Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PENDAHULUAN

PERILAKU KEKERASAN
I. Masalah Utama Keperawatan
Perilaku Kekerasan

II. Proses Terjadinya Masalah


A. Definisi
Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan
yang dapat membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri, orang lain maupun
lingkungan. (Stuart dan Sundeen ,1995)
Perilaku kekerasan atau agresif adalah bentuk perilaku yang bertujuan untuk
melukai seseorang secara fisik maupun psikologis .Perilaku kekerasan merupakan suatu
keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik
,baik pada diri sendiri maupun orang lain.Perilaku kekerasan biasanya muncul perasaan
marah ,jengkel,emosi,kecewa yang timbul yang ditandai dengan
mengepal,melotot,pandangan tajam,bicara keras dan kasar (Afnuhhazi,2015)
Marah merupakan perasaan jengkel yang timbul sebagai respons terhadap
kecemasan/kebutuhan yang tidak terpenuhi yang tidak dirasakan sebagai ancaman (Stuart
& Sundeen, 1995).
B. Etiologi
1. Faktor Predisposisi
1) Faktor Biologis
Neurologi faktor, beragam komponen dari sistem syaraf mempunyai
peran memfasilitasi atau menghambat rangsangan dan pesan-pesan yang akan
mempengahuri sifat agresif. Sistem limbic sangat terlibat dalam menstimulus
timbulnya perilaku bermusuhan dan respon agresif. Genetik faktor, adanya
faktor gen yang diturunkan melalui orang tua, menjadi potensi perilaku agresif.
2) Cyrcardian Rhytm
Cyrcardian rythm memegang peranan pada individu. Menurut penelitian
pada jam-jam tertentu manusia mengalami peningkatan cortsiol terutama pada
jam -jam sibuk seperti menjelang masuk kerja dan menjelang berakhirnya
pekerjaan sekitar jam 09.00 dan jam 13.00. pada jam tertentu orang lebih
mudah terstimulasi untukbersikap agresif.
3) Biochemistry
Faktor (faktor biokimia tubuh) seperti neurotransmitter di otak
(epinephrine, norephinephrine, asetikolin dan serotonin) sangat berperan dalam
penyampaian informasi melalui system persyarafan dalam tubuh.
4) Brain Area Disorder
Gangguan pada sistem limbik dan lobus temporal, sindrom otak organik,
tumor otak, trauma otak, penyakit ensepalitis, epilepsi di temukan sangat
berpengaruh terhadap perilaku agresif dan tindakan kekerasan.

2. Faktor Psikologis

1
 Teori psikonalisa
Agresivitas dan kekerasan dapat di pengaruhi oleh riwayat tumbuh
kembang seseorang teori ini menjelaskan bahwa adanya ketidakpuasan fase
oral antara usia 0-2 tahun dimana anak tidak mendapat kasih sayang dan
pemenuhan kebutuhan air susu yanag cukup cenderung mengembangkan
sikap agresif dan bermusuhan setelah dewasa sebagai konpensansi
ketidakpuasannya. Tidak terpenuhinya kepuasan dan rasa aman dapat
mengakibatkan tidak berkembangnya ego dan membuat konsep diri yang
rendah.
 Imitation
Modeling and information processing theory, menurut teori ini perilaku
kekerasan bisa berkembang dalam lingkungan yang menolerir kekerasan.
 Learning theory
Menurut teori ini perilaku kekerasan merupakan hasil belajar dari individu
terhadap lingkungan terdekatnya. Ia mengamati bagaimana respon ibu saat
marah.
3. Faktor Sosial Budaya
1)Latar Belakang Budaya
a)Budaya
permissive: Kontrol sosial yang tidak pasti terhadap perilaku kekerasan akan
menciptakan seolah-olah perilaku kekerasan diterima.
2)Agama dan Kenyakinan
a) Keluarga yang tidak solid antara nilai keyakinan dan praktek,serta tidak
kuat terhadap nilai-nilai baru yang rusak.
b)Kenyakinan yang salah terhadap nilai dan kepercayaan tentang marah
dalam kehidupan. Misal Yakin bahwa penyakit
merupakan hukuman dari Tuhan.
3)Keikutsertaan dalam Politik
a)Terlibat dalam politik yang tidak sehat
b)Tidak siap menerima kekalahan dalam pertarungan politik)
4Pengalaman sosial
a)Sering mengalami kritikan yang mengarah pada penghinaan.
b)Kehilangan sesuatu yang dicintai ( orang atau pekerjaan ).
c)Interaksi sosial yang provaktif dan konflik
d)Hubungan interpersonal yang tidak bermakna
e)Sulit memperhatikan hubungan interpersonal.
5)Peran sosial
a)Jarang beradaptasi dan bersosialisasi.
b)Perasaan tidak berarti di masyarakat.
c)Perubahan status dari mandiri ketergantungan (pada lansia)
d)Praduga negatif.
6)Adanya budaya atau norma yang menerima suatu ekspresi marah.
2.Faktor Presipitasi
Yosep (2011) faktor-faktor yang dapat mencetuskan perilaku keerasan
seringkali berkaitan dengan :
a.Ekspresi diri, ingin menunjukan eksistensi diri atau simbol solidaritas seperti
dalam sebuah konser, penonton sepak bola, geng sekolah, perkelahian massal
dan sebagainya.
b.Ekspresi dari tidak terpenuhinya kebutuhan dasar dan kondisi sosial
2
ekonomi.
c.Kesulitan dalammengkomunikasikan sesuatu dalam keluarga serta tidak
membiasakan dialog untuk memecahkan masalah cenderung melakukan
kekerasan dalam menyelesaikan konflik Ketidaksiapan seorang ibu dalam
merawat anaknya dan ketidakmampuan menempatkan dirinya sebagai seorang
yang dewasa.
e.Adanya riwayat perilaku anti sosial meliputi penyalahgunaan obat dan
alkoholisme dan tidak mampu mengontrol emosinya pada saat menghadapi rasa
frustasi.
f. Kematian anggota keluarga yang terpenting, kehilangan pekerjaan, perubahan
tahap perkembangan, atau perubahan tahap perkembangankeluarga.
C. Rentang respon marah
Rentang respon
Adaptif Maldaptif

