Anda di halaman 1dari 53

BAB 1

MENENTUKAN NILAI ∆H REAKSI MENGGUNAKAN KALORIMETER

TETAP dan PENENTUAN ∆H PEMBAKARAN BAHAN BAKAR

I. PRINSIP

1.1 Percobaan 1

Reaksi Penetralan dan Reaksi Pelarutan

1.2 Percobaan 2

Reaksi Pembakaran

II. TUJUAN

2.1 Percobaan 1

1. Menentukan ∆H reaksi netralisasi HCl dan NaOH

2. Menentukan ∆H reaksi pelarutan Urea dan Air

3. Menentukan ∆H reaksi pelarutan karbit dan Air

2.2 Percobaan 2

Menentukan dan membandingkan ∆H pembakaran minyak tanah, solar,

etanol, bensin, dan spritus


III. DASAR TEORI

3.1 Percobaan 1

3.1.1 Termokimia

Dalam kehidupan sehari – hari, kita banyak sekali

menemukan berbagai reaksi kimia. Salah satunya adalah

Termokimia. Termokimia merupakan cabang ilmu kimia yang

mempelajari kalor reaksi yang terlibat dalam suatu reaksi kimia.

Reaksi kimia selalu disertai oleh perubahan kalor antara sistem

dengan lingkungannya. Dalam reaksi kimia terdapat pula

perubahan entalpi atau energi yang dapat diukur. Termokimia

adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara energi panas dan

energi kimia. Sedangkan energi kimia didefinisikan sebagai

energi yang dikandung setiap unsur atau senyawa.

3.1.2 Entalpi dan Perubahan Entalpi

Perubahan kimia dan fisika yang terjadi di dekitar kita,

seperti fotosintesis dalam daun tanaman, penguapan air di danau,

atau reaksi pada gelas terbuka di laboratorium, terjadi pada

tekanan atmosfer. Pada perubahan ini terjadi penyerapan atau

pelepasan panas ( kalor ). Jadi, setiap zat mempunyai bentuk

energi. Jumlah dari semua bentuk energi dalam suatu zat disebut

entalpi atau isi kalor yang dilambangkan dengan H.


Entalpi ( H ) adalah jumlah energi yang dimiliki sistem pada

tekanan tetap. Entalpi ( H ) dirumuskan sebagai jumlah energi

yang terkandung dalam sistem ( E ) dan kerja ( W ).

H=E+W

Dengan :

W=PxW

Keterangan :

H = Entalpi

E = Energi ( Joule )

W = Kerja sistem ( Joule )

V = Volume ( Liter )

P = Tekanan ( atm )

Entalpi akan tetap konstan selama tidak ada energi yang

masuk atau keluar dari zat. Besarnya entalpi tidak dapat

ditentukan, yang dapat ditentukan adalah perubahan entalpi ( ∆H

). Perubahan entalpi ( ∆H ) adalah perubahan kalor yang terjadi

pada suatu reaksi kimia. ∆H merupakan selisih antara entalpi

produk dengan entalpi reaktan yang dirumuskan sebagai berikut.

∆H = Hp - Hr
Keterangan :

∆H = perubahan entalpi
Hp = entalpi produk

Hr = entalpi reaktan

Secara matematis, perubahan entalpi ( ∆H ) dapat diturunkan

∆H = ∆E + V∆P + P∆V

Karena entalpi diukur pada tekanan tetap ( ∆P = 0 ), maka :

∆H = ∆E + V∆P + P∆V

∆H = ∆E + P∆V

Dari persamaan ∆E = q + w dan w = −P∆V ( simak penjelasan

Hukum Kekekalan Energi ), maka diperoleh :

∆H = ∆E + P∆V

= [ q + w ] + P∆V

= [ q + ( −P∆V)] + P∆V

=q

Jadi, pada tekanan tetap, perubahan entalpi ( ∆H ) sama

dengan kalor ( q ) yang diserap atau dilepas.

Jika H produk lebih kecil daripada H reaktan maka akan terjadi

pembebasan kalor. Harga ∆H negatif atau lebih kecil daripada

nol.

Contoh :

2 H2(g) + O2(g) 2 H2O(l) + kalor, atau

2 H2(g) + O2(g) 2 H2O(l) ∆H = −


Jika H produk lebih besar daripada H reaktan maka akan

terjadi penyerapan kalor. Harga ∆H positif atau lebih besar

daripada nol.

Contoh :

2 H2O(l) 2 H2(g) + O2(g) – kalor, atau

2 H2O(l) 2 H2(g) + O2(g) ∆H = +

Selanjutnya menurut Budi Utami ( 2009 ) bahwa Hukum

Kekekalan Energi menjelaskan bahwa energi tidak dapat

diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan, tetapi hanya dapat

diubah dari bentuk energi yang satu menjadi bentuk energi yang

lain. Nilai energi ( E ) suatu materi tidak dapat diukur, yang dapat

diukur hanyalah perubahan energi ( ∆E ). Hal ini tidak menjadi

masalah karena kita hanya tertarik pada perubahan energi ( ∆E ),

yang besarnya tidak tergantung pada jalannya proses, tetapi pada

fungsi keadaan awal dan akhir.

∆E = Eakhir – Eawal

Perubahan energi pada suatu sistem dapat terjadi melalui dua

cara, yaitu :

 Jika sistem menyerap kalor atau melepas kalor, dan atau

 Jika sistem melakukan kerja atau dikenai kerja.

Dalam menjelaskan perubahan energi ( ∆E ) dalam reaksi

kimia ada beberapa definisi yang digunakan :


 Sistem adalah bagian dari alam semesta di mana terjadi

perubahan energi.

 Lingkungan adalah segala sesuatu dari alam semesta yang

berada di luar sistem.

 Pembatas adalah pemisah antara sistem dan lingkungan.

3.1.3 Reaksi Endoterm dan Reaksi Eksoterm

Reaksi kimia berlangsung disertai perubahan energi berupa

penyerapan atau pelepasan kalor ( panas ). Berdasarkan

perubahan kalor sistem, reaksi kimia dapat dibedakan menjadi

reaksi endoterm dan reaksi eksoterm. Reaksi Endoterm adalah

reaksi yang menyerap kalor dari lingkungan ke sistem, sehingga

kalor dari sistem akan bertambah. Tanda reaksi endoterm adalah

∆H = + ( positif ). Reaksi Eksoterm adalah reaksi yang

melepaskan kalor dari sistem ke lingkungan, sehingga kalor dari

sistem akan berkurang. Tanda reaksi eksoterm adalah ∆H = − (

negatif ).

Amonium nitrat ( NH4NO3 ) yang bereaksi dengan air (

terhidrolisis ) menyerap kalor dari lingkungan. Yang dimaksud

lingkungan adalah dari pengaduk gelas, air, udara, dan juga

telapak tangan kalian. Hal ini menyebabkan tangan kalian terasa

dingin sewaktu memegang gelas beker tersebut. oleh karena

reaksi ( sistem ) menyerap kalor dari lingkungannya, maka reaksi

itu tergolong reaksi endoterm. Reaksi antara Zn dan CuSO4 akan


melepas kalor ke lingkungan. Akibatnya tangan kalian akan terasa

panas sewaktu memegang dinding gelas beker. Oleh karena reaksi

( sistem ) melepas kalor ke lingkungannya, maka reaksi tersebut

tergolong reaksi eksoterm.

