Anda di halaman 1dari 28

Makalah Tumbuh Kembang Anak

Pertumbuhan Fisik Bayi dan Anak

Disusun oleh :

Fadhilah Azhar Gunawan P23131117014

Fiiliyah Karimah P23131117015

Rini Lestari P23131117031

Siti Hardianti P23131117037

Dosen Pengampu :

Dr. Iskari Ngadiarti, S.K.M., M.Sc.

JURUSAN GIZI
POLTEKKES KEMENKES JAKARTA II
Agustus 2019
Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta
karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan Makalah Tumbuh Kembang
Anak yang berjudul “Pertumbuhan Fisik Bayi dan Anak” tepat pada waktunya.

Makalah ini berisikan tentang pengertian pertumbuhan dan perkembangan, kurva


pertumbuhan, perubahan lemak tubuh dan jaringan lain, pengukuran tumbuh kembang anak,
masalah pertumbuhan bagi bayi dan anak, dan penyebab status pendek.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik
dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi
kesempurnaan makalah ini.

Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan
serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa
meridhai segala usaha kita. Amin.

Jakarta, 30 Agustus 2019


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam kehidupan anak ada dua proses yang beroperasi secara kontinue, yaitu
pertumbuhan dan perkembangan. Banyak orang menggunakan istilah pertumbuhan dan
perkembangan secara bergantian. Kedua proses ini berlangsung secara independensi,
artinya saling bergantung satu sama lain.

Perkembangan anak adalah bertambahnya kemampuan dalam struktur dan fungsi


tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat di ramalkan sebagai hasil
dari pematangan, disini menyangkut adanya proses diferensiasi dari sel-sel tubuh,
jaringan tubuh, organ-organ dan system yang berkembang sedemikian rupa
perkembangan emosi, intlektual dan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan
lingkungannya.

Biasanya perkembangan anak diikuti pertumbuhan sehingga lebih optimal dan


tergantung pada potensi biologi seseorang. Potensi tersebut merupakan hasil interaksi
berbagai faktor yang berkaitan, yaitu faktor genetik, lingkungan, psikologi, social dan
perilaku. Proses yang unik dan hasil akhir yang berbeda-beda yang memberikan ciri yang
tersendiri pada setiap anak.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1. Apa pengertian pertumbuhan bayi dan anak?
2. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan bayi dan anak?
3. Apa saja tahap-tahap tumbuh kembang?
4. Bagaimana pertumbuhan fisik bayi dan anak?
5. Bagaimana pengukuran pertumbuhan dan perkembangan anak?
6. Apa saja gangguan pertumbuhan bayi dan anak?
7. Apa saja penyebab status pendek?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Untuk mengetahui pengertian pertumbuhan dan perkembangan
2. Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi pertumbuhan bayi dan anak
3. Untuk mengetahui tahapan tumbuh kembang
4. Untuk mengetahui cara pertumbuhan fisik bayi dan anak
5. Untuk mengetahui cara mengukur pertumbuhan dan perkembangan anak
6. Untuk mengetahuigangguan pertumbuhan bayi dan anak
7. Untuk mengetahui penyebab status pendek
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Pertumbuhan Bayi dan Anak


Bayi merupakan anak dari manusia atau hewan yang masih berusia sangat muda.
Ketika bayi sudah mulai berjalan, disebut dengan balita. Umumnya istilah bayi diberikan
kepada anak manusia yang berusia di bawah 12 bulan, namun definisi di berbagai tempat
bisa bervariasi, bahkan ada yang hingga 2 tahun. Sedangkan anak adalah seorang lelaki
atau perempuan yang belum dewasa atau belum mengalami masa pubertas (Maryunani,
2010).
Pertumbuhan adalah perubahan fisik dan pertambahan jumlah dan ukuran sel
secara kuantitatif, dimana sel-sel tersebut mensintesis protein baru yang nantinya akan
menunjukkan pertambahan seperti umur, tinggi badan, berat badan dan pertumbuhan gigi
(Maryunani, 2010).
Pertumbuhan dan perkembangan merupakan proses yang terjadi pada setiap
makhluk hidup. Manusia, terutama pada masa kanak-kanak, mengalami proses
pertumbuhan secara cepat. Petumbuhan dan perkembangan setiap anak berlangsung
menurut prinsip-prinsip yang umum, namun demikian setiap anak memiliki ciri khas
yang rersendiri. Pertumbuhan yang terjadi pada seseorang tidak hanya meliputi yang
terlihat seperti pertumbuhan fisik, tetapi juga perubahan dan perkembangan dalam segi
lain seperti berfikir, berperasaan, bertingkah laku dan lainnya (Hurlock, 2000).
Pertumbuhan adalah perubahan secara fisiologis sebagai hasil dari proses
pematangan fungsi-fungsi fisik yang berlangsung secara normal pada anak yang sehat
pada waktu yang normal. Pertumbuhan dapat juga diartikan sebagai proses transmisi dari
konstitusi fisik (keadaan tubuh atau keadaan jasmaniah) yang herediter dalam bentuk
proses aktif secara berkesinambungan (Feiby, 2001).

2.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Bayi dan Anak


Berikut penjelasan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan bayi dan
anak (Marni dan Kukuhrahardjo, 2012):
a. Faktor genetik
Merupakan modal dasar dalam mencapai hasil akhir proses tumbuh kembang
anak. Melalui instruksi genetik yang terkandung didalam sel telur yang telah dibuahi,
dapat ditentukan kualitas dan kuantitas pertumbuhan. Potensi genetik yang bermutu
hendaknya dapat berinteraksi dengan lingkungan secara positif sehingga dapat
diperoleh hasil akhir yang optimal. Penyakit keturunan yang disebabkan oleh kelainan
kromosom seperti Sindro Down, Sindrom Turner, dan lain-lain.
b. Faktor lingkungan
 Lingkungan prenatal yang termasuk factor lingkungan prenatal adalah gizi ibu
saat hamil, adanya toksin atau zat kimia, radiasi, stress, anoksia embrio, imunitas,
infeksi dan lain-lain.
 Lingkungan post natal
 Faktor biologis
Yang termasuk didalamnya adalah ras (suku bangsa), jenis kelamin,
umur, gizi, perawatan kesehatan, kepekaan terhadap penyakit, penyakit kronis,
fungsi metabolisme, hormone.
 Faktor fisik
Yang termasuk didalamnya adalah cuaca (musim, keadaan geografis),
keadaan rumah, sanitasi, radiasi.
 Faktor psikososial
Yang termasuk didalamnya adalah stimulasi, ganjaran/hukuman yang
wajar, motivasi belajar, keluarga sebaya, sekolah, stress, cinta dan kasih
saying, kualitas interaksi anak dan orang tua.
 Faktor keluarga dan adat istiadat
Yang termasuk didalamnya adalah pekerjaan/pendapatan keluarga,
pendidikan ayah dan ibu, jumlah saudara, jenis kelamin dalam keluarga,
stabilitas rumah tangga, kepribadian ayang dan ibu, adapt istiadat, norma,
agama, dan lain-lain.

