Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Setiap melakukan penelitian harus mempunyai masalah penelitian yang
akan dipecahkan. Perumusan masalah ini bukanlah pekerjaan yang mudah,
termasuk bagi peneliti-peneliti yang sudah berpengalaman. Padahal masalah
selalu ada di lingkungan sekeliling kita. Masalah penelitian dipilih berdasarkan
beberapa pertimbangan, antara lain dilihat dari sisi waktu, biaya, kemampuan si
peneliti maupun kontribusi yang akan diberikan oleh penelitian tersebut bagi
pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Langkah awal memulai penelitian adalah merumuskan masalah yang akan
diteliti. Tahap ini paling penting dalam penelitian, karena jalannya penelitian
dituntun perumusan masalah yang merupakan sumber utama dari unsur penelitian
yang akan dilaksanakan. Perumusan masalah merupakan hulu dari penelitian, dan
merupakan langkah yang penting dan pekerjaan yang sulit dalam penelitian
ilmiah.
Untuk itu diperlukan perumusan tujuan penelitian yang jelas yang
mencakup pernyataan tentang mengapa penelitian dilakukan, sasaran penelitian,
dan dampak hasil penelitian. Dengan identifikasi yang jelas peneliti akan
mengetahui variabel yang akan diukur dan apakah ada alat-alat untuk mengukur
variabel tersebut. Variabel penelitian biasa didefinisikan sebagai faktor yang
apabila diukur memberikan nilai yang bervariasi. Ada pula yang mendefinisikan
variabel sebagai suatu karakteristik dari orang, objek atau gejala yang memiliki
nilai yang berbeda-beda (Sandjaja, 2006).
Dengan dilakukan penelitian maka dihasilkan berbagai macam ilmu
pengetahuan yang dapat dimanfaatkan oleh manusia. Salah satu hal penting yang
dilakukan terutama dalam penelitian kuantitatif adalah merumuskan hipotesis.
Hipotesis merupakan elemen penting dalam penelitian kuantitatif, hipotesis dapat
diuji dan ditunjukkan kemungkinan benar atau tidak benar. Selain itu seorang
peneliti juga harus mengetahui bagaimana cara menguji hipotesis agar terhindar
dari kekeliruan yang mungkin terjadi dalam pengujian hipotesis.

1
Tinjauan pustaka (literature review) merupakan salah satu bab yang hampir
selalu ditemukan dalam proposal penelitian dan laporan penelitian, termasuk
skripsi, tesis, dan disertasi. Tinjauan pustaka tidak ditemukan dalam sebuah
artikel jurnal ilmiah atau prosiding seminar ilmiah, dan fungsi tinjauan pustaka di
sini diambil alih oleh bagian pendahuluan.
Membuat tinjauan pustaka yang baik tidaklah mudah dan memerlukan
keterampilan dan usaha dari kita. Perlu diketahui bahwa tinjauan pustaka bukan
hanya sekedar daftar hasil penelitian sebelumnya yang sudah diterbitkan. Lebih
daripada itu, kita harus melakukan evaluasi dan sintesis sehingga sebuah tinjauan
pustaka yang kita hasilkan memiliki nilai akademik yang tinggi. Maka dalam
makalah ini, penulis akan membahas tentang perumusan masalah, variabel,
hipotesis penelitian, dan literature review.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan perumusan masalah?
2. Bagaimana merumuskan suatu masalah dalam penelitian?
3. Apa yang dimaksud dengan variabel dalam penelitian?
4. Apa saja jenis dari variabel dalam penelitian?
5. Apa yang dimaksud dengan hipotesis penelitian?
6. Bagaimana suatu hipotesis dalam penelitian?
7. Apa yang dimaksud dengan literature review?
8. Bagaimana membuat suatu literature review dalam penelitian?

1.3 Tujuan
1. Untuk menjelaskan tentang perumusan masalah.
2. Untuk menjelaskan bagaimana merumuskan suatu masalah dalam penelitian.
3. Untuk mengetahui dari penjelasan tentang variabel dalam penelitian.
4. Untuk mengetahui apa saja jenis dari variabel penelitian.
5. Untuk menjelaskan apa itu hipotesis penelitian.
6. Untuk menjelaskan bagaimana suatu hipotesis dalam penelitian.
7. Untuk mengetahui apa itu literature review.
8. Untuk menjelaskan cara membuat suatu literature review dalam penelitian.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Perumusan Masalah


1. Defenisi Perumusan Masalah
Perumusan masalah atau research questions atau disebut juga sebagai
research problem, diartikan sebagai suatu rumusan yang mempertanyakan suatu
fenomena, baik dalam kedudukannya sebagai fenomena mandiri, maupun dalam
kedudukannya sebagai fenomena yang saling terkait di antara fenomena yang satu
dengan yang lainnya, baik sebagai penyebab maupun sebagai akibat.
Beberapa para ahli mendefinisikan tentang perumusan masalah, diantaranya:
a. Menurut Pariata Westra (1981:263) bahwa “Suatu masalah yang terjadi apabila
seseorang berusaha mencoba suatu tujuan atau percobaannya yang pertama
untuk mencapai tujuan itu hingga berhasil.”
b. Menurut Sutrisno Hadi (1973:3) “Masalah adalah kejadian yang menimbulkan
pertanyaan kenapa dan kenapa”. Perumusan masalah merupakan salah satu
tahap diantara sejumlah tahap penelitian yang memiliki kedudukan yang sangat
penting dalam kegiatan penelitian. Tanpa perumusan masalah, suatu kegiatan
penelitian akan menjadi sia-sia dan bahkan tidak akan membuahkan hasil apa-
apa.
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam perumusan masalah yaitu:
a. Dirumuskan secara jelas
b. Menggunakan kalimat tanya dengan mengajukan alternaatif tindakan yang
akan dilakukan
c. Dapat diuji secara empiris
d. Mengandung deskripsi tentang kenyataan yang ada dan keadaan yang
diinginkan
e. Disusun dalam bahasa yang jelas dan singkat
f. Jelas cangkupannya
g. Memungkinkan untuk dijawab dengan mempergunakan metode atau teknik
tertentu

3
2. Manfaat Perumusan Masalah
Perumusan masalah memiliki fungsi sebagai berikut yaitu fungsi pertama
adalah sebagai pendorong suatu kegiatan penelitian menjadi diadakan atau dengan
kata lain berfungsi sebagai penyebab kegiatan penelitian itu menjadi ada dan
dapat dilakukan. Fungsi kedua, adalah sebagai pedoman, penentu arah atau fokus
dari suatu penelitian. Perumusan masalah ini tidak berharga mati, akan tetapi
dapat berkembang dan berubah setelah peneliti sampai di lapangan. Fungsi ketiga
dari perumusan masalah, adalah sebagai penentu jenis data macam apa yang perlu
dan harus dikumpulkan oleh peneliti, serta jenis data apa yang tidak perlu dan
harus disisihkan oleh peneliti. Keputusan memilih data mana yang perlu dan data
mana yang tidak perlu dapat dilakukan peneliti, karena melalui perumusan
masalah peneliti menjadi tahu mengenai data yang bagaimana yang relevan dan
data yang bagaimana yang tidak relevan bagi kegiatan penelitiannya. Sedangkan
fungsi keempat dari suatu perumusan masalah adalah dengan adanya perumusan
masalah penelitian, maka para peneliti menjadi dapat dipermudah di dalam
menentukan siapa yang akan menjadi populasi dan sampel penelitian.
Kegiatan penelitian yang menggunakan tenaga, waktu dan biaya yang tidak
sedikit semestinya dapat menghasilkan manfaat. Penelitian harus dilaksanakan
dengan tujuan memberikan sumbangsih bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan
peningkatan efektivitas kerja.

