Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator untuk melihat derajat
kesehatan perempuan. AKI merupakan salah satu target yang telah ditentukan dalam
tujuan pembangunan millennium yaitu tujuan ke 5, meningkatkan kesehatan ibu dimana
target yang akan dicapai sampai tahun 2015 adalah mengurangi sampai ¾ resiko jumlah
kematian ibu. Terdapat dua kategori kematian ibu yaitu disebabkan oleh penyebab
langsung obstetri yaitu kematian yang diakibatkan langsung oleh kehamilan dan
persalinannya, dan kematian yang disebabkan oleh penyebab tidak langsung yaitu
kematian yang terjadi pada ibu hamil yang disebabkan oleh penyakit dan bukan oleh
kehamilan atau persalinannya. Berdasarkan Survey Demografi Kesehatan Indonesia
(SDKI) tahun 2012, angka kematian ibu (yang berkaitan dengan kehamilan, persalinan,
dan nifas) sekitar 359/100.000 kelahiran hidup angka ini meningkat dibandingkan
dengan tahun 2007 yaitu sekitar 228/100.000 kelahiran hidup. Trias utama kematian ibu
adalah perdarahan, hipertensi dalam kehamilan (HDK) dan infeksi. Profil Kesehatan
Indonesia Tahun 2014, hampir 30% kematian ibu di Indonesia pada tahun 2010
disebabkan oleh HDK. Penyakit hipertensi dalam kehamilan merupakan kelainan
vaskular yang terjadi sebelum kehamilan atau timbul dalam kehamilan atau pada masa
nifas. Data Laporan Kematian Ibu di Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat kasus
kematian ibu di Sumatera Barat pada tahun 2012 adalah 99 kasus, tahun 2013 adalah 90
kasus, sedangkan pada tahun 2014 adalah 116 kasus. Meningkat dari tahun sebelumnya.
Kota Padang merupakan daerah yang memiliki kematian ibu tertinggi yaitu 16 kasus
pada tahun 2013 dan 2014. Laporan Tahunan Dinas Kesehatan Kota Padang penyebab
kematian maternal pada tahun 2012 dan 2013 adalah preeklampsia-eklampsia,
perdarahan, infeksi. Pada tahun 2014 penyebab kematian ibu adalah preeklamsia-
eklampsia 31,25%, perdarahan 18,75%, dan infeksi 12,5% dapat diketahui bahwa setiap
tahunnya penyebab utama kematian . Preeklampsia merupakan penyebab kematian
maternal dan perinatal paling penting dalam ilmu kebidanan.

1
Secara umum, preeklamsi merupakan suatu hipertensi yang disertai dengan
proteinuria yang terjadi pada kehamilan. Penyakit ini umumnya timbul setelah minggu
ke-20 usia kehamilan dan paling sering terjadi pada primigravida. Jika timbul pada
multigravida biasanya ada faktor predisposisi seperti kehamilan ganda, diabetes mellitus,
obesitas, umur lebih dari 35 tahun dan sebab lainnya. Morbiditas janin dari seorang
wanita penderita hipertensi dalam kehamilan berhubungan secara langsung terhadap
penurunan aliran darah efektif pada sirkulasi uteroplasental, juga karena terjadi
persalinan kurang bulan pada kasus-kasus berat. Kematian janin diakibatkan hipoksia
akut, karena sebab sekunder terhadap solusio plasenta atau vasospasme dan diawali
dengan pertumbuhan janin terhambat (IUGR). Di negara berkembang, sekitar 25%
mortalitas perinatal diakibatkan kelainan hipertensi dalam kehamilan. Mortalitas
maternal diakibatkan adanya hipertensi berat, kejang grand mal, dan kerusakan organ
lainnya.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas maka disusunlah rumusan masalah sebagai berikut:

1. Apakah yang dimaksud dengan preeklamsi?


2. Apa saja gejala pada ibu preeklamsia?
3. Apa saja patofisiologinya?
4. Apa saja komplikasi pada ibu hamil preeklamsia?
5. Bagaimana penatalaksanaan pada ibu preeklamsia?

