Anda di halaman 1dari 51

ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN.

S
DENGAN DIAGNOSA MEDIS TB PARU DI RUANG PAVILIUN 4 Lt 1
RUMKITAL DR. RAMELAN SURABAYA

OLEH :
KELOMPOK C2

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI


KEPERAWATAN STIKES HANG TUAH
SURABAYA
TA. 2019/2020
ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN. S
DENGAN DIAGNOSA MEDIS TB PARU DI RUANG PAVILIUN 4 Lt 1
RUMKITAL DR. RAMELAN SURABAYA

OLEH :
1. Brahmayda Wiji Lestari 193.0013
2. Chornelley Vivie A 193.0015
3. Ignatius Erino S.R 193.0038
4. Muhammad Rivky Y.W 193.0056
5. Novi Triyas Diyanto 193.0063

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI


KEPERAWATAN STIKES HANG TUAH
SURABAYA
TA. 2019/2020

ii
LEMBAR PENGESAHAN

Disusun Oleh :
1. Brahmayda Wiji Lestari 193.0013
2. Chornelley Vivie A 193.0015
3. Ignatius Erino S.R 193.0038
4. Muhammad Rivky Y.W 193.0056
5. Novi Triyas Diyanto 193.0063

Judul Seminar : Seminar Kasus Asuhan Keperawatan Pada Tn. S Dengan


Diagnose Medis TB. Paru di Ruang Paviliun 4 Paru lt 1 Rumkital.
Dr. Ramelan Surabaya.

Telah disetujui untuk dilakukan seminar kasus di Rumkital Dr. Ramelan Surabaya
pada hari Jum’at, 27 September 2019.

Mengetahui,

Pembimbing Pendidikan Pembimbing Lahan Praktik

Merina Widyastuti, M.Kep., Ns Sudjono, Amd.Kep


NIP. 03033 NIP. 197312301994011002

iii
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur peneliti panjatkan kehadiran Allah SWT Yang Maha

Esa, atas limpahan karunia dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyusun

makalah seminar yang berjudul “Asuhan Keperawatan Pada Tn. S Dengan

Diagnosa Medis TB Paru di Ruang Paviliun 4 Lt 1 Rumkital. Dr. Ramelan

Surabaya” dapat di selesaikan sesuai waktu yang telah ditentukan.

Makalah ini disusun sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan tugas

Keperawatan Medikal Bedah (KMB) di Program Studi Profesi Ners Sekolah

Tinggi Ilmu Kesehatan Hang Tuah Surabaya. Makalah ini disusun dengan

memanfaatkan berbagai literatur serta mendapatkan banyak pengarahan dan

bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terimakasih

kepada :

1. Laksamana Pertama TNI dr. Ahmad Samsul Hadi selaku Kepala Rumkital
Dr. Ramelan Surabaya.

2. Ibu Wiwiek Liestyaningrum, S.Kp.,M.Kep selaku Ketua Stikes Hang Tuah


Surabaya.

3. Bapak Nuh Huda, M.Kep.,Ns.,Sp.KMB selaku Kepala Program Pendidikan


Profesi Ners Keperawatan Stikes Hang Tuah Surabaya.

4. Ibu Merina Widyastuti, M.Kep., Ns selaku pembimbing institusi yang telah

meluangkan waktu dan tenaga untuk memberi arahan dan bimbingan dalam

penyusunan serta penyelesaian makalah seminar ini.

5. Bapak Sudjono, Amd.Kep selaku kepala ruangan dan pembimbing lahan

praktek yang telah mengijinkan kami praktek di ruang pavilion 4 lt 1 serta

meluangkan waktu dan tenaga untuk memberi arahan dan bimbingan dalam

penyusunan serta penyelesaian makalah seminar ini.

iv
6. Seluruh perawat di ruang pavilion 4 lt 1 yang telah memberikan kesempatan

kepada kami untuk menimba ilmu serta memberikan arahan dan

membimbing kami selama 1 minggu.

Semoga budi baik yang telah diberikan kepada penulis mendapatkan

balasan Allah Yang Maha Pemurah dan penulis berharap bahwa makalah ini dapat

bermanfaat bagi kita semuanya.

Surabaya, 25 September 2019

Penulis

v
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................................. ii


LEMBAR PENGESAHAN ................................................................................. iii
KATA PENGANTAR .......................................................................................... iv
DAFTAR ISI ......................................................................................................... vi
BAB 1 PENDAHULUAN ..................................................................................... 1
1.1 LATAR BELAKANG ............................................................................ 1
1.2 RUMUSAN MASALAH ........................................................................ 2
1.3 TUJUAN .................................................................................................. 3
1.3.1 TUJUAN UMUM ................................................................................ 3
1.3.2 TUJUAN KHUSUS ............................................................................. 3
1.4 MANFAAT .............................................................................................. 3
BAB 2 TINJAUAN TEORI .................................................................................. 4
2.1 DEFINISI ................................................................................................ 4
2.2 ETIOLOGI.............................................................................................. 4
2.3 KLASIFIKASI ........................................................................................ 5
2.4 PATOFISIOLOGI.................................................................................. 8
2.5 WEB OF CAUTION (WOC) ................................................................. 10
2.6 MANIFESTASI KLINIS ..................................................................... 11
2.7 PEMERIKSAAN PENUNJANG ........................................................ 11
2.8 PENATALAKSANAAN ...................................................................... 13
2.9 KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN TB PARU .......................... 17
BAB 3 ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN. S .......................................... 27
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 45

vi
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Tuberkulosis paru merupakan penyakit menular pernapasan yang
menyerang paru yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis yang
ditularkan melalui udara (droplet nuclei) terutama pada saat batuk atau bersin
(Marni, 2014). Penderita tuberkulosis akan mengalami tanda dan gejala
seperti berkurangnya berat badan, demam, keringat, mudah lelah, kehilangan
nafsu makan, batuk, sputum berdarah, nyeri dada, sesak napas (Fachmi, 2004
dalam Mardiono, 2013). Tuberkulosis paru sering dijuluki the great imitator,
yaitu suatu penyakit yang mempunyai banyak kemiripan dengan penyakit lain
yang juga memberikan gejala umum seperti lemah dan demam. Pada
sejumlah klien gejala yang timbul tidak jelas sehingga diabaikan bahkan
kadang-kadang asimptomatik (Muttaqin, 2008).
Penyakit tuberkulosis (TB) masih menjadi masalah kesehatan dunia
dimana World Health Organization (WHO) melaporkan bahwa setengah
persen dari penduduk dunia terserang penyakit ini. Penderita penyakit
tuberkulosis sebagian besar berada di negara berkembang diantara tahun
2009-2011 hampir 89% penduduk dunia menderita TB (Nizar, 2017).
Menurut laporan WHO (2011) penderita TB di dunia sekitar 12 juta atau 178
per 100.000 dan setiap tahunnya ditemukan 8,5 juta dengan kematian sekitar
1,1 juta (Nizar, 2017). Di seluruh dunia terdapat sekitar 2-3 juta orang
meninggal akibat terkenaTB setiap tahunnya. Setiap tahun sebesar 1% dari
penduduk dunia sudah tertular oleh kuman TB walaupun belum terjangkit
oleh penyakitnya.
Di Indonesia penyakit ini menjadi salah satu pembunuh terbanyak
diantara penyakit menular lainya. Dari hasil laporan WHO ( World Health
Organisation) mengungkapan bahwa di Indonesia pada tahun 2017 terdapat
1.020.000 kasus. Di Jawa timur sendiri terdapat 21.606 kasus yang positif
terkena TB. Pemerintah dan dinas terkait sangat berperan dalam penanganan
kaasus TB di Indonesia.sehingga angka kejadian ini semakin tahun menurun.

1
2

Karena kurangnya pengetahuan masyarakat akan menjaga kebersihan


dan merawat anggota keluarga yang terkena TB menyebabkan mudahnya
seseorang tertular penyakit ini. Sehingga dibutuhkanya edukasi dan promosi
kesehatan kepada masyarakat. Sehingga diharapkan masyarakat mengerti
akan penanganan dan pengobatan yang dijalani selama terkena penyakit TB.
Batuk efektif adalah aktivitas perawat untuk membersihkan sekresi
pada jalan nafas, yang bertujuan untuk meningkatkan mobilisasi sekresi dan
mencegah risiko tinggi retensi sekresi (Mutaqin, 2008). Batuk efektif
merupakan suatu metode batuk yang benar, dimana klien dapat menghemat
energi sehingga tidak mudah lelah dan dapat mengeluarkan dahak secara
maksimal (Mardiono, 2013). Batuk efektif dilakukan dengan posisi duduk
tegak, perawat memberikan contoh penempatan tangan di bawah garis tulang
iga dan instruksikan menarik napas secara perlahan sampai pengembangan
dada tercapai setelah itu tahan napas selama 3 detik dan hembuskan napas
secara perlahan sampai kontraksi maksimal dada tercapai melalui mulut. Saat
sekresi terdengar, setelah itu perawat memberi instruksi untuk batuk dengan
kekuatan abdominal (Somantri, 2008). Hasil penelitian Mardiono, 2013
membuktikan bahwa latihan batuk efektif sangat efektif dalam pengeluaran
sputum, membantu membersihkan secret pada jalan nafas serta mampu
mengatasi sesak nafas, sebagian besar frekuensi pernafasannya normal,
adanya perbedaaan yang signifikan antara frekuensi pernafasan sebelum dan
sesudah tindakan latihan batuk efektif.

