Anda di halaman 1dari 49

MAKALAH

GAMETOGONESIS

Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Perkembangan Hewan

Dosen Pengampuh:

REVOLSON ALEXIUS MEGE

ERNEST HANNY SAKUL

Disusun Oleh:

Paola Imerthadefi Tangiduk ( 17 507 150 )


Marchelina W F Bujung ( 17 507 041 )
Roswati Norce Lumiri ( 17 507 019 )

UNIVERSITAS NEGERI MANADO

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

BIOLOGI

2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan
karunia- Nya, sehingga makalah yang berjudul tentang “Gametogenesis” ini dapat
terselesaikan dengan baik.
Dalam makalah ini kami akan membahas bagaimana proses spermatogenesis,
oogenesis, bentuk sperma, analisis semen, proses ovulasi, jenis-jenis telur, dan daur
pembiakan.
Semoga dengan adanya makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Kami
menyadari dalam penulisan makalah ini ada banyak kesalahan, untuk itu kami sangat
mengharapkan kritik dan saran untuk memperbaiki kesalahan yang ada. Sekian dan
terima kasih.

Tondano, September 2019

Penyusun

i
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ................................................................................................... i

Daftar Isi .............................................................................................................. ii

Bab I. Pendahuluan............................................................................................. 1

A. Latar Belakang .............................................................................. 1


B. Rumusan Masalah ......................................................................... 1
C. Tujuan ........................................................................................... 1

Bab II. Pembahasan ............................................................................................ 3

A. Spermatogenesis .................................................................................. 3
B. Bentuk-Bentuk Sperma ....................................................................... 12
C. Analisis Semen .................................................................................... 16
D. Oogenesis ............................................................................................ 19
E. Proses Ovulasi ..................................................................................... 28
F. Jenis-Jenis telur ................................................................................... 30
G. Daur Pembiakan .................................................................................. 31

Bab III. Penutup .................................................................................................. 44

A. Kesimpulan ................................................................................... 44
B. Saran .............................................................................................. 45

Daftar Pustaka ..................................................................................................... 46

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam tubuh hewan maupun manusi terdiri atas dua jenis sel, yaitu sel
somatik dan sel gamet. Sel somatic difungsikan dalam pembentukan sel tubuh.
Sedangkan sel gamet diperuntukkan untuk sel kelamin. Sel kelamin (gamet) ini
dihasilkan oleh organ-organ yang tergabung dalam system reproduksi. Proses ini
disebut dengan gametogenesis. Gametogenesis erat kaitannya denga system
reproduksi khususnya pada hewan dan manusi. Sebagaimana yang diketahui
bahwa salah satu bagian yang penting dalam system reproduksi adalah sel gamet
hal ini dikarenakan cikal bakal dari pembentukkan individu baru adalah dari
proses reproduksi dan proses reproduksi bermula dari pertemuan antara sel
kelamin jantan dan sel kelamin betina. Dalam hal ini sel kelamin tersebut
dihasilkan oleh proses gametosis.
Gametogenesis merupakan proses pembentukan gamet (sel kelamin)
yang terjadi melalui pembelahan meiosis. Gametogenesis berlangsung pada sel
kelamin dalam alat perkembang biakan. Gametogenesis meliputi
spermatogenesis (pembentukan spermatozoa atau sperma) dan Oogenesis
(pembentukan ovum).

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana proses spermatogenesis?
2. Bagaimana bentuk-bentuk sperma?
3. Bagaimana cara menganalisis semen?
4. Bagaimana proses oogenesis?
5. Bagaimana proses ovulasi?
6. Apa saja jenis-jenis telur?
7. Bagaimana proses daur pembiakan?
C. Tujuan
1. Memahami bagaimana proses spermatogenesis?
2. Memahami bagaimana bentuk-bentuk sperma?
3. Memahami bagaimana cara menganalisis semen?
4. Memahami bagaimana proses oogenesis?

1
5. Memahami bagaimana proses ovulasi?
6. Mengetahui apa saja jenis-jenis telur?
7. Memahami bagaimana proses daur pembiakan?

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. SPERMATOGENESIS
Spermatogenesis merupakan istilah yang dipakai dalam menggambarkan
urutan kejadian pembentukan spermatozoa dari spermatogonium oleh sel
spermatogenik. Berbagai sel spermatogenik menunjukkan perbedaan tahapan dalam
perkembangan dan diferensiasi spermatozoa, terletak di antara sel dan di atas sel
penunjang (sel sertoli). Spermatogenesis mencakup pematangan sel epitel germinal
melalui proses pembelahan dan diferensiasi sel, yang bertujuan untuk membentuk
sperma fungsional. Spermatogenesis ini terjadi di dalam gonad jantan yang disebut
testis. Dalam proses spermatogenesis teridiri dari 4 tahap:

1. Perbanyakan
Tahap perbanyakan (proliferasi) berlangsung secara mitosis berulang-ulang.
Di mana Spermatogonia merupakan struktur primitive dan dapat melakukan
reproduksi (membelah) dengan cara mitosis. Spermatogonia yang mengamali mitosis
berkali-kali yang akan menjadi spermatosit primer.

Bagi sel jaringan yang selalu bersifat muda dan terus mempu memberlah diri
(meristematis), berlaku proses apa yang dikenal dengan “Cell cycle” (daur sel).
Siklus sel merupakan serangkaian kejadian dengan urutan tertentu berupa duplikasi
kromosom sel dan organel didalamnya yang mengarah ke pembelahan sel. Pada
eukariotik (sel bernukleus), proses perbanyakan atau sintesis bahan genetik terjadi
sebelum berlangsungnya proses pembelahan sel, mitosis atau meiosis.

Sel yang mempunyai kemampuan membelah adalah sel "muda" atau sel
immature yang belum memiliki fungsi tertentu. Pada kondisi lingkungan yang
mendukung sel akan memasuki siklus sel dan menghasilkan 2 sel identik. Sel yang
tidak lagi membelah akan keluar dari siklus dan berdeferensiasi menjadi sel yang
mature dengan struktur dan fungsi tertentu.

Pada dasarnya siklus sel terdapat 2 fase utama yaitu fase S (DNA sintesis)
dan fase M (Mitosis). Pada fase S terjadi duplikasi kromosom, organele dan protein
interseluler dan pada fase M terjadi pemisahan kromosom dan pembelahan sel.
Sebagian besar sel memerlukan waktu ekstra untuk proses sintesis sehingga pada
siklus sel terdapat ekstra fase Gap (Senggang) yaitu Gap 1 antara fase M dan fase S
serta Gap 2 antara fase S dan Mitosis. Hal ini mendasari pembagian fase menjadi 4
fase yaitu Fase G1, Fase S, Fase G2 (ketiganya disebut Interfase) dan fase M (mitosis
dan sitokinesis). Interfase adalah fase istirahat, sel ini sebenarnya sangat aktif secara

3
biokimia walaupun terlihat tidak ada perubahan morfologi (waktu lama, 23 jam
dalam 1 siklus 24 jam). M phase (mitosis) merupakan inti dari siklus sel dan secara
morfologi terjadi perubahan yang jelas teramati berupa kromosom yang tertarik ke
kutub, sitogenesis dan akhirnya sel terbagi menjadi dua (waktu cepat, 1 jam dalam 1
siklus 24 jam).

Mitosis memiliki 4 fase yaitu fase profase, metaphase, anaphase, dan telofase.

1) Profae
Kromatin berubah jadi kromosom dengan jalan berpilin-pilinnya
kromatin itu sendiri sehingga kian pendek dan tebal. Kromatin yang semula b
erupa jala yang halus sekali dan sukar terlihat di bawah mikroskop cahaya,
setelah jadi kromosom jadi besar-besar dan tampak jelas. Kromosom itu
muncul sudah rangkap dua, disebut kromatid (kromosom anak). Nukleolus
mula-mula membesar, kemudian jadi hilang. Sentrosom membelah jadi dua,
pergi ke kutub berseberangan inti. Tiap sentrosom terdiri dari sepasang
sentriol yang tegak lurus sesame. Sentriol membentuk serat gelondong antara
mereka, dari kutub ke kutub. Serat gelendong itu terutama terdiri dari
mikrotubul, di antarnya terdapat mikrofilamen. Selaput inti menipis dan
akhirnya menghilang.

2) Metafase

4
Serat gelendong terbentuk sempurna antara kutub, kromosom
menggantung pada serat gelendong itu lewat sentromernya, dan semua
bergerak ke bidang ekuator.

3) Anafase

Sentromer mengganda, sehingga setiap kromatid memiliki sentromer


sendiri-sendiri. Kromatid yang berasal dari satu kromosom kemudian
berpisah dan pindah ke kutub berseberangan. Sementara itu sel sendiri
memanjang menurut poros serat gelendong. Begerakya kromatid ke kutub
berseberangan inti dikira oleh peranan mikrotubul dan mikrofilamen yang
memendek dan memanjang. Mikrotubul yang menggantung kromosom
memendek, sedngkan yang menghubungkan kedua kutub memanjang,
mengkibatkan sel jadi ikut panjang juga.

4) Telofase
Selaput inti terbentuk mengelilingi kromatid di sekitar tiap kutub,
sentriol yang sepasang menempatkan diri di sebelah luar selaput inti.
Kromosom anak (kromatid) melonggar pilinannya, sehingga jadi kromatin.
Serentak dengan itu muncul nucleolus.

- Sitokinesis

5
Sitokinesis adalah bagian dari proses pembelahan sel,
yaitu sitoplasma dari satu eukariotik sel membelah menjadi dua sel anak.
Pembagian sitoplasma dimulai selama atau setelah tahap akhir dari
pembelahan inti dalam mitosis dan meiosis. Selama sitokinesis benang
gelendong berpisah dan mengangkut kromatid yang digandakan ke dalam
sitoplasma sel anak yang sudah terpisah. Hal ini untuk memastikan bahwa
jumlah dan kelengkapan kromosom tetap terjaga dari satu generasi ke
generasi berikutnya.
Ceruk terbentuk oleh invaginasi di daerah bidang ekuator dari
kedua sisi, yang makin lama makin dalam, sampai bertemu dengan
mikrotubul serat gelendong. Mikrotubul ikut membuat gentingan bersama
mikrofilamen. Sementara itu terbentuk vesikula (gelembung) di bidang
ekuator yang nantinya akan bertemu semua, sehingga terbentuk dua
lapisan membrane sel, masing-masing untuk tiap anak.

Ada dua macam cytokinesis yaitu disjunctive dan astral. Pada prose
disjunctive menghasilkan sel-sel anak yang lepas-lepas. Sedangkan proses
astral menghasilkan anak yang masih berhubunga atau berlekatan.

6
2. Pertumbuhan
Gametogonium akan tumbuh membesar menjadi gametosit I.
3. Pematangan
Pada tahap pematangan, gametosit I mengalami pematangan yang
berlangsung secara meiosis. Pembelahan meiosis adalah suatu proses terjadinya
pembelahan sel pada sel-sel kelamin dari organisme-organisme yang melakukan
proses reproduksi dengan cara generatif ataupun seksual. Pembelahan meiosis
biasanya sering disebut dengan proses pembelahan sel secara reduksi, karena proses
yang dihasilkan adalah sel-sel anakan dengan jumlah kromosom setengah/separuh
dari kromosom indukannya.