C. Tujuan

1.Untuk mengetahui dan memahami pengertian dari preeklamsi

2.Untuk mengetahui gejala pada ibu preeklamsi

3.Untuk mengetahui patofisiologi

4.Untuk mengetahui komplikasi pada ibu preeklamsia

5.Untuk mengetahui dan memahami penatalaksanaan pada inu preeklamsia

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian

Pre-eklampsia adalah salah satu kasus gangguan kehamilan yang bisa menjadi
penyebab kematian ibu. Kelainan ini terjadi selama masa kehamilan, persalinan, dan
masa nifas yang akan berdampak pada ibu dan bayi. Pre-eklampsia dalam kehamilan
adalah apabila dijumpai tekanan darah 140/90 mmHg setelah kehamilan 20 minggu
(akhir triwulan kedua sampai triwulan ketiga) atau bisa lebih awal terjadi. Preeklamsi
adalah penyakit dengan tanda-tanda hipertensi, proteinuria dan edema yang ditimbul
karena kehamilan. Penyakit ini umumnya terjadi dalam triwulan ke 3 pada kehamilan,
tetapi dapat terjadi sebelumnya misalnya pada mola hidatidosa (prawirohardjo, 2005).
Preeklamsi adalah kumpulan gejala yang timbul pada ibu hamil, bersalin dan dalam
masa nifas yang terdiri dari trias yaitu hipertensi, proteinuria dan edema yang kadang-
kadang disertai konvulsi sampai koma, ibu tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda
kelainan vascular atau hipertensi sebelumnya (muchtar, 1998) Hipertensi (tekanan
darah tinggi) di dalam kehamilan terbagi atas pre-eklampsia ringan, preklampsia
berat, eklampsia, serta superimposed hipertensi (ibu hamil yang sebelum
kehamilannya sudah memiliki hipertensi dan hipertensi berlanjut selama kehamilan).
Tanda dan gejala yang terjadi serta tatalaksana yang dilakukan masing-masing
penyakit di atas tidak sama.

preeklamsi merupakan sindrom spesifik kehamilan berupa berkurangnya


pefusi organ akibat vasospasme dan akibat endotel, yamg ditandai dengan
peningkatan tekanan darah dan proteinurea (cuningham etal,2003, mathew warden,
MD, 2005). preeklamsi terjadi pdaumur kehamilan diatas20 minggu. paling banyak
terlihat pada umur kehmilan 37 minggu tetapi dapat timbul kapan saja pada
pertengahan kehamilan .preeklamsi dapatberkembang dari preeklamsia yang ringan
sampai preeklamsia yang berat (george, 2007).

3
B. Gejala Preeklamsia
Preeklamsia kadang-kadang bisa berkembang tanpa gejala apa pun atau hanya
menimbulkan gejala ringan.Tanda klinis utama dari preeklampsia adalah tekanan
darah yang terus meningkat. Oleh karena itu, memonitor tekanan darah secara rutin
menjadi hal penting untuk dilakukan selama masa kehamilan. Jika tekanan darah
wanita hamil mencapai 140/90 mm Hg atau lebih, segeralah berkonsultasi dengan
dokter kandungan, terutama bila ditemukan nilai tekanan darah yang tinggi dalam 2
kali pemeriksaan rutin yang terpisah.
Selain hipertensi, tanda klinis dan gejala lainnya dari preeklamsia adalah:

 Sesak napas akibat cairan di paru-paru.


 Sakit kepala parah.
 Berkurangnya volume urine.
 Gangguan penglihatan, misalnya pandangan hilang secara sementara,
menjadi kabur, atau sensitif terhadap cahaya.
 Mual dan muntah.
 Rasa nyeri pada perut bagian atas (biasanya di bawah tulang rusuk sebelah
kanan).
 Meningkatnya kandungan protein pada urine (proteinuria).
 Gangguan fungsi hati.
 Pembengkakan pada telapak kaki, pergelangan kaki, wajah, dan tangan.
 Menurunnya jumlah trombosit dalam darah.

Laju pertumbuhan janin yang melambat juga bisa menandakan sang ibu
menderita preeklamsia. Kondisi ini disebabkan oleh berkurangnya pasokan darah ke
plasenta, sehingga janin mengalami kekurangan pasokan oksigen dan nutrisi.

C. Penyebab Preeklamsia

Sampai saat ini, penyebab utama preeklamsia masih belum diketahui secara
pasti. Beberapa ahli percaya bahwa preeklamsia diawali dengan adanya kelainan pada
plasenta, yaitu organ yang berfungsi menerima suplai darah dan nutrisi bagi bayi
selama masih di dalam kandungan.