3. Kriteria-Kriteria Perumusan Masalah


Ada setidak-tidaknya tiga kriteria yang diharapkan dapat dipenuhi dalam
perumusan masalah penelitian yaitu ;
a. Kriteria pertama dari suatu perumusan masalah adalah berwujud kalimat tanya
atau yang bersifat kalimat interogatif, baik pertanyaan yang memerlukan
jawaban deskriptif, maupun pertanyaan yang memerlukan jawaban
eksplanatoris, yaitu yang menghubungkan dua atau lebih fenomena atau gejala
di dalam kehidupan manusaia.
b. Kriteria kedua dari suatu masalah penelitian adalah bermanfaat atau
berhubungan dengan upaya pembentukan dan perkembangan teori, dalam arti
pemecahannya secara jelas, diharapkan akan dapat memberikan sumbangan

4
teoritik yang berarti, baik sebagai pencipta teori-teori baru maupun sebagai
pengembangan teori-teori yang sudah ada.
c. Kriteria ketiga, adalah bahwa suatu perumusan masalah yang baik, juga
hendaknya dirumuskan di dalam konteks kebijakan pragmatis yang sedang
aktual, sehingga pemecahannya menawarkan implikasi kebijakan yang relevan
pula, dan dapat diterapkan secara nyata bagi proses pemecahan masalah bagi
kehidupan manusia.
Dalam penelitian diperlukan sebuah masalah yang baik. Dalam memilih
masalah yang baik peneliti harus memperhatikan beberapa hal berikut:
a. Masalah harus mempunyai keaslian
Sebuah masalah yang akan diteliti hendaknya adalah masalah yang up to
date. Maksudnya adalah masalah yang diteliti belum pernah diteliti sebelumnya
oleh peneliti lain. Masalah juga harus mempunyai nilai ilmiah atau aplikasi
ilmiah, sehingga penelitian akan semakin berkualitas. Selain itu, masalah yang
diteliti boleh jadi adalah masalah-masalah yang terlewatkan dari perhatian
masyarakat selama ini atau bisa juga masalah yang akan memunculkan sebuah
teori baru.
b. Masalah harus menyatakan suatu hubungan
Masalah yang baik adalah masalah yang menyatakan sebuah hubungan
antara variabel-variabel tertentu yang saling berkaitan. Hal ini perlu diperhatikan
agar penelitian yang dilakukan lebih bermakna. Biasanya variabel-variabel yang
dipakai untuk mewakili unsur-unsur yang ada dalam penelitian dilambangkan
dengan huruf X, Y, dan Z.
c. Masalah harus merupakan hal yang penting
Masalah yang diteliti haruslah merupakan hal yang penting dan bukan
masalah yang sepele untuk diteliti. Karena diharapkan hasil akhir dari penelitian
adalah sebuah fakta dan kesimpulan yang dapat bermanfaat di sebuah bidang
tertentu dan dapat diterbitkan di jurnal ilmu pengetahuan. Tidak hanya itu, hasil
penelitian juga dapat menjadi bahan referensi dalam menyusun buku-buku teks.
d. Masalah harus dapat diuji
Seorang peneliti harus pandai dalam memilih masalah yang akan diteliti.
Masalah yang akan diteliti hendaknya adalah masalah yang dapat diuji. Sebaiknya

5
masalah yang dipilih adalah masalah yang dapat memberikan implikasi untuk
dilakukan uji empirisnya. Hal ini dimaksudkan agar penelitian dapat dilihat secara
jelas hubungan antar variabel yang saling berkaitan dalam masalah yang sedang
diteliti dan dapat tentu saja dapat diukur.
e. Masalah harus dapat dinyatakan dalam bentuk pertanyaan
Masalah yang menarik adalah masalah yang dapat menimbulkan
pertanyaan. Tapi peneliti juga harus dapat menggambarkan masalah yang sedang
diteliti dengan jelas, sehingga tidak membingungkan orang yang membacanya dan
dapat dilakukan uji untuk menyatakan jawaban dan kebenarannya.
f. Mempunyai fisibilitas
Masalah yang baik adalah masalah yang mempunyai fisibilitas, yaitu
masalah tersebut harus mempunyai nilai pemecahan dan dapat dipecahkan. Hal ini
dimaksudkan agar penelitian dapat berguna dan tidak sia-sia.
g. Sesuai dengan kualifikasi peneliti
Masalah yang akan diteliti hendaknya adalah masalah yang nantinya akan
dapat dipecahkan oleh peneliti. Mengapa demikian, karena agar penelitian yang
telah dilakukan tidak terhenti di tengah proses pengerjaan karena
ketidakmampuan seorang peneliti untuk memecahkan masalah yang sedang
diteliti sehingga akan sia-sia.

4. Pembatasan Masalah
Masalah adalah lebih dari sekedar pertanyaan, dan jelas berbeda dengan
tujuan. Pertanyaan, lebih lanjut harus dirumuskan dan dibatasi secara spesifik agar
tidak menimbulkan kebingungan dalam mengetahui dengan jelas keterangan dan
data apa sebenarnya yang harus dikumpulkan serta kesimpulan apa yang pada
akhirnya dapat diambil pada hasil penelitian. Masalah penelitian dapat berasal dari
berbagai sumber. Dalam hal ini tentu peneliti terlebih dahulu harus melukiskan
masalah seluas mungkin yang dapat dijangkau oleh pikirannya berdasarkan
realitas yang ditemukannya. Namun, karena keterbatasan kemampuan, baik
pengetahuan, waktu, tenaga, biaya dan fasilitas lainnya, maka peneliti harus
membatasi masalahnya.
Masalah dalam penelitian dapat dibatasi dengan bertumpu pada sesuatu

6
fokus. Masalah adalah suatu keadaan yang bersumber dari hubungan antara dua
faktor atau lebih yang menghasilkan situasi yang menimbulkan tanda-tanya dan
dengan sendirinya memerlukan upaya untuk mencari sesuatu jawaban. Faktor
yang berhubungan tersebut dalam hal ini mungkin berupa konsep, data empiris,
pengalaman, atau unsur lainnya. Jika kedua faktor itu diletakkan secara
berpasangan akan menghasilkan sejumlah tanda-tanya, kesukaran yaitu sesuatu
yang tidak dipahami atau tidak dapat dijelaskan pada waktu itu.

