Anda di halaman 1dari 25

PERTEMUAN KE-1

KONSEP DASAR DAN PERKEMBANGAN MANAJEMEN MODERN

A. TUJUAN PEMBELAJARAN
Pada bab ini akan dijelaskan mengenai Konsep Dasar dan Perkembangan
Manajemen Modern, dengan demikian diharapkan Anda harus mampu:
1.1. Memahami Pengertian dan Konsep Dasar Manajemen
1.2. Memahami Fungsi dan Tujuan Manajemen
1.3. Memahami Perkembangan Teori Manajemen Modern

B. URAIAN MATERI
Tujuan Pembelajaran 1.1:
1.1 Memahami Pengertian Manajemen
1.1. Pengertian dan Konsep Dasar Manajemen
Manajemen berasal dari bahasa inggris manage yang memiliki arti mengatur,
mengurus, melaksanakan, mengelola1. Sedangkan menurut istilah seperti yang
dilakukan Stoner, manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian,
pengarahan dan pengawasan usaha para anggota organisasi dan penggunaan
sumberdaya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah
ditetapkan2. Dalam dunia pendidikan, manajemen lebih ditekankan kepada
upaya untuk mempergunakan sumber daya seefektif dan seefisien
mungkin3.Secara bahasa manajemen berasal dari kata “to manage” yang
artinya mengatur. Secara etimologi manajemen ialah ilmu dan seni yang
mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber daya lainnya
secara efektif dan efisien untuk mencapai suatu tujuan tertentu dalam sebuah
organisasi. Secara bahasa manajemen berasal dari kata “to manage” yang
artinya mengatur. Secara etimologi manajemen ialah ilmu dan seni yang
mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber daya lainnya

1
John M. Echols dan Hasan Shadaly, Kamaus Bahasa Inggris Indonesia, (Jakarta: PT. Gramedia, 1992),
hlm. 372
2
T. Hani Handoko, Manajemen, (Yogyakarta: BPFE, 1995), hlm. 21
3
Soebagio Admodinata, Manajemen Pendidikan di Indonesia, (Jakarta: Ardya Jaya, 2000), hlm. 228

1
secara efektif dan efisien untuk mencapai suatu tujuan tertentu dalam sebuah
organisasi4.

Di bawah ini dijelaskan beberapa pendapat yang menjelaskan tentang


pengertian manajemen, antara lain sebagai berikut:
1) Menurut Sudarwan dan Yunan Danim (2010: 18) mengemukakan
bahwa: Manajemen sebagai sebuah proses yang khas, yang terdiri atas
tindakan-tindakan perencanaan, pengorganisasian, menggerakkan, dan
pengawasan, yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai
sasaransasaran yang telah ditetapkan melalui pemanfaatan sumber
daya manusia serta sumber-sumber lainuntuk mencapai tujuan
tertentu. Manajemen adalah proses untuk mencapai tujuan-tujuan
organisasi dengan melakukan kegiatan dari empat fungsi utama yaitu
merencanakan (planning), mengorganisasikan (organizing), memimpin
(leading), dan mengendalikan (controlling). Dengan demikian,
manajemen adalah suatu kegiatan yang berkesinambungan.
2) Malayu S. P. Hasibuan Manajemen adalah ilmu dan seni mengatur
proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya
secara efektif dan efisien untuk mencapai suatu tujuan tertentu5.)
3) Arifin Abdurrachman sebagaimana dikutip oleh M. Ngalim Purwanto,
yang mengartikan manajemen merupakan kegiatankegiatan untuk
mencapai sasaran-sasaran dan tujuan pokok yang telah ditentukan
dengan menggunakan orang-orang pelaksana. Jadi, dalam hal ini
kegiatan dalam manajemen terutama adalah mengelola orang-
orangnya sebagai pelaksana6.
4) Henry L. Sisk Management is the coordination of all resources
through the processes of planning, organizing, directing, and

4
Malayu SP. Hasibuan, Manajemen Sumber Daya Manusia, (Jakarta: CV. Haji Masagung,1994), hlm. 3
5
Malayu S. P. Hasibuan, Manajemen Sumber Daya Manusia, hlm. 1-2
6
M. Ngalim Purwanto, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008),
Cet. XVIII, hlm. 7

2
controlling in order to attain stated objectives. (Manajemen adalah
Pengkoordinasian dari semua sumber-sumber melalui proses yang
terdiri dari perencanaan, pengorganisasian, pemberian bimbingan, dan
pengawasan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan).
Perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian inilah
yang kemudian disebut sebagai prinsip-prinsip manajemen7.
5) Sedangkan Husaini Usman menyimpulkan, esensi pengertian
manajemen dapat dipandang, baik sebagai proses (fungsi) maupun
sebagai tugas (task). Hal ini senada dengan pendapat Maurice R.
Hecht: management is an activity, and if you start by looking at little
pieces here and there, you can destroy the understanding of the
whole8. Artinya, manajemen adalah sebuah aktivitas, dan jika kamu
mulai melihat kepada potongan-potongan sedikit di sana-sini, kamu
dapat merusakkan pengertian itu keseluruhannya
6) Menurut Robbins dan Coulter (2012, p.36, manajemen adalah
mengkoordinasi dan mengawasi kegiatan orang lain sehingga kegiatan
mereka selesai dengan efisien dan efektif.
7) Menurut Manullang (2005, p.5) istilah manajemen mengandung tiga
pengertian, yaitu pertama, manajemen sebagai suatu proses, kedua,
manajemen sebagai kolektivitas orang-orang yang melakukan aktivitas
manajemen, dan ketiga manajemen sebagai suatu seni (art) dan
sebagai suatu ilmu. Pengertian manajemen yang pertama serta
kenyataan bahwa manajemen adalah ilmu sekaligus seni, maka
manajemen itu dapat didefinisikan sebagai seni dan ilmu perencanaan,
pengorganisasian, penyusunan, pengarahan, dan pengawasan sumber
daya untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan.
8) Menurut Daft dan Marcic (2007, p.7) manajemen adalah efektifitas
dan efisiensi pencapaian tujuan organisasi melalui perencanaan,

7
Henry L. Sisk, Principles of Management (Ohio, South-Western Publishing Company, 1969), hlm. 10
8
Maurice R. Hecht, op.cit., hlm. 14

3
pengorganisasian, memimpin dan mengendalikan sumber daya
organisasi. Menurut Bateman dan Snell (2004, p.14) manajemen
adalah proses dalam bekerja dengan orang-orang dan berbagai sumber
daya untuk mencapai tujuan organisasional.

