Anda di halaman 1dari 33

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ..........................................................................................................................


BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................................... 1
A. Latar Belakang Masalah .................................................................................... 1
B. Identifikasi Masalah ........................................................................................... 3
C. Batasan Masalah ................................................................................................. 3
D. Rumusan Masalah .............................................................................................. 3
E. Tujuan Penelitian ............................................................................................... 4
F. Manfaat penelitian ............................................................................................. 4
BAB II LANDASAN TEORI ............................................................................................... 5
A. Deskripsi Teori ................................................................................................... 5
B. Penelitian yang Relevan ................................................................................... 17
C. Kerangka Berpikir ........................................................................................... 17
BAB III METODE PENELITIAN .................................................................................... 19
A. Lokasi Penelitian .............................................................................................. 19
B. Waktu Penelitian .............................................................................................. 19
C. Bentuk Penelitian ............................................................................................. 19
D. Sumber Data Penelitian ................................................................................... 19
E. Teknik Pengumpulan Data .............................................................................. 20
F. Teknik Cuplikan atau Sampling ..................................................................... 21
G. Validasi Data ..................................................................................................... 21
H. Teknik Analisis Data ........................................................................................ 22
BAB IV PEMBAHASAN DAN ANALISIS ...................................................................... 25
A. Deskripsi Lokasi Penelitian ............................................................................. 25
B. Pokok-Pokok Temuan Penelitian .................................................................... 26
C. Pembahasan atau Analisis ............................................................................... 27
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN .............................................................................. 32
A. Kesimpulan ....................................................................................................... 32
B. Saran .................................................................................................................. 32

BAB I
1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945
(UUD 1945) mengamanatkan bahwa Pemerintah Negara Indonesia harus melindungi
segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan
kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan
ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan
sosial. Dengan demikian, Pemerintah diwajibkan untuk mengusahakan dan
menyelenggarakan suatu sistem pendidikan nasional bagi seluruh warga negara
Indonesia. Sistem pendidikan nasional dimaksud harus mampu menjamin pemerataan
kesempatan dan peningkatan mutu pendidikan, terutama bagi anak-anak, generasi
penerus keberlangsungan dan kejayaan Bangsa dan Negara Kesatuan Republik
Indonesia (NKRI).
Pendidikan memegang peranan yang sangat penting dalam proses peningkatan
kualitas sumber daya manusia dan merupakan suatu proses yang terintegrasi dengan
proses peningkatan kualitas sumber daya manusia itu sendiri. Menyadari pentingnya
proses peningkatan kualitas sumber daya manusia, maka Pemerintah telah berupaya
mewujudkan amanat tersebut melalui berbagai usaha pembangunan pendidikan yang
lebih berkualitas melalui pengembangan dan perbaikan kurikulum dan sistem evaluasi,
perbaikan sarana pendidikan, pengembangan dan pengadaan materi ajar, serta
pelatihan bagi guru dan tenaga kependidikan lainnya.
Pada tanggal 27 Juli 2016, Presiden Republik Indonesia Joko Widodo resmi
mengumumkan perombakan kabinet kerjanya. Pada saat yang bersamaan, Presiden
Joko Widodo juga melantik 13 orang hasil perombakan kabinet (reshuffle) jilid II –
nya tersebut. Salah satu menteri yang mengalami perombakan kabinet tersebut adalah
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anis Baswedan yang digantikan oleh Muhajir
Effendi.
Sebagai langkah awal sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik
Indonesia Muhadjir Effendy mengeluarkan wacana akan diadakan Moratorium Ujian
Nasional dan menggantikannya dengan USBN yang akan diselenggarakan oleh

2
MGMP wilayah Kota dan Kabupaten. Tetapi kenyataannya dalam Sidang Kabinet
tanggal 7 Desember 2016 diputuskan bahwa Moratorium Ujian Nasional yang
diusulkan Menteri Pendidikan ditolak. Penolakan tersebut diumumkan adalah Wakil
Presiden Yusuf Kalla.
Hasil Sidang Kabinet 7 Desember 2016 memutuskan bahwa Moratorium UN
tidak jadi dilaksanakan. Ujian Nasional tetap dilakukan di seluruh wilayah Indonesia,
dengan sedikit penyesuaian. Hasil Rapat Koordinasi Persiapan UN dan USBN
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan selengkapnya memutuskan hal-hal sebagai
berikut :
1. Ujian Nasional tetap dilaksanakan
2. Ujian Sekolah ditingkatkan mutunya menjadi USBN 2017 (Ujian Nasional
Berstandar Nasional) untuk beberapa mata pelajaran
3. Memperluas pelaksanaan berbasis komputer, baik UN maupun USBN

Usaha perbaikkan sistem pendidikan di Indonesia melalui perombakkan


kebijakan mengenai pelaksanaan UN dan USBN oleh Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan Republik Indonesia Muhadjir Effendy ini merupakan bagian dari
reintegrasi pendidikan di Indonesia. Yang mana dalam prosesnya menuju integrasi
sosial, dijumpai pegejolakkan dalam masyarakat akibat dari perubahan yang terlalu
cepat.
Dahulu, soal-soal Ujian Sekolah dibuat oleh guru-guru sekolah yang
bersangkutan sehingga materi ujian yang diberikan dapat disesuaikan. Tetapi,
sekarang harus melalui MGMP kota atau Kabupaten. Ujian Sekolah yang biasanya
hanya mencakup beberapa bab saja, sekarang menjadi keseluruhan bab dari kelas 10
hingga 12 SMA. Hal ini menandakan bahwa USBN ini setingkat seperti UN
walaupun pelaksanaannya dilakukan di daerah.
Penetapan kebijakan USBN ini membuat siswa dan guru menjadi kebingungan
karena selain kebijakan penetapan USBN yang mendadak, persiapan pemerintah dan
sekolah dalam pelaksanaanya juga belum memadai. Menginggat USBN ini akan
dilaksanakan pada tanggal 15 Maret 2016 atau kurang lebih 3 bulan sejak ditetapkan
pada 7 Desember 2016. Siswa dan guru juga harus berusaha menyesuaikan diri
dengan sistem ujian yang baru dalam waktu yang terbilang singkat. Bentuk soal ujian
yang menggabungkan antara bentuk pilihan ganda dan essai serta materi ujian yang

3
banyak membuat siswa terbebani. Hal ini mengindikasikan akan terjadinya
pergejolakkan dalam diri siswa yang berdampak pada terganggunya kondisi
psikologis siswa. Berdasarkan realitas tersebut, kami tertarik untuk melakukan
penelitian mengenai dampak penetapan kebijakkan USBN terhadap psikologis siswa.

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat di identifikasi beberapa
permasalahan antara lain:
1. Penetapan kebijakan USBN membuat siswa dan guru menjadi kebingungan
karena kebijakan penetapan USBN yang mendadak serta persiapan pemerintah
dan sekolah dalam pelaksanaanya belum memadai.
2. Persiapan pelaksanaan USBN yang singkat dan waktu untuk proses peyesuaian
dengan sistem ujian baru yang singkat menjadikan siswa terbebani.

C. Batasan Masalah
Berbagai kompleksitas permasalahan muncul terkait dengan objek yang akan di kaji.
Oleh karena itu, pembatasan masalah perlu dilakukan agar penelitian tidak jauh
menyimpang dengan topik yang akan di kaji. Hal ini dilakukan agar pembahasan
dapat lebih spesifik dan terfokuskan sehingga akan di peroleh suatu kesimpulan yang
terarah pada aspek yang akan diteliti. Adapun batasan masalah pada penelitian ini
adalah pengaruh USBN terhadap psikologis siswa SMA Negeri 1 Tanjungpandan
kelas XII tahun ajaran 2016/2017.

D. Rumusan Masalah
1. Bagaimana penilaian siswa terhadap tingkat keefektivan pelaksanaan USBN?
2. Bagaimana pengaruh penetapan kebijakan USBN terhadap psikologis siswa?
3. Bagaimana dampak perubahan psikologis siswa akibat penetapan kebijakan
USBN terhadap tingkat kepercayaan diri siswa akan kelulusannya?

