Anda di halaman 1dari 16

REFERAT

INDUKSI PERSALINAN

Pembimbing:

dr. H. Agus Pribadi Sp.OG

Disusun oleh:

Nisrina Nurul Insani

1102014196

KEPANITERAAN KLINIK OBSTETRI DAN GINEKOLOGI

RUMAH SAKIT BHAYANGKARA TK. I RADEN SAID SUKANTO

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI


BAB 1

PENDAHULUAN

1. Persalinan
1.1. Pengertian persalinan

Persalinan adalah rangkaian proses yang berakhir dengan pengeluaran hasil konsepsi oleh
ibu. Proses ini dimulai dengan kontraksi persalinan yang ditandai dengan perubahan progresif
pada serviks dan diakhiri dengan kelahiran plasenta (Varney, 2004). Pada kondisi normal
proses kehamilan akan diakhiri dengan proses persalinan. Kehamilan mempunyai batas waktu
tersendiri yang ditentukan oleh kemampuan uterus untuk meregang, perubahan hormon
progesteron yang menurun, peningkatan produksi hormon oksitosin, peningkatan hormon
prostaglandin, dan pengaruh dari hipotalamus.

1.2. Fisiologi persalinan

Faktor pencetus timbulnya persalinan masih belum diketahui sampai saat ini. Perubahan
hormon yang bekerja saat kehamilan merupakan salah satu faktor yang diduga menimbulkan
dimulainya persalinan. Kadar hormon estrogen meningkat seiring bertambahnya usia
kehamilan. Hal tersebut berakibat meningkatnya aktivitas miometrium dan mematangkan
serviks. Estrogen juga mempunyai peran dalam produksi dan penyimpanan prostaglandin di
dalam desidua diantara membrane dan dinding uterus. Prostaglandin bekerja meningkatkan
aktivitas uterus dan pematangan serviks. Prostaglandin meningkatkan efek oksitosin.
Oksitosin tidak memuncak pada saat persalinan, tetapi pelepasan prostaglandin pada
permulaan persalinan memungkinkan oksitosin bereaksi. Oksitosin meningkatkan kerja sel
otot polos dan memperlambat konduksi aktivitas elektrik sehingga mendorong serat-serat otot
berkontraksi. Prostaglandin memperkuat efek oksitosin, menimbulkan kontraksi menjadi
lebih sering dan lebih kuat. Ketika miometrium berkontraksi, kontraksi tersebut
menghasilkan tekanan pada dinding uterus. Tekanan tersebut ditransmisikan ke serviks. Jika
serviks telah teregang, bentuk serviks akan berubah.
Pada awal persalinan, tekanan dinding uterus mengakibatkan penipisan dan kemudian
menyebabkan dilatasi. Apabila jaringan serviks telah menipis dan tidak terdeteksi dengan

2
pemeriksaan klinis, hal tersebut berarti dilatasi penuh. Dilatasi penuh atau pembukaan
lengkap terjadi pada akhir kala I dan mulainya kala II persalinan. Pada kala I persalinan
terdapat dua fase yaitu fase laten dan fase aktif. Serviks menipis pada fase laten dan
berdilatasi pada fase aktif. Fase laten dimulai pada awal persalinan dan berakhir pada dilatasi
serviks sekitar tiga sentimeter. Fase aktif dimulai antara dilatasi tiga sentimeter sampai penuh
(Friedman, 1967 dalam Henderson & Jones, 1997).

Kemajuan persalinan tergantung pada interaksi dari tiga variable yaitu power (tenaga),
passage (jalan lahir), passenger (janin). Power (tenaga) paling banyak mendapat perhatian.
Kontraksi uterus akibat peningkatan aktivitas oksitosin menimbulkan power (tenaga) yang
baik untuk persalinan. Kondisi power (tenaga) yang kurang baik dapat menimbulkan
gangguan dalam persalinan (distocia). Selain itu passager (jalan lahir) juga mempunyai peran
penting dalam persalinan. Kondisi tulang panggul dan panggul lunak dapat mempengaruhi
persalinan berjalan lancar ataupun mengalami gangguan persalinan (distocia). Salah satu
tindakan untuk mengatasi distocia yang disebabkan gangguan pada faktor power dan passage
adalah dengan tindakan induksi persalinan.

