Anda di halaman 1dari 12

1

MAKALAH KESEHATAN TERNAK


“PENYAKIT TOKSOPLASMOSIS PADA KUCING DAN ANJING”

Disusun Oleh :
Kelompok 5
Bima Megantyas T H 0517024
Dhyan Ayu Kurniawati H 0517029
Shabrina Fatika Syahrin H 0517093
Yahya Nur Arif H 0517109

Program Studi Peternakan


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2019
2

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah kesehatan ternak yang berjudul “Penyakit Toksoplasmosis pada Kucing
dan Anjing”.
Ucapan terima kasih tak lupa kami sampaikan kepada:
1. Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat, hidayah-Nya kepada kita semua.
2. Dosen Pengampu mata kuliah Kesehatan Ternak drh. Sunarto, M.Si.
3. Teman-teman dan semua pihak yang telah membantu penulisan makalah.
Kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini tidak lepas dari
kesalahan dan kekurangan. Oleh karena itu, kami mengharapkan saran dan kritik
yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini. Akhirnya, penulis
berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.
Sekian yang dapat kami sampaikan, atas perhatiannya kami ucapkan
terima kasih.

Surakarta, 18 September 2019

Penulis
3

DAFTAR ISI

BAB I. PENDAHULUAN.....................................................................
1. Latar Belakang.................................................................................
2. Rumusan Masalah............................................................................
3. Tujuan..............................................................................................
BAB II. PEMBAHASAN......................................................................
A. Toksoplasmosis gondii.....................................................................
B. Penyebab sering munculnya penyakit toxoplasma..........................
C. Proses penyebaran penyakit toksoplasmosis ...................................
D. Sumber infeksi dan gejala toksoplasmosis pada hewan...................
E. Cara pencegahan penyakit toksoplasmosis......................................
BAB III. PENUTUP..............................................................................
1. Kesimpulan......................................................................................
2. Saran.................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

BAB I. PENDAHULUAN
4

1. Latar Belakang
Negara yang memiliki iklim lembab cenderung memudahkan dalam
munculnya penyakit parasit. Penyakit parasit merupakan masalah kesehatan
bagi masyarakat yang cukup serius diantaranya adalah infeksi protozoa yang
ditularkan melalui tubuh kucing. Infeksi penyakit yang ditularkan oleh kucing
ini mempunyai prevalensi yang cukup tinggi terutama pada masyarakat yang
memiliki kebiasaan makan daging mentah atau daging yang kurang matang.
Penyakit akibat parasit masih merupakan masalah kesehastan masyarakat
yang cukup serius. Penyakit parasit pada umumnya banyak ditemukan di
negara beriklim tropis seperti Indonesia. Salah satu penyakit yang diakibatkan
oleh parasit adalah Toksoplasmosis. Toksoplasmosis dalam bahasa Yunani
adalah berbentuk seperti panah. Penyakit ini bersifat zoonosis, yaitu penyakit
hewan yang dapat ditularkan ke manusia (Pohan TH, 2014).
Penyakit yang disebabkan oleh protozoa (bersel satu) yang disebut
toxoplasma gondii yaitu suatu parasit intraselluler yang banyak terinfeksi pada
manusia dan hewan peliharaan. Penyakit toxoplasmosis biasanya ditularkan
dari kucing atau anjing tetapi penyakit ini bisa menyerang hewan lain seperti
babi, sapi, domba dan hewan peliharaan lainnya. Penyakit toxoplasmosis ini
sering dijumpai pada kucing dan anjing, untuk tertular penyakit toxoplasmosis
tidak hanya terjadi pada orang yang memelihara kucing atau anjing tetapi juga
bisa terjadi pada orang yang suka memakan makanan dari daging setengah
matang atau sayuran yang sudah terkontaminasi dengan agen penyakit
toxoplasmosis.
Penyebaran penyakit toxoplasmosis dari kucing dan anjing yang
menyerang manusia dapat menyebabkan cacat bawaan (kelainan kongenital)
pada bayi dan keguguran (abortus) pada ibu hamil. Toxoplasma gondii
termasuk parasit golongan protozoa yang hidup bebas di alam. Toxoplasma
gondii pertama kali ditemukan pada limpa dan hati hewan pengerat (rodensia)
Ctenodactyles gondii di Sahara Afrika Utara, toxoplasma termasuk dalam
phylum Apicomplexa, kelas Sporozoa dan Sub kelas Coccidia.
2. Rumusan Masalah
a. Apa penyakit toksoplasma gondii ?
b. Kenapa penyakit toxoplasma sering terjadi pada hewan ?
c. Bagaimana proses penyebaran penyakit toksoplasmosis ?
d. Bagaimana sumber infeksi dan gejala yang disebabkan oleh toksoplasmosis
yang menyerang pada kucing, anjing, sapi, domba, kambing dan babi ?
e. Bagaimana cara pencegahan penyakit toksoplasmosis ?
3. Tujuan
a. Untuk menetahui penyakit toxoplasma gondii.
b. Untuk mengetahui penyebab toxoplasma sering menjangkit pada hewan.
c. Untuk mengetahui proses penyebaran penyakit toksoplasmosis.
d. Untuk mengetahui sumber infeksi toksoplasmosis yang menyerang pada
kucing, anjing, sapi, domba, kambing dan babi.
5

