Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PENDAHULUAN POST PARTUM

DENGAN SECTIO CAESARIA

Oleh :
D-IV KEPERAWATAN SEMESTER IV

TINGKAT 2.A

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN KEPERAWATAN
TAHUN 2016/2017
LAPORAN PENDAHULUAN POST PARTUM
DENGAN SECTIO CAESARIA

A. Konsep Dasar Penyakit


1. Definisi
Sectio caesaria adalah suatu persalinan buatan dimana janin dilahirkan
melalui suatu insisi pada dinding depan perut dan dinding rahim dengan syarat
rahim dalam keadaan utuh serta berat janin di atas 500 gram (Sarwono, 2009).
Menurut Sofian Amru, sectio caesaria adalah suatu cara melahirkan
janin dengan membuat sayatan pada dinding uterus melalui dinding depan
perut (Nurarif, Amin Huda dan Hardhi Kusuma, 2015).

2. Penyebab / Faktor Predisposisi


Berdasarkan waktu dan pentingnya dilakukan sectio caesarea,
maka dikelompokkan 4 kategori (Edmonds, 2007) :
 Kategori 1 atau emergency
Dilakukan sesegera mungkin untuk menyelamatkan ibu atau janin.
Contohnya abrupsio plasenta, atau penyakit parah janin lainnya.
 Kategori 2 atau urgent
Dilakukan segera karena adanya penyulit namun tidak terlalu
mengancam jiwa ibu ataupun janinnya. Contohnya distosia.
 Kategori 3 atau scheduled
Tidak terdapat penyulit.
 Kategori 4 atau elective
Dilakukan sesuai keinginan dan kesiapan tim operasi.