2.3 Tahap – tahap Tumbuh Kembang


Periode tumbuh kembang anak berlangsung secara teratur, saling berkaitan dan
berkesinambungan yang dimulai sejak konsepsi sampai dewasa. Tumbuh kembang anak
terbagi dalam beberapa periode.
Berdasarkan beberapa kepustakaan, maka periode tumbuh kembang anak adalah sebagai
berikut (Maryunani, 2011):
1. Masa prenatal atau masa intra uterin (masa janin dalam kandungan). Masa ini dibagi
menjadi 3 periode, yaitu :
a. Masa zigot/mudigah, sejak saat konsepsi sampai umur kehamilan 2 minggu.
b. Masa embrio, sejak umur kehamilan 2 minggu sampai 8/12 minggu. Ovum yang
telah dibuahi dengan cepat akan menjadi suatu organisme, terjadi diferensiasi
yang berlangsung dengan cepat, terbentuk sistem organ dalam tubuh.
c. Masa janin/fetus, sejak umur kehamilan 9/12 minggu sampai akhir kehamilan.
Masa ini terdiri dari 2 periode yaitu:
1. Masa fetus dini yaitu sejak umur kehamilan 9 minggu sampai trimester
ke-2 kehidupan intra uterin. Pada masa ini terjadi percepatan
pertumbuhan, pembentukan jasad manusia sempurna. Alat tubuh telah
terbentuk serta mulai berfungsi.
2. Masa fetus lanjut yaitu trimester akhir kehamilan. Pada masa ini
pertumbuhan berlangsung pesat disertai perkembangan fungsi-fungsi.
Terjadi transfer Imunoglobin G (Ig G) dari darah ibu melalui plasenta.
Akumulasi asam lemak esensial seri Omega 3 (Docosa Hexanic Acid) dan
Omega 6 (Arachidonic Acid) pada otak dan retina. Periode yang paling
penting dalam masa prenatal adalah trimester pertama kehamilan. Pada
periode ini pertumbuhan otak janin sangat peka terhadap pengaruh
lingkungan janin. Gizi kurang pada ibu hamil, infeksi, merokok dan asap
rokok, minuman beralkohol, obat-obat, bahan-bahan toksik, pola asuh,
depresi berat, faktor psikologis seperti kekerasan terhadap ibu hamil,
dapat menimbulkan pengaruh buruk bagi pertumbuhan janin dan
kehamilan. Pada setiap ibu hamil, dianjurkan untuk selalu memperhatikan
gerakan janin setelah kehamilan 5 bulan. Agar janin dalam kandungan
tumbuh dan berkembang menjadi anak sehat, maka selama masa intra
uterin, seorang ibu diharapkan:
- Menjaga kesehatannya dengan baik.
- Selalu berada dalam lingkungan yang menyenangkan.
- Mendapat nutrisi yang sehat untuk janin yang dikandungnya.
- Memeriksa kesehatannya secara teratur ke sarana kesehatan.
- Memberi stimulasi dini terhadap janin.
- Tidak mengalami kekurangan kasih sayang dari suami dan
keluarganya.
- Menghindari stres baik fisik maupun psikis.
- Tidak bekerja berat yang dapat membahayakan kondisi
kehamilannya.
-
2. Masa neonatal, umur 0 sampai 28 hari.
Pada masa ini terjadi adaptasi terhadap lingkungan dan terjadi perubahan
sirkulasi darah, serta mulainya berfungsi organ-organ.
Masa neonatal dibagi menjadi 2 periode:
a. Masa neonatal dini, umur 0 - 7 hari.
b. Masa neonatal lanjut, umur 8 - 28 hari.
Hal yang paling penting agar bayi lahir tumbuh dan berkembang menjadi anak
sehat adalah:
 Bayi lahir ditolong oleh tenaga kesehatan yang terlatih, di sarana kesehatan yang
memadai.
 Untuk mengantisipasi risiko buruk pada bayi saat dilahirkan, jangan terlambat
pergi ke sarana kesehatan bila dirasakan sudah saatnya untuk melahirkan.
 Saat melahirkan sebaiknya didampingi oleh keluarga yang dapat menenangkan
perasaan ibu.
 Sambutlah kelahiran anak dengan perasaan penuh suka cita dan penuh rasa
syukur. Lingkungan yang seperti ini sangat membantu jiwa ibu dan bayi yang
dilahirkannya.
 Berikan ASI sesegera mungkin. Perhatikan refleks menghisap diperhatikan oleh
karena berhubungan dengan masalah pemberian ASI.
3. Masa post (pasca) neonatal, umur 29 hari sampai 11 bulan.
Pada masa ini terjadi pertumbuhan yang pesat dan proses pematangan
berlangsung secara terus menerus terutama meningkatnya fungsi sistem saraf.
Seorang bayi sangat bergantung pada orang tua dan keluarga sebagai unit pertama
yang dikenalnya. Beruntunglah bayi yang mempunyai orang tua yang hidup rukun,
bahagia dan memberikan yang terbaik untuk anak. Pada masa ini, kebutuhan akan
pemeliharaan kesehatan bayi, mendapat ASI eksklusif selama 6 bulan penuh,
diperkenalkan kepada makanan pendamping ASI sesuai umurnya, diberikan imunisasi
sesuai jadwal, mendapat pola asuh yang sesuai. Masa bayi adalah masa dimana
kontak erat antara ibu dan anak terjalin, sehingga dalam masa ini, pengaruh ibu dalam
mendidik anak sangat besar. Masa anak dibawah lima tahun (anak balita, umur 12-59
bulan).
Pada masa ini, kecepatan pertumbuhan mulai menurun dan terdapat kemajuan
dalam perkembangan motorik (gerak kasar dan gerak halus) serta fungsi ekskresi.
Periode penting dalam tumbuh kembang anak adalah pada masa balita. Pertumbuhan
dasar yang berlangsung pada masa balita akan mempengaruhi dan menentukan
perkembangan anak selanjutnya. Setelah lahir terutama pada 3 tahun pertama
kehidupan, pertumbuhan dan perkembangan sel-sel otak masih berlangsung dan
terjadi pertumbuhan serabut serabut syaraf dan cabang-cabangnya, sehingga terbentuk
jaringan syaraf dan otak yang kompleks. Jumlah dan pengaturan hubungan-hubungan
antar sel syaraf ini akan sangat mempengaruhi segala kinerja otak, mulai dari
kemampuan belajar berjalan, mengenal huruf, hingga bersosialisasi. Pada masa balita,
perkembangan kemampuan bicara dan bahasa, kreativitas, kesadaran sosial,
emosional dan intelegensia berjalan sangat cepat dan merupakan landasan
perkembangan berikutnya. Perkembangan moral serta dasar-dasar kepribadian anak
juga dibentuk pada masa ini, sehingga setiap kelainan/penyimpangan sekecil apapun
apabila tidak dideteksi apalagi tidak ditangani dengan baik, akan mengurangi kualitas
sumber daya manusia dikemudian hari.

