Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH BIOLOGI LAUT

MANGROVE

NURUL AFIA ABD. MAJID (H041171312)


MUHAMMAD RHOFLI NUR IRSYAH (H041171313)
ADELYA REZKI PRAJAWATI (H041171315)
MASYKUR (H041171318)
GHEA FARMANING THIAS PUTRI (H041171506)
DONNY SUHERMAN (H041171512)
FITRIANI (H041171526)
ADHYTHYA PUTRI RACHMADANI YUNUS (H41116307)
HARDIYANTI (H041171001)
SITI NUR INDAH MELATI B (H041171003)
NUZUL QURAN HADIE (H41116514)

DEPARTEMEN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2018
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Mangrove (Bakau) adalah jenis pohon yang tumbuh di daerah perairan

dangkal dan daerah intertidal yaitu daerah batas antara darat dan laut dimana

pengaruh pasang surut masih terjadi. Hutan mangrove atau disebut juga hutan

bakau adalah hutan yang tumbuh di atas rawa-rawa berair payau yang terletak

pada garis pantai dan dipengaruhi oleh pasang-surut air laut. Hutan ini tumbuh

khususnya di tempat-tempat di mana terjadi pelumpuran dan akumulasi bahan

organik. Baik di teluk-teluk yang terlindung dari gempuran ombak, maupun di

sekitar muara sungai di mana air melambat dan mengendapkan lumpur yang

dibawa dari hulu. Mangrove berkembang di habitat dengan ciri-ciri seperti yang

dikemukakan oleh Bengen (2001), sebagai berikut 1. Tumbuh pada daerah

intertidal yang tanahnya berlumpur atau berpasir. 2. Menerima pasokan air tawar

yang cukup dari darat (sungai, mata air, atau air tanah) yang berfungsi untuk

menurunkan salinitas, menambah pasokan unsur hara, dan lumpur. 3. Terkena

gelombang besar dan arus pasang surut yang kuat. Air payau dengan salinitas 2-22

ppm atau asin dengan salinitas mencapai 33 ppm.

Lingkungan salin terutama menyebabkan dua bentuk cekaman (stress)

pada tumbuhan, yaitu cekaman osmotik (osmotic stress) dan cekaman keracunan

(toxicity stress), (Jacoby, 1999). Poljakoff-Mayber dan Lerner (1999) menyatakan

bahwa selain menyebabkan kedua hal di atas, juga akan mengalami cekaman

sedikit oksigen (low oxygen pressure strees). Cekaman oksigen yang dialami akar

tumbuhan mangrove terjadi karena tanahnya secara periodik digenangi oleh


pasang air laut. Selain kondisi lingkungan tersebut, sebagian besar hutan

mangrove tumbuh baik di daerah tropis yang memiliki radiasi sinar matahari dan

suhu yang umumnya tinggi. Sehingga tumbuhan mangrove juga mengalami

cekaman radiasi sinar matahari dan suhu yang tinggi. Pada dasarnya berbagai

kondisi lingkungan ekstrim yang meliputi lingkungan salin, tanah jenuh air,

kurangnya oksigen, dan radiasi sinar matahari serta suhu yang tinggi akan

menyebabkan terganggunya metabolisme tumbuhan, sehingga pada akhirnya akan

menyebabkan rendahnya produktivitas atau laju pertumbuhan tumbuhan

mangrove. Namun, hutan mangrove dapat tumbuh baik pada kondisi tersebut

karena mampu beradaptasi dengan berbagai cara. Secara fisik, kebanyakan

vegetasi mangrove menumbuhkan organ khas untuk bertahan hidup. Seperti aneka

bentuk akar dan kelenjar garam di daun. Namun ada pula bentuk-bentuk adaptasi

fisiologis seperti mekanisme vivipary (Kalesaran, 2011).

Dalam tulisan ini akan mengkaji tentang kondisi fisik hutan mangrove,

cara beradaptasi mangrove terhadap lingkungan yang ekstrim, strategi reproduksi

yang juga merupakan mekanisme adaptasi, zonasi pada mangrove, dan manfaat

mangrove.

B. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah makalah ini yaitu:

1. Bagaimanakah kondisi fisik hutan mangrove?

2. Bagaimanakah cara adaptasi anatomi, morfologi dan fisiologis tumbuhan

mangrove pada lingkungan yang ekstrim?

3. Bagaimanakah strategi unik tumbuhan mangrove dalam bereproduksi?

4. Bagaimanakah zonasi mangrove berdasarkan tempat tumbuhnya?

5. Apakah manfaat mangrove secara fisik dan secara biologis?


B. Tujuan

Adapun rumusan tujuan makalah ini yaitu:

1 Untuk mengetahui kondisi fisik hutan mangrove.

2 Untuk mengetahui cara adaptasi anatomi, morfologi dan fisiologis tumbuhan

mangrove pada lingkungan yang ekstrim.

3 Untuk mengetahui strategi unik tumbuhan mangrove dalam bereproduksi.

4 Untuk mengetahui zonasi mangrove berdasarkan tempat tumbuhnya

5 Untuk mengetahui manfaat mangrove


BAB II

PEMBAHASAN

A. Mangrove

Kata “mangrove” belum diketahui secara jelas asal-usulnya hingga saat

ini. MacNae (1968) dalam Noor, 1999 menyebutkan bahwa kata “mangrove”

merupakan perpaduan antara bahasa Portugis “mangue” dan bahasa inggris

“grove”. Sedangkan Masteller (1997) dalam Noor 1999, menyatakan bahwa kata

“mangrove” berasal dari bahasa melayu kuno “mangimangi” yang hingga kini

masih digunakan oleh penduduk di Indonesia bagian timur untuk menyebut

tumbuhan dari marga Avicennia. Beberapa ahli mendefinisikan istilah

„mangrove‟ secara berbeda-beda. Tomlison (1986) dalam Noor 1999 dan

Weightman (1989) dalam Noor 1999 mendefenisikan mangrove sebagai

tumbuhan atau komunitas yang terdapat di daerah pasang surut. Mangrove juga di

defenisikan sebagai formasi tumbuhan daerah litoral yang Khas di daerah pantai

tropis dan subtropics yang terlindungi (Saenger,1983 dalam Noor 1999).

Sedangkan Soerianegara (1987 dalam Noor 1999) mendefenisikan hutan

mangrove sebagai hutan yang terutama tumbuh pada tanah lumpu alluvial di

daerah pantai dan muara sungai yang dipengaruhi pasang surut air laut dan terdiri

atas jenis-jenis pohon Avicenia, Sonneratia, Rhizophora, Bruguiera, Ceriops,

Lumnitzera, Excocaria, Xylocarpus, Aigiceras, Sciphyphora dan Nypa.

B. Kondisi Fisik Hutan Mangrove

Menurut Kusmono (1997) kondisi fisik yang jelas nampak di daerah

mangrove adalah gerakan air yang minim. Adanya gerakan air yang minim

mengakibatkan partikel- partikel sedimen yang halus sampai di daerah mangrove


cenderung mengendap dan mengumpul di dasar. Hasilnya berupa lapisan lumpur

halus yang menjadi dasar (substrat) hutan. Sirkulasi air dalam dasar (substrat)

yang sangat minimal, ditambah dengan banyaknya bahan organik dan bakteri

menyebabkan kandungan oksigen di dalam dasar juga sangat minim, bahkan

mungkin tidak terdapat oksigen sama sekali di dalam substrat.

Gerakan yang minim dalam hutan mangrove bertambah lebih kecil lagi

oleh pohon-pohon mangrove. Hal ini dikarenakan terdapat jenis-jenis mangrove

yang mempunyai sistem perakaran yang khas berupa akar-akar penyangga yang

memanjang ke bawah dari batang pohon. Jumlah akar yang demikian banyak dan

padat di dalam hutan mangrove sangat menghambat gerakan air. Kondisi ini

mengakibatkan partikel-partikel akan mengendap di sekeliling akar mangrove.