Berdasarkan dari pendapat beberapa ahli dapat disimpulkan bahwa


manajemen adalah suatu pola atau sistem koordinasi yang dilakukan
dalam organisasi melalui proses perencanaan, pengorganisasian,
pelaksanaan, dan pengawasan dengan memberdayakan semua kekuatan
yang dimiliki dalam rangka pencapaian tujuan tertentu.

Prinsip manajemen adalah dasar-dasar atau pedoman kerja yang bersifat


pokok yang tidak boleh diabaikan oleh setiap manajer/pimpinan.Dalam
prakteknya harus diusahakan agar prinsip-prinsip manajemen ini
hendaknya tidak kaku, melainkan harus luwes, yaitu bisa saja diubah-ubah
sesuai dengan kebutuhan. Prinsip-prinsip manajemen terdiri atas :

1. Pembagian kerja yang berimbang


Dalam membagi-bagikan tugas dan jenisnya kepada semua kerabat
kerja, seorang manajer hendaknya bersifat adil, yaitu harus bersikap
sama baik dan memberikan beban kerja yang berimbang.
2. Pemberian kewenangan dan rasa tanggung jawab yang tegas dan jelas
Setiap kerabat kerja atau karyawan hendaknya diberi wewenang
sepenuhnya untuk melaksanakan tugasnya dengan baik dan
mempertanggung jawabkannya kepada atasan secara langsung.
3. Disiplin
Disiplin adalah kesedian untuk melakukan usaha atau kegiatan nyata
(bekerja sesuai dengan jenis pekerjaan yang menjadi tugas dan
tanggung jawabnya) berdasarkan rencana, peraturan dan waktu (waktu
kerja) yang telah ditetapkan.
4. Kesatuan perintah

4
Setiap karyawan atau kerabat kerja hendaknya hanya menerima satu
jenis perintah dari seorang atasan langsung (mandor/kepala
seksi/kepala bagian), bukan dari beberapa orang yang sama-sama
merasa menjadi atasan para karyawan/kerabat kerja tersebut.
5. Kesatuan arah
Kegiatan hendaknya mempunyai tujuan yang sama dan dipimpin oleh
seorang atasan langsung serta didasarkan pada rencana kerja yang
sama (satu tujuan, satu rencana, dan satu pimpinan).
Jika prinsip ini tidak dilaksanakan maka akan timbul perpecahan
diantara para kerabat kerja/karyawan. Karena ada yang diberi tugas
yang banyak dan ada pula yang sedikit, padahal mereka memiliki
kemampuan yang sama (Dayat,n.d,pp.7-9). Manajemen adalah proses
pencapaian tujuan melalui kerja orang lain. Dengan demikian berarti
dalam manajemen terdapat minimal 4 (empat) ciri, yaitu:
1) Ada tujuan yang hendak dicapai
2) Ada pemimpin (atasan)
3) Ada yang dipimpin (bawahan)
Manajemen bagi setiap organisasi atau lembaga merupakan
unsur pokok yang harus dijalankan oleh setiap pimpinan organisasi
atau lembaga tersebut.Para pimpinan tersebut bertindak sebagai
manajer sehingga harus menggunakan sumber daya organisasi,
keuangan, peralatan dan informasi serta sumber daya manusia dalam
mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.Sumber
daya manusia merupakan sumber daya terpenting bagi setiap
organisasi.
Tujuan-tujuan organisasi yang telah ditetapkan (state goals)
mengandung arti bahwa para pemimpin atau manajer organisasi
apapun berupaya untuk mencapai berbagai hasil akhir spesifik, tentu
saja harus unik bagi masing-masing organisasi. Ulber Silalahi (2002:
4) mengungkapkan manajemen sebagai proses perencanaan,

5
pengorganisasian, pengisian staf, pemimpinan dan pengontrolan untuk
optimasi penggunaan sumber-sumber dan pelaksanaan tugas-tugas
dalam mencapai tujuan organisasional secara efektif dan secara
efisien. Secara prinsip dapat dilihat bahwa pada kenyataannya
manajemen merupakan kombinasi ilmu dan seni dan tidak dalam
proporsi yang tetap, tetapi dalam proporsi yang bermacam-
macam.Konsep manajemen merupakan suatu konsep yang
mencerminkan adanya kebiasaan yang dilakukan secara sadar dan
terus menerus dalam organisasi9.

1.2. Fungsi dan Tujuan Manajemen

Tujuan Pembelajaran 1.2:


1.2 Memahami Fungsi dan Tujuan Manajemen

Fungsi manajemen adalah proses dari langkah-langkah mulai dari


perencanaan, pengorganisasian, staffing, memimpin dan pengawasan untuk
mencapai tujuan yang telah ditetapkan organisasi. Banyak pandangan-
pandangan yang berbeda dari para ahli mengenai rumusanrumusan fungsi-
fungsi manajemen, di sini penulis mengambil pandangan dari seorang ahli
bernama George R. Terry. Dalam bukunya “ Principles of management”
George R. Terry merumuskan fungsi-fungsi manajemen dengan singkatan
POAC, yaitu :
A. Perencanaan (Planning)
Perencanaan adalah sesuatu yang akan direncanakan tentang apa yang
akan dicapai, yang kemudian memberkan pedoman, garis-garis besar
tentang apa yang akan dituju. Perencanaan merupakan persiapan-
persiapan untuk pelaksanaan suatu tujuan, berupa rumusan-rumusan
tentang “apa” dan “bagaimana “ suatu pekerjaan dapat dilaksanakan.
Persiapan-persiapan tesebut dapat berupa tindakan-tindakan administrasi
atas tindakantindakan selanjutnya.Perencanaan tidak harus dalam bentuk
tulisan tetapi mungking hanya dalam pemikiran (benak), terutama untuk
hal yang bersifat pribadi dan rahasia (misalnya rencana operasi lokasi
perjudian, pelacuran, sarang narkoba dan lain-lainnya).Dalam sistem

9
Materi ini dapat di akses di http://eprints.uny.ac.id/8428/3/bab%202%20-07518241018.pdf

6
pembangunan di Indonesia, tugas perencanaan dilaksanakan oleh Badan
Perencanaan Nasional (Bapenas), yang merupakan himpunan dari
perencanaan sektor pemerintah yang paling kecil.Setiap organisasi
biasanya selalu membuat perencanaan untuk lancarnya perputaran roda
organisasi.Demikan hal dengan individu, hendaknya membiasakan diri
untuk membuat/menentukan rencana agar aktivitas jelas dan terarah.

