Anda di halaman 1dari 63

SIFAT-SIFAT GAS

Dipadukan oleh
Dr. Enih Rosamah, M.Sc.
Zat berada dalam tiga bentuk fisik yang berbeda:
PADAT, CAIR , dan GAS

• Gas memiliki gaya tarik menarik molekul yang sangat


lemah

• Gaya yg lemah menyebabkan molekul-molekul dapat


bergerak dengan cepat dan bebas sehingga gerak-gerik
fisik dari gas hampir tak tergantung dari komponen
kimianya

• Pergerakan gas dikendalikan oleh volume, tekanan, suhu


dan jumlah molnya.
Pergerakan dan perubahan volume
gas
• Gas lambat mengalir
• Gerakannya menyebar ke semua arah
• Mampu menembus pori-pori
• Pemanasan menyebabkan ekspansi gas
sehingga volumenya membesar
• Pendinginan menyusutkan volume gas

4
Warna gas
• Sebagian besar tak berwarna (colorless )
• Kecuali:
• Fluorine (F2
)
,Ch lori
n e(Cl
2)ke d uan ya
kun i
n g kehi
j
au-h i
jauangr
(een-y el
low )
• Bromine (Br2
)c o kl
a tkeme r
ah a n(r
e d-
brow n )
• Iodine (I2
) u
n
gu v
(iolet)
• Nitrogen dioxide (NO2
)
,d
i
ni
t
r
og
en
d
i
o
xi
d
e
br
ow
n
5
(
N O ) k
e du a
n ya cokl
a
t( )
VOLUME DAN TEKANAN
 Bila gas dimasukkan ke dalam suatu wadah,
molekul-molekulnya akan bergerak secara bebas
dan akan menempati seluruh volume wadah tsb.

 Gas bercampur satu sama lain secara bebas. Bila


ada beberapa macam gas dalam campuran, maka
volume dari tiap komponen sama dengan volume
wadah yang ditempati seluruh macam gas.

 Tekanan didefinisikan sebagai gaya per satuan


luas; merupakan jumlah intensif yang didapat
sebagai hasil perbandingan dua kuantitas
ekstensif yaitu gaya dan luas.
Tekanan adalah perbandingan antara gaya per luas. Gaya yang
sama sebesar 100 lb dilakukan pada dua buah piston, tetapi
piston sebelah kanan yang luasnya lebih kecil akan menghasilkan
tekanan yang lebih besar. Pada masing-masing silinder tekanan
yang sama akan dilakukan pada seluruh dinding.
Tekanan Atmosfir

• Atmosfir yang mengelilingi bumi adalah


campuran berbagai gas.
• Apa yang terjadi bila udara dikeluarkan
dari wadah yang terbuat dari baja?
Pada Gbr dibawah: Di sebelah kiri, udara sebelum dikeluarkan dari
wadah, sehingga tekanan diluar sama dengan di dalam. Di sebelah
kanan ketika udara telah dikeluarkan dari wadah tekanan atmosfir
demikian besarnya sehingga wadah menjadi ringsek.
Tekanan gas
• 1 standard atmosphere = 1 atm = tekanan
udara pada suhu 0 0C, ketinggian setara
permukaan laut, = tinggi kolom air raksa
(mercury/Hg) 760 mm.
• 1 mm Hg ketinggian air raksa = 1/760 atm
= 1 torr (menghormati Evangelista
Torricelli, 1643)
• 1 atm (tepatnya 0,99 atm) = 105 Pascal
(menghormati Blaise Pascal)
• 0,99 atm = 1 bar (dari: barometer)
10
Asal mula 1 atm
• P gh
• P  Pressure  tekanan  1 atm
•  (baca: rho)  massa jenis Hg  13,5951 g/
mL
• g  percepatan gravitasi bumi  9,80665 m/
sec2. (catt: sec  second  detik)
• h  height  ketinggian zat dari dasar ke
permukaan  760 mm
• 1 atm setara beban 1,033228 kg terhadap
bidang seluas 1 cm2 atau 1 kg /cm2
11
• Tekanan atmosfir diukur dengan suatu alat
yang disebut BAROMETER.
Alat ini dibuat dengan mengisi suatu
tabung gelas yang panjangnya 1 m dengan
air raksa, dan menutup ujungnya sehingga
air raksa tak akan keluar. Lalu tabung yang
berisi air raksa ini dimasukkan ke dalam
wadah yang juga berisi air raksa, sehingga
ujungnya yg terbuka akan terbenam dlm air
raksa.