5. Model Perumusan Masalah


Berdasarkan level of explanation suatu gejala, Loncoln dan Guba
sebagaimana yang dikutip Muhadjir, membagi model rumusan masalah secara
umum dalam tiga bentuk rumusan masalah, yaitu rumusan masalah deskriptif,
komparatif dan assosiatif.
a. Rumusan masalah deskriptif
Merupakan suatu rumusan masalah yang memandu peneliti untuk
mengeksplorasi dan atau memotret situasi sosial yang akan diteliti secara
menyeluruh, luas dan mendalam.
b. Rumusan masalah komparatif
Merupakan rumusan masalah yang memandu peneliti untuk
membandingkan antara konteks sosial atau domain satu dibandingkan dengan
yang lain.
c. Rumusan masalah assosiatif
Merupakan hubungan rumusan masalah yang memandu peneliti untuk
mengkonstruksi hubungan antara situasi sosial atau domain satu dengan yang
lainnya. Rumusan masalah assosiatif dibagi menjadi tiga yaitu, hubungan simetris,
kausal, dan reciprocal atau interaktif. Hubungan kausal adalah hubungan yang
bersifat sebab akibat. Selanjutnya hubungan interaktif adalah hubungan yang
saling mempengaruhi. Dalam penelitian kualitatif hubungan yang diamati atau
ditemukan adalah hubungan yang bersifat reciprocal atau interaktif.
Dalam penelitian kuantitatif, ketiga rumusan masalah tersebut terkait
dengan variabel penelitian, sehingga rumusan masalah penelitian sangat spesifik,
dan akan digunakan sebagai panduan bagi peneliti untuk menentukan landasan

7
teori, hipotesis, instrumen, dan teknik analisis data. Oleh karena itu, rumusan
masalah yang merupakan fokus penelitian masih bersifat sementara dan akan
berkembang setelah peneliti masuk lapangan atau situasi sosial tertentu. Namun
demikian, setiap peneliti baik peneliti kuantitatif maupun kualitatif tetap harus
membuat rumusan masalah. Pertanyaan penelitian kualitatif dirumuskan dengan
maksud untuk memahami gejala yang kompleks dalam kaitannya dengan aspek-
aspek lain (in context). Peneliti yang menggunakan pendekatan kualitatif, pada
tahap awal penelitiannya akan mengembangkan fokus penelitian sambil
mengumpulkan data. Proses seperti ini disebut “emergent design”. Namun yang
jelas, tidak ada keseragaman model rumusan masalah dalam penyajian, karena
para peneliti berasal dari berbagai macam disiplin ilmu dengan beragam latar
belakang metodologi penelitian.

6. Prinsip-Prinsip Perumusan Masalah


a. Prinsip yang berkaitan dengan teori dari dasar
Peneliti hendaknya senantiasa menyadari bahwa perumusan masalah dalam
penelitiannya didasarkan atas upaya menemukan teori dari-dasar sebagai acuan
utama. Dengan hal itu berarti bahwa masalah sebenarnya terletak dan berada di
tengah-tengah kenyataan, atau fakta atau fenomena.
b. Prinsip yang berkaitan dengan maksud perumusan masalah
Pada dasarnya inti hakikat penelitian kualitatif terletak pada upaya
penemuan dan penyusunan teori baru.
c. Prinsip hubungan faktor
Masalah merupakan rumusan yang terdiri atas dua atau lebih faktor yang
menghasilkan kebingungan. Faktor-faktor itu dapat berupa konsep, peristiwa,
pengalaman, atau fenomena. Definisi tersebut mengarah pada tiga aturan tertentu
yang perlu dipertimbangkan oleh peneliti pada waktu merumuskan masalah, yaitu
: (1) Adanya dua atau lebih factor, (2) Faktor-faktor itu dihubungkan dalam suatu
hubungan yang logis atau bermakna, dan (3) Hasil pekerjaan menghubungkan
tadi berupa suatu keadaan yang membingungkan, suatu keadaan berupa tanda
tanya, yang memerlukan pemecahan atau untuk menjawab.

8
d. Fokus sebagai wahana untuk membatasi studi
Penelitian kualitatif bersifat terbuka, artinya tidak mengharuskan peneliti
menganut suatu orientasi teori tertentu. Dalam penelitian kualiatatif, pilihan
subjektif peneliti dihormati dan dihargai. Pilihan itu bisa didasarkan pada
paradigma ilmiah atau alamiah.
e. Prinsip yang berkaitan dengan kriteria inklusi-ekslusi
Perumusan masalah yang baik adalah yang dilakukan sebelum terjun ke
lapangan dan yang mungkin disempurnakan pada awal ia terjun ke lapangan akan
membatasi peneliti guna memilih data mana yang relevan dan mana pula yang
tidak.
f. Prinsip berkaitan dengan bentuk dan cara perumusan asalah
Ada dua bentuk perumusan masalah, yaitu :
1. Secara diskusi, yakni yang disajikan secara diskriptif tanpa pertanyaan-
pertanyaan peneliti.
2. Secara proporsisional, yakni secara langsung menghubungkan faktor-faktor
dalam hubungan logis dan bermakna; dalam hal ini ada yang disajikan dalam
bentuk uraian atau deskriptif dan ada pula yang langsung dalam bentuk
pertanyaan-pertanyaan peneliti.
g. Prinsip sehubungan dengan posisi perumusan masalah
Yang dimaksud dengan posisi di sini tidak lain adalah kedudukan unsur
rumusan masalah di antara unsur-unsur penelitian lainnya. Unsur-unsur penelitian
lainnya yang erat kaitannya dengan perumusan masalah adalah “latar belakang
masalah”, “tujuan’, dan “metode penelitian”.
h. Prinsip yang berkaitan dengan hasil kajian kepustakaan
Pada dasarnya perumusan masalah itu tidak dapat dipisahkan dari hasil
kajian kepustakaan yang berkaitan.

Contoh perumusan masalah dalam skripsi:


“MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK MELALUI
PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN IDEAL PROBLEM SOLVING PADA
POKOK BAHASAN KELARUTAN DAN HASIL KALI KELARUTAN DI KELAS XI MIA
1 SMAN 2 PEKANBARU”

9
Identifikasi Masalah: 1. Rendahnya aktivitas belajar peserta didik. 2. Sebagian kecil peserta didik
yang mau berdiskusi dalam kelompok dan aktif mengerjakan LKPD secara mandiri. 3. Peserta
didik lainnya merasa kesulitan dalam memecahkan persoalan yang terdapat dalam LKPD,
sehingga membuat sebagian besar peserta didik hanya menyalin LKPD yang telah dikerjakan oleh
temannya. 4. Peserta didik tidak menguasai materi.
Analisis Masalah : Berdasarkan masalah tersebut dapat dianalisa bahwa penyebab rendahnya
aktivitas belajar peserta didik adalah proses pembelajaran yang didominasi oleh peserta didik yang
pintar saja membuat peserta didik lainnya cenderung lebih diam dan pasif dalam proses
pembelajaran. Suasana belajar menjadi lebih monoton sehingga peserta didik menjadi jenuh dan
tidak termotivasi untuk ikut aktif dalam pembelajaran.
Rumusan Masalah : rumusan dari penelitian ini, yaitu:
 Apakah penerapan strategi pembelajaran IDEAL problem solving pada pokok bahasan
kelarutan dan hasil kali kelarutan dapat meningkatkan aktivitas belajar peserta didik di
kelas XI MIA 1 SMAN 2 Pekanbaru?
 Apakah penerapan strategi pembelajaran IDEAL problem solving pada pokok bahasan
kelarutan dan hasil kali kelarutan dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik di kelas
XI MIA 1 SMAN 2 Pekanbaru?

