Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Transportasi adalah kegiatan pemindahan barang (muatan) dan penumpang dari
suatu tempat ke tempat lain. Transportasi merupakan sarana yang sangat penting dan
strategis dalam memperlancar roda perekonomian, memperkukuh persatuan dan kesatuan
serta mempengaruhi semua aspek kehidupan bangsa dan negara. Pentingnya transportasi
terlihat dari semakin meningkat kebutuhan jasa angkutan bagi mobilitas orang dari
daerah tertentu keseluruh tanah air. Transportasi merupakan urat nadi bagi kelancaran
seluruh aktivitas operasional bagi manusia (Ismayanti, 2010:123).
Dalam kehidupan sosial/bermasyarakat ada bentuk hubungan yang bersifat resmi,
seperti hubungan antara lembaga pemerintah dengan swasta, maupun hubungan yang
bersifat tidak resmi, seperti hubungan keluarga, sahabat, dan sebagainya. Untuk
kepentingan hubungan sosial ini, transportasi sangat membantu dalam menyediakan
berbagai fasilitas dan kemudahan, seperti:
1. Pelayanan untuk perorangan maupunkelompok.
2. Pertukaran dan penyampaianinformasi.
3. Perjalanan pribadi maupun sosial.
4. Mempersingkat waktu tempuh antara rumah dan tempat bekerja.
5. Mendukung perluasan kota atau penyebaran penduduk menjadi kelompok -kelompok
yang lebih kecil.
Untuk melakukan kepentingan tersebut,dibutuhkan angkutan yang dapat
mengantarkan ke tempat tujuan aktivitas. Angkutan adalah sarana untuk membantu orang
atau sekelompok orang menjangkau berbagai tempat yang dikehendaki atau mengirim
barang dari tempat asal ke tempat tujuan. Angkutan dapat dikategorikan menjadi
angkutan pribadi dan angkutan umum penumpang. Angkutan umum penumpang
bertujuan untuk menyelenggarakan pelayanan angkutan yang baik dan layak bagi
masyarakat. Angkutan kota atau yang biasa disebut Angkot adalah salah satu transportasi
darat yang banyak dijumpai disetiap kota di Indonesia, terutama kota - kota besar seperti
Bandung, Bekasi dan Jakarta.
Lain halnya dengan Belitung. Angkutan kota (angkot) di pulau Belitung yang
terkenal dengan obyek wisata pantai yang indah dan eksotik ini sangat sulit atau bahkan
tidak dapat dijumpai lagi keberadaanya. Sehingga dapat dikatakan sekarang ini bahwa di
Pulau Belitung, layanan transportasi umum baik untuk mobilitas warga maupun
wisatawan sudah memudar. Padahal beberapa tahun sebelumnya, Belitung memiliki
banyak armada transportasi umum baik berupa angkot maupun bis untuk mobilitas
warganya. Saat ini peran angkutan umum telah digantikan perannya oleh sepeda motor
milik pribadi masyarakat. Masyarakat Belitung lebih memilih kendaraan pribadi mereka
untuk melakukan mobilitas saat beraktivitas dibandingkan dengan angkutan umum.
Murah dan mudahnya mendapatkan sepeda motor dan kurangnya kepedulian
pemerintahan daerah terhadap keberadaan layanan transportasi umum telah menyebabkan
transportasi umum yang dulu pernah berjaya, sekarang memudar atau menghilang.
Karena kesulitan mendapatkan transportasi umum untuk pelajar, di Belitung
bahkan ada kebijakan ijin penggunaan sepeda motor bagi pelajar SMU atau sederajat
untuk menggunakan sepeda motor pada jam berangkat dan pulang sekolah, walaupun
belum memiliki SIM C. Hal ini menunjukkan bahwa memudarnya alat transportasi umum
di Belitung telah mempengaruhi struktur sosial dalam masyarakat Belitung sehingga
dapat diidentifikasi sebagai bentuk perubahan sosial dalam masyarakat Belitung.
Berdasarkan realitas tersebut, kami tertarik untuk melakukan penelitian mengenai
memudarnya alat transportasi umum di Belitung sebagai bentuk perubahan sosial dalam
masyarakat Belitung.

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat di identifikasi beberapa
permasalahan antara lain:
1. Layanan transportasi umum baik untuk mobilitas warga maupun wisatawan di
Belitung sudah memudar.
2. Murah dan mudahnya mendapatkan sepeda motor dan kurangnya kepedulian
pemerintahan daerah terhadap keberadaan layanan transportasi umum telah
menyebabkan transportasi umum yang dulu pernah berjaya, sekarang memudar atau
menghilang.
