Anda di halaman 1dari 20

BAB III

APLIKASI MODEL PADA KASUS

Berikut adalah aplikasi penerapan model asuhan keperawatan community as


partner pada kelompok khusus (lansia) dengan seting tempat di salah satu panti werdha
di Indonesia, yakni Panti Sosial Tresna Werdha Inakaka. Namun data yang dijabarkan
tidak semua bertempat di PSTW Inakaka. Data pengkajian disajikan sebagai berikut:

3.1. Pengkajian
Komponen Pengkajian Data
Community Core
1. Sejarah
a. Sejarah
perkembangan
komunitas lansia
di panti
b. Kekuatan panti
c. Pola perubahan
panti
d. Permasalahan
yang biasa
1. PSTW Inakaka merupakan salah satu lembaga social
terjadi pada
pemerintah Provinsi Maluku yang lokasinya berad di Passo
lansia di panti,
Jl. Laksamadya Leo Wattimena. PSTW Inakaka ini berdiri
kematian,dll)
pada tahun 1978 dengan SK Menteri Sosial RI no 1993
tentang pembinaan organisasi sosial tresna werda (PSTW)
2. PSTW Ina Kaka Maluku merupakan panti departemen sosial
RI sebelum diotonomi dan sekarang menjadi milik pemda
Maluku pasca otonomi.
3. Panti Asuhan ini memang di khususkan untuk orang yang
Lanjut Usia (Lansia).
4. Tujuan terbentuknya PSTW inakaka yaitu membantu
keluarga dalam memenuhi kebutuhan lansia baik jasmani,
rohani, sosial, dan psikologisnya serta teratasinya masalah
akibat lansia, terlindunginya lansia dari perlakuan salah,
membantu lansia agar dapat berfungsi sosial secara wajar,
agar lansia dapat saling berinteraksi sosial satu sama lainnya.
5. Menurut lansia dan para petugas panti, Permasalahan
kesehatan yang sering ditemui diantaranya:
Sekitar 62,1% lansia di panti mempunyai asupan makanan
yang kurang karena pengaruh jumlah gigi, makanan. Kadang
makanan yang disediakan tidak dihabiskan, dan ada juga
yang malas makan.
Distribusi status gizi lansia di PSTW :
Sekitar 45% >IMT dan 55% <IMT.
Faktor makanan, penyakit, dan jumlah gigi merupakan faktor
yang paling dominan mempengaruhi asupan makanan pada
lansia (Amran,Kusumawardani, Supriyatiningsih 2012).
6. Berdasarkan hasil penelitian Amran (2012) didapatkan
bahwa sebagian besar lansia yang mempunyai asupan
makanan kurang menyatakan bahwa cita rasa makanan di
Panti Sosial Tresna Werdha tergolong rendah.
7. Kontak dengan sesama lansia penghuni panti tidak jarang
menimbulkan keributan atau pertengkaran di antara sesama
penghuni panti. Hal ini menimbulkan gangguan hubungan
sosial dengan sesama.
8. Lansia yang mengalami depresi sebesar 47% yang diukur
menggunakan instrumen penelitian GDS.
2. Demografi 1. Berdasarkan data yang ada, Saat ini ada 80 orang terdiri dari
45 nenek dan 35 kakek yang memiliki umur 60 hingga 101
tahun.
2. Jumlah lansia yang memiliki kualitas hidup baik sebanyak
53,5%.
3 Statistik Vital 1. Selama 1 tahun terakhir sebanyak 4 lansia meninggal dunia. 2
Orang meninggal di RS dan 2 orang meninggal di Panti, dan
semua acara pemakaman di urusi oleh pihak PSTW.
2. Data satu tahun terakhir dari petugas kesehatan di Panti atau
puskesmas setempat menyatakan bahwa:
a. Sebanyak 30% lansia dengan penyakit Hipertensi
b. 30% dengan penyakit persendian
c. 25% lansia dengan demensia
d. 15% lansia dengan penyakit jantung serta DM dan
beberapa penyakit ringan lainnya.
3. Etnisitas /Budaya Penghuni panti mayoritas berasal dari suku Ambon 70%, suku