Hal ini sangat berhubungan dengan tujuan utama dari pembelahan itu sendiri,
yakni untuk mempertahankan agar sejumlah bagian kromosom dari generasi ke
generasi yang saling turun temurun akan selalu tetap sehingga itu dapat membantu
mempertahankan terhadap eksistensi dari jenis-jenis yang ada.

Hanya terdapat pada gonad, berlaku pada pembelahan gametosit. Secara


mitosis gametogonium (sel induk benih) mengalami ploriferasi menjadi banyak
gametosit I. Gametosit I ini mengalami meiosis, akhirnya menjadi gamet.

Meiosis terdiri dari atas 2 tahap yang pertama yaitu meiosis I dan tahap kedua
yaitu meiosis II. Masing-masing dari kedua tahap tersebut memiliki 4 fase yaitu
profase, metaphase, anafae dan telofase. Diantara kedua tahap meiosis ini terdapat
fase istirahat yang disebut interkinase. Dan pada fase pertama di meiosis I (profase)
dibagi lagi atas 5 sub-tahapan yaitu leptoten, zigoten, pakiten, diploten, dan
diakinase.

7
a. Meiosis I

1) Profase

a) Leptoten : Kromatin berpilin menjadi kromosom

b) Zigoten : Kromosom homolog menggandeng. Yang homolog itu sebelah


dari induk (kromosom matroklin), sebelah lain bapak (kromosom
patroklin). Pada beberapa tempat terjadi persilangan (chiasma; jamak:
chiasmata) antara kromosom homolog.

c) Pakiten : Kromosom homolog menggandeng rapat sepanjang lengannya,


dari pangkal ke ujung kromosom homolog pun membentuk tetrad.

d) Diploten : Tiap kromosom membelah longitudinal, sehingga jadi 2


kromatid. Sentrimor masih satu. Terjadi pula chiasmata pada beberapa
tempat kromatid homolog. Dari chiasmata timbul crossing over (pindah
silang fragment kromosom homlog).

e) Diakinase ; Kromosom (kromatid) mencapai pilinan maksimal sehingga


mencapai besar maksimal pula. Kromosom homolog merenggang.
Nucleolus hilang, selaput inti hancur, sentriol mengganda dan tiap
pasangan pergi ke kutub berseberangan inti.

2) Metafase

Pada ini selaput inti hilang sama sekali dan antara kedua pasang
sentriol terbentuk serat gelendong, yang terdiri dari mikrotubul dan
mikrofilamen. Kromosom, sambil tetap menggadang anatara yag homolog,
bergerak ke bidang ekuator.

8
3) Anaphase

Sel memanjang dari kutub ke kutub, kromosom homolog berpisah,


masing-masing pindah ke kutub berseberangan, tapi kromatidnya belum
berpisah.

4) Telofase

Terbentuk selaput inti, sentriol yang sepasang berada di pinggir luar


selaput inti itu. Terjadi cytokinesis sehingga sel induk jadi dua sel anak.

b. Meiosis II

1) Profase

Masanya pendek sekali. Selaput untu hilang, sentriol mengganda dan


pergi ke kutub berseberangan inti. Kromatid tiap kromosom belum terpisah,
karena sentromer masih satu. Kromarid berarti tidak lagi mengganda untuk
kedua kalinya pada meiosis II.

9
2) Metaphase

Serat gelendong terbentuk antara pasangan sentriol. Kromosom yang


terdiri dari sepasang kromatid menggantung pada serat gelendong lewat
sentromer, pindah ke bidang ekuator.

3) Anafase

Sel memanjang dari kutub ke kutub meurut poros serat gelendong.


Sentromer tiap pasangan kromatid membelah sehingga kromatid bersaudara
lepas, masing-masing berpisah dan bergerak ke kutub berseberangan.

4) Telofase

Kromatid terbuka kembali pilinannya, terlepas-lepas, sehingga


menjadi jala halus: kromatin. Kemudian selaput inti terbentuk. Nukleulus
muncul. Melekat pada kromosom. Terjadi sitokinesis, sehinga dari dua
gametosit II terbentuk 4 gametid. Masing-masing mengandung kromosom
separo dari sel induk; dari 2N pada gametosit I, menjadi IN pada gametid.

10
4. Perubahan bentuk
Pada tahap perubahan bentuk ini gametid yang telah dihasilkan dari
pembelahan meiosis II akan mengalami tahap perubahan yang disebut transformasi
menjadi spermatozoa. Pada tahap ini terdiri dari 4 fase yaitu fase golgi, fase tutup,
fase akrosom, dan fase pematangan.
- Fase Golgi
Saat butiran proakrosom terbentuk dalam alat Golgi spermatid.
Butiran atau granula ini nanti bersatu membentuk satu butiran akrosom.
Butiran ini dilapisi membran dalam gembungan akrosom. Gembungan ini
melekat ke salah satu inti yang bakal jadi bagian depan permatozoon.
- Fase tutup
Saat gembungan akrosom makin besar, membentuk lipatan tipis
melingkupi bagian kutub yang bakal jadi bagian depan. Akhirnya terbentuk
semacam tutup atau topi spermatozoon.
- Fase akrosom
Terjadi redistribusi bahan akrosom. Nukleoplasma berkondensasi,
sementara itu spermatid memanjang. Bahan akrosom kemudian menyebar
membentuk lapisan tipis meliputi kepala kutub, sampai akrosom dan tutup
kepala membentuk tutup akrosom.
- Fase pematangan
Terjadi perubahan bentuk soermatid sesuai dengan ciri spesies.
Butiran inti akhirnya bersatu, dan inti jadi gepeng bentuk pyriform, sebagai

11
ciri spermatozoa Primata dan khususnya manusia. Ketika akrosom terbentuk
di bakal jadi bagian depan spermatozoa, sentriol pun bergerak ke kutub
berseberangan. Sentriol terdepan membentuk flagellum, sentriol satu lagi
membentuk kelepak sekeliling pangkal ekor. Mitokondria membentuk cincin-
cincin di bagian middle piece ekor, dan seludang fibrosa di luarnya.
Mikrotubul muncul dan berkumpul di bagian samping spermatid membentuk
satu batang lonjong, sementara spermatid sendiri memanjang dan sitoplasma
terdesak ke belakang inti.

B. MACAM SPERMATOZOA
a) Macam Spermatozoa Menurut Struktur
Spermatozoa menurut struktur terdapat dua kelompok yaitu:
 Tak Berflagellum
 Berflagelum

Spermatozoa yang tidak berflagelum terdapat pada beberapa jenis


evertebrata, yakni Nematoda, Crustacea, Diplopoda. Yang memiliki
flagelumlah yang umum terdapat pada hewan. Spermatozoa ada yang
memiliki satu flagellum (umum) dan ada yang memiliki flagellum lebih dari
satu (jarang).

12
Ket: A : katak (bufo), B : Amphioxus, C : Ikan (Teleost), D : bulu
babi, E : Toadfish, F : Ascaris, G : udang galah, H : udang satang, I : ayam, J
: Mencit, K : Orang (manusia).

Yang berflagellum lazim memiliki bagian-bagian: kepala dan ekor.


Kepala sebagai penerobos jalan menuju dan masuk ke dalam ovum, dan
membawa bahan genetis yang akan diwariskan kepada anak-cucu. Ekor untuk
pergerakan menuju tempat pembuahan dan untuk mendorong kepala
menerobos selaput ovum.

Dalam kepala ada inti dan akrosom. Inti mengandung bahan genetis,
akrosom mengandung berbagai enzim lysis. Akrosom ialah lisosom
spermatozoon, untuk melysis lendir penghalang saluran kelamin betina dan
selaput ovum. Seperti halnya lisosom umumnya, akrosom pun diproduksi
oleh alat Golgi.

Ekor berporoskan flagellum. Flagellum ini memiliki rangka dasar,


disebut axonem, dibina atas 9 duplet dan 2 singlet mikrotubul. Ekor
mengandung sentriol (sepasang), mitokondria, dan serat fibrosa.

b) Macam spermatozoa menurut kromosom kelamin


Sesuai dengan adanya 2 macam kromosom kelamin pada hewan yang
bersistem XY (umum pada Vertebrata), maka dalam hal spermatozoa jadi haplon
pada proses meiosis, terbentuklah spermatid yang di sepihak hanya mengandung
salah satu kedua macam kromosom itu: X atau Y. Terbentuklah sperma yang
hanya mengandung kromosom kelamin X, disingkat sperma-X; lalu ada sperma
yang hanya mengan- dung kromosom kelamin Y, disingkat sperma-Y.

13
Pada Aves susunan kromosom kelamin disebut sistem ZW. Jantan
bersusunan kromosom kelamin ZZ, betina ZW. Karena itu pada proses meiosis
hanya satu macam spermatozoa yang terbentuk, yakni sperma-Z.
Pada manusia dan mammalia lain sudah diselidiki adakah perbedaan
morfologis dan fisiologis kedua jenis sperma-X dan Y. Dengan cara sentrifugasi
(pemusingan) dan dengan perbedaan muatan listrik, telah dapat dipisahkan
kedua jenis spermatozoa itu. Sehingga dengan demikian akan dapat diatur
apakah sperma-X yang akan membuahi ovum ataukah sperma-Y.
Jika berhasil memisahkan kedua jenis spermatozoa menjelang atau pada
saat pembuahan berarti orang tersebut dapat menentukan jenis kelamin embryo
yang akan terbentuk.

c) Banyak dihasilkan
Spermatozoa dapat dihasilkan secara terus-menerus setiap hari. Tapi bagi
hewan yang memiliki musim kawin penghasilan itu lebih kentara giat jika tiba
musim itu. Ada pula penghasilan berlangsung terus sebelum musim kawin, lalu
dicadangkan. Jika tiba musim kawin dikeluarkan semuanya sekaligus, sesuai
dengan betina yang pada waktu itu mengeluarkan pula semua telurnya sekaligus.
Pada Eutheria (Placentalia) jumlah spermatozoa diproduksi jutaan ekor
tiap hari oleh kedua belah testis. Spermatozoa itu dicadangkan dalam ductus
epididymis dan vas deferens. Kalau saatnya dikeluarkan dari tubuh spermatozoa
itu terendam dalam cairan yang dihasilkan oleh tubuli seminiferi (sedikit) dan
kelenjar-kelenjar tambahan, yakni vesicula seminalis, bulbourethralis dan
prostata.

d) Kerapatan
Cairan (plasma) bersama spermatozoa yang dikandung disebut mani
(semen). Daftar berikut memperlihatkan banyak mani yang dikeluarkan sekali
ejakulasi (pancaran) ketika coitus, serta jumlah sperma yang terkandung dalam
tiap ml. Ternyata Aves memiliki kerapatan spermatozoa yang paling tinggi
dibandingkan dengan Mammalia, tapi jumlah mani yang dikeluarkan lebih
sedikit.
Kerapatan spermatozoa ikut menentukan kemandulan pria. Kalau terlalu
rendah (sedikit jumlahnya dalam 1 cc) orang itu besar kemungkinan mandul.

