Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN TUGAS MATA KULIAH AKUNTANSI PERPAJAKAN

MATERI ASET TAK BERWUJUD

KELOMPOK 4 / KELAS B

AULIYANA SUSTRI RAIN ( 161600161 )

MUCHAMMAD SRIYADI ( 161600199 )

MUFATIHATUR RIZKY ( 161600203 )

TIO CHANDRA WARDHANA ( 161600226 )

Program Studi Akuntansi

Fakultas Ekonomi Universitas PGRI Adi Buana Surabaya

2018

i
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang maha pengasih lagi maha
penyayang , kami panjatkan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang mana telah
melimpahkan segala rahmat serta hidayahnya kepada kami sehingga makalah
yang berjudul "Aset Tak Berwujud" dapat tersusun hingga selesai. Tidak lupa
kami juga mengucapkan banyak terima kasih terhadap pihak yang
berkontribusi seperti pihak perpustakaan dan teman-teman yang mana telah
membantu penyusunan makalah ini.

Terlepas dari itu semua kami selaku penulis materi menyadari


sepenuhnya akan banyaknya kekurangan dari penyusunan makalah aset tak
berwujud ini, dari segi pengetahuan, tata bahasanya maupun susunan kalimat.
Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala kritik dan saran
agar kami bisa memperbaiki kesalahan pada makalah ini.

Akhir kata kami berharap makalah ini dapat menambah ilmu


pengetahuan saudara tentang aset tak berwujud serta dapat bermanfaat bagi
para pembaca.

Surabaya, 27 April 2018

Penulis

ii
DAFTAR ISI

Judul.....................................................................................................................i

Kata Pengantar....................................................................................................ii

Daftar Isi.............................................................................................................iii

Daftar Tabel........................................................................................................iv

BAB I : PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang...............................................................................................1

BAB II : PEMBAHASAN

2.1 Definisi Aset Tak Berwujud..........................................................................3

2.2 Termasuk Pengertian Aset Tidak Berwujud..................................................3

2.3 Nilai Perolehan Aset Tak Berwujud..............................................................7

2.4 Umur Manfaat dan Metode Amortisasi.........................................................7

2.5 Aset Tak Berwujud Dalam Perpajakan.........................................................8

2.6 Akuntansi Untuk Sumber Alam..................................................................15

2.7 Pengalihan Hak Aset Tetap Tidak Berwujud..............................................18

BAB III : PENUTUP

3.1 Kesimpulan..................................................................................................20

Daftar Pustaka...................................................................................................21

iii
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Jurnal Hak Paten..................................................................................4

Tabel 2.2 Tarif Amortisasi..................................................................................9

Tabel 2.3 Jurnal Saat Amortisasi.......................................................................10

Tabel 2.4 Penghitungan Amortisasi Dalam 2 Metode.......................................11

Tabel 2.5 Jurnal Transaksi PT Hercules............................................................12

Tabel 2.6 Jurnal Penyeroran Pajak....................................................................13

Tabel 2.7 Perhitungan Amortisasi PT Hercules................................................13

Tabel 2.8 Jurnal Transaksi Pembelian Waralaba Keripik Sehat DeDE............14

Tabel 2.9 Jurnal Saat Pemungutan PPh.............................................................14

Tabel 2.10 Jurnal Untuk Pihak Keripik Sehat DeDE........................................14

Tabel 2.11 Rumus Menghitung Deplesi............................................................15

Tabel 2.12 Jurnal Untuk Perusahaan Pertambangan.........................................16

iv
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Aset tak berwujud menurut SAK-ETAP yang diatur oleh IAI (2009:
76), adalah aset nonmoneter yang dapat diidentifikasi dan tidak
mempunyai wujud fisik. Ciri utama aset tak berwujud ialah berupa benda
yang tidak dapat dilihat dan dipegang.

Sedangkan aset tak berwujud menurut perpajakan adalah (Penjelasan


Pasal 11A ayat UU PPh Nomor 36 Tahun 2008) harus diamortisasikan
apabila harta itu mempunyai masa manfaat lebih dari 1 tahun yang
digunakan untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan.
Namun untuk penghitungan amortisasi dalam perpajakan sesuai dengan
ketentuan UU PPh Nomor 36 Tahun 2008 Pasal 11A, aset tak berwujud
dikelompokkan menjadi kelompok 1, 2, 3, dan 4 dengan masa manfaat 4,
8, 16, dan 20 tahun.

