Anda di halaman 1dari 9

BAB 11

KASUS - KASUS PBB

Kelompok 4

Anggota :

 Ni Wayan Dian Lesya Rahayu (02)


 Ida Bagus Made Widi Adnyana (06)
 Riama Simangunsong (15)
 Ni Kadek Win Kusmiari (32)
 Umi Alimah Nur Hidayah (33)

PROGRAM DIPLOMA 3 PERPAJAKAN

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS UDAYANA

DENPASAR

2019
PEMBAHASAN

11.1 KASUS - KASUS PBB DAN PEMBAHASANNYA

11.1.1 Kasus PBB Yang Pernah Terjadi Di Indonesia

Kamis 30 Agustus 2018, 18:32 WIB

161 Ribu Warga Semarang Dibebaskan dari Pajak Bumi dan Bangunan

Semarang - Pemerintah Kota Semarang membebaskan Pajak Bumi dan


Bangunan (PBB) terhadap 161.860 warga. Syaratnya yaitu Nilai Jual Objek Pajak
(NJOP) di bawah Rp 130 juta.
Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi atau yang akrab disapa Hendi
mengatakan kebijakan tersebut sudah disosialisasikan dan berlaku sejak bulan Maret
2018 lalu. "Warga yang bebas PBB jumlahnya 161.860 orang sampai saat ini," kata
Hendi di Balai Kota Semarang, Kamis (30/8/2018). Dengan kebijakan tersebut,
Pemkot Semarang harus merelakan Rp 12,5 miliar pendapatan asli daerah. Menurut
Hendi jumlah tersebut masih bisa ditutup.

"Dengan berkembangnya sektor wisata di Kota Semarang, pendapatan yang


hilang bisa ditutup dari peningkatan sektor pajak yang berhubungan dengan
pariwisata," jelas Hendi.
Selain pembebasan PBB, Pemkot Semarang juga menghapus sanksi pajak atas
tunggakan PBB sampai masa pajak tahun 2017. Kebijakan berlaku mulai 1 Agustus
2018 hingga 31 Agustus 2018. Dengan ketentuan tersebut, masyarakat tidak perlu
melakukan pengajuan permohonan atau mencari SPPT yang lama.
"Cukup datang ke tempat pembayaran di tiap kecamatan atau pos wilayah
dengan menyebutkan nomor objek pajak serta nama dan alamat sesuai SPPT,"
tandasnya.

Hendi menambahkan, saat ini, selain PBB, penghasil pendapatan terbesar


Pemkot Semarang yaitu pajak BPHT, pajak penerangan jaan, pajak yang berhubungan
dengan wisata, dan pajak reklame.

1
Dirjen Pajak: Kasus MOI penyimpangan pajak PBB
Oleh: Anna Suci Perwitasari

Selasa, 08 Januari 2013 23:32 WIB

JAKARTA. Kasus dugaan penyimpangan pajak di Mall Of Indonesia (MOI),


Kelapa Gading ternyata adalah kasus penyimpangan Pajak Bumi Dan Bangunan
(PBB). Untuk menjalankan penipuannya, diperkirakan terdapat permainan yang
dilakukan oknum Direktorat Jenderal Pajak (DJP) cabang Kelapa Gading. Sang
oknum mengubah subjek pajak dan mengganti luas bangunan dan luas tanah pusat
perbelanjaan tersebut. Menurut Direktur Jenderal Pajak Fuad Rahmany sebenarnya
modus penyimpangan di PBB ini termasuk baru. "Tapi ini sudah lama, dan sudah
kami serahkan ke pihak kepolisian," ungkapnya saat ditemui, Selasa (8/1).

Menurut Direktur Jenderal Pajak Fuad Rahmany sebenarnya modus


penyimpangan di PBB ini termasuk baru. "Tapi ini sudah lama, dan sudah kami
serahkan ke pihak kepolisian," ungkapnya saat ditemui, Selasa (8/1).
Kerugian negara atas penyelewengan ini pun tidak sebombastis kasus Asian
Agri, karena diperkirakan tidak mencapai Rp 1 triliun. Menurut Fuad, pihaknya sudah
mulai menelusuri dugaan penyelewengan yang dilakukan pegawainya dengan modus
tersebut. Sayang, ia belum menyebut berapa banyak kasus yang terkait hal ini karena
nilai nominalnya yang kecil.

