memberikan form FAMCARE Scale kepada keluarga beserta aat
tulis
5. Bantu keluarga jika terjadi ketidakpahaman dalam pertanyaan yang
tertulis pada form FAMCARE Scale
6. Ambil dan periksa hasil pengisian form FAMCARE Scale keluarga setelah
selesai. Jika masih ada yang belum terisi dengan lengkap minta keluarga
untuk melengkapi kembali

Tahap Terminasi
1. Berikan reinforcement positif kepada klien dan atau keluarga
2. Evaluasi apa yang dirasakan keluarga setelah mengisi form FAMCARE
Scale
3. Ucapkan salam dan akhiri pertemuan dengan klien dan atau keluarga

7. HASIl :
Dokumentasikan nama tindakan/tanggal/jam tindakan, hasil yang diperoleh,
respon klien selama tindakan, nama dan paraf perawat pelaksana

8. Hal-hal yang perlu diperhatikan :


Hindari untuk meminta keluarga dalam berpartisipasi mengisi form FAMCARE
Scale ketika klien baru saja meninggal dunia atau ketika keluarga masih dalam
suasana berduka
9 Referensi :
Aoun, Samar, dkk.2010. Reliability Testing Of The Famcare-2 Scale : Measuring Fa
mily Carer Satisfaction With Palliative Care. Palliative Medicine. Vol 24, N
omor 7, hal: 674-681 https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/20621947
[Diakses pada tanggal 6 September 2017 pukul 11.00 WIB]
Crystal Beaumont BSc, Cheryl Nekolaichuk PhD, Rpsych. 2012. FAMCARE and
FAMCARE-2 Guidelines. Palliative and End-of-Life Institue: Health Services
Center, Grey Nuns Hospital.
http://palliative.org/NewPC/_pdfs/tools/FAMCARE%20Guidelines-
15Aug12.pdf [Diaksespada 5 September 2017 padapukul 14:32 WIB]

7
D’Angelo Daniela, dkk. 2017. Translation and Testing of the Italian Version of
FAMCARE-2: Measuring Family Caregivers’ Satisfaction With Palliative
Care. Journal Of Family Nursing, HLM. 1-21.
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/28795900 [Diakses pada 5
September 2017 pada pukul 13:05 WIB]
Lo, Christopher, dkk. 2009. The Famcare-Patient scale: Measuring satisfaction
With care of outpatients with advanced cancer. European Journal Of
Cancer. Vol 45, hal 3182-3188
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubme/28357973 [Diakses pada 2
September 2017 pada pukul 19.07 WIB]
Yahiro, M. R., McFarlane, S., Kealoha, M., & Sy, A. (2016). Asian and native
hawaiian family caregiver satisfaction with palliative care services in nursing
homes . National journal of palliative nursing , 141-149.

8
COMPLICATED GRIEF ASSESSMENT

Complicated Grief Assessment adalah sebuah alat yang digunakan untuk


mengukur klien yang mengalami kesedihan yang rumit. CGA terdiri dari 11 item
pertanyaan dengan pertanyaan multiple choice.

JUDUL SOP :

FORMAT PENGKAJIAN KESEDIHAN


(COMPLICATED GRIEF ASSESSMENT)

PSIK
UNIVERSITAS
JEMBER
NO DOKUMEN : NO REVISI : HALAMAN :
I
TANGGAL TERBIT : DITETAPKAN OLEH :
PROSEDUR
TETAP Ketua PSIK
Universitas Jember

1. PENGERTIAN Complicated Grief Assessment adalah


sebuah alat yang digunakan untuk
mengukur klien yang mengalami
kesedihan yang rumit.
2. TUJUAN Untuk mengetahui bagaimana seseorang
tersebut apakah mengalami kesedihan
yang normal atau kesedihan yang rumit.
4. PERSIAPAN KLIEN 1. Pastikan kondisi klien
2. Kaji kondisi klien
3. Beritahu dan jelaskan pada klien
atau keluarganya tentang maksud
dan tujuan
4. Jaga privacy klien
5. PERSIAPAN ALAT 1. Format pengkajian
2. Alat tulis
3. Alat perekam
6. CARA BEKERJA :
Tahap PraInteraksi
Pada tahap pra interaksi ini perawat menggali dan mengenal perasaan yang
dialami oleh klien agar lebih efektif dalam memberikan asuhan keperawatan :
1. Bertanya kabar klien
2. Bertanya tentang perasaan yang dialami oleh klien
Tahap Orientasi
1. Berikan salam, perkenalkan/sebutkan nama dan tanggung jawab perawat
2. Panggil klien dengan nama kesukaannya
3. Jelaskan prosedur, tujuan, dan lamanya tindakan pada klien
4. Berikan kesempatan klien bertanya.
5. Jaga privasi klien

9
Tahap Kerja
1. Perawat memberi pertanyaan kepada klien untuk mencari perasaan apa
yang sedang klien rasakan,pola pikir
2. Perawat mulai menanyakan setiap pertanyaan yang ada di alat ukur
A1. Pada bulan lalu, seberapa sering anda merasakan kerinduan?
a. Hampir tidak pernah (kurang dari sebulan sekali)
b. Jarang (2-6 kali / bulan)
c. Terkadang (lebih dari 7 kali / bulan, tapi tidak setiap hari)
d. Setiap hari
e. Beberapa kali setiap hari
A2. Pada bulan lalu, ketika anda merasakan kesedihan apakah menggangu
kegiatan sekeharian anda secara terus menerus?
a. iya
b. tidak
B1. Pada bulan lalu, sejauh mana anda tidak bisa menerima kematian
seseorang?
1. Tidak ada kesulitan untuk menerima kematian
2. Sedikit rasa sulit menerima kematian
3. Beberapa kesulitan menerima kematian
4. Rasa sulit menerima kematian
5. Kesulitan ekstrim menerima kematian
B2. Pada bulan lalu, sampai sejauh mana Anda mengalami kesulitan untuk
mempercayai orang?
1. Tidak ada kesulitan untuk mempercayai orang lain
2. Sedikit rasa sulit mempercayai orang lain
3. Beberapa rasa sulit mempercayai orang lain
4. Rasa kesulitan yang ditandai mempercayai orang lain
5. Rasa sulit untuk dipercaya orang lain
B.3. Pada bulan lalu, sampai sejauh mana Anda merasa pahit karena
kematian?
1. Tidak ada rasa kepahitan
2. Sedikit rasa pahit
3. Beberapa rasa pahit
4. Rasa pahit yang ditandai
5. Rasa kepahitan yang ekstrem
B4. Terkadang orang yang kehilangan orang yang dicintai merasa tidak
nyaman untuk terus hidup. Di masa lalu, sampai sejauh mana Anda merasa
bahwa bergerak (misalnya, membuat teman baru, mengejar
kepentingan baru) akan sulit bagi anda?
1. Bergerak tidak akan sulit
2. Bergerak akan sedikit sulit
3. Bergerak akan agak sulit
4. Bergerak akan sangat sulit
5. Bergerak akan sangat sulit
B.5. Pada bulan yang lalu, sampai sejauh mana Anda merasa mati rasa
secara emosional atau mengalami kesulitan menyambung
dengan orang lain?
1. Tidak ada rasa mati rasa
2. Sedikit rasa mati rasa
3. Beberapa rasa baal
4. Rasa baal yang ditandai
5. Rasa mati rasa yang ekstrem
B.6. Pada bulan yang lalu, sampai sejauh mana Anda merasa bahwa hidup

10
itu kosong atau tidak berarti tanpa?
1. Tidak ada rasa kekosongan atau ketidakberdayaan
2. Sedikit rasa hampa atau tidak berarti
3. Beberapa rasa kekosongan
4. Rasa kekosongan yang ditandai
5. Rasa kekosongan yang ekstrem
B.7. Pada bulan yang lalu, sampai sejauh mana Anda merasa bahwa masa
depan tidak memiliki makna atau tujuan?
1. Tidak ada perasaan bahwa masa depan tidak memiliki tujuan
2. Sedikit perasaan bahwa masa depan tidak memiliki tujuan
3. Beberapa orang merasa bahwa masa depan tidak memiliki tujuan
4. Arti nyata bahwa masa depan tidak memiliki tujuan
5. Rasa ekstrem bahwa masa depan tidak memiliki tujuan
B8. Pada bulan lalu, sampai sejauh mana Anda merasa gelisah, gelisah,
atau mudah terkejut?
1. Tidak ada perasaan berada di tepi
2. Sedikit perasaan merasa gelisah
3. Beberapa perasaan merasa gelisah
4. Rasa perasaan yang ditandai di tepi
5. Rasa perasaan yang ekstrem
C1. Apakah kesedihan mengakibatkan kerusakan pada diri anda dalam
sosial, pekerjaan, atau yang lainnya? misalnya, apakah kesedihan anda
menyulitkan anda untuk melakukan aktivitas normal sehari-hari?
1. Ya
2. Tidak
D1. Memiliki salah satu gejala di atas, termasuk kerinduan dan setidaknya
satu kriteria gejala B, berlangsung selama setidaknya enam bulan?
1. Ya
2. Tidak
Tahap Terminasi
1. Evaluasi hasil kegiatan
2. Simpulkan hasil kegiatan
3. Berikan umpan balik positif
4. Kontrak pertemuan selanjutnya
5. Akhiri kegiatan dengan cara yang baik
7. HASIl :
- Nilai A, B, C, D terpenuhi
- A = Pertanyaan akan berlanjut jika jawaban “setiap hari” atau “beberapa
kali sehari” (Frekuensi "setiap hari" atau "beberapa kali sehari" ATAU
kesusahan atau gangguan yang disebabkan oleh kerinduan maka diagnosis
kesedihan rumit)
- B = Pertanyaan akan berlanjut jika Di bawah ini, 4 dari 8 Kriteria B
memiliki intensitas nilai "4" atau "5"
- C= Pertanyaan akan berlanjut Jika jawaban Ya, maka Kriteria C terpenuhi
(didiagnosis kesedihan rumit).
- D= Gejalanya harus bertahan setidaknya enam bulan untuk dianggap "Ya".
Jika responden menunjukkan bahwa gejalanya telah terjadi sebentar-
sebentar, maka tandai "tidak". Jika jawaban Ya, maka Kriteria D terpenuhi
untuk didiagnosis kesedihan rumit
8. Hal-hal yang perlu diperhatikan :
Hal Penting
a. Sejarah berkabung atau penyebab kesdihan misalnya setelah kematian
pasangan, orang tua, anak, atau orang yang dicintai lainnya

