Anda di halaman 1dari 26

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas selesainya Panduan
Pengelolaan Keuangan UPT Puskesmas Nyompok Kecamatan Kopo. Buku ini
disusun sebagai acuan bagi pengelola Keuangan di UPT Puskesmas Nyompok
Kecamatan Kopo dalam memanfaatkan dana pendapatan BLUD (DAU, DAK,
Jasa Layanan, Hibah, Hasil Kerja Sama Dengan Pihak Lain, APBN dan lain-lain
pendapatan BLUD yang sah) tahun anggaran. Pendapatan BLUD sebagai sumber
pembiayaan operasional Puskesmas diharapkan mampu berkontribusi dalam
pencapaian indikator pembangunan kesehatan secara nasional melalui berbagai
kegiatan yang dilakukan oleh Puskesmas. Demikian pula terkait dengan
pencapaian tujuan SDGs, pendapatan BLUD dapat berkontribusi secara
maksimal sehingga pada penilaian akhir akan menunjukkan hasil yang
maksimal. Pengelolaan pendapatan BLUD pada dasarnya tidak mengalami
banyak perubahan.
Panduan ini telah disusun melalui serangkaian proses yang melibatkan berbagai
komponen yang terkait. Kami berterima kasih atas dukungan semua pihak
yang terlibat dalam penyusunan dan penerbitan Panduan ini. Untuk
penyempurnaan dan perbaikan ke depan masukan dari semua pihak tetap kami
harapkan.
Penyusun ,
BAB I
I. PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Sesuai Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 61 tahun 2007 tentang
Pedoman Teknis Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah,
pimpinan BLUD (Kepala Puskesmas) harus menyelenggarakan penatausahaan
keuangan BLUD yang dikelolanya. Oleh karena itu diperlukan suatu pedoman
dalam penatausahaan dimaksud, yang meliputi penatausahaan penerimaan kas,
pengeluaran kas dan transaksi keuangan nonkas. Panduan pengelolaan
keuangan ini digunakan untuk penatausahaan seluruh penerimaan dan
pengeluaran yang sumber dananya berasal dari jasa layanan, hibah tidak terikat,
hasil kerja sama dengan pihak lain dan lain-lain pendapatan BLUD
yang sah. Sedangkan penatausahaan untuk penerimaan dan pengeluaran
yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Prosedur
Pengelolaan Keuangan Daerah.
B. TUJUAN
1.Tujuan Umum
Mewujudkan tertib administrasi dan tertib pelaksanaan sesuai dengan
prinsip pengendalian intern yang baik atas transaksi-transaksi
keuangan puskesmas, memudahkan pendokumentasian dan monitoring
serta evaluasi penggunaan anggaran keuangan dalam mendukung
peningkatan upaya kesehatan masyarakat yang bersifat promotif dan preventif
dalam mencapai target program kesehatan prioritas nasional.
2.TujuanKhusus
a. Panduan keuangan PPK BLUD bagi petugas Bendahara
Penerimaan Pembantu, Bendahara Pengeluaran Pembantu dan Pengelola
Keuangan Operasional Puskesmas.
b.Panduan keuangan Dana JKN
bagi petugas pengelola keuangan JKN.
c. Panduan keuangan Dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) bagi
petugas pengelola keuangan BOK.

C. RUANG LINGKUP
1.Bendahara Penerimaan Pembatu
2.BendaharaPengeluaran Pembantu
3.Pengelola Keuangan Operasional
4.PengelolaKeuangan JKN
5.Pengelola Keuangan BOK
D. BATASAN OPERASIONAL
1. Dana Alokasi Umum (DAU) adalah Sejumlah dana yang dialokasikan
kepada setiap Daerah Otonom (Provinsi/Kabupaten/Kota) di
Indonesia setiap tahunnya sebagai dana pembangunan. DAU
merupakan salah satu komponen belanja pada APBN, dan menjadi salah
satu komponen pendapatan pada APBD.
2. DAK Bidang Kesehatan adalah dana yang dialokasikan dalam APBN
kepada daerah dengan tujuan untuk membantu mendanai kegiatan yang
merupakan urusan daerah sesuai dengan prioritas nasional.
3. Dana BOK (Bantuan Operasional Kesehatan) adalah danayang
dialokasikan Untuk meningkatkan kinerja puskesmas dalam upaya
kesehatan promotif dan preventif dalam mendukung pelayanan
kesehatan di luar gedung dengan didukung manajemen puskesmas yang
baik.
4. Jaminan Kesehatan Nasional yang selanjutnya disingkat JKN
adalah jaminan berupa perlindungan kesehatan agar peserta
memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan
dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan yang diberikan kepada
setiap orang yang telah membayar iuran atau iurannya dibayar oleh
pemerintah.
5. Dana Kapitasi adalah besaran pembayaran per-bulan yang
dibayar dimuka kepada FKTP berdasarkan jumlah peserta yang
terdaftar tanpa memperhitungkan jenis dan jumlah pelayanan
kesehatan yang diberikan.
BAB II
RUANG LINGKUP KEGIATAN