Sistem adalah sesuatu atau reaksi kimia yang sedang diamati,

sedangkan lingkungan adalah segala sesuatu yang berada di luar

sistem. Sistem dapat dibedakan menjadi empat yaitu, sebagai

berikut.

1. Sistem Terbuka adalah sistem yang memungkinkan

pertukaran energi dan materi antara sistem dengan

lingkungan. Atau sistem yang terbuka terhadap lingkungan.

2. Sistem Tertutup adalah sistem yang memungkinkan

terjadinya pertukaran energi antara sistem dengan

lingkungannya, tetapi tidak memungkinkan terjadinya

pertukaran materi. Atau sistem yang tertutup terhadap

lingkungan.

3. Sistem Terisolasi adalah sistem dengan batas yang

mengisolasi sistem dengan lingkungan, sehingga tidak terjadi

pertukaran energi dan materi antara sistem dengan

lingkungan.

4. Sistem Terinsulasi ( adiabatik ) adalah sistem yang tidak

memungkinkan energi melewati pembatas antara sistem

dengan lingkungan.
3.1 3 Persamaan Termokimia

Persamaan Termokimia adalah persamaan reaksi yang

dilengkapi dengan harga perubahan entalpi ( ∆H ). Persamaan

termokimia selain menyatakan jumlah mol reaktan dan mol

produk juga menyatakan jumlah kalor yang dibebaskan atau yang

diserap pada reaksi tersebut. Untuk menyatakan besarnya

perubahan entalpi yang terjadi pada reaksi kimia, digunakan

satuan kJ. Perubahan entalpi dalam molar digunakan satuan

kJ/mol ( kJ mol−1 ).

Contoh :

a. Reaksi 1 mol gas metana dengan 2 mol gas oksigen yang

menghasilkan karbon dioksida dan air membebaskan kalor

sebesar 802,3 kJ pada temperatur 298 K dan tekanan 1 atm.

Persamaan termokimianya ditulis sebagai berikut.

CH4(g) + 2 O2(g) CO2(g) + 2H2O(g)

∆H˚ = − 802,3 kJ

b. Reaksi karbon dan gas hidrogen membentuk 1 mol gas etuna

( C2H2 ) pada temperatur 25 ˚C dan tekanan 1 atm

membutuhkan kalor sebesar 226,8 kJ. Persamaan

termokimianya sebagai berikut.

2 C(s) + H2(g) C2H2(g)

∆H˚ = + 226,8 kJ
3.1.4 Perubahan Entalpi Standar ( ∆H˚)

Perubahan entalpi standar ( ∆H˚ ) adalah suatu perubahan

entalpi yang diukur pada kondisi standar, yakni suhu 298,15 K (

25 ̊ C ) dan tekanan 1 atm. ∆H˚ mempunyai satuan seperti energi,

yakni kJ ( kilo Joule ) dalam Sistem Internasional.

Nilai ∆H˚ umumnya diberikan dengan basis 1 mol dari

suatu zat yang terlibat dalam reaksi. Oleh karena itu, juga dikenal

dengan istilah perubahan entalpi molar satndar dengan satuan

kJ/mol.

Terdapat berbagai jenis perubahan entalpi molar standar

untuk reaksi kimia dan juga untuk perubahan fisika, di antaranya :

1. Perubahan Entalpi Pembentukan Standar ( ∆H˚f )

Perubahan entalpi pembentukan standar ( ∆H˚f )

menyatakan perubahan entlapi pada pembentukan 1 mol zat

dari unsur – unsurnya pada kondisi standar. Sebagai contoh,

∆H˚f untuk pembentukan 1 mol gas metana ( CH4 ) dari

C(grafit) dan gas hidrogen adalah − 74,8 kJ / mol.

C(s, grafit) + 2H2(g) CH4(g)

∆H˚ = − 74,8 kJ

2. Perubahan Entalpi Pembakaran Standar ( ∆H˚c )

Perubahan entalpi pembakaran standar ( ∆H˚c)

menyatakan perubahan entalpi pada pembakaran habis 1 mol

zat pada kondisi standar. Istilah “ pembakaran habis “


penting karena banyak reaksi antara zat dengan oksigen yang

dapat membentuk lebih dari satu oksida. Sebagai contoh,

pembakaran grafit ( C ) dapat membentuk 2 jenis oksida

yakni, CO dan CO2. Agar 1 mol C habis terbakar, maka gas

yang terbentuk haruslah CO2. Nilai ∆H˚c untuk pembakaran 1

mol C(grafit) adalah − 393,5 kJ / mol.

C(grafit) + O2(g) CO2(g) ∆H˚ = − 393,5 kJ

3. Perubahan Entalpi Pengatoman Standar ( ∆H˚at )

Perubahan entalpi pengatoman standar ( ∆H˚at )

menyatakan perubahan entalpi pada pembentukan 1 mol atom

– atom unsur dalam fase gas pada kondisi standar. Sebagai

contoh, ∆H˚at dari atom unsur C (grafit) adalah + 718,4 kJ /

mol.

C(s, grafit) C(g) ∆H˚at = + 718,4 kJ

4. Perubahan Entalpi Peleburan Standar ( ∆H˚fus )

Perubahan entalpi peleburan standar ( ∆H˚fus )

menyatakan perubahan entalpi pada peleburan 1 mol zat

padat menjadi 1 mol zat cair pada titik leburnya dan tekanan

standar. Sebagai contoh, ∆H˚fus untuk H2O padat adalah +

6,01 kJ / mol.

H2O(s) H2O(l) ∆H˚fus = + 6,01 kJ


5. Perubahan Entalpi Penguapan Standar ( ∆H˚vap )

Perubahan entalpi penguapan standar ( ∆H˚vap )

menyatakan perubahan entalpi pada penguapan 1 mol zat cair

menjadi 1 mol gas pada titik didihnya dan tekanan standar.

Sebagai contoh, ∆H˚vap untuk H2O cair adalah + 44,05 kJ /

mol.

H2O(l) H2O(g) ∆H˚vap = + 44,05 Kj

3.1.5 Menentukan Harga Perubahan Entalpi ( ∆H )

Harga perubahan entalpi ( ∆H ) suatu reaksi dapat

ditentukan dengan beberapa cara, yaitu dengan Kalorimeter,

Hukum Hess, Perubahan Entalpi Pembentukan dan Menggunakan

Energi Ikatan.

1. Kalorimeter

Kalorimeter adalah suatu alat untuk mengukur jumlah

kalor yang diserap atau dibebaskan sistem. Ilmu yang

mempelajari penggunaan kalorimeter untuk menentukan

jumlah kalor reaksi ini disebut Kalorimetri. Data ∆H reaksi

yang terdapat pada tabel – tabel pada umumnya ditentukan

secara Kalorimetris.