Contoh aset tak berwujud dalam kehidupan sehari-hari dapat


dicontohkan sebagai berikut :

1. Kesehatan; dengan kesehatan manusia dapat beraktivitas dengan


baik.
2. Kecerdasan; dengan kecerdasan dapat membuat manusia berfikir
dengan baik.
3. Keimanan; dengan keimanan dapat membuat manusia berperilaku
dengan baik.

Adapun contoh aset tak berwujud dalam bisnis/perusahaan adalah


dapat dicontohkan sebagai berikut :
1. Hak cipta; seperti dalam bentuk karangan buku.

1
2. Seorang musisi yang memiliki hak cipta terhadap suatu lagu yang
diciptakannya.
3. Desain mesin dari suatu pabrik mobil yang bisa menghasilkan
keuntungan bagi perusahaan (paten).
4. Obat-obatan dari perusahaan farmasi
5. Goodwill.
6. Merk dagang,dll.

Hal-hal yang demikian itu, menurut Kieso disebut sebagai aset tak
berwujud. Kieso (2010) aset tak berwujud adalah klasifikasi non-monneter
yang tidak dapat disentuh/diukur secara fisik.

“intangible asset are defined ad indentifiable non-monetary asset that can


not be seen, touch or physically measured”.

2
BAB II

PEMBAHASAN

ASET TAK BERWUJUD

2.1 Definisi Aset Tak Berwujud

Menurut SAK-ETAP yang diatur oleh IAI (2009: 76), aset tak berwujud
adalah aset nonmoneter yang dapat diidentifikasi dan tidak mempunyai
wujud fisik. Ciri utama aset tak berwujud ialah berupa benda yang tidak
dapat dilihat dan dipegang.

Entitas dapat mengakui aset tak berwujud, apabila:

a) kemungkinan entitas akan memperoleh manfaat ekonomis masa depan


dari aset tersebut dan
b) biaya perolehan aset atau nilai aset tersebut dapat diukur dengan
andal.

Apabila entitas tidak mampu menentukan nilai wajar yang andal atas aset
yang diperoleh, maka biaya perolehannya diukur pada jumlah tercatat aset
yang diberikan.

2.2 Termasuk Pengertian Aset Tidak Berwujud

a. Hak Paten

Hak paten merupakan suatu hak yang diberikan kepada pihak yang
menemukan hal untuk menjual, membuat atau mengawasi
penemuannya selama jangka waktu tertentu. hak paten dapat digunakan
sendri atau diserahkan kepada pihak lain dengan suatu perjanjian.
Harga perolehan paten terdiri atas biaya pendaftaran, biaya membuat

3
percobaan dll. Hak paten di amortisasi selama masa penggunannya atas
amortisasi dapat disusun contoh ayat jurnal sebagai berikut.

Tabel 2.1 Jurnal Hak Paten

Tanggal Akun Debit Kredit


Amortisasi Hak Paten xxx
Hak Paten xxx
Pembebanan amortisasi dapat dialokasikan ke biaya produksi atau biaya
penjualan.

b. Hak Cipta

Hak cipta merupakan hak yang diberikan kepada pengarangatau


pencipta untuk diterbitkan menjual atau mengawasi hasil ciptaannya.
Sebagai contoh yaitu karangan musik atau pementasan yang diberikan
juga unntu jangka waktu tertentu. Kemungkinan dapat diperpanjang
masanya dan dapat kurang dari yang ditetapkan.

Pencatatan atas hak cipta dineraca sesuai dengan harga perolehan yang
terdiri atas semua biaya yang berhubungan dengan pekerjaan. Selain itu
hak ciptaa dapat di beli. Amortisasi hak cipta sesuai masa yang
ditetapkan atau di amortisasi sekaligus apabila masanya kurang dari
yang ditetapkan dan ukuran masa sesuai jumlah yang akan terjual.

c. Merek Dagang

Bentuk merek dagang di daftarkan terlebih dahulu dan dilindungi oleh


undang- undang yang penggunannya tidak terbatas. Cara memperoleh
merk dagang ini dapat dengan pembelian atau dibuat sendiri.
Timbulnya yang tidak terbatas maka tidak dilakukan amortisasi, tetapi
timbulnya asumsi perubahan masa mendatang. Maka merk dagang di
amortisasi pada masa pendek.