Waktu tabung gelas dibalik, ada sedikit air


raksa yang keluar, sehingga tabung diatas
tak berisi apa-apa (vakum). Air raksa dalam
tabung tetap bertahan karena adanya
tekanan atmosfir ke permukaan cairan air
raksa.
1 atm = 760 mmHg
1 atm = 760 t0rr
Penting 1 torr = 1 mmHg
1 Pa (Pascal) = 1 N/m 2

1 atm = 101.325 Pa = 101,325 kPa


Gas pada kondisi STP : gas pada suhu dan tekanan
standar (760 torr dan 273 K)
Hukum Gas Ideal
• Gas merupakan satu dari tiga wujud zat dan walaupun
wujud ini merupakan bagian tak terpisahkan dari studi
kimia, bab ini terutama hanya akan membahasa
hubungan antara volume, temperatur dan tekanan baik
dalam gas ideal maupun dalam gas nyata.

• Sifat fisik gas bergantung pada struktur molekul gasnya


dan sifat kimia gas juga bergantung pada strukturnya.
a. Sifat gas

1. Gas bersifat transparan


2. Gas terdistribusi merata dalam ruang apapun bentuk ruangnya.
3. Gas dalam ruang akan memberikan tekanan ke dinding.
4. Volume sejumlah gas sama dengan volume wadahnya. Bila gas tidak
diwadahi, volume gas akan menjadi tak hingga besarnya, dan tekanannya
akan menjadi tak hingga kecilnya.

5. Gas berdifusi ke segala arah tidak peduli ada atau tidak tekanan luar.
6. Bila dua atau lebih gas bercampur, gas-gas itu akan terdistribusi merata.
7. Gas dapat ditekan dengan tekanan luar. Bila tekanan luar dikurangi, gas
akan mengembang.
8. Bila dipanaskan gas akan mengembang, bila didinginkan akan mengkerut.
Dari berbagai sifat di atas, yang paling
penting adalah tekanan gas. Misalkan suatu
cairan memenuhi wadah. Bila cairan
didinginkan dan volumenya berkurang,
cairan itu tidak akan memenuhi wadah lagi.
Namun, gas selalu akan memenuhi ruang
tidak peduli berapapun suhunya. Yang akan
berubah adalah tekanannya.
Alat yang digunakan untuk mengukur
tekanan gas adalah manometer. Prototipe
alat pengukur tekanan atmosfer, barometer,
diciptakan oleh Torricelli.
Tekanan didefinisikan gaya per satuan luas,
jadi tekanan = gaya/luas.
Dalam SI, satuan gaya adalah Newton (N),
satuan luas m2, dan satuan tekanan adalah
Pascal (Pa). 1 atm kira-kira sama dengan
tekanan 1013 hPa.
1 atm = 1,01325 x 105 Pa = 1013,25 hPa
Namun, dalam satuan non-SI unit, Torr, kira-
kira 1/760 dari 1 atm, sering digunakan
untuk mengukur perubahan tekanan dalam
reaksi kimia.
1 atm = 760 mmHg
1 atm = 760 t0rr
Penting 1 torr = 1 mmHg
1 Pa (Pascal) = 1 N/m 2

1 atm = 101.325 Pa = 101,325 kPa


Gas pada kondisi STP : gas pada suhu dan tekanan
standar (760 torr dan 273 K)
b. Volume dan tekanan
• Fakta bahwa volume gas berubah bila
tekanannya berubah telah diamati sejak
abad 17 oleh Torricelli dan filsuf /saintis
Perancis Blase Pascal (1623-1662). Boyle
mengamati bahwa dengan mengenakan
tekanan dengan sejumlah volume tertentu
merkuri, volume gas, yang terjebak dalam
tabung delas yang tertutup di salah satu
ujungnya, akan berkurang. Dalam
percobaan ini, volume gas diukur pada
tekanan lebih besar dari 1 atm.
Mengukur Tekanan Gas yang Terperangkap

