Anda di halaman 1dari 29

Pengertian Al Busyra

Ada di antara mereka yang membicarakan dalam bentuk tulisan maupun perbincangan dengan
lisan terhadap sosok Habib Munzir Al Musawa yang telah wafat dalam keadaan tersenyum
sebagaimana yang dikabarkan oleh kakaknya Habib Nabil Al Musawa yang dimuat oleh media
online seperti pada http://news.detik.com/read/2013/09/16/133444/2359797/10/keluarga-habib-
munzir-meninggal-dunia-dalam-keadaan-tersenyum

Hal yang dibicarakan oleh mereka adalah mengenai kisah Habib Munzir Al Musawa yang
bertemu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam mimpi sebagaimana yang termuat pada
http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=34&func=view&id=25
843&catid=9

Mereka mempertanyakan kebenaran kisah tersebut dengan mengutarakan hadits seperti

Rasulullah shallallahu alahi wasallam bersabda, “Barangsiapa melihatku dalam mimpi maka
sungguh ia telah melihatku, karena sungguh setan tidak bisa menyerupai aku.” (HR. Bukhari dan
Muslim)

Kemudia mereka mempertanyakan bahkan ada yang mencela atau memperolok-olok dengan
perkataan seperti "bisa saja setan menipunya dengan “mengaku-ngaku” sebagai Rasulullah
shallallahu’alaihi wa sallam. Karena dalam hadits di atas dikatakan: "setan tidak bisa
menyerupai" bukan: "tidak bisa mengaku-ngaku."

Selain itu mereka ada yang meragukan kisah pertemuan Habib Munzir dengan Rasulullah
shallallahu alaihi wasallam karena dari kabar dalam mimpi tersebut, Rasulullah shallallahu alaihi
wasallam seraya menepuk bahu Habib Munzir dan berkata : Munzir, tenanglah, sebelum usiamu
mencapai 40 tahun kau sudah jumpa dengan ku... Sedangkan kenyataanya Habib Munzir wafat
dalam usia 40 tahun lebih 7 bulan di mana Beliau lahir pada Jumat pagi 19 Muharram 1393 H,
atau 23 Februari 1973 M.
Kalau kabar sebelumnya adalah "sebelum 40 tahun" dan kenyataannya "di atas 40 tahun" adalah
kehendak Allah Azza wa Jalla semata.

Tampak mereka membicarakan Habib Munzir Al Musawa tanpa pandangan kecintaan kepada
ahlul bait, keturunan cucu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Bahkan ada di antara mereka membenci para ulama yang sholeh dari kalangan ahlul bait,
keturunan cucu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Mereka adalah An-Nawaashib mufradnya
naashib atau biasa disebut dengan nashibi adalah orang-orang yang membenci ahlul bait ,
keturunan cucu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Mereka membenci para Habib karena mereka salah memahami Al Qur'an dan As Sunnah

Memang kesalahpahaman dalam memahami Al Qur’an dan As Sunnah dapat menimbulkan


perselisihan dan bahkan kebencian sebagaimana yang telah disampaikan dalam tulisan pada
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2013/08/19/menimbulkan-kebencian/

Mereka mendalami ilmu agama walaupun mereka berguru namun mereka mengikuti dan
meneladani orang-orang yang memahami Al Qur'an dan As Sunnah bersandarkan mutholaah
(menelaah kitab) secara otodidak (shahafi) dengan akal pikiran sendiri sebagaimana yang telah
disampaikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2013/09/14/jangan-
kalangan-otodidak/

Oleh karena mereka salah memahami Al Qur'an dan As Asunnah yang berujung menuduh para
Habib telah musyrik sehingga tidak patut dipandang dengan kecintaan.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda yang artinya, “Dari kelompok orang ini, akan
muncul nanti orang-orang yang pandai membaca Al Qur`an tetapi tidak sampai melewati
kerongkongan mereka, bahkan mereka membunuh orang-orang Islam, dan membiarkan para
penyembah berhala; mereka keluar dari Islam seperti panah yang meluncur dari busurnya“. (HR
Muslim 1762)
Sabda Rasululullah yang artinya “mereka membunuh orang-orang Islam, dan membiarkan para
penyembah berhala” maksudnya mereka memahami Al Qur’an dan Hadits dan berkesimpulan
kaum muslim lainnya telah musyrik (menyembah selain Allah) sehingga membunuhnya namun
dengan pemahaman mereka tersebut mereka membiarkan para penyembah berhala yang sudah
jelas kemusyrikannya sebagaimana yang telah disampaikan dalam tulisan pada
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2013/01/16/menjadikan-mendengar/ atau pada
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2013/08/02/menganggap-telah-musyrik/

Imam at Tirmidzi dan Imam ath Thabrani meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu Abbas ra., ia
berkata bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Cintailah Allah agar kalian
memperoleh sebagian nikmat-Nya, cintailah aku agar kalian memperoleh cinta Allah, dan
cintailah keluargaku (ahlul baitku) agar kalian memperoleh cintaku.”

Imam Syafi’i ~rahimahullah bersyair, “Wahai Ahlul-Bait Rasulallah, mencintai kalian adalah
kewajiban dari Allah diturunkan dalam al-Quran cukuplah bukti betapa tinggi martabat kalian
tiada sholat tanpa shalawat bagi kalian.”

Jabir ibnu Abdillah berkisah: “Aku melihat Rasulullah dalam haji Wada` pada hari Arafah.
Beliau menyampaikan khutbah dalam keadaan menunggangi untanya yang bernama Al-Qashwa.
Aku mendengar beliau bersabda: “Wahai sekalian manusia! Sungguh aku telah meninggalkan
pada kalian dua perkara yang bila kalian mengambilnya, maka kalian tidak akan sesat yaitu
kitabullah dan ‘itrati ahlul baitku.” (Hadits diriwayatkan Al-Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya
no. 3786, kitab Al-Manaqib ‘an Rasulillah , bab Manaqib Ahli Baitin Nabi shallallahu alaihi wa
sallam)

Abu Said Al-Khudri dan Zaid bin Arqam meriwayatkan, “Sungguh aku meninggalkan pada
kalian perkara yang bila kalian berpegang teguh dengannya niscaya kalian tidak akan sesat
sepeninggalku. Salah satu dari perkara itu lebih besar daripada perkara yang lainnya, yaitu
kitabullah tali Allah yang terbentang dari langit ke bumi. Dan (perkara lainnya adalah) ‘itrati,
yaitu ahlul baitku. Keduanya tidak akan berpisah hingga keduanya mendatangiku di haudl. Maka
lihatlah dan perhatikanlah bagaimana kalian menjaga dan memperhatikan keduanya
sepeninggalku.” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya 3/14,17 dan At-Tirmidzi dalam Sunan-nya no.
3788)
Habib Ali Al Jifri mengingatkan bahwa "pandangan yang dapat memberikan pancaran pada hati
ini adalah :

1. Pandangan yang dibenarkan Allah Azza wa Jalla untuk dilihat dengan pandangan tafakkur
(Ainu Al tafakkur)

2. Pandangan kepada orang tua ,kepada ulama ,kepada saudara saudara muslim dengan
pandangan kasih sayang / cinta “Ainu Almahabbah”

3. Pandangan kepada pelaku maksiat dengan pandangan belas kasihan (Ainu Al syafaqoh)

4. Pandangan kepada orang yang taat dengan pandangan memuliakan (Ainu Al-ijlal)

Namun uniknya, di sisi lain ada di antara mereka yang meyampaikan kisah seorang wanita yang
tidak dikenal asal usulnya yang menceritakan saudara wanitanya bermimpi melihat dari atas
sebuah balkon, wanita yang berkisah tersebut di hadapan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Kemudian wanita yang berkisah tersebut mengajak saudara wanitanya yang berada di atas
balkon untuk bergabung dengan mereka. Kemudian mereka berjalan bersama. Kemudian
dikisahkan sebagai berikut yang bersumber dari
http://rizkytulus.wordpress.com/2012/05/17/tangisan-syaikh-al-albani-mendengar-sebuah-
mimpi/

***** awal kutipan ****

Ketika itulah kami melihat Syaikh Al-Albani berada di jalan yang sama dengan kami.

