Anda di halaman 1dari 4

Nama : Alfons Eric Tandioga

Kelas : Manajemen 3

Stambuk : 1810421079

TEORI KONSUMSI

1) Pengertian Konsumsi
Konsumsi secara umum didefinisikan dengan penggunaan barang dan jasa untuk
memenuhi kebutuhan manusia. Dalam ekonomi islam konsumsi juga memiliki pengertian
yang sama, tapi memiliki perbedaan dalam setiap yang melingkupinya. Perbedaan yang
mendasar dengan konsumsi ekonomi konvensional adalah tujuan pencapaian dari konsumsi
itu sendiri, cara pencapaiannya harus memenuhi kaidah pedoman syariah islamiyyah. Pelaku
konsumsi atau orang yang menggunakan barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhannya
disebut konsumen. Perilaku konsumen adalah kecenderungan konsumen dalam melakukan
konsumsi, untuk memaksimalkan kepuasannya. Dengan kata lain, perilaku konsumen adalah
tingkah laku dari konsumen, dimana mereka dapat mengilustrasikan pencarian untuk
membeli, menggunakan, mengevaluasi dan memperbaiki suatu produk dan jasa mereka.

2) Tujuan Konsumsi
Tujuan konsumsi sesorang dalam ajaran Islam antara lain:
a) Untuk mengharap ridha Allah SWT.
Tercapainya kebaikan dan tuntutan jiwa yang mulia harus direalisasikan untuk
mendapatkan pahala dari Allah SWT. Allah telah memberikan tuntutan kepada
para hamba-Nya agar menjadikan alokasi dana sebagai bagian dari amal sholeh
yang dapat mendekatkan seorang muslim kepada Tuhannya dan untuk
mendapatkan surga dengan segala kenikmatan yang ada didalamnya.

b) Untuk mewujudkan kerja sama antaranggota masyarakat dan tersedianya jaminan


sosial.
Mengulurkan bantuan makanan kepada orang yang kelaparan merupakan
perbuatan utama yang didalamnya terkandung nilai tolong-menolong
antarmanusia dan mengokohkan pondasi jaminan diantara mereka. Meniadakan
perbuatan saling menolong, menghilangkan eksistensinya dan membiarkan
manusia tidak mendapatkan jaminan akan mengantarkan pelaku pada siksaan
dunia dan akhirat yang paling pedih.

c) Untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab individu terhadap kemakmuran diri,


keluarga dan masyarakat sebagai bagian aktivitas dan dinamisasi ekonomi.
Islam telah member kewajiban adanya pemberian nafkah terhadap beberapa
kelompok masyarakat yang termasuk dalam kategori saudara dan yang
digolongkan sebagai saudara.

d) Untuk meminimalisasi pemerasan dengan menggali sumber-sumber nafkah.


Negara mempunyai kewajiban untuk menjaga media dan sumber nafkah yang
sangat banyak, baik dengan membuka lapangan kerja, meningkatkan upah, dan
juga dengan memenuhi kebutuhan orang-orang yang masih kekurangan. Demikian
juga kewajiban kaum yang berharta untuk memberikan nafkah akan
memperbanyak sisi penting dalam kehidupan. Dengan segala siklusnya, hal ini
akan menutupi kekurangan dan memenuhi berbagai kebutuhan banyak keluarga.
Mereka tidak lagi membutuhkan harta yang diambil dari zakat sebagai bentuk
jaminan sosial antarmasyarakat. Pada kondisi tersebut, zakat hanya dikhususkan
bagi kaum miskin dan mereka yang membutuhkan yang tidak mempunyai
keluarga.

3) Prinsip – prinsip Konsumsi


Menurut Abdul Mannan, dalam melakukan konsumsi terdapat lima prinsip dasar, yaitu:
a) Prinsip Keadilan
Prinsip ini mengandung arti ganda mengenai mencari rizki yang halal dan tidak
dilarang hukum. Artinya, sesuatu yang dikonsumsi itu didapatkan secara halal dan tidak
bertentangan dengan hukum. Berkonsumsi tidak boleh menimbulkan kedzaliman, berada
dalam koridor aturan atau hukum agama, serta menjunjung tinggi kepantasan atau
kebaikan. Islam memiliki berbagai ketentuan tentang benda ekonomi yang boleh
dikonsumsi dan yang tidak boleh dikonsumsi. “Hai sekalian manusia, makanlah yang
halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi” (Qs al-Baqarah,2 : 169). Keadilan yang
dimaksud adalah mengkonsumsi sesuatu yang halal (tidak haram) dan baik (tidak
membahayakan tubuh). Kelonggaran diberikan bagi orang yang terpaksa, dan bagi orang
yang suatu ketika tidak mempunyai makanan untuk dimakan. Ia boleh memakan makanan
yang terlarang itu sekedar yang dianggap perlu untuk kebutuhannya ketika itu saja.