Data yang diperlukan untuk menghitung kalor yang

diserap atau yang dikeluarkan oleh sistem reaksi adalah

sebagai berikut.
1. Perubahan temperatur sebelum dan sesudah reaksi ( ∆T =

Ta − Tm ), dimana

Ta = temperatur akhir

Tm = temperatur mula – mula

2. Massa total larutan ( M )

3. Kalor jenis larutan ( C )

Jumlah kalor yang diserap atau dilepaskan

dirumuskan sebagai berikut.

Q = M x C x ∆T

Keterangan :

Q = kalor yang diserap atau dilepaskan ( J )

M = massa larutan ( gram )

∆T = perubahan temperatur ( K )

C = kalor jenis larutan ( J/gram K )

Kalorimeter dibedakan menjadi dua jenis

diantaranya sebagai berikut.

a. Kalorimeter Sederhana

Kalorimeter sederhana paling mudah

digunakan untuk mengukur kalor dari reaksi yang

berlangsung dalam larutan. Kalorimeter ini dapat

terbuat dari dua wadah minuman styrofoam. Oleh

karena styrofoam merupakan insulator yang baik,


maka dapat diasumsikan bahwa besarnya kalor yang

diserap / dilepas sistem atau sistem terinsulasi (

bersifat adiabatik ).

b. Kalorimeter Bom

Kalorimeter bom digunakan untuk mengukur

kalor reaksi dengan tingkat ketelitian yang tinggi.

Kalorimeter ini biasanya digunakan untuk reaksi

yang melibatkan gas, terutama untuk pembakaran

yang membentuk sejumlah besat gas dan

berlangsung pada suhu tinggi.

Pada prinsipnya kalorimeter bom terdiri dari

suatu wadah tertutup seperti bom, di mana reaksi

kimia berlangsung. Wadah ini dikelilingi oleh

sejumlah massa air yang dilengkapi dengan

pengaduk dan termometer. Kalor reaksi yang diserap

/ dilepas akan mengakibatkan terjadinya perubahan

suhu kalorimeter bom ( suhu air dan perangkat

kalorimeter lainnya ).

2. Hukum Hess

Tidak semua perubahan entalpi dapat diukur secara

langsung dengan kalorimeter. Perubahan entalpi

pembentukan misalnya, tidak dapat diukur dengan

kalorimeter. Untuk itu digunakan cara lain untuk menghitung


perubahan entalpi tersebut. pada tahun 1840, Henry Germain

Hess menyatakan bahwa “ Perubahan entalpi reaksi hanya

tergantung pada keadaan awal dan keadaan akhir, tidak

tergantung pada jalannya reaksi ”.

Pernyataan tersebut dikenal dengan Hukum Hess.

Kegunaan Hukum hess adalah untuk menghitung harga ∆H

yang sukar diperoleh melalui percobaan.

Contoh :

C(s) + O2(g) CO2(g) ∆H = − 393,5 kJ

3. Menggunakan Energi Ikatan

Selain dengan menggunakan kalorimeter dan hukum

hess, harga perubahan entalpi dapat juga ditentukan dengan

menggunakan energi ikatan zat – zat yang ikut bereaksi.

Energi ikatan adalah banyaknya energi yang berkaitan

dengan suatu ikatan dalam senyawa kimia. Besarnya energi

ikatan diperoleh dari kalor pengatoman.

Reaksi kimia terjadi karena adanya pemutusan ikatan

dan pembentukan ikatan yang baru. Ikatan – ikatan pada

reaktan akan putus dan terjadi ikatan yang baru pada produk.

Oleh karena itu, perubahan entalpi dapat dicari dari selisih

antara ∆H pemutusan ikatan dengan ∆H pembentukan ikatan.

∆H = ∆H pemutusan ikatan − ∆H pembentukan ikatan


3.2 Percobaan 2

3.2.1 Reaksi Pembakaran Bahan Bakar

Reaksi kimia yang umum digunakan untuk menghasilkan

energi adalah pembakaran, yaitu suatu reaksi cepat antara bahan

bakar dengan oksigen yang disertai terjadinya api. Zat yang

mudah terbakar adalah unsur karbon, hidrogen, belerang, dan

berbagai senyawa dari unsur tersebut. pembakaran dikatakan

sempurna apabila menghasilkan lebih banyak kalor dibandingkan

pembakaran tidak sempurna. Pembakaran sempurna senyawa

hidrokarbon menghasilkan karbon dioksida dan uap air,

sedangkan pembakaran tidak sempurna menghasilkan karbon

monoksida dan uap air. Pembakaran tidak sempurna ada energi

yang tidak dihasilkan, sehingga pembakaran bahan bakar menjadi

tidak efisien. Pembakaran tidak sempurna selain tidak efisien juga

menimbulkan pencemaran udara karena menghasilkan gas

beracun, yaitu CO.

Untuk jenis bahan bakar yang berbeda, misalnya apabila

kita membandingkan pembakaran minyak tanah dan LPG, tampak

oleh kita bahwa pembakaran minyak tanah lebih berasap daripada

LPG. Demikian juga, apabila kita membandingkan pembakaran

solar dan bensin, tampak bahwa pembakaran solar lebih berasap

hitam dibandingkan dengan bensin. Komponen utama LPG, yaitu

C3H8 memiliki rantai karbon lebih pendek daripada C14H30 yang


merupakan komponen utama minyak tanah. Demikian juga

dengan C8H18 yang merupakan komponen utama bensin memiliki

rantai karbon yang lebih pendek daripada C16H34 yang merupakan

komponenutama solar. Jadi, dapat disimpulkan bahwa semakin

pendek rantai karbon, maka semakin sempurna pembakaran

tersebut. sedangkan semakin panjang rantai karbon, maka

semakin tidak sempurna pembakaran. Kenyataan tersebut dapat

menjadi pertimbangan dalam penggunaan bahan bakar.

Bahan bakar utama dewasa ini adalah bahan bakar fosil,

yaitu gas alam, minyak bumi, dan batu bara. Bahan bakar fosil

berasal dari pelapukan sisa organisme, baik tumbuhan ataupun

hewan. Pembentukan bahan bakar fosil memerlukan waktu ribuan

sampai jutaan tahun.

Bahan bakar fosil terutama terdiri atas senyawa

hidrokarbon, yaitu senyawa yang hanya terdiri atas karbon dan

hidrogen. Gas alam terdiri atas alkana suku rendah terutama

metana dan sedikit etana, propana, dan butana. Seluruh senyawa

itu merupakan gas yang tidak berbau. Oleh karena itu, kedalam

gas alam ditambahkan suatu zat yang berbau tidak sedap, yaitu

merkaptan, sehingga dapat diketahui saat ada kebocoran. Gas

alam dari beberapa sumber mengandung Hidrogen (H2S), suatu

kontamina yang harus disingkirkan sebelum gas digunakan


sebelum bahan bakar karena dapat mencemari udara. Beberapa

sumur gas juga mengandung Helium.