Kasus ini sendiri sebenarnya terkait petugas Pajak non-aktif Ajib Hamdani,
yang diduga melakukan pemalsuan data tanah dan bangunan di kawasan Kelapa
Gading. Modusnya agar tagihan pajak atas aset tersebut lebih rendah. Akibatnya,
negara menderita kerugian Rp 6,3 miliar sepanjang 2008-2009 lalu.

2
Sekda Tanggapi Pernyataan Kejari Soal Dugaan Penyimpangan PBB Badung

MANGUPURA, BALIPOST.com – Dugaan penyimpangan di sektor Pajak Bumi dan


Bangunan (PBB) di Kabupaten Badung, ditanggapi Sekretaris Daerah (Sekda) Wayan
Adi Arnawa. Pria yang sebelumnya menjabat sebagai Badan Pendapatan Daerah
(Bapenda)/Pasedahan Agung ini menegaskan penerbitan Surat Keterangan Lunas
(SKL) dilakukan oleh sistem.

“Yang jelas setiap surat SKL keluar berdasarkan sistem yang telah ada. Kami
tidak mungkin mengeluarkan SKL tanpa adanya rekomendasi dari sistem,” tegas Adi
Arnawa, Kamis (14/12).

Pejabat asal Pecatu, Kuta Selatan ini mengakui sempat dipanggil Kejaksaan
Negeri Denpasar, terkait dugaan pelanggaran hukum dalam pengelolaan PBB di
Badung, khususnya masalah penerbitan SKL. “Iya, kemarin (belum lama ini –red)
kita dipanggil untuk dimintai informasi terkait SKL. Yang jelas sudah sesuai sistem,”
katanya.

Menurutnya, mekanisme pengeluaran SKL berawal dari adanya permohonan


oleh Wajib Pajak (WP). Permohonan ini akan ditindaklanjuti oleh petugas Bapenda
dengan memasukan nomor WP pada sistem elektronik yang tersedia, sehingga dapat
diketahui apakah ada tunggakan PBB atau telah memenuhi kewajiban sebagai WP.

“Contoh, ada orang yang memohon keterangan pelunasan pajak untuk urusan
perizinan dan lainnya. Dari nomor wajib pajak yang dimiliki kita bawa ke sistem
terbitlah data (pemohon –red). Dari data itu baru kalau yang bersangkutan lunas
membayar pajak. Ya, kita keluarkan surat SKL, tapi kalau dia nunggak tidak akan
diterbitkan SKL,” jelasnya.

Karena itu, pihaknya menegaskan tidak ada kecurangan dalam penerbitan SKL
yang selama ini menjadi bidikan Kejari Denpasar. Seperti diberitakan, kejari
Denpasar terus berupaya membongkar adanya dugaan penyelewengan yang terjadi di
Pemda Badung. Selain kasus proyek yang sedang berjalan, juga saat ini sedang
menyelidiki dugaan penyimpangan di sektor Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).

Kasi Intel Kejari Denpasar Agus Sastrawan, mengatakan kasus PBB masih
dalam proses lidik. Dari hasil itu nanti baru melangkah ke episode berikutnya. Yakni
apakah ada dugaan pelanggaran hukum dalam pengelolaan pajak sektor PBB di
Badung, khususnya soal SKL. “Kita sedang telaah soal SKL. Karena muaranya dari
sini,” tegasnya.

Sebagai langkah awal, pihaknya sudah memanggil beberapa pihak, termasuk


di antaranya Sekda Badung Adi Arnawa. (parwata/balipost)

