Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Menua adalah proses yang mengubah seorang dewasa sehat menjadi seorang yang

frail dengan berkurangnya sebagian besar cadangan sistem fisiologis dan meningkatnya

kerentanan terhadap berbagai penyakit dan kematian (Setiati, 2009). Lansia menurut UU

No.43 (2004) adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun keatas. Keluarga dengan

lansia memiliki peran yang penting dalam melakukan tugas perkembangannya.

Semua tahap tumbuh kembang keluarga merupakan hal yang penting untuk

diperhatikan karena keberhasilan pencapaian setiap tugas tumbuh kembang mempengaruhi

tumbuh kembang maupun tugas perkembangan selanjutnya, begitupun dengan tahap

tumbuh kembang keluarga dengan lansia. Apabila tugas perkembangan keluarga yang tidak

tercapai dapat menyebabkan timbulnya masalah fisik, sosial, maupun mental dalam

keluarga tersebut. Salvicion G. Bailon dan Aracelis Maglaya (1978) mengatakan perawatan

kesehatan keluarga adalah tingkat perawatan kesehatan masyarakat yang ditujukan atau

dipusatkan pada keluarga pada unit atau kesatuan yang dirawat, dengan sehat sebagai tujuan

melalui pengobatan sebagai saran atau penyalur. Keluarga didalam masalah kesehatan

keluarga saling berkaitan dan saling mempengaruhi antara sesama anggota keluarga dan

akan mempengaruhi pula keluarga-keluarga disekitarnya atau masyarakat secara

keseluruhan.

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru (2012) jumlah lansia di

kota Pekanbaru adalah 99.619 jiwa dimana jumlah tersebar di seluruh kecamatan yang ada

di Pekanbaru (BPS Provinsi Riau, 2013). Bertambahnya umur seseorang, fungsi fisiologis

1
2

mengalami penurunan akibat proses penuaan sehingga penyakit tidak menular banyak

muncul pada lanjut usia. Selain itu masalah degeneraf menurunkan daya tahan tubuh

sehingga rentan terkena penyakit (Hasil Riset Kesehatan Dasar 2013).

Data dari hasil studi tentang kondisi sosial ekonomi dan kesehatan lanjut usia yang

dilaksanakan Komisi Nasional Lanjut Usia di 10 provinsi diketahui bahwa penyakit

terbanyak yang diderita adalah penyakit yang bersifat kronis, seperti: penyakit radang sendi

(52,3%), hipertensi (38,8%), anemia (30,7%) dan katarak (23%). Sedangkan dari lima

penyakit utama yang banyak terjadi pada lanjut usia di Pekanbaru adalah Hipertensi

(3,71%), Dyspepsia (0,37%), Diabetes Melitus (1,19%), Asma (0,72%), dan Katarak

(6,17%) (Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru, 2015).

Peningkatan angka harapan hidup terjadi sejalan dengan kemajuan ilmu

pengetahuan dan teknologi suatu negara (Departemen Kesehatan, 2008). Semakin

panjangnya usia harapan hidup akan semakin banyak kelainan atau penyakit yang

prevalensinya meningkat dengan bertambahnya usia, sistem organ yang mengalami

penuaan akan rentan terhadap penyakit (Mubarak, Chayatin, et al., 2009). Pada umumnya

pola penyakit utama pada lanjut usia didominasi oleh penyakit-penyakit yang tergolong

degenerative. Meskipun tidak semua lanjut usia mengalami gangguan kesehatan, namun

para lanjut usia menunjukkan kecenderungan prevalensi yang mencolok dalam kaitannya

dengan gangguan-gangguan yang bersifat kronis, seperti gout arthritis, hipertensi,

gangguan pendengaran, gastritis, kelainan jantung, sinusitis kronik, penurunan visus, dan

gangguan pada tulang (Tamher & Noorkasiani, 2009).

Mengatasi permasalahan kesehatan pada lansia berdasarkan Peraturan Pemerintah

Nomor 43 Tahun 2004 tentang Pelaksanaan Upaya Peningkatan Kesejahteraan Lanjut Usia,
3

yang antara lain meliputi: 1) Pelayanan keagamaan dan mental spiritual seperti

pembangunan sarana ibadah dengan pelayanan aksesibilitas bagi lanjut usia; 2) Pelayanan

kesehatan melalui peningkatan upaya penyembuhan (kuratif), diperluas pada bidang

pelayanan geriatrik/gerontologik; 3) Pelayanan untuk prasarana umum, yaitu mendapatkan

kemudahan dalam penggunaan fasilitas umum, keringanan biaya, kemudahan dalam

melakukan perjalanan, penyediaan fasilitas rekreasi dan olahraga khusus; 4) Kemudahan

dalam penggunaan fasilitas umum, seperti pelayanan administrasi pemerintah (Kartu Tanda