Membuat Perencanaan .
Untuk membuat suatu perencanaan yang baik, ada dua pertanyaan yang
harus dijawab, yaitu “ Apa dan Bagaimana “ ( What and How).
Pertanyaan “what” menunjukkan maksud dari pembuatan perencanaan,
tegasnya menjawab tentang tujuan apa yang hendak dicapai. Kalau sudah
terjawab maka dilanjutkan dengan menjawab pertanyaan “How”, yaitu
bagaimana cara terbaik yang digunakan demi tercapainya tujuan. Jawaban
pertanayaan “how” dapat merupakan cara, metode/sistem serta teknik-
teknik yang digunakan. Persoalan perencanaan belum selesai, karena
harus berhadapan dengan pertanyaan : Why, Where, When dan Who.
Pertanyaan why menunjukkan mengapa atau apa sebabnya perencanaan
dibuat, pertanyaan where menunjukkan dimana kegiatan akan
dilaksanakan, pertanyaan when kapan rencana tersebut akan dilaksanakan
dan pertanyaan who yang menunjukkan siapa yang akan melaksanakan.

Sifat Perencanaan
Suatu perencanaan yang baik harus bersifat :
 Rasional Perencanaan bersifat rasional artinya perencanaan dibuat
berdasarkan pemikiranpemikiran dan perhitungan yang matang,
sehingga dapat dibahas secara logis.
 Perencanaan bersifat lentur Perencanaan bersifat lentur artinya
perencanaan tersebut bersifat luwes, dapat dilaksanakan
dimanapun, kapanpun dan oleh siapapun (tentunya disesuaikan
dengan situasi dan kondisi)
 Perencanaan harus bersifat kontinyu Perencanaan bersifat kontinyu
artinya perencanaan harus terus menerus dibuat dan perlu ditinjau
kembali guna perbaikan-perbaikan pada pelaksanaan waktu
berikutnya dan disesuaikan dengan perkembangan situasi dan
kondisi masyarakat, pemerintah dan negara.

7
Kegagalan Perencanaan:
Kegagalan perencanaan dapat disebabkan oleh beberapa faktor,antara
lai :
 Perencanaan tidak matang Perencanaan tidak matang karena
tidak mempunyai pandangan jauh ke depan, kurang
pengalaman, tidak rasional.
 Wewenang yang tidak jelas/tegas Instruksi yang diberikan oleh
pimpinan kepada para pelaksana tidak jelas atau tidak tegas
sehinggah terjadi tumpang tindih disana sini.
 Anggaran kurang Hal ini adalah hal yang logis, karena banyak
kemungkinan terjadinya kurang anggaran, misalnya pengaruh-
pengaruh ekonomi global, perubahan kebijakan
pimpinan/pemerintah, perubahan-perubahan dalam
pelaksanaan karena keadaan tidak terduga.
 Pelaksanaan kurang baik Perencanaan yang baik tidak
menjamin hasilnya juga baik, karena sangat tergantung pada
baik buruknya pada pelaksanaannya.
 Tidak ada dukungan moral dari masyarakat Dukungan atau
resfon masyarakat cukup mempengarahui berhasil tidaknya
suatu perencanaan. Tidak adanya partisipasi aktif dari
masyarakat dapat membuat gagal suatu perencanaan.

Sedangkan pandangan-pandangan dari para ahli lainnya mengenai


fungsi manajemen, antara lain:
1. Henry Fayol
 Planning (Perencanaan)
 Organizing (Pengorganisasian)
 Commanding ( Perintah)
 Coordinating ( Koordinasi)

2. Luther Gulick
 Planning (Perencanaan)
 Organizing (Pengorganisasian)
 Staffing
 Directing
 Coordinating
 Reporting
 Budgeting

3. Koontz O’Donnel
 Planning (Perencanaan)
 Organizing (Pengorganisasian)

8
 Staffing
 Directing
 Controlling

4. Dr.Sondang .P. Siagian


 Planning (Perencanaan)
 Organizing (Pengorganisasian)
 Motivating
 Controlling
 Evaluating

B. Pengorganisasian (Organizing)
Pengorganisasian adalah penetapan struktur peran-peran melalui
penentuan aktivitasaktivitas, pegelompokan aktivitas, penugasan
kelompok aktivitas, pendelegasian wewenang, pengkoordinasian
hubungan antar wewenang serta informasi baik secara vertikal maupun
horizontal, yang dibutuhkan organisasi untuk mencapai tujuan-tujuan
organisasi.
Agar peran organisasi ada dan berarti bagi orang-orang, peran-peran itu
harus mencakup:
a. Tujuan yang dapat direalisasikan.
b. Konsep dan batas kewajiban yang jelas.
c. Kebijakan-kebijakan yang dapat dimengerti dan dapat dilaksanakan.
d. Ketersediaan informasi yang diperlukan, alat-alat dan sumber-sumber
yang penting.

Pengertian organisasi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu:


1. Organisasi sebagai alat manajemen
Organisasi sebagai alat manajemen adalah organisasi sebagai
wadah/tempat manajemen sehingga memberikan bentuk bagi
manajemen yang memungkinkan manajemen dapat
bergerak.Organisasi sebagai alat organisasi dalam arti statis
(tetap/tidak bergerak).
2. Organisasi sebagai fungsi manajemen
Organisasi sebagai fungsi adalah organisasi dalam arti dinamis, yaitu
organisasi yuang memberikan memungkingkan tempat manajemen
dapat bergerak dalam batas-batas tertentu
3. “a group of people”, yaitu kelompok orang-orang yang membentuk
kelompok tertentu yang bekerjasama untuk melaksanakan suatu
usaha/kegiatan. B.1.4. “a system of authority”, yaitu organisasi

9
sebagai sistem wewenang yang memberikan kekuasaan bagi setiap
pejabat dalam melaksanakan tugasnya.
4. “a system of function”, yaitu sebagai sistem distribusi tugas sehinggaa
masing-masing pejabat memegang tugas tertentu. Timbulnya
Organisasi apabila ada dua orang atau lebih yang bersama-sama
menjalankan pekerjaan untuk kepentingan bersama.