2.2 Variabel
1. Pengertian Variabel
Variabel dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mempunyai arti
dapat berubah-ubah, bermacam-macam, berbeda-beda (tentang harga, mutu, dan
sebagainya).
Secara Teoritis, para ahli telah mendefinisikan variabel sebagai berikut :
a. Hatch & Farhady (1981)
Variabel didefinisikan sebagai atribut seseorang atau obyek yang
mempunyai variasi antara satu orang dengan yang lain atau satu obyek dengan
obyek yang lain.
b. Kerlinger (1973)
Variabel adalah konstruk (constructs) atau sifat yang akan dipelajari.
Misalnya: tingkat aspirasi, penghasilan, pendidikan, status sosial, jenis kelamin,
golongan gaji, produktivitas kerja, dll. Variabel dapat dikatakan sebagai suatu
sifat yang diambil dari suatu nilai yang berbeda (different values).

Dengan demikian, variabel itu adalah suatu yang bervariasi. Variabel


penelitian biasa didefinisikan sebagai faktor yang apabila diukur memberikan nilai

10
bervariasi. Ada pula yang mendefinisikan variabel sebagai suatu karakteristik dari
orang, obyek atau gejala yang memiliki nilai yang berbeda-beda.

2. Jenis Variabel
a. Variabel Bebas (Independent Variable)
Variabel bebas adalah variabel yang diduga sebagai penyebab timbulnya
variabel lain. Variabel bebas biasanya dimanipulasi, diamati dan diukur untuk
mengetahui pengaruhnya terhadap variabel lain.
Contoh, jika dalam sebuah penelitian dinyatakan akan berusaha
mengungkap “pengaruh motivasi belajar terhadap prestasi mahasiswa” maka
variabel bebasnya adalah “motivasi belajar”. Disebut variabel bebas karena
variabel ini tidak bergantung pada variabel lain. Sedangkan variabel “prestasi
belajar” bergantung dan dipengaruhi oleh variabel “motivasi belajar”.
b. Variabel terikat (Dependent Variable)
Variabel terikat adalah variabel yang keberadaannya menjadi suatu akibat
dikarenakan adanya variabel bebas. Disebut variabel terkait karena kondisi atau
variasinya terkait dan dipengaruhi oleh variasi variabel lain.
Contoh variabel dependen:
Apabila seorang peneliti hendak mengungkap “pengaruh motivasi belajar
terhadap prestasi belajar siswa” maka yang menjadi variabel terikatnya adalah
“prestasi belajar siswa”. Variabel ini dinamakan sebagai variabel terikat karena
tinggi dan rendahnya prestasi siswa itu tergantung variabel motivasi belajarnya.
c. Variabel Kontrol (Control Variable)
Variabel kontrol adalah variabel yang dikontrol oleh peneliti untuk
menetralkan pengaruhnya terhadap variabel tergantung. Dalam penelitian di
samping strategi pembelajaran dan tingkat kecerdasan, peneliti juga
mempertimbangkan tingkat usia, misalnya kelompok umur tertentu, maka umur
dalam penelitia ini dianggap sebagai variabel kendali.

d. Variabel Moderating (Moderating Variable)

11
Variabel moderating adalah variabel yang memperkuat atau memperlemah
hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat. Variabel moderating juga
sering disebut sebagai variabel bebas kedua dan sering dipergunakan dalam
analisis regresi linear atau pada structural equation modelling.
Hipotesis : Kecermatan membaca siswa perempuan lebih baik daripada siswa
laki-laki setelah mereka mendapat pembelajaran membaca cepat dan lambat.
Variabel bebas : pembelajaran membaca cepat dan lambat.
Variabel terikat : kecermatan.
Variabel moderating : siswa perempuan dan laki-laki.
e. Variabel Intervening (Intervening Variable)
Variabel intervening adalah variabel yang menjadi media pada suatu
hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat. Adalah yang tidak pernah
diamati dan hanya disimpulkan berdasarkan pada variabel terikat dan bebas.
Contoh:
Hipotesis: Pada siswa yang memiliki minat yang meningkat terhadap tugas yang
diberikan, unjuk kerja terhadap tugas yang diukur meningkat.
Variabel bebas : minat terhadap tugas
Variabel intervening : belajar
Variabel terikat : unjuk kerja tugas

3. Jenis Pengukuran Variabel


Dilihat dari jenis pengukuran dan urutannya, variabel dapat dibedakan
menjadi 3 jenis: nominal, ordinal, dan interval.
a. Variabel nominal
Variabel nominal adalah variabel dimana tidak ada keharusan mengurutkan
kategorinya. Peubahan penyusunan kategori variabel nominal tidak membawa
perubahan makna yang berarti.
b. Variabel ordinal
Variabel ordinal adalah variabel dimana kategorinya dapat diurutkan.
Namun demikian, jarak antara satu kategori dengan kategori sesudah atau
sebelumnya tidak sama sebagaimana halnya pada variabel interval.

c. Variabel interval

12
Variabel interval adalah variabel yang kategorinya dapat diurutkan dan jarak
antara satu kategori dengan kategori berikutnya dapat dihitung dengan tepat.
Sebagai contoh sejumlah mahasiswa dilihat dari sudut IPK nya.
IPK:
A. 3,01 – 4,00
B. 2,01 – 3,00
C. 1,01 – 2,00
D. 0,01 – 1,00

2.3 Hipotesis
1. Pengertian Hipotesis
Hipotesis berasal dari bahasa Yunani: hypo yang artinya di bawah, thesis
artinya pendirian, pendapat yang ditegakkan, kepastian. Artinya, hipotesa
merupakan sebuah istilah ilmiah yang digunakan dalam rangka kegiatan ilmiah
yang mengikuti kaidah-kaidah berfikir biasa, secara sadar, teliti dan terarah.
Dalam penggunaannya sehari-hari, hipotesa ini sering juga disebut dengan
hipotesis, tidak ada perbedaan makna di dalamnya.
Hipotesis atau hipotesa adalah jawaban sementara terhadap masalah yang
masih bersifat praduga karena masih harus dibuktikan kebenarannya. Dikatakan
sementara karena jawaban yang diberikan baru didasarkan pada teori yang
relevan, belum didasarkan pada fakta-fakta empiris yang diperoleh melalui
pengumpulan data. Oleh karena itu, setiap penelitian yang dilakukan memiliki
suatu hipotesis atau jawaban sementara terhadap penelitian yang akan dilakukan.
Dari hipotesis tersebut akan dilakukan penelitian lebih lanjut untuk membuktikan
apakah hipotesis tersebut benar adanya atau tidak benar. Hipotesis
ilmiah mencoba mengutarakan jawaban sementara terhadap masalah yang akan
diteliti. Hipotesis menjadi teruji apabila semua gejala yang timbul tidak
bertentangan dengan hipotesis tersebut.