3
11.1.2 SOAL PERHITUNGAN PBB

1. Tuan Bonco seorang mahasiswa DIII perpajakan Unibraw pada tahun 2015 hanya
memiliki sebuah objek pajak berupa bumi di kawasan Soekarno-Hatta, Malang dan
diketahui Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NJOPTKP) Bumi tersebut
sebesar Rp. 10.000.000. Berapakah Besar PBB yang terhutang pada tahun 2015 milik
Tuan Bonco !
Jawab :
Karena besarnya NJOPTKP kurang dari Rp. 12.000.000,- maka objek pajak tidak
dikenakan Pajak Bumi dan Bangunan.
2. Tuan Ponco seorang pengusaha terkenal memiliki 2 buah rumah pada tahun 2007,
objek pertama terletak di desa Wlingi, Blitar dan Objek kedua terletak di desa Bendo,
Blitar. Diketahui bahwa untuk objek pertama NJOP Bumi sebesar Rp. 8.000.000,-
dam NJOP Bangunan sebesar Rp. 7.500.000,-. Untuk Objek yang kedua diketahui
NJOP bumi sebesar Rp. 9.000.000,- dan NJOP Bangunan sebesar Rp. 6.000.000,-
Hitung PBB terhutang tahun 2007 Tuan Ponco atas kedua objek tersebut !
Jawab :
PBB Terhutang = Tarif (0,5%) x NJKP
NJKP = NJOP – NJOPTKP
Dimana NJOP = NJOP Bumi + NJOP Bangunan
NJOP Di desa Wlingi
NJOP Bumi = Rp. 8.000.000,-
NJOP Bangunan = Rp. 7.500.000,- (+)
Total Rp. 15.500.000,- Merupakan NJOP terbesar
NJOP di desa Bendo
NJOP Bumi = Rp. 9.000.000,-
NJOP Bangunan = Rp. 6.000.000,- (+)
Total Rp. 15.000.000,-
Desa Wlingi :
NJOP Bumi = Rp. 8.000.000,-
NJOP Bangunan = Rp. 7.500.000,- (+)
NJOP sebagai dasar pengenaan PBB Rp. 15.500.000,- (NJOP Terbesar)
NJOPTK Rp. 12.000.000 –
NJOP untuk Perhitungan PBB Rp. 3.500.000,-

4
Desa Bendo :
NJOP Bumi = Rp. 9.000.000,-
NJOP Bangunan = Rp. 6.000.000,- (+)
NJOP sebagai dasar pengenaan PBB Rp. 15.000.000,-
NJOPTK Rp. 0,- (-)
NJOP untuk Perhitungan PBB Rp. 15.000.000,-
PBB Terhutang = Tarif x NJKP
= 0,5% x 20% x Rp. 18.500.000,-
= Rp. 18.500
3. Tuan Poneng adalah seorang pengusaha terkenal memiliki 2 buah rumah yang terletak
di Blitar. Objek pertama terletak di jalan semeru dan objek kedua terletak di jalan raya
rinjani. Diketahui objek pertama NJOP bumi sebesar Rp. 1.000.000.000,- (1 M) dan
NJOP bangunan Rp. 3.500.000,- (3,5 M) sedangkan untuk yang kedua diketahui
NJOP bumi sebesar Rp. 1.000.000.000,- (1 M) dan NJOP Bangunan sebesar Rp.
4.500.000.000,- (4,5 M). Hitunglah PBB terhutang Tuan Poneng atas kedua objek
tersebut.
Jawab :
NJOP terbesar adalah terletak pada NJOP di Jalan Raya Rinjani dengan :
NJOP Bumi = Rp. 1.000.000.000,-
NJOP bangunan = Rp. 3.500.000.000,- +
NJOP sebagai dasar Pengenaan PBB = Rp. 4.500.000.000,-
NJOPTKP = ( Rp. 0,- )
NJOP untuk Perhitungan PBB = Rp. 4.500.000.000,-
Jl. Semeru :
NJOP Bumi = Rp. 1. 000.000.000,-
NJOP Bangunan = Rp. 4.500.000.000,- +
NJOP sebagai dasar Pengenaan PBB = Rp. 5.500.000.000,-
NJOPTKP = (Rp. 12.000.000,- )
NJOP untuk Perhitungan PBB Rp. 5.488.000.000,-
NJOP = NJOP Bumi + NJOP Bangunan
= Rp. 5.488.000.000 + Rp. 4.500.000.000,- = Rp.9.988.000.000.

5
NJKP : 40% x Rp. 9.988.000.000 = Rp. 3.995.200.000
PBB Terutang = Tarif x NJKP
= 0,5% x Rp 3.995.200.000 = Rp 19.976.000
4. Pak Amin memiliki rumah seluas 50 meter persegi yang berdiri di atas sebidang tanah
seluas 100 meter persegi. Diketahui harga bangunan tersebut adalah Rp500.000,
sedangkan harga tanah tersebut adalah Rp1.000.000. Jadi berapakah PBB yang harus
dibayarkan oleh Pak Amin?
Jawab :
NJOP Bangunan : 50 m2 x Rp500.000 = Rp25.000.000
NJOP Tanah : 100 m2 x Rp 1.000.000 = Rp100.000.000
Nilai Bangunan : Rp25.000.000
Nilai Tanah : Rp100.000.000
---------------------------------------+
NJOP sebagai perhitungan PBB Rp. 125.000.000
NJKP : 20% x Rp125.000.000 = Rp25.000.000
PBB : 0,5% x Rp 25.000.000 = Rp125.000
5. Pak Broto mempunyai objek pajak berupa:
a. Tanah seluas 800 m2 dengan harga jual Rp300.000/m2
b. Bangunan seluas 400 m2 dengan nilai jual Rp350.000/m2
c. Taman mewah seluas 200 m2 dengan nilai jual Rp50.000/m2
d. Pagar mewah sepanjang 120 m dan tinggi rata-rata pagar 1,5 m dengan nilai
jual Rp175.000/m2
e. NJOPTKP ditetapkan Rp10.000.000