Kami pun memberi salam, “Assalamu’alaikum.” Syaikh tersebut kemudian menjawab,


“Wa’alaikumussalam wa rahmatullaah wa barakaatuh.” Kemudian Syaikh tersebut bertanya,
“Apakah kalian melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Kami menjawab, “Ya, kami
melihatnya.” Saudara perempuanku bertanya “Siapakah Syaikh ini?” Aku menjawab, “Beliau
adalah Syaikh Al-Albani.” (akhir dari mimpi)

***** akhir kutipan ****

Tidak jelas dalam kisah tersebut bahwa "mereka berjalan bersama" dalam arti bertiga dengan
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam atau mereka berdua saja yakni wanita yang berkisah dan
saudara wanitanya. Kalau "mereka berjalan bersama" dalam arti bertiga dengan Rasulullah
shallallahu alaihi wasallam maka mengapa dikisahkan bahwa Al Albani bertanya "Apakah kalian
melihat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam". Apakah Al Albani tidak mengenal Rasulullah
shallallahu alaihi wasallam atau tidak pernah bertemu dengan Rasulullah shallallahu alaihi
wasallam ?Namun kemungkinan sebagai wali Allah adalah wanita yang berkisah dengan saudara
wanitanya, bukanlah Al Albani karena Al Albani dalam kisah tersebut tidak bertemu dengan
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Hadits tentang pertemuan umat Islam dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam
mimpi adalah terkait dengan Al Busyra sebagaima yang tercantum dalam firmanNya yang
artinya

Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak
(pula) mereka bersedih hati. (QS Yunus [10]:62)

(Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. (QS Yunus [10]:63)

Bagi mereka berita gembira (al Busyraa) di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan} di
akhirat. Tidak ada perobahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah
kemenangan yang besar. (QS Yunus [10]:64)

Dalam ayat tersebut Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan bahwa para wali-wali Allah itu
mendapat berita gembira (busyra), baik di dunia dan di akhirat.

Apakah yang dimaksudkan dengan berita gembira (busyra) itu?

“Al busyraa adalah mimpi yang baik yang dilihat oleh seorang mukmin atau yang diperlihatkan
baginya” (Hadis riwayat Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al Hakim, menurut Al Hakim hadis ini
shahih)

Abu Abdullah al-Mahlabi dan Muhammad bin Ya’qub bin Yusuf menceritakan kepada kami dari
al-‘Abbas ibnul-Walid bin Mazid, dari ‘Uqbah bin ‘Alqamah al-Mu’arifi, dari al-Auza’i, dari
Yahya bin Abi Katsir, dari Abi Salamah bin Abdurrahman, dari ‘Ubadah ibnush-Shamit bahwa
ia bertanya kepada Rasulullah tentang ayat 63-64 surah Yunus, “Yaitu orang-orang yang
beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia
dan dalam kehidupan di akhirat.” Maka, Rasulullah menjawab, “Sungguh kamu telah
menanyakan sesuatu kepadaku yang belum pernah ditanyakan oleh seorang pun selainmu. Al-
busyra ialah mimpi yang baik yang dialami oleh seseorang atau dianugerahkan Allah
kepadanya.”

Para ulama tafsir mengomentari ayat ini sesuai dengan pengalaman sahabat Nabi Muhammad,
Abu Darda’, yang menanyakan apa maksud ayat ini. Rasulullah menjelaskan, “Yang dimaksud
ayat ini ialah mimpi baik yang dilihat atau diperlihatkan Allah Subhanahu wa ta’ala kepadanya.”

Dalam ayat lain lebih jelas lagi Allah berfirman, “Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya
dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya.” (QS al-Zumar [39]:42).

Rasulullah bersabda, “sebagaimana engkau tidur begitupulah engkau mati, dan sebagaimana
engkau bangun (dari tidur) begitupulah engkau dibangkitkan (dari alam kubur)”

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah membukakan kepada kita salah satu sisi tabir
kematian. Bahwasanya tidur dan mati memiliki kesamaan, ia adalah saudara yang sulit
dibedakan kecuali dalam hal yang khusus, bahwa tidur adalah mati kecil dan mati adalah tidur
besar.

Ibnu Zaid berkata, “Mati adalah wafat dan tidur juga adalah wafat”.

Al-Qurtubi dalam at-Tadzkirah mengenai hadis kematian dari syeikhnya mengatakan: “Kematian
bukanlah ketiadaan yang murni, namun kematian merupakan perpindahan dari satu keadaan
kepada keadaan lain.”

Abdullah Ibnu Abbas r.a. pernah berkata, “ruh orang tidur dan ruh orang mati bisa bertemu
diwaktu tidur dan saling berkenalan sesuai kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadanya,
karena Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menggenggam ruh manusia pada dua keadaan, pada
keadaan tidur dan pada keadaan matinya.”
Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Maslamah dari Malik dari Ishaq bin Abdullah bin
Abi Thalhah dari Anas bin Malik, Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Mimpi baik
yang berasal dari seorang yang shalih adalah satu bagian dari empat puluh enam bagian
kenabian.” (HR Bukhari 6468)

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Shabbah Telah menceritakan kepada kami
Mu’tamir aku mendengar Auf telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sirin
bahwasanya ia mendengar Abu Hurairah mengatakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
bersabda: Jika akhir zaman semakin mendekat, mimpi seorang mukmin nyaris tidak bohong, dan
mimpi seorang mukmin adalah satu bagian dari empat puluh bagian kenabian, dan apa yang
berasal dari kenabian tentu tidaklah bohong. (HR Bukhari 6499)

Ditanyakan kepada Imam Ibn Hajar Al-Haitami Radhiyallaahu ‘anhu (semoga Allah
memberikan kemanfaatan atas ilmunya), “Apakah mungkin zaman sekarang seseorang dapat
berkumpul dengan Nabi sallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan terjaga dan mengambil
Ilmu langsung dari beliau?”

Imam Ibn Hajar menjawab: ”Ya, hal itu dapat terjadi, dan telah dijelaskan bahwa berkumpul dan
mengambil ilmu dari Nabi secara langsung adalah sebagian dari karomah wali-wali Allah seperti
Imam al-Ghozali, Al-Barizi, Taaj ad-Diin as-Subki, dan al-‘Afiif al-Yafi’i yang mana mereka
adalah ulama-ulama madzhab Syafi’i, serta Qurthubi dan Ibn Abi Jamroh yang mana mereka
adalah ulama-ulama madzhab Maliki.

Dan dikisahkan, bahwasanya ada Wali Allah menghadiri majlis ilmunya seorang yang faqih,
kemudian seorang faqih yang sedang mengajar tersebut meriwayatkan sebuah hadits, lalu Wali
tersebut berkata, “Hadits itu bathil.” Maka Sang faqih pun berkata, “Bagaimana bisa engkau
mengatakan kalau hadits ini bathil, dari siapa?”

Sang Wali menjawab, “Itu Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam sedang berdiri di hadapanmu dan
Beliau bersabda: [Inniy lam aqul hadzal hadits] -Sesungguhnya aku tidak mengucapkan hadist
ini-“

Lalu faqih tersebut dibukakan hijabnya dan beliau pun dapat melihat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa
sallam. (al-Fatawa al-Haditsiyyah li Ibn Hajar al-Haitami)
Jadi jelaslah bahwa kaum muslim yang patut bertemu dengan manusia yang paling mulia
sayyidina Muhammad Rasulullah shallallahu alaihi wasallam baik melalui mimpi maupun
dengan keadaan terjaga dengan pandangan kasyaf (mukasyafah) adalah para kekasih Allah (Wali
Allah)

Walaupun Allah Azza wa Jalla tentu berkehendak mempertemukan siapa saja dengan Rasulullah
shallallahu alaihi wasallam namun hal itu suatu bentuk pengecualian semata.

Para ulama tasawuf yang kasyaf mengabarkan bahwa secara garis besar alam terdiri dari

alam nasut (alam mulk / alam jasad)

alam malakut (alam mitsal)

alam jabarut (alam ruh)

alam lasut

Alam lasut adalah alam derajat/tingkatan/maqom nya di atas Alam Jabarut

Alam Jabarut, adalah alam yang “paling dekat” dengan aspek-aspek Ketuhanan, penghuni alam
Jabarut adalah ‘sesuatu yang bukan Allah dalam aspek Ahadiyyah’, melainkan derivasi (turunan)
dari aspek Ahadiyyah yang tertinggi selain apa pun yang ada. Misal penghuni alam ini adalah
Nafakh Ruh (Tiupan Ruh Allah) yang mampu manghidupkan jasad, Ruh Al-Quds.

