Anda di halaman 1dari 18

TRADISI RUWATAN: BERSIH BUMI KEARIFAN LOKAL

DALAM MITIGASI BENCANA

Ruwatan Tradition: Bersih Desa,


Local Wisdom of Disaster Mitigation
T.M. Hari Lelono
Balai Arkeologi Yogyakarta
hari_lono@yahoo.com

ABSTRACT
Tradition worship of ancestral spirits in Tengger occur along with the megalithic culture that
is widespread in Indonesia, around 500 BC - 500 AD. Physical culture can be seen the remains of
objects such as menhirs, and terraces devoted to the concept of ancestral spirit worship followed by a
tradition in the community concerned. Megalithic tradition for a group of tribes, is devoted to the
worship of ancestral spirits as ruler of protecting and giving life. Therefore, the purpose of this paper
is to determine the Tengger local wisdom in maintaining natural ecosystems by humans, through a
tradition that has lasted for generations can overcome the problem of frequent disasters. Efforts are
being made in the search for the data to answer these goals, used the method of approach by
conducting interviews and observations of one tradition that held that ceremony mayu desa / ruwatan.
The ceremony is conducted once a year, but in year five held over the highway at the expense of a
buffalo or cow. From the results of these interviews, the data obtained with regard to the meaning,
function and purpose of the ceremony mayu desa / ruwatan, related to disaster mitigation issues.

Keywords : Mayu Desa Tradition , Local Knowledge , and Disaster Mitigation

ABSTRAK
Tradisi penyembahan terhadap roh leluhur di Tengger terjadi seiring dengan budaya megalitik
yang tersebar luas di Indonesia, sekitar 500 Sebelum Masehi – 500 Masehi. Tinggalan budaya fisik
dapat diketahui dari benda-benda seperti menhir, dolmen, dan teras berundak ditujukan pada konsep
pemujaan roh leluhur yang diikuti dengan tradisi dalam masyarakat bersangkutan. Tradisi megalitik
bagi sekelompok suku, merupakan pemujaan yang ditujukan kepada para roh leluhur sebagai penguasa
alam yang melindungi dan memberikan kehidupan. Oleh karena itu, tujuan penulisan ini adalah untuk
mengetahui kearifan lokal Tengger dalam menjaga ekosistem alam dengan manusia, melalui tradisi
yang sudah berlangsung secara turun-temurun dapat mengatasi masalah bencana yang sering terjadi.
Upaya yang dilakukan dalam mencari data untuk menjawab tujuan tersebut, digunakan metode
pendekatan dengan melakukan wawancara dan pengamatan salah satu tradisi yang dilangsungkan yaitu
upacara mayu desa/ ruwatan. Upacara ini dilakukan setiap tahun sekali, tetapi pada tahun ke-lima
diselenggarakan lebih raya dengan mengorbankan seekor kerbau atau sapi. Dari hasil wawancara
tersebut, diperoleh data berkaitan dengan makna, fungsi dan tujuan upacara mayu desa/ ruwatan,
berkaitan dengan masalah mitigasi bencana.

Kata Kunci: Tradisi Mayu Desa, Kearifan Lokal, dan Mitigasi Bencana

Tanggal masuk : 12 Maret 2015


Tanggal diterima : 30 November 2015

Tradisi Ruwatan: Bersih Bumi Kearifan Lokal dalam Mitigasi bencana 145
(T.M Hari Lelono)
PENDAHULUAN dalam tradisi. Tradisi dalam konteks
ini dilakukan oleh individual/
Pada abad ke-21 banyak perorangan ataupun dilakukan secara
terjadi bencana yang menimpa kolektif, seperti untuk kepentingan
Indonesia, khususnya di Aceh dan desa atau dusun. Kearifan-kearifan
Jawa yang menelan banyak kurban lokal itulah, pada akhirnya diwujudkan
jiwa manusia, yang datang sewaktu- dalam bentuk tradisi/ upacara yang
waktu tanpa dapat diketahui. Bencana dilaksanakan secara periodik, pada
volkanik dengan meletusnya gunung hari dan waktu yang telah ditentukan.
api yang menyemburkan berbagai Dalam hal ini, subtansinya adalah
macam material panas dari perut persembahan kepada para leluhur
bumi, bencana tsunami dengan atau penguasa alam, sedangkan
gelombang yang tinggi dapat bentuk perlengkapan dan sesaji yang
menenggelamkan daratan dan apapun diperlukan bervariatif, tentunya
yang menghalanginya. Berbagai dipengaruhi oleh alam lingkungan dan
peristiwa alam tersebut mengingatkan budaya masyarakat bersangkutan.
kita betapa rentan dan lemahnya alam Budaya yang ditinggalkan
ini, seperti bencana alam yang terjadi nenek moyang, adalah budaya yang
di Indonesia beberapa waktu lalu: bersifat tangible dan intangible,
Tsunami yang terjadi pada tanggal 26 keduanya masih dapat ditemukan di
Desember 2004, pukul 7.58 wib di dalam kehidupan sehari-hari, salah
Aceh; dan gempa bumi Yogya, 27 Mei satunya untuk mengatasi alam dan
2016, pukul 5.55 Wib. Bencana alam lingkungan tempat tinggalnya. Mereka
memang sering terjadi, dengan bukti berusaha menjaga kelestarian eko-
banyaknya bangunan candi yang sistem alam dengan manusia untuk
terbenam lahar di daerah Yogyakarta, hidup berdampingan secara harmonis,
Blitar, dan Kediri yang kemudian serta kenyamanan aspek psiko-sosial.
berlanjut pada masa kerajaan Berkaitan dengan hal tersebut, untuk
Mataram Islam. Peristiwa tersebut menjaga kelestarian alam dengan
membuktikan jika wilayah Indonesia sistem kepercayaan masyarakat,
memang merupakan daerah yang hampir diseluruh pelosok tanah air
rawan bencana alam. tradisi tersebut dapat ditemukan, salah
Bencana yang selalu terjadi satunya dalam bentuk budaya materi
dan memusnahkan apapun yang ada berupa bangunan megalitik seperti
di sekitarnya, mengakibatkan nenek menhir dolmen, teras berundak dan
moyang berupaya untuk mengurangi masih banyak lagi macamnya. Tradisi
atau mengantisipasi. Salah satu upaya pendirian bangunan-bangunan
yang dilakukan, adalah dengan megalitik (mega berarti besar, lithos
mencatat/ mengingat peristiwa- berarti batu) selalu berdasarkan pada
peristiwa tersebut dalam naskah- kepercayaan akan adanya hubungan
naskah/ pikiran untuk diwariskan antara yang hidup dan yang mati,
kepada generasi berikutnya. Sebagai terutama kepercayaan akan adanya
masyarakat yang memiliki kearifan pengaruh kuat dari yang telah mati
lokal, peringatan tersebut diwujudkan terhadap kesejahteraan masyarakat
dalam simbol-simbol yang terkandung dan kesuburan tanaman. Jasa dari