Besarnya pajak terutang adalah:

1) Tanah 800 m2 x Rp300.000 = 240.000.000


2) Bangunan 400 m2 x Rp350.000 = 140.000.000
3) Taman 200 m2 x Rp50.000 = 10.000.000
4) Pagar mewah (120x1,5) m2 x Rp175.000 = 31.500.000 (+)
NJOP sebagai dasar pengenaan PBB = 421.500.000
NJOPTKP = 12.000.000 (-)
NJOP sebagai dasar perhitungan PBB = 409.500.000
NJKP 20% x Rp409.500.000 = 81.900.000

6
PBB terutang 0,5% x Rp82.300.000 = Rp 409.500
NJKP 20% karna NJOP sebagai dasar perhitungan pajak < Rp1.000.000.000 dan
kasus di atas termasuk WP PBB Perdesaan dan Perkotaan.
6. Pada awal tahun 2014 tuan dani mempunyai tanah dan bangunan yang mempunyai
harga jual untuk tanah ditaksir 70.000.000. dan bangunan 45.000.000. pada tanggal 20
januari 2015 tuan dani membeli tanah baru dan dijadikan satu dengan tanah yang
lama dengan harga 85.000.000. pada tahun itu pula diatas tanah itu didirikan
bangunan yang digabungkan dengan bangunan lama yang menghabiskan biaya
50.000.000 bila diumpamakan NJOPTKP adalah Rp 12.000.000
Diminta: hitunglah PBB?
Jawab :
Perhitungan NJKP
Tanah = 70.000.000
Bangunan = 45.000.000 (+)
NJOP sebagai dasar pengenaan pajak = 115.000.000
NJOPTKP = 12.000.000 (-)
NJOP untuk perhitungan pajak = 103.000.000
NJKP 20% X 103.000.000 = Rp 20.600.000
PBB 0,5% X 20.600.00 = Rp 103.000
(objek pajak yang dimasukkan dalam perhitungan hanya bumi dan bangunan yang
sudah dimilki pada tanggal 1 januari 2014. Karna dalam aturan PBB OP yang
dimasukkan dalam perhitungan hanya memperhatikan keadaan pada awal tahun.
Sehingga wajib pajak yang baru dibeli tidak diperhitungkan. Objek pajak tersebut
baru dimasukkan sebagai objek pajak tahun berikutnya.

7
DAFTAR PUSTAKA

https://m.detik.com/news/berita-jawa-tengah/d-4190265/161-ribu-warga-semarang-
dibebaskan-dari-pajak-bumi-dan-bangunan ( Diakses pada tanggal 20 April 2019 )
http://www.balipost.com/news/2017/12/14/31508/Sekda-Tanggapi-Pernyataan-
Kejari-Soal...html https://www-cermati-com.cdn.ampproject.org/v/s/ ( Diakses pada
tanggal 19 April 2019 )
www.cermati.com/artikel/amp/pajak-bumi-dan-bangunan-dan-cara-
menghitungnya?amp_js_v=a2&amp_gsa=1&usqp=mq331AQCCAE%3D#referrer=ht
tps%3A%2F%2F (Diakses pada tanggal 19 April 2019 )
www.google.com&amp_tf=Dari%20%251%24s&ampshare=https%3A%2F%2F
(Diakses pada tanggal 18 April 2019 )
www.cermati.com%2Fartikel%2Fpajak-bumi-dan-bangunan-dan-cara-menghitungnya
(Diakses pada tanggal 18 April 2019 )
https://www.google.com/amp/amp.kontan.co.id/news/dijen-pajak-kasus-moi-
penyimpangan-pajak-pbb?espv=1 (Diakses pada tanggal 18 April 2019 )