e. Untuk mengetahui cara pencegahan penyakit toksoplasmosis.


6

BAB II. PEMBAHASAN

A. Toksoplasmosis gondii
Toksoplasmosis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi
akibat parasit umum pada kotoran kucing dan makanan yang
terkontaminasi. Genus toxoplasma terdiri dari satu spesies yaitu
toxoplasma gondii, parasit ini mempunyai sifat yang tidak umum
dibandingkan dengan genus lain diantaranya dapat menginfeksi inang.
Toxoplasma gondii merupakan protozoa obligat intraselluler yang
memiliki tiga bentuk yaitu takizoit, kista dan ookista. Toksoplasma gondii
merupakan parasit yang menumpang pada hewan seperti anjing, kucing,
kambing, domba, babi dan sapi. Manusia dapat terinfeksi parasit
toxoplasma ini jika mengonsumsi daging yang tidak matang secara
sempurna, sayur dan buah – buahan yang mentah dan tidak dicuci bersih.
Toxoplasmosis di Indonesia memiliki prevalensi yang postif zat
anti Toxoplasma gondii pada manusia sebesar 2% - 63%. Suatu survei
serologis yang dilakukan pada berbagai jenis hewan di Amerika
memberikan gambaran penyebaran penyakit toksoplasmosis dengan
prevalensi pada anjing 34% - 59%, kambing 48%, sapi 47%, dan babi
30%. Prevalensi Toksoplasma gondii pada hewan di Indonesia,
didapatkan data anjing 75%, kucinsg 35% - 73%, kambing 11% - 61%,
sapi 36,4%, babi 11% - 36%, dan pada hewan ternak lain sebesar 10%
(Soeharsono, 2002; Indrasanti, Haryanto, et al. 2011; Pohan TH. 2014)
Bentuk toxoplasma gondii terdapat dalam tiga bentuk yaitu takizoit
(bentuk proliferatif), kista (berisi bradizoit) dan ookista (berisi sporozoit).
Bentuk takizoit menyerupai bulan sabit dengan ujung yang runcing dan
ujung lain agak membulat. Ukuran panjang 4 – 8 mikron, mempunyai
selaput sel, Bentuk ini terdapat di dalam tubuh hospesperantara seperti
burung dan mammalia termasuk manusia dan kucing sebagai hospes
definitif. Takizoit ditemukan pada infeksi akut dalam berbagai jaringan
tubuh dan dapat memasuki setiap sel yang memiliki inti. Bentuk kista
(bradizoit) dibentuk didalam sel hospes bila takizoit yang membelah telah
membentuk dinding, ukuran kista yaitu 200 mikron, kista dalam tubuh
hospes dapat ditemukan seumur hidup terutama diotak dan otot jantung.
Bentuk ookista yaitu lonjong, memiliki dinding, berisi satu sporoblas yang
membelah menjadi dua sporoblas.
Sumber penularan penyakit toxoplasmosis adalah kotoran hewan
berbulu terutama kucing dan anjing. Cara penularannya pada manusia
melalui makanan dan sayur atau buah – buahan yang tercemar kotoran
kucing dan anjing. Melalui transfusi darah atau transplantasi organ dari
donor yang terinfeksi toksoplasma.
7