1.2 RUMUSAN MASALAH


Berdasarkan uraikan makalah diatas dapat dirumuskan sebuah
permasalahan bagaimana memberi pemahaman kepada masyarakat terkait
dengan pemahaman tentang penyakit TB dan penanganan di dalam anggota
keluarganya.
3

1.3 TUJUAN
1.3.1 Tujuan Umum
Memberikan edukasi kemasyarakat dengan menggunakan metode
promosi kesehatan agar masyarakat memahami penyakit TB.

1.3.2 Tujuan Khusus


1. Masyarakat mengetahui penyebab TB
2. Masyarakat mengerti penanganan TB kepada anggota keluarganya

1.4 MANFAAT
Dapat meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat khususnya
anggota keluarga sehingga akan meningkatkan kualitas hidup sehat dan
meningkatkan pengetahuan tentang tuberculosis.
BAB 2
TINJAUAN TEORI
2.1 DEFINISI
Tuberculosis (TB) adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh
kuman TB ( Mycobacterium Tuberculosis) yang termasuk dalam family
Mycobacteriaceace dan termasuk dalam ordo Actinomycetales. Micobacteria
Tuberculosis masih keluarga besar genus Mycobacterium. Berdasarkan beberapa
kompleks tersebut, Mycobacteria tuberculosis merupakan jenis yang terpenting dan
paling sering dijumpai (Kemenkes, 2011).
Tuberkulosis adalah penyakit yang disebabkan Mycobacterium tuberculosis
yang hampir seluruh organ tubuh dapat terserang olehnya, tapi yang paling banyak
adalah paru-paru (Nurrarif & Kusuma, 2013).
Tuberkulosis paru merupakan penyakit menular pernapasan yang menyerang
paru yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis yang ditularkan melalui
udara (droplet nuclei) terutama pada saat batuk atau bersin (Marni, 2014).

2.2 ETIOLOGI
Penyebab tuberkolusis adalah Mycobacterium tuberculosis. Basil ini tidak
berspora sehingga mudah dibasmi dengan pemanasan, sinar matahari, dan sinar
ultraviolet. Ada 2 macam Mycobacterium tuberculosis yaitu tipe human dan tipe
bovin. Basil tipe human isa berada di bercak ludah (droplet) di udara yang berasal
dari penderita TB terbuka dan orang yang rentan terinfeksi TB ini bila menghirup
bercak ini (Nurrarif & Kusuma, 2013).
Apabila seseorang telah terinfeksi TB Paru namun belum sakit maka tidak
dapat menyebarkan infeksi ke orang lain. Masa inkubasinya yaitu waktu yang
diperlukan mulai terinfeksi sampai terjadinya sakit, diperkirakan selama 4 sampai
6 minggu (Depkes.2008). Kuman ditularkan oleh penderita TB Paru BTA positif
melalui batuk, bersin atau saat berbicara lewat percikan droplet yang keluar. Risiko
penularan setiap tahunnya ditunjukkan dengan Annual Risk of TB Infection (ARTI)
yaitu proporsi penduduk yang beresiko terinfeksi TB Par selama satu tahun (Suarni.
2009).

4
5

2.3 KLASIFIKASI
2.3.1 Berdasar hasil pemeriksaan dahak (BTA)
TB paru dibagi dalam :
1. Tuberkulosis Paru BTA (+)
a. Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak menunjukkan hasil
BTA positif
b. Hasil pemeriksaan satu spesimen dahak menunjukkan BTA positif
dan kelainan radiologik menunjukkan gambaran tuberculosis aktif
c. Hasil pemeriksaan satu spesimen dahak menunjukkan BTA positif
dan biakan positif
2. Tuberkulosis Paru BTA (-)
a. Hasil pemeriksaan dahak 3 kali menunjukkan BTA negatif,
gambaran klinik dan kelainan radiologik menunjukkan tuberkulosis
aktif serta tidak respons dengan pemberian antibiotic spektrum luas
b. Hasil pemeriksaan dahak 3 kali menunjukkan BTA negatif dan
biakan M.tuberculosis positif
c. Jika belum ada hasil pemeriksaan dahak, tulis BTA belum diperiksa
Berdasarkan Tipe Penderita

2.3.2 Tipe penderita ditentukan berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya.


Ada beberapa tipe penderita yaitu :
a. Kasus baru
Adalah penderita yang belum pernah mendapat pengobatan
dengan OAT atau sudah pernah menelan OAT (Obat Anti
Tuberculosis) kurang dari satu bulan (30 dosis harian)
b. Kasus kambuh (relaps)
Adalah penderita tuberkulosis yang sebelumnya pernah
mendapat pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh
atau pengobatan lengkap, kemudian kembali lagi berobat dengan
hasil pemeriksaan dahak BTA positif atau biakan positif..
6

Bila hanya menunjukkan perubahan pada gambaran radiologik


sehingga dicurigai lesi aktif kembali, harus dipikirkan beberapa
kemungkinan :
o Infeksi sekunder
o Infeksi jamur
o TB paru kambuh
c. Kasus pindahan (Transfer In)
Adalah penderita yang sedang mendapatkan pengobatan di
suatu kabupaten dan kemudian pindah berobat ke kabupaten lain.
Penderita pindahan tersebut harus membawa surat rujukan/pindah
d. Kasus lalai berobat
Adalah penderita yang sudah berobat paling kurang 1bulan, dan
berhenti 2 minggu atau lebih, kemudian datang kembali berobat.
Umumnya penderita tersebut kembali dengan hasil pemeriksaan
dahak BTA positif.
e. Kasus Gagal
Penderita BTA positif yang masih tetap positif atau kembali
menjadi positif pada akhir bulan ke-5 (satu bulan sebelum akhir
pengobatan). Penderita dengan hasil BTA negative gambaran
radiologik positif menjadi BTA positif pada akhir bulan ke-2
pengobatan dan atau gambaran radiologik ulang hasilnya
perburukan
f. Kasus kronik
Adalah penderita dengan hasil pemeriksaan dahak BTA masih
positif setelah selesai pengobatan ulang kategori 2 dengan
pengawasan yang baik
g. Kasus bekas TB
Hasil pemeriksaan dahak mikroskopik (biakan jika ada fasilitas)
negatif dan gambaran radiologik paru menunjukkan lesi TB inaktif,
terlebih gambaran radiologik serial menunjukkan gambaran yang
menetap. Riwayat pengobatan OAT yang adekuat akan lebih
mendukung. Pada kasus dengan gambaran radiologic meragukan
7

lesi TB aktif, namun setelah mendapat pengobatan OAT selama 2


bulan ternyata tidak ada perubahan gambaran radiologic
2.3.3 Klasifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan uji kepekaan obat
Pengelompokan pasien disini berdasarkan hasil uji kepekaan contoh uji
dari Mycobacterium tuberculosis terhadap OAT dan dapat berupa :
1. Mono resistan (TB MR): resistan terhadap salah satu jenis OAT lini
pertama saja
2. Poli resistan (TB PR): resistan terhadap lebih dari satu jenis OAT lini
pertama selain Isoniazid (H) dan Rifampisin (R) secara bersamaan
3. Multi drug resistan (TB MDR): resistan terhadap Isoniazid (H) dan
Rifampisin (R) secara bersamaan. Multi drug resistant TB (MDR TB)
didefinisikan sebagai resistensi terhadap dua agen anti-TB lini
pertama yang paling poten yaitu isoniazide (INH) dan rifampisin.
MDR TB berkembang selama pengobatan TB ketika mendapatkan
pengobatan yang tidak adekuat. Hal ini dapat terjadi karena beberapa
alasan; Pasien mungkin merasa lebih baik dan menghentikan
pengobatan,persediaan obat habis atau langka, atau pasien lupa
minum obat. Awalnya resistensi ini muncul sebagai akibat dari
ketidakpatuhan pengobatan. Selanjutnya transmisi strain MDR TB
menyebabkan terjadinya kasus resistensi primer. Tuberkulosis paru
dengan resistensi dicurigai kuat jika kultur basil tahan asam (BTA)
tetap positif setelah terapi 3 bulan atau kultur kembali positif setelah
terjadi konversi negatif.
4. Extensive drug resistan (TB XDR): adalah TB MDR yang sekaligus
juga resistan terhadap salah satu OAT golongan fluorokuinolon dan
minimal salah satu dari OAT lini kedua jenis suntikan (Kanamisin,
Kapreomisin dan Amikasin) 22
5. Resistan Rifampisin (TB RR): resistan terhadap Rifampisin dengan
atau tanpa resistensi terhadap OAT lain yang terdeteksi menggunakan
metode genotip (tes cepat) atau metode fenotip (konvensional).
8