3. Memudarnya alat transportasi umum di Belitung telah mempengaruhi struktur sosial
dalam masyarakat Belitung.

C. Batasan Masalah
Berbagai kompleksitas permasalahan muncul terkait dengan objek yang akan di
kaji. Oleh karena itu, pembatasan masalah perlu dilakukan agar penelitian tidak jauh
menyimpang dengan topik yang akan di kaji. Hal ini dilakukan agar pembahasan dapat
lebih spesifik dan terfokuskan sehingga akan di peroleh suatu kesimpulan yang terarah
pada aspek yang akan diteliti. Adapun batasan masalah pada penelitian ini adalah
memudarnya alat transportasi angkot di Belitung sebagai bentuk perubahan sosial dalam
masyarakat Belitung.

D. Rumusan Masalah
1. Bagaimana bentuk perubahan sosial akibat memudarnya angkot sebagai alat
transportasi umum di Belitung?
2. Apakah yang menyebabkan terjadinya perubahan sosial akibat pudarnya angkot
sebagai alat transportasi umum di Belitung?
3. Apakah yang menjadi faktor pendorong dan penghambat terjadinya perubahan sosial
akibat memudarnya angkot sebagai alat transportasi umum di Belitung?
4. Bagaimana dampak perubahan sosial akibat memudarnya angkot sebagai alat
transportasi umum bagi masyarakat Belitung?

E. Tujuan Penelitian
1. Mengetahui bentuk perubahan sosial akibat memudarnya angkot sebagai alat
transportasi umum di Belitung.
2. Mengetahui proses terjadinya perubahan sosial akibat pudarnya angkot sebagai alat
transportasi umum di Belitung.
3. Mengetahui faktor pendorong dan penghambat terjadinya perubahan sosial akibat
memudarnya angkot sebagai alat transportasi umum di Belitung.
4. Mengetahui dampak perubahan sosial akibat memudarnya angkot sebagai alat
transportasi umum bagi masyarakat Belitung.
F. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian yang mengangkat tema tentang memudarnya alat transportasi angkot di
Belitung sebagai bentuk perubahan sosial dalam masyarakat Belitung, diharapkan dapat
memberikan manfaat bagi semua pihak. Adapun kegunaan penelitian ini adalah sebagai
berikut:
1. Manfaat Teoritis
a. Penelitian ini diharapkan mampu menambah informasi serta dapat juga
sebagai bahan referensi yang berkaitan dengan memudarnya alat
transportasi angkot di Belitung sebagai bentuk perubahan sosial dalam
masyarakat Belitung.
b. Penelitian ini dapat dijadikan penelitian yang relevan bagi penelitian-
penelitian selanjutnya.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Sekolah
Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai sarana acuan dalam
meningkatkan dan menambah wawasan mengenai pudarnya alat
transportasi angkot di Belitung sebagai bentuk perubahan sosial dalam
masyarakat Belitung pada kalangan masyarakat sekolah
b. Bagi Peneliti
Menambah pengetahuan dan pengalaman peneliti mengaplikasikan ilmu
pengetahuan yang didapat selama pembelajaran materi “perubahan
sosial” ke dalam karya nyata.
c. Bagi Masyarakat Umum
Diharapkan dapat menambah pengetahuan dan memberikan informasi
yang luas mengenai pudarnya alat transportasi angkot di Belitung
sebagai bentuk perubahan sosial dalam masyarakat Belitung.
BAB II
LANDASAN TEORI

A. Deskripsi Teori
1. Perubahan Sosial
Perubahan sosial sebagai perubahan-perubahan sosial yang terjadi dalam
struktur dan fungsi masyarakat. Pandangan serupa dikemukakan oleh Wilbert
Moore yang memandang perubahan sosial sebagai perubahan struktur sosial, pola
perilaku dan interakasi sosial. Sedangkan Menurut Mac Iver, perubahan sosial
merupakan perubahan yang terjadi dalam hubungan sosial atau sebagai perubahan
terhadap keseimbangan (Robert H. Laurer, 1993:289). Setiap manusia selama
hidup pasti mengalami perubahan-perubahan. Perubahan dapat berupa
pengaruhnya terbatas maupun luas, perubahan yang lambat dan ada perubahan
yang berjalan dengan cepat. Perubahan dapat mengenai nilai dan norma sosial,
pola-pola perilaku organisasi, susunan lembaga kemasyarakatan, lapisan-lapisan
dalam masyarakat, kekuasaan dan wewenang, interaksi sosial dan sebagainya.