4
d. Waralaba

Waralaba mrupakan hak yang diberikan oleh pihak tertentukepada


pihak lain atas penggunan fasilitas yang dimiliki franchisor. Akuntansi
dan hl yang berkenaan dengan pemajakan atas usaha waralaba diatur
tersendiri.

e. Leasehold

Leasehold merupakan hak dari penyewa untuk menggunakan aset


tetapdalam perjanjian sewa menyewa. Sewa yang di bayar harus setiap
periode dibebankan pada periode terjadinya atau dikapitalisasi sebagai
aset tetap berwujud tergatung perjanjian sewa, operating atau capital
lease.

Apabila pembayaran sewa dilakukan di mukka, maka perlakuan


akuntansinya sebagai berikut.

1. Dicatat sebagai aset lancar dengan akun sewa dibayar di muka.


2. Dicatat sebagai aset tetap tidak berwujud , untuk mengelompokan
dapat digunakan dalam leasehold
f. Goodwill

PSAK No. 19 (2007) tidak mengatur khusus masalah goodwill.seperti


yag telah dijelaskan sebelumnya goodwill adalah aset tidak berwujud
yang tidak dapat didefinisikan khusus.bahasan dari akuntansi
komersial. Goodwil sebagai kemampuan perusahaan untuk memperoleh
keuntungan atau kondisi normal akibat adanya faktor tertentu yang
mendukung, misal letak perusahaan nama yang dikenali masyarakat
pada umumnya. Goodwil dicatat ketika terjadi:

5
1. Pembelian
2. Merger, reorganisasi, perubahan bentuk usaha dan perubahan
kepemilikan.

Variabel yang menentukan dalam perhitungan goodwill antara lain:

1. Rate of the return atau proyeksi laba yang dapat dihasilkan dimasa
yang akan datang.
2. Nilai aset diluar goodwill.

Penetapan besarnya goodwil dapat digunakan 2 cara yaitu

1. Kapitalisasi penghasilan bersih rata-rata


2. Kapitalisasi kelebihan penghasilan rata-rata.

g. Biaya yang Di Tangguhkan

Biaya yang di tangguhkan dikategorikan sebagai aset tetap tidak


berwujud. Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa aset tetap tidak
berwujud mempunyai nilai berupa hak, tetapi pada biaya yang
ditangguhkan ini memperoleh nilai karena pembayaran di muka yang
biasanya menyangjut masa yang lama. Konsekuensi setiap tahun
dilakukan amortisasi sebagai contoh amortisasi atas biaya pendirian.
Demikian pula hal yang berkaitan dengan biaya pendirian di amortisasi
atau tidak, memang ada pendapat. Apabila biaya pendirian ini
memberikan manfaat selama perusahaan berdiri, maka biaya pendirian
setelah dikapitalisasi tidak di amortisasi sehingga tampak terus menerus
di neraca. Sebaliknya terhadap biaya pendirian tidak memberi manfaat
langsung akan di amortisasi tergantung kebijakan perusahaan.

6
2.3 Nilai Perolehan Aset Tak Berwujud

Aset tak berwujud dapat diperoleh dengan cara membeli dari pihak luar
dan dihasilkan secara internal. Menurut SAK-ETAP (2009:77), nilai aset
tak berwujud dicatat sesuai dengan biaya perolehannya.

Biaya perolehan aset tak berwujud terdiri atas:

a) harga beli, termasuk bea impor dan pajak yang sifatnya tidak dapat
dikreditkan setelah diskon dan potongan dagang dan
b) biaya-biaya yang dapat diatribusikan secara langsung dengan
mempersiapkan aset hingga siap digunakan sesuai dengan tujuannya.

Apabila aset tak berwwjud yang dihasilkan secara internal, maka entitas
harus mengakui pengeluaran internal yang terjadi atas aset
tersebut,termasuk semua pengeluaran untuk aktivitas riset dan
pengembangan sebagai beban pada saat terjadinya.

2.4 Umur Manfaat dan Metode Amortisasi

Untuk tujuan SAK-ETAP semua aset tak berwujud dianggap mempunyai


umur manfaat yang terbatas. Tetapi, apabila entitas tidak mampu
mengestimasi umur manfaat aset tak berwujud, maka umur manfaatnya
dianggap 10 tahun.