Sekali mengendap, sedimen biasanya tidak dialirkan lagi oleh gerakan air dalam

hutan mangrove. Dengan cara inilah terjadi “tanah timbul“ di pinggir laut yang

berbatasan dengan hutan mangrove. Selanjutnya tanah timbul tersebut

dikolonisasi oleh hutan mangrove. Jadi pada kondisi alam tertentu, hutan

mangrove dapat menciptakan tanah baru dipinggir laut. Faktor lain yang perlu

diperhatikan adalah pasang surut air laut. Pada waktu air pasang, melalui arus

pasang masuklah air laut dan menyebabkan meningkatnya salinitas air hutan

mangrove. Pada waktu air surut melalui arus surut, air dalam hutan mangrove

mengalir keluar dan mengalirnya air tawar melalui air permukaan dan

menurunkan salinitas air dalam hutan mangrove. Dengan perkataan lain pasang

surutnya air di hutan mangrove, juga mengakibatkan berfluktuasinya salinitas air

di dalam hutan mangrove. Pada keadaan demikian, fluktuasi alami ini jelas dapat

ditoleransi oleh pohon-pohon mangrove asal salinitasnya tidak melebihi ambang

batas yang diperlukan untuk pertumbuhan pohon-pohon mangrove.


Perlu diperhatikan juga bahwa sebagian besar hutan mangrove tumbuh

baik di daerah tropis yang memiliki radiasi sinar matahari dan suhu yang

umumnya tinggi. Sehingga tumbuhan mangrove juga mengalami cekaman radiasi

sinar matahari dan suhu yang tinggi, (Onrizal, 2005).

C. Adaptasi Mangrove

Adaptasi adalah cara bagaimana organisme mengatasi tekanan lingkungan

sekitarnya untuk bertahan hidup. Organisme yang mampu beradaptasi akan

bertahan hidup, sedangkan yang tidak mampu beradaptasi akan menghadapi

kepunahan atau kelangkaan jenis. Spesies mangrove berhasil tumbuh di

lingkungan air laut karena memiliki beberapa bentuk adaptasi khas. Adaptasi ini

umumnya terkait dengan upaya untuk bertahan dalam kondisi salin, bertahan

dalam tanah lumpur anaerob dan tidak stabil, radiasi matahari, suhu yang tinggi

sertauntuk perkembangbiakan.

B.1. Adaptasi Terhadap Salinitas

Ada tiga mekanisme yang dilakukan oleh tumbuhan mangrove untuk

bertahan terhadap kelebihan garam dari lingkungannya yaitu :

Berikut ini adalah beberapa gambar struktur anatomi daun tumbuhan

mangrove yang memiliki kelenjar garam :

a. Mensekresi garam (salt-secretors).

Jenis mangrove ini menyerap air dengan kadar salinitas tinggi kemudian

mengeluarkan atau mensekresikan garam tersebut keluar dari pohon. Secara

khusus pohon mangrove yang dapat mensekresikan garam memiliki salt glands di

daun yang memungkinkan untuk mensekresi cairan Na+ dan Cl-. Beberapa contoh

mangrove yang dapat mensekresikan garam adalah : Aegiceras, Aegialitis,

Avicennia, Sonneratia, Acanthus, dan Laguncularia


Gambar 2. Kelenjar Garam (A) Penampang Melintang Kelenjar Garam pada
Daun Limonium Gmelini . Secara relatif kelenjar terdiri dari 16 sel kelenjar, di
mana pada simplas kontak via 4 sel pengumpul dengan sel mesofil mengandung
kloroplas. Sel-sel kelenjar di permukaan daun tertutup oleh lapisan lilin (terlihat
berwarna hitam) dan hanya terbuka pada tempat khusus, yaitu pori (P). (B)
Diagram melintang dari rambut ‘kandung kemih’ (bladder hair) pada daun
Atriplex spongiosa. (C, D) Aegiceras corniculatum, (E, F) Acanthus Ilicifolius,
dan (G, H) Avicennia marina (Tomlinson, 1986)

b. Tidak dapat mensekresi garam (salt-excluders).