Babar 20% dan 10% lain ada dari suku Jawa beberapa daerah di
Indonesia. Umumnya mereka sudah lama tinggal di Ambon
4. Nilai dan keyakinan 1. 60% penghuni panti beragama Kristen, dan 40% lainnya
(Agama dan beragama Islam dan agama lainnya.
keyakinan). 2. Tidak terdapat geraja didalam lingkungan panti, namun
bisanya, kakek dan nenek yang akan beribadah, akan pergi di
Gereja setempat yang lokasinya tidak jauh dari panti.
Terdapat juga sebuah musholla yang dapat digunakan oleh
lansia untuk melakukan ibadah baik pengajian maupun
shalat.
3. Pembinaan rohani antara lain berupa pengajian rutin bagi
yang beragama muslim, serta ibadah sektor bagi yang kristen
yang digelar setiap hari Senin, Kamis dan Jumat pukul 14.00
WIB. Namun menurut data, lansia yang terlibat dalam ibadah,
pengajian serta pembinaan rohani rutin oleh pihak panti
hanya 60%.
4. Tidak ada keyakinan dari para lansia yang mempengaruhi
kesehatan.
5. Menurut penelitian, lansia yang hidup di Panti memiliki
kesejahteran spiritual yang rendah (low spiritual well-being)
(Sanan, Induniasih, & Suwarsi, 2015) dan kesejahteraan
spiritual yang moderat (moderate spiritual well- being) (Putri
& Rekawati, 2017).
Subsistem
1. Lingkungan fisik 1. PSTW Budi Mulia 1 dibangun di atas tanah seluas 8.883 m2,
(Luas wilayah terletak di Jl. Laksamadya Leo Wattimena Desa Passo
komunitas, batas Kecamatan Baguala Kota Ambon.
wilayah, 2. Sarana fisik yang dimiliki PSTW Budi Mulia 1 Cipayung
penerangan, meliputi:
kebersihan) a. Kantor 1 buah
b. 10 Wisma
c. 1 Aula
d. 1 Poliklinik
e. 1 Dapur umum dan Loundry
f. 1 Mushala
g. 1 Sarana olah raga
3. Terdapat lorong dan halaman yang bersih dan rapih, tidak ada
sampah satupun yang tergeletak baik di aspal maupun di
lantai. Kebersihan di wisma dan di kamar masing-masing
lansia sangat di jaga. Ada juga petugas kebersihan yang
membersikan wisma dan halaman setiap pagi.
4. Penerangan di lingkungan, wisma dan kamar lansia baik dan
tidak mengganggu aktifitas lansia. Terdapat juga lampu jalan
yang selalu menyala setiap malam hari.
5. PSTW Inakaka Berbatasan dengan :
Utara : Desa Passo
Timur : Desa Negeri Lama
Barat : Desa Rumah Tiga
Selatan : RS Oto Kwik
2. Layanan kesehatan 1. Terdapat sebuah poliklinik yang memberikan pelayanan awal
dan sosial kepada lansia yang mengalami masalah kesehatan.
2. Poliklinik yang terdapat di panti ini hanya diasuh oleh dua
orang perawat, sementara dokter dari Puskesmas datang hanya
sekali dalam seminggu. Perawat yang bertugas di poliknlinik
melakukan perawatan dan melayani gangguan ringan seperti
masuk angi n dan pegal-pegal, karena jika sakit parah akan
langsung dibawa ke rumah sakit.
6. Dilakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin 2x seminggu
di poliklinik panti oleh petugas Puskesmas.
7. Panti memiliki 2 orang perawat dan 44 orang pekerja sosial
(termasuk pembina keagamaan 3 orang.
8. Pembinaan jasmani berupa senam lansia, dilaksanakan setiap
hari Selasa dan Jumat.
9. Jika ada yang perlu penanganan lebih lanjut akan dirujuk ke
Rumah Sakit yang sudah bekerjasama seperti RS Oto Kwik
atau RS Polri.
10. Sedangkan untuk yang mengalami gangguan Jiwa, Panti
bekerja sama dengan RSKD Prov Maluku.