2.4 PATOFISIOLOGI
Proses infeksi Mycobacterium tuberculosis bervariasi pada penjamu yang
berbeda. Penyakit paru biasanya muncul, tetapi infeksi dapat terjadi pada daerah
lain, meliputi meninges, ginjal, tulang dan nodus limfe. Tampaknya semua
penularan TB terjadi dari infeksi paru dengan adanya pelepasan organisme
melalui bersin, batuk, tertawa atau pengeluaran ke udara. Saat pasien TB batuk,
inti droplet terdapat diudara dan diisap orang lain. Sebagai droplet, organisme
dapat menyerang mekanisme perlindungan dijalan napas dan mencapai alveoli.
Pada keadaan ini dapat dikatakan bahwa pasien mengalami infeksi primer.
Organisme dilingkupi oleh makrofag non spesifik dan disebarkan dari paru
melalui hematogen dan sistem limfa ke suluruh tubuh. Setelah itu organisme
dikenali oleh sel T dan reaksi kekebalan spesifik mulai berkembang. Sering
kekebalan ini tidak membunuh organisme, tapi membuat periode laten selama
beberapa bulan sampai beberapan tahun. Selama keadaan laten, organisme hidup
tapi tidak berproduksi dan meskipun tidak sakit, penjamu tetap terinfeksi
(Smeltzer & Bare, 2013).
Basil tuberculosis yang mencapai permukaan alveoli biasanya diinhalasi
sebagai suatu unit yang terdiri dari satu sampai tiga basil karena gumpalan yang
lebih besar cenderung tertahan di rongga hidung dan tidak menyebabkan penyakit,
setelah berada dalam ruang alveolus (biasanya di bagian bawah lobus atas atau di
bagian atas lobus bawah) basil tuberculosis ini membangkitkan reaksi
peradangan. Lekosit polimorfunuklear tampak pada tempat tersebut dan mefagosit
bakteri tetapi tidak membunuh organisme tersebut. Sesudah hari – hari pertama
maka lekosit diganti oleh magrofat (Wijaya, 2013, Hal. 138).
Alveoli yang terserang akan mengalami perubahan dan timbul gejala-gejala
pneumonia akut. Basil juga menyebar melalui kelenjar limfe regional. Makrofag
yang mengalami infiltrasi menjadi lebih panjang dan sebagian bersatu sehingga
membentuk sel tuberkel spiteloid yang dikelilingi oleh limfosit. Reaksi ini
biasanya berlangsung selama 10-20 hari. Nekrosis bagian sentral lesi memberikan
gambaran yang relatif padat seperti keju, lesi nekrosis ini disebut nekrosis
kaseosa. Daerah yang mengalami nekrosis kaseosa dan jaringan granulasi
disekitarnya yang terdiri dari sel epiteloid dan fibroblas menimbulkan respon
9

berbeda. Jaringan granulasi menjadi lebih fibrosa, membentuk jaringan parut yang
akhirnya membentuk suatu kapsul yang mengelingi tuberkel (Wijaya, 2013, Hal.
138).
Bila peradangan mereda lumen bronkus dapat menyempit dan tertutup oleh
jaringan parut yang terdapat dekat dengan perbatasan bronkus. Sehingga
organisme yang lolos dari kelenjar limfe akan mencapai aliran darah dalam jumlah
yang lebih kecil yang kadang-kadang dapat menimbulkan lesi pada berbagai organ
lain (ekstrapulmaner). Penyebaran hematogen merupakan suatu fenomena akut
yang biasanya menyebabkan tuberculosis milier. Ini terjadi apabila focus nekrotik
merusak pembuluh darah sehingga banyak organisme masuk ke dalam sistem
vascular dan tersebar ke dalam sistem vaskuler ke organ – organ tubuh (Wijaya,
2013, Hal. 138).
10

2.5 WEB OF CAUTION (WOC)


11

2.6 MANIFESTASI KLINIS


1. Demam 40o - 41o C
2. Batuk atau batuk berdarah
3. Sesak napas
4. Nyeri dada
5. Malaise
6. Keringat malam
7. Suara khas pada perkusi dada
8. Peningkatan sel darah putih dengan dominasi limfosit
9. Pada anak :
a. Berkurangnya berat badan 2 bulan berturut-turut tanpa sebab yang jelas
atau gagal tumbuh.
b. Demam tanpa sebab jelas, terutama jika berlanjut sampai 2 minggu.
2.7 PEMERIKSAAN PENUNJANG
Menurut Somantri (2007) ada beberapa pemeriksaan penunjang pada
klien dengan dengan tuberkulosis paru untuk menunjang dignosis yaitu :
1. Sputum culture: untuk memastikan apakah keberadaan M. Tuberkulosis
pada stadium aktif.
2. Ziehl neelsen (Acid-fast staind applied to smear of body fluid) : positif untuk
BTA.
3. Chest X-ray: dapat memperlihatkan infiltrasi kecil pada lesi awal dibagian
paru paru, deposit kalsium pada lesi primer yang membaik atau cairan
pleura. Perubahan yang mengindikasikan TB yang lebih berat dapat
mencakup area berlubang dan fibrosa.
4. Biasannya dalam kasus TB Paru akan dilakukan pemeriksaan Mass chest X-
ray, yaitu pemeriksaan massal terhadap kelompok-kelompok populasi
tertentu misalnya : Karyawan rumah sakit/puskesmas/balai pengobatan,
penghuni rumah tahanan, siswa-siswi pesantren.
12

a. Contoh gambar thorax tidak menderita TB Paru :

b. Contoh gambar thorax yang menderita TB Paru :


13

2.8 PENATALAKSANAAN
Menurut Ardiansyah (2012) Penatalaksanaan dari TB dibagi menjadi 2
bagian, yaitu pencegahan dan pengobatan penderita :
1. Pencegahan Tuberkulosis paru.
a. Pencegahan tuberkulosis paru dilakukan dengan pemeriksaan terhadap
individu yang bergaul erat dengan penderita tuberkulosis paru BTA
positif.
b. Mass chest X-ray. Yaitu Pemeriksaan massal terhadap kelompok-
kelompok tertentu misalnya: Karyawan rumah sakit/puskesmas/balai
pengobatan, penghuni rumah tahanan, siswa-siswi pesantren.
c. Vaksinasi BCG (bacille Calmette -Guerin); reaksi positif terjadi jika
setelah mendapat vaksinasi BCG langsung terdapat reaksi lokal yang
besar dalam waktu kurang dari tujuh hari.
d. Kemoprofilaksis yaitu dengan menggunakan INH 5mg/kgBB selama 6-
12 bulan dengan tujuan menghancurkan atau mengurangi populasi
bakteri yang masih sedikit
e. Komunikasi, informasi dan edukasi tentang penyakit tuberkulosis paru
kepada masyarakat di tingkat Puskesmas maupun rumah sakit oleh
petugas pemerintah atau petugas lembaga swadaya masyarakat.
f. Pencegahan dilakukan dengan menghindari kontak langsung dengan
orang yang terinfeksi basil tuberkulosis serta mempertahankan asupan
nutrisi yang memadai. Pemberian imunisasi BCG juga diperlukan
untuk meningkatkan daya tahan tubuh.
2. Pengobatan Tuberkulosis Paru
Tujuan Pengobatan pada penderita tuberkulosis paru, selain untuk
mengobati, juga untuk mencegah kematian, kekambuhan, reistensi kuman
terhadap Obat Anti Tuberkulosis serta memutuskan rantai penularan.
Pengobatan tuberkulosis terbagi menjadi 2 fase yaitu fase intensif (2-
3 bulan) dan fase lanjutan 4 atau 7 bulan. Paduan obat yang digunakan
terdiri dari paduan obat utama dan tambahan.
a. Obat Anti Tuberkulosis (OAT)
Obat yang dipakai:
14

1) Jenis obat utama yang digunakan adalah:


- Rifampisin
- INH (Isoniazid)
- Pirazinamid
- Streptomisin
- Etambutol
2) Kombinasi dosis tetap (Fixed dose combination) Kombinasi dosis
tetap ini terdiri dari :
- Empat obat antituberkulosis dalam satu tablet, yaitu rifampisin
150 mg, isoniazid 75 mg, pirazinamid 400 mg dan etambutol
275 mg dan
- Tiga obat antituberkulosis dalam satu tablet, yaitu rifampisin
150 mg, isoniazid 75 mg dan pirazinamid 400 mg
3) Jenis obat tambahan lainnya
- Kanamisin
- Kuinolon
- Obat lain masih dalam penelitian ; makrolid, amoksilin + asam
klavulanat
- Derivat rifampisin dan INH (Isoniazid)
Dasar pengobatan terutama untuk keperluan membuat regimen obat-
obat anti TB, WHO guidelines membagi obat MDR-TB menjadi 5 group
berdasarkan potensi dan efikasinya, sebagai berikut (World Health
Organization, 2008) :
1. Grup pertama, pirazinamid dan ethambutol, karena paling efektif dan dapat
ditoleransi dengan baik. Obat lini pertama yang terbukti sebaiknya
digunakan dan digunakan dalam dosis maksimal.
2. Grup kedua, obat injeksi bersifat bakterisidal, kanamisin (amikasin), jika
alergi digunakan kapreomisin, viomisin. Semua pasien diberikan injeksi
sampai jumlah kuman dibuktikan rendah melalui hasil kultur negative
3. Grup ketiga, fluorokuinolon, obat bekterisidal tinggi, misal levofloksasin.
Semua pasien yang sensitif terhadap grup ini harus mendapat kuinolon
dalam regimennya
15