• Suatu manometer terbuka. ( a) Tekanan dari gas yang


terperangkap sama dengan tekanan atmosfir. (b) Tekanan dari gas
yang terperangkap lebih besar dari tekanan atmosfir. (c) Tekanan
dari gas yang terperangkap lebih kecil dari tekanan atmosfir.
• Boyle membuat pompa vakum
menggunakan teknik tercangih yang ada
waktu itu, dan ia mengamati bahwa gas
pada tekanan di bawah 1 atm akan
mengembang. Setelah ia melakukan
banyak percobaan, Boyle mengusulkan
persamaan (6.1) untuk menggambarkan
hubungan antara volume V dan tekanan P
gas. Hubungan ini disebut dengan hukum
Boyle.
PV = k (suatu tetapan) (6.1)
Hukum Boyle
• Robert Boyle (1627-1691):
• PV = constant = hasil perkalian tidak
berubah
• P = Pressure (tekanan gas)
• V = Volume gas
• Tekanan diperbesar  Volume turun
• Volume diperbesar  tekanan turun
• Dan sebaliknya

22
Dengan mendorong pompa ke bawah, volume udara
menjadi kecil, sedangkan tekanan menjadi besar, jika
gas tidak dapat keluar melalui selangnya
Catatan
• Boyle: PV = k
P = pressure (tekanan) atm maupun torr
V = volume Liter maupun mL
k = konstanta = bilangan tetap
• (berlaku pada T dan N konstan)
T = temperature mutlak Kelvin
N = banyaknya molekul gas

24
Contoh 1
• Suatu tabung punya volume 10 L,
mengandung gas yang tekanannya 760 torr.
Kemudian tabung diperlonggar hingga
tekanannya mengecil menjadi 700 torr.
Berapa volume gas sekarang?

• V1
=
10
L
• P1
=
76
0
to
r
r
• P2
=
70
0
to
r
r
• V2
=
.
..
.
.
.
..
.
?
25
Jawab:

V1
x
P
1=
Vx
P
22
10 L x 760 torr = V2
x
70
0
to
r
r
V2
=
(
10
Lx
7
6
0t
o
r
r
)/
70
0
t
o
r
r=
1
0,
9L
Contoh 2
• Suatu tabung punya volume 580 mL,
mengandung gas yang tekanannya 0,2 atm.
Kemudian gas dimampatkan hingga
volumenya menjadi 100 mL. Berapa tekanan
gas sekarang?

• P1
=
0,
2a
t
m
• V1
=
58
0
mL
• V2
=
10
0
mL
• P2
=
.
..
.
.
.
..
.
?
27
Jawab:

P1
x
V=
P
1x
V
22
0,2 atm x 580 mL = P2
x
10
0
mL
P2
=
(
0,
2a
t
mx
5
80
m
L
)/
1
0
0m
L
=1
,
1
6at
m
• Penampilan grafis dari percobaan Boyle
dapat dilakukan dengan dua cara. Bila P
diplot sebagai ordinat dan V sebagai absis,
didapatkan hiperbola (Gambar 6.1(a)).
Kedua bila V diplot terhadap 1/P, akan
didapatkan garis lurus (Gambar 6.1(b)).
(a) Plot hasil percobaan; tekanan vs. volume
(b) Plot hasil percobaan; volume vs 1/tekanan.
Catatan bahwa kemiringan k tetap.
c. Volume dan temperatur
Setelah lebih dari satu abad penemuan Boyle ilmuwan mulai
tertarik pada hubungan antara volume dan temperatur gas.
Mungkin karena balon termal menjadi topik pembicaraan di
kotakota waktu itu.

Kimiawan Perancis Jacques Alexandre César Charles (1746-1823),


seorang navigator balon yang terkenal pada waktu itu, mengenali
bahwa, pada tekanan tetap, volume gas akan meningkat bila
temperaturnya dinaikkan.