C. Actuating (Penggerakan)
Penggerakan adalah suatu fungsi pembimbingan dan pemberian pimpinan
serta penggerakan orang-orang agar orang-orang tersebut mau dan suka
bekerja.Berdasarkan pengertian tersebut jelaslah bahwa peranan
penggerakan (actuating) sangat penting, karena penggerakan berfungsi
untuk menggerakan fungsi-fungsi manajemen yang lain, seperti
perencanaan, pengorganisasian, pengawasan.Menggerakan orang-orang
agar mau dan suka bekerja mempunyai arti bagimana menjadikan para
pegawai sadar akan tugas dan kewajiban serta bertanggung jawa atas tugas
yang dibebankan kepadanya tanpa menunggu perintah dari siapapun.

Berikut adalah Faktor-faktor penting dalam keberhasilan penggerakan


suatu organisasi, Fungsi penggerakan tidak sekedar pekerjaan mekanis
(mesin, elektronik) karena manusia bukanlah robot, oleh karenanya
diperlukan faktor-faktor pendukung, seperti:
1. Segi Organisasi
a) Terdapat peraturan-peraturan Maksudnya adalah adanya
ketentuan-ketentuan yang memberi kemungkinan adanya kepastian
perkembangan organisasi baik ke dalam maupun ke luar.
b) Terdapat fasilitas-fasilitas Maksudnya adalah fasilitas-fasilitas
perangkat lunak atau perangkat keras yang diperlukan untuk gerak
organisasi yang didasarkan atas pengkajian yang dapat
dipertanggung jawabkan untuk memenuhi aspek kuantitas dan
kualitas.
c) Terdapat sarana komunikasi yang memadai Sarana komunikasi
yang memadai adalah segala sesuatu yang digunakan untuk
menyampaikan dan menerima informasi, misalnya telepon,
internet, mimbar, publikasi, journal dan sebagainya.
d) Terdapat kader-kader pemimpin Terdapat kader-kader pimimpin
artinya bahwa untuk mendapatkan pimpinan yang jelas dan tegas
ruang lingkup kepemimpinannya perlu dipertimbangkan dari

10
dalam organisasi untuk memotivasi gerak organisasi kearah yang
sesyai tujuan organisasi.

2. Segi Pemimpin
 Wewenang. Wewenang maksudnya adalah pemimpin harus
memahami akan tugas dan wewenang yang diembannya
(delegation of authority) dengan memperhatikan hal-hal
sebagai berikut :
o Antara tugas dan wewenang harus memperhatikan hukum
keseimbangan (equilibrium).
o Tidak menyalahgunakan wewenang.
o Wewenang harus dipertanggungjawabkan pada jalur
organisasi tertentu.
o Pembatasan waktu memegang jabatan memimpin, untuk
menghindari teori absolutisme kekuasaan.
 Memiliki kelebihan-kelebihan. Maksudnya adalah suatu
keadaan tertentu yang dimiliki seseorang dan tidak terdapat
pada orang lain, kelebihan tersebut antara lain:
 Kelebihan dalam pikiran dan rasio
 Kelebihan dalam fisik dan rohaniah.
 Memiliki sifat-sifat kepemimpinan

Menurut Ord Way Tead dalam bukunya “The Art of


Leadership”, menyebutkan sifat-sifat yang harus dimiliki
pemimpin adalah :

Energi jasmani dan rokhani (physical and nerveus energy)


Semangat untuk mencapai tujuan (a sence of purpose an
direction)
Ramah dan penuh perasaan ( frend lyness and effection)
Integritas (integrity)
Kecakapan teknis ( technical skill)
Mudah mengambil keputusan (decisive ness)
Cerdas (intelligence)
Kecakapan mengajar (teaching skill)
Keyakinan (faith).
 Memahami teknik-teknik kepemimpinan

11
Teknik-teknik kepemimpinan dimaksudkan suatu cara atau
metode yang dapat dilakukan untuk meningkatkan
penggerakan sehinggah pekerja melakukan pekerjaan dengan
sebaik baiknya.

Teknik kepemimpinan dapat digolongkan dalam 2 golongan,


yaitu :
1) Teknik kepemimpinan pokok, yaitu teknik-teknik dasar
pokok yang dapat digunakan untuk berbagai macam
kepemimpinan, antara lai :
• Teknik menyiapkan orang-orang supaya bersedia
menjadi pengikut.
• Teknik human relation
• Teknik untuk menjadi teladan.

2) Teknik kepemimpinan khusus adalah teknik kepemimpinan


untuk menggerakan orang-orang agar supaya suka dan
dapat bekerja, tediri atas :
 Teknik persuasif dalam memberikan perintah.
 Teknik menggunakan sistem komunikasi yang cocok.
 Teknik memberikan fasilitas-fasilitas.

3) Segi Pegawai
Pegawai yang akan digerakkan harus mempunyai kemampuan
untuk menerima dan memahami apa yang diberikan pimpinan baik
petunjuk, bimbingan ataupun perintah, kemampuan itu antara lain:
a) Memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai
Pengetahuan dan keterampilan mutlak harus dipunyai oleh
pegawai, terutama yang berkaitan dengan organisasi tempat
bekerja.
b) Memiliki pandangan bahwa pengabdian adalah untuk
organisasi, masyarakat dan negara bukan kepada pimpinan.
Ada kemungkinan bahwa pegawai baru mau bekerja bila
diawasi oleh pimpinannya, bila pimpinan tidak ada maka
pegawai akan malas-malasan. Ada juga pegawai yang baru
bekerja bila ada perintah dari pimpinan, bila tidak ada
perintah sama sekali tida ada inisiatif untuk bekerja.
c) Mau dipimpim,

12
maksudnya adalah pegawai mempunyai rasa kesadaran,
rasional dan terarah pada pengabdian yang seluas-luasnya,
dan bukan karena terpaksa. Hal ini juga penting bagi
pemimpin, bahwa kepemimpinan bukan diarahkan untuk
menguasai pegawai, tetapi pegawai tetap dibimbing sampai
ke tingkat kesadaran tanggung jawab yang diinginkan.
d) Terpeliharanya tim kerja,
maksudnya bahwa untuk berhasilnya fungsi penggerakan
harus tetap terpeliharanya kekompakan tim kerja, tim kerja
harus kokoh dan kuat baik kualitas maupun kuantitas
ataupun baik fisik maupun batiniah. Kesamaan pandangan
tentang organisasi akan tetap terpeliharanya tim kerja.