Amortisasi dimulai ketika aset siap digunakan, yaitu aset tersebut berada di
lokasi dan kondisi yang dibutuhkan untuk mampu beroperasi sesuai dengan
keinginan pihak manajemen, Amortisasi dihentikan ketika aset dihentikan
pengakuannya.

Entitas harus memilih metode amortisasi yang mencerminkan pola


pemanfaatan aset di masa mendatang, tetapi apabila entitas tidak dapat

7
menetapkan pola yang andal maka entitas menggunakan metode garis
lurus.

Nilai residu suatu aset tak berwujud seharusnya diasumsikan sama dengan
0, kecuali:

a) ada komitmen dari pihak ketiga untuk membeli aset tak berwujud
tersebut pada akhir masa manfaatnya;
b) ada pasar aktif untuk aset tak berwujud; dan
i. nilai residu aset dapat ditentukan dengan mengacu pada
harga pasar yang berlaku di pasar tersebut; dan
ii. terdapat kemungkinan bahwa pasar yang aktif tersebut akan
tetap ada pada akhir umur manfaat aset tak berwujud.

Penelaaah ulang atas periode dan metode amortisasi dipengaruhi oleh


faktor-faktor seperti perubahan pemakaian aset, perkembangan
teknologi, dan perubahan harga pasar dapat mengindikasikan bahwa
umur manfaat aset tak berwujud telah berubah sejak tanggal periode
tahunan paling kini.

2.5 Aset Tak Berwujud Dalam Perpajakan

Proses penyusutan aset tak berwujud dalam akuntansi dan perpajakan


disebut amortisasi. Aset tak berwujud menurut perpajakan (Penjelasan
Pasal 11A ayat UU PPh Nomor 36 Tahun 2008) harus diamortisasikan
apabila harta itu mempunyai masa manfaat lebih dari 1 tahun yang
digunakan untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan.
Namun untuk penghitungan amortisasi dalam perpajakan sesuai dengan
ketentuan UU PPh Nomor 36 Tahun 2008 Pasal 11A, aset tak berwujud
dikelompokkan menjadi kelompok 1, 2, 3, dan 4 dengan masa manfaat 4,
8, 16, dan 20 tahun.

Adapun tarif amortisasi yang diatur dalam UU PPh Nomor 36 Tahun 2008
Pasal 11A ayat (2) sebagai berikut.

8
Tabel 2.2 Tarif Amortisasi

Kelompok Aset Masa Tarif Amortisasi Berdasarkan Metode


Tak Berwujud Manfaat Saldo
Garis Lurus
Menurun
Kelompok 1 4 tahun 25% 50%

Kelompok 2 8 tahun 12,5% 25%

Kelompok 3 16 tahun 6,25% 12,5%

Kelompok 4 20 tahun 5% 10%

Menurut PMK-248/PMK.03/2008, amortisasi atas pengeluaran untuk


memperoleh, aset tak berwujud dan pengeluaran lainnya untuk bidang
usaha tertentu dimulai pada bulan dilakukannya pengeluaran atau pada
bulan produksi komersial. Bulan produksi komersial adalah bulan di mana
penjualan mulai dilakukan.

Diatur juga untuk bidang usaha kehutanan, yaitu bidang usaha hutan,
kawasan hutan, dan hasil hutan yang tanamannya dapat berproduksi
berkali-kali dan baru menghasilkan setelah ditanam lebih dari 1 tahun.
Untuk bidang usaha perkebunan tanaman keras, yaitu bidang usaha
perkebunan yang tanamannya dapat berproduksi berkali-kali dan baru
menghasilkan setelah ditanam lebih dari 1 tahun dan bidang usaha
peternakan, yaitu bidang usaha peternakan yang dapat berproduksi berkali-
kali dan baru dapat dijual setelah dipelihara sekurang-kurangnya 1 tahun.

Penentuan masa manfaat dan tarif amortisasi untuk aset tak berwujud
yang masa manfaatnya tidak tercantum pada kelompok masa manfaat yang
ada, maka WP dapat menggunakan masa manfaat yang terdekat. Contoh:
aset tak berwujud dengan masa manfaat yang sebenarnya adalah 5 tahun,
maka aset tak berwujud tersebut dapat diamortisasikan dengan
menggunakan kelompok masa manfaat 4 tahun.