146 Berkala Arkeologi Vol.35 Edisi No.2 November 2015: 145-162


seorang kerabat yang telah mati 3). Kedua hal tersebut, saling
diabadikan dengan mendirikan berkaitan erat dan menimbulkan
bangunan batu besar. Bangunan ini pengaruh sebab dan akibat, karena
kemudian menjadi medium dalam kehidupan sehari-hari
penghormatan, tempat singgah dan sekurang-kurangnya masyarakat
sekaligus menjadi lambang si mati mempunyai dua hal yang patut
(Soejono, 1984: 205). Budaya ini tidak dijadikan pegangan, yaitu
selalu menggunakan bahan batu melaksanakan adat-istiadat yang
besar, tetapi kadang juga berlaku, dan menghindari
memanfaatkan gejala-gejala alam/ penyimpangan adat yang menjadi
flora yang ada di sekitarnya seperti, pergunjingan sehingga berdampak
pohon besar dan sumber mata air. pada masalah psiko-sosial mereka.
Berkaitan dengan aspek psiko-sosial Dalam kemajemukan adat dan
yang telah disebutkan, secara tradisi masyarakat Indonesia,
sosiologis merupakan beban sosial1 keterkaitan antara budaya tangible
yang ditanggung oleh seseorang atau dan tradisi yang disebut budaya
masyarakat untuk secara bersama- intangible menarik untuk diungkapkan,
sama melakukan kegiatan tertentu, karena terdapat kaitan yang erat
sesuai dengan ketentuan adat atau antara keduanya, yaitu saling
peraturan yang telah disepakati pengaruh mempengaruhi dalam
bersama. Sementara itu, beban aktivitas kehidupan masyarakat.
psikologis lebih ditekankan pada Tradisi tersebut bersumber pada
individu/ masyarakat, bahwa dengan sebuah budaya yang pernah hidup
melakukan upacara (religi) mereka dengan segala unsur-unsurnya yang
mendapatkan rasa tenteram dan masih dapat diketahui sampai
yakin bahwa akan dilindungi oleh sekarang melalui bentuk-bentuk
leluhur/ penguasa alam. Religi material dan tradisi megalitik berupa
mempunyai fungsi tertentu, salah upacara. Sebagaimana telah
satunya adalah untuk mengurangi diketahui, tradisi megalitik
kegelisahan karena religi dapat substansinya yaitu melakukan
menerangkan hal-hal yang tidak pemujaan terhadap roh leluhur. Dalam
dipahami oleh manusia. Dengan religi, konteks ini di Suku Tengger
manusia bisa mendapat ketenangan melakukan pemujaan pada menhir
untuk menghadapi hal-hal di luar yang diletakkan pada sebuah bukit
jangkauan pikirannya, seperti dengan bentuk lahan yang berteras,
kematian, penyakit, bencana, dan lain- semakin meninggi ke belakang
lain (Prasetyo dan Dwiyani.ed, 2004: dengan orientasi ke Gunung Bromo.
Hal tersebut, sangat menarik sebagai
1
permasalahan utama, karena
Beban sosial: merupakan tanggung jawab hubungan antara budaya materi dan
seorang individu atau kelompok masyarakat
non materi sangat jelas dalam bentuk
untuk melakukan tradisi yang diwarisi.
Apabila hal tersebut tidak dilakukannya, maka tradisi. Keduanya sangat bermanfaat
ia atau kelompok masyarakat yang dalam mengatur sistem kehidupan
bersangkutan akan menjadi bahan masyarakat dengan mengacu pada
pergunjingan bagi orang lain, sehingga kearifan lokal (local genius). Aktivitas
mengakibatkan rasa malu bagi keluarga tradisi menyebabkan terjalinnya
maupun dirinya.

Tradisi Ruwatan: Bersih Bumi Kearifan Lokal dalam Mitigasi bencana 147
(T.M Hari Lelono)
komunikasi dan interaksi secara intens berupa menhir yang diletakkan di
dalam adat dan tradisi, dapat puncak-puncak bukit dengan bentuk
mempertajam pengetahuan dan lahan berteras, dan semuanya
pengalaman (empirik), untuk berorientasi ke arah Gunung Bromo.
mengatasi bencana yang datang Permukiman Tengger memiliki pola
sewaktu-waktu. Oleh sebab itulah, tata ruang yang unik dalam
tulisan ini mencoba untuk pembagian tata ruang, yaitu tempat-
mengungkap kehidupan masyarakat tempat sakral di tempatkan di lokasi
Suku Tengger yang masih bertradisi yang khusus, seperti pohon besar,
megalitik, yaitu melakukan pemujaan lahan yang tinggi (bukit) atau sumber-
leluhur dengan tujuan keselamatan, sumber air, dan jauh dari tempat
kesejahteraan dan menghindarkan hunian/ rumah penduduk. Berkaitan
dari segala macam bencana alam. dengan keunikan tersebut, maka
Tradisi dan kepercayaan tersebut untuk sementara dibatasi hanya Suku
diwujudkan dalam sebuah upacara Tengger yang akan diungkap, karena
yang dinamakan mayu desa/ ruwatan. dalam masyarakat ini antara tradisi
megalitik dan kehidupan sehari-hari
METODE masih menjadi satu kesatuan.
Diharapkan pula data etnografis
Tradisi megalitik masih tersebut dapat menjadi pelengkap dan
dilakukan dibanyak suku, khususnya menjawab permasalahan tentang
di Jawa beberapa tradisi ini berkaitan perilaku masyarakat dalam melakukan
dengan pemujaan terhadap roh para pemujaan, bertradisi megalitik yang
leluhur. Di puncak Gunung Kelud semakin langka di Jawa, khususnya
(Kediri), Jawa Timur dilakukan daerah permukiman pegunungan.
upacara yang disebut larung sesaji,2 Dalam usaha untuk menggali
sedangkan di Gunung Merapi informasi yang akan dijadikan data,
(Yogyakarta) dilakukan upacara maka dilakukan wawancara kepada
labuhan. Salah satu Suku yang tinggal beberapa orang Tengger yang tinggal
di sekeliling Gunung Bromo, Suku di Desa Pusungmalang dan Desa
Tengger melakukan upacara yang Keduwung. Kedua desa letaknya
dinamakan mayu desa, uniknya suku berdekatan yang secara administratif
ini memiliki tempat-tempat pemujaan terletak di Kecamatan Puspo,
Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.
2
Larung sesaji, labuhan dan mayu desa; Diharapkan, data yang diperoleh
Merupakan tradisi yang dilakukan setahun merupakan data etnografis dengan
sekali dengan tujuan untuk membersihkan pendekatan etnoarkeologi. Dalam hal
bumi/ desa/ dusun dari segala macam ini terdapat dua model pendekatan,
‘kotoran’ yang telah terjadi. Upacara ini yaitu pendekatan kesinambungan
dilakukan dengan membuat bermacam sesajian sejarah (direct historical) dan
dan kadangkala mengkurbankan seekor
perbandingan umum (general
kerbau, dan ditujukan kepada para roh leluhur,
agar mendapat kehidupan dan dijauhkan dari comparative). Menurut Watson,
mara bahaya. Upacara dilakukan dengan pendekatan pertama didasarkan pada
bermacam sesajian yang dipimpin oleh pandangan bahwa kebudayaan yang
seorang sesepu masyarakat, khususnya di berkembang sekarang ini merupakan
Tengger dipimpin oleh seorang yang disebut kelanjutan dari kebudayaan masa lalu.
dukun.