Setelah dilakukan pengkajian ditemukan bahwa


3. Data kondisi lansia:
e. Sebanyak 30% lansia dengan penyakit Hipertensi
f. 30% dengan penyakit persendian
g. 25% lansia dengan demensia
h. 15% lansia dengan penyakit jantung serta DM dan
beberapa penyakit ringan lainnya.
3. Hasil Pengkajian Short Portable Status Mental Questioner
(SPSMQ)
a. Fungsi Intelektual baik sebesar 70%
b. Fungsi Intelektual kurang baik sebesar 30%
4. Hasil pengkajian MMSE (Mini Mental Status Exam)
a. Fungsi mental baik sebesar 98%
b. Fungsi mental kurang baik 2%
5. Hasil pengkajian Depresi Geriatrik (YESAVAGE)
a. Tidak depresi sebesar 30%
b. Kemungkinan depresi sebesar 23%
c. Depresi sebesar 47%
6. Kondisi ketergantungan pasien :
a. Mandiri sebanyak 95%
b. Ketergantungan sebagian 5%
3. Ekonomi 1. 70% lansia yang masuk di panti adalah lansia yang tidak
(Pekerjaan lansia, memiliki pekerjaan tetap sebelumnya, 10% bekerja sebagai
tingkat pendapatan, pembantu rumah tangga, dan 20% adalah lansia yang pernah
jaminan kesehatan bekerja di sektor swasta. Karena mereka sudah jompo, tidak
yang dimiliki) mampu bekerja lagi dan kebanyakan diantara mereka tidak
memiliki anak dan keluarga, maka mereka tinggal di PSTW
dengan diantar oleh tetangga atau pengurus RT setempat.
2. Para lansia di PSTW inakaka biasanya memiliki uang jika ada
santunan dari pihak atau dinas terkait, misalnya pada masa
puasa dan lebaran atau ketika natal.
3. Lansia di PSTW Inakaka belum memiliki jaminan kesehatan,
dan jika sakit semua urusannya
4. Transportasi dan 1. PSTW Inakaka memiliki sebuah kendaraan operasional
keamanan. (mobil).
(Alat transportasi, 2. PSTW Inakaka dikelilingi oleh pagar, namun jarak antara
akses komunitas, wisma yang satu dengan yang lainnya lumayan jauh dan
fasilitas keamanan, hanya di batasi oleh pagar, sehingga akses lansia untuk keluar
tindakan kriminal). mudah dan tidak terkontrol. Kadang ketika di kontrol oleh
petugas pada sore hari, ada beberapa lansia yang belum pulang
ke wismanya.
3. Dalam aktivitas sehari-hari, lansia berjalan ke satu tempat ke
tempat yang lain. Ada lansia yang berjalan tanpa alat bantu
dan ada lansia yang menggunakan alat bantu jalan seperti
tongkat, walker bahkan ada yang menggunakan kursi roda.
4. Lansia dalam PSTW Inakaka mengatakan belum pernah ada
kasus kriminal yang terjadi dalam PSTW, dan mereka merasa
aman tinggak di PSTW inakaka.
5. Politik dan 1. PSTW Inakak Ini berdiri pada tahun 1978 dengan SK Menteri
pemerintahan Sosial Ri no 1993.
(Organisasi 2. Sasaran garapan PSTW Inakaka adalah:
kemasyarakatan, a. Penduduk Prov Maluku Khususnya Kota Ambon
kebijakan terkait b. Lanjut usia terlantar, atau yang mendaftar atas kemauan
lansia dll) sendiri berusia minimum 60 tahun;
c. Tidak mempunyai penghasilan/berdaya guna mencari
nafkah bagi penghidupannya;
d. Tidak ada keluarga/orang lain/lingkungan yang dapat
memberikan bantuan penghidupannya; dan
e. Keluarga yang benar-benar tidak mampu.
3. PSTW Inakaka membuat persyaratan bagi para lansia yang
dikirim oleh pihak-pihak yang berkepentingan untuk menjadi
penghuni panti, sebagai berikut:
a. Warga Prov Maluku;
b. Umur 60 tahun ke atas;
c. Terlantar karena tidak ada atau tidak diurus oleh
keluarganya
d. Tidak mampu yang disertai surat keterangan dari lurah
setempat;
e. Sehat jasmani dan rohani;
f. Tidak mampu menolong diri sendiri; dan
g. Rekomendasi dari Dinas Bina Mental Spiritual dan
Kesejahteraan Sosial, Suku Dinas Bina Mental Spiritual
dan Kesejahteraan Sosial setempat.
6. Komunikasi Komunikasi sehari-hari lansia dalam panti menggunakan
(Pola komunikasi dialeg Ambon. Dalam panti werdha sesama penghuni sulit