9
Biaya pendirian dan perluasan modal dapat dibebankan sebagai biaya
pada tahun pengeluaran atau diamortisasi berdasarkan metode garis lurus
atau saldo menurun dengan masa manfaat sesuai dengan Pasal 11A ayat
(1) UU PPh Nomor 36 Tahun 2008 di atas.

Pengeluaran yang dilakukan sebelum operasi komersial (biaya


pendirian) yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 tahun, dapat
dikapitalisasi dan diamortisasi sesual dengan ketentuan masa manfaat dan
tarif amortisasi dalam UU PPh. Sedangkan, untuk pengeluaran biaya
pendirian yang memiliki masa manfaat kurang dari 1 tahun, haruslah
dibebankan sekaligus pada tahun beralan yang bersangkutan.

Contoh:

PT Baki yang baru berdiri tahun 2008 telah menghabiskan biaya sebesar
Rp50.000.000 untuk mendapatkan berbagai izin pengurusan pendirian
perusahaan. Biaya tersebut diperlakukan sebagai aset lainnya dan memiliki
masa manfaat 5 tahun (menurut pertimbangan pihak manajemen),
sehingga oleh perusahaan diamortisasi dengan metode garis lurus.

Jurnal untuk mencatat biaya tersebut pada tahun pertama adalah sebagai
pengakuan berikut.

Tabel 2.3 Jurnal Saat Amortisasi

Keterangan Debit Kredit


Aset lainnya 50.000.000 -
Kas/Bank - 50.000.000
Beban amortisasi 10.000.000 -
Aset lainnya - 10.000.000

Sementara itu, menurut fiskal beban-beban tersebut dapat


dikapitalisasi dan kemudian diamortisasi dengan masa manfaat 4 tahun
sesuai dengan kelompok 1 sebesar Rp12.500.000.

10
Selisih antara akuntansi dengan perpajakan yang ada, maka WP harus
melakukan koreksi negatif sebesar Rp 2.500.000 pada rekonsiliasi fiskal
tanpa perlu membuat jurnal koreksi. Cara penyajian biaya praoperasi
dalam neraca adalah disajikan dengan nilai bersih (neto) setelah dikurangi
dengan amortisasi.

Contoh:

PT Hercules padaa tanggal 1 Januari 2012 mengeluarkan uang sebesaar


Rp200.000.000 (belum termasuk PPN dan PPh 26) untuk memperoleh
waralaba dari McDoLPhin selama 4 tahun. Penghitungan amortisaasi
untuk setiap metode yang diperolehkan dipilih sebagai berikut: (dalam
Rupiah)

Tabel 2.4 Penghitungan Amortisasi Dalam 2 Metode

Metode garis lurus Metode saldo menurun


Tahun Nilai sisa
Amortisasi Amortisasi Nilai sisa buku
buku
2012 25% x 150.000.000 50% x 150.000.000
200.000.000 = 200.000.000 =
50.000.000 50.000.000
2013 25% x 100.000.000 50% x 75.000.000
200.000.000 = 150.000.000 =
50.000.000 75.000.000
2014 25% x 50.000.000 50% x 37.500.000
200.000.000 = 75.000.000 =
50.000.000 37.500.000
2015 25% x 0 37.500.000 0
200.000.000 =
50.000.000

11
Jurnal untuk transaksi tersebut (apabila PT Hercules menggunakan
metode garis lurus) adalah.

Tabel 2.5 Jurnal Transaksi PT Hercules

Tanggal Keterangan Debit Kredit


1-1-12 Waralaba 200.000.000
Pajak masukan 20.000.000
Utang PPh 26 40.000.000
Kas/Bank 180.000.000
31-12-12 Beban amortisasi 50.000.000
Waralaba 50.000.000
31-12-13 Beban amortisasi 50.000.000
Waralaba 50.000.000
31-12-14 Beban amortisasi 50.000.000
Waralaba 50.000.000
31-12-15 Beban amortisasi 50.000.000
Waralaba 50.000.000

Sesuai UU PPN Nomor 42 Tahun 2009 Pasal 4 huruf d atas BKP


takberwujud yang berasal dari luar daerah Pabean yang dimanfaatkan oleh
siapapun didalam daerah Pabean dikenakan PPN. Dan sesuai UU PPh
Nomor 36 Tahun 2008 Pasal 26 ayat (1), untuk transaksi dengan WP luar
negeri selain BUT di Indonesia, pajak dipotong sebesar 20% atau dengan
tarif lain berdasarkan P3B yang berlaku dari jumlah bruto oleh pihak yang
wajib membayarkan.