148 Berkala Arkeologi Vol.35 Edisi No.2 November 2015: 145-162


Oleh karena itu, studi etnoarkeologi jagung, dan ubi-ubian seperti kentang.
akan relevan dilakukan jika antara Sementara itu bahasa/ linguis yang
data etnografi dan data arkeologi digunakan bahasa Jawa, tetapi ada
memiliki persamaan atau sedikit perubahan dalam
kesinambungan sejarah. Pendekatan pengucapannya, yakni bukan dengan
kedua yaitu perbandingan umum huruf “o” tetapi “a”.3 Namun pada
didasari oleh pandangan bahwa umumnya mereka masih berpegangan
hubungan antara budaya arkeologi pada bahasa ibunya yaitu bahasa
yang pendukungnya telah punah Jawa; Dalam syarat no 6),
dengan budaya yang masih konservativitas budaya materi yang
berlangsung, pada hakekatnya adalah (tangible) masih dapat ditemukan
hubungan bentuk, sehingga tidak adanya punden berundak, batu
perlu memiliki kaitan historis, ruang, megalit, pohon-pohon besar yang
dan waktu. Namun demikian, dianggap sebagai tempat
pendekatan ini menuntut persyaratan bersemayam roh leluhur. Sementara
yaitu perlu adanya kesamaan dalam itu, budaya non-materi (intangible)
bentuk budaya maupun lingkungan masyarakat masih memegang teguh
antara data etnografis dengan data adat-istiadat yang salah satunya
arkeologis (Watson, 1971: 50). dalam bentuk upacara mayu dusun
Pemanfaatan analogi etnografis untuk yang mewarnai dalam proses
membantu menjelaskan data kehidupan sehari-hari. Oleh karena
arkeologi, secara lebih rinci terdapat itu, dalam mengumpulkan informasi
enam syarat yang perlu diperhatikan: dilakukan wawancara (interview)4 dan
1) semakin dekat jarak waktu antara dipilih secara sampling. Seluruh data
data etnografi dengan data arkeologi, yang berhasil dihimpun akan dianalisis
semakin baik hasilnya, 2) adanya secara kualitatif, agar memperoleh
kesamaan satuan tingkat kelompok gambaran yang mendalam tentang
masyarakat yang dibandingkan, 3) aktivitas mayu desa, ruwatan bumi/
adanya tingkat yang sama dalam mata gunung. Sehingga dapat diperoleh
pencaharian, 4) berada pada wilayah gambaran secara holistik, tentang
yang berdekatan, 5) adanya makna upacara mayu desa/ ruwatan.
kecenderungan linguistik yang sama,
dan 6) terjaganya konservativitas MAYU DUSUN/ RUWATAN
budaya etnografis (Hole dan Heiser,
1973: 312). Dalam konteks konsep Kemajemukan suku, adat dan
tersebut di depan, maka: Pada syarat tradisi Indonesia merupakan kekayaan
1) data etnografi Suku Tengger budaya yang tidak ada bandingnya
didukung oleh benda-benda
arkeologis berupa menhir dan punden 3
berundak yang dikeramatkan oleh Sebagai contoh bahasa Jawa, kata (‘siro’ =
anda) diucapkan ‘sira’
penduduk, dan dianggap sebagai 4
Wawancara dilakukan pada saat persiapan
tempat para roh leluhur mereka; Pada upacara, pelaksanaan dan sesudah upacara
syarat yang ke 2), 3), 4) dan 5), pada mayu desa di Keduwung pada waktu
umumnya berbudaya Jawa dengan Penelitian Pundhen Dalam Permukiman
mata pencaharian disektor pertanian Tengger (Kajian Etnoarkeologi Dalam
utamanya penghasil sayur-mayur, Konteks Tradisi Megalitik). Tannggal 11 – 20
April, Tahun 2014.

Tradisi Ruwatan: Bersih Bumi Kearifan Lokal dalam Mitigasi bencana 149
(T.M Hari Lelono)
selain kekayaan alam tropisnya. dalam sebuah masyarakat, dikenal
Aneka ragam budaya dengan adat- sebagai tradisi, atau adat kebiasaan
tradisi masyarakat dan alam turun-temurun dari nenek moyang
Indonesia, mampu mengangkat citra yang masih dijalankan di masyarakat
Indonesia di mata dunia internasional, (KBBI. 2012: 1483). Tradisi juga
sebagai daerah kunjungan wisata diartikan kebiasaan, dalam pengertian
yang unik dan menarik, karena satu yang paling sederhana adalah sesuatu
pulau dengan pulau lainnya memiliki yang telah dilakukan sejak lama dan
ciri khas budaya yang berbeda-beda. menjadi bagian dari kehidupan suatu
Bahkan dalam satu pulau-pun kelompok masyarakat, biasanya dari
terdapat perbedaan dengan ciri-cirinya suatu negara, kebudayaan, waktu,
yang unik, seperti misalnya Pulau atau agama yang sama. Hal yang
Jawa, ada budaya Sunda/ paling mendasar dari tradisi adalah
Parahiyangan, Jawa Tengah, DI. adanya informasi yang diteruskan dari
Yogyakarta, Jawa Timur, dan sub-sub generasi ke-generasi baik tertulis
budaya lainnya. Dalam tulisan ini akan maupun lisan, karena tanpa adanya
diuraikan tentang upacara tradisional ini, suatu tradisi dapat punah. Tradisi
mayu desa/ (bersih desa) yang masih ada yang disebut dengan tradisi besar
dilakukan oleh masyarakat Jawa, yang dan kecil. Tradisi besar dilaksanakan
ditujukan untuk keselamatan seluruh secara kolektif, biasanya oleh seluruh
warga masyarakat bersangkutan. warga masyarakat. Sementara tradisi
Mengenai istilah yang digunakan oleh kecil cenderung dilakukan oleh
masyarakat, seperti slametan bersih individual (perorangan). Dalam hal ini
desa dan ruwatan, bervariasi antara terdapat ketentuan-ketentuan berupa
satu daerah dengan lainnya. Demikian norma-norma maupun jenis materi
pula bentuk maupun perlengkapan sesaji yang telah disepakati bersama,
sesajian yang digunakan. Jadi, antara lengkap dengan sangsi yang dapat
desa yang satu dengan lainnya istilah diterimanya apabila terjadi
tersebut dapat berbeda-beda, tetapi pelanggaran. Persyaratan, jenis
memiliki makna yang sama. Terlepas bahan, dan waktu yang dipilih telah
dari bermacam nama/ istilah tersebut, diatur dalam norma-norma adat. Pada
pada kenyataannya masyarakat masih umumnya, norma sosial dalam
banyak yang taat dan melakukan masyarakat tradisional tidak tertulis,
kebiasaan tersebut dengan hikmat tetapi terdapat dalam pikiran setiap
dan seksama. warga masyarakat dan dijalani dalam
Perilaku ritual dalam konteks kehidupan sehari-hari. Hal yang
tradisi mayu desa/ ruwatan yang bersifat tidak tertulis tersebut, dapat
dilakukan oleh nenek moyang, diingat dan dipilah-pilah oleh setiap
merupakan tindakan untuk warga, karena mereka hidup dalam
menselaraskan alam dengan manusia. lingkup lingkungan alam dan budaya
Hal itu, merupakan pengalaman yang sama. Hal tersebut secara
(empirik) nenek moyang yang bernilai kolektif menjadi kebiasaan dan
positif. Warisan nilai-nilai tersebut, kesadaran dalam pemenuhan
kemudian diteruskan dan selalu kebutuhan hidup jasmani dan rohani
dijadikan pedoman, dan secara yang harmoni dengan sesama warga.
khusus dilaksanakan secara kolektif