Hubungan ini disebut dengan hukum Charles, walaupun datanya


sebenarnya tidak kuantitatif. Gay-Lussac lah yang kemudian
memplotkan volume gas terhadap temperatur dan mendapatkan
garis lurus.

Karena alasan ini hukum Charles sering dinamakan hukum Gay-


Lussac. Baik hukum Charles dan hukum Gay-Lussac kira-kira
diikuti oleh semua gas selama tidak terjadi pengembunan.
Setelah lebih dari satu abad penemuan Boyle ilmuwan mulai
tertarik pada hubungan antara volume dan temperatur gas.
Mungkin karena balon termal menjadi topik pembicaraan di
kotakota waktu itu. Kimiawan Perancis Jacques Alexandre
César Charles (1746-1823), seorang navigator balon yang
terkenal pada waktu itu, mengenali bahwa, pada tekanan tetap,
volume gas akan meningkat bila temperaturnya dinaikkan.

Hubungan ini disebut dengan hukum Charles, walaupun datanya


sebenarnya tidak kuantitatif. Gay-Lussac lah yang kemudian
memplotkan volume gas terhadap temperatur dan mendapatkan
garis lurus (Gambar 6.2). Karena alasan ini hukum Charles sering
dinamakan hukum Gay-Lussac. Baik hukum Charles dan hukum
Gay-Lussac kira-kira diikuti oleh semua gas selama tidak terjadi
pengembunan.
Grafik dari berbagai volume sampel gas sebagai fungsi suhu
Hukum Charles
V
= Konstan
T
• Jacques Charles (1787)
• V = Volume gas
• T = Temperatur gas dalam suhu mutlak
(Kelvin)
• -273,15 0Celcius.....................0 0C...........100
0C

• 0 Kelvin..............................273,15 K....373,15
K 35
Catatan
V
= k’
T
V = Volume (L atau mL)
T = Temperature mutlak harus dalam Kelvin
k’ = konstanta
• Berlaku pada P dan N konstan
P = Pressure (atm atau torr)
N = Banyaknya molekul gas
36
Standar Temperature and Pressure
(STP)
• Hukum-hukum tentang gas dikoreksi pada
kondisi T dan P standard yakni:
• Temperature (T) = 0 0C atau 273,15 K
• Pressure (P) = 760 torr atau 1 atm

37
Contoh 3
• Suatu gas volumenya 10 mL, suhunya 20
0C. Kemudian suhu didinginkan menjadi 0
0C. Berapa volumenya sekarang?

• V1= 10 m L
• T1
=
20
0
C=
(
2
0+
2
73
,
1
5)
K=
2
9
3,
1
5K
• T2
=
00
C=
(
0
+2
7
3,
1
5)
K=
2
7
3,
1
5K
• V2
=
.
..
.
.
.
.
.?
38
Jawab Contoh 3
V1 V2
=
T1 T2
10 mL V2
=
293,15 K 273,15 K

= 10 mL x273,15 K
V2 = 9,32 mL
293,15 K
39
Hukum Penggabungan Volume
Gay-Lussac
• Joseph Louis Gay-Lussac (1808):
• Pada kondisi Standard Temperature and
Pressure (STP)
• Gas yg bereaksi dan gas hasil reaksi selalu
berbanding dengan bilangan sederhana
• 1 H2 + ½ O2  1 H 2O
• 1 Liter ½ Liter  1 Liter
• 2L 1L  2L
• 4L 2L  4L
• 8L 4L  8L
40
Pembahasan menarik dapat dilakukan dengan
hukum Charles.
Dengan mengekstrapolasikan plot volume gas
terhadap temperatur, volumes menjadi nol
pada temperatur tertentu.
Menarik bahwa temperatur saat volumenya
menjadi nol sekiatar -273°C (nilai tepatnya
adalah -273.2 °C) untuk semua gas.
Ini mengindikasikan bahwa pada tekanan
tetap, dua garis lurus yang didapatkan dari
pengeplotan volume V1 dan V 2du a gas 1
d an2 te
rha dap t em pe r
atura kan
b er
po tong an di V = 0.
Fisikawan Inggris Lord Kelvin (William Thomson (1824-1907))
megusulkan pada temperatur ini temperatur molekul gas menjadi
setara dengan molekul tanpa gerakan dan dengan demikian
volumenya menjadi dapat diabaikan dibandingkan dengan
volumenya pada temperatur kamar, dan ia mengusulkan skala
temperatur baru, skala temperatur Kelvin, yang didefinisikan
dengan persamaan berikut.
273,2 + °C = K (6.2)

Kini temperatur Kelvin K disebut dengan temperatur absolut, dan


0K disebut dengan titik nol absolut.