2.4 Pertumbuhan Fisik


Pertumbuhan fisik adalah hasil dari perubahan bentuk dan fungsi dari organisme
a. Pertumbuhan janin intrauterine
Pertumbuhan pada masa janin merupakan pertumbuhan yang paling pesat yang
dialami seseorang dalam hidupnya. Janin tumbuh dengan factor 44 x 100.000.000
dari 0,0000175 gram menjadi 3700 gram, dan panjang badan dengan factor 3850
dari 0,01 cm menjadi 50 cm (Pierson-Deschamp, 1981 dikutip dari Sutan Asin,
1985). Pada masa embrio yaitu 8 minggu pertama kehamilan, sel telur yang telah
dibuahi berdiferensiasi secara cepat menjadi organisme yang mempunyai bentuk
anatomis seperti manusia.

Mortalitas pada masa embrio ini tinggi, yang disebabkan oleh abnormalitas
dari gen/kromosom dan gangguan kesehatan ibu. Makin tua umur ibu merupakan
predisposisi kelainan kromosom. Sedangkan infeksi pada ibu terutama yang
disebabkan oleh TORCH yang terjadi pada trimester I kehamilan sering
menyebabkan kelainan bawaan.
Pada masa janin yaitu kehamilan 9-40 minggu pertumbuhan berjalan cepat dan
mulai berfungsinya organ-organ. Mortalitas pada masa janin terjadi akibat gangguan
oksigenasi, infeksi, trauma, radiasi, bahan kimia, gizi ibu, dan imunitas. Pada janin
berumur 8 minggu beratnya hanya 1 gram dengan panjangnya 2,5 cm. Pada 12
minggu beratnya 14 grm dan panjangnya 7,5 cm. jenis kelamin bisa diketahui pada
akhir trimester 1. Pada kehamilan 16 minggu berat janin 100 gram dan panjangnya
17 cm. pada umur kehamilan 20 minggu berat janin 500 gram,28 minggu 1000 gram
dan panjangnya 35 cm. 8 bulan 1500 gram, dan 9 bulan atau pada waktu dilahirkan
rata-rata berat bayi 3200 grm, panjang badannya 50 cm, dan lingkar kepala 34 cm.
Pertumbuhan janin yang pesat pada rimester III kehamilan ini adalah sebagai akibat
dari bertambahnya jaringan lemak subkutan dan masa otot.

b. Pertumbuhan setelah lahir


 Berat badan
Pada bayi yang lahir cukup bulan, berat badan waktu lahir akan kembali
pada hari ke 10. Berat badan menjadi 2 kali berat badan waktu lahir pada bayi
umur 5 bulan, menjadi 3 kali berat badan lahir saat umur 1 tahun, dan menjadi 4
kali berat badan lahir pada umur 2 tahun.

Kenaikan berat badan anak pada tahun pertama kehidupan, jika anak
mendapat gizi yang baik adalah berkisar antara :
700-1000 gram/bulan pada triwulan I
500-600 gram/bulan pada triwulan II
350-450 gram/bulan pada triwulan III
250-350 am/bulan pada triwulan IV
Pada masa prasekolah kenaikan berat badan rata-rata 2 kg/tahun.
Kemudian pertumbuhan konstan mulai berakhir dan dimulai “pre-adolescent
growth spurt” (pacu tumbuh pra-adolesen) dengan rata-rata kenaikan berat
badan adalah 3-3,5 kg/ tahun, yang kemudian dilanjutkan dengan “adolescent
growth spurt” (pacu tumbuh adolesen). Dibandingkan dengan anak laki-laki,
“growth spurt” (pacu tumbuh) anak perempuan dimulai lebih cepat yaitu sekitar
umur 8 tahun, sedangkan anak laki-laki baru pada umur sekitar 10 tahun. Tetapi
pertumbuhan anak perempuan lebih cepat berhenti daripada anak laki-laki.
Anak perempuan umur 18 tahun sudah tidak tumbuh lagi, sedangkan anak laki-
laki baru berhenti tumbuh pada umur 20 tahun.

 Tinggi badan
Umumnya laju pertumbuhan berkurang sejak lahir sampai hampir
selesainya proses pertumbuhan. Pada kurva ini nampak bahwa sejak lahir
sampai umur 4-5 tahun laju pertumbuhan dengan cepat berkurang (deselerasi)
dan kemudian deselerasi ini mengurang secara perlahan-lahan hingga umur 5-6
tahun. Sejak saat ini sampai awal pacu laju pertumbuhan, maka pertumbuhan
bersifat konstan. Namun sering terjadi suatu kenaikan kecil yang terjadi antara
6-8 tahun yang secara umum menyebabkan suatu gelombang lagi pada kurva
laju pertumbuhan, tetapi hal ini tidak selalu ada. Pada umur 13-15 tahun
terjadilah percepatan (akselerasi) pertumbuhan yang disebut pacu tumbuh
adolesen.

Tinggi badan rata-rata pada waktu lahir adalah 50 cm. secara garis
besar, tinggi badan anak dapat diperkirakan sebagai berikut :

1 tahun 1,5 X TB lahir

4 tahun 2 X TB lahir

6 tahun 1,5 X TB setahun

13 tahun 3 X TB lahir
Dewasa 3,5 X TB lahir ((2 x TB 2 tahun)

Atau digunakan rumus seperti yang dikutip dari Behrman, 1992 sebagai
berikut :

Lahir 50 cm

Umur 1 tahun 75 cm

2-12 tahun umur (tahun) x 6 + 77

Pada usia 0-6 bulan bayi akan mengalami penambahan tinggi sekitar
2,5 cm setiap bulannya. Pada usia 6-12 bulan mengalami penambahan tinggi
hanya sekitar 1,25 cm seiap bulannya. Pada akhir tahun pertama akan
meningkat kira-kira 50% dari tinggi badan waktu lahir. Pada masa bermain
penambahan selama tahun ke-2 kurang lebih 12 cm, sedangkan penambahan
untuk tahun ke-3 rata-rata 4-6 cm.