Tabel banyak mani serta kerapatan sperma sekali ejakulasi dalam cc


Volume mani sekali Kerapatan sperma tiap ml
Spesies
ejakulasi dalam cc dalam juta
Manusia 3,4 100
Babi 250 100

14
Kuda 70 120
Anjing 6 200
Kelinci 1 700
Sapi 5 1000
Domba 1 3000
Ayam 0,8 3500
Kalkun 0,3 7000

e) Gerakan
Ketika masih dalam tubulus seminiferus spermatozoa tak bergerak. Secara
berangsur dalam ductus epididymis mengalami pengaktifan. Ketika keluar dari
tubuh kecepatan spermatozoa dalam medium cairan saluran kelamin betina
sekitar 2,5 mm/menit.
Karena itu disebut, bersama vas deferens, ductus epididymis berfungsi
sebagai daerah pematangan fisiologis spermatozoa. Dalam ductus ini sperma
disimpan berhari sampai berbulan-bulan.
Sifat gerakan spermatozoa menentukan juga kemandulan seseorang pria.
Kalau gerakan terlalu lambat, lamban atau gerakan itu tak menentu arahnya,
maka pembuahan sulit berlangsung. Ada batas waktu menunggu bagi ovum
untuk dapat dibuahi. Kalau terlambat sperma- tozoa datang tak subur lagi.

f) Ketahanan di luar tubuh


Spermatozoa mudah sekali terganggu oleh suasana lingkungan yang
berubah. Kekurangan vitamin E menyebabkan ia tak bertenaga melakukan
pembuahan. Terlalu rendah atau tinggi suhu medium pun akan merusak
pertumbuhan dan kemampuan membuahi. Pada mammalia scrotum memiliki
suhu lebih rendah dari suhu tubuh. Jika testis tetap berada dalam rongga tubuh
(abdomen) pada umumnya menyebabkan spermatozoa rusak atau tak bisa
melakukan pembuahan. Suhu scrotum 1-8ºC lebih rendah dari suhu tubuh.
Namun ada iuga mammalia yang testisnya bukan dalam scrotum khusus, tapi
dalam rongga terpisah dari rongga abdomen (pelvis). Ini pun telah menurunkan
sedikit suhu testis dibandingkan dengan suhu tubuh.
Perubahan pH pun merusak sperma. Terlebih terhadap asam. Keasaman
sanggama (vagina) ternyata dapat menyebabkan kemandulan pula, karena
mematikan spermatozoa yang masuk.
Bagi gamet yang membuahi dalam air, ketahanan spermatozoa itu singkat
sekali. Spermatozoa katak dapat tahan hidup 1-2 jam, sedangkan spermatozoa
ikan hanya 10 menit. Pada beberapa Teleostei bahkan hanya bisa tahan hidup
selama beberapa detik.

15
Pada mammalia suhu 45-50°C dapat merusak dan membunuh
spermatozoa. Suhu rendah mengurangi gerakan tapi memperpanjang umur.
Untuk usaha perbenihan (inseminasi) tiruan dalam bidang peternakan, suhu
medium sperma mammalia dan ayam kini diatur antara 8 sampai 12° C.
Pembekuan yang pelan dapat mematikan spermatozoa. Tapi pembekuan
cepat dalam cairan nitrogen menyebabkan spermatozoa tahan hidup pada suhu -
195° C bertahun.
Untuk memelihara sementara agar spermatozoa tahan hidup dan dapat
membuahi dengan lancar di luar tubuh, harus diberi pula bahan makanan yang
cukup. Campuran berikut biasa dipakai dalam perbenihan tiruan pada sapi dan
babi:
Na2 SO4 1,36 g
Dextrose 1,20 g
Pepton 0,50 g
Semua dalam 100 ml air

Campuran berikut juga dapat dipakai sebagai medium spermatozoia:

Glucose 20,9 g
Na2 HPO2 12H2O 6,0 g
NaCl 2,0 g
KH2PO4 0,1 g

C. ANALISA SEMEN

Untuk mengetahui apakah seseorang pria fertil atau infertil peranan analisa
semen sangatlah penting. Semen diperiksa harus dari seluruh analisa semen eyakulat.
Karena itu mengambilnya dari tubuh harus dengan masturbasi atau coitus interuptus
(bersetubuh dan waktu eyakulasi persetubuhan dihentikan dan mani ditampung
semua). Ada juga dengan bersetubuh memakai kondom, asal kondom itu yang
khusus, bebas dari spermatisida. Kondom biasa, biasanya telah diberi spermatisida,
dan ini tak dapat dipakai untuk analisa. Abstinensi juga faktor penting, dan yang
terbaik ialah sekitar 3-4 hari.

Paling baik jika semen diperiksa selambatnya sejam sesudah ejakulasi. Jika
sampel masih dipakai lebih dari 4 jam setelah ejakulasi, agar disimpan dalam lemari
es, dan untuk memeriksanya kembali harus ditaruh dulu dalam suhu kamar.

Yang dianalisa secara rutin ialah: bau, warna, voluma, koagulasi, likuifaksi,
viskositas, pH, kecepatan, konsentrasi, motilitas, morfologi, ketahanan.

1. Bau

16
Bau yang normal khas, tajam, tidak busuk. Bau itu berasal dari
oksidasi spermin yang dihasilkan prostat. Jika tak ada bau khas mani, prostat
tak aktif atau ada gangguan. Mungkin gangguan itu pada saluran atau
kelenjar sendiri. Bau busuk oleh adanya infeksi.
2. Warna
Warna normal ialah seperti lem kanji atau putih-kelabu. Jika agak
lama abstinensi kekuningan. Jika putih atau kuning tandanya banyak lekosit,
yang mungkin oleh adanya infeksi pada genitalia. Beberapa macam obat,
seperti antibiotika, dapat mewarnai semen.
3. Volume
Menurut Xoluma pria dapat digolongkan atas:
1) aspermia : 0 ml
2) hypospermia : < 1 ml
3) normospermia : 16ml 4.
4) hyperspermia : > 6 ml

Rata-rata voluma eyakulasi itu 2,5 -3,5 ml.

Hypospermia dapat terjadi oleh beberapa hal:

1) Sampel tumpah waktu ditampung atau diangkut;


2) Gangguan patologis dan genetis pada genitalia;
3) Vesicula seminalis tak ada atau tak berfungsi;
4) Gangguan hormonal atau karena radang kelenjar. Hyperspermia
dapat terjadi karena:
 Abstinensi terlalu lama;
 Kelenjar kelamin terlalu aktif.

4. Koagulasi
Semen normal setelah ejakulasi segera menggumpal (koagulasi).
Kalau langsung encer ketika ditampung berarti ada gangguan pada vesicula
seminalis atau ductus ejaculatorius.
5. Likuifaksi
Pengenceran atau likuifaksi terjadi pada semen normal 15-20 menit
post-eyakulasi. Kalau semen tak mengencer, ini berarti ada gangguan pada
prostat yang menghasilkan zat pengencer itu (seminin). Orang ini sering
kurang fertil (subfertil).
6. Viskositas
Kekentalan semen diperiksa dengan alat yang disebut viskometer.
Secara sederhana dapat dilakukan, dengan jalan mencelupkan batang kaca ke
obyek yang sudah ditetesi semen, diangkat pelan, diukur tinggi benang yang

17
terjadi antara batang kaca dan obyek sampai batas putus. Viskositas normal
jika panjang benang 3-5 cm
Jika semen terlalu kental (>5 cm), berarti kurang enzim likuifaksi dari
prostat. Terlalu encer (< 3 cm), karena zat koagulasi yang dihasilkan vesicula
seminalis terlalu sedikit, atau enzim pengenceran dari prostat terlalu banyak.
7. pH
Semen diteteskan dengan batang kaca pada kertas pH berukuran
warna penunjuk. pH normal ialah 7,2-7,8. pH > 8 menunjukkan adanya
radang akut kelenjar kelamin atau epididymitis. pH < 7,2 menunjukkan
adanya penyakit kronis pada kelenjar atau epididymis. Jika pH rendah sekali
menunjukkan ada gangguan atau aplasia pada vesicula seminalis atau ductus
ejaculatorius. pH dapat berubah 1 jam sudah eyakulasi. Karena itu harus
diukur sebelum itu.
8. Kecepatan
Untuk mengukur kecepatan spermatozoa dipakai kaca obyek
hemocytometer Neubauer, dan dilihat dengan mikroskop perbesaran 450x.
Dihitung 25 spermatozoa yang bergerak maju dengan memakai stopwatch
dan counter. Diambil nilai rata-rata. Kecepatan normal 2,5 detik per kotak
ukuran dalam obyek (50 um). Kalau kecepatan kurang dari itu berarti
spermatozoa kurang mampu berfertilisasi.
9. Konsentrasi
Konsentrasi atau jumlah spermatozoa/ml semen, dihitung dengan
hemocytometer Neubauer juga. Dihitung dengan melihatnya di bawah
mikroskop perbesaran 450x.
Melihat pada konsentrasi pria dapat dibedakan atas 4 golongan
fertilitas:
1) Pglyeoospermiade : > 250 juta/ml
2) Nomozoospermia : 40-200 juta/ml
3) Atigozoospermia : < 40 juta/ml
4) Azospermia : 0/ml

Menurut Rehan et al. (1975) konsentrasi itu 8,1 ± 57 SD juta/ml,


dengan range 4-318 juta/ml. Sedang menurut Smith et al. (1978) konsentrasi
itu 70 ± 65 SD juta/ml, dengan range 0,1-600 juta/ml. : < 40 juta/ml 0/ml

10. Motilitas
Jumlah yang bergerak maju ialah jumlah spermatozoa semua
dikurangi jumlah mati. Dianggap normal jika motil maju > 40 %. Menurut
Rehan et al. (1975) yang normal % motilnya ialah 63 ± 16 SD, dengan range
10-95%. Ada orang yang spermatozoanya lemah sekali gerak majunya,
disebut asthenozoospermia. Jika hampir semua sperma yang diperiksa

18
nampak mati, tak bergerak, disebut necrozoospermia. Berarti orang ini
infertil. Tapi ada laporan mutakhir, spermato- zoa yang tak bergerak belum
menunjukkan mati. Mungkin ada suatu zat cytotoxic atau antibodi yang
membuatnya tak bergerak.
11. Morfologi
Semen diwarnai dengan giemsa, dilihat dengan mikroskop perbesaran
450X atau 1000X dengan memakai minyak imersi. Dihitung sebanyak 200
spermatozoa dan dibedakan yang normal (kepala oval dan bagian lain
normal), dengan yang abnormal (kepala bukan oval dan bagian lain
abnormal). Semen dianggap normal jika jumlah abnor- mal hanya 30-40%.
Jika > 40 % disebut teratozoospermia. Jika > 50%: infertil, meski konsentrasi
normal.
Bentuk abnormal oleh beberapa faktor, seperti: 1 penyakit alergi; 2.
eyakulasi terlalu sering; 3. gangguan pada epididymis; 4. oleh stress Psikis
atau fisik; 5. gangguan hormonal; 6. gangguan saraf.
12. Ketahanan
Ketahanan (viabilitas) indikator fertilitas juga. Diukur dengan melihat
% motil maju/ml setelah jangka waktu tertentu. Makin lama semen tersimpan
makin sedikit yang motil. Penurunan motilitas normal ialah:
 2-3 jam sudah eyakulasi 50-60% spermatozoa motil maju/ml
 7 jam sudah eyakulasi: 50% spermatozoa motil maju/ml

Jika setelah 3 jam yang motil kurang dari 50% menandakan adanya
gangguan atau kelainan dalam genitalia. Spermatozoa yang motilitas nya
rendah disebut asthenozoospermia. Abstinensi yang lama dapat mempercepat
penurunan motilitas. Jika eyakulasi sering, voluma semen dan konsentrasi
menurun, tapi tidak mengurangi ketahanan.