lansia, alat tercipta keterbukaan diri, ada yang selalu menyendiri dan tidak
komunikasi, Pola mau bergaul dengan lansia lainnya, dan ada juga yang bersahabat
komunikasi dengan satu dengan yang lain. Proses keterbukaan diri ini dapat terjadi
sebaya). jika antara penghuni sudah bersama-sama dalam waktu yang
cukup lama dan penghuni panti memiliki konsep diri yang positif
maupun menonjol. Menurut pegawai di Panti, pernah terjadi adu
mulut di antara lansia hanya karena salah paham atau tidak
sependapat dengan temannya.
Komunikasi yang dilakukan oleh pihak panti baik pegawai,
sosial worker, petugas kesehatan atau dari dinas terkait lainnya
biasanya dilakukan jika ada pengumuman atau kegiatan-kegiatan
yang penting untuk di beritahukan, dan jika ada pemeriksaan
kesehatan, sosialisasi dll. Beberapa lansia mengatakan bahwa
mereka jarang bekomunikasi dengan petugas panti kecuali
petugas panti datang untuk memeriksa wisma.
Menurut penelitian, kegiatan sosialisasi antar penghuni,
rekreasi di dalam dan luar panti, serta kehadiran maupun
kunjungan para volunter, menjadi hal yang mendukung
peningkatan mutu komunikasi para lansia (Nurhajati & Sepang,
2013).
7. Pendidikan Latar belakang pendidikan penghuni PSTW Inakaka 25%
tamatan SR dan SD, 40% tamatan SMP, dan 30% tamatan SMA
dan 5% lainnya tidak sekolah.
8. Rekreasi 1. Rekreasi di PSTW Inakaka seharusnya dilaksanakan
minimal setahun sekali, namun kegiatan ini terselenggara
jika ada anggaran dari pemerintah atau dinas setempat.
2. Untuk menghilangkan penat, para lansia dibebaskan untuk
melakukan kegiatan yang bermanfaat seperti bertani di
kebun belakang, atau berolahraga atau ada juga lansia yang
keluar untuk menyalurkan hoby lainnya.
3. Kegiatan lain yang dilakukan biasanya bertepatan dengan
hari-hari besat semisal hari Kartini atau hari Kebangkitan
Nasional, serta Hari Kemerdekaan. Pada momen tersebut,
akan diadakan lomba yang bertujuan untuk melatih motorik
lansia.
4. Selain itu, terdapat pula kegiatan kesenian yang
dilaksanakan setiap hari Rabu. Kegiatan berupa panggung
gembira dimana para lansia berkumpul di aula, bernyanyi
dan berjoget bersama-sama dengan bantuan fasilitas berupa
speaker ware less.
5. Terdapat pula kegiatan kerajinan dimana nenek-nenek akan
diajarkan menjahit dan membuat kerajinan sperti keset, lap
meja, taplak meja, kotak tisue, bros dan pernak pernik
lainnya. Hasil kerajinan tersebut akan dijual kepada tamu
yang datang, namun belum bisa dipasarkan keluar karena
jumlahnya yang masih minim.
Persepsi
1. Persepsi Lansia 1. Lansia yang hidup di panti memiliki persepsi yang berbeda-
beda terhadap kehidupan mereka. Bagi lansia yang
sebelumnya merupakan lansia terlantar atau lansia yang
tinggal di panti atas kemauan sendiri masuk panti, mereka
cenderung merasa bahagia, aman dan terjamin kehidupannya.
Sedangkan bagi lansia yang dikirim oleh keluarganya di panti,
cenderung merasa terbuang, merasa tidak mampu mencukupi
kebutuhannya sendiri karena tidak bisa bekerja dan merasa
bosan.
2. Menurut penelitian yang dilakukan di Garut oleh (Yani,
Juniarti, & Citra, 2010), Lansia yang tinggal di Panti Werdha
di Garut memiliki persepsi tentang kualitas hidup lebih rendah
dibanding lansia yang tinggal bersama keluarga.
2. Persepsi petugas Persepsi perawat yang bekerja di PSTW Inakaka yakni
mereka merasa bahwa mereka mendapatkan berkah dari
pekerjaannya, menganggap pekerjaan sebagai perawat itu mulia,
penting, dan tidak semua orang bisa melakukannya. Mereka
merasa dapat berbakti kepada orang tua mereka secara tidak
langsung. Perawat juga merasa memiliki keluarga baru selama
bertugas di panti werdha.