A.DANA ALOKASI KHUSUS KESEHATAN


1. BOK (BANTUAN OPERASIONAL KESEHATAN)
a. Pengalokasian BOK
Dana BOK yang merupakan bagian dari Dana Alokasi Khusus Non
fisik dialokasikan kepada setiap kabupaten dengan peruntukan bagi puskesmas,
Dinas Kesehatan Kabupaten sebagai fasilitas rujukan UKM sekunder
termasuk Balai Kesehatan Masyarakat sebagai unit pelaksana teknis bila
ada, dan instalasi farmasi Kabupaten. Distribusi dana BOK yang
dialokasikan setiap kabupaten dengan rincian untuk masing-masing kegiatan
terdapat pada lampiran.
1) Dinas Kesehatan Kabupaten sebagai fasilitas rujukan UKM
sekunder menerima alokasi dengan besaran sesuai yang ditetapkan dalam
lampiran.
2) Setiap puskesmas yang menjadi sasaran Program Sanitasi Total
Berbasis.
3) Sisa alokasi dana kegiatan BOK untuk puskesmas disetiap
kabupaten setelah dikurangi untuk kebutuhan Desa STBM diatas
didistribusikan kepada semua puskesmas secara proporsional
dengan mempertimbangkan beberapa hal yang terkait dengan beban
kerja, antara lain: luas wilayah kerja puskesmas; jumlah penduduk yang
menjadi tanggung jawab puskesmas; jumlah UKBM, jumlah sekolah;
dana kapitasi JKN yang diterima; jumlah tenaga pelaksana UKM.
b. Penggunaan Dana BOK
Dana BOK yang diterima dapat digunakan untuk kegiatan-kegiatan
promotif dan preventif serta kegiatan dukungan manajemen yang meliputi :
1) Upaya kesehatan masyarakat esensial dan pengembangan termasuk
pemenuhan kebutuhan pendukung kegiatan, pemberdayaan
masyarakat, dan kerjasama lintas sektoral serta manajemen
puskesmas. Untuk mewujudkan keluarga sehat maka berbagai
kegiatan di puskesmas dilaksanakan melalui strategi pendekatan
keluarga dengan kegiatan keluar gedung (kunjungan rumah) pada
keluarga.
2) upaya kesehatan masyarakat yang dilaksanakan meliputi pelayanan
kesehatan keluar gedung khususnya untuk menjangkau
daerah sulit/terpencil, pemberdayaan masyarakat, dan inovasi
pelayanan kesehatan.
3) Kegiatan STBM dan UKBM di wilayah kerjanya dan mengatasi
berbagai masalah kesehatan yang dihadapi di keluarga. Kegiatan untuk
mewujudkan desa STBM di desa oleh sanitarian/tenaga kesehatan
lingkungan puskesmas meliputi: pemicuan, Identifikasi Masalah dan
Analisis Situasi(IMAS) perilaku kesehatan, monitoring paska
pemicuan, pembuatan dan update peta sanitasi dan buku kader,
kampanye cuci tangan pakai sabun, kampanye higiene sanitasi sekolah,
dan surveilans kualitas air (pra dan paska konstruksi) serta verifikasi
stop buang air besar sembarangan (SBS). Daftar desa STBM (PAMSIMAS)
sebagaimana terlampir.
Pengangkatan tenaga kontrak promosi kesehatan di puskesmas yang
dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten.
c. Pemanfaatan Dana BOK
Dana BOK yang tersedia disetiap jenjang dapat dimanfaatkan untuk
membiayai setiap kegiatan yang tercakup dalam menu kegiatan disetiap
fasilitas pelayanan kesehatan yang menerima alokasi dana BOK, meliputi:
1) Transport lokal dalam wilayah desa, kecamatan, kabupaten bagi
petugas kesehatan, lintas sektor termasuk kader;
2) Perjalanan dinas atau transport PNS dan non PNS;
3) Pembelian barang pakai habis;
4) Belanja bahan/material untuk mendukung pelayanan promotif dan
preventif antara lain penggandaan media, reagen, rapid tes/tes
cepat, bahan PMT penyuluhan dan pemulihan berbahan lokal;
5) Belanja cetak dan penggandaan;
6) Belanja makanan dan minuman;
7) Penyelenggaraan rapat-rapat, sosialisasi,pertemuan;
8) Honorarium PNS dan non PNS;
9) Dana BOK tidak dapat dimanfaatkan untuk keperluan belanja tidak
langsung (gaji, tunjangan dll) belanja modal, upaya kesehatan kuratif
dan rehabilitatif, pembelian obat, vaksin,pemeliharaan gedung,
kendaraan, biaya transportasi rujukan.
Dalam upaya untuk peningkatan kegiatan promosi kesehatan dan
mewujudkan program STBM, dana BOK dapat dimanfaatkan untuk
pembayaran honor pegawai yang dikontrak untuk kegiatan tersebut dengan
ketentuan :
a) Pembayaran honor 1 (satu) orang tenaga promotor kesehatan
yang ditempatkan di setiap puskesmas. Tenaga tersebut dikontrak
oleh Dinas Kesehatan Kabupaten. Biaya honor berasal dari dana
BOK untuk Puskesmas. Ketentuan khusus terkait dengan tenaga
kontrak promotor kesehatan adalah:
1) Berpendidikan minimal D3 Kesehatan jurusan/peminatan Kesehatan
Masyarakat utamanya jurusan/peminatan Promosi Kesehatan/Ilmu
Perilaku, diutamakan yang memiliki pengalaman kerja minimal 1 tahun
dibidangnya.
2) Diberikan honor minimal sesuai upah minimum di kabupaten
yangberlaku, dengan target kinerja bulanan yang ditetapkan secara
tertulisoleh Kepala Puskesmas (output based performance).
3) Diberikan hak/fasilitas yang setara dengan staf puskesmas lainnya
4) Diberikan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) untuk yang
bersangkutan saja.
5) Lama kontrak maksimal 1 (satu) tahun dan dapat diperpanjang sesuai
ketersediaan anggaran dan capaian target kinerjanya
B. Dana Kapitasi Jaminan Kesehatan Nasional
Dana Kapitasi yang diterima oleh FKTP dari Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial Kesehatan dimanfaatkan seluruhnya untuk :
a. pembayaran jasa pelayanan kesehatan; dan
b. dukungan biaya operasional pelayanan kesehatan.
Alokasi untuk pembayaran jasa pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud
untuk tiap FKTP ditetapkan sekurang-kurangnya 60% dari penerimaan Dana
Kapitasi. Alokasi untuk pembayaran dukungan biaya operasional
pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud ditetapkan sebesar selisih dari
besar Dana Kapitasi dikurangi dengan besar alokasi untuk pembayaran jasa
pelayanan kesehatan. Besaran alokasi sebagaimana dimaksud ditetapkan
setiap tahun dengan Keputusan Kepala Daerah atas usulan Kepala
SKPD Dinas Kesehatan Kabupaten dengan mempertimbangkan :
a. kebutuhan obat, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai;
b. kegiatan operasional pelayanan kesehatan dalam rangka
mencapai target kinerja di bidang upaya kesehatan perorangan; dan
besar tunjangan yang telah diterima dari Pemerintah Daerah.
c. Alokasi Dana Kapitasi untuk pembayaran jasa pelayanan
kesehatan sebagaimana dimaksud dimanfaatkan untuk pembayaran
jasa pelayanan kesehatan bagi tenaga kesehatan dan tenaga
non kesehatan yang melakukan pelayanan pada FKTP. Pembagian jasa
pelayanan kesehatan kepada tenaga kesehatan dan tenaga
non kesehatan sebagaimana dimaksud ditetapkan dengan
mempertimbangkan variabel :
a. jenis ketenagaan dan/atau jabatan; dan
b. kehadiran.
Alokasi Dana Kapitasi untuk dukungan biaya operasional
pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud dalam dimanfaatkan untuk :
a. obat, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai dapat di
lakukan melalui SKPD Dinas Kesehatan, dengan mempertimbangkan
ketersediaan obat, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai yang
dialokasikan oleh pemerintah dan pemerintah daerah; dan kegiatan
operasional pelayanan kesehatan lainnya, meliputi :
1) upaya kesehatan perorangan berupa kegiatan promotif, preventif,
kuratif, dan rehabilitatif lainnya;
2) kunjungan rumah dalam rangka upaya kesehatan perorangan;
3) operasional untuk puskesmas keliling;
4) bahan cetak atau alat tulis kantor; dan/atau
5) administrasi keuangan dan sistem informasi.
Penggunaan Dana Kapitasi untuk dukungan biaya operasional pelayanan
kesehatan sebagaimana dimaksud dilaksanakan sesuai dengan ketentuan
perundang-undangan.