Alam Malakut adalah suatu alam yang tingkat kedekatan dengan aspek Allahnya lebih rendah
dari Alam Jabarut, namun masih lebih tinggi dari Alam Mulk. Baik Alam Jabarut maupun Alam
Malakut, keduanya adalah realitas/wujud yang tidak dapat ditangkap oleh indera jasadiah kita.
Indera jasad biasanya hanya bisa menangkap sesuatu yang terukur secara jasad, sedang Alam
Jabarut dan Alam Malakut memiliki ukuran melampui ukuran jasad. Misal penghuni Alam
Malakut adalah malaikat, An-nafs(jiwa).
Alam Mulk, adalah alam yang tingkat kedekatannya dengan aspek Allah adalah yang paling
rendah. Dalam wujudnya terbagi menjadi 2, yang tertangkap oleh indera jasad dan yang gaib
(dalam arti tidak tertangkap/terukur) bagi indera jasad. Jadi karena keterbatasan indera jasad kita,
ada wujud yang sebetulnya bukan penghuni alam-alam yang lebih tinggi dari alam Mulk, tetapi
juga tidak tertangkap kemampuan indera jasad.

Yang terukur oleh indera jasad contohnya tubuh/jasad manusia, jasad hewan, jasad tumbuhan.
Penghuni alam Mulk yang tidak terukur oleh indera jasad contohnya adalah jin dengan segala
kehidupannya. Jin dengan segala kehidupannya bisa dimengerti oleh indera-indera malakuti
(indera-indera an-nafs/jiwa)

Manusia hidup di dua alam sekaligus, tubuh (jasad) kita hidup di alam fisik, terikat dalam ruang
dan waktu. Para ulama menyebut alam fisik ini sebagai alam nasut, alam yang bisa kita lihat dan
kita raba, Kita dapat menggunakan pancaindera kita untuk mencerapnya. Sementara itu, ruh kita
hidup di alam ghaib (metafisik), tidak terikat dalam ruang dan waktu. Para ulama menyebut alam
ini alam malakut. Bukan hanya manusia, segala sesuatu mempunyai malakutnya.

Firman Allah ta’ala yang artinya,

“Maka Mahasuci (Allah) yang di tangan-Nya malakut segala sesuatu. Dan kepada-Nyalah kamu
dikembalikan.’ (QS. Yaasiin [36]:83);

“Dan demikianlah kami perlihatkan kepada Ibrahim, malakut langit dan bumi.” (QS. Al-An’am
[6]:75)

Ruh kita, karena berada di alam malakut, tidak dapat dilihat oleh mata lahir kita. Ruh adalah
bagian batiniah dari diri kita. Ia hanya dapat dilihat oleh mata batin. Ada sebagian di antara
manusia yang dapat melihat ruh dirinya atau orang lain. Mereka dapat menengok ke alam
malakut. Kemampuan itu diperoleh karena mereka sudah melatih mata batinya dengan riyadhah
kerohanian atau karena anugrah Allah ta’ala (al-mawahib al-rabbaniyyah).
Para Nabi, para wali Allah (shiddiqin), dan orang-orang sholeh seringkali mendapat kesempatan
melihat ke alam malakut itu. Kesempatan ini yang disebut dengan kasyaf (mukasyafah). Allah
Azza wa Jalla membukakan tabir bagi kekasih-Nya untuk melihat, mendengar, merasakan, dan
mengetahui hal-hal ghaib atau dapat memasuki alam malakut.

Berita gembira (al Busyraa) di dalam kehidupan di dunia lainnya adalah turunnya malaikat
untuk menyampaikan berita gembira kepada seorang mukmin yang sedang sakaratul maut
sehingga mereka tersenyum dikarenakan dua sebab yakni

1. Malaikat lemah lembut atau berpenampilan yang baik (QS An-Naazi'aat [79]:2) datang dengan
mengaucapkan “salamun alaikum” , masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang
telah kamu kerjakan “ (QS An Nahl [19]:32) atau malaikat itu datang dengan mengatakan “Hai
jiwa yang tenang . Kembalilah kepada Rabb-mu dengan hati yang puas dan diridhoi-Nya. QS.Al
Fajr [89] : 27-28)

2. Turunnya malaikat yang memperlihatkan tempat yang akan disediakan baginya di dalam
syurga, seperti yang disebutkan dalam firman Allah ta'ala yang artinya, "Para malaikat turun
kepada mereka sambil mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah kamu susah dan
bergembira kamu dengan syurga yang pernah dijanjikan kepada kamu" (QS Fushshilat [41]:30)

Berita gembira (al Busyraa) di dalam kehidupan di dunia lainnya adalah pujian dan kecintaan
dari orang banyak kepada seorang yang suka beramal kebaikan sehingga berakhlak baik, seperti
yang disebutkan dalam hadits berikut:“Abu Dzar menuturkan bahawa ada seorang yang
bertanya kepada Rasulullah: “Apakah pandanganmu jika ada seseorang yang suka beramal
kebaikan, sehingga ia dipuji oleh orang ramai?” Sabda beliau: “Itu adalah berita gembira
kepada seorang mukmin.”

Berita gembira (al Busyraa) di dalam kehidupan di dunia lainnya adalah karamah dan
dikabulkannya segala permintaan seorang mukmin ketika ia masih di dunia, sehingga segala
keperluannya dipenuhi oleh Allah dengan segera.

Dalam sebuah hadits Qudsi Allah ta’ala berfirman “jika Aku sudah mencintainya, maka Akulah
pendengarannya yang ia jadikan untuk mendengar, dan pandangannya yang ia jadikan untuk
memandang, dan tangannya yang ia jadikan untuk memukul, dan kakinya yang dijadikannya
untuk berjalan, jikalau ia meminta-Ku, pasti Kuberi, dan jika meminta perlindungan kepada-KU,
pasti Ku-lindungi. Dan aku tidak ragu untuk melakukan sesuatu yang Aku menjadi pelakunya
sendiri sebagaimana keragu-raguan-Ku untuk mencabut nyawa seorang mukmin yang ia
(khawatir) terhadap kematian itu, dan Aku sendiri khawatir ia merasakan kepedihan sakitnya.”
(HR Bukhari 6021)

Seorang ulama berkata: “Jika seorang mukmin rajin beribadah, maka hatinya bercahaya, dan
pancaran cahayanya melimpah ke wajahnya, sehingga terlihat pada wajahnya tanda khusyu’ dan
tunduk kepada Allah, sehingga ia dicintai dan dipuji oleh banyak orang, itulah tanda kecintaan
Allah kepadanya, dan itulah berita gembira yang didahulukan baginya ketika ia di dunia.”

Sedangkan berita gembira dalam kehidupan di akhirat adalah surga beserta segala macam
kesenangannya yang bersifat abadi, seperti yang disebutkan dalam firman Allah yang artinya:
(yaitu) pada hari ketika kamu melihat orang mu'min laki-laki dan perempuan, sedang cahaya
mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, (dikatakan kepada meraka): "Pada hari
ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, yang
kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar". (QS Al Hadiid [57]:12)

Berita gembira (al Busyraa) baik di dunia dan di akhirat dapat dicapai karena

1. Madzaqatul Iman (‫مذاقة اإليمان‬ )

Yakni perasaan gembira karena telah diberi iman oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Hati merasa
bersyukur kepada Allah karena telah diberi-Nya suatu karunia yang besar berupa iman—
kekayaan jiwa yang tiada ternilai.