Jenis mangrove ini menyerap air dengan menggunakan akarnya tetapi

tidak mengikutsertakan garam dalam penyerapan tersebut. Mekanisme ini dapat

terjadi karena mangrove jenis ini memiliki ultra filter di akarnya sehingga air
dapat diserap dan garam dapat dicegah masuk ke dalam jaringan. Beberapa contoh

mangrove yang dapat melakukan mekanisme ini adalah: Rhizophora, Ceriops,

Sonneratia, Avicennia, Osbornia, Bruguiera, Excoecaria, Aegiceras, Aegialitis,

Acrostichum, Lumnitzera, Hibiscus, Eugenia.

c. Mengakumulasi garam (accumulators)

Mangrove memiliki mekanisme untuk mengakumulasi garam di dalam

jaringannya. Jaringan yang dapat mengakumulasi cairan garam terdapat di akar,

kulit pohon, dan daun yang tua. Daun yang dapat mengakumulasi garam adalah

daun yang sukulen yaitu memiliki jaringan yang banyak mengandung air dan

kelebihan garam dikeluarkan melalui jaringan metabolik. Beberapa penelitian

menunjukkan bahwa daun yang jatuh dari pohon diduga merupakan suatu

mekanisme untuk mengeluarkan kelebihan garam dari pohon yang dapat

menghambat pertumbuhan dan pembentukan buah. Garam yang terdapat di dalam

pohon mangrove dapat mempengaruhi enzim metabolik dan proses fotosintesis,

respirasi, dan sintesa protein. Konsentrasi garam yang tinggi tersebut dapat

menghambat ribulose difosfat karboksilase suatu enzim dalam proses

karboksilase. Beberapa jenis mangrove yang memiliki mekanisme dapat

mengakumulasi garam adalah : Xylocarpus, Excoecaria, Osbornia, Ceriops,

Bruguiera.

B.2. Adaptasi Terhadap Kondisi Anaerob

Tumbuhan mangrove memiliki adaptasi khusus untuk tumbuh di tanah

yang lembut, asin dan kekurangan oksigen. Karena tanah mangrove seringkali

anaerob, maka beberapa tumbuhan mangrove membentuk struktur khusus yaitu

pneumatofora (akar napas). Akar di atas tanah ini dipenuhi dengan jaringan

parenkim spons (aerenkim) dan memiliki banyak lubang-lubang kecil di kulit


kayu sehingga oksigen dapat masuk dan diangkut ke sistem akar di bawah tanah.

Akar ini juga berfungsi sebagai struktur penyokong pohon di tanah lumpur yang

lembut.

Pneumatofora (akar napas) adalah akar tegak yang dapat merupakan alat

tambahan dari atas batang atau pemanjangan sistem akar di bawah tanah. Akar ini,

sebagian atau seluruhnya, tergenang dan terpapar setiap hari, sesuai dengan pola

aliran pasang surut. Pada saat terpapar, akar dapat menyerap oksigen. Lumpur

mangrove bersifat anaerob (miskin oksigen) dan tidak stabil. Tumbuhan

mangrove dapat memiliki bentuk akar yang berbeda untuk beradaptasi dengan

kondisi ini. Akar horizontal yang menyebar luas, dimana pneumatofora tumbuh

vertikal ke atas merupakan jangkar untuk mengait pada lumpur yang labil. Sistem

perakaran di bawah tanah dapat lebih besar dibandingkan sistem perakaran di atas

tanah. Terdapat 4 (empat) tipe pneumatofora, yaitu (1) akar penyangga (stilt or

prop), (2) akar pasak (snorkel, peg or pencil), (3) akar lutut (knee or knop), dan

(4) akar papan (ribbon or plank). Tipe akar pasak, akar lutut dan akar papan dapat

berkombinasi dengan akar tunjang (buttres) pada pangkal pohon. Sedangkan akar

penyangga akan mengangkat pangkal batang keatas tanah.