b) Prinsip Kebersihan
Bersih dalam arti sempit adalah bebas dari kotoran atau penyakit yang dapat
merusak fisik dan mental manusia, misalnya: makanan harus baik dan cocok untuk
dimakan, tidak kotor ataupun menjijikkan sehingga merusak selera. Sementara dalam arti
luas adalah bebas dari segala sesuatu yang diberkahi Allah. Tentu saja benda yang
dikonsumsi memiliki manfaat bukan kemubaziran atau bahkan merusak.
“Makanan diberkahi jika kita mencuci tangan sebelum dan setelah memakannya” (HR
Tarmidzi). Prinsip kebersihan ini bermakna makanan yang dimakan harus baik, tidak
kotor dan menjijikkan sehingga merusak selera. Nabi juga mengajarkan agar tidak meniup
makanan: ”Bila salah seorang dari kalian minum, janganlah meniup ke dalam gelas” (HR
Bukhari).

c) Prinsip Kesederhanaan
Sikap berlebih-lebihan (israf) sangat dibenci oleh Allah dan merupakan pangkal
dari berbagai kerusakan di muka bumi. Sikap berlebih-lebihan ini mengandung makna
melebihi dari kebutuhan yang wajar dan cenderung memperturutkan hawa nafsu atau
sebaliknya terlampau kikir sehingga justru menyiksa diri sendiri. Islam menghendaki suatu
kuantitas dan kualitas konsumsi yang wajar bagi kebutuhan manusia sehingga tercipta pola
konsumsi yang efesien dan efektif secara individual maupun sosial.
“Makan dan minumlah, tapi jangan berlebihan; Sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” (Qs al-A’raf, 7: 31). Arti penting ayat-ayat
ini adalah bahwa kurang makan dapat mempengaruhi jiwa dan tubuh, demikian pula bila
perut diisi dengan berlebih-lebihan tentu akan berpengaruh pada perut.
d) Prinsip Kemurahan hati.
Allah dengan kemurahan hati-Nya menyediakan makanan dan minuman untuk
manusia (Qs al-Maidah, 5: 96). Maka sifat konsumsi manusia juga harus dilandasi dengan
kemurahan hati. Maksudnya, jika memang masih banyak orang yang kekurangan
makanan dan minuman maka hendaklah kita sisihkan makanan yang ada pada kita,
kemudian kita berikan kepada mereka yang sangat membutuhkannya.
Dengan mentaati ajaran Islam maka tidak ada bahaya atau dosa ketika mengkonsumsi
benda-benda ekonomi yang halal yang disediakan Allah karena kemurahan-Nya. Selama
konsumsi ini merupakan upaya pemenuhan kebutuhan yang membawa kemanfaatan bagi
kehidupan dan peran manusia untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Allah maka Allah
elah memberikan anugrah-Nya bagi manusia.

e) Prinsip Moralitas.
Pada akhirnya konsumsi seorang muslim secara keseluruhan harus dibingkai oleh
moralitas yang dikandung dalam Islam sehingga tidak semata – mata memenuhi segala
kebutuhan. Allah memberikan makanan dan minuman untuk keberlangsungan hidup umat
manusia agar dapat meningkatkan nilai-nilai moral dan spiritual. Seorang muslim
diajarkan untuk menyebut nama Allah sebelum makan dan menyatakan terimakasih
setelah makan.

4) Perilaku Konsumen
Berbeda dengan konsumen konvensional, seorang muslim dalam penggunaan
penghasilannya memiliki 2 sisi, yaitu pertama untuk memenuhi kebutuhan diri dan
keluarganya dan sebagiannyalagi untuk dibelanjakan dijalan Allah.

1. Model keseimbangan konsumsi islam


Keseimbangan konsumsi dalam ekonomi islam didasarkan pada prinsip keadilan
distribusi. Dalam ekonomi islam, kepuasan konsumsi seorang muslim bergantung
pada nilai-nilai agama yang diterapkan pada rutinitas kegiatannya, tercermin pada
alokasi uang yang dibelanjakannya.

2. Batasan konsumsi dalam syari’ah


Dalam islam, konsumsi tidak dapat dipisahkan dari peranan keimanan. Peranan
keimanan menjadi tolak ukur penting karena keimanan memberikan cara pandang
dunia yang cenderung mempengaruhi kepribadian manusia. Keimanan sangat
mempengaruhi kuantitas dan kualitas konsumsi baik dalam bentuk kepuasan
material maupun spiritual.
Batasan konsumsi dalam islam tidak hanya memperhatikan aspek halal-haram
saja tetapi termasuk pula yang diperhatikan adalah yang baik, cocok, bersih, tidak
menjijikkan. Larangan israf dan larangan bermegah-megahan.
Begitu pula batasan konsumsi dalam syari’ah tidak hanya berlaku pada
makanan dan minuman saja. Tetapi juga mencakup jenis-jenis komoditi lainnya.
Pelarangan atau pengharaman konsumsi untuk suatu komoditi bukan tanpa sebab.
Pengaharaman untuk komoditi karena zatnya karena antara lain memiliki
kaitan langsung dalam membahayakan moral dan spiritual.