E. Tujuan Penelitian
1. Mengetahui penilaian siswa terhadap tingkat keefektivan pelaksanaan USBN
2. Mengetahui pengaruh penetapan kebijakan USBN terhadap psikologis siswa

4
3. Mengetahui dampak perubahan psikologis siswa akibat penetapan kebijakan
USBN terhadap tingkat kepercayaan diri siswa akan kelulusannya

F. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian yang mengangkat tema tentang pengaruh USBN terhadap psikologis
siswa SMA Negeri 1 Tanjungpandan kelas XII tahun ajaran 2016/2017, diharapkan
dapat memberikan manfaat bagi semua pihak. Adapun kegunaan penelitian ini adalah
sebagai berikut:
1. Manfaat Teoritis
a. Penelitian ini diharapkan mampu menambah informasi serta dapat
juga sebagai bahan referensi yang berkaitan dengan pengaruh USBN
terhadap psikologis siswa SMA Negeri 1 Tanjungpandan kelas XII
tahun ajaran 2016/2017
b. Penelitian ini dapat dijadikan penelitian yang relevan bagi penelitian-
penelitian selanjutnya.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Sekolah
Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai sarana acuan dalam
meningkatkan dan menambah wawasan mengenai pengaruh USBN
terhadap psikologis siswa SMA Negeri 1 Tanjungpandan kelas XII
tahun ajaran 2016/2017
b. Bagi Peneliti
Menambah pengetahuan dan pengalaman peneliti mengaplikasikan
ilmu pengetahuan yang didapat selama pembelajaran materi “Konflik
sosial dan Integrasi Sosial” ke dalam karya nyata.
c. Bagi Masyarakat Umum
Diharapkan dapat menambah pengetahuan dan memberikan
informasi yang luas mengenai pengaruh USBN terhadap psikologis
siswa SMA Negeri 1 Tanjungpandan kelas XII tahun ajaran 2016.

BAB 2
LANDASAN TEORI

5
A. Deskripsi Teori
1. Pendidikan
1.1 Pengertian
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pendidikan berasal dari kata
dasar didik (mendidik), yaitu memelihara dan memberi latihan (ajaran,
pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran.
Sedangkan pendidikan mempunyai pengertian yaitu proses pengubahan
sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha
mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan, proses
perbuatan, cara mendidik.
Ki Hajar Dewantara, sebagai Tokoh Pendidikan Nasional Indonesia,
peletak dasar yang kuat pendidkan nasional yang progresif untuk generasi
sekarang dan generasi yang akan datang merumuskan pengertian
pendidikan sebagai berikut : Pendidikan umumnya berarti daya upaya
untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter),
pikiran (intelektual dan tubuh anak); dalam Taman Siswa tidak boleh
dipisahkan bagian-bagian itu agar supaya kita memajukan kesempurnaan
hidup, kehidupan, kehidupan dan penghidupan anak-anak yang kita didik,
selaras dengan dunianya (Ki Hajar Dewantara, 1977:14).
Dari etimologi dan analisis pengertian pendidikan di atas, secara
singkat pendidikan dapat dirumuskan sebagai tuntunan pertumbuhan
manusia sejak lahir hingga tercapai kedewasaan jasmani dan rohani, dalam
interaksi dengan alam dan lingkungan masyarakatnya.
Pendidikan merupakan proses yang terus menerus, tidak berhenti. Di
dalam proses pendidikan ini, keluhuran martabat manusia dipegang erat
karena manusia (yang terlibat dalam pendidikan ini) adalah subyek
dari pendidikan. Karena merupakan subyek di dalampendidikan, maka
dituntut suatu tanggung jawab agar tercapai suatu hasil pendidikan yang
baik.Jika memperhatikan bahwa manusia itu sebagai subyek
dan pendidikan meletakkan hakikat manusia pada hal yang terpenting,
maka perlu diperhatikan juga masalah otonomi pribadi.Maksudnya adalah,

6
manusia sebagai subyek pendidikan harus bebas untuk “ada” sebagai
dirinya yaitu manusia yang berpribadi, yang bertanggung jawab.
Hasil dari pendidikan tersebut yang jelas adalah adanya perubahan
pada subyek-subyek pendidikan itu sendiri.Katakanlah dengan bahasa
yang sederhana demikian, ada perubahan dari tidak bisa menjadi bisa, dari
tidak mengerti menjadi mengerti. Tetapi perubahan-perubahan yang terjadi
setelah proses pendidikan itu tentu saja tidak sesempit itu. Karena
perubahan-perubahan itu menyangkut aspek perkembangan jasmani dan
rohani juga.
Melalui pendidikan manusia menyadari hakikat dan martabatnya di
dalam relasinya yang tak terpisahkan dengan alam lingkungannya dan
sesamanya.Itu berarti, pendidikan sebenarnya mengarahkan manusia
menjadi insan yang sadar diri dan sadar lingkungan.Dari kesadarannya itu
mampu memperbarui diri dan lingkungannya tanpa kehilangan
kepribadian dan tidak tercerabut dari akar tradisinya.

1.2 Tujuan Pendidikan


Tujuan merupakan sebuah faktor yang sangat penting dalam setiap
kegiatan, termasuk kegiatan pendidikan. Cita – cita atau tujuan yang ingin
di capai harus jelas sehingga semua pelaksanaan dan sasaran pendidikan
memahami atau mengetahui suatu proses kegiatan seperti pendidikan, bila
tidak memiliki sebuah tujuan yang jelas maka proses nya akan kabur.
Dalam UU. No. 2 tahun 1985, tujuan pendidikan yaitu mencerdaskn
kehidupn bangsa dan mengembangkan manusia yang seutuhnya yaitu yang
beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti
luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan
rohani, kpribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab
kemasyarakatn dan bangsa.
MPRS No. 2 Thn 1960 yang berbunyi tujuan pendidikan ialah
membentuk manusia pancasilais sejati berdasarkan ketentuan-ketentuan
yang dikehendaki oleh pembukaan UUD 1945 dan isi UUD 1945.
Tentang tujuan pendidikan, Langeveld membedakan nya menjadi enam
tujuan pendidikan.

7
1. Tujuan Umum
Adalah tujuan yang akan dicapai di akhir proses pendidikan, yaitu
tercapainya kedewasaan jasmani dan rohani anak didik. Maksud
kedewasaan jasmani adalah jika pertumbuhan jasmani sudah
mencapai batas pertumbuhan maksimal, maka pertumbuhan jasmani
tidak akan berlangsung lagi. Kedewasaan rohani yang dimaksud yaitu
peserta didik sudah mampu menolong dirinya sendiri mampu berdiri
sendiri, dan mampu bertanggung jawab atas semua perbuatan nya.
2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus yaitu tujuan tertentu yang hendak dicapai berdasar
usia, jenis kelamin, sifat, bakat, intelegensi, lingkungan sosial budaya,
tahap – tahap perkembangan, tuntunan syarat pekerjaan.
3. Tujuan Tidak Lengkap
Tujuan tidak lengkap yaitu tujuan yang menyangkut sebagian aspek
manusia. Jadi tujuan tidak lengkap ini bagian dari tujuan umum yang
melengkapi perkembangan seluruh aspek kepribadian.
4. Tujuan Sementara
Proses untuk mencapai tujuan umum yang tidak dapat dicapai
sekaligus.karena perlu ditempuh setingkat demi setingkat. Tingkatan
demi tingkatan inilah yang disebut tujuan sementara.
5. Tujuan Intermedier
Yaitu tujuan perantara bagi tujuan lain nya yang pokok. Misalnya
anak dibiasakan anak dibiasakan menyapu halaman maksudnya
supaya kelak ia memiliki rasa tanggung jawab.
6. Tujuan Insidental
Yaitu tujuan yang dicapai pada saat – saat tertentu, yang sifat nya
seketika dan spontan. Misal nya orang tua menegur anak nya agar
berbicara sopan.
Sedangkan Menurut Bloom (dalam Suwarno,2006: 35 – 36 )Tujuan
pendidikan dibagi menjadi tiga yaitu:
a. Domain Kognitif
Yang meliputi kemampuan – kemampuan yang diharapkan dapat
tercapai setelah dilakukan nya proses belajar mengajar.