D. OOGENESIS

Oogenesis adalah proses pembentukan sel telur (ovum) pada wanita, yang
terjadi di dalam ovarium (indung telur). Ovarium yang ada di embrio memiliki
sekitar 600 ribu sel oogonium atau sel induk telur. Sembilan minggu setelah proses
pembuahan terjadi, ternyata janin juga sudah mulai memproduksi sel telur. Saat janin
bayi perempuan berusia 5 bulan, oogonium memperbanyak diri dengan cara mitosis
hingga jumlahnya mencapai lebih dari 7 juta oosit primer. Tetapi, jumlah oosit
primer yang banyak ini akan terus berkurang sampai janin lahir.
Dari semulanya berjumlah lebih dari 7 juta oosit primer, semenjak dilahirkan
oosit primer hanya tersisa sekitar 1 sampai 2 juta saja. Sel-sel telur ini juga akan
berhenti berkembang sementara sampai memasuki usia pubertas. Setelah masa

19
pubertas inilah oogonium akan aktif bekerja lagi mengikuti siklus menstruasi. Dari 2
juta oosit primer yang ada hanya sekitar 400 ratus saja yang bisa bertahan hingga
menjadi folikel matang. Folikel matang sendiri adalah kantong kecil yang memiliki
dinding sel dan di dalamnya terdapat satu sel telur. Sel telur ini yang kemudian akan
dilepaskan selama masa reproduksi. Perlu dipahami bahwa seiring bertambahnya
usia, maka kualitas serta kuantitas ovum yang tersisa akan semakin mengalami
penurunan. Hal ini adalah normal.
Oogenesis dimulai dengan adanya mitosis dan meiosis. Mitosis adalah proses
pembelahan sel yang menghasilkan dua gamet (sel anak) yang identik. Sementara itu,
meiosis adalah pembelahan sel yang menghasilkan empat gamet, yang masing-
masingnya memiliki jumlah kromosom setengah dari sel induknya.
Oogonium atau sel induk telur akan matang dan bermitosis menjadi oosit
primer. Oosit primer sendiri nantinya akan bermieosis menjadi dua bagian
menghasilkan oosit sekunder. Berbeda dengan proses spermatogenesis, pembelahan
meiosis pertama pada proses oogenesis mengalami perkembangan sitoplasma
(bagian sel) yang tidak seimbang.
Akibatnya, ada satu oosit yang memiliki banyak sitoplasma, sedangkan oosit
lainnya tidak memiliki sitoplasma. Oosit yang memiliki banyak sitoplasma
berukuran lebih besar daripada oosit yang tidak mempunyai sitoplasma. Nah, oosit
yang lebih kecil inilah yang disebut dengan badan polar pertama.
Setelah itu, oosit sekunder yang berukuran lebih besar akan mengalami
pembelahan meiosis kedua yang menghasilkan ootid. Badan polar pertama juga akan
membelah menjadi dua badan polar kedua. Ootid ini akan berkembang menjadi
ovum apabila bertemu dengan spermatozoa alias sel sperma. Proses ini nantinya akan
mengalami degenerasi atau perubahan. Jika setelah degenerasi ootid tidak bertemu
dengan sel sperma dan pembuahan tidak terjadi, maka siklus oogenesis terulang
kembali dan Anda juga akan mengalami menstruasi.
Dalam proses spermatogenesis teridiri dari 4 tahap:
1. Perbanyakan
Tahap perbanyakan (proliferasi) berlangsung secara mitosis berulang-ulang.
Di mana oogonium merupakan struktur primitive dan dapat melakukan reproduksi
(membelah) dengan cara mitosis. Oogonium yang mengamali mitosis berkali-kali
yang akan menjadi ooit primer.

Pada dasarnya siklus sel terdapat 2 fase utama yaitu fase S (DNA sintesis)
dan fase M (Mitosis). Pada fase S terjadi duplikasi kromosom, organele dan protein
interseluler dan pada fase M terjadi pemisahan kromosom dan pembelahan sel.
Sebagian besar sel memerlukan waktu ekstra untuk proses sintesis sehingga pada
siklus sel terdapat ekstra fase Gap (Senggang) yaitu Gap 1 antara fase M dan fase S
serta Gap 2 antara fase S dan Mitosis. Hal ini mendasari pembagian fase menjadi 4
fase yaitu Fase G1, Fase S, Fase G2 (ketiganya disebut Interfase) dan fase M (mitosis

20
dan sitokinesis). Interfase adalah fase istirahat, sel ini sebenarnya sangat aktif secara
biokimia walaupun terlihat tidak ada perubahan morfologi (waktu lama, 23 jam
dalam 1 siklus 24 jam). M phase (mitosis) merupakan inti dari siklus sel dan secara
morfologi terjadi perubahan yang jelas teramati berupa kromosom yang tertarik ke
kutub, sitogenesis dan akhirnya sel terbagi menjadi dua (waktu cepat, 1 jam dalam 1
siklus 24 jam).

Mitosis memiliki 4 fase yaitu fase profase, metaphase, anaphase, dan telofase.

1) Profase
Kromatin berubah jadi kromosom dengan jalan berpilin-pilinnya
kromatin itu sendiri sehingga kian pendek dan tebal. Kromatin yang semula b
erupa jala yang halus sekali dan sukar terlihat di bawah mikroskop cahaya,
setelah jadi kromosom jadi besar-besar dan tampak jelas. Kromosom itu
muncul sudah rangkap dua, disebut kromatid (kromosom anak). Nukleolus
mula-mula membesar, kemudian jadi hilang. Sentrosom membelah jadi dua,
pergi ke kutub berseberangan inti. Tiap sentrosom terdiri dari sepasang
sentriol yang tegak lurus sesame. Sentriol membentuk serat gelondong antara
mereka, dari kutub ke kutub. Serat gelendong itu terutama terdiri dari
mikrotubul, di antarnya terdapat mikrofilamen. Selaput inti menipis dan
akhirnya menghilang.

2) Metafase
Serat gelendong terbentuk sempurna antara kutub, kromosom
menggantung pada serat gelendong itu lewat sentromernya, dan semua
bergerak ke bidang ekuator.

21
3) Anafase

Sentromer mengganda, sehingga setiap kromatid memiliki sentromer


sendiri-sendiri. Kromatid yang berasal dari satu kromosom kemudian
berpisah dan pindah ke kutub berseberangan. Sementara itu sel sendiri
memanjang menurut poros serat gelendong. Begerakya kromatid ke kutub
berseberangan inti dikira oleh peranan mikrotubul dan mikrofilamen yang
memendek dan memanjang. Mikrotubul yang menggantung kromosom
memendek, sedngkan yang menghubungkan kedua kutub memanjang,
mengkibatkan sel jadi ikut panjang juga.

4) Telofase
Selaput inti terbentuk mengelilingi kromatid di sekitar tiap kutub,
sentriol yang sepasang menempatkan diri di sebelah luar selaput inti.
Kromosom anak (kromatid) melonggar pilinannya, sehingga jadi kromatin.
Serentak dengan itu muncul nucleolus.

- Sitokinesis
Sitokinesis adalah bagian dari proses pembelahan sel,
yaitu sitoplasma dari satu eukariotik sel membelah menjadi dua sel anak.
Pembagian sitoplasma dimulai selama atau setelah tahap akhir dari
pembelahan inti dalam mitosis dan meiosis. Selama sitokinesis benang
gelendong berpisah dan mengangkut kromatid yang digandakan ke dalam
sitoplasma sel anak yang sudah terpisah. Hal ini untuk memastikan bahwa
jumlah dan kelengkapan kromosom tetap terjaga dari satu generasi ke
generasi berikutnya.

22
Ceruk terbentuk oleh invaginasi di daerah bidang ekuator dari
kedua sisi, yang makin lama makin dalam, sampai bertemu dengan
mikrotubul serat gelendong. Mikrotubul ikut membuat gentingan bersama
mikrofilamen. Sementara itu terbentuk vesikula (gelembung) di bidang
ekuator yang nantinya akan bertemu semua, sehingga terbentuk dua
lapisan membrane sel, masing-masing untuk tiap anak.

Ada dua macam cytokinesis yaitu disjunctive dan astral. Pada prose
disjunctive menghasilkan sel-sel anak yang lepas-lepas. Sedangkan proses
astral menghasilkan anak yang masih berhubungan atau berlekatan.

Hasil dari pembelahan mitosis ini terbenrtuk 2 sel anakan yang masih
memiliki 2n, yang disebut oosit primer.

2. Pertumbuhan
Pada pertumbuhan, oogonium akan tumbuh membesar menjadi oogonium I.
Pertumbuhan sangat memegang peranan penting, karena sebagian besar dari
substansi telur digunakan dalam perkembangan selanjutnya. Diferensiasi juga
terdapat pada periode tumbuh.

3. Pematangan
Pada tahap pematangan, gametosit I mengalami pematangan yang
berlangsung secara meiosis. Pembelahan meiosis adalah suatu proses terjadinya
pembelahan sel pada sel-sel kelamin dari organisme-organisme yang melakukan
proses reproduksi dengan cara generatif ataupun seksual. Pembelahan meiosis
biasanya sering disebut dengan proses pembelahan sel secara reduksi, karena proses

23
yang dihasilkan adalah sel-sel anakan dengan jumlah kromosom setengah/separuh
dari kromosom indukannya.

Hal ini sangat berhubungan dengan tujuan utama dari pembelahan itu sendiri,
yakni untuk mempertahankan agar sejumlah bagian kromosom dari generasi ke
generasi yang saling turun temurun akan selalu tetap sehingga itu dapat membantu
mempertahankan terhadap eksistensi dari jenis-jenis yang ada.

Meiosis terdiri dari atas 2 tahap yang pertama yaitu meiosis I dan tahap kedua
yaitu meiosis II. Masing-masing dari kedua tahap tersebut memiliki 4 fase yaitu
profase, metaphase, anafae dan telofase. Diantara kedua tahap meiosis ini terdapat
fase istirahat yang disebut interkinase. Dan pada fase pertama di meiosis I (profase)
dibagi lagi atas 5 sub-tahapan yaitu leptoten, zigoten, pakiten, diploten, dan
diakinase.

a. Meiosis I

1) Profase

 Leptoten : Kromatin berpilin menjadi kromosom

 Zigoten : Kromosom homolog menggandeng. Yang homolog itu sebelah


dari induk (kromosom matroklin), sebelah lain bapak (kromosom
patroklin). Pada beberapa tempat terjadi persilangan (chiasma; jamak:
chiasmata) antara kromosom homolog.

 Pakiten : Kromosom homolog menggandeng rapat sepanjang lengannya,


dari pangkal ke ujung kromosom homolog pun membentuk tetrad.

 Diploten : Tiap kromosom membelah longitudinal, sehingga jadi 2


kromatid. Sentrimor masih satu. Terjadi pula chiasmata pada beberapa
tempat kromatid homolog. Dari chiasmata timbul crossing over (pindah
silang fragment kromosom homlog).