Asertif Frustasi Pasif Agresif

Amuk/PK Gambar II.1.Rentang Respon Perilaku Kekerasan


Sumber : (Fitria, 2010)
Respon kemarahan dapat berfluktuasi dalam rentan adaptif-maladaptif, dapat
digambarkan sbb :
 Asertif adalah mengungkapkan marah tampa melukai orang lain, melukai perasan
orang lain atau tanpa merendahkan harga diri orang lain.
 Pasif adalah respon dimana individu tidak dapat mengungkapkan perasaan yang
dialami.
 Frustasi adalah respon yang timbul akibat gagal mencapai tujuan atau keinginan
 Agresif adalah perilaku yang menyertai marah namun masih dapat dikontrol
individu.
 Mengamuk adalah rasa marah dan bermusuhan yang kuat disertai kehilangan
kontrol diri.
D. Tanda dan gejala
- Data obyektif :
a. Mata merah
b. Pandangan tajam
c. Otot tegang
d. Nada suara tinggi
e. Suka berdebat
f. Sering memaksakan kehendak
g. Merampas makanan, memukul jika tidak senang
- Data subyektif
a. Mengeluh merasa terancam
b. Mengungkapkan perasaan tak berguna
c. Mengungkapkan perasaan jengkel
d. Mengungkapkan adanya keluhan fisik, berdebar-debar, merasa tercekik, sesak dan
bingung
E. Akibat dari perilaku kekerasan
3
Klien dengan perilaku kekerasan dapat menyebabkan resiko tinggi menciderai diri,
orang lain, dan lingkungan.
F. Proses marah
Stres, cemas, marah merupakan bagian kehidupan sehari-hari yang harus
dihadapi oleh setiap individu. Stres dapat menyebabkan kecemasan yang
menimbulkan perasaan tidak menyenangkan dan terancam. Kecemasan dapat
menimbulkan kemarahan. Respon terhadap marah dapat diungkapkan melalui 3 cara,
yaitu: mengungkapkan secara verbal, menekan danmenantang. Kemarahan diawali
oleh adanya stressor yang berasal dari internal atau eksternal. Stressor internal seperti
penyakit, hormonal, dendam, kesal sedangkan stressor ekternal bisa berasal dari
ledekan, cacian, makian, hilangnya benda berharga, tertipu, penggusuran, bencana dan
sebagainya, hal tersebut akan mengakibatkan kehilangan atau gangguan pada sistem
individu (disruption and loss). Videbeck (2008) mengatakan pemaknaan dari individu
pada setiap kejadian yang menyedihkan atau menjengkelkan menjadi hal terpenting.
 Triggering incidents
Ditandai dengan adanya pemicu sehingga muncul agresi klien. Beberapa
faktor yang dapat menjadi pemicu agresi antara laian: provokasi, respon
terhadap kegagalan, komunikasi yang buruk, situasi yang menyebabkan
frustrasi, pelanggaran batas terhadap jarak personal, dan harapan yang tidak
terpenuhi. Pada fase ini pasien dan keluarga baru datang.
 Escalation phase
Ditandai dengan kebangkitan fisik dan emosional, dapat diseterakan
dengan respon fight or flight. Pada fase escalasi kemarahan pasien memuncak,
dan belum terjadi tindakan kekerasan. Pemicu dari perilaku agresif pasien
gangguan psikiatrik bervariasi misalnya: halusinasi, gangguan kognitif,
gangguan penggunaan zat, kerusakan neurologi/kognitif, bunuh diri dan
koping tidak efektif.
 Crisis point
Sebagai lanjutan dari fase escalasi apabila negosiasi dan teknik de
escalation gagal mencapai tujuannya. Pada fase ini pasien sudah melakukan
tindakan kekerasan.
 Settling phase
Pasien yang melakukan kekerasan telah melepaskan energi marahnya.
Mungkin masih ada rasa cemas dan marah dan berisiko kembali ke fase awal.
 Post crisis depression
Pasien pada fase ini mungkin mengalami kecemasan dan depresi dan
berfokus pada kemarahan dan kelelahan.
 Return to normal functioning