Perubahan- perubahan yang terjadi pada masyarakat merupakan gejala yang
normal. Pengaruhnya bisa menjalar dengan cepat ke bagian-bagian dunia lain
berkat adanya komunikasi modern (Soerjono Soekanto, 2009:259). 12 Definisi
perubahan sosial menurut beberapa ahli sosiologi: Soerjono Soekanto (2009:262-
263). a. Kingsley Davis mengartikan “perubahan sosial sebagai perubahan-
perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat” (Soerjono
Soekanto, 2009:262) b. MacIver mengatakan “perubahan-perubahan sosial
merupakan sebagai perubahan-perubahan dalam hubungan sosial (social
relationships) atau sebagai perubahan terhadap keseimbangan (equilibrium)
hubungan sosial” (Soerjono Soekanto, 2009:263) c. JL.Gillin dan JP.Gillin
mengatakan “perubahan-perubahan sosial sebagai suatu variasi dari cara-cara
hidup yang telah diterima, baik karena perubahanperubahan kondisi geografis,
kebudayaan material, komposisi penduduk, idiologi maupun karena adanya difusi
ataupun penemuanpenemuan baru dalam masyarakat”(Soerjono Soekanto,
2009:263) d. Selo Soemardjan. Rumusannya adalah “segala perubahan-
perubahan pada lembagalembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat,
yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk di dalamnya nilai-nilai, sikap dan
pola perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat” (Soerjono
Soekanto, 2009:263) 13 Dari definisi di atas dapat disimpulkan perubahan sosial
adalah perubahan yang terjadi dalam struktur masyarakat yang dapat
mempengaruhi pola interaksi sosial di dalam suatu yang dapat bersifat
membangun karakter manusia menuju proses yang lebih baik atau malah
sebaliknya. 2. Karakteristik Perubahan Sosial Perubahan Sosial memiliki
beberapa karakteristik yaitu: a. Pengaruh besar unsur-unsur kebudayaan material
terhadap unsurunsur immaterial. b. Perubahan-perubahan yang terjadi dalam
struktur dan fungsi masyarakat. c. Perubahan-perubahan dalam hubungan sosial
(social relationships) atau sebagai perubahan terhadap keseimbangan
(equilibrium) hubungan sosial. d. Suatu variasi dari cara-cara hidup yang telah
diterima, baik karena perubahan- perubahan kondisi geografis, kebudayaan
material, komposisi penduduk, idiologi maupun karena adanya difusi ataupun
penemuan-penemuan baru dalam masyarakat. e. Modifikasi-modifikasi yang
terjadi dalam pola-pola kehidupan manusia. f. Segala bentuk perubahan-
perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan didalam suatu masyarakat,
yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk didalamnya nilai-nilai, sikap dan
pola perilaku diantara kelompok-kelompok dalam masyarakat. 14 3. Bentuk-
bentuk Perubahan a. Perubahan lambat dan perubahan cepat Perubahan-
perubahan yang memerlukan waktu yang lama, rentetan rentetan perubahan kecil
yang saling mengikuti dengan lambat, dinamakan evolusi. Pada evolusi
perubahan terjadi dengan sendirinya tanpa rencana atau kehendak tertentu.
Perubahan tersebut terjadi karena usaha-usaha masyarakat untuk menyesuaikan
diri dengan keperluan-keperluan, keadaan-keadaan, dan kondisi-kondisi baru
yang timbul sejalan pertumbuhan masyarakat (Soerjono Soekanto, 2009:269).