Penduduk seumur hidup), pelayanan kesehatan pada sarana kesehatan milik pemerintah,

pelayanan dan keringanan biaya untuk pembelian tiket perjalanan, akomodasi, pembayaran

pajak, pembelian tiket rekreasi, penyediaan tempat duduk khusus, penyediaan loket khusus,

penyediaan kartu wisata khusus, mendahulukan para lanjut usia (Kemenkes RI, 2013).

Pembinaan pada Nenek I didapatkan tiga masalah utama yang menjadi prioritas

yang dialami Nenek I yaitu Hipertensi, asam urat dan stroke. Hal ini terbukti dari hasil

pengkajian didapatkan tekanan darah 160/80 mmHg, nadi 86 kali/menit, pernapasan 20 kali

per menit, suhu 36,6°C. Nenek I saat ini menderita penyakit stroke pertama tahun 2015 dan

saat ini post stroke nya berulang dan sudah berjalan 7 bulan, namun kondisinya sudah lebih

membaik, tetapi tangan dan kaki kirinya masih kaku digerakkan, dan sulit berdiri lama.

Nenek I mengatakan gejala awal yang timbul yaitu sering sakit kepala dan mendadak tidak

bisa bergerak saat bangun tidur, saat ini kondisi Nenek I sudah mampu berdiri dan berjalan

tanpa menggunakan tongkat, namun tidak bisa berjalan lama, sering merasa sesak napas

jika terlalu lama berdiri, kaki Nenek I sebelah kiri mengalami kelemahan, terasa kebas,

agak sulit berjalan dan tangan sebelah kiri sudah mampu digerakkan namun masih terasa

kebas, dan juga wajah Nenek I masih terasa kebas. Nenek I sudah melakukan terapi sinse
4

selama 7 bulan, namun sekarang terapinya sudah dihentikan karena Nenek I sudah merasa

lebih membaik . Nenek I memiliki riwayat Hipertensi dan Asam urat.

Selain itu, Nenek I saat ini juga mengalami penyakit asam urat dan hipertensi

dimana saat pengkajian didapatkan tekanan darah Nenek I adalah 160/80 mmHg, dan asam

urat 10,0 gr/dl. Gejala yang sering dirasakan Nenek I adalah nyeri pada kaki, terutama saat

mengkonsumsi daun pucuk ubi tumbuk, tangan terasa kebas, terkadang nyeri pada lutut,

dan terkadang sulit tidur, serta sakit kepala. Nenek I mengaku suka mengkonsumsi

makanan yang mengandung kacang-kacangan, jeroan, dan makanan yang mengandung

santan.

Hipertensi seringkali disebut sebagai pembunuh gelap (silent killer), karena

termasuk penyakit yang mematikan, penyakit hipertensi ini terjadi disebabkan oleh gaya

hidup lansia yang kurang sehat karena para lansia suka mengkonsumsi garam secara

berlebihan selain itu para lansia juga menganggap bahwa penyakit hipertensi ini sebagai

penyakit yang sudah lazim yang biasa di derita oleh orang-orang dengan usia lanju,t itu

sebabnya biasanya mereka tidak langsung memberikan perhatian secara khusus pada

penyakit ini (Hidayat, 2018).

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Hidayat (2018) diperoleh Hasil uji T

test paried dan uji T test didapatkan nilai signifikan 0.000 yang nilainya lebih kecil dari

taraf kesalahan α 0.05. sehingga H0 ditolak dan H1 diterima yang berarti ada pengaruh air

rebusan daun salam terhadap penurunan tekanan darah pada lansia yang menderita

hipertensi. Daun salam mempunyai kandungan kimia seperti minyak atsiri, sitrat, euganol,

tannin serta flavanoid yang dipercaya mampu untuk menurunkan tekanan darah,

mekanisme kerja dari daun salam ini yaitu merangsang sekresi cairan empedu sehingga
5

lemak akan keluar bersamaan dengan usus yang kemudian mengurangi gumpalan lemak

yang mengendap dalam pembuluh darah sehingga aliran darah menjadi lancar dan tekanan

darah akan normal (Hidayat, 2018).