4
Pasien kembali pada keseimbangan normal dari perasaan cemas, depresi,
dan kelelahan.
G. Perilaku
- Menyerang atau menghindar (Fight of flight), respon fisiologis timbul karena
jeguatan sistem saraf otonom bereaksi tergadap sekresi ephineprin yang
menyebabkan TD meningkat, takikardia, wajah merah.
- Menyatakan secara asertif, dengan perilaku mengekspresikan kemarahanya dengan
perilaku pasif agresif tanpa menyakiti orang lain secara fisik maupun psikologis.
- Memberontak (acting out), perilaku yang muncuk biasanya disertai akibat konflik
perilaku memberontak untuk menarik perhatian orang lain.
- Perilaku kekerasan, tindak kekerasan yang ditujukkan kepada diri sendiri, orang
lain maupun lingkungan.
H. Mekanisme kopping
Mekanisme kopping adalah tiap upaya yang diarahkan pada penatalaksanaan
stress, termasuk upaya penyelesaian masalah langsung dan mekanisme pertahanan yang
digunakan untuk melindungi diri (Stuart dan Sunndeen, 1998).
Kemarahan merupakan ekspresi dari rasa cemas yang timbul karna adanya
ancaman. Beberapa mekanisme kopping yang dipakai pada klien marah untuk melindungi
diri antara lain:
- Sublimasi, misalnya seseorang yang sedang marah melampiaskan kemarahannya pada
objek lain seperti meremas adonan kue, meninju tembok, dsb untuk mengurangi
ketegangan akibat rasa marah.
- Proyeksi, menyalakan orang lain mengenai kesukarannya atau keinginannya yang tidak
baik.
- Represi, mencegah pikiran menyakitkan atau membahayakan masuk ke alam sadar.
- Reaksi formasi, mencegah keinginan yang berbahaya bila diekspresikan, dengan
melebih-lebihkan sikap dan perilaku yang berlawanan dan menggunakan sebagai
rentangan.
- Displacement, melepaskan perasaan yang tertekan biasanya bermusuhan, pada objek
yang tidak berbahaya seperti yang pada mulanya membangkitkan emosi.
III. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Jiwa pada Klien dengan Perilaku Kekerasan
A. Pengkajian
Data yang perlu dikaji pada masalah keperawatan perilaku kekerasan
a. Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan
Data Subyektif :
- Klien mengatakan benci atau kesal pada seseorang.
- Klien suka membentak dan menyerang orang yang mengusiknya jika sedang kesal
atau marah.
- Riwayat perilaku kekerasan atau gangguan jiwa lainnya.
Data Objektif :
- Mata merah, wajah agak merah.

5
- Nada suara tinggi dan keras, bicara menguasai: berteriak, menjerit, memukul diri
sendiri/orang lain.
- Ekspresi marah saat membicarakan orang, pandangan tajam.
- Merusak dan melempar barang-barang.
b. Perilaku kekerasan / amuk
Data Subyektif:
- Klien mengatakan benci atau kesal pada seseorang.
- Klien suka membentak dan menyerang orang yang mengusiknya jika sedang kesal
atau marah.
- Riwayat perilaku kekerasan atau gangguan jiwa lainnya.
Data Obyektif:
- Mata merah, wajah agak merah.
- Nada suara tinggi dan keras, bicara menguasai.
- Ekspresi marah saat membicarakan orang, pandangan tajam.
- Merusak dan melempar barang-barang.

c. Gangguan harga diri : harga diri rendah


Data subyektif:
Klien mengatakan: saya tidak mampu, tidak bisa, tidak tahu apa-apa, bodoh,
mengkritik diri sendiri, mengungkapkan perasaan malu terhadap diri sendiri.
Data obyektif:
Klien tampak lebih suka sendiri, bingung bila disuruh memilih alternatif tindakan,
ingin mencederai diri/ingin mengakhiri hidup.

B. Diagnosa Keperawatan
Perilaku kekerasan b.d gangguan psikologis d.d bahasa tubuh negatif (mengepalkan
tangan) ketika diajak berbicara

C. Rencana Tindakan Keperawatan


Diagnosa 1: perilaku kekerasan
TujuanUmum: Klien terhindar dari mencederai diri, orang lain dan lingkungan.
Tujuan Khusus:
1) Klien dapat membina hubungan saling percaya.
Tindakan:
 Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik, empati, sebut nama perawat dan
jelaskan tujuan interaksi.
 Panggil klien dengan nama panggilan yang disukai.

