Anda di halaman 1dari 25

BAB 1

SIFAT KOLIGATIF LARUTAN

MENENTUKAN TITIK BEKU DAN PENURUNAN TITIK BEKU

LARUTAN SERTA MENENTUKAN BESARNYA KENAIKAN TITIK

DIDIH LARUTAN

I. PRINSIP PERCOBAAN

1.1 Percobaan 1

Titik Beku Tf dan Penurunan Titik Beku ∆Tf

1.2 Percobaan 2

Kenaikan Titik Didih ∆Tb

II. TUJUAN

2.1 Percobaan 1

Dapat menentukan titik beku dan penurunan titik beku beberapa

larutan dan faktor – faktor yang mempengaruhinya.

2.2 Percobaan 2

Dapat menentukan besarnya kenaikan titik didih beberapa larutan dan

faktor – faktor yang mempengaruhinya.


III. DASAR TEORI

3.1 Sifat Koligatif Larutan

Sifat koligatif larutan adalah sifat larutan yang tidak bergantung pada

jenis zat terlarut, tetapi hanya bergantung pada banyaknya partikel zat terlarut

dalam larutan. Koligatif berasal dari bahasa yunani colligare yang artinya

kumpulan, karena sifat ini bergantung dari banyaknya kumpulan partikel

terlarut dalam larutan. Sifat koligatif larutan meliputi:

1. Penurunan tekanan uap (∆P),

2. Kenaikan titik didih (∆Tb),

3. Penurunan titik beku (∆Tf), dan

4. Tekanan osmotik (ᴫ).

Seperti telah dikemukakan diatas bahwa sifat koligatif larutan bergantung

dari banyaknya partikel zat terlarut dalam larutan. Atas dasar itulah sifat

koligatif larutan dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu sifat koligatif

larutan nonelektrolit dan sifat koligatif larutan elektrolit. Hal itu disebabkan

karena zat terlarut pada larutan nonelektrolit jumlahnya tetap karena tidak

terurai menjadi ion-ion, sedangkan zat terlarut pada elektrolit bertambah

jumlahnya karena terurai menjadi ion-ion.

Untuk menyatakan banyaknya zat terlarut dalam suatu larutan digunakan

istilah konsentrasi. Konsentrasi larutan akan dibahas dalam bab ini adalah

komolalan atau molalitas dan fraksi mol.


3.1.1 Kemolalan dan Fraksi Mol

Pada sifat koligatif larutan, kemolalan digunakan untuk

menentukan besarnya kenaikkan titik didih atau penurunan titik beku.

Fraksi mol digunakan untuk menentukan besarnya penurunan tekanan

uap jenuh.

3.1.1.1 Kemolalan (molalitas = m)

Kemolalan atau molalitas menyatakan banyaknya mol zat

yang terlarut dalam 1000 gram zat pelarut.

3.2 Percobaan 1

3.2.1 Penurunan Titik Beku ( ΔTf ) Larutan Nonelektrolit

Air murni membeku pada temperatur 0 ºC dan tekanan 1 atm.

Temperatur ini dinamakan titik beku normal air. Temperatur di mana

zat cair membeku pada tekanan 1 atm adalah titik beku normal zat

cair itu.

Dengan adanya zat terlarut, ternyata pada temperatur 0 ºC air

belum membeku. Pada temperatur itu tekanan uap jenuh larutan

lebih kecil dari 1 atm. Agar larutan membeku, temperatur larutan

harus diturunkan sampai tekanan uap jenuh larutan mencapai 1 atm.

Besarnya perbedaan antara titik beku zat pelarut dengan titik

beku larutan disebut penurunan titik beku ( ΔTf ).

ΔTf = titik beku pelarut – titik beku larutan


Penurunan titik beku yang disebabkan oleh 1 mol zat terlarut

dalam 1.000 gram zat pelarut dinamakan penurunan titik beku molal

( Kf ).

Hubungan antara titik beku larutan dan molalitas larutan

dirumuskan sebagai berikut.