3
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2. Induksi persalinan
2.1.Pengertian induksi persalinan
Induksi persalinan adalah usaha agar persalinan mulai berlangsung sebelum atau
sesudah kehamilan cukup bulan dengan jalan merangsang timbulnya his atau suatu
tindakan untuk memulai persalinan, baik secara mekanik ataupun secara kimiawi
(farmakologik).3
Pengertian induksi persalinan menurut Cuningham (2001) yaitu terjadinya kontraksi
uterus disebabkan oleh pengaruh hormone-hormon (adenosine triphospate, estrogen dan
progesterone) dan meningkatnya kadar beberapa elektrolit seperti kalsium, sodium dan
potassium, kontraksi protein yang spesifik (actin dan myosin), ephinephrine dan
norephinephrine, oxytocin dan prostaglandin. Berdasarkan pengertian tersebut dapat
diambil kesimpulan bahwa induksi persalinan adalah upaya memfasilitasi persalinan
pervaginam dengan cara menimbulkan kontraksi uterus sebelum tanda dan gejala
persalinan terjadi. Induksi persalinan dilakukan sebelum tanda dan gejala persalinan
terjadi, sedangkan pada akselerasi tanda dan gejala persalinan telah terjadi.

Persalinan induksi merupakan tindakan yang banyak dilakukan untuk mempercepat


proses persalinan. Persalinan induksi dengan menambah kekuatan dari luar tidak boleh
merugikan ibu dan janinnya dalam usaha menuju well born baby dan well health mother,
sehingga diperlukan indikasi yang tepat, waktu yang baik, dan disertai evaluasi yang
cermat. Disamping itu, untuk menanggapi atau menghadapi komplikasi dan tindakan lebih
lanjut, induksi persalinan harus dilakukan di rumah sakit yang memiliki fasilitas tindakan
operasi.
Tujuan tindakan tersebut ialah mencapai his 3 kali dalam 10 menit, lamanya 40 detik.
2.2.Tujuan induksi persalinan

Tujuan melakukan induksi antara lain :


a. Mengantisipasi hasil yang berlainan sehubungan dengan kelanjutan kehamilan

4
b. Untuk menimbulkan aktifitas uterus yang cukup untuk perubahan serviks dan
penurunan janin tanpa menyebabkan hiperstimulasi uterus atau komplikasi janin
c. Agar terjadi pengalaman melahirkan yang alami dan seaman mungkin dan
memaksimalkan kepuasan ibu.

2.3.Indikasi induksi persalinan

Induksi diindikasikan apabila manfaat bagi ibu atau janin melebihi manfaat apabila
persalinan dibiarkan berlanjut. Spektrum indikasi mutlak untuk induksi antara lain keadaan-
keadaan darurat, misalnya pecah ketuban disertai korioamnionitis atau preeklamsia berat. Juga
terdapat beberapa indikasi relative yang mungkin mirip induksi elektif.1
Keadaan-keadaan yang di indikasikan untuk induksi persalinan antara lain:
1. Ibu hamil tidak merasakan adanya kontraksi atau his. Padahal kehamilannya sudah
memasuki tanggal perkiraan lahir bahkan lebih (sembilan bulan lewat).
2. Induksi juga dapat dilakukan dengan alasan kesehatan ibu, misalnya ibu menderita tekanan
darah tinggi, terkena infeksi serius, atau mengidap diabetes.
3. Ukuran janin terlalu kecil, bila dibiarkan terlalu lama dalam kandungan diduga akan
beresiko atau membahayakan hidup janin.
4. Membran ketuban pecah sebelum ada tanda-tanda awal persalinan.
5. Plasenta keluar lebih dahulu sebelum bayi.
Untuk dapat melakukan induksi persalinan perlu dipenuhi beberapa kondisi dibawah ini, yaitu:
1. Sebaiknya serviks uteri sudah matang, yakni serviks sudah mendatar dan menipis dan
sudah dapat dilalui oleh sedikitnya 1 jari, serta sumbu serviks mengarah ke depan.
2. Tidak ada disproporsi sefalopelvik (CPD).
3. Tidak terdapat kelainan letak janin yang tidak dapat dibetulkan.
4. Sebaiknya kepala janin sudah mulai turun ke dalam rongga panggul.
Apabila kondisi-kondisi di atas tidak terpenuhi maka induksi persalinan mungkin tidak
memberikan hasil yang diharapkan. Untuk menilai keadaan serviks dapat dipakai skor bishop.
Bila nilai lebih dari 9 induksi persalinan kemungkinan akan berhasil.2
Indikasi lain adalah pada kasus ketuban pecah dini (KPD) atau ketuban pecah sebelum
waktunya. KPD merupakan peristiwa dimana ketuban pecah tidak diikuti tanda dan gejala
persalinan. Pecahnya ketuban sebelum waktunya dapat mengakibatkan resiko infeksi pada