Soerjono Soekanto (2009:271) Sementara itu perubahan-perubahan sosial yang
berlangsung dengan cepat dan menyangkut dasar-dasar atau sendisendi pokok
kehidupan masyarakat. Secara Sosiologis agar suatu revolusi dapat terjadi, maka
harus dipenuhi syarat-syarat tertentu antara lain: 1) Harus ada keinginan umum
untuk mengadakan suatu perubahan. 2) Adanya seorang pemimpin atau
sekelompok orang yang dianggap mampu memimpin masyarakat tersebut. 3)
Pemimpin diharapkan dapat menampung keiginan-keinginan masyarakat untuk
kemudian merumuskan serta menegaskan rasa tidak puas tadi menjadi program
dan arah gerakan. 4) Pemimpin tersebut harus dapat menunjukkan suatu tujuan
pada masyarakat. 5) Harus ada momentum yaitu saat dimana segala keadaan dan
faktor sudah tepat dan baik untuk memulai suatu gerakan. 15 b. Perubahan Kecil
dan Perubahan Besar Perubahan kecil adalah perubahan-perubahan yang terjadi
pada unsur unsur struktur sosial yang tidak membawa pengaruh langsung atau
yang berarti bagi masyarakat.Perubahan mode pakaian, misalnya, tidak akan
membawa pengaruh apa- apa bagi masyarakat dalam keseluruhannya, karena
tidak mengakibatkan perubahan- perubahan pada lembaga-lembaga
kemasyarakatan. Sedangkan perubahan besar adalah perubahan-perubahan yang
terjadi pada unsur-unsur struktur sosial yaitu membawa pengaruh besar pada
masyarakat(Soerjono Soekanto, 2009:272). c. Perubahan yang dikehendaki
(intended-change) atau perubahan yang direncanakan (planned-chage) dan
perubahan yang tidak dikehendaki (unitended-change) atau perubahan yang tidak
direncanakan (unplanned-change). Perubahan yang dikehendaki atau
direncanakan merupakan perubahan yang diperkirakan atau yang telah
direncanakan terlebih dahulu oleh pihak-pihak yang hendak mengadakan
perubahan didalam masyarakat. Pihak-pihak yang menghendaki perubahan
dinamakan agen of chage yaitu seseorang atau sekelompok orang yang mendapat
kepercayaan masyarakat sebagai pemimpin satu atau lebih lembaga- lembaga
kemasyarakatan. Sedangkan perubahan sosial yang tidak dikehendaki atau yang
tidak direncanakan merupakan perubahan-perubahan yang terjadi tanpa
dikehendaki atau berlangsung diluar jangkauan pengawasan masyarakat 16 dan
dapat menyebabkan timbulnya akibat-akibat sosial yang tidak diharapkan
masyarakat (Soerjono Soekanto, 2009:272-273). 4. Faktor Penyebab Perubahan
Sosial Soerjono Soekanto (2009:275-282) Secara umum penyebab dari perubahan
sosial budaya dibedakan atas dua golongan besar, yaitu: Perubahan yang berasal
dari masyarakat itu sendiri dan Perubahan yang berasal dari luar masyarakat.
Secara jelas akan dipaparkan di bawah ini: a. Perubahan yang Berasal dari
Masyarakat. i. Bertambah atau berkurangnya penduduk. Perubahan jumlah
penduduk merupakan penyebab terjadinya perubahan sosial, seperti pertambahan
atau berkurangnya penduduk pada suatu daerah tertentu. Bertambahnya penduduk
pada suatu daerah dapat mengakibatkan perubahan pada struktur masyarakat,
terutama mengenai lembaga-lembaga kemasyarakatan. Sementara pada daerah
lain terjadi kekosongan sebagai akibat perpindahan penduduk tadi. ii. Penemuan-
penemuan baru Penemuan-penemuan baru akibat perkembangan ilmu
pengetahuan baikberupa teknologi maupun berupa gagasan-gagasan
menyebarkemasyarakat, dikenal, diakui, dan selanjutnya diterima
sertamenimbulkan perubahan sosial. 17 b. Perubahan yang Berasal dari Luar
Masyarakat. i. Sebab-sebab yang berasal dari lingkungan alam fisik yang ada
disekitar manusia. Menurut Soerjono Soekanto sebab yang bersumber pada
lingkungan alam fisik yang kadang-kadang disebabkan oleh tindakan para warga
masyarakat itu sendiri. Misalnya, penebangan hutan secara liar oleh segolongan
anggota masyarakat memungkinkan untuk terjadinya tanah longsor, banjir dan
lain sebagainya. ii. Peperangan Peperangan yang terjadi dalam satu masyarakat
dengan masyarakat lain menimbulkan berbagai dampak negatif yang sangat
dahsyat karena peralatan perang sangat canggih. iii. Pengaruh kebudayaan
masyarakat lain. Adanya interaksi langsung antara satu masyarakat dengan
masyarakat lainnya akan menyebabkan saling pengaruh. Selain itu pengaruh dapat
berlangsung melalui komunikasi satu arah yakni komunikasi masyarakat dengan
media-media massa.
2. Pengertian Transportasi
Transportasi adalah pemindahan manusia atau barang dengan menggunakan
wahana yang digerakkan oleh manusia atau mesin. Transportasi digunakan untuk
memudahkan manusia untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Banyak ahli telah
merumuskan dan mengemukakan pengertian transportasi. Para ahli memiliki
pandangannya masing-masing yang mempunyai perbedaan dan persamaan antara yang
satu dengan yang lainnya.
Kata transportasi berasal dari bahasa latin yaitu transportare yang mana trans
berarti mengangkat atau membawa. Jadi transortasi adalah membawa sesuatu dari satu
tempat ketempat yang lain. Menurut Salim (2000) transportasi adalah kegiatan
pemindahan barang (muatan) dan penumpang dari suatu tempat ke tempat lain. Dalam
transportasi ada dua unsur yang terpenting yaitu pemindahan/pergerakan (movement) dan
secara fisik mengubah tempat dari barang (comoditi) dan penumpang ke tempat lain.