2. Madzaqatul Ibadah (‫مذاقة العبادة‬ ) dan Cinta serta Rindu kepada Allah (‫الحبّ والشـقاوة‬ )

Yakni perasaan senang dalam menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Al-Busyra
pangkalnya adalah Hayya `ala al-shalah dan Hayya `ala al-falah (‫ي على الفالح‬
ّ ‫ي على الصالة ح‬
ّ ‫) ح‬
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam setiap tiba waktu shalat, beliau menyuruh kepada Bilal:
"Arihna Ya Bilal" (Gembirakan kami wahai Bilal).
Dari Anas Ra, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata “….kesenanganku dijadikan dalam
shalat”

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sangat menikmati ibadah, bahkan beliau pernah berdiri
dalam sholat malam sampai kedua kakinya bengkak. ‘Aisyah pernah bertanya kepada beliau:
“Wahai Rasulullah, mengapa engkau lakukan hal ini, bukankah Allah telah memberikan
ampunan kepadamu atas dosa-dosa yang telah berlalu dan yang akan datang?” Beliau menjawab:
“afala akuuna ‘abadan syakuuraa” , “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak
bersyukur?”

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sembahlah Allah dengan senang hati. Jika
kamu tidak mampu, maka hal yang terbaik bagimu adalah bersikap sabar menghadapi nasib yang
tidak kamu sukai.“

3. Qana`ah (‫القناعة‬ ) dan Ridla (‫الـرضى‬ )

Secara sederhana qana`ah ini dapat diartikan dengan mencukupkan apa yang ada, mensyukuri
karunia Allah yang telah dianugerahkan-Nya kepada kita tanpa ada keluhan-keluhan yang keluar
sedikit juapun.

Imam al-Syafi`i mengatakan:

‫ أنت ومالك الدنيا سواء‬# ‫لو كنت ذا قلب قنوع‬

(Jika engkau mempunyai sifat qana`ah, sama halnya engkau dengan seorang raja).

Maksudnya, seseorang yang mempunyai sifat qana`ah keadaannya selalu cukup, karena sikapnya
mencukupkan atau mensyukuri apa yang ada padanya. Hatinya kaya dan gembira karena sifat
qana`ah itu.

Sikap qana'ah dan rdla ada pada mereka yang bersikap zuhud.

Dari Abul Abbas — Sahl bin Sa’ad As-Sa’idy — radliyallahu ‘anhu, ia berkata: Datang seorang
laki-laki kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: “Wahai Rasulullah!
Tunjukkan kepadaku suatu amalan yang jika aku beramal dengannya aku dicintai oleh Allah dan
dicintai manusia.” Maka Rasulullah menjawab: “Zuhudlah kamu di dunia niscaya Allah akan
mencintaimu, dan zuhudlah terhadap apa yang ada pada manusia niscaya mereka akan
mencintaimu.” (Hadist shahih diriwayatkan oleh Ibnu Majah danlainnya).

Al Hafizh Ibnu Rojab ketika beliau menjelaskan hadits ini dalam Jami’ul‘Ulum wal Hikam
(2/186) dari Abu Sulaiman Ad Daaroniy. Beliau mengatakan: “para‘alim ulama di Iraq berselisih
pendapat mengenai pengertian zuhud. Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa zuhud
adalah menjauhi dari manusia. Ada pula yang mengatakan bahwa zuhud adalah meninggalkan
berbagai nafsu syahwat. Ada juga yang mengatakan bahwa zuhud adalah meninggalkan diri dari
kekenyangan. Semua definisi ini memiliki maksud yang sama” Kemudian Ad Daaroniy
mengatakan bahwa beliau cenderung berpendapat bahwa zuhud adalah meninggalkan segala
sesuatu yang dapat melalaikan dari mengingat Allah ‘Azza wa Jalla.

Jadi orang yang zuhud adalah orang meninggalkan segala sesuatu yang dapat melalaikan dari
mengingat

Allah.

Orang yang zuhud adalah tidak adanya ketergantungan dan terpusatnya perhatian terhadapnya.
Bersikap qanaah terhadap rizki yang halal dan ridho terhadapnya serta bersikap ‘iffah dari
perbuatan haram dan hati-hati atau bahkan menghindari terhadap syubhat. Jiwa yang merasa
cukup dan iffah serta berkorban dengan harta dan jiwa di jalan Allah merupakan hakikat zuhud.

Zuhud terhadap apa yang dimiliki manusia, berarti menjauhkan diri dari merasa iri hati terhadap
apa yang dimiliki oleh manusia serta mengosongkan hati dari mengingati harta milik orang..

Firman Allah ta’ala yang artinya… (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan
berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira
terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang
sombong lagi membanggakan diri. (QSAl-Hadiid :23)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ”Untuk apa dunia itu! Hubungan saya dengan
dunia seperti pengendara yang mampir sejenak di bawah pohon, kemudian pergi dan
meninggalkannya.” (HR At-Tirmidzi)
Kehidupan zuhud ini dicontoh oleh para Sahabat Rasulullah shallallahu alaihiwsallam : Abu
Bakar ra, Umar ra, Utsman bin Affan ra , dan Abdurrahmanbin Auf. Mereka adalah beberapa
sahabat yang kaya raya, tetapi tidak mengambil semua harta kekayaannya untuk diri sendiri dan
keluarganya. Sebagian besar harta mereka habis untuk dakwah, jihad, dan menolong orang-orang
beriman.

Pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz, salah satu pemimpin yang paling zuhud,
masyarakat merasakan ketentraman, kesejahteraan, dan keberkahan. Tidakada lagi orang yang
miskin yang meminta-minta, karena kebutuhannya sudah tercukupi.

Mereka adalah tokoh pemimpin dunia yang dunia ada dalam genggamannya, namun tidak tertipu
oleh dunia.

Bahkan, mereka lebih mementingkan kehidupan akhirat dengan segala kenikmatannya. Abu
Bakar ra berkata, ”Ya Allah, jadikanlah dunia di tangan kami, bukan di hati kami.”

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sungguh demi Allah,bukanlah kefakiran yang
aku khawatirkan dari kalian. Akan tetapi yang aku khawatirkan atas kalian adalah bila kalian
telah dibukakan (harta) dunia sebagaimana telah dibukakan kepada orang-orang sebelum kalian
lalu kalian berlomba-loba untuk memperebutkannya sebagaimana mereka berlomba-lomba
memperebutkannya sehingga harta dunia itu membinasakan kalian sebagaimana telah
membinasakan mereka.”(HR Bukhari 2924).

6. Thalabul Liqa` (‫طلب اللقاء‬ )

Yakni usaha atau keinginan untuk dapat bertemu dan selalu bersama Allah

Habib Munzir Almusawa menyampaikan bahwa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam
menjelaskan bahwa orang yang beramal karena takut pada neraka, maka itu adalah ibadah para
budak, karena taatnya hanyalah karena takut, dan barangsiapa yang beramal karena ingin surga,
maka itu amalan para pedagang, karena diotaknya hanya ingin untung, dan barangsiapa yang
beribadah karena ingin dekat dengan Allah, itulah orang orang yang merdeka. Ketiga kelompok
ini tetap dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, namun tentunya yang paling mulia adalah
yang beribadah karena tak menginginkan apa apa selain kedekatan pada Allah Subhanahu wa
Ta’ala, banyak pula teriwayatkan hal seperti ini dari kalangan Sahabat Radhiyallahu ‘anhum,
mereka merindukan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan Allah merindukan mereka, sebagaimana
sabda Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam : “Barangsiapa yang merindukan perjumpaan dengan
Allah maka Allah merindukan perjumpaan dengannya”

An-Nafzi Ar-Randi dan Abu Thalib Al-Makki meriwayatkan dari Abu Hazim Al-Madani yang
berkata:

“Aku malu kepada Tuhanku jika aku menyembah-Nya karena takut siksa. Kalau begitu, aku
seperti orang jahat yang jika tidak takut, maka ia tidak akan… beramal. Aku juga malu kepada-
Nya jika aku menyembah-Nya karena mengharap pahala-Nya, karena jika aku menyembah-Nya
karena mengharap pahala-Nya maka dengan cara seperti itu aku seperti buruh yang jahat yang
jika tidak diberi gaji maka ia tidak mau bekerja, namun aku menyembah-Nya karena cinta
kepada-Nya.” (Ghautsu Al-Mawahibi Al-Aliyyati, AN-Nafzi Ar-Randi, Jilid I, hal. 242. Juga
Qutu Al-Qulubi, Abu Thalib Al-Makki, Jilid II, hal. 56).