Untuk pembelian waralaba McDoLPhin, PT Hercules harus


memungut pajak berdasarkan P3B antara Indonesia dengan Taiwan
dimana tarifnya adalah sebesar 10%. Utang pajak P3B ataupun PPh 26
yang telah dipungut akan disetorkan ke kas negara paling lambat tanggal
10 Februari 2012. Jurnal untuk penyetoran pajak yaitu sebagai berikut.

12
Tabel 2.6 Jurnal Penyeroran Pajak

Tanggal Keterangan Debit Kredit


10-2-12 Utang PPh 26 40.000.0000
Kas/Bank 40.000.000

Apabila PT Hercules membeli waralaba Keripik Sehat DeDE (WP


dalam negeri), maka PT Hercules harus melakukan pemotongan PPh 23.
Misalnya bahwa PT Hercules membeli waralaba dengan uang kas
Rp200.000.000 (belum termasuk PPN dan PPh 23).

Tabel 2.7 Perhitungan Amortisasi PT Hercules

Metode garis lurus Metode saldo menurun


Tahun Nilai sisa
Amortisasi Amortisasi Nilai sisa buku
buku
2012 25% x 150.000.000 50% x 150.000.000
200.000.000 = 200.000.000 =
50.000.000 50.000.000
2013 25% x 100.000.000 50% x 75.000.000
200.000.000 = 150.000.000 =
50.000.000 75.000.000
2014 25% x 50.000.000 50% x 37.500.000
200.000.000 = 75.000.000 =
50.000.000 37.500.000
2015 25% x 0 37.500.000 0
200.000.000 =
50.000.000

13
Jurnal atas transaksi pembelian waralaba Keripik Sehat DeDE adalah
sebagai berikut.

Tabel 2.8 Jurnal Transaksi Pembelian Waralaba Keripik Sehat DeDE

Tanggal Keterangan Debit Kredit


1-1-12 Waralaba 200.000.000
Pajak masukan 20.000.000
Utang PPh 23 30.000.000
Kas/Bank 190.000.000
31-12-12 Beban amortisasi 50.000.000
Waralaba 50.000.000
31-12-13 Beban amortisasi 50.000.000
Waralaba 50.000.000
31-12-14 Beban amortisasi 50.000.000
Waralaba 50.000.000
31-12-15 Beban amortisasi 50.000.000
Waralaba 50.000.000

Utang PPh 23 akan disetorkan oleh PT Hercules palig lambat tanggal 10


Februari 2012.

Tabel 2.9 Jurnal Saat Pemungutan PPh

Tanggal Keterangan Debit Kredit


10-2-12 Utang PPh 26 30.000.0000
Kas/Bank 30.000.000

Jurnal untuk pihak Keripik Sehat DeDE adalah sebagai berikut.

Tabel 2.10 Jurnal Untuk Pihak Keripik Sehat DeDE

Tanggal Keterangan Debit Kredit


1 -1-12 Kas/Bank 190.000.000
PPh 23 yang dibayar dimuka 30.000.000

14
Pajak keluaran 20.000.000
Pendapatan waralaba 200.000.000

2.6 Akuntansi Untuk Sumber Alam

Deplesi adalah istilah yang digunakan dalam akuntansi untuk menyatakan


alokasi sestematis dan rasional perolehan sumber alam. Perpajakan
menggunakan istilah lain untuk deplesi, yaitu amortisasi.

Rumus untuk menghitung deplesi adalah :

Tabel 2.11 Rumus Menghitung Deplesi

(Total perolehan – Nilai Residu)/ Total unit yang diestimasi = Deplesi per unit

Deplesi per unit x Jumlah unit yang dihasilkan dan dijual = Beban deplesi per
tahun
Sumber : Weygandt, Kimmel & Kieso (2011: 405)

Contoh:

Suatu perusahaan pertambangan melakukan investasi sebesar Rp5.000.000


pada llahan pertambangan yang diestimasikan memiliki 10.000.000 ton
bahan tambang dan tidak memiliki residu. Pada tahun pertama, perusahaan
menghasilkan dan menjual bahan tambang sebanyak 800.000 ton.

