Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

EVALUASI KEBIJKAN PENDIDIKAN


Diajukan Sebagai Tugas Mata Kuliah Analisis Kebijakan Pendidikan

Dosen Pengampu : Ibu Uswah Fadilah, M.Pd.I

Disusun : Kelompok 5

1. Muh Dharmawan N.F Npm 179203040


2. Herdina Yolanda Putri Npm 179293004

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI)


TULANG BAWANG LAMPUNG
TAHUN AKADEMIK 2019/2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah swt karena berkat rahmat Nya penyusunan
makalah ini dapat diselesaikan.Makalah ini merupakan makalah Kebijakan
Pendidikan yang membahas “Evaluasi Kebijakan Pendidikan ”.Secara khusus
pembahasan dalam makalah ini diatur sedemikian rupa sehingga materi yang
disampaikan sesuai dengan mata kuliah. Dalam penyusunan tugas atau materi ini,
tidak sedikit hambatan yang kami hadapi. Namun kami menyadari bahwa
kelancaran dalam penyusunan makalah ini tidak lain berkat bantuan, dorongan
dan bimbingan orang tua, sehingga kendala-kendala yang kami hadapi teratasi .
oleh karena itu kami mengucapkan terimakasih kepada:

1. Ibu dosen Uswah Fadilah, M.Pd.I mata kuliah Analisis Kebijakan Pendidikan
yang telah memberikan tugas, petunjuk, kepada kami sehingga kami
termotivasi dan menyelesaikan tugas makalah ini.
2. Orang tua, teman dan kerabat yang telah turut membantu, membimbing, dan
mengatasi berbagai kesulitan sehingga tugas makalah ini selesai.

Kami sadar, bahwa dalam pembuatan makalah ini terdapat banyak


kesalahan.Untuk itu kami meminta maaf apabila ada kekurangan. Kami sangat
mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca guna meningkatkan kualitas
makalah penulis selanjutnya. Kebenaran dan kesempurnaan hanya Allah-lah yang
punya dan maha kuasa. Harapan kami, semoga makalah yang sederhana ini, dapat
memberikan manfaat tersendiri bagi generasi muda islam yang akan datang,
khususnya dalam bidang Teori Belajar dan Pembelajaran

Tulang Bawang, 13 September 2019

Tim Penyusun

i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ............................................................................................................... i
DAFTAR ISI........................................................................................................................... ii
BAB I. PENDAHULUAN ........................................................................................................ 1
A. Latar Belakang ..................................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ............................................................................................... 1
BAB II. PEMBAHASAN ......................................................................................................... 2
A. Pengertian Evaluasi Kebijakan Pendidikan .......................................................... 2
B. Macam-Macam Evaluasi Kebijakan Pendidikan .............................................. 4
C. Model Evaluasi Kebijakan Pendidikan ................................................................. 7
D. Kriteria Evaluasi Kebijakan Pendidikan................................................................ 8
E. Evaluasi Proses Kebijakan Pendidikan ............................................................... 10
F. Permasalahan dalam Evaluasi Kebijakan Pendidikan........................................ 11
BAB III. PENUTUP .............................................................................................................. 12
A. Kesimpulan ........................................................................................................ 12
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................. 13

ii
BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Dalam melaksanakan suatu program, pastilah dibutuhkan evaluasi. Begitu

pula dalam proses perumusan kebijakan pendidikan. Setelah proses formulasi

hingga pelaksanaan kebijakan, barulah dilakukan evaluasi kebijakan. Pengadaan

evaluasi ini burfungsi untuk mengetahui seberapa jauh program yang telah

dirumuskan dan dilaksanakan berjalan dan sebagai perbaikan untuk program yang

selanjutnya.

Evaluasi yang dilakukan dalam kebijakan pendidikan merupakan proses

akhir dari seluruh langkah-langkah untuk merumuskan kebijakan. Dalam

melakukan proses terakhir ini terdapat beberapa model yang dapat digunakan

dalam menilai hasil-hasil kebijakan. Model inilah yang menjadi langkah

selanjutnya setelah melihat permasalahan yang ada dalam perumusan kebijakan.