D. Pengendalian/Pengawasan (Controlling)
Mc. Farland memberikan definisi, pengawasan adalah suatu proses
dimana pimpinan ingin mengetahui apakah hasil pelaksanaan pekerjaan
yang dilakukan oleh bawahan sesuai dengan rencana, perintah, tujuan atau
kebijakan yang telah ditentukan. Pengawasan dimkasudkan untuk
mencegah atau memperbaiki kesalahan, penyimpangan, ketidak sesuaian
dan lain-lainnya yang tidak sesuai dengan tugas dan wewenang yang telah
ditentukan.Jadi pengawasan bukan mencari kesalahan terhadap orangnya,
tetapi mencari kebenaran terhadap hasil pelaksanaan pekerjaan.Tujuan
pengawasan adalah agar hasil pelaksanaan pekerjaan diperoleh secara
berhasil guna (efektif) dan berdaya guna (efisien) sesuai dengan rencana
yang telah ditentukan. Menurut Mc. Farland pengawasan harus
berpedoman pada hal-hal sebagai berikut :
 Rencana yang telah ditentukan
 Perintah terhadap pelaksanaan pekerjaan
 Tujuan
 Kebijakan-kebijakan

Berikut adalah beberapa fungsi pengawasan, antara lain:

1) Mempertebal rasa dan tanggung jawab terhadap yang diserahi tugas


dan wewenang dan pelaksanaan pekerjaan. Perencanaan Pelaksanaan
Pekerjaan Pengawasan
2) Mendidik para pejabat/pimpinan agar dalam melaksanakan pekerjaan
sesuai dengan prosedur yang telah ditentukan.
3) Untuk mencegah terjadinya penyimpangan, penyelewengan, kelalaian,
dan kelemahan untuk menghindari kerugian yang tidak diinginkan.

13
4) Suatu usaha untuk memperbaiki kesalahan dan penyelewengan, agar
pelaksanaan pekerjaan tidak mengalami hambatan dan pemborosan.

Berikut adalah Macam-Macam Pengawasan


1) Pengawasan dari dalam orgnisasi (Pengawasan Internal) Adalah
pengawasan yang dilakukan oleh oleh aparat/unit pengawasan
yang dibentuk dari dalam organisasi itu sendiri (dalam satu atap).
Aparat/unit pengawasan ini bertugas mengumpulkan data dan
informasi yang diperlukan oleh pimpinan untuk melihat dan
menilai kemajuan atau kemunduran dalam pelaksanaan pekerjaan.
Selain itu pimpinan dapat mengambil suatu tindakan korektif
terhadap hasil pelaksanaan pekerjaan yang dilakukan oleh
bawahannya (internal control), misalnya unit kerja Inspektorat
Jenderal sebagai unit pengawasan di tingkat departemen.
2) Pengawasan Luar Organisasi (Pengawasan Ekstenal) Adalah
pengawasan yang dilakukan oleh Aparat/Unit Pengawasan dari
luar organisasi terhadap departemen (lembaga pemerintah lainnya)
atas nama pemerintah. Selain itu pengawasan dapat pula dilakukan
oleh pihak luar yang ditunjuk oleh suatu organisasi untuk minta
bantuan pemeriksaan/pengawasan terhadap organisasinya.
Misalnya Konsultan Pengawas, Akuntan swasta dan sebagainya
3) Pengawasan Preventif Pengawasan preventif adalah pengawasan
yang dilakukan sebelum rencana itu dilaksanakan. Maksud
pengawasan preventif adalah untuk mencegah terjadinya
kekeliruan/kesalahan. Adapun dalam pengawasan preventif yang
dilakukan adalah :
 Menentukan peraturan-peraturan yang berlaku yang
berhubungandengan sistem prosedur, hubungan dan tata
kerjanya.
 Membuat pedoman/manual sesuai dengan peraturan yang
ditetapkan.
 Menentukan kedudukan, tugas, wewenang dan tanggung
jawab.
 Mengorganisasikan segala macam kegiatan, penempatan
pegawai dan pembagian pekerjaan.
 Menentukan sistem koordinasi, pelaporan dan pemeriksaan.
 Memberikan sanksi-sanksi terhadap pejabat yang menyimpang
dari peraturan, sesuai dengan peraturan yang berlaku.
4) Pengawasan Represif

14
Pengawasan represif adalah pengawasan yang dilakukan setelah
adanya pelaksanaan pekerjaan.Maksud dilakukannya pengawasan
represif adalah untuk menjamin kelangsungan pelaksanaan
pekerjaan agar hasilnya tidak menyimpang dari yang telah
direncanakan (dalam pengawasan anggaran disebut post- audit).

Berikut adalah beberapa Metode Pengawasan, antara lain sbb:

1. Pengawasan Langsung, adalah pengawasan yang dilakukan secara


langsung pada lokasi pelaksanaan pekerjaan (sistem inspektif,
verifikatif dan investigasi).
2. Pengawasan tidak langsung, adalah pengawasan yang dilakukan
terhadap hasil-hasil laporan yang berupa uraian kalimat, angka-
angka atau statistic yang berupa gambar-gambar.
3. Pengawasan formal, adalah pengawasan yang dilakukan secara
formal oleh aparat/unit pengawasan dilingkungan organisasi itu
sendiri. Dalam pengawasan ini telah ditentukan prosedur,
hubungan dan tata kerjanya.
4. Pengawasan informal, adalah pengawasan yang dilakukan
pejabat/pimpinan dengan melalui kunjungan yang tidak resmi
(secara pribadi = secara incognito). Hal ini untuk menghindari
kekakuan antara atasan dan bawahan dan diharapkan terciptanya
suatu keterbukaan dalam memperoleh informasi dan pimpinanpun
dapat langsung memberikan jalan keluar bila ditemui maslah
dalam pelakanaan pekerjaan.
5. Pengawasan administratif, meliputi pengawasan bidang keuangan,
kepegawaian dan materiil.

Berikut adalah Prinsip-Prinsip Pengawasan, antara lain sebagai


berikut:
1) Berorientasi pada tujuan organisasi
2) Pengawasan harus objektif, jujur dan mendahulukan kepentingan
umum dari pada kepentingan pribadi
3) Pengawasan harus berorientasi pada kebenaran menurut peraturan
yang berlaku dan kebenaran atas prosedur yang telah ditetapkan
dan berorientasi pada tujuan (manfaat) dalam pelaksanaan
pekerjaan.
4) Pengawasan harus menjamin hasil guna dan daya guna.
5) Pengawasan harus berdasarkan standar yang objektif, teliti dan
tepat.