Menurut Pramukti, Istika dan Dwi (2019) Asam urat adalah senyawa dalam air yang

merupakan hasil akhir metabolism purin. Tanda dan gejalanya yaitu peradangan pada sendi

yang tertekan, terasa nyeri, dan kemerahan pada daerah yang telah terjadi asam urat,

kekakuan serta pembengkakan pada sendi yang tertekan. Berbagai dampak yang

ditimbulkan, penyakit asam urat perlu penanganan yang tepat dan aman. penanganan asam

urat dapat dilakukan dengan terapi farmakologis dan non farmakologis. Penanganan

farmakologis dilakukan dengan menggunakan obat sintesis yaitu efek sampingnya tidak

sedikit bagi tubuh. Sedangkan penanganan non farmkologis salah satunya adalah dengan

terapi komplementer-alternatif lebih sesuai untuk penyakit metabolik dan degeneratif,

walau penggunaannya lama tetapi efek sampingnya relatif kecil jika digunakan secara tepat

sehingga dapat menjadi pilihan masyarakat untuk mengatasi gout (Snyder, 2002).

Daun salam (Syzygium polyantum) merupakan salah satu obat tradisional asam urat

yang dikenal masyarakat Indonesia sebagai bumbu untuk penyedap masakan karena

memiliki cita rasa yang khas yang bisa menambah kelezatan masakan. Daun salam

mempunyai rasa yang kelat, bagian yang dimanfaatkan adalah daun. Penyakit yang bisa

diobati di antaranya asam urat, diare, kolesterol tinggi, kencing manis (Hidayat, 2015).

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Elin (2018) diperoleh hasil bahwa air

rebusan daun salam mampu menurunkan kadar asam urat, dengan uji Wilcoxon

menunjukkan nilai significancy 0,000 (p<0,05). Hal ini disebabkan daun salam merupakan

salah satu tanaman yang mengandung substansi-substansi bioaktif seperti tanin, minyak
6

atsiri, seskuiterpen, triterpenoid, fenol, steroid, sitral, lakton, saponin dan karbohidrat

sehingga berpengaruh baik terhadap kadar asam urat dalam darah.

Stroke penyebab utama kecacatan pada orang dewasa. Pada penderita stroke akan

muncul berbagai macam masalah dari ringan hingga berat, seperti kelumpuhan, gangguan

berbicara, gangguan emosional, dan gangguan kognitif (National Institute of Health, 2013).

Setelah serangan stroke, tonus otot yang normal menghilang. Tanpa pengobatan,

penderita akan melakukan kompensasi gerakan dengan menggunakan bagian tubuhnya

yang tidak lumpuh sehingga seumur hidunya bagian tubuh yang lumpuh akan tetap lumpuh

atau hanya bisa berjalan dengan kaki spastik dan tangan yang cacat. Cara untuk

meminimalkan kecacatan setelah serangan stroke adalah dengan intervensi fisioterapi yang

berupa pemberian latihan-latihan diantaranya pemberian Proprioceptive Neuromuscular

Fasilitation (PNF). Teknik ini diberikan dengan maksud melatih pola gerak yang hilang,

memperbaiki koordinasi dan meningkatkan kekuatan otot yang lemah (Hendrik, Yonatan,

Sri, 2018). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Hendrik, Yonatan, Sri, 2018

diperoleh hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan kemampuan daya

tahan otot tungkai pasien post stroke sebelum dan setelah diberikan latihan PNF sebanyak

2 kali seminggu selama 4 minggu dengan nilai p=0,000<0,05 dengan nilai rata-rata sebelum

intervensi sebesar 78,10 + 14,47 detik dan setelah pemberian PNF diperoleh rata-rata half

squat sebesar 141,60 + 21,28 detik dengan selisih rata-rata sebesar 63,50 + 22,09 detik.

Kesimpulan pemberian PNF sebanyak 2 kali seminggu selama 4 minggu dapat

mempengaruhi daya tahan otot tungkai pasien post stroke.

Asuhan keperawatan yang diberikan pada lansia dengan gangguan kesehatan

sebaiknya didukung oleh peran dari keluarga. Keluarga sebagai suatu sistem adalah
7

keluarga sebagai kelompok kecil yang terdiri dari individu yang mempunyai hubungan

yang erat satu dengan yang lain saling ketergantungan dan diorganisir dalam satu unit

tunggal dalam rangka mencapai tujuan keluarga yang sejahtera. Ada delapan tahap tumbuh

kembang keluarga menurut Duval (1977, dalam Friedman 2010) yaitu tahap keluarga awal

atau pemula, tahap sedang mengasuh anak, tahap anak pra sekolah, tahap anak usia sekolah,

tahap anak remaja, tahap melepas anak dewasa muda, tahap keluarga usia pertengahan dan

tahap lansia.