B. Rumusan Masalah

1. Apa pengertian evaluasi kebijakan pendidikan?

2. Apa saja model evaluasi kebijakan pendidikan?

3. Bagaimana kriteria evaluasi kebijakan pendidikan?

4. Bagaimana evaluasi proses kebijakan pendidikan?

5. Apa saja permasalahan dalam evaluasi kebijakan pendidikan?

1
BAB II. PEMBAHASAN
A. Pengertian Evaluasi Kebijakan Pendidikan

Pengertian evaluasi jika dikerucutkan berhubungan dengan hasil informasi

mengenai nilai atau manfaat dari hasil kebijakan yang pada kenyataannya

mempunyai nilai.1

Evaluasi adalah aktivitas untuk mengetahui sejauh mana suatu program

telah terlaksana atau belum terlaksana dan berhasil atau gagal sesuai dengan yang

diharapkan atau tidak. Menurut Supandi, evaluasi merupakan upaya menganalisa

nilai-nilai dari fakta-fakta suatu kebijakan. Sehingga dalam hal ini tidak hanya

sekedar mengumpulkan fakta mengenai kebijakan, melainkan juga membuktikan

fakta-fakta tersebut mempunyai nilai atau tudak jika dibandingkan dengan kriteria

yang telah ditentukan.

Jones mengartikan evaluasi kebijakan sebagai suatu kegiatan yang

dirancang untuk menilai hasil-hasil dari program pemerintah yang dengan objek,

teknik pengukuran dan metode analisisnya.

Menurut Stufflebeam, evaluasi berarti proses penggambaran, pencarian

dan pemberian informasi yang bermanfaat dalam menentukan alternatif

keputusan. Menurut Anderson, evaluasi merupakan proses yang menetukan hasil

yang telah dicapai yang direncanakan untuk mendukung tercapainya tujuan.

Menurut Suharto, kebijakan merupakan suatu ketetapan yang menganut prinsip-

1
Nanang Fattah, Analisis Kebijakan Pendidikan (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2012),
234.

2
prinsip untuk mengarahkan cara bertindak yang dibuat secara terencana untuk

mencapai tujuan.2

Setelah mengetahui definisi evaluasi menurut beberapa pendapat diatas,

penulis dapat menyimpulkan, evaluasi merupakan suatu kegiatan yang dilakukan

untuk menilai dan mengukur program dari semua aspek untuk mengetahui apakah

program tersebut sudah terlaksana atau belum, sesuai dengan perencanaan dan

harapan atau belum.

Sedangkan evaluasi kebijakan berarti penilaian terhadap hasil program

yang telah direncanakan dan laksanakan oleh pemerintah. Untuk pengertian

evaluasi kebijakan pendidikan merupakan pengukuran atau penilaian terhadap

program pemerintah yang terfokus dalam ranah kependidikan dalam segala aspek.

Evaluasi pendidikan perlu dilakukan dengan alasan – alasan sebagai

berikut:

1. Mengetahui apakah hal-hal yang telah dirumuskan dalam formulasi

kebijaksanaan tersebut dapat dilaksanakan ataukah tidak.

2. Mengetahui apakah rumusan-rumusan kebijaksanaan yang tertulis telah

berhasil dilaksanakan ataukah belum.

3. Mengetahui kelebiham dan kekurangan rumusan kebijaksanaan dalam

kaitannya dengan faktor kondisional dan situsional dimana kebijaksanaan

tersebut dilaksanakan.

4. Mengetahui seberapa jauh suatu rumusan kebijaksanaan telah dapat

diimplementasikan.

2Ali Imron, Kebijaksanaan Pendidikan Di Indonesia (Proses, Produk, dan Masa Depannya), (Jakarta: Bumi
Aksara, 2012), 86-87.