2. Fungsi Hipotesis

13
Ada beberapa fungsi hipotesis yaitu :
a. Memperkenalkan penelitian untuk berpikir dari awal suatu penelitian
b. Menentukan tahap atau prosedur penelitian
c. Membantu menetapkan bentuk untuk penyajian, analisis dan interprestasi data

3. Ciri-Ciri Hipotesis
Ciri-ciri hipotesis sebagai berikut :
a. Hipotesis hanya dinyatakan dalam bentuk pernyataan (statement) bukan dalam
bentuk kalimat tanya.
b. Hipotesis harus tumbuh dari ilmu pengetahuan yang diteliti. Hal ini berarti
bahwa hipotesis hendaknya berkaitan dengan lapangan ilmu pengetahuan yang
sedang atau akan diteliti.
c. Hipotesis harus dapat diuji. Hal ini berarti bahwa suatu hipotesis harus
mengandung atau terdiri dari variabel-variabel yang diukur dan dapat
dibanding-bandingkan. Hipotesis yang tidak jelas pengukuran variabelnya akan
sulit mencapai hasil yang objektif.
d. Hipotesis harus sederhana dan terbatas. Artinya hipotesis yang tidak
menimbulkan perbedaan-perbedaan, pengertian, serta tidak terlalu luas
sifatnya.
Agar dapat merumuskan hipotesis yang memenuhi kriteria tersebut perlu
dipertimbangkan berbagai hal antara lain yang terpenting adalah teknik yang akan
digunakan dalam menguji rumusan hipotesis yang dibuat. Apabila suatu teknik
tertentu dalam rumusan hipotesis ditetapkan, maka bentuk rumusan hipotesis yang
dibuat dapat digunakan dalam penelitian.

4. Penjelasan Mengenai Hipotesis yang Baik


Beberapa penjelasan mengenai hipotesis yang baik antara lain :
a. Hipotesis harus menduga hubungan diantara beberapa variabel
Hipotesis harus dapat menduga hubungan antara dua variabel atau lebih,
disini harus dianalisis variabel-variabel yang dianggap turut mempengaruhi
gejala-gejala tertentu dan kemudian diselidiki sampai dimana perubahan dalam
variabel yang satu membawa perubahan pada variabel yang lain.

14
b. Hipotesis harus dapat diuji
Hipotesis harus dapat diuji untuk dapat menerima atau menolaknya, hal ini
dapat dilakukan dengan mengumpulkan data-data empiris.
c. Hipotesis harus konsisten dengan keberadaan ilmu pengetahuan
Hipotesis tidak bertentangan dengan pengetahuan yang telah ditetapkan
sebelumnya. Dalam beberapa masalah, dan terkhusus pada permulaan penelitian,
ini harus berhati-hati untuk mengusulkan hipotesis yang sependapat dengan ilmu
pengetahuan yang sudah siap ditetapkan sebagai dasar. Serta poin ini harus sesuai
dengan yang dibutuhkan untuk memeriksa literatur dengan tepat oleh karena itu
suatu hipotesis harus dirumuskan berdasarkan dari laporan penelitian sebelumnya.
d. Hipotesis dinyatakan secara sederhana
Suatu hipotesis akan dipresentasikan kedalam rumusan yang berbentuk
kalimat deklaratif, hipotesis dinyatakan secara singkat dan sempurna dalam
menyelesaikan apa yang dibutuhkan peneliti untuk membuktikan hipotesis
tersebut.

5. Menguji Hipotesis
Suatu hipotesis harus dapat diuji berdasarkan data empiris, yakni
berdasarkan apa yang dapat diamati dan dapat diukur. Untuk itu peneliti harus
mencari situasi empiris yang memberi data yang diperlukan.Setelah kita
mengumpulkan data, selanjutnya kita harus menyimpulkan hipotesis, apakah
harus menerima atau menolak hipotesis.

6. Peranan Hipotesis Dalam Penelitian


Secara garis besar hipotesis dalam penelitian mempunyai peranan sebagai
berikut :
a. Memberikan batasan dan memperkecil jangkauan penelitian.
b. Memfokuskan perhatian dalam rangka pengumpulan data.
c. Sebagai panduan dalam pengujian serta penyesuaian dengan fakta atau data.
d. Membantu mengarahkan dalam mengidentifikasi variabel-variabel yang akan
diteliti (diamati).
7. Jenis – Jenis Hipotesis
a. Hipotesis Nol (Ho)

15
Hipotesis nol (Ho) adalah hipotesis yang menyatakan tidak adanya
hubungan antara variabel independen (X) dan variabel dependen (Y). Artinya,
dalam rumusan hipotesis, yang diuji adalah ketidakbenaran variabel (X)
mempengaruhi (Y). Ex: “tidak ada hubungan antara warna baju dengan
kecerdasan mahasiswa”.
b. Hipotesis Kerja (H1)
Hipotesis Kerja (H1) adalah hipotesis yang menyatakan adanya hubungan
antara variabel independen (X) dan variabel dependen (Y) yang diteliti. Hasil
perhitungan H1 tersebut, akan digunakan sebagai dasar pencarian data penelitian.

Macam-macam hipotesis dalam penelitian yaitu :


a. Hipotesis Deskriptif
Adalah dugaan terhadap satu variabel dalam satu sampel walaupun di
dalamnya bisa terdapat beberapa kategori. Hipotesis deskriptif merupakan
jawaban sementara terhadap masalah deskriptif yaitu yang berkenaan dengan
variabel mandiri. Contoh hipotesis dekriptif :
Ho : Kecenderungan masyarakat memilih warna mobil gelap.
Ha : Kecenderungan masyarakat memilih warna mobil bukan warna gelap.
b. Hipotesis Komparatif
Adalah dugaan terhadap perbandingan nilai dua sampel atau lebih. Dalam
hal komparasi ini terdapat beberapa macam yaitu :
1) Komparasi berpasangan (related) dalam dua sampel dan lebih dari dua sampel
(k sampel).
2) Komparasi independen dalam dua sampel dan lebih dari dua sampel (k
sampel).
Contoh :
 Sampel berpasangan, komparatif dua sampel
Ho : tidak terdapat perbedaan nilai hasil belajar peserta didik sebelum dan sesudah
ada LKPD
Ha : terdapat perbedaan nilai hasil belajar peserta didik sebelum dan sesudah ada
LKPD
 Sampel independen, komparatif tiga sampel

16
Ho : tidak terdapat perbedaan antara birokrat, akademisi dan pebisnis dalam
memilih partai.
Ha : terdapat perbedaan antara birokrat, akademisi dan pebisnis dalam memilih
partai.
c. Hipotesis Asosiatif
Hipotesis asosiatif adalah dugaan terhadap hubungan antara dua variabel
atau lebih. Hipotesis asosiatif merupakan salah satu dari macam-macam hipotesis.
Contoh :
Ho : tidak terdapat hubungan antara jenis profesi dengan jenis olahraga yang
disenangi.
Ha : terdapat hubungan antara jenis profesi dengan jenis olahraga yang disenangi.

Berdasarkan bentuk rumusannya, hipotesis dapat digolongkan tiga yakni:


a. Hipotesis Kerja
Adalah suatu rumusan hipotesis dengan tujuan untuk membuat ramalan
tentang peristiwa yang terjadi apabila suatu gejala muncul. Hipotesis ini sering
juga disebut hipotesis kerja. Biasanya merupakan rumusan pernyataan: Jika…..
maka…….. Artinya, jika suatu faktor atau variabel terdapat atau terjadi pada suatu
situasi, maka ada akibat tertentu yang dapat ditimbulkannya.
b. Hipotesis Nol atau Hipotesis Statistik
Hipotesis nol biasanya dibuat untuk menyatakan sesuatu kesamaan atau
tidak adanya suatu perbedaan yang bermakna antara kelompok atau lebih
mengenai suatu hal yang dipermasalahkan. Bila dinyatakan adanya perbedaan
antara dua variabel, disebut hipotesis alternatif.