BAB III
PROSEDUR PENERIMAAN KAS
A.DEFINISI
Penerimaan kas adalah transaksi atau kejadian yang mengakibatkan terjadinya
penerimaan kas, yaitu penerimaan kas dari pendapatan jasa layanan
kesehatan, alokasi dana APBD, pinjaman, tagihan piutang, dan/ atau
pendapatan investasi lainnya.
Prosedur Penerimaan Kas adalah serangkaian proses mulai penerimaan
kas di kasir, pencatatan, pengikhtisaran, sampai dengan
pertanggungjawaban penerimaan kas atas pendapatan. Prosedur penerimaan
kas ditetapkan dengan tujuan untuk memastikan bahwa semua penerimaan
kas telah dicatat dengan benar dan lengkap sesuai dengan
peraturan/tarif yang berlaku, diklasifikasikan secara tepat serta untuk
memperoleh keyakinan yang memadai atas keamanan fisik uang kas itu sendiri.
Prosedur penerimaan kas dirancang dengan semaksimal mungkin
menerapkan prinsip-prinsip pengendalian intern yang baik dan handal
dengan melibatkan semua fungsi yang terkait dan menggunakan
dokumen/bukti transaksi sebagai berikut :
1.Fungsi yang terkait
Fungsi yang terkait pada prosedur penatausahaan penerimaan kas, antara lain
:
a.Pengguna Anggaran
b.Kuasa Pengguna Anggaran
c.Pejabat Penatausahaan Keuangan SKPD
d.Bendahara Penerimaan
e.Pejabat Keuangan BLUD
f.Bendahara Penerimaan
g. Pembantu
h.Bendahara Pengeluaran Pembantu
i.Kasir
2. Bukti transaksi yang digunakan
Bukti transaksi yang digunakan dalam prosedur penerimaan kas mencakup :
a. Surat tanda bukti pembayaran (nota pembayaran) / karcis
b. STS dan atau slip setoran,
c.Bukti transfer
d.SP2D/bukti penerimaan (untuk penerimaan dari alokasi dana APBD)
3.Buku-Buku Yang Digunakan
Buku yangdigunakan dalam penatausahaan penerimaan kas :
a. BKU;
b. Buku Pembantu Rincian Obyek Penerimaan (untuk pendapatan non
APBD);
c. Rekapitulasi Penerimaan Harian (untuk pendapatan non APBD)
d. Buku kasir