Minyak bumi adalah cairan yang mengandung beberapa

jenis senyawa, terutama alkana, dari metana hingga yang

memiliki atom karbon mencapai lima puluhan. Dari minyak bumi

diperoleh bahan bakar LPG ( Liquified Petroleum Gas ), bensin,

minyak tanah, kerosin, solar, dan lain – lain. Pemisahan

komponen minyak bumi dilakukan dengan distilasi bertingkat.

Adapun batu bara adalah bahan bakar padat yang terutama terdiri

atas hidrokarbon suku tinggi. Batu bara dan minyak bumi juga

mengandung senyawa dari oksigen, nitrogen, dan belerang.

Pembakaran batu bara menyebabkan polusi yang tinggi karena

menghasilkan SO2. Bahan bakar fosil, terutama minyak bumi

telah digunakan dengan laju yang lebih cepat daripada proses

pembentukannya. Oleh karena itu, dalam waktu yang tidak lama

lagi akan segera habis. Untuk menghemat penggunaan minyak

bumi dan untuk mempersiapkan bahan bakar pengganti, telah

dikembangkan berbagai bahan bakar misalnya, gas sintesis ( sin –

gas ) dan hidrogen.

Gas sintesis diperoleh dari gasifikasi batu bara. Batu

sebenarnya merupakan bahan bakar fosil yang sangat melimpah,

yaitu sekitar 90% dari cadangan bahan bakar fosil. Akan tetapi,

penggunaan batu bara menimbulkan berbagai masalah, antara lain


menimbulkan polusi udara yang lebih hebat daripada bahan bakar

apapun. Disamping itu juga ada keterbatasan dalam

penggunaannya karena bentuknya yang padat. Oleh karena itu,

para ahli berupaya mengubahnya menjadi gas sehingga

penggunaanya lebih luwes dab kebih bersih. Gasifikasi batu bara

dilakukan dengan mereaksikan batu bara panas dengan uap air

panas. Hasil proses itu berupa campuran gas CO, H2, dan CH4.

Proses selanjutnya adalah memperbanyak kadar gas metana ( CH4

).

Bahan bakar sintesis lain juga banyak dipertimbangkan

adalah hidrogen. Hidrogen cair bersama – sama dengan oksigen

cair telah dipergunakan pada pesawat ulang – alik sebagai bahan

bakar roket pendorongnya. Pembakaran hidrogen sama sekali

tidak memberi dampak negatif pada lingkungan karena hasil

pembakarannya adalah air. Apabila energi yang digunakan untuk

menguraikan air tersebut berasal dari bahan bakar yang

komersial. Tetapi saat ini sedang dikembangkan penggunaan

energi nuklir atau energi surya. Jika proyek itu berhasil, maka

dunia tidak khawatir akan kekurangan energi.

Matahari sebenarnya adalah sumber energi terbesar bumi,

tetapi teknologi penggunaan energi surya berjumlah komersial.

Salah satu kemungkinan penggunaan energi surya adalah

menggunakan tanaman yang dapat tumbuh cepat. Energinya


kemudian diperoleh dengan membakar tumbuhan itu. Dewasa ini,

penggunaan energi surya yang cukup komersial adalah untuk

pemanasan air rumah tangga ( solar water heater ).

Kalor adalah suatu bentuk energi yang diterima oleh suatu

benda yang menyebabkan benda tersebut berubah suhu atau

wujud bentuknya. Kalor berbeda dengan suhu, karena suhu adalah

ukuran dalam satuan derajat panas. Kalor merupakan suatu

kuantitas atau jumlah panas baik yang diserap maupun yang

dilepaskan oleh suatu benda.

Kalor didefinisikan sebagai energi panas yang dimiliki

oleh suatu zat. Secara umum, untuk mendeteksi adanya kalor

yang dimiliki oleh suatu benda yaitu dengan mengukur suhu

benda tersebut. jika suhunya tinggi maka kalor yang dikandung

oleh benda sangat besar. Begitu juga sebaliknya jika suhunya

rendah maka kalor yang dikandung sedikit. Dari hasil percobaan

yang sering dilakukan besar kecilnya suatu kalor yang dibutuhkan

suatu benda ( zat ) bergantung pada 3 faktor yaitu massa zat, jenis

zat ( kalor jenis ), dan perubahan suhu (Poernomo 2008).


IV. ALAT DAN BAHAN

4.1 percobaan 1

4.1.1 Alat

 Kalorimeter sederhana yang terbuat dari Styrofoam

 Gelas kimia

 Gabus ( penyumbat kalorimeter sederhana )