Deplesi per unit = Rp5.000.000: 10.000.000 = Rp0.5 per ton

Beban deplesi tahun ini adalah Rp0.5 x 800.000 ton =Rp400.000.

Perusahaan membukukan beban deplesi untuk tahun pertama perusahaan


beroperasi, adalah sebagai berikut.

15
Tabel 2.12 Jurnal Untuk Perusahaan Pertambangan

Tanggal Keterangan Debit Kredit


14-2-12 Beban deplesi 400.000
Akumulasi deplesi 400.000

Menurut ketentuan perpajakan, hak penambangan dan hak


penambangan dan penguasahaan hutan termasuk aset tak berwujud. Oleh
karena itu, harga perolehannya dapat diamortisasi berdasarkan metode
satuan produksi dengan pembatasan sebagai berikut.

1. Biaya untuk memperoleh hak penambangan selain minyak dan


gas bumi, hak pengusahaan hutan dan hak pengusahaan sumber
alam serta hasil alam lainnya seperti hak pengusahaan hasil laut
yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 tahun; dapat
diamortisasikan dengan menggunakan metode satuan produksi
persentase yang tidak lebih dari 20% setahun.

Ketentuan ini dapat dinyatakan dengan rumus:


Amortisasi per tahun = Jumlah penambangan/penebangan x 20%
Taksiran total produksi/deposit

Contoh:
Perusahaan pertambangan batu bara telah mengeluarkan biaya
sebesar Rp1.000.000.000 untuk mendapatkan hak pengelolaan
penambangan tersebut selama 5 tahun. Pada tahun pertama
produksinya adalah sebesar Rp2.000.000.000.Besarnya amortisasi
atas biaya untuk mendapatkan hak penambangan tersebut dalam
tahun bersangkutan adalah sebesar 20% x Rp1.000.000.000 = Rp.
200.000.000.

16
2. Biaya untuk memperoleh hak dan/atau biaya lain-lain yang
mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun dalam bidang
penambangan minyak dan gas bumi dilakukan dengan
menggunakan metode satuan produksi.
Ketentuan ini dapat dinyatakan dengan rumus:

Amortisasi per tahun = Jumlah penambangan x tanpa batasan


Taksiran total produksi

Amortisasi menggunakan metode satuan produksi berarti persentase


amortisasi dari biaya tersebut dalam setiap tahun pajak harus sama dengan
persentase penambangan atau penebangan yang dihasilkan setiap tahun.
Angka ini diperoleh dengan membandingkan dengan taksiran jumlah hasil
produksinya.

Amortisasi dengan menggunakan metode satuan produksi dapat


dirumuskan sebagai berikut:

Metode satuan = (Jumlah penambangan/penebangan dihasilkan


setahun produksi : Taksiran jumlah seluruh produksi) x 100%

Suatu konsesi pertambangan ditaksir jumlah depositnya 100.000 ton,


hasil produksi tahun 10.000 ton. Persentase hasil produksi satu tahun
adalah (10.000: 100.000) x 100% = 10%

Dengan demikian, hak penambangan tersebut dalam setahun


diamortisasikan sebesar 10%. Apabila biaya untuk memperoleh hak
penambangan dan hak pengusahaan hutan pada akhir masa produksi belum
habis diamorsisasikan, maka sisa biaya tersebut tidak boleh dibebankan
sekaligus sebagai biaya dalam tahun pajak yang bersangkutan. Sisa tadi
harus diamortisasikan setinggi-tingginya 20% Sebaliknya, apabila ternyata
jumlah produksi sebenarnya lebih kecil daripada jumlah cadangan yang
yang diperkirakan sehingga masih terdapat sisa biaya untuk memperoleh

17
hak yang belum habis diamortisasikan, maka sisa biaya tersebut boleh
dibebankan sekaligus sebagai biaya dalam tahun pajak yang bersangkutan.

Perbedaan utama antara deplesi dan amortisasi adlah nilai residu tidak
dipertimbangkan dalam menghitug presentase amortisasi hak
penambangan dan pengusahaan hutan.