6
 Bicara dengan sikap tenang, rileks dan tidak menantang.
2) Klien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan.
Tindakan:
 Beri kesempatan mengungkapkan perasaan.
 Bantu klien mengungkapkan perasaan jengkel / kesal.
 Dengarkan ungkapan rasa marah dan perasaan bermusuhan klien dengan sikap
tenang.
3) Klien dapat menggunakan obat dengan benar (sesuai program).
Tindakan:
 Diskusikan dengan klien tentang obat (nama, dosis, frekuensi, efek dan efek
samping).
 Bantu klien mengunakan obat dengan prinsip 5 benar (nama klien, obat, dosis, cara
dan waktu).
 Anjurkan untuk membicarakan efek dan efek samping obat yang dirasakan.
4) Klien dapat mengidentifikasi tanda-tanda perilaku kekerasan.
Tindakan :
 Anjurkan klien mengungkapkan yang dialami dan dirasakan saat jengkel/kesal.
 Observasi tanda perilaku kekerasan.
 Simpulkan bersama klien tanda-tanda jengkel / kesal yang dialami klien.
5) Klien dapat mengidentifikasi perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.
Tindakan:
 Anjurkan mengungkapkan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.
 Bantu bermain peran sesuai dengan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.
 Tanyakan "apakah dengan cara yang dilakukan masalahnya selesai?"
6) Klien dapat mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan.
Tindakan:
 Bicarakan akibat/kerugian dari cara yang dilakukan.
 Bersama klien menyimpulkan akibat dari cara yang digunakan.
 Tanyakan apakah ingin mempelajari cara baru yang sehat.
7) Klien dapat mengidentifikasi cara konstruktif dalam berespon terhadap kemarahan.
Tindakan :
 Beri pujian jika mengetahui cara lain yang sehat.
 Diskusikan cara lain yang sehat.Secara fisik : tarik nafas dalam jika sedang kesal,
berolah raga, memukul bantal / kasur.
 Secara verbal : katakan bahwa anda sedang marah atau kesal / tersinggung
 Secara spiritual : berdo'a, sembahyang, memohon kepada Tuhan untuk diberi
kesabaran.
7
8) Klien dapat mengidentifikasi cara mengontrol perilaku kekerasan.
Tindakan:
7.1. Bantu memilih cara yang paling tepat.
7.2. Bantu mengidentifikasi manfaat cara yang telah dipilih.
7.3. Bantu mensimulasikan cara yang telah dipilih.
7.4. Beri reinforcement positif atas keberhasilan yang dicapai dalam simulasi.
7.5. Anjurkan menggunakan cara yang telah dipilih saat jengkel / marah.
9) Klien mendapat dukungan dari keluarga.
Tindakan :
 Beri pendidikan kesehatan tentang cara merawat klien melalui pertemuan keluarga.
 Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga.
D. Konsep Pengkajian
1. Identitas
Meliputi data-data demografi seperti nama, usia, pekerjaan, dan tempattinggal klien.
2. Keluhan utama
Biasanya klien memukul anggota keluarga atau orang lain, juga dirinya sendiri.
3. Alasan masuk
Tanyakan pada klien atau keluarga:
a. Apa yang menyebabkan klien atau keluarga datang ke rumah sakit?
b. Apa yang sudah dilakukan oleh keluarga untuk mengatasi masalah ini?
c. Bagaimana hasilnya?
4. Tinjau kembali riwayat klien untuk adanya stressor pencetus dan datasignifikan tentang:
a. Kerentanan genetika-biologik (misal, riwayat keluarga)
b. Peristiwa hidup yang menimbulkan stress dan kehilangan yang barudialami
c. Episode-episode perilaku kekerasan di waktu masa lalu
d. Riwayat pengobatan
e. Penyalahgunaan obat dan alkohol
f. Riwayat pendidikan dan pekerjaan
5. Faktor predisposisi
Berbagai pengalaman yang dialami tiap orang yang merupakan
faktor predisposisi, artinya mungkin terjadi / tidak terjadi perilaku kekerasan jika faktor
tersebut dialami oleh individu:
a. Psikologis, kegagalan yang dialami dapat menimbulkan frustasiyang kemudian dapat
timbul agresif atau amuk. Masa kanak-kanak yang tidak menyenangkan yaitu
perasaan ditolak, dihina,dianiaya atau saksi penganiayaan.
b. Perilaku, reinforcement yang diterima saat melakukan kekerasan,sering
mengobservasi kekerasaan dirumah atau diluar rumah,semua aspek ini menstimulasi
individu mengadopsi perilakukekerasan.
c. Sosial budaya, budaya tertutup dan membalas secara diam (pasifagresif) dan kontrol
sosial yang tidak pasti terhadap pelakukekerasan akan menciptakan seolah-olah
perilaku kekerasanditerima (permisive).
d. Bioneurologis, banyak pendapat bahwa kerusakan sistem limbik,lobus frontal, lobus
temporal dan ketidakseimbanganneurotransmiter berperan dalam terjadinya perilaku
kekerasan
6. Faktor presipitasi

8
Faktor presipitasi dapat bersumber dari klien , lingkungan atau interaksidengan
orang lain. Kondisi klien seperti kelemahan fisik, keputusasaan,ketidakberdayaan,
percaya diri yang kurang dapat menjadi penyebab perilaku kekerasan. Demikian
pula dengan situasi lingkungan yang ribut, padat, kritikan yang
mengarah pada penghinaan, kehilangan orang yangdicintai/ pekerjaan dan kekerasan
merupakan faktor penyebab yang lain.Interaksi sosial provokatif dan konflik dapat
memicu perilaku kekeraaan.
7. Tanda dan gejala
Pada pengkajian awal dapat diketahui alasan utama klien dibawakerumah sakit adalah
perilaku kekersan dirumah. Kemudian perawatdapat melakukan pengkajian dengan cara
obsevasi dan wawancara
Data perilaku kekerasan yang diperoleh melalui observasi dan wawancara tentang
perilaku berikut ini:
a. Muka merah dan tegang
b. Pandangan tajam
c. Mengatupkan rahang dengan kuat
d. Mengepalkan tangan
e. Jalan mondar-mandir
f. Bicara kasar
g. Suara tinggi, menjerit atau berteriak
h. Mengancam secara verbal atau fisik
i. Melempar atau memukul benda/ orang lain
j. Merusak barang atau benda
k. Tidak mempunyai kemampuan untuk mencegah perilaku kekerasan.
l. Tanda-tanda kekambuhan serta tindakan perawatan sendiri.
8. Analisa Data
Masalah Keperawatan
DS : Klien mengatakan benci atau kesal pada seseorang, klien suka membentak dan
menyerang orang yang mengusiknya jika sedang kesal atau marah.

DO : Mata merah, wajah agak merah, nada suara tinggi dank eras, pandangan tajam,
peilaku kekerasan.
9. Diagnosa
Perilaku kekerasan b.d gangguan psikologis d.d bahasa tubuh negatif (mengepalkan tangan)
ketika diajak berbicara
10. Rencana Tindakan Keperawatan
Tujuan Umum : Klien terhindar dari mencederai diri, orang lain dan lingkungan.
Tujuan Khusus :
1.) Klien dapat membina hubungan saling percaya.
Tindakan:
 Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik, empati, sebut nama perawat dan
jelaskan tujuan interaksi.
 Panggil klien dengan nama panggilan yang disukai.
 Bicara dengan sikap tenang, rileks dan tidak menantang.
2.) Klien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan.