11
b. Respons duka mendalam ditandai dengan kerinduan terus-menerus
dengan almarhum secara intens.
c. Rasa sakit emosional (misalnya, sedih, bersalah, marah, menyangkal,
menyalahkan, sulit menerima kematian, merasa seseorang telah
kehilangan sebagian dari diri sendiri, ketidakmampuan untuk memiliki
suasana hati yang positif, mati rasa emosional, atau kesulitan dalam
berhubungan dengan aktivitas sosial atau lainnya)
d. Sebuah respon duka cita yang bertahan lama yang tidak normal setelah
kehilangan sehingga mengganggu proses individu dalam lingkungan sosial,
budaya, atau agama.
Hal tumpang tindih dengan normal
a. Reaksi kesedihan yang telah berlangsung selama kurang dari 6 bulan atau
untuk periode yang lebih lama.
b. Dalam menilai apakah durasi reaksi duka cita melebihi ekspektasi budaya,
sering kali penting untuk mempertimbangkan apakah orang-orang di
dalam lingkungan pasien (misalnya keluarga, teman, dan anggota
masyarakat) menganggap respons terhadap kerugian atau durasi reaksi
sebagai dilebih-lebihkan atau dalam batas normal
Hal tambahan
a. Kesedihan yang terus-menerus dapat dimanifestasikan sebagai kesedihan
rumit dengan keadaan kematian atau sebagai perilaku seperti menyimpan
semua barang milik almarhum persis seperti sebelum kematian; isolasi
antara kesedihan yang berlebihan dan tidak menghindari hal pengingat
almarhum.
b. Reaksi emosional lainnya mungkin termasuk kesulitan menerima
kerugian, mengatasi masalah tanpa orang yang dicintai, kesulitan dalam
mengingat positif kenangan akan almarhum, kesulitan dalam
berhubungan dengan kegiatan sosial atau kegiatan lainnya, penarikan
sosial, dan perasaan bahwa hidup itu tidak ada artinya peningkatan
tembakau (rokok), alkohol, dan penggunaan zat lainnya, serta
meningkatnya keinginan dan perilaku bunuh diri mungkin ada

9 Referensi :
Dell’Osso et al. Adult separation anxiety in patients with complicated grief versus
healthy control subjects: relationships with lifetime depressive and
hypomanic symptoms. Annals of General Psychiatry. 2011, Vol 10. No. 29.
Dell'Osso et al. Validity and reliability of the Structured Clinical Interview for the
Trauma and Loss Spectrum (SCI-TALS). Clinical Practice and Epidemiology
in Mental Health. 2008.Vol 4. No 2
Tomarken et al. Factors of complicated grief pre-death in caregivers of cancer
patients. Journal of Psychooncology. 17(2008) 105–111
Guldin et al. Identifying bereaved subjects at risk of complicated grief: Predictive
value of questionnaire items in a cohort study. BMC Palliative Care. 2011.
Vol 10. No.9
Otani H, Yoshida S, Morita T, Aoyama M, Kizawa Y, Shima Y, Tsuneto S, Miyashita
M. Meaningful communication prior to death, but not presence at the time
of death itself, is associated with better outcomes on measures of
depression and complicated grief among bereaved family members of
cancer patients, Journal of Pain and Symptom Management (2017), doi:
10.1016/ j.jpainsymman.2017.07.010.

12
BEHAVIOURAL PAIN SCALE

Behavioral Pain Scale (BPS) adalah instrument berupa skala yang digunakan
untuk mengkaji nyeri pada pasien ICU yang mengalami penurunan kesadaran dan tidak
mampu melaporkan sendiri rasa sakit atau nyeri yang dirasakannya. BPS biasanya
digunakan untuk mengkaji skala nyeri pasien yang ada di ICU dengan terpasang
ventilator. BPS terdiri dari tiga komponen penilaian, yaitu ekspresi wajah, gerakan
eksteremitas bagian atas, dan kepatuhan terhadap ventilasi.
Penilaian BPS dimulai dari skor 1 - 4 poin dengan skor nyeri total mulai dari 3 –
12. Untuk menilai setiap komponen, hal yang perlu diperhatikan adalah:
1. Ekspresi wajah
1 : Tenang
2 : Sedikit tegang (alis mata menurun)
3 : Sangat tegang (mata tertutup rapat)
4 : Meringis.
2. Gerakan ekstermitas atas (lengan).
1 : Tidak bergerak
2 : Ditekuk sebagian
3 : Ditekuk dengan fleksi jari
4 : Retraksi secara permanen.
3. Kesesuaian dengan ventilator.
1 : Toleransi baik walau digerakkan
2 : Batuk bila digerakkan
3 : Melawan ventilator
4 : Tidak dapat menyesuaikan dengan ventilator

Penilaian BPS juga dapat dilakukan pada pasien yang tidak terpasang ventilator dan
komponen yang dinilai sebagian besar sama dengan komponen penilaian pada pasien
yang terpasang ventilator. Letak perbedannya hanya pada vokalisasi.
Untuk menilai setiap komponen, hal yang perlu diperhatikan adalah:
1. Ekspresi wajah
1 : Tenang
2 : Sedikit tegang (alis mata menurun)
3 : Sangat tegang (mata tertutup rapat)
4 : Meringis.
2. Gerakan ekstermitas atas (lengan).
1 : Tidak bergerak
2 : Ditekuk sebagian
3 : Ditekuk dengan fleksi jari
4 : Retraksi secara permanen.
3. Vokalisasi.
1 : Tidak ada suara kesakitan
2 : Mengerang tidak sering (≤ 3 x/menit) dan tidak berkepanjangan (≤ 3 detik)
3 : Mengerang tidak sering (> 3 x/menit) atau tidak berkepanjangan (> 3 detik)
4 : Menggerutu atau protes secara verbal seperti ow, oh, dan menahan nafas

Skor total dari hasil penilain BPS diinterpretasikan dengan ketentuan skor 3-4
berarti klien tidak mengalami nyeri, skor 5-7 berarti klien merasakan nyeri yang cukup,
dan skor 8-12 berarti klien mengalami nyeri yang maksimal

13
14
JUDUL SOP :

BEHAVIORAL PAIN SCALE ASSESSMENT


PSIK (PENILAIAN DERAJAT NYERI)

UNIVERSITAS
JEMBER

NO DOKUMEN : NO REVISI : HALAMAN :


I
TANGGAL DITETAPKAN OLEH :
PROSEDUR TERBIT :
TETAP Ketua PSIK
Universitas Jember

1. PENGERTIAN Instrumen pengkajian nyeri yang


digunakan untuk menilai derajat nyeri
pada klien dengan penurunan
kesadaran dengan ventilator.
Behavioral Pain Scale (BPS) terdiri
dari 3 subskala penilaian berdasarkan
ekspresi perilaku yaitu ekspresi
wajah, gerakan ekstremitas atas
(lengan), dan kesesuaian terhadap
ventilator.
2. TUJUAN 1. Menilai derajat nyeri yang diderita
klien.
2. Mendapatkan data tertulis yang
direkam dalam lembar observasi
dan implementasi harian.
3. Sebagai dasar untuk menentukan
penatalaksanaan nyeri.
4. PERSIAPAN KLIEN 5. Pastikan identitas klien yang akan
dilakukan tindakan.
6. Kaji kondisi klien.
7. Jelaskan kepada klien dan keluarga
mengenai prosedur tindakan yang
akan dilakukan.
8. Beri privasi kepada klien dan
keluarga.
5. PERSIAPAN ALAT 4. Form penilaian BPS (Behavioural
Pain Scale)
5. Alat tulis (Bolpoin dan Kertas).
6. CARA BEKERJA :
Tahap PraInteraksi
1. Mengumpulkan data identitas klien
2. Mengecek status keperawatan klien
3. Mencuci tangan
4. Menyiapkan alat

Tahap Orientasi
1. Megucapkan salam terapeutik, sapa klien dan keluarga, serta

15
perkenalkan nama perawat.
2. Memeriksa identitas klien dan mencocokkan dengan status keperawatan
klien.
3. Menjelaskan tujuan dan prosedur pelaksanaan tindakan.
4. Merumuskan kontrak (waktu dan tempat) dengan klien atau keluarga.

Tahap Kerja
1. Nilai skala nyeri klien berupa ekspresi wajah, gerakan ekstremitas atas
(lengan), dan kesesuaian dengan ventilator.
2. Kaji skala nyeri klien berdasarkan ekspresi wajah klien. Perhatikan
ekspresi/raut wajah klien dan berikan skor sesuai penilaian BPS.
1 = Klien tampak tenang
2 = Klien tampak sedikit tegang, seperti alis mata menurun
3 = Klien tampak sangat tegang, seperti mata tertutup rapat
4 = Klien tampak meringis.

3. Kaji skala nyeri klien berdasarkan gerakan ekstermitas atas (lengan).


Perhatikan posisi lengan klien dan berikan skor beradasarkan penilaian
BPS.
1 = Lengan tidak bergerak
2 = Lengan ditekuk sebagian
3 = Lengan ditekuk dengan fleksi jari
4 = Lengan retraksi secara permanen.

16
4. Kaji skala nyeri berdasarkan kesesuaian dengan ventilator. Perhatikan
respon klien terhadap ventilator dan berikan skor berdasarkan penilaian
BPS.
1 = Toleransi baik walau digerakkan
2 = Batuk bila digerakkan
3 = Melawan ventilator
4 = Tidak dapat menyesuaikan dengan ventilator.

5 Total semua skor yang diperoleh dari masing-masing subskala.


6 Interpretasikan hasil penilain dari total skor.

Tahap Terminasi
1. Simpulkan hasil pemeriksaan
2. Berikan reinforcement positif
3. Kontrak waktu selanjutnya
4. Mengakhiri tindakan dan berikan salam kepada klien dan keluarga.
7. HASIl :
1. Dokumentasikan nama tindakan/tanggal/jam tindakan, respon klien
selama tindakan.
2. Catat dan interpretasikan hasil pemeriksaan berdasarkan ketentuan
berikut:

17
- Skor skala berjumlah 3-4 maka klien tidak merasakan nyeri
- Skor skala berjumlah 5-7 atau lebih maka klien merasakan nyeri
sedang
- Skor skala berjumlah 8-12 maka klien merasakan nyeri maksimal
3. Catat nama dan paraf perawat pelaksana.

8. Hal-hal yang perlu diperhatikan :


1. Pastikan ventilator terpasang dengan baik (tidak bocor, tidak bengkok,
dan tidak terlepas).
2. Diperlukan ketelitian yang lebih saat mengkaji ekstremitas atas (lengan)
pada pasien yang mengalami masalah pada lengan atau mengalami
stroke.