𝒘𝟐 𝟏𝟎𝟎𝟎
ΔTf = m x Kf atau ΔTf = x x Kf
𝐌𝐫 𝒘𝟏

Keterangan :

ΔTf = penurunan titik beku larutan

Kf = tetapan penurunan titik beku molal

m = kemolalan ( molalitas )

w2 = massa zat terlarut dalam gram

w1 = massa pelarut dalam gram

Mr = massa molekul relatif zat terlarut

3.3 Percobaan 2

3.3.1 Kenaikan Titik Didih ( ΔTb ) Larutan Nonelektrolit

Suatu zat cair akan mendidih jika tekanan uap jenuh zat cair itu

sama dengan tekanan udara di sekitarnya. Apabila air murni

dipanaskan pada tekanan 1 atm ( 760 mmHg ) maka air akan

mendidih pada temperatur 100 ºC, karena pada temperatur itu

tekanan uap air sama dengan tekanan udara di sekitarnya.

Temperatur pada tekanan uap jenuh zat cair yang sama dengan 1 atm

disebut titik didih normal zat cair itu.


Apabila pada temperatur itu dilarutkan sukrosa maka tekanan

uap air akan turun. Semakin banyak sukrosa yang dilarutkan,

semakin besar penurunan tekanan uapnya, sehingga pada temperatur

100 ºC larutan sukrosa belum mendidih sebab tekanannya kurang

dari 760 mmHg. Larutan itu memerlukan temperatur yang lebih

tinggi lagi agar tekanan uap jenuhnya sama dengan tekanan udara di

sekitarnya.

Selisih antara titik didih larutan dengan titik didih pelarut

murni disebut kenaikan titik didih ( ΔTb ).

ΔTb = titik didih larutan – titik didih pelarut

Kenaikan titik didih yang disebabkan oleh 1 mol zat yang

dilarutkan dalam 1000 gram zat pelarut mempunyai harga yang tetap

dan disebut tetapan kenaikan titik didih molal ( Kb ). Setiap zat

pelarut mempunyai harga Kb berbeda.

Dengan demikian secara umum dirumuskan sebagai berikut.

ΔTb = m x Kb atau 𝒘𝟐 𝟏𝟎𝟎𝟎


ΔTb = x x Kb
𝐌𝐫 𝒘𝟏

Keterangan :

ΔTb = kenaikan titik didih larutan

Kb = tetapan kenaikan titik didih molal

m = kemolalan ( molalitas )