5
janin dan ibu. Kondisi tersebut tidak dapat dibiarkan begitu saja. Pemantauan terhadap suhu
tubuh ibu setiap tiga jam untuk menentukan adanya infeksi perlu dilakukan. Klien tidak
dianjurkan untuk berjalan-jalan walaupun hanya di sekitar ruang perawatan. Kondisi asfiksia
intra uterin dapat terjadi apabila terdapat talipusat menumbung. Mengingat kondisi ketuban
pecah dini tersebut dapat membahayakan bagi janin dan ibu maka persalinan harus segera
dilakukan dimulai dengan induksi persalinan apabila kondisi ibu dan janin masih dalam batas
normal.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Heliani, Wijayanegara dengan judul


penelitian tinjuan kasus persalinan dengan ketuban pecah dini (KPD) di rumah sakit Hasan
Sadikin Bandung pada tanggal 1 Januari 1998 sampai 31 Desember 2000 didapatkan hasil bahwa
angka kejadian ketuban pecah dini (KPD) selama tiga tahun terdapat peningkatan 8,3 % pertahun.

Selain itu, dari penelitian tersebut ditemukan bahwa pada ketuban pecah sebelum
waktunya dapat terjadi kontraksi spontan yang jauh lebih besar bila dibandingkan induksi
persalinan. Walaupun hasil penelitian tersebut menunjukkan perbandingan angka kejadian
kontraksi spontan lebih besar dari induksi persalinan, namun mengingat bahaya yang ditimbulkan
akibat ketuban pecah sebelum waktunya diantaranya adalah infeksi maka usaha untuk mengakhiri
kehamilan dengan induksi persalinan menjadi pilihan utama pada saat ini. Apalagi seperti
diketahui bersama bahwa penyebab kematian ibu dan bayi terbesar di Indonesia adalah infeksi,
maka upaya pencegahan kematian akibat infeksi segera harus dilakukan.

6
2.4. Kontraindikasi induksi persalinan
Menurut May dan Mahlmeister (1990) kontra indikasi induksi persalinan diantaranya
didasarkan pada kondisi ibu dan janin.
Kontra indikasi menurut ibu adalah:

(1) riwayat trauma pada uterus

(2) abnormalitas dari uterus, vagina atau panggul

(3) adanya plasenta previa atau dugaan obrupsio placenta

(4) adanya herpes type II dalam traktus genetalis

(5) grandemultipara

(6) overdistensi dari uterus yaitu pada kehamilan ganda atau polyhydramnion

(7) adanya carcinoma servikal.

Adapun kontra indikasi induksi persalinan berdasarkan dari faktor janin adalah:

(1) kelainan letak janin (lintang atau bokong)

(2) berat badan bayi rendah

(3) adanya fetal distress.

2.5. Pematangan serviks prakinduksi

Kondisi atau kelayakan (favorability) serviks sangat penting bagi induksi


persalinan. Pada banyak kasus, teknik induksi yang dipilih bergantung pada perkiraan
kemungkinan persalinan. Karakteristik serviks dan segmen bawah uterus merupakan
factor yang sangat penting. Ketinggian bagian terbawah janin, atau station, juga
penting. Salah satu metode yang yang dapat dikuantifikasi dan bersifat prediktif
terhadap keberhasilan induksi persalinan adalah metode yang dijelaskan oleh Bishop.
Parameter skor Bishop adalah

1. Pembukaan (Dilatation).
2. Pendataran (Effacement).
3. Penurunan kepala janin (Station).

7
4. Konsistensi (Consistency)
5. Posisi ostium uteri (Position)
Induksi ke persalinan aktif biasanya berhasil pada skor 9 atau lebih dan kurang berhasil pada
skor di bawahnya.
Tabel 1. Skor Bishop