1). Akar penyangga (akar tunjang).

Pada Rhizophora akar panjang dan bercabang-cabang muncul dari pangkal

batang untuk menyangga batang. Akar ini dikenal sebagai prop root dan pada

akhirnya akan menjadi stilt root apabila batang yang disangganya terangkat ke

atas hingga tidak lagi menyentuh tanah. Akar penyangga membantu tegaknya

pohon karena memiliki pangkal yang luas untuk mendukung di lumpur yang

lembut dan tidak stabil. Juga membantu aerasi pada saat laut surut.
Gambar 2. Akar tunjang pada Rhizophora mucronata

2). Akar Napas

Pada Avicennia dan Sonneratia, pneumatofora merupakan cabang tegak

dari akar horizontal yang tumbuh di bawah tanah. Pada Avicennia bentuknya

seperti pensil atau pasak dan umumnya hanya tumbuh setinggi 30 cm, sedangkan

pada Sonneratia tumbuh lebih lambat namun dapat membentuk massa kayu

setinggi 3 m, kebanyakan setinggi 50 cm. Pada ekosistem alami mangrove di teluk

Botany, Sidney masih dapat dijumpai pohon Avicennia marina yang memiliki

pneumatofora setinggi lebih dari 28 m, meskipun kebanyakan tingginya hanya

sekitar 4 m.

Gambar 3.Akar napas pada Avicennia alba


3). Akar lutut

Pada Bruguiera dan Ceriops akar horizontal tumbuh sedikit di bawah

permukaan tanah, dan secara teratur tumbuh vertikal ke atas kemudian kembali

tumbuh ke bawah, sehingga berbentuk seperti lutut yang ditekuk.Setiap akar

horizontal dapat membentuk rangkaian lutut dengan jarak teratur secara berulang-

ulang. Bagian di atas tanah (lutut) membantu aerasi dan karena tersebar sangat

luas dapat menjadi tempat bertahan di lumpur yang tidak stabil. Lumnitzera

membentuk akar lutut kecil yang bentuknya merupakan kombinasi antar akar lutut

dan akar pasak.

Gambar 4. Akar lutu pada Bruguiera cylindrica

4). Akar papan

Pada Xylocarpus granatum akar horizontal tumbuh melebar secara vertikal

ke atas, sehingga akar berbentuk pipih menyerupai papan. Struktur ini terbentuk

mulai dari pangkal batang. Akar ini juga melekuk-lekuk seperti ular yang sedang

bergerak dan bergelombang. Terpaparnya bagian vertikal memudahkan aerasi dan

tersebarnya akar secara luas membantu berpijak di lumpur yang tidak stabil.
Gambar 5. Akar papan pada Xylocarpus granatum

Struktur Anatomi Pneumatophora

Menurut Purnobasuki (2013), pada penampang lintang pneumatophora

secara jelas menunjukkan bahwa struktur dari ruang udara tersusun dari sel-sel

yang berdiferensiasi membentuk struktur memanjang dan berlekuk (sel lengan)

dan sel- sel membulat (sel silinder). Secara terintegrasi sel lengan dan sel silinder

membentuk semua ruang-ruang udara yang terbentuk dalam korteks

pneumatophore. Intensitas warna pada sel lengan tampak lebih gelap

dibandingkan sel silinder. Secara umum dari gambar terlihat kumpulan ruang

udara pada pneumatophore Sonneratia alba menyerupai bentuk jaringan spons

atau broad lacunose cortex.