9 Referensi :
Arif-rahu, M., & Jo, M. (2010). Facial expression and pain in the critically ill
non-communicative patient : State of science review, 26, 343–352.
https://doi.org/10.1016/j.iccn.2010.08.007
Chanques, G., Pohlman, A., Kress, J. P., Molinari, N., Jong, A. De, Jaber, S., & Hall,
J. B. (2014). Psychometric comparison of three behavioural scales for
the assessment of pain in critically ill patients unable to self-report.
Critical Care, 18, 1–12. Retrieved from
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4220092/pdf/13054_
2014_Article_2900.pdf
Endeman, H., & Bosman, R. J. (2015). Pain measurement in mechanically
ventilated critically ill patients : Behavioral Pain Scale versus Critical-
Care Pain ... Journal of Critical Care, (September 2014), 5–11.
https://doi.org/10.1016/j.jcrc.2014.09.007
Gélinas, C. (2016). Pain assessment in the critically ill adult : Recent evidence
and new trends. Intensive & Critical Care Nursing, 34, 1–11.
https://doi.org/10.1016/j.iccn.2016.03.001
Kotfis, K., Zegan-barańska, M., Szydłowski, Ł., Żukowski, M., & Ely, E. W.
(2017). Methods of pain assessment in adult intensive care unit patients
— Polish version of the CPOT ( Critical Care Pain Observation Tool ) and
BPS ( Behavioral Pain Scale ). Anaesthesiology Intensive Therapy,
2017,49(1), 66–72. Retrieved from https://docuri.com/queue/pain-in
icu_59c1d84af581710b286744b5_pdf?queue_id=59ce2616f58171b64a
28bba5
Stites, M. (2013). Observational Pain Scales in Critically III Adults. Critical
Care Nurse, 33(june 2013). Retrieved from
http://dx.doi.org/10.4037/ccn2013804
Severgnini, P., Pelosi, P., Contino, E., Serafinelli, E., Novario, R., & Chiaranda,
M. (2016). Accuracy of Critical Care Pain Observation Tool and
Behavioral Pain Scale to assess pain in critically ill conscious and
unconscious patients : prospective , observational study. Journal of
Intensive Care, 4, 68. https://doi.org/10.1186/s40560-016-0192-x

18
PENGKAJIAN NYERI DENGAN CRITICAL-
CARE PAIN OBSERVATION TOOLS (CPOT)

Pengkajian nyeri dengan CPOT adalah suatu pengukuran nyeri yang dilakukan oleh
tenaga medis dalam mengobservasi tingkah laku pasien pada saat istirahat dan pada
saat melakukan prosedur yang menimbulkan rasa sakit, seperti merubah posisi
(MIKA/MIKI) atau perawatan luka,untuk mendeteksi setiap perubahan perilaku pasien
terhadap nyeri. CPOT terdiri dari 4 item indicator penilaian yaitu : ekspresi wajah,
gerakan tubuh, ketegangan otot, dan penyesuaian terhadap ventilator atau vokalisasi.
Interpretasi hasil dari CPOT adalah :
Skor 0 : tidak nyeri
Skor 1-2 : nyeri ringan
Skor 3-4 : nyeri sedang
Skor 5-6 : nyeri berat
Skor 7-8 : nyeri sangat berat.

JUDUL SOP :

PENGKAJIAN NYERI DENGAN CRITICAL-CARE PAIN OBSERVATION


TOOLS (CPOT)
PSIK

UNIVERSITAS
JEMBER
NO DOKUMEN : NO REVISI : HALAMAN :
I
TANGGAL TERBIT : DITETAPKAN OLEH :
PROSEDUR
TETAP Ketua PSIK
Universitas Jember

1. PENGERTIAN Pengkajian nyeri dengan CPOT adalah suatu


pengukuran nyeri yang dilakukan oleh tenaga
medis dalam mengobservasi tingkah laku pasien
pada saat istirahat dan pada saat melakukan
prosedur yang menimbulkan rasa sakit, seperti
merubah posisi (MIKA/MIKI) atau perawatan
luka,untuk mendeteksi setiap perubahan
perilaku pasien terhadap nyeri.
2. TUJUAN Untuk memastikan pasien mendapat manajemen
penanganan nyeri yang aman dan efektif
4. PERSIAPAN KLIEN 9. Berikan salam, perkenalkan diri anda, dan
identifikasi klien dengan memeriksa
identitas di gelang klien secara cermat.
10. Jelaskan tentang prosedur tindakan yang
akan dilakukan.
11. Beri privasi kepada klien

19
5. PERSIAPAN ALAT 6. Format pengkajian nyeri dengan CPOT
7. Bolpoint
6. CARA BEKERJA :
Tahap PraInteraksi
1. Mengumpulkan data pasien
2. Mengecek kembali status pasien
3. Mencuci tangan
4. Menyiapkan alat

Tahap Orientasi
5. Memberikan salam terapeutik, sapa klien, serta perkenalkan nama perawat.
6. Identifikasi pasien dengan melihat gelang pasien dan mencocokkan dengan status
keperawatan.
7. Menunjukkan penerimaan
8. Merumuskan kontrak (waktu, tempat,) dengan klien dan atau keluarga
9. Menjelaskan tujuan dan prosedur pelaksanaan

Tahap Kerja
Kaji dan nilai ekpresi wajah, gerakan tubuh, gerakan otot dan penyesuaian dengan
ventilator dengan tabel dibawah ini
Indikator Deskripsi Kondisi Skor
Ekspresi wajah Tidak ada ketegangan otot Santai 0
Mengerutkan kening, alis menurun Tegang 1
Wajah menengadah ke atas dan kelopak Meringis 2
mata tertutup rapat
Gerakan tubuh Tidak bergerak sama sekali (tidak berarti Tidak ada 0
tidak adanya rasa sakit) gerakan
Menunjukkan gerakan lambat dan gerakan Lokalisasi nyeri 1
hati-hati menyentuh lokasi nyeri
Menarik ETT, mencoba duduk, Gelisah 2
menggerakkan tungkai, tidak mengikuti
perintah, memukul staf/mengamuk,
mencoba turun dari tempat tidur
Ketegangan Tidak ada tahanan terhadap gerakan pasif Santai 0
otot Ada tahanan terhadap gerakan pasif Tegang 1
(Di evaluasi Tahanan kuat pada saat digerakkan atau Sangat tegang 2
dengan fleksi tidak dapat dilakukan gerakan tersebut
pasif pada
lengan atas
pasien)
Penyesuaian Alarm tidak berbunyi, pernafasan normal Menyesuaikan 0
terhadap dengan
ventilator ventilator
(pasien Batuk, alarm berbunyi tetapi berhenti Batuk tetapi 1
dengan ETT) sendiri masih bisa
toleransi
dengan
ventilator

Ventilator terganggu, alarm Tidak dapat 2


sering berbunyi menyesuaikan
Atau dengan
ventilator

20
Vokalisasi Berbicara dengan nada suara biasa atau Bicara dengan 0
( pasien tidak bersuara sama sekali suara biasa
tanpa ETT ) atau tidak
bersuara
Sambil mendesah, mengerang Sambil 1
mendesah,
mengerang
Menangis, terisak-isak Menangis, 2
terisak-isak
Total

Catatan:
Skor 0 : tidak nyeri
Skor 1-2 : nyeri ringan
Skor 3-4 : nyeri sedang
Skor 5-6 : nyeri berat
Skor 7-8 : nyeri sangat berat.

Tahap Terminasi
1. Simpulkan hasil pemeriksaan
2. Berikan reinforcement positif
3. Kontrak waktu selanjutnya
4. Berikan salam kepada pasien dan akhiri pertemuan dengan klien dan atau keluarga
7. HASIl : Dokumentasikan Nama Tindakan/Tanggal/jam tindakan, Hasil Yang diperoleh,
Respon klien selama tindakan, Nama dan paraf perawat Pelaksana
8. Hal-hal yang perlu diperhatikan : Perhatikan selalu privasi pasien dan laporkan hasil
pemeriksaan pada keluarga jika ada keluarga klien.
9 Referensi :
Liza Marmo and Susan Fowler. 2009. Pain Assessment Tool in the Critically Ill Post–
Open Heart. Surgery Patient Population. Diambil dari
https://googleweblight.com/?lite_url=https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/207
28062&ei=OTPZTpFx&lc=idID&s=1&m=791&host=www.google.co.id&ts=15065954
38&sig=ANTY_L3ZaoMBMwspzEOnkfMyp5V5Q4-t_w (Tangggal pengambilan 6
September 2017)
Yannick Tousignant-Laflamme, Patricia Bourgault, Ce ´line Ge ´linas and Serge
Marchand.2010. Assessing Pain Behaviors in Healthy Subjects Using the Critical-
Care Pain Observation Tool (CPOT): A Pilot Study. Vol 11, No 10 (October), 2010.
American Pain Society. Diambil dari
https://googleweblight.com/?lite_url=https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/206
27821&ei=prTPDYte&lc=idID&s=1&m=791&host=www.google.co.id&ts=15065959
19&sig=ANTY_L03jdnROeLeVa9Xgb-G-vH0G2mKUg (Tangggal pengambilan 6
September 2017)
Celine Ge ´linas, Caroline Arbour, Ce ´cile Michaud, Francine Vaillant, Sylvie Desjardins.
2011. Implementation of the critical-care pain observation tool on pain
assessment/management nursing practices in an intensive care unit with nonverbal
critically ill adults: a before and after study.Volume 48 Number 11.Elsevier. Diambir
dari
https://googleweblight.com/?lite_url=https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/215
50048&ei=sXuIHFMp&lc=idID&s=1&m=791&host=www.google.co.id&ts=15065955
42&sig=ANTY_L1n45ZQjxa6UM0YWsbdRDlZX94ZCg (Tangggal pengambilan 6
September 2017)

21
Monica V ´ azquez, Miren-Idoia Pardavila, Mar ´ ´ıa Lucia, Yara Aguado, Ma Angeles Margall
´and Ma Carmen Asiain. 2011. Pain assessment in turning procedures for patients
with invasive mechanical ventilation. Vol 16 No 4. Nursing in Critical Care Diambil
dari
https://googleweblight.com/?lite_url=https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/216
51658&ei=R7WL0bs1&lc=idID&s=1&m=791&host=www.google.co.id&ts=1506595
778&sig=ANTY_L1N3bu1aJ7wF6aQKUvlPE1jmkxgYw (Tangggal pengambilan 6
September 2017)