TABEL SKOR BISHOP


SKOR 0 1 2 3
Pembukaan 0 1–2 3–4 5–6
Pendataan 0 – 30% 40 – 50% 60 – 70% 80%
Station -3 -2 -1 +2 +2
Konsistensi Keras Sedang Lunak Amat Lunak
Posisios Posterior Tengah Anterior Anterior
CARA PEMAKAIAN :
Tambah 1 angka untuk : Kurangi 1 angka untuk :
Post date
Preklamsia
Nullipara Ketubannegatif/lama
Setiap normal partus
BilaSkor KEMUNGKINAN
Total : BERHASIL GAGAL
0–4 50 – 60% 40 – 50%
5–9 90% 10%
10 – 13 100% 0%
Sumber : EGC,2012

2.6. Metode induksi persalinan


2.6.1. Teknik farmakologis
a. Prostaglandin E2
Aplikasi local gel prostaglandin E2 (dinoproston) banyak digunakan untuk
mematangkan serviks. Perubahan histologis yang terjadi mencakup pelarutan
serabut kolagen dan peningkatan kandungan air submukosa. Perubahan-perubahan
pada jaringan ikat serviks aterm ini serupa dengan yang ditemukan pada awal
persalinan.

8
Prostaglandin adalah senyawa yang mengandung 20 atom karbon yang
dibentuk oleh kerja enzim sintase prostaglandin yang terdapat pada kebanyakan sel.
Prostaglandin E1, E2, dan F2a dikeluarkan dari sel-sel desidua dan miometrium.
Prostaglandin bekerja pada reseptor khusus untuk mengganggu atau menghambat
pekerjaan adenil siklase selanjutnya menghambat pembentukan cAMP (adenosine
3’5’ siklik monofosfat) sampai menimbulkan perubahan pada tonus otot polos dan
pengaturan kerja hormon
Proses pematangan serviks yang dipicu oleh prostaglandin sering mencakup
inisiasi persalinan. Pemakaian prostaglandin E2 dosis rendah meningkatkan
kemungkinan keberhasilan induksi, mengurangi insidensi persalinan yang
berkepanjangan, dan mengurangi dosis oksitosin maksimal dan total.
Prostaglandin E2 tersedia dalam bentuk intraservikal dengan dosis 0,3-0,5
mg dan intravaginal 3-5 mg. Rute intraservikal memiliki keunggulan berupa tidak
banyak meningkatkan aktivitas uterus dan efektivitasnya lebih besar pada wanita
yang serviksnya sangat tidak matang. Sedangkan keunggulan preparat sisip vagina
yaitu obat sisipan ini dapat dikeluarkan apabila terjadi hiperstimulasi.
Skor bishop 4 atau kurang dianggap menunjukkan serviks yang tidak layak
sehingga merupakan indikasi pemberian prostaglandin E2 untuk pematangan
serviks. Persyaratan lain untuk pasien yang akan menggunakan prostaglandin E2
antara lain pasien tidak boleh dalam keadaan demam atau mengalami perdarahan
pervaginam, denyut jantung janin yang baik, belum ada his yang regular (tiap 5
menit atau kurang). Pemberian dianjurkan dekat atau di kamar bersalin, tempat
dimana dapat dilakukan pemantauan kontinu atas aktifitas uterus dan frekuensi
denyut jantung janin. Pasien diharapkan tetap dalam posisi terlentang sekurang-
kurangnya selama 30 menit dan kemudian boleh dipindahkan bila tidak ada his.

Permulaan timbulnya his biasanya tidak teratur dan jarang, serupa dengan
persalinan spontan. Variasi yang berbeda dari his dapat diterangkan atas dasar
perbedaan respon individual, paritas, dosis, absorbsi, ukuran serviks semula dan
keadaan selaput ketuban. His biasanya jelas dalam 1 jam pertama, mencapai
aktivitas puncak dalam 4 jam pertama, dan memulai partus pada lebih kurang
separuh jumlah kasus (berkisar 25-76 %). Bilamana ada his yang teratur,
monitoring elektronik diteruskan dan tanda-tanda vital ibu harus direkam
sekurangnya setiap jam selama 4 jam pertama.

