Anda di halaman 1dari 11

JKPK (JURNAL KIMIA DAN PENDIDIKAN KIMIA), Vol 3, No 1, Tahun 2018 Hal.

19-29
Program Studi Pendidikan Kimia Universitas Sebelas Maret ISSN 2503-4146
https://jurnal.uns.ac.id/jkpk ISSN 2503-4154 (online)

PENGEMBANGAN MODUL PEMBELAJARAN KIMIA ORGANIK I


TERINTEGRASI PRAKTIKUM BERBASIS CONCEPTUAL
CHANGE MODEL ED3U (EXPLORE, DIAGNOSE, DESIGN,
DISCUSS, USE)

Development of Organic Chemistry I Learning Module Integrated


Experiment Based on Conceptual Change Model ED3U (Explore,
Diagnose, Design, Discuss, Use)

Suryelita * dan Zonalia Fitriza

Jurusan Kimia, Fakultas MIPA Universitas Negeri Padang


Jl. Prof. Dr. Hamka, Air Tawar Barat, Padang, Sumatera Barat, 25171, Indonesia

Untuk korespondensi: e-mail: suryelita@gmail.com

Received: November 27, 2017 Accepted: May 15, 2018 Online Published: May 21, 2018
DOI : 10.20961/jkpk.v3i1.16346

ABSTRAK
Mata Kuliah Kimia Organik I menuntut mahasiswa mampu berpikir kritis dalam memperoleh
pengetahuan dan mampu membuktikan kebenarannya melalui praktikum. Namun, kemampuan
mahasiswa dalam menerima materi kuliah berbeda-beda. Oleh sebab itu, diperlukan suatu bahan
ajar yaitu modul yang dapat memfasilitasi mahasiswa yang tidak dapat mengikuti perkuliahan
klasikal dengan sempurna supaya target dari capaian pembelajaran bisa terpenuhi. Untuk itu,
dikembangkan suatu bahan ajar berbentuk modul yang berbasis model perubahan konseptual
ED3U (Explore, Diagnose, Design, Discuss, Use) dengan tahapan yang mampu mengaktifkan
berpikir kritis dan kemampuan siswa yang terampil sesuai dengan tuntutan capaian pembelajaran
pada topic alkohol. Modul ini divalidasi, diuji praktikalitas dan efektifitasnya untuk memastikan
modul yang dihasilkan sesuai dengan kriteria yang diinginkan dan dapat menjalankan fungsinya
dalam perubahan konseptual. Instrumen yang digunakan adalah angket untuk validasi dan uji
praktikalitas, sedangkan untuk uji efektifitas digunakan tes. Data validitas dan praktikalitas diolah
menggunakan Formula Momen Kappa Cohen. Hasil yang diperoleh adalah modul yang
dikembangkan telah valid, praktis dan efektif dengan kategori kevalidan sangat tinggi dari segi isi
dan tinggi dari segi kegrafikaan, sedangkan dari segi kepraktisan berada pada kategori sangat
tinggi. Modul yang dikembangkan efektif digunakan untuk pembelajaran karena menunjukkan hasil
positif terhadap perubahan konseptual.

Kata Kunci: alkohol, kimia organik, model ED3U, modul, perubahan konseptual

ABSTRACT
Organic Chemistry lecture requires the student to be able to think critically in getting
knowledge and prove the facts through experiment. The problem of this lesson is the students
have different ability to receive the concepts. To overcome this matter a teaching material, like a
module which can facilitate the students who cannot follow lecture well is needed. Therefore, a
module which is based on the conceptual change model ED3U (Explore, Diagnose, Design,
Discuss, Use) was developed with the steps that activate critical thinking and skilled which
appropriate for the learning outcome in alcohol lesson. The module was validated, tested for its
practicality and affectivity to ensure the quality and functionality of the module to help students

19
20 Suryelita & Z. Fitriza, Pengembangan Modul Pembelajaran Kimia ……….

gained conceptual change. The instrument used for validity and practicality test was questionnaire,
while test was used for evaluating its effectiveness. The Data was analysed using Cohen Momen
Kappa Formula. The result showed that the module developed was valid, practical and effective
and fit the category very high with the positive result for conceptual change.