4
Pada wanita dengan preeklamsia, pertumbuhan dan perkembangan pembuluh
darah plasenta mengalami gangguan. Pembuluh darah menjadi lebih sempit dari yang
seharusnya, serta melakukan reaksi berbeda terhadap rangsangan hormon. Kondisi
tersebut menyebabkan berkurangnya jumlah darah yang bisa dialirkan.Adapun
beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko seorang wanita hamil mengalami
preeklamsia, di antaranya:

 Kehamilan pertama.
 Pernah mengalami preeklamsia pada kehamilan sebelumnya.
 Kekurangan nutrisi.
 Sedang menderita beberapa penyakit tertentu, seperti sindrom antifosfolipid, diabetes,
lupus, hipertensi, atau penyakit ginjal.
 Mengandung lebih dari satu janin.
 Bayi pada kehamilan saat ini memiliki ayah yang berbeda dengan kehamilan
sebelumnya.
 Hamil setelah jeda 10 tahun dengan kehamilan sebelumnya.
 Hamil di bawah usia 20 tahun atau di atas usia 40 tahun.
 Obesitas saat hamil dengan indeks massa tubuh 25 atau lebih.
 Memiliki keluarga dengan riwayat preeklamsia.

D. Patofisiologi Preeklampsia

 Preeklampsia seringkali bersifat asimtomatik, sehingga sekalipun sudah muncul sejak


trimester pertama, tanda dan gejala belum ditemukan. Namun demikian plasentasi
yang buruk telah terjadi yang dapat menyebabkan kekurangan oksigen dan nutrisi
pada janin, yang menyebabkan gangguan pertumbuhan janin intra uterin atau yang
lebih dikenal dengan pertumbuhan janin terhambat (PJT).7
 Awal mula terjadi preeklampsi sebenarnya sejak masa awal terbentuknya plasenta
dimana terjadi invasi trofoblastik yang abnormal seperti dapat dilihat pada gambar 1
berikut ini.

5
Gambar 1. Invasi Trofoblas pada PreeklampsiaSumber: Cunningham (2009)

 Pada kondisi normal, terjadi remodeling anteriol spiralis uterin pada saat diinvasi
oleh trofoblast endovaskuler. Sel-sel tersebut menggantikan endotel pembuluh
darah dan garis otot sehingga diameter pembuluh darah membesar. Vena diinvasi
secara superfisial. Pada kasus preeclampsia, terjadi invasi trofoblast yang tidak
lengkap. Invasi terjadi secara dangkal terbatas pada pembuluh darah desidua
tetapi tidak mencapai pembuluh darah myometrium. Pada kehamilan normal
tanpa preeklampsia, invasi trofoblast terjadi secara lengkap mencapai
myometrium. 8
 Pada Preeklampsia, arteroil pada myometrium hanya memiliki diameter
berukuran setengah lebih kecil dari plasenta yang normal. Selain itu pada awal
preeklampsia terjadi kerusakan endotel, insudasi dari plasma ke dinding
pembuluh darah, proliferasi sel miointimal dan nekrosi medial. Lipid dapat
terkumpul pada sel miointimal dan di dalam kantong makrofag. Akibat dari
gangguan pembuluh darah tersebut, terjadi peningkatan tekanan darah serta
kurangnya pasokan oksigen dan nutrisi ke plasenta. Kondisi tertentu membuat
plasenta mengeluarkan faktor-faktor tertentu yang dapat memicu inflamasi secara
sistemik.
 Adapun kondisi yang terjadi pada preeclampsia antara lain vasospasme, aktivasi
sel endoteliel, peningkatan respon presor dan juga aktivasi endoteliel dan protein
angiogenik serta antiangiogenik. Proses inflamasi yang terjadi secara sistemik
memicu terjadinya vasospasme. Kontriksi pembuluh darah menyebabkan
peningkatan resistensi sehingga tekanan darah meningkat. Kerusakan pada sel
endotel pembuluh darah juga menyebabkan kebocoran interstitial sehingga
platelet fibrinogen terdeposit pada subendotel. Pada kondisi tersebut, ibu dengan
preeklampsia akan mengalami gangguan distribusi darah, iskemia pada jaringan