22
EDMONTON FUNCTIONAL
ASSESSMENT TOOL (EFAT)

EFAT adalah sebagai ukuran hasil berdasarkan kriteria untuk mengevaluasi sejauh
mana pasien benar-benar melakukan aktivitas fungsional. 10 item digunakan sebagai
indicator penilaian fungsional pasien. EFAT mengkaji 10 status fungsional pada pasien
kanker. Alat ini menggambarkan setiap fungsi dalam skala 0 hingga 3 (0= menunjukkan
fungsi mandiri; 3= kehilangan seluruh fungsi kemandirian). Total skor maksimal pada
EFAT adalah 30. Semakin tinggi nilai yang diperoleh saat penilaian, maka menunjukkan
semakin menurunnya status fungsi pada pasien kanker

PENGKAJIAN NYERI PADA PASIEN KANKER LANJUT


DENGAN MENGGUNAKAN
PSIK EDMONTON FUNCTIONAL ASSESSMENT TOOL (EFAT)

UNIVERSITAS
JEMBER
NO DOKUMEN : NO REVISI : HALAMAN :
I
TANGGAL TERBIT DITETAPKAN OLEH :
PROSEDUR :
TETAP Ketua PSIK
Universitas Jember

1. PENGERTIAN EFAT adalah sebagai ukuran hasil


berdasarkan kriteria untuk
mengevaluasi sejauh mana pasien
benar-benar melakukan aktivitas
fungsional
2. TUJUAN Untuk mengevaluasi sejauh mana
pasien melakukan fungsi yang
mendasar untuk berinteraksi
dengan orang dan beraktivitas di
lingkungan.
3. INDIKASI Untuk menilai fungsional pasien
dengan perawatan paliatif
4. KONTRAINDIKASI -

5. PERSIAPAN KLIEN Kontrak waktu, tempat, dan orang


. pada pasien dan keluarga
6. PERSIAPAN ALAT 8. Alat tulis
9. Cek list EFAT
7. CARA BEKERJA :
1. Beri salam dan perkenalkan diri pada pasien dan keluarga
2. Jelaskan maksud dan tujuan pengkajian EFAT
3. Kontrak waktu dan tempat

23
4. Perhatian respon nyeri pada pasien sesuai Edmonton Functional Assessment
Tool berikut.

Functional 0 Min Dysfunctional Mod Severe


1 Dysfunction Dysfuncti
2 on 3
Komunik Mandiri dalam Membutuhkan Berkomuni Tidak
asi semua aspek kacamata, alat kasi secara bisa
komunikasi bantu dengar atau efektif berkomu
alat komunikasi <50% nikasi
waktu
Status Oriented x 3 Merusak orientasi Merusak 3- Merusak
mental Memori utuh / memori 2/6. 4/6 5-6/6
ikuti perintah orientasi/m orientasi/
sederhana emori. memori
Merespon atau tidak
secara tidak responsiv
konsisten, e
gelisah, terhadap
cemas perintah
verbal
Nyeri Tidak ada. Atau Rasa sakit Nyeri Tidak
nyeri tapi tidak membatasi timbul dapat
berdampak aktivitas. setiap saat. melakuka
pada fungsional Menghambat Menghamb n
fungsi minimal at fungsi aktivitas
mod apapun
karena
sakit
Dyspnea Tidak berfungsi Urgent = 1 extra ≥ 2 nafas
menghitung atau nafas dihitung
SOBOE atu dengan atau O2
intermiten menghitung pada 4
atau O2, liter
pada 1-3
liter
keseimba Keseimbangan Mencapai/mempe Keseimbang Jaga
ngan normal rtahankan posisi an tidak posisi
dengan aman. maksimal
melengkapi atau 1 Mempertah asisten 1-
orang. Min risiko ankan 2norang
keamanan posisi atau tidak
dengan bisa
mod. dievaluas
Asisten 1 i
atau resiko
jatuh lebih
mobility Controls/meng Control/semua Bisa Unable to

24
gerakkan digerakkan namundibantu assist
semua anggota ada keterbatasan.
orang lain with
badan sesuka 1 asisten
yang position
hati/ mandiri memindahkan melakukan change.
atau menolong gerakan. Mechanic
Membutuhk al lift to
an 2 orang transfer
untuk
membantu
berpindah
dengan
aman
Daya Berjalan tanpa Berjalan dengan Berjalan Tidak
Gerak dibantu oleh dibantu 1orang dengan 2 bisa
siapapun orang berjalan
membantu
dengan
jarak
pendek
Kelelaha Rarely needs to Istirahat <50% Istirahat Berbaring
n rest dalam sehari >50% di tempat
dalam tidur
sehari karena
kelelahan
Motivatio Ingin Mandiri Aktif/pasif Tidak ada
n berpartisipasi menggunakan dalam hasrat
meski ada peralatan adaptif berpartisip untuk
keterbatasan asi <50% berpartisi
waktu pasi
dalam
aktivitas
ADL Mandiri Mandiri Manual Alat
menggunakan alat bantuan, 1, bantu
adaptif supervise ADL
tugas secara
lengkap total
Status Mandiri di Mandiri dengan Mod asisten Asisten 1-
kinerja ruangan atau bantuan minimal 1 1 orang 2 orang
unit mandiri dalam dalam
menggunakan alat ruangan ruangan
yang adaptive

8. HASIl :
EFAT mengkaji 10 status fungsional pada pasien kanker. Alat ini menggambarkan
setiap fungsi dalam skala 0 hingga 3 (0= menunjukkan fungsi mandiri; 3=
kehilangan seluruh fungsi kemandirian). Total skor maksimal pada EFAT adalah
30. Semakin tinggi nilai yang diperoleh saat penilaian, maka menunjukkan semakin
menurunnya status fungsi pada pasien kanker
9. Hal-hal yang perlu diperhatikan :

1. Dalam komunikasi pastikan bina hubungan saling percaya

25
1 Referensi :
0. Gardiner et al. 2013. Evaluation of the Edmonton Functional Assessment Tool
(EFAT2) within palliative care: a pilot study. Aging Clin Exp Res. DOI
10.1007/s40520-013-0174-y. [serial Online] www.sciendirect.com [diakses
pada 13 September 2017]
Grzybek, et al. 2007. The influence of rehabilitation (kinesiotherapy) on the
quality of life of cancer patients provided with palliative care. Advances in
Palliative Medicine. ISSN 1898.3863. vol. 6 (2). [edisi Online].
https://journals.viamedica.pl/advances_in_palliative_medicine/article/view
/29448/24205. [diakses pada Minggu, 1 Oktober 2017].
Hughes. 2012. Assessment and management of pain in older patients receiving
palliative care. Nursing Older People. Vol 4(6). [serial Online].
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/22900393 [diakses pada 12
Sepetember 2017].
Jordhoy et al. 2007. Assessing physical functioning: a systematic review of quality
of life measures developed for use in palliative care. Palliative Medicine.
[serial Online]. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/18073253. [diakses
pada 12 September 2017].
Noel et al. 2011. Rehabilitation of the Hospice and Palliative Care Patient. Journal
Of Palliative Medicine. DOI: 10.1089/jpm.2010.0125. Vol 14 (5). [serial
Online]. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/21592031. [diakses pada
13 September 2017].

26
BRIEF FATIGUE INVENTORY

BFI merupakan kuesioner yang dikembangkan dan disusun untuk menilai tingkat
kelelahan pada pasien kanker. Terdiri dari 4 subscala dengan skor maksimal adalah 10
dan minimal 0 untuk masing-masing item. Semakin tinggi skor BFI menunjukkan
semakin tinggi tingkat kelelahan pasien.

JUDUL SOP :

PSIK Brief Fatigue Inventory


(Menilai Tingkat Kelelahan)
UNIVERSITAS
JEMBER

NO DOKUMEN : NO REVISI : HALAMAN :


I
TANGGAL TERBIT : DITETAPKAN OLEH :
PROSEDUR
TETAP Ketua PSIK
Universitas Jember

1. PENGERTIAN BFI merupakan kuesioner yang


dikembangkan dan disusun untuk
menilai tingkat kelelahan pada
pasien kanker.
2. TUJUAN Untuk memberikan penilaian
secara cepat, yang dapat
mengidentifikasi pasien dengan
kelelahan berat.
4. PERSIAPAN KLIEN 1. Berikan salam, perkenalkan
diri anda, dan identifikasi klien
dengan memeriksa identitas
klien secara cermat.
2. Jelaskan tentang prosedur
tindakan yang akan dilakukan,
berikan kesempatan kepada
klien untuk bertanya dan jawab
seluruh pertanyaan klien.
3. Minta pengunjung untuk
meninggalkan ruangan, beri
privasi kepada klien
4. Atur posisi klien sehingga
merasakan aman dan nyaman

5. PERSIAPAN ALAT 10. Siapkan lembar informed


concent
11.Siapkan form brief fatigue
inventory

27
12. Alat tulis (bolpoin dan
kertas)
6. CARA BEKERJA :
Tahap PraInteraksi
1. Mengecek status keperawatan pasien
2. Mengumpulkan data identitas klien
3. Mencuci tangan
4. Menyiapkan alat
5. Atur ruangan tenang dan nyaman

Tahap Orientasi
1. Menyapa klien dengan mengucapkan salam kepada klien dan keluarga
2. Memperkenalkan diri dan membina hubungan saling percaya pada
klien dan keluarga
3. Melakukan kontrak waktu, tempat dan tindakan yang akan dilakukan
4. Menjelaskan tujuan dan prosedur pelaksanaan
5. Menjelaskan bahwa jawaban kuisioner tidak mempengaruhi fasilitas
serta pelayanan kesehatan yang tersedia
6. Memberi kesempatan klien untuk bertanya
7. Menanyakan persetujuan (informed concent) kepada klien atau
keluarga
8. Menanyakan apakah klien ingin diberi ruang privasi saat menjawab
setiap pertanyaan saat pengkajian

