Anda di halaman 1dari 1

Suara detak jarum jam yang hanya bergerak di satu titik menjadi musik satu satunya saat ini

di antara ratusan jeruji tebal dan kokoh berbaris menjaga ‘sang majikan’. Malam ini tugas Tilo dan
Pagos berjaga di tempat yang disebut penampungan orang-orang yang telah berbuat kejahatan
besar. Tempat yang dinamai Baiti Qishos itu sedang dikepung jutaan rintik hujan dengan suara
gaduhnya mencoba mengalahkan detak jam dinding yang setengah berfungsi.

“ Pagos, coba kau beri makan yang di sebelah Utara. Aku akan bertugas di sebellah Selatan. Kali ini
petugas bagian dapur harus melimpahkan tugasnya kepada kita. Dia terburu buru ke rumah sakit.”

“Bagaimana bisa aku melayani 14 orang orang berdosa yang membuatku jijik ini, sedangkan kau di
sebelah Selatan hanya 7 orang? Kenapa petugas bagian dapur tidak segera menyelesaikan tugasnya
hari ini juga? Huhh menyebalkan.” Pagos dengan membawa nampan berisi piring piring aluminium
menggerutu dengan keras.

“Sudahlah. Cepat selesaikan atau kau kulaporkan Bos Gil karena pekerjaanmu yang sama sekali tidak
becus.”

Ruangan dengan ubin abu-abu itu lengang menyisakan rintik hujan yang mulai reda.

“Hei, Pagos! Pukul berapa sekarang? Bahkan ruangan hina ini pun tidak disertai petujuk waktu
dengan jelas.” Tilo menurunkan jam dinding yang setengah rusak itu, kemudian mengganti baterai
cadangan di laci meja.

“Pukul 19.06. Sejak kapan jam dinding disana seperti itu?” Pagos yang meletakkan piring-piring
didepan pintu sel terakhir mendongak ke arah Tilo yang sedang berusaha membuat jam dinding
berfungsi kembali

Ruangan dengan ubin abu-abu itu lengang. Tilo dan Pagos duduk di masing masing meja
kerjanya sedang sibuk dengan berkas berkas yang menggunung. Selembar riwayat kasus seorang
kriminal pendatang baru, dipegang di tangan Pagos. Umurnya sudah tua,tepatnya 71 tahun.
Bukankah diumur yang terbilang lansia seharusnya menikmati sisa umurnya dengan pasangan atau
keluarga dan kerabat dekatnya? Di lembaran itu tercatat tindakan kriminal dengan tuduhan
penganiyayan yang mengakibatkan memar bahian mata dan sekitar kepala bagian belakang korban.
Kali ini Pagos berkeliling memastikan para pendosa tetap berada pada tempat mereka. Seluruh
ruangan disisir dan akhirnya dia menemukan seorang pria tua berbaring meringkuk di sudut sel. Sel
terakhir sebelah Utara. Sendirian tanpa kawan.

“Hei Pak Tua! Jangan terlalu memikirkan nasibmu. Untuk orang seusiamu bukankah hebat membuat
memar di kepalanya? Seharusnya jika kau ingin melakukan kejahatan, lakukanlah dengan maksimal.
Kenapa tidak kau cekik saja lehernya supaya dendammu terbalas dengan tuntas? Makanlah
makananmu segera. Karna tikus-tikus disini tidak mendapatkan jatah.” Pagos nyengir sembari
menendang piring yang masih setengah terlihat di bawah celah pintu