6
di sekelilingnya sehingga mengakibatkan kematian sel, perdarahan dan gangguan
organ lainnya.
o Sel endotel pada ibu dengan preeklampsia tidak memiliki kemampuan yang baik
dalam melepaskan suatu senyawa pemicu vaso dilatasi, yaitu nitrit oksida. Selain
itu endotel tersebut juga menghasilkan senyawa pencetus koagulasi serta
mengalami peningkatan sensitifitas terhadap vasopressor. Pada preeklampsia,
produksi prosasiklin endothelial (PGI2) berkurang disertai peningkatan produksi
tromboksan oleh platelet. Dengan begitu, rasio perbandingan dari prostasiklin :
tromboksan berkurang. Hasil akhir dari semua kejadian tersebut adalah pembuluh
darah menyempit, tekanan darah meningkat, cairan keluar dari ruang pembuluh
darah. Jadi meskipun pasien mengalami edema atau bengkak oleh cairan,
sebenarnya dia mengalami kondisi kekurangan cairan di pembuluh darahnya.
o Senyawa lain yang meningkat pada preeklampsia adalah endotelin. Endotelin
merupakan suatu asam amino yang bersifat vasokonstriktor poten yang memang
dihasilkan oleh endotel manusia. Peningkatan poten ini terjadi karena proses
aktivasi endotel secara sistemik, bukan dihasilkan dari plasenta yang bermasalah.
Pemberian magnesium sulfat pada ibu dengan preeklampsia diteliti mampu
menurunkan kadar endotelin – 1 tersebut.9
 Pada penyempurnaan plasenta, terdapat pengaturan tertentu pada protein
angiogenik dan antiangiogenik. Proses pembentukan darah plasenta itu sendiri
mulai ada sejak hari ke-21 sejak konsepsi. Adanya ketidakseimbangan angiogenik
pada preeklampsia terjadi karena produksi faktor antiangiogenik yang berlebihan.
Hal ini memperburuk kondisi hipoksia pada permukaan uteroplasenta.

E. Komplikasi Preeklamsia

Pada wanita hamil, preeklamsia bisa menimbulkan komplikasi sebagai berikut:

 Sindrom HELLP (Haemolysis, elevated liver enzymes, and low platelet count).
Ini adalah sindrom rusaknya sel darah merah, meningkatnya enzim liver, dan
rendahnya jumlah trombosit. Sindrom HELLP bisa mengancam keselamatan
wanita hamil dan janinnya.
 Eklamsia. Preeklamsia bisa berkembang menjadi eklamsia yang ditandai dengan
kejang-kejang. Kejang ini bisa mengancam keselamatan sang ibu dan janin yang
dikandungnya.
7
 Penyakit kardiovaskular. Risiko terkena penyakit yang berhubungan dengan
fungsi jantung dan pembuluh darah akan meningkat jika seseorang pernah
menderita preeklamsia.
 Kegagalan organ. Preeklamsia bisa menyebabkan disfungsi beberapa organ
seperti, paru, ginjal, dan hati.
 Gangguan pembekuan darah. Komplikasi yang timbul dapat berupa perdarahan
karena kurangnya protein yang diperlukan untuk pembekuan darah, atau
sebaliknya, terjadi penggumpalan darah yang menyebar karena protein tersebut
terlalu aktif.
 Solusio plasenta. Lepasnya plasenta dari dinding rahim sebelum kelahiran dapat
mengakibatkan perdarahan serius dan kerusakan plasenta, yang akan
membahayakan keselamatan wanita hamil dan janin.
 Stroke hemoragik. Kondisi ini ditandai dengan pecahnya pembuluh darah otak
akibat tingginya tekanan di dalam pembuluh tersebut. Ketika seseorang
mengalami perdarahan di otak, sel-sel otak akan mengalami kerusakan karena
adanya penekanan dari gumpalan darah, dan juga karena tidak mendapatkan
pasokan oksigen akibat terputusnya aliran darah. Kondisi inilah yang
menyebabkan kerusakan otak atau bahkan kematian.

Pada janin, preeklamsia juga bisa menyebabkan pertumbuhan menjadi lambat.


Jika preeklamsia yang diderita ibu hamil cukup parah, maka janin harus dilahirkan
meski organ tubuhnya belum sempurna. Komplikasi serius, seperti kesulitan bernapas,
bisa diderita bayi yang lahir dengan kondisi ini. Terkadang bayi bisa meninggal di
dalam kandungan. Dalam kondisi seperti ini, bayi harus menerima perawatan dan
pengawasan secara intensif.

F. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan preeklampsia tergantung dari usia gestasi dan tingkat
keparahan penyakit. Persalinan/terminasi adalah satu-satunya terapi definitif untuk
preeklampsia. Tujuan utama penatalaksanaan preeklampsia adalah kondisi ibu yang
aman dan persalinan bayi yang sehat. Pada pasien dengan preeklampsia tanpa tanda-
tanda preeklampsia berat, induksi sering dilakukan setelah usia gestasi 37 minggu.
Sebelumnya, pemberian kortikosteroid dilakukan untuk mempercepat pematangan
paru janin. Pada preeklampsia berat, induksi dipertimbangkan setelah usia gestasi di

8
atas 34 minggu. Pada kondisi seperti ini, beratnya penyakit pada ibu lebih
dipertimbangkan dari risiko prematuritas bayi. Pada situasi gawat darurat,
pengontrolan terhadap tekanan darah dan kejang harus menjadi prioritas.

Perawatan Pre-Rumah Sakit untuk pasien hamil dengan dugaaan preeklampsia


terdiri dari:

 Pemberian oksigen via face mask


 Pemasangan akses intravena
 Monitor jantung
 Transportasi pasien dengan posisi miring kiri
 Kewaspadaan terhadap kejang

Tatalaksana mayoritas pasien dengan preeklampsia tanpa tanda bahaya (bukan


preeklampsia berat) dapat dilakukan dengan cara berobat jalan, tetapi tetap
dibutuhkan observasi yang ketat terhadap terjadinya perburukan. Namun, pada
beberapa kasus pasien juga dapat dirawat di rumah sakit. Tirah baring total sudah
tidak direkomendasikan lagi pada pasien dengan preeklampsia. Selain karena
efektivitasnya yang rendah, tirah baring justru menjadi faktor risiko terjadinya
tromboembolisme. Sebaiknya lebih dianjurkan untuk melakukan tirah baring dengan
posisi miring ke kiri ketika pasien sedang tidur guna menghilangkan tekanan rahim
pada vena kava inferior sehingga meningkatkan aliran darah ke jantung. Selain
pemantauan tekanan darah dan protein urin secara berkala, pemeriksaan nostress
test (NST dengan menggunakan CTG cardiotocography) direkomendasikan untuk
dilakukan dua kali seminggu sampai persalinan.

G. Diagnosis Preeklampsia

Diagnosis Preeklampsia dapat ditegakkan dari gambaran klinik dan


pemeriksaan laboratorium. Dari hasil diagnosis, maka Preeklampsia dapat
diklasifikasikan menjadi 2 golongan yaitu :

9
1) Preeklampsia ringan, bila disertai keadaan sebagai berikut :

a) Tekanan darah 140/90 mmHg, atau kenaikan diastolic 15 mmHg atau lebih,
atau kenaikan sistolik 30 mmHg atau lebih setelah 20 minggu kehamilan
dengan riwayat tekanan darah normal.

b) Proteinuria kuantitatif ≥ 0,3 gr perliter atau kualitatif 1+ atau 2+ pada urine


kateter atau midstearm.

2) Preeklampsia berat, bila disertai keadaan sebagai berikut :

a) Tekanan darah 160/110 mmHg atau lebih

b) Proteinuria 5 gr atau lebih perliter dalam 24 jam atau kualitatif 3+ atau 4+.

c) Oligouri, yaitu jumlah urine kurang dari 500 cc per 24 jam.

d) Adanya gangguan serebral, gangguan penglihatan, dan rasa nyeri di


epigastrium.

e) Terdapat edema paru dan sianosis

f) Trombositopenig (gangguan fungsi hati)

g) Pertumbuhan janin terhambat.

10
BAB III

MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL

DENGAN PREEKLAMPSIA BERAT

I. PENGUMPULAN DATA

A. IDENTITAS BIODATA

Nama Pasien : Ny. Y Nama suami : Tn. K

Umur : 23 Tahun Umur : 25 Tahun

Suku/bangsa : Aceh Suku/bangsa : Padang/Indo

Agama : Islam Agama : Islam

Pendidikan : SMP Pendidikan : SMA

Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Wiraswasta

Alamat Rumah : Seulalah Alamat : Seulalah

Telp : 0641-54103 Telp : 0641-54103

Alamat kantor : - Alamat kantor : -

Telp : - Telp : -

B. ANAMNESA

Pada tanggal : 21 Juli 2009 puku l : 13.30 WIB

1. Alasan kunjungan : Periksa kehamilan

2. Keluhan Utama : Penglihatan kabur, nyeri kepala berat, nyeri didaerah


uluhati, lelah, bengkak pada tangan, kaki dan muka.
.