3
5. Mengetahui keberhasilan dan kekurangan pelaksanaan kebijaksanaan.

6. Mengetahui seberapa dampak yang ditimbulkan oleh suatu kebijaksanaan

terhadap khalayak yang bermaksud dituju oleh kebijaksanaan, dan khalayak

yang tak bermaksud dituju oleh kebijaksanaan.

7. Mengetahui apakah risiko-risiko yang telah diperhitungkan pada saat

formulasi telah dapat diatasi dengan baik ataukah tidak.

8. Mengetahui langkah-langkah yang dapat ditempuh dalam hal perbaikan

kebijaksanaan.

B. Macam-Macam Evaluasi Kebijakan Pendidikan

Evaluasi kebijakan pendidikan dapat digolongkan sesuai dengan berbagai

macam sudut tinjau . Ditinjau dari segi waktu mengevaluasi, evaluasi kebijakan

dapat digolongkan menjadi dua. Pertama berasal dari pandangan linier, evaluasi

dilaksanakan setelah implementasi kebijakan. Menurut pandangan ini yang

dievaluasi terutama adalah implementasi kebijakan. Kedua berasal dari

pandangan komprehensif, evaluasi dilaksanakan dihampir setiap proses kebijakan.

Evaluasi dilaksanakan baik pada saat perumusan, legitimasi, komunikasi,

implementasi, partisipasi bahkan terhadap evaluasinya sendiri.3

Ditinjau dari substansi evaluasi kebijakan pendidikan, dapat dibedakan

menjadi: evaluasi kebijakan pendidikan dasar, evaluasi kebijakan pendidikan

menengah dan evaluasi kebijakan pendidikan tinggi.Ditinjau dari periodesasi

evaluasi, dibedakan menjadi evaluasi kebijakan pendidikan repelita keenam tahun

3
Ibid, hlm, 93

4
pertama. Repelita keenam tahun kedua, repelita keenam tahun keempat, dan

repelita keenam tahun terakhir.

Ditinjau dari kriteria evaluasi, dibedakan atas dua golongan, ialah

evaluasi yang menggunakan kriterium. Kriterium di sini lazimnya berupa

kriterium mengacu kepada yang sudah terstandar (standar criterian reference)

dan kriterium yang dibuat berdasarkan acuan norma (norm criterian reference).

Yang pertama bararti telah dibuat patokan seara nasional dan daerah-daerah

yang melaksanakan kebijakan tersebut harus menjadikannya sebagai patokan.

Sedangkan yang kedua lebih menunjuk kepada, apakah suatu daerah yang

melaksanakan kebijakan tersebut, berada di bawah atau di atas rata-rata daerah-

daerah secara nasional.4

Ditinjau dari sasarannya, evaluasi kebijakan dapat dibedakan menjadi

dua macam, ialah evaluasi proses dan evaluasi dampak. Yang dimaksud dengan

evaluasi proses kebijakan pendidikan adalah evaluasi yang bermaksud

mengetahui baik tidaknya proses kebijakan pendidikan, sedangkan evaluasi

dampak bermaksud mengetahui seberapa dampak yang ditimbulkan oleh

kebijakan pendidikan terhadap masyarakat sasarannya.

Ditinjau dari segi kontinuitasnya, evaluasi kebijakan pendidikan dapat

dibedakan menjadi, evaluasi ormatif dan sumatif. Evaluasi formatif

dilaksanakan secara terus menerus, sedangkan evaluasi sumatif dilaksanakan

setiap periode waktu tertentu.

4
Ibid, hlm, 94

5
Anderson (1979) menggolongkan evaluasi kebijakan menjadi evaluasi

impresionistis, evaluasi oprasional, dan evaluasi sistematik. Evaluasi-evaluasi

yang dimaksudkan oleh Anderson adalah sebagai berikut:5

1. Evaluasi kebijakan impresionistis adalah evaluasi yang didasarkan atas

bukti-bukti yang bersifat anekdotal dan fragmentaris dan dipengaruhi oleh

ideologi, kepentingan dan kriteria teretentu.