3.2. Analisis dan Diagnosis Keperawatan


Masalah
Data Kemungkinan Penyebab (Aktual/Risiko/
Potensial)
DS : 1. Program tidak sepenuhnya Ketidakefektifan
- Lansia di PSTW Inakaka mengatasi masalah kesehatan pemeliharaan
mengatakan bahwa 2. Gangguan fungsi kognitif kesehatan
makanan di PSTW kadang 3. Komunikasi tidak efektif
tidak dihabiskan karena cita 4. Distress spiritual
rasa makanan, masalah
kesehatan atau gigi yang
kurang baik dan memang
malas untuk makan.
- Beberapa lansia mengatakan
bahwa mereka lebih senang
menyendiri dan tidak suka
bergaul.
- Menurut petugas
mengatakan bahwa dalam
panti werdha sesama
penghuni sulit tercipta
keterbukaan diri.
- Menurut petugas kontak
dengan sesama lansia
penghuni panti tidak jarang
menimbulkan keributan atau
pertengkaran di antara
sesama penghuni panti.
- Menurut petugas beberapa
lansia tidak mengikuti
kegiatan keagamaan.

DO :
- Sekitar 62,1% lansia di panti
mempunyai asupan
makanan yang kurang.
- Cita rasa makanan di Panti
Sosial Tresna Werdha
Inakaka tergolong rendah.
- Status gizi lansia 55% <
IMT
- Berdasarkan pengkajian
diperoleh data:
a. Sebanyak 30% lansia
dengan penyakit
Hipertensi
b. 30% dengan penyakit
persendian
c. 25% lansia dengan
demensia
d. 15% lansia dengan
penyakit jantung serta
DM dan beberapa
penyakit ringan lainnya.
- Petugas dari puskesmas
melakukan kunjungan
sebanyak 2 minggu sekali.
- Lansia di Panti mengalami
depresi sebesar 47%
- Lansia yang hidup di Panti
memiliki kesejahteran
spiritual yang rendah (low
spiritual well-being) dan
kesejahteraan spiritual yang
moderat (moderate spiritual
well- being).
- Lansia yang dikirim oleh
keluarganya di panti,
cenderung merasa terbuang,
merasa tidak mampu
mencukupi kebutuhannya
sendiri karena tidak bisa
bekerja dan merasa bosan.

Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul dari analisis data yang telah
dilakukan yakni:
1. Domain 1 : Promosi kesehatan Kelas 2 (00215) : Ketidakefektifan pemeliharaan
kesehatan berhubungan dengan, Program tidak sepenuhnya mengatasi masalah
kesehatan, Gangguan fungsi kognitif, Komunikasi tidak efektif dan Distress
spiritual ditandai dengan:

DS :
- Lansia di PSTW Inakaka mengatakan bahwa makanan di PSTW kadang tidak
dihabiskan karena cita rasa makanan, masalah kesehatan atau gigi yang kurang
baik dan memang malas untuk makan.
- Beberapa lansia mengatakan bahwa mereka lebih senang menyendiri dan tidak
suka bergaul.
- Menurut petugas mengatakan bahwa dalam panti werdha sesama penghuni sulit
tercipta keterbukaan diri.
- Menurut petugas kontak dengan sesama lansia penghuni panti tidak jarang
menimbulkan keributan atau pertengkaran di antara sesama penghuni panti.
- Menurut petugas beberapa lansia tidak mengikuti kegiatan keagamaan.