B.Penerimaan kas dari jasa pelayanan kesehatan Penerimaan kas dari


pendapatan jasa pelayanan kesehatan merupakan penerimaan yang
diperoleh dari penerimaan pembayaran/tarif atas pelayanan kesehatan
yang diberikan kepada masyarakat umum dan peserta JKN yang
berupa rawat jalan, rawat inap, obat- obatan/farmasi, laboratorium,
pemanfaatan ambulance, sebagai berikut:
1.Penerimaan Rawat Jalan/Unit Tindakan.
Penerimaan dari Rawat Jalan/Ruang Tindakan adalah penerimaan jasa
pelayanan rawat jalan kepada pasien untuk observasi, diagnosis,
pengobatan, dan pelayanan kesehatan lainnya yang dinyatakan dalam bentuk
karcis harian sesuai layanan yang dituju.
Prosedur :
a.Pelanggan rawat jalan datang mendaftar .
b.Untuk pelanggan baru, petugas pendaftaran mendata identitas pasien serta
unit layanan yang dituju dengan mencatat dalam buku Register Pelanggan serta
membuat nota pembayaran, kartu berobat dan memberikan nomor antrian
sesuai dengan layanan yang dituju, sedangkan untuk pelanggan lama,
pelanggan mendaftar dengan menunjukkan kartu berobat.
c. Pasien menuju layanan yang dimaksud untuk mendapatkan
pemeriksaan/pelayanan kesehatan. Apabila berdasarkan hasil pemeriksaan
pasien tidak memerlukan tindakan lebih lanjut,maka pasien diberi resep
dan diarahkan untuk mendapatkan obat di unit obat Puskesmas dan apabila
pasien mendapat tindakan medik di layanan yang bersangkutan, maka pasien
dikenakan biaya tambahan sesuai rincian tindakan, ditulis di nota pembayaran
dan dibayar di Kasir.
d.Apabila menurut keterangan dokter masih diperlukan pelayanan penunjang
(pemeriksaan laboratorium) maka pasien diberi surat pengantar ke
laboratorium (beserta nota pembayaran).
e.Setelah dilaksanakan pelayanan laboratorium, petugas tempat pelayanan me
nulis rincian biaya tersebut di nota pembayaran dan petugas laboratorium
mempersilahkan pelanggan kembali ke unit perujuk.
f.Apabila menurut dokter yang memeriksanya pelanggan masih perlu
dikonsultasikan kepada dokter lain yang tidak dapat dilakukan di puskesmas,
maka kepada pasien diberi surat pengantar ke dokter pada fasilitas kesehatan
lanjutan dengan dibuatkan surat rujukan.
g.Pasien membayar administrasi karcis dan tindakan jika ada sesuai dengan tarif
layanan yang dituju di kasir.
h.Atas pembayaran
g. Kasir menyobek karcis sesuai dengan tarif layanan dan diberikan
kepada pelanggan.Secara harian pada akhir jam pendaftaran, kasir membuat
rekap penerimaan, yaitu jumlah pasien (berdasarkan jumlah karcis) dan
jumlah uang yang diterima, kemudian dicocokan antara jumlah uang yang
diterima dengan yang sesungguhnya (antara catatan hasil rekap dan fisik
uangnya) untuk kemudian diserahkan kepada Bendahara Penerimaan
Pembantu dan disetor ke Bank BJB (rekening BLUD) dengan Surat Tanda
Setoran (STS) atau slip setoran selambat-lambatnya 1x24 jam.