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah manusia yang paling mencintai Allah ta’ala. Beliau
menyembah Allah ta’ala karena mencintaiNya dan Allah ta’ala paling mencintai Rasulullah
shallallahu alaihi wasallam.

Oleh karena Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sangat mencintai Allah ta’ala maka beliau
takut kepada Allah ta’ala yakni takut untuk melakukan sesuatu yang dibenciNya atau yang
dimurkaiNya.

Lalu dia bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu takut
(khasyyah) kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya (bermakrifat), maka jika kamu tidak
melihat-Nya (bermakrifat) maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR Muslim 11)

Firman Allah ta’ala yang artinya “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-
hamba-Nya, hanyalah ulama” (QS Al Faathir [35]:28)
Muslim yang takut kepada Allah karena mereka selalu yakin diawasi oleh Allah Azza wa Jalla
atau mereka yang selalu menyaksikan Allah dengan hatinya (ain bashiroh), setiap akan bersikap
atau berbuat sehingga mencegah dirinya dari melakukan sesuatu yang dibenciNya , menghindari
perbuatan maksiat, menghindari perbuatan keji dan mungkar sehingga terbentuklah muslim yang
berakhlakul karimah atau muslim yang sholeh atau muslim yang ihsan.

Tujuan beragama adalah menjadi muslim yang ihsan atau muslim yang berakhlakul karimah

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk
menyempurnakan Akhlak.” (HR Ahmad)

Firman Allah ta’ala yang artinya,

“Sungguh dalam dirimu terdapat akhlak yang mulia”. (QS Al-Qalam:4)

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi
orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut
Allah”. (QS Al-Ahzab:21)

Muslim yang memandang Allah ta’ala dengan hati (ain bashiroh) atau muslim yang bermakrifat
adalah muslim yang selalu meyakini kehadiranNya, selalu sadar dan ingat kepadaNya.

Imam Qusyairi mengatakan “Asy-Syahid untuk menunjukkan sesuatu yang hadir dalam hati,
yaitu sesuatu yang membuatnya selalu sadar dan ingat, sehingga seakan-akan pemilik hati
tersebut senantiasa melihat dan menyaksikan-Nya, sekalipun Dia tidak tampak. Setiap apa yang
membuat ingatannya menguasai hati seseorang maka dia adalah seorang syahid (penyaksi)”

Ubadah bin as-shamit ra. berkata, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata:
“Seutama-utama iman seseorang, jika ia telah mengetahui (menyaksikan) bahwa Allah selalu
bersamanya, di mana pun ia berada“
Rasulullah shallallahu alaihi wasallm bersabda “Iman paling afdol ialah apabila kamu
mengetahui bahwa Allah selalu menyertaimu dimanapun kamu berada“. (HR. Ath Thobari)

Imam Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi’lib Al-Yamani,
“Apakah Anda pernah melihat Tuhan?”

Beliau menjawab, “Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?”

“Bagaimana Anda melihat-Nya?” tanyanya kembali.

Sayyidina Ali ra menjawab “Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangan manusia yang
kasat, tetapi bisa dilihat oleh hati”

Sebuah riwayat dari Ja’far bin Muhammad beliau ditanya: “Apakah engkau melihat Tuhanmu
ketika engkau menyembah-Nya?” Beliau menjawab: “Saya telah melihat Tuhan, baru saya
sembah”. “Bagaimana anda melihat-Nya?” dia menjawab: “Tidak dilihat dengan mata yang
memandang, tapi dilihat dengan hati yang penuh Iman.”

Dalam sebuah wawancara dengan Dr. Sri Mulyati, MA (Dosen Pascasarjana UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta) , beliau mengatakan bahwa untuk dapat melihat Allah dengan hati
sebagaimana kaum sufi, tahapan pertama yang harus dilewati adalah Takhalli, mengosongkan
diri dari segala yang tidak baik, baru kemudian sampai pada apa yang disebut Tahalli, harus
benar-benar mengisi kebaikan, berikutnya adalah Tajalli, benar-benar mengetahui rahasia Tuhan.
Dan ini adalah bentuk manifestasi dari rahasia-rahasia yang diperlihatkan kepada hamba-Nya.
Boleh jadi mereka sudah Takhalli tapi sudah ditunjukkan oleh Allah kepada yang ia kehendaki.

Tidak semua manusia dapat melihat Allah dengan hatinya.

Orang kafir itu tertutup dari cahaya hidayah oleh kegelapan sesat.

Ahli maksiat tertutup dari cahaya taqwa oleh kegelapan alpa

Ahli Ibadah tertutup dari cahaya taufiq dan pertolongan Allah Ta’ala oleh kegelapan memandang
ibadahnya
Siapa yang memandang pada gerak dan perbuatannya ketika taat kepada Allah ta’ala, pada saat
yang sama ia telah terhalang (terhijab) dari Sang Empunya Gerak dan Perbuatan, dan ia jadi
merugi besar.

Siapa yang memandang Sang Empunya Gerak dan Tindakan, ia akan terhalang (terhijab) dari
memandang gerak dan perbuatannya sendiri, sebab ketika ia melihat kelemahannya dalam
mewujudkan tindakan dan menyempurnakannya, ia telah tenggelam dalam anugerahNya.

Setiap dosa merupakan bintik hitam hati, sedangkan setiap kebaikan adalah bintik cahaya pada
hati Ketika bintik hitam memenuhi hati sehingga terhalang (terhijab) dari memandang Allah.
Inilah yang dinamakan buta mata hati.

Firman Allah ta’ala yang artinya,

shummun bukmun ‘umyun fahum laa yarji’uuna , “mereka tuli, bisu dan buta (tidak dapat
menerima kebenaran), maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar)” (QS Al
BAqarah [2]:18)

shummun bukmun ‘umyun fahum laa ya’qiluuna , “mereka tuli (tidak dapat menerima
panggilan/seruan), bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti. (QS Al Baqarah
[2]:171)

“maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu
mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar?
Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam
dada.” (al Hajj 22 : 46)

“Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta
(pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).” (QS Al Isra 17 : 72)
Muslim yang baik adalah muslim yang dengan ilmu dan amalnya menjadikannya muslim yang
ihsan atau muslim yang berakhlakul karimah sehingga menjadi muslim yang dekat dengan Allah
dan dapat menyaksikan Allah dengan hatinya (ain bashiroh) atau muslim yang telah meraih
manzilah (maqom atau derajat) di sisiNya

Muslim yang baik adalah muslim yang dekat dengan Allah sehingga mereka dapat mendengar
kalam Allah atau petunjukNya tidak melalui alat pendengaran (telinga) namun melalui hati yang
disebut dengan ilham maupun firasat

Firman Allah ta’ala yang artinya

"maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya“. (QS As
Syams [91]:8 )

“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan” (pilihan haq atau bathil) (QS Al Balad
[90]:10)

Sedangkan firasat, yakni lintasan pikiran yang terbit dari kekuatan iman dan kedekatan dengan
Allah. Dengannya seseorang bisa menyaksikan apa yang tersembunyi dari mata kepala. Sejenis
dengannya adalah karamah, yaitu tampilnya hal-hal ajaib dari seseorang yang bukan Nabi yang
muncul begitu saja sesuai kehendak-Nya.

Berikut sebuah riwayat yang disampaikan oleh Habib Munzir tentang bagaimana contoh
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mendengar kalam Allah (petunjukNya)

****** awal kutipan *****

Ketika diantara wanita itu terdapat Juwairiyah, putri kepala Qabilah Bani Musthaliq, maka Rasul
shallallahu alaihi wassalam tidak tega menjadikan putri Raja Qabilah itu sebagai budak. Rasul
shallallahu alaihi wassalam memerintahkan agar menahan Juwairiyah untuk tidak diperbudak,
maka ayahnya datang untuk memohon pada Rasul shallallahu alaihi wassalam agar putrinya
dibebaskan, ia membawa uang dan dua ekor unta untuk menebus putrinya, namun ditengah jalan
ia ragu, dan membatalkan dua ekor untanya dan ditinggal di tengah jalan lalu menghadap Rasul
shallallahu alaihi wassalam
Ketika sampai pada Rasul shallallahu alaihi wassalam maka ia berkata : wahai Muhammad, aku
ingin menebus putriku dengan uang ini, maka Rasul shallallahu alaihi wasallam bersabda : kau
kemanakan dua ekor unta yang sudah kau niatkan juga untuk menebusnya?, maka Harits (ayah
Juwairiyah) kaget, maka ia bersyahadat dan masuk islam.