9
Interval waktu antara pemberian jeli prostaglandin dengan memulai
oksitosin belum dapat ditentukan. Pengaruh prostaglandin E2 bisa berlebihan
dengan oksitosin, jadi harus ada waktu observasi sekurangnya 4-6 jam setelah
pemberian jeli prostaglandin. Bila terjadi perubahan serviks atau his yang tidak
memadai, pilihan lain bisa diberikan prostaglandin E2 dosis kedua. Bila setelah seri
kedua tidak terjadi kontraksi yang tidak memadai untuk persalinan, atau tidak
tercapai skor Bishop >5 maka induksi dianggap gagal. Langkah yang dilakukan
adalah sesar berencana/ elektif (bila tidak ada kegawatan ibu atau janin) atau sesar
segera (bila ada kegawatan). Efek samping dari pemberian prostaglandin E2 adalah
hiperstimulasi (6 atau lebih kontraksi dalam 10 menit untuk total 20 menit) pada 1
% untuk gel intraservikal dan 5 % untuk gel intravaginal.1

b. Prostaglandin E1

Misoprostol (cytotec) adalah prostaglandin E1 sintetik dan saat ini


tersedia dalam sediaan tablet 100 µg untuk mencegah ulkus peptikum. Obat ini
digunakan ‘off label’ (tidak diindikasikan secara resmi) sebagai pematangan
serviks prainduksi dan induksi persalinan.

Penggunaan misoprostol tidak direkomendasikan pada pematangan


serviks atau induksi persalinan pada wanita yang pernah mengalami persalinan
dengan seksio sesaria atau operasi uterus mayor karena kemungkinan terjadinya
ruptur uteri. Wanita yang diterapi dengan misoprostol untuk pematangan
serviks atau induksi persalinan harus dimonitor denyut jantung janin dan
aktivitas uterusnya di rumah sakit sampai penelitian lebih lanjut mampu
mengevaluasi dan membuktikan keamanan terapi pada pasien. Uji klinis
menunjukkan bahwa dosis optimal dan pemberian interval dosis 25 mcg
intravagina setiap empat sampai enam jam. Dosis yang lebih tinggi atau interval
dosis yang lebih pendek dihubungkan dengan insidensi efek samping yang lebih
tinggi, khususnya sindroma hiperstimulasi, yang didefinisikan sebagai
kontraksi yang berakhir lebih dari 90 detik atau lebih dari lima kontraksi dalam
10 menit selama dua periode .10 menit berurutan, dan hipersistole, suatu
kontraksi tunggal selama minimal dua menit.1

c. Induksi Persalinan dengan Oksitosin

10
Oksitosin adalah sebuah oktipeptida dengan waktu paruh 3-4 menit dan
durasi kerja kurang lebih 20 menit. Mekanisme kerja bahan ini dalam
memudahkan kontraksi otot polos tidak sepenuhnya diketahui, tetapi
diperkirakan obat ini mengikat reseptor-reseptor pada selaput sel-sel
miometrium tempat cAMP akhirnya terbentuk untuk kenaikan yang bergantung
kepada dosis dalam amplitude dan frekuensi kontraksi rahim.
Target pencepatan atau induksi partus adalah terjadinya kontraksi rahim
setiap 2-3 menit yang berlangsung kurang lebih selama 45-60 detik. Oksitosin
diberikan secara titrasi larutan 5 IU dalam larutan kristaloid intravena, dengan
kecepatan tetesan dimulai 8 tetes/menit dan ditingkatkan setiap 15 menit dengan
4 tetes/menit, sampai maksimal 40 tetes/menit.
Selama proses pemacuan maupun induksi ini, semua proses pemantauan dilakukan
dengan baik. Bila his sudah memadai untuk tahap persalinan tertentu, maka tetesan
dipertahankan dan tidak perlu ditingkatkan lagi. Bila tidak terjadi kontraksi yang berarti
setelah pemberian 2 botol larutan oksitosin maka induksi dianggap gagal dan pasien disiapkan
untuk sesar. Demikian juga jika 2 jam his baik,tetapi tidak ada kemajuan persalinan, dilakukan
tindakan sesar.
Penilaian kemajuan persalinan didasarkan pada 3 kriteria (namun cukup 1 unsur saja
yang perlu untuk menilai kemajuan persalinan), yakni :
-
Pembukaan serviks
-
Penurunan kepala janin
-
Perputaran kepala janin. 3