Rata-rata kenaikan tinggi badan pada anak prasekolah adalah 6-8


cm/tahun. Lalu pada masa remaja terjadi pacu tumbuh adolesen yang berbeda
antara anak laki-laki dan perempuan. Anak peremuan umumnya memulai pacu
tumbuh tinggi badan adolesennya kira-kira pada umur 10,5 tahun dan mencapai
puncaknya kira-kira umur 12 tahun. Anak laki-laki memulai pacu tumbuh dan
mencapai puncaknya 2 tahun kemudian.

Pada masa sekolah akan mengalami penambahan setiap tahunnya.


Setelah usia 6 tahun tinggi badan bertambah rata-rata 5 cm, kemudian usia 13
tahun bertambah lagi menjadi rata-rata tiga kali lipat dari tinggi badan waktu
lahir.

Jika dilihat dari proporsi antara kepala, badan serta anggota gerak maka
akan tampak perbedaan yang jelas antara janin, anak-anak, dan dewasa yaitu
sebagai berikut :

- Pada waktu janin umur 2 bulan, kepala tampak besar dan memanjang,
dimana ukuran panjang kepala hampir sama dengan panjang badan
ditambah tungkai bawah. Anggota gerak sangat pendek.
- Pada waktu lahir, kepala relative masih besar, muka bulat, ukuran antero-
posterior dada masih lebar, perut mebuncit dan anggota gerak relative lebih
pendek. Sebagai titik tengah tinggi badannya adalah setinggi umbilicus

- Pada dewasa anggota gerak lebih panjang dan kepala secara proporsional
kecil, sehingga sebagai titik tengah adalah setinggi simfisis pubis.

 Kepala
Lingkar kepala waktu lahir rata-rata 34 cm dan besarnya lingkar kepala
ini lebih besar dari lingkar dada. Pernambahan lingkar kepala pada 6 bulan
pertama ini adalah 10 cm atau sekitar 50% dari pertambahan lingkar kepala dari
lahir sampai dewasa terjadi pada 6 bulan pertama kehidupan. Pada usia 1 tahun
hanya mengalami pertumbuhan kurang lebih 46,5 cm. pada usia 2 tahun
mengalami pertumbuhan kurang lebih 49 cm, kemudian akana bertambah 1 cm
sampai dengan usia tahun ke-3 dan bertambah lagi kurang lebih 5 cm sampai
dengan usia remaja.
Pertumbuhan tulang kepala mengikuti pertumbuhan otak, begitu juga
sebaliknya. Pertumbuhan otak yang tercepat terjadi pada trimester ketiga
kehamilan sampai 5-6 bulan pertama setelah lahir. Pada masa ini terjadi
pembelahan sel-sel otak yang sangat pesat, setelah itu pembelahan melambat
dan terjadi proses pembesaran sel-sel otak saja. Sehingga pada waktu lahir berat
otak bayi ¼ berat otak dewasa, tetapi jumlah selnya sudah mencapai 2/3 jumlah
sel otak orang dewasa.
Kenaikan berat otak anak sebagai berikut . (dikutip dari Lazuardi, 1984)

Umur Kenaikan berat otak : gram/24 jam


6 – 9 bulan kehamilan 3
Lahir – 6 bulan 2
6 bulan – 3 tahun 0,35
3 tahun – 6 tahun 0,15

 Gigi

Pertumbuhan gigi bukan merupakan bagian dari antropometri anak,


namun sebagai bagian dari indicator pertumbuhan anak. Untuk pertumbuhan
gigi pada janin diperlukan makanan yang mengandung vitamin dan mineral,
antara lain : Vitamin D, kalsium dan sumber mineral lainnya.

a. Pertumbuhan Gigi pada periode Bayi


Pertumbuhan gigi bayi, gigi pertama tumbuh pada umur 5-9 bulan, yang
mula-mula keluar yaitu gigi tengah atau bawah. Pada umur 1 tahun, bagian
besar bayi/anak menyusui 6-8 gigi susu.
b. Pertumbuhan gigi pada anak usia bermain (18 bulan-3 tahun)pada usia 2
tahun, anak sudah memiliki gigi sekitar 14-16 gigi, dan pada usia 2,5 tahun,
anak sudah memiliki gigi susu sebanyak 20 buah. Gigi susu ini nanti akan
diganti oleh gigi tetap (gigi permanen)
c. Pertumbuhan gigi pada anak usia pra-sekolah
Pada akhir periode ini gigi susu mulai rontok dan tumbuh gigi-gigi yang
menetap (permanen). Pada masa ini juga mulai timbul masala-masalah karies
gigi dan keluhan gigi. Sedangkan waktu erupsi (pertumbuhan) gigi tetap.
Dapat dijelaskan sebagai berikut :
- tumbuh gigi geraham umur 7 tahun = tumbuh gigi seri tetap pertama
- umur 8 tahun = tumbuh gigi seri tetap kedua
- umur 9 tahun = tumbuh gigi geraham kecil pertama
- umur 10 tahun = tumbuh gigi geraham kecil kedua
- umur 11 tahun = tumbuh gigi taring
- umur 12 tahun = tumbuh gigi geraham besar kedua
- umur 17-25 tahun = tumbuh gigi besar geraham ketiga

 Jaringan lemak
Pertambahan jumlah sel lemak meingkat pada trimester III kehamilan
sampai pertengahan masa bayi. Setelah itu jumlah sel lemak tidak banyak
bertambah. Banyak dan besarnya sel lemak menentukan gemuk atau kurusnya
seseorang. Pertumbuhan jaringan lemak akan melambat sampai anak berumur 6
tahun, anak kelihatan kurus/langsing. Jaringan lemak akan bertambah lagi pada
anak perempuan umur 8 tahun dan anak laki-laki umur 10 tahun sampai
menjelang awal pubertas. Setelah itu pertambahan jaringan pada pria berkurang,
edangkan pada wanita terus bertambah dan mengalami reorganisasi hingga
dicapai bentuk tubuh wanita dewasa. Untuk mengukur tebalnya jaringan lemak
yaitu dengan mengukur tebalnya lipatan kulit.
 Organ – organ tubuh
Pertumbuhan organ-organ tubuh mengikuti polanya sendiri-sendiri. Secara
umum terdapat 4 pola pertumbuhan organ, yaitu :
1. Pola umum (general pattern)
Yang mengikuti pertumbuhan pola umum adalah tulang panjang, tulang
skelet (pada neonates 20-25% berat badan, setelah dewasa 40% berat
badan), sistem pencernaan, pernafasan, peredaran darah, dan volume
darah.
2. Pola neural (brain & head pattern)
Perkembangan otak bersama tulang tengkorak yang melindunginya, mata,
dan telinga berlangsung lebih dini. Berat otak waktu lahir 25% berat otak
dewasa, pada umur 2 tahun 75% dan umur 10 tahun sudah 95% berat otak
dewasa.
3. Pola limfoid (lymphoid pattern)
Pertumbuhan jaringan limfoid mencapai maksimum sebelum adolesen
kemudian menurun hingga mencapai ukuran dewasa.
4. Pola genital (reproductive pattern)
Organ reproduksi mengikuti pola genital, dimana pertumbuhannya lambat
pada pra remaja, kemudian disusul pacu tumbuh adolesen yang pesat.