150 Berkala Arkeologi Vol.35 Edisi No.2 November 2015: 145-162


Tradisi, adalah suatu seperti itu, akan ada akibatnya yang
kebiasaan sekelompok masyarakat, panjang. Para pelanggar akan
sekelompok keluarga, maupun dituntut, diadili, dan dihukum.
perorangan. Kebiasaan sekelompok Sebaliknya ada juga norma-norma
masyarakat pada hakekatnya disusun yang dianggap kurang berat sehingga
oleh kebiasaan dan lingkungan apabila dilanggar tidak akan ada
keluarga. Kebiasaan yang telah teratur akibat yang panjang, misalnya
tata caranya disebut adat-istiadat. memakai blangkon5 dengan
Kebiasaan ini sering mengikat dan mondholan6 di depan. Oleh seorang
memaksa seseorang atau sekelompok ahli sosiologi, W.G Summer,
masyarakat untuk mematuhi dan menyatakan bahwa norma-norma
melakukannya. Jika tradisi diabaikan golongan pertama disebut mores, dan
dapat mendatangkan bahaya atau norma-norma golongan kedua adalah
bencana. Sering dipermasalahkan folkways. Istilah Mores menurut
apakah tradisi itu masih berguna bagi konsepsi Summer dapat kita sebut
masyarakat modern sekarang ini? dalam bahasa Indonesia “adat-istiadat
Mungkin jawabannya adalah: berguna, dalam arti khusus”, sedangkan
dengan alasan karena sebagian orang folkways dapat kita sebut “tata cara”
yang menganggap tradisi adalah (Koentjaraningrat, 1981: 211). Salah
warisan nenek moyang yang sedikit satu bentuk konkrit dari mores dalam
banyak tentu masih mengandung kehidupan budaya masyarakat sehari-
unsur-unsur kebudayaan yang hari yang dapat kita lihat dari upacara
bermanfaat (Subalidinata, 1982: 1-2). adat yang telah mentradisi, seperti
Oleh karena itu, tradisi erat kaitannya misalnya mayu desa/ ruwatan bumi.
dengan kepercayaan atau agama Upacara tersebut diikuti oleh seluruh
(religio) dan juga dengan kebudayaan warga, karena mereka memiliki
(culture). Pengertian agama di sini pandangan dan tujuan yang sama.
menyangkut pula bermacam-macam Mengikuti seluruh rangkaian kegiatan/
kepercayaan yang berkembang di tradisi tersebut, merupakan suatu
dalam masyarakat (religio naturalis), tuntutan sosial dan psikologis dalam
misalnya animisme (kepercayaan pengertian mereka mengikuti secara
kepada arwah nenek moyang), aktif dan kolektif.
dinamisme (kepercayaan kepada Pada umumnya masyarakat
kekuatan gaib), fetisme (kepercayaan Jawa mengenal upacara tersebut di
kepada benda pusaka), spiritisme depan, sebagai bersih desa/ dusun,
(kepercayaan kepada jiwa/ spirit) dan dan ada yang menyebut ruwatan.
magisme (kepercayaan kepada Bersih desa/dusun berasal dari
kekuatan magis). bahasa Jawa yang berarti
Para ahli ilmu sosial juga telah membersihkan (melepaskan) hal-hal
mengobservasi bahwa para warga
masyarakat menganggap semua 5
Blangkon, Salah satu penutup kepala dari
norma yang mengatur dan menata kain yang digunakan dalam busana adat Jawa
tindakan mereka itu tidak sama Tengahan.
beratnya. Ada norma-norma yang 6
Mondholan. Bulatan sebesar telur ayam yang
sangat berat sehingga apabila terjadi terdapat dibagian belakang blangkon,
pelanggaran terhadap norma-norma merupakan gaya khas Daerah Istimewa
Jogjakarta.

Tradisi Ruwatan: Bersih Bumi Kearifan Lokal dalam Mitigasi bencana 151
(T.M Hari Lelono)
buruk, sedangkan ruwatan berasal maksudnya mempercantik kecantikan
dari kata ruwat yang artinya luwar atau dunia (Sukarto, 1989: 8).
lepas. Jadi, bersih desa/ dusun dan Dalam beberapa tradisi
ruwatan berarti melepaskan segala masyarakat tradisional, bersih desa
bentuk perbuatan jelek, malapetaka, merupakan sebuah upacara yang
hal-hal yang ‘kotor’ dengan melakukan wajib dilakukan setiap setahun sekali
persembahan kepada Sang Penguasa dengan melibatkan seluruh warga
alam, sekaligus berterimakasih atas masyarakat bersangkutan. Upacara
segala kehidupan dan ketenteraman tersebut dilaksanakan di tempat-
yang telah diberikan. Khususnya tempat yang dianggap keramat, atau
mengenai ruwatan ada dua sebagai ‘tetenger’ tanda sebuah desa
pengertian: pertama adalah ruwatan yang sering disebut dengan nama
alam semesta/bumi yang ditujukan punden. Sebagai contoh akan diambil
untuk keselamatan dan kesuburan dari dua desa di Kecamatan Puspo,
bumi tempat hidup masyarakat Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.
beserta segala isinya, seperti misalnya Kedua desa tersebut letaknya
ruwatan bumi, sungai, laut, danau dan berdekatan, tetapi memiliki latar
ruang angkasa (apabila banyak terjadi agama yang berbeda. Desa pertama,
kecelakaan di ruang angkasa). Kedua, Pusungmalang merupakan desa yang
ruwatan manusia, dapat diterapkan mayoritas penduduknya beragama
terhadap individu, kelompok/ Islam. Uniknya di desa ini terdapat
golongan, masyarakat, dan bangsa. tinggalan bangunan candi Hindu
Pada jaman dahulu di berarsitektur punden berundak, yang
Indonesia, khususnya di Jawa dan sementara merupakan satu-satunya
Bali, masyarakat mengenal semacam candi yang berada di kawasan Bromo
upacara yang disebut bhumisuddha. (Tengger). Desa yang kedua bernama
Artinya upacara (kurban) pemberian Desa Keduwung, yang mayoritas
(suddha) bumi (bhumi) dari segala penduduknya beragama Hindu Jawa.
pengaruh yang jahat. Pada Selain beragama Hindu, mereka
hakekatnya upacara Bhumisuddha masih percaya kepada kepercayaan
sama saja dengan ruwatan bumi. asli yaitu penghormatan kepada
Dalam perkembangan lebih lanjut arwah-arwah leluhur, yang ditandai
menjadi bersih desa (bersih = suddha, dengan beberapa menhir yang
desa = bhumi) atau slametan diletakkan di punden desa:
(sedekah) bumi. Tujuannya jelas
supaya masyarakat terhindari dari 1. Desa Pusungmalang
bermacam-macam gangguan (dari Terletak di lereng Gunung
alam maupun dari roh jahat). Di Bali Penanjakan salah satu anak
pada jaman dahulu (abad X M) dikenal Gunung Bromo dengan ketinggian
upacara kurban yang disebut 1340 meter dpl (dari permukaan
haywahaywan (hayua-hayuan) dan laut) dan koordinat LS 07º 51’
pamahayu. Istilah itu berarti cantik, 11,4” dan BT 112º 55’ 34,4”.
damai, dan sejahtera (selamat). Berdasarkan penelitian Istari
Selanjutnya masyarakat Jawa (2009), ditemukan tinggalan
sekarang mengenal kata-kata mutiara arkeologis berbentuk punden
(cf. motto) mamayu hayuning bawana, berundak dari masa Hindu yang