2.6.2. Teknik mekanis


a. Dilator Serviks Higroskopis
Inisiasi pembukaan serviks dengan dilator serviks osmotic higroskopik telah
lama diterima sebagai metode yang efektif sebelum dilakukan terminasi kehamilan.
Pada induksi persalinan dengan janin hidup, masih sedikit informasi yang ada mengenai
dilator higroskopik untuk memperbaiki serviks yang belum matang.
Dilator higroskopik secara cepat memperbaiki status serviks. Namun, yang
penting adalah tidak ada efek menguntungkan terhadap angka seksio sesarea atau
interval pemberian sampai pelahiran.1

11
Gambar 1. Dilator Serviks Higroskopis

b. Pelucutan Selaput Ketuban (Stripping of the membranes)


Induksi persalinan dengan melucuti atau menyisir selaput ketuban merupakan
praktik relative yang sering dilakukan. Pelucutan dilakukan dengan memasukkan
telunjuk sejauh mungkin melalui os internal dan membuat putaran dua kali sebesar 360
derajat untuk memisahkan selaput ketuban dari segmen bawah uterus.

Stripping of the membranes dapat meningkatkan aktivitas fosfolipase A2 dan


prostaglandin F2α (PGF2 α) dan menyebabkan dilatasi serviks secara mekanis yang
melepaskan prostaglandin. Stripping pada selaput ketuban dilakukan dengan
memasukkan jari melalui ostium uteri internum dan menggerakkannya pada arah
sirkuler untuk melepaskan kutub inferior selaput ketuban dari segmen bawah rahim.
Risiko dari teknik ini meliputi infeksi, perdarahan, dan pecah ketuban spontan serta
ketidaknyamanan pasien. Telaah Cochrane menyimpulkan bahwa stripping of the
membrane saja tidak menghasilkan manfaat klinis yang penting, tapi apabila digunakan
sebagai pelengkap, tampaknya berhubungan dengan kebutuhan dosis oksitosin rata-rata
yang lebih rendah dan peningkatan rasio persalinan normal pervaginam.1

12
Gambar 2. Stripping of the membranes

c. Insersi Kateter Foley


Insersi Foley Chateter intrauterine, yakni dengan memasukan Foley catheter no
24 atau no 26 ke dalam kavum uteri (sebelah bawah) kemudian balon diisi sebanyak
40-50cc lalu dibiarkan selama 12-24 jam. Setelah itu jika skor Bishop > 5 dapat
dilanjutkan dengan drip Oksitosin. Teknik ini banyak digunakan untuk mengakhiri
kehamilan yang mengalami komplikasi seperti preeklamsia berat atau eklamsi.1

Gambar 3. Insersi Kateter Foley

d. Amniotomi

13
Amniotomi adalah pemecahan selaput ketuban secara artificial. Amniotomi sering digunakan
untuk induksi atau augmentasi persalinan, indikasi lainnya adalah untuk pemantauan internal
frekuensi denyut jantung janin secara elektronik apabila persalinan kurang memuaskan.
Amniotomi elektif untuk mempercepat persalinan spontan atau mendeteksi mekonium juga
dapat diterima dan sering dipraktekkan. Kerugian utama amniotomi apabila digunakan secara
tunggal untuk induksi persalinan adalah interval yang tidak dapat diperkirakan dan kadang
berkepanjangan sampai timbulnya kontraksi. Amniotomi dini menyebabkan durasi persalinan
yang secara bermakna lebih singkat , tetapi terjadi insidensi korioamnionitis dan pola
pemantauan penekanan tali pusat.1

Gambar 4. Amniotomi

14
Skema Dasar Tatalaksana Induksi Persalinan.3

15
DAFTAR PUSTAKA

Cuningham,F Gary. Obstetri Williams edisi 21.USA : McGRAW-HILL. 2001


Prawiroharjo, Sarwono. Ilmu Kebidanan edisi ketiga cetakan ke delapan. Jakarta : Yayasan
Bina Pustaka. 2006
Achadiat, Crisdiono. Prosedur Tetap Osbtetri dan Ginekologi. Jakarta : EGC. 2003

16