w1 = massa pelarut dalam gram


w2 = massa zat terlarut dalam gram

Mr = massa molekul relatif zat terlarut

IV. ALAT DAN BAHAN

4.1 Percobaan 1

4.1.1 Alat

 Gelas beaker 500 mL

 Tabung Reaksi

 Rak Tabung Reaksi

 Thermometer

 Batang Pengaduk

 Sendok Makan

4.1.2 Bahan

 Es batu secukupnya

 Larutan Urea ( CO(NH2)2 ) 0,5 M

 Larutan Gula ( C12H22O11 ) 0,5 M

 Larutan CuSO4 0,5 M

 Larutan Garam dapur ( NaCl ) 0,5 M

 Air Suling

 Garam dapur

4.2 Percobaan 2

4.2.1 Alat

 Gelas beaker 250 mL


 Thermometer

 Batang Pengaduk

 Pembakar Bunsen

 Kaki Tiga dan Kasa

4.2.2 Bahan

 Aquadest

 Larutan Urea ( CO(NH2)2 ) 0,5 M

 Larutan Gula ( C12H22O11 ) 0,5 M

 Larutan CuSO4 0,5 M

 Larutan Garam Dapur ( NaCl ) 0,5 M

V. PROSEDUR KERJA

5.1 Percobaan 1

5.1.1 Aquadest

Es Batu

Dimasukkan ke dalam gelas beaker 500 mL

hingga 2/3 tinggi gelas beaker tersebut

Garam Dapur

Ditambahkan 10 sendok makan ke dalam

gelas beaker yang sudah terisi butiran es

Aquadest batu
Ditambahkan 2 sendok makan ke dalam

gelas beaker yang sudah terisi butiran es

batu

Diaduk hingga bercampur merata

Air Suling

Dimasukkan 3 mL ke dalam tabung reaksi

Dimasukkan ke dalam campuran pendingin

Diaduk dengan gerakan naik turun hingga

membeku

Dikeluarkan dari campuran pendingin dan

dibiarkan hingga mencair

Diganti batang pengaduk dengan

termometer

Diaduk yang sebagian mencair dengan

gerakan naik turun

Dibaca skala suhu yang ditunjukkan

termometer dan dicatat hasilnya


5.1.2 Larutan Urea ( CO(NH2)2

Es Batu

Dimasukkan ke dalam gelas beaker 500 mL

hingga 2/3 tinggi gelas beaker tersebut

Garam Dapur

Ditambahkan 10 sendok makan ke dalam

gelas beaker yang sudah terisi butiran es

batu

Aquadest

Ditambahkan 2 sendok makan ke dalam

gelas beaker yang sudah terisi butiran es

batu

Diaduk hingga bercampur merata

Larutan CO(NH2)2 0,5 M

Dimasukkan 3 mL ke dalam tabung reaksi

Dimasukkan ke dalam campuran pendingin

Diaduk dengan gerakan naik turun hingga

membeku

Dikeluarkan dari campuran pendingin dan

dibiarkan hingga sebagian mencair

Diganti batang pengaduk dengan

termometer
Diaduk yang sebagian mencair dengan

gerakan naik turun

Dibaca skala suhu yang ditunjukkan

termometer dan dicatat hasilnya

5.1.3 Larutan Gula ( C12H22O11 )

Es Batu

Dimasukkan ke dalam gelas beaker 500 mL

hingga 2/3 tinggi gelas beaker tersebut

Garam Dapur

Ditambahkan 10 sendok makan ke dalam

gelas beaker yang sudah terisi butiran es

batu

Aquadest

Ditambahkan 2 sendok makan ke dalam

geals beaker yang sudah terisi butiran es

batu

Diaduk hingga bercampur merata

Larutan C12H2211 0,5 M

Dimasukkan 3 mL ke dalam tabung reaksi

Dimasukkan ke dalam campuran pendingin


Diaduk dengan gerakan naik turun hingga

membeku

Dikeluarkan dari campuran mendingin dan

dibiarkan hingga sebagian mencair

Diganti batang pengaduk dengan

termometer

Diaduk yang sebagian mencair dengan

gerakan naik turun

Dibaca skala yang ditunjukkan oleh

termometer dan dicatat hasilnya

5.1.4 Larutan CuSO4

Es Batu

Dimasukkan ke dalam gelas beaker 500 mL

hingga 2/3 tinggi gelas beaker tersebut

Garam Dapur
Dimasukkan 10 sendok makan ke dalam

gelas beaker yang sudah terisi butiran es

Aquadest batu

Dimasukkan 2 sendok makan ke dalam

gelas beaker yang sudah terisi butiran es

batu
Larutan CuSO4 0,5 M
Dimasukkan 3 mL ke dalam tabung reaksi

Dimasukkan ke dalam campuran pendingin

Diaduk dengan gerakan naik turun hingga

membeku

Dikeluarkan dari campuran pendingin dan

dibiarkan hingga sebagian mencair

Diganti batang pengaduk dengan

termometer

Diaduk yang sebagian mencair dengan

gerakan naik turun

Dibaca skala suhu yang ditunjukkan

termometer dan dicatat hasilnya

5.1.5 Larutan Garam Dapur ( NaCl )

Es Batu
Dimasukkan ke dalam gelas beaker 500 mL

hingga 2/3 tinggi gelas beaker tersebut

Garam Dapur

Dimasukkan 10 sendok makan ke dalam

gelas beaker yang sudah terisi butiran es

batu
Aquadest
Dimasukkan 2 sendok makan ke dalam

gelas beaker yang sudah terisi butiran es

batu