Pertumbuhan di dalam organ-organ tubuh sesuai dengan bentuk tubuh


seseorang. Pada orang yang pendek akan mempunyai organ yang pendek dan
pada perempuan organ yang lebih kecil daripada laki-laki. Pertumbuhan
beberapa organ seperti hati, pancreas, adrenal, ovarium, dan testis masih tumbuh
untuk beberapa lama setelah pertumbuhan tulang berhenti. Pertumbuhan organ
akan berhenti bila telah mencapai besar sesuai organ tubuh yang dilayani.
Tampaknya sekali mencapai bentuk yang secara fungsional adekuat
keperluannya, maka rangsangan untuk tumbuh berhenti. Tetapi bagaimanapun
mekanismenya masih beum diketahui, seolah-olah semua sudah diatur untuk
memenuhi apa yang disebut “harmony of growth”

2.5 Pengukuran Pertumbuhan Anak


Untuk mengetahui suatu proses pertumbuhan seseorang individu berjalan dalam
keadaan normal atau mengalami penyimpangan-penyimpangan, maka perlu dilakukan
pengukuran-pengukuran terhadap parameter-parameter tertentu.
Parameter yang digunakan untuk mengetahui ada tidaknya gangguan pertumbuhan,
maka dilakukan pengukuran tertentu yang hasilnya kemudian dibandingkan dengan
parameter yang sudah terstandardisasikan, yaitu meliputi:
a. Pengukuran Tinggi Badan
Pengukuran tinggi badan pada anak sampai usia 2 tahun dilakukan dengan
berbaring., sedangkan di atas umur 2 tahun dilakukan dengan berdiri. Hasil
pengukuran setiap bulan dapat dicatat pada dalam KMS yang mempunyai grafik
pertumbuhan tinggi badan.
b. Pengukuran berat badan.
Berat badan diukur dengan menggunakan timbangan. Banyak timbangan
yang dapat digunakan untuk menimbang berat badan. Yang penting harus
menggunakan alat timbang yang standar. Salah satu cara menimbang adalah
menggunakan dacin. Pengukuran ini dilakukan secara teratur untuk memantau
pertumbuhan dan keadaan gizi byi dan anak. Balita ditimbang setiap bulan dan
dicatat dalam Kartu Menuju Sehat Balita (KMS Balita) sehingga dapat dilihat grafik
pertumbuhannya dan dilakukan interfensi jika terjadi penyimpangan
c. Pengukuran Lingkar Kepala
Ukuran lingkar kepala anak dapat dipakai sebagai salah satu petunjuk untuk
menilai pertumbuhan dan perkembangan otak (Depkes, 1989). Tujuan pengukuran
lingkar kepala adalah untuk menemukan kelainan ukuran lingkar kepala sedini
mungkin, sehingga dapat segera dilakukan tindakan yang tepat untuk mengatasinya.
Lingkar kepala yang terlalu kecil atau terlalu besar dibandingkan dengan angka
normal yang sesuai dengan umur anak menunjukkan kemungkinan adanya kelainan
pertumbuhan dan perkembangan otak, yang dapat menghambat perkembangan
kemampuan anak. Ada perbedaan ukuran lingkar kepala anak laki-laki dengan anak
perempuan.
Cara melakukan pengukuran lingkar kepala dapat menggunakan pitameteran
yang tidak mudah berubah panjangnya, seperti pita meteran yang dipakai untuk
menjahit baju. Pita dilingkarkan pada kepala anak,menutupi alis mata dan melewati
bagian belakang kepala yang paling menonjol. Hasil pengukuran dicatat, kemudian
dibandingkan dengan angka normal yang tercantum pada tabel 1 tersebut di muka,
sesuai dengan umur dan jenis kelamin anak. Perlu diperhatikan bahwa ukuran
lingkar kepala anak laki-laki dengan anak perempuan berbeda.
Tabel 1. Lingkaran Kepala Anak
Umur Anak Angka normal anak
Ketika Diperiksa Laki-laki (cm) Perempuan (cm)

0 bulan 32 – 37.5 32 – 36.5

1 Bulan 34.5 – 40.5 34 – 39

2 Bulan 36.5 – 42 36 – 41

3 Bulan 38 – 43.5 37 – 42

4 Bulan 39 – 44.5 38.5 – 43.5

5 Bulan 40.5 – 45 39 – 45

6 Bulan 41 – 46 40 – 46

7 Bulan 42 – 47 41 – 47

8 Bulan 43 – 48 41.5 – 47.5

9 Bulan 43.5 – 48.5 42 – 48

10 Bulan 44 – 49 42.75 – 48.5

11 Bulan 44.5 – 49.5 43.5 – 48.75

12 bulan 45 – 49.75 43.75 – 49

13 Bulan 45 – 49.75 43.75 – 49

14 Bulan 45.5 – 50.5 44.5 – 49.5

15 Bulan 45.5 – 50.5 44.5 – 49.5

16 Bulan 46.25 – 51 45 – 50

17 Bulan 46.25 – 51 45 – 50

18 Bulan 46.25 – 51 45 – 50

19 bulan 46.25 – 51.5 45 – 50

20 Bulan 46.5 – 51.5 45.5 – 50.75

21 Bulan 46.5 – 51.5 45.5 – 50.75

22 Bulan 46.5 – 51.5 45.5 – 50.75

23 Bulan 46.5 – 51.5 45.5 – 50.75

24 Bulan 47 – 52 45.75 – 51

2.5 Tahun 47 – 52 45.75 – 51


3 Tahun 48 – 53 46.5 – 52

3.5 Tahun 48 – 53 46.5 – 52

4 Tahun 48.5 – 53.5 47 – 53

4.5 Tahun 48.5 – 53.5 47 – 53

5 Tahun 48.75 – 53.75 48 – 53

5.5 Tahun 48.75 – 53.75 48 – 53

6 Tahun 49 – 54

Apabila hasil perbandingan angka hasil pengukuran dengan angka dalam


tabel ternyata berbeda, maka perbedaan itu menunjukkan adanya indikasi penyim-
pangan. Penyimpangan hasil pengukuran dapat dalam arti kurang dari angka dalam
tabel maupun penyimpangan dalam arti lebih dari angka dalam tabel. Apabila
ukuran lingkar kepala anak tidak sesuai dengan angka normal maka anak sebaiknya
segera dirujuk untuk mendapatkan perlakukan. Frekuensi pengukuran lingkar kepala
anak sebaiknya dilakukan sebulan sekali sampai umur 2 tahun. Setelah itu
pengukuran dilakukan tiap 6 bulan sekali.
Meskipun ada beberapa parameter yang dapat digunakan untuk mengukur
pertumbuhan seseorang, namun yang paling sering digunakan adalah ukuran
tinggibadan, berat badan dan lingkar kepala (Nelson, 1988).