DO :
- Sekitar 62,1% lansia di panti mempunyai asupan makanan yang kurang.
- Cita rasa makanan di Panti Sosial Tresna Werdha Inakaka tergolong rendah.
- Status gizi lansia 55% < IMT
- Data satu tahun terakhir dari petugas kesehatan di Panti atau puskesmas
setempat menyatakan bahwa:
a. Sebanyak 30% lansia dengan penyakit Hipertensi
b. 30% dengan penyakit persendian
c. 25% lansia dengan demensia
d. 15% lansia dengan penyakit jantung serta DM dan beberapa penyakit ringan
lainnya.
- Petugas dari puskesmas melakukan kunjungan sebanyak 2 minggu sekali.
- Lansia di Panti mengalami depresi sebesar 47%
- Lansia yang hidup di Panti memiliki kesejahteran spiritual yang rendah (low
spiritual well-being) dan kesejahteraan spiritual yang moderat (moderate
spiritual well- being).
- Lansia yang dikirim oleh keluarganya di panti, cenderung merasa terbuang,
merasa tidak mampu mencukupi kebutuhannya sendiri karena tidak bisa bekerja
dan merasa bosan.
3.3. Perencanaan
Upaya pemeliharaan kesehatan bagi lanjut usia bertujuan untuk menjaga agar para lanjut usia di Panti tetap sehat, mandiri dan produktif.
Diagnosis berdasarkan masalah kesehatan pada komunitas berdasarkan NANDA 2015-2017 (Perencanaan keperawatan berfokus pada tiga level
pencegahan).
Diagnosa Tujuan Jangka
Data Tujuan Jangka Pendek Intervensi
Keperawatan Panjang
DS : Domain 1 : Promosi
Setelah dilakukan Setelah dilakukan 1. Prevensi Primer
- Lansia di PSTW kesehatan Kelas 2 tindakan keperawatan tindakan keperawatan Komponen inti dari setiap
selama 6 bulan selama 3 bulan program intervensi adalah
Inakaka mengatakan (00215) :
diharapkan diharapkan bahwa kesadaran dan keterlibatan
bahwa makanan di Ketidakefektifan pemeliharaan keadekuatan pemahaman lansia dalam panti, serta pertan
PSTW kadang tidak pemeliharaan kesehatan pada lansia tentang lansia meningkat penting perawatas (petugas
meningkat ditandai baik kepada petugas kesehatan) dan juga semua
dihabiskan karena cita kesehatan
dengan. kesehatan bahkan lansia pegawai di PSTW. Menerapkan
rasa makanan, masalah berhubungan dengan, 1. Program-program itu sendiri ditandai pencegahan primer mungkin
kesehatan atau gigi ketidakadekuatan kesehatan dapat dengan : termasuk langkah-langkah
dijalankan dengan 1. Kesadaran berikut:
yang kurang baik dan pemahaman tentang
baik mengkonsumsi a. Edukasi Kesehatan kepada
memang malas untuk kondisi lansia di 2. Menurunkan makan dapat lansia lebih sering dilakukan
makan. PSTW Inakaka angka kesakitan ditingkatkan. dan dapat diselipkan dengan
- Beberapa lansia lansia di PSTW 2. Kondisi kesehatan kegiatan-kegiatan rutin
lansia tetap stabil lainnya.
mengatakan bahwa 3. Komunikasi antara b. Pendidikan kesehatan
mereka lebih senang lansia lebih baik dan kebersihan gigi dan mulut.
tidak menutup diri c. Program senam bugar lansia
(Thristyaningsih, 2011). Kalau
menyendiri dan tidak 4. Kurangnya tanda program sudah ada,
suka bergaul. depresi oleh lansia monitoring program agar
berjalan sesuai jadwal rutin.
- Menurut petugas
d. Pelayanan / konsultasi gizi
mengatakan bahwa lansia untuk meningkatkan
dalam panti werdha pola makan juga
mempertahankan TD tetap
sesama penghuni sulit
stabil
tercipta keterbukaan e. Kolaborasi untuk membuat
diri. pedoman teknis
penyelenggaraan
- Menurut petugas
manajemen gizi institusi
kontak dengan sesama untuk panti werdha (Amran,
lansia penghuni panti Kusumawardani, &
tidak jarang Supriyatiningsih, 2010).
f. Program Kegiatan
menimbulkan sosialisasi antar penghuni,
keributan atau rekreasi di dalam dan luar
pertengkaran di antara panti, serta kehadiran
maupun kunjungan para
sesama penghuni panti.
volunter, menjadi hal yang
- Menurut petugas mendukung peningkatan
beberapa lansia tidak mutu komunikasi para lansia
(Nurhajati & Sepang, 2013)
mengikuti kegiatan
g. Terapkan komunikasi
keagamaan. terapeutik secara optimal
DO : (Fitria & Prihatiningsih,
- Sekitar 62,1% lansia di 2017).