152 Berkala Arkeologi Vol.35 Edisi No.2 November 2015: 145-162


dinamakan Candi Sanggar oleh itu pada waktu-waktu tertentu
penduduk setempat, yang terletak mereka harus melakukan upacara
di Dusun Wonogriyo. Masyarakat untuk menghormati para danyang,
Desa Pusungmalang mempunyai agar mereka selalu menjaga
delapan punden yang tersebar di seluruh masyarakat desanya, dan
lima dusun dengan tradisi upacara menghindarkan penduduk desa
bersih desa secara turun temurun. dari malapetaka dan gangguan
Setiap dua tahun sekali dilakukan roh-roh jahat.
secara besar-besaran, acara Upacara diikuti oleh seluruh
tersebut berlangsung pada tanggal warga desa dari lima pedukuhan
17 Juli 2009 bertepatan dengan yang masing-masing membawa
hari Jumat Legi. Tempat upacara sesajian dianamakan ancak-ancak
dipusatkan di Dusun Wonogriyo, berupa gunungan yang dihiasi
karena puncak acara diadakan di dengan berbagai macam hasil
Punden Wonogriyo/ Sanggar bumi (sayur-mayur dan makanan),
(Candi Sanggar)7 yang dianggap dan dipimpin oleh para sepuh
tempat tinggal danyang utama desa, kepala desa (inggi), dukun,
desa Kyai Wonosodo. Wonogriyo pesinden, penabuh gamelan dan
merupakan salah satu dusun warga masyarakat. Upacara
tertua dan terbesar dan banyak dimulai dari punden pertama yaitu
punden-punden penting berada di Setran/ kuburan desa, dilanjutkan
dusun tersebut. Punden menurut berturut-turut pada punden-
kepercayaan masyarakat adalah punden berikutnya searah jarum
tempat tinggal atau tempat jam (dari timur ke barat). Namun
bersemayamnya roh-roh leluhur tepat pada tengah hari mereka
yang disebut danyang. Oleh sebab harus berada di atas bukit tempat
Candi Sanggar yang diyakini
7
sebagai tempat bersemayamnya
Candi Sanggar. Masyarakat menyebutnya danyang utama Desa
dengan istilah sanggar atau Punden Pusungmalang yang bernama
Wonogriyo, istilah candi muncul dari
Kyai Wonosodo. Sedang tujuh
seorang guru (Sukarno) Sekolah Dasar
Negeri di Pusungmalang. Namun punden lainya adalah tempat
berdasarkan penelitian oleh Balai Arkeologi persemayaman danyang-danyang
Yogyakarta tahun 2005 -- 2008. yang memiliki tingkat lebih rendah
Berdasarkan penelitian, ditemukan daripada danyang utama tadi.
komponen bangunan candi berbentuk Oleh sebab itu, upacara di
punden berundak. Penduduk setempat halaman Candi Sanggar ini
menyebut lokasi tersebut sanggar/punden berlangsung lebih lama dan
Kyai Wonosodo, yakni sebuah tempat tembang yang dinyanyikan lebih
pemujaan terhadap leluhur, dan merupakan banyak sebanyak tiga gending:
sanggar utama desa yang terletak di atas
eling-eling, tembang lain sesuai
sebuah bukit. Tempat leluhur berupa sebuah
pohon besar. Rupanya tempat tersebut pada permintaan dukun, dan terakhir
mulanya sebuah punden berundak dan pada tembang undur-undur. (Istari,
masa pengaruh Hindu dibangun sebuah 2009:93).
candi dengan bentuk berundak, Tetapi Secara harafiah, bersih desa
tradisi yang masih bertahan sampai sekarang bermakna untuk membersihkan desa
ditujukan kepada para roh leluhur desa.

Tradisi Ruwatan: Bersih Bumi Kearifan Lokal dalam Mitigasi bencana 153
(T.M Hari Lelono)
beserta seluruh warga masyarakatnya terhadap roh leluhur dengan
terbebas dari pengaruh-pengaruh melakukan upacara tertentu. Para
kejahatan dan kegelapan, dengan roh leluhur dianggap bermukim di
mempersembahkan sesajian dengan dalam punden, oleh karena itu di
segala macam perlengkpannya yang setiap desa-desa/ dusun biasanya
diikuti oleh seluruh warga secara terdapat tempat keramat yang
bersama-sama. Kegiatan tersebut bentuknya teras berundak. Di
dilakasanakan setelah musim panen, bagian paling dalam dari punden
sehingga mereka dapat tersebut, terdapat tanda berupa
mengumpulkan dana untuk kegiatan pohon besar, mata air, atau batu
tersebut. Upacara adat yang berpusat menhir. Menurut keyakinan
di Punden / Sanggar Wonogriyo mereka, di situlah tempat tinggal
tersebut, ditujukan kepada roh leluhur para roh leluhur yang selalu
cikal bakal desa, agar mereka menjaga desa dari marabahaya
mengayomi dan melindungi desa dari baik bencana alam maupun dari
segala macam bencana. Bencana alam dunia gaib. Mengenai
tersebut baik berupa bencana alam punden-pun terdapat tingkatan-
maupun musibah seperti penyakit, tingkatan, yaitu punden desa/
kematian, dan pengaruh jahat lainnya, dusun yang dianggap paling tinggi/
dengan melakukan upacara keramat, punden banyu/ air yang
persembahan tersebut, diharapkan memberi kehidupan dan
kehidupan seluruh warga aman kesuburan, punden setra/
tenteram dan sejahtera serta tidak banaspati (kuburan) dan punden
terjadi bencana8. prapatan/ pertigaan, selain itu
masih ada punden-punden kecil
2. Desa Keduwung lainnya tergantung dari kondisi
Desa ini terletak di atas Desa letak permukiman, seperti semakin
Pusungmalang di ketinggian 2013 luas wilayahnya atau semakin
meter dpl dengan koordinat LS banyak tempat yang dianggap
07º 52’ 37,2” dan BT 112º 56’ angker/ keramat.
34,5”. Desa ini terletak di Upacara membersihkan
kemiringan sekitar 35º dengan bumi di Keduwung dinamakan
lereng-lereng yang curam, upacara mayu desa/ dusun9 yang
terutama areal pertanian (ladang)
dapat mencapai kemiringan rata-
9
rata 50º. Penduduk desa Mayu desa/ dusun/ ruwatan dilakukan oleh
mayoritas memeluk agama Hindu suatu masyarakat secara kolektif yang
Jawa, walaupun pada mengisyaratkan, bahwa dunia ini sudah
kenyataannya mereka masih taat jenuh, kotor, penuh dengan
menjalankan tradisi penghormatan keangkaramurkaan. Oleh karena itu, bumi
ini perlu dibersihkan kembali, agar segala
’kotoran’ yang telah mengakibatkan
8
Bencana. Seperti pada umumnya desa-desa di kerusakan ekosistem dapat bersih dan netral
Pegunungan Tengger, sering terjadi tanah kembali. Upacara tersebut setelah
longsor dan bencana upas yang daqpat dilangsungkan, akan membawa berkah,
merusak tanaman, sehinga batal panen. Upas yakni lebih percaya diri dan sebagai bahan
(gas asam) adalah gas beracun yang ke luar introspeksi perilaku manusia terhadap alam/
dari kawah Gunung Bromo. bumi ini. Suatu harapan kolektif akan