Tahap Kerja
1. Menjelaskan prosedur pengisian form brief fatigue inventory
2. Meminta klien untuk menjawab pertanyaan sesuai dengan apa yang
klien rasakan
3. Menjelaskan bahwa klien dapat menyampaikan klarifikasi atau
pengulangan kembali pertanyaan yang belum diterima secara jelas
pada saat pengkajian
4. Melakukan pengkajian menggunakan form brief fatigue inventory
5. Berikan pertanyaan pada pasien, apakah merasa lelah atau lelah pada
minggu lalu. Berikan skala BFI untuk menentukan tingat kelelahan
pasien
6. Minta pasien untuk menggambarkan kelelahan yang dialami saat ini
dengan skala BFI
7. Minta pasien untuk menentukan skala BFI yang menggambarkan
tingkat kelelahan yang biasa atau yang dapat dikontrol oleh tubuh
selama 24 jam terakhir
8. Minta pasien untuk menentukan skala BFI yang menggambarkan
tingkat kelelahan yang terberat atau tidak dapat dikontrol oleh tubuh
selama 24 jam terakhir
9. Berikan arahan pada pasien untuk melingkari nomor skala BFI yang
menggambarkan beberapa hal yang dilakukan selama 24 jam terakhir
sbb :
a. Aktifitas umum
b. Suasana hati
c. Kemampuan berjalan ( termasuk pekerjaan diluar rumah dan
pekerjaan sehari-hari)
d. Hubungan dengan orang lain
e. Kenikmatan hidup
10. Menginformasikan kepada klien saat pengkajian telah selesai

28
dilaksanakan

Tahap Terminasi
1. Berikan reinforcement positif kepada klien
2. Mengkaji proses dan hasil kuisioner yang telah ditanyakan
3. Mengevaluasi tingkat kelelahan yang dialami klien karena penyakit
yang dialami.
4. Menganalisis sesi yang dilakukan untuk melihat kefektifan pengkajian
brief fatigue inventory
5. Ucapkan salam dan akhiri pertemuan dengan klien

HASIl :
1. Indeks minimum: 0
2. Indeks maksimum: 10
3. Semakin tinggi indeks, semakin besar kelelahan.
4. Indeks Tingkat Kelelahan
a. Tahap 1 (Ringan)
Tahap ringan memiliki rentang 1-4 yang merupakan tingkat
kelelahan yang masih bisa dikontrol oleh tubuh dan juga masih
bisa dikendalikan oleh pasien (tidak terganggu)
b. Tahap 2 (Moderat)
Tahap moderat memiliki rentang 5-6 yang merupakan tingkat
kelelahan dimana respon tubuh mulai sedikit merasakan nyeri
yang berlebihan namun masih bisa diatasi oleh pasien (sedikit
terganggu)
c. Tahap 3 (Berat)
Tahap berat memiliki rentang 7-10 yang merupakan tingkat
kelelahan yang sudah berlebihan dan tidak dapat diatasi oleh
pasien (sangat terganggu)
8. HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN :
1. Perhatikan ekspresi klien
2. Perhatikan privasi klien
9 REFERENSI :
Lai S.c, Lin W.C et al.2017.Development of a Taiwan cancer-related fatigue
cognition questionnaire: reliability and validity. [Serial Online]
http://www.impactjournals.com/oncotarget/index.php?journal=oncot
arget (diakses pada tanggal 20 September 2017)
Kim H-J, Abraham I.2016.Measurement of fatigue: Comparison of the
reliability and validity of single-item and short measures to a
comprehensive measure. [Serial Online] http://sci-
hub.cc/10.1016/j.ijnurstu.2016.10.012 (diakses pada tanggal 20
September 2017)
Pyzora A. Budzynski J et al.2017. Physiotherapy programme reduces fatigue
in patients with advanced cancer receiving palliative care: randomized
controlled trial. [Serial Online] https://sci-hub.cc/10.1007/s00520-
017-3742-4 (diakses pada tanggal 20 September 2017)
Young H.Y, Myung K.L et al.2008. Fatigue in the General Korean Population:
Application and Normative Data of the Brief Fatigue Inventory. [Serial
Online] https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/18411013 (diakses
pada tanggal 20 September 2017)
Lara T. Ilana M et al.2011. Parsing Depression From Fatigue in Patients with
Cancer Using the Fatigue Symptom Inventory. [Serial Online]
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/21398085 (diakses pada

29
tanggal 20 September 2017)

Kuisioner Tingkat Kelelahan

Alamat ID:… Rumah Sakit:...


Tanggal:…./…../…. Waktu:…
Nama:……

Sepanjang hidup kita, seringkali kita memiliki saat-saat ketika kita merasa sangat lelah
atau letih. Pernahkah Anda merasa lelah atau lelah dalam minggu ini? Ya:…Tidak:…
1. Silahkan menilai kelelahan Anda dengan mengitari satu nomor yang paling tepat
untuk menggambarkan keletihan Anda sekarang.
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Tidak Lelah Kelelahan Terburuk
2. Silahkan menilai kelelahan Anda dengan mengitari satu nomor yang paling tepat
untuk menggambarkan tingkat kelelahan Anda selama 24 jam terakhir.
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Tidak Lelah Kelelahan Terburuk
3. Silahkan menilai kelelahan Anda dengan mengitari satu nomor yang palng tepat
untuk menggambarkan tingkat kelelahan terburuk Anda selama 24 jam terakhir.
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Tidak Lelah Kelelahan Terburuk
4. Lingkari satu angka yang menggambarkan bagaimana keletihan yang telah
mengganggu anda selama 24 jam terakhir.
A. Aktivitas Umum
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Tidak Mengganggu Benar-benar mengganggu
B. Suasana Hati
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Tidak Mengganggu Benar-benar mengganggu

C. Kemampuan Berjalan
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Tidak Mengganggu Benar-benar mengganggu
D. Pekerjaan Normal (termasuk pekerjaan di luar rumah dan pekerjaan
sehari-hari)

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Tidak Mengganggu Benar-benar mengganggu
E. Hubungan dengan Orang Lain

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Tidak Mengganggu Benar-benar mengganggu
F. Kenikmatan Hidup

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Tidak Mengganggu Benar-benar mengganggu

30
KARNOFSKY PERFORMANCE SCALE

Karnofsky Performance Scale merupakan suatu alat ukur untuk gangguan


fungsional. Alat ini digunakan untuk membandingkan keefektifan berbagai terapi dan
untuk menilai prognosis pada pasien individual. Semakin rendah nilai Karnofsky
semakin buruk kemungkinan bertahan hidup.

JUDUL SOP :

PENILAIAN SKOR AKTIVITAS SEHARI-HARI MENGGUNAKAN


PSIK KARNOFSKY PERFORMANCE SCALE (KPS)

UNIVERSITAS
JEMBER

NO DOKUMEN : NO REVISI : HALAMAN :


I
TANGGAL TERBIT : DITETAPKAN OLEH :
PROSEDUR
TETAP Ketua PSIK
Universitas Jember

1. PENGERTIAN Karnofsky Performance Scale merupakan


suatu alat ukur untuk gangguan
fungsional. Alat ini digunakan untuk
membandingkan keefektifan berbagai
terapi dan untuk menilai prognosis pada
pasien individual. Semakin rendah nilai
Karnofsky semakin buruk kemungkinan
bertahan hidup.
2. TUJUAN Untuk mengetahui nilai status kinerja atau
kemampuan pasien untuk melakukan
aktivitas sehari-hari.
4. PERSIAPAN KLIEN 1. Pastikan identitas klien yang akan
dilakukan tindakan
2. Kaji kondisi klien
3. Jelaskan kepada keluarga mengenai
tindakan yang akan dilakukan
4. Jaga privasi klien dan keluarga
5. PERSIAPAN ALAT 1. Siapkan lembar Informed Consent
2. Mencuci tangan
6. CARA BEKERJA :
Tahap PraInteraksi
1. Mengeksplorasi perasaan, mengidentifikasi harapan dan mengidentifikasi kecemasan
2. Mengumpulkan data klien berupa aktivitas sehari-hari klien
3. Merencanakan pertemuan dengan klien
Tahap Orientasi
1. Mengucap salam terapeutik
2. Membina hubungan saling percaya, menunjukkan penerimaan dan komunikasi

31
terbuka
3. Merumuskan kontrak (waktu, tempat pertemua, dan topik pembicaraan) bersama
dengan klien dan menjelaskan atau mengklarifikasi kembali kontrak yang telah
disepakati bersama
4. Menjelaskan tujuan dan prosedur pelaksanaan
5. Menanyakan kesediaan dan berikan kesempatan kepada klien untuk bertanya
6. Menjaga privasi klien
Tahap Kerja
1. Gunakan Karnofsky Performance Scale untuk menentukan penilaian awal saat masuk
atau memulai perawatan
2. Kaji secara rutin, minimal setiap hari di tempat rawat inap, pada setiap kunjungan di
lingkungan komunitas atau saat konsultasi
3. Kaji kapan pun terjadi perubahan fase dan pada akhir perawatan saat pasien
dipulangkan
4. Penilaian dapat dilakukan secara tatap muka atau melalui telepon
5. Catat rating berupa angka. Penulisan skor seperti 45, 55 bukan rentang nilai seperti
50-60 karena ini tidak valid
Tahap Terminasi
1. Berikan reinforcement positif kepada klien
2. Beritahu hasi; dari pengkajian Karnofsky Performance Scale
3. Ucapkan salam dan akhiri pertemuan dengan klien dan keluarga
7. HASIL :
Dokumentasikan nama, tindakan, tanggal, jam tindakan, hasil yang diperoleh, respon
klien selama tindakan, nama dan paraf perawat pelaksana serta hasil skor penilaian
karnofsky performance scale
Karnofsky Performance Scale Skor Keterangan
Mampu melakukan aktivitas 100 Normal; tidak ada keluhan; tidak terdeteksi
normal dan bekerja; tidak ada penyakit
perawatan khusus yang 90 Mampu melakukan aktivitas normal; tanda
dibutuhkan dan gejala penyakit sedikit
80 Aktivitas normal dengan usaha; beberapa
tanda dan gejala penyakit
Tidak bisa bekerja; mampu 70 Cares of self; tidak dapat melakukan aktivtas
tinggal di rumah dan merawat normal atau melakukan pekerjaan aktif
sebagian besar kebutuhan 60 Membutuhkan bantuan sesekali, namun
pribadi; berbagai jumlah dapat merawat sebagian besar kebutuhan
bantuan yang dibutuhkan pribadinya
50 Membutuhkan banyak bantuan dan
perawatan medis yang sering
Tidak dapat merawat diri; 40 Membutuhkan banyak bantuan dan
membutuhkan layanan perawatan medis yang sering
kelembagaan atau rumah sakit 30 Cacat; membutuhkan perawatan dan
yang setara; penyakit bisa bantuan khusus
berkembang dengan cepat 20 Sangat cacat; pendaftaran di rumah sakit
diindikasikan meski kematian tidak segera
terjadi
10 Hampir meninggal; proses fatal berkembang
dengan cepat
0 Meninggal
8. Hal-hal yang perlu diperhatikan :
Karnofsky Performance Scale dirancang untuk klien yang berusia 16 tahun keatas
9 Referensi :
Abernethy, A. P., et.al. 2005. The Australia-modified Karnofsky Performance Status (AKPS)