B. Penyebab sering munculnya penyakit toxoplasma


Toxoplasma gondii memiliki siklus hidup aseksual dan seksual,
tampak pada gambar 1, tahap utama siklus hidup Toxoplasma gondii
adalah pada kucing sebagai host definitif dan perantara.

Gambar 1 Siklus hidup dan cara penularan Toksoplasma gondii


Didalam tubuh kucing, tepatnya didalam sel epitel usus kecil
parasit ini melakukan daur hidup aseksual (skizogoni) dan daur seksual
(gametogoni, sporogoni) yang selanjutnya menghasilkan ookista yang
dikeluarkan bersama kotoran kucing. Ookista berbentuk lonjong dengan
ukuran 12,5 mikron mengasilkan dua sporokista yang masing – masing
mengandung empat sporozoit.
Apabila ookista tertelan oleh hewan mamalia maupun unggas
yang merupakan hospes perantara, maka didalam tubuh hospes perantara
ini akan terbentuk kelompok – kelompok tropozoit yang membelah diri
secara aktif yang disebut takizoit, disebut takizoit karena dalam bahasa
yunani tackhyzoit yaitu bentuk yang membelah cepat. Pada stadium
takizoit ini dapat menginfeksi dan bereplikasi diseluruh sel mamalia
kecuali sel darah merah. Kecepatan membelah pada stadium takizoit ini
akan berlangsung melambat yang selanjutnya berubah menjadi stadium
kista yang mengandung bradizoit, yaitu suatu bentuk yang membelah
perlahan. Pada stadium bradizoit merupakan masa yang infeksi klinis
8

menahun yang biasanya merupakan infeksi laten. Pada hewan


perantara tidak terdapat stadium seksual, namun dibentuk stadium
istirahat yaitu kista jaringan. Selanjutnya takizoit kebanyakan akan
dieliminasi oleh sistem imun pejamu. Kista jaringan yang mengandung
bradizoit berkembang tujuh sampai dengan sepuluh hari setelah infeksi
sistemik oleh takizoit. Kista jaringan terdapat diberbagai organ,
namun kista akan menetap terutama pada sistem saraf pusat (SSP).
(Herdiman Pohan 2014).
Bila kucing sebagai pejamu definitif memakan seperti tikus
sebagai hospes perantara yang mangandung toxoplasma, maka didalam
tubuh kucing akan terbentuk kembali berbagai stadium seksusal didalam
sel epitel usus kecil kucing. Bila hospes perantara mengandung kista
jaringan Toksoplasma gondii maka akan mengalami masa prapaten
yaitu masa dimana sampai dikeluarkannya ookista, yang dialami
selama tiga sampai lima hari, sedangkan bila kucing memakan hospes
perantara yang mengandung takizoit, masa prapaten biasanya lima
sampai sepuluh hari. Tetapi bila ookista langsung tertelan oleh kucing,
maka masa prapaten adalah 20 sampai 24 hari. Kucing lebih mudah
terinfeksi oleh kista jaringan dari pada oleh ookista. (Herdiman Pohan
2014).
Pada berbagai jaringan organ didalam tubuh kucing juga
ditemukan takizoit dan kista jaringan. Pada manusia takizoit ditemukan
pada infeksi akut dan dapat memasuki tiap sel yang berinti. Bentuk
takizoit menyerupai seperti bulan sabit dengan satu ujung yang
runcing dan ujung lain yang agak membulat. Panjang sekitar empat
sampai delapan mikron dan mempunyai satu inti yang letaknya kira
– kira ditenga. Takizoit pada manusia merupakan parasit obligat
intraseluler (Herdiman Pohan 2014).
Takizoit berkembang biak dalam sel secara endodiogeni. Bila
sel penuh dengan takizoit, maka sel menjadi pecah dan takizoit
memasuki sel – sel disekitarnya atau difagositosis oleh sel makrofag.
Kista jaringan dibentuk di dalam sel hospes, bila takizoit yang membelah
telah membentuk dinding. Kista jaringan ini dapat ditemukan di dalam
hospes seumur hidup terutama di otak, otot jantung, dan otot lurik. Di
otak berbentuk lonjong atau bulat, sedangkan di otot kista mengikuti
bentuk sel otot (Herdiman Pohan 2014).
Siklus hidup parasit ini memiliki beberapa stadium yang dimana
masing– masing stadium memiliki gambaran yang berbeda–beda dan
9