Gambar 6. Jaringan korteks dewasa pneumatophore Sonneratia alba yang
telah dipenuhi ruang udara (aerenchyma). Penyusun masing-masing ruang udara
terdiri dari sel lengan (bentuk memanjang dan berlekuk, intensitas warna lebih
gelap) dan sel silinder (bentuk bulat dan tidak terwarnai)

B.3. Adaptasi Terhadap Sinar Matahari dan Suhu Udara Tinggi

Hampir semua jenis mangrove, daun-daunnya mempunyai sejumlah

kenampakan anatomi yang membatasi hilangnya uap air. Hal ini mencakup

kutikula yang tebal, lapisan lilin, dan stomata yang tersembunyi, yang semuanya

terdapat pada permukaan abaksial pada beberapa jenis mangrove, seperti

Sonneratia sp., Osbornia sp., Lumnitzera sp., dan laguncularia sp. (Macnae, 1986

dalam Sukardjo, 1996). Anatomi daun mangrove tersebut merupakan adaptasi

terhadap kondisi lingkungan mangrove yang memiliki radiasi sinar matahari dan

suhu udara tinggi.

Keunikan daun mangrove sebagai adaptasi terhadap lingkungan yang

biasanya mempunyai radiasi sinar matahari yang tinggi terlihat pada daun-daun

yang posisinya terbuka pada tajuk teratas secara tajam condong, kadang-kadang

posisinya mendekati vertikal, sedangkan daun yang ternaungi yang berada jauh di

antara tajuk, cenderung posisinya horizontal. Akibatnya radiasi sinar matahari

terseleksi sepanjang permukaan fotosintetik luas, sementara pemasukan panas per

unit luas daun dan suhu menjadi berkurang (Onrizal, 2005).

Lingkungan tempat tumbuh mangrove yang memiliki radiasi sinar

matahari dan suhu udara yang umumnya tinggi mendorong laju transpirasi yang

tinggi pula, namun pada kenyataannya mangrove memiliki laju traspirasi yang

rendah yang disebabkan oleh adaptasi anatomi daunnya. Berdasarkan hasil

pengukuran Scholander et al. (1962) dalam Tomlinson (1986) diketahui bahwa

laju transpirasi vegetasi mangrove, yakni sebesar 1,5 – 7,5 mg/dm2 /mnt secara
nyata lebih rendah dibandingkan laju transpitasivegetasi daratan, yakni sebesar 10

– 55 mm/dm 2 /mnt (Onrizal, 2005)

D. Strategi Unik Reproduksi Tumbuhan Mangrove Melalui Vivipari dan

Kriptovivipari

Vivipari adalah kondisi dimana embryo pertama kali tumbuh, memecah

kulit biji dan keluar dari buah pada saat masih melekat pada tumbuhan

induk,misalnya pada Bruguiera, Ceriops, Kandelia dan Rhizophora.

Kriptovivipari (Yunani: kryptos, tersembunyi) adalah kondisi dimana embryo

tumbuh dan memecah kulit biji, namun tidak keluar dari kulit buah hingga lepas

dari tumbuhan induk, misalnya pada Aegiceras, Avicennia dan Nypa.

Vivipari disebabkan karena mangrove tumbuh pada kondisi yang relatif

tidak stabil, sehingga memerlukan propagul yang tahan lama dan dapat tumbuh

dengan cepat, misalnya seedling Rhizophora yang berbentuk runcing seperti anak

panah sering tumbuh langsung di bawah induknya karena tarikan gravitasi,

meskipun hal ini dapat menyebabkan kekalahan dalam berkompetisi dengan

tumbuhan induk untuk mendapatkan cahaya, hara dan lain-lain. Melalui vivipari

perkecambahan embryo dimulai sejak biji masih menempel pada pohon induk.

Ketika buah jatuh sudah berupa seedling yang dapat membentuk akar pada tanah

di bawahnya.

Vivipari merupakan mekanisme adaptasi untuk mempersiapkan seedling

tersebar jauh, dapat bertahan dan tumbuh dalam lingkungan salin. Selama terjadi

vivipari, propagul diberi makan oleh pohon induk, sehingga propagul dapat

menyimpan dan mengakumulasi karbohidrat atau senyawa lain yang nantinya

diperlukan untuk pertumbuhan mandiri. Struktur kompleks seedling pada awal

pertumbuhan ini akan membantu aklimatisasi terhadap kondisi fisik lingkungan


yang ekstrim. Kebanyakan seedling tidak tumbuh di sekitar induk, namun

mengapung selama berminggu-minggu hingga jauh dari induknya. Pada kondisi

tanah yang sesuai seedling ini dapat berakar dan tumbuh dengan cepat dalam

beberapa hari. Propagul yang berumur panjang, menyebabkan mangrove dapat

tersebar pada area yang luas.