Dari literatur lainnya, yaitu Impey dan Child (2008), hanya


mengelompokkan 2 kategori, yaitu emergency dan elective Caesarean section.
Disebut emergency apabila adanya abnormalitas pada power atau tidak
adekuatnya kontraksi uterus. ‘Passenger’ bila malaposisi ataupun
malapresentasi. Serta ‘ Passage’ bila ukuran panggul sempit atau adanya
kelainan anatomi.
a. Indikasi Ibu
1) Panggul Sempit Absolut
Pada panggul ukuran normal, apapun jenisnya, yaitu
panggul ginekoid, anthropoid, android, dan platipelloid. Kelahiran
pervaginam janin dengan berat badan normal tidak akan
mengalami gangguan. Panggul sempit absolut adalah ukuran
konjungata vera kurang dari 10 cm dan diameter transversa kurang
dari 12 cm.
Oleh karena panggul sempit, kemungkinan kepala tertahan
di pintu atas panggul lebih besar, maka dalam hal ini serviks uteri
kurang mengalami tekanan kepala. Hal ini dapat mengakibatkan
inersia uteri serta lambatnya pembukaan serviks (Prawirohardjo,
2009).
2) Tumor yang dapat mengakibatkan Obstruksi
Tumor dapat merupakan rintangan bagi lahirnya janin
pervaginam.
Tumor yang dapat dijumpai berupa mioma uteri, tumor
ovarium, dan kanker rahim. Adanya tumor bisa juga menyebabkan
resiko persalinan pervaginam menjadi lebih besar. Tergantung dari
jenis dan besarnya tumor, perlu dipertimbangkan apakah persalinan
dapat berlangsung melalui vagina atau harus dilakukan tindakan
sectio caesarea.
Pada kasus mioma uteri, dapat bertambah besar karena
pengaruh hormon estrogen yang meningkat dalam kehamilan.
Dapat pula terjadi gangguan sirkulasi dan menyebabkan
perdarahan. Mioma subserosum yang bertangkai dapat terjadi torsi
atau terpelintir sehingga menyebabkan rasa nyeri hebat pada ibu
hamil (abdomen akut). Selain itu, distosia tumor juga dapat
menghalangi jalan lahir.
Tumor ovarium mempunyai arti obstetrik yang lebih
penting. Ovarium merupakan tempat yang paling banyak
ditumbuhi tumor. Tumor yang besar dapat menghambat
pertumbuhan janin sehingga menyebabkan abortus dan bayi
prematur, selain itu juga dapat terjadi torsi. Tumor seperti ini harus
diangkat pada usia kehamilan 16-20 minggu.
Adapun kanker rahim, terbagi menjadi dua; kanker leher
rahim dan kanker korpus rahim. Pengaruh kanker rahim pada
persalinan antara lain dapat menyebabkan abortus, menghambat
pertumbuhan janin, serta perdarahan dan infeksi. (Mochtar,1998).
3) Plasenta Previa
Perdarahan obstetrik yang terjadi pada kehamilan trimester
ketiga dan yang terjadi setelah anak atau plasenta lahir pada
umumnya adalah perdarahan yang berat, dan jika tidak mendapat
penanganan yang cepat bisa mengakibatkan syok yang fatal. Salah
satu penyebabnya adalah plasenta previa.
Plasenta previa adalah plasenta yang letaknya abnormal,
yaitu pada segmen bawah uterus sehingga dapat menutupi sebagian
atau seluruh pembukaan jalan lahir. Pada keadaan normal plasenta
terdapat di bagian atas uterus. Sejalan dengan bertambah besarnya
rahim dan meluasnya segmen bawah rahim ke arah proksimal
memungkinkan plasenta mengikuti perluasan segmen bawah
rahim.
Klasifikasi plasenta previa didasarkan atas terabanya
jaringan plasenta melalui pembukaan jalan lahir. Disebut plasenta
previa komplit apabila seluruh pembukaan tertutup oleh jaringan
plasenta. Plasenta previa parsialis apabila sebagian permukaan
tertutup oleh jaringan. Dan disebut plasenta previa marginalis
apabila pinggir plasenta berada tepat pada pinggir pembukaan
(Decherney, 2007).
4) Ruptura Uteri
Ruptura uteri baik yang terjadi dalam masa hamil atau
dalam proses persalinan merupakan suatu malapetaka besar bagi
wanita dan janin yang dikandungnya. Dalam kejadian ini boleh
dikatakan sejumlah besar janin atau bahkan hampir tidak ada janin
yang dapat diselamatkan, dan sebagian besar dari wanita tersebut
meninggal akibat perdarahan, infeksi, atau menderita kecacatan
dan tidak mungkin bisa menjadi hamil kembali karena terpaksa
harus menjalani histerektomi. (Prawirohardjo, 2009).
Ruptura uteri adalah keadaan robekan pada rahim dimana
telah terjadi hubungan langsung antara rongga amnion dengan
rongga peritoneum (Mansjoer, 1999).
Kausa tersering ruptur uteri adalah terpisahnya jaringan
parut bekas sectio caesarea sebelumnya. (Lydon,2001).Selain itu,
ruptur uteri juga dapat disebabkan trauma atau operasi traumatik,
serta stimulus berlebihan. Namun kejadiannya relatif lebih kecil
(Cunningham, 2005).
5) Disfungsi Uterus
Mencakup kerja uterus yang tidak adekuat. Hal ini
menyebabkan tidak adanya kekuatan untuk mendorong bayi keluar
dari rahim. Dan ini membuat kemajuan persalinan terhenti
sehingga perlu penanganan dengan sectio caesarea (Prawirohardjo,
2009).
6) Solutio Plasenta
Disebut juga abrupsio plasenta, adalah terlepasnya sebagian
atau seluruh plasenta sebelum janin lahir. Ketika plasenta terpisah,
akan diikuti pendarahan maternal yang parah. Bahkan dapat
menyebabkan kematian janin. Plasenta yang terlepas seluruhnya
disebut solutio plasenta totalis, bila hanya sebagian disebut solutio
plasenta parsialis, dan jika hanya sebagian kecil pinggiran plasenta
yang terpisah disebut ruptura sinus marginalis (Impey, 2008).
b. Indikasi Janin
1) Kelainan Letak
a) Letak Lintang
Pada letak lintang, biasanya bahu berada di atas pintu atas
panggul sedangkan kepala berada di salah satu fossa iliaka dan
bokong pada sisi yang lain. Pada pemeriksaan inspeksi dan palpasi
didapati abdomen biasanya melebar dan fundus uteri membentang
hingga sedikit di atas umbilikus. Tidak ditemukan bagian bayi di