pada stadium tertentu dapat menyebabkan hewan dan manusia sebagai


host definitif terinfeksi. Seperti yang terdapat pada gamabar 1 dan 2
berikut akan lebih memperjelas penjelasan seperti yang telah dijelaskan
sebelumnya.

Gambar 2. Ookista T.gondii yang mengandung 2 sporozoit) (a). (Tolibin


Iskandar- Bbalitvet). Stadium takizoit T.gondii (b). (Tabbara, 2014).
Bradizoit (c). (Tabbara, 2014).
C. Proses penyebaran penyakit toksoplasmosis
Kucing merupakan induk semang utama parasit toxoplasma dan
merupakan hewan yang melengkapi siklus kehidupan parasit toksoplasma
gondii. Penyebaran penyakit toksoplasmosis berawal dari kucing yang
tertular toxoplasmosis gondii lewat memangsa burung atau tikus yang
membawa parasit toxoplasma didalam tubuh burung dan tikus tersebut,
didalam tubuh tikus dan burung penyakit ini bertindak sebagai pembawa
(carrier) . Kucing juga dapat tertular lewat makanan yang mentah dan yang
terinfeksi toksoplasmosis. Pada sapi infeksi toxoplasma termasuk jarang.
Cara penularan pada kucing melalui jilatan tanah atau tempat lain yang
tercemar oleh kotoran kucing lain.
Hewan pemakan rumput seperti kambing, domba, sapi dan babi
hutan dapat tertular penyakit toksoplasmosis melalui rumput yang
tercemar telur toxoplasma. Anjing dapat tertular lewat memangsa tikus,
namun demikian penularan dari anjing ke manusia umumnya tidak terjadi.
Kecuali manusia memakan daging anjing yang tidak masak secara
sempurna.
D. Sumber infeksi dan gejala toksoplasmosis yang menyerang pada
kucing dan anjing
Infeksi toksoplasmosis terajadi karena tertelannya ookista atau
memakan daging yang mengandung kista atau pseudokista yang
bersifat infektif yang berada pada daging yang dimasak kurang matang.
Merozoit dan hasil aseksual, masuk kedalam limfe dan peredaran darah
dan membentuk pseudokista dan kista diberbagai organ dan peredaran
darah. Masuknya parasit ini akan mengaktifasi makrofag dan monosit,
ketika teraktifasi makrofag akan memfagositosis. Dalam makrofag
10

parasit membelah dengan melakukan endodiogeni berkali – kali


sehingga membentuk koloni yang besar dan mengakibatkan makrofag
pecah dan sebabkan endozoit – endozoit bebas masuk ke sel lainnya
yang berada di dalam tubuh. Kebanyakan pembentukan kista teradi di
sistem saraf pusat (SSP), mata, otot kerangka, jantung. Kista
dikelilingi oleh dinding yang bersifat argirofilik. Bila kista didalam
tubuh tidak pecah maka tidak akan menimbulkan manifetasi (PohanTP.
2014).