4. Grup empat, obat bakteriostatik lini kedua, PAS (paraaminocallicilic acid),


ethionamid, dan sikloserin. Golongan obat ini mempunyai toleransi tidak
sebaik obat-obat oral lini pertama dan kuinolon.
5. Grup kelima, obat yang belum jelas efikasinya, amoksisilin, asam
klavulanat, dan makrolid baru (klaritromisin). Secara in vitro menunjukkan
efikasinya, akan tetapi data melalui uji klinis pada pasien MDR TB masih
minimal. Ada tiga cara pendekatan pembuatan regimen didasarkan atas
riwayat obat TB yang pernah dikonsumsi penderita, data drug resistance
surveillance (DRS) di suatu area, dan hasil DST dari penderita itu sendiri.
Berdasarkan data di atas mana yang dipakai, maka dikenal pengobatan
dengan regimen standar, pengobatan dengan regimen standar yang diikuti
dengan regimen yang sesuai dari hasil DST individu penderita tersebut, dan
pengobatan secara empiris yang diikuti dengan regimen yang sesuai dari
hasil DST individu penderita tersebut. Pengobatan dengan regimen standar
: pembuatan regimen didasarkan atas hasil DRS yang bersifat representative
pada populasi dimana regimen tersebut akan diterapkan. Semua pasien
MDR TB akan mendapat regimen sama. Pengobatan dengan regimen
standar yang diikuti dengan regimen yang sesuai dari hasil DST individu
penderita : awalnya semua pasien akan mendapat regimen yang sama
selanjutnya regimen disesuaikan berdasarkan hasil uji sensitivitas yang
telah tersedia dari pasien yang bersangkutan. Pengobatan secara empirik
yang diikuti dengan regimen yang sesuai dari hasil DST individu pasien :
tiap regimen bersifat individualis, dibuat berdasarkan riwayat pengobatan
TB sebelumnya, selanjutnya disesuaikan setelah hasil uji sensitivitas obat
dari pasien yang bersangkutan tersedia.
Menurut WHO guidelines 2008 membuat pentahapan tersebut sebagai
berikut (World Health Organization, 2008):
1. Tahap 1 : gunakan obat dari lini pertama yang manapun yang masih
menunjukkan efikasi.
2. Tahap 2 : tambahan obat di atas dengan salah satu golongan obat injeksi
berdasarkan hasil uji sensitivitas dan riwayat pengobatan.
16

3. Tahap 3 : tambahan obat-obat di atas dengan salah satu obat golongan


fluorokuinolon.
4. Tahap 4 : tambahkan obat-obat tersebut di atas dengan satu atau lebih dari
obat golongan 4 sampai sekurang-kurangnya sudah tersedia 4 obat yang
mungkin efektif.
5. Tahap 5 : pertimbangkan menambahkan sekurang-kurangnya 2 obat dari
golongan 5 (melalui proses konsultasi dengan pakar TB MDR) apabila
dirasakn belum ada 4 obat yang efektif dari golongan 1 sampai 4.
6. Selain itu, ada beberapa butir dalam pengobatan MDR TB yang dianjurkan
oleh WHO (2008) sebagai prinsip dasar, antara lain (World Health
Organization, 2008) :
a. Regimen harus didasarkan atas riwayat obat yang pernah diminum
penderita.
b. Dalam pemilihan obat pertimbangkan prevalensi resistensi obat lini
pertama dan obat lini kedua yang berada di area / negara tersebut.
c. Regimen minimal terdiri 4 obat yang jelas diketahui efektifitasnya.
d. Dosis obat diberikan berdasarkan berat badan.
e. Obat diberikan sekurnag-kurangnya 6 hari dalam seminggu, apabila
mungkin etambutol,pirazinamid, dan fluoro kuinolon diberikan setiap
hari oleh karena konsentrasi dalam serum yang tinggi memberikan
efikasi.
f. Lama pengobatan minimal 18 bulan setelah terjadi konversi.
g. Apabila terdapat DST, maka harus digunakan sebagai pedoman terapi.
DST tidak memprediksi efektivitas atau inefektivitas obat secara penuh.
h. Pirazinamid dapat digunakan dalam keseluruhan pengobatan apabila
dipertimbangkan efektif. Sebagian besar penderita MDR TB memiliki
keradangan kronik di parunya, dimana secara teoritis menghasilkan
suasana asam dan pirazinamid bekerja aktif.
i. Deteksi awal adalah faktor penting untuk mencapai keberhasilan
Pengobatan mendapat Obat anti tuberkulosis lini kedua minimal 4 jenis
OAT yang masih sensitif, dimana salah satunya adalah obat injeksi.
Pada tahap lanjutan semua OAT lini kedua yang dipakai pada tahap
17

awal.pasien MDR TB terdiri atas dua tahap, tahap awal dan tahap
lanjutan. Pengobatan MDR TB memerlukan waktu lebih lama daripada
pengobatan TB bukan MDR, yaitu sekitar 18-24 bulan.

2.9 KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN TB PARU


2.9.1 PENGKAJIAN
1. Identitas
Identitas pada klien yang harus diketahui diantaranya: nama, umur,
agama, pendidikan, pekerjaan, suku/bangsa, alamat, jenis kelamin, status
perkawinan, dan penanggung biaya. Sering terjadi pada akhir masa
kanak-kanak dan remaja, angka kematian dan kesakitan lebih banyak
terjadi pada anak perempuan. Pada masa puber dan remaja dimana masa
pertumbuhan yang cepat,kemungkinan infeksi cukup tingggi karena diit
yang tidak adekuat
2. Keluhan utama
Keluhan yang sering menyebabkan klien dengan TB paru meminta
pertolongan dari tim kesehatan dapat dibagi menjadi dua golongan,
yaitu:
a. Keluhan respiratoris, meliputi:
- Batuk, nonproduktif/ produktif atau sputum bercampur darah
- Batuk darah, seberapa banyak darah yang keluar atau hanya
berupa blood streak, berupa garis, atau bercak-bercak darah
- Sesak napas
- Nyeri dada
b. Keluhan sistematis, meliputi:
- Demam, timbul pada sore atau malam hari mirip demam
influenza, hilang timbul, dan semakin lama semakin panjang
serangannya, sedangkan masa bebas serangan semakin pendek
- Keluhan sistemis lain: keringat malam, anoreksia, penurunan
berat badan dan malaise.
18

3. Riwayat penyakit sekarang


Pengkajian ringkas dengan PQRST dapat lebih memudahkan
perawat dalam melengkapi pengkajian.
a. Provoking Incident: apakah ada peristiwa yang menjadi faktor
penyebab sesak napas, apakah sesak napas berkurang apabila
beristirahat?
b. Quality of Pain: seperti apa rasa sesak napas yang dirasakan atau
digambarkan klien, apakah rasa sesaknya seperti tercekik atau susah
dalam melakukan inspirasi atau kesulitan dalam mencari posisi yang
enak dalam melakukan pernapasan?
c. Region: di mana rasa berat dalam melakukan pernapasan?
d. Severity of Pain: seberapa jauh rasa sesak yang dirasakan klien?
e. Time: berapa lama rasa nyeri berlangsung, kapan, bertambah buruk
pada malam hari atau siang hari, apakah gejala timbul mendadak,
perlahan-lahan atau seketika itu juga, apakah timbul gejala secara
terus-menerus atau hilang timbul (intermitten), apa yang sedang
dilakukan klien saat gejala timbul, lama timbulnya (durasi), kapan
gejala tersebut pertama kali timbul (onset).
4. Riwayat penyakit dahulu
Pengkajian yang mendukung adalah dengan mengkaji apakah
sebelumnya klien pernah menderita TB paru, keluhan batuk lama pada
masa kecil, tuberkulosis dari organ lain, pembesaran getah bening, dan
penyakit lain yang memperberat TB paru seperti diabetes mellitus.
Tanyakan mengenai obat-obat yang biasa diminum oleh klien pada
masa lalu yang relevan, obat-obat ini meliputi obat OAT dan antitusif.
Catat adanya efek samping yang terjai di masa lalu. Kaji lebih dalam
tentang seberapa jauh penurunan berat badan (BB) dalam enam bulan
terakhir.
Penurunan BB pada klien dengan TB paru berhubungan erat dengan
proses penyembuhan penyakit serta adanya anoreksia dan mual yang
sering disebabkan karena meminum OAT.
19

5. Riwayat penyakit keluarga


Secara patologi TB paru tidak diturunkan, tetapi perawat perlu
menanyakan apakah penyakit ini pernah dialami oleh anggota keluarga
lainnya sebagai faktor predisposisi di dalam rumah.