fundus, dan balotemen kepala teraba pada salah satu fossa iliaka.
Penyebab utama presentasi ini adalah relaksasi berlebihan
dinding abdomen akibat multiparitas yang tinggi. Selain itu bisa
juga disebabkan janin prematur, plasenta previa, uterus abnormal,
cairan amnion berlebih, dan panggul sempit. (Cunningham, 2005).
b) Presentasi Bokong
Presentasi bokong adalah janin letak memanjang dengan
bagian terendahnya bokong, kaki, atau kombinasi keduanya.
Dengan insidensi 3 – 4% dari seluruh persalinan aterm. Presentasi
bokong adalah malpresentasi yang paling sering ditemui. Sebelum
usia kehamilan 28 minggu, kejadian presentasi bokong berkisar
antara 25 – 30%. (Decherney,2007).
Faktor resiko terjadinya presentasi bokong ini antara lain
prematuritas, abnormalitas uterus, polihidamnion, plasenta previa,
multiparitas, dan riwayat presentasi bokong sebelumnya.
(Fischer,2006).
c) Presentasi Ganda atau Majemuk
Presentasi ini disebabkan terjadinya prolaps satu atau lebih
ekstremitas pada presentasi kepala ataupun bokong. Kepala
memasuki panggul bersamaan dengan kaki dan atau tangan. Faktor
yang meningkatkan kejadian presentasi ini antara lain prematuritas,
multiparitas, panggul sempit, kehamilan ganda (Prawirohardjo,
2009).
2) Gawat Janin
Keadaan janin biasanya dinilai dengan menghitung denyut
jantung janin (DJJ) dan memeriksa kemungkinan adanya mekonium di
dalam cairan amnion. Untuk keperluan klinik perlu ditetapkan kriteria
yang termasuk keadaan gawat janin.
Disebut gawat janin, bila ditemukan denyut jantung janin di
atas 160/menit atau di bawah 100/menit, denyut jantung tak teratur,
atau keluarnya mekonium yang kental pada awal persalinan.
(Prawirohardjo, 2009).
Keadaan gawat janin pada tahap persalinan memungkinkan
dokter memutuskan untuk melakukan operasi. Terlebih apabila
ditunjang kondisi ibu yang kurang mendukung. Sebagai contoh, bila
ibu menderita hipertensi atau kejang pada rahim yang dapat
mengakibatkan gangguan pada plasenta dan tali pusar. Sehingga aliran
darah dan oksigen kepada janin menjadi terganggu.
Kondisi ini dapat mengakibatkan janin mengalami gangguan
seperti kerusakan otak. Bila tidak segera ditanggulangi, maka dapat
menyebabkan kematian janin. (Oxorn, 2003)
3) Ukuran Janin
Berat bayi lahir sekitar 4000 gram atau lebih (giant baby),
menyebabkan bayi sulit keluar dari jalan lahir. Umumnya
pertumbuhan janin yang berlebihan disebabkan sang ibu menderita
kencing manis (diabetes mellitus). Bayi yang lahir dengan ukuran
yang besar dapat mengalami kemungkinan komplikasi persalinan 4
kali lebih besar daripada bayi dengan ukuran normal. (Oxorn, 2003).
Menentukan apakah bayi besar atau tidak terkadang sulit. Hal ini dapat
diperkirakan dengan cara :
 Adanya riwayat melahirkan bayi dengan ukuran besar, sulit
dilahirkan atau ada riwayat diabetes melitus.
 Kenaikan berat badan yang berlebihan tidak oleh sebab lainnya
(edema, dll).
 Pemeriksaan disproporsi sefalo atau feto-pelvik.
c. Indikasi Ibu dan Janin
1) Gemelli atau Bayi Kembar
Kehamilan kembar atau multipel adalah suatu kehamilan
dengan dua janin atau lebih. Kehamilan multipel dapat berupa
kehamilan ganda (2 janin), triplet (3 janin), kuadruplet (4 janin),
quintuplet (5 janin) dan seterusnya sesuai dengan hukum Hellin.
Morbiditas dan mortalitas mengalami peningkatan yang nyata
pada kehamilan dengan janin ganda. Oleh karena itu,
mempertimbangkan kehamilan ganda sebagai kehamilan dengan
komplikasi bukanlah hal yang berlebihan. Komplikasi yang dapat
terjadi antara lain anemia pada ibu, durasi kehamilan yang memendek,
abortus atau kematian janin baik salah satu atau keduanya, gawat janin,
dan komplikasi lainnya. Demi mencegah komplikasi – komplikasi
tersebut, perlu penanganan persalinan dengan sectio caesarea untuk
menyelamatkan nyawa ibu dan bayi – bayinya. (Prawirohardjo, 2009).
2) Riwayat Sectio Caesarea
Sectio caesarea ulangan adalah persalinan dengan sectio
caesarea yang dilakukan pada seorang pasien yang pernah mengalami
sectio caesarea pada persalinan sebelumnya, elektif maupun
emergency. Hal ini perlu dilakukan jika ditemui hal – hal seperti :
 Indikasi yang menetap pada persalinan sebelumnya seperti
kasus panggul sempit.
 Adanya kekhawatiran ruptur uteri pada bekas operasi
sebelumnya.
3) Preeklampsia dan Eklampsia
Preeklampsia adalah timbulnya hipertensi disertai proteinuria
dan atau edema setelah umur kehamilan 20 minggu atau segera setelah
persalinan. Bila tekanan darah mencapai 160/110 atau lebih, disebut
preeklampsia berat.Sedangkan eklampsia adalah kelainan akut pada
wanita hamil, dalam persalinan atau masa nifas yang ditandai dengan
timbulnya kejang (bukan karena kelainan neurologi) dan atau koma
dimana sebelumnya sudah menunjukkan gejala preeklampsia.
Janin yang dikandung ibu dapat mengalami kekurangan nutrisi
dan oksigen sehingga dapat terjadi gawat janin. Terkadang kasus
preeklampsia dan eklampsia dapat menimbulkan kematian bagi ibu,
janin, bahkan keduanya. (Decherney,2007).
d. Indikasi Sosial
Menurut Mackenzie et al (1996) dalam Mukherjee (2006),
permintaan ibu merupakan suatu faktor yang berperan dalam angka
kejadian sectio caesarea yaitu mencapai 23%. Di samping itu, selain untuk
menghindari sakit, alasan untuk melakukan sectio caesarea adalah untuk
menjaga tonus otot vagina, dan bayi dapat lahir sesuai dengan waktu yang
diinginkan. Walaupun begitu, menurut FIGO (1999) dalam Mukherjee
(2006), pelaksanaan sectio caesarea tanpa indikasi medis tidak dibenarkan
secara etik.
3. Pohon Masalah