 Diakinase ; Kromosom (kromatid) mencapai pilinan maksimal sehingga


mencapai besar maksimal pula. Kromosom homolog merenggang.
Nucleolus hilang, selaput inti hancur, sentriol mengganda dan tiap
pasangan pergi ke kutub berseberangan inti.

24
2) Metafase

Pada ini selaput inti hilang sama sekali dan antara kedua pasang
sentriol terbentuk serat gelendong, yang terdiri dari mikrotubul dan
mikrofilamen. Kromosom, sambil tetap menggadang anatara yang homolog,
bergerak ke bidang ekuator.

3) Anaphase

Sel memanjang dari kutub ke kutub, kromosom homolog berpisah,


masing-masing pindah ke kutub berseberangan, tapi kromatidnya belum
berpisah.

25
4) Telofase

Terbentuk selaput inti, sentriol yang sepasang berada di pinggir luar


selaput inti itu. Terjadi cytokinesis sehingga sel induk jadi dua sel anak.

b. Meiosis II

1) Profase

Masanya pendek sekali. Selaput inti hilang, sentriol mengganda dan


pergi ke kutub berseberangan inti. Kromatid tiap kromosom belum terpisah,
karena sentromer masih satu. Kromarid berarti tidak lagi mengganda untuk
kedua kalinya pada meiosis II.

2) Metaphase

Serat gelendong terbentuk antara pasangan sentriol. Kromosom yang


terdiri dari sepasang kromatid menggantung pada serat gelendong lewat
sentromer, pindah ke bidang ekuator.

26
3) Anafase

Sel memanjang dari kutub ke kutub menurut poros serat gelendong.


Sentromer tiap pasangan kromatid membelah sehingga kromatid bersaudara
lepas, masing-masing berpisah dan bergerak ke kutub berseberangan.

4) Telofase

Kromatid terbuka kembali pilinannya, terlepas-lepas, sehingga


menjadi jala halus: kromatin. Kemudian selaput inti terbentuk. Nukleulus
muncul. Melekat pada kromosom. Terjadi sitokinesis, sehinga dari dua
gametosit II terbentuk 4 gametid. Masing-masing mengandung kromosom
separo dari sel induk; dari 2N pada gametosit I, menjadi IN pada gametid.

4. Perubahan Bentuk

27
Ootid dalam fase terkhir akan mengalami perubahan bentuk
(transformasi)menjadi gamet. Pada mamalia, selesai meiosis I pada betina, terbentuk
oosit II dan satu polosit. Polosit jauh lebih kecil dari oosit, karena sitoplasma sedikit
sekali. Akhir dari meiosis II akan terbentuk satu ootid dan satu polosit II. Sementara
itu polosit I membelah pula menjadi dua, tapi jarang terjadi karena berdegenerasi
lebih awal. Tiga polosit tersebut akan berdegenerasi lalu diserap kembali oleh tubuh.
Jadi pada betina oosit tumbuh menjadi 1 ovum.

E. PROSES OVULASI

Ovulasi, ialah proses pecahnya folikel graaf dan dilepaskannya ovum.


Pelepasan ovun itu disertai sel-sel granulosa yang menyelaputinya, yang bersusun
ecara radial, sehingga disebut corona radiate. Ikut juga liquour folliculi keluar. Ovum
keluar dari folikel, sudah langsungkeluar dari dinding ovarium berupa letusan kecil.
Karena menjelang ovulai daerah cumulu oophorus mendekati selaput luar ovarium.

Daur ovarium ini dibagi atas dua bagian yaitu fase folikel dan fase lutein.
 Fase folikel,
Ialah masa pertumbuhan folikel sejak dari primer, sekunder, tertier,
sampai folikel Graaf. Beda halnya dengan testis, dalam ovarium sejak embryo
sudah terjadi pertumbuhan folikel, menyertai oogenesis. Ketika embryo berumur
6 bulan folikel muda tumbuh jadi folikel primer. Disusul perubahannya menjadi
folikel sekunder pada bulan-bulan berikut, dan ketika bayi lahir folikel tertier
sudah pada tumbuh dari sekunder. Folikel Graaf sudah terbentuk ketika anak
umur 7 tahun, tapi baru matang dan melakukan ovulasi setelah akil balig pada
umur 12-13 tahun.
Pertumbuhan folikel dirangsang oleh FSH dan LH dari hipofisa.
Menjelang folikel matang theca interna mulai menghasilkan estrogen. Estrogen
itu terdiri dari estradiol dan estron. Estrogen jadi sumber rangsangan daur-daur
pembiakan berikutnya pada saluran dan kelenjar juga pada behaviour.
Estrogen juga berfungsi menekan penggetahan FSH, merangsang
penggetahan lebih banyak LH. Dengan demikian kadar LH dalam darah naik,
dan ini merangsang ovulasi.
28
Ovulasi, ialah proses pecahnya folikel Graaf dan dilepaskannya ovum.
Pelepasan ovum itu disertai sel-sel granulosa yang menyelaputi- nya, yang
bersusun secara radial, sehingga disebut corona radiata. Ikut juga liquour
folliculi keluar. Ovum keluar dari folikel, sudah langsung keluar dari dinding
ovarium berupa letusan kecil. Karena menjelang ovulasi daerah cumulus
oophorus mendekati selaput luar ovarium dan kian dekat waktunya, ovum serta
corona (epitel germinal), radiata membentuk gembungan di selaput ovarium, lalu
meletus. Fase folikel ini pada orang 14 hari lamanya, atau separo daur
pembiakan.
Menurut penelitian mutakhir bukan satu folikel Graaf saja ter- bentuk
dan mengalami pematangan dalam satu daur. Ada bahkan sampai 20 folikel.
Pertumbuhan folikel ini rupanya hanya berlangsung pada salah satu ovarium.
Apakah yang kiri bulan ini, yang kanan bulan berikut, tidak tertentu. Acak. Yang
dari 20 folikel Graaf, cuma 1 yang berovulasi, sisanya beratresia. Dikira ini perlu
untuk meng- hasilkan estrogen yang cukup banyak, agar kadar LH dalam darah
jadi tinggi, cukup untuk mendorong ovulasi. Tapi hanya satu yang mampu
berovulasi itu.
Ada wanita yang terlalu subur, kedua ovarium menumbuhkan folikel
Graaf sampai saat ovulasi bersama-sama atau sedikit beda harinya. Ini akan
menimbulkan anak kembar fraternal. Suntikan hormon untuk mendorong
kesuburan, juga dapat mendorong kedua ovarium menumbuhkan folikel Graaf
sampai sama-sama berovulasi lebih dari satu. Wanita yang beberapa lama jadi
akseptor KB berupa pill hormonal, lalu dihentikan, tak jarang mengalami
kesuburan begini. Lahirlah anak kembar yang kadang bisa sampai 3-4.

 Fase lutein
Setelah ovulasi folikel Graaf yang tinggal dalam ovarium menjadi corpus
luteum (badan kuning) Kuning, karena sel granu- 1osanya mengandung pigment
yang berwarna kuning, disebut lipokrom. Bekas antrum dimasuki darah dan
jaringan ikat. Selain badan ini mengandung sel granulosa, juga sel jaringan ikat
yang berasal dari the ca interna yang berubah struktur dan fungsi. Sel-sel itu kini

29
disebut sel lutein. Sel ini bekerja menggetahkan hormon steroid: estrogen
(sedikit) dan progesteron (banyak).
Sel-sel lutein memiliki ultrastruktur yang menjadi ciri sel pemeroduksi
steroid: mitokondria bercristae pembuluh, berada berdekatan dengan reticulum
endoplasma halus yang banyak sekali. Butir lemak juga banyak dalam
sitoplasma.
Ovulasi dan pertumbuhan corpus luteum di bawah kontrol LH yang
berkadar tinggi dalam darah. Fase lutein ini berlangsung 14 fari pula pada orang.
Jadi kalau dijumlahkan, daur pembiakan yang. 28 hari, pada ovarium terbagi
atas: 14 hari pertama fase folikel, 14 hari kedua fase lutein.
Kalau terjadi pembuahan dan kehamilan, umur corpus luteum jadi
panjang, yakni selama kehamilan itu (sekitar 9 bulan pada orang). Corpus
luteum spurium ialah untuk memelihara per- tumbuhan endometrium untuk
nidasi dan placentasi. Ini berumur 14 hari. Corpus luteum verum ialah untuk
memelihara pertumbuhan placenta dan embryo.
Progesteron sebagai counterpart estrogen mengontrol daur pembiakan
pada saluran dan kelenjar kelamin. la juga sebagai umpan balik bagi hipofisa.
Kian tinggi kadar progesteron dalam darah. penggetahan LH kian turun, lalu
terhenti. Terhenti penggetahan LH berarti terhenti pula kontrol pemeliharaan
corpus luteum sendiri. Akibatnya corpus luteum itu berdegenerasi dan produksi
progesteron dan estrogen terhenti.
Jika ovum dibuahi dan terjadi nidasi dan placentasi, lapisan chorion
mbryo (disebut juga jaringan trophoblast) menghasilkan chorionic gonadotropin,
yang sifatnya sama dengan LH. Karena itu corpus luteum terpelihara
pertumbuhannya, dan bertahan selama kehamilan.

Jika corpus luteum spurium dan verum sudah berhenti berfungsi, vakni habis
menstruasi atau melahirkan, badan itu akan berdegenerasi. Mula-mula dimasuki
jaringan ikat rapat, terjadi hyalinasi, sedang sel-sel juteinnya dimasuki lemak,
kemudian berdegenerasi. Makrofag ikut berperanan dalam proses degenerasi sel
lutein itu. Badan itu kemu dian masuk ke pedalaman ovarium, dan dengan perlahan
jadi susut. Badan itu sekarang disebut corpus albicans, berupa parut bekas luka.
Badan ini akan hilang berbulan atau bertahun kemudian.

F. MACAM TELUR (OVUM)


1. Macam telur menurut susunan deutoplasma
Ada 4 macam telur menurut susunan seutoplasma yaitu:
 Homolecithal
 Mediolecithal
 Megalecithal

30
 Centrolecithal

Homolecithal, disebut juga oligolecithal atau isolecithal. Deuto-


plasma sedikit, tersebar rata di seluruh sitoplasma (ooplasma). Terdapat pada
Amphioxus dan Metatheria & Eutheria.

Mediolecithal, berdeutoplasma sedang berupa lapisan di daerah kutub


vegetal telur. Terdapat pada Amphibia. Megalecithal disebut juga
telolecithal. Deutoplasma banyak sekali, membentuk lapisan yang mengisi
hampir semua telur; sedangkan inti dan sedikit sitoplasma menempati hanya
daerah puncak kutub animal.

Terdapat pada Pisces, Reptilia, Aves dan Monotremata.


Centrolecithal. Deutoplasma relatif banyak dibandingkan dengan volume
telur, tapi terletak di bagian tengah. Sitoplasma berada sebelah luar. Terdapat
pada Insecta.

