Anda di halaman 1dari 7

Praktikum Kimia Organik/1/S.

Ganjil/2019-2020 1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Dari tahun ke tahun perkembangan industri di Indonesia semakin bertambah
sangat banyak, baik pabrik industri milik pemerintah maupun pabrik industri milik
swasta. Dengan berdirinya banyak pabrik di Indonesia dapat menghemat
devisa negara, karena mengurangi impor negara, sehingga perekonomian
Indonesia bisa lebih baik. Perkembangan industri kimia yang sangat cepat
sehingga pemerintah memberikan kesempatan untuk mendirikan pabrik etil
asetat di Indonesia. Dengan didukung kebutuhan etil asetat di Indonesia setiap
tahun meningkat hampir 16,7%. Berkebalikan dengan meningkatnya kebutuhan
tersebut, pabrik etil asetat di Indonesia masih belum bisa untuk mencukupi
kebutuhan etil asetat di Indonesia, sehingga untuk mencukupi kebutuhan etil asetat
di Indonesia, pemerintah mengambil langkah untuk mendatangkan atau impor
etil asetat dari negara lain. Selain alasan-alasan diatas, pemerintah juga
mengambil beberapa pertimbangan sebagai alasan untuk memberikan banyak
kesempatan untuk mendirikan pabrik etil asetat. Adapun alasan dari pemerintah
antara lain untuk memenuhi kebutuhan etil asetat dalam negeri, membuka
lapangan pekerjaan baru sehingga pengangguran akan menurun, serta
menghemat devisa negara karena dapat membantu pertumbuhan
perekonomian Indonesia(Rachmawan, 2014).
Etil asetat adalah cairan jernih, tak berwarna, berbau khas yang digunakan
sebagai pelarut tinta, perekat dan resin. Jika dibandingkan dengan etanol,
etil asetat memiliki koefisien distribusi yang lebih tinggi dibanding etanol
termasuk kelarutannya dalam gasoline. Selain dari penggunaannya sebagai
pelarut, etil asetat dapat berfungsi sebagai bahan aditif untuk meningkatkan
bilangan oktan pada bensin serta dapat berguna sebagai bahan baku kimia
serba guna. Pembuatan etil asetat biasanya dilakukan dengan esterifikasi
(Azura,2015).
Reaksi esterifikasi adalah reaksi antara asam asetat dan etanol menggunakan
katalis asam sulfat. Reaksi yang terjadi adalah reaksi reversibel, dimana konversi

Reaksi Esterifikasi “Pembuatan Etil Asetat”


Praktikum Kimia Organik/1/S. Ganjil/2019-2020 2

dari etil asetat sebesar 65%. Untuk meningkatkan yield, pembentukan air
harus diminimalkan (Rachmawan, 2014). Reaksi akan berlangsung dengan baik
jika direfluks bersama sedikit asam sulfat atau asam klorida. Di industri dan
di laboratorium etil asetat dibuat dengan memanaskan etanol dengan asam asetat
glasial dengan penambahan asam sulfat. Reaksi antara asam asetat dan etanol
dengan katalis asam sulfat akan menghasilkan etil ester dan air(Azura, 2015).
Etil asetat memiliki banyak kegunaan, kegunaan etil asetat dalam industri antara
lain kebutuhan industri tinta cetak dan cat, untuk zat aditif, industri pengepakan dan
laminating, digunakan pada industri farmasi, treatment pada pembuatan alumunium
foil, produksi bahan-bahan elektronik, bermacam-macam kegunaan seperti industri
tekstil, bahan peledak, pemberi aroma dan rasa serta pelapis kertas, film, dan
bahan pembuat bulu buatan. Di bidang kimia, senyawa ini digunakan terutama
sebagai pelarut juga sebagai pengekstrak senyawa dalam tumbuhan tertentu.
Etil asetat diminati karena sifat toksiknya yang lebih rendah dibandingkan
pelarut lain(Nugroho, 2014).
Oleh karena itu, dilakukan percobaan Reaksi Esterifikasi “Pembuatan Etil
Asetat” untuk menghasilkan etil asetat dari bahan asam asetat dan etanol dengan
menggunakan asam asetat sebagai katalis. Pembuatan etil asetat ini dilakukan
dalam skala laboratorium. Proses esterifikasi dilakukan ini dilakukan dengan
pemanasan dan dilanjutkan dengan proses distilasi dan pemurnian, sehingga
didapatkan etil asetat murni.