panti mempunyai
asupan makanan yang 2. Prevensi Sekunder
kurang. a. Menyediakan makanan
padat gizi dan bercita rasa
- Cita rasa makanan di
tinggi untuk meningkatkan
Panti Sosial Tresna asupan gizi serta melibatkan
Werdha Inakaka perwakilan lansia dalam
menentukan siklus menu
tergolong rendah.
yang sesuai dengan selera
- Status gizi lansia 55% lansia (Amran et al., 2010).
< IMT b. Pengontrolan berat badan
- Data satu tahun terakhir secara berkala
c. Partisipasi dalam
dari petugas kesehatan pengambilan keputusan
di Panti atau puskesmas perawatan kesehatan dalam
setempat menyatakan pemenuhan nutrisi,
d. Perhatikan bentuk dan
bahwa:
variasi makanan yang
e. Sebanyak 30% menarik agar tidak
lansia dengan membosankan (bentuk cair,
bubur saring, bubur, nasi
penyakit Hipertensi
tim, nasi biasa)
f. 30% dengan e. Kontrol gejala
penyakit persendian
g. 25% lansia dengan f. Membuat rujukan ke
demensia penyedia layanan kesehatan
yang sesuai
h. 15% lansia dengan
g. Pada lansia depresi adakan
penyakit jantung program Terapi Aktivitas
serta DM dan Kelompok (TAK) (Suzanna,
Mustikasari, & Ice, 2016).
beberapa penyakit
ringan lainnya. 5. Prevensi Tersier
- Petugas dari puskesmas a. Pencatatan insidensi kasus
b. Adakan forum
melakukan kunjungan
diskusi/pertemuan rutin
sebanyak 2 minggu antar lansia yang mengalami
sekali. keluhan pemenuhan nutrisi
- Lansia di Panti c. Mediasi konflik
d. Bangun komunikasi yang
mengalami depresi baik dengan semua pihak.
sebesar 47%
- Lansia yang hidup di
Panti memiliki
kesejahteran spiritual
yang rendah (low
spiritual well-being)
dan kesejahteraan
spiritual yang moderat
(moderate spiritual
well- being).
- Lansia yang dikirim
oleh keluarganya di
panti, cenderung
merasa terbuang,
merasa tidak mampu
mencukupi
kebutuhannya sendiri
karena tidak bisa
bekerja dan merasa
bosan.
3.4 Implementasi
Untuk mencapai hasil yang diinginkan dari intervensi adalah menekankan pada
partisipasi aktif dari komunitas. Kemitraan dan kolaborasi menjadi perhatian dalam
implementasi keperawatan komunitas. Segenap warga panti werdha perlu merasakan
kepemilikan terhadap program dengan partisipasi penuh dalam perencanaan dan
tanggung jawab untuk implementasi. Dalam melaksanakan intervensi yang sudah
direncanakan dapat menerapkan strategi promosi kesehatan. Strategi promosi kesehatan
komunitas dapat mencakup:
1. Meningkatkan kemitraan antar semua lintar sector dalam PSTW
2. Libatkan keluarga dalam kegiatan
3. Berkolaborasi dengan lembaga swadaya masyarakat setempat
4. Partisipasi aktif dari semua pihak panti werdha.

3.5 Evaluasi
Perawat mengevaluasi tanggapan komunitas panti terhadap program kesehatan
dan mengukur kemajuan yang dicapai sesuai dengan tujuan program. Evaluasi
intervensi keperawatan berbasis komunitas dilakukan secara siklik dan dinamis, tepat
waktu, relevan, berbasis data komunitas, dan secara rutin. Salah satu indikator
keberhasilan program kesehatan adalah pemberdayaan masyarakat. Sejauh mana warga
lansia di panti berpartisipasi dalam program kesehatan.