8
b. Domain Afektif
Yaitu berupa kemampuan untuk menerima, menjawab,
membentuk dan mengarakterisasi.
c. Domain Psikomotor
Terdiri dari kemampuan persepsi, kesiapan dan respon terpimpin.

1.3 Fungsi Pendidikan


Maksud dari pengertian sebuah fungsi pendidikan yaitu Dapat
dirasakan nya atau dimanfaatkannya hasil sebuah pendidikan. Fungsi
utama sebuah pendidikan adalah mengembangkan kemampuan dan
membentuk watak, kepribadian serta peradapan yang bermartabat dalam
hidup dan kehidupan atau dengan kata lain pendidikan berfungsi
memanusiakan manusia agar menjadi manusia yang benar sesuai dengan
norma yang dijadikan landasan nya.
Menurut kurikulum terbaru pada tahun 2012 fungsi pendidikan akan
difokuskan pada tiga fungsi pokok dari pendidikan yaitu : pendidikan
sebagai penegak nilai, pendidikan sebagai sarana pengembang masyarakat,
dan pendidikan sebagai upaya mengembangkan potensi manusia.
 Pendidikan Sebagai Penegak Nilai
Maksudnya yaitu pendidikan memiliki peran penting dalam kaitan
nya nilai – nilai yang ada dalam masyarakat. Dalam hal ini
pendidikan berfungsi sebagai pemelihara serta menjaga tetap
lestarinya nilai – nilai tersebut dalam masyarakat.
 Pendidikan sebagai Pengembang Masyarakat
Pendidikan sebagai pengembang masyarakat maksud nya
pendidikan berperan sebagai peningkat mutu dan kualitas keilmuan
setiap masyarakat. Sebagai contoh kita bisa mengamati peradapan
atau tingkah laku orang sekarang dengan orang dahulu jelas sekali
terlihat perbedaan nya.
 Pendidikan Sebagai Upaya Mengembangkan Potensi Manusia
Dalam hal ini pendidikan diharapkan menciptakan generasi –
generasi penerus yang siap dengan kehidupan yang akan datang.

9
Menurut Horton dan Hunt, lembaga pendidikan berkaitan dengan
fungsi yangnyata(manifes) berikut:
1. Mempersiapkan anggota masyarakat untuk mencari
nafkah.
2. Mengembangkan bakat perseorangan demi kepuasan
pribadi dan bagi kepentingan masyarakat.
3. Melestarikan kebudayaan.
4. Menanamkan keterampilan yang perlu bagi partisipasi
dalam demokrasi.

Menurut para pakar pendidikan Fungsi laten lembaga pendidikan


adalah sebagai berikut:
 Mengurangi pengendalian orang tua.Melalui pendidikan, sekolah
orang tua melimpahkan tugas dan wewenangnya dalam mendidik
anak kepada sekolah.
 Menyediakan sarana untuk pembangkangan.Sekolah memiliki
potensi untukmenanamkan nilai pembangkangan di masyarakat.Hal
ini tercermin dengan adanya perbedaan pandangan antara sekolah
dan masyarakat tentang sesuatu hal, misalnya pendidikan seks dan
sikap terbuka.
 Mempertahankan sistem kelas sosial.Pendidikan sekolah
diharapkan dapat mensosialisasikan kepada para anak didiknya
untuk menerima perbedaan status yang ada dalam
masyarakat.Sekolah juga diharapkan menjadi saluran mobilitas
siswa ke status sosial yang lebih tinggi atau paling tidak sesuai
dengan status orang tuanya.
 Memperpanjang masa remaja.Pendidikan sekolah dapat pula
memperlambat masa dewasa seseorang karena siswa masih
tergantung secara ekonomi pada orang tuanya.

Menurut David Popenoe, ada empat macam fungsi pendidikan yakni sebagai
berikut:

 Transmisi (pemindahan) kebudayaan.


 Memilih dan mengajarkan peranan sosial.

10
 Menjamin integrasi sosial.
 Sekolah mengajarkan corak kepribadian.
 Sumber inovasi sosial.

Berdasarkan penjelasan dan pendapat – pendapat para pakar pendidikan di atas


dapat kita garis besarkan bahwa fungsi pendidikan adalah sebuah manfaat dari
hasil pendidikan yang dapat dirasakan manusia dalam kehidupan sehari – hari.
Secara garis besarnya fungsi pendidikan yaitu mengubah pola pikir manusia
untuk menuju kehidupan yang lebih berkembang. Sebagai mana yang terdapat
dalam UU SPN tahun 2003 yang menyatakan bahwa pendidikan Nasional
berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta
peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan
bangsa.

2. Psikologi
Psikologi berasal dari bahasa Inggris Psychology yang berakar pada
dua kata dari bahasa Yunani, yaitu: psyche yang berarti jiwa dan logos berarti
ilmu. Jadi secara harfiah psikologi berarti ilmu jiwa. Namun menurut
Gerungan dalam Khodijah (2011:1) ilmu jiwa berbeda dengan psikologi dalam
dua hal yaitu:
1. Ilmu jiwa adalah istilah bahasa Indonesai sehari-hari yang dikenal dan
digunakan secara luas, sedangkan psikologi merupakan istilah scientific
(ilmiah).
2. Ilmu jiwa mengandung arti yang lebih luas dari psikologi. Ilmu jiwa
meliputi semua pemikiran, pengetahuan, tanggapan, juga hayalan dan
spekulasi tentang jiwa, sedang psikologi hanya meliputi ilmu pengetahuan
tentang jiwa yang berdasarkan pada kaidah-kaidah ilmiah.

Menurut Jhon Broadus Watton dalam Sumadi (1990:1), “psikologi


adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku lahiriah dengan
menggunakan metode observasi yang objektif seperti rangsangan (stimulus)
dan respon (jawaban) terhadap rangsangan-rangsangan, bukannya

11
mempelajari tentang kesadaran.” Artinya,seseorang akan mempelajari tingkah
laku baik tingkah laku dirinya maupun tingkah laku individu lainnya yang
diamati melalui pengamatan nyata yang ada dilingkungan sekitar berdasarkan
tingkah laku kognitif seperti berpikir, mengingat, mencipta yang muncul
karena adanya rangsangan yang akan muncul jawaban dari tingkah laku
kognitif.

Psikologi menurut beberapa ahli sebagai berikut.


1. Willhelm Wundt dalam Khodijah (2011:2) menyatakan bahwa psikologi
adalah ilmu tentang kesadaran manusia (the science of human
consciouness).Definisi ini sangat membatasi tentang garapan psikologi
karena tidur dan mimpi dianggap bukan sebagai kajian psikologi.
2. Woodworth dan Marquis dalam Khodijah (2011:2) menyatakan bahwa
“psikologi adalah ilmu tentang aktivitas-aktivitas individu mencakup
aktivitas motorik, kognitif, maupun emosional.”
3. Branca dalam Khodijah (2011:2) dalam bukunya yang berjudul Psychology
The Science of Behavior, “mendefinisikan psikologi sebagai ilmu tentang
perilaku.”
4. Sartain dkk dalam Khodijah (2011:2), “psikologi merupakan ilmu tentang
perilaku manusia.”
5. Knight dan Knight dalam Khodijah (2011:3), “psikologi dapat didefinisikan
sebagai suatu study sistematis tentang pengalaman dan perilaku manusia
dan hewan, normal dan abnormal, individu dan sosial.”
6. Menurut Morgan dkk dalam Khodijah (2011:3), “psikologi adalah ilmu
tentang perilaku manusia dan hewan, namun penerapan ilmu tersebut pada
manusia.”Artinya hasil penelitian tentang perilaku hewan pada akhirnya
adalah digunakan untuk kepentingan memahami perilaku manusia.