11
3. riwayat kehamilan sekarang ini G1P0A0

 . Riwayat menstruasi

HPHT : 13 Januari 2009 – TTP : 12 Okt 2009

Menarche : 13 tahun

Siklus : 28 hari

Banyaknya : 3 x ganti duk

Dismenerhoe : ada

Teratur/tidak : teratur

Lamanya : ± 6 hari

Konsitensi darah : cair + gumpal

 Tanda-tanda kehamilan : tm I

Haid yang berhenti

 Pergerakan fetus dirasakan pertama kali : 16 minggu

Pergerakan fetus 24 jam terakhir : 25 kali

 Keluhan yang dirasakan pada kehamilan ini :

Rasa lelah : ada

Mual muntah yang lama : tidak ada

Nyeri perut : tidak ada

Sakit kepala berat : ada

Penglihatan kabur : ada

Nyeri BAK : tidak ada

Rasa gatal pada vulva dab vagina/sekitarnya : tidak ada

12
Pengeluaran cairan pervagina : tidak ada

Nyeri, kemerahan, tegang pada tungkai : tidak ada

Oedema : ada

 Diet /makan seharu-hari

Komposisi : nansi+ikan+sayur

Pola makan : 3 kali sehari

Perubahan makan yang dialami

- Ngidam : tidak ada

- Nafsu makan : berkurang

 Pola eliminasi

- BAB : 1-2x/hari

- BAK : -7x/hari

 Aktivitas sehari-hari : IRT


 Pola istirahat dan tidur : siang ± 1 jam, malam ± 7 jam
 Seksualitas : 2x seminggu
 Imunisasi

TT1 tanggal : 11 Juli 2009

TT2 tanggal : 10 Agustus 2009

13
4. Riwayat kehamilan, persalinan, nifas yang lalu : belum ada

Tempa anak
Usia Jenis Penyakit
N Tgl/thn/pert t Pertolo
keha persal kehamilan&p Je B P Kead
o olongan pertolo ngan
milan inan ersalinan nis B B aan
ngan

27
PEB pada
1 Hamil ini Ming
kehamilan
gu

5. Riwayat Kehamilan Kembar : Belum da

6.Riwayat KB / Kontrasepsi Yang Pernah Di Gunakan : belum ada

7. Riwayat kesehatan

 Penyakit yang pernah diderita :


o Jantung : tidak ada
o Hipertensi : tidak ada
o Hepatitis : tidak ada
o DM : tidak ada
o Ginjal : tidak ada
o PMS dan HIV/AIDS : tidak ada
o Epilepsi : tidak ada
o Lain-lain : tidak ada
 . Perilaku kesehatan
o Penggunaan alcohol / obat-obatan sejenisnya : tidak ada
o Obat-obatan / jamu : tidak ada
o Merokok / makan sirih : tidak ada
o Irigasi vagina / ganti pakaian dalam : tidak ada

14
8. Riwayat Sosial :

1. Status Perkawinan : syah

o Jumlah : 1x
o Kawin : umur : 21 Tahun
Lamanya : 4 tahun

2. Kehamilan ini direncanakan / tidak : direncanakan

3. Jenis kehamilan yang diharapkan : laki-laki

4. Rencana mengasuh anak : sendiri

C. PEMERIKSAAN FISIK (DATA OBYEKTIF)

1. Keadaan umum : Compos Mentis

2. Tanda vital

 Tekanan darah : 160/110 mmHg


 Denyut nadi : 80x / menit
 Pernafasan : 16x / menit
 Suhu : 370C

3. Lila : 24 cm

 TB : 162 cm
 BB (sebelum hamil) : 55 kg
 BB (selama hamil) : 68 kg

4. Pemeriksaan Obstetri

1) Inspeksi

 Muka : Edema
 Conjungata : tidak pucat

15
 Sclera mata : normal
 Leher : Struma : tidak ada
 Vena jugularis : normal
 Dada : simetris : ya
 Mamae : Benjolan : tidak ada
 Striae : ada
 Ariola : menghitam
 Papilla : Menonjol
 Pinggang nyeri : tidak ada
 Ekstramitas : oedema tangan dan jari : ada
 Oedema tibia : ada
 Betis merah/lembek/keras : tidak ada
 Varices tungkai : tidak ada
 Reflex patella kanan : ada
 Abdomen : Bekas luka : tidak ada
 Pembesaran perut : ada
 Bentuk perut : bundar
 Oedema : tidak ada
 Acites : tidak ada

2) Palpasi Uterus

 TFU : 27 cm
 Kontraksi : ada
 Letak : membujur
 Presentasi : kepala
 Posisi janin : puki
 Penurunan kepala : konvergen (belum masuk PAP/pintu atas panggul)
 TBBJ : 2480 gram