2.9.2 PEMERIKSAAN FISIK


1. Keadaan umum dan tanda vital
Keadaan umum pada klien dengan TB paru dapat dilakukan secara
selintas pandang dengan menilai keadaaan fisik tiap bagian tubuh.
Selain itu, perlu di nilai secara umum tentang kesadaran klien yang
terdiri atas compos mentis, apatis, somnolen, sopor, soporokoma, atau
koma.
TTV :
Suhu : Terjadi peningkatan suhu tubuh
Nadi : Denyut nadi meningkat seirama dengan frekuensi napas dan
suhu tubuh
RR : frekuensi napas meningkat apabila disertai sesak napas
TD : tekanan darah biasanya sesuai dengan adanya penyulit seperti
hipertensi.

2. B1 / Breath / Pernafasan
Pemeriksaan fisik pada klien dengan TB paru merupakan
pemeriksaan fokus yang terdiri atas inspeksi, palpasi, perkusi, dan
auskultasi.
a) Inspeksi
Bentuk dada dan pergerakan pernapasan. Sekilas pandang klien
dengan TB paru biasanya tampak kurus sehingga terlihat adanya
penurunan proporsi diameter bentuk dada antero-posterior
dibandingkan proporsi diameter lateral. Apabila ada penyulit dari
TB paru seperti adanya efusi pleura yang masif, maka terlihat adanya
ketidaksimetrian rongga dada, pelebar intercostals space (ICS) pada
sisi yang sakit. TB paru yang disertai atelektasis paru membuat
20

bentuk dada menjadi tidak simetris, yang membuat penderitanya


mengalami penyempitan intercostals space (ICS) pada sisi yang
sakit. Pada klien dengan TB paru minimal dan tanpa komplikasi,
biasanya gerakan pernapasan tidak mengalami perubahan. Meskipun
demikian, jika terdapat komplikasi yang melibatkan kerusakan luas
pada parenkim paru biasanya klien akan terlihat mengalami sesak
napas, peningkatan frekuensi napas, dan menggunakan otot bantu
napas.
Batuk dan sputum.
Saat melakukan pengkajian batuk pada klien dengan TB paru,
biasanya didapatkan batuk produktif yang disertai adanya
peningkatan produksi secret dan sekresi sputum yang purulen.
Periksa jumlah produksi sputum, terutama apabila TB paru disertai
adanya brokhiektasis yang membuat klien akan mengalami
peningkatan produksi sputum yang sangat banyak. Perawat perlu
mengukur jumlah produksi sputum per hari sebagai penunjang
evaluasi terhadap intervensi keperawatan yang telah diberikan.
b) Palpasi
Gerakan dinding thoraks anterior/ekskrusi pernapasan. TB paru
tanpa komplikasi pada saat dilakukan palpasi, gerakan dada saat
bernapas biasanya normal seimbang antara bagian kanan dan kiri.
Adanya penurunan gerakan dinding pernapasan biasanya ditemukan
pada klien TB paru dengan kerusakan parenkim paru yang luas.
Getaran suara (fremitus vokal). Getaran yang terasa ketika perawat
meletakkan tangannya di dada klien saat klien berbicara adalah
bunyi yang dibangkitkan oleh penjalaran dalam laring arah distal
sepanjang pohon bronchial untuk membuat dinding dada dalam
gerakan resonan, teerutama pada bunyi konsonan. Kapasitas untuk
merasakan bunyi pada dinding dada disebut taktil fremitus.
c) Perkusi
Pada klien dengan TB paru minimal tanpa komplikasi, biasanya
akan didapatkan resonan atau sonor pada seluruh lapang paru. Pada
21

klien dengan TB paru yang disertai komplikasi seperti efusi pleura


akan didapatkan bunyi redup sampai pekak pada sisi yang sesuai
banyaknya akumulasi cairan di rongga pleura. Apabila disertai
pneumothoraks, maka didapatkan bunyi hiperresonan terutama jika
pneumothoraks ventil yang mendorong posisi paru ke sisi yang
sehat.
d) Auskultasi
Pada klien dengan TB paru didapatkan bunyi napas tambahan
(ronkhi) pada sisi yang sakit. Penting bagi perawat pemeriksa untuk
mendokumentasikan hasil auskultasi di daerah mana didapatkan
adanya ronkhi. Bunyi yang terdengar melalui stetoskop ketika klien
berbica disebut sebagai resonan vokal. Klien dengan TB paru yang
disertai komplikasi seperti efusi pleura dan pneumopthoraks akan
didapatkan penurunan resonan vocal pada sisi yang sakit.

3. B2 / Blood / Sirkulasi
Pada klien dengan TB paru pengkajian yang didapat meliputi:
a) Inspeksi : Inspeksi tentang adanya parut dan keluhan
kelemahan fisik.
b) Palpasi : Denyut nadi perifer melemah.
c) Perkusi : Batas jantung mengalami pergeseran pada TB paru
dengan efusi pleura masif mendorong ke sisi sehat.
d) Auskultasi : Tekanan darah biasanya normal. Bunyi jantung
tambahan biasanya tidak didapatkan.

4. B3 / Brain / Persarafan
Kesadaran biasanya compos mentis dengan GCS (4-5-6), ditemukan
adanya sianosis perifer apabila gangguan perfusi jaringan berat. Pada
pengkajian objektif, klien tampak dengan meringis, menangis, merintih,
meregang, dan menggeliat. Saat dilakukan pengkajian pada mata,
biasanya didapatkan adanya kengjungtiva anemis pada TB paru dengan
gangguan fungsi hati
22

5. B4 / Bladder / Perkemihan
Pengukuran volume output urine berhubungan dengan intake cairan.
Oleh karena itu, perawat perlu memonitor adanya oliguria karena hal
tersebut merupakan tanda awal dari syok. Klien diinformasikan agar
terbiasa dengan urine yang berwarna jingga pekat dan berbau yang
menandakan fungsi ginjal masih normal sebagai ekskresi karena
meminum OAT terutama rifampisin.

6. B5 / Bowel / Pencernaan
Klien biasanya mengalami mual, penurunan nafsu makan, dan
penurunan berat badan.

7. B6 / Bone / Muskuloskeletal
Aktivitas sehari-hari berkurang banyak pada klien dengan TB paru.
Gejala yang muncul antara lain kelemahan, kelelahan, insomnia, pola
hidup menetap, jadwal olahraga menjadi tak teratur.

2.9.3 DIAGNOSA KEPERAWATAN


1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan bronkospasme.
2. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan sindrom hipovolemi.
3. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan ketidakseimbangan
ventilasi-perfusi dan perubahan membrane alveolus-kapiler.
4. Defisit nutrisi berhubungan dengan ketidakmampuan menelan, mencerna
makanan dan mengabsorbsi nutrient.
5. Gangguan rasa nyaman behubungan dengan gejala penyakit.
23

2.9.4 INTERVENSI
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan bronkospasme.
a. Tujuan : setelah diberikan tindakan keperawatan 1x24 jam bersihan
jalan nafas efektif
b. Kriteria Hasil :
- Menunjukkan jalan nafas yang paten (klien tidak merasa tercekik,
irama nafas, frekuensi pernafasan dalam rentang normal (18-20
x/menit), tidak ada suara nafas tambahan (abnormal))
- Mampu mengeluarkan sputum, bernafas dengan mudah
c. Intervensi :
- Kaji ulang fungsi pernapasan: bunyi napas, kecepatan, irama,
kedalaman dan penggunaan otot aksesori.
rasional : Penurunan bunyi napas indikasi atelektasis, ronki indikasi
akumulasi secret/ketidakmampuan membersihkan jalan napas
sehingga otot aksesori digunakan dan kerja pernapasan meningkat
- Observasi kemampuan untuk mengeluarkan secret atau batuk
efektif, catat karakter, jumlah sputum, adanya hemoptisis.
rasional : Pengeluaran sulit bila sekret tebal, sputum berdarah akibat
kerusakan paru atau luka bronchial yang memerlukan
evaluasi/intervensi lanjut.
- Berikan pasien posisi semi fowler (senyaman pasien), Bantu/ajarkan
batuk efektif dan latihan napas dalam.
rasional : Meningkatkan ekspansi paru, ventilasi maksimal membuka
area atelektasis dan peningkatan gerakan sekret agar mudah
dikeluarkan.
- Bersihkan sekret dari mulut dan trakea, suction bila perlu.
rasional : Mencegah obstruksi/aspirasi. Suction dilakukan bila pasien
tidak mampu mengeluarkan secret.
- Pertahankan intake cairan minimal 2500 ml/hari kecuali
kontraindikasi.
rasional : Membantu mengencerkan secret sehingga mudah
dikeluarkan.
24

- Lembabkan udara/oksigen inspirasi.


rasional : Mencegah pengeringan membran mukosa.
- Kolaborasi pemberian obat: agen mukolitik, bronkodilator,
kortikosteroid sesuai indikasi.
rasional : Menurunkan kekentalan sekret, lingkaran ukuran lumen
trakeabronkial, berguna jika terjadi hipoksemia pada kavitas yang
luas.

2. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan sindrom hipovolemi.


a. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawan diharapkan pasien
mampu mempertahankan jalan nafas agar pola nafas efektif
b. Kriteria Hasil :
- Pasien mampu mendemonstrasikan batuk efektif & suara nafas
bersih
- Jalan nafas paten
- Ttv dalam batas normal
c. Intervensi :
- Observasi keadaan pasien
rasional : Untuk mengetahui asal mula tanda dan gejala yang muncul.
- Mengatur akurasi O2 jika pasien terpasang O2
rasional : untuk memberikan asupan oksigen ke dalam darah agar tidak
terjadi hipoksia jaringan dan sel.
- Posisikan pasien semifowler 300 – 450
rasional : untuk mematenkan jalan nafas.
- Bersihkan mulut, hidung, trakea jika terdapat banyak secret
rasional : untuk mengeluarkan secret dan membersihkan jalan nafas.

3. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan ketidakseimbangan


ventilasi-perfusi dan perubahan membrane alveolus-kapiler.
a. Tujuan : Setelah diberikan tindakan keperawatan 1 x 24 jam pertukaran
gas efektif
25

b. Kriteria Hasil :
- Tidak terjadi dispnea.
- Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan adekuat
dengan BGA dalam rentang normal.
- Bebas dari gejala distress pernapasan
c. Intervensi :
- Kaji dispnea, takipnea, bunyi pernapasan abnormal. Peningkatan
upaya respirasi, keterbatasan ekspansi dada dan kelemahan.
rasional : Tuberkulosis paru dapat menyebabkan meluasnya jangkauan
dalam paru-paru yang berasal dari bronkopneumonia yang meluas
menjadi inflamasi, nekrosis, pleural effusion dan meluasnya fibrosis
dengan gejala-gejala respirasi distress.
- Evaluasi perubahan-tingkat kesadaran, catat tanda-tanda sianosis
dan perubahan warna kulit, membran mukosa, dan warna kuku
rasional : Akumulasi secret dapat menangkap oksigenasi di organ vital
dan jaringan.
- Anjurkan untuk bedrest, batasi dan bantu aktivitas sesuai kebutuhan.
rasional : Mengurangi konsumsi oksigen pada periode respirasi.
- Kolaborasi dengan tim medis untuk pemeriksaan analisa gas darah
rasional : Mengetahui kadar Oksigen ke jaringan.

4. Defisit nutrisi berhubungan dengan ketidakmampuan menelan, mencerna


makanan dan mengabsorbsi nutrient.
a. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 x 24 jam
diharapkan kebutuhan nutrisiterpenuhi dan adekuat.
b. Kriteria Hasil :
- Menunjukkan berat badan meningkat mencapai tujuan dengan nilai
laboratorium normal dan bebas tanda malnutrisi.
- Melakukan perubahan pola hidup untuk meningkatkan dan
mempertahankan berat badan yang tepat
26

c. Intervensi :
- Catat status nutrisi pasien: turgor kulit, timbang berat badan,
integritas mukosa mulut, kemampuan menelan, adanya bising usus,
riwayat mual/muntah atau diare.
rasional : Berguna dalam mendefinisikan derajat masalah dan
intervensi yang tepat.
- Kaji ulang pola diet pasien yang disukai/tidak disukai.
rasional : Membantu intervensi kebutuhan yang spesifik,
meningkatkan intake diet pasien.
- Monitor intake dan output secara periodik.
rasional : Mengukur keefektifan nutrisi dan cairan.
- Catat adanya anoreksia, mual, muntah, dan tetapkan jika ada
hubungannya dengan medikasi. Awasi frekuensi, volume,
konsistensi Buang Air Besar (BAB)
rasional : Dapat menentukan jenis diet dan mengidentifikasi
pemecahan masalah untuk meningkatkan intake nutrisi.
- Lakukan perawatan mulut sebelum dan sesudah tindakan pernapasan
rasional : Mengurangi rasa tidak enak dari sputum atau obat-obat yang
digunakan yang dapat merangsang muntah.
- Anjurkan makan sedikit dan sering dengan makanan tinggi protein
dan karbohidrat.
rasional : Memaksimalkan intake nutrisi dan menurunkan iritasi gaster/
gastrointestinal (organ yang berbentuk huruf “J”)
BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN TB PARU
Tgl Pengkajian : 19 – 09 - 2019 Jam : 16.00 WIB
Tgl MRS : 14 – 09 - 2019 no. RM : 006274xxx
Ruang : Ruang Paviliun 4 Paru Diagnosa Medis : S. TB Paru
Lt 1 Rs. Dr. Ramelan
Nama pasien : Tn. S Pekerjaan : Purn. Vet
Umur : 70 th Suku Bangsa : Indonesia
Agama : Islam Jenis Kelamin : Laki-laki
Pendidikan : SMA Status Perkawinan : Menikah
3.1 Riwayat Sakit dan Kesehatan
Keluhan Utama : Pasien mengeluh masih sering nyeri pada perut dan batuk
dengan dahak sulit keluar.
Riwayat Penyakit : Keluarga pasien mengatakan sebelum masuk rumah sakit
Sekarang pasien tidak mau makan dan tubuhnya menjadi lemas,
sehingga pada tanggal 14 september jam 14.00 Dibawa ke
IGD Dr. Ramelasn Surabaya.
Riwayat Penyakit : Keluarga pasien mengatakan tidak memiliki riwayat
Dahulu penyakit yang di derita saat ini, pasien tidak memiliki
riwayat penyakit Diabetes Militus (DM), Hipertensi (HT)
dan ginjal.
Riwayat Penyakit : Keluarga pasien mengatakan tidak memiliki riwayat
Keluarga penyakit TB Paru, Diabetes Militus (DM), Hipertensi (HT),
Hipertensi.
Riwayat Alergi : Pasien tidak memiliki riwayat alergi
Keadaan Umum : Kesadaran :
Sedang Composmetis
Nadi : 84 x/menit Suhu : 36,8oC RR : 22x/menit TD : 111/72 mmHg
Lokasi : Axila

27
28

3.2 Pemeriksaan Fisik


3.2.1 B1 : Breath / Pernafasan
1. Inspeksi
a. Bentuk dada pasien normo chest,
b. Pola nafas pasien tachypnea sedang dengan peningkatan frekuensi
napas,
c. Tidak terdapat otot bantu napas,
d. Tidak terdapat pelebaran intercostal space (ICS),
e. Pasien tampak batuk dengan dahak sulit dikeluarkan.
2. Palpasi
a. Gerakan dinding thoraks pernapasan atau pergerakan dada pasien
normal seimbang antara dada bagian sebelah kanan dan kiri,
b. Teraba taktil/vokal fremitus (getaran suara) saat pasien berbicara.
3. Perkusi : Terdapat bunyi sonor pada lapang paru sebelah
kanan dan terdapat suara redup pada lapang paru sebelah kiri.
4. Auskultasi : Terdengar suara napas tambahan ronchi pada paru
sebelah kanan, suara napas vesicular pada paru sebelah kiri.

3.2.2 B2 : Blood /Sirkulasi


1. Inspeksi : Terdapat keluhan kelemahan fisik pada pasien
Tidak terdapat sianosis perifer pada pasien.
2. Palpasi : Denyut nadi perifer teraba lemah, N : 84x/menit,
SpO2 : 92 % (hipoksia ringan) terpasang nasal 4 Lpm hari ke
5 (14 September 2019), CRT >4 detik
3. Perkusi : Tidak terdapat pergeseran batas jantung dengan paru
4. Auskultasi : Tidak terdapat suara jantung tambahan, TD : 111/72 mmHg
Bunyi jantung S1 S2 tunggal.

3.2.3 B3 : Brain / Persarafan


1. Keadaan umum pasien lemah
2. GCS 456 dengan tingkat kesadaran pasien composmetis.
3. Tidak terdapat keluhan nyeri kepala
29

4. Mata simetris, konjungtiva tampak anemis, pupil isokor, terdapat reflek


cahaya
5. Pasien mampu menunjukkan bagian yang sakit.

3.2.4 B4 : Bladder / Perkemihan


1. Pasien terpasang cateter bag hari ke-5 dengan produksi urine 700cc.
2. Urine tampak berwarna jingga pekat dan berbau. (belum terpapar OAT)

3.2.5 B5 : Bowel / Pencernaan


1. Mulut pasien bersih dan tidak anemnis, membrane mukosa mulut sedikit
kering.
2. Tidak terpasang gigi palsu
3. Nafsu makan pasien menurun, Pasien terpasang NGT hari ke-5 dengan
pemberian susu 3x2 cup sehari (masing-masing cup berisi 200 kalori)
dalam1 hari pasien mendapatkan 1600 kkal/gr (kebutuhan harian kalori
pasien 1308 kkal/gr).
4. Pada perkusi ditemukan bunyi timpani pada abdomen, keluarga kurang
paham dalam cara pemberian makan personde yang mengakibatkan perut
pasien kembung.