Panggul Sempit Sectio Caesarea


Post partum Nifas
Post anasthesi Luka post operasi

Distensi Penurunan Progesterone Psikologi


Penurunan medulla Penurunan kerja Kandung Kemih & Esterogen
oblongata pons Jaringan terputus Jaringan terbuka

Merangsang area Proteksi kurang Edema dan Kontraksi Merangsang


Penurunan Penurunan kerja
sensorik memar di uretra uterus pertumbuhan kelenjar
refleksi batuk otot eliminasi
Invasi bakteri susu & pertumbuhan
Akumulasi sekret Gangguan rasa Penurunan
Penurunan
sensitivitas & sensasi Involusi Peningkatan hormon
peristaltik usus nyaman
Resiko Infeksi
kandung kemih prolaktin
Bersihan jalan Nyeri
napas tidak efektif konstipasi Gangguan
Eliminasi Urin

Adekuat Tidak adekuat


Perdarahan Merangsang Penambahan anggota baru
Pengeluaran
lochea laktasi oksitosin
Ejeksi ASI Tuntutan
Masa kritis anggota baru
Hb Kekurangan vol.cairan Tidak efektif
& elektrolit Efektif Perubahan pola
Kurang O2 ASI tidak keluar Inefektif laktasi Bayi menangis
peran
Resiko Syok
ASI Keluar
Kelemahan Defisit Kurang pengetahuan Ketidakefektifan Gangguan Pola Tidur
Efektif laktasi
Perawatan Diri perawatan payudara pemberian ASI
4. Klasifikasi
a. Abdomen (sectio caesarea abdominalis)
1) Sectio caesarea transperitonealis :
a) Sectio caesarea klasik atau korporal dengan insisi
memanjang pada korpus uteri. Dilakukan dengan membuat
sayatan memanjang pada korpus uteri kira – kira sepanjang
10 cm.
Kelebihan :
 Mengeluarkan janin lebih cepat
 Tidak mengakibatkan komplikasi kandung kemih
 Sayatan bisa diperpanjang proksimal atau distal
Kekurangan :
 Infeksi mudah menyebar
 Sering mengakibatkan ruptur uteri pada persalinan
berikutnya.
b) Sectio caesarea ismika atau profunda atau low cervical
dengan insisi pada segmen bawah rahim. Dilakukan dengan
membuat sayatan melintang konkaf pada segmen bawah
rahim kira – kira 10 cm.
Kelebihan :
 Penjahitan dan penutupan luka lebih mudah
 Mencegah isi uterus ke rongga peritoneum
 Kemungkinan ruptura uteri lebih kecil.
Kekurangan :
 Luka dapat melebar
 Keluhan kandung kemih postoperatif tinggi.
2) Sectio caesarea ekstraperitonealis
Sectio caesarea yang dilakukan tanpa membuka peritoneum
parietalis, dengan demikian tidak membuka kavum abdominal.
b. Vagina (Sectio Caesarea Vaginalis)
Menurut arah sayatan pada rahim, sectio caesarea dapat dilakukan sebagai
berikut :
1) Sayatan memanjang (vertikal) menurut Kronig
2) Sayatan melintang (transversal) menurut Kerr
3) Insisi Klasik
4) Sayatan huruf T terbalik (T-incision).

Gambar 2.2 Skema Insisi Abdomen dan Rahim (Sumber: Obgyn.net)

5. Manifestasi Klinis
a. Plasenta previa sentralis dan lateralis (posterior)
b. Panggul sempit
c. Disporsi sefalopelvik : yaitu ketidakseimbangan antara ukuran kepala
dan ukuran panggul
d. Rupture uteri mengancam
e. Partus lama (prolonged labor)
f. Partus tak maju (obstructed labor)
g. Distosia serviks
h. Pre-eklamsia dan hipertensi
i. Malpresentasi janin
 Letak lintang
 Letak bokong
 Presentasi dahi dan muka (letak defleksi)
 Presentasi rangkap jika reposisi tidak berhasil
 Gemeli
(Nurarif, Amin Huda dan Hardhi Kusuma, 2015)
6. Pemeriksaan Diagnostik / Penunjang
a. Elektroensefalogram ( EEG )
Untuk membantu menetapkan jenis dan fokus dari kejang.
b. Pemindaian CT
Untuk mendeteksi perbedaan kerapatan jaringan.
c. Magneti resonance imaging (MRI)
Menghasilkan bayangan dengan menggunakan lapangan magnetik
dan gelombang radio, berguna untuk memperlihatkan daerah – daerah
otak yang itdak jelas terliht bila menggunakan pemindaian CT.
d. Pemindaian positron emission tomography ( PET )
Untuk mengevaluasi kejang yang membandel dan membantu
menetapkan lokasi lesi, perubahan metabolik atau alirann darah
dalam otak.
e. Uji laboratorium
 Fungsi lumbal :
Menganalisis cairan serebrovaskuler
 Hitung darah lengkap :
Mengevaluasi trombosit dan hematocrit
 Panel elektrolit
 Skrining toksik dari serum dan urin
 AGD
 Kadar kalsium darah
 Kadar natrium darah
 Kadar magnesium darah