32
Scale: A Revised Scale for Contemporary Palliative Care Clinical Practice [Electronic
Version]. BioMed Central Palliative Care, 4, 1-12
Johnson, Miriam J, et.al. 2014. The Relationship Between Two Performance Scales: New
York Heart Assosiation Classification and Karnofsky Performance Status Scale. Vol.
47 No. 3
Shin, Ki Y. 2013. Rehabilitation Medicine Quick Reference : Cancer. New York : Demos
Medical Publishing
https://books.google.co.id/books?id=URqoAQAAQBAJ&pg=PA8&dq=karnofsky+
performance+scale&hl=en&sa=X&ved=0ahUKEwj5mPa6p9zWAhUCW7wKHeCa
Bv4Q6AEIMTAC#v=onepage&q=karnofsky%20performance%20scale&f=false

33
WHOQOL-BREF

Whoqol-Bref merupakan suatu alat ukur yang digunakan untuk mengukur suatu
kualitas hidup seseorang yang terdiri dari 26 pernyataan. Dengan skor minimal 0 dan
maksimal 100 Interpretasi kuesioner ini adalah :
a. 0-20 : Sangat Buruk
b. 21-40 : Buruk
c. 41-60 : Sedang
d. 61-81 : Baik
e. 81-100 : Sangat Baik
Semakin tinggi skor semakin baik kualitas hidup responden

JUDUL SOP :

WHOQOL-BREF
PSIK

UNIVERSITAS
JEMBER

NO DOKUMEN : NO REVISI : HALAMAN :


I
TANGGAL TERBIT : DITETAPKAN OLEH :
PROSEDUR
TETAP Ketua PSIK
Universitas Jember

1. PENGERTIAN Whoqol-Bref merupakan suatu alat


ukur yang digunakan untuk mengukur
suatu kualitas hidup seseorang.
2. TUJUAN 4. Untuk mengevalusi kualitas hidup
klien.
5. Untuk menilai dan mengevaluasi
efek berbagai faktor
sosiodemografi yang
mempengaruhi kualitas hidup
klien.
4. PERSIAPAN KLIEN 6. Berikan salam, perkenalkan diri
anda, pastikan identitas klien yang
akan dilakukan tindakan
7. Jelaskan tentang prosedur tindakan
yang akan dilakukan, berikan
kesempatan kepada klien untuk
bertanya dan jawab seluruh
pertanyaan klien.
8. Jaga privasi klien dan keluarga
9. Atur Posisi Klien sehingga merasa
nyaman dan aman

34
5. PERSIAPAN ALAT 4. Siapkan lembar informed concent
5. Siapkan form WHOQOL-BREF
6. Alat tulis (bolpoin dan kertas)
6. CARA BEKERJA :
Tahap PraInteraksi
5. Mengecek ulang hasil catatan perkembangan keperawatan klien
6. Mengumpulkan data identitas klien
7. Mencuci tangan
8. Menyiapkan alat
9. Atur ruangan tenang dan nyaman
Tahap Orientasi
7. Menyapa klien dengan mengucapkan salam kepada klien dan keluarga
8. Memperkenalkan diri dan membina hubungan saling percaya pada klien
dan keluarga
9. Melakukan kontrak waktu, tempat dan tindakan yang akan dilakukan
10. Menjelaskan tujuan dan prosedur pelaksanaan
11. Menjelaskan bahwa jawaban kuisioner tidak mempengaruhi fasilitas serta
pelayanan kesehatan yang tersedia
12. Memberi kesempatan klien untuk bertanya
13. Menanyakan persetujuan (informed concent) kepada klien atau keluarga
14. Menanyakan pada klien ingin diberi ruang privasi saat menjawab
pertnyaan
Tahap Kerja
7. Menjelaskan prosedur pengisian kuesioner WHOQOL-BREF dengan
memberikan tanda centang di setiap kolom skor.
8. Meminta klien untuk mengisi kuesioner sesuai dengan kehidupannya
9. Jika pasien merasa tidak yakin dengan jawaban yang akan diisikan
terhadap soal kuesioner yang diberikan, maka jelaskan kepada pasien
bahwa pikiran yang pertama kali muncul pada benak pasien sering kali
merupakan jawaban yang terbaik
10. Pasien diminta untuk menanamkan dalam pikirannya tentang segala
standar hidup, harapan, kesenangan dan perhatian di kehidupan pasien
dalam empat minggu terakhir.
11. Menjelaskan bahwa klien dapat menyampaikan klarifikasi atau
pertanyaan yang belum diterima secara jelas pada saat pengisian
kuesioner
12. Melakukan pengkajian menggunakan form WHOQOL-BREF yang terdiri
dari 26 pertanyaan yaitu :
1) Bagaimana kualitas hidup anda
2) Seberapa puas anda tentang kesehatan anda
3) Apakah rasa sakit fisik anda mencegah dalam beraktifitas
4) Seberapa sering anda membutuhkan terapi medis dalam
kehidupan sehari-hari anda
5) Seberapa jauh anda menikmati hidup anda
6) Seberapa jauh anda merasa hidup anda berarti
7) Seberapa jauh anda mampu berkonsentrasi
8) Secara umum seberapa aman anda rasakan dalam kehidupan anda
sehari-hari
9) Seberapa sehat lingkungan anda tinggal (berkaitan dengan sarana
prasarana)
10) Apakah anda memiliki ventilasi yang cukup untuk aktifitas sehari-
hari
11) Apakah anda dapat menerima penampilan hidup anda

35
12) Apakah anda memiliki cukup uang untuk memenuhi kebutuhan
anda
13) Seberapa penting ketersediaan informasi bagi kehidupan anda dari
hari ke hari
14) Seberapa sering anda memiliki kesempatan untuk rekreasi
15) Seberapa baik kemampuan anda dalam bergaul
16) Seberapa puas anda dengan kualitas tidur anda
17) Seberapa puas anda dengan kemampuan anda untuk menampilkan
aktivitas kehidupan sehari-hari
18) Seberapa puas anda dengan kemampuan anda untuk bekerja
19) Seberapa puas anda terhadap diri anda
20) Seberapa puas anda dengan hubungan social anda
21) Seberapa puas anda dengan kehidupan seksual anda
22) Seberapa puas anda dengan dukungan yang anda peroleh dari
teman
23) Seberapa puas anda dengan kondisi tempat itnggal anda saat ini
24) Seberapa puas anda dengan akses pada layanan kesehatan
25) Seberapa puas anda dengan transportasi yang harus anda jalani
26) Seberapa sering anda memiliki perasaan negative
13. Menginformasikan kepada klien saat pengisian kuesioner telah selesai
dilaksanakan
Tahap Terminasi
4. Berikan reinforcement positif kepada klien
5. Mengevaluasi tingkat kualitas hidup yang dialami klien
6. Menganalisis hasil yang dilakukan untuk melihat keefektifan pengisian
kuesioner WHOQOL-BREF
7. Ucapkan salam dan akhiri pertemuan dengan klien

7. HASIl :
1. WHOQOL-BREF terdiri dari 4 domain antara lain :
a. Domain 1 Kesehtan fisik, subskala kesehatan fisik terdapat pada item
peryataan nomor 3,4,10,15,16,17,18
b. Domain 2 Psikologis, subskala Psikologis terdapat pada item
peryataan nomor 5,6,7,11,19,26
c. Domain 3 Hubungan Sosial, subskala hubungan sosial terdapat pada
item peryataan nomor 20,21,22
d. Domain 4 Lingkungan Sosial, subskala lingkungan social terdapat
pada item peryataan nomor 8,9,12,13,14,23,24,25
2. Setiap item memilki nilai 1-5
3. Peryataan unfavourable terdiri dari 3,4,26
4. Penilaian untuk peryataan favourable
a. Sangat buruk dinilai 1
b. Tidak memuaskan dinilai 2
c. Biasa-biasa saja dinilai 3
d. Baik dinilai 4
e. Sangat baik dinilai 5
5. Sedangkan untuk penilaian unfavourable adalah sebaliknya
6. Hasil akhir adalah skor kualitas hidup
f. 0-20 : Sangat Buruk
g. 21-40 : Buruk
h. 41-60 : Sedang
i. 61-81 : Baik
j. 81-100 : Sangat Baik

36
7. Semakin tinggi skor semakin baik kualitas hidup responden
8. Hal-hal yang perlu diperhatikan :
Dalam melakukan pengukuran kualitas hidup responden selalu perhatikan hal
berikut ini:
1. Selalu menjaga privasi klien
2. Berilah penjelasan pada responden secara jelas
9 Referensi :

Anoname. Quality Of Life (Whoqol) -Bref - World Health Organization.


www.who.int/substance_abuse/research_tools/en/indonesian_whoqol.
pdf
Joshi Utsav, Subedi Roshan, el all. 2017. Assessment of quality of life in patients
undergoing hemodialysis using WHOQOL-BREF questionnaire: a
multicenter study. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/28790861

37
WHOQOL- BREF
Pertanyaan berikut ini menyangkut perasaan anda terhadap kualitas hidup,
kesehatan dan hal-hal lain dalam hidup anda. Pilihlah jawaban yang menurut anda
paling sesuai. Jika anda tidak yakin tentang jawaban yang akan anda isikan terhadap
soal kuesioner yang diberikan, pikiran yang pertama kali muncul pada benak anda
sering kali merupakan jawaban yang terbaik.
Camkanlah dalam pikiran anda segala standar hidup, harapan, kesenangan dan
perhatian anda. Pertanyaan dalam kuesioner tentang kehidupan anda dalam empat
minggu terakhir
Sangat Buruk Biasa-Biasa Baik Sangat
Buruk Saja Baik
1. Bagaimanan menurut 1 2 3 4 5
anda kualitas hidup
anda?

Sangat Tidak Biasa-biasa Memuask Sangat


Tidak Memuask Saja an Memuas
Memuaska an kan
n
2 Seberapa puas anda 1 2 3 4 5
terhadap kesehatan
anda?