Keywords: Alcohol, organic chemistry, ED3U model, module, conceptual change

PENDAHULUAN senyawa alkana, alkena, alkuna, alkohol,


eter, senyawa aromatis, aldehid, keton dan
Kurikulum Kerangka Kualifikasi Nasional
asam karboksilat serta mampu membuktikan
Indonesia (KKNI) merupakan kurikulum yang
kebenaran dari teori melalui praktikum”.
digunakan pada sistem pendidikan tinggi
Capaian pembelajaran tersebut me-
sesuai dengan peraturan Presiden Nomor 8
nuntut siswa mampu berpikir kritis dalam
tahun 2012. Kurikulum ini menuntut setiap
memperoleh pengetahuan dan mampu mem-
program studi wajib dilengkapi dengan target
buktikan kebenarannya melalui praktikum.
capaian pem-belajaran yang merupakan
Mata kuliah organik I terintegrasi dengan
rumusan tujuan pembelajaran yang hendak
kegiatan praktikum sehingga menyelaraskan
dicapai dan harus dimiliki semua lulusannya.
apa yang didapatkan mahasiswa melalui
Kurikulum ini diimplementasikan pada bidang
teori dan praktikum. Salah satu materi dalam
keilmuwan dan mata kuliah pada jurusan
kimia organik adalah alkohol. Materi ini juga
kimia yang terdiri dari program studi
mengitegrasikan antara teori dan praktikum,
pendidikan kimia dan kimia. Setiap mata
namun permasalahan yang dihadapi adalah
kuliah diwajibkan memiliki capaian pem-
kemampuan siswa dalam menerima materi
belajaran (learning outcomes) sesuai standar
kuliah yang diberikan bervariasi sehingga
KKNI [1]. Salah satu mata kuliah wajib pada
tidak jarang mahasiswa memperoleh nilai
jurusan kimia adalah kimia organik I.
yang rendah. Selain itu berdasarkan tes
Mata Kuliah Kimia Organik I diikuti
pendahuluan yang dilakukan terhadap
mahasiswa semester 3 dengan capaian
pemahaman mahasiswa mengenai alkohol
pembelajaran terdapat dalam Rencana Pem-
diperoleh bahwa sebagian besar mahasiswa
belajaran Semester Mata Kuliah Kimia
tidak mampu menjelaskan fenomena yang
Organik I. Capaian Pembelajaran tersebut
mereka peroleh dari praktikum berdasarkan
adalah “Berpikir kritis dalam memahami
teori. Oleh sebab itu, diperlukan suatu bahan
definisi kimia organik, rumus molekul, rumus
ajar yang dapat memfasilitasi mahasiswa
empiris dan rumus struktur, ikatan kovalen,
yang tidak dapat mengikuti perkuliahan
muatan formal dan tarikan antar molekul.
klasikal dengan sempurna supaya target dari
Menjelaskan hibridisasi sp3, sp2 dan sp, dari
capaian pembelajaran bisa terpenuhi. Salah
atom karbon. Pembentukan ikatan sigma dan
satu bahan ajar yang cocok untuk mengatasi
ikatan phi-, sifat dan gugus fungsi.
permasalahan ini adalah berupa modul
Memahami rumus empiris, rumus molekul,
pembelajaran karena modul memiliki kom-
rumus struktur, tatanama, sifat fisika dan
reaksi kimia serta kegunaan dari senyawa-
JKPK (JURNAL KIMIA DAN PENDIDIKAN KIMIA), Vol. 3, No. 1, Tahun 2018, hal.19-29 21