7. Penatalaksanaan Medis
a. Perawatan awal
 Letakan pasien dalam posisi pemulihan
 Periksa kondisi pasien, cek tanda vital tiap 15 menit selama 1 jam
pertama, kemudian tiap 30 menit jam berikutnya. Periksa tingkat
kesadaran tiap 15 menit sampai sadar
 Yakinkan jalan nafas bersih dan cukup ventilasi
 Transfusi jika diperlukan
 Jika tanda vital dan hematokrit turun walau diberikan transfusi,
segera kembalikan ke kamar bedah kemungkinan terjadi
perdarahan pasca bedah
b. Diet
Pemberian cairan perinfus biasanya dihentikan setelah penderita flatus
lalu dimulailah pemberian minuman dan makanan peroral. Pemberian
minuman dengan jumlah yang sedikit sudah boleh dilakukan pada 6 - 10
jam pasca operasi, berupa air putih dan air teh.
c. Mobilisasi
Mobilisasi dilakukan secara bertahap meliputi :
 Miring kanan dan kiri dapat dimulai sejak 6 - 10 jam setelah
operasi
 Latihan pernafasan dapat dilakukan penderita sambil tidur
telentang sedini mungkin setelah sadar
 Hari kedua post operasi, penderita dapat didudukkan selama 5
menit dan diminta untuk bernafas dalam lalu menghembuskannya.
 Kemudian posisi tidur telentang dapat diubah menjadi posisi
setengah duduk (semifowler)
 Selanjutnya selama berturut-turut, hari demi hari, pasien
dianjurkan belajar duduk selama sehari, belajar berjalan, dan
kemudian berjalan sendiri pada hari ke-3 sampai hari ke5 pasca
operasi.
d. Fungsi gastrointestinal
 Jika tindakan tidak berat beri pasien diit cair
 Jika ada tanda infeksi , tunggu bising usus timbul
 Jika pasien bisa flatus mulai berikan makanan padat
 Pemberian infus diteruskan sampai pasien bisa minum dengan
baik
e. Perawatan fungsi kandung kemih
 Jika urin jernih, kateter dilepas 8 jam setelah pembedahan atau
sesudah semalam
 Jika urin tidak jernih biarkan kateter terpasang sampai urin jernih
 Jika terjadi perlukaan pada kandung kemih biarkan kateter
terpasang sampai minimum 7 hari atau urin jernih.
 Jika sudah tidak memakai antibiotika berikan nirofurantoin 100
mg per oral per hari sampai kateter dilepas
 Kandung kemih yang penuh menimbulkan rasa nyeri dan tidak
enak pada penderita, menghalangi involusi uterus dan
menyebabkan perdarahan. Kateter biasanya terpasang 24 - 48 jam /
lebih lama lagi tergantung jenis operasi dan keadaan penderita.
f. Pembalutan dan perawatan luka
 Jika pada pembalut luka terjadi perdarahan atau keluar cairan tidak
terlalu banyak jangan mengganti pembalut
 Jika pembalut agak kendor , jangan ganti pembalut, tapi beri
plester untuk mengencangkan
 Ganti pembalut dengan cara steril
 Luka harus dijaga agar tetap kering dan bersih
 Jahitan fasia adalah utama dalam bedah abdomen, angkat jahitan
kulit dilakukan pada hari kelima pasca SC
g. Jika masih terdapat perdarahan
 Lakukan masase uterus
 Beri oksitosin 10 unit dalam 500 ml cairan I.V. (garam fisiologik
atau RL) 60 tetes/menit, ergometrin 0,2 mg I.M. dan prostaglandin
h. Jika terdapat tanda infeksi, berikan antibiotika kombinasi sampai pasien
bebas demam selama 48 jam :
 Ampisilin 2 g I.V. setiap 6 jam
 Ditambah gentamisin 5 mg/kg berat badan I.V. setiap 8 jam
 Ditambah metronidazol 500 mg I.V. setiap 8 jam
i. Analgesik dan obat untuk memperlancar kerja saluran pencernaan
 Pemberian analgesia sesudah bedah sangat penting
 Supositoria = ketopropen sup 2x/ 24 jam
 Oral = tramadol tiap 6 jam atau paracetamol
 Injeksi = penitidine 90-75 mg diberikan setiap 6 jam bila perlu

8. Komplikasi
Yang sering terjadi pada ibu SC adalah :
a. Infeksi puerperial merupakan kenaikan suhu selama beberapa hari
dalam masa nifas dibagi menjadi:
1) Ringan, dengan suhu meningkat dalam beberapa hari
2) Sedang, suhu meningkat lebih tinggi disertai dengan dehidrasi
dan perut sedikit kembung
3) Berat, peritonealis, sepsis dan usus paralitik
b. Perdarahan : perdarahan banyak bisa terjadi jika pada saat
pembedahan cabang-cabang arteri uterine ikut terbuka atau karena
atonia uteri.
c. Komplikasi-komplikasi lainnya antara lain luka kandung kencing,
embolisme paru yang sangat jarang terjadi.
d. Kurang kuatnya parut pada dinding uterus, sehingga pada kehamilan
berikutnya bisa terjadi ruptur uteri.
Yang sering terjadi pada ibu bayi : Kematian perinatal