 Thermometer

4.1.2 Bahan

 NaOH 1 M 50 mL

 HCl 1 M 50 mL

 CO(NH2)2 ( Urea ) 10 mL

 CaC2 ( Karbit ) 10 mL

4.2 Percobaan 2

4.2.1 Alat

 Kalorimeter sederhana

 Lampu spritus

 Timbangan

4.2.2 Bahan

 Aquadest

 Minyak tanah

 Solar

 Etanol

 Bensin
 Spritus

V. PROSEDUR KERJA

5.1 Percobaan 1

5.1.1 Penetralan HCl dan NaOH

NaOH 1 M 50 mL

Di masukkan kedalam gelas kimia


Di ukur dan di catat suhunya

HCl 1 M 50 mL

Di masukkan kedalam gelas kimia

Di ukur dan di catat suhunya

NaOH dan HCl

Di tuangkan NaOH terlebih dahulu


kedalam kalorimeter disusul
dengan HCl

Di tutup kalorimeter dengan gabus


penyumbat

Di aduk campuran NaOH dan HCl

Di catat suhunya
5.1.2 Pelarutan CO(NH2)2 atau Urea

Urea 10 gram

Di timbang

Aquadest 50 mL

Di ukur dan di catat suhunya

Urea dan Aquadest

Di masukkan kedalam kalorimeter

Di tutup dengan gabus penyumbat

Di aduk dengan batang pengaduk

Di ukur dan di catat suhunya


5.1.3 Pelarutan CaC2 atau Karbit

Karbit 10 gram

Di timbang

Aquadest 50 mL

Di ukur dan di catat suhunya

Karbit dan Aquadest

Di masukkan kedalam kalorimeter

Di tutup dengan gelas penyumbat

Di aduk dengan batang pengaduk

Di ukur dan di catat suhunya


5.2 Percobaan 2

5.2.1 Bahan bakar minyak tanah

Aquadest 50 mL

Di masukkan kedalam gelas kimia

Di ukur dan di catat suhunya

Minyak tanah

Di masukkan kedalam lampu spritus

Di timbang lampu dan minyak tanah

Aquadest

Di panaskan dengan lampu spritus

Di aduk dengan batang pengaduk

Di hentikan pemanasan sebelum


mendidih

Di catat suhu air saat lampu di


matikan

Di timbang lampu spritus


5.2.2 Bahan bakar solar

Aquadest 50 mL

Di msukkan kedalam gelas kimia

Di ukur dan di catat suhunya

Solar

Di masukkan kedalam lampu spritus

Di timbang lampu dan solar

Aquadest

Di panaskan dengan lampu spritus

Di aduk dengan batang pengaduk

Di hentikan pemanasan sebelum


mendidih

Di catat suhu saat lampu di matikan

Di timbang lampu spritus


5.2.3 Bahan bakar etanol

Aquadest 50 mL

Di masukkan kedalam gelas kimia

Di ukur dan di catat suhunya

Etanol

Di masukkan kedalam lampu spritus

Di timbang lampu dan etanol

Aquadest

Di panaskan dengan lampu spritus

Di aduk dengan batang pengaduk

Di hentikan pemanasan sebelum


mendidih

Di catat suhu air saat lampu di


matikan

Di timbang lampu spritus


5.2.4 Bahan bakar bensin

Aquadest 50 mL

Di masukkan kedalam gelas kimia

Di ukur dan di catat suhunya

Bensin

Di masukkan kedalam lampu spritus

Di timbang lampu dan bensin

Aquadest

Di panaskan dengan lampu spritus

Di aduk dengan batang pengaduk

Di hentikan pemanasan sebelum


mendidih

Di catat suhu air saat lampu di


matikan

Di timbang lampu spritus


5.2.5 Bahan bakar spritus

Aquadest 50 mL

Di masukkan kedalam gelas kimia

Di ukur dan di catat suhunya

Spritus

Di masukkan ke dalam lampu


spritus

Di timbang lampu dan spritus

Aquadest

Di panaskan dengan lampu spritus

Di aduk dengan batang pengaduk

Di hentikan pemanasan sebelum


mendidih

Di catat suhu air saat lampu di


matikan

Di timbang lampu spritus


VI. HASIL PERCOBAAN

6.1 Percobaan 1

6.1.1 Reaksi penetralan NaOH dan HCl

Suhu awal NaOH 30˚C

Suhu awal HCl 30˚C

Suhu rata- rata ( 30˚C + 30˚C ) : 2 = 30˚C

Suhu akhir 34˚C

6.1.2 Reaksi pelarutan Urea dan Air

Suhu awal CO(NH2)2 31˚C

Suhu awal H2O 31˚C

Suhu rata – rata ( 31˚C + 31˚C ) : 2 = 31˚C

Suhu akhir 21˚C

6.1.3 Reaksi Pelarutan Karbit dan Air

Suhu awal CaC2 31˚C

Suhu awal H2O 31˚C

Suhu rata – rata (31˚C + 31˚C) : 2 = 31˚C

Suhu akhir 85˚C


6.2 Percobaan 2

6.2.1 Minyak Tanah

Massa air ( m ) 50 gram

Massa lampu + minyak tanah mula – 276,73 gram

mula ( m1 )

Massa lampu + minyak tanah setelah 276,00 gram

pemanasan ( m2 )

Suhu air mula – mula ( t1 ) 31˚C

Suhu air setelah pemanasan ( t2 ) 50˚C

6.2.2 Solar

Masa air (m) 50 gram

Masa lampu + solar mula – mula (m1) 266,34 gram

Masa lampu + solar setelah pemanasan 265,17

(m2)

Suhu air mula – mula (t1) 31˚C

Suhu air setelah pemanasan (t2) 50˚C


6.2.3 Etanol

Massa air (m) 50 gram

Massa lampu + etanol mula – mula (m1) 286,96 gram

Massa lampu + stanol setelah pemanasan 284,64 gram

(m2)

Suhu air mula – mula (t1) 31˚C

Suhu air setelah pemanasan (t2) 50˚C

6.2.4 Bensin

Massa air (m) 50 gram

Massa lampu + bensin mula – mula (m1) 286,91 gram

Massa lampu + bensin setelah pemanasan 274,62 gram

(m2)

Suhu air mula – mula (t1) 31˚C

Suhu air setelah pemanasan (t2) 50˚C


6.2.5 Spritus

Massa air (m) 50 gram

Massa lampu + spritus mula – mula (m1) 262,49 gram

Massa lampu + spritus setelah 259,10 gram

pemanasan (m2)

Suhu air mula – mula (t1) 31˚C

Suhu air setelah pemanasan (t2) 50˚C

VII. PERHITUNGAN

7.1 Percobaan 1

7.1.1 NaOH dan HCl

Dik : C = 4,2 Jg-1K-1

ρ = 1 gram/cm3 ( 1 gram/mL )

V(NaOH) = 50 mL = 0,05 L

V (HCl) = 50 mL = 0,05 L

T1 = 30˚C + 273 = 303 K

T2 = 34˚C + 273 = 307 K

∆T = T2 – T1

= 307 K – 303 K

=4K

[NaOH] =1M
[HCl] =1M

Dit : ∆H ?

Jawab :

Vtotal = 50 mL + 50 mL

= 100 mL

Massa = Vtotal x ρ

= 100 mL x 1 gram/mL

= 100 gram

Qsistem = M x C x ∆T

= 100 gram x 4,2 Jg-1K-1 x 4 K

= 1680 J

= 1,68 kJ

Qkalorimeter = C x ∆T

= 4,2 Jg-1K-1 x 4 K

= 1,68 J

= 0, 0168 kJ

Qreaksi = Qsistem – Qkalorimeter

= 1,68 kJ – 0, 0168 kJ

= 1,6632 kJ

(HCl) =MxV

= 1 M x 0,05 L

= 0,05 mol

N(NaOH) =MxV
= 1 M x 0,05 L

= 0,05 mol

N = N(HCl) + N(NaOH)

= 0,05 mol + 0,05 mol

= 0,1 mol

qreaksi
∆H =−
n

1,6632 kJ
∆H =−
0,1 mol

∆H = −16,632 kJ/mol

NaOH + HCl NaCl + H2O ∆H = − 16,632 kJ/mol

7.1.2 Urea dan Air

Dik : C = 4,2 Jg-1K-1

ρ = 1 gram/cm3(1 gram/mL)

V(CO(NH2)2) = 10 mL = 0,01 L

V(H2O) = 50 mL = 0,05 L

T1 = 31˚C + 273 = 304 K

T2 = 21˚C + 273 = 294 K

∆T = T2 - T1

= 294 K – 304 K = -10 K

Massa(CO(NH2)2) = 10 mL x 1 gram/mL =10 gram

Massa(H2O) = 50 mL x 1 gram/mL = 50 gram

Dit : ∆H?

