Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kebutuhan energi di Indonesia khususnya dan di dunia pada umumnya terus meningkat
karena pertambahan penduduk, pertumbuhan ekonomi dan pola konsumsi energi itu
sendiri yang senantiasa meningkat. Sedangkan energi fosil yang selama ini merupakan
sumber energi utama ketersediaannya sangat terbatas dan terus menipis. Proses alam
memerlukan waktu yang sangat lama untuk dapat kembali menyediakan energi fosil ini.

Banyak sumber daya alam terbarukan yang ada di Indonesia yang belum dimanfaatkan
secara optimal seperti energy angin, energy air, energy surya, dan lainnya. Pemanfaatan
energi terbarukan dapat mencegah terjadinya kenaikan jumlah karbon dioksida (CO2) pada
lapisan atmosfer yang meyebabkan pemanasan global.

Mengingat kebutuhan energi listrik yang terus meningkat, secara otomatis kebutuhan
energi untuk pembangkitannya pun juga meningkat. Hal ini menjadi polemik, dikarenakan
primadona pembangkit listrik (bahan bakar fosil) juga semakin menipis dan akan habis
suatu saat nanti. Apabila masih saja ketergantungan kepada bahan bakar fosil, sama saja
kita menggiring diri ke jurang krisis energi yang akibatnya bisa kita rasakan kelak jika tidak
adanya penggantian pembangkit energi listrik. Disamping itu, penggunaan bahan bakar
fosil juga merupakan penyumbang terbesar pelubangan ozon akibat efek rumah kaca. Dan
energi listrik merupakan salah satu kebutuhan pokok yang paling penting dalam kehidupan
manusia saat ini, dimana hampir seluruh aspek aktifitas kehidupan manusia berhubungan
dengan energi listrik. Seiiring dengan pertumbuhan ekonomi dan tingkat populasi
penduduk dunia pada umumnya dan Indonesia pada khususnya maka permintaan akan
energi listrik juga akan meningkat.
Menurut Blueprint Pengelolaan Energi Nasional yang dikeluarkan oleh Departemen
Energi dan Sumber Daya Mineral (DESDM) pada tahun 2005, cadangan minyak bumi di
Indonesia pada tahun 2004 diperkirakan akan habis dalam kurun waktu 18 tahun dengan
rasio cadangan/produksi pada tahun tersebut. Sedangkan gas diperkirakan akan habis
dalam kurun waktu 61 tahun dan batubara 147 tahun.

Diperlukanlah konversi, konservasi, dan pengembangan energi-energi baru terbarukan


(renewable energy) untuk mengatasi ketergantungan akan energy bahan bakar fosil. Masuk
ke aspek pengembangan, harus memperhatikan tiga “E” yaitu energi, ekonomi, dan
ekologi. Menyetimbangkan ketiga “E” ini secara tepat adalah tantangan utama teknologi
masa kini (Culp, 1991:3). Adapun yang dimaksud dengan renewable energy adalah sumber
energi yang persediaannya tidak terbatas, dapat diperbarui dan atau dapat dibuat.
Renewable energy mendapatkan energi dari aliran energi yang berasal dari proses alam
yang berkelanjutan seperti sinar matahari, angin, air yang mengalir, proses biologi, dan
geotermal.

Salah satu pemanfaatan energi terbarukan yang saat ini memiliki potensibesar untuk
dikembangkan adalah energi angin. Energi ini merupakan energi yang bersih dan proses
produksinya tidak mencemari lingkungan. Angin sebagai sumber energi yang jumlahnya
melimpah merupakan sumber energi yang terbarukan dan tidak menimbulkan polusi udara
karena tidak menghasilkan gas buang yang dapat menyebabkan efek rumah kaca. Energi
angin adalah salah satu energi yang tersedia di alam yang dapat diperoleh secara gratis dan
ramah lingkungan. Perkembangan pemanfaatan energi angin di Indonesia saat ini masih
tergolong rendah. Salah satu penyebab yang mendasar adalah karena kecepatan angin rata-
rata di wilayah indonesia tergolong kecepatan angin rendah, yaitu 2 bekisar antara 3 m/s
sampai dengan 6 m/s sehingga sulit untuk menghasilkan energi listrik dalam skala besar.
Penggunaan tenaga angin hanya 1% dari total produksi listrik dunia (2005). Jerman
merupakan produsen terbesar tenaga angin dengan 32% dari total kapasitas dunia pada
2005; targetnya pada 2010, energi terbarui akan memenuhi 12,5% kebutuhan listrik
Jerman. Jerman memiliki 16.000 turbin angin, kebanyakan terletak di utara negara tersebut
- termasuk tiga terbesar dunia, dibuat oleh perusahaan Enercon (4,5 MW), Multibrid (5
MW) dan Repower (5 MW). Provinsi Schleswig-Holstein Jerman menghasilkan 25%
listriknya dari turbin angin.

B. Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
1. Apa saja komponen komponen pada pembangkit listrik tenaga angin sederhana?
2. Bagaimana proses pembangkitan listrik menggunakan pembangkit listrik tenaga
angina sederhana?
3. Bagaimana hasil pembangkitan listrik menggunakan pembangkit listrik tenaga
angin sederhana?

C. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini antara lain :
1. Mengetahui komponen komponen yang digunakan pada pembangkit listrik tenaga
angin sederhana
2. Mengetahui proses pembangkitan listrik menggunakan pembangkit listrik tenaga
angina sederhana
3. Mengetahui hasil pembangkitan listrik menggunakan pembangkit listrik tenaga
angina sederhana

D. Manfaat Penelitian
Penelitian yang penulis lakukan ini kiranya dapat bermanfaat bagi penulis sendiri, bagi
para pembaca atau pihak – pihak yang berkepentingan. Manfaat penelitian ini yaitu:
1. Memaksimalkan energi angin sebagai pengganti energi bahan bakar fosil
2. Teknologi tepat guna turbin angin dari penelitian dapat digunakan sebagai alat
peraga untuk menunjang perkuliahan Konversi Energi.

E. Batasan Masalah
1. kami hanya mengamati pemanfaatan angin sebagai pembangkit listrik dengan
menggunakan pembangkit listrik tenaga angina sederhana
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Energi Angin
Angin adalah udara yang bergerak dari tekanan udara yang lebih tinggi ke tekanan udara
yang lebih rendah. Perbedaan tekanan udara disebabkan oleh perbedaan suhu udara akibat
pemanasan atmosfir yang tidak merata oleh sinar matahari. Karena bergerak angin
memiliki energi kinetik. Energi angin dapat dikonversi atau ditransfer ke dalam bentuk
energi lain seperti listrik atau mekanik dengan menggunakan kincir atau turbin angin. Oleh
karena itu, kincir atau turbin angin sering disebut sebagai Sistem Konversi Energi Angin
(Saiful, 2008).

Salah satu energi terbarukan yang berkembang pesat di dunia saat ini adalah energi angin.
Energi angin merupakan energi terbarukan yang sangat fleksibel. Energi angin dapat
dimanfaatkan untuk berbagai keperluan misalnya pemompaan air untuk irigasi,
pembangkit listrik, pengering atau pencacah hasil panen, aerasi tambak ikan/udang,
pendingin ikan pada perahu-perahu nelayan dan lain-lain. Selain itu, pemanfaatan energi
angin dapat dilakukan di mana-mana, baik di daerah landai maupun dataran tinggi, bahkan
dapat di terapkan di laut, berbeda halnya dengan energi air (Daryanto, 2007).

B. Turbin Angin
Turbin angin merupakan alat yang digunakan pada sistem konversi energi angin dengan
memanfaatkan energi angin untuk mengubah energi kinetic dari angin menjadi energi
mekanik didalam bentuk putaran poros dan akhirnya energi finalnya berupa listrik dari
generator (Hansen, 2008).

Turbin angin dibagi menjadi dua kelompok utama berdasarkan arah sumbu:
1. Turbin Angin Horizontal Axis
Turbin angin sumbu horizontal merupakan turbin angin yang sumbu rotasi
rotornya paralel terhadap permukaan tanah. Turbin angin sumbu horizontal
memiliki poros rotor utama dan generator listrik di puncak menara dan
diarahkan menuju dari arah datangnya angin untun angin kecil diarahkan menuju
dari arah datangnya angin dengan pengaturan baling – baling angin sederhana
sedangkan turbin angin besar umumnya menggunakan sensor angin dan motor
yang mengubah rotor turbin mengarah pada angin. Berdasarkan prinsip
aerodinamis, rotor turbin angin sumbu horizontal mengalami gaya lift dan gaya
drag, namun gaya lift jauh lebih besar dari gaya drag sehingga rotor turbin
ini lebih dikenal dengan rotor turbin tipe lift.
BAB III
METODE PENELITIAN

A. Alat dan Bahan Penelitian


1. Pipa pvc ¼ dan pipa 1 inch
2. Papan kayu
3. Bearing
4. Clamp metal
5. Baut dan Mur
6. Semen
7. Dynamo 12 V
8. Stabilizer
9. Lampu

B. Tahap Penelitian
1. Perakitan alat
a. Siapkan alat-alat yang akan dirakit
b. Selanjutnya potong 2 buah pipa pvc ukuran 1/4 inch sepanjang 30 cm dan rakit
Dynamo 12 V dengan kabel
c. Rekatkan dynamo kepermukaan pipa dengan lem agar merekat dengan kuat
d. Kemudian pasang clamp metal pada dynamo yang sudah terpasang dipipa agar
dynamo pada saat terkena angin tidak mudah lepas
e. Lubangi permukaan pipa, lalu pasang papan pada sirip pipa yang fungsinya untuk
penyeimbang dan penentu arah angin
f. Pipa yang sudah dilubangi dipasang Baut dan Mur, pasang Bearing lalu
kencangkan dengan Mur
g. Pasang sambung pipa pada Bearing dan sambungkan pipa yang panjangnya 30
cm ke sambungn Bearing
h. Pasang baling-baling kipas di Dynamo
i. Pasang komponen tadi dengan pipa 1 inch dan sambung kabel dengan lampu.
BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan

B. Saran