B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan


1. Pengkajian Keperawatan
Pada pengkajian klien dengan sectio caesaria, data yang dapat ditemukan
meliputi distress janin, kegagalan untuk melanjutkan persalinan, malposisi
janin, prolaps tali pust, abrupsio plasenta dan plasenta previa.
a. Identitas atau biodata klien
Meliputi, nama, umur, agama, jenis kelamin, alamat, suku bangsa, status
perkawinan, pekerjaan, pendidikan, tanggal masuk rumah sakit nomor
register , dan diagnosa keperawatan.
b. Keluhan utama
c. Riwayat kesehatan
1) Riwayat kesehatan dahulu
Penyakit kronis atau menular dan menurun sepoerti jantung, hipertensi,
DM, TBC, hepatitis, penyakit kelamin atau abortus.
2) Riwayat kesehatan sekarang
Riwayat pada saat sebelun inpartu di dapatka cairan ketuban yang
keluar pervaginan secara sepontan kemudian tidak di ikuti tanda-tanda
persalinan.
3) Riwayat kesehatan keluarga
Adakah penyakit keturunan dalam keluarga seperti jantung, DM, HT,
TBC, penyakit kelamin, abortus, yang mungkin penyakit tersebut
diturunkan kepada klien.
d. Pola-pola fungsi kesehatan :
1) Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat
Karena kurangnya pengetahuan klien tentang ketuban pecah dini, dan
cara pencegahan, penanganan, dan perawatan serta kurangnya mrnjaga
kebersihan tubuhnya akan menimbulkan masalah dalam perawatan
dirinya
2) Pola Nutrisi dan Metabolisme
Pada klien nifas biasanaya terjadi peningkatan nafsu makan karena dari
keinginan untuk menyusui bayinya.
3) Pola aktifitas
Pada pasien pos partum klien dapat melakukan aktivitas seperti
biasanya, terbatas pada aktifitas ringan, tidak membutuhkan tenaga
banyak, cepat lelah, pada klien nifas didapatkan keterbatasan aktivitas
karena mengalami kelemahan dan nyeri.
4) Pola eleminasi
Pada pasien pos partum sering terjadi adanya perasaan sering /susah
kencing selama masa nifas yang ditimbulkan karena terjadinya odema
dari trigono, yang menimbulkan inveksi dari uretra sehingga sering
terjadi konstipasi karena penderita takut untuk melakukan BAB.
5) Istirahat dan tidur
Pada klien nifas terjadi perubagan pada pola istirahat dan tidur karena
adanya kehadiran sang bayi dan nyeri epis setelah persalinan
6) Pola hubungan dan peran
Peran klien dalam keluarga meliputi hubungan klien dengan keluarga
dan orang lain.
7) Pola penagulangan steres
Biasanya klien sering melamun dan merasa cemas
8) Pola sensori dan kognitif
Pola sensori klien merasakan nyeri pada prineum akibat luka janhitan
dan nyeri perut akibat involusi uteri, pada pola kognitif klien nifas
primipara terjadi kurangnya pengetahuan merawat bayinya
9) Pola persepsi dan konsep diri
Biasanya terjadi kecemasan terhadap keadaan kehamilanya, lebih-lebih
menjelang persalinan dampak psikologis klien terjadi perubahan
konsep diri antara lain dan body image dan ideal diri
10) Pola reproduksi dan social
Terjadi disfungsi seksual yaitu perubahan dalam hubungan seksual
atau fungsi dari seksual yang tidak adekuat karena adanya proses
persalinan dan nifas.
e. Pemeriksaan fisik
1) Kepala
Bagaimana bentuk kepala, kebersihan kepala, kadang-kadang terdapat
adanya cloasma gravidarum, dan apakah ada benjolan
2) Leher
Kadang-kadang ditemukan adanya penbesaran kelenjar tioroid, karena
adanya proses menerang yang salah
3) Mata
Terkadang adanya pembengkakan paka kelopak mata, konjungtiva, dan
kadang-kadang keadaan selaput mata pucat (anemia) karena proses
persalinan yang mengalami perdarahan, sklera kuning

4) Telinga
Bentuk telingga simetris atau tidak, bagaimana kebersihanya, adakah
cairan yang keluar dari telinga.
5) Hidung
Adanya polip atau tidak dan apabila pada post partum kadang-kadang
ditemukan pernapasan cuping hidung
6) Dada
Terdapat adanya pembesaran payu dara, adanya hiper pigmentasi
areola mamae dan papila mamae. Pada klien nifas abdomen kendor
kadang-kadang striae masih terasa nyeri. Fundus uteri 3 jari dibawa
pusat.
7) Genitalia
Pengeluaran darah campur lendir, pengeluaran air ketuban, bila
terdapat pengeluaran mekomium yaitu feses yang dibentuk anak dalam
kandungan menandakan adanya kelainan letak anak.
8) Anus
Kadang-kadang pada klien nifas ada luka pada anus karena rupture
9) Ekstermitas
Pemeriksaan odema untuk mrlihat kelainan-kelainan karena
membesarnya uterus, karenan preeklamsia atau karena penyakit
jantung atau ginjal.