9
Tindakan:
 Beri kesempatan mengungkapkan perasaan.
 Bantu klien mengungkapkan perasaan jengkel / kesal.
 Dengarkan ungkapan rasa marah dan perasaan bermusuhan klien dengan sikap
tenang.
3.) Klien dapat menggunakan obat dengan benar (sesuai program).
Tindakan:
 Diskusikan dengan klien tentang obat (nama, dosis, frekuensi, efek dan efek
samping).
 Bantu klien mengunakan obat dengan prinsip 5 benar (nama klien, obat, dosis,
cara dan waktu).
 Anjurkan untuk membicarakan efek dan efek samping obat yang dirasakan.

4.) Klien dapat mengidentifikasi tanda-tanda perilaku kekerasan.


Tindakan :
 Anjurkan klien mengungkapkan yang dialami dan dirasakan saat jengkel/kesal.
 Observasi tanda perilaku kekerasan.
 Simpulkan bersama klien tanda-tanda jengkel / kesal yang dialami klien.
5.) Klien dapat mengidentifikasi perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.
Tindakan:
 Anjurkan mengungkapkan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.
 Bantu bermain peran sesuai dengan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.
 Tanyakan "apakah dengan cara yang dilakukan masalahnya selesai?"
6.) Klien dapat mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan.
Tindakan:
 Bicarakan akibat/kerugian dari cara yang dilakukan.
 Bersama klien menyimpulkan akibat dari cara yang digunakan.
 Tanyakan apakah ingin mempelajari cara baru yang sehat.
7.) Klien dapat mengidentifikasi cara konstruktif dalam berespon terhadap kemarahan.
Tindakan :
 Beri pujian jika mengetahui cara lain yang sehat.
 Diskusikan cara lain yang sehat.Secara fisik : tarik nafas dalam jika sedang kesal,
berolah raga, memukul bantal / kasur.
 Secara verbal : katakan bahwa anda sedang marah atau kesal / tersinggung
 Secara spiritual : berdo'a, sembahyang, memohon kepada Tuhan untuk diberi
kesabaran.
8.) Klien dapat mengidentifikasi cara mengontrol perilaku kekerasan.
10
Tindakan:
 Bantu memilih cara yang paling tepat
 Bantu mengidentifikasi manfaat cara yang telah dipilih.
 Bantu mensimulasikan cara yang telah dipilih.
 Beri reinforcement positif atas keberhasilan yang dicapai dalam simulasi.
 Anjurkan menggunakan cara yang telah dipilih saat jengkel / marah.

9.) Klien mendapat dukungan dari keluarga.


Tindakan :
1.1. Beri pendidikan kesehatan tentang cara merawat klien melalui pertemuan
keluarga.
1.2. Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga.

11
STRATEGI PELAKSANAAN

PERILAKU KEKERASAN

STRATEGI PELAKSANAAN 1 (SP 1)

A. PROSES KEPERAWATAN

1. Kondisi klien

Klien tenang, kooperatif, klien mampu menjawab semua pertanyaan yang diajukan.

2. Diagnosa Keperawatan

Perilaku kekerasan b.d gangguan psikologis d.d bahasa tubuh negatif (mengepalkan tangan)
ketika diajak berbicara

3. Tujuan Khusus

a. Pasien dapat mengidentifikasi PK

b. Pasien dapat mengidentifikasi tanda-tanda PK

c. Pasien dapat menyebutkan jenis PK yang pernah dilakukannya

d. Pasien dapat menyebautkan akibat dari PK yang dilakukannya.

e. Pasien dapat menyebutka cara mencegah / mengendalikan PKny

4. Tindakan Keperawatan

SP 1 Klien :

Membina hubungan saling percaya, mengidentifikasi penyebab marah, tanda dan gejala yang
dirasakan, perilaku kekerasan yang dilakukan, akibat dan cara mengendalikan perilaku kekerasan
dengan cara fisik pertama ( latihan nafas dalam)

B. STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN

1. Fase Orientasi :

“ Assalamu’alaikum, selamat pagi bu, perkenalkan nama saya Khairil Anwar, saya biaya
dipanggil Anwar. Saya perawat yang dinas diruang Madrim ini, saya dinas diruangan ini selama
3 minggu. Hari ini saya dinas pagi dari jam 7 sampai jam 1 siang, jadi selama 3 minggu ini saya
yang merawat ibu.

Nama ibu siapa? Dan senang nya dipanggil apa?”

“ Bagaimana perasaan ibu R saat ini?”

“masih ada perasaan kesal atau marah?

12
“ Baiklah sekarang kita akan berbincang-bincang tentang perasaan marah yang ibu rasakan,”

“ Berapa lama ibu mau kita berbincang-bincang ? bagaimana kalau 10 menit“ “Dimana kita akan
bincang-bincang?

“Bagaimana kalau diruang tamu?”

2. Fase Kerja :

“ apa yang menyebabkan ibu R marah?

Apakah sebelumnya ibu R pernah marah?

Terus penyebabnya apa?

Samakah dengan yang sekarang?

Pada saat penyebab marah itu ada, seperti rumah yang berantakan, makanan yang tidak tersedia,
air tak tersedia ( misalnya ini penyebab marah klien), apa yang ibu R rasakan?“

Apakah ibu R merasa kesal, kemudian dada ibu berdebar-debar, mata melotot, rahang terkatup
rapat, dan tangan mengepal?”“ apa yang ibu lakukan selanjutnya”

“ Apakah dengan ibu R marah-marah, keadaan jadi lebih baik?

“ Menurut ibu adakah cara lain yang lebih baik selain marah-marah?