Larutan NaCl

Dimasukkan 3 mL ke dalam tabung reaksi

Dimasukkan ke dalam campuran pendingin

Di aduk dengan gerakan naik turun hingga

membeku

Dikeluarkan dari campuran pendingin dan

dibiarkan hingga sebagian mencair

Diganti batang pengaduk dengan

termometer

Diaduk yang sebagian mencair dengan

gerakan naik turun

Dibaca skala yang ditunjukkan termometer

dan dicatat hasilnya


5.2 Percobaan 2

5.2.1 Aquadest

Aquadest

Dimasukkan 100 mL ke dalam gelas beaker

250 mL

Dipanaskan hingga suhu 50˚C

Diukur suhunya dengan menggunakan

termometer dan dicatat hasilnya

5.2.2 Larutan Urea ( CO(NH2)2 )

Larutan CO(NH2)2 0,5 M

Dimasukkan 100 mL ke dalam gelas

beaker 250 mL

Dipanaskan hingga suhu 50˚C

Diukur suhunya dengan menggunakan

termometer dan dicatat hasilnya

5.2.3 Larutan Gula ( C12H22O11 )

Larutan C12H22O11 0,5 M

Dimasukkan 100 mL ke dalam gelas beaker

250 mL

Dipanaskan hingga suhu 50˚C

Diukur suhunya dengan menggunakan

termometer dan dicatat hasilnya


5.2.4 Larutan CuSO4

Larutan C12H22O11 0,5 M

Dimasukkan 100 mL ke dalam gelas beaker

250 mL

Dipanaskan hingga suhu 50˚C

Diukur suhunya dengan menggunakan

termometer dan dicatat hasilnya

5.2.5 Larutan Garam Dapur ( NaCl )

Larutan NaCl 0,5 M

Dimasukkan 100 mL ke dalam gelas beaker

250 mL

Dipanaskan hingga suhu 50˚C

Diukur suhunya dengan menggunakan

termometer dan dicatat hasilnya


VI. HASIL PERCOBAAN

6.1 Percobaan 1

No. Jenis Larutan Tf Awal Tf Akhir ΔTf ( Teoritis)

1. Aquadest 0,5 M 25ºC 0ºC ΔTf = 0ºC - 0ºC

= 0ºC

2. CuSO4 0,5 M 25ºC -1ºC ΔTf = 0ºC – ( -1 )ºC

= 1ºC

3. C12H22O11 0,5 M 25ºC -1,5ºC ΔTf = 0º - ( -1,5 )ºC

= 1,5ºC

4. NaCl 0,5 M 25ºC -2ºC ΔTf = 0ºC – ( -2 )ºC

= 2ºC

5. CO(NH2)2 0,5 M 25ºC -2ºC ΔTf = 0ºC – ( -2 )ºC

= 2ºC

6.2 Percobaan 2

No. Jenis Larutan Waktu ( s ) Temperatur

1. Aquadest 0,5 M 01 : 46.4 s 50ºC

2. CuSO4 0,5 M 01 : 31.5 s 50ºC

3. C12H22O11 0,5 M 02 : 11.0 s 50ºC

4. NaCl 0,5 M 02 : 03.4 s 50ºC

5. CO(NH2)2 0,5 M 02 : 05 s 50ºC


VII. DISKUSI

7.1 Percobaan 1

Pada percobaan ini penulis mengalami sedikit masalah yaitu

perbedaan hasil yang diperoleh oleh kelompok kami dengan kelompok

yang lain. Sesuai dengan dasar teori yang telah ditulis sebelumnya,

perbedaan itu terjadi karena kurang akuratnya hasil yang diperoleh saat

melaksanakan percobaan. Kurang teliti dalam hal pengukuran suhu juga

sangat mempengaruhi hasil percobaan yang didapatkan. Ketidaklengkapan

alat yang digunakan pada saat melakukan percobaan sangat mempengaruhi

waktu, sehingga harus menunggu kelompok lain selesai menggunakan alat

percobaan yang sama. selain itu dalam percobaan ini kelompok kami

mengalami sedikit kesulitan dalam menjaga suhu pada campuran

pendingin agar tetap membeku, hal ini juga dapat membuat hasil

percobaan tidak akurat. Kesulitan lain juga kami alami saat mengukur

larutan pada pipa U karena keterbatasan alat ukur, sehingga harus

bergantian dan membutuhkan waktu yang lama.

Perbedaan hasil yang didapatkan saat percobaan selesai

membuktikan bahwa dalam menggunakan termometer haruslah sangat

teliti, jangan sampai termometer terkena kulit kita karena akan

mempengaruhi suhu yang dihasilkan, campuran pendingin juga perlu

perhitungan agar tidak cepat mencair, jika perlu membuat campuran

pendingin baru. Selain itu, saat mengukur larutan yang akan dicobakan
juga harus tepat, agar hasil percobaan yang diperoleh lebih akurat dan

efisien sesuai dengan hasil perhitungan secara teoritis.

7.2 Percobaan 2

Pada percobaan ini, penulis mengalami kejenuhan pada saat

menunggu reaksi kenaikan titik didih yang harus ditunggu hingga

beberapa menit untuk menghasilkan suhu 50˚C. Sama seperti pada

percobaan pertama, dalam percobaan kedua ini juga harus ekstra hati – hati

dalam memegang posisi termometer agar hasilnya akurat. Keterbatasan

alat- alat yang digunakan juga menjadikan makin lamanya praktikum

berlangsung dikarenakan harus bergantian kepada kelompok lain saat

menggunakannya terkhusus, termometer dan larutan yang digunakan.