ponen bahan ajar yang lebih lengkap salah atau miskonsepsi. Konsep tersebut
dibanding yang lainnya [2]. akan berubah menjadi konsep ilmiah jika
Modul yang digunakan haruslah melewati proses pembelajaran yang benar.
berbasis sebuah model yang tahapannya Unsur penting dalam proses pembelajaran
mampu mengaktifkan berpikir kritis dan untuk sampai pada konsepsi ilmiah adalah
kemampuan mahasiswa yang terampil kompleksitas yang berupa penambahan ilmu
sesuai dengan tuntutan capaian pem- pengetahuan terkait konsepsi awal dan
belajaran. Salah satu model yang melibatkan inklusivitas yang berkaitan dengan aspek-
kegiatan-kegiatan tersebut adalah Model aspek baru dan berbeda dengan konsepsi
Perubahan Konseptual ED3U (Explore, awal selama pembelajaran [4].
Diagnose, Design, Discuss and Use). Fase Kompleksitas dan inklusifitas tersebut
ekplorasi (explore) adalah fase untuk bisa ditemui mahasiswa melalui inkuiri dari
mengaktifkan keingintahuan siswa dengan informasi yang diperoleh dari sumber belajar,
mengeksplore fenomena terkait konsep fenomena alam, dan pengalaman belajar
tertentu. Fase diagnosa (diagnose) adalah lainnya. Informasi-informasi dan pengalaman
fasa dimana mahasiswa mempersepsikan belajar tersebut bisa diinterpretasikan secara
konsepsinya dengan melihat konsepsi benar sehingga mahasiswa akhirnya me-
alternatif sebagai sesuatu yang masuk akal. miliki konsep target/ ilmiah, namun bisa juga
Fase berikutnya adalah fase diskusi (discuss) diinterpretasikan secara tidak tepat atau tidak
dimana mahasiswa akan mempertimbang- lengkap sehingga terjadi miskonsepsi [5].
kan konsepsi alternatif untuk memutuskan Konsep-konsep dalam pembelajaran
apakah konsep tersebut akan menggantikan kimia khususnya kimia organik pada
konsep awal atau tidak. Fase terakhir adalah umumnya adalah konsep yang abstrak yang
penggunaan (use) yaitu pengaplikasian bisa dijelaskan dengan tiga representasi
konsepsi baru mereka pada fenomena yang kimia yang disebut multi representasi yaitu
relevan. Model tersebut dikembangkan oleh level makro, sub-mikro dan simbolik. Metode
Richard R. Shope dan William F. McComas pembelajaran kimia dengan mengintegrasi-
dengan tujuan memediasi perubahan kan ketiga representasi tersebut akan
konseptual dan transformasi pelaksanaan meningkatkan kemampuan penalaran maha-
pembelajaran terpusat pada mahasiswa siswa [6]. Multi representasi kimia akan
dengan memfasilitasi siswa untuk berfikir melengkapi kegiatan pada fase diskusi,
secara saintifik [3]. dimana mahasiswa akan mempertimbang-
Perubahan konseptual merupakan kan apakah konsepsi awal mereka harus
salah satu hal yang harus menjadi perhatian dipertahankan atau mengalami perubahan
dalam pembelajaran karena mahasiswa menjadi konsepsi baru.
membawa konsep awal atau pre-konsep Integrasi multipel representasi pada
sebelum memulai pembelajaran. Konsep Model Perubahan Konseptual ED3U yang
awal tersebut bisa merupakan konsep dasar diaplikasikan pada bahan ajar modul
yang benar, bisa juga konsep dasar yang diharapkan dapat membuat pemahaman
22 Suryelita & Z. Fitriza, Pengembangan Modul Pembelajaran Kimia ……….

mahasiswa terhadap konsep-konsep pada 2. Tahap Perancangan (Design)


materi kimia organik. Untuk itu perlu
Tahap ini dilaksanakan dengan
dikembangkan bahan ajar berupa modul
merancang modul pembelajaran kimia organik
pembelajaran kimia organik I terintegrasi
1 terintegrasi praktikum Berbasis Model
praktikum berbasis perubahan konseptual
Perubahan Konseptual ED3U (Explore,
ED3U (Explore, Diagnose, Design, Discuss,
Diagnose, Design, Discuss, Use). Langkah-
Use).
langkah yang dilakukan pada tahap ini adalah:
a. Pemilihan Format
METODE PENELITIAN
b. Perancangan Modul
Jenis penelitian yang digunakan adalah 3. Tahap Pengembangan (Develop)
penelitian dan pengembangan atau Research
Pada tahap pengembangan dilakukan
and Development (R&D) yaitu penelitian yang
modifikasi produk yang dihasilkan pada
digunakan untuk menghasilkan produk tertentu,
tahap perancangan, sebelum menjadi produk
dan menguji keefektifan produk tersebut [7].
akhir yang siap untuk digunakan. Dalam
Sesuai dengan pengertian penelitian dan
tahap ini dilakukan Uji validitas, revisi dan uji
pengembangan di atas, penelitian ini dilakukan
praktikalitas produk yang dihasilkan.
untuk mengem-bangkan modul pembelajaran
a. Uji validitas
kimia organik terintegrasi praktikum Berbasis
b. Revisi
Model Perubahan Konseptual ED3U (Explore,
c. Uji Praktikalitas
Diagnose, Design, Discuss, Use). Prosedur
d. Uji Efektifitas
penelitian yang dilakukan pada penelitian ini
dengan menggunakan model pengembangan 4. Tahap Penyebaraan (Disseminate)
yaitu model 4-D (four D models) seperti yang
Thiagarajan membagi tahap disse-
dikembangkan oleh Thiagarajan, Semmel dan
mination dalam empat kegiatan, yaitu:
Semmel. Model 4-D ini terdiri dari 4 tahap utama,
validation testing, packaging, diffusion and
yaitu: (1) define (pendefinisian), (2) design (pe-
adoption. Pada tahap validation testing,
rancangan), (3) develop (pengembangan) dan
produk yang sudah direvisi yang telah valid
(4) disseminate (penyebaran) [8].
diuji cobakan dalam kegiatan pembelajaran.
1. Tahap Pendefinisian (Define) Dalam penelitian ini dilakukan tahap
pendefinisian, perancangan dan pengem-
Pelaksanaan penelitian dimulai dari
bangan. Sedangkan untuk tahap penyebaran
tahap define. Langkah-langkah yang dilaku-
(desseminate) direncanakan akan dilaksana-
kan pada tahap ini meliputi 4 langkah, yaitu:
kan pada tahun berikutnya.
a. Analisis Ujung Depan
Teknik pengumpulan data adalah
b. Analisis Mahasiswa
teknik non tes yang dilaksanakan dengan
c. Analisis Tugas
cara observasi dan pemberian angket.
d. Analisis Konsep
Observasi adalah suatu kegiatan yang
dilakukan pendidik untuk mendapatkan
JKPK (JURNAL KIMIA DAN PENDIDIKAN KIMIA), Vol. 3, No. 1, Tahun 2018, hal.19-29 23