3) Auskultasi

 DJJ : ada/terdengar Tempat : 3 jari diatas umbilicus


 Frekuensi : 126x/menit teratur/tidak : teratur

16
4) Genetalia (Inspeksi)

 Vulva dan vagina : Varices : tidak ada

Luka : tidak ada

Kemerahan : tidak ada

Nyeri : tidak ada

 Perineum : bekas luka / luka parut : tidak ada


 Lain-lain : tidak ada

D. UJI DIAGNOSTIK

 Pemeriksaan laboratorium
 Pemeriksaan darah : dilakukan
 Haemoglobin : 10 gr%
 Haemotokrit : tidak dilakukan
 Pemeriksaan urine : dilakukan
 Protein : 3+
 Albumin : tidak dilakukan

II. INTERPRETASI DATA

Identifikasi diagnose, masalah dan kebutuhan

 DX : Ibu primigravida dengan usia kehamilan 27 minggu, presentasi kepala, janin


hidup, intrauteri, tunggal, dengan preeclampsia berat
 DS : - Ibu mengatakan ini adalah kehamilan yang pertama dan tidak pernah
keguguran
- Ibu mengatakan sakit kepala berat, nyeri didaerah uluhati, lelah, penglihatan
kabur, serta bengkak pada tangan, kaki dan muka.
 DO : - Ibu G1P0A0 hamil 28 minggu

17
- HPHT : 13 januari 2009

- TTP : 20 oktober 2009

- Inspeksi : edema pada tangan, kaki dan muka

- Vital sign : TD : 160/110 mmHg

Denyut nadi : 80x / menit

Pernapasan : 16x / menit

Suhu : 370C

- BB : 55 kg menjadi 68 kg

- Palpasi Uterus

TFU : 3 jari diatas umbilicus

DJJ : ada/teratur : 126 x / menit

TBBJ : 2480 gram

- Pemeriksaan lab : Golda : O

Hb : 10 gr %

Protein Urine : 3 +

 Masalah : Ibu cemas dengan proses persalinan dan dengan keadaan umumnya yang
kurang baik.
 Kebutuhan : KIE tentang kehamilan dan masalah yang berhubungan dengan
kondisi ibu.

III. ANTISIPASI DIAGNOSA DAN MASALAH POTENSIAL

Identifikasi diagnose dan masalah potensial disesuaikan dengan diagnose dan masalah
yang sudah diidentifikasi.

18
IV. TINDAKAN SEGERA / KOLABORASI

Kolaborasi Dengan Dokter Obgyn

V. RENCANA MANAJEMEN

Tanggal : 21 Juli 2009 Pukul : 13.30 Wib

Meliputi :

 Pemberian obat
 Anjurkan ibu untuk di rawat di RS
 Anjurkan ibu untuk istirahat total
 Anjurkan ibu untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi
 Beri KIE kepada ibu tentang kehamilan dan masalah yang berhubungan dengan
kondisi ibu
 Beri support mental pada ibu

VI. IMPLEMENTASI / PELAKSANAAN

Tanggal : 21 Juli 2009 Pukul : 13.30 Wib

 Memberikan obat :
Pasang infuse dengan cairan Dex 5% dengan kecepatan 15-20 tetes / menit

Beri MgSO4 2 gr

 Menganjurkan ibu agar segera di rawat di RS agar memperoleh pengobatan dan


Pengawasan yang intensif dari pihak RS
 Menganjurkan ibu untuk lebih banyak beristirahat, dan jangan terlalu banyak bekerja
 Menganjurkan ibu untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi, serta suplemen Ca
dan Mg
 Member semangat pada ibu, agar ibu tidak terlalu cemas pada saat proses persalinan
yang akan dihadapi ibu.

19
VII. EVALUASI

Tanggal : 21 Juli 2009 Pukul : 14.30 wib

 Setelah MgSO4 diberikan TD ibu menjadi 150/90 mmHg, dan ibu tidak lagi merasa lelah
serta bengkak pada tangan, kaki dan muka sudah mulai berkurang.
 Setelah ibu memperoleh perawatan dan pengobatan di RS, keadaan umum ibu sudah
mulai membaik
 Ibu menerima dan melaksanakan anjuran yang diberikan oleh tenaga kesehatan / bidan,
dan ibu tidak cemas lagi dengan kehamilan dan keadaannya.