154 Berkala Arkeologi Vol.35 Edisi No.2 November 2015: 145-162


dilaksanakan setahun sekali, tetapi momotannya12 dipikul oleh enam
setiap lima tahunan dilakukan orang pemuda, kelompok penari
upacara yang lebih besar dengan sinden/ tledek13, pengiring terdiri
kurban seekor kerbau atau sapi. dari para pemuda dan pemudi,
Pada tahun lalu, upacara ini dan urutan paling belakang adalah
dilakukan pada hari Jumat, penabuh gamelan. Dalam iring-
tanggal 18 April 2014, berpusat di iringan tersebut, mereka berjalan
Balai Dusun Keduwung. Selain perlahan mengikuti irama musik,
hewan kurban tersebut dibuat dan diikuti oleh warga masyarakat
bermacam sesajian yang yang sebelumnya menyaksikan
dinamakan sarwa satus10 yang perarakan di pinggir jalan, ikut
terdiri dari: Tumpeng peras, sega bergabung dalam formasi tersebut.
tamping, bakale jenang, tetelan Tradisi Mayu desa/ dusun
jenang (tumpeng tigan mas), telur, tersebut memiliki makna yang
dan jadah, kembang manden, mendalam dalam konteks
suruh agung dan bantenan. kehidupan sehari-hari masyarakat,
Seluruh jenis sesajian dan hewan yaitu sebagai ungkapan
kurban tersebut diarak dari balai terimakasih dan memberikan
dusun menuju punden utama kurban kepada para arwah leluhur
desa, yaitu Punden Tunggul atas keselamatan, kesejahteraan,
Payung/ Sari, kemudian secara dan kehidupan yang lancar selama
berurutan ke Punden Banyu, ini. Selain itu juga merupakan
Banaspati/ Setra dan diakhiri di ajang berinteraksi antar warga
Punden/ Dahnyang Prapatan untuk mengingatkan hubungan
desa. Prosesi upacara diawali kekerabatan/ keluarga di antara
dengan urutan: para sepuh, sesama Suku Tengger. Tradisi
dukun dan pembawa petra/ yang sudah ada wajib diteruskan
gedang ayu11, hewan kurban oleh generasi berikutnya, sebagai
berupa kurepan sapi dan ungkapan akan eksistensi nenek
moyang sampai sekarang, dengan
melakukan tradisi diharapkan
membawa kedamaian di dalam
masyarakatnya. bermanfaat bagi keselamatan,
10
Sarwa satus: Istilah yang diberikan kepada keharmonisan antara hubungan
perlengkapan sesajian yang secara simbolis alam, roh leluhur, manusia dan
jumlahnya seratus atau banyak yang terdiri seluruh ekosistem yang ada.
dari: Tumpeng peras, sega tamping, bakale
jenang, tetelan jenang (tumpeng tigan mas),
12
telur, dan jadah, kembang manden, suruh Kurepan sapi dan momotannya:Kurepan
agung dan bantenan.Sesajian tersebut dibuat sapi, kerbau/ sapi yang telah diambil
dari bahan; beras, ketan, gula jawa, kelapa, dagingnya dan diletakkan dengan alas
telor, daging kerbau/sapi (tetelan). anyaman bambu dengan posisi kepala dan
11
Petra/ gedang ayu:Sebuah boneka simbolis dan badannya lengkap/ tengkurap.
dari arwah nenek moyang yang dibuat dari Momotan, merupakan berbagai jenis
bunga gunung tanalayu (edelweys). sesajian yang ditaruh di atas punggung sapi.
13
Sedangkan Gedang ayu pisang raja yang sinden/ tledek. Penari tayub Jawa sering
dihiasi dengan guntingan-guntingan kertas disebut juga dengan nama tledek/ ledek. Di
berwarna kuning dan dilengkapi dengan beberapa daerah sering disebutkan berbeda-
sesajian, sebagai alas duduk dari petra. beda.

Tradisi Ruwatan: Bersih Bumi Kearifan Lokal dalam Mitigasi bencana 155
(T.M Hari Lelono)
3. Ruwat Gunung Merapi bagian barat pecah dan
Tradisi ruwat gunung runtuh. Letusan itu didahului
masih banyak dilakukan oleh dengan gempa bumi yang hebat,
masyarakat yang menghuni lereng- hujan abu dan lahar panas melanda
lereng gunung yang masih aktif, daerah sekitar Merapi. Lebih-lebih
seperti Gunung Kelud. Masyarakat di bagian barat-daya Gunung
Desa Sugihwaras, Kecamatan Merapi semuanya hancur dan
Ngancar, Kabupaten Kediri yang berubah menjadi ladang kering
tinggal di Anak Gunung Kelud, yang tertutup abu. Van Bemmelen
sampai saat ini masih melakukan menghubungkan bencana letusan
upacara adat ritual larung sesaji Merapi denga peristiwa pralaya
Anak Gunung Kelud. Dalam larung (kiamat, kematian) ketika istana
sesaji tersebut sesaji ditandu Teguh Dharmmawangcsa
dengan bermacam sesaji yang dihancurkan oleh Haji Worawari
terdiri dari tumpeng, hasil bumi pada tahun 1016 M (Bemmelen,
(buah-buahan, sayur-sayuran) dan 1949: 560-562).
lain-lainnya. Setelah dibacakan Peristiwa meletusnya
doa, kemudian sesaji dilarung gunung api terus terjadi hingga
(dihanyutkan) ke dalam kawah sekarang, secara tidak sengaja
Kelud. Sebuah naskah kuna dari justru mengingatkan kembali
masa Mataram Islam, juga masyarakat pada pentingnya adat-
menuliskan mengenai peristiwa tradisi berkaitan dengan
meletusnya Gunung Kelud pada keselamatan bumi, yaitu melakukan
tahun 191914 yang menyebabkan upacara tertentu untuk keselamatan
kehancuran yang fatal dan menelan manusia beserta alam
banyak kurban jiwa maupun benda. lingkungannya. Paguyuban Tri
Gunung Merapi sangat Tunggal melakukan ritual "ruwat
terkenal di daerah Jawa Tengah tolak bala15 sesaji mahesa lawung
dan Daerah Istimewa Jogjakarta. Raja Sonya",16 di Tugu Yogyakarta.
Selain letusan-letusan kecil yang Ritual berdasarkan tradisi
menyemburkan abu dan kebudayaan Jawa tersebut ditandai
menyuburkan tanah di sekitarnya, penyembelihan kerbau dengan
kadang-kadang Gunung Merapi upacara sakral tarian srimpi17 dan
juga meletus dengan dahsyatnya
sehingga menimbulkan bencana.
Menurut Sukarto (1989: 8), R.W.
15
van Bemmelen, seorang ahli Ruwat tola bala. Mengandung arti menolak
geologi, menemukan bukti bahwa bermacam bencana/ bahaya.
16
Gunung Merapi pernah meletus Sesaji mahesa lawung Raja Sonya.
secara dahsyat pada waktu yang Seperangkat sesajian yang utamanya harus
dilengkapi dengan dengan mengkurbankan
lampau. Dikatakan bahwa puncak
seekor kerbau untuk para roh leuhur.
Mahesa berarti kerbau.
14 17
Naskah ini tersimpan di Perpustakaan Srimpi. Tarian klasik dari Yogyakarta,
Reksapustaka Mangkunegaran Surakarta. ditampilkan oleh empat penari wanita. Kata
Kitab ini mengandung informasi yang cukup srimpi, selain berarti empat juga diartikan
lengkap mengenai situasi saat terjadi ‘impi’ yang berarti mimpi, atau berada di
peristiwa meletusnya Gunung Kelud. alam mimpi.