Pertanyaan berikut adalah tentang seberapa sering anda telah mengalami hal-hal
berikut ini dalam empat minggu terakhir.
Tidak Sedikit Dalam Jumlah Sangat Dalam
Sama Sedikit Sering Jumlah
Sekali Berlebih
an
3 Seberapa jauh rasa 5 4 3 2 1
sakit fisik anda
mencegah anda dalam
beraktifitas sesuai
kebutuhan anda?
4 Seberapa sering anda 5 4 3 2 1
membutuhkan terapi
medis untuk dapat
berfungsi dalam
kehidupan sehari-hari
anda?
5 Seberapa jauh anda 1 2 3 4 5
menikmati hidup anda?
6 Seberapa jauh anda 1 2 3 4 5
merasa hidup anda
berarti?
7 Seberapa jauh anda 1 2 3 4 5
mampu
berkonsentrasi?
8 Secara umum seberapa 1 2 3 4 5
aman anda rasakan
dalam kehidupan anda
sehari-hari?
9 Seberapa sehat 1 2 3 4 5

38
lingkungan dimana
anda tinggal (
berkaitan dengan
sarana dan prasarana)?
Pertanyaan berikut ini adalah tentang seberapa penuh anda alami hal-hal berikut ini
dalam empat minggu terakhir
Tidak Sedikit Sedang Sering Kali Sepenuh
Sama nya
Sekali Dialami
10 Apakah anda memiliki 1 2 3 4 5
vitalitas yang cukup
untuk beraktivitas
sehari-hari?
11 Apakah anda dapat 1 2 3 4 5
menerima penampilan
hidup anda?
12 Apakah anda memiliki 1 2 3 4 5
cukup uang untuk
memenuhi kebutuhan
anda?
13 Seberapa jauh 1 2 3 4 5
ketersediaan informasi
bagi kehidupan anda
dari hari ke hari?
14 Seberapa sering anda 1 2 3 4 5
memiliki kesempatan
untuk bersenang-
senang/ rekreasi?

Sangat Buruk Biasa-biasa Baik Sangat


Buruk Saja Baik
15 Seberapa baik 1 2 3 4 5
kemampuan anda
dalam bergaul?

Sangat Tidak Biasa-biasa Memu Sangat


Tidak Memuaskan Saja askan Memuaskan
Memuaska
n
16 Seberapa puaskah 1 2 3 4 5
anda dengan tidur
anda?
17 Seberapa puaskah 1 2 3 4 5
anda dengan
kemampuan anda
untuk menampilkan
aktivitas kehidupan
anda sehari hari?
18 Seberapa puaskah 1 2 3 4 5
anda dengan
kemampuan anda
untuk bekerja?
19 Seberapa puaskah 1 2 3 4 5

39
anda terhadap diri
anda?
20 Seberapa puaskah 1 2 3 4 5
anda dengan hubungan
personal / sosial anda?
21 Seberapa puaskah 1 2 3 4 5
anda dengan
kehidupan seksual
anda?
22 Seberapa puaskah 1 2 3 4 5
anda dengan dukungan
yang anda peroleh dari
teman anda?
23 Seberapa puaskah 1 2 3 4 5
anda dengan kondisi
tempat tinggal anda
saat ini?
24 Seberapa puaskah 1 2 3 4 5
anda dengan akses
anda pada layanan
kesehatan?
25 Seberapa puaskah 1 2 3 4 5
anda dengan
transportasi yang
harus anda jalani?

Pertanyaan berikut merujuk pada seberapa sering anda merasakan atau mengalami hal-
hal berikut dalam empat minggu terakhir

Tidak Jarang Cukup Sangat Selalu


Pernah Sering Sering
26 Seberapa sering 5 4 3 2 1
anda memiliki
perasaan
negative seperti
‘feeling blue’
(kesepian), putus
asa, cemas dan
depresi?

Tabel berikut ini harus dilengkapi setelah wawancara selesai


Equations for computing domain scores Raw Transformed
Score score
4-20 0-100
27 Domain 1 (6-Q3) + (6-Q4) + Q10 + Q15 + Q16 +Q17 + Q18 a. = b: c:

28 Domain 2 Q5 + Q6 + Q7 + Q11 + Q19 + (6-Q26) a. = b: c:

40
29 Domain 3 Q20 + Q21 + Q22 a. = b: c:

30 Domain 4 Q8 + Q9 + Q12 +Q13 + Q14 + Q23 + Q24 + Q25 a. = b: c:

41
FUNCTIONAL ASSESSMENT OF
CHRONIC ILLNESS THERAPY-SPIRITUAL

Functional Asssessment of Chronic Illness Therapy – Spiritual (FACIT-Sp) adalah


alat ukur untuk menilai tingkatan spiritual pasien dengan penyakit kronis yang
merupakan dampak dari penyakit kronis yang dialami. FACIT-Sp diberikan kepada
pasien berupa kuesioner (12 item).

JUDUL SOP :

PSIK FUNCTIONAL ASSESSMENT OF


CHRONIC ILLNESS THERAPY-SPIRITUAL
UNIVERSITAS
JEMBER

NO DOKUMEN : NO REVISI : HALAMAN :


I
TANGGAL TERBIT : DITETAPKAN OLEH :
PROSEDUR
TETAP Ketua PSIK
Universitas Jember

1. PENGERTIAN Functional Asssessment of Chronic Illness


Therapy – Spiritual (FACIT-Sp) adalah
alat ukur untuk menilai tingkatan
spiritual pasien dengan penyakit kronis
yang merupakan dampak dari penyakit
kronis yang dialami. FACIT-Sp diberikan
kepada pasien berupa kuesioner (12
item).

2. TUJUAN 1. Untuk menilai tingkatan spiritual


pasien dengan penyakit kronis yang
merupakan dampak dari penyakit
kronis yang dialami
2. Untuk mengevaluasi tingkatan
spiritual pasien dalam menjalani
kehidupan dengan penyakit kronik
yang dialami.

3. PERSIAPAN KLIEN 12. Pastikan identitas klien yang akan


diberikan kuesioner
13. Kaji kondisi klien
14. Jelaskan pada klien mengenai
prosedur yang akan dilakukan
15. Lembar kuesioner yang akan diisi
oleh klien menentukan tingkat
spiritual

42
16. Jaga privasi klien dan keluarga

4. PERSIAPAN ALAT 3. Lembar Informed Consent


4. Form kuesioner FACIT-Sp
5. Alat tulis (bulpoin)

5. CARA BEKERJA :
Tahap PraInteraksi
1. Mencuci tangan
2. Periksa nama pasien, dan catatan keperawatan
3. Menyiapkan alat

Tahap Orientasi
1. Mengucapakan salam terapeutik
2. Perkenalkan diri
3. Membina hubungan saling percaya, menunjukkan penerimaan dan
komunikasi terbuka
4. Merumuskan kontrak (waktu, tempat, pertemuan, dan topic pembicaraan)
bersama-sama dengan klien dan menjelaskan atau mengklarifikasi kembali
kembali kontrak yang telah disepakati bersama.
5. Menjelaskan tujuan pelaksanaan dan prosedur pelaksanaan
6. Menanyakan persetujuan atau kesiapan (informed concent) pasien
maupun keluarga
7. Memberikan privasi kepada pasien.

Tahap Kerja
1. Menjelaskan cara atau prosedur untuk mengisi kuesioner, yaitu memilih
jawaban yang sesuai dengan keadaan dirinya.
2. Memberikan kuesioner FACIT-Sp kepada pasien. Apabila pasien tidak bisa
mengisi sendiri, perawat akan menanyakan kepada pasien. Berikut adalah
hal-hal yang ditanyakan dalam kuesioner :
1) Bagaimana perasaan pasien ? Merasa damai atau tidak ?
2) Apakah pasien memiliki alasan untuk hidup ?
3) Apakah hidup pasien sudah produktif ?
4) Apakah pasien mengalami kesulitan untuk merasa tenang ?
5) Apakah pasien memiliki tujuan hidup ?
6) Apakah pasien merasakan kenyamanan dalam dirinya ?
7) Apakah pasien merasakan harmoni (kesesuaian, kecocokan,
keselarasan) dalam dirinya ?
8) Apakah pasien merasakan hidupnya memiliki makna dan tujuan
hidup ?
9) Apakah pasien menemukan kenyamanan dalam keyakinan atau
kepercayaan spiritualnya ?
10) Apakah pasien menemukan kekuatan dalam keyakinan atau
kepercayaan spiritual dalam dirinya ?
11) Apakah penyakit pasien telah memperkuat keyakinan atau
kepercayaan spiritualnya ?
12) Apakah pasien merasakan dirinya akan baik-baik saja apapun yang
terjadi pada penyakitnya tersebut ?
3. Apabila pasien bisa mengisi kuesioner, berikut pernyataan yang dijawab
dalam kuesioner :
1) Saya merasa damai
2) Saya punya alasan untuk hidup

43
3) Hidup saya sudah produktif
4) Saya mengalami kesulitan untuk merasa tenang
5) Saya memiliki tujuan dalam hidup saya
6) Saya merasakan kenyamanan dalam diri saya
7) Saya merasakan ada harmoni (kesesuaian, kecocokan, keselarasan)
dalam diri saya
8) Hidup saya tidak memiliki makna dan tujuan
9) Saya menemukan kenyamanan dalam keyakinan atau kepercayaan
spiritual saya
10) Saya menemukan kekuatan dalam keyakinan atau kepercayaan
spiritual saya
11) Penyakit saya telah memperkuat keyakinan atau kepercayaan
spiritual saya
12) Saya tahu bahwa apapun yang terjadi dengan penyakit saya,
semuanya akan baik-baik saja
4. FACIT-Sp memiliki 12 pertanyaan yang meliputi tentang spiritual pasien,
masing-masing wajib dijawab dengan menggunakan skala linkert 5 poin,
mulai dari 0 (tidak sama sekali), 1 (sedikit), 2 (beberapa hal), 3 (cukup)
sampai 4 (sangat banyak). (Kuesioner terlampir).
5. Hitung skor dari FACIT-Sp dengan cara menghitung jumlah skor dari
jawaban yang sudah dipilih oleh klien.
6. Informasikan kepada klien bahwa prosedur pelaksanaan telah selesai
dilaksanakan.

Tahap Terminasi
1. Analisis hasil skor yang didapatkan
2. Evaluasi tingkat spiritual klien
3. Berikan reinforcement positif
4. Salam dan akhiri pertemuan

6. HASIl :
Penilaian Kuesioner :
a. Facit-Sp terdiri dari 1 subskala yaitu pernyataan tentang tingkat spiritual klien
b. Dalam subskala terdiri dari 12 item pernyataan, total pernyataan dalam
FACIT-Sp sebanyak 12 item
c. Pernyataan unfavourable (kurang baik) terdiri dari 2 item yaitu item nomer 4
dan 8.
d. Setiap item pernyataan memiliki nilai 0-4
e. Penilaian untuk pernyataan favourable adalah : tidak semua dinilai 0, sangat
sedikit dinilai 1, ragu-ragu dinilai 2, cukup banyak dinilai 3, dan sangat banyak
dinilai 4.
f. Sedangkan untuk penilaian unfavourable adalah sebaliknya.
g. Hasil akhir adalah skor tingkat spiritual klien, dimana total skor tingkat
spiritual antara 0 – 40 :
- Kurang = 0 – 32
- Normal atau cukup = 32
- Sangat baik atau sangat cukup = 32 – 40
h. Semakin tinggi skor mencerminkan semakin tinggi tingkat spiritual klien.