Dari definisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa psikologi adalah


sebuah ilmu yang mempelajari aktivitas psikis yang tercermin dalam perilaku
manusia dan hewan yang diterapkan untuk mengatasi masalah-masalah yang
dialami oleh manusia.

12
3. Psikologi dalam pendidikan
Kita ketahui bahwa Subjek dan objek pendidikan adalah manusia
(peserta didik).Menurut Khodijah (2011:3), “psikologi adalah sebuah ilmu
yang mempelajari aktivitas-aktivitas atau gejala-gejala psikis yang tercermin
dalam perilaku manusia dan hewan dan aplikasinya untuk mengatasi
problematika-problematika yang dialami oleh manusia.” Setiap peserta didik
memiliki keunikan masing – masing dan berbeda satu sama lain. Oleh karena
itu, kita sebagai guru memerlukan psikologi. Dengan adanya psikologi
memberikan wawasan bagaimana memahami perilaku individu dalam proses
pendidikan dan bagaimana membantu individu agar dapat berkembang secara
optimal serta mengatasi permasalahan yang timbul dalam diri individu (siswa)
terutama masalah belajar yang dalam hal ini adalah masalah dari segi
pemahaman dan keterbatasan pembelajaran yang dialami oleh siswa. Psikologi
dibutuhkan di berbagai ilmu pengetahuan untuk mengerti dan memahami
kejiwaan seseorang.
Psikologi memiliki peran dalam dunia pendidikan baik itu dalam
belajar dan pembelajaran. Pengetahuan tentang psikologi sangat diperlukan
oleh pihak guru atau pendidik, pengajar, pelatih, pembimbing, dan pengasuh
dalam memahami karakteristik kognitif, afektif, dan psikomotorik peserta
didik. Pemahaman psikologis peserta didik oleh pihak guru atau pendidik
memiliki kontribusi yang sangat berarti dalam membelajarkan peserta didik
sesuai dengan sikap, minat, motivasi, aspirasi, dan kebutuhan peserta didik,
sehingga proses pembelajaran di kelas dapat berlangsung secara optimal.
Sesuai ruang lingkup psikologi yang meliputi psikologi umum dan psikologi
khusus. Psikologi umum untuk menyelidiki dan mempelajari prilaku manusia
pada umumnya, yang dewasa, normal, dan beradab. Sedangkan psikologi
khusus mempelajari segi-segi kekhususan dari prilaku manusia berupa
psikologi perkembangan, psikologi pendidikan, psikologi sosial, psikologi
kepribadian, psikologi industri dan psikopatologi (Khodijah, 2011:9).
Pengetahuan tentang psikologi diperlukan oleh dunia pendidikan
karena dunia pendidikan menghadapi peserta didik yang unik dilihat dari segi
karakteristik perilaku, kepribadian, sikap, minat, motivasi, perhatian, persepsi,
daya pikir, inteligensi, fantasi, dan berbagai aspek psikologis lainnya yang

13
berbeda antara peserta didik yang satu dengan peserta didik yang lainnya.
Perbedaan karakteristik psikologis yang dimiliki oleh para peserta didik harus
diketahui dan dipahami oleh setiap guru atau instruktur yang berperan sebagai
pendidik dan pengajar di kelas, jika ingin proses pembelajarannya berhasil.
Indikator lain menurut Prawiradilaga (2012:100), “adanya pengaruh ilmu
psikologi terhadap teknologi pendidikan yaitu adanya model desain
pembelajaran mikro yang menitikberatkan pada proses berpikir seseorang.

Beberapa peran penting psikologi oleh Hakim (2013:1) dalam proses


pembelajaran adalah:
1. Memahami siswa sebagai pelajar, meliputi perkembangannya, tabiat,
kemampuan, kecerdasan, motivasi, minat, fisik, pengalaman,
kepribadian, dan lain-lain.
2. Memahami prinsip – prinsip dan teori pembelajaran.
3. Memilih metode – metode pembelajaran dan pengajaran
4. Menetapkan tujuan pembelajaran dan pengajaran
5. Menciptakan situasi pembelajaran dan pengajaran yang kondusif
6. Memilih dan menetapkan isi pengajaran
7. Membantu peserta didik yang mengalami kesulitan belajar
8. Memilih alat bantu pembelajaran dan pengajaran
9. Menilai hasil pembelajaran dan pengajaran
10. Memahami dan mengembangkan kepribadian dan profesi guru
11. Membimbing perkembangan siswa

Pada hakikatnya teknologi pembelajaran adalah suatu disiplin yang


berkepentingan dengan pemecahan masalah belajar dengan pemecahan
masalah belajar dengan berlandaskan pada serangkaian prinsip dan
menggunakan berbagai macam pendekatan. Masalah belajar itu terdapat
dimana saja, pada siapa saja, dan mengenai apa saja (Miarso, 2011:193).
Serangkaian prinsip yang dijadikan landasan teknologi pembelajaran adalah:
1. Lingkungan kita senantiasa berubah. Perubahan itu ada yang direkayasa,
ada yang dapat diperkirakan, namun sebagian besar tidak dapat kita
ketahui sebelumnya;

14
2. Jumlah penduduk semakin bertambah, meskipun dengan prosentase yang
mengecil. Mereka semua perlu belajar dan belajar itu berlangsung seumur
hidup dan dimana saja, dari mana saja;
3. Sumber-sumber tradisional semakin terbatas karena itu harus
dimanfaatkan sebaik mungkin dan seoptimal mungkin. Kecuali itu harus
pula diciptakan sumber baru, dan didayagunakan sumber yang masih
belum terpakai (idle);
4. Hak setiap pribadi untuk dapat berkembang semaksimal mungkin, selaras
dengan perkembangan masyarakat dan lingkungan;
5. Masyarakat berbudaya teknologi, yaitu teknologi merupakan bagian yang
tertanam (imbedded) dan tumbuh dalam setiap masyarakat dengan kadar
yang berbeda.

Menurut Abimanyu (1996) mengemukakan bahwa peranan psikologi


dalam pendidikan dan pengajaran ialah bertujuan untuk memberikan orientasi
mengenai laporan studi, menelusuri masalah-masalah di lapangan dengan
pendekatan psikologi serta meneliti faktor-faktor manusia dalam proses
pendidikan dan di dalam situasi proses belajar mengajar. Psikologi dalam
pendidikan dan pengajaran banyak mempengaruhi perumusan tujuan
pendidikan, perumusan kurikulum maupun prosedur dan metode-metode
belajar mengajar. Psikologi ini memberikan jalan untuk mendapatkan
pemecahan atas masalah-masalah sebagai berikut.
1. Perubahan yang terjadi pada anak didik selama dalam proses pendidikan.
2. Pengaruh pembawaan dan lingkungan atas hasil belajar.
3. Teori dan proses belajar.
4. Hubungan antara teknik mengajar dan hasil belajar.
5. Perbandingan hasil pendidikan formal dengan pendidikan informal atas
diri individu.
6. Pengaruh kondisi sosial anak didik atas pendidikan yang diterimanya.
7. Nilai sikap ilmiah atas pendidikan yang dimiliki oleh para petugas
pendidikan.
8. Pengaruh interaksi antara guru dan murid dan antara murid dengan murid.

15
9. Hambatan, kesulitan, ketegangan, dan sebagainya yang dialami oleh anak
didik selama proses pendidikan.
10. Pengaruh perbedaan individu yang satu dengan individu yang lain dalam
batas kemampuan belajar.