Dengan menggunakan skala temperatur absolut, hukum Charles


dapat diungkapkan dengan persamaan sederhana
V = bT (K) (6.3)
dengan b adalah konstanta yang tidak bergantung jenis gas.
Pembahasan menarik dapat dilakukan dengan hukum Charles. Dengan
mengekstrapolasikan plot volume gas terhadap temperatur, volumes
menjadi nol pada temperatur tertentu.

Menarik bahwa temperatur saat volumenya menjadi nol sekiatar -273°C (nilai
tepatnya adalah -273.2 °C) untuk semua gas. Ini mengindikasikan bahwa
pada tekanan tetap, dua garis lurus yang didapatkan dari pengeplotan
volume V1 dan V2 dua gas 1 dan 2 terhadap temperatur akan berpotongan
di V = 0.

Fisikawan Inggris Lord Kelvin (William Thomson (1824-1907)) megusulkan


pada temperatur ini temperatur molekul gas menjadi setara dengan molekul
tanpa gerakan dan dengan demikian volumenya menjadi dapat diabaikan
dibandingkan dengan volumenya pada temperatur kamar, dan ia
mengusulkan skala temperatur baru, skala temperatur Kelvin, yang
didefinisikan dengan persamaan berikut.
273,2 + °C = K (6.2)

Kini temperatur Kelvin K disebut dengan temperatur absolut, dan 0 K disebut


dengan titik nol absolut. Dengan menggunakan skala temperatur absolut,
hukum Charles dapat diungkapkan dengan persamaan sederhana
V = bT (K) (6.3)
Menurut Kelvin, temperatur adalah ukuran gerakan molekular.
Dari sudut pandang ini, nol absolut khususnya menarik
karena pada temperatur ini, gerakan molekular gas akan
berhenti.

Nol absolut tidak pernah dicapai dengan percobaan.


Temperatur terendah yang pernah dicapai adalah sekitar 0,
000001 K.

Avogadro menyatakan bahwa gas-gas bervolume sama,


pada temperatur dan tekanan yang sama, akan mengandung
jumlah molekul yang sama (hukum Avogadro; Bab 1.2(b)).
Hal ini sama dengan menyatakan bahwa volume real gas
apapun sangat kecil dibandingkan dengan volume yang
ditempatinya.
Bila anggapan ini benar, volume gas sebanding dengan
jumlah molekul gas dalam ruang tersebut.
Jadi, massa relatif, yakni massa molekul atau massa atom
gas, dengan mudah didapat.
d. Persamaan gas ideal
Esensi ketiga hukum gas di atas dirangkumkan di bawah ini.
Menurut tiga hukum ini, hubungan antara temperatur T, tekanan P
dan volume V sejumlah n mol gas dengan terlihat.

Tiga hukum Gas


Hukum Boyle: V = a/P (pada T, n tetap)
Hukum Charles: V = b.T (pada P, n tetap)
Hukum Avogadro: V = c.n (pada T, P tetap)

Jadi, V sebanding dengan T dan n, dan berbanding terbalik pada P.

Hubungan ini dapat digabungkan menjadi satu persamaan:


V = RTn/P (6.4)

atau

PV = nRT (6.5)
R adalah tetapan baru. Persamaan di atas disebut dengan
persamaan keadaan gas ideal atau lebih sederhana persamaan
gas ideal.
Diagram
• Nilai R bila n = 1 disebut dengan konstanta
gas, yang merupakan satu dari konstanta
fundamental fisika.

• Nilai R beragam bergantung pada satuan


yang digunakan. Dalam sistem metrik, R =
8,2056 x10–2 dm3 atm mol-1 K-1. Kini,
nilai R = 8,3145 J mol-1 K-1 lebih sering
digunakan.
e. Hukum tekanan parsial
Dalam banyak kasus Anda tidak akan berhadapan dengan gas murni
tetapi dengan campuran gas yang mengandung dua atau lebih gas. Dalton
tertarik dengan masalah kelembaban dan dengan demikian tertarik pada
udara basah, yakni campuran udara dengan uap air. Ia menurunkan
hubungan berikut dengan menganggap masing-masing gas dalam
campuran berperilaku independen satu sama lain.
Anggap satu campuran dua jenis gas A (nA mol) dan B (nB mol) memiliki
volume V pada temperatur T. Persamaan berikut dapat diberikan untuk
masing-masing gas.
pA = nART/V (6.8)
pB = nBRT/V (6.9)
pA dan pB disebut dengan tekanan parsial gas A dan gas B. Tekanan
parsial adalah tekanan yang akan diberikan oleh gas tertentu dalam
campuran seandainya gas tersebut sepenuhnya mengisi wadah.
Dalton meyatakan hukum tekanan parsial yang menyatakan tekanan total
P gas sama dengan jumlah tekanan parsial kedua gas. Jadi,
P = pA + pB = (nA + nB)RT/V (6.10)
Hukum ini mengindikasikan bahwa dalam campuran gas masing-masing
komponen memberikan tekanan yang independen satu sama lain.

Walaupun ada beberapa gas dalam wadah yang sama, tekanan yang
diberikan masing-masing tidak dipengaruhi oleh kehadiran gas lain.

Bila fraksi molar gas A, xA, dalam campuran xA = nA/(nA + nB), maka pA
dapat juga dinyatakan dengan xA.
pA = [nA/(nA + nB)]P (6.11)

Dengan kata lain, tekanan parsial setiap komponen gas adalah hasil kali
fraksi mol, xA, dan tekanan total P.

Tekanan uap jenuh (atau dengan singkat disebut tekanan jenuh) air
disefinisikan sebagai tekanan parsial maksimum yang dapat diberikan
oleh uap air pada temperatur tertentu dalam campuran air dan uap air.

Bila terdapat lebih banyak uap air, semua air tidak dapat bertahan di uap
dan sebagian akan mengembun.
Hukum Avogadro
• Amedeo Avogadro (1811):
• Pada temperatur (T) dan tekanan (P) sama,
dua macam gas yang volume(V)nya sama,
pasti memiliki jumlah molekul (N) yang sama.
– T = temperature = suhu
– P = pressure = tekanan
– V = volume
– Jumlah molekul = N, hingga
– N / V = constant, berlaku untuk semua macam
gas.
50
Catatan
• V / N = k’’
1. V = Volume gas (L atau mL)
2. N = Banyaknya molekul gas (“butiran2 gas”)
3. k’’ = Konstanta = bilangan tetap
• Berlaku pada T dan P konstan
T = Temperature mutlak Kelvin
P = Pressure = tekanan (atm maupun torr)

51
Contoh 4
• Satu gram Radium melepaskan partikel
alpha berupa ion He2+ dengan laju 1,16 x
1018 partikel / tahun. Tiap-tiap partikel
tersebut menjadi gas Helium:
• He2+ + 2 e-  He
• Pada kondisi standar, tiap 1,16 x 1018
molekul He memiliki volume 0,043 mL
• Berapa banyak molekul dalam 1 Liter He?
52
Jawab Contoh 4
• N1
=
1,
1
6x1
8
1
0
mo
l
e
ku
l
He
• V1
=
0,
0
43m
L
• V2
=
1L
=1
0
0
0
mL
• N2
.
.
.
.
..
.
.
.
..
.
.
.
?
• N2
/
V=
N
2/
V
11
• N2
/
10
0
0m
L
=
1
,
16
x1
8
1
0
mo
l
e
ku
l
He
/0
,
0
43
m
L
• N2
=
(
1,
1
6x1
8
1
0
mo
l
e
ku
l
He
/0
,
0
43m
L
)
x 53
N / V konstan untuk semua gas
• 2,7 x 1022 molekul He = 1000 mL He
• 2,7 x 1022 molekul Ne = 1000 mL Ne
• 2,7 x 1022 molekul O2= 1 000m LO 2
• 2,7 x 1022 molekul Cl2
=
10
0
0m
L
C
l
2
• 2,7 x 1022 molekul H2
=
10
0
0m
L
H
2
• pada kondisi Standard
• berlaku untuk semua macam gas
• tapi massa masing-masing berbeda
54
Bilangan Avogadro
• Pada kondisi Standard Temperature (0
0C)and Pressure (1 atm) tiap 1 mole gas
apa saja pasti memiliki volume 22,4138
Liter dengan jumlah molekul sebanyak 6,
02 x 1023.
• mole  bicara unit reaksi zat
• molekul  bicara banyaknya “butiran2 gas”

55
Penyederhanaan Hukum Gas
Ideal
• Gabungan Boyle (PV konstan), Charles (V/
T konstan), dan Avogadro (V/N konstan)
P = tekanan, V = Volume, T = suhu Kelvin, N =
banyaknya molekul gas
• Hukum gas ideal:
• PV / T = konstan
• P1V1 /T 1=
• P2
V
/
2T
=
2
• P3
V
/
3T
=
3d
s
t 56
Tire Gauge Test
Pengukur Tekanan Ban Ciptaan Gauge
• Mengandung gas bertekanan 7,25 atm
• 0,99 atm = 105 Pascal
• 103 Pascal = 1 kiloPascal = 1 kPa
• 1 atm = 101 kPa
• 1 atm = beban 1,03 kg/cm2 = 14,7 lb/cm2
• Permukaan tubuh manusia tiap hari
menerima tekanan udara 1 kg/cm2.

57
Hukum Dalton (1803)
• Pt
o
t
a=
lP+
P
1+
P
2+
d
3s
t
• P = Pressure = tekanan gas
• Berlaku pada Volume (V) dan suhu (T)
konstan

58
Hukum Graham
• Thomas Graham (1846):
• Aliran gas melalui saluran kecil (pori-pori)
disebut “effusion”.
• kecepatan effusi berbagai gas tidak sama.
• Kecepatan effusi gas berbanding terbalik
dengan kuadrat dari massa jenis gas
• Kecepatan effusi gas berbanding terbalik
dengan kuadrat dari massa molar gas
59
Hukum Graham
• Pada suhu (T) dan tekanan (P) yang sama,
dua macam gas memiliki energi kinetik (Ek)
yang sama :
• Ek1=E k
2
2
• ½ m1
v=
½2
m
v
122
2
• v1
/
v2
=m
/m
221
• (v1
/
v2
)
=(
m/
m)
2 21
• (v1
/
v
2)
=
(
m
2/
m
1) 60
Hukum Graham
• (v1
/
v
2)
=
(
m
2/
m
1)
• Laju effusi1
/L
a
ju
e
f
f
us
i
=
2
(m
a
s
s
aj
e
ni
s
2/
m ass a j
en i
s
)
1=
• Laju effusi1
/
La
ju
e
f
f
us
i
=
2
(m
a
s
s
am
o
l
a
r
2/
m ass a mo l
a
r
1)
• bisa juga
• Laju effusi1
/
L
aj
u
ef
f
us
i
=
2
• massa molar2

/
ma
ss
a
m
ol
a
r
1)
61
Contoh
• Seorang pasien paru-paru didukung
pernafasan buatan dalam bentuk aliran
gas Oksigen (O2)dan H eli
u m (He).P ad a
kondisiSTP (Stand ardTe m perat
ure a nd
Pressure)m a ssajenis O2a dalah1,
4 3 g /
L
,
sedan gH e0 ,
179 g/L. Ma na gasya ng
l
eb i
h cepatlajue f
fus i
nya?

62
• Laju effusi He / Laju effusi O2
=
•  (O2

/
H
e
)
{
(
1
,4
3
g/
L
)
/
(
0,
1
79
g
/
L
)
}
• 2,83
• jadi:
• Laju effusi He lebih cepat 2,83 kali
dibanding Laju effusi O2

63