****** akhir kutipan ******

Begitupula diceritakan bahwa Imam Syafi’i dan Muhammad bin al-Hasan pernah melihat
seorang laki-laki.

Imam Syafi’i berkata, “Sesungguhnya lelaki itu adalah seorang tukang kayu.” Sedangkan
Muhammad bin al-Hasan berkata, “Sesungguhnya lelaki itu adalah seorang pandai besi.” Lantas
keduanya bertanya kepada lelaki tersebut tentang profesinya. Lalu di menjawab, “Dulu saya
seorang pandai besi dan saya sekarang tukang kayu.”

Muslim yang baik adalah adalah muslim yang dekat dengan Allah sehingga dapat
“berkomunikasi” dengan Allah Azza wa Jalla melalui ayat-ayat qauliyah (Al Qur’an) maupun
melalui ayat-ayat kauniyah atas kejadian, peristiwa atau segala apa yang telah ditampakan oleh
Allah Azza wa Jalla yang merupakan tanda-tanda kekuasaanNya

Firman Allah ta’ala yang artinya

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan
pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur’an itu adalah benar. Dan
apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala
sesuatu?“ (QS. Fush Shilat [41]:53)

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan
berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya
Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka
peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS Ali ‘Imran [3]:191).
“Katakanlah: “Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda
kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak
beriman“. (QS Yunus [10] : 101).

Muslim yang baik adalah adalah muslim yang dekat dengan Allah dan akan berkumpul dengan
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam

Firman Allah ta’ala yang artinya,

”…Sekiranya kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya, niscaya tidak ada seorangpun
dari kamu yang bersih (dari perbuatan keji dan mungkar) selama-lamanya, tetapi Allah
membersihkan siapa saja yang dikehendaki…” (QS An-Nuur:21)

“Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka)


akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat. Dan
sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling
baik.” (QS Shaad [38]:46-47)

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling
taqwa di antara kamu” (QS Al Hujuraat [49]:13)

“Tunjukilah kami jalan yang lurus , (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat
kepada mereka” (QS Al Fatihah [1]:6-7)

“Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan
orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang
yang mati syahid, dan orang-orang sholeh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya .” (QS
An Nisaa [4]: 69)
Jadi orang-orang yang selalu berada dalam kebenaran atau selalu berada di jalan yang lurus
adalah orang-orang yang diberi karunia ni’mat oleh Allah atau orang-orang yang telah
dibersihkan atau disucikan atau dipelihara oleh Allah ta’ala sehingga terhindar dari perbuatan
keji dan mungkar dan menjadikannya muslim yang sholeh, muslim yang ihsan atau muslim yang
berakhlakul karimah dan yang terbaik adalah muslim yang dapat menyaksikanNya dengan
hatinya (ain bashiroh). Mereka adalah para kekasih Allah atau wali Allah

Hubungan yang tercipta antara Allah ta’ala dengan al-awliya (para wali Allah) menurut Al-
Hakim al-Tirmidzi (205-320H/ 820-935M) adalah hubungan al-ri’ayah (pemeliharaan), al-
mawaddah (cinta kasih), dan al-inayah (pertolongan).

Hubungan istimewa ini diperoleh karena hubungan seorang wali telah menyerahkan semua
urusannya kepada Allah, sehingga ia menjadi tanggungjawab-Nya, baik di dunia maupun di
akhirat.

Adanya pemeliharaan, cinta kasih, dan pertolongan Allah kepada wali sedemikian rupa
merupakan manifestasi dari makna al-walayah (kewalian) yang berarti dekat dengan Allah dan
merasakan kehadiranNya, hudhur ma’ahu wa bihi.

Bertitik tolak pada al-ri’ayah (pemeliharaan), al-mawaddah (cintakasih), dan al-inayah


(pertolongan) Allah kepada al-awliya (para wali / kekasih); al-Tirmidzi sampai pada
kesimpulannya bahwa al-awliya (para wali / kekasih) dan orang-orang beriman bersifat ‘ishmah,
yakni memiliki sifat keterpeliharaan dari dosa; meskipun ‘ishmah yang dimiliki mereka berbeda.

Bagi umumnya orang-orang beriman ‘ishmah berarti terpelihara dari kekufuran dan terus
menerus berbuat dosa; sedangkan bagi al-awliya (para wali) ‘ishmah berarti mahfudz (terjaga)
dari kesalahan sesuai dengan derajat, jenjang, dan maqamat mereka.

Mereka mendapatkan ‘ishmah sesuai dengan peringkat kewaliannya. Al-Tirmidzi meyakini


adanya tiga peringkat ‘ishmah, yakni

‘ishmah al-anbiya (‘ishmah Nabi),


‘ishmah al-awliya (‘ishmah para wali),

‘ishmah al-’ammah (‘ishmah kaum beriman pada umumnya).

Kesimpulannya jika Allah telah mencintai hambaNya maka akan terpelihara (terhindar) dari dosa
atau jika mereka berbuat kesalahan maka akan diberi kesempatan untuk menyadari kesalahan
mereka ketika masih di dunia.

Berikut contoh pemeliharaan Allah subhanahu wa ta’ala terhadap kekasihNya

Imam asy-Syafi’i berkata: ‘Saya mengadu kepada Waqi’ (guru beliau) buruknya hafalanku,
maka dia menasihatiku agar meninggalkan maksiat. Dan ia mengabarkan kepadaku bahwa ilmu
adalah cahaya, dan cahaya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak diberikan kepada pelaku maksiat”.

Setelah Imam asy Syafi’i merunut (mencari tahu) kenapa beliau lupa hafalan Al-Qur’an (hafalan
Al-Qur`ânnya terbata-bata), ternyata dikarenakan beliau tanpa sengaja melihat betis seorang
wanita bukan muhrim yang tersingkap oleh angin dalam perjalanan beliau ke tempat gurunya.

‘Abdullâh bin Al-Mubarak meriwayatkan dari adh-Dhahak bin Muzahim, bahwasanya dia
berkata;”Tidak seorangpun yang mempelajari Al-Qur`ân kemudian dia lupa, melainkan karena
dosa yang telah dikerjakannya. Karena Allah berfirman Subhanahu wa Ta’ala : ‫صا َب ُكم ِّ ّمن‬ َ َ‫َو َمآأ‬
ُ‫ت أَ ْيدِّيك ْم‬ َ
ْ َ‫صيبَ ٍة فبِّ َما َك َسب‬
ِّ ‫ُّم‬ (“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan
oleh perbuatan tanganmu sendiri” (QS Asy-Syûra [42]: 30)- . Sungguh, lupa terhadap Al-Qur`ân
merupakan musibah yang paling besar * (. Fadha`ilul-Qur`ân, karya Ibnu Katsir, hlm. 147)

Itulah contoh mereka yang disayang oleh Allah ta’ala dan diberi kesempatan untuk menyadari
kesalahan mereka ketika masih di dunia.