E. Cara pencegahan penyakit toksoplasmosis.


1. Pengobatan
Pengobatan pada ternak dapat dilakukan dengan pemberian
preparat Clindamycin dengan dosis 12,5-25 mg/kg berat badan sekali
pemberian per oral, diberikan pagi dan sore. Pengobatan ini disarankan
sampai 2 minggu setelah gejala klinis tidak nampak. Selain itu,
Sulfidazine dengan dosis 30 mg/kg berat badan dapat diberikan setiap
12 jam per oral, bersama dengan pemberian pyrimethamine 0,5 mg/kg
berat badan, dan sebagai pengurang efek samping yang dapat timbul,
penambahan folinic acid 5 mg/hari juga disarankan.
Produksi oosista pada kucing dapat dikurangi dengan
pengobatan kombinasi sulfadiazin 120 mg/kg berat badan dan
pyrimitamin 1 mg/kg berat badan. Sulfadiazin dan pyrimetamin
termasuk inhibitor kompetitif dari vitamin asam folat. Kombinasi
keduanya dianjurkan untuk pengobatan toksoplasmosis, karena
memiliki efek sinergi bila digunakan bersama. Kombinasi kedua obat
tersebut efektif untuk menghancurkan pseudosista atau sista semu dan
efektif pada stadium proliferatif. Untuk menghidari eliminasi oosista-
oosista toksoplasma yang dikeluarkan kucing bersama tinjanya, pakan
dapat diberikan apabila sudah dimasak atau untuk daging yang sudah
disimpan minimal 3 hari pada lemari es suhu - 20°C. Melalui
pemberian pakan yang dicampur dengan Toltrazuril (Baycox) dengan
dosis 5 mg/kg berat badan setiap hari dapat membatasi perkembangan
oosista toksoplasma lebih lanjut (Nurcahyo dan Dwi, 2019).
2. Vaksinasi
Vaksinasi Toxoplasmosis yang saat ini tersedia adalah vaksin
hidup untuk domba, misalnya di Belanda terdapat Toxovax, Intervet
BV; di New Zealand (Toxovax, Agvax, Ag Research). Saat ini
vaksinvaskin tersebut telah mendapatkan lisensi untuk digunakan di
UK, lrlandia, Perancis, Portugal dan Spanyol. Vaksin ini akan
menstimulasi immun protektif selama sekurang- kurangnya 18 bulan
pasca pemberian dosis tunggal dan mempunyai waktu efektif yang
pendek serta berpotensi mempunyai dampak immunosupresi. Perlu
11

diperhatikan, bahwa pemberian vaksin pada ternak juga harus


mempertimbangkan faktor-faktor kesehatan daging. Ini mengingat
hewan ternak yang divaksin akan membawa toksoplasma pada
sepanjang hidupnya, sehingga penggunaan live vaccine pada ternak
masih diperdebatkan oleh para ahli. Sedangkan pemberian vaksin dari
galur toksoplasma yang sudah tidak aktif tidak menunjukkan hasil
yang baik (Nurcahyo dan Dwi, 2019).

BAB III. PENUTUP


1. Kesimpulan
2. Saran
Dalam menyusun makalah ini kami menyadari masih banyak kekurangan
baik dari segi bahasa, penyampaian maupun penulisan. Oleh karena itu, kami
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari pihak pembaca
demi kesempurnaan dan perbaikan penyusunan makalah selanjutnya. Semoga
makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.
12

DAFTAR PUSTAKA

Nurcahyo, Wisnu dan Dwi Priyowidodo. 2019. Toksoplasmosis Pada


Hewan. Penerbit Samudera Biru, Yogyakarta.

Pohan TH. 2014. Toxoplasmosis. Dalam: Buku Ilmu Penyakit Dalam


FKUI. Penyunting: Setiati S, Alwi I, Sudoyo AW, K Simadibrata M,
Setiyohandi B, Syam AF. Edisi ke-3. Jakarta Pusat 10430: Pusat
Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam. Hlm 624