“maukah ibu belajar mengungkapkan marah dengan baik tanpa menimbulkan kerugian?

” ada beberapa cara fisik untuk mengendalikan rasa marah, hari ini kita belajar satu cara dulu,

“ begini bu, kalau tanda- marah itu sudah ibu rasakan ibu berdiri lalu tarik nafas dari hidung,
tahan sebentar, lalu keluarkan secara perlahan-lahan dari mulut seperti mengeluarkan kemarahan,
coba lagi bu dan lakukan sebanyak 5 kali. Bagus sekali ibu R sudah dapat melakukan nya.

“ nah sebaiknya latihan ini ibu R lakukan secara rutin, sehingga bila sewaktu-waktu rasa marah
itu muncul ibu R sudah terbiasa melakukannya”.

3. Fase Terminasi :

“ Bagaimana perasaan ibu R setelah berbincang-bincang tentang kemarahan ibu? ”

“ Coba ibu R sebutkan penyebab ibu marah dan yang ibu rasakan dan apa yang ibu lakukan
serta akibatnya.

“Baik, sekarang latihan tandi kita masukkan ke jadual harian ya Bu”

” berapa kali sehari ibu mau latihan nafas dalam ?” Bagus..

“Nanti tolong ibu tulis M, bila ibu melakukannya sendiri, tulis B, bila ibu dibantu dan T, bila ibu
tidak melakukan”
13
“baik Bu, bagaimana kalau besok kita latihan cara lain untuk mencegah dan mengendalikan
marah ibu R.

”Dimana kita akan latihan, bagaimana kalau tempatnya disini saja ya Bu?”

“Berapa lama kita akan lakukan, bagaimana kalau 10 menit saja”

“Saya pamit dulu Ibu…Assalamu’alaikum.”

STRATEGI PELAKSANAAN 2 (SP 2)

A. PROSES KEPERAWATAN

1. Kondisi klien

Klien tenang, kooperatif, ada kontak mata saat berbicara.

2. Diagnosa Keperawatan

Risiko perilaku kekerasan

3. Tujuan khusus

a. Melatih cara mencegah/ mengontrol perilaku kekerasan secara fisik kedua

b. Mengevaluasi latihan nafas dalam

c. Melatih cara fisik ke 2: pukul kasur dan bantal

d. Menyusun jadwal kegiatan harian cara kedua

4. Tindakan Keperawatan

SP 2 klien :

Membantu klien latihan mengendalikan perilaku kekerasan dengan cara fisik ke dua (evaluasi
latihan nafas dalam, latihan mengendalikan perilaku kekerasan dengan cara fisik ke dua : pukul
kasur dan bantal), menyusun jadwal kegiatan harian cara ke dua.

B. STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN

1. Fase Orientasi

“ Assalamu’alaikum Ibu R, masih ingat nama saya” bagus Ibu,,,ya saya Anwar”

“sesuai dengan janji saya kemarin, sekarang saya datang lagi.

“Bagaimana perasaan ibu saat ini, adakah hal yang menyebabkan ibu marah?”

“Baik, sekarang kita akan belajar cara mengendalikan perasaan marah dengan kegiatan fisik
untuk cara yang kedua.”
14
“ mau berapa lama? Bagaimana kalau 10 menit?”

“ Dimana kita bicara? Bagaimana kalau di ruang tamu ini ya Bu”

2. Fase Kerja

“ Kalau ada yang menyebabkan ibu marah dan muncul perasaan kesal, selain nafas dalam ibu
dapat memukul kasur dan bantal.”“ Sekarang mari kita latihan memukul bantal dan kasur mari ke
kamar ibu? Jadi kalau nanti ibu kesal atau marah, ibu langsung kekamar dan lampiaskan marah
ibu tersebut dengan memukul bantal dan kasur.Nah coba ibu lakukan memukul bantal dan kasur,
ya bagus sekali ibu melakukannya!”“ Nah cara ini pun dapat dilakukan secara rutin jika ada
perasaan marah, kemudian jangan lupa merapikan tempat tidur Ya!”

3. Fase Terminasi

“ Bagaimana perasaan ibu setelah latihan cara menyalurkan marah tadi?”“ Coba ibu sebutkan ada
berapa cara yang telah kita latih? Bagus!”

“ Mari kita masukkan kedalam jadwal kegiatan sehari-hari ibu. Pukul berapa ibu mau
mempraktikkan memukul kasur/bantal?

Bagai mana kalau setiap bangun tidur? Baik jadi jam 5 pagi dan jam 3 sore, lalu kalau ada
keinginan marah sewaktu-waktu gunakan kedua cara tadi ya Bu.“ sekarang ibu istirahat, 2 jam
lagi kita ketemu ya Bu, kita akan belajar mengendalikan marah dengan belajar bicara yang baik.
Sampai Jumpa!” Assalamu’alaikum

STRATEGI PELAKSANAAN 3 (SP 3)

A. PROSES KEPERAWATAN

1. Kondisi klien

Klien kooperatif, tenang, ada kontak mata saat berbicara, sesekali nada bicara agak tinggi.