 Macam telur menurut kromosom kelamnin


Pada umumnya Vertebrata yang bersistem kromosom kelamin XY,
oogonium mengandung kromosom XX. Karena itu selesai meiosis setiap
telur mengandung satu kromosom X itu. Masam telur yang terjadi menurut
kromosom kelamin hanya satu: ovum-X. Pada Aves yang bersistem ZW,
oogonium mengandung susunan kromosom kelamin ZW. Dengan demikian
selesai meiosis ada dua macam ovum terbentuk (kemungkinan), ovum-Z dan
ovum-W.

G. DAUR PEMBIAKAN

Sistem reproduksi betina ada mengalami suatu daur, yang berulang secara
berkala dan teratur. Lama daur pembiakan itu berbagai pada berbagai jenis hewan
mamalia. Ada yang beberapa hari, ada yang beberapa minggu, ada yang berbulan-
bulan, ada pula sekali setahun. Primata sekitar sebulan. Manusia rata-rata 28 hari.
Mamalia yang hidup bebas, seperti kucing, anjing, harimau, rusa, sekalu setahun saja

31
mereka melakukan pembiakan, disebut musim pembiakan. Tapi kalau sudah jadi
hewan piara turun-temurun, musim pembiakan tidak jelas lagi sekali setahun; bisa 2-
3 kali setahun. Kecuali Primata, pada umumnya atan Mammlia menyesuaikan diri
dengan daur pembiakan pada betina.

Daur pembiakan asal-usulnya menyesuaikan diri dengan suasana ekologis


(iklim, musim, musuh, gejala astronomis). Burung daerah dingin bertelur di awal
musim semi atau musim panas. Hewan laut banyak yang bertelur ketika air pasang
atau sedang bulan purnama.

Meningkatnya suhu serta pancaran cahaya matahari dikira menimbulkan


reaksi fisiologis berantai dalam tubuh hewan sehingga mendorong mereka untuk
menghasilkan dan mengeluarkan telur. Lewat retina atau suatu indra penerima
stimulus suhu dan cahaya, sehingga merangsang hypothalamus otak dan hypophysis
(hipofisa), maka digetahkanlah hormon gonadotropin.

Daftar berikut memperlihatkan lama satu daur pembiakan pada Mammalia.


Lama satu daur pembiakan pada mammalia.

Species Lama satu daur


Mencit dan tikus 5 hari
Marmot 15 hari
Sapi, kucing, dan anjing 21 hari
Orang dan Kera 28 hari
Simpanse 35 hari

Pada Mammalia, (tak kentara benar pada Primata) ada rasa ingin membiak
(berahi) yang datang secara berkala bagi betinanya, disebut estrus (oestrus). Karena
itu pada kelompok hewan demikian daur pembiakan sama atau serentak dengan daur
estrus. Daur estrus ialah suatu peristiwa antara dua kejadian estrus.

Seluruh bagian sistem reproduksi mengalami perubahan berkala dalam daur


itu. Prinsipnya menyesuaikan diri dengan daur yang dialami alat kelamin primer,
yakni ovarium. Pada suatu ketika dalam daur itu ovarium menghasilkan banyak
estrogen, dan ini mempengaruhi saluran serta kelenjar sekunder. Bahkan juga tabiat
atau behaviour tubuh betina itu secara keseluruhan mengalami perubahan berkala,
sesuai dengan perubahan produksi estrogen dalam ovarium.

Daur pembiakan dibagi atas 7 macam menurut daerah genitalia yang


mengalaminya:

 Daur ovarium

32
 Daur tuba
 Daur uterus
 Daur cervix
 Daur vagina
 Daur kelenjar susu
1) Daur ovarium
Daur ovarium ini dibagi atas dua bagian yaitu fase folikel dan fase
lutein.
 Fase folikel,
Ialah masa pertumbuhan folikel sejak dari primer, sekunder, tertier,
sampai folikel Graaf. Beda halnya dengan testis, dalam ovarium sejak
embryo sudah terjadi pertumbuhan folikel, menyertai oogenesis. Ketika
embryo berumur 6 bulan folikel muda tumbuh jadi folikel primer. Disusul
perubahannya menjadi folikel sekunder pada bulan-bulan berikut, dan
ketika bayi lahir folikel tertier sudah pada tumbuh dari sekunder. Folikel
Graaf sudah terbentuk ketika anak umur 7 tahun, tapi baru matang dan
melakukan ovulasi setelah akil balig pada umur 12-13 tahun.

Pertumbuhan folikel dirangsang oleh FSH dan LH dari hipofisa.


Menjelang folikel matang theca interna mulai menghasilkan estrogen.
Estrogen itu terdiri dari estradiol dan estron. Estrogen jadi sumber
rangsangan daur-daur pembiakan berikutnya pada saluran dan kelenjar
juga pada behaviour.
Estrogen juga berfungsi menekan penggetahan FSH, merangsang
penggetahan lebih banyak LH. Dengan demikian kadar LH dalam darah
naik, dan ini merangsang ovulasi.
Ovulasi, ialah proses pecahnya folikel Graaf dan dilepaskannya
ovum. Pelepasan ovum itu disertai sel-sel granulosa yang menyelaputi-
nya, yang bersusun secara radial, sehingga disebut corona radiata. Ikut
juga liquour folliculi keluar. Ovum keluar dari folikel, sudah langsung
keluar dari dinding ovarium berupa letusan kecil. Karena menjelang
ovulasi daerah cumulus oophorus mendekati selaput luar ovarium dan kian

33
dekat waktunya, ovum serta corona (epitel germinal), radiata membentuk
gembungan di selaput ovarium, lalu meletus. Fase folikel ini pada orang
14 hari lamanya, atau separo daur pembiakan.
Menurut penelitian mutakhir bukan satu folikel Graaf saja
terbentuk dan mengalami pematangan dalam satu daur. Ada bahkan
sampai 20 folikel. Pertumbuhan folikel ini rupanya hanya berlangsung
pada salah satu ovarium. Apakah yang kiri bulan ini, yang kanan bulan
berikut, tidak tertentu. Acak. Yang dari 20 folikel Graaf, cuma 1 yang
berovulasi, sisanya beratresia. Dikira ini perlu untuk meng- hasilkan
estrogen yang cukup banyak, agar kadar LH dalam darah jadi tinggi,
cukup untuk mendorong ovulasi. Tapi hanya satu yang mampu berovulasi
itu.
Ada wanita yang terlalu subur, kedua ovarium menumbuhkan
folikel Graaf sampai saat ovulasi bersama-sama atau sedikit beda harinya.
Ini akan menimbulkan anak kembar fraternal. Suntikan hormon untuk
mendorong kesuburan, juga dapat mendorong kedua ovarium
menumbuhkan folikel Graaf sampai sama-sama berovulasi lebih dari satu.
Wanita yang beberapa lama jadi akseptor KB berupa pill hormonal, lalu
dihentikan, tak jarang mengalami kesuburan begini. Lahirlah anak kembar
yang kadang bisa sampai 3-4.

 Fase lutein
Setelah ovulasi folikel Graaf yang tinggal dalam ovarium menjadi
corpus luteum (badan kuning) Kuning, karena sel granu- 1osanya
mengandung pigment yang berwarna kuning, disebut lipokrom. Bekas
antrum dimasuki darah dan jaringan ikat. Selain badan ini mengandung sel
granulosa, juga sel jaringan ikat yang berasal dari the ca interna yang
berubah struktur dan fungsi. Sel-sel itu kini disebut sel lutein. Sel ini
bekerja menggetahkan hormon steroid: estrogen (sedikit) dan progesteron
(banyak).

34
Ket: ji = jaringan ikat, pd = pembuluh darah, sgl = sel granulosa
lutein, stl = sel theca lutein, str = stroma ovarium.

Sel-sel lutein memiliki ultrastruktur yang menjadi ciri sel


pemeroduksi steroid: mitokondria bercristae pembuluh, berada berdekatan
dengan reticulum endoplasma halus yang banyak sekali. Butir lemak juga
banyak dalam sitoplasma.
Ovulasi dan pertumbuhan corpus luteum di bawah kontrol LH yang
berkadar tinggi dalam darah. Fase lutein ini berlangsung 14 fari pula pada
orang. Jadi kalau dijumlahkan, daur pembiakan yang. 28 hari, pada
ovarium terbagi atas: 14 hari pertama fase folikel, 14 hari kedua fase
lutein.
Kalau terjadi pembuahan dan kehamilan, umur corpus luteum jadi
panjang, yakni selama kehamilan itu (sekitar 9 bulan pada orang). Corpus
luteum spurium ialah untuk memelihara per- tumbuhan endometrium
untuk nidasi dan placentasi. Ini berumur 14 hari. Corpus luteum verum
ialah untuk memelihara pertumbuhan placenta dan embryo.
Progesteron sebagai counterpart estrogen mengontrol daur pem-
biakan pada saluran dan kelenjar kelamin. la juga sebagai umpan balik
bagi hipofisa. Kian tinggi kadar progesteron dalam darah. penggetahan LH
kian turun, lalu terhenti. Terhenti penggetahan LH berarti terhenti pula
kontrol pemeliharaan corpus luteum sendiri. Akibatnya corpus luteum itu
berdegenerasi dan produksi progesteron dan estrogen terhenti.
Jika ovum dibuahi dan terjadi nidasi dan placentasi, lapisan chorion
mbryo (disebut juga jaringan trophoblast) menghasilkan chorionic
gonadotropin, yang sifatnya sama dengan LH. Karena itu corpus luteum
terpelihara pertumbuhannya, dan bertahan selama kehamilan.

35
Jika corpus luteum spurium dan verum sudah berhenti berfungsi,
vakni habis menstruasi atau melahirkan, badan itu akan berdegenerasi.
Mula-mula dimasuki jaringan ikat rapat, terjadi hyalinasi, sedang sel-sel
juteinnya dimasuki lemak, kemudian berdegenerasi. Makrofag ikut
berperanan dalam proses degenerasi sel lutein itu. Badan itu kemu dian
masuk ke pedalaman ovarium, dan dengan perlahan jadi susut. Badan itu
sekarang disebut corpus albicans, berupa parut bekas luka. Badan ini akan
hilang berbulan atau bertahun kemudian.

2) Daur tuba
Sesuai dengan daur ovarium, yang memiliki fase folikel dan fase lutein.
Pada fase folikel estrogen meningkat; pada fase lutein proges- teron yang
meningkat, estrogen turun.
Fase folikel sampai ovulasi: Lapisan epitel aktif bermitosis, terbentuk
sel-sel bercilia dan penggetah lendir. Sel-sel itu pun makin lama nakin tinggi.
Lendir pun kian banyak dihasilkan. Lendir mengandung bahan untuk: 1.
kapasitasi spermatozoa; 2. viabilitas spermatozoa; 3 sumber energi; 4.
menolong spermatozoa melepaskan corona radiata.
Yang dimaksud dengan kapasitasi, ialah agar spermatozoa sanggup
membuahi. Kapasitasi itu berlangsung dalam saluran kelamin betina hukan
dalam saluran kelamin jantan. Kapasitasi penting demi kelancaran pembuahan,
dan memegang peranan penting pula dalam fertilitas. Yang melakukan
kapasitasi, selain tuba, juga uterus dan cervixnya. Bentuk kapasitasi itu ialah
dengan membebaskan sperma- tozoa dari zat inhibitor pembuahan. Inhibitor
pembuahan itu ter- kandung dalam (dibuah) semen sendiri, yang maksudnya
agar sperma- tozoa baru dapat membuahi pada saat yang tepat. Yakni harus
tiba dulu dalam tuba. Sebelum tiba di sana ia dicegah melepaskan zat untuk
melangsungkan pembuahan. Pencegah inilah inhibitor itu. Yang penting ialah
zat yang menekan inhibitor proteinase yang dikeluarkan akrosom. Setelah
inhibitor itu dinetralisir cairan tuba, dapatlah spermatozoa melakukan
pembuahan.