7. Hal-hal yang perlu diperhatikan :


1. Kondisi pasien ketika diruang perawatan
2. Tindakan prosedur oleh perawat
3. Kemampuan perawat dalam menjelaskan FACIT-Sp.

44
8. Referensi :
Murphy, P. E, Canada, A.L, Fitchett, G., dkk. 2010. An examination of the 3-factor
model and structural invariance across racial/ethnic groups for the FACIT-Sp:
a report from the American Cancer Society’s Study of Cancer Survivors-II (SCS-
II). [PDF Online] https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/19367561
(diakses 4 September 2017).
Lazenby, M., Khatib, J., Al-Khair, F., dan Neamat, M. 2010. Psychometric properties of
the Functional Assessment of Chronic Illness Therapy—SpiritualWell-being
(FACIT-Sp) in an Arabic-speaking, predominantly Muslim population. [PDF
Online] https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/21957056 (diakses 4
September 2017).
Ando, M., Morita, T., Akechi, T., dkk. 2009. The Efficacy of Mindfulness-Based
Meditation Therapy on Anxiety, Depression, and Spirituality in Japanese
Patients with Cancer. [PDF Online]
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/19715397 (diakses 4 September
2017).
Zavala, M.W, Maliski, S.L, dan Kwan, L. 2008. Spirituality and quality of life in low-
income men with metastatic prostate cancer. [PDF Online]
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/19061194 (diakses 4 September
2017).
Pearce, M.J, Coan, A.D., dan Herndon, J.E. 2012. Unmet spiritual care needs impact
emotional and spiritual well-being in advanced cancer patients. [PDF Online]
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/22124529 (diakses 4 September
2017).

45
Lembar FACIT-Sp

FACIT-Sp Tidak Sedikit Sedang Cukup Sangat


Sama Banyak Banyak
Sekali
Sp1 Saya merasa damai. 0 1 2 3 4
Sp2 Saya punya alasan untuk hidup.. 0 1 2 3 4
Sp3 Hidup saya sudah produktif. 0 1 2 3 4
Sp4 Saya mengalami kesulitan untuk 0 1 2 3 4
merasa tenang .
Sp5 Saya merasakan tujuan dalam hidup 0 1 2 3 4
saya.
Sp6 Saya bisa mencapai kenyamanan
jauh dalam diri saya 0 1 2 3 4
Sp7 Saya merasakan harmoni dalam diri 0 1 2 3 4
saya
Sp8 Hidup saya tidak memiliki arti dan 0 1 2 3 4
tujuan
Sp9 Saya mendapatkan kenyamanan 0 1 2 3 4
dalam keimanan atau kepercayaan
spiritual saya
Sp10 Saya mendapatkan kekuatan dalam 0 1 2 3 4
keimanan atau kepercayaan spiritual
saya
Sp11 Penyakit saya telah memperkuat 0 1 2 3 4
keimanan atau kepercayaan spiritual
saya
Sp12 Saya tahu bahwa apapun yang terjadi 0 1 2 3 4
dengan penyakit saya, semuanya
akan baik-baik saja

46
BREAKING BAD NEWS

Breaking Bad News atau menyampaikan berita buruk adalah berita (informasi)
yang secara drastis dan negatif mengubah pandangan hidup pasien tentang masa
depannya. Berita buruk sering diasosiasikan dengan suatu diagnosis terminal, di mana
tidak ada harapan lagi, adanya ancaman terhadap kesejahteraan fisik dan mental
seseorang.

JUDUL SOP :

BREAKING BAD NEWS


PSIK (PENYAMPAIAN BERITA BURUK)

UNIVERSITAS
JEMBER

NO DOKUMEN : NO REVISI : HALAMAN :


I
TANGGAL TERBIT : DITETAPKAN OLEH :
PROSEDUR
TETAP Ketua PSIK
Universitas Jember

1. PENGERTIAN Berita buruk adalah berita


(informasi) yang secara drastis dan
negatif mengubah pandangan hidup
pasien tentang masa depannya.
Berita buruk sering diasosiasikan
dengan suatu diagnosis terminal, di
mana tidak ada harapan lagi, adanya
ancaman terhadap kesejahteraan
fisik dan mental seseorang
2. TUJUAN 1. Menyampaikan berita buruk
kepada pasien dan keluarganya
secara benar.
2. Memberikan informed consent
kepada pasien dan keluarganya
dengan benar
3. Mengkomunikasikan prognosis
penyakit.
4. Menggali informasi untuk
mengetahui kesiapan pasien atau
keluarga pasien sebelum
penyampaian berita buruk
4. PERSIAPAN KLIEN 17. Pastikan identitas klien dengan
benar
18. Siapkan ruangan yang menjamin
privacy

47
19. Atur posisi klien maupun
keluarga bisa duduk dalam posisi
yang nyaman
20. Persiapakan informasi klinis yang
relevan dengan berita yang akan
disampaikan

5. PERSIAPAN ALAT 6. Rekam medis


7. Hasil Laboratorium

6. CARA BEKERJA :

Tahap PraInteraksi
STEP 1: S-SETTING up interview
1. Mengecek status keperawatan klien
2. Mengumpulkan data identitas klien
3. Mencuci tangan
4. Menyiapkan rekam medis dan hasil laboratorium
5. Atur ruangan tenang dan nyaman
6. Melibatkan orang terdekat tidak harus pasangan

Tahap Orientasi
1. Memberi salam terapeutik: salam dari perawat kepada klien dan keluarga
2. Duduk bersama, mata sejajar
3. Memperkenalkan diri dan membina hubungan saling percaya pada klien
dan keluarga (kontak mata, sentuhan, sikap tubuh menunjukkan
kepedulian)
4. Melakukan kontrak waktu, tempat dan tindakan yang akan dilakukan
5. Menjelaskan tujuan dan prosedur pelaksanaan
6. Evaluasi/validasi: menanyakan perasaan dan kesiapan klien saat ini

Tahap Kerja
STEP 2: P-Assessing the Patient’s PERCEPTION
1. Menanyakan apa yang klien ketahui tentang penyakitnya
2. Menanyakan bagaimana perasaan klien

STEP 3: I-Obtaining patient’s INVITATION


1. Menanyakan seberapa besar rasa ingin tahu klien tentang penyakitnya

STEP 4: K- Giving KNOWLEDGE and information to the patient


1. Memberitahukan diagnosis dan prognosis sejujurnya dalam bahasa
sederhana dan kalimat yang jelas, jujur, sensitif serta penuh empati kepada
klien
2. Memberikan “warning shot” sebagai indikasi bahwa akan menyampaikan
berita buruk
3. Hindari menggunakan istilah-istilah kedokteran. Lebih baik gunakan kata
yang jelas seperti ―meninggal atau ―kanker.
4. Memberitahukan keparahan penyakit kepada klien dengan sejelas-jelasnya.
5. Memberikan jeda setelah penyampaian suatu berita buruk.
6. Cek apakah klien dapat memahami apa yang disampaikan.
7. Bila prognosis kurang baik, klien harus diyakinkan bahwa akan selalu
mendapat dukungan yang sebesar-besarnya
8. Katakan kepada klien bahwa anda akan selalu bersama dia.

48
9. Hindari kalimat ―Saya minta maaf atau ―Maafkan saya karena kalimat
tersebut dapat diinterpretasikan bahwa petugas medis bertanggung jawab
atas apa yang terjadi, atau bahwa semua ini karena kesalahan petugas
medis.
10. Lebih baik gunakan kalimat ―Maafkan saya harus menyampaikan pada
Anda mengenai hal ini.

STEP 5: E-Adressing the Patient’s EMOTIONS with Emphatic Responses


1. Memberi jeda kepada klien atau keluarga setelah berita buruk disampaikan
oleh perawat.
2. Mengamati reaksi klien atau keluarga terhadap berita yang disampaikan
3. Menyiapkan diri dalam menghadapi berbagai reaksi yang ditunjukan klien
atau keluarga.
4. Mendengarkan dengan tenang dan perhatian penuh.
5. Memahami emosi klien dan ajak klien untuk menceritakan perasaannya
6. Memberikan waktu kepada klien untuk mengekspresikan perasaannya

STEP 6: S-STRATEGY AND SUMMARY


1. Merencanakan tindak lanjut.
2. Memberikan penjelasan yang lengkap pada klien tentang apa saja yang
harus dilakukannya pada tiap langkah, dan apa saja yang mungkin terjadi,
dan apa saja yang bisa membantu mengatasinya bila ternyata muncul hal
yang tidak diinginkan.

Tahap Terminasi
1. Berikan reinforcement positif kepada klien atau keluarga
2. Evaluasi perasaan klien atau keluarga setelah tindakan dilakukan.
3. Ucapkan salam dan akhiri pertemuan dengan klien.

7. HASIL:
1. Klien atau keluarga mengetahui kondisi penyakitnya saat ini.
2. Klien atau keluarga dapat memahami dan menerima tentang kondisi klien
saat ini.
3. Klien atau keluarga mampu membuat rencana tindak lanjut berkaitan
dengan penyakitnya.

8. Hal-hal yang perlu diperhatikan :


1. Perhatikan faktor yang mempengaruhi cara penerimaan klien terhadap
“berita buruk” yaitu jenis kelamin, tingkat pendidikan, usia, kematangan
pribadi, jenis kepribadian, faktor sosial budaya, cara pandang tentang hidup
itu sendiri, dan lain-lain
2. Perhatikan ekspresi klien
3. Perhatikan privasi klien

9 Referensi :
Kaplan, M. 2010. SPIKES: A Framework for Breaking Bad News to Patients With
Cancer. Clinical Journal of Oncology Nursing, Volume 14 Number 4
https://uw.instructure.com/courses/812898/files/22971091/download?wr
ap=1.
Wahyuliati, T. 2016. Ketrampilan Komunikasi – Menyampaikan Berita Buruk (Skills
of Communication – Breaking Bad News)
http://repository.umy.ac.id/bitstream/handle/123456789/4350/filename_
0%3Dfilename-0%3DMakalah%20Yuli%20-

49
%20BREAKING%20BAD%20NEWS%20-%20Bidan%20-
%20%20%20Wonos.pdf?sequence=1&isAllowed=y

50