(a) (b)

Gambar 8. Propagul (a) pada Bruguiera cylindrica dan (b) pada Aegiceras
comiculata

Berikut ini adalah gambar daur hidup Mangrove :

Gambar 9. Daur Hidup Mangrove


E. Zonasi Mangrove Berdasarkan Tempat Tumbuhnya

Kemampuan adaptasi mangrove menimbulkan adanya vegetasi dominan

pada tempat tumbuh yang berbeda. Berdasarkan tempat tumbuhnya mangrove

dikelompokkan menjadi beberapa zonasi, yaitu :

a. Zona Avicennia, terletak pada lapisan zona paling luar dari hutan mangrove.

Pada zona ini, tanah berlumpur lunak dan berkadar garam tinggi. Jenis

Avicennia banyak ditemui berasosiasi dengan Sonneratia sp. Karena tumbuh

dibibir laut, jenis ini memiliki perakaran yang sangat kuat yang dapat

bertahan dari hempasaan air laut. Zona ini juga merupakan zona perintis atau

pionir karena terjadinya penimbunan sedimen tanah akibat cengkraman

perakaran dari jenis tumbuhan ini.

b. Zona Rhizophora, yang terletak di belakang zona Avicennia dan Sonneratia.

Pada zona ini, tanah berlumpur lunak dengan kadar garam lebih rendah.

Perakaran tanaman terendam selama terjadinya pasang air laut.

c. Zona Bruguiera, terletak di belakang Zona Rhizophora. Pada zona ini tanah

berlumpur agak keras dan perakaran hanya terendam pasang dua kali sebulan.

d. Zona Nipah, yaitu zona pembatas antara daratan dan lautan. Zona ini

sebenarnya tidak harus ada kecuali jika terdapat air tawar yang mengalir dari

sungai kelaut. Zona Nipah merupakan zonasi yang masih lengkap karena

semua jenis tumbuhan masih terdapat di dalam kawasan ini, Di beberapa

kawasan serta kepulauan Indonesia tidak seluruh zonasi ada. Ketidak

sempurnaan zonasi ini disebabkan oleh beberapa faktor, misalnya

ketidaksempurnaan penggenangan atau pasang surut air laut.


Gambar 10. Zonasi Mangrove

F. Manfaat Mangrove

Manfaat / Fungsi Fisik :

1 Menjaga agar garis pantai tetap stabil

2 Melindungi pantai dan sungai dari bahaya erosi dan abrasi.

3 Menahan badai/angin kencang dari laut

4 Menahan hasil proses penimbunan lumpur, sehingga memungkinkan

terbentuknya lahan baru.

5 Menjadi wilayah penyangga, serta berfungsi menyaring air laut menjadi air

daratan yang tawar

6 Penghasil O2 dan penyerap CO2

Manfaat / Fungsi Biologik :

1 Menghasilkan bahan pelapukan yang menjadi sumber makanan penting bagi

plankton, sehingga penting pula bagi keberlanjutan rantai makanan.

2 Tempat memijah dan berkembang biaknya ikan-ikan, kerang, kepiting dan

udang.
3 Tempat berlindung, bersarang dan berkembang.biak dari burung dan satwa

lain.