Psikologi pendidikan yaitu ilmu yang membahas segi-segi psikologi


dalam lapangan pendidikan dimana psikologi pendidikan adalah studi ilmiah
mengenai tingkah laku individu dalam situasi pendidikan. Tujuan psikologi
pendidikan ialah mempelajari tingkah laku manusia dan perubahan tingkah
laku itu sebagai akibat proses dari tangan pendidikan dan berusaha bagaimana
suatu tingkah laku itu seharusnya diubah, dibimbing melalui pendidikan
(Mustaqim, 2010).
Dengan demikian, psikologi pendidikan dapat diartikan sebagai salah satu
cabang psikologi yang secara khusus mengkaji perilaku individu dalam
konteks situasi pendidikan dengan tujuan untuk menemukan berbagai fakta,
generalisasi dan teori-teori psikologi berkaitan dengan pendidikan, yang
diperoleh melalui metode ilmiah tertentu, dalam rangka pencapaian efektivitas
proses pendidikan.

Muhibbin Syah (2003:33) mengatakan bahwa “diantara pengetahuan-


pengetahuan yang perlu dikuasai guru dan calon guru adalah pengetahuan
psikologi terapan yang erat kaitannya dengan proses belajar mengajar peserta
didik” Dengan memahami psikologi pendidikan, seorang guru melalui
pertimbangan – pertimbangan psikologisnya diharapkan dapat:
1. Merumuskan tujuan pembelajaran secara tepat. Dengan memahami
psikologi pendidikan yang memadai diharapkan guru akan dapat lebih
tepat dalam menentukan bentuk perubahan perilaku yang dikehendaki
sebagai tujuan pembelajaran. Misalnya, dengan berusaha mengaplikasikan
pemikiran Bloom tentang taksonomi perilaku individu dan mengaitkannya
dengan teori-teori perkembangan individu.
2. Memilih strategi atau metode pembelajaran yang sesuai. Dengan
memahami psikologi pendidikan yang memadai diharapkan guru dapat
menentukan strategi atau metode pembelajaran yang tepat dan sesuai, dan

16
mampu mengaitkannya dengan karakteristik dan keunikan individu, jenis
belajar dan gaya belajar dan tingkat perkembangan yang sedang dialami
siswanya.
3. Memberikan bimbingan atau bahkan memberikan konseling. Tugas dan
peran guru, di samping melaksanakan pembelajaran, juga diharapkan dapat
membimbing para siswanya. Dengan memahami psikologi pendidikan,
tentunya diharapkan guru dapat memberikan bantuan psikologis secara
tepat dan benar, melalui proses hubungan interpersonal yang penuh
kehangatan dan keakraban.
4. Memfasilitasi dan memotivasi belajar peserta didik. Memfasilitasi artinya
berusaha untuk mengembangkan segenap potensi yang dimiliki siswa,
seperti bakat, kecerdasan dan minat. Sedangkan memotivasi dapat
diartikan berupaya memberikan dorongan kepada siswa untuk melakukan
perbuatan tertentu, khususnya perbuatan belajar. Tanpa pemahaman
psikologi pendidikan yang memadai, tampaknya guru akan mengalami
kesulitan untuk mewujudkan dirinya sebagai fasilitator maupun motivator
belajar siswanya.
5. Menciptakan iklim belajar yang kondusif. Efektivitas pembelajaran
membutuhkan adanya iklim belajar yang kondusif. Guru dengan
pemahaman psikologi pendidikan yang memadai memungkinkan untuk
dapat menciptakan iklim sosio-emosional yang kondusif di dalam kelas,
sehingga siswa dapat belajar dengan nyaman dan menyenangkan.
6. Berinteraksi secara tepat dengan siswanya. Pemahaman guru tentang
psikologi pendidikan memungkinkan untuk terwujudnya interaksi dengan
siswa secara lebih bijak, penuh empati dan menjadi sosok yang
menyenangkan di hadapan siswanya.
7. Menilai hasil pembelajaran yang adil. Pemahaman guru tentang psikologi
pendidikan dapat mambantu guru dalam mengembangkan penilaian
pembelajaran siswa yang lebih adil, baik dalam teknis penilaian,
pemenuhan prinsip-prinsip penilaian maupun menentukan hasil-hasil
penilaian.

B. Penelitian yang Relevan

17
C. Kerangka Berpikir
Dari batasan masalah di atas guna kelancaran penelitian maka kami membuat
suatu kerangka berpikir, bahwa berbagai usaha dalam perbaikan sistem pendidikan di
Indonesia bertujuan untuk menjadikan sistem pendidikan yang lebih baik sehingga
dapat menciptakan insan penerus bangsa yang berkualitas dan berintegritas. Tetapi,
penetapan kebijakkan UASBN yang mendadak sebagai salah satu usaha perbaikkan
sistem pendidikan di Indonesia ini telah menimbulkan perubahan yang cepat,
sehingga dinilai dapat mempengaruhi kondisi psikologis siswa. Sehingga skema
kerangka berpikir untuk menggambarkan hal tersebut adalah sebagai berikut :

Reintegrasi
Pndidikan di
Indonesia

Penetapan
Kebijakkan
UASBN

Persiapan Kurang Perubahan yang


Memadai Cepat

Perubahan
Psikologis Siswa

Kepercayaan Diri
Siswa

18
BAB III
METODE PENELITIAN

A. Lokasi Penelitian

19
Lokasi penelitian terkait dengan tentang pengaruh USBN terhadap psikologis siswa
adalah di SMA Negeri 1 Tanjungpandan. Kami memilih lokasi ini karena SMA
Negeri 1 Tanjungpandan merupakan sekolah kami sehingga dapat memudahkan
dalam hal aksesibilitasnya.

B. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan selama kurang lebih 2 minggu, yaitu mulai tanggal 2 April
hingga selesai pada 17 April 2016. Penelitian terhitung hingga terselesaikannya
proposal ini.

C. Bentuk Penelitian
Penelitian mengenai pengaruh USBN terhadap psikologis siswa SMA Negeri 1
Tanjungpandan kelas XII tahun ajaran 2016/2017 ini memerlukan pendekatan
penelitian yang nantinya mampu untuk menganalisis setiap kejadian, persepsi,
motivasi, tindakan dan lain sebagainya untuk kemudian dijelaskan serta diuraikan
dalam sebuah data berupa kalimat ataupun kata-kata. Maka dari itu, penelitian ini
menggunakan pendekatan campuran yaitu secara kualitatif dan kuantitatif dengan
metode Studi Kasus dan angket.

D. Sumber Data Penelitian


Pada penelitian ini, peneliti menggunakan wawancara dan angket untuk mencari dan
mengumpulkan data yang kemudian akan diolah untuk mendeskripsikan tentang
pengaruh USBN terhadap psikologis siswa SMA Negeri 1 Tanjungpandan kelas XII
tahun ajaran 2016/2017. Data penelitian didapatkan dari hasil wawancara dan
pengisian angket yang dilakukan oleh subjek penelitian ini yaitu siswa/i kelas XI dan
XII dan guru di SMA Negeri 1 Tanjungpandan.