Jawab :
Vtotal = 10 mL + 50 mL

= 60 mL

Massa = Vtotal x ρ

= 60 mL x 1 gram/mL

= 60 gram

[CO(NH2)2] = gr/mr x 1000/v

= 10/60 x 1000/10

= 16,67 M

[H2O] = gr/mr x 1000/v

= 50/18 x 1000/50

= 55,56

N[CO(NH2)2] =MxV

= 16,67 M x 0,01 L

= 0,1667 mol

N(H2O) =MxV

= 55,56 M x 0,05 L

= 2,778 mol

N = N[CO(NH2)2] + N(H2O)

= 0,1667 mol + 2,778 mol

= 2,9447 mol

QSistem = M x C x ∆T

= 60 gram x 4,2 Jg-1K-1 x - 10K

= - 2520 J
= - 2,52 kJ

QKalorimeter = C x ∆T

= 4,2 Jg-1K-1 x – 10 K

= - 42 J

= - 0,042 kJ

Qreaksi = QSistem – QKalorimeter

= - 2,52 kJ – (- 0,042 kJ)

= - 2,478 kJ

Qreaksi
∆H = − n

2,476
∆H = − 2,9447

∆H = 0,8415 kJ/mol

CO(NH2)2(s) + H2O(l) CO(NH2)2(aq) + H2O(l)

∆H = 0,8415 kJ/mol

7.1.3 Karbit dan Air

Dik : C = 4,2 Jg-1K-1

ρ = 1 gram/cm3 ( 1 gram/mL)

V(CaC2) = 10 mL = 0,01 L

V(H2O) = 50 ml = 0,05 L

T1 = 31˚C + 237 = 358 K

T2 = 85˚C + 237 = 358 K

∆T = T2 – T1

= 358 K – 304 K = 54 K

Massa(CaC2) = 10 mL x 1 gram/mL = 10 gram


Massa(H2O) = 50 mL x 1 gram/mL = 50 gram

Dit : ∆H ?

Jawab :

Vtotal = 10 mL + 50 mL

= 60 mL

Massa = Vtotal x ρ

= 60 mL x 1 gram/mL

= 60 gram

[CaC2] = gr/mr x 1000/V

= 10/64 x 1000/50

= 15,625 M

[H2O] = gr/mr x 1000/V

= 50/18 x 1000/50

= 55,56 M

N(CaC2) =MxV

= 55,56 M x 0,05 L

= 0,15625 mol

N(H2O) =MxV

= 55,56 M x 0,05 L

= 2,778 mol

N = N(CaC2) + N(H2O)

= 0,15625 mol + 2,778 mol

= 2,93425 mol
Qsistem = M x C x ∆T

= 60 gram x 4,2 Jg-1K-1 x 54 K

= 13608 J = 13,608 kJ

Qkalorimeter = C x ∆T

= 4,2 Jg-1K-1 x 54 K

= 226,8 J

= 0,2268 kJ

Qreaksi = Qsistem – Qkalorimeter

= 13,608 kJ – 0,2268 kJ

= 13,3812 kJ

Qreaksi
∆H = − n

13,3812 kJ
∆H = − 2,93425 mol

∆H = − 4560,3476 kJ/mol

CaC2(s) + 2H2O C2H2 + Ca(OH)2

∆H = - 4560,3476 kJ/mol

7.2 percobaan 2

7.2.1 minyak tanah

M minyak tanah = M1 – M2

= 276,31 – 276,00

= 0,73 gram

Mr(C14H30) = (12.14) + (1.30)

= 198

∆T = T2 – T1
= 50 – 31

= 19˚C

N = gr/mr

= 0,73/198

= 0,00369 mol

Qair = M . C .∆T

= 0,73 . 4,2 .19

= 58,254 J

Qreaksi = Qair/minyak tanah

= 58,254/0,73

= 79,8 J

∆H = - Qreaksi / mol

= - 79,8 / 0,00369

= -21626,02 J/mol

= - 21,62602 kJ/mol

C14H30(g) + 141/2O2(g) 7CO2(g) + 15H2(g)

∆H = -21,626016 kJ/mol

7.2.2 Solar

M solar = M1 – M2

= 266,34 – 265,17

= 1,17 gram

∆T = T2 – T1

= 50 – 31
= 19˚C

MrC16H34 = (12.6) + (1.34)

= 226

N = gr/Mr

= 1,17/226

= 0,005 mol

Qair = M . C . ∆T

= 1,17 . 4,2 . 19

= 93,366 J

Qreaksi = Qreaksi / Qsolar

= 93,336 / 1,17

= 79,8 J

∆H = - Qreaksi / mol

= - 79,8 / 0,005

= - 15960 J/mol

= - 15,960 kJ/mol

C16H34(g) + 241/2O2(g) 16CO2(g) + 17H2O(l)

∆H = - 15,96 kJ/mol

7.2.3 Etanol

M metanol = M1 – M2

= 286,96 – 284,64

= 2,32 gram

∆T = T2 – T1
= 50 – 31

= 19˚C

MrC2H5OH = (12.2) + (1.5) + (16) + (1)

= 46

N = gr/Mr

= 2,32 / 46

= 0,0504

Qair = M . C . ∆T

= 2,32 . 4,2 . 19

= 185,136 J

Qreaksi = Qair / Metanol

= 185,136 / 0,0504

= 3673,33 J

∆H = - Qreaksi / mol

= - 3673,33 / 0,0504

= - 72883,598 J/mol

= - 72,883598 kJ/mol

C2H5OH(g) + O2(g) 2CO2(g) + 3H2O(l)

∆H = - 72,8836 kJ/mol

7.2.4 Bensin

M bensin = M1 – M2

= 274,62 – 275,91

= - 1,29
∆T = T2 – T1

= 50 – 31

= 19˚C

MrC8H16 = (12.8) + (1.18)

= 114

N = gr/Mr

= - 1,29 / 114

= - 0,0113 mol

Qair = M . C . ∆T

= - 1,29 . 4,2 . 19

= - 102,942 J

Qreaksi = Qair/ Qbensin

= - 102,942 / - 1,29

= 79,8 J

∆H = - Qreaksi / mol

= - 79,8 / 0,0113

= - 7061,95 J/mol

= - 7,06195 kJ/mol

C8H18(g) + 81/2O2(g) 4CO2(g) + 9H2O(l)

∆H = - 7,0620 kJ/mol

7.2.5 Spritus

M spritus = M1 – M2

= 286,96 – 284,64
= 2,32

∆T = T2 – T1

= 50 – 31

= 19˚C

MrCH3OH = (12) + (1.3) + (16) + (1)

= 32

N = gr/Mr

= 2,32 / 32

= 0,0725 mol

Qair = M . C . ∆T

= 2,32 . 4,2 . 19

= 185,136 J

Qreaksi = Qair/ Mspritus

= 185,136 /2,32

= 79,8 J

∆H = - Qreaksi /mol

= -79,8 / 0,725

= - 1100,69 J/mol

= - 1,10069 kJ/mol

CH3OH (g) + O2 (g) CO2(g)+ 2 H2O(l)

∆H = - 1,10069 kJ/mol
VIII. DISKUSI

8.1 Percobaan 1

Pada percobaan ini penulis mengalami sedikit masalah yaitu

perbedaan hasil yang diperoleh oleh kelompok kami dengan kelompok

yang lain. Sesuai dengan dasar teori yang telah ditulis sebelumnya,

perbedaan itu terjadi dikarenakan kurang akuratnya hasil yang diperoleh

saat melaksanakan percobaan. Kurang teliti dalam hal mengukur suhu

juga sangat mempengaruhi harga perubahan entalpi yang di dapatkan.