4 Sumber plasma nutfah dan sumber genetik.

5 Merupakan habitat alami bagi berbagai jenis biota.


BAB III

KESIMPULAN

a. Kondisi fisik hutan mangrove yang ada yaitu gerakan air atau sirkulasi air

yang minim, substrat berlumpur, rendahnya atau tidak adanya oksigen,

adanya salinitas tinggi, gerakan pasang surut yang mempengaruhi salinitas,

radiasi cahaya matahari dan suhu yang tinggi.

b. Beberapa tumbuhan mangrove memiliki kelenjar garam sebagai bentuk

adaptasi anatomi terhadap salinitas tinggi. Tumbuhan mngrove juga memiliki

struktur khusus yaitu pneumatophora (akar napas), seperti akar penyangga,

akar pasak, akar lutut, dan akar papan sebagai bentuk adaptasi morfologi dan

fisiologi terhadap kondisi anaerob hutan mangrove.

c. Terdapat mekanisme vivipary dan kriptovivipary sebagai bentuk adaptasi

reproduksi tumbuhan mangrove terhadap substrat berlumpur.

d. Kemampuan adaptasi mangrove menimbulkan adanya vegetasi dominan pada

tempat tumbuh yang berbeda, dan berdasarkan tempat tumbuhnya mangrove

dikelompokkan menjadi beberapa zonasi, yaitu : zona Avicennia, zona

Rhizophora, zona Bruguiera, zona Nipah.

e. Manfaat mangrove secara fisik adalah menjaga agar garis pantai tetap stabil,

melindungi pantai dari bahaya erosi dan abrasi, menahan badai/angin kencang

dari laut, menahan hasil proses penimbunan lumpur sehingga memungkinkan

terbentuknya lahan baru, menjadi wilayah penyangga dimana berfungsi

menyaring air laut menjadi air daratan yang tawar, sebagai penghasil O2 dan

penyerap CO2. Sedangkan manfaat mangrove secara biologis adalah

menghasilkan bahan pelapukan yang menjadi sumber makanan penting bagi


plankton, sehingga penting pula bagi keberlanjutan rantai makanan, tempat

memijah dan berkembang biaknya ikan-ikan, kerang, kepiting dan udang,

tempat berlindung, bersarang dan berkembang.biak burung dan satwa lain,

sumber plasma nutfah dan sumber genetik, merupakan habitat alami bagi

berbagai jenis biota.


DAFTAR PUSTAKA

Bengen, D.G., 2001. Pedoman Teknis Pengenalan dan Pengelolaan Ekosistem


Mangrove. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan. Institut Pertanian
Bogor, Bogor.

Jacoby, B. 1999. Mechanism Involved in Salt Tolerance of Plants dalam


Pessarakli, M. (Ed.). Handbook of Plant and Crop Stress. 2nd edition.
Marcel Dekker Inc. New York. pp. 97-124.

Kalesaran, P. 2011. Mangrove. Universitas Negeri Manado. Manado

Kusmono, C., 1997. Ekologi dan Sumberdaya Ekosistem Mangrove, Makalah


Pelatihan Pengelolaan Hutan Mangrove Lestari Angkatan I PKSPL.
Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Onrizal. 2005. Adaptasi Tumbuhan Mangrove Pada Lingkungan Salin dan Jenuh
Air, Skripsi. Jurusan Kehutanan Fak. Pertanian. Universitas Sumatra
Utara. Medan.

Poljakoff-Mayber, A. Dan H.R.Lerner.1999. Plants in Salin Environment dalam


Pessarakli, M. (Ed.). Handbook of Plant and Crop Stress. 2nd edition.
Marcel Dekker Inc. New York. pp. 125-151.

Purnobasuki, H. 2013. Struktur Internal Transport Oksigen Pada Pnematophore


Akar Mangrove Sonneratia alba J.Smith. Jurnal BIOSCIENTIAE Volume
10, Nomor 2, Juli 2013, Halaman 80-85.

Tomlinson, P. B., 1986. The Botany of Mangroves, Cambridge UniversityPress.

Sukardjo, S. 1996. Fisiologi MangroveSuatu Catatan Pengetahuan. Pelatihan


Pelestarian dan Pengembangan Ekosistem Mangrove Secara Terpadu dan
Berkelanjutan. PSL-PPLH Unibraw, Malang.

Noor, Y. R, M. Khazali dan I.N.N. Suryadiputra. 1999. Panduan Pengenalan


Mangrove di Indonesia. Wetlands International. Indonesia-Programme.