E. Teknik Pengumpulan Data


Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam
penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data (Sugiyono,
2012: 224). Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik pengumpulan data
yang meliputi:
1. Wawancara

20
Moleong (2007: 186) menjelaskan bahwa wawancara adalah percakapan dengan
maksud tertentu yang dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer)
yang mengajukan pertanyaan, dan terwawancara (interviewee) yang memberikan
jawaban atas pertanyaan itu. Wawancara secara umum terbagi menjadi dua, yaitu:
wawancara terstruktur dan wawancara tidak terstruktur. Wawancara terstruktur
memiliki arti bahwa wawancara yang dilakukan dimana pewawancara telah
menetapkan sendiri masalah-masalah yang akan diajukan sebagai pertanyaan.
Sedangkan wawancara tidak terstruktur merupakan wawancara yang memiliki ciri
kurang diinterupsi dan arbiter. Wawancara tersebut digunakan untuk menemukan
informasi yang bulan baku atau informasi tunggal (Moleong, 2007: 190).
Dalam penelitian ini, kami menggunakan wawancara secara semi terstruktur.
Maka sebelum melakukan wawancara, kami telah menyiapkan pertanyaan-
pertanyaan yang nantinya akan diajukan kepada informan. Namun, pada
pelaksanaannya nanti akan disesuaikan dengan keadaan responden.
2. Studi Pustaka
Studi pustaka dilakukan dengan mencari referensi yang sesuai dengan topik atau
tema yang diteliti. Studi pustaka ini digunakan untuk menunjang kelengkapan
data dalam penelitian dengan menggunakan sumber-sumber dari kepustakaan
yang relevan.
3. Angket
Angket adalah teknik pengumpulan data dengan cara mengajukan pertanyaan
tertulis untuk dijawab secara tertulis juga oleh responden. Angket merupakan
sebuah kumpulan pertanyaan-pertanyaan yang tertulis yang digunakan untuk
memperoleh informasi dari responden tentang diri pribadi atau hal-hal yang ia
ketahui.
Pada penelitian ini pengumpulan data juga dilakukan dengan menggunakan
angket kuesioner dimana yang digunakan dalam penelitian ini adalah kombinasi
dari angket tertutup dan terbuka yaitu angket semi terbuka. Angket kuesioner
tersebut tidak berisi identitas subjek yang terdiri dari nama, kelas, jenis
kelamin,dan tanggal pengisian kuesioner tersebut.

F. Teknik Cuplikan atau Sampling

21
Sampel yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah siswa/i kelas XII dan
guru di SMA Negeri 1 Tanjungpandan. Teknik pengambilan sampling pada penelitian
ini adalah menggunakan simple random sampling. Teknik samplig ini dipandang
peneliti dapat mempermudah pemilihan sampel secara acak namun atas dasar acuan
tertentu. Acuan yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah dengan memilih secara
acak dari daftar populasi yang diteliti yakni warga sekolah SMA Negeri 1
Tanjungpandan.
Selain itu, penelitian ini juga menggunakan teknik purposive sampling dan snowball
sampling untuk pengambilan sampel dengan tujuan menjaring sebanyak mungkin
informasi dari berbagai macam sumber dan bangunannya (Moleong, 2007:224).
Sedangkan untuk data tambahan, kami mencari dan mendokumentasikan berbagai
data dari sumber lain guna memperkaya data, baik itu melalui buku, foto, artikel, surat
kabar, dan lain sebagainya.

G. Validasi Data
Validitas data merupakan bagian penting dalam sebuah penelitian dimana dari hasil
penelitian yang telah dilakukan oleh sang peneliti dapat dipertanggungjawabkan
kebenarannya. Dalam pemeriksaan keabsahan data ini, peneliti menggunakan
trianggulasi data.
Trianggulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan atau valid tidaknya suatu data
dengan memanfaatkan bukti lain di luar data tersebut untuk keperluan pengecekan
atau sebagai pembanding terhadap data tersebut (Moleong, 2007:330). Untuk
tekniknya sendiri, dalam penelitian ini digunakan teknik trianggulasi dengan sumber.
Trianggulasi sumber berarti membandingkan dan mengecek derajat kepercayaan suatu
informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam penelitian
kualitatif. Menurut Patton dalam Moleong (2007: 330) hal tersebut dapat dicapai
melalui:

1. Membandingkan data hasil pengamatan dengan hasil wawancara dan angket.


2. Membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa yang
dikatakannya secara pribadi.
3. Membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian
dengan apa yang dikatakannya sepanjang waktu.

22
4. Membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat dan
pandangan orang seperti rakyat biasa, orang yang berpendidikan menengah atau
tinggi, orang berada, orang pemerintahan.
5. Membandingkan hasil wawancara dan angket dengan isi suatu dokumen yang
berkaitan.

Dalam trianggulasi sumber ini dilakukan dengan membandingkan informasi yang


diperoleh peneliti dari masing-masing informan. Informasi yang diperoleh dari para
tokoh masyarakat nantinya akan dibandingkan dengan informasi yang diperoleh
melalui hasil wawancara dan angket kepada siswa/i kelas XII dan guru di SMA
Negeri 1 Tanjungpandan. Perbandingan tersebut nantinya tentu akan dijadikan
analisis mengenai kesamaan atau perbedaan-perbedaan informasi yang diperoleh
peneliti.

H. Teknik Analisis Data


Dalam teknik analisis data, terdapat empat komponen dimana keempat komponen
tersebut merupakan proses siklus dan interaktif dalam sebuah penelitian. Keempat
komponen tersebuat ialah:
1. Pengumpulan Data
Data dikumpulkan oleh peneliti berupa data dari hasil wawancara dan angket yang
dicatat dalam catatan lapangan yang terdiri dari dua aspek, yaitu deskripsi dan
refleksi. Catatan deskripsi merupakan data alami yang berisi tentang apa yang
dilihat, didengar, dirasakan, disaksikan, dan dialami sendiri oleh peneliti (Miles
dan Huberman, 1994: 15). Pengamatan juga mencakup data-data lainnya baik itu
data verbal maupun nonverbal dari penelitian ini. Peneliti juga akan melakukan
pencatatan terkait dengan pengaruh USBN terhadap psikologis siswa SMA Negeri
1 Tanjungpandan kelas XII tahun ajaran 2016/2017.

Catatan refleksi merupakan catatan yang membuat kesan, komentar, dan tafsiran
dari peneliti tentang berbagai temuan yang dijumpai pada saat melakukan
penelitian dan merupakan bahan rencana pengumpulan data untuk tahap
selanjutnya. Untuk mendapatkan catatan ini, maka peneliti harus melakukan
wawancara dengan berbagai informan (Miles dan Huberman, 1994: 16).

23
2. Redusi Data
Reduksi data merupakan proses pemilihan/ penyederhanaan data-data yang
diperoleh baik itu dari hasil wawancara, angket, maupun dokumentasi yang
didasarkan atas fokus permasalahan. Setelah melalui proses pemilihan data, maka
akan ada data yang penting dan data yang tidak digunakan. Maka, kemudian data
diolah dan disajikan dnegan bahasa maupun tulisan yang lebih ilmiah dan lebih
bermakna (Miles dan Huberman, 1994: 16).
3. Penyajian Data
Penyajian data adalah proses penampilan data dari semua hasil penelitian dalam
bentuk paparan naratif representatif tabular termasuk dalam format matriks, grafis
dan sebagainya, yang nantinya dapat mempermudah peneliti dalam melihat
gambaran hasil penelitian karena dari banyaknya data dan informasi tersebut
peneliti kesulitan dalam pengambilan kesimpulan dari hasil penelitian ini (Usman,
2009: 85). Data-data yang diperoleh perlu disajikan dalam format yang lebih
sederhana sehingga peneliti mudah dalam menganalisisnya dan membuat tindakan
berdasarkan pemahaman yang diperoleh dari penyajian data-data tersebut.
4. Penyimpulan Data
Kesimpulan merupakan langkah akhir dalam pembuatan laporan penelitian.
Penarikan kesimpilan adalah usaha guna mencari atau memahami makna,
keteraturan pola-pola penjelasan, alur sebab akibat. Kesimpulan yang telah ditarik
maka kemudian diverifikasi dengan cara melihat dan mempertanyakan kembali
dan melihat catatan lapangan agar memperoleh pemahaman yang tepat. Selain itu,
juga dapat dengan mendiskusikannya (Usman, 2009: 87).
Miles dan Huberman (1994: 20) menjelaskan bahwa pengambilan kesimpulan
harus dilakukan secara teliti dan hati-hati agar kesimpulan yang diperoleh
berkualitas dan sesuai dengan tujuan penelitian. Hal tersebut dilakukan agar data
tersebut mempunyai validitas sehingga kesimpulan yang ditarik menjadi kuat.