2.6 Pengukuran Perkembangan Anak


Pengukuran perkembangan adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk mengikuti
perkembangan kemampuan anak. Tujuannya adalah agar apabila terjadi gangguan
perkembangan pada anak dapat diketahui sedini mungkin. (Depkes. RI, 1990, Jack
Insley, cet. 2005)
Kegiatan pemantauan ini penting sekali, agar tindakan untuk mengatasi gangguan
perkembangan/mengejar kelambatan perkembangan dapat segera dilakukan. Sebab
apabila gangguan/keterlambatan ini berlangsung lama atau terlambat dalam
pengatasannya, dapat menjadi kelainan atau kecacatan yang permanen/sulit diperbaiki.
Pengukuran perkembangan dapat menggunakan bermacam-macam instrumen,
seperti Denver Development Screening Test (DDST). DDST adalah salah satu dari
metode screening terhadap kemungkinan adanya penyimpangan dari perkembangan. Ini
bukan tes diagnostik ataupun tes inteligensi. Pengertian screening didasarkan atas
penggunaan suatu tes yang cepat dan mudah dilaksanakan terhadap suatupopulasi
tertentu. Beberapa negara telah menggunakan tes ini, dan ternyata diketemukan adanya
kelemahan karena adanya pengaruh kultural ataupun kebiasaan sosial masing-masing
yang berbeda dalam pelaksanaan/interpretasi hasil tes tersebut.
Depatemen Kesehatan RI, sudah lama mengembangkan instrumen pemantauan
perkembangan anak balita dan usia prasekolah, istilahnya yang digunakan bervariasi,
seperti deteksi kelainan (1986), deteksi dini perkembangan (1989) dan pemantauan
perkembangan (1990). Instrumen yang dikembangkan tahun 1986, lebih menekankan
upaya menemukan kelainan anak secara dini yang kurang mendukung perkembangan
anak, seperti mengukur resiko keluarga, mengetahui ada tidaknya kelainan penglihatan,
pendengaran, perilaku anak, dan tahapan perkembangan anak. Sementara untuk
instrumen yang diterbitkan tahun 1989 dan 1990 lebih menekankan pada upaya
mengetahui gangguan perkembangan kemampuan anak yang meliputi aspek:
a. Kemampuan gerak kasar,
b. Kemampuan gerak halus,
c. Kemampuan bicara, bahasa dan kecerdasan, dan
d. Pergaulan dan percaya diri.
Pemeriksaan ini dilakukan menurut 10 kelompok umur. Tiap kelompok umur
mempunyai 4 macam pernyataan mengenai kemampuan anak. Ke empat jenis pernyataan
tersebut menunjukkan tahapan perkembangan yang harus dicapai anak sesuai dengan
umurnya. Apabila kemampuan anak tidak sesuai dengan ke empat jenis pernyataan
tersebut, hal ini menunjukkan kemungkinan adanya keterlambatan pada perkembangan
anak. Anak yang ini perlu mendapatkan stimulasi perkembangan.
Frekuensi pemeriksaan dilakukan 3 bulan sekali untuk anak umur di bawah 1 tahun
dan 6 bulan sekali untuk anak umur 1 tahun atau lebih. Tahapan-tahapan perkembangan
anak yang diukur, standar umur pencapaian perkembangan rata-rata anak normal, dapat
dilihat pada tabel 2.
Tabel 2: Tahapan Perkembangan Menurut Kelompok Umur dan hasil Pemeriksaan
Tahapan Perkembangan
Kelompok Hasil Pemeriksaan
Tahapan Perkembangan Yang diperiksa
Umur Ya Tidak
Mampu menggerakkan kedua tungkai dan
0 – 3 bulan lengan sama mudahnya
Memberikan reaksi dengan melihat ke arah
sumber cahaya
Mengeluarkan suara mengoceh
Membalas senyuman
Mengangkat kepala dengan tegak pada posisi
>3 – 6 bulan telungkup
Dapat menggenggam benda yang disentuhkan
pada punggung/ujung jarinya
Mencari sumber suara yang keras
Membalas senyuman
Ketika didudukkan, dapat mempertahankan
>6 – 9 bulan posisi duduk dengan kepala tegak
Meraih benda yang menarik/mainan yang
terjangkau olehnya
Tertawa/berterika bila melihat benda yang
menarik
Mengenali orang lain dan takut pada orang
yang belum dikenal
>9–12 bulan Mampu berdiri dengan berpegangan
Dapat mengambil benda kecil sebesar biji
jagung dengan meraup
Dapat mengatakan “pa-pa” atau “ma-ma”
Bermain “ciluk-ba”
>12–18 bulan Berjalan sendiri tanpa jatuh
Dapat mengambil benda kecil sebesar biji
jagung dengan ibu jari dan telunjuk
Dapat mengungkap keingan sederhana
Minum dari gelas sendiri tanpa tumpah
>18-24 bulan Dapat menendang bola
Mencorat-coret denganalat tulis
Menunjuk bagian tubuh dengan benar
Meniru pekerjaan rumah tangga
>2 – 3 tahun Berjalan naik turun tangga
Mampu melepas pakaian sendiri
Menyebut namanya sendiri
Makan dan minum sendiri
>3 – 4 tahun Berdiri di atas satu kaki
Menggambar bentuk lingkaran
Menyebut nama panggilan orang lain
Buang air besar dan kecil sendiri pada
tempatnya
>4 – 5 tahun Melompat dengan satu kaki
Mengancingkan baju sendiri
Bisa berceritera
Berpakaian sendiri
>5 – 6 tahun Menangkap bola sebesar bola kasti
Menggambar bentuk segi empat
Mengenal angka, huruf dan menghitung 1-10
Mengenal dan mematuhi peraturan sederhana