Menurut Miro (2005) transportasi dapat diartikan usaha memindahkan,
mengerakkan, mengangkut, atau mengalihkan suatu objek dari suatu tempat ke tempat
lain, di mana di tempat lain ini objek tersebut lebih bermanfaat atau dapat berguna untuk
tujuan-tujuan tertentu. Sedangkan menurut Nasution (2008) adalah sebagai pemindahan
barang dan manusia dari tempat asal ke tempat tujuan. Jadi pengertian tranportasi berarti
sebuah proses, yakni proses pemindahan, proses pergerakan, proses mengangkut dan
mengalihkan di mana proses ini tidak bisa dilepaskan dari keperluan akan alat pendukung
untuk menjamin lancarnya proses perpindahan sesuai dengan waktu yang diinginkan.
Menurut Nasution (2008) terdapat unsur-unsur pengangkutan/transportasi
meliputi atas: (a) ada muatan yang diangkut, (b) tersedia kenderaan sebagai alat
angkutannya, (c) ada jalanan/jalur yang dapat dilalui, (d) ada terminal asal dan terminal
tujuan, serta (e) sumber daya manusia dan organisasi atau manajemen yang
menggerakkan kegiatan transportasi tersebut.
Masing-masing unsur tersebut tidak bisa hadir dan beroperasi sendiri-sendiri,
kesemuanya harus terintegrasi secara serentak. Seandainya ada salah satu saja komponen
yang tidak hadir, maka alat pendukung proses perpindahan (system transportasi) tidak
dapat bekerja atau berfungsi. Transportasi bukan hanya usaha berupa gerakan manusia
dan barang dari suatu tempat ke tempat lain dengan gerakan secara statis akan tetapi
transportasi akan mengalami perkembangan dan kemajuan dari waktu ke waktu baik
sarana dan prasaranannya sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Transportasi merupakan salah satu fasilitas bagi suatu daerah untuk maju dan
berkembang serta transportasi dapat meningkatkan aksesibilitas atau hubungan suatu
daerah karena aksesibilitas sering dikaitkan dengan daerah. Untuk membangun suatu
pedesaan keberadaan prasarana dan sarana transportasi tidak dapat terpisahkan dalam
suatu program pembangunan. Kelangsungan proses produksi yang efesien, investasi dan
perkembangan teknologi serta terciptanya pasar dan nilai selalu didukung oleh system
transportasi yang baik. Transportasi faktor yang sangat penting dan strategis untuk
dikembangkan, diantaranya adalah untuk melayani angkutan barang dan manusia dari
satu daerah ke daerah lainnya dan menunjang pengembangan kegiatan-kegiatan sektor
lain untuk meningkatkan pembangunan nasional di Indonesia.

A. Peranan Transportasi
Manusia untuk memenuhi kebutuhannya harus menggunakan sumber daya alam
yang menyediakan makanan dan minuman, pakaian dan perumahan sebagai tempat
tinggal dengan harapan untuk mendapatkan penghidupan yang layak dan nyaman
serta tentram, akan tetapi keberadaan sumber daya alam dipermukaan bumi tidak
merata karena keadaan alam itu sendiri. Tidak ada satu wilayah di dunia ini yang
dalam memenuhi kebutuhan akan sumber daya alam di wilayahnya berasal hanya dari
wilayah itu sendiri, dengan demikian manusia harus melakukan transportasi dengan
melintasi berbagai kondisi alam.
Transportasi yang baik akan berperan penting dalam perkembangan wilayah
terutama dalam aksesibilitas, adapun yang dimaksud dengan aksesibilitas adalah
kemudahan dan kemampuan suatu wilayah atau ruang untuk diakses atau dijangkau
oleh pihak dari luar daerah tersebut baik secara langsung maupun tidak langsung.
Mudahnya suatu lokasi dihubungkan dengan lokasi lainnya lewat jaringan
transportasi yang ada, berupa prasarana jalan dan alat angkut yang bergerak diatasnya.
Pembangunan pedesaan semakin lambat dan terhambat karena kurangnya sarana
transportasi yang ada (Margaretta, 2000).
Menurut Kadir (2006) pada jurnal perencanaan dan pengembangan wilayah
wahana hijau, peran dan pentingnya transportasi dalam pembangunan ekonomi yang
utama adalah tersedianya barang, stabilisasi dan penyamaan harga, penurunan harga,
meningkatnya nilai tanah, terjadinya spesialisasi antar wilayah, berkembangnya usaha
skala kecil, terjadinya urbanisasi dan konsentrasi penduduk. Dampak negatif
perkembangan transportasi antara lain : bahaya atas kehancuran umat manusia,
hilangnya sifat-sifat individual dan kelompok, tingginya frekuensi dan intensitas
kecelakaan, makin meningkatnya urbanisasi, kepadatan dan konsentrasi penduduk
dan tersingkirnya industri kerajinan rumah tangga.