156 Berkala Arkeologi Vol.35 Edisi No.2 November 2015: 145-162


gending mahesa lawung18. bisa menggendong adiknya…”
Selanjutnya, dilakukan penanaman Kedasyatan peristiwa akan terpatri di
kepala kerbau, kaki, dan ekor, dalam ingatan masyarakat. Hal
sembilan ayam jantan wiring tersebut seperti yang diungkapkan Ibu
kuning, dan 99 boneka dari bahan Tawilah Rohmin (1988) dari Desa
singkong ’gethuk lindri’ di Balai Kandangan, Kecamatan Pare, Kediri
Desa Hargobinangun, Kecamatan Jawa Timur, yang berbunyi …”yen
Pakem, Kabupaten Sleman, Gunung Kelud njeblug, Kedhiri dadi
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kali, Blitar dadi latar, Tulungagung
http://lipsus.kompas.com/jalanjalan/ dadi kedhung…” (jika Gunung Kelud
read/2010/11/09/04270659/Ritual..q meletus, Kediri berubah menjadi
uot.Ruwat.Tolak.Bala.quot..untuk.M sungai, Blitar menjadi halaman,
erapi). Selain ruwatan yang Tulungagung menjadi danau)
dilakukan oleh paguyuban- (Suyami, dkk, 2015:4).
paguyuban yang ada, hal tersebut Pengalaman manusialah yang
dilakukan pula oleh masyarakat kemudian akan memunculkan adanya
yang tinggal di daerah bencana kebiasaan baru atau semacam
atau kaki Gunung Merapi seperti di peringatan-peringatan, seandainya
daerah Cangkringan, yang juga peristiwa tersebut terjadi lagi, mereka
melakukan ritual ruwatan dengan sudah siap untuk mengatasinya.
mempersembahkan bermacam Dalam istilah masa kini, mungkin
sesajian untuk keselamatan. disebut dengan mitigasi bencana,
yaitu upaya manusia untuk
UPACARA TRADISIONAL SEBAGAI menanggulangi bencana serupa yang
MITIGASI BENCANA sewaktu-waktu dapat terjadi, supaya
tidak terjadi kurban yang banyak. Hal
Bencana alam yang terus- ini sebenarnya sangat menarik apabila
menerus melanda bumi, oleh nenek dikaitkan dengan tradisi atau adat
moyang diingat dan bahkan dicatat istiadat yang berkaitan dengan
dalam beberapa prasasti masa Jawa upacara ruwat bumi, mayu desa/
kuna dan naskah-naskah pada abad- dusun yang pada hakekatnya adalah
abad kemudian dalam bentuk karya upaya untuk menyinergikan atau
sastra/ babad. Selain catatan-catatan mengharmoniskan hubungan antara
tersebut, mereka mengingatnya manusia dengan lingkungan
dengan baik dan bahkan peristiwa sekitarnya. Pada prinsipnya manusia
alam tersebut sering dikaitkan dengan mampu menyesuaikan diri dengan
peristiwa yang terjadi di dalam lingkungan sekitarnya. Dalam
keluarga atau peristiwa penting beradaptasi dengan lingkungannya
lainnya (Negara). Contoh yang lazim tersebut terdapat tindakan-tindakan
terjadi di masyarakat, adanya kearifan yang dilakukan oleh
ungkapan-ungkapan seperti …”pada masyarakat. Konsep kearifan lokal
saat gunung meletus, dirinya sudah atau sistem pengetahuan lokal
(indigenous knowledge systems),
18
Gending mahesa lawung, gending yang adalah pengetahuan yang khas milik
berisikan syair-syair sakral yang digunakan, suatu masyarakat atau budaya
khususnya pada upacara yang penting tertentu yang telah berkembang
dengan mengkurbankan kerbau.

Tradisi Ruwatan: Bersih Bumi Kearifan Lokal dalam Mitigasi bencana 157
(T.M Hari Lelono)
sekian lama, sebagai hasil dari proses masyarakat diajak untuk bersama-
hubungan timbal-balik antara sama melakukan ritual dengan cara
penduduk tersebut dengan membersihkan diri dari berbagai
lingkungannya. Jadi knowledge adalah ‘kotoran’ dan pengaruh kejahatan
inti dari budaya suatu masyarakat (kegelapan) yang diperbuat baik
yang diperoleh melalui pengalaman sengaja maupun tidak sengaja. Selain
hidup yang digunakan untuk tradisi dalam bentuk meruwat bumi/
menghadapi situasi tertentu dan mayu dusun/ desa, masyarakat diajak
menjawab persoalan-persoalan yang untuk menjaga, memperhatikan, dan
muncul; cara bereaksi dan tindakan merawat alam sekelilingnya dengan
yang dilakukan adalah berdasarkan cara selalu memperhatikan fenomena-
atas pengetahuan yang dimiliki fenomena flora-fauna dan gejala
masyarakat tersebut (Sumintarsih dkk, perubahan alam yang terjadi. Apabila
2005: 5). Salah satu hasil hal tersebut dilakukan secara
perkembangan kebudayaan tersebut kontinyu, baik perorangan maupun
adalah terciptanya suatu sistem kolektif, diharapkan warga
pengelolaan sumberdaya alam. masyarakat akan menjadi sensitif dan
Berbagai tradisi, upacara adat dan dapat mengamati perubahan-
tindakan sehari-hari mereka perubahan yang terjadi. Dalam tradisi
mengandung makna yang dalam atas masyarakat di manapun berada,
hubungan mereka dengan utamanya di Jawa dan Bali, para
lingkungannya (Nababan, 1995: 15). petani, para juru kunci gunung-gunung
Pada umumnya Indonesia, di Jawa dan masyarakat sekitarnya
khususnya Jawa, merupakan salah dapat membaca tanda-tanda alam
satu wilayah yang rawan bencana, seperti: awan berbentuk vertikal
sehingga bencana alam selalu datang sebagai tanda bahwa akan terjadi
dengan tiba-tiba. Peristiwa dan bencana alam besar; Mendung sangat
pengalaman bencana dari waktu-ke gelap/ tebal, sementara awan/ langit
waktu tersebut diingat oleh nenek yang lain cerah, sebagai tanda akan
moyang. Melalui ingatan tersebut, terjadi angin ribut/ lesus, dan lain-
apabila gejala bencana alam akan lainnya. Sementara itu, tanda dari
terjadi, mereka lebih dahulu bisa fauna dan flora, seperti: Hewan turun
mengantisipasi atau pindah ke daerah gunung (kelelawar, monyet, harimau,
lain yang lebih aman. Upaya manusia ular), sebagai tanda akan terjadi
untuk mengantisipasi bencana secara gempa/ aktivitas volkanik; Dan capung
berulang, oleh nenek moyang terbang rendah, sebagai tanda akan
kemudian diciptakan suatu sistem turun hujan; Ayam tetap mencari
yang berhubungan dengan ‘alam makan dan tidak berteduh, sebagai
kepercayaan/ religio’ yang tanda bahwa akan terjadi hujan deras
mengandung unsur-unsur dunia atas dan berlangsung lama/ sampai
(Pencipta Alam, kekuatan gaib), dan malam. Selain contoh-contoh tersebut,
dunian bawah (manusia) sebagai bila bencana alam dengan skala yang
penghuni alam/ bumi, serta seluruh besar, biasanya ada pertanda suara
flora-fauna yang ada, ke dalam gemuruh di langit atau dari dalam
sebuah sistem yang dinamakan bumi, dan temperatur tanah menjadi
tradisi. Dalam tradisi tersebut, warga lebih hangat/ panas dibandingkan