2.4 Tinjauan Pustaka (Literature Review)


1. Pengertian Tinjauan Pustaka
Tinjauan pustaka atau disebut dengan nama lain kajian pustaka adalah daftar
referensi dari semua jenis referensi seperti buku, jurnal papers, artikel, disertasi,
tesis, skripsi, hand outs, laboratory manuals, dan karya ilmiah lainnya yang
dikutip di dalam penulisan proposal. Semua referensi yang tertulis dalam kajian
pustaka harus dirujuk di dalam skripsi. Referensi ditulis urut menurut abjad huruf

17
awal dari nama akhir/keluarga penulis pertama dan tahun penerbitan (yang terbaru
ditulis lebih dahulu).
Kajian pustaka dalam suatu penelitian ilmiah adalah salah satu bagian
penting dari keseluruhan langkah-langkah metode penelitian. Cooper dalam
Creswell mengemukakan bahwa kajian pustaka memiliki beberapa tujuan yakni;
menginformasikan kepada pembaca hasil-hasil penelitian lain yang berkaitan erat
dengan penelitian yang dilakukan saat itu, menghubungkan penelitian dengan
literatur-literatur yang ada, dan mengisi celah-celah dalam penelitian-penelitian
sebelumnya.
Selanjutnya Geoffrey dan Airasian mengemukakan bahwa tujuan utama
kajian pustaka adalah untuk menentukan apa yang telah dilakukan orang yang
berhubungan dengan topik penelitian yang akan dilakukan. Selain itu dengan
kajian pustaka tidak hanya mencegah duplikasi penelitian orang lain, tetapi juga
memberikan pemahaman dan wawasan yang dibutuhkan untuk menempatkan
topik penelitian yang kita lakukan dalam kerangka logis. Dengan mengkaji
penelitian sebelumnya, dapat memberikan alasan untuk hipotesis penelitian,
sekaligus menjadi indikasi pembenaran pentingnya penelitian yang akan
dilakukan. Lebih lanjut Anderson mengemukakan bahwa kajian pustaka
dimaksudkan untuk meringkas, menganalisis, dan menafsirkan konsep dan teori
yang berkaitan dengan sebuah proyek penelitian.

2. Fungsi Tinjauan Pustaka


Kesuma (2007:36), salah seorang ahli metodologi penelitian menyebutkan
bahwa terdapat tiga fungsi dari kajian pustaka, yaitu:
a. Untuk memastikan pernahnya masalah yang sedang diteliti dilakukan oleh
peneliti lain.
b. Apakah masalah yang diteliti dikaji secara komprehensif, lengkap dan
hasilnya memuaskan atau tidak.
c. Mengungkapkan kekhasan atau perbedaan masalah yang akan diteliti.

3. Kriteria Pemilihan Sumber Tinjauan Pustaka


Kriteria pemilihan sumber pustaka mencakup:

18
a. Ketetapan (adequacy)
Isi dari sumber pustaka sesuai dengan penelitian yang dilaksanakan.
b. Kejelasan (clarity)
Sumber pustaka harus mudah dipahami atau dimengerti oleh peneliti.
c. Empiris (empericalness)
Sumber pustaka itu berdasarkan pada kenyataan bukan hasil imajinasi.
d. Terorganisasi (organization)
Isi dari sumber pustaka harus terorganisasi dengan baik sehingga memudahkan
peneliti untuk mencari informasi.
e. Kemutakhiran (recency)
Sumber pustaka harus berdasarkan perkembangan terbaru dalam bidangnya (up
to date).
f. Relevansi (relevance)
Sumber pustaka berhubungan dengan penelitian.
g. Meyakinkan (convicingness)
Sumber pustaka dapat menjadi acuan yang terpercaya bagi peneliti.

4. Langkah-Langkah Menyusun Tinjauan Pustaka


Dalam melakukan tinjauan pustaka, baik pada penelitian kaulitatif maupun
penelitian kuantitatif seseorang peneliti harus memulai dengan langkah yang
tepat. Hal ini penting untuk efisiensi waktu serta memberikan arahan darimana
memulai sebuah tinjauan pustaka. Menurut Creswell tahapan melakukan tinjauan
pustaka adalah sebagai berikut:
a. Mengidentifikasi istilah-istilah kunci (identify key terms).
Tahap ini dilakukan dengan memulai penelitian dengan mempersempit
topik penelitian untuk mempermudah penelusuran literatur. Peneliti memilih
istilah kunci dengan menggunakan satu atau dua kata atau satu prase singkat.
Pemilihan harus dilakukan dengan teliti agar mempermudah pelacakan literatur di
perpustakaan maupun internet serta ditemukan literatur yang sesuai dengan topik
penelitian. Berikut strategi yang dapat dilakukan pada tahapan ini:
1) Menulis sebuah “working title” pendahuluan untuk penelitian tersebut.
Kemudian memilih dua atau tiga kata kunci dari judul tersebut yang

19
menggambarkan ide pokok dari penelitian. Walaupun sebagian peneliti
mengubah judul penelitian pada akhir, tetapi “working title” menjaga fokusnya
agar tetap pada ide pokok yang menjadi bahan kajian. Hal ini karena “working
title” dapat direvisi sewaktu-waktu jika dainggap perlu dalam penelitian.
2) Mengajukan pertanyaan umum penelitian yang ingin dijawab dalam penelitian
secara singkat. Pilih dua atau tiga kata dari pertanyaan tersebut yang
merangkum petunjuk utama dalam penelitian.
3) Menggunakan kata-kata yang dipakai oleh penulis.
4) Mencari pada katalog istilah (catalog of terms) untuk mendapatkan literatur
sesuai dengan topik penelitian.
5) Mencari buku yang dimaksud ke rak buku di perpustakaan kampus. Cari
penelitian tujuh atau sepuluh tahun terakhir yang sesuai dengan kata kunci
yang telah dirumuskan.

b. Menentukan tempat literatur (locate literature) sesuai dengan topik yang telah
ditemukan dari database ataupun internet.
Setelah menyelesaikan langkah pertama di atas, peneliti dapat segera
mengumpulkan literatur yang relevan. Pencarian dapat dimulai dengan mengakses
internet dan mencari literatur elektronik yang sesuai dengan topik. Walaupun
proses ini diperbolehkan dalam penelitian, namun hendaknya peneliti berhati-hati
dalam merujuk artikel yang bersumber dari internet. Kadang artikel di internet di
bawah standar ilmiah, namun banyak juga yang mempunyai kualitas yang baik
untuk dirujuk.
Pencarian literatur yang baik dapat dimulai dengan mendiskusikan hal
tersebut kepada pembimbing atau sesama mahasiswa. Berikut hal yang dapat
membantuk dalam sistemisasi sumber kepustakaan:
1) Gunakan perpustakaan akademik. Tempat yang paling tepat untuk memulai
pencarian literatur adalah perpustakaan akademik. Walaupun terdapat
perpustakaan daerah yang menyediakan literatur yang berguna namun
perpustakaan akademik paling tepat dan sesuai untuk penelitian khususnya
penelitian pendidikan. Perpustakaan akademik biasanya menyediakan jurnal