20
BAB IV

PENDUKOMENTASIAN SOAP

Tanggal : 21 Juli 2009 Pukul : 13.30 Wib

S : Ny. B 25 tahun, hamil pertama usia kehamilan 27 minggu, datang klinik bidan dengan
keluhan penglihatan kabur, nyeri kepala berat, lelah, nyeri di daerah uluhati, serta
bengkak pada tangan, kaki dan muka.

O : Ibu G1P0A0 hamil 28 minggu

 Keadaan umum : compos mentis


 Keadaan emosional : cemas
 HPHT : 13 januari 2009
 TTP : 20 oktober 2009
 Inspeksi : edema pada tangan, kaki, dan muka
 Vital sign : TD : 160/110 mmHg

Denyut nadi : 80x / menit

Pernapasan : 16x / menit

Suhu : 370C

 BB : 55 kg menjadi 68 kg
 Palpasi uterus : TFU : 3 jari diatas umbilicus
DJJ : ada/teratur : 126x/menit
TBBJ : 2480 gram
 Pemeriksaan lab : Golda : O
Hb : 10 gr %

Protein urine : 3+

21
A: Ibu primigravida usia kehamilan 27 minggu dengan preeklamsia berat, jika keadaan
tersebut masih berlanjut maka akan menjadi eklamsia dan harus melakukan kerjasama
dengan ahli medis (dr. obgin)

P: memberikan obat :

 Pasang infuse dengan cairan Dex 5% dengan kecepatan 15 – 20 tetes / menit. Beri
MgSO4 2 gr
 Mengajurkan ibuy agar segera di rawat di RS agar memperoleh pengobatan dan
pengawasan yang intensif dari pihak RS
 Mengajurkan ibu untuk lebih banyak beristirahat dan meninggalkan pekerjaan yang
dianggap dapat membuat ibu menjadi lelah.
 Mengajurkan ibu untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi serta suplemen Ca dan
Mg.
 Memberi semangat kepada ibu, agar ibu tidak terlalu cemas pada saat proses
persalinan yang akan dihadapi.

Evaluasi

Tanggal : 21 Juli 2009 Pukul : 14.30 Wib

 Setelah MgSO4 diberikan TD ibu menjadi 150 / 90 mmHg, dan ibu tidak lagi merasa
lelah serta bengkak pada tangan, kaki, dan muka sudah mulai berkurang.
 Setelah ibu memperoleh perawatan dan pengobatan di RS, keadaan umum ibu sudah
mulai membaik.
 Ibu menerima dan melaksanakan anjuran yang diberikan oleh tenaga kesehatan
bidan, dan ibu sudah tidak cemas lagi dengan kehamilan dan keadaannya.

22
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Suatu kondisi yang bisa dialami oleh setiap wanita hamil, penyakit ini ditandai
dengan tekanan darah yang meninggi diikuti oleh peningkatan kadar protein dalam urine.
Dan dapat menyebabkan gangguan peredaran darah pada plasenta. Hal ini menyebabkan
berat badan bayi yang akan dilahirkan relative kecil, si ibu akan melahirkan secara
premature.

Wanita yang terkena eklampsia juga sering mengalami peningkatan TD, gagal ginjal,
kejang-kejang dan dapat menyebabkanm koma, atau bahkan kematian baik sebelum atau
setelah melahirkan.

B. Saran

Makalah ini disusun agar para pembaca khususnya pada wanita hamil agar selalu

memeriksakan kehamilannya, kepada tenaga kesehatan.

23
DAFTAR PUSTAKA

Mansjoer, Arif, dkk, editor, Kapita selekta kedokteran, jilid I. edisi ketiga. Jakarta : Media
Aesculapius FKUI, 2001

Mochtar, MPH. Prof. Dr. Rustam. Synopsis Obstetri. Jilid I. edisi kedua EGC. Jakarta, 1998.

http://www.scribd.com/doc/899951/laporan kasus preeklampsia nas.

http://www.blogdokter.net/2009/02/17/preeklampsia dan eklampsi pada kehamilan

http://khuheimi.blogspot.co,/2006/08/preeklampsia dan eklampsi.html.

Hanifa. Ilmu Kebidanan ed. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiharjo. Jakarta 2005

http://kuliahbidan.wordpress.com

https://www.alomedika.com/penyakit/obstetrik-dan-
ginekologi/preeklampsia/penatalaksanaan

https://www.academia.edu/37256505/MAKALAH_PRE_EKLAMSI

https://www.alodokter.com/preeklamsia

https://moudyamo.wordpress.com/2016/01/08/preeklampsia/

24