Ketidak lengkapan alat yang digunakan pada saat melakukan percobaan

juga dapat membuat hasil yang tidak akurat.

Perbedaan hasil yang didapatkan saat praktikum selesai

membuktikan bahwa menggunakan kalorimeter sederhana harus sangat

teliti dalam hal apapun, baik saat mengukur suhu harus teliti, saat

mengukur bahan yang akan di reaksikan, dan juga harus bisa

memastikan tidak adanya kalor yang keluar dari system kelingkungan

atau sebaliknya, agar reaksi yang didapatkan lebih akurat dan efisien.

8.2 Percobaan 2

Pada percobaan ini penulis mengalami kejenuhan pada saat

menunggu reaksi pembakaran minyak tanah dikarenakan sumbu pada

lampu spritus yang di gunakan pendek, maka dari itu suhunya pun lama

naiknya. Pada reaksi pembakaran ini penulis menggunakan keramik.

Hal ini dikarenakan keramik dapat menghantarkan panas dengan baik,


agar air lebih cepat naik suhunya saat reaksi berlangsung. Keterbatasan

alat yang alat yang digunakan menjadikan makin lamanya praktikum

berlangsung dikarenakan harus bergantian kepada kelompok lain saat

menggunakannya terkhusus, timbangan dan lampu spritus . Dalam hal

ini juga yang mengakibatkan hasil yang diperoleh oleh setiap kelompok

berbeda, dikarenakan bergantian saat menggunakan lampu spritus.

IX. KESIMPULAN

9.1 Percobaan 1

Dari percobaan 1 yang dilakukan dapat disimpulkan:

9.1.1 Perubahan entalpi suatu reaksi dapat dicari melalui suatu

percobaan.

9.1.2 Dalam pengukuran kalor reaksi; selain kalor reaksi pembakaran

dapat dilakukan dengan menggunakan kalorimeter pada tekanan

tetap yaitu dengan kalorimeter sederhana yang dibuat dari gelas

ukur/ gelas stirofom.

9.1.3 Kalorimeter adalah alat yang dipakai untuk mengukur panas atau

kalor yang dilepaskan atau diserap oleh sistem dalam suatu

reaksi kimia.

9.1.4 Perubahan entalpi reaksi yang dilepaskan atau diserap hanya

bergantung kepada keadaan awal dan keadaan akhir. Semakin

tinggi temperatur reaksi makin cepat laju reaksinya.


9.1.5 Reaksi endoterm yaitu suatu reaksi yang menyerap energi atau

kalor dari lingkungan ke sistem yang mengalami penurunan

suhu dan bertanda positif {∆H = ( + )}.

9.1.6 Reaksi endoterm yaitu reaksi yang melepaskan energi atau kalor

dari sistem ke lingkungan yang mengalami kenaikan suhu dan

bertanda negatif {∆H = ( - )}.

9.1.7 Perubahan kalor pada suatu zat atau system ditentukan oleh

perubahan suhu, masa zat dan kalor jenis. Kalor jenis adalah kalor

yang diperlukan untuk menaikkan suhu 1 gram zat setinggi 1

kelvin.

9.1.8 Pencampuran antara senyawa NaOH dengan senyawa HCl akan

menyebabkan terjadinya kenaikan suhu. Sehingga reaksi ini

dikatakan sebagai reaksi eksoterm.

9.1.9 Pencampuran antara senyawa CO(NH2)2 dengan senyawa H2O

akan emnyebabkan terjadinya penurunan suhu. Sehingga reaksi

ini dikatakan sebagai reaksi endoterm.

9.1.10 Pencampuran antara senyawa CaC2 dengan senyawa H2O akan

menyebabkan kenaikan suhu. Sehingga reaksi ini dikatakan

sebagai reaksi eksoterm.

9.1.11 Berdasarkan kegiatan diatas dapat disimpulkan bahwa nilai ∆H

dapat ditentukan dengan kalorimeter sederhana.

9.1.12 Entalpi reaksi antara HCl dan NaOH sebesar – 16,632 kJ/mol.

Sehingga reaksi
NaOH(aq) + HCl(aq) NaCl(aq) + H2O(l)

∆H = - 16,632 kJ/mol merupakan reaksi endoterm karena hasil

dari ∆H adalah negatif.

9.1.13 Entalpi reaksi antara CO(NH2)2 dan H2O sebesar = 0,8415

kJ/mol. Sehingga reaksi

CO(NH2)2(s) + 2H2O(l) CO(NH2)2(aq) + H2O(l)

∆H= + 0,8415 kJ/mol merupakan reaksi endoterm karena hasil

dari ∆H adalah positif.

9.1.14 Entalpi reaksi antara CaC2 dan H2O sebesar – 4560,3476

kJ/mol. Sehingga reaksi

CaC2(s) + 2H2O(aq) C2H2(aq) + Ca(OH)2(aq)

∆H= - 4560,3476 kJ/mol merupakan reaksi eksoterm karena

hasil dari ∆H adalah negatif.

9.2 Percobaan 2

Dari percobaan 2 yang dilakukan dapat disimpulkan:

9.2.1 Reaksi pembakaran yaitu suatu reaksi cepat antara bahan bakar

dengan oksigen yang disertai terjadinya api.

9.2.2 Zat yang mudah terbakar adalah unsur karbon, hidrogen, belerang,

dan berbagai senyawa dari unsur tersebut. pembakaran dikatakan

sempurna apabila karbon ( C ) terbakar menjadi CO2, hidrogen (

H ) terbakar menjadi H2O.

9.2.3 Perubahan entalpi pada pembakaran sempurna 1 mol suatu zat

yang diukur pada 298 K, 1 atm disebut entalpi pembakaran


standar ( standard enthalpy of 0 combustion ), yang dinyatakan

dengan ∆H˚c. Entalpi pembakaran juga dinyatakan dalam kJ mol

-1.

9.2.4 Pembakaran sempurna senyawa hidrokarbon ( bahan bakar fosil )

membentuk karbon dioksida dan uap air. Sedangkan pembakaran

tidak sempurna membentuk karbon monoksida dan uap air.

9.2.5 Kalor pembakaran adalah kalor yang dilepaskan atau diserap oleh

pembakaran 1 mol unsur atau senyawa diberi simbol ∆H˚c ( C =

Combustion ).

9.2.6 Kalor adalah suatu bentuk energi yang diterima oleh suatu benda

yang menyebabkan benda tersebut berubah suhu atau wujud

bentuknya. Kalor berbeda dengan suhu, karena suhu adalah

ukuran dalam satuan derajat panas. Kalor merupakan suatu

kuantitas atau jumlah panas baik yang diserap maupun yang

dilepaskan oleh suatu benda.

9.2.7 Dari hasil percobaan yang sering dilakukan besar kecilnya suatu

kalor yang dibutuhkan suatu benda ( zat ) bergantung pada 3

faktor yaitu massa zat, jenis zat ( kalor jenis ), perubahan suhu (

Poernomo 2008 ).