informasi tentang peserta didik dengan cara HASIL DAN PEMBAHASAN


mengamati tingkah laku dan kemampuannya
Penelitian yang dilakukan adalah
selama kegiatan observasi berlangsung [9].
penelitian pengembangan, yaitu pengem-
Instrumen yang digunakan adalah lembaran
bangan Modul Pembelajaran kimia organik I
observasi untuk pelaksanaan penelitian pada
terintegrasi praktikum berbasis model
tahap pendefenisian.
perubahan konseptual ED3U (explore,
Teknik non tes lain yang digunakan
diagnose, design, Discuss, use). Pengem-
adalah pemberian angket. Angket adalah
bangan modul ini menggunakan model 4D
Sebuah daftar pertanyaan yang harus diisi
yaitu define, design, develope, dessiminate.
oleh orang yang akan dievaluasi (responden)
Namun, penelitian ini dibatasi sampai pada
[9]. Instrumen yang digunakan adalah
tahapan ketiga, sedangkan dessiminate
lembaran angket untuk peleksanaan
direncanakan akan di laksanakan pada tahun
penelitian pada tahapan pengembangan.
berikutnya.
Lembaran angket digunakan untuk uji
validitas dan praktikalitas yang kemudian 1. Tahap Pendefinisian (define)

diinterpretasikan dengan menggunakan Tahapan pertama pada pengembang-


formula kappa cohen [10]. an modul ini adalah mendefinisikan (define)
Formula tersebut adalah sebagai berikut. yang dilakukan dalam beberapa tahapan
yaitu:

Po adalah proporsi yang terealisasi, dihitung a. Analisis Ujung Depan


dengan cara:
Tahapan ini bertujuan untuk me-
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑏𝑒𝑟𝑖 𝑣𝑎𝑙𝑖𝑑𝑎𝑡𝑜𝑟
𝑃𝑜 = ngetahui proses pembelajaran yang terjadi di
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑚𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑎𝑙
perguruan tinggi dan membandingkannya
Pe adalah proporsi yang tidak terealisasi, dengan tuntutan kurikulum. Tahapan ini
dihitung dengan cara:
dilakukan dengan memberikan angket
𝑃𝑒
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑚𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑎𝑙 − 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑏𝑒𝑟𝑖 𝑣𝑎𝑙𝑖𝑑𝑎𝑡𝑜𝑟 kepada 80 orang mahasiswa yang terdiri dari
=
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑚𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑎𝑙 mahasiswa tingkat 2,3 dan 4 baik dari
Momen Kappa (k) berkisar dari 0 sampai 1, program studi pendidikan kimia dan prodi
dengan interpretasi menurut [10] disajikan kimia. Hasil dari angket yang diberikan
pada Tabel 1. adalah lebih dari 70 % mahasiswa menyata-
Tabel 1. Interpretasi nilai momen Kappa (k) kan bahwa mereka tidak menggunakan
menurut Boslaugh & Watters. modul, LKS ataupun handout dalam proses
Nilai k Kategori pembelajaran. Bahan ajar yang digunakan