2. Penerimaan Laboratorium Penerimaan jasa


pelayanan kesehatan dari laboratorium merupakan penerimaan
pembayaran/tarif atas pelayanan pemeriksaan penunjang diagnostik
yang meliputi pemeriksaan laboratorium kepada pasien dari dalam
Puskesmas ( pelanggan rawat jalan/ unit tindakan) dan dari luar atas
permintaan sendiri untuk melengkapi penegakan diagnosis atauterapi.
Prosedur :
a.Untuk pasien dari dalam Puskesmas (pelanggan rawat jalan/unit tindakan)
mendapat surat pengantar dari dokter yang memeriksanya, sedangkan
untuk pasien dari luar Puskesmas mendaftar di pendaftaran dan langsung
menuju unit pelayanan umum.
b.Pasien menuju ruang laboratorium dengan membawa surat pengantar dan
kemudian mendapatkan pelayanan.
c.Setelah melakukan tindakan pelayanan, petugas laboratorium me
tulis rincian pemeriksaan di nota pembayaran untuk diserahkan ke kasir.
d.Petugas kasir menyobek karcis sejumlah biaya yang harus dibayar
oleh pelanggan.
e.Untuk pasien JKNmendapat pelayanan
laboratoriumdan tidak dikenakan biaya,namun biaya akan ditagihkan kepada
BPJS (Non Kapitasi).
a.Pengajuan klaim (Non Kapitasi) diajukan oleh Pemimpin BLUD kepada
BPJS setelah diverifikasi oleh petugas yang menangani JKN.
b.BPJS mentransfer ke rekening Kas BLUD dan mengirimkan laporan
pembayaran klaim kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Serang cq Seksi JPKM
c.Bendahara penerimaan pembantu mengambil bukti transfer pembayaran
klaimdari BPJS ke Seksi JPKM Dinas Kesehatan Kabupaten Serang.
3.Penerimaan pemakaian mobil Ambulance.
Penerimaan Jasa Layanan Ambulance merupakan penerimaan dari
pemakaian mobil Ambulance milik Puskesmas oleh masyarakat.
Prosedur:
a.Untuk pasien dari dalam Puskesmas (pengantar pasien), petugas
ruangan membuat surat pengantar dan diberikan pada keluarga pasien.
Sedangkan untuk pasien dari luar Puskesmas (menjemput pasien), keluarga
pasien memberitahukan ke Puskesmas (antara lain melalui telepon).
b. Keluarga pasien membayar biaya penggunaan jasa pemakaian mobil
Ambulance di kasir. Untuk penjemputan pasien, keluarga pasien
membayar setelah pasien sampai di Puskesmas atau di rumah (pasien umum).
c. Petugas kasir membuat kuitansi rangkap tiga:
1)Lembar ke 1 (warna putih) untuk pasien.
2)Lembarke 2 (warna merah) untuk unitdimana pasien dirawat.
3)Lembar ke 3 (warna kuning) Kasir/Bendahara Penerimaan Pembantu.
d.Untuk pasien yang membayar dirumah, sopir membawa kuitansi pembayaran
dan setelah dibayar, kuitansi ditandatangai keluarga pasien, lembar ke
1 untukpasien, lembar ke 2, dan ke 3 dibawa petugas mobil Ambulance
(sopir) untuk diserahkan ke kasir/bendahara penerimaan pembantu berikut
uangnya.
4.Penerimaan kas dari jasa pemanfaatan fasilitas/asset PUSKESMAS
Pemanfaatan fasilitas/aset PUSKESMAS merupakan pemanfaatan
fasilitas/aset milik PUSKESMAS antara lain dalam bentuk sewa, pinjam pakai,
kerjasama pemanfaatan. Penerimaan kas dari pendapatan jasa
pemanfaatan fasilitas/aset PUSKESMAS adalah penerimaan kas Puskesmas
karena adanya pemanfaatan fasilitas/aset PUSKESMAS oleh pihak ketiga
berdasarkan perjanjian sewa pemanfaatan fasilitas/aset.
Prosedur :
a.Calon pemakai mengirim surat permohonan menyewa fasilitas/aset
kepada Pemimpin BLUD
b.Pemimpin BLUD meneliti permohonan serta mempertimbangkan untuk
menerima atau menolak permohonan tersebut.
c. Apabila permohonan ditolak, dibuat surat jawaban penolakan atas
permohonan tersebut.
d. Apabila permohonan diterima, selanjutnya dibuat kesepakatan bersama
yang dituangkan dalam kontrak/perjanjian pemanfaatan fasilitas/aset.
e. Berdasarkan kontrak tersebut, calon penyewa melakukan pembayaran
ke Kasir/Bendahara Penerimaan Pembantu.
f.Petugas kasir menyiapkan kuitansi rangkap tiga ( lembar pertama untuk
penyewa; lembar ke 2 untuk Sub Bagian Tata Usaha, lembar ke 3 untuk
Kasir/Bendahara Penerimaan Pembantu)
5. Penerimaan Kas dari Kerjasama Dengan Pihak Ketiga
Penerimaan kas dari kerjasama dengan pihak ketiga adalah penerimaan kas yang
diperoleh dari hasil kerjasama operasional maupun kegiatan tertentu yang
didukung dengan adanya surat perjanjian kerjasama maupun nota
kesepakatan.
Prosedur :
a. Calon mitra mengajukan proposal kegiatan/kerjasama operasional
kepada Pemimpin BLUD atau sebaliknya.
b. Pemimpin BLUD menelaah proposal tersebut dan apabila mempunyai
prospek yang bagus, maka dilakukan pembicaraan dengan calon mitra.
c. Pembahasan dengan calon mitra meliputi bentuk kegiatan,
pembagian biaya dan hasil dari masing-masing pihak.
d. Setelah dicapai kesepakatan maka dibuat surat perjanjian
kerjasama operasional/nota kesepakatan.
e. Hasil dari kegiatan disetor oleh mitra kerja ke bendahara
penerimaan (untuk kegiatan) dan atau transfer ke rekening Kas BLUD
(Kerjasama operasional).
6. Penerimaan Kas dari Kapitasi JKN
Penerimaan kas dari kapitasi adalah penerimaan kas yang diperoleh
dari BPJS sesuai dengan jumlah kepesertaan JKN yang terdaftar di
puskesmas. Prosedur :
a. BPJS melakukan transfer ke rekening puskesmas di Bank BJB.
(Rekening Kas BLUD) sejumlah nilai yang di sesuaikan dengan jumlah
kepesertaan setiap bulan.
b. Bendahara Penerimaan Pembantu mencatat sejumlah dana
kapitasi yang diterima di buku kas umum penerimaan.
Terhadap penerimaan kas dari pendapatan tersebut di atas (poin A,
B), bendahara penerimaan pembantu melakukan penatausahaan sebagai
berikut:
a. Bendahara penerimaan pembantu membukukan seluruh penerimaan
setiap hari pada buku kas umum, buku pembantu per rincian obyek
penerimaan dan buku rekapitulasi penerimaan harian.
b. Bendahara penerimaan pembantu setiap hari pada hari yang sama
menyetor seluruh penerimaan retribusi umum ke rekening kas BLUD di
Bank BJB dengan membuat bukti setor /Surat Tanda Setoran (STS)
rangkap dua (lembar ke 1 untuk Bank dan lembar ke 2 untuk
Arsip) dan melaporkan kepada pejabat keuangan BLUD.
c. Setiap bulan paling lambat tanggal 1, bendahara penerimaan
pembantu membuat laporan bulanan penerimaan dan disampaikan
kepada bendahara penerimaan Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri,
melalui Kuasa Pengguna Anggaran (Pemimpin BLUD).
7. Penerimaan kas dari dana APBD Pemerintah Kabupaten .Serang
Penerimaan kas dari alokasi dana APBD merupakan penerimaan kas