Terkadang larutan yang baru saja dipanaskan dan diukur suhunya oleh

kelompok lain, langsung dimasukkan kedalam botol wadahnya, sehingga

kelompok yang lain harus menunggu hingga larutan tersebut normal

kembali suhunya. Dalam hal ini juga yang mengakibatkan hasil percobaan

yang diperoleh oleh setiap kelompok berbeda. Sehingga harus tetap teliti

dalam melakukan percobaan agar hasil percobaan yang didapatkan sesuai

juga dengan hasil perhitungan secara teoritis.


VIII. KESIMPULAN

8.1 Percobaan 1

Berdasarkan Percobaan I yang dilakukan, dapat disimpulkan :

1. Air murni membeku pada temperatur 0 ºC dan tekanan 1 atm.

2. Besarnya perbedaan antara titik beku zat pelarut dengan titik beku

larutan disebut penurunan titik beku ( ΔTf )

3. Tetapan penurunan titik beku molal Kf adalah titik beku yang

disebabkan oleh 1 mol zat terlarut dalam 1.000 gram pelarut.

4. Penurunan titik beku tergolong sifat koligatif, karena tidak bergantung

pada jenis zat terlarut tetapi hanya pada konsentrasi partikel dalam

larutan dan sifat larutan ( elektrolit dan nonelektrolit ).

5. Titik beku larutan lebih rendah daripada titik beku pelarut murni.

6. Semakin besar kemolalan suatu larutan maka selisih titik beku

semakin besar.

7. Larutan elektrolit memiliki titik beku lebih rendah dibanding larutan

nonelektrolit.

8.2 Percobaan 2

Berdasarkan Percobaan II yang dilakukan, dapat disimpulkan :

1. Suatu zat cair akan mendidih jika tekanan uap jenuh zat cair itu sama

dengan tekanan udara di sekitarnya.


2. Apabila air murni dipanaskan pada tekanan 1 atm ( 760 mmHg ) maka

air akan mendidih pada temperatur 100 ºC, karena pada temperatur itu

tekanan uap air sama dengan tekanan udara di sekitarnya.

3. Selisih antara titik didih larutan dengan titik didih pelarut murni

disebut kenaikan titik didih ( ΔTb ).

4. Kenaikan titik didih dipengaruhi oleh konsentrasi ( molalitas ) dan

harga Kb, semakin tinggi konsentrasi dan harga Kb semakin tinggi

pula kenaikan titik didih suatu larutan.

5. Sifat zat terlarut juga mempengaruhi kenaikan titik didih suatu larutan

dimana larutan elektrolit memiliki kenaikan titik didih lebih tinggi

daripada larutan nonelektrolit.

IX. SARAN

Saran dari kelompok kami adalah dalam melakukan percobaan ini

haruslah menerapkan sikap teliti, ulet, sabar, tekun, disiplin, konsentrasi,

bertanggung jawab, tetap menjaga kekompakan atau kerja sama antar

kelompok dan yang lebih penting adalah harus tetap ekstra berhati – hati untuk

menghindari resiko kecelakaan kerja, karena dalam percobaan ini banyak

menggunakan alat – alat kimia yang terbuat dari kaca dan mudah pecah, selain

itu terdapat bahan – bahan kimia yang berbahaya jika tertelan.


X. PERTANYAAN DAN JAWABAN

9.1 Percobaan 1

9.1.1 Pertanyaan

1. Jelaskan fungsi garam dapur yang ditambahkan kedalam

campuran pendingin tersebut.

2. Bagaimana pengaruh konsentrasi terhadap titik beku larutan dan

penurunan titik bekunya.

3. Hitunglah besarnya penurunan titik beku larutan tersebut dan

bandingkan dengan hasil perhitungan secara teoritis.

9.1.2 Jawaban

1. Garam dapur yang ditambahkan ke dalam campuran pendingin

berfungsi sebagai stabilisator suhu es, untuk menghambat proses

pencairan es. Karena garam dapur yang ditambahkan berperan

sebagai zat terlarut dalam campuran pendingin.

2. Konsentrasi berpengaruh terhadap titik beku dan penurunan titik

beku, hal ini disebabkan karena semakin banyak konsentrasi yang

terkandung maka titik bekunya akan turun.