2. Diagnosa Keperawatan

Risiko perilaku kekerasan

3. Tujuan khusus

a. Melatih cara mencegah/ mengontrol perilaku kekerasan secara sosial/verbal

b. Mengevaluasi jadual harian untuk dua cara fisik

c. Melatih mengungkapkan rasa marah secara verbal: menolak dengan baik, meminta dengan
baik, mengungkapkan perasaan dengan baik

d. Menyusun jadwal latihan mengungkapkan secara verbal


15
4. Tindakan Keperawatan

SP3 klien :

Membantu pasien latihan mengendalikan perilaku kekerasan secara sosial/verbal (evaluasi jadwal
harian tentang dua cara fisik mengendalikan perilaku kekerasan, latihan mengungkapkan rasa
marah secara verbal ( menolak dengan baik, meminta dengan baik, mengungkapkan perasaan
dengan baik), susun jadwal latihan mengungkapkan marah secara verbal)

B. STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN.

1. Fase Orientasi

“ Assalamu’alaikum Ibu R, masih ingat nama saya” bagus Ibu,,,ya saya Anwar”, sesuai dengan
janji saya 2 jam yang lalu sekarang kita ketemu lagi”

“Bagaimana bu, sudah dilakukan tarik nafas dalam dan pukul kasur bantal? Apa yang dirasakan
setelah melakukan latihan secara teratur?”“Coba saya lihat jadual kegiatan hariannya. “Bagus,

“Bagaiman kalau kita sekarang latihan cara bicara untuk mencegah marah?”

“Dimana enaknya kita berbincang-bincang?Bagaimana kalau ditempat yang sama?”

“Berapa lama ibu mau kita berbincang-bincang? Bagaiman kalau 10 menit?”

2. Fase Kerja

“Sekarang kita latihan cara bicara ibu baik untuk mencegah marah. Kalau marah sudah
disalurkan melalui tarik nafas dalam atau pukul kasur dan bantal, dan sudah lega, maka kita perlu
bicara dengan orang yang membuat kita marah. Ada tiga caranya bu: 1. Meminta dengan baik
tanpa marah dengan suara yang rendah serta tidak menggunakan kata-kata kasar. Kemarin ibu
mengatakan penyebab marahnya karena makanan tidak tersedia, rumah berantakan, Coba ibu
minta sediakan makan dengan baik:” bu, tolong sediakan makan dan bereskan rumah” Nanti
biasakan dicoba disini untuk meminta baju, minta obat dan lain-lain. Coba ibu praktekkan .
Bagus bu. “

Yang kedua : Menolak dengan baik, jika ada yang menyuruh dan ibu tidak ingin melakukannya,
katakan: ‘maaf saya tidak bisa melakukannya karena sedang ada kerjaan’. Coba ibu praktekkan .
Bagus bu.”

Yang ketiga Mengungkapkan perasaan kesal, jika ada perlakuan orang lain yang membuat kesal
ibu dapat mengatakan:’Saya jadi ingin marah karena perkataan mu itu’. Coba praktekkan.
Bagus.”

3. Fase Terminasi

16
“Bagaimana perasaan ibu setelah bercakap-cakap tentang cara mengontrol marah dengan bicara
yang baik?’

“Coba ibu sebutkan lagi cara bicara yang baik yang telah kita pelajari.”“Bagus sekali, sekarang
mari kita masukkan dalam jadwal. Berapa kali sehari ibu mau latihan bicara yang baik? bisa kita
buat jadwalnya?”

“Coba masukkan dalam jadwal latihan sehari-hari, misalnya meminta obat, makanan dll. Bagus
nanti dicoba ya bu!”

“ Bagaimana kalau besok kita ketemu lagi?”

“ besok kita akan membicarakan cara lain untuk mengatasi rasa marah ibu yaitu dengan cara
ibadah, ibu setuju? Mau dimana bu? Disini lagi? Baik sampai nanti ya Ibu…Assalamu’alaikum

STRATEGI PELAKSANAAN 4 (SP 4)

A. PROSES KEPERAWATAN

1. Kondisi klien

Klien tenang, kooperatif, bicara jelas.

2. Diagnosa Keperawatan

Risiko perilaku kekerasan

3. Tujuan khusus

Pasien dapat mencegah/ mengendalikan PKnya secara spiritual,

4. Tindakan Keperawatan

SP 4 klien :

Bantu klien latihan mengendalikan perilaku kekerasan secara spiritual (diskusikan hasil
latihan mengendalikan perilaku kekerasan secara fisik dan sosial/verbal, latihan beribadah dan
berdoa, buat jadwal latihan ibadah/ berdoa)

B. STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN

1. Fase Orientasi

“ Assalamu’alaikum Ibu R, masih ingat nama saya” Betul Ibu

“Bagaiman bu, latihan apa yang sudah dilakukan? Apa yang dirasakan setelah melakukan latihan
secara teratur? Bagus sekali, bagaiman rasa marahnya?”

17
“Bagaimana kalau sekarang kita latihan cara lain untuk mencegah rasa marah yaitu dengan
ibadah?”

“Dimana enaknya kita berbincang-bincang? Bagaiman kalu ditempat biasa?”

“Berapa lama ibu mau kita berbincang-bincang? Bagaimana kalau 10 menit?”

2. Fase kerja

“Coba ceritakan kegiatan ibadah yang biasa ibu lakukan! Bagus, yang mana yang mau di
coba?”“Nah, kalau ibu sedang marah coba langsung duduk dan langsung tarik nafas dalam. Jika
tidak reda juga marahnya rebahkan badan agar rileks. Jika tidak reda juga, ambil air wudhu
kemudian sholat”.“Ibu bisa melakukan sholat secara teratur untuk meredakan kemarahan.”

“Coba ibu sebutkan sholat 5 waktu? Bagus, mau coba yang mana? Coba sebutkan caranya?”