2.7 Gangguan Pertumbuhan dan Perkembangan Bayi dan Anak


Gangguan pertumbuhan adalah suatu pertumbuhan yang terganggu. Artinya suatu
pertumbuhan bayi dan anak yang apabila dibandingkan dengan pertumbuhan bayi dan
anak pada umumnya menunjukkan adanya penyimpangan/kelainan. Misalnya berat
badan bayi yang lebih ringan atau lebih berat dibanding berat badan bayi lain sebayanya.
Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya gangguan pertumbuhan adalah
faktor genetik, hormonal dan lingkungan, terutama nutrisi (Djauhar Ismail, 1993).
Menurut Moersintowarti B. Narendra (1993) manifestasi gangguan pertumbuhan
dapat dalam bentuk berikut:
a. Terjadinya retardasi pertumbuhan konstitusional, misalnya pada kelainan osteopati
herediter (kelainan tulang bawaan), chondrodystrofi (kelainan jaringan tulang
rawan), jenis dwarfisme intra uterin (cebol dalam rahim), dsb.
b. Retardasi pertumbuhan hormonal (endokrin) yang sifatnya dikendalikan secara
hormonal oleh hormon pertumbuhan, somatomedin yang dibentuk di hati, tiroid dan
lainnya yang berpengaruh pada pertumbuhan. Mempunyai dampak klinis
: dwarfisme/kretin karena defect hormon pertumbuhan, hipotiroidisme, hormon sex
yang abnormal, akibat defisiensi iodium, dsb.
c. Retardasi pertumbuhan akibat deprivasi maternal.
d. Retardasi pertumbuhan karena metabolisme, misalnya penyakit saluran cerna yang
kronis, gangguan kardiovaskuler, anemia, kelainan ginjal, dsb.
Berbagai bentuk kelainan pertumbuhan tersebut di atas, secara umum si anak
memiliki perawakan pendek. Masalah perawakan pendek di negara sedang berkembang
termasuk Indonesia saat ini berbeda dengan negara maju. Di negara berkembang,
terutama di Indonesia, masih menitik beratkan pada perawakan pendek (Moersintowarti,
1993) sebagai akibat dari kurang gizi dan seringnya terjadi infeksi.
Sementara itu menurut Gerald B. Merenstein, David W. Kaplan, Adam A.
Rosenberg, Alih Bahasa Hunardja (Cet. 2002) manifestasi gangguan pertumbuhan dapat
dalam bentuk:
1. Postur tubuh pendek, baik karena (a) pertumbuhan dan masa remaja tertunda yang
bersifat konstitusional, (b) defisiensi hormon pertumbuhan, (c) retardasi
pertumbuhan intrauterin, (d) karena faktor emosional
2. Gagal tumbuh kembang, seperti berat badan sangat kurang
3. Postur tubuh tinggi
4. Diabetes insipidus, dengan gejala seperti rasa haus yang hebat, konstipasi
(tertahannya tinja dalam usus karena gerak usus lemah), dan tanda-tanda dehidrasi.
5. Prekoksitas seksual atau perkembangan seksual sekunder lebih dini, seperti pada
wanita kurang dari 8 tahun, laki-laki kurang dari 9 tahun.
6. Gangguan gonad atau gangguan kelenjar kelamin.
7. Testis yang tidak turun ke bawah.
8. Sindrom Klinefelter yang diantara gejalanya yang bersangkutan mengalami
retardasi mental ringan dan kemampuan psikososial yang buruk.
9. Adanya penyakit tiroid, seperti:
a. Gondok dengan gejala adanya nodul (benjolan) yang besar dan keras disertai
penurunan daya konsentrasi/retardasi mental, gangguan seksual, semangat
yang menurun, dan lainnya.
b. Hipotiroidisme kongenital ataupun akuisia, dengan gejala dapat dalam bentuk
penurunan mental, kulit pucat, kering, kasar, lidah besar, tonus otot jelek,
retaradasi pertumbuhan dan perkembangan, gangguan seksual, rambut tampak
kering dan rapuh, dsb.
b. Hipertiroidisme dengan gejala dapat dalam bentuk kombinasi dari kecemasan,
tremor pada tangan, penurunan berat badan, prestasi sekolah yang buruk.
10. Kretinisme, dengan gejala dapat kombinasi dari gejala-gejala badan pendek,
retardasi mental, spastisitas dan cara berjalan yang khas, gangguan pendengaran,
gangguan bicara, dan lain-lain.
Sebagaimana disinggung pada uraian di muka, bahwa hasil pemeriksaan
perkembangan anak dengan menggunakan instrumen pemeriksaan perkembangan dari
Departemen Kesehatan (1990), maka dapat diketahui adanya anak yang belum
mampu/tidak mampu melakukan tahapan perkembangan sesuai dengan umurnya. Anak-
anak yang belum mampu tersebut berarti memiliki indikasi adanya keterlambatan
perkembangan.
Menurut Moersintowarti (1993) gangguan perkembangan balita adalah suatu
perkembangan balita yang apabila dibandingkan dengan pola perkembangan balita
standar menunjukkan adanya perkembangan balita yang terlambat/ menyimpang dari
pola perkembangan anak normal. Ada dua bentuk gangguan perkembangan, yaitu:
a. Gangguan Perkembangan
b. Kelainan
Gangguan Perkembangan bagi balita, ada dua kemungkinan yang terjadi pada
perkembangan berikutnya, (Moersintowarti, 1993), yaitu di mana balita yang
bersangkutan dapat kembali normal perkembangannya, atau adanya kelainan yang
bersifat permanen.
Pada balita, gangguan perkembangan dapat menimbulkan manifestasi klinik yang
bermacam-macam, kasus yang sering dijumpai menurut Moersintowarti (1993) adalah:
a. Gangguan motorik kasar.
b. Gangguan bicara.
c. Gangguan belajar.
d. Gangguan psikologis dengan manifestasi fisik.
e. Gangguan makan, buang air besar.
f. Gangguan cemas, dsb.

2.8 Penyebab Status Pendek

Menurut beberapa penelitian, kejadian status pendek (stunting) pada anak merupakan
suatu prosesn kumulatif yang terjadi sejak kehamilan, masa kanak-kanak dan sepanjang
siklus kehidupan. Pada masa ini merupakan proses terjadinya stunting pada anak dan peluang
peningkatan stunting terjadi dalam 2 tahun pertama kehidupan.

Faktor gizi ibu sebelum dan selama kehamilan merupakan penyebab tidak langsung
yang memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan dan perkembangan janin. Ibu hamil
dengan gizi kurang akan menyebabkan janin mengalami intrauterine growth retardation
(IUGR), sehingga bayi akan lahir dengan kurang gizi, dan mengalami gangguan pertumbuhan
dan perkembangan.