yang diperoleh dari penarikan danaAPBD untuk membiayai kegiatan
operasional Puskesmas.
Kuasa Pengguna Anggaran terlebih dahulu mengajukan RPK kegiatan kepada
Bendahara pengeluaran.
Prosedur:
1. Berdasarkan SP2D yang diterima, bendahara pengeluaran meng-
uangkan SP2D tersebut ke Bank BJB.
2. PPTK mengajukan panjar kepada bendahara pengeluaran pembantu
sejumlah nominal yang tertera dalam RPK.
3. Bendahara pengeluaran pembantu mengeluarkan cek sesuai dengan
jumlah panjar dari PPTK
4. Cek panjar diberikan kepada pimpinan BLUD untuk mendapat persetujuan
5. Berdasarkan dokumen penerimaan kas tersebut, bendahara pengeluaran
mencatat dalam BKU
BAB IV
PROSEDUR PENGELUARAN KAS
A.DEFINISI
Pengeluaran kas adalah transaksi atau kejadian yang mengakibatkan terjadinya
pengeluaran kas, misalnya pengeluaran kas untuk pembayaran belanja pegawai
dan belanja operasional Puskesmas lainnya, pembayaran utang, penyetoran
kepada pihak ketiga, penyertaan modal ataupun pengembalian pendapatan.
Prosedur pengeluaran kas ditetapkan dengan tujuan untuk memastikan
bahwa semua pengeluaran kas telah dicatat dengan benar sesuai dengan
klasifikasi pengeluaran ataupun anggaran yang tersedia serta untuk memperoleh
keyakinan yang memadai atas pengeluaran kas itu sendiri.
Prosedur pengeluaran kas dirancang dengan semaksimal mungkin
menerapkan prinsip-prinsip pengendalian intern yang baik dan handal
dengan tetap memperhatikan fungsi yang terkait dan dokumen/bukti
transaksi yang digunakan, sebagai berikut :
1.Fungsi yang terkait
Fungsi yang terkait pada sistem dan prosedur pengeluaran kas baik yang berasal
dari dana Fungsional (penerimaan dari pendapatan Puskesmas) maupun
dana yang bersumber dari APBD ditetapkan, antara lain:
a.Pengguna Anggaran
b.Kuasa Pengguna Anggaran/pemimpin BLUD
c.PPK Puskesmas
d.Pejabat keuangan BLUD / Sub Bag Tata Usaha
e.Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK)/Pejabat Teknis
f.Bendahara Pengeluaran
g.Bendahara Pengeluaran Pembantu
2.Bukti transaksi yang digunakan
Bukti transaksi yang digunakan dalam prosedur pengeluaran kas mencakup:
a. SPP GU,LS,TU
b.Bukti transaksi pengeluaran kas lainnya
B.Pengelolaan dan Penatausahaan Pengeluaran Kas Yang Berasal Dari
Dana Fungsional (Pendapatan PUSKESMAS)
1.Pembayaran Belanja dengan SPP-UP/GU/TU Pembayaran untuk suatu
kegiatan/belanja yang dilakukan melalui pengajuan SPP-UP/GU/TU.
Pembayaran ini dilakukan langsung oleh bendahara pengeluaran
pembantu kepada PPTK atas suatu kegiatan yang dilakukan tidak atas kontrak
atau SPK.
Prosedur:
a.Pada awal tahun anggaran bendahara pengeluaran pembantu mengajukan
SPP-UP sesuai kebutuhan pelaksanaan kegiatan selama 1-2 bulan kepada
pemimpin BLUD (KPA) melalui Pejabat Keuangan (Kepala Sub Bagian Tata Usaha)
b.Setelah uang persediaan tersedia (lihat prosedur penerimaan kas) dan
berdasarkan permintaan dana dari PPTK, bendahara pengeluaran pembantu
mendistribusikan dana kepada PPTK untuk melakukan kegiatan opersional dan
membuat kuitansi (Panjar) rangkap 2 (satu lembar untuk PPTK dan
satu lembar arsip) kemudian bendahara pengeluaran pembantu mencatat
dalam buku panjar.
c.Setelah melakukan kegiatan dan pembayaran, PPTK
mempertanggungjawabkan pengeluaran definitif ke bendahara pengeluaran
pembantu dengan menyerahkan bukti-bukti asli beserta sisa uangnya
(jika ada) dan kuitansi panjar dicap sudah dipertanggungjawabkan.
d. Atas pertanggungjawaban pengeluaran definitif tersebut bendahara
pengeluaran pembantu mencatat pengeluaran tersebut dalam BKU serta
kendali kegiatan dan menyiapkan SPP-GU sebesar pengeluaran definitif.
e.SPP-GU disampaikan kepada Pejabat Keuangan untuk diterbitkan SPM-
GU, setelah SPM-GU disetujui oleh Pemimpin BLUD maka diterbitkan
cek untuk pencairan dari Kas BLUD, kemudian setelah dana dicairkan maka
diberikan kepada PPTK untuk operasional berikutnya.
f. Apabila terdapat kegiatan yang memerlukan dana banyak dan melebihi
dari kebutuhan yang telah direncanakan maka PPTK dapat mengajukan
permintaan tambahan dana kepada Bendahara Pengeluaran Pembantu.
g. Bendahara pengeluaran pembantu mengajukan SPP-TU kepada pemimpin
BLUD melalui Pejabat Keuangan, Tambahan uang tersebut harus
dipertanggungjawabkan paling lama 1 bulan kemudian.
h. Pada akhir kegiatan apabila masih terdapat saldo uang maka saldo
tersebut disetorkan ke Kas BLUD.
i. Pada akhir tahun anggaran apabila masih terdapat saldo kas di
bendahara pengeluaran pembantu, harus di setor ke kas BLUD.
2.Pembayaran Belanja dengan SPP-LS
a.Pembayaran Jasa Pelayanan
1)Petugas pembuat daftar penerima Jasa Pelayanan setiap bulan membuat
daftardan perhitungan Jasa Pelayanan.
2) Berdasarkan daftar tersebut maka bendahara pengeluaran pembantu
mengajukan SPP-LS kepada pemimpin BLUD melalui pejabat keuangan.
3) Setelah SPP-LS disetujui oleh pejabat keuangan dan pemimpin BLUD
menandatangani SPM-LS maka diterbitkan cek.
4)Cek tersebut dicairkan dari Kas BLUD (PUSKESMAS) oleh bendahara
pengeluaran pembantu dan kemudian dibayarkan kepada penerima
sesuai daftar.
b.Pembayaran kepada pihak ketiga
Pembayaran langsung kepada pihak ketiga adalah untuk pembayaran suatu
kegiatan/belanja yang dilakukan secara langsung kepada pihak ketiga
berdasarkan kontrak dan atau Surat Perintah Kerja.
Prosedur :
1)Pihak ketiga setelah menyelesaikan sebagian atau seluruh pekerjaan
mengajukan tagihan sesuai yang diatur dalam Kontrak atau SPK kepada PPTK
dengan dilampiri bukti-bukti pendukungnya antara lain berita acara
kemajuan pekerjaan/berita acara penyelesaian pekerjaan, laporan kemajuan
kegiatan dan atau berita acara serah terima barang/jasa.
2)PPTK meneliti terlebih dahulu kelengkapan tagihan, setelah lengkap
maka PPTK mengajukan kelengkapan dokumen tagihan kepada
bendaharapengeluaran pembantu.
3)Tagihan tersebut terlebih dahulu diverifikasi kelengkapan dan
keabsahannya serta dibuatkan kartu kendali kegiatan, setelah dinyatakan
lengkap maka bendahara pengeluaran pembantu membuat SPP-LS.
4)SPP-LS diajukan kepada pemimpin BLUD melalui pejabat keuangan
BLUD untuk diterbitkan SPM-LS, setelah disetujui oleh pejabat keuangan
dan pemimpin BLUD, maka diterbitkan Cek untuk diberikan kepada pihak ketiga.