2. Diagnosa Keperawatan
a. Gangguan Eliminasi Urine berhubungan dengan gangguan sensorik
motorik yang ditandai dengan retensi urine.
b. Resiko syok yang ditandai dengan hipovolemik.
c. Defisit Perawatan Diri berhubungan dengan kelemahan yang ditandai
dengan ketidakmampuan membasuh tubuh, ketidakmampuan mengenakan
pakaian pada bagian bawah tubh, ketidakmampuan melakukan hygiene
eliminasi secara komplet.
d. Ketidakefektifan Pemberian ASI berhubungan dengan kurangnya
pengetahuan orangtua tentang pentingnya pemberian ASI yang ditandai
dengan inefektif laktasi
e. Gangguan Pola tidur berhubungan dengan pola tidur tidak menyehatkan
karena tanggung jawab menjadi orang tua yang memiliki bayi yang baru
lahir, yang ditandai dengan tidak merasa cukup istirahat.
f. Bersihan jalan nafas tidak efektif yang ditandai dengan akumulasi sekret.
g. Konstipasi berhubungan dengan kelemahan otot abdomen yang ditandai
dengan bising usus hipoaktif.
h. Nyeri akut berhubungan dengan agens pencedera yang ditandai dengan
ekspresi wajah nyeri (meringis), perubahan posisi untuk menghindari
nyeri, dan sikap melindungi area nyeri.
i. Resiko infeksi yag ditadai dengan jaringan terbuka.
3. Rencana Asuhan Keperawatan
N DIAGNOSA TUJUAN DAN KRITERIA
INTERVENSI
O KEPERAWATAN HASIL
1 Gangguan Eliminasi Setelah dilakukan asuhan NIC
Urine berhubungan keperawatan selama ..... x 24 Katerisasi Urine : Sementara
dengan gangguan jam, diharapkan pasien mampu  Monitor intake dan output
 Berikan privasi dan tutupi pasien dengan
sensorik motorik yang memenuhi kriteria hasil sbb :
NOC baik untuk kesopanan.
ditandai dengan
Eliminasi Urin  Isi bola kateter sebelum pemasangan
retensi urine.
Kriteria Hasil : kateter untuk memeriksa ukuran dan
 Mampu mengosongkan kepatenan kateter.
kantong kemih sepenuhnya.  Posisikan pasien dengan tepat (misalnya,
 Jumlah urin yang keluar jika perempuan terlentang dengan kedua
banyak. kaki direnggangkan atau fleksi pada
 Bau urin yang khas. bagian panggul dan lutut, jika laki-laki
dengan posisi terlentang)
 Bersihkan daerah sekitar meatus urettra
dengan larutan anti-bakteri .
 Gunakan kateter terkecil sesuai dengan
ukuran.
 Masukkan dengan lurus atau retensi
kateter kedalam kandung kemih.
 Pastikan bahwa kateter yang dimasukkan
cukup jauh kedalam kandung kemih.
 Isi bola kateter dengan cairan NaCl
 Hubungkan kateter ke kantung sisi
tempat tidur drainase
 Amankan kateter pada kulit
2 Resiko syok yang Setelah dilakukan asuhan NIC
ditandai dengan keperawatan selama ..... x 24 Manajemen Hipovolemik
hipovolemik. jam, diharapkan pasien mampu  Monitor adanya tanda-tanda dehidrasi .
 Monitor adanya sumber-sumber
memenuhi kriteria hasil sbb :
kehilangan cairan .
NOC
 Monitor asupan dan pengeluaran .
Keparahan syok: hipovolemik.
 Tawarkan pilihan minum setiap 1 sampai
Kriteria Hasil :
2 am saat terjaga, jika tidak ada
 Tidak dehidrasi. kontraindikasi.
 Tidak ada penurunan  Tingkatkan integritas kulit pada pasien
kesadaran. yang tidak dapat bergerak dan memiliki
 Tidak ada nyeri dada.
kulit kering dengan tepat.
 Wajah tidak pucat.
 Instruksikan pada pasien dan atau
keluarga tindakan-tindakan yang di
lakukan untuk mengatasi hipovolemia .