1.2.Tujuan Praktikum
1. Mempelajari dan memahami reaksi esterifikasi serta faktor-faktor yang
mempengaruhi.
2. Mempelajari dan memahami proses distilasi.
3. Membuat ester dalam skala labor

Reaksi Esterifikasi “Pembuatan Etil Asetat”


Praktikum Kimia Organik/1/S. Ganjil/2019-2020 3

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil
Tabel 4.1. Hasil praktikum Reaksi Esterifikasi “Pembuatan Etil Asetat”
No. Pengamatan Hasil Pengamatan

1. Esterifikasi Pada reaksi ini etanol menguap dan setelah


mengalami kondensasi etanol berubah fasa menjadi
cair dan kembali menjadi pelarut hingga ester
terbentuk.

2. Distilasi Dihasilkan ester pada distilasi yaitu: menit 1: 4


tetes, menit 2: 22 tetes, menit 3: 65 tetes, menit 4:
130 tetes, menit 5: 68 tetes, menit 6: 64 tetes, menit
7: 57 tetes, menit 8: 50 tetes, menit 9: 49 tetes,
menit 10: 33 tetes, sehingga jumlah total menit 1-
10: 478 tetes. Jumlah menit ke-20: 574 tetes, jumlah
menit ke-30: 639 tetes, jumlah menit ke-40: 650
tetes, jumlah menit ke-50:680 tetes, jumlah menit
ke-60: 689 tetes, jumlah menit ke-70: 699 tetes,
jumlah menit ke-80: 706 tetes, dan jumlah menit ke-
90: 717 tetes.

3. Filtrasi Setelah dicampurkan CaCl2 anhidrat dan disaring


dengan kertas saring maka didapatlah etil asetat
yang lebih murni sebanyak 15,5 ml

4. Perhitungan Densitas (ρ): 0,982 gram/ml

%rendemen : 63,55%

4.2 Pembahasan

Reaksi Esterifikasi “Pembuatan Etil Asetat”


Praktikum Kimia Organik/1/S. Ganjil/2019-2020 4

Pada proses pembuatan etil asetat, mula-mula etanol sebanyak 58,3 ml dan
asam asetat sebanyak 14,3 ml dimasukkan kedalam labu didih dasar bulat leher tiga.
Untuk menghasilkan produk dalam jumlah yang besar, kesetimbangan harus
digeser kearah kanan (produk) dengan cara penambahan volume pada reaktan.
Sebelum memasukkan larutan ke dalam labu didih dasar bulat leher tiga, terlebih
dahulu dimasukkan batu didih. Fungsi penambahan batu didih yaitu untuk
meratakan panas sehingga panas menjadi homogen pada seluruh bagian larutan dan
untuk menghindari titik didih lewat. Pori-pori dalam batu didih akan membantu
penangkapan udara pada larutan dan melepaskannya ke permukaan larutan (ini
akan menyebabkan timbulnya gelembung-gelembung kecil pada batu didih).
Tanpa batu didih, maka larutan yang dipanaskan akan menjadi super heated pada
bagian tertentu, lalu tiba-tiba akan mengeluarkan uap panas yang bisa menimbulkan
letupan/ledakan (bumping) (Nugroho, 2014).
Dalam percobaan ini, etanol direaksikan dalam jumlah yang besar dengan
asam asetat dalam labu didih. Kemudian ditambah dengan asam sulfat pekat yang
berfungsi sebagai katalis untuk mempercepat reaksi dan volumenya sebanyak 1 ml
secara perlahan-lahan. Larutan tersebut dipanaskan selama 90 menit dengan
rentang suhu 65-68˚C. Hal ini bertujuan agar campuran cepat menjadi homogen.
Pada saat pemanasan suhu harus dijaga konstan pada rentang 65-68oC. Jika suhu
terlalu rendah maka reaksi tidak akan sempurna dan jika suhu terlalu tinggi, maka
etanol akan menguap, karena titik didih etanol adalah 77℃. Setelah 90 menit,
kemudian larutan didinginkan. Kemudian larutan didistilasi sampai didapat destilat.
Proses distilasi ini bertujuan memisahkan etil asetat dengan komponen lain, yaitu
air dan H2SO4 yang merupakan hasil samping dari esterifikasi, berdasarkan
perbedaan titik didih.
Setelah proses distilasi selesai, hasil distilasi itu ditambahkan dengan CaCl2
anhidrat 2 gram, sebelumnya CaCl2 dioven/dipanaskan selama 15 menit pada suhu
1100C. Pengovenan ini berguna untuk mengeringkan CaCl2 anhidrat yang
kemungkinan mengandung air. Setelah, penambahan CaCl2 terbentuk kristal-
kristal, hal ini terjadi karena CaCl2 anhidrat bersifat hidroskopis/hidrofilik yaitu
mudah mengikat air jadi, CaCl2 anhidrat mengikat air yang kemungkinan masih ada
dalam larutan etil asetat, sehingga terbentuk kristal CaCl.H2O. Setelah penambahan