Sedangkan ulama su’u adalah mereka yang tidak menyadarinya atau tidak disadarkan oleh Allah
Azza wa Jalla atas kesalahannya atau kesalahpahamannya sehingga mereka menyadarinya di
akhirat kelak. Wallahu a'lam.Tentang ulama yang baik dan ulama yang buruk (su'u) telah
disampaikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2013/08/23/ulama-baik-dan-
buruk/

Muslim yang dekat dengan Allah sehingga menjadi kekasih Allah (Wali Allah) dirindukan oleh
para Nabi dan Syuhada. Wajah mereka bercahaya sebagaiman yang telah disampaikan dalam
tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2013/06/16/wajah-bercahaya/

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “sesungguhnya ada di antara hamba Allah
(manusia) yang mereka itu bukanlah para Nabi dan bukan pula para Syuhada’. Mereka
dirindukan oleh para Nabi dan Syuhada’ pada hari kiamat karena kedudukan (pangkat) mereka di
sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala“ Seorang dari sahabatnya berkata, “siapa gerangan mereka itu
wahai Rasulullah? Semoga kita dapat mencintai mereka“. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
menjawab dengan sabdanya: “Mereka adalah suatu kaum yang saling berkasih sayang dengan
anugerah Allah bukan karena ada hubungan kekeluargaan dan bukan karena harta benda, wajah-
wajah mereka memancarkan cahaya dan mereka berdiri di atas mimbar-mimbar dari cahaya.
Tiada mereka merasa takut seperti manusia merasakannya dan tiada mereka berduka cita apabila
para manusia berduka cita”. (HR. an Nasai dan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya)

Hadits senada, dari ‘Umar bin Khathab ra bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
bersabda, “Sesungguhnya diantara hamba-hambaku itu ada manusia manusia yang bukan
termasuk golongan para Nabi, bukan pula syuhada tetapi pada hari kiamat Allah ‘Azza wa Jalla
menempatkan maqam mereka itu adalah maqam para Nabi dan syuhada.” Seorang laki-laki
bertanya : “siapa mereka itu dan apa amalan mereka?”mudah-mudahan kami menyukainya“.
Nabi bersabda: “yaitu Kaum yang saling menyayangi karena Allah ‘Azza wa Jalla walaupun
mereka tidak bertalian darah, dan mereka itu saling menyayangi bukan karena hartanya, dan
demi Allah sungguh wajah mereka itu bercahaya, dan sungguh tempat mereka itu dari cahaya,
dan mereka itu tidak takut seperti yang ditakuti manusia, dan tidak susah seperti yang disusahkan
manusia,” kemudian beliau membaca ayat : ” Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak
ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. (QS Yunus [10]:62)

Dalam hadits qudsi, “Allah berfirman yang artinya: “Para Wali-Ku itu ada dibawah naungan-Ku,
tiada yang mengenal mereka dan mendekat kepada seorang wali, kecuali jika Allah memberikan
Taufiq HidayahNya”

Abu Yazid al Busthami mengatakan: “Para wali Allah merupakan pengantin-pengantin di bumi-
Nya dan takkan dapat melihat para pengantin itu melainkan ahlinya“.
Sahl Ibn ‘Abd Allah at-Tustari ketika ditanya oleh muridnya tentang bagaimana (cara) mengenal
Waliyullah, ia menjawab: “Allah tidak akan memperkenalkan mereka kecuali kepada orang-
orang yang serupa dengan mereka, atau kepada orang yang bakal mendapat manfaat dari mereka
– untuk mengenal dan mendekat kepada-Nya.”

As Sarraj at-Tusi mengatakan : “Jika ada yang menanyakan kepadamu perihal siapa sebenarnya
wali itu dan bagaimana sifat mereka, maka jawablah : Mereka adalah orang yang tahu tentang
Allah dan hukum-hukum Allah, dan mengamalkan apa yang diajakrkan Allah kepada mereka.
Mereka adalah hamba-hamba Allah yang tulus dan wali-wali-Nya yang bertakwa“.

Dari Abu Umamah ra, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “berfirman Allah Yang
Maha Besar dan Agung: “Diantara para wali-Ku di hadhirat-Ku, yang paling menerbitkan iri-hati
ialah si mu’min yang kurang hartanya, yang menemukan nasib hidupnya dalam shalat, yang
paling baik ibadat kepada Tuhannya, dan taat kepada-Nya dalam keadaan tersembunyi maupun
terang. Ia tak terlihat di antara khalayak, tak tertuding dengan telunjuk. Rezekinya secukupnya,
tetapi iapun sabar dengan hal itu. Kemudian Beliau shallallahu alaihi wasallam menjentikkan
jarinya, lalu bersabda: ”Kematiannya dipercepat, tangisnya hanya sedikit dan peninggalannya
amat kurangnya”. (HR. At Tirmidzi, Ibn Majah, Ibn Hanbal)”.

Para Wali Allah (kekasih Allah) , jika melihat mereka mengingatkan kita kepada Allah

Dari Amru Ibnul Jammuh, katanya: “Ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
bersabda: “Allah berfirman: “Sesungguhnya hamba-hambaKu, wali-waliKu adalah orang-orang
yang Aku sayangi. Mereka selalu mengingatiKu dan Akupun mengingat mereka.” (Hadis
riwayat Abu Daud dalam Sunannya dan Abu Nu’aim dalam Hilya jilid I hal. 6)

Dari Said ra, ia berkata: “Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ditanya: “Siapa wali-wali
Allah?” Maka beliau bersabda: “Wali-wali Allah adalah orang-orang yang jika dilihat dapat
mengingatkan kita kepada Allah.”(Hadis riwayat Ibnu Abi Dunya di dalam kitab Auliya’ dan
Abu Nu’aim di dalam Al Hilya Jilid I hal 6)
Imam Al-Bazzaar meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, ia mengatakan, seseorang bertanya, ya
Rasulullah shallalahu alaihi wasallam, siapa para wali Allah itu? Beliau menjawab, “Orang-
orang yang jika mereka dilihat, mengingatkan kepada Allah,” (Tafsir Ibnu Katsir III/83).

Para Wali Allah (kekasih Allah) selalu sabar, wara’ dan berbudi pekerti yang baik.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra bahwa“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Ada
tiga sifat yang jika dimiliki oleh seorang, maka ia akan menjadi wali Allah, iaitu: pandai
mengendalikan perasaannya di saat marah, wara’ dan berbudi luhur kepada orang lain.” (Hadis
riwayat Ibnu Abi Dunya di dalam kitab Al Auliya’)“

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Wahai Abu Hurairah, berjalanlah engkau
seperti segolongan orang yang tidak takut ketika manusia ketakutan di hari kiamat. Mereka tidak
takut siksa api neraka ketika manusia takut. Mereka menempuh perjalanan yang berat sampai
mereka menempati tingkatan para nabi. Mereka suka berlapar, berpakaian sederhana dan haus,
meskipun mereka mampu. Mereka lakukan semua itu demi untuk mendapatkan redha Allah.
Mereka tinggalkan rezeki yang halal karena akan amanahnya. Mereka bersahabat dengan dunia
hanya dengan badan mereka, tetapi mereka tidak tertipu oleh dunia. Ibadah mereka menjadikan
para malaikat dan para nabi sangat kagum. Sungguh amat beruntung mereka, alangkah
senangnya jika aku dapat bertemu dengan mereka.” Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi
wasallam menangis karena rindu kepada mereka. Dan beliau bersabda: “Jika Allah hendak
menyiksa penduduk bumi, kemudian Dia melihat mereka, maka Allah akan menjauhkan
siksaNya. Wahai Abu Hurairah, hendaknya engkau menempuh jalan mereka, sebab siapapun
yang menyimpang dari penjalanan mereka, maka ia akan mendapati siksa yang berat”. (Hadis
riwayat Abu Hu’aim dalam kitab Al Hilya)

Para Wali Allah (kekasih Allah) suka menangis dan mengingat Allah.

‘Iyadz ibnu Ghanam menuturkan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi
wasallam bersabda: “Malaikat memberitahu kepadaku: “Sebaik-baik umatku berada di tingkatan-
tingkatan tinggi. Mereka suka tertawa secara terang, jika mendapat nikmat dan rahmat dari
Allah, tetapi mereka suka menangis secara rahasia, karena mereka takut mendapat siksa dari
Allah. Mereka suka mengingat Tuhannya di waktu pagi dan petang di rumah-rumah Tuhannya.
Mereka suka berdoa dengan penuh harapan dan ketakutan. Mereka suka memohon dengan
tangan mereka ke atas dan ke bawah. Hati mereka selalu merindukan Allah. Mereka suka
memberi perhatian kepada manusia, meskipun mereka tidak dipedulikan orang. Mereka berjalan
di muka bumi dengan rendah hati, tidak congkak, tidak bersikap bodoh dan selalu berjalan
dengan tenang. Mereka suka berpakaian sederhana. Mereka suka mengikuti nasihat dan petunjuk
Al Qur’an. Mereka suka membaca Al Qur’an dan suka berkorban. Allah suka memandangi
mereka dengan kasih sayangNya. Mereka suka membahagikan nikmat Allah kepada sesama
mereka dan suka memikirkan negeri-negeri yang lain. Jasad mereka di bumi, tapi pandangan
mereka ke atas. Kaki mereka di tanah, tetapi hati mereka di langit. Jiwa mereka di bumi, tetapi
hati mereka di Arsy. Roh mereka di dunia, tetapi akal mereka di akhirat. Mereka hanya
memikirkan kesenangan akhirat. Dunia dinilai sebagai kubur bagi mereka. Kubur mereka di
dunia, tetapi kedudukan mereka di sisi Allah sangat tinggi. Kemudian beliau menyebutkan
firman Allah yang artinya: “Kedudukan yang setinggi itu adalah untuk orang-orang yang takut
kepada hadiratKu dan yang takut kepada ancamanKu.” (Hadis riwayat Abu Nu’aim dalam Hilya
jilid I, hal 16)