0,81 – 1,00 Sangat Tinggi adalah penuntun praktikum yang dinyatakan


0,61 – 0,80 Tinggi oleh 99% mahasiswa. Bahan ajar yang
0,41 – 0,60 Sedang
mereka miliki telah dilengkapi dengan
0,21 – 0,40 Rendah
0,00 – 0,20 Sangat Rendah gambar namun 80% mahasiswa menyatakan
< 0,00 Tidak diperhitungkan bahan ajar mereka tidak dilengkapi dengan
24 Suryelita & Z. Fitriza, Pengembangan Modul Pembelajaran Kimia ……….

penyajian submikroskopik atau penggambar-


an pada level partikel.
Sebanyak 94 % mahasiswa membutuh-
kan bahan ajar yang mengintegrasikan teori
an praktikum, dikaitkan dengan kehidupan
sehari-hari dan membuat mereka bisa belajar
secara mandiri sesuai kecepatan masing-
masing. Selain itu 90 % mahasiswa menyata-
kan bahwa bahan ajar yang mereka gunakan
tidak dilengkapi dengan warna dan desain
yang menarik. Sehingga disimpulkan bahwa
Gambar 1. Konsepsi Mahasiswa
mereka membutuhkan bahan ajar yang
mengintegrasikan teori dan praktikum,
Berdasarkan Gambar 1, diketahui
dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari,
bahwa lebih dari 89 % mahasiswa me-
dibuat dengan desain dan warna yang
mahami aturan penamaan IUPAC senyawa
menarik, dilengkapi dengan penyajian sub-
alkohol dengan baik dan lebih dari 75%
mikroskopik dan membuat mereka bisa
mahasiswa bisa membuat struktur senyawa
belajar secara mandiri sesuai kecepatan
alkohol berdasarkan nama senyawa IUPAC
masing-masing. Oleh sebab itu modul adalah
yang diberikan. Hal ini menunjukkan bahwa
bahan ajar yang tepat karena bisa digunakan
mahasiswa sudah memenuhi capaian
untuk belajar mandiri [2]. Modul tersebut
pembelajaran tata nama senyawa alkohol.
dilengkapi dengan warna dan desain menarik
Capaian pembelajaran sifat fisis
dan disajikan juga dengan multirepresentasi
senyawa alkohol tidak dikuasai dengan baik
kimia.
oleh mahasiswa. Kelarutan butanol dalam air
b. Analisis Siswa hanya dapat dijelaskan oleh 21% mahasiswa

Analisis siswa bertujuan untuk dimana butanol larut sebagian yaitu 8,3 gram

mengetahui konsep-konsep yang tidak per 100 ml. Walaupun butanol adalah senyawa

dipahami siswa. Analisis ini dilakukan polar namun rantai alkil (-R) butanol yang

dengan memberikan tes diagnostik yaitu cukup panjang membuat butanol sukar larut.

dengan delapan open ended questions yang Sedangkan dalam n-heksana, butanol tidak

mencakup konsep tata nama alcohol, dapat larut karena n-heksana adalah senyawa

struktur, sifat kelarutan, reaksi identifikasi non polar dan butanol adalah senyawa polar

alcohol primer, sekunder dan tertier, reaksi sehingga butanol tidak akan larut.

alcohol dengan logam Natrium, reaksi Identifikasi senyawa alkohol primer,

substitusi, reaksi eliminasi dan reaksi sekunder dan tertier secara makroskopik

esterifikasi. Hasil dari analisis ini dapat dilihat dipahami oleh oleh kurang dari 60% siswa

pada grafik berikut ini. sedangkan reaksi yang terjadi hanya


dipahami oleh kurang dari 30% mahasiswa.
JKPK (JURNAL KIMIA DAN PENDIDIKAN KIMIA), Vol. 3, No. 1, Tahun 2018, hal.19-29 25