2. Evaluasi kebijakan oprasional adalah evaluasi yang diaksentuasikan pada

masalah-masalah pelaksanaan kebijakan.

3. Evaluasi kebijakan sistemik adalah evaluasi yang didesain secara

sistematis. Evaluasi demikian, memperhatikan komponen sistem kebijakan

secara keseluruhan, bersifat objektif, dan apa adanya.Evaluasi ini

menjangkau pada persoalan apakah suatu kebijakan mencapai tujuan serta

mempunyai dampak sebagaimana yang diharapkan ataukah tidak.

Daun (1981) menggolongkan evaluasi kebijakan menjadi tiga, yaitu

evaluasi semu (pesudo evaluation), evaluasi resmi (formal evaluation), dan

evaluasi berdasarkan teori keputusan (decision theoritic evaluation).

1. Evaluasi kebijakan semu adalah evaluasi yang sekadar mempersoalkan alat-

alat evaluasinya, dan tidak menyentuh sama sekali terhadap substansi yang

dievaluasi. Evaluasi demikian, umumnya sekadar mempersoalkan apakah

alat-alat evaluasi yang dipergunakan telah memenuhi persyaratan-

persyaratan sebagai alat evaluasi yang baik.

5
Suharsimi Arikunto dan Cepi Safruddin A. J, Evaluasi Program Pendidikan (Jakarta:
Bumi Aksara, 2009), 30.

6
2. Evaluasi kebijaka resmi. Evaluasi kebijakan resmi adalah evaluasi yang di

samping mempersoalkan validitas, reliabilitas dan fisibilitas alat-alat

evaluasi, juga sekaligus melihat substansi yang dievaluasi. Informasi-

informasi yang didapatkan dalam evaluasi formal ini dilihat kesalihan dan

keandalannya; dan substansi-substansi yang dievaluasi juga dilihat apakah

telah sesuai dengan target-target yang telah ditetapkan ataukah belum.

Evaluasi berdasarkan teori keputusan. Mengingat suatu keputusan

didasarkan atas banyak kompromi dan bahkan konsesus, maka evaluasi

kebijakan berdasarkan teori keputusan ini selain memperhatikan kesahihan

dan keadalan juga mempertimbangkan harga atau nilainya bagi mereka

yang terlibat dalam proses pembuatan keputusan

C. Model Evaluasi Kebijakan Pendidikan


Kaufman dan Thomas membedakan model evaluasi kebijakan menjadi

delapan, namun tidak semua model ini diterapkan atau sangat jarang digunakan.

Berikut model-model evaluasi kebijakan yang sering digunakan:6

1. Goal Oriented Evaluation, model ini dikembangkan oleh Tyler. Objek dari

model ini adalah tujuan dari program yang ditetapkan sebelum program

berjalan dan evaluasi dilakukan secara berkesinambungan.

2. Goal Free Evaluation, model ini dikembangkan oleh Scriven. Model ini

berlawanan dengan model pertama atau bisa dikatakan evaluasi lepas dari

tujuan khusus. Sebab, menurut Scriven yang perlu diperhatikan adalah

6
Ali Imron, Kebijaksanaan Pendidikan Di Indonesia (Proses, Produk, dan Masa
Depannya), (Jakarta: Bumi Aksara, 2012), 103

7
penampilan dari tiap langkah program. Model ini mempertimbangkan tujuan

umum yang akan dicapai oleh program, bukan penilaian secara rinci.

3. Formatif Summatif Evaluation, model ini juga dikembangkan oleh Scriven.

Model ini dilakukan pada waktu program masih berjalan (formatif) dan ketika

program sidah berakhir (sumatif).7

D. Kriteria Evaluasi Kebijakan Pendidikan


Menurut Lester dan Stewart dikutip dari Winamo, evaluasi kebijakan

dapat dibedakan ke dalam dua tugas yang berbeda, tugas pertama adalah untuk

menentukan konsekuensi-konsekuensi yang diakibatkan oleh suatu kebijakan

dengan cara menggambarkan dampaknya. Sedangkan tugas kedua adalah menilai

program kebijakan dengan pengukuran terlaksana atau belum terlaksana dan

berhasil atau gagal berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya.