15
6) Pengawasan harus terus menerus.
7) Hasil peengawasan harus dapat memberikan umpan balik (feed
back) terhadap perbaikan dan penyempurnaan dalam perencanaan
dan kebijaksanaan di masa yang akan datang10.

1.3. Perkembangan Teori Manajemen Modern

Tujuan Pembelajaran 1.3:


1.3 Memahami Perkembangan Teori Manajemen Modern
Di dalam ilmu manajemen dikenal tiga aliran yang masing-masing berusaha
membantu para manajer untuk memahami dan memimpin perusahaannya
serta mengatasi masalahmasalah di dalam perusahaan. Tiga aliran tersebut
adalah :

1) Aliran Klasik (Classical school)


Aliran ini dipelopori oleh Robert Owen ((1771-1858) dan Charles
Babbage (1792-1871).Robert Owen berpendapat bahwa dengan
dipenuhinya kebutuhan dan peningkatan kondisi pekerja (perumahan,
jam kerja, koperasi, dan sebagainya) dapat meningkatkan hasil
produksi dan laba perusahaan. Unsur pekerja merupakan salah satu
unsur terpenting dalam proses produksi (vital machines=mesin utama)
Charles Babbage berpendapat bahwa penerapan prinsip-prinsip ilmiah
dalam proses kerja dapat meningkatkan produktivitas dan dapat
menekan biaya menjadi lebih rendah, yaitu dengan dialtih suatu
keterampilan tertentu dan harus bertanggung jawab terhadap bagian
yang dikerjakannya dengan keterampilan tersebut
Tokoh-tokoh lain dalam aliran klasik,antara lain :
1) Frederich W. Taylor (1856-1915)
Frederich W. Taylor adalah tokoh peletak prinsip manajemen
ilmiah, dengan percobaan gerak dan waktu.Dengan efisiensi gerak
dapat meningkatkan produktivitas, sehingga dapat ditentukan

10
Materi ini dapat diakses pada http://data.bmkg.go.id/share/Dokumen/modul%208-11.pdf

16
standar minimal produksi atas dasar keahlian rata-rata
pekerja.Dengan ditentukannya standar minimal produksi dapat
diterapkan sistem upah dengan bonus bagi pekerja yang dapat
melampaui standar minimal produksi, lebih jauh lagi dengan
sistem upah ini dapat memperbaiki metode kerja karyawan.
Empat prinsip dasar teori Frederich W. Taylor, yaitu :
a. Dengan perkembangan manajemen ilmiah dapat
ditentukannya metode terbaik dalam menjalankan tugas;
b. Seleksi karyawan dengan cara ilmiah, sehingga setiap
karyawan dapat diberi tanggung jawab atas tugas yang
sesuai dengan keterampilannya;
c. Pengembangan dan pendidikan karyawan dengan cara
ilmiah;
d. Hubungan/kerjasama yang erat antara manajemen dan
karyawan.
2) Henry L. Gantt (1861-1919)
Henry L. Gantt memperkenalkan system bagar (chart system),
yang memuat jadwal kegiatan produksi karyawan, disebut siatem
Gantt Chart.
3) Frank B dan Lilian M. Gilberth (1868-1924 / 1878-1972)
Pasangan ini bekerja sama mempelajari aspek kelelahan dan gerak.
Pengurangan gerak dapat menyebabkan pengurangan kelelahan).

Sumbangan-sumbangan dari Aliran Klasik


 Metode-metode yag dikembangkan dapat diterapkan pada berbagai
kegiatan organisasi, selain di organisasi industri.
 Teknik-teknik efisiensi (seperti studi gerak dan waktu), bahwa
gerak fisik dan alat dapat lebih diefisienkan.

17
 Penekanan pada seleksi dan pengembangan karyawan dengan cara
ilmiah menunjukan pentingnya kemampuan dan faktor pelatihan
dalam meningkatkan efektivitas kerja seorang pekerja.
 Manajemen ilmiah yang menekankan pentingnya rancangan kerja
mendorong manajer mencari cara terbaik untuk pelaksanaan tugas.
 Manajemen ilmiah tidak hanya mengembangkan pendekatan
rasional dalam memecahkan masalah, tetapi menunjukkan jalan ke
arah profesionalisasi dari manajemen.

Keterbatasan Aliran Klasik


 Sering peningkatan produksi tidak disertai dengan peningkatan
pendapatan.
 Hubungan manajemen dan karyawan tetap jauh.
 Manusia dipandang sebagai sesuatu yang rasional bahwa manusia
dapat dimotivasi dengan pemenuhan kebutuhan ekonomi dan fisik,
namun mengabaikan frustasi dan ketegangan yang dialami
karyawan apabila mereka tidak dapat memenuhi kebutuhan sosial
mereka serta mengabaikan kepuasan karyawan atas hasil kerjanya.

2) Aliran Perilaku (Behaviaoral school)


Aliran perilaku berkembang sebab aliran klasik dipandang tidak benar-
benar pembantu pencapaian efisiensi produksi dan keserasian tempat
keja.Oleh karena itu dicari upaya untuk membantu manajer mengatasi
masalah melalui sisi perilaku karyawan.
Tokoh-tokoh aliran perilaku :
a) Hugo Munsterberg (1863-1919), sumbangan utamanya adalah
penerapan psikologi karyawan dalam membantu peningkatan
produksi, melalui tuga cara, yaitu:
1. mendapatkan orang yang cocok.
2. menciptakan kondisi kerja yang baik.

18
3. memotivasi karyawan.
b) Elton Mayo (1880-1949), terkenal dengan ekperimen perilaku
manusia dalam situasi kerja, disebut sebagai Ekperimen
Hawthorne. Ekperimen ini menghasilkan kesimpulan bahwa
perhatian khusus pada karyawan dapat meningkatkan usaha
kerjanya, disebut Hawthorne effect.

Dari ekperimen ini diperoleh hasil yaitu dari konsep manusia yang
rasional bahwa manusia yang hanya dapat dimotivasi dengan
pemenuhan ekonomi, diganti dengan konsep pemenuhan sosial
melalui hubungan kerja.