24
BAB IV

PEMBAHASAN DAN ANALISIS

A. Deskripsi Lokasi Penelitian

25
SMA Negeri 1 Tanjungpandan yang terletak di Jalan Gatot Subroto
Tanjungpandan, Belitung merupakan lokasi yang kami pilih sebagai lokasi
penelitian terkait dengan fenomena pengaruh penetapan kebijakan USBN
terhadap psikologis siswa. Kami memilih SMA Negeri 1 Tanjungpandan
sebagai lokasi penelitian kami dikarenakan SMA Negeri 1 Tanjungpandan
merupakan sekolah kami sehingga dapat memudahkan dalam hal
aksesibilitasnya. Selain itu, penelitian yang dapat dilakukan disela-sela waktu
istirahat sehingga tidak perlu mengganggu proses pembelajaran di sekolah
juga menjadi alasan kami untuk memilih lokasi tersebut.

SMA Negeri 1 Tanjungpandan merupakan salah satu sekolah rujukkan.


SMA Negeri 1 Tanjungpandan memiliki tujuh kelas yang terdiri dari tiga kelas
dengan pogram studi IPA dan empat kelas dengan pogram studi IPS untuk
setiap angkatannya. Disetiap kelas rata-rata terdiri dari 32 siswa. SMA Negeri
1 Tanjungpandan memiliki fasilitas belajar yang cukup memadai, terdiri dari
21 ruang belajar, 7 ruang laboratorium (Laboratorium Fisika, Laboratorium
Biologi, Laboratorium Kimia, Laboratorium Komputer, Laboratorium Bahasa,
Laboratorium Matematika dan Laboratorium Mulok), 1 ruang Perpustakaan, 1
ruang guru, 1 ruang BP/BK yang bergabung dengan ruang PIK Remaja Melati,
1 ruang OSIS, 1 ruang UKS, dll. SMA Negeri 1 Tanjungpandan memiliki
berbagai macam ekstrakurikuler yang merupakan jembatan bagi para siswa
untuk mengembangkan bakat dan minatnya, contohnya ekskul Pramuka,
Paskibra, KIR, PIK Remaja, Basket, Volly, Teater, Sispala, TTG, UKS,
Sasesa, Bulutangkis, dll. Ekskul-ekskul ini telah berkontribusi banyak prestasi
untuk SMA Negeri 1 Tanjungpandan dari Tingkat Kabupaten, Provinsi ,
Nasional hingga Internasional.

B. Pokok – Pokok Temuan Penelitian


Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, peneliti menemukan temuan-
temuan di lapangan yang diperoleh melalui hasil wawancara dan pengisian
angket. Adapun pokok-pokok temuan penelitian tersebut adalah sebagai
berikut:
1. 28 dari 30 siswa yang menjadi responden mengatakan bahwa USBN tidak
efektif untuk dilaksanakan.

26
2. 28 dari 30 yang menjadi responden tidak setuju dengan pelaksanaan
USBN.
3. Seluruh siswa yang menjadi responden dan narasumber mengalami
kesulitan yang sama dalam menghadapi USBN sebagai berikut.
 Materi yang diujiankan terlalu banyak
 Soal-soal yang terdapat dalam USBN tidak sesuai dengan kisi-kisi
materi yang telah diberikan
 Terdapat soal essay dalam USBN
 Waktu belajar untuk menguasai materi yang singkat.
4. Siswa menghadapi kesulitan tersebut dengan cara-cara sebagai
berikut.
 Mencari informasi mengenai USBN dengan bertanya kepada guru atau
teman yang lebih mengetahui
 Memanfaatkan waktu semaksimal mungkin untuk mempersiapkan diri
 Belajar lebih giat lagi
 Berdoa kepada Tuhan
 Mengikuti les privat.
5. 18 dari 30 siswa yang menjadi responden menyatakan bahwa adanya
pelaksanaan USBN ini tidak berpengaruh pada kondisi ksehatannya.
6. 28 dari 30 siswa yang menjadi responden meyakini bahwa mereka akan
lulus dalam USBN yang telah dilaluinya, dengan dua alasan utama sebagai
berikut.
 Karena sudah berusaha secara maksimal
 Karena hasil USBN dikoreksi oleh guru mata pelajaran di sekolahnya,
sehingga memungkinkan untuk mendapatkan bantuan dari pihak
sekolah untuk lulus.
7. Dalam menghadapi USBN, siswa yang menjadi responden mendapat
dukungan sebagai berikut.
 Dukungan mental dari teman, guru, dan orangtua
 Pelajaran tambahan di sekolah
8. Menurut pengamatan guru, siswa-siswanya sangatlah tertekan dalam
menghadapi USBN.

27
9. Nilai-nilai yang didapatkan oleh siswa yang telah menghadapi USBN tidak
stabil.
10. Saran siswa kelas XII yang menjadi responden kepada siswa-siswa yang
akan menghadapi USBN dimasa yang akan datang sebagai berikut.
 Belajar dengan giat dan memperbanyak latihan soal
 Senantiasa berdoa kepada Tuhan
 Menjaga kesehatan badan
 Memperbanyak les
 Tetap menyimpan buku-buku kelas X dan XI.

C. Pembahasan atau Analisis


1. Penilaian Siswa Terhadap Tingkat Keefektifan Pelaksanaan USBN
Berdasarkan hasil Sidang Kabinet 7 Desember 2016 telah
diputuskan bahwa Moratorium UN tidak jadi dilaksanakan sehingga Ujian
Nasional akan tetap dilaksanakan seperti biasanya, memperluas
pelaksanaan ujian berbasis komputer, dan Ujian Akhir Sekolah akan
ditingkatkan mutunya menjadi USBN 2017 (Ujian Sekolah Berstandar
Nasional) untuk enam mata pelajaran untuk tingkat SMA yaitu Agama,
PPKN, Sejarah, dan tiga mapel sesuai jurusan. Usaha perbaikkan sistem
pendidikan di Indonesia melalui perombakkan kebijakan mengenai
pelaksanaan UN dan USBN oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
Republik Indonesia Muhadjir Effendy ini merupakan bagian dari reintegrasi
pendidikan di Indonesia. Reintegrasi pendidikan yang berupa perbaikan
sistem pendidikan di Indonesia ini merupakan usaha pemerintah dalam
tujuannya untuk memberikan akses pendidikan yang lebih berkualitas bagi
semua warga negaranya. Dengan adanya proses reintegrasi pendidikan ini,
diharapkan bahwa akan tercipta SDM penerus bangsa yang lebih
berkualitas dan berintegritas. Yang menjadi sasaran utama penetapan
kebijakkan dalam proses reintegrasi pendidikan ini adalah seluruh siswa
atau pelajar yang ada di Indonesia.
Tetapi, berdasarkan hasil penelitian yang telah kami lakukan dapat
diketahui bahwa sebagian besar siswa tidak setuju dengan adanya USBN