36
Ion Ca dalam cairan tuba menolong proses kapasitasi. Untuk viabilitas
(ketahanan) spermatozoa perlu berbagai zat nutrisi, terutama glukosa, asam
laktat, piruvat, dan enzim amylase serta asam laktat dehydrogenase. Cairan
tuba sebagai sumber energi, karena mengandung karbohidrat yang dioksider
untuk mendapat ATP. Inilah energi untuk bergerak spermatozoa.
Zat yang menolong spermatozoa melepaskan corona radiata ovum ialah
ion HCO3, yang berkadar tinggi dalam cairan tuba. Menjelang ovulasi
pembuluh darah jadi banyak bercabang dalam fibriae. Ini mengakibatkan
rumbai tuba itu jadi besar dan tegang, sehingga dapat meliput ovarium dengan
sempurna. Sementara itu tuba aktif bergerak berirama, dan ketika waktu
ovulasi sudah dekat ia menjulur mendekati ovarium.
Fase lutein: dengan susutnya kadar estrogen dan naiknya kadar pro-
gesteron dalam darah, maka terjadi perubahan sebaliknya dari fase folikel di
atas. Lapisan epitel susut dan jadi rendah, sel cilia berde- generasi atau terlepas
ke lumen, dan sekresi atau penggetahan turun. Cairan jadi sedikit, sehingga
inhibitor proteinase akrosom dapat menghalangi spermatozoa membuahi.
Pembuluh darah susut, fimbriae Susut dan lentur, tuba menjauhi ovarium, dan
gerakan beriramanya pun hilang.

3) Daur uterus
Uterus erat sekali berhubungan dengan ovarium di dalam fisiologi
reproduksi. Ia juga mengalami daur, yang lebih populer disebut daur haid atau
daur menstruasi. Karena, setiap daur ditandai dengan timbulnya haid pada
Primata, termasuk orang. Lama satu daur 28 hari, sesuai dengan daur ovarium.
Daur uterus dibagi atas 3 fase:
 Fase proliferasi
Kelenjar endometrium tumbuh dan terjadi mitosis berulang-ulang
pada sel-sel epitel serta jaringan ikat yang membina lamina propria
(stroma). Sel stroma kini disebut sel decidua, yang kaya akan glikogen.
Fase ini dempet dengan fase folikel dalam ovarium, berarti di bawah
rangsangan estrogen yang kadarnya meningkat dalam darah. Fase ini mulai
pada waktu berakhirnya menstruasi, menyebab- kan endometrium jadi 2-3
kali tebal asal. Oleh mitosis epitel dan stroma yang terus-menerus tadi,
kelenjar uterus makin banyak dan makin tinggi. Pembuluh darah juga ikut
tumbuh memanjang mengikuti penebalan endometrium itu, dan membuat
susunan khas pada uterus: melilit-lilit bentuk spiral. Fase proliferasi
berhenti pada hari ke-14 daur.

 Fase sekresi:

37
Fase sekresi atau fase menggetahkan, mulai saat terjadinya ovulasi
di ovarium. Fase ini dempet-dengan fase lutein daur ovarium, dan
dikontrol oleh meningkatnya kadar progesteron dalam darah. Kelenjar
uterus melakukan penggetahan dan lendir getahan berkumpul di lumennya.
Cairan stroma pun kian tebal, pembuluh darah terus memanjang dan
berlilit-lilit sampai ke permukaan endometrium. Dalam keadaan ini uterus
siap menerima nidasi. Fase ini berlangsung 14 hari pula.
Lendir atau cairan uterus berfungsi untuk kapasitasi dan melancar-
kan nidasi. Lendir itu pada post-ovulasi mengandung zat untuk men-
dorong spermatozoa berlangsung lancar. Sementara itu lendir ini
merangsang myometrium meregang (dilatasi), sehingga spermatozoa
lancar lewat.
Untuk kelancaran nidasi, melepaskan hyaluronidase, agar
pembuahan yang merangsang blastocyst (embryo awal bentuk bola) untuk
bernidasi. lendir mengandung blastokinin, suatu zat yang merangsang
blastocyst (embryo awal bentuk bola) untuk bernidasi.

 Fase menstruasi:
Ini terjadi jika ovum tak dibuahi, sehingga nidasi tak terjadi pula.
Corpus luteum berhenti bekerja, sehingga kadar progesteron jatuh
mendadak. Karena itu endometrium pun mengalami penyusutan dan
hancur. Fase ini 2 minggu setelah ovulasi.
Lapisan fungsionalis endometrium terkelupas dan lepas ke lumen.
Pembuluh darah di lapisan itu ikut, sedang di batas kelupasan ber- angsur
terjadi pengincupan sampai tertutup. Dengan demikian endometrium jadi
tipis, karena tinggal Tapisan basalis saja lagi.
(Gb. 4.23). A ms hari Gb. 4.23 Daur ovarium. uterus dan vagina A.
daur vagina; B. daur uterus; C. daur vagina. Pada hari ke-14 dalam daur
ovarium terjadi ovulasi. Dalam daur uterus, 5 hari pertama fase
menstruasi, hari 5-14 fase proli- ferasi, hari 14-28 fase sekresi. cl corpus
luteum: fg folikel Graaf; ms fase mens- truasi; ov ovulasi; pr fase
proliferasi; ak fase sekresi.

38
Awal fase menstruasi, yang berlangsung pada hari pertama, disebut
juga fase ischemic, yakni ketika arteri spiral pada lapisan fungsionalis
mengalami ischemic (aliran darah terhenti ke situ), sehingga sel-selnya
mengalami necrosis (mati). Ini mengakibatkan lepasnya seluruh lapisan
fungsionalis itu ke lumen. Haid berlangsung 3-5 hari. Hari pertama haid
berarti hari pertama pula daur pembiakan berikut: Hari pertama fase
folikel, berarti hari pertama pula fase proliferasi.
Berdasarkan daur haid ini orang dapat mencatat waktu ovulasi.
Dengan perhitungan tenggang waktu sekitar 7 hari, dibuatlah penanggalan
masa subur seseorang wanita. Untuk kontrasepsi masa subur ini dianggap
masa pantang. Seperti dibicarakan di bab terdahulu, sistem penanggalan
ini sering gagal. Faktor psikis atau stress kejiwaan dapat juga
mempengaruhi daur pembiakan. Ada kemungkinan mulainya fase folikel
itu tertangguh beberapa hari; jadi tidak persis pada hari pertama haid.
Pada orang darah haid yang keluar sekitar 50 ml. Terdiri dari darah
pada lapisan fungsionalis serta pendarahan dari ujung arteri yang putus
pada lapisan basalis; sel-sel stroma, epitel dan jaringan lain yang membina
lapisan fungsionalis endometrium; dan juga lendir getahan uterus serta
cervix.

4) Daur cervix
Meski cervix bagian dari uterus, namun ia mengalami perubahan
berkala yang khas. Ia tak pula mengalami fase-fase proliferasi, sekresi dan
menstruasi. Daurnya sesuai dengan daur ovarium.

39
Fase folikel, kadar estrogen naik dalam darah. Terjadi pertumbuhan
lapisan epitel mukosa bersama kelenjarnya. Sementara itu pembuluh darah pun
bertambah banyak, banyak penyerapan air (edema), dan otot pada mengendur.
Sel-sel epitel makin lama makin tinggi, mencapai puncaknya menjelang
ovulasi. Kelenjar makin banyak menghasilkan lendir. Lendir itu kian dekat
ovulasi kian encer dan bening, dan kandungan glukosanya naik pula, sehingga
menjelang ovulasi 200 mg/100 ml. Cellular debris makin sedikit sampai nihil.
AAF (anti-agglutinic factor), pencegah agglutinasi spermatozoa, digetahkan
banyak, sehingga menjelang ovulasi lendir jadi dapat ditembus dan
menyenangkan bagi spermatozoa.
pH cocok bagi spermatozoa ialah 7,5. Menjelang ovulasi pH yang agak
asam, sekitar 6, akan naik menjadi 7,5 sampai 8 sewaktu ovulasi. Jika pH
kurang dari 7 spermatozoa diimmobilisasi dan tak dapat menembus lendir
cervix untuk mencapai uterus.
Rheologi lendir juga penting untuk kelancaran penembusan dan
penyaluran spermatozoa dalam saluran cervix. Faktor rheologi yang penting
dalam analisa lendir cervix ialah: 1. spinnbarkeit; 2. ferning; 3. viskositas.
 Spinnbarkeit,
Ialah perbenangan yang terjadi jika lendir diteteskan ke kaca obyek
lalu ditarik dengan batang kaca, terbentuk benang. Panjang benang diukur
sampai batas putus. Perbenangan ini kian panjang (berarti lendir kian elastis
dan kian cocok bagi spermatozoa) menjelang ovulasi.
 Ferning,
Ialah pembentukan kristal lendir kalau diusapkan ke kaca obyek dan
dibiarkan kering dalam suhu kamar. Kristal yang terbentuk membentuk
susunan mirip daun pakis. Kian tinggi derajat percabangan daun pakis itu
terbukti kian lancar penyaluran dan selèksi spermatozoa.
 Fiskositas,
Diukur dengan viskometer in situ (di tempat, dalam cervix). In vitro
(di luar tubuh, di kaca obyek atau tabung reaksi) dapat diukur secara
sederhana dan dibedakan menurut kategori: encer sekali, encer, kental,
kental sekali. Mendekati ovulasi viskositas terendah, jadi encer.

Warna lendir juga perh dianalisa, untuk mengetahui apakah banyak


cellular debris atau tidak. Warna itu jadi bening keputihan sekitar ovulasi,
menandakan bebas dari cellular debris. Jika keruh atau ke-kuningan berarti
banyak lar debris.
Analisa lendir cervix, seperti telah disinggung di depan, dapat pula
dipakai untuk mendeteksi saat ovulasi seseorang wanita.
Dalam cervix telah mulai berlangsung kapasitasi spermatozoa. Lendir
mengandung zat yang dapat menetralkan peranan inhibitor enzim pembuahan

40
yang dikandung akrosom. Sementara itu dalam lendir juga banyak terdapat
glukosa, yang menjadi sumber energi bagi pergerakan spermatozoa. Kadar
glukosa dalam lendir cervix ini perlu pula dianalisa untuk menentukan
kemandulan seseorarng wanita. Orang infertil memiliki kadar glukosa yang
rendah Zat kapasitasi dan glukosa makin meningkat kadarnya menjelang waktu
ovulasi. Fase lutein, kadar progesteron meningkat dalam darah. Hormon ini
menyebabkan lapisan epitel bersama kelenjarnya jadi susut dan peng- getahan
lendir pun ditekan. Penggetahan lendir turun cepat 1-2 hari setelah ovulasi,
sampai jadi sedikit sekali, sangat kental, dan lengket. Sel epitel dan lekosit
banyak sekali di dalam lendir yang menjadi cellular debris. Ini merintangi
lewat spermatozoa. pH pun turun sampai agak asam. Kadar glukosa dan zat
penetral inhibitor enzim pembuahan jadi turun. ferning menurun derajat
percabangannya, sampai hilang.
Rheologi pada post-ovulasi: spinnbarkeit jadi pendek-pendek, ferning
menurun derajat percabangannya, sampai hilang. Viskositas meningkat sampai
di puncak. Ini semua sebagai perintang bagi spermatozoa untuk menembus
cervix.