Reaksi Esterifikasi “Pembuatan Etil Asetat”


Praktikum Kimia Organik/1/S. Ganjil/2019-2020 5

CaCl2, larutan disaring menggunakan kertas saring, etil asetat murni sebagai filtrat
dan CaCl2.H2O sebagai residu.
Volume etil asetat yang diperoleh adalah 15,5 ml, dan volume teoritis etil
asetat adalah 24,39 ml. Sehingga rendemen yang diperoleh dari percobaan ini
adalah 63,55%. Secara umum faktor –faktor yang mempengaruhi rendemen yang
dihasilkan pada reaksi esterifikasi adalah rasio molar antara asam asetat dan
alkohol, jenis katalis yang digunakan, jenis alkohol yang digunakan, suhu reaksi,
lama reaksi dan kandungan air. Semakin besar molar reaktan maka semakin besar
remendemen yang didapat, semakin besar suhu hingga mencapai suhu
maksimalnya maka semakin cepat reaksi yang terjadi dan semakin besar
rendemennya, dan semakin lama waktu reaksi maka semakin banyak produk yang
dihasilkan sehingga semakin besar rendemen yang didapat(Nurdiansyah, 2011).
Berdasarkan percobaan ini densitas etil asetat adalah 0,982 gram/cm3, sedangkan
untuk densitas etil asetat murni pada umumnya adalah 0,902 gram/cm3. Perbedaan
densitas etil asetat dengan densitas etil asetat pada umumnya sangatlah tipis/kecil,
sehingga etil asetat yang didapat sudah dapat dikatakan murni.

Reaksi Esterifikasi “Pembuatan Etil Asetat”


Praktikum Kimia Organik/1/S. Ganjil/2019-2020 6

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
1. Reaksi esterifikasi fischer adalah suatu reaksi antara asam karboksilat
dan alkohol membentuk ester dengan menggunakan katalis asam.
2. Proses distilasi pada percobaan untuk memisahkan etil asetat dengan air
dan asam sulfat.
3. Volume etil asetat murni yang diperoleh dari percobaan adalah sebesar
15,5ml, rendemen sebesar 63,55% serta densitas sebesar 0,982gram/ml.

5.2 Saran
1. Setelah asam asetat, etanol dan asam sulfat pekat bereaksi dan
dikeluarkan dari lemari asam sebaiknya tutup labu didih dasar bulat
dengan aluminium voil agar zat yang bereaksi tidak menguap.
2. Pada pembuatan ester kita harus menjaga suhunya agar konstan, karena
apabila suhu terlalu tinggi dan terlalu rendah, maka ester yang ingin kita
buat tidak akan terbentuk, dengan kata lain pratikum kita gagal, yaitu
pada suhu 65-680C
3. Dalam pemasangan alat terutama pada pemasangan kondensor dengan
labu didih dasar bulat dilapisi dengan aluminium voil agar zat etil asetat
tidak menguap.

Reaksi Esterifikasi “Pembuatan Etil Asetat”


Praktikum Kimia Organik/1/S. Ganjil/2019-2020 7

DAFTAR PUSTAKA
Azura, Sari Liza.2015.Jurnal Teknik Kimia USU. PEMBUATAN ETIL ASETAT
DARI HASIL HIDROLISIS, FERMENTASI DAN ESTERIFIKASI
KULIT PISANG RAJA (Musa paradisiaca L.). No. 1 (Vol.4). Hal
1-6.
Nugroho, Satria Adi.2014. Prarancangan Pabrik etil Asetat Dari Asam Asetat Dan
Etanol Dengan Katalis Asam Sulfat Kapasitas 45.000 Ton Per
Tahun. Naskah Publikasi. Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Nurdiansyah.2011. Efek Lama Maserasi Bubuk Kopra Terhadap Rendemen,
Densitas, dan Bilangan Asam Biodiesel yang Dihasilkan dengan
Metode Transesterifikasi In Situ. Naskah Publikasi.Politeknik
Negeri Pontianak
Rachmawan, Verry Junaidi.2014. Prarancangan Pabrik etil Asetat Dari Asam
Asetat Dan Etanol Dengan Katalis Asam Sulfat Kapasitas 45.000
Ton Per Tahun. Naskah Publikasi. Universitas Muhammadiyah
Surakarta.

Reaksi Esterifikasi “Pembuatan Etil Asetat”