3.2.6 B6 : Bone / Muskuloskeletal

1. Terdapat keterbatasan gerak pada pasien


2. Tidak terdapat keterbatasan gerak sendi
3. Pasien tidak dapat duduk secara mandiri, pergerakan pasien hanya dapat
miring kanan dan kiri dengan bantuan perawat
4. Tonus otot

4444 4444
4444 4444

5. Tidak terdapat fraktur pada area ekstremitas atas dan bawah dan juga
bagian tubuh pasien lainnya.
6. Pasien tampak lemah dan kelelahan
7. Pasien hanya dapat beraktivitas diatas tempat tidur (immobilisasi)
30

3.2.7 Sistem Integumen

1. Rambut tampak sedikit kotor


2. Warna kulit normal (coklat sawo matang)
3. Warna kuku normal (merah muda)
4. Turgor kulit tidak elastis (kerut) dan kering
5. Mukosa bibir kering

3.2.8 Sistem Penginderaan

1. Mata simetris, konjungtiva tampak anemis, pupil isokor, terdapat reflek


cahaya
2. Pasien tidak dapat berbicara dengan jelas, hanya menunjukkan bagian
yang sakit
3. Tidak terdapat gangguan / kelainan yang signifikan pada pendengaran
pasien.

3.2.9 Pola Istirahat Tidur

1. Pasien tampak kurang cukup untuk tidur


2. Pasien susah tidur karena merasakan nyeri pada perutnya
3. Pasien tampak kurang bersemangat
4. Kualitas tidur pasien kurang baik
SMRS MRS
Tidur malam : 22.00 - 04.00 tidur malam : 23.00 – 04.00
Tidur siang : tidak pernah Tidur siang : 12.00 – 13.30

3.2.10 Endokrin

1. Tidak terdapat kelainan pada kelenjar thyroid


2. Pasien tidak mengalami hiperglikemi / hipoglikemi

3.2.11 Sistem Reproduksi / Genetalia

1. Sistem reproduksi pasien normal, tidak ada kelainan yang signifikan


terhadap sistem reproduksi
31

3.2.12 Personal Hygiene

1. Pasien mandi 1x sehari diseka oleh keluarga yang menjaga


2. Pasien tidak pernah menggosok gigi
3. Kegiatan mandi, berganti pakaian, toileting serta berpindah tempat
dibantu oleh keluarga

3.2.13 Psikososiocultural

1. Ideal diri : pasien berharap akan lepas dari sembuh dan cepat pulang
2. Gambaran diri : pasien percaya diri dengan keadaaan yang dialami
3. Harga diri : pasien mengatakan pasti sembuh
4. Identitas diri : pasien sebagai ayah dari anak anak dalam keluarga
5. Citra tubuh : pasien tidak suka di cukur kumis dan jenggotnya
6. Orang paling dekat : anak dan cucunya

3.3 Data Penunjang / Hasil pemeriksaan diagnostic Darah Lengkap/ Kimia


klinik / Blood gas analisa / Radiologis

a. pH (Measured) 7.410 i. pO2 / FiO2 3.95


b. pCO2 (Measured) 25.1 j. pO2 (A-a) (T) 7.92
c. pO2 (Measured) 127.3 k. pO2 (a/A) (T) 0.62
d. HCO3act 15.6 l. Temp 36.5
e. BE (ecf) -9.2 m. ctHb 12.7
f. ctCO2 16.4 n. FiO2 33.0
g. O2SAT 98.7 o. Kalium 4.61
h. O2CT 17.8 p. Chloride 92.2
32

3.4 Terapi Medis


3.4.1 Hasil Laboratorium

Tgl Terapi obat Dosis


19 September 2019 Metylpretnisol 3x125 mg
Ranitidine 2x1
Paracetamol 3x500 mg
Puyer batuk 3x1
Cefofulbaktan 3x1gr
Infus Kalbamin 2x1

3.4.2 Hasil Foto Thorax


33

3.5 Analisa data


Data/factor risiko Etiologi Masalah
Ds : Sekret dalam jalan Bersihan jalan nafas
- Pasien mengatakan nafas tidak efektif
masih batuk dengan (SDKI,2016 D.0001)
dahak sulit keluar.
- Pasien mengatakan
sesak

Do :
- Batuk tidak efektif
- Terdengar suara
ronchi saat auskultasi
lapang paru
- Pola nafas pasien
takipnea
- Observasi ttv:
RR : 22 x/menit
SPO2 : 92% dengan
O2 nasal kanul 4 lpm
Ds : Penurunan kekuatan Gangguan Mobilitas
- Pasien mengeluh otot Fisik
merasa berat saat (SDKI, 2016 D.0054)
menggerakan kedua
tangan dan kakinya

Do :
- Kekuatan otot pasien
menurun
- Rentang gerak pasien
menurun
- terdapat keterbatasan
pergerakan sendi
- Skala kekuatan otot
4444 4444
4444 4444
- Terdapat kelemahan
otot pada kedua
tangan dan kaki kanan
dan kiri
Ds : Keluarga pasien Kurang mampu Defisit Pengetahuan
mengatakan kurang mengingat, kekeliruan (SDKI, 2016)
paham cara memasukan mengikuti anjuran
minuman (susu) melaui
sonde dengan benar

Do :
34

- Keluarga pasien
tampak menunjukkan
perilaku tidak sesuai
dengan anjuran
pemberian intake
nutrisi melalui sonde
- Keluarga pasien
menunjukkan persepsi
yang keliru terhadap
pemberian intake
nutrisi melalui sonde
35

3.6 Intervensi Keperawatan


No Masalah Tujuan Kriteria Hasil Intervensi Rasional
1 Bersihan nafasSetelah dilakukan 1) Pasien mampu 1) Observasi dan dokumentasikan 1) Untuk menentukan terapi
tidak efektif b/d asuhan mengaplikasikan apakah ada suara nafas tambahan yang sesuai dengan
sekret didalam keperawatan batuk efektif . ronchi di lapang paru sebelah kanan keadaan pasien.
jalan nafas selama 3x24 jam 2) Tidak terdapat
diharapkan pasien sumbatan pada 2) Untuk mematenkan jalan
o
mampu jalan nafas. 2) Posisikan pasien semifowler 45 nafas
mempertahankan
jalan nafas 3) Untuk mematenkan jalan
3) Lakukan fisiotrapi dada jika nafas
diperlukan
4) Untuk membersihkan jalan
4) Lakukan pengeluaran sekret dengan nafas
batuk efektif
5) Untuk mempercepat
5) Kolaborasi dengan dokter dalam pemulihan pasien dan
pemberian bronkodilator (ventolin) secret dapat keluar
2 Gangguan Setelah dilakukan 1) Ekstermitas tidak 1) Observasi bagian tubuh/ekstermitas 1) memudahkan perawat
Mobilitas Fisik tindakan lemah yang mengalami kelemahan. dalam melakukan asuhan
b/d penurunan keperawatan 2) Ekstermitas yang keperawatan.
kekuatan otot selama 3x24 jam lemah dapat 2) Ajarkan pasien untuk latihan gerak 2) gerak aktif dapat
diharapkan pasien digerakan secara aktif pada ekstermitas yang memberikan dan
mampu mandiri sakit/lemah memperbaiki masa tonus
meningkatkan serta kekuatan otot.
aktivitas fisik 3) Lakukan latihan ROM akif dan 3) memperbaiki masa tonus
yang sakit/lemah pasif dan kekuatan otot
36

sesuai dengan 4) Kolaborasi dengan ahli fisioterapi 4) peningkatan kemampuan


kemampuannya. untuk latihan fisik dapat dilakukan dengan
latihan fisik
3 Defisit Setelah dilakukan 1) Keluarga pasien 1) Mengetahui tingkat
Pengetahuan b/d tindakan memahami dan1) Observasi dan nilai tingkat pengetahuan keluarga
urang mampu keperawatan mengerti cara pengetahuan pasien dan keluarga pasien
mengingat, selama 3x24 jam pemberian intake saat ini
kekeliruan diharapkan nutrisi melalui
mengikuti anjuran keluarga tidak sonde 2) Cari waktu yang tepat dengan 2) Mempermudah keluarga
defisit 2) Keluarga pasien keluarga dalam pembelajaran cara dalam menentukan tujuan
pengetahuan menunjukkan memberikan nutrisi melalui sonde pembelajaran
perilaku yang yang mudah dipahami.
sesuai dalam
pemberian intake 3) Berikan lingkungan yang kondusif 3) Mempermudah kelaurga
nutrisi melalui untuk belajar keluarga pasien. pasien dalam menerima
sonde informasi

4) Berikan waktu kepada keluarga 4) Mempermudah keluarga


pasien untuk bertanya mengenai pasien memahami cara
pemberian melalui sonde. pemberian intake nutrisi
melalui sonde dengan
benar

5) Evaluasi keluarga pasien dengan 5) Agar keluarga pasien


cara mengulang pembelajaran yang benar-benar memahami
telah diberikan. cara pemberian intake
nutrisi melalui sonde
37