3) Aliran Ilmu Manajemen ( Management Science School)


Aliran ini mengembangkan prosedur penelitian operasional
(operasional research+OR) dalam menghadapi masalah organisasi.
Prosedur yang dignauakan dimulai dari analisis masalah sampai
dengan usulan kegiatan untuk mengatasi masalah tersebut.
Beberapa sumbangan aliran ini:
 Prinsip aliran ini diterapkan dalam pemecahan masalah pada
organisasi besar.
 Teknik-teknik manajemen ilmiahdigunakan pada berbagai
kegiatan, seperti penyusunan anggaran, arus uang, jadwal
produksi, pengembangan produk, perencanaan tenaga kerja dan
lain-lain.
 Mencoba memecahkan masalah dengan cara meninjaunya dari
berbagai ilmu (interdisipliner).
 Memecahkan masalah secara matematis.

19
Keterbatasan Aliran ini :
 Sumbangan aliran ini pada manajemen hanya diterapkan pada
kegiatan perencanaan dan pengawasan dan tidak pada kegiatan lain
seperti pengorganisasian dan kepemimpinan.
 Walaupun teknik yang digunakan cukup luas dalam mengatasi
masalah manajemen, tetapi tidak cukup efektif untuk masalah
manusia dalam manajemen

4) Pendekatan Sistem
Pendekatan system memandang organisasi sebagai suatu kesatuan
yang terdiri dari bagian-bagian yang saling berhubungan satu sama
lain.Dalam pendekatan ini manajer diajak untuk memandang
organisasi sebagai suatu kesatuan yang merupakan bagian dari
lingkungan ekternal yang lebih luas. Dalam sistem ini dijelaskan
bahwa kegiatan setiap bagian dari organisasi akan mempengaruhi
kegiatan bagian lainnya.
Beberapa istilah dan sumbangan yang digunakan dalam
pendekatan sistem, yaitu :
 Subsistem, yaitu bagian-bagian yang membentuk kesluruan sistem.
Setiap sistem menjadi subsistem dari kesatuan yang lebih besar.
 Sinergi, yaitu bagian-bagian terpisah dalam sebuah orgnisasi yang
saling bekerja sama dan berhubungan serta menghasilkan kerja
yang lebih besar.
 Sistem terbuka, yaitu sistem yang berhubungan dengan lingkungan
luar. Sistem tertutup, yaitu sistem yang tidak berhubungan dengan
lingkungan luar.
 Arus, yaitu perubahan seluruh masukan ( informasi, bahan dan
enegi) yang berasal dari lingkungan melalui suatu proses untuk
menghasilkan keluaran (barang dan jasa).

20
 Umpan balik, merupakan kunci pengawasan terhadap sistem,
dengan adanya umpan balik, maka dapat dilakukan perbaikan
apabila ada kesalahan dalam pelaksanaannya

5) Pendekatan Kontingensi
Pendekatan ini menggunakan metode-metode yang efektif untuk
mengatasi masalahmasalah dalam situasi tertentu yang tidak dapat
diterapkan dalam situasi lain. Tugas manajer adalah mengidentifikasi
teknik mana yang digunakan dalam situasi dan waktu yang tepat
dalam membantu pencapaian tujuan. Suatu langkah yang paling tepat
untuk mengatasi masalah dalam pendekatan kontingensi adalah
bergantung pada situasi yang dihadapi oleh manajemen, karena adalah
suatu kenyataan bahwa situasi, aksi dan hasil adalah faktor yang saling
mempengaruhi dan saling tergantung satu sama lainnya.

Masa manajemen modern berkembang melalui dua jalur yang berbeda. Jalur
pertama merupakan pengembangan aliran perilaku (perilaku organisasi) dan
yang lain dibangun atas dasar manajemen ilmiah (aliran kuantitatif) atau
operation reserch dan management science.

1. ALIRAN PERILAKU ORGANISASI


Pendekatan manusia mempelopori tumbuhnya pendekatan baru yang
lebih sering dikenal sebagai pendekatan/aliran perilaku. Dengan
menggunakan ilmu-ilmu sosial seperti Sosiologi, Psikologi, dan Antropologi
dan dengan metoda penelitian yang lebih sempurna, para peneliti ini lebih
terkenal sebagai “behavioral scientists” dari pada “human relations
theorists”. Diantaranya yang terkenal adalah Argyris, Maslow dan Mc.
Gregor dorongan.
Prinsip Dasar Perilaku Organisasi :
1) Manajemen tidak dapat dipandang sebagai suatu proses teknik secara
ketat (peranan, prosedur dan prinsip).

21
2) Manajemen harus sistematik dan pendekatan yang digunakan harus
dengan pertimbangan secara hati-hati.
3) Organisasi sebagai suatu keseluruhan dan pendekatan manajer individual
untuk pengawasan harus sesuai dengan situasi.
4) Pendekatan motivasional yang menghasilkan komitmen pekerja terhadap
tujuan organisasi sangat dibutuhkan.
Sumbangan Aliran Perilaku Organisasi
Sumbangan para ilmuwan perilaku ini terlihat dalam peningkatan
pemahaman terhadap motivasi perseorangan, perilaku kelompok, hubungan
antara pribadi dalam kerja dan pentingnya kerja bagi manusia.Semua hal ini
telah membuat para manajer semakin peka dan terampil dalam menangani
dan berhubungan dengan bawahannya. Bahkan kemudian muncul berbagai
konsep yang lebih maju lagi seperti kepemimpinan, penyelesaian
perselisihan, cara mendapatkan dan memanfaatkan kekuasaan, perubahan
organisasi dan konsep komunikasi.

Keterbatasan Aliran Perilaku Organisasi


Meskipun demikian, banyak ahli berpendapat potensi teori ini belum
dikembangkan lebih lanjut.Selain itu juga banyak kritikan terhadap aliran ini,
karena disamping terlalu umum, terlalu abstrak dan ruwet/rumit.Teori
tersebut juga cukup kompleks untuk manajer.Rekomen- dasi mereka sering
berbeda satu ahli dengan ahli lainnya, sehingga manajer mengalami kesulitan
menentukan pendapat yang paling baik.