Tujuan transportasi dalam mendudukung perkembangan ekonomi nasional :
a. Meningkatnya pendapatan nasional disertai dengan distribusi yang merata
antara penduduk.
b. Meningkatnya jenis dan jumlah barang jadi dan jasa yang dapat dihasilkan pada
konsumen, industri, dan pemerintah.
c. Mengembangkan industri nasional yang dapat menghasilkan devisa serta
mensuplai pasaran dalam negeri.
d. Menciptakan dan memelihara tingkatan kesempatan kerja bagi masyarakat.
Menurut Salim (2000) transportasi bermanfaat bagi masyarakat, dalam arti hasil-
hasil produksi dan bahan-bahan baku suatu daerah dapat dipasarkan kepada
perusahaan industri. Selain itu transportasi melaksanakan penyebaran penduduk dan
pemerataan pembangunan. Penyebaran penduduk ke seluruh pelosok tanah air di
Indonesia menggunakan berbagai jenis moda transportasi.
Menurut Daljoeni (2003) tentang peran transportasi dalam menghubungkan bahan
baku ke konsumen : “pengangkutan berperan penting untuk saling menghubungkan
daerah sumber bahan baku, daerah produksi, daerah pemasaran dan daerah
pemukiman sebagai tempat tinggal konsumen”.
Pengangkutan merupakan pendukung pergerakan manusia untuk melintasi ruang
dan waktu dipermukaan bumi ini, dimana kondisi permukaan bumi yang berbeda-
beda karena faktor-faktor geografi sehingga dapat menjadi faktor pembatas satu
daerah dengan daerah lainnya, untuk menghubungkan dan mengurangi perbedaan
tersebut dibutuhkan satu faktor lain yang menjembatani keterbatasan ruang gerak
manusia yaitu transportasi, untuk mendukung transportasi dibutuhkan alat angkut
berupa kenderaan, sehingga perusahaan otomotif dapat memproduksi berbagai jenis
kenderaan.
Sumber daya yang merata dan saling melengkapi memerlukan adanya transportasi
yang baik sebagai alat angkut dan penggerak kehidupan manusia. Hal ini dapat kita
lihat dari pendapat Warpani (1990) pengangkutan diperlukan karena sumber-sumber
kebutuhan manusia disuatu daerah tidak terdapat di setiap tempat. Disamping itu
sumber daya yang dibutuhkan harus melalui tahapan produksi, dimana lokasinya
tidak selalu terdapat ditempat manusia sebagai konsumen.
Menurut Nasution (2008) peranan pengangkutan mencakup bidang yang luas di
dalam kehidupan manusia yang meliputi atas berbagai aspek, seperti aspek sosial dan
budaya, aspek politis dan pertahanan, aspek hukum, aspek teknik dan aspek ekonomi.
Kegiatan transportasi tidak terlepas dari biaya pengangkutan, yang dalam
pengangkutan barang dan manusia atau penumpang sering disebut ongkos. Kegiatan
transportasi merupakan bergerak dibidang jasa dengan menggunakan supir dan
peralatan lainnya serta bahan bakar minyak sebagai bahan bakar untuk menggerakkan
alat transportasi, sehingga biaya transportasi sangat tergantung pada harga bahan
bakar minyak, apalagi pada saat ini harga bahan bakar minyak terus mengalami
kenaikan. Untuk menghemat biaya transportasi, khususnya transportasi darat dapat
dilakukan dengan memperhatikan kondisi jalan dan ketersediaan berbagai jenis dan
jumlah angkutan umum yang disesuaikan dengan jarak tempuh sehingga dapat
mempermudah penduduk dalam melakukan segala aktivitas.

B. Prasarana dan Sarana Transportasi


a. Prasarana transportasi
Prasarana adalah barang atau benda tidak bergerak yang dapat menunjang atau
mendukung pelaksanaan tugas dan fungsi unit kerja. Jalan dan jembatan adalah
prasaranan transportasi darat yang meliputi segala bagian jalan, termasuk bangunan
pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi lalu lintas. Jalan merupakan
prasarana yang sangat penting sebagai penunjang transportasi, dimana jalan
merupakan wahana tempat terjadinya gerakan transportasi sehingga terjalin hubungan
antara satu daerah dengan daerah lain, hal ini dikatakan oleh Morlok (1998) yang
menyatakan bahwa pengertian jalan adalah salah satu ruang dimana gerakan
transportasi dapat terjadi.