3 Defisit Perawatan Diri Setelah dilakukan asuhan NIC


berhubungan dengan keperawatan selama ..... x 24 Bantuan perawatan diri
kelemahan yang jam, diharapkan pasien mampu  Monitor kemampuan perawatan diri
ditandai dengan memenuhi kriteria hasil sbb : secara mandiri
NOC  Monitor kebutuhan pasien terkait dengan
ketidakmampuan
1. Perawatan diri : alat kebersihan diri , alat bantu untuk
membasuh tubuh,
berpakaian berpakaian , berdandan , eliminasi .
ketidakmampuan
2. Perawatan diri : Mandi  Pertimbangkan budaya pasien ketika
mengenakan pakaian 3. Perawatan diri : eliminasi meningkatkan aktifitas perawatan diri .
pada bagian bawah Kriteria Hasil  Berikan lingkungan yang terapeutik
tubh, ketidakmampuan
 Mengambil pakaian. dengan memastikan lingkungan yang
melakukan hygiene  Memakai pakaian bagian hangan , santai , tertutup , dan
eliminasi secara bawah. berdasarkan pengalaman individu .
komplet.  Masuk dan keluar dari kamar  Bantu pasien menerima kebutuhan pasien
mandi. terkait dengan kondisi
 Mengambil alat/bahan mandi. ketergantunganya .
 Mencuci badan bagian atas  Ajarkan orang tua tau keluarga untuk
dan bawah. mendukung kemandirian dengan
 Membersihkan area perineum membantu hanya ketika pasien tak
 Mengeringkan badan.
mampu melakukan perawatan diri .
 Merespon saat kandung
kemih penuh dengan tepat
waktu.
 Mengosongkan kandung
kemih.
 Mengosongkan usus.
 Mengelap sendiri setelah
buang urin dan buang air
besar.
4 Ketidakefektifan Setelah dilakukan asuhan NIC
Pemberian ASI keperawatan selama ..... x 24 Supresi laktasi
berhubungan dengan jam, diharapkan pasien mampu  Diskusikan pilihan untuk mengeluarkan
kurangnya memenuhi kriteria hasil sbb : ASI ( misalnya menggunakan tangan ,
pengetahuan orangtua NOC manual , dan memompa listrik )
Keberhasilan Menyusui : Bayi  Anjurkan pasien untuk mengeluarkan
tentang pentingnya
Kriteria Hasil : ASI yang cukup melalui tangan , manual
pemberian ASI yang
 Berat badan bayi bertambah atau memompalistrik untuk mengurangi
ditandai dengan
sesuai usia. tekanan payudara tapi tidak untuk
inefektif laktasi  Feses cair, kuning dan
mengosongkan payudara.
berserat perhari sesuai  Bantu pasien dalam menentukan jadwal
dengan usia. (misalnya, frekuensi dan durasi) untuk
mengeluarkan ASI berdasarkan faktor
individu (misalnya lamanya waktu sejak
persalinan, frekuensi mengosongkan
payudara, dan jumlah ASI yang saat ini
sedang diproduksi).
 Berikan obat supresi laktasi, jka tepat.
 Berikan bimbingan antisipatif terhadap
perubahan fisiologis (kram rahim dan
adanya ASI yang sedikit pasca supresi
laktasi)
5 Gangguan Pola tidur Setelah dilakukan asuhan NIC
berhubungan dengan keperawatan selama ..... x 24 Peningkatan Tidur
pola tidur tidak jam, diharapkan pasien mampu  Tentukan pola tidur/aktivitas pasien.
 Dorong pasien untuk menetapkan
menyehatkan karena memenuhi kriteria hasil sbb :
NOC rutinitas tidur untuk memfasilitasi
tanggung jawab
Tidur perpindahan dari terjaga menuju tidur.
menjadi orang tua
Kriteria Hasil :  Bantu meningkatkan jumlah jam tidur,
yang memiliki bayi
 Mengatur jam tidur. jika diperlukan.
yang baru lahir, yang  Poal tidur tidak terganggu.  Ajarkan pasien dan orang terdekat
ditandai dengan tidak
mengenai faktor yang berkontribusi
merasa cukup
terjadinya gangguan pola tidur (misalnya,
istirahat.
fisiologis, psikologis, pola hidup,
perubahan shift kerja yang panjang dan
berlebihan, dan faktor lingkungan
lainnya0.
 Diskusikan dengan pasien dan keluarga
mengenai teknik untuk meningkatkan
tidur
6 Nyeri akut Setelah dilakukan asuhan NIC
berhubungan dengan keperawatan selama ..... x 24 Pemberian Analgesik
agens pencedera yang jam, diharapkan pasien mampu  Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas
ditandai dengan memenuhi kriteria hasil sbb : dan keparahan nyeri.
NOC  Cek perintah pengobatan meliputi obat,
ekspresi wajah nyeri
1. Pain control dosis dan frekuensi.
(meringis), perubahan
2. Tingkat Nyeri  Cek adanya riwayat alergi obat.
posisi untuk
Kriteria Hasil:  Tentukan pilihan obat analgesik.
menghindari nyeri,  Berikan analgesik sesuai waktunya.
 Mengenali kapan nyeri
dan sikap melindungi
terjadi.
area nyeri.
 Menggambarkan faktor
penyebab.
 Menggunakan tindakan
pencegahan.
 Menggunakan tindakan
pengurangan nyeri tanpa
analgetik.
 Ekspresi nyeri wajah
berkurang.
C. Daftar Pustaka
Nurarif, Amin Huda dan Hardhi Kusuma. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan
Berdasarkan Diagnosa Medis dan NANDA NIC-NOC Edisi revisi Jilid 3.
Jakarta : Mediaction4
Bulechek,Gloria M dkk. 2013.Nursing Interventions Classification (NIC) Edisi
keenam. United Kingdom : Elsevier.
Sarwono Prawiroharjo. 2009. Ilmu Kebidanan, Edisi 4 Cetakan II. Jakarta :
Yayasan Bina Pustaka
Johnson, M., et all. 2010. Nursing Outcomes Classification (NOC) Second
Edition. New Jersey: Upper Saddle River
Muchtar. 2005. Obstetri patologi. Cetakan I. Jakarta : EGC
............................ , ..........................................
Nama Pembimbing / CI Nama Mahasiswa

.................................................. ...................................................
NIP. NIM.

Nama Pembimbing / CT

.....................................................
NIP.