Para wali Allah jika mereka meminta akan dikabulkanNya

Dari Anas ibnu Malik ra berkata: “Rasul shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Berapa banyak
manusia lemah dan dekil yang selalu dihina orang, tetapi jika ia berkeinginan, maka Allah
memenuhinya, dan Al Barra’ ibnu Malik, salah seorang di antara mereka.” Ketika Barra’
memerangi kaum musyrikin, para Sahabat: berkata: “Wahai Barra’, sesungguhnya Rasulullah
shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda: “Andaikata Barra’ berdoa, pasti akan terkabul. Oleh
karena itu, berdoalah untuk kami.” Maka Barra’ berdoa, sehingga kami diberi kemenangan. Di
medan peperangan Sus, Barra’ berdo’a: “Ya Allah, aku mohon, berilah kemenangan kaum
Muslimin dan temukanlah aku dengan NabiMu.” Maka kaum Muslimin diberi kemenangan dan
Barra’ gugur sebagai syahid.

Suatu hari Umar r.a. kedatangan rombongan dari Yaman, lalu ia bertanya: “Adakah di antara
kalian yang datang dari suku Qarn?”. Lalu seorang maju ke dapan menghadap Umar. Orang
tersebut saling bertatap pandang sejenak dengan Umar. Umar pun memperhatikannya dengan
penuh selidik. “Siapa namamu?” tanya Umar. “Aku Uwais”, jawabnya datar. “Apakah engkau
hanya mempunyai seorang Ibu yang masih hidup?, tanya Umar lagi. “Benar, Amirul Mu’minin”,
jawab Uwais tegas. Umar masih penasaran lalu bertanya kembali “Apakah engkau mempunyai
bercak putih sebesar uang dirham?” (maksudnya penyakit kulit berwarna putih seperti panu tapi
tidak hilang). “Benar, Amirul Mu’minin, dulu aku terkena penyakit kulit “belang”, lalu aku
berdo’a kepada Allah agar disembuhkan. Alhamdulillah, Allah memberiku kesembuhan kecuali
sebesar uang dirham di dekat pusarku yang masih tersisa, itu untuk mengingatkanku kepada
Tuhanku”. “Mintakan aku ampunan kepada Allah”. Uwais terperanjat mendengar permintaan
Umar tersebut, sambil berkata dengan penuh keheranan. “Wahai Amirul Mu’minin, engkau
justru yang lebih behak memintakan kami ampunan kepada Allah, bukankah engkau sahabat
Nabi?” Lalu Umar berkata “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
berkata “Sesungguhnya sebaik-baik Tabi’in adalah seorang bernama Uwais, mempunyai seorang
ibu yang selalu dipatuhinya, pernah sakit belang dan disembuhkan Allah kecuali sebesar uang
dinar di dekat pusarnya, apabila ia bersumpah pasti dikabulkan Allah. Bila kalian menemuinya
mintalah kepadanya agar ia memintakan ampunan kepada Allah” Uwais lalu mendoa’kan Umar
agar diberi ampunan Allah. Lalu Uwais pun menghilang dalam kerumunan rombongan dari
Yaman yang akan melanjutkan perjalanan ke Kufah. (HR Ahmad)

Riwayat tersebut bukan berarti Sayyidina Umar ra tidak termasuk wali Allah (kekasih Allah)
namun sekedar mengabarkan Uwais ra adalah seorang wali Allah di antara Tabi’in

Bumi ini tidak pernah kosong dari para Wali Allah

Imam Sayyidina Ali Bin Abi Thalib berkata kepada Kumail An Nakha’i: “Bumi ini tidak akan
kosong dari hamba-hamba Allah yang menegakkan agama Allah dengan penuh keberanian dan
keikhlasan, sehingga agama Allah tidak akan punah dari peredarannya. Akan tetapi, berapakah
jumlah mereka dan dimanakah mereka berada? Kiranya hanya Allah yang mengetahui tentang
mereka. Demi Allah, jumlah mereka tidak banyak, tetapi nilai mereka di sisi Allah sangat mulia.
Dengan mereka, Allah menjaga agamaNya dan syariatNya, sampai dapat diterima oleh orang-
orang seperti mereka. Mereka menyebarkan ilmu dan ruh keyakinan. Mereka tidak suka
kemewahan, mereka senang dengan kesederhanaan. Meskipun tubuh mereka berada di dunia,
tetapi rohaninya membumbung ke alam malakut. Mereka adalah khalifah-khalifah Allah di muka
bumi dan para da’i kepada agamaNya yang lurus. Sungguh, betapa rindunya aku kepada mereka”
(Nahjul Balaghah hal 595 dan Al Hilya jilid 1 hal. 80)

Para Wali Allah (kekasih Allah) adalah penerus setelah khataman Nabiyyin ditugaskan untuk
“menjaga” agama Islam. Rasulullah mengkiaskannya dengan estafet (penyerahan) “bendera”.

Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Ali, -ketika
beliau mengangkatnya sebagai pengganti (di Madinah) dalam beberapa peperangan beliau. Ali
bertanya; Apakah anda meninggalkanku bersama para wanita dan anak-anak! beliau menjawab:
Wahai Ali, tidakkah kamu rela bahwa kedudukanmu denganku seperti kedudukan Harun dengan
Musa? hanya saja tidak ada Nabi setelahku. Dan saya juga mendengar beliau bersabda pada
Perang Khaibar; Sungguh, saya akan memberikan bendera ini kepada seorang laki-laki yang
mencintai Allah dan RasulNya dan Allah dan RasulNya juga mencintainya. Maka kami
semuanya saling mengharap agar mendapatkan bendera itu. Beliau bersabda: Panggilllah Ali!
(HR Muslim 4420)
Imam Sayyidina Ali ra adalah bertindak sebagai Nabi namun bukan Nabi karena tidak ada Nabi
setelah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Beliau adalah Imam para Wali Allah

Sebagaimana yang dialami oleh Sayyidina Ali ra (imam para wali Allah), para Wali Allah
memang pada umumnya terkena fitnah

Rasulullah bersabda :

ُ‫ضنَائِّنَ ِّم ْن ِّعبَا ِّد ِّه يُ ْع ِّذ ْي ِّه ْم فِّى َرحْ َمتِّ ِّه َويُحْ يِّ ْي ِّه ْم فِّى َعافِّيَتِّ ِّه اِّذَا ت ََوافَّا ُه ْم ت ََوافا َّ ُه ْم اِّلَى َج َّنتِّ ِّه اُولَئِّكَ الَّ ِّذيْنَ تَ ُم ُّر َعلَ ْي ِّه ُم ْال ِّفتَن‬
َ ِّ‫ا َِّّن ِّهلل‬
‫ظ ِّل ِّم َوه َُو ِّم ْن َها فِّى َعافِّيَ ٍة‬ ْ ‫طع اللَّ ْي ِّل ْال ُم‬ ْ َ‫َكق‬
ِّ

Sesungguhnya bagi Allah ada orang-orang yang baik (yang tidak pernah menonjolkan diri di
antara para hamba-Nya yang dipelihara dalam kasih sayang dan dihidupkan di dalam afiat (sehat
yang sempurna). Apabila mereka diwafatkan, niscaya dimasukkan kedalam surganya. Mereka
terkena fitnah atau ujian, sehingga mereka seperti berjalan di sebagian malam yang gelap, sedang
mereka selamat daripadanya. (Hadis riwayat Abu Nu’aim dalam kitab Al Hilya jilid I hal 6)

Wassalam