20
online serta berbasis katalog online sehingga memberikan kemudahan kepada
peneliti untuk menemukan lokasi rak buku yang diinginkan.
2) Gunakan sumber primer dan sekunder. Kajian pustaka biasanya berisi sumber
primer dan sumber sekunder. Sumber primer adalah literatur yang ditulis
langsung oleh orang yang melakukan penelitian atau ide asli dari penulis.
Artikel yang dipublikasikan oleh jurnal pendidikan adalah salah satu
contohnya. Sumber sekunder adalah sumber yang disadur dari sumber utama,
atau ringkasan ide yang diambil dari seumber utama. Contohnya adalah buku
pedoman, ensiklopedia, dan jurnal-jurnal yang merangkum penelitian
(antologi). Walaupun diperbolehkan untuk mengutip kedua sumber tersebut,
tapi sumber utama lebih diprioritaskan. Sumber utama memberikan pandangan
asli dari penulis serta menyajikan hasil penelitian yang lebih detil dan asli yang
lebih baik daripada sumber sekunder. Sumber sekunder dapat membantu
sebagai permulaan kajian pustaka, untuk menggali dan menentukan sejauh
mana materi dalam sebuah topik pembahasan.
3) Cari tipe-tipe literatur yang berbeda. Literatur yang digunakan dalam penelitian
hendaknya tidak hanya bersumber dari buku, ada banyak jenis literatur yang
dapat digunakan. Menurut Creswell beberapa tipe literatur sebagai berikut:
i. Ikhtisar/ ringkasan (summaries)
ii. Ensiklopedia (encyclopedia)
iii. Kamus istilah (dictionaries and glossaries of term), kamus yang memuat
kata-kata dengan artinya yang disusun secara alfabetik. Biasanya kamus
yang dipergunakan dalam penelitian adalah kamus khusus dalam sesuai
dengan bidang ilmu.
iv. Buku pedoman (handbooks)
v. Indeks statistik (statistical indexes)
vi. Ulasan dan sintesis atau hasil penelitian (skripsi, tesis, dan disertasi)
vii. Buku (books)
viii. Jurnal, publikasi indeks, dan sumber elektronik (journals, indexed
publications, and electronic sources)
Dewasa ini, dengan kemajuan teknologi literatur tidak hanya didapat melaui
perpustakaan maupun media cetak semisal jurnal dan surat kabar, namun dapat

21
juga dilakukan dengan mengakses internet. Di balik keuntungan menggunakan
literatur dari internet juga terdapat kerugian, dapat dilihat pada tabel berikut:

Keuntungan Kerugian
Kemudahan akses untuk mendapatkan Terkadang tulisan di website tidak
materi dapat dilakukan kapan saja ditulis oleh ahli
sepanjang hari
Website memiliki informasi yang luas Tulisan yang didapat di internet
dalam banyak topik mungkin saja hasil plagiarisme yang
tanpa sepengetahuan peneliti
Website memberikan jaringan yang dapat Bahan yang dibutuhkan mungkin
dihubungi oleh peneliti untuk menjawab sulit didapatkan dan memakan waktu
permasalahan dan topik penelitian untuk menemukannya.
Tulisan yang diterbitkan di website Literatur di website mungkin tidak
adalah informasi terkini diorganisasikan atau diringkas
dengan baik untuk dapat digunakan.
Website dapat dengan mudah dicari Jurnal elektronik yang disajikan
menggunakan mesin pencarian dan kata secara utuh adalah yang baru dan
kunci jumlahnya sangat sedikit
Penelitian pilihan dapat segera dicetak
dari website.

c. Mengevaluasi dan memilih literatur secara kritis untuk dikaji (critically


evaluate and select the literature).
Setelah melalui beberapa tahapan terdahulu hingga literatur telah
ditemukan, peneliti harus memilah mana yang tepat dimasukkan ke dalam kajian
dan mana yang tidak. Hal ini perlu dilakukan agar tidak membuang halaman
dengan teori yang saling tumpang tindih dan menumpuk. Beberapa pertanyaan
berikut dapat membantu apakah literatur relevan untuk dikaji atau tidak:
1) Topik yang relevan: apakah fokus literatur sama dengan proposal penelitian?
2) Individu dan tempat yang relevan: apakah subjek penelitian adalah individu
dan atau tempat yang sama dengan yang akan diteliti?

22
3) Masalah dan pertanyaan penelitian yang relevan: apakah literatur menguji
masalah penelitian yang sama seperti tujuan penelitian? Apakah mempunyai
pertanyaan penelitian yang sama?
4) Relevan untuk dapat diakses: Apakah literatur terdapat di perpustakaan atau
diperoleh dengan mendowload dari website? Apakah dapat memperolehnya
dengan mudah?
Jika semua pertanyaan di atas sesuai dengan keadaan, maka literatur
tersebut dapat ditinjau/ dikaji.

d. Menyusun literatur yang telah dipilih (organize the literature)


Bahan-bahan informasi yang diperoleh kemudian dibaca, dicatat, diatur, dan
ditulis kembali. Penulisan dapat dilakukan dengan menulis abstrak atau membuat
catatan-catatan kecil serta membuat diagram dan sebagainya. Berikut hal-hal yang
dapat dilakukan dalam tahap ini:
1) Mengutip, mengunduh, dan mengarsipkan. Setelah menemukan buku, artikel di
jurnal dan bermacam-macam dokumen lainnya di perpustakaan seorang
peneliti harus mempunyai salinan seluruh informasi tersebut. Untuk
mempermudah kerja, seorang peneliti hendaknya menyusun dan mengarsipkan
dengan baik data-data tersebut. Untuk bahan-bahan ynag didapat dengan cara
mengunduh dari internet dapat disusun di dalam satu folder. Sedangkan bahan
yang berasal dari salinan dokumen dan media cetak lainnya, dapat diarsipkan
di dalam sebuah map atau sejenisnya. Sebagai alternatif, penyusunan bisa
didasarkan pada sumbernya, topik ataupun kata kunci.
2) Membuat catatan-catatan dan merangkum (taking notes and abtracting
studies). Selama proses membaca literatur, peneliti hendaknya membuat
catatan informasi dari literatur tersebut. Membuat catatan ini berguna untuk
merangkum ide pokok dari sumber yang sedang dibaca, agar ketika menulis
kajian seorang peneliti tidak mengalami kesulitan. Selain itu, membuat
rangkuman atau abstrak literatur yang telah dibaca juga penting. Abstrak
adalah rangkuman yang memuat informasi utama atau artikel yang
disampaikan secara ringkas (biasanya tidak lebih dari 350 kata) dan ditulis
dengan komponen yang spesifik yang mendeskripsikan penelitian. Untuk