Ada beberapa tes yang bisa digunakan untuk keton dan asam karboksilat serta mem-
mengidentifikasi alkohol primer, sekunder buktikan kebenaran dari teori melalui
dan tertier. Dua diantaranya adalah tes praktikum.
dengan menggunakan kalium kromat dalam Kompetensi mahasiswa yang diingin-
suasana asam dan menggunakan reagen kan pada materi alkohol adalah Menjelaskan
lucas, ZnCl2 dalam suasana asam. Berdasar- rumus umum, struktur, sifat fisika dan
kan gambar 1 diketahui bahwa kurang dari tatanama serta reaksi dan sintesis senyawa
40% mahasiswa tidak memahami reaksi alkohol dan tujuan pembelajaranyang ingin
yang terjadi pada identidikasi tersebut. dicapai adalah :
Mereka hanya memahami level makro 1) Menjelaskan struktur senyawa alkohol
namun tidak memahami zat apakah yang Menjelaskan perbedaan sifat keasaman
dihasilkan reaksi sehingga menimbulkan fenol dan alkohol.
gejala yang mereka amati. 2) Meramalkan isomerisasi senyawa
Hal ini juga terjadi dengan reaksi antara alkohol bila diberikan rumus molekulnya.
alkohol dengan logam Na. Hanya 21% 3) Memberi nama senyawa alkohol.
mahasiswa mampu menuliskan reaksi yang 4) Menjelaskan reaksi eliminasi dan
terjadi. Sedangkan untuk reaksi esterifikasi esterifikasi pada senyawa alkohol.
dan eliminasi, sebagian besar mahasiswa 5) Menjelaskan reaksi subsitusi pada
sudah memahami reaksi atau produk yang alkohol.
dihasilkan dari reaksi tersebut. 6) Menuliskan reaksi sintesis pada alkohol.

c. Analisis tugas d. Analisis Konsep

Pada analisis tugas dilakukan analisis Analisis konsep dilakukan untuk


kurikulum dengan menganalisis silabus kimia mengidentifikasi konsep-konsep utama yang
organik 1. Berdasarkan silabus diketahui akan diajarkan. Konsep-konsep dalam materi
bahwa Capaian Pembelajarana (Learning alkohol sebagai berikut ini.
outcomes) mata kuliah berdasarkan KKNI 1) Alkohol
adalah Memahami definisi kimia organik, 2) Tata nama
rumus molekul, rumus empiris dan rumus 3) Sifat fisis
struktur, ikatan kovalen, muatan formal dan 4) Alkohol primer
tarikan antar molekul. Menjelaskan: hibridi- 5) Alkohol sekunder
sasi sp3, sp2 dan sp, dari atom karbon, 6) Alkohol tertier
pembentukan ikatan sigma dan ikatan 7) Isomerisasi
phi-,sifat dan gugus fungsi. Memahami 8) Reaksi oksidasi
rumus empiris, rumus molekul, rumus 9) Reaksi substitusi nukleofilik
struktur, tatanama, sifat fisika dan reaksi 10) Sintesis
kimia serta kegunaan dari senyawa- 11) Reaksi eliminasi
senyawa Alkana, alkena, alkuna, alkohol, 12) Reaksi identifikasi
eter, alkil halida, senyawa aromatis, aldehid,
26 Suryelita & Z. Fitriza, Pengembangan Modul Pembelajaran Kimia ……….

Konsep-konsep tersebut dianalisis dan bangan Bahan Ajar dari depdiknas tahun
ditabulasi dalam tabel analisis konsep yang 2008 yang dipilih.
terdapat pada lampiran. Berdasarkan hasil
3. Tahap Pengembangan (develop)
analisis konsep pada tabel analisis konsep
Pada tahapan ini terdiri dari uji
dibuat peta konsep yang kemudian
validitas, praktikalitas dan efektifitas.
diletakkan pada bagian pendahuluan modul.
a. Validasi
2. Tahap Perancangan (design)
Validasi yang dilakukan adalah
Terdapat dua kegiatan pada tahap
validasi ahli atau expert review yang di-
perancangan (design), yaitu:
lakukan oleh 4 orang dosen kimia organik
a. Pemilihan Format
dan pendidikan kimia untuk melihat konten
Tahap ini dilakukan dengan pemilihan kimia organik yaitu pada materi alcohol dan
format modul yang sesuai dengan analisis menilai kelayakan dari modul yang dikem-
pada tahap pendefinisian (Define). Modul bangkan dari segi materi dan penyajian
Berbasis Model Perubahan Konseptual materi dan kebahasaan. Selain itu validasi
ED3U (Explore, Diagnose, Design, Discuss, juga dilakukan oleh dua orang dosen desain
Use) dipilih dan mengintegrasikan Multi komunikasi visual untuk menilai modul dari
Representasi kedalamnya. Hal ini didasarkan segi desain, tata letak, ukuran huruf dan lain-
pada tahap analisis ujung depan dimana lain yang termasuk pada tampilan modul.
mahasiswa membutuhkan bahan ajar yang Berdasarkan hasil uji validitas isi di-
bisa digunakan secara mandiri, terintegrasi peroleh hasil yang ditampilkan pada tabel 2.
praktikum, dihubungkan dengan kehidupan
sehari-hari dan disajikan dalam multi Tabel 2. Nilai Momen Kappa Validitas Isi
Modul
representasi kimia. Komponen tersebut
menurut Depdiknas[3] adalah No Komponen Validitas Nilai k Kategori