Jalan merupakan suatu kebutuhan yang paling esensial dalam transportasi. Tanpa
adanya jalan tak mungkin disediakan jasa transportasi bagi pemakainya. Jalan
ditujukan dan disediakan sebagai basis bagi alat angkutan untuk bergerak dari suatu
tempat asal ke tempat tujuannya. Unsur jalan dapat berupa jalan raya, jalan kereta api,
jalan air, dan jalan udara.
Menurut Kadir (2006) jalan dapat diklasifikasikan menurut jalan alam (natural)
dan jalan buatan (artificial). Jalan alam merupakan pemberian alam dan karenanya
tersedia bagi setiap orang tanpa (atau hampir tidak) adanya suatu beban ongkos bagi
pemakainya. Seperti jalan setapak, sungai, danau, dan jalan udara. Sedangkan jalan
buatan adalah jalan yang di bangun melalui usaha manusia secara sadar dengan
sejumlah dana investasi bagi pembiayaan tertentu untuk membuat konstruksinya dan
pemeliharaannya.
Ketentuan lebih jauh seperti diamanatkan oleh landasan hukum, seperti tercantum
pada Peraturan Pemerintah, No. 34, Tahun 2006, tentang jalan dimana pasal 102
menyatakan bahwa jalan umum bisa dioperasikan manakala setelah ditetapkan
memenuhi persyaratan layak fungsi secara teknis dan administrative sesuai dengan
pedoman teknis yang ditetapkan oleh menteri terkait (Kusnandar, 2009).
Jalan memiliki faktor pendorong atau pendukung dengan standar atau
kemampuan jalan menahan angkutan, kontruksi dan jenis jalan sehingga dapat
diketahui jenis angkuatan yang dapat dan tidak dapat melewati jalan tersebut agar
tidak terjadi kerusakan atau kecelakaan sehingga gerakan transportasi dapat berjalan
dengan lancar.
Nasution (2008) mengatakan bahwa salah satu faktor pendorong dan pendukung
dengan standar atau kemampuan jalan dalam menahan angkutan yang melintasnya.
Menurut UU No. 1980 standar jalan baik tersebut didasarkan pada kelas dan
permukaannya. Berdasarkan kelas jalan dibedakan atas:
1. Jalan kelas satu dengan daya dukung maksimal sepuluh ton dan lebar rata-rata
tujuh meter.
2. Jalan kelas dua dengan daya dukung atau kapasitas maksimal tujuh ton dan
lebar rata-rata lima meter.
3. Jalan kelas tiga dengan daya dukung maksimal lima ton dan lebar rata-rata
empat meter.
4. Jalan kelas empat dengan daya dukung maksimal tiga ton dan lebar rata-rata
tiga meter.
Menurut Soemargono (1992), jalan menurut permukaannya ditentukan oleh
bahan-bahan yang dipergunakan serta teknik-teknik yang digunakan atau ditetapkan
dalam pekerjaannya sehingga dibedakan atas:
1. Jalan berkonstruksi aspal yaitu jalan yang lapisan bawahnya diperkeras atau
dipadatkan dengan beberapa lapisan batu, kerikil, dan tanah pasir sebagai lapisan
penutup permukaan jalan dipergunakan aspal beton yang diproses melalui ketel dan
tungku pemasak aspal.
2. Jalan berkonstruksi batu yaitu jalan yang hanya dibuat dari atau diperkeras
dengan batu kerikil.
3. Jalan tanah yaitu jalan yang belum pernah di tingkatkan dan hanya terdiri tanah
saja.
Menurut Nasution (2008), berdasarkan peranannya klasifikasi jalan
dikelompokkan atas 5 golongan, sesuai dengan karakteristik masing-masing :
1. Jalan arteri yaitu jalan yang melayani angkutan umum utama dengan ciri
perjalanan jarak jauh, kecepatan tinggi dan jumlah jalan masuk yang membatasi
secara efesien.
2. Jalan kolektor yaitu jalan yang melayani angkutan menuju /keluar ke suatu
tempat dengan ciri perjalanan jarak sedang dengan kecepatan yang sedang dan
jumlah jalan masuk yang dibatasi.
3. Jalan lokal yaitu jalan yang melayani angkutan setempat dengan ciri perjalanan
jarak dekat dengan kecepatan rata-rata rendah atau lambat dan jumlah jalan masuk
tidak dibatasi.
4. Jalan akses yaitu melayani angkutan pedesaan, dengan ciri-ciri: perjalanan jarak
sangat dekat, kecepatan sangat lamban, dan banyak jalan masuk persimpangan.