Terdapat beberapa faktor yang dapat menyebabkan status pendek pada anak, yaitu:

1. Asupan makanan yang tidak mencukupi

Masalah pada status gizi merupakan hal utama yang menyebabkan terganggunya
tumbuh kembang anak. anak yang pendek mungkin bisa disebabkan oleh kebutuhna gizi
untuk menunjang pertumbuhannya tidak terpenuhi. Beberapa zat gizi yang penting untuk
pertumbuhan tulang yaitu:

a. Protein, zat gizi makro yang berperan dalam pembangunan dan memelihara jaringan
tubuh. Protein juga dibutuhkan untuk proses pertumbuhan anak agar anak dapat
mencapai pertumbuhan yang potensial. Beberapa penelitian telah membuktikan
bahwa anak yang diberikan makanan yang kaya protein, khususnya protein hewani
memiliki rata-rata yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak yang ditak
mendapatkan asupan protein yang cukup.
b. Seng, merupakan salah satu jenis zat gizi mikro zyang terdapat di hamper semua sel
dan jaringan tubuh. Zat gizi mikro ini memiliki peran penting dalam membantu
memperbanyak sel pertumbuhan dan jika terjadi kekurangan maka akan
mempengaruhi system kekebalan tubuh.
c. Zat besi, yang ada di dalam tubuh sekitar 70%nya berbentuk haemoglobin yang
berasa dalam darah. Haemoglobin merupakan zat yang berfungsi untuk
mendistribusikan makanan serta oksigen ke seluruh tubuh.
d. Vitamin A, yaitu vitamin yang larut lemak dan memiliki fungsi utama sebagai
penjaga indera penglihatan, berperan dalam pertumbuhan serta system kekebalan
tubuh. Salah satu gejala kekurangan vitamin A adalah proses pertumbuhan yang
terganggu sehingga anak tidak dapat mencapai tinggi badan yang optimal.
2. Bayi lahir dengan berat badan lahir rendah
Anak yang dilahirkan dengan berat abdan di bawah 2500 gram dikatakan berat badan
lahir rendah (BBLR). BBLR merupakan kondisi gizi kurang yang terjadi bahkan
sejak bayi masih dalam kandungan. Kekurangan gizi ini berlanjut sampai bayi lahir
dan pada akhirnya manggangu pertumbuhannya.
3. Tidak diberi ASI eksklusif
Peberian ASI adalah faktor yang juga penting yang dapat menentukan pertambahan
tinggi seorang anak. ASI diberikan kepada bayi dapat mencegah berbagai penyakit
infeksi yang juga dapat mempengaruhi pertumbuhantulang secara langsung.
4. Penyakit infeksi yang sering terjadi berulang-ulang
Anak-anak rentan untuk terkena penyakit infeksi karena system kekbalan tubuh yang
belum kuat. Penyakit infeksi yang di derita anak-anak akan membuat penyerapan
terhadap zat gizi yang sudah tercerna dari makanan terganggu. Ketika hal tersebut
terjadi terus menerus ini dapat mengakibatkan anak kekurangan berbagai zat gizi.
5. Lingkungan yang tidak bersih dan sanitasi buruk
Perilaku yang kurang bersih dan sanitasi yang buruk secara tidak langsung dapat
menyebabkan gangguan pertumbuhan pada anak.

Menurut laporan UNICEF (1998) beberapa fakta terkait stunting dan pengaruhnya
antara lain sebagai berikut:

1. Anak-anak yang mengalami stunting lebih awal yaitu sebelum usia 6 bulan, akan
mengalami stunting lebih berat menjelang usia dua tahun. Stunting yang parah pada
anak-anak akan terjadi defisit jangka panjang dalam perkembangan fisik dan mental
sehingga tidak mampu untuk belajar secara optimal dibandingkan dengan anak-anak
dengan tinggi badan normal.
2. Stunting akan mempengaruhi kesehatan dan perkambangan anak. penyebab dari
stunting adalah bayi berat lahir rendah, ASI tidak memadai, makanan tambahan yang
tidak sesuai, diare berulang dan infeksi pernapasan. Berdasarkan penelitian sebagian
besar anak-anak dengan stunting mengonsumsi makanan yang berada dibawah
ketentuan rekomendasi gizi, berasal dari keluarga miskin dengan jumlah keluarga
banyak, bertempat tinggal diwilayah pinggiran kota dan pedesaan.
3. Pengaruh gizi pada anak usia dini yang mengalami stunting dapat mengganggu
pertumbuhan dan perkembangan kognitif yang kurang. Anak stunting pada usia 5
tahun cenderung menetap sepanjang hidup, kegagalan pertumbuhan anak usia dini
berlanjut pada masa remaja dan kemudian tumbuh menjadi dewasa yang stunting dan
mempengaruhi secara langsung pada kesehatan dan produktivitas, sehingga
meningkatkan peluang melahirkan anak BBLR. Stunting terutama berbahaya pada
perempuan, karena lebih cenderung menghambat dalam proses pertumbuhan dan
beresiko lebih besar meninggal saat melahirkan.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
 Pertumbuhan adalah perubahan fisik dan pertambahan jumlah dan ukuran sel
secara kuantitatif, dimana sel-sel tersebut mensintesis protein baru yang nantinya
akan menunjukkan pertambahan seperti umur, tinggi badan, berat badan dan
pertumbuhan gigi.
 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Bayi dan Anak
a. Faktor genetik
b. Faktor lingkungan
 Tahap – tahap Tumbuh Kembang
a. Masa prenatal atau masa intra uterin (masa janin dalam kandungan).
b. Masa neonatal, umur 0 sampai 28 hari.
c. Masa post (pasca) neonatal, umur 29 hari sampai 11 bulan.
 Pertumbuhan Fisik
a. Pertumbuhan janin intrauterine
b. Pertumbuhan setelah lahir
 Pengukuran Pertumbuhan Anak
a. Pengukuran Tinggi Badan
b. Pengukuran berat badan.
c. Pengukuran Lingkar Kepala
 Gangguan Pertumbuhan dan Perkembangan Bayi dan Anak
a. Gangguan motorik kasar.
b. Gangguan bicara.
c. Gangguan belajar.
d. Gangguan psikologis dengan manifestasi fisik.
e. Gangguan makan, buang air besar.
f. Gangguan cemas, dsb.
 Penyebab Status Pendek
a. Asupan makanan yang tidak mencukupi
b. Bayi lahir dengan berat badan lahir rendah
c. Tidak diberi ASI eksklusif
d. Penyakit infeksi yang sering terjadi berulang-ulang
e. Lingkungan yang tidak bersih dan sanitasi buruk
3.2 Saran
Saran yang dapat diberikan adalah sebagai berikut:
1. Sebaiknya orang tua memberikan ASI eksklusif sampai usia 6 bulan, kemudian tetap
diberikan ASI sampai 2 tahun dengan MP-ASI
2. Sebaiknya orang tua mengetahui tanda-tanda perkembangan yang seharusnya pada
usia tertentu dan memberikan stimulasi yang sesuai dengan usianya
3. Sebaiknya orangtua tidak memberikan selain ASI sebelum usia anak mencapai 6
bulan
DAFTAR PUSTAKA

Soetjiningsih. 1995. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta: Buku Kedokteran EGC


Tanuwijaya, S.2003. Konsep Umum Tumbuh dan Kembang. Jakarta: EGC
http://blog.uns.ac.id