5) Daur vagina
Tak banyak perubahan yang terjadi dibandingkan dengan di uterus atau
cervix. Namun perubahan itu ada, dan berkala juga, sesuai dengan daur
ovarium. Pada fase folikel ovarium, kadar estrogen yang tinggi merangsang
epitel vagina aktif bermitosis dan mensintesa glikogen banyak sekali. Dengan
demikian lapisan mukosa vagina jadi menebal menjelang ovulasi, dan di lumen
banyak glikogen. Glikogen ini oleh bakteri difermentasi jadi asam laktat,
sehingga medium vagina asam (pH 4-5). Masih dalam penelitian, apakah itu
karena berasal dari lendir cervix, tapi dekat waktu ovulasi vagina itu jadi agak
alkalis, sehingga tidak demikian mengganggu. Primata selain manusia, dan
Rodentia, penebalan epitel lapisan mukosa vagina itu disertai pula dengan
proses penandukan (kornifikasi), lalu mengelupas dan jatuh ke lumen. Dalam
analisa usapan vagina ditemukannya sel-sel epitel yang menanduk sebagai
indikator pula akan itu kehidupan spermatozoa. Pada masa ovulasi.
Menjelang ovulasi lekosit pun makin banyak menerobos lamina
propria, terus ke lumen. Belum jelas apakah lekosit ini berperanan sebagai
perintang arus semen atau justru pelindungnya dari bakteri.
Pada fase lutein, berhubung dengan naiknya kadar progesteron, sifatnya
ialah menekan pertumbuhan epitel. Karena itu lapisan mukosa jadi tipis dan
lapisan menanduk hilang.
Menurut Papanicolaou (1945), vaginal smears (usapan vagina),
ditambah dengan usapan cervix dan endometrium, dapat menunjukkan waktu

41
ovulasi wanita secara persis; sekali gus juga untuk diagnosa adanya kanker
pada saluran kelamin itu.
Pada Rodentia sudah routin dikerjakan orang vaginal smears untuk
mengetahui masa ovulasi serta daur estrus pada umumnya. Di bawah ini
dicantumkan ciri daur estrus itu, melihat pada vaginal smear.
Usapan vagina pada daur estrus (tikus) A. Proestrus, hanya ada sel
epitel biasa; B. Estrus, terdiri dari sel epitel menanduk (cornified); C. Diestrus
terdapat sel epitel biasa dan lekosit.

 Proestrus : Terdapat sel epitel biasa.


 Estrus : Terdapat banyak sel epitel menanduk.
 Diestrus : Terdapat sel epitel biasa dan banyak lekosit.
 Metestrus (kalau ada) Terdapat banyak sel epitel menanduk dan lekosit,
kemudian juga sel epitel biasa.

6) Daur Kelenjar Susu


Dibandingkan dengan wanita, lebih kurang jelas lagi Nampak
perubahan yang terjadi pada kelenjar susu (mammae). Namun perubahan itu
ada, dan berlangsung pula secara berkala tiap 28 hari sesuai daur ovarium.
Pada fase folikel kelenjar itu ikut tumbuh. Baik kelenjar maupun
salurannya aktif bermitosis dan membentuk gelembung (lobuli). Sel-sel lemak
pun tumbuh dengan makin banyak menyimpan butir lemak. Jaringan ikat
mengalami hidrasi sehingga menjelang ovulasi kelenjar itu jadi membesar.
Pada fase lutein kegiatan kelenjar susut lagi dan sedikit mengempis.

42
Sebelum akil balig kelenjar susu tidak berkembang. Sekitar umur 12
tahun seluran membentuk cabang banyak, di ujung tiap cabang tumbuh
kelenjar tubula-alveoli. Seiring dengan itu jaringan lemak dan jaringan ikat
menyusut, untuk memberi tempat bagi pertumbuhan kelenjar tersebut.
Seperti dibicarakan di depan ada terjadi perubahan histologis pada
kelenjarnya tumbuh, dan jaringan ikat mengalami hidrasi. Menjelang ovulasi
kelenjar itu jadi membesa. Setelah ovulasi lewat kegiatan turun, dan akan
berulang lagi menjelang ovulasi berikut.
Jika terjadi kehamilan kelenjar tumbuh pesat. Saluran dan kelenjar
memperbanyak diri, terbentuk banyak cabang dan lobuli, sedang jaringan ikat
dan lemaknya susut.
Pertumbuhan kelenjar susu di bawah control hormone yang bekerja
sinergis: estrogen dan progesterone (dari ovarium); mammatropin (dari
hipofisa dan placenta); insulin (dari pancreas); dan tirotropin, sematotropin dan
kortikotropin (semua dari hipofisa).
Mammmtropin perlu untuk tahap awal pertumbuhan kelenjar. Estrogen
dan progesterone untuk meneruskan control pertumbuhan kelenjar sampai saat
menggetahkan susu yang disimpan dalam lumen alveoli. Insulin dikira perlu
untuk pertumbuhan lobuli. Tirotropin, somatotropin dan kortikotropin tak jelas
perincian peranan khas masing-masing, tapi secara umum untuk memelihara
pertumbuhan kelenjar.
Jika bayi lahir dan disusukan induk, susu akan mengalir ke luar oleh
control oxytocin (juga dari hipofisa). Oleh karena ragsangan pengisapan mulut
bayi, implus disampaikan ke hypofisa menggetahkan oxytocin. Oxytocin
merangsang sel myoepithel berkerut sehingga menyebabkan susu disemprotkan
dari saluran serta alveoli.
Air susu pertama yang keluar ketika baru melahirkan disebut colostrum,
mengandung banyak immunoglobulin (antibodi), sebagai immunisasi pasif
bayi terhadap kuman.

43
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Spermatogenesis merupakan istilah yang dipakai dalam menggambarkan
urutan kejadian pembentukan spermatozoa dari spermatogonium oleh sel
spermatogenik. Dalam proses spermatogenesis ini teridir atas 4 tahap yaitu
perbanyakkan, pertumbuhan, pematangan, dan perubahan bentuk. Tahap
perbanyakkan 9poliferasi0 berlangsung secara mitosis berulang-ulang.
Gametogonium (sel-induk gamet) membelah menjadi 2, 2 jadi 4, 4 jadi 8, dan
seterusnya. Gametogonium ini akan tumbuh, membesar menjadi gametogenesis I.
gametosit I mengalami tahap pematangan berlangsung secara meiosis. Akhir meiosis
I terbentuk gametosit II, dan akhir meiosis II terbentuk gametid. Gametid mengalami
tahap perubahan bentuk (transformasi) menjadi gamet.
Spermatozoa menurut struktur terdapat dua kelompok yaitu: tak
berflagellum dan berflagelum. Spermatozoa yang tidak berflagelum terdapat pada
beberapa jenis evertebrata, yakni Nematoda, Crustacea, Diplopoda. Yang memiliki
flagelumlah yang umum terdapat pada hewan. Spermatozoa ada yang memiliki satu
flagellum (umum) dan ada yang memiliki flagellum lebih dari satu (jarang).
Dalam menganalisis semen, ada beberapa yang dianalisis secara rutin ialah:
Bau, warna volume, koagulasi, likuifaksi, viskositas, pH, kecepatan, konsentrasi,
motilitas, morfologi, dan ketahanan.
Oogenesis adalah proses pembentukan sel telur (ovum) pada wanita, yang
terjadi di dalam ovarium (indung telur). Ovarium yang ada di embrio memiliki
sekitar 600 ribu sel oogonium atau sel induk telur. Sembilan minggu setelah proses
pembuahan terjadi, ternyata janin juga sudah mulai memproduksi sel telur. Saat janin
bayi perempuan berusia 5 bulan, oogonium memperbanyak diri dengan cara mitosis
hingga jumlahnya mencapai lebih dari 7 juta oosit primer. Tetapi, jumlah oosit
primer yang banyak ini akan terus berkurang sampai janin lahir. Dalam proses
oogenesis sama dengan tahapan proses spermatogenesis.
Ovulasi, ialah proses pecahnya folikel graaf dan dilepaskannya ovum.
Pelepasan ovun itu disertai sel-sel granulosa yang menyelaputinya, yang bersusun
ecara radial, sehingga disebut corona radiate. Ikut juga liquour folliculi keluar. Ovum
keluar dari folikel, sudah langsungkeluar dari dinding ovarium berupa letusan kecil.
Karena menjelang ovulai daerah cumulu oophorus mendekati selaput luar ovarium.
Daur ovulasi dibagi atas dua yaitu fase folikel dan fase lutein.
Macam telur menurut susunan deutoplasma ada empat macam susunan yaitu
homolecithal, mediolecithal, megalecithal, dan centrocithal. Dan macam telur
menurut kromosom kelamin yaitu umumnya ada vertebrata memiliki system
kromosom kelamin XY, oogonium mengandung kromosom XX. Pada aves bersistem
ZW.

44
Daur pembiakan dibagi atas tujuh macam menurut daerah genital yang
mengalaminya, yaitu daur ovarium, daur tuba, daur uterus, daur servix, daur vagina,
dan daur kelenjar susu.

B. SARAN

Dengan adanya makalah ini diharapkan agar penulis serta pembaca dapat
memahami dan mengerti lebih lanjut mengeani Gametogenesis. Sehingga kita semua
bisa menambah wawasan dalam dunia pendidikan maupun dalam lingkup keseharian
kita. Dan juga dapat mengetahui hal yang belum dibahas dalam makalah ini sehingga
dapat lebih menamah pengetahuan lagi. Dan kiranya pembaca dapat memberikan
kritik dan saran yang membangun untuk memperlengkapi makalah ini agar
kedepannya lebih baik lagi. Terima kasih 

45
DAFTAR PUSTAKA

Yatim., Wil., 1982. Reproduksi Dan Embriologi Untuk Mahasiswa Biologi


Dan Kedokteran. Tarsito. Bandung
Kimball, John W., . BIOLOGI Edisi Kelima Jilid 2. Erlangga. Bogor.
Zega, Maria. 2016. Gametogenesis.
https://www.academia.edu/11585009/Gametogenesis. Diakses pada
27 September 2019
Tumbeling. Grace. 2016. Makalah Gametogenesis Garce Tumbeling.
https://www.academia.edu/15063122/Makalah_gametogenesis_Trey
sia_timbuleng. Diakses pada 27 September 2019
Swari. Candra Riski., 2018. Serba-serbi Oogenesis, Proses pembentukan Sel
Telur Wanita. https://hellosehat.com/hidup-sehat/fakta-unik/proses-
oogenesis-adalah/. Diakses pada 01 Oktober 2019
Muhlisin. Ahmad., 2019. Apa Itu Ovulasi. https://www.honestdocs.id/apa-itu-
ovulasi. Diakses pada 01 Oktober 2019

46