3.7 Implementasi Keperawatan


Hari/tanggal Masalah Keperawatan Waktu Implementasi Evaluasi SOAP
Jum’at, 20 - Bersihan Jalan Nafas 08.30 1. Mengobservasi tingkat kesadaan dan GCS S :
Sept 2019 Tidak Efektif
pasien (Tingkat kesadara komposmetis, GCS - Pasien mengeluh perutnya sakit dan
- Gangguan Mobilitas
Fisik 456) sebah.
- Defisit Pengetahuan
2. Mengobservasi dan catat apakah terdapat - Pasien mengeluh batuk dan sesak,
suara nafas tambahan ronchi di paru sebelah dahak susah keluar.
kanan. O:
3. Mengatur akurasi O2 nasal kanul 4 lpm. - Pasien tidak terpasang O2.
4. Mengobservasi bagian tubuh/ekstermitas yang - Pola napas pasien tampak tidak
mengalami kelemahan otot teratur (dyspnea).
Skala kekuatan otot : - Irama nafas pasien tampak tidak
4444 4444 teratur.
4444 4444
- Terdapat suara napas tambahan
10.00 ronchi pada paru sebelah kanan,
5. Memposisikan pasien semifowler 45o
suara napas vesicular pada paru
6. Melakukan pengeluaran sekret dengan diberi
sebelah kiri saat auskultasi.:
puyer batuk sesuai dengan advice dokter
- Tingkat kesadaran komposmetis,
7. Mengajarkan pasien cara batuk efektif.
GCS 456
38

11.30 8. Mengukur TTV pasien - Pemeriksaan TTV :


TD : 120/90 mmHg TD : 120/90 mmHg
S : 37,2oC , N : 90x/menit , SPO2 : 92% S : 37,2oC , N : 90x/menit ,
9. Memberikan terapi obat nebul Ventolin SPO2 : 92%
10. Mengajarkan pasien dan keluarga pasien - Pasien tampak lemah dan tidak
latihan gerak aktif pada tangan dan kaki kanan dapat menggerakan kedua tangan
kiri. dan kaki kanan kirinya.
11. Mengajari keluarga pasien cara pemberian - Skala kekuatan otot :
nutrisi melalui sonde. 4444 4444
4444 4444
12. Mengevaluasi keluarga pasien cara pemberian
A:
nutrisi melalui sonde
- Masalah bersihan nafas tidak efektif
belum teratasi.
- Masalah gangguan mobilitas fisik
belum teratasi.
- Masalah defisit pengetahuan belum
teratasi.
P:
Lanjutkan Intervensi :
39

- Observasi ttv pasien.


- Observasi tingkat kesadaran dan
GCS pasien.
- Berikan O2 nasal 4 lpm
- Posisikan pasien semifowler 45o
- Mengajari pasien batuk efektif.
- Memberikan obat batuk puyer dan
nebul ventolin.
- Kaji skala kekuatan otot.
- Mengajari keluarga pasien cara
pemberian nutrisi melalui sonde.
Sabtu, 21 - Bersihan Jalan Nafas 08.30 1. Mengobservasi tingkat kesadaran dan GCS S :
Sept 2019 Tidak Efektif
pasien (tingkat kesadaran komposmetis, GCS - Keluarga pasien mengatakan
- Gangguan Mobilitas
Fisik 456) batuknya sudah berkurang.
- Defisit Pengetahuan
2. Mengatur akurasi O2 nasal kanul 4 lpm. - Pasien mengatakan sudah tidak
3. Memposisikan pasien semifowler 45o sesak lagi.
- Keluarga pasien mengatakan dahak
10.00 4. Memberikan obat batuk puyer pasien masih sulit keluar.
5. Mengajarkan cara batuk efektif.
40

11.30 6. Mengukur TTV pasien - Keluarga pasien mengatakan sedikit


TD : 110/80 mmHg bingung melakukan prosedur
S : 37oC , N : 85x/menit , SPO2 : 93% pemberian nutrisi melalui sonde.
7. Mengajarkan pasien dan keluarga pasien O :
latihan gerak aktif pada tangan dan kaki kanan - Saat dilakukan perkusi pada perut
kiri. pasien terdengar suara timpani
8. Mengkaji kekuatan otot, skala kekuatan otot : menandakan adanya udara di dalam
4444 4444 perut (kembung).
4444 4444
- Pasien tidak terpasang O2 nasal 4
9. Mengajari keluarga pasien cara pemberian
lpm.
nutrisi melalui sonde.
- Pola nafas dam irama napas pasien
10. Mengevaluasi keluarga pasien cara pemberian
teratur (normal).
nutrisi melalui sonde.
- Saat auskultasi terdengar suara
ronchi pada lapang paru kanan
- Tampak ada penumpukan secret
pada jalan nafas.
- Keluarga pasien tampak salah
persepsi dalam prosedur pemberian
intake nutrisi melalui sonde.
41

- Pemeriksaan TTV :
TD : 110/80 mmHg
S : 37oC , N : 85x/menit ,
SPO2 : 93%
- Pasien tampak lemah dan sulit
menggerakan kedua tangan dan
kaki kanan kiri.
- Skala kekuatan otot :
4444 4444
4444 4444
A:
- Masalah bersihan nafas tidak efektif
teratasi sebagian.
- Masalah gangguan mobilitas fisik
belum teratasi.
- Masalah defisit pengetahuan
terasasi sebagian.
P:
Lanjutkan intervensi :
42

- Observasi ttv pasien.


- Observasi tingkat kesadaran dan
GCS pasien.
- Posisikan pasien semifowler 45o
- Mengajari pasien batuk efektif.
- Memberikan obat batuk puyer dan
nebul ventolin sesuai.
- Kaji skala kekuatan otot.
- Mengajari keluarga pasien cara
pemberian nutrisi melalui sonde.
Minggu, 22 - Bersihan Jalan Nafas 15.00 1. Mengobservasi tingkat kesadaran dan GCS S :
Sept 2019 Tidak Efektif
pasien (tingkat kesadaran komposmetis, GCS - Keluarga pasien mengatakan batuk
- Pola Nafas Tidak
Efektif 456) pasien sudah berkurang.
- Defisit Pengetahuan
2. Memposisikan pasien semifowler 45o - Keluarga pasien mengatakan sudah
16.00 3. Memberikan obat batuk puyer memahami prosedur pemberian
4. Mengajarkan cara batuk efektif. intake nutrisi melalui sonde.
- Keluarga pasien mengatakan dahak
17.00
5. Mengukur TTV pasien pasien masih sulit keluar.
TD : 130/90 mmHg O:
43

S : 36,9oC , N : 80x/menit , SPO2 : 92% - Saat dilakukan perkusi pada perut


6. Mengajarkan pasien dan keluarga pasien pasien tidak terdengar lagi suara
latihan gerak aktif pada tangan dan kaki kanan timpani menandakan adanya udara
kiri. di dalam perut (kembung).
7. Mengkaji kekuatan otot, skala kekuatan otot : - Keluarga pasien tampak benar
4444 4444 melakuan prosedur pemberian
4444 4444
intake nutrisi melalui sonde.
8. Mengajari keluarga pasien cara pemberian
- Saat auskultasi terdengar suara
nutrisi melalui sonde.
ronchi pada lapang paru kanan
9. Mengevaluasi keluarga pasien cara pemberian
- Tampak ada penumpukan secret
nutrisi melalui sonde.
pada jalan nafas.
- Pemeriksaan TTV :
TD : 130/90 mmHg
S : 36,5oC , N : 80x/menit ,
SPO2 : 92%
- Pasien tampak lemah dan sulit
menggerakan kedua tangan dan
kaki kanan kiri.
- Skala kekuatan otot :
44

4444 4444
4444 4444
A:
- Masalah bersihan jalan nafas tidak
efektif belum teratasi.
- Masalah gangguan mobilitas fisik
belum teratasi.
- Masalah defisit pengetahuan
teratasi.
P:
Lanjutkan intervensi :
- Observasi ttv pasien.
- Observasi tingkat kesadaran dan
GCS pasien.
- Posisikan pasien semifowler 45o
- Mengajari pasien batuk efektif.
- Memberikan obat batuk puyer dan
nebul ventolin.
- Kaji skala kekuatan otot.
DAFTAR PUSTAKA

Andra Saferi ,Wijaya. 2013. KMB1 Keperawatan Medikal Bedah Keperawatan


Dewasa Teori dan Contoh Askep.Yogyakarta:Nuha Medika.

Ardiansyah, M. 2012 .Medikal Bedah Untuk mahasiswa. Yogyakarta : Diva


Press

Kemenkes. 2011. Pedomasn nasional Penanggulangan Tuberkulosis.


Kementerian Kesehatan Republik Indonesia

Nurarif, Amin Hadi.2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan


NANDA NIC –NOC. Mediaction : Jogjakarta

Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan Tuberkulosis di Indonesia. 2012 .


Jakarta

Setiadi (2012), Konsep & Penulisan Asuhan Keperawatan, Yogyakarta: Graha


Ilmu.

Suarni, Helda. 2009. Faktor Lingkungan yang berhubungan dengan Kejadian


penyakit Tb BTA Positif di Kecamatan Pancoran Mas Kota Depok
Bulan Oktober 2008 – April 2009. Universitas Indonesia

Somantri I. 2007. Keperawatan medikal bedah : Asuhan Keperawatan pada


pasien gangguan sistem pernafasan. Jakarta: Salemba Medika.
http://www.rajawana.com/artikel/kesehatan/264-tuberculosis-paru-tb-
paru.html diakses pada tanggal 28 Oktober 2017 pkl 15.00 wib

45