158 Berkala Arkeologi Vol.35 Edisi No.2 November 2015: 145-162


biasanya. Kearifan lokal dalam bentuk KESIMPULAN
tradisi untuk kebencanaan (mitigasi)
tersebut, apabila ditaati oleh warga Tradisi dalam bentuk upacara
masyarakat yaitu selalu ingat dan ritual ruwatan, bersih bumi/ desa dan
memperhatikan lingkungan alam, sebutan yang sejenis lainnya, pada
serta melakukan upacara tradisi dasarnya merupakan sebuah tuntunan
berdasarkan pada adat-istiadatnya kepada umat manusia/ warga
akan terbukti bermanfaat dalam masyarakat dimanapun tinggal, agar
memprediksi bencana alam apapun selalu ingat pada alam lingkungan dan
bentuknya yang akan terjadi sewaktu- hubungan timbal-baliknya antara
waktu, sehingga masyarakat dapat alam, manusia, flora/ fauna yang ada
menghindari, sebelum bencana yang untuk saling hidup selaras
sesungguhnya terjadi. berdampingan dengan alam. Sejak
Kedua hal tersebut di atas masa megalitik sampai masa
semuanya ada dalam setiap tradisi, sekarang, peristiwa, demi peristiwa
yaitu makna-makna simbolis yang bencana dan kebencanaan selalu
dikandungnya. Melalui cara-cara berulang kembali. Oleh nenek
tersebut nenek moyang kita moyang, peristiwa tersebut diingat dan
memberikan (mentransfer) dicatat baik dalam pikiran maupun
pengetahuan, pandangan hidup, dan dalam bentuk naskah-naskah kuna.
nilai-nilai kehidupan yang harmonis Salah satu cara untuk mudah
dengan alam lingkungan. Oleh karena mengingat dan sekaligus melakukan
itu tradisi, khususnya berkaitan penghormatan terhadap para roh
dengan ruwat bumi, merti dusun, leluhur, mereka menciptakan sebuah
mayu dusun/ desa, merupakan tradisi yang diikuti oleh generasi
kearifan lokal yang berhasil diciptakan, penerusnya. Masyarakat pewaris
sebagai warisan yang bernilai tradisi tersebut melakukannya secara
adiluhung. Bumi, manusia, dan flora- sukacita, apabila mereka dapat
fauna yang ada di dalamnya memaknai arti simbolis yang
merupakan satu kesatuan yang tidak terkandung di dalam segala macam
dapat dipisahkan, sebagai jawaban bentuk upacara tradisional tersebut.
untuk menjaga eko-sistem dan Dalam tulisan dengan
bermanfaat bagi penanggulangan pendekatan etnoarkeologi ini, dapat
bencana (mitigasi) yang datang tiba- disimpulkan bahwa kearifan lokal
tiba. Dalam konteks tersebut, tradisi (local genius) telah mampu
menjadi bernilai penting dalam rangka beradaptasi, menyiasati, mengatasi,
menjaga kelestarian alam. Tanpa dan menguasai alam. Nilai-nilai
disadari, sebenarnya berbagai jenis budaya yang adi luhung yang
upacara adat yang hidup di terkristalisasi dari pengalaman-
masyarakat, merupakan salah satu pengalaman (empirik) itulah,
cara yang digunakan untuk kemudian diwariskan dalam bentuk
mengkonservasi alam lingkungannya upacara tradisional penghormatan
beserta segala macam isinya yang kepada alam dan para roh leluhur
berbasis budaya. yang familier di dalam sendi-sendi
kehidupan masyarakat. Dari sisi
lainnya, perilaku dan aktivitas

Tradisi Ruwatan: Bersih Bumi Kearifan Lokal dalam Mitigasi bencana 159
(T.M Hari Lelono)
masyarakat dalam bentuk tradisi, mitigasi bencana yang dapat
secara tidak sengaja mereka telah terjadi setiap saat.
mengonservasi alam. Nenek moyang
melalui tradisi telah mengarahkan UCAPAN TERIMA KASIH
generasi penerusnya untuk menjaga
lingkungan/ kelestarian alam, menjaga Terimakasih kami ucapkan
bumi agar tetap hijau dengan kepada Bapak Uripani, Ponjoyo, Mbah
bermacam bentuk upacara dalam Rohmad (dukun Keduwung),
skala individu, kelompok, regional Markasan (sanggar) Suwadi Sip, Drs.
bahkan lebih luas lagi (negara, Bambang selaku kepala desa/ Inggi,
kerajaan). Oleh karena itu, melalui dan Sarkani, serta para responden/
bermacam upacara adat dalam kontek informan dan masyarakat setempat.
tradisi, kita diajarkan untuk selalu Diharapkan kerjasama yang telah
hidup secara harmonis antara terjalin berlanjut sampai di masa yang
manusia, alam dan seluruh flora-fauna akan datang.
yang ada. Terimakasih yang sebesar-
besarnya kepada mitra bestari, dalam
SARAN kesibukannya berkenan meluangkan
Internal: waktu, memberikan arahan,
 Situs-situs megalitik yang tersebar bimbingan dan sumbang-saran dalam
di permukiman-permukiman penyelesaian tulisan ini, sehingga
penduduk baik di pedalaman dapat bermanfaat bagi para pembaca
maupun di pegunungan, pada yang ingin mengetahui tentang
umumnya masih dihormati dan manfaat upacara dalam konteks
tradisinya-pun masih mitigasi bencana berbasis tradisi/
berlangsung. Lembaga arkeologi kearifan lokal.
perlu merekomendasikan dan
mengkaji secara lintas sektoral,
seluruh situs yang masih ada
untuk megetahui eksistensinya
dalam menggali identitas jatidiri
bangsa.
Eksternal:
 Bagi stakeholder, lembaga
lingkungan hidup, kebudayaan
dan pariwisata perlu ikut menjaga
dan meletarikan upacara adat dan
tradisi yang masih berlangsung
dalam masyarakat, karena
merupakan identitas suatu daerah
untuk menjaga lingkungan alam
supaya tidak rusak, sebagai
kearifan lokal untuk mengatasi

160 Berkala Arkeologi Vol.35 Edisi No.2 November 2015: 145-162


DAFTAR PUSTAKA

Bemmelen, R.W. van. 1949. The Geology of Indonesia, Vol.I. General Geology of
Indonesia and Adjecent, Government Printing Office, The Hague.

Hole. Frank and Robert F. Heizer.1973 An Introduction to Prehistoric


Archaeology 3nd editions, New York: Holt, Rinehart and Winston Inc.,

Istari, Rita. 2009. Arsitektur Candi Sanggar Di Lereng Gunung Bromo Kabupaten
Pasuruan (Tahap IV). Laporan Penelitian Arkeologi (LPA). Balai
Arkeologi Yogyakarta.

Koentjaraningrat, 1981. Pengantar Ilmu Antropologi. Aksara Baru, Jakarta.

Nababan, A. 1995. Kearifan Tradisional dan Pelestarian Lingkungan Hidup di


Indonesia. Analisis CSIS, Th XXIV, No.6.,Nov-Des.

Prasetyo,. Bagyo, Dwi Yani Yuniawati (ed).2004. Religi pada Masyarakat


Prasejarah di Indonesia. Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.
Proyek Penelitian dan Pengembangan Arkeologi, Jakarta.

Soejono, R.P., 1984. “Jaman Prasejarah di Indonesia”, dalam Sejarah Nasional


Indonesia, Vol.I.PN Balai Pustaka, Jakarta.

Subalidinata, RS. 1982. Nilai-Nilai Tradisional yang Tercermin dalam Sastra Budaya
Jawa (Fungsi dan Tugasnya). Makalah pada Saresehan Nilai Kesejarahan
dan Nilai Tradisional. Yogyakarta: Balai Kajian Sejarah dan Nilai
Tradisional, Depdikbud.

Sukarto, MM. 1989. Ruwatan Merapi sebuah Tradisi. Paper. Dalam Lembaga
Javanologi Yayasan Panunggalan. Yogyakarta. 1998.

Suyami, dkk. 2015. Kajian Kebencanaan dalam Naskah Panjeblugipun Redi Kelud,
Seminar Proposal Penelitian, 24-25 Februari 2015. Balai Pelestarian
Nilai Budaya Yogyakarta.

Sumintarsih, dkk. 2005. Kearifan Lokal di Lingkungan Masyarakat Nelayan


Madura. Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta.
Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.

Watson, Patty Jo. Steven A.Le Blanc. Charles L. Redman.1971. Explanation in


Archaeology: An Explicity Scientific Approaach. New York: Colombia
University Press.

Tradisi Ruwatan: Bersih Bumi Kearifan Lokal dalam Mitigasi bencana 161
(T.M Hari Lelono)
Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2012. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Sumber dari internet:


http://lipsus.kompas.com/jalanjalan/read/2010/11/09/04270659/Ritual..quot.Ruwat.T
olak.Bala.quot..untuk.Merapi/ Diunduh pada tanggal 10 maret 2015. Pukul
09.35 WIB.

162 Berkala Arkeologi Vol.35 Edisi No.2 November 2015: 145-162

Anda mungkin juga menyukai