5. Jalan Setapak yaitu melayani perjalanan kaki, sepeda dan sepeda motor, serta
umumnya belum beraspal.
Menurut Lemhmnas (1997): menjelaskan bahwa dengan tersedianya prasarana
jalan yang semakin baik dan luas akan memperlancar arus pengangkutan manusia dan
barang serta memberikan manfaat yang sangat besar bagi kesejahteraan penduduk.
Maka dengan demikian prasarana jalan yang baik dan lancar akan menunjang
kelancaran arus pengangkutan manusia, barang dan jasa serta melancarakan
hubungan antar kota dengan desa dan sebaliknya, dalam beraktivitas untuk memenuhi
kebutuhan hidup masyarakat yang nantinya akan lebih mensejahterakan kehidupan
penduduk.
Dalam melancarkan hubungan antar daerah, antar desa dan kota diperlukan
perbaikan jalan baik jumlah maupun luasnya serta kualitasnya. Hal ini sesuai dengan
yang diungkapkan oleh Bintarto (1984) “ Perluasan jalur-jalur jalan yang
menghubungkan desa dengan kota dan perkembangan di bidang transportasi sangat
berperan dalam meningkatkan frekuensi hubungan desa antar kota. Secara umum
kelancaran transportasi sangat dibutuhkan untuk :
1. Memajukan daerah terpencil
2. Melancarkan pemasaran hasil pertanian, perkebunan, pertambangan industri dan
sumber daya alam lainnya.
3. Mendukung jalannya pemerintahan di daerah
4. Mendukung perkembangan pendidikan, pariwisata dan kebudayaan
5. Perbaikan tingkat kesehatan masyarakat
6. Menjaga kesatuan dan kedaulatan bangsa
7. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat
8. Membuka daerah-daerah yang baru

b. Sarana transportasi
Sarana adalah barang atau benda bergerak yang dapat dipakai sebagai alat dalam
pelaksanaan tugas dan fungsi unit kerja. Menurut Miro (2008) masyarakat pelaku
perjalanan (konsumen jasa transportasi) dapat dikelompokkan ke dalam dua
kelompok yaitu:
1. Golongan Paksawan (Captive) merupakan jumlah terbesar di Negara
berkembang, yaitu golongan masyarakat yang terpaksa menggunakan angkutan
umum karena ketiadaan mobil pribadi. Mereka secara ekonomi adalah golongan
masyarakat lapisan menengah ke bawah (miskin atau ekonomi lemah).
2. Golongan Pilihwan (Choice), merupakan jumlah terbanyak di Negara-negara
maju, yaitu golongan masyarakat yang mempunyai kemudahan (akses) ke
kenderaan pribadi dan dapat memilih untuk menggunakan angkutan umum atau
angkutan pribadi. Mereka secara ekonomi adalah golongan masyarakat lapisan
menengah ke atas (kaya atau ekonomi kuat)
Menurut Miro 2008 secara umum, ada dua kelompok besar moda transportasi
yaitu :
1. Kenderaan Pribadi (Private Transportation), yaitu :
Moda transportasi yang dikhususkan buat pribadi seseorang dan seseorang itu
bebas memakainya ke mana saja, di mana saja dan kapan saja dia mau, bahkan
mungkin juga dia tidak memakainya sama sekali (mobilnya disimpan di garasi).
2. Kenderaan Umum (Public Transportation), yaitu:
Moda transportasi yang diperuntukkan buat bersama (orang banyak), kepentingan
bersama, menerima pelayanan bersama, mempunyai arah dan titik tujuan yang sama,
serta terikat dengan peraturan trayek yang sudah ditentukan dan jadwal yang sudah
ditetapkan dan para pelaku perjalanan harus wajib menyesuaikan diri dengan
ketentuan-ketentuan tersebut apabila angkutan umum ini sudah mereka pilih.
Angkutan umum merupakan sarana angkutan untuk masyarakat kecil dan
menengah supaya dapat melaksanakan kegiatannya sesuai dengan tugas dan fungsinya
dalam masyarakat. Warpani (1990), menyatakan bahwa angkutan umum penumpang
adalah angkutan penumpang yang dilakukan dengan system sewa atau membayar.
Menurut Bangun (1998), pengertian angkutan umum (public transport) adalah
semua jenis model transportasi yang supply untuk kebutuhan mobilitas pergerakan
barang dan orang, demi kepentingan masyarakat atau umum dalam memenuhi
kebutuhannya, jenis angkutan berdasarkan peruntukannya terdiri dari angkutan umum
dan angkutan penumpang, masing-masing dengan jenis kenderaan dan fasilitas yang
berbeda.

C. Penelitian Relavan.
D. Kerangka berpikir