3. Besar penurunan titik beku masing – masing larutan sebagai

berikut :

a) Aquadest 0,5 M

ΔTf = 0ºC – 0ºC

= 0ºC
b) CuSO4 0,5 M

ΔTf = 0ºC – (-1)ºC

= 1ºC

c) C12H22O11 0,5 M

ΔTf = 0ºC – (-1,5)ºC

= 1,5ºC

d) NaCl 0,5 M

ΔTf = 0ºC – (-2)ºC

= 2ºC

e) CO(NH2)2 0,5 M

ΔTf = 0ºC – (-2)ºC

= 2ºC

9.2 Percobaan 2

9.2.1 Pertanyaan

1. Jelaskan faktor – faktor apa sajakah yang dapat mempengaruhi

kenaikan titik didih suatu larutan.

2. Bagaimana pengaruh penambahan zat terlarut terhadap kenaikan

titik didih larutan.

3. Bagaimana perbedaan zat terlarut ditinjau dari sifat larutan (

elektrolit dan non elektrolit ) terhadap kenaikan titik didih

larutan.
4. Hitunglah besarnya kenaikan titik didih larutan tersebut dan

bandingkan dengan hasil perhitungan secara teoritis.

9.2.2 Jawaban

1. Faktor yang mempengaruhi kenaikan titik didih adalah

konsentrasi ( molalitas ) dan harga Kb. Semakin tinggi

konsentrasi ( molalitas ) dan harga Kb, maka semakin tinggi

kenaikan titik didih suatu larutan.

2. Adanya penambahan zat terlarut dapat menghalangi penguapan

partikel pelarut.

3. Larutan yang bersifat elektrolit memiliki kenaikan titik didih

yang lebih tinggi dibandingkan dengan larutan yang bersifat

nonelektrolit.

4. Kenaikan titik didih masing – masing larutan sebagai berikut :

a) Aquadest 0,5 M

ΔTb = 50ºC – 25ºC

= 25ºC

b) CuSO4 0,5 M

ΔTb = 50ºC – 25ºC

= 25ºC

c) C12H22O11 0,5 M

ΔTb = 50ºC – 25ºC


= 25ºC

d) NaCl 0,5 M

ΔTb = 50ºC – 25ºC

= 25ºC

e) CO(NH2)2 0,5 M

ΔTb = 50ºC – 25ºC

= 25ºC
DAFTAR KEPUSTAKAAN

Adiwiyata. 2017. http://adiwiyatasman41jkt.blogspot.co.id/2017/07/rangkuman-


super-lengkap-sifat-koligatif.html?m=1 Diakses pada tanggal 24 November
2017 pukul 16.38 WIB

. (Tanpa Tahun). http://googleweblight.com/?lite-url=http://www .studio


belajar.com/sifat-koligatif-larutan/&ei=PlsAizFV&lc=id-ID&s =1&m=
936
&host=www.google.co.id&ts=1511425228&sig=ANTY_L1zVMAxEXz
wrMqMsqKu6dfkTEP6iw Diakses pada tanggal 24 November 2017
pukul 16.00 WIB

. (Tanpa Tahun). http://kimiastudycenter.com/kimia-xii/83-sifat-


koligatif-larutan Diakses pada tanggal 24 November 2017 pukul 17.00
WIB

. 2012 . http://el-abad.blogspot.co.id/2012/03/materi-sifat-koligatif-
larutan -kimia.html?m=1 Diakses pada tanggal 24 November 2017 pukul
16.56 WIB

Dessy. (Tanpa Tahun). https://dessykimiapasca.wordpress.com/kimia-xii/sifat-kol


igatif-larutan/ Diakses pada tanggal 24 November pukul 17 .10 WIB

Ivan. 2012. http://ivanclintonbutar.blogspot.co.id/2012/01/sifat-koligatif-larutan-


materi-kimia.html?m=1 Diakses pada tanggal 24 November 2017 pukul
16.45 WIB

Kuswati, Maria Tine. 2014. Sains Kimia SMA/MA Kelas XII. Cetakan Pertama,
Jakarta : Bumi Aksara

Suryani, Megawaty. 2013. http://megawatysuryani.blogspot.co.id/2013/07/ rangku


man-sifat-koligatif.html?m=1 Diakses pada tanggal 24 November 2017
pukul 17.35 WIB