1) Petunjuk belajar (Petunjuk siswa/guru) 1 Kelayakan isi 0,78 Tinggi


Sangat
2) Kompetensi yang akan dicapai 2 Kelayakan Penyajian 0,83
tinggi
3) Content atau isi materi Kelayakan
3 0,76 Tinggi
Kebahasaan
4) Informasi pendukung
Kelayakan Modul
0,79 Tinggi
5) Latihan-latihan secara Keseluruhan

6) Petunjuk kerja, dapat berupa Lembar


Kerja (LK) Berdasarkan tabel 1. Interpretasi
7) Evaluasi kategori kevalidan berdasarkan nilai momen
8) Balikan terhadap hasil evaluasi kappa (k) menurut Bouslaugh [9] dan tabel 2
di atas diketahui bahwa modul yang disusun
b. Perancangan Modul
secara keseluruhan memiliki validitas tinggi
Pada tahap ini dirancang Modul dengan nilai momen kappa 0,79. Secara
pembelajaran kimia sesuai dengan format rincian diketahui bahwa berdasarkan
penulisan dalam buku Panduan Pengem- kelayakan isi, modul ini memiliki nilai momen
JKPK (JURNAL KIMIA DAN PENDIDIKAN KIMIA), Vol. 3, No. 1, Tahun 2018, hal.19-29 27

kappa 0,78 yang dikategorikan memiliki Table 3. Kepraktisan Modul


validitas tinggi, kelayakan komponen pe- Komponen
No Nilai k Kategori
Praktikalitas
nyajian dengan nilai momen kappa 0,83 yang
Kemudahan
dikategorikan sangat tinggi dan kelayakan 1 0,91 Sangat Tinggi
Penggunaan
komponen bahasa dengan nilai momen 2 Efisiensi Waktu 0,88 Sangat Tinggi
3 Manfaat 0,90 Sangat Tinggi
kappa 0,76 yang dikategorikan tinggi.
Praktikalitas
Selain dilakukan validasi isi, juga modul secara 0,90 Sangat Tinggi
Keseluruhan
dilakukan validasi kegrafikaan untuk menilai
modul segi desain, tata letak, ukuran huruf dan Berdasarkan Tabel 3 diketahui bahwa
lain-lain yang termasuk pada tampilan modul. modul yang dikembangkan memiliki kepraktisan
hasil yang diperoleh adalah modul yang sangat tinggi, artinya modul ini mudah
dikembangkan memiliki kategori kevalidan digunakan, dapat mengefisienkan waktu dan
dalam hal kegrafikaan yang tinggi yaitu dengan bermanfaat bagi mahasiswa. Kepraktisan
nilai momen kappa (k) sebesar 0,7. modul berada pada kategori sangat praktis

b. Praktikalitas dengan nilai momen kappa (k) 0,90.

Uji praktikalitas dilakukan untuk me- c. Uji Efektivitas

ngetahui kepraktisan modul dari segi Uji efektifitas dilakukan dengan


kemudahan penggunaan, efisiensi waktu dan memberikan tes awal (pretest) berupa tes
manfaat modul. Uji ini diberikan kepada 27 diagnostik, dilakukan analisis dan kemudian
mahasiswa semester 3 yang sedang me- mahasiswa diberikan modul untuk digunakan
ngambil mata kuliah kimia organik I. memahami konsep alkohol. Setelah me-
instrument yang digunakan adalah berupa nyelesaikan modul, mahasiswa diberikan tes
angket dengan hasil analisis angket terlihat akhir berupa tes diagnostik untuk mengetahui
pada Tabel 3. perubahan konseptual setelah pemakaian
modul. soal diagnostik pretest dan postest.