23
menghindari plagiarisme, tidak dianjurkan menggunakan abstrak yang
diterbitkan pada awal buku ataupun penelitian lainnya. Membuat abstrak
sendiri lebih diutamakan.
Langkah pertama membuat abstrak adalah merumuskan tipe literatur yang akan
dirangkum. Untuk membuat abstrak penelitian kuantitatif seperti artikel jurnal,
makalah seminar, disertasi atau tesis, maka yang harus diidentifikasi adalah:
permasalahan penelitian, pertanyaan penelitian atau hipotesis, prosedur
pengumpulan data dan hasil penelitian. Untuk penelitian kualitatif hal yang
harus diidentifikasi adalah permasalahan penelitian, pertanyaan penelitian,
prosedur pengumpulan data dan penemuan.
3) Membuat peta konsep. Dalam mengorganisir bahan-bahan dan materi literatur
seorang peneliti harus memahami konsep dari kajian pustakanya. Konsep
secara visual atau diagram akan memberikan gambaran pada pikiran disebut
dengan peta konsep. Peta konsep berisi gambar yang menyajikan literatur
penelitian (seperti penelitian, essai, buku, bab-bab, dan ringkasan-ringkasan)
dalam sebuah topik. Visualisasi membantu peneliti untuk meperoleh banyak
informasi ataupun topik di dalam literatur serta membantu peneliti bagaimana
mengajukan penelitian untuk menambah atau memperluas literatur yang sudah
ada daripada menduplikasi penelitian yang lalu. Ada dua mode untuk
menyusun peta konsep yakni secara hirarki dan model circle.

5. Menulis Kajian Pustaka


Merupakan menuliskan kembali hasil ringkasan informasi yang diperoleh
melalui literatur untuk dicantumkan dalam laporan penelitian. Beberapa hal yang
perlu diperhatikan dalam menulis kajian pustaka adalah:
Pertama, menggunakan gaya yang tepat untuk menulis kajian secara
lengkap (untuk daftar di akhir laporan penelitian) dan untuk mengembangkan
judul untuk kajian pustaka.
Kedua, menggunakan strategi menulis khusus yang terkait dengan sejauh
mana kajian, jenis kajian, dan penutup pada kajian.
a. Menggunakan buku panduan penulisan. Setiap perguruan tinggi mempunyai
panduan sendiri dalam penyusunan laporan penelitian. Panduan penulisan

24
berisi petunjuk mengenai struktur untuk mengutip referensi, judul label, cara
membuat tabel dan angka-angka untuk laporan penelitian ilmiah. Dengan
menggunakan panduan penulisan dalam penelitian (dan kajian pustaka) maka
akan memiliki format yang konsisten bagi pembaca dan peneliti lainnya, dan
format ini akan memudahkan dalam pemahaman penelitian.
b. Strategi penulisan. Dalam penulisan kajian pustaka ada beberapa elemen
tambahan yang harus diperhatikan antara lain memperluas kajian, jenis kajian,
dan penutup.
1. Keluasan kajian pustaka.
Jumlah kajian pustaka dalam penelitian berbeda-beda. Untuk disertasi dan
tesis, diperlukan tinjauan yang lebih ekstensif dari literatur serta komprehensif
mencakup semua sumber informasi yang diidentifikasi pada bahasan sebelumnya.
Sedangkan untuk rencana penelitian atau proposal, kajian pustaka yang tidak
terlalu komprehensif mungkin dianggap cukup. Biasanya, tinjauan pustaka untuk
proposal berkisar dari 10 sampai 30 halaman namun hal ini dapat bervariasi
tergantung dengan pedoman penulisan pada lembaga masing-masing.
2. Jenis kajian
Penyusunan kajian pustaka dalam laporan penelitian memiliki jenis yang
berbeda tergantung pada tradisi di kampus peneliti. Ada dua model yang disajikan
dalam buku Creswell yaitu model tematik dan model studi-by-study. Dalam kajian
tematik, peneliti mengidentifikasi tema dan mengutip literatur secara singkat
untuk mendukung tema tersebut. Dalam pendekatan ini, penulis hanya membahas
ide-ide besar atau hasil dari penelitian tidak pada detailnya. Penulis sering
menggunakan pendekatan ini pada artikel jurnal, tetapi mahasiswa juga
menggunakannya untuk disertasi dan tesis di program pascasarjana. Cara
menggunakan format ini dengan menempatkan tema dan mencatat referensi
(biasanya beberapa referensi) yang digunakan untuk mendukung tema.
Model study-by-study berbeda dengan model tematik. kajian pustaka model
study-by-study memberikan ringkasan rinci dari setiap subjek yang
dikelompokkan dalam tema yang luas. Model ini memuat unsur-unsur abstrak
seperti yang telah dibahas sebelumnya. Model ini biasanya sering digunakan
dalam artikel jurnal yang merangkum literatur serta dalam disertasi dan tesis.

25
Ketika menyajikan model ini, penulis menghubungkan ringkasan (atau abstrak)
dengan menggunakan kalimat transisi, dan mengatur ringkasan di bawah subpos
yang mencerminkan tema divisi utama.
3. Penutup
Pernyataan penutup tinjauan bertujuan untuk merangkum tema utama yang
ditemukan dalam literatur dan memberikan informasi tentang pentingnya masalah
penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti.

BAB III
PENUTUP

26
3.1 Kesimpulan
Langkah awal memulai penelitian adalah merumuskan masalah yang akan
diteliti. Tahap ini paling penting dalam penelitian, karena jalannya penelitian
dituntun perumusan masalah yang merupakan sumber utama dari unsur penelitian
yang akan dilaksanakan. Perumusan masalah merupakan hulu dari penelitian, dan
merupakan langkah yang penting dan pekerjaan yang sulit dalam penelitian
ilmiah.
Kriteria-kriteria dalam perumusan masalah adalah; kriteria pertama
berwujud kalimat tanya atau yang bersifat kalimat interogatif, baik pertanyaan
yang memerlukan jawaban deskriptif, maupun pertanyaan yang memerlukan
jawaban eksplanatoris. Kriteria kedua bermanfaat atau berhubungan dengan upaya
pembentukan dan perkembangan teori. Kriteria ketiga, suatu perumusan masalah
hendaknya dirumuskan di dalam konteks kebijakan pragmatis yang sedang aktual.
Kajian pustaka tidak hanya membantu memverifikasi masalah-masalah
penelitian, tetapi juga membantu merumuskan masalah, merumuskan hipotesis,
dan penyusunan instrument penilitian. Langkah-langkah penting dalam
melakukan kajian pustaka adalah mengidentifikasi kata kunci topik penelitian
untuk mencari literatur yang berkaitan seperti jurnal, buku-buku, dan penelitian
lain yang relevan dengan penelitian yang akan di lakukan.

3.2 Saran
Semoga dengan disusunnya makalah ini dapat bermanfaat bagi para
pembaca dan menambah ilmu pengetahuan khususnya dalam pembuatan
perumusan masalah dalam penelitian, variabel, hipotesis, dan tinjauan pustaka.

DAFTAR PUSTAKA

27
Arikunto Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik Edisi
Revisi V. PT. Rineka Cipta. Jakarta.
Kunandar. 2005. Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas. PT. Raja Grafindo
Persada. Jakarta.
Sukmadinata Syaodih Nana. 2011. Metode Penelitan Pendidikan. PT Remaja
Rosdakarya Offset. Bandung.
Sumardi Suryabrata. 2009. Metodologi Penelitian. PT. Raja Grafindo Persada.
Jakarta.

28