Dalam menghasilkan informasi mengenai kinerja kebijakan, analisis

menggunakan tipe kriteria yang berbeda untuk menganalisis hasil kebijakan.

Kriteria evaluasi hasil kebijakan sebagai berikut:

1. Efektifitas berkenaan dengan apakah suatu alternatif mencapai hasil yang

diharapkan atau mencapai tujuan dari diadakannya tindakan.

2. Efsiensi berkenaan dengan jumlah usaha yang diperlukan untuk menghasilkan

efektifitas tertentu. Efisiensi yang merupakan sinonim dari rasionalitas

ekonomi adalah hubungan antara efektifitas dan usaha yang terakhir umumnya

diukur dari ongkos moneter. Efisiense biasanya ditentukan melalui perhitugan

biaya per unit produksi atau layanan.

7
Suharsimi Arikunto dan Cepi Safruddin A. J, Evaluasi Program Pendidikan (Jakarta:
Bumi Aksara, 2009), 41-43.

8
3. Kecukupan berkenaan dengan seberapa jauh suatu tingkat efektifitas

memuaskan kebutuhan, nilai atau kesempatan yang menumbuhkan adanya

masalah. Kriteria kecukupan menekankan pada kuatnya hubungan antara

alternatif kebijakan dan hasil yang diharapkan.

4. Pemerataa atau kesamaan erat hubungannya dengan rasionalitas legal dan

sosial dan merunjuk pada distribusi akibat usaha antara kelompok yang

berbeda dalam masyarakat. Kebijakan yang beriorentasi pada pemerataan

adalah kebijakan yang akibatnya atau usahanya distribusi secara adil.

5. Responsivitas berkenaan dengan seberapa jauh suatu kebijakan dapat

memuaskan kebutuhan, preferensi atau nilai kelompok masyarakat tertentu.

Kriteria responsivitas adalah penting karena analisis yang dapat memuaskan

semua kriteria lainnya yaitu efektivitas, efisiensi, kecukupan pemerataan

dianggap masih gagal jika belum menanggapi (respon) terhadap kebutuhan

aktual dari suatu kelompok yang semestnya diuntungkan dari adanya suatu

kebijakan.

6. Ketetapan erat berhubungan dengan rasionalitas substantif karena pertanyaan

tentang ketetapan kebijakan tidak bekenaan dengan satuan kriteria indivindu

tetapi dua atau lebih kriteria secara bersamaan. Ketetapan merujuk pada nilai

atau harga dari tujuan program dan kepada kuatnya asumsi yang melandasi

tujuan tersebut. 8

8
Ali Imron, Kebijaksanaan Pendidikan di Indonesia., 94-95.

9
E. Evaluasi Proses Kebijakan Pendidikan

Evaluasi kebijakan berarti penilaian terhadap hasil program yang telah

direncanakan dan laksanakan oleh pemerintah. Sebagaimana telah disampaikan

sebelumnya bahwa spesifikasi kriteria evaluasi itu beragam begitu pula teknik dan

metode analisisnya. Secara umum, proses evaluasi menurut Patton dan Sawicki

(1986) adalah sebagai berikut:9

1. Mengdentifikasi tujuan yang akan dievaluasi.

2. Analisis masalah yang harus ditangani oleh aktivitas kebijakan tersebut.

3. Deskripsi dan standarisasi dari aktivitas evaluasi.

4. Pengukuran tingkat perubahan yang terjadi.

5. Penentuan mengenai apakah perubahan itu terjadi karena aktivitas atau karena

penyebab lain.