3. Fase terminasi

“Bagaiman perasaan ibu setelah kita bercakap-cakap tentang cara yang ketiga ini?”“ Jadi sudah
berapa cara mengontrol marah yang kita pelajari? Bagus”

“Mari kita masukkan kegiatan ibadah pada jadwal kegiatan ibu. Mau berapa kali ibu sholat. Baik
kita masukkan sholat …….dan ……(sesuai kesebuatan pasien).”

“Coba ibu sebutkan lagi cara ibadah yang dapat ibu lakukan bila ibu sedang marah”“Setelah ini
coba ibu lakukan sholat sesuai jadwal yang telah kita buat tadi”

“ 2 jam lagi kita ketemu ya bu,nanti kita bicarakan cara keempat mengontrol rasa marah, yaitu
dengan patuh minum obat! “

“Nanti kita akan membicarakan cara penggunaan obat yang benar untuk mengontrol rasa marah
ibu, setuju bu?”….Assalamu’alaikum

STRATEGI PELAKSANAAN 5 (SP 5)

A. PROSES KEPERAWATAN

1. Kondisi klien

Klien tenang, kooperatif, kontak mata ada saat komunikasi.

2. Diagnosa Keperawatan

Risiko perilaku kekerasan

3. Tujuan khusus

Pasien dapat mencegah/ mengendalikan PKnya dengan terapi

18
psikofarmaka

4. Tindakan Keperawatan

SP 5 klien :

Membantu klien latihan mengendalikan PK dengan obat ( bantu pasien minum obat secara teratur
dengan prinsip 5 benar ( benar pasien, benar nama obat, benar cara minum obat, benar waktu dan
benar dosis obat) disertai penjelasan guna minum obat dan akibat berhenti minum obat, susun
jadwal minum obat secara teratur)

B. STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN

1. Fase Orientasi

“ Assalamu’alaikum Ibu R, masih ingat nama saya” bagus Ibu,,,ya saya Anwar, “sesuai dengan
janji saya 2 jam yang lalu, sekarang kita ketemu lagi”

“Bagaimana bu, sudah dilakukan latihan tarik nafas dalam, pukul kasur bantal, bicara yang baik
serta sholat? Apa yang dirasakan setelah melakukan latihan secara teratur? Coba kita lihat
kegiatannya”.“Bagaimana kalau sekarang kita bicara dan latihan tentang cara minum obat yang
benar untuk mengontrol rasa marah?”“Dimana enaknya kita berbincang-bincang? Bagaimana
kalau ditempat tadi?”

“Berapa lama ibu mau kita berbincang-bincang? Bagaimana kalau 15 menit?”

2. Fase Kerja (Perawat membawa obat pasien)

“Ibu sudah dapat obat dari dokter?”“Berapa macam obat yang ibu minum?warnanya apa saja?
Bagus, jam berapa ibu minum?Bagus”“Obatnya ada 3 macam bu, yang warnanya oranye
namanya CPZ gunanya agar pikiran tenang, yang putih namanya THP agar rileks dan tidak
tegang, dan yang merah jambu ini namanya HLP rasa marah berkurang. Semuanya ini harus ibu
minum 3x sehari jam 7 pagi, jam 1 siang, dan jam 7 malam”“Bila nanti setelah minum obat mulut
ibu terasa kering, untuk membantu mengatasinya ibu bias mengisap-isap es batu”.“Bila terasa
berkunang-kunang, ibu sebaiknya istirahat dan jangan beraktivitas dulu”.

“Nanti dirumah sebelum minum obat ini ibu lihat dulu label di kotak obat apakah benar nama ibu
tertulis disitu, berapa dosis yang harus diminum, jam berapa saja harus diminum, baca juga
apakah nama obatnya sudah benar? Disini minta obatnya pada suster kemudian cek lagi apakah
benar obatnya”.

“Jangan penah menghentikan minum obat sebelum berkonsultasi dengan dokter ya bu, karena
dapat terjadi kekambuhan.”“ Sekarang kita masukkan waktu minum obat kedalam jadwal ya bu”.

3. Fase Terminasi

19
“Bagaimana perasaan ibu setelah kita bercakap-cakap tentang cara kita minum obat yang
benar?”“Coba ibu sebutkan lagi jenis jenis obat yang ibu minum! Bagaiman cara minum obat
yang benar?”“Nah, sudah berapa cara mengontrol perasaan marah yang kita pelajari? Sekarang
kita tambahkan jadual kegiatannya dengan minum obat. Jangan lupa laksanakan semua dengan
teratur ya”.“Baik, besok kita ketemu lagi untuk melihat sejauh mana ibu melaksanakan kegiatan
dan sejauh mana dapat mencegah rasa marah. Selamat siang bu, sampai jumpa.”….
Assalamu’alaikum

20
DAFTAR PUSTAKA

Dadang Hawari, 2001. Pendekatan Holistik Pada Gangguan Jiwa Skizoprenia, FKUI : Jakarta.

Fitria,Nita.2010.Prinsip Dasar dan Aplikasi Penulisan Laporan Pendahuluan dan Strategi


Pelaksanaan Tindakan Keperawatan ( LP & SP ) untuk 7 Diagnosis Keperawatan Jiwa
Berat bagi Program S1 Keperawatan. Salemba Medika: Jakarta

Keliat Budi Anna, 2002. Asuhan Keperawatan Perilaku Kekerasan. FKUI : Jakarta.

Stuart, GW dan Sunden, S. J, 1998. Buku Saku Keperawatan Jiwa Edisi 3. Buku Kedokteran
EGC : Jakarta.

Nanda. (2018). Diagnosis Keperawatan Definisi & Klasifikasi 2018-2020 Edisi 11 editor T
Heather Herdman, Shigemi Kamitsuru. Jakarta: EGC.

21