9.2.8 Entalpi pembakaran minyak tanah sebesar - 21,626016 kJ/mol.

Sehingga reaksi

C14H30(g) + 141/2O2(g) 7CO2(g) + 15H2O(l)


∆H = - 21,626016 kJ/mol merupakan reaksi eksoterm karena hasil

dari ∆H adalah negatif.

9.2.9 Entalpi pembakaran solar sebesar - 15,96 kJ/mol. Sehingga reaksi

C16H34(g) + 241/2O2(g) 16CO2(g) + 17H2O(l)

∆H = - 15,96 kJ/mol merupakan reaksi eksoterm karena hasil dari

∆H adalah negatif.

9.2.10 Entalpi pembakaran etanol sebesar - 72, 8836 kJ/mol. Sehingga

reaksi C2H5OH(g) + O2(g) 2CO2(g) + 3 H2O(l)

∆H = - 72,8836 kJ/mol merupakan reaksi eksoterm karena hasil

dari ∆H adalah negatif.

9.2.11 Entalpi pembakaran bensin sebesar - 7,0620 kJ/mol. Sehingga

reaksi C8H18(g) + 81/2O2(g) 4CO2(g) + 9 H2O(l)

∆H = - 7,0620 kJ/mol merupakan reaksi eksoterm karena hasil

dari ∆H adalah negatif.

9.2.12 Entalpi pembakaran spritus sebesar - 1,10069 kJ/mol. Sehingga

reaksi CH3OH(g) + O2(g) CO2(g) + 2 H2O(l)

∆H = - 1,10069 kJ/mol merupakan reaksi eksoterm karena hasil

dari ∆H adalah negatif.

X. SARAN

Saran dari kelompok kami adalah dalam melakukan percobaan ini

haruslah haruslah teliti, ulet, sabar, disiplin, konsentrasi, bertanggung jawab,

tetap menjaga kekompakan atau kerja sama antar kelompok dan yang lebih
penting haruslah ekstra berhati-hati agar menghindari resiko kecelakaan

kerja.

XI. PERTANYAAN JAWABAN

10.1 percobaan 1

10.1.1 Pertanyaan

1. Tentukan reaksi apa yang terjadi setelah pencampuran

kedua zat!

2. Jelaskan termasuk reaksi apakah dari percobaan tersebut !

10.1.2 Jawaban

1. Reaksi antara HCl dan NaOH adalah reaksi penetralan.

NaOH(aq) + HCl(aq) NaCl(aq) + H2O(l)

∆H = - 16,632 kJ/mol.

Reaksi antara CO(NH2)2 dan H2O adalah reaksi pelarutan.

CO(NH2)2(s) + H2O(l) CO(NH2)2(aq) + H2O(l)

∆H = + 0,8415 kJ/mol.

Reaksi antara CaC2 dan H2O adalah reaksi pelarutan.

CaC2(s) + 2H2(aq) C2H2(aq) + Ca(OH)2(aq)

∆H = - 4560,3476 kJ/mol.

2. Reaksi antara HCl dan NaOH adalah reaksi eksoterm,

karena melepaskan energi atau kalor dari sistem

kelingkungan yang mengalami kenaikan suhu dan

bertanda negatif {∆H = ( - ) }.


Reaksi antara CO(NH2)2 dan H2O adalah reaksi endoterm,

karena menyerap energi atau kalor dari lingkungan ke

sistem yang mengalami penurunan suhu dan bertanda

positif { ∆H = ( - ) }.

Reaksi antara CaC2 dan H2O adalah reaksi eksoterm,

karena melepaskan energi atau kalor dari sistem

kelingkungan yang mengalami kenaikan suhu dan

bertanda negatif { ∆H = ( -) }.

10.2 percobaan 2

10.2.1 pertanyaan

1. Bandingkan Q reaksi minyak tanah dan bensin !

2. Jika terdapat perbedaan, jelaskan apa yang menyebabkan

perbedaan tersebut !

10.2.2 Jawaban

1. Q reaksi minyak tanah adalah 79,8 Joule atau 0,0798 kJ,

sedangkan Q reaksi bensin adalah 79,8 Joule atau 0,0798

kJ.

2. Kedua Q reaksi tersebut memiliki nilai yang sama. Namun

tampak oleh kita bahwa pembakaran minyak tanah lebih

berasap daripada bensin. Karena komponen utama

bensin,yaitu C8H18 memiliki rantai karbon lebih pendek

daripada C14H30 yang merupakan komponen utama

minyak tanah. Jadi semakin pendek rantai karbon,


semakin sempurna pembakaran atau semakin pendek

rantai karbon, semakin tidak sempurna pembakaran.


DAFTAR KEPUSTAKAAN

Anonim. ( 2013 ). http://kimiayenyen99.blogspot.co.id/2013/11/laporan-entalpi-


pembakaran.html. Di akses 1 Juni 2017 pukul 10.00 WIB

Anonim. ( 2013 ). http://sanoften.blogspot.co.id/2013/05/contoh-laporan-


praktikum-penentuan.html. Di akses 30 Mei 2017 pukul 11.05 WIB

Anonim. ( Tanpa Tahun ).


https://www.scribd.com/doc/115196668/MENENTUKAN-
PERUBAHAN-ENTALPI-DENGAN-KALORIMETER. Di akses 31 Mei
2017 pukul 10.30 WIB

Anonim. ( Tanpa Tahun ). https://www.slideshare.net/rynhaSB/perubahan-entalpi-


pembakaran-bahan-bakar-15960340. Di akses 1 Juni 2017 pukul 10.30
WIB

Channisaa. 2014. http://channisaa.blogspot.co.id/2014/11/contoh-laporan-kimia-


entalpi-pembakaran.html. Di akses 1 Juni 2017 pukul 10.20 WIB

Dewi, Fatikah Rahma. 2012.


http://fatikahrahmadewi.blogspot.co.id/2012/04/laporan-praktikum-kimia-
kalor.html. Di akses 31 Mei 2017 pukul 11.00 WIB

Febridtyas. 2011. http://febridtyas.blogspot.co.id/2011/09/penentuan-perubahan-


entalpi-reaksi.html. Di akses 30 Mei 2017 pukul 10.15 WIB

Justiana, Sandri dan Muchtaridi. 2010. Chemistry 2 for senior high school year
XI. Cetakan Pertama, Jakarta: Yudhistira

Kuswati, Tine Maria dkk. 2014. Konsep dan Penerapan Kimia SMA/MA kelas XI.
Cetakan Pertama, Jakarta: Bailmu

Muchtaridi, dan Sandri Justiana. 2007. Kimia 2 SMA kelas XI. Cetakan Pertama,
Bandung: Quadra

Ningsih, Sri Rahayu dkk. 2007. Sains Kimia 2 SMA/MA. Cetakan Pertama,
Jakarta: Bumi Aksara

Rachmawati, M dan Johari. 2006. Kimia 2 SMA dan MA. Cetakan Pertama,
Jakarta: Esis