28
ini. Mereka menilai pelaksanaan USBN ini tidak efektif untuk dilaksanakan
karena hal-hal sebagai berikut.
a. Materi yang diujiankan terlalu banyak dan waktu belajar untuk
menguasai materi yang singkat. Seperti yang diketahui bahwa terdapat
enam mata pelajaran yang diujiankan dalam USBN tingkat SMA yaitu
mata pelajaran (mapel) Agama, PPKN, Sejarah, dan tiga mapel sesuai
jurusan. Dahulu, soal-soal Ujian Sekolah dibuat oleh guru-guru sekolah
yang bersangkutan sehingga materi yang diberikan pun dapat
disesuaikan. Tetapi sekarang pembuatan soal harus melalui MGMP kota
atau Kabupaten berdasarkan kriteria yang telah diberikan oleh pusat.
Materi yang diujiankan dalam setiap mapel yang diujiankan dalam
USBN mencakup keseluruhan materi dari kelas X, XI, dan XII. Hal ini
menyebabkan siswa harus belajar lebih ekstra karena materi yang
tercakup sangat luas dan banyak. Hal ini pun diperparah dengan waktu
persiapan ujian yang cukup singkat mengingat bahwa waktu penetapan
kebijakkan USBN yang sangat mendadak yaitu pada tanggal 7
Desember 2016 sedangkan pelaksanaan USBN-nya pada tanggal 15
Maret 2017. Hal ini berarti siswa harus mempersiapkan dirinya untuk
menghadapi USBN dan ujian lainnya seperti UNBK, UAS, dan Ujian
praktek hanya dalam kurun waktu kurang lebih 3 bulan saja. Dalam
kurun waktu tersebut, siswa harus mempersiapkan mental, fisik, serta
seluruh materi yang akan diujiankan.
b. Soal-soal yang terdapat dalam USBN tidak sesuai dengan kisi-kisi materi
yang telah diberikan. Dalam persiapan menghadapi USBN, siswa
diberikan kisi-kisi mengenai soal yang akan dikeluarkan dalam ujian
tersebut. Tetapi pada kenyataan pelaksanaannya, soal yang dikeluarkan
dalam ujian tidak sesuai dengan kisi-kisi yang telah diberikan. Akibatnya
persiapan materi yang dilakukan oleh siswa menjadi kurang efektif
karena siswa harus mempelajari materi yang sebenarnya tidak
dikeluarkan dalam ujian.
c. Terdapat soal essay dalam USBN. Bentuk soal ujian dalam USBN
menggabungkan antara bentuk pilihan ganda dan essay. Jumlah total soal
dalam USBN untuk setiap mapel-nya adalah 45 soal yaitu 40 soal pilihan

29
ganda dan 5 soal essay dengan waktu pengerjaan hanya 90 menit.
Adanya bentuk soal essay dalam USBN ini membuat siswa kualahan
dalam menjawab soal. Selain waktu pengerjaan yang terbilang singkat,
soal essay yang tidak sesuai dengan prediksi kisi-kisi soal yang diberikan
juga menjadi penyebab kualahannya siswa dalam mengerjakan soal
USBN ini.

2. Pengaruh Penetapan Kebijakan USBN Terhadap Psikologis Siswa


Penetapan kebijakkan diadakannya UASBN ini merupakan suatu
suatu perubahan yang cepat dalam proses reintegrasi pendidikan di
Indonesia. Waktu penetapan kebijakkan USBN sangat mendadak yaitu pada
tanggal 6 Desember 2016 sedangkan pelaksanaan USBN-nya pada tanggal
15 Maret 2016. Waktu persiapan dan pemantapan kebijakkan yang singkat
menjadikan pelaksanaan USBN pada tahun 2017 ini menjadi tidak
maksimal. Hal ini dibutikan dengan soal-soal yang terdapat dalam USBN
tidak sesuai dengan kisi-kisi materi yang telah diberikan. Seperti yang
diketahui bahwa soal USBN dibuat oleh MGMP kota atau Kabupaten
berdasarkan kisi-kisi materi soal yang telah diberikan oleh pusat.
Ketidaksesuaian soal yang dibuat dengan kisi-kisi ini mengindikasikan
kurangnya sosialisasi dan pelatihan yang diberikan oleh pusat kepada
MGMP daerah mengenai tata cara dan prosedur pembuatan soal. Hal ini
merupakan salah satu indikator ketidakmasimalan persiapan pelaksanaan
USBN ini.
Perubahan yang cepat tanpa disertai dengan kesiapan yang
memadai ini menimbulkan banyak kekhwatiran dalam masyarakat
khususnya pada kalangan siswa dan guru. Dalam kurun waktu kurang labih
3 bulan itu siswa diharuskan mempersiapkan dirinya untuk menghadapi
beberapa ujian sekaligus seperti UNBK, UAS, dan Ujian praktek. Situasi
ini tentu akan berdampak pada kondisi dinamika psikis siswa.
Dinamika psikis adalah energi kejiwaan yang akan menggerakkan
seseorang menuju sukses dalam menghadapi ujian yang dilaluinya. Energi
adalah kemampuan untuk bertindak. Energi merupakan ketetapan hati yang
tidak tampak yang dimiliki oleh setiap orang untuk melakukan sesuatu yang

30
menyenangkan hati mereka. Dalam diri siswa terdapat dua macam energi
yaitu energi fisik dan energi psikis. Energi psikis jauh lebih penting dari
energi fisik, karena energi psikis berasal dari alam bawah sadar yang dapat
menimba banyak daya dan kekuatan disaat dibutuhkan.
Berdasarkan data penelitian kami, diketahui bahwa sebagian besar
siswa tidak setuju dengan adanya USBN ini. Mereka menilai pelaksanaan
USBN ini tidak efektif untuk dilaksanakan dengan alasan yang telah
dijelaskan sebeumnya. Penolakkan dalam diri siswa terhadap USBN
tersebut menyebabkan pegejolakkan energi psikis yang ada di dalam
dirinya. Hal ini otomatis akan menyebabkan terganggunya psikologis siswa
dalam menghadapi USBN. Siswa akan merasa tertekan dan terbebani
dengan adanya USBN ini. Perubahan psikologis siswa ini menyebabkan
nilai yang dihasilkan tidak maksimal. Hal ini dibuktikan dengan penuturan
beberapa guru yang menjadi narasumber kami bahwa nilai-nilai yang
didapatkan oleh siswa yang telah menghadapi USBN ini menjadi tidak
stabil. Nilai-nilai yang mereka dapatkan menurun dan tidak sesuai dengan
indeks kemampuan mereka pada biasanya.

3. Dampak Perubahan Psikologis Siswa Akibat Penetapan Kebijakan


USBN Terhadap Tingkat Kepercayaan Diri Siswa Akan Kelulusannya
28 dari 30 siswa yang menjadi responden penelitian meyakini bahwa
mereka akan lulus dalam USBN yang telah dilaluinya, dengan dua alasan
utama yaitu karena sudah berusaha secara maksimal dan karena hasil
USBN dikoreksi oleh guru mata pelajaran di sekolahnya, sehingga
memungkinkan untuk mendapatkan bantuan dari pihak sekolah untuk lulus.
Hal ini membuktikan bahwa siswa memiliki optimisme yang tinggi dalam
menghadapi USBN ini. Perubahan psikologis yang terjadi pada diri siswa,
tidak memberikan dampak yang begitu signifikan pada kepercayaan diri
siswa akan kelulusannya.

31
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Sebagian besar siswa menilai bahwa UASBN ini tidaklah efektif untuk
dilaksanakan. Mereka menilai pelaksanaan UASBN ini tidak efektif untuk
dilaksanakan karena materi yang diujiankan terlalu banyak, waktu belajar untuk

32
menguasai materi yang singkat, soal-soal yang terdapat dalam UASBN tidak sesuai
dengan kisi-kisi materi yang telah diberikan, dan bentuk soal essay dalam UASBN.
Penolakkan dalam diri siswa terhadap UASBN tersebut menyebabkan
pegejolakkan energi psikis yang ada di dalam dirinya. Hal ini otomatis akan
menyebabkan terganggunya psikologis siswa dalam menghadapi UASBN.
Perubahan psikologis yang terjadi pada diri siswa ini, tidak memberikan dampak
yang begitu signifikan pada kepercayaan diri siswa akan kelulusannya.

B. Saran
1. Bagi Sekolah
Sebagai siswa teladan, seharusnya dapat mempersiapkan diri untuk
menghadapi setiap kemungkinan yang mungkin akan terjadi. Persiapan diri
yang matang mengenai mental dan materi pembelajaran akan membantu
menghilangkan beban dan menambah kepercayaan diri siswa untuk lulus.
2. Bagi Pemerintah
Pemerintah sebaiknya lebih memperhatikan kebijakkan yang akan diambilnya.
Pemerintah harus mempertimbangkan kesiapan kebijakaan itu untuk
dilaksanakan dan dampak yang akan ditimbulkan dari kebijakkan itu.
Terutama kebijakkan dalam hal pendidikan, karena hal tersebut akan
menentukan masa depan tunas-tunas penerus bangsa.

33