Gambar 2. Perubahan Konsepsi Mahasiswa pada Pretest dan Postest


28 Suryelita & Z. Fitriza, Pengembangan Modul Pembelajaran Kimia ……….

Gambar 2 menunjukkan bahwa secara alkohol dan reaksi-reaksi alkohol pada level
umum konsepsi siswa mengenai alkohol makro dan simbolik, khusus untuk sifat
meningkat. Konsepsi tersebut meliputu tata kelarutan alkohol pada level makro, submikro
nama dan struktur alkohol, sifat kelarutan dan simbolik.

Gambar 3. Perbandingan Nilai Pretest dan Postest Mahasiswa.

Berdasarkan gambar 3 diketahui bahwa 2. Modul yang dikembangkan menyebabkan


secara umum nilai mahasiswa meningkat dari perubahan konseptual mahasiswa menjadi
post-test ke pretest. Hanya terjadi penurunan lebih baik pada konsep-konsep alkohol.
nilai pada 5 mahasiswa dan satu mahasiswa
tidak mengalami perubahan. Sedangkan 18 UCAPAN TERIMA KASIH
mahasiswa lainnya mengalami kenaikan nilai
Terimakasih kami ucapkan kepada
dari pretest ke postest. Dengan demikian
Universitas Negeri Padang yang telah
dapat disimpulkan bahwa 75 % mahasiswa
membiayai penelitian ini serta jajaran pimpinan
memperoleh pengaruh positif terhadap peng-
Fakultas MIPA dan Jurusan Kimia yang telah
gunaan modul pembelajaran kimia organik I
membantu penyelesaian penelitian ini.
terintegrasi praktikum berbasis model per-
ubahan konseptual ED3U. Dengan kata lain
DAFTAR RUJUKAN
modul ini efektif digunakan dalam mempelajari
materi alkohol. [1] Direktorat Pembelajaran dan Kemaha-
siswaan, Panduan Penyusunan Capaian
Pembelajaran Lulusan Program Studi,
KESIMPULAN Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,
Berdasarkan hasil yang diperoleh pada
2014.
tahap pendefenisian dan tahap perancangan
disimpulkan bahwa : [2] Depdiknas, Panduan Pengembangan
1. Dihasilkan modul Kimia Organik 1 ter- Bahan Ajar, Direktorat Jenderal
Manajemen Pendidikan Dasar dan
integrasi Praktikum berbasis perubahan Menengah, Direktorat Pembinaan
konseptual ED3U (Explore, Diagnose, Sekolah Menengah Atas: Jakarta, 2008.
Design, Discuss, Use) yang berkualitas
(valid dan praktis).
JKPK (JURNAL KIMIA DAN PENDIDIKAN KIMIA), Vol. 3, No. 1, Tahun 2018, hal.19-29 29

[3] Shope, E. Richard & William F. McComas, [6] Sunyono, “Supporting Students in
“Modeling Scientific Inquiry to Guide Learning with Multiple Representation to
Students in Practices of Science : The Improve Student Mental Models on
ED3U Teaching Model of Conceptual Atomic Structure Concept”, Science
Change in Action”, Inquiry Based Learning Education International, Vol. 26, No. 2,
for Science, Technology, Engineering and pp. 104-125, 2015.
Math (STEM) Program, A Conceptual and
Practical Resource for Educators [7] Sugiyono, Metode Penelitian Bisnis:
Innovation Volume 4: 217-240, 2015. Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan
R&D, Alfabeta: Bandung, 2009.
[4] Park, Eun Jung and Friends,
Understanding Learning Progression in [8] Trianto, Mendesain Model Pembelajaran
Student Conceptualization of Atomic Inovatif Progresif, Kencana: Jakarta,
Structure by Variation Theory for 2010.
Learning, Lowa City: Paper Presented at
the Learning Progression in Science [9] Dj. Latisma, Evaluasi Pendidikan, UNP
(LeaPS) conference, 2009. Press: Padang, 2010.

[5] Kutluay, Yasin, Diagnosis Of Eleventh [10] Boslaugh. Sarah & Paul A. W., Statistics
Grade Students’s Misconceptions About in a Nutshell, a desktop, quick reference,
Geometric Optic By A Three-Tier Test, O’reilly: Beijing, Cambridge, Famham,
Thesis. Turki : The Graduate School Of Köln, Sebastopol, Taipei, Tokyo, 2008.
Natural and Applied Sciences of Middle
East Technical Universit, 2005.