BAB V
PELAPORAN

A.DANA ALOKASI KHUSUS KESEHATAN


1.Jenis Pelaporan
Laporan dari kegiatan pemantauan teknis pelaksanaan DAK Bidang
Kesehatan terdiri:
Laporan setiap bulan yang memuat jenis kegiatan, lokasi kegiatan,
realisasi keuangan, realisasi fisik dan permasalahan dalam pelaksanaan DAK
a. Laporan penyerapan DAK disampaikan kepada Menteri Keuangan
berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan tentang Pelaksanaan dan
Pertanggungjawaban Anggaran Trasfer ke Daerah yang berlaku.
b. Disamping laporan triwulanan, untuk DAK Nonfisik BOK dan
Jampersal diwajibkan untuk membuat laporan rutin bulanan
capaian program (sesuai indikator Renstra 2015-2019 dan RBA
Tahun 2017), dengan menggunakan format, mekanisme dan ketentuan
yang sudah ditetapkan.
2.Laporan tahunan DAK yang memuat hasil kinerja satu tahun meliputi:
realisasi keuangan, realisasi fisik, capaian program, disampaikan Dinas
Kesehatan Kabupaten kepada Menteri Kesehatan (melalui Sekretaris Jenderal)
pada minggu ketiga bulan Januari tahun berikutnya.Pelaksana Pelaporan
a.Kepala SKPD Dinas Kesehatan Kabupaten dan Direktur Rumah Sakit
Provinsi/Kabupaten/Kota melaporkan pelaksanaan kegiatan DAK Nonfisik
Bidang Kesehatan meliputi jenis kegiatan, lokasi kegiatan, realisasi
keuangan dan realisasi fisik kepada Dinas Kesehatan Provinsi, paling
lambat 7 hari setelah triwulan selesai (pelaporan bulan Maret, Juni,
September, Desember).
b.Dinas Kesehatan Provinsi melakukan kompilasi laporan pelaksanaan
DAK Bidang Kesehatan di wilayah kerjanya, kemudian hasil kompilasi
meliputi jenis kegiatan, lokasi kegiatan, realisasi keuangan dan realisasi
fisik tersebut dilaporkan kepada Menteri Kesehatan melalui Sekretaris
Jenderal up. Kepala Biro Perencanaan dan Anggaran paling lambat 14 hari
setelah triwulan selesai(Maret, Juni, September, Desember).
c. Kepatuhan daerah dalam menyampaikan laporan triwulanan
dijadikan pertimbangan dalam pengalokasian DAK tahun berikutnya sesuai
peraturan perundang-undangan.
3. Kepala Daerah menyampaikan laporan triwulan yang memuat
pelaksanaan kegiatan dan penggunaan anggaran DAK kepada:
a.Menteri Kesehatan
b.Menteri Dalam Negeri
c.Menteri Keuangan
4.Alur Pelaporan
a. Pelaksanaan di Puskesmas
Kepala puskesmas menyampaikan laporan rutin bulanan capaian program
kepada Dinas Kesehatan Kabupaten setiap tanggal 1 bulan berikutnya.
Untuk laporan keuangan, Kepala Puskesmas menyampaikan pelaporan
penyerapan keuangan melalui BKU, SPTJ (Surat Pernyataan
Pertanggungjawaban), Laporan evaluasi penyerapan dana BLUD, maksimal
setiap tanggal 5 bulan berikutnya.
Untuk pelaporan keuangan berdasarkan sistim akuntansi keuangan
(SAK), yang terdapat dalam lampiran.