2.7 Pengalihan Hak Aset Tetap Tidak Berwujud

Apabila terjadi pengalihan hak aset tetap tidak berwujud sebagaimana


dimaksud dalam Pasal 11A ayat (1), ayat (4), dan ayat (5) Undang-Undang
Pajak Penghasilan yaitu:

1) Pengeluaran untuk memperoleh aset tetap tidak berwujud dan


pengeluaran lainnya termasuk biaya perpanjangan hak guna bangunan,
hak guna usaha, dan hak pakai yang mempunyai masa manfaat lebih
dari 1 (satu) tahun yang digunakan untuk mendapatkaan, menagih,
dan memelihara penghasilan.
2) Pengeluaran untuk memperoleh hak dan pengeluaran lain yang
mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun di bidang
penambangan minyak dan gas bumi.
3) Pengeluaran untuk memperoleh hak penambangan selain yang
dimaksud pada butir 2 (dua), hak penguasaan hutan dan hak
penguasaan sumber alam, serta hasil alam lainnya yang mempunyai
masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun.

Nilai sisa buku harta atau hak-hak tersebut dibebankan sebagai


kerugian dan jumlah yang diterima sebagai penggantian merupakan
penghasilan pada tahun terjadinya pengalihan.
Kemungkinan terjadi pengalihan aset tetap tidak berwujud yang
memenuhi syarat Pasal 4 ayat (3) huruf a dan huruf b Undang-Undang
Pajak Penghasilan (yang tidak termasuk sebagai objek pajak: warisan),

18
maka Nilai Sisa Buku Aset tersebut boleh dibebankan sebagal kerugian
bagi pihak yang mengalihkan.
Contoh:
PT Daya mengeluarkan biaya untuk memperoleh hak penambangan
minyak dan gas bumi di suatu lokasi sebesar Rp 600.000.000. Taksiran
kandungan minyak sebanyak 200.000.000 barel. Setelah produksi minyak
dan gas bumi mencapai 100.000.000 barel, hak penambangan dijual
kepada pihak lain seharga Rp 400.000.000.

Harga perolehan Rp. 600.000.000


Amortisasi yang telah dilakukan
100.000.000 × 100% × Rp. 600.000.000 = Rp. 300.000.000 k
200.000.000
Nilai Sisa Buku Rp. 300.000.000
Harga Jual Rp. 400.000.000

Dengan demikian Nilai Sisa Buku sebesar Rp 300.000.000 dibebankan


sebagai kerugian dan Harga Jual sebesar Rp 400.000.000 dibukukan
sebagai penghasilan.

19
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Jadi, Aset tak berwujud menurut SAK-ETAP yang diatur oleh IAI
(2009: 76), adalah aset nonmoneter yang dapat diidentifikasi dan tidak
mempunyai wujud fisik. Ciri utama aset tak berwujud ialah berupa benda
yang tidak dapat dilihat dan dipegang.

Sedangkan aset tak berwujud menurut perpajakan adalah (Penjelasan


Pasal 11A ayat UU PPh Nomor 36 Tahun 2008) harus diamortisasikan
apabila harta itu mempunyai masa manfaat lebih dari 1 tahun yang
digunakan untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan.
Namun untuk penghitungan amortisasi dalam perpajakan sesuai dengan
ketentuan UU PPh Nomor 36 Tahun 2008 Pasal 11A, aset tak berwujud
dikelompokkan menjadi kelompok 1, 2, 3, dan 4 dengan masa manfaat 4,
8, 16, dan 20 tahun.

Adapun tarif amortisasi yang diatur dalam UU PPh Nomor 36 Tahun


2008 Pasal 11A ayat (2) sebagai berikut.

Kelompok Aset Masa Tarif Amortisasi Berdasarkan Metode


Tak Berwujud Manfaat Saldo
Garis Lurus
Menurun
Kelompok 1 4 tahun 25% 50%

Kelompok 2 8 tahun 12,5% 25%

Kelompok 3 16 tahun 6,25% 12,5%

Kelompok 4 20 tahun 5% 10%

20
DAFTAR PUSTAKA

Agoes, Sukrisno. 2013. Akuntansi Perpajakan. Jakarta : Salemba Empat

Waluyo. 2018. Akuntansi Pajak. Jakarta : Salemba Empat

21