2. ALIRAN KUANTITATIF ( RISET OPERASI DAN MANAJEMENN


SAINS )
Aliran kuantitatif untuk manajemen mulai berkembang sejak Perang
Dunia II.Pada waktu itu Inggris ingin memecahkan beberapa persoalan yang
sangat kompleks dalam perang.Inggris kemudian membentuk Team Riset
Operasi (Reserch Operation), dipimpin oleh P.M.S Blackett.Team ini terdiri

22
dari ahli matematika, fisika, dan ilmuwan lainnya.Inggris berhasil
menemukan terobosan-terobosan penting dari team tersebut.Amerika Serikat
kemudian meniru, membentuk team riset operasi seperti yang dibentuk
Inggris.Komputer digunakan untuk menghitung model-modek matematika
yang dikembangkan.Ketika perang selesai, model-model dari riset operasi
tersebut kemudian diaplikasikan ke Industri.Industri juga mengalami per-
kembangan pesat dengan persoalan-persoalan yang semakin
kompleks.Persoalan tersebut tidak dapat lagi dipecahkan dengan metode-
metode konvensional.Model riset operasi diperlukan dalam hal ini. Beberapa
model riset operasi : CPM (Critical Path Method) yang digunakan untuk
merencanakan proyek, teori antrian untuk memecahkan persoalan antrian.
Manajemen operasi merupakan variasi lain dari pendekatan kuantitatif.
Pendekatan ini lebih sederhana dan dapat diaplikasikan langsung pada situasi
manajemen. Beberapa contoh model manajemen operasi adalah :
pengendalian persediaan seperti EOQ (Economic Order Quantity), simulasi,
analisis break-even, programasi lenier (linear programming). Manajemen
operasi sering dianggap sebagai aplikasi dari riset operasi.

Sumbangan Aliran Kuantitatif (Riset Operasi/ Manajemen Sains)


Pendekatan kuantitatif memberikan sumbangan penting terutama dalam
perencanaan dan pengendalian.Model-model yang dikembangkan sangat
sesuai untuk fungsi tersebut.Sebagai contoh, model CPM bermanfaat untuk
perencanaan dan pengendalian proyek.Pendekatan tersebut juga membantu
memahami persoalan manajemen yang kompleks. Dengan menggunakan
model matematika, persoalan yang kompleks dapat disederhana kan menjadi
model matematika. Meskipun nampaknya model matematika dengan formula-
formula yang sulit dimengerti sangat kompleks, tetapi model tersebut
bermaksud menyederhanakan dunia nyata yang sangat kompleks. Dengan
model matematika, faktor-faktor yang penting dapat dilihat dan diberi
perhatian ekstra.

23
Keterbatasan Aliran Kuantitatif (Riset Operasi/ Manajemen Sains)
Sayangnya model kuantitatif banyak menggunakan model atau simbol
yang sulit dimengerti oleh kebanyakan orang, termasuk manajer. Pendekatan
kuantitatif juga tidak melihat persoalan peri laku dan psikologi manusia dalam
organisasi.Meskipun demikian potensi model kuantitatif belum dikembangkan
sepenuhnya. Apabila dapat dikembangkan lebih lanjut pendekatan kuantitatif
akan memberikan sumbangan yang lebih berarti
Muncul aliran ini lebih kepada aliran kuantitatif merupakan gabungan
dari Operation Research dan Management Science.Pada aliran ini berkumpul
para sarjana matematika, pisik, dan sarjana eksakta lainnya dalam
memecahkan masalah-masalah yang lebih kompleks.Tim sarjana ini di
Inggris, di Amerika Serikat, sesudah perang Dunia II dikenal dengan sebutan
“OR Tema” dan setelah perang dimanfaatkan dalam bidang industri. Masalah-
masalah ruwet yang memerlukan “OR Tim” ini antara lain di bidang
transportasi dan komunikasi.
Kehadiran teknologi komputer, membuat prosedur OR lebih
diformasikan menjadi aliran IImu Manajemen Modern. Pengembangan
model-model dalam memecahkan masalah-masalah manajemen yang
kompleks.Adanya bantuan komputer, maka dapat memberi pemecahan
masalah yang lebih berdasar rasional kepada paramanajer dalam membuat
putusan-putusannya. Teknik-teknik ilmu manajemen ini membantu para
manajer organisasi dalam berbagai kegiatan penting, seperti dalam haL
penganggaran modal, manajemen cash flow, penjadwalan produksi, strategi
pengembangan produksi, perencanaan sumber daya manusia dan sebagainya.
Aliran ini juga memiliki kelemahan karena kurang memberi perhatian kepada
hubungan manusia.
Oleh karena itu sangat cocok untuk bidang perencanaan dan
pengendalian, tetapi tidak dapat menjawab masalah-masalah sosial individu
sepertimotivasi, organisasi dan kepegawaian.Konsep dari aliran ini

24
sebenarnya sukar dipahami oleh para manajer karena dapat menyangkut
kuantitatif sehingga para manajer itu merasa jauh dan tidak terlibat dengan
penggunaan teknik-teknik ilmu manajemen yang sangat ilmiah dan kompleks.

C. Latihan dan Soal


Jawablah pertanyaan berikut ini:
1. Coba saudara jelaskan apa yang saudara ketahui tentang manajemen dan
seberapa penting ilmu manajemen dalam suatu organisasi/perusahaan?
2. Coba saudara jelaskan dengan singkat keempat fungsi dari manajemen?
3. Coba saudara jelaskan apa yang terjadi jika fungsi manajemen tidak optimal
dilaksanakan oleh seorang pemimpin organisasi/perusahaan?
4. Menurut saudara, apakah ilmu manajemen saat ini masih diperhitungkan?
Jelaskan.

D. Daftar Pustaka
John M. Echols dan Hasan Shadaly, Kamaus Bahasa Inggris Indonesia, (Jakarta:
PT. Gramedia, 1992), hlm. 372
T. Hani Handoko, Manajemen, (Yogyakarta: BPFE, 1995), hlm. 21
Soebagio Admodinata, Manajemen Pendidikan di Indonesia, (Jakarta: Ardya
Jaya, 2000), hlm. 228
Malayu SP. Hasibuan, Manajemen Sumber Daya Manusia, (Jakarta: CV. Haji
Masagung,1994), hlm. 3
Malayu S. P. Hasibuan, Manajemen Sumber Daya Manusia, hlm. 1-2

M. Ngalim Purwanto, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, (Bandung: Remaja


Rosdakarya, 2008), Cet. XVIII, hlm. 7

Henry L. Sisk, Principles of Management (Ohio, South-Western Publishing


Company, 1969), hlm. 10

Materi ini dapat diakses pada http://data.bmkg.go.id/share/Dokumen/modul%208-


11.pdf

25