BAB VI
PEMANTAUAN DAN EVALUASI

A.DANA ALOKASI KHUSUS KESEHATAN


1.Ruang Lingkup Pemantauan dan Evaluasi
Pemantauan dan evaluasi DAK mencakup kinerja program dan kinerja
keuangan. Lingkuppemantauan dan evaluasi meliputi:
a.Kesesuaian antara kegiatan DAK Nonfisik Bidang Kesehatan dengan
usulan kegiatan yang ada dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD).
b.Kesesuaian pemanfaatan DAK Nonfisik Bidang Kesehatan dalam
DokumenPelaksanaan Anggaran – Satuan Kerja Perangkat Daerah (DPA-SKPD)
dengan petunjuk teknis dan pelaksanaan di lapangan.
c.Realisasi waktu pelaksanaan, lokasi, dan sasaran pelaksanaan
denganperencanaan.
b.Evaluasi pencapaian kegiatan DAK berdasarkan input, proses, output.
c.Evaluasi pencapaian target Program Prioritas Nasional Bidang Kesehatan sesuai
dengan target unit teknis, RKP 2017 dan Renstra Kemenkes 2015 – 2019.
2. Pelaksana Pemantauan dan Evaluasi
Pemantauan dan evaluasi DAK dilakukan oleh organisasi pelaksana dan atau tim
koordinasi di tingkat pusat, provinsi, dan kabupaten/kota sesuai dengan
petunjuk teknis dalam Surat Edaran Bersama (SEB) Menteri Negara
PPN/Kepala Bappenas, Menteri Keuangan, dan Menteri Dalam Negeri
Tahun 2008 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemantauan Teknis
Pelaksanaan dan Evaluasi Pemanfaatan DAK.
Pemantauan dan evaluasi capaian indikator program dilakukan secara
terpadu di setiap jenjang administrasi.
Puskesmas mempunyai kewajiban untuk menyampaikan laporan kinerja
program dengan menggunakan format yang ada sesuai ketentuan yang berlaku.
3.Tata Cara Pemantauan dan Evaluasi
a.Pengiriman laporan secara berjenjang sesuai dengan format dan waktu
yangtelah ditetapkan
b.Pelaporan pelaksanaan DAK Nonfisik BOK dan Jampersal mengacu
pada capaian indikator program (R
BA Tahun 2017 dan Renstra Kemenkes Tahun 2015–2019) menggunakan
format laporan rutin program sesuai panduan umum Sistem Informasi
Puskesmas. Puskesmas mengirimkan laporan pada DinasKesehatan
Kabupaten, kemudian Dinas Kesehatan Kabupaten mengirimkan kepada
Dinas Kesehatan Provinsi dan diteruskan oleh Dinas Kesehatan Provinsi ke
Kementerian Kesehatan.
c.Dinas Kesehatan Kabupaten melaporkan/mem feedback hasil pelaksanaan
penerapan aplikasi e-logistik/aplikasi logistik obat dan BMHP setiap
triwulan melalui bank data pusat (bankdataelog.kemkes.go.id/e-logistics).
d.Review atas laporan yang diterima secara berjenjang. Review perlu
dilakukan untuk mencermati laporan yang telah masuk dan melihat kembali
perkembangan pelaksanaan DAK di lapangan. Review dilakukan oleh
forum koordinasi di masing-masing tingkat pemerintahan. Hasil dari
review menjadi dasar untuk memberikan umpan balik kepada daerah.
B. DANA KAPITASI JKN
Pembinaan dan pengawasan pelaksanaan Peraturan Menteri ini dilakukan
oleh Kepala SKPD Dinas Kesehatan Kabupaten dan Kepala FKTP secara
berjenjang dan secara fungsional oleh Aparatur Pengawas Instansi Pemerintah
Kabupaten/Kota sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

AB VII
PENUTUP

Panduan ini dibuat untuk dijadikan acuan penggunaan DAU dan DAK
Nonfisik Bidang Kesehatan Tahun Anggaran dan dimungkinkan untuk dapat
digunakan sebagai acuan DAU dan DAK Nonfisik Bidang Kesehatan pada tahun
selanjutnya. DAK nonfisik bidang kesehatan diarahkan untuk kegiatan yang
dapat meningkatkan daya jangkau dan kualitas pelayanan kesehatan
masyarakat di daerah dengan derajat kesehatan yang belum optimal,sehingga
masyarakat di seluruh wilayah Indonesia dapat memperoleh pelayanan
kesehatan yang bermutu.
Menu kegiatan dalam petunjuk teknis penggunaan DAU dan DAK Nonfisik Bidang
Kesehatan ini merupakan pilihan kegiatan bagi tiap jenisnya. Tiap kegiatan DAU
dan DAK Nonfisik tidak diperkenankan dilakukan pengalihan anggaran
ataupun kegiatan antar DAK Nonfisik, baik antara BOK, dan
Akreditasi Pukesmas. Kegiatan-kegiatan yang bisa didanai dari DAU dan DAK
Nonfisik Bidang Kesehatan sebagaimana diuraikan di atas sifatnya
adalah pilihan.Pemilihan kegiatan DAU dan DAK Nonfisik Bidang Kesehatan
seharusnya merupakan bagian program jangka menengah sesuai Rencana
Strategis Kementerian Kesehatan dan Rencana Strategis Daerah sehingga lebih
berdaya guna dan berhasil guna.