Melihat proses di atas, dalam mengidentifikasi dan analisis masalah dapat

dilakukan dengan mengajukan beberapa pertanyaan, dimana pertanyaan tersebut

membutuhkan jawaban yang sesuai dengan tujuan program. Pertanyaan-

pertanyaan yang dapat diajukan diantaranya:

1. Apa hakikat dari isi tujuan tersebut?

2. Siapa target dari program tersebut?

3. Kapan perubahan yang diinginkan itu harus muncul?

4. Apakah tujuan itu bersifat seragam atau beragam?

5. Seberapa besar pengaruh yang diinginkan?

9
Nanang Fattah, Analisis Kebijakan Pendidikan (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2012),
239

10
6. Bagaimana tujuan itu dapat tercapai?

F. Permasalahan dalam Evaluasi Kebijakan Pendidikan


Dalam pelaksanaan evaluasi kebijakan, tidak terlepas dari masalah-

masalah yang sering terjadi pada saat pelaksanaan evaluasi ini, diantaranya:10

1. Apabila tujuan kebijakan tidak jelas, ketidakjelasan dapat disebabkan oleh

adaya kompromi yang dipaksakan yang terjadi pada langkah pertama

pembuatan kebijakan.

2. Cepatnya perkembangan masyarakat. Perkembangan masyarakat ini dianggap

masalah karena dapat menyulitkan evaluasi kebijakan, karena jika masalah

pada masa ini diselesaikan maka sudah tidak relevan dengan masa yang akan

datang yang pasti diikuti dengan masalah yang baru.

3. Ketidakjelasan masalah. Hal ini berkaitan dengan sumber dan gejala masalah

dimana beberapa pihak mengasumsikan sumber dan gejala masalah sesuai

dengan pandangannya, sehingga sumber dan gejala masalah dianggap tidak

jelas.

4. Adanya hubungan masalah satu dengan yang lainnya yang membutuhkan

pemecahan yang sama.

5. Subjektifitas masalah. Hal ini dilihat dari sudut pandang orang satu dengan

yang lain dimana mereka mempunyai persepsi yang berbeda mengenai

masalah kebijakan.

10
Ibid, hlm, 245

11
BAB III. PENUTUP
A. Kesimpulan

Evaluasi kebijakan merupakan penilaian terhadap hasil-hasil program

kebijakan dimana penilaian ini melihat seberapa jauh tujuan dari program

kebijakan terlaksana. Banyak ahli yang mengemukakan tentang model-model

yang digunakan dalam evaluasi kebijakan. Salah satunya, Kaufman dan Thomas

yang berpedapat ada delapan model yang dapat digunakan dalam evaluasi

kebijakan pendidikan (goal orientation, goal free, formatif-summatif evaluation,

dll).

Proses dan tahapan evaluasi menururt Patton dan Sawicki (1986) secara

garis besar adalah sebagai berikut:

1. Mengdentifikasi tujuan yang akan dievaluasi.

2. Analisis masalah yang harus ditangani oleh aktivitas kebijakan tersebut.

3. Deskripsi dan standarisasi dari aktivitas evaluasi.

4. Pengukuran tingkat perubahan yang terjadi.

5. Penentuan mengenai apakah perubahan itu terjadi karena aktivitas atau

karena penyebab lain.

Dalam setiap program termasuk evaluasi kebijakan pastilah terdapat

masalah-masalah yang mengiringi jalannya suatu program. Masalah-masalah yang

terdapat pada evaluasi kebijakan salah satunya adalah subjektifitas masalah. Hal

ini dilihat dari sudut pandang orang satu dengan yang lain dimana mereka

mempunyai persepsi yang berbeda mengenai masalah kebijakan.

12
DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi, dkk.2009. Evaluasi Program Pendidikan. Jakarta: Bumi


Aksara.

Fattah, Nanang. 2012. Analisis Kebijakan Pendidikan, Bandung: Remaja


Rosdakarya.

Imron, Ali. 2012. Kebijaksanaan Pendidikan Di Indonesia (Proses, Produk, dan


Masa Depannya). Jakarta: Bumi Aksara.

13