Memberikan asuhan perawatan keluarga, ada beberapa peranan yang dapat

dilakukan oleh perawat antara lain: pemberian asuhan perawatan kepada anggota keluarga

yang sakit, pengenal atau pengamat masalah kebutuhan kesehatan keluarga, koordinator

pelayanan kesehatan dan keperawatan kesehatan keluarga, menjadikan pelayanan

kesehatan itu mudah dijangkau dan perawat mudah dapat menampung permasalahan yang

dihadapi keluarga dan membantu mencarikan jalan pemecahannya, perawat dapat berperan

sebagai pendidik untuk merubah perilaku keluarga dari perilaku tidak sehat menjadi

perilaku yang sehat. Dalam perawatan kesehatan keluarga, fungsi keluarga sangatlah

penting dalam memberikan 5 fungsi perawatan kesehatan keluarga, diantaranya mengenal

masalah kesehatan yang dialami oleh anggota keluarga, mengambil keputusan dalam

memberikan asuhan keperawatan, melakukan perawatan kesehatan pada anggota keluarga

yang sakit, dan memodifikasi lingkungan serta memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada

untuk mengatasi masalah kesehatan pada anggota keluarganya (Asmadi, 2005).

Selain itu, berdasarkan hasil wawancara dengan Nenek I dan keluarga diperoleh

hasil bahwa 5 fungsi perawatan kesehatan keluarga belum dapat dipenuhi secara

keseluruhan, dimana keluarga belum dapat mengenal masalah kesehatan yang dialami oleh
8

anggota keluarga dengan benar, belum mampu mengambil keputusan dalam memberikan

asuhan keperawatan, tidak pernah melakukan perawatan kesehatan sederhana pada anggota

keluarga yang sakit selama dirumah, dan tidak ada memodifikasi lingkungan serta

memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada untuk mengatasi masalah kesehatan pada

anggota keluarganya secara rutin.

Salah satu aspek terpenting dari perawatan adalah penekanannya pada unit

keluarga. Keluarga, bersama dengan individu, kelompok dan komunitas adalah klien atau

resipien keperawatan. Secara empiris kesehatan para anggota keluarga dan kualitas

kesehatan keluarga, mempunyai hubungan yang sangat erat. Pentingnya keluarga

memenuhi tugas perkembangan keluarga dengan lansia agar tidak timbul berbagai masalah,

maka penulis tertarik untuk membina keluarga lansia yaitu melakukan asuhan keperawatan

lansia (gerontik) pada keluarga Nenek I khususnya Nenek I dengan menggunakan evidence

based mengatasi masalah Hipertensi, Asam Urat dan Post Stroke di RT 03 RW 01

Kelurahan Tangkerang Selatan Kecamatan Bukit Raya.

B. Tujuan

1. Tujuan Umum

Melakukan asuhan keperawatan gerontik pada keluarga Nenek I khususnya Nenek I

dengan evidence based dalam mengatasi masalah sehingga keluarga tahu, mau dan

mampu mandiri mengatasi masalah secara fisik maupun mental.


9

2. Tujuan Khusus

a. Mahasiswa mampu melakukan pengkajian pada keluarga Nenek I.

b. Mahasiswa mampu menegakkan diagnose keperawatan sesuai dengan prioritas

masalah pada keluarga Nenek I.

c. Mahasiswa mampu melakukan intervensi pada keluarga Nenek I.

d. Mahasiswa mampu melakukan implementasi keperawatan pada keluarga Nenek I.

e. Mahasiswa mampu melakukan evaluasi terhadap implementasi yang telah

dilakukan pada keluarga Nenek I.

C. Manfaat Penulisan

1. Bagi Penulis

Mengembangkan kemampuan penulis dalam menyusun laporan praktik elektif dan

menambah keilmuan di bidang keperawatan keluarga khususnya tentang asuhan

keperawatan keluarga dengan lansia.

2. Institusi Pendidikan

Tambahan bahan masukan dan pertimbangan dalam memberikan pelayanan pada lansia

khususnya perawatan keluarga dengan lansia dalam melakukan asuhan keperawatan

gerontik.

3. Bagi Masyarakat

Masyarakat dapat lebih memahami tentang kesehatan yang berhubungan dengan

kemampuan anggota keluarga yaitu lansia